HUNCH [Chapter 3]—by vanillaritrin

1414394516078Author : vanillaritrin | Genre : Romance, Fantasy, Surrealism | Length : Chaptered | Rating : PG – 17 | Main Cast : Go Nahyun (OC/You), Oh Sehun | Support Cast : Kang Yura (OC), Park Chanyeol, Hong Jonghyun, Huang Zitao, and the others | Poster : pinkfairy

Disclaimer : The plot is mine!

Thank you jungsangneul for beta-ing!

Intro | Ch 1 | Ch 2

~~~

Nahyun menarik napas dalam berulang kali. Dia memantapkan hatinya sesudah menggigiti kuku bermenit – menit. Perlahan, tangan Nahyun terangkat meraih kenop pintu.

Sehun terkejut sewaktu pintu yang menjadi sandarannya dibuka dari dalam. Tubuhnya nyaris terjungkal kalau tidak cukup kuat menahan bobot tubuhnya. Sehun mendongak—mendapati Nahyun berdiri di ambang pintu.

“Masuk.”

Tanpa kata tambahan apapun di belakangnya, Nahyun berbalik. Dia berjalan ke dapur lalu memasak air panas untuk membuat teh.

Sehun masih tidak percaya saat daun pintu itu terbuka lebar. Susah payah dia mengumpulkan tenaga sampai bangkit. Langkahnya terseok – seok, dia meringis. Namun rasa sakitnya sedikit berkurang sewaktu udara dingin berganti menjadi suasana hangat flat Nahyun.

Mata Sehun menelusuri flat kecil Nahyun. Hanya ada satu sekat yang membatasi kamar dan dapur. Kamar mandi terletak di samping kamar. Tidak ada figura atau apapun yang melekat di dinding. Ada beberapa tumpuk kertas di atas sofa. Juga sepertinya di dalam kamar tidak ada televisi karena di ruang tamu inilah terdapat televisi berukuran kecil.

Nahyun mengaduk teh dengan gula dalam cangkir. Dia sempat mencuri pandang ke arah Sehun dan kondisi Sehun yang kacau menembus perasaannya hingga ke dasar. Nahyun berdehem kecil sambil membawakan cangkir untuk Sehun.

Sehun tersentak saat Nahyun meletakkan secangkir teh di meja. Pandangannya masih mengeliling saat Nahyun sudah beranjak ke kamar. Yeah, dia harus berterima kasih karena Nahyun mau membukakan pintu untuknya sekaligus membuatkannya teh hangat.

Juga… bolehkah dia meminta antiseptik sebelum lukanya semakin parah?

Sebelum Sehun sempat melangkah sejengkal dari tempatnya, Nahyun sudah kembali dengan kotak obat di tangannya. Dia duduk di sofa lalu menepuk tempat kosong di sebelahnya.

“Duduk,” perintahnya. Sehun menggerakkan tubuhnya pelan – pelan hingga duduk dengan nyaman. Nahyun tidak protes sewaktu Sehun bergerak selambat kura – kura.

Nahyun melepaskan jaket Sehun yang basah. Oh, semuanya basah. Dia harus menyuruh Sehun mandi setelah ini.

“Astaga!” pekik Nahyun tertahan begitu dia menanggalkan jaket Sehun. Pantas sejak tadi Sehun terus memegangi lengan kirinya.

“Biar kulihat.” Nahyun meraih lengan Sehun perlahan. Dia meneliti luka yang terbuka disana. Cukup untuk membuat siapapun yang melihatnya meringis.

Nahyun membersihkan darah yang mengalir di lengan Sehun terlebih dahulu. Sesudah itu, dia mengoleskan antiseptik di luka Sehun. Sehun diam namun bukan berarti itu tidak sakit. Sehun mungkin masih bisa menahannya.

Nahyun menangkap jejak darah di ujung celana Sehun. Sempat dirundung keraguan, akhirnya Nahyun memberanikan diri mengangkat kaki Sehun ke pangkuannya. Dia menggulung bagian bawah celana Sehun sampai sebuah luka terlihat lagi. Metodenya sama, dia melakukan pembersihan kemudian mengoles antiseptik disana.

Nahyun tidak menggulung celananya lagi, dia membiarkan luka Sehun terbuka agar cepat kering. Tangannya kemudian beralih pada wajah Sehun dan saat itulah mata mereka bertemu. Nahyun terhenyak beberapa jenak mengingat betapa merahnya bola mata itu tempo hari.

Namun segera dia singkirkan semua pikiran itu sewaktu Sehun merintih. Mungkin efek antiseptiknya baru terasa.

Nahyun mengompres lebam di wajah Sehun dengan es batu. Dia melakukannya dengan hati – hati dan telaten. Hal itu menyebabkan Sehun tidak henti memaku tatapannya pada gadis itu.

“Apa mereka melawan?” Nahyun tiba – tiba bertanya. Dia menempelkan kompresan di sudut bibir Sehun yang robek.

“Siapa?” Sehun bertanya balik sedatar mungkin.

“Orang – orang itu,” Nahyun menjauhkan wajahnya sedikit dari wajah Sehun, “orang – orang yang kau hilangkan.

Sehun terkesiap. Dia memandang Nahyun takjub beberapa detik. “Kau… mengingatnya?”

Nahyun mengangguk. Dia memindahkan kompresnya ke tulang pipi Sehun sementara Sehun menelaah garis wajah Nahyun.

“Aku menyaksikannya dua kali. Bagaimana bisa aku lupa?” Nahyun memalingkan wajah ke arah lain—agak risi dengan tatapan Sehun.

Sehun berdehem sekilas—berusaha mengeluarkan suara dengan tenang. “Dan aku menciummu.”

Nahyun masih tidak mau berpaling.

“Kupikir kau sudah lupa karena ciuman itu,” Sehun mendesah, “kau mengingat semua dengan baik dan kau tidak apa – apa. Ini aneh.”

“Siapa kau?”

Sehun melihat Nahyun menatap lurus ke arahnya. Dia sudah selesai mengompres lebam di wajah Sehun. Ada raut kecemasan sekaligus ingin tahu yang besar di sana.

“Aku tidak bisa memberitahumu.” Sehun menundukkan kepala—memohon maaf. Dia sudah pasrah kalau Nahyun mengusirnya setelah ini.

Nahyun menghela napas berat. “Kalau begitu, bisakah aku memercayaimu?”

Sehun mendongak. Pria berambut cokelat itu menemukan sorot mata Nahyun yang seolah ingin menahannya di sana namun juga takut di saat yang sama.

“Ya.”

Nahyun bangkit lantas menghilang di balik pintu kamar. Walaupun sekarang luka di tubuh Sehun sudah diobati, dia masih kedinginan. Tak disangka, Nahyun kembali dengan handuk putih di tangannya.

“Minum tehnya lalu mandi. Kamar mandinya di sebelah kamarku,” Nahyun menyerahkan handuk ke arah Sehun, “kalau pakai bajuku tidak apa, ‘kan?”

Sehun mengangguk. Dia mengambil handuk yang diserahkan Nahyun.

“Bajunya ada di kamar mandi,” ujar Nahyun sesaat setelahnya. Sehun berusaha berdiri dan ternyata kondisinya sudah cukup membaik.

“Aku mandi dulu.” Sehun agak menyeret langkahnya menuju kamar Nahyun.

Sepeninggal Sehun, Nahyun mengeringkan semua tempat yang basah dengan kain katun kemudian memasak untuk makan malam.

