THE X FEELING—MEET BLUES ONE

X Feeling

THE X FEELING

original fan fiction written by FanyByun_

MAIN :

|BYUN BAEKHYUN (EXO) | CHOI HYEYOUNG (OC) | KIM SEOK JIN ( BTS)|

MINOR :

| PARK CHANYEOL (EXO) | LEE MINAH (OC) | KIM JUNMYEON (EXO) | LU HAN (EXO) | BYUN CHEONSA (OC) | OH SEHUN (EXO) | KIM DAEUN (OC) | KRIS WU (EXO) | KIM HEECHUL(SUPER JUNIOR) |YOO NARAE (OC) |CHEON HYEJIN (OC)

GENRE :

ROMANCE— FANTASY—SCHOOL-LIFE—FRIENDSHIP

RATING :

[PG-17]

LENGTH : CHAPTER (ON GOING)

DISCLAIMER :

I OWN NOTHING BUT THE STORY. THIS STORY INSPIRED BY MANGA/ANIME VAMPIRE KNIGHT.

 Poster : AFANYA ARTWORK

oxXxo

Putih.

Gumpalan-gumpalan putih itu melayang turun dari langit kelabu. Ini awal Januari, wajar jika suhu udara di Seoul, Korea Selatan masih bergeming di angka minus tiga derajat celcius.

Di tengah dinginnya cuaca, seorang gadis dengan sebuah koper di sebelahnya berhenti  sebentar sekedar memperhatikan salju yang turun dari langit.

Putih.

Suci.

Gadis itu mengadahkan tangannya,menunggu gumpalan putih itu mendarat di telapak tangannya dan merasakan sensasi dingin ketika gumpalan putih itu meleleh di atas telapak tangannya. Gadis itu tersenyum kecil.

“Hye.” Seseorang laki-laki berseru dari ujung trotoar, menunggu si gadis menghampirinya. Gadis itu buru-buru mengambil kopernya dan membawanya berlari menghampiri si lelaki.

“Ayo cepat masuk ke dalam mobil,” gadis itu masih bergeming di hadapan si lelaki. Lelaki itu menoleh menatap khawatir pada si gadis.

“Tunggu apa lagi? Kau tidak mau telat kan?”

Akhirnya gadis itu memasuki mobil, duduk di samping pengemudi dan memasang seatbelt-nya. Tak lupa ia menutup pintu mobil Mercedes Benz hitam milik laki-laki di sampingnya. Lelaki itu menduduki bangku pengemudi bersamaan dengan tertutupnya pintu mobil, ia melakukan pun melakukan hal yang sama dengan si gadis.

“Jin.”  Panggil gadis itu. Laki-laki itu—Kim Seok Jin—mengalihkan pandangannya dari jalanan ke arah gadis itu…ehm…panggil saja gadis itu,Hyeyoung.

Wae?” Tanya SeokJin. Hyeyoung memandang lekat iris kecoklatan milik lelaki di hadapannya.

“Kau tahu kenapa abeoji memintaku pindah di saat tengah semester seperti ini?” ada sedikit keraguan dari pertanyaan gadis itu. Tidak sepenuhnya yakin dengan keputusannya mengikuti keputusan ayahnya. Ia hanya merasa, sedikit ragu dengan keputusan ayahnya.

Dan Seok Jin bisa merasakannya.

Dengan tersenyum, Jin berkata. “Entahlah, tapi ahjussi  pasti punya alasan melakukannya. Dan itu demi kebaikanmu juga, Hye.”

Hyeyoung menghela napas. Tatapannya jatuh pada sepasang sepatu sneakers putih yang tengah ia kenakan. Ia tahu, abeoji pasti punya alasan yang tepat untuk memindahkannya di saat tengah semester seperti ini. Yang tidak ia ketahui, mengapa abeoji menyembunyikan alasan itu darinya. Sementara mereka—Hyeyoung & ayahnya—sudah berjanji untuk berterus terang dan berbagi rahasia.

 Apakah abeoji sudah melupakan janji tersebut? Hyeyoung bermonolog dalam hati.

“Jangan berpikir macam-macam Hye.” Seok  Jin mengingatkan. Hyeyoung memandang sahabatnya yang sedang fokus menyetir. Ia tersenyum kecil melihat keseriusan Seok Jin.

“Aya Aya Captain Jin!”

