Nerdy Little Liar [2] – Shit Day

tumblr_n92athMzBr1rsusejo1_1405945926_cover

T’s Present

 

“NERDY LITTLE LIAR”

 

Starring :

Lee Ji Moon – Original Character

Kim Jong In – EXO

Oh Sehun – EXO

Kim Jong Dae – EXO

Also Starring :

TaeYong || Do Kyungsoo || Xi Luhan || Wu Yifan

and many more.

 

Length :

Chaptered

Genre :

Romance, School Life, AU, etc.

Rating :

17+

Disclaimer :

© OC’s name and Plot. All of famous cast(s) are belong to God, etc.

Attention :

Typo. No SIDER. This story might be contains rant and ‘hot scene’ (PG – 17). One Comment for One Smile.

 

Recommended Song :

David Guetta & Showtek – Bad ft. Vassy

David Guetta – Little Bad Girl ft. Taio Cruz, Ludacris

Swedish House Mafia ft. Jhon Martin – Don’t You Worry Child

Previously on Nerdy Little Liar :

[Prologue] – Night Life & Day Life || [1] – Mischance ||

She might be bitch.

She might be nerdy.

Well, she might be a liar too.

So, prepare yourself when you greets her.

 

======

 

-o- Nerdy Little Liar -o-

Jong In menarik paksa pergelangan tangan Ji Moon. Mereka menuju atap sekolah. Tepat saat mereka sampai di atap sekolah, Jong In mendorong tubuh Ji Moon ke dinding –menekan bahu Ji Moon di dinding agar yeoja itu tidak memberontak. Okay, sebenarnya Jong In tidak perlu melakukan hal itu, Ji Moon tidak akan melakukan perlawanan.

“Aku akan melakukan apa saja asal kau tidak membocorkan identitasku pada siapapun.”

Ji Moon memulai pembicaraan. Ia tidak ingin mendengar basi-basi memuakkan –yang mungkin akan diucapkan Jong In.

Jong In tampak mendengus kasar. “Are you sure? Anything?

Ji Moon menghela napas dengan berat sebelum akhirnya kepalanya mengangguk pelan. Ia benar-benar menyerahkan seluruh ‘keselamatan hidup’nya di sekolah pada Jong In. Oh, come on. Siapapun yang berada di posisi Ji Moon sekarang, pasti akan melakukan apa saja, bukan?

Be my slave ‘till I bored with you.

Jong In mengakhiri perintah ‘sialan’ itu dengan sebuah seringai yang ugh. . . menakutkan. Lihatlah, mata Ji Moon bahkan membelalak –kaget atas apa yang ia dengar.

Wh –what? Are you insane?

Jong In tertawa licik. “I see. Kau sepertinya menolak tawaranku, dan itu artinya —ah, you’d knew the risk, didn’t ya?

Shit. Ancaman Jong In menyudutkan diri Ji Moon. Baiklah, sekarang Ji Moon sudah tidak punya pilihan lagi.

Shit—“ Ji Moon menepis kedua tangan Jong In dari bahunya lalu melepas kacamatanya.

”—You win. I do.

Jong In tersenyum miring. “My oh my, lihat kau sekarang. Siapa yang ada didepanku ini? Si kutu buku? Or Red?”

Lalu Jong In tertawa mengejek. Damn. Jong In hanya sedang beruntung karena mengetahui rahasia Ji Moon. Dan sialnya, Jong In malah memanfaatkan hal ini.

Just shut your fuckin’ mouth up,” desis Ji Moon sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

Aigo~ Ini menyenangkan sekali.”

Jong In tertawa puas –untuk kesekian kalinya, sambil menghirup udara pagi disekitarnya. Jong In sungguh ‘menang banyak’.

“Cih! Aku ingin kembali ke kelas,” ujar Ji Moon sambil memasang kembali kacamatanya.

Baru saja ia akan melangkah kearah samping, tangan kanan Jong In malah menahannya.

“Ada tugas untukmu.”

Ji Moon menggeram kesal. “Dammit. Apa itu?”

“Tugas pertamamu. Kiss me.”

Jong In membuat smirk ‘menjijikkan’ dibibirnya. Menyebalkan.