~~~

Seusai mandi, tidak sengaja Sehun melihat pintu kamar Nahyun sedikit terbuka. Dia melirik sekilas ke arah dapur dan mendapati Nahyun memunggunginya. Nahyun terlihat sedang sibuk di depan kompor sehingga mungkin berpikir Sehun masih mandi. Sehun menyelinap ke dalam kamar dengan cepat.

Sehun mengedarkan mata ke penjuru kamar Nahyun. Cukup rapi dan nyaman untuk kamar tidur. Di dalam flat hanya ada satu kamar mandi, satu kamar tidur, dapur, dan ruang tamu. Tidak jauh berbeda dengan rumah atapnya.

Sehun menempelkan jari – jarinya ke rambut—mengeringkannya dengan handuk. Selimut Nahyun berwarna biru laut begitupun dengan spreinya. Lampu tidurnya berbentuk bunga dan ada sebuah cermin seukuran badan di sudut kamar.

Terpampang beberapa foto Nahyun bersama teman – temannya di atas nakas. Mereka ditempatkan dalam bingkai – bingkai manis berukuran kecil. Kebanyakan foto Nahyun dengan Yura lalu ada foto kedua gadis itu dengan Chanyeol dan Jonghyun.

Sehun mengambil salah satu bingkai yang menarik perhatiannya. Di sana hanya ada Jonghyun, Chanyeol, dan Nahyun. Sepertinya diambil candeed oleh Yura.

Masalahnya di foto itu Jonghyun menatap Nahyun begitu intens.

Sehun bisa membedakan arti tatapan Jonghyun dan Chanyeol. Chanyeol juga sedang menatap Nahyun namun tidak seperti cara Jonghyun menatap Nahyun. Hah, mungkin Jonghyun mempunyai perasaan khusus pada Nahyun.

Sehun meletakkan kembali foto tadi sembari matanya mengamati foto – foto lain. Benar saja, ekspresi Jonghyun sering berbeda jika Nahyun berada di sebelahnya. Delapan puluh persen Sehun bertaruh, Jonghyun menyukai Nahyun.

Foto – foto itu tidak terlalu banyak sampai Sehun merasa kurang puas. Tanda tanya dalam benak Sehun semakin besar sebab dia tidak menemukan foto Nahyun dengan keluarganya. Mungkin saja dia menyimpannya di album foto tapi paling tidak dia akan memajang satu diantara deretan fotonya dengan teman – temannya.

Saat Sehun membuka pintu kamar, aroma masakan menyambutnya. Sehun melihat Nahyun baru saja memadamkan api kompor. Nahyun memakai kaos putih yan agak longgar dan celana pendek yang kelihatannya nyaman. Sehun cukup heran bagaimana bisa dia memakainya begitu santai sekaligus modis.

“Oh, kau mengejutkanku!” Nahyun terlonjak ketika berbalik dan menemukan Sehun berdiri di dekat kursi makan.

Sehun tersenyum ringan. Dia memerhatikan Nahyun yang sedang menata makanan di atas meja.

“Makanlah.” Nahyun meletakkan dua piring kosong di atas meja.

Sehun mengangkat handuknya. ”Ini aku letakkan dimana?”

“Biar aku saja. Tehnya sudah diminum?” Nahyun menengadahkan tangannya. Sehun mengembalikan handuk pada Nahyun, “Sudah.”

“Makan duluan saja,” Nahyun berkata sambil melesat ke kamar mandi. Dia menggantungkan handuknya di jemuran handuk dalam kamar mandi sambil berusaha menormalkan degup jantungnya yang menggila.

Bagaimana tidak gila melihat Sehun dengan rambut basah dan berantakan dalam jarak kurang dari semeter?

Nahyun menggeleng kuat. Dia menghirup oksigen banyak – banyak sebelum kembali ke meja makan.

Sehun sudah makan dengan lahap. Dia seperti tidak makan beberapa hari. Nahyun berjalan ke arahnya lalu mengambil tempat berhadapan dengan Sehun.

“Kau lapar sekali, bukan?” Nahyun menarik kursi di hadapan Sehun. Dia mengisi piring dengan nasi dan ikan kakap fillet asam manis.

“Hm,” Sehun menelan makanannya sebelum melanjutkan, ”kulkas di rumahku kosong dan aku malas belanja.”

Nahyun tertawa kecil. “Jadi pasti kau membeli makanan di Seven Eleven atau makanan cepat saji seperti Hoka – Hoka Bento.”

Sehun menggeleng. “Aku beli di Lawson.” Jawaban Sehun diiringi dengan tawa ringan keduanya.

Selagi menghabiskan makanannya yang tinggal separuh, otak Sehun terus meneriakkan beragam pertanyaan. Mengapa Nahyun tidak takut padanya? Mengapa Nahyun akhirnya membukakan pintu untuknya? Mengapa Nahyun tidak mencurigainya? Dan… mengapa dia bisa tertawa bersama Nahyun?

Sehun tidak tahu bahwa Nahyun juga sedang bertarung dengan pikirannya sendiri. Dia tidak mengerti mengapa dia tidak takut pada Sehun. Dia justru merasa kasihan pada pria itu. Dia tidak mengerti mengapa akhirnya dia membuka pintu flat untuk Sehun. Dia tidak mengerti mengapa dia tidak mencurigai Sehun. Serta mengapa dia bisa berbicara dan tertawa seperti teman lama dengan Sehun.

“Masakanmu lezat.” Sehun menyelesaikan kegiatan makannya dengan sebuah pujian. Nahyun membalas dengan senyuman singkat.