Jin tersenyum setelahnya. “Good girl.”

oxXxo

Mercedes Benz hitam itu terpakir rapi di parking lot Empire High School. Seok Jin tengah sibuk mengambil koper Hyeyoung yang terletak di bagasi mobil. Sedangkan Hyeyoung memperhatikan sahabatnya tanpa niat ikut campur.

 Seok Jin itu keras kepala, sekali ia berkata tidak maka selamanya akan begitu,Pikir Hyeyoung.

Ya, Seok Jin memang memerintah Hyeyoung supaya tidak usah membantunya mengangkut barang-barang gadis itu. Dan yang perlu Hyeyoung lakukan adalah menuruti perintah Seok Jin. Hyeyoung tidak mau Seok Jin marah dan memusuhinya selama sebulan. Sungguh, sehari tanpa berkomunikasi dengan Seok Jin saja rasanya Hyeyoung tak sanggup. Seok Jin benar-benar salah satu kepingan terpenting dalam hidupnya, yang ingin selalu ia rengkuh dalam pelukannya.

Jangan salah mengartikan, Hyeyoung hanya menganggap Seok Jin sebagai sahabat baiknya. Bukan sebagai seorang lelaki yang ia cintai. Sungguh, Hyeyoung berani bertaruh tentang hal itu.

Seok Jin sudah bersahabat dengannya selama enam belas tahun hidupnya. Dan tak ada keraguan dalam hatinya untuk mendeklarasikan bahwa Seok Jin adalah seseorang yang berarti dalam hidupnya. Terlebih setelah ibunya meninggal enam tahun lalu. Seok Jin bersedia memberikan Hyeyoung kasih sayang seperti yang pernah diberikan oleh mendiang ibunya.  Itu karena setelah ibunya meninggal abeoji menjadi  work-a-holic  sehingga tidak mampu memberikannya kasih sayang layaknya seorang ayah pada anaknya. Jadilah Hyeyoung mencari-cari kasih sayang dari orang lain. Dan beruntung—Seok Jin, sahabatnya—mau memberikannya secara cuma-cuma.

“Selesai.” Hyeyoung menoleh. Menemukan Seok Jin dengan koper putih dan tas dipundaknya. Keduanya kemudian berjalan bersama menuju gerbang masuk Emipre High School dalam diam.  Mereka berjalan melewati lorong-lorong dan koridor yang didesain seperti bangunan abad pertengahan. Sambil berjalan Hyeyoung membuka percakapan.

“Jin—”

Seok Jin menemukan Hyeyoung tengah menatapnya lekat. Lelaki itu diam menunggu kelanjutan kata-kata gadis itu.

“—Terimakasih.”

Dengan senyuman yang mengembang laki-laki itu merangkul Hyeyoung dengan tangannya yang bebas.

“Sama-sama, Hye. Jangan lupa setelah sampai di kamar-mu hubungi aku.”

Hyeyoung mengangguk. “Aku akan melakukan video call dan memamerkan betapa bergengsinya sekolah ini padamu, Jin. Aku heran, mengapa kau tidak ikut pindah saja bersamaku?”

Jin menarik Hyeyoung lebih dekat. Kemudian berbisik tepat di telinga gadis itu. “Kau akan tahu alasannya, nanti.”

Kesal. Hyeyoung melepaskan rangkulan Seok Jin di bahunya. Laki-laki itu terkekeh melihat ekspresi cemberut gadis di sampingnya.

“Aku tidak suka main rahasia-rahasiaan. Kau tahu jelas tentang itu, Tuan Kim.” Kata Hyeyoung.

Mimik kesal yang terpatri di wajah gadis itu tak ayal membuat Seok Jin terkekeh lebih kencang.

Dan Hyeyoung memukulnya lebih kencang pula.

Tetapi kemudian keduanya tertawa bersama-sama ketika Seok Jin akhirnya megalah dan mengatakan alasannya tidak ikut pindah.

“Betapa konyol alasanmu itu, Jin! Kalau kau takut ketahuan mimpi yang aneh-aneh, aku lebih takut kau akan menenggelamkan asrama dikarenakan lautan liurmu itu! Ah, kau mungkin akan membuat Korea Selatan tenggelam karenanya.”

oxXxo

“Berhenti tertawa seperti itu Hye.” Peringatan dari Seok Jin tidak dihiraukan oleh si empunya nama. Hyeyoung bahkan semakin mengeraskan tawanya dan mengeluh ‘Oh perutku sakit’. Seok Jin hanya bercanda mengenai peringatannya itu, ia kemudian mengedarkan pandangan. Kini mereka telah sampai di depan ruang kepala sekolah.