Ji Moon tampak menatap sinis ke arah Jong In. Tanpa ingin berpanjang lebar lagi, Ji Moon langsung berjinjit dan memeluk leher Jong In –dengan bibir Ji Moon yang juga telah menempel di bibir Jong In. Reflek mata mereka menutup secara bersamaaan.

Sekilas, terlihat senyuman ‘penuh kemenangan’ ditunjukkan Jong In sebelum akhirnya ia membalas ciuman Ji Moon. Tak ingin Ji Moon berjinjit terlalu lama, Jong In memilih menggendong tubuh Ji Moon didepan dadanya –ala koala style– dengan mengangkat bokong Ji Moon tanpa membiarkan ciuman itu terlepas sedetik pun.

Kini tangan Ji Moon mulai beralih menangkup kedua pipi Jong In sambil terus melumat bibir Jong In. Kepala Ji Moon juga terlihat bergerak ke kanan dan ke kiri –agar asupan oksigen tetap stabil. Sial, tapi ini sungguh. . . nikmat.

Jong In mulai bergairah, tangannya tampak meremas-remas kuat bokong Ji Moon. Ia kini berusaha memperdalam ciuman. Jong In mencoba menelusupkan lidahnya ke mulut Ji Moon. Dan yeah, Ji Moon memberi akses untuk lidah Jong In.

Mmmmh. . . nnnn. . . .

Ji Moon terdengar mendesah tertahan saat lidah Jong In ‘bergerak liar’ di dalam mulutnya. Bunyi decakan ciuman mereka juga terdengar jelas. Bahkan, saliva tampak mengalir keluar dari sudut bibir mereka sesekali. Ini menjijikkan tapi juga memabukkan. Ji Moon sungguh menikmati ciuman ‘panas’ Jong In –begitupun dengan Jong In.

.

.

.

Kringgg!

Bel sekolah pertanda akan dimulainya pembelajaran, berbunyi nyaring. Ini membuat Jong In dan Ji Moon seketika menghentikan ciuman mereka. Jujur saja, kedua insan itu sangat amat merasa terpaksa karena harus melepas ciuman itu.

Tepat saat Ji Moon menjauhkan wajahnya dari wajah Jong In, tampak benang saliva terbentuk di ujung lidah mereka –sebelum akhirnya putus. Keduanya juga masih dalam posisi mereka sambil mengatur kembali napas mereka.

“Turunkan aku,” titah Ji Moon setelah napasnya mulai normal.

“Kau tidak mau aku gendong ke kelas?”

Bagus, ini pertanyaan retoris bagi Ji Moon. Hei, bayangkan saja apa yang akan para fans Jong In lakukan pada dirinya jika mereka melihat hal ini? Oh, tidak perlu, Ji Moon sedang malas membayangkan wajah-wajah jelek dari para fans Jong In saat marah.

“Jangan bodoh, Kim Jong In.”

Ji Moon mendesis tajam dan yang didapatnya hanyalah tawa renyah dari Jong In. Sialan. Detik berikutnya, Jong In menuruti permintaan Ji Moon –menurunkan Ji Moon.

Alright, Lee-Ji-Moon.”

Jong In mengeja nama Ji Moon lewat name tag name tag yang tersemat di dada sebelah kanan Ji Moon. Oke, sekali lagi, nama ‘Ji Moon’ TIDAK DIKENAL di Hannyoung High School.

“Selamat untukmu karena telah menjadi seorang slave dari—“

Can we just end this shit conversation? I need to go back to my class. If you still want to talk, just do it with this fuckin’ wall.”

Muak. Itu yang Ji Moon rasakan. Jong In membuatnya merasa jengah. Tanpa ingin mendengar Jong In bersuara lagi, Ji Moon langsung melangkah pergi dari namja yang memanfaatkan dirinya untuk kepentingan pribadi itu. Tapi, setidaknya ia juga merasa berterima kasih pada Jong In karena Jong In masih errr. . .berbaik hati untuk tidak membocorkan rahasianya. Meski ia tidak akan berterima kasih secara lisan pada Jong In.