Sehun bangkit lalu hendak mencuci piringnya. Sebelum itu terjadi, Nahyun memotong dengan setengah berteriak padanya.

“Biar aku saja. Istirahatlah.”

Mata Sehun membesar seketika. Jadi Nahyun benar – benar memperlakukannya sebagai tamu? Apa yang sebenarnya dipikirkannya? Apa dia tidak takut pada orang asing?

“Kenapa?” Nahyun mengerjap bingung. Dia baru menghabiskan makanannya lalu merapikan meja makan.

Sehun membasahi bibir bawahnya sambil memikirkan sanggahan yang tepat untuk menjawab Nahyun. Belum sempat dia melontarkan sepatah kata, dilihatnya Nahyun menutupi sebagian wajahnya dengan telapak tangan.

Dahi Sehun mengernyit. Nahyun sedang tertawa.

“Kausku terlalu sempit, ya?” Kini Nahyun benar – benar terkikik hingga matanya menyipit membentuk bulan sabit.

Sehun langsung menyadarinya sejurus kemudian. Pandangannya jatuh pada kaus abu – abu Nahyun yang dikenakannya. Sangat ketat di tubuhnya dan sejujurnya dia agak sulit bernapas. Tapi bagaimanapun dia tidak pantas menolak, Nahyun sudah meminjamkan baju dan celana untuknya.

Nahyun semakin terkikik ketika membandingkan kontras kausnya yang ketat di tubuh Sehun dan celananya yang cukup longgar. Padahal dia sudah memilih kaus dan celana paling besar yang dimilikinya. Well, itu pasti karena Sehun memiliki bahu yang sangat lebar.

Shit! Apa yang dipikirkan Nahyun?!

“Sebenarnya memang agak sempit tapi tak apa – apa,” Sehun tertawa kaku, ”terima kasih untuk semua bantuan yang kau berikan.”

Nahyun berjalan ke arah Sehun. Dia mencuci piringnya dan Sehun sementara pria di sebelahnya masih termangu menanti balasan dari Nahyun.

Nahyun mengambil segelas air kemudian menyerahkannya pada Sehun. “Sebenarnya apa yang terjadi padamu sampai lukamu begitu parah?”

Sehun meneguk air hingga tandas lalu berbalik untuk mencuci gelasnya sendiri. Dia harus berterima kasih dengan tidak menambah cucian gelas Nahyun.

“Aku sedang jalan – jalan di sekitar sini,” Sehun mengawalinya sembari membilas gelas, “suasana sangat gelap sampai aku tidak melihat lima orang berbadan besar mendekat. Sewaktu melawan mereka satu persatu, aku bisa mengalahkan mereka. Tapi kemudian mereka bangun untuk membantu yang lain hingga aku dipukuli bergantian.”

Nahyun tertegun beberapa saat. Pikirannya melayang tak tentu pada beberapa kejadian menyeramkan sebelumnya mengenai pria bertubuh besar. Sewaktu Sehun membalikkan badan dan mereka berdiri berhadapan, Nahyun tersadar kembali.

“Dari mana kau tahu nama dan rumahku?” tanya Nahyun enteng tanpa menyelipkan nada penasaran di dalamnya.

Sehun menyandarkan pinggangnya pada konter dapur. “Aku mendengar Yura memanggil namamu. Soal rumahmu… itu tidak penting.”

Adalah normal jika Nahyun menanyakan hal – hal kecil seperti itu. Nahyun cemas dan penasaran, itu wajar. Lalu Sehun hanya perlu menjawab dengan sederhana. Sialnya, entah mengapa bertanya – jawab seperti ini terasa mengasyikkan untuk Sehun.

Nahyun, di sisi lain, mencoba berpikir rasional bahwa wakil murid di kelasnya memiliki data lengkap dirinya. Sehun bisa bertanya padanya—atau bahkan pada komisi akademik.

“Tadi kau bilang dipukuli orang. Kau sudah melawan tapi kalah. Lalu bukankah… pemantik itu bisa kau gunakan untuk menghilangkan orang?” Nahyun bertanya lirih. Suaranya begitu halus hingga Sehun takut suaranya terbawa angin.

Tubuh Sehun menegang. Dia tidak menyangka Nahyun bahkan mengingat bagian terpenting itu. Sehun meniadakan jarak diantara mereka hingga dia berhenti tepat di depan Nahyun.

Nahyun meremas ujung kaus putihnya lantaran wajahnya dengan wajah Sehun hanya terpaut beberapa senti. Sehun semakin menipiskan jarak wajah mereka dengan sedikit memiringkan kepalanya. Sehun hanya perlu mendapat sedikit dorongan agar bibir mereka bersentuhan.

For God Sake! Apa yang diinginkan Nahyun tadi?!

“Tolong jangan katakan itu pada siapapun.” Suara tegas Sehun bergema di telinga Nahyun.

Nahyun semakin menggulung – gulung ujung kausnya. Pikirannya sangat kosong saat ini.

“Berjanjilah.” Kali ini dia berkata dalam volume rendah—sama sekali tidak bergerak dari posisi terakhir.

Keringat dingin mulai membasahi punggung Nahyun. Sungguh keterlaluan Sehun membuatnya begini. Sewaktu Nahyun sibuk menyalahkan Sehun dalam benaknya, gadis berambut cokelat itu merasakan embusan napas Sehun menerpa bibirnya.

“Aku janji.” Susah payah Nahyun mengeluarkan suara hingga terdengar parau. Dia menelan ludah gugup karena Sehun masih tidak mengubah posisinya.

“Juga berjanjilah untuk berpura – pura tidak pernah melihat kejadian itu,” tambah Sehun dengan nada memerintah.

Mata Nahyun membelalak. “Ken-kenapa? Apa… setelah ini kau akan pergi?”

Sehun menangkap kata tidak rela tersirat dalam pertanyaan Nahyun. Mengapa gadis ini punya jalan pikiran yang aneh sekaligus menarik?

“Kenapa kau berpikir begitu, hm?”

Beberapa detik dibutuhkan Nahyun untuk menyusun kata.

“Aku… aku jarang melihatmu di kampus. Kau sudah tidak pernah masuk kelas bisnis internasional.” Nahyun langsung merutuki dirinya yang terlihat seperti mengharapkan Sehun untuk tinggal di sisinya.