“Kita sampai, apa aku perlu menemanimu masuk ke ruang kepala sekolah?” Tanya Seok Jin menatap Hyeyoung yang sedang terkagum melihat bangunan yang menjulang di depan matanya.

Setelah kembali pada kesadarannya gadis itu berkata. “Tidak perlu. Kau harus pulang sekarang, Jin. Aku tidak mau Kim harabeoji mengomel karena kau telat pulang.”

Seok Jin membalikan badan dan berjalan ke koridor yang terhubung dengan pintu keluar. Hyeyoung menatap punggung laki-laki itu yang semakin mengecil, lalu mengalihkan pandangannya ke arah pintu silver di hadapannya.

Setelah mengetuknya pelan pintu itu terbuka. Menampakkan seorang laki-laki berwajah cerah dan rambut panjang yang diikat ekor kuda—ups ia juga menyemir rambutnya hingga berwarna blonde. Laki-laki itu memperkenalkan dirinya sebagai kepala sekolah. Hyeyoung telihat shock, tapi gadis itu buru-buru memasang poker face-nya dan memasuki ruang kepala sekolah itu.

“Anggap saja rumah sendiri, Hyeyoung-chan.” Kepala sekolah mempersilahkan Hyeyoung memasuki ruangannya. Ia mengamati Hyeyoung yang nampak terkejut karena kepala sekolahnya memanggilnya ‘Hyeyoung-chan’ panggilan yang sudah lama tidak ia dengar. Mendadak, Hyeyoung merasakan kerinduan besar akan kampung halaman neneknya di Jepang sana.

Beberapa menit setelahnya Hyeyoung duduk di sebuah kursi seperti yang diperintahkan oleh kepala sekolah.

“Oh ya, namaku Kim Heechul, kau bisa memanggilku Hedictator—ah atau Heechul saja, tapi meskipun nickname ku menakutkan seperti itu, aku ini bukan seorang dictator loh. Sebaliknya, aku merupakan ayah yang baik bagi dua anakku. Oh ngomong-ngomong kau harus berkenalan dengan anakku Daeun, dia memiliki tinggi segini, rambutnya sebahu dan berwarna cokelat, begitu pun warna matanya. Dia itu sangat baik dan mengerti akan keinginan ayahnya. Anakku yang lainnya—“

Hyeyoung tidak benar-benar mendengarkan ocehan si Kepala Sekolah bernama Kim Heechul tersebut. Ia tak habis pikir, sekolah bergengsi seperti Empire High School memiliki kepala sekolah dengan kepribadian 4D. Ugh rasa-rasanya Hyeyoung tak sabar untuk memberitahukan pada Seok Jin bahwa sekolah se-elite Empire High School ternyata memiliki Kepala Sekolah dengan otak yang melenceng.

“Hyeyoung-chan, kau mendengarkanku?”

Hyeyoung tersadar dari lamunannya, ia menemukan wajah kepala sekolah menatapnya khawatir sekitar tiga meter jaraknya dari tempat duduknya.

“Huh?” Hyeyoung bertanya linglung.

“Kau pasti tidak mendengarkanku, mungkin kau mengalami jetlag atau semacamnya. Oh aku hanya ingin memberikan seragammu dan kunci kamarmu. Oh dan satu lagi, ini handbook, di dalamnya terdapat catatan tata tertib dan peta sekolah. Kuharap Hyeyoung-chan membaca tata-tertibnya setelah sampai di kamar.”

Hyeyoung mengangguk mengerti dan menerima ketiga benda yang diberikan oleh Kepala Sekolah.

Khamsahamnida.”

“OK. Dan satu lagi Hyeyoung-chan. Jika kau memerlukan sesuatu yang penting, tidak usah ragu untuk mendatangi ruanganku.”

Arraseo, Heechul-ssi. Kalau begitu, saya pamit.” Hyeyoung membungkukkan badannya sebelum berbalik dan membuka pintu keluar.

Betapa terkejutnya dia ketika melihat dua orang—laki-laki & perempuan—berdiri di hadapannya. Si perempuan melemparkan senyuman ringan. Sedangkan si laki-laki tetap terdiam ,tampak tak peduli.

“Kau pasti Hyeyoung-ssi. Aku Kim Daeun. Senang bertemu denganmu Hyeyoung-ssi.” Daeun menyapa Hyeyoung, ramah.

Hyeyoung mengangguk. “Senang  bertemu denganmu, Daeun-ssi.”