======

The streets were full of girls like us at every hour of day and night. We worked, took classes, organized for the unions, talked revolution at the top of our voices in the streets and in the shops. When we went out on strike, they called us the ‘fabrente maydlakh’, the burning girls, for our bravery and dedication and ardor, and whole city ground to a half as the society ladies who wore the clothing we stitched came downtown and walked our lines with us.

Sebuah novel dengan judul “Burning Girlsdi covernya itu, tengah dibaca oleh Ji Moon sambil berjalan menyusuri koridor sekolah. Buku novel karya Veronica Schanoes itu adalah buku yang dijanjikan Jong Dae padanya tadi malam –lewat percakapan telepon.

Bruk!

Novel yang dibaca Ji Moon seketika terjatuh karena bertabrakan dengan seseorang. Hell, is this dejavu? Ji Moon lalu menatap ke arah depannya dan melihat seorang yeoja –dan beberapa yeoja lainnya– yang balas menatap Ji Moon dengan tatapan marah. Oh bagus, wajah yeoja itu –yang bertabrakan dengannya, tampak seperti seekor banteng yang sedang murka.

Mianhe,” ucap Ji Moon sambil menundukkan tubuhnya.

Plak!

Sebuah pukulan yang cukup keras mendarat di kepala Ji Moon. Ji Moon meringgis sakit sambil mengusap kepalanya dan menegakkan tubuhnya.

“Aku—“

Ya! Dasar kutu buku, bodoh! Beraninya kau menabrakku? Kau sengaja, eoh?”

Yeoja dengan name tag ‘Jung Soo Jung’ itu bercerocos kesal. Ji Moon hanya menggeleng-gelangkan kepalanya dengan cepat lalu berjongkok untuk mengambil kembali buku pemberian Jong Dae yang jatuh tadi.

AKH! Ap –appo. Ta –tanganku.”

Ji Moon memekik kesakitan saat tangannya yang bergerak menggapai buku novelnya itu diinjak oleh Soo Jung. Tapi, seolah tak mendengar rintihan Ji Moon, Soo Jung justru semakin menekan kakinya yang berada di punggung tangan Ji Moon.

AKH! Mianhe, ak –AKH! Aku tidak sengaja. Sungguh.”

Ji Moon memelas. Baiklah, mungkin terkadang Ji Moon membenci dirinya yang harus berpura-pura lemah saat menjadi ‘Lee Ji Moon’ si nerd. Tapi, ini pilihannya, ia sudah memilih ‘warna’ hidupnya. Jadi, ia harus tetap melanjutkan semuanya –suka ataupun tidak.

“Hahahahaha. Tidak sengaja katamu? Matamu sudah empat, tapi kau masih saja buta! Nerd sialan!”

“Sakit! Ta –tanganku sakit. Kumohon maafkan aku.”

“Tidak ada maaf untuk gadis kutu buku sialan sepertimu!”

Semakin sakit yang dirasakan Ji Moon karena Soo Jung menambah tekanan di kakinya. Soo Jung seolah-olah mencoba memberikan seluruh beban tubuhnya di kaki yang ia gunakan untuk menginjak tangan Ji Moon. Teman-teman Soo Jung yang berada di belakang Soo Jung hanya tertawa melihat ‘tontonan’ di depan mereka.

Ini menyakitkan, sungguh. Rasanya semua jemari Ji Moon akan remuk saat itu juga. Oh, jika itu tejadi maka hancurlah karirnya sebagai DJ. Oh no, it can’t be. Ji Moon lalu mencoba menarik tangannya dari ‘telapak’ sepatu Soo Jung, tapi itu justru semakin menambah rasa sakit. Soo Jung terlihat tertawa puas sambil menatap mengejek ke arah Ji Moon.

 

“Aku akan menginjak kepalamu jika kau tidak melepas tangannya.”

Suara berat seseorang sontak membuat Soo Jung, Ji Moon, dan teman-teman Soo Jung terkejut. Soo Jung lalu memalingkan wajahnya ke arah belakang kemudian reflek menjauhkan kakinya dari tangan Ji Moon saat melihat orang yang berada di belakangnya itu.