Salah satu sudut bibir Sehun tertarik. “Ada hal yang tidak bisa kuceritakan pada orang lain—tak terkecuali pada teman dekatku sejak SMA. Kalau kuceritakan, aku yakin kalian akan memahami semuanya. Sekarang berjanjilah.”

Nahyun menyerah. “Aku berjanji.”

Sehun menjauhkan wajahnya dengan bibir mematri senyum kemenangan. Dia mengambil segelas air lalu menyerahkannya pada Nahyun. Wajah Nahyun merah padam akibat menahan malu.

Bagaimana bisa ada gadis semenarik ini?

“Sebaiknya sekarang tidur. Kau pasti lelah dan butuh banyak istirahat untuk mengobati lukamu.” Nahyun meletakkan gelasnya di konter kemudian melenggang menuju kamar.

Nahyun mengambil satu selimut berwarna kuning kemudian membawanya dalam pelukan. Sebelum keluar kamar, dia menyempatkan melihat wajahnya di cermin.

Oh, ini buruk. Wajahnya merona. Sejak kapan ini berlangsung?!

Ini pasti karena fantasi liarnya tadi!!

Nahyun menoleh ke ruang televisi dan mendapati Sehun sedang memanjangkan tubuhnya di sofa. Dia menepuk bantal sofa lalu menjadikannya sandaran kepala. Nahyun menghampirinya kemudian memberikan selimut padanya. Nahyun tidak pernah seperti ini pada mantan pacarnya sekalipun. Dia terlalu cuek pada mereka.

Dan tiba – tiba saja dia mengubah banyak sikap dalam pertemuan dengan Sehun kali ini. Ini bukan keinginan Nahyun. Aneh sekali, dia ingin tidak peduli namun ada dorongan lain yang memaksanya untuk melakukan hal yang sebaliknya pada Oh Sehun.

“Go Nahyun,” panggil Sehun sewaktu Nahyun hendak kembali ke kamar. Nahyun sedikit memutar kepala dan mendapati Sehun menepuk ruang kosong di dekatnya.

“A-apa?”

“Duduk sebentar.”

Go Nahyun, apa yang kau pikirkan??

Nahyun ragu – ragu menempati ruang kosong itu selagi Sehun mengubah posisinya menjadi duduk.

“Kau belum menjawab ucapan terima kasihku tadi.” Sehun mengatur posisinya sedemikian rupa hingga mereka begitu dekat. Agaknya Sehun tahu penyebab wajah merah Nahyun tadi jadi dia ingin memastikannya sekarang.

“Ah, itu. Eum… yeah, sama—“

Kecupan singkat di bibir Nahyun menginterup kalimatnya. Nahyun memandang Sehun dengan ekspresi campur aduk antara terkejut, kesal, dan… tidak percaya.

“Selamat malam.”

Sehun merentangkan selimut kemudian menaikkannya sampai sebatas bahu. Nahyun menghela napas panjang lalu melontarkan sebuah cacian pada Sehun sebelum kembali ke kamar dengan membanting pintu.

“Brengsek kau, Oh Sehun.”

Segaris senyum tipis tergurat di bibir Sehun. Dia memejamkan mata sembari membayangkan Nahyun tidak bisa tidur di dalam sana. Gadis itu aneh, mengapa dia bisa sesantai itu kala orang yang sudah jelas melakukan hal tidak lazim menginap di flat-nya? Apa dia tidak khawatir Sehun akan berbuat jahat padanya? Di flat ini hanya ada mereka berdua dan Sehun bisa melakukan apapun padanya—terlebih barusan dia sudah mengawalinya dengan sebuah ciuman. Ditambah penghuni flat tampak tak peduli satu sama lain. Apa gadis itu punya nyali begitu besar?

Sehun datang ke flat Nahyun karena selain keadaannya sangat kacau dan dia tidak kuat berjalan jauh, dia ingin melihat bagaimana kelanjutan hidup Nahyun sesudah melihat kejadian itu dua kali. Biasanya setelah melihat kejadian itu, seseorang akan menjadi tidak waras. Entahlah Nahyun punya kekuatan apa sampai sesudah dua kali melihat—bahkan ditambah ciuman yang agak memaksa olehnya—dia masih waras. Dia baik – baik saja. Dia pergi kuliah. Dia menjalani hari – harinya seperti biasa.

Huh, ini semua tidak masuk akal.

Di dalam kamar, Nahyun menutup wajahnya dengan bantal. Dia menggeram tak karuan dan beruntung suaranya teredam bantal. Dia kesal pada dirinya sendiri karena lemah di hadapan Sehun. Tidak biasanya dia begitu mudah jatuh pada seorang lelaki. Tapi Sehun menciumnya dua kali dan dia tidak mengelak.