Pandangan matanya tak sengaja bertemu dengan tatapan tajam dan menusuk milik seorang lelaki di sebelah gadis bernama Daeun. Buru-buru ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Beberapa detik setelahnya suara Kepala Sekolah terdengar dari dalam ruangan memanggil Daeun dan seseorang di sebelah Daeun untuk memasuki ruangan. Hyeyoung menepi dan memberikan jalan untuk keduanya.

Sebelum memasuki ruangan Daeun mengeluarkan suaranya “Kalau kau tidak keberatan aku akan memberikanmu tour mengelilingi  Empire High School Hyeyoung-ssi, dan perkenalkan dia ini Oh Sehun. Maaf kalau dia membuatmu takut. Dia memang sedikit canggung pada orang baru.”

“Baiklah kalau itu tidak mengganggumu, Daeun-ssi.” Hyeyoung  berjalan menjauhi ruangan Kepala Sekolah , kakinya melangkah ragu ia bingung akan kemana.

Oh, sampai lupa, ia harusnya melihat peta yang tadi diberikan oleh Kepala Sekolah . Dengan cepat, gadis itu mengambil peta yang terselip dalam handbook. Diamatinya peta tersebut.

“Baiklah, aku hanya tinggal berjalan lurus kemudian berbelok ke kanan, lalu berjalan melewati taman dan berbelok ke kiri memasuki lorong pertama dan menaiki tangga. Setidaknya, kamarku tidak teletak di lantai keempat.” Hyeyoung melakukan monolog , lalu melirik ke arah koper putihnya.

“Ini pasti melelahkan…” lanjut gadis itu.

Hyeyoung meraih kopernya dan berjalan pelan sesuai dengan perkataannya beberapa saat lalu.

oxXxo

Hyeyoung sampai di kamarnya nomor 256. Kamar itu terletak di lantai dua. Ia berjuang mati-matian untuk mengangkut koper putih besar itu meniti tangga tadi. Tak ayal, kini wajah manis gadis itu tertutupi oleh keringat yang mengucur deras . Setelah menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya gadis itu meraih kunci kamar dan memasukannya ke lubang kunci, memutarnya ke kanan satu kali. Kemudian, pintu itu terbuka.

Wangi mawar merah langsung merangsak kasar memasuki indra penciumannya. Gadis itu menatap keseluruhan bagian kamar. Ia tidur sendiri, dan ia bersyukur karenanya. Hyeyoung bukan gadis yang mudah bergaul, bahkan cenderung anti-social. Terhitung, hanya ada 2 orang yang ia anggap sebagai sahabat. Seok Jin dan Minri.

Kamarnya sendiri bercat putih tulang, berarsitektur gothic , dan cukup luas—sekitar 6×7 m—di tengah ruangan tergelar sebuah karpet berwarna hitam dengan ornamen bunga mawar di tengah-tengahnya. Di atas karpet tersebut terdapat sebuah meja kecil dengan lampu belajar. Di sudut kanan kamar berdiri sebuah lemari kayu jati berwarna cokelat marun. Dan di sebelah kiri terlihat sebuah sigle bed terletak di dekat sebuah jendela besar .  Ada sebuah lemari buku juga di sebelah lemari jati.

Hyeyoung melangkah mendekati jendela besar tersebut, khas abad pertengahan.

Dari jendela itu, Hyeyoung dapat melihat sebuah asrama lain. Seperti yang tertulis di peta, itu adalah Asrama Bulan. Ia mengamati asrama itu degan teliti. Tidak seperti Asrama Matahari—asrama Hyeyoung dan murid—murid Day Class lainnya. Asrama Bulan memiliki pagar keliling yang amat tinggi, mungkin sekitar 20 meter menjulang ke atas. Mengamati asrama bulan membuat rasa penasarannya semakin menjadi-jadi. Ia sangat penasaran, mengapa harus ada dua asrama ?

Dan mengapa harus ada Day Class dan Night Class?

Sambil menahan rasa penasarannya gadis itu membuka koper putihnya. Memastikan bahwa tidak ada satupun barang yang tertinggal. Kemudian gadis itu mengambil pakaian-pakaiannya baik itu kaus, kemeja, piyama, underwear, jeans, hot pants, dan celana training. Memasukan pakaian-pakaiannya ke lemari jati dengan rapi. Setelah itu, ia meletakkan CD dan novel-novelnya ke lemari buku, menyusunnya sesuai dengan genre. Setelah yakin semuanya tertata rapi, gadis itu beralih ke papan busa yang menempel di dinding, ia baru melihatnya. Mungkin ini tempat untuk meletakkan foto dan sejenisnya. Ia melihat ada sebuah paku pin up warna-warni yang menusuk papan busa tersebut.