“Se –Sehun oppa. Aku. . . aku. . . aku hanya—“

“Jika kau tidak pergi sekarang juga, maka wajahmu yang akan kuinjak.”

Soo Jung membulatkan matanya seketika –begitupun dengan Ji Moon– saat mendengar suara bernada ‘dingin’ dan ‘tajam’ itu keluar dari mulut Oh Sehun. Bahkan mulut teman-teman Soo Jung tampak menganga lebar karena kaget.

Detik selanjutnya, Soo Jung berlari menjauh setelah terlebih dulu melempar tatapan tajam ke arah Ji Moon dan disusul dengan teman-teman Soo Jung yang ikut berlari.

Ji Moon lalu bangkit berdiri sambil mengusap pelan tangannya yang berdenyut nyeri akibat ulah Soo Jung tadi. Ia juga telah memegang buku pemberian Jong Dae di tangan kirinya.

“Terima kasih atas bantu—“

I’m not helping you. I just hates when they do bullying.

Dingin dan terkesan sarkastik. Ji Moon hanya menunduk tanpa berani menatap langsung ke arah Sehun. Honestly, Ji Moon sangat benci jika harus melihat wajah dan mata Sehun yang terlihat ‘dingin’ itu. Sehun yang berada di urutan kedua ‘Popular Boys In Hannyoung High School’ itu memang memiliki sisi misterius dan aura yang ‘dingin’. Sungguh orang yang sulit ditebak dan didekati –of course.

“Sekali lagi terima ka—“

“Kau tuli? I’ve told you, I’m not helping you.”

‘Shit. Apa salahnya menerima rasa terima kasihku?’ batin Ji Moon, kesal.

“Ah, mianhe. Aku permisi ke kelas saja.”

Belum sempat Ji Moon akan melangkah, tangan Sehun sudah mencengkram pergelangan tangan sebelah kiri Ji Moon. Ji Moon reflek menautkan kedua alisnya –bingung. Baru saja bibirnya akan bergerak mengucapkan sesuatu, suara Sehun yang ‘dingin’ sudah lebih dulu terdengar.

“Berisik.”

Gosh. Ji Moon sungguh belum mengucapkan sepatah katapun, tapi Sehun sudah. . . lupakan saja. Sekarang apa yang sedang Sehun pikirkan dalam pikirannya? Diam-diam Ji Moon memutar bola matanya dengan malas lalu mencoba melepas tangan Sehun.

Tapi sulit. Sehun kini malah menarik tangan Ji Moon –menyuruh Ji Moon untuk mengikuti langkahnya.

‘Kemana si es batu ini akan membawaku?’

‘Shit. Apa yang ada di dalam otaknya sekarang?’

‘Kenapa semua orang yang berada di dekat Jong In sialan itu, selalu aneh?’

Ji Moon sungguh bertanya-tanya dalam pikirannya. Tapi, seolah ‘dikunci’ oleh aura ‘dingin’ Sehun, mulut Ji Moon tidak berani mengucapkan apapun. Biar pikirannya saja yang ‘berbicara’.

Oh astaga, sepertinya Sehun menambah satu masalah lagi. Para yeoja HHS yang berada di sekitar koridor sekolah melihat Ji Moon dan Sehun. Dan bisa dilihat dengan jelas, tatapan ‘tajam’ bercampur bingung dan kesal itu ditujukan pada Ji Moon.

“Sehun-ssi, kumohon lepaskan aku.”

Ji Moon mulai tidak nyaman dengan situasi sekarang. Oh ayolah, ini tidak lucu. Sehun justru membuatnya semakin dan semakin dibenci di Hannyoung High School. Sebelumnya, ia tidak pernah berbicara dengan Sehun –Jong In bahkan Jong Dae. Tapi kenapa sekarang mereka semua seolah ingin masuk ke dalam hidup Ji Moon? Baiklah –mengesampingkan fakta bahwa semua makhluk sosial itu harus berinteraksi satu sama lain, haruskah para makhluk populer HHS yang terlibat –secara tidak langsung– dengan Ji Moon? Ini menggelikan.

Sehun tampak mengacuhkan ucapan Ji Moon. Ia masih saja ‘memaksa’ Ji Moon mengikuti langkah kakinya.