Huh, ini semua tidak masuk akal.

~~~

Satu hal yang Nahyun lupakan tentang para pria. Mereka sangat sulit untuk disuruh bangun. Nahyun membangunkan Sehun sampai enam kali dan baru berhasil setelah dia melempar handuk ke wajah Sehun. Nahyun kesal karena dua hal; pertama, dia sangat sulit disuruh bangun—yeah, Nahyun membandingkannya dengan beberapa mantan pacarnya dan Sehun adalah yang tersulit; kedua, dia sudah mencuri ciuman di bibir Nahyun dan tidak merasa bersalah sedikitpun. Dia bahkan tidak minta maaf.

Nahyun langsung menyantap sarapan tanpa menunggu Sehun mandi. Kalau seperti itu ceritanya, dia akan berakhir mengulang mata kuliah Dosen Jung. Sesekali pandangan Nahyun mengarah pada French Toast yang dibuatnya untuk Sehun.

Mereka berangkat dengan bus yang sama. Sehun tidak banyak bicara selama mereka di bus yang masih lengang pagi hari. Nahyun melirik Sehun yang tampak tertidur di bangku seberang.

Bagi Nahyun yang penting Sehun sudah menginjakkan kaki di kampus. Mereka berpisah di gerbang kampus lalu Nahyun sudah tidak melihat Sehun lagi. Terserahlah dia mau membolos atau apa. Paling tidak dia sudah datang ke kampus.

Seperti petir menyambar di pagi hari, Nahyun menjadi orang pertama yang duduk di kelas yang masih kosong. Berkat pengalaman terlambat tempo hari, Nahyun berangkat lebih awal agar tidak terlambat di kelas Dosen Jung. Beliau dikenal sebagai dosen yang tiada ampun untuk urusan absen dan keterlambatan.

“Nahyun-a?” suara yang amat dikenal Nahyun terdengar cukup kencang. Nahyun menelengkan kepala ke ambang pintu—tempat sang pemilik suara berdiri.

“Sepertinya dunia sudah terbalik. Nanti malam akan ada hujan angin dan—,“ Yura yang masih setia di tempatnya kini memegang kepalanya, “—apa tadi pagi kau salah makan?”

Nahyun mengerling malas. Dia memberikan gestur mendekat pada Yura agar mereka tidak perlu berteriak untuk saling membalas.

“Aku tidak mau mengulang mata kuliah ini, okay? Nilaiku tidak terlalu baik, jangan sampai Dosen Jung tidak mempertimbangkan absenku juga.” Mata Nahyun mengikuti setiap gerakan yang dilakukan Yura hingga gadis itu duduk.

Yura menggumam sekilas, “Yeah, kau sangat sulit bangun pagi. Itulah sebabnya aku heran kau datang paling awal.”

“Hei, para pria jauh lebih sulit bangun pagi,” elak Nahyun mentah – mentah. Dia memang bukan murid rajin tapi juga tidak terlampau malas.

Yura melejitkan bahunya tak acuh. Di sebelahnya, Nahyun bingung harus memberitahu mengenai peristiwa semalam pada Yura atau tidak. Dari sekian teman baik yang Nahyun miliki semasa sekolah, Yura yang paling mengetahui dirinya. Dia mengetahui Nahyun cukup dalam hingga kadang bisa membaca pikiran Nahyun.

“Ra.”

Yura menoleh. Nahyun terlihat bimbang sejenak kemudian membuka mulutnya—hendak mengucap sesuatu. Sebelum sepatah kata keluar dari bibirnya, beberapa murid memasuki ruang kelas dan menduduki kursi di baris depan mereka.

“Aku lupa tadi mau bilang apa.” Tawa Nahyun yang terkesan dibuat – buat. Yura menaikkan sebelah alis curiga. Yura memilih untuk tidak mendesak lebih jauh sampai jam kuliah Dosen Jung selesai.

~~~

Yura masuk ke restoran tempat Jonghyun dan Chanyeol menunggu. Postur keduanya yang tinggi membuat Yura tidak perlu repot mencari mereka. Dia langsung menarik kursi di sebelah Chanyeol.

Chanyeol baru ingin membuka mulut—menanyakan keberadaan Nahyun yang tidak pernah jauh dari Yura—saat tangan seseorang menarik kursi di sebelah Jonghyun. Chanyeol dan Jonghyun mendongak kemudian menyadari sesuatu yang janggal pada kedua gadis itu.

Woah, dagingnya sudah datang.” Chanyeol sengaja mengeraskan suaranya ketika pelayan membawakan sepiring besar potongan daging. Jonghyun menyingkirkan ponselnya lalu mendekatkan panggangan ke arahnya dan Chanyeol.

Jonghyun dan Chanyeol sibuk membakar daging sambil mengirim sinyal mata. Mereka berkompromi mencairkan suasana dengan obrolan – obrolan ringan seperti biasa. Jonghyun melirik Yura—yang sedang menopang dagu—dari sudut mata.

“Kalian makanlah yang banyak. Awal bulan ini aku mendapat uang tambahan karena membantu bibiku.” Jonghyun berkata sembari membalik beberapa daging yang sudah matang.

“Membantu bibi?” Chanyeol mengulangi pernyataan Jonghyun barusan.

Jonghyun mengangguk. “Bibiku baru membuka toko jus di Daejeon dan pengunjungnya cukup ramai. Aku membantunya membeli buah, kadang meracik jus. Oh, jus buatan bibiku istimewa! Kita harus main kesana nanti. Ada harga spesial sampai pertengahan bulan depan.”

Woah, aku tidak sabar! Bagaimana kalau minggu depan?” Chanyeol melempar tatapannya pada Yura dan Nahyun bergantian. Yura masih menopang dagu sedangkan Nahyun menundukkan kepala.

“Kang Yura,” Chanyeol memanggil pelan.

“Terserah.”

Jonghyun menelan ludah ngeri. Nada bicara Yura sangat ketus seperti orang sedang datang bulan.

“Go Nahyun.” Suara Chanyeol melemah. Dia pasrah akan disemprot oleh Nahyun. Di luar dugaan, Nahyun hanya mengangguk kecil.

Jonghyun yang menyadari Chanyeol sudah kehabisan kata – kata segera memecah keheningan.

Wow, sudah matang semua! Ayo, makan!”

~~~

“Kalian kenapa?” Jonghyun bertanya santai di tengah perjalanan pulang. Nahyun mengembuskan napas panjang di sampingnya.

Sesuai perjanjian, Jonghyun mengantar Nahyun pulang dan Chanyeol mengantar Yura. Keduanya butuh ketenangan sementara waktu.

“Tadi aku membuatnya kesal,” Nahyun berujar pelan dengan menjatuhkan wajah, “dia menanyakan pendapatku mengenai satu baju di etalase toko tapi aku hanya bilang menarik. Dia tidak puas dengan responku kemudian menanyakan seleraku seperti apa tapi aku bilang kalian sudah menunggu kami.”

Jonghyun terkekeh. “Dia marah karena itu?”

“Hm,” Nahyun menatap ujung sepatu kats putihnya, “sebenarnya tadi kami bukan bicara. Kami agak berteriak.”

Sebuah tawa ringan lolos dari bibir Jonghyun. Dia menyelipkan kedua tangan di saku celana. “Para gadis itu rumit, ya?”

Nahyun mendengus kasar. “Kalau berpikir seperti itu kau bisa menikah dengan pria.”

Jonghyun tergelak, “Nona Go, kau sama rumitnya dengan Kang Yura. Kenapa tidak minta maaf?”

Nahyun mengerucutkan bibir seperti bocah lima tahun yang malu – malu. “Aku rasa dia masih akan marah kalau aku minta maaf.”

“Tapi lebih baik daripada tidak sama sekali, bukan?”

Nahyun terdiam. Jonghyun tiba – tiba menghentikan langkahnya dan membuat Nahyun bingung.

“Di mana toko itu?”

Jonghyun menggiring Nahyun masuk ke dalam toko yang Nahyun maksud. Dia meminta Nahyun menunjukkan baju yang menjadi perdebatan keduanya.

“Pantas dia marah. Yura pasti sangat jatuh cinta pada baju ini.” Jonghyun menilik baju itu dari dekat. Desainnya sederhana dengan lengan tiga perempat dan jatuh beberapa centi di atas lutut. Satu pita besar disematkan di dada kiri. Warnanya putih tulang dan bahannya yang lembut membuat setiap mata tak jemu memandangnya.

“Apa aku terlalu ‘tidak berperasaan’ dalam memberi respon?” bisik Nahyun namun masih dapat ditangkap Jonghyun.

“Bukan begitu, Nahyun-a. Yura adalah orang yang ekspresif, dia lebih senang kalau kau antusias menanggapinya. Menurutmu dress ini bagus tidak?” Jonghyun meraba kain bagian bawah baju.

“Lebih manis daripada permen susu, Jonghyun-a.” Tangan Nahyun terangkat meraih bagian bawah baju yang menjuntai. Matanya menelusuri detail keindahan baju itu.

Jonghyun mengamati raut penyesalan yang dalam di wajah Nahyun. “Bagaimana kalau kubelikan tapi aku bilang pada Yura ini hadiah darimu?”

Nahyun sontak menoleh pada Jonghyun. “Baru saja aku memikirkan hal itu! Tidak, tidak. Jonghyun-a, aku akan membelinya dengan uangku sendiri.”

Sepersekian detik kemudian Nahyun meringis teringat jatahnya untuk bulan ini hampir habis. Harga baju ini sama dengan biaya makannya dua minggu ke depan.

“Eum… Jonghyun-a,” Nahyun melihat Jonghyun memanggil pramuniaga untuk membuatkan nota baju itu, “kalau setengah uangku dan setengah lagi uangmu bagaimana?”

Setelah urusan baju untuk Yura selesai, Jonghyun berniat mengantar Nahyun ke flat. Tentu hal tersebut ditolak oleh Nahyun. Pria bermata tajam itu sudah membayar setengah harga baju dan secara tidak langsung dia sudah menolong Nahyun menebus kesalahan. Dia tidak ingin merepotkan Jonghyun lagi.

Nahyun kemudian pergi ke rumah Yura sendirian demi mengantar hadiah. Dia meletakkan baju yang terbungkus rapi dalam kotak hadiah di depan pintu rumah Yura. Sebuah notes kecil berisi permintaan maaf diselipkannya dalam hadiah. Semoga usahanya—dan Jonghyun—berhasil.