Hyeyoung mengambil album foto yang tadinya ia letakan di lemari buku, membukanya dan tersenyum kecil. Ia akan menempelkan foto-foto tersebut ke papan busa. Tetapi, Hyeyoung mengurungkan niatnya setelah mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya.

“Sebentar.”

Hyeyoung melangkah menuju pintu dan membukanya. Iris cokelat milik Daeun menyambutnya. Daeun juga memberikan senyuman manisnya ke arah Hyeyoung.

“Ah, Daeun-ssi, silahkan masuk.” Hyeyoung basa-basi, yeah, dalam keluarga Choi, kesopanan adalah hal yang diprioritaskan, itulah mengapa Hyeyoung mempersilahkan Daeun.

“Oh, tidak perlu, Hyeyoung-ssi. Aku kemari untuk mengantarmu tour mengelilingi sekolah.” Daeun berkata pelan. Sekilas ia mengintip kamar milik Hyeyoung yang tertata rapi.

“Kau sedang merapikan kamarmu ya?” Tanya Daeun.

Hyeyoung melirik ke dalam kamarnya, mengikuti arah pandang Daeun. “Sudah selesai tadi.”

Daeun mengangguk paham, “Kalau begitu, bisa kita mulai tournya?”

“Tentu saja,”Hyeyoung berbalik memasuki kamarnya. “Aku memakai syal dulu.” Lanjut gadis itu. Daeun memperhatikan aktivitas Hyeyoung. Hingga akhirnya Hyeyoung menutup pintu kamar.

“Omong-omong, kamarku terletak dua kamar dari milikmu, Hyeyoung-ssi. Dan satu lagi, panggil aku Daeun-ah saja. Kita kan teman.” Kata Daeun, ia tersenyum hingga dua matanya melengkung seperti bulan sabit.Hyeyoung melihat ketulusan yang terpancar dari wajah Daeun. Ia ikut tersenyum.

Tidak ada salahnya memulai pertemanan dengan Daeun toh ia gadis yang baik, pikir Hyeyoung.

Hyeyoung membalas senyuman Daeun dengan ikut tersenyum. “Baiklah. Kalau begitu, panggil aku Hye saja, aku kurang suka jika dipanggil Hyeyoung.”

Geure, Hye terdengar manis.”

 

oxXxo

 

Daeun dan Hyeyoung berjalan berjejeran mengelilingi Empire High School.  Daeun sudah mengenalkan Hyeyoung pada beberapa ruang kelas . Dan kini mereka berdua duduk di sebuah kursi di taman. Sekarang pukul empat sore. Tersisa kurang lebih lima buah ruangan dan gedung yang belum Daeun kenalkan kepada Hyeyoung.

“Tenyata melelahkan juga ya mengelilingi sekolah.” Daeun memulai percakapan.

Hyeyoung membalasnya dengan anggukan singkat. “Aku benar-benar haus.” Tambah Hyeyoung sebagai pembuktian bahwa ia juga sama capeknya seperti Daeun .

Daeun mengambil sesuatu dari saku seragamnya, itu air mineral. Ia memberikannya kepada Hyeyoung. Hyeyoung menggumankan terimakasih sebelum meminumnya.

“Masih ada lima gedung dan ruangan yang tersisa untuk dikenalkan. Mungkin kita lanjut besok saja?” Tanya Daeun, kali ini gadis ceria itu mengecek jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

Hyeyoung mengendikkan bahunya. “Terserah saja, tapi jujur aku penasaran dengan Asrama Bulan.”

Daeun membelalakan matanya. “Itu tidak boleh. Murid Day Class tidak boleh memasuki Asrama Bulan!”

Hyeyoung memberikan Daeun tatapan tidak mengerti. Ia hanya mengatakan penasaran bukan berarti ia ingin memasuki asrama tersebut. Hyeyoung rasa Daeun terlalu membesar-besarkan masalah. Lagipula tadi ia mendengar salah satu siswa Day Class membicarakan peraturan yang sama persis seperti kata-kata Daeun.

“Itu tertulis dalam handbook kan?” Tanya Daeun, kini mata gadis itu tidak lagi melotot . Hyeyoung mengangguk mengiyakan. Sejujurnya, ia belum membaca tata-tertib itu. Tapi tidak ada gunanya kan mengatakan hal itu pada Daeun?