“Masuk sana.”

Tiba-tiba Sehun menghentikan langkahnya dan melepaskan tangan Ji Moon.

“Huh?”

Ji Moon tidak mengerti maksud ucapan Sehun. Kemudian ia melirik ke arah samping kirinya dan melihat sebuah ruangan dengan pintu berwarna hitam yang menutup ruangan itu. Ia yakin ini bukan kelasnya. Ia menatap sekilas ke arah Sehun lalu beralih mendongakkan kepalanya. Ada papan penanda dengan tulisan ‘UKS’ tergantung diatas pintu masuk itu. Reflek, Ji Moon mengerutkan dahinya.

“Kenapa kau— EH?”

Tepat saat Ji Moon kembali menatap ke arah Sehun, ternyata Sehun sudah tidak berada disebelahnya. Hanya punggung Sehun yang tampak dari kejauhan. Sial.

Tunggu. . . UKS? Apa Sehun bermaksud menyuruh Ji Moon mengobati luka akibat ulah Soo Jung tadi? Oh Lord, hanya Sehun dan Tuhan saja yang mengerti diri Sehun sendiri.

======

 

“Hai. Kita bertemu lagi.”

Suara ramah Ji Moon menyapa Sehun yang kini tengah duduk dibawah ring basket. Saat sepulang sekolah, Sehun memang sering melatih kemampuan bermain basketnya. Hei, jangan berpikiran konyol dulu. Ji Moon tidak akan menggangu Sehun seperti para fans Sehun lainnya, ia hanya ingin mengucapkan terima kasih. Itu saja. Dan kebetulan, saat ini fans Sehun tidak ada disekitar lapangan basket –mengingat ini sudah lewat 30 menit dari jam pulang sekolah.

“Kau seperti orang bodoh.”

Ya Tuhan, inikah balasan dari sapaan ramah yang Ji Moon ucapkan tadi? Sudahlah, itu tidak penting. Sekarang Ji Moon hanya perlu mengucapkan terima kasih lalu pergi secepatnya dari sini.

“Umh. . . Go –gomawo, Sehun-ssi. Aku—“

Nerd! Saatnya pulang!”

Tiba-tiba suara berat seseorang dari tepi lapangan terdengar nyaring. Ji Moon sontak memalingkan tubuhnya ke arah belakang dan melihat Jong In dengan gaya angkuhnya tengah berdiri di tepi lapangan. Sekarang apa lagi yang Jong In inginkan?

Nerd! Kemari sekarang atau aku akan menyeret kakimu!”

Ji Moon menggeram pelan –sangat pelan. Ia lalu berbalik menatap Sehun dan membungkukkan tubuhnya.

Gomawo.”

Detik selanjutnya, ia berlari kecil ke arah Jong In.

Bye, Sehun,” ucap Jong In dengan sedikit berteriak.

Sehun tak membalas ucapan Jong In lalu memilih beranjak pergi dari tempatnya. Begitulah Sehun, bahkan pada temannya saja ia bersikap ‘dingin’ seperti itu.

.

.

.

Show me your body, nerd.

Bisikan seduktif Jong In ini ditujukan pada yeoja yang tengah duduk di samping kemudi. Yeoja itu –Ji Moon, hanya memutar kedua bola matanya dengan teramat malas lalu melirik ke arah Jong In yang duduk di depan kemudi itu.

Plak!

Ji Moon memukul kepala Jong In. Reflek Jong In menyentuh kepalanya yang sedikit berdenyut nyeri itu lalu menatap tajam ke arah Ji Moon.

Ya! Apa yang kau lakukan, nerd!

“Dan apa yang kau katakan, Jong In bodoh!”

“Memangnya salah? Kau itu budak-ku! Apa kau lupa, huh?”

“Kau pikir sekarang kita ada dimana, bodoh!”

Jong In terdiam lalu mendecak kesal. Ia tahu jika ia sekarang sedang berada di pemberhentian lampu merah. Baiklah, Jong In yang salah. Tidak seharusnya ia meminta hal ‘konyol’ itu ditempat umum seperti ini. Meskipun mereka sedang berada di dalam mobil tapi, hei, orang di luar bisa melihat ‘aktifitas’ yang terjadi dalam mobil Jong In.