~~~

Nahyun mencibir sembari mengeratkan jaket yang dikenakannya. Matanya menjelajah setiap sudut yang gelap. Tungkainya menuntun menuju sebuah tempat yang tidak asing untuknya. Sebuah jalan kecil dimana dia pernah dikejar pria – pria gempal yang berniat menggodanya sewaktu membeli esen.

“Oh, Nahyun-a,” Paman Kang langsung menyapanya begitu dia membuka pintu toko.

Nahyun tersenyum kemudian membungkuk. “Paman sedang apa?”

Paman Kang melepas kacamata tak berbingkai yang dipakainya. Dia menunjuk buku beserta kalkulator di atas meja. “Laporan bulanan.”

Kekehan kecil meluncur dari bibir Nahyun. Dia menghampiri meja Paman Kang bersamaan dengan pria paruh baya itu mengambil sebotol esen cokelat dari rak di belakangnya.

“Esen cokelat untuk Nona Nahyun.” Paman Kang meletakkan botol esen di hadapan Nahyun.

“Bagaimana Paman tahu? Bisa saja aku mau beli yang lain.” Nahyun tertawa kecil. Paman Kang menggerakkan telunjuknya ke kanan dan kiri.

“Kau pasti membutuhkan ini,” Paman Kang menyanggah pasti. Nahyun tersenyum tipis lalu menyerahkan uang sejumlah harga yang tercantum.

“Terima kasih, Paman.”

Nahyun membungkuk sekali lagi sebelum pergi. Dia belum benar – benar mencapai pintu tatkala suara Paman Kang menahannya.

“Nahyun-a, kusarankan kau berputar arah. Jangan lewat jalan biasa. Belakangan banyak orang tidak bertanggung jawab berkeliaran di sekitar sini,” pesannya.

Nahyun tersenyum simpul dan mengucapkan terima kasih sebelum meninggalkan toko Paman Kang.

Nahyun memilih mengikuti saran Paman Kang. Meski itu berarti harus berjalan menjauhi flat, dia merasa lebih aman melewati jalan lain. Entah hanya perasaannya saja atau tidak tapi jalan yang dilaluinya kali ini sangat sepi dan tidak ada penerangan sama sekali. Dia mencoba untuk tetap rileks dan mengingat perkataan Yura tempo hari bahwa dia tidak boleh membiarkan rasa takut datang. Dia gadis pemberani.

Saat dia sedang memberi sugesti pada diri sendiri mengenai hal itu, sepenggal memori melintasi benaknya. Ingatan tentang malam itu dengan kondisi tak jauh berbeda. Kubangan air di jalan berlubang, esen cokelat, dan…

Tunggu.

Kubangan air bekas hujan? Artinya itu terjadi di musim panas atau gugur. Malam itu, alasannya memakai mantel adalah karena hujan baru saja turun deras.

Tidak, itu bukan mimpi.

“Halo, manis.”

Nahyun menghentikan langkah begitu mendengar suara itu. Dia menyipitkan mata—mencoba menyesuaikan penglihatan dengan kondisi gelap. Samar – samar dia melihat empat pria gempal mendekatinya.

“Waktu itu kita belum menyelesaikan urusan kita yang tetunda,” ucap salah satu dari empat pria itu. Nahyun tidak tahu dan tidak ingin tahu itu suara siapa. Bayangan mereka semakin jelas, pertanda sosok – sosok itu hampir sampai pada tempat Nahyun mematung.

Di waktu seperti ini, suara Yura berteriak di kepalanya. Dia gadis pemberani, dia gadis kuat. Pikiran itu terus berseru lantang hingga tungkai Nahyun berbalik dan dia berlari dari keempat pria itu.

Seperti malam itu, dia dikejar. Hanya saja kali ini Nahyun berlari. Nahyun sibuk menyelamatkan diri sendiri tanpa peduli jalan yang diambil adalah jalan yang dilarang oleh Paman Kang sebelumnya. Dia hanya berpikir harus segera sampai di flat—oh, kali ini dia harus minta bantuan Bibi Geum.

Napas Nahyun terengah – engah, dia berbelok setiap kali ada tikungan. Beberapa kali dia menoleh ke belakang—memastikan para pria itu tidak berhasil mengejarnya. Sedikit lega sewaktu tidak mendapati siapapun di belakangnya, Nahyun agak memperlambat larinya.