Hyeyoung mengamati Daeun yang duduk sambil menatap langit. Ia melihat sebuah kain dengan symbol mawar mencuat dari saku seragam milik Daeun. Terdorong rasa penasaran, Hyeyoung bertanya mengenai hal tersebut.

“Daeun, itu apa?”

Daeun mengalihkan pandangannya ke sesuatu yang ditunjuk oleh Hyeyoung. Ia tersenyum kecil.

“Ini merupakan tanda bahwa aku salah satu perfect yang bertugas berpatroli malam, untuk memastikan bahwa murid Day Class tidak keluar Asrama dan mengganggu jalannya pembelajaran murid Night Class.” Daeun menjelaskan.

“Oh jadi begitu. Jadi kau dan laki-laki bernama Oh Sehun itu merupakan perfect ya?”

Daeun mengangguk mengiyakan. “Yah, terkadang menjadi perfect membuatku kesal. Aku sering kehilangan jam tidurku. Belum lagi mengurusi gadis-gadis Day Class yang selalu menginginkan untuk memasuki Asrama Bulan.”

Apa? Memasuki Asrama Bulan? Hyeyoung berbicara dalam hati.

Hyeyoung jadi membayangkan bahwa gadis-gadis Day Class sama bar-bar-nya seperti para sasaeng fan yang terobsesi mengejar-ngejar idolanya. Itu terlihat sangaaaat mengerikan.

“Mereka terdengar seperti bar-bar.”

Daeun terkekeh . “Aku baru percaya kalau mereka bar-bar bila mereka menarikan tarian Bar-Bar-Bar-nya Crayon Pop.”

Hyeyoung tertawa. “Sungguh, itu tarian yang sangat konyol! Ugh… jangan bilang kau suka menontonnya!”

Daeun mengendikkan bahu, masih ikut tertawa dengan joke yang ia buat sendiri. “Kenapa tidak? Semua orang menontonnya.”

Hyeyoung memukul bahu Daeun , tidak keras, karena itu hanyalah luapan dari rasa gelinya. “Kecuali Oh Sehun kalau begitu, ia terlihat menakutkan, tahu?”

Absolutely I know. Sehun memang amat menakutkan, hampir seluruh gadis-gadis Day Class membencinya. Aku khawatir ia akan jadi bujang lapuk.”

“Kenapa tidak ajak dia melakukan kencan buta?” Tanya Hyeyoung, memberikan solusi. Daeun menadang Hyeyoung sebentar.

“Sangat mustahil jika ia mau melakukannya tanpa mendapat satu atau dua pukulan dariku, sementara aku sedang tidak mood meletuskan Perang Dunia Ketiga.”

Hyeyoung dan Daeun terkekeh pelan. Kemudian mereka melihat gadis-gadis Day Class berbondong-bondong berlari menuju Asrama Bulan.

“Hye, maaf, gadis-gadis bar-bar itu memulai aksi mereka.” Daeun melambaikan tangannya. Hyeyoung pun melambaikan tangannya.

“Hati-hati!” teriak Hyeyoung, yang dibalas oleh senyuman Daeun. Dari kejauhan ia dapat melihat Daeun dengan susah payah memperingatkan gadis-gadis Day Class untuk minggir dan memberikan jalan untuk murid Night Class yang sebentar lagi keluar dari pintu gerbang.

Ia juga melihat Oh Sehun yang datang beberapa menit setelahnya dan mampu membuat takluk gadis-gadis Day Class untuk berbaris rapi memberikan jalan bagi murid-murid Night Class yang sebentar lagi keluar.

Hyeyoung berjalan mendekat ke arah Daeun. Ia terdorong kesana-kemari oleh gadis-gadis bar—Day Class yang masih meluruskan barisan mereka. Semuanya terdiam ketika terdengar bunyi ‘krek’ keras. Dan gerbangpun akhirnya terbuka.

Terlihat sekitar dua belas siswa-siswi berdiri anggun setelah gerbang tersebut terbuka. Mereka mengenakan seragam berwarna putih yang modelnya sama persis dengan seragam Day Class, yang membedakan hanyalah warnanya saja. Wajah mereka seolah bersinar ketika disirami cahaya lembayung redup matahari sore yang tinggal selangkah lagi kembali ke peraduannya.