“Kalau begitu kita—“

“Hari ini aku bertugas menjadi DJ. Lebih baik kau antarkan aku ke klub saja.”

Mwo? You are my slave, nerd! Remember that!

And I’m a DJ in Club ELLUI, Jong In, you must remember that too!

Jong In menyerah dan hanya menggerutu tanpa suara. Ji Moon lalu menghela napasnya sambil menatap ke arah jalanan melalui kaca mobil. Bagaimanapun, Jong In tidak bisa seenakknya mengacaukan hidupnya. Ia juga punya kehidupan sendiri yang tidak boleh diubah oleh siapapun –termasuk Jong In.

======

Lagu dari Swedish electronic dance group ‘Swedish House Mafia’ featuring penyanyi pria asal Swedia –Jhon Martin– terdengar memenuhi seluruh penjuru club ELLUI malam ini. Dan si DJ yang selalu menarik perhatian itu –Red– tengah menggerakkan jemarinya di DJ mixer dan me-remix lagu itu menjadi lebih ‘danceable’.

“Red, seseorang dari ruang VIP memintamu kesana. He said, he want you ‘candy’.”

Perkenalkan, si waitres yang kini berada di stage DJ ini, namanya Xi Luhan. Another Red’s friend. Sepertinya ia baru saja mengantar minuman ke ruang VIP dan mendapat pesan berupa ‘kode’ untuk Red.

Xie xie, Luhannie. Can you please tell him to wait for ten minutes?” ucap Red dengan nada yang berpura-pura lembut.

Luhan tampak memutar bola matanya. “Sudah kuduga. Merepotkan sekali.”

Red hanya tertawa pelan mendengar gerutuan Luhan. Tapi, pada akhirnya Luhan tetap saja akan menuruti permintaan Red –menemui si tamu VIP dan meyampaikan ‘pesan’ dari Red tadi.

I love you so much, Luhannie,” bisik Red sebelum Luhan turun dari stage DJ.

Dan untuk kesekian kalinya Luhan hanya memutar malas kedua bola matanya. Red selalu saja berpura-pura ‘manis’ pada Luhan jika sedang ‘memerintah’nya. Dasar.

.

.

.

Tok! Tok! Tok!

Pintu dari kaca yang menutupi ruang khusus bagi para tamu VIP itu diketuk oleh Red. Tidak ada jawaban dari dalam atapun tanda-tanda pintu ini akan dibuka.

Tok! Tok! Tok!

Masih hening.

Tok! Tok! Tok!

“Red disini,” ucap Red –bermaksud memberitahu kedatangannya.

Tapi, didalam sana seperti tak ada orang satupun. Apa ia salah ruangan? Tidak, Red yakin jika ruangan VIP yang dimaksud Luhan adalah ruangan yang ini. Tapi. . . kenapa sepi sekali? Sial. Jika saja Red adalah owner dari ELLUI club, ia sungguh akan menendang pintu ini sekarang juga.

“Aku masuk.”

Dan akhirnya, Red memilih masuk. Sebenarnya ia bisa saja pergi meninggalkan ‘pemesan’nya yang satu ini tapi ia hanya mencoba bersikap profesional.

Tepat saat ia sudah berada di dalam ruang VIP. Seluruh ruangan dengan tarif yang super mahal ini justru gelap gulita. Red tidak bisa melihat apapun. Oh shit, sepertinya Red memang salah ruangan. Red mendengus kasar lalu memalingkan tubuhnya ke arah pintu dan bersiap keluar dari ruangan itu.

Wanna fuck with me?

Bersamaan dengan suara berat seseorang itu, di ruangan VIP itu berubah terang. Semua lampu menyala. Tapi ada satu hal yang membuat Red tersentak kaget, dan itu. . .

Bingo!

‘Tuan’nya, Kim Jong In tampak duduk di sofa panjang –yang memang tersedia di ruang VIP itu, tepat saat Red memutar tubuhnya ke arah belakang.

“Hai, nerd,” sapa Jong In sambil menyeringai.