Tetap saja, penurunan kecepatan itu tidak terjadi begitu saja.

Tungkainya masih memacu kecepatan ketika sebuah dinding sudah tertangkap matanya. Mungkin ini jalan buntu dan pilihan Nahyun hanya dua: menabrak dinding atau berhenti sekarang juga. Risiko opsi pertama lengannya akan berdenyut sepanjang jalan dan risiko opsi kedua tungkainya gemetar hebat sepanjang jalan.

Nahyun merasakan tungkainya gemetar hebat, napasnya tersengal, keringat mengucur di pelipis, detak jantungnya berpacu cepat. Semua itu bercampur aduk menjadi satu saat pagar kayu kecil sebuah rumah tampak tak terkunci. Dia berjinjit membuka pintu pagar lalu menyelinap masuk.

Bersembunyi di balik pepohonan, Nahyun berusaha mengatur napas. Jangan sampai dia ketahuan karena deru napasnya yang tak beraturan. Nahyun memegangi dadanya dengan satu tangan. Sesekali dia meneguk ludahnya sendiri.

Waktu berjalan lambat. Nahyun tidak sadar sudah berapa lama dia berada di taman kecil rumah orang. Binatang – binatang malam mulai menggigiti lengannya. Beberapa bahkan mendekati wajahnya—yang langsung dihalau oleh tangan Nahyun.

Nahyun mencoba memastikan tidak ada yang mengikutinya. Sesudah dikiranya cukup aman dan dia melompat – lompat kecil untuk siap berlari kembali, Nahyun menutup pintu pagar. Nahyun memerhatikan keadaan sekitar sekali lagi sebelum berjalan dalam tempo cepat.

Berjalan melewati belokan pertama, tiba – tiba sebuah tangan membekap mulut Nahyun dari belakang. Nahyun meronta sambil terus berupaya memukul tangan yang menutup mulutnya. Dia menyikut perut orang itu berkali – kali. Orang di belakangnya membawanya ke sebuah celah kecil di antara dua rumah besar.

Nahyun membisu ketika tubuhnya dihantam ke dinding sekaligus berhadapan dengan orang itu. Dia memakai snapback dan masker serta jaket kulit hitam. Aroma tubuhnya tak berubah sedikitpun—menggoda dengan cara paling halus, begitu memabukkan setelah kau berhasil membauinya. Tentu, itu Oh Sehun. Nahyun mengetahuinya walau pria itu tak menurunkan masker. Atau karena dia sudah cukup menghafal bentuk wajah Sehun sesudah lelaki berwajah lancip itu bermalam di flat-nya?

Bunyi tapak sepatu membulatkan mata Nahyun. Bunyinya saling menyusul—menandakan tidak hanya satu orang yang sedang berlari ke arah mereka. Sehun otomatis merapatkan tubuh mereka hingga bayangan mereka tak terlihat oleh remang cahaya.

Beberapa detik tak ada suara.

Nahyun menutup mata sedang Sehun membuang wajah ke arah lain.

“Kau cari kesana. Aku cari kesini.”

Bunyi tapak sepatu mereka menjauh namun tak lama sepasang sepatu kembali beradu dengan aspal. Dia mengambil napas beberapa waktu kemudian lari ke arah yang sama dengan temannya.

Tanpa aba – aba, Sehun menarik pergelangan Nahyun. Dia membawa Nahyun berlari sampai tiba di flat Nahyun. Beberapa kali dalam larinya, Sehun menoleh ke belakang dan samping.

“Kemasi barang – barangmu sekarang.” Sehun berkata dengan nada tak terbantahkan. Dia masuk ke dalam kamar Nahyun tanpa persetujuan pemiliknya.

“Apa? Hei, kenapa kau masuk—“

“Cepat atau lambat mereka akan mendapatkanmu, Go Nahyun! Mereka akan tahu tempat tinggalmu! Kau pikir mereka akan melepasmu begitu saja? Mereka bukan tipe orang yang akan membiarkan umpan lezat kabur!” Sehun membentak. Dia menggeleng sekilas sebelum membuka lemari Nahyun.

Nahyun membeku dua menit kemudian tersadar dengan apa yang dilakukan Sehun. Sehun melempar beberapa kaus ke tempat tidur.

“Cukup. Biar aku saja,” Nahyun menghentikan tangan Sehun yang sedang mengambil celana pendek, “koperku di pojok kamar. Tolong bawa kemari.”

“Jangan terlalu lama memilih,” pesan Sehun sembari melangkah menuju sudut kamar.

“Kau pikir aku masih sempat memilih?” Nahyun bertanya sarkastik. Sejurus kemudian koper kecil cokelatnya sudah berada di sampingnya dalam keadaan terbuka.

Sehun memasukkan baju dan celana pendek Nahyun dengan asal sementara Nahyun mengambil seluruh pakaian dalamnya ke dalam koper. Dia menutup risletingnya dan mengakhiri kegiatan packing dengan membawa produk perawatan kecantikan ke dalam tas kampus.

Nahyun mengunci pintu flat dengan terburu – buru. Sehun menyangkutkan tali ransel koper ke pundaknya lalu berjalan mendahului Nahyun. Pandangan Nahyun sempat tersita oleh flat Bibi Geum namun rasanya dia akan berkunjung lain waktu dan menceritakan apa yang terjadi pada saat yang tepat.

“Kita mau kemana?” tanya Nahyun sewaktu Sehun melalui jalan – jalan kecil yang saling menyambung.

“Jalan pintas ke rumahku,” jawab Sehun sekenanya. Kening Nahyun berkerut tak suka namun dia tidak punya pilihan.