Hyeyoung seolah sedang melihat idol-idol Hallayu yang melakukan fan meeting. Pasalnya mereka memiliki paras yang rupawan. Selain itu teriakkan gadis-gadis Day Class menambah suasana  seperti fan meeting.

Murid Night Class memiliki kulit yang lebih pucat daripada orang Korea kebanyakan. Hyeyoung jadi  berpikir, berapa besar uang yang mereka semua habiskan untuk melakukan operasi plastic dan suntik putih. Ugh…pasti besar. Beruntung Hyeyoung tidak pernah melakukan operasi pelastik . Selain karena harganya mahal. Ia juga sudah bersyukur memiliki wajah yang tidak jelek-jelek amat, bisa dibilang imut.

“Hyeyoung, apa yang kau lakukan disini?” itu suara Daeun yang sedang kebingungan. Ia tidak menyangka seorang Hyeyoung ikut berdesak-desakan dengan gadis-gadis Day Class yang lainnya.

“Aku penasaran saja, ingin melihat Night Class. Dan juga, ingin melihatmu menjalankan tugasmu.”jelas Hyeyoung.

“Kalau begitu, kembali ke kamarmu. Hari hampir malam.” Daeun mengatakannya dengan lembut sehingga Hyeyoung menangkapnya  bukan sebagai perintah tetapi lebih kepada permohonan.

Geure, aku kembali ke asrama dulu.” pamit Hyeyoung. Tapi, gadis itu kurang beruntung. Salah satu gadis Day Class tidak sengaja menubruknya dan akhirnya membuatnya terjerembab ke arah depan. Hyeyoung sudah pasrah jika nantinya ia jatuh dan kepalanya terbentur batu  dan mengeluarkan banyak darah. Lalu ia akan amnesia.

Ia sudah pasrah akan itu. Tetapi, ia tidak merasakan semuanya. Ia tidak merasakan bahwa ia jatuh , kemudian kepalanya menubruk batu dan ia akan berdarah-darah seperti yang sempat ia pikirkan tadi. Penasaran, gadis itu membuka matanya.

Manik mata hitam miliknya beradu dengan manik  mata biru seorang laki-laki dengan stelan seragam berwarna putih. Hyeyoung seperti tersihir, ia tidak mampu menggerakan tubuhnya pun untuk mengalihkan pandangannya dari manik mata laki-laki tersebut. Rambut blonde laki-laki itu bergerak-gerak nakal disapu angin sore. Itu membuatnya terlihat  berkali-kali lipat lebih tampan di mata Hyeyoung.

“Kau , baik-baik saja?” Tanya laki-laki bermata biru sebiru laut Samudra Atlantik , terlihat suci, tidak pernah tersentuh. Terlihat tulus.

Hyeyoung menggelengkan kepalanya, ia tersadar dari lamunanya dan buru-buru menjauhkan dirinya dari tubuh laki-laki bermata biru tersebut. Ia menatap ngeri  gadis-gadis Day Class menatapnya tak suka. Oh, Hyeyoung tidak suka ini. Ia tidak suka menjadi center-of-attention. Yang lebih parah, ia sudah dibenci oleh sebagian besar siswi-siswi Day Class bahkan sebelum ia mengikuti kegiatan belajar di Empire High School!

Ini awal yang buruk.

O-okage samade genki desu . Sumimasen...[2]” Tanpa sadar Hyeyoung malah berbicara dengan bahasa Jepang.  Buru-buru ia menutup mulutnya.

Jal Jinemnida. Jwesonghamnida…[3]” Hyeyoung mengulang kata-katanya yang memiliki arti sama persis seperti kata-kata berbahasa Jepang yang beberapa saat lalu meluncur dari bibir tipis merah muda miliknya.

Laki-laki itu menatapnya takjub. “Kau bisa berbahasa Jepang?”

Sarkastik memang. Laki-laki itu tadi sudah mendengarnya mengucapkan bahasa Jepang dengan fasih. Jadi, apa ia perlu menjawab pertanyaan laki-laki bermata biru itu? Demi formalitas dan adat kesopanan keluarga Choi, ia terpaksa mengangguk.

Ia menatap ke sekelilingnya, semua orang—baik itu Night Class maupun Day Class—menatapnya mengintimidasi. Daeun menatapnya khawatir sedangkan Sehun di sebelah Daeun terlihat menggertakkan giginya.

“Itu hebat! Omong-omong kau salah satu fansku? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya.” Laki-laki bermata biru itu menatap Hyeyoung lama. Hyeyoung mengelak.