Red spontan membulatkan matanya lalu mengucek matanya. Konyol, Red merasa jika Jong In hanyalah fatamorgana. Jong In terdengar tertawa kecil melihat tingkah Red.

What the fuck are you doing here, brat?” pekik Red spontan.

“Menurutmu?”

Shit. Jong In benar-benar ‘menghantui’ dirinya. Red lalu mencoba membuka pintu dan berniat pergi tapi ancaman Jong In menghentikan niatnya.

“AS-mu akan kusebarkan pada semua murid HHS jika kau pergi.”

Fuck you, asshole. Apa yang kau inginkan sekarang? Aku masih harus kembali ke stage DJ lagi.”

Geez. Liar.”

Jong In mendesis sambil terus menunjukkan seringaian miliknya. Red lalu membalikkan tubuhnya –menghadap ke arah Jong In lagi.

“Aku punya jadwal kerja-mu,” tambah Jong In sambil mengangkat selembar kertas print-an diatas udara.

Oh great, Jong In sekarang juga menjadi ‘stalker’ seorang Red. Red bungkam, ia sudah tidak bisa mengatakan apapun.

“Kemari.”

Jong In menggerakkan telunjuknya –menyuruh Red untuk bergerak maju ke arahnya. Jong In lalu menepuk-nepuk pelan bagian sofa disebelahnya lalu mengedipkan sebelah matanya ke arah Red. Ugh. . . menggelikan.

Dengan sangat malas dan terpaksa, kaki Red melangkah ke arah Jong In. Ia lalu berdiri di depan Jong In tanpa berniat untuk duduk di sebelah Jong In. Jong In pasti sedang membuat ‘perangkap’ didalam otaknya. Dan Red harus mengantisipasi itu –sebisa mungkin.

Jong In berdiri dari posisi duduknya. Lalu menatap seduktif ke arah Red. Dan hal ini membuat Red err. . . salah tingkah. Ayolah, Red sudah sering ditatap seperti itu oleh para ‘pelanggan’nya tapi kenapa saat Jong In yang melakukannya ia merasa canggung? Ugh, shit.

Jong In lalu menundukkan sedikit tubuhnya –agar sejajar dengan wajah Red. Ia kemudian menarik salah satu sudut bibirnya dan senyuman sialan itu terbentuk di bibir Jong In. Senyuman ini mengartikan sesuatu yang buruk akan terjadi.

Tonight, I want to fuck you. So hard.

Red sontak membulatkan matanya. Ia lalu menatap kaget ke arah Jong In. “Whatta!?

-o- Nerdy Little Liar -o-

 

[To Be Continued]

 

 


Next on Nerdy Little Liar :

“Pay my body, dude.”

“Nerd sialan! Kau pikir siapa kau, huh? Beraninya kau memonopoli ‘idola’ kami! Rasakan ini!”

“Dasar bodoh. Kenapa tidak melawan?”

“Aku benci rumah. Aku merasa seperti berada di pemakaman.”

“Ah. . . Ah. . . Ah. . . fas –aahhh. . . fasterhhh. . .”

“Wanna do a threesome?”

 


A/N : WordPress pribadi : www.welcomeintkingdom.wordpress.com #iklanlewat. Maap kan saya karena nge-post nya lamaaaaaaaa. Huaaaaaaaaaaa, saya sibuk *soksibuktepatnya*. Saya harap kalian masih mau membaca cerita saya yang jelek ini *hikhikhik*. Tolong bagi komen. Bagi like. Bagi recehan *okengemis*. Terima kasih yang banyak sebanyak member JKT48 saya ucapkan kepada para pembaca yang awesome and amazing. Lupluplupluplup.

Sekian.

Terima kekasih.

T’s ❤

Advertisements

309 responses to “Nerdy Little Liar [2] – Shit Day

  1. Makin seru huhuhuuuu
    Kenapa sehun dingin tapi dia peduli sama jimoon ya.-.
    plis jongin udh mulai main main elah😂

  2. Ckckckck
    jong in tergiur juga rupanya :v
    hahaha

    hanya dgn sekali lihat vantatnya si red :v wkwkwk
    dasar maniak :v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s