Saat ini hidup Nahyun benar – benar terancam.

~~~

Benda pertama yang menyambut Nahyun adalah diktat yang nyaris membuatnya tersandung. Alih – alih menyingkirkannya, Sehun melangkahi diktat kuliahnya menuju kamar. Tao pasti lupa menyimpan benda itu ke rak buku dan Sehun tidak sama sekali merapikan rumahnya setelah Tao pergi.

Nahyun mengambil diktat tersebut lalu membersihkan debu yang menempel di sampul depan. Ini pasti karena Sehun tidak pernah membuka diktat dan hanya memajangnya saja. Mata Nahyun mengedar mencari tempat untuk meletakkannya.

“Maaf berantakan. Aku belum merapikan rumah,” ujar Sehun dari dalam kamar.

Nahyun melihat setumpuk kertas yang ditumpuk asal dan beberapa buku yang tidak diselipkan dengan benar di dalam rak. Mungkin sebelum pergi, Sehun hanya membereskan kilat rumahnya.

Usai berganti pakaian yang nyaman untuk tidur dan sedikit mengacak rambut, Sehun keluar dari kamar. Dia menemukan Nahyun sedang membetulkan letak beberapa buku di rak. Mata Sehun beralih pada tumpukan kertasnya yang tadinya berantakan. Semuanya begitu rapi sekarang.

“Tidak usah repot – repot. Aku bisa membereskannya sendiri nanti.” Sehun tampaknya mengejutkan Nahyun. Gadis itu sedikit terlonjak lalu membalikkan tubuhnya menghadap Sehun.

“Kalau kau bisa membereskannya kenapa tidak dari tadi?” balas Nahyun dengan nada tidak percaya.

Sehun berdehem sebelum mengganti topik. “Kau tidur di kamarku saja. Ada kamar mandi dalam jadi kau tidak perlu khawatir. Eum… apa kau lapar?”

“Aku tidak sempat memikirkannya saat kau terus membawaku berlari. Apa sekarang aku boleh tenang?”

Sehun menarik napas dalam. Apa Nahyun memang sinis dalam berkata – kata?

Yeah, kau bisa tidur dengan tenang sekarang.” Sehun memberi gestur mempersilakan masuk ke kamarnya. Dia merebahkan diri di sofa setelah Nahyun menutup pintu kamar.

Nahyun mencoba bersikap sopan meski hatinya jengkel. Dia juga harus berterima kasih pada Sehun karena sudah menyelamatkannya. Nahyun meneliti keadaan kamar mencari koper. Kopernya diletakkan di dekat tempat tidur dan—

Apa ini bisa disebut kamar?

Banyak sekali kertas terserak di lantai dan karpet. Beberapa buku cetak tebal berada di karpet dalam kondisi terbuka menemani kertas – kertas. Sebagian isi laci tumpah di atas tempat tidur beserta helai demi helai pakaian.

Nahyun berkacak pinggang mencermati benda – benda itu.

“Oh Sehun, apa kau sedang menyuruhku membereskan kamarmu?”

TBC

Note:

SORRY FOR LATE UPDATE :(((

Rencananya ini bakal update 2-3 mingguan kekekeke maklum aku juga harus nyari ide dulu, apalagi buat klimaks2nya heuuu. Buat alasan lebih lengkap, monggo discroll ke bawah 😀

Well, yg kmrn nanya anime apa yg mirip hunch, katanya code breaker kekeke dan lumayan dapet inti ceritanya… yang ngelindungin crush dari orang jahat, bener?

Sehun itu siapa atau apa, pelan2 nanti kebuka kok dan kalian boleh tebak2an sampe nanti udah mulai jelas cluenya. Nanti bakal aku perjelas di note di sekitar chap 5 😀

Sebenernya hunch ini aku udah ngetik sampe chapter 9 (yg 9 masih ongoing) tapi yang udah dibetain baru sampe chapter 5. Itu pun kmrn chapter ini harus agak dirombak karena aku ngetiknya ga lagi dalam mood dan kondisi yang baik, karena itu aku minta maaf buat update yg lebih molor dari chapter 2 kmrn.

Yap, akhir2 ini ada beberapa hal berat yang terjadi dan itu agak menggoyahkan hatiku(?) wkwk tapi emang gitu. Intinya ada beberapa hal yang bikin suasana hatiku ga baik, daripada pas aku ngetik kaya chapter ini harus dihapus sana sini mendingan tunggu sampe keadaannya baik.

Daaan berhubung ini fantasy fic pertamaku, pastinya aku masih amatir dan butuh banyak riset serta referensi. Mengarang fantasy ga mudah, butuh imajinasi yang luar biasa tinggi karena pada dasarnya fantasi adalah hal – hal yang berada di luar akal sehat atau logika. Ini adalah alasan – alasan kenapa hunch bisa update paling cepet 2 minggu. Aku harap kalian mengerti dan bersabar, aku pengen ngasih yang terbaik buat kalian 😀

Yang masih penasaran sama surrealism, aku punya rekomendasi fic surealis yang ga terlalu berat. Sebenernya banyak tapi kalo mau liat yang castnya sehun juga, aku nemu harta karun ini! Hahaha. Ini juga salah satu inspirasiku nulis fantasi/surealis. Ups, gaboleh ngiklan XD kalo mau liat main ke wp aku silakaaan, udah aku reblog ficnya (soalnya dari blog lain) ehehe

Dan entah kenapa aku ngerasa… lol ini gagal surealisnya. Maapkeun heuheu

Love,

vanillaritrin ❤

CONGRATULATIONS FOR YOUR DEBUT SOON, SONAMOO’S NAHYUN!

Park Chanyeol

Hong Jonghyun

Kang Yura

http%3A%2F%2F31.media.tumblr.com%2F542de136564ad4d5cdfd9998a2b1f3c8%2Ftumblr_n47mp3dqgK1tnbpm7o1_1280

209 responses to “HUNCH [Chapter 3]—by vanillaritrin

  1. Hahaha,sehun..skalian nolong tp jg dpt pmbntu gratìsan bwt brshin rmh..jd,smbl nyelam minum air,hihi..

  2. wahh sehun modus bawa Nahyun kerumahnya.. pasti disuruh mbersihin rumahnya yang berantakan itu.. hahah.. emang Nahyun punya masalah apa sih sama orang-orang ngejar dia? kok sampek segitunya..
    keep writing ya!

  3. Nahyun-Nahyun kau itu orangnya sulit ditebak juga bikin ngiri, mungkin karena kharisma/aura- yang luar biasa dari Sehun bisa buat Nahyun rela gitu ngerawat juga kasih numpang gitu dan Sehun kenapa kau main cium orang-lagi>_< cieee yang gantian kasih tumpangan buat nginep … lucu saat Sehun manfaatin adanya Nahyun buat bersihin rumahnya….

  4. Wah betul” ni sehun. Ngambil ksmpatan dlm ksmpitan…bs” nahyun jd pmbatu tuh…
    Oh untk foto kok aku lbh sk foto yura t drpd foto nahyun. Hehehe

  5. apa-apan kau sehun bawa nahyun kerumah mu mau kau jadikan apa nahyun istrimu (?) eh pembantumu….

  6. Paling alasan sehun ngajak nahyun tinggal dirumahnya bukan karena nahyun dalam bahaya tpi disuruh bersihin rumahnya 😅😅

Leave a Reply to jessxoxo98 Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s