“Aku murid baru.”

Laki-laki bermata biru itu mengangguk-angguk, mengerti. “Kalau begitu perkenalkan—“

“Baek..” Seorang laki-laki jakung berdiri disebelah laki-laki bermata biru tersebut. Rambut laki-laki itu berwarna orange , ia memiliki wajah emotionless, tipe orang seperti Oh Sehun.

“Ya aku tahu Yeol, berhenti mengkhawatirkanku.” kata laki-laki  bermata biru terlihat tak suka atas kehadiran laki-laki berambut orange.

“Namaku Byun Baekhyun, dan kau?”

Tanpa diduga-duga Oh Sehun mencengkeram lengan Baekhyun yang hampir menyentuh pundak Hyeyoung. Tatapan laki-laki Oh itu mengintimidasi Byun Baekhyun.

Daeun berdiri di sebelah Hyeyoung, menarik gadis itu sedikit menjauh dari Baekhyun. Daeun hanya khawatir Hyeyoung akan terjatuh dalam lubang bahaya. Apalagi jika yang mebuat lubang itu berbahaya adalah Byun Baekhyun, seseorang yang belum bisa menstabilkan emosinya sendiri.

“Baekhyun-sunbae, ini sudah kelewat batas. Sunbae sebaiknya segera pergi ke kelas.” Kata Daeun. Tatapannya berkilat saat mengatakan hal tersebut.

Baekhyun tersenyum kecil, ketika melihat seseorang melangkah keluar dari gerbang. “Baiklah, Kim Daeun. Omong-omong pangeranmu sudah datang.”

Daeun mengikuti arah pandang Baekhyun dan menemukan Kris Wu sunbaenim. Pipi Daeun tiba-tiba bersemu merah. Baik Hyeyoung, Sehun, Baekhyun, maupun Chanyeol mereka melihatnya.

“Namamu?” Tanya Baekhyun masih pada pendiriannya, walaupun ia tahu sebentar lagi ia akan ada dalam bahaya.

Hyeyoung menyerah, toh tak masalah kan jika Hyeyoung memperkenalkan dirinya pada Baekhyun. Dalam peraturan tidak ada tata-tertib yang tertulis bahwa murid Day Class tidak boleh berkenalan dengan murid Night Class kan? Sungguh konyol jika ada suatu peraturan seperti itu.

Memangnya siapa sih murid Night Class itu?

Artis?

Bisa jadi, pasalnya ia melihat Lu Han si model berdiri di sana dengan angkuhnya. Dan ia juga melihat Cheonsa, salah satu penyanyi yang sedang naik daun beberapa bulan belakangan.

“Namaku Choi Hyeyoung, Baekhyun-sunbaenim.”

Baekhyun tersenyum. “Baik, Hyeyoung, senang bertemu denganmu.”

To be Continue


Author Note :

Salam Olahraga! /apaan coba/

Selamat bertemu lagi dengan Fany! 🙂

Aduh seneng banget akhirnya bisa ngepost juga. Maaf bukannya ngepost Miss Annoying , aku malah ngepost ff lainnya. Ini ff yg terinspirasi dari manga dan anime favoritku, Vampire Knight. Iya, yg ada Kaname senpainya itu. Dan yang jelas ada Aidou Hanabusa kesayangan :* . Tapi ini hanya terinspirasi loh ya, bukan berniat untuk menjiplak. Semata-mata karena aku suka anime dan manga itu sehingga aku sangat bersemangat menulis ff yang konsepnya sama dengan Vampire Knight.

Pertama, selamat buat kalian yang udah libur. Aku juga udah sih, wkwk. Gemana raport kalian? Bagus nggak? Semoga bagus ya.

Kalau raport aku jangan ditanya deh wkwkwk. Alhamdulillah bagus, dapet ranking 3 besar juga di kelas. Alhamdulillah juga semuanya tuntas, nggak ada yang merah nilainya. Yaudah.

Terus soal kelanjutan Miss Annoying, sekedar info aja, chapter selanjutnya dari Miss Annoying akan aku protect . Bukannya apa-apa, hanya saja mungkin scene dari chapter itu nggak sesuai sama kalian yang masih cimit-cimit. /apadeh/

Oh ya, maaf kalo banyak typo, ceritanya pasaran, atau apalah itu. Terimakasih buat yang udah baca dan apresiasi. Jangan sungkan buat review ya!

I love you guys~

 

Advertisements

104 responses to “THE X FEELING—MEET BLUES ONE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s