War of Hormone — by IMA

woh

Title  : War of Hormone

Author    : Ima (@kaihyun0320)

Casts      : Kim Tae Hyung (BTS’ V), Im Jae Ra (OC’s)

Other     : Park Chanyeol

Rating     : PG-15!

© Ima at SKF 2014

 

[War of Hormone]

Thank you for existing.

Please call me, I’ll buy you food.

*

“Dia cantik.”

Dua kata yang penuh makna itu tiba-tiba saja terlontar dari bibir seorang lelaki yang duduk di sudut kelas. Pandangannya tidak berhenti memandangi sang murid baru yang diperkenalkan oleh wali kelasnya beberapa menit lalu. Seulas senyum muncul di bibirnya, ia merasa jantungnya tiba-tiba berdetak cepat ketika gadis itu menyebutkan nama, tersenyum simpul, lalu membungkukkan tubuh untuk menyapa seluruh murid di sana. Ia berterima kasih pada Tuhan karena sudah menciptakan wanita secantik itu di dunia.

Lelaki itu kemudian melirik teman sebangkunya –yang juga menatap gadis itu dengan senyum yang tidak memudar. Dan bahkan seluruh laki-laki yang berada di kelasnya juga ikut-ikutan memperhatikan gadis cantik yang baru saja menjadi teman sekelas mereka itu.

“Kau bisa pilih teman sebangkumu,” ujar wali kelas mereka seraya menepuk wanita berparas cantik yang terlihat masih bingung mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kelas.

Ya. Cepat pindah ke bangku lain,” terdengar suara bisik-bisik beberapa lelaki yang berusaha menyediakan bangku kosong untuk gadis itu. Namun hanya satu laki-laki yang berhasil mengusir teman sebangkunya –pindah ke bangku kosong lain, dan dengan suara lantang kemudian memanggil wanita bermarga Im yang masih bingung memilih bangku itu.

“Di sini kosong!” ujarnya dengan seulas senyum lebar.

Gadis itu balas tersenyum lalu melangkah menghampiri kursi kosong di barisan keempat tepat di sebelah laki-laki berambut cokelat itu. Tubuhnya menghempas pelan ke atas kursi sambil meletakkan tas ranselnya ke atas meja. Suara riuh yang ditimbulkan beberapa siswa lain –karena tidak berhasil satu bangku dengan gadis itu pun—berhasil diredam oleh suara sang wali kelas. Gadis itu kemudian melirik teman sebangkunya –yang notabene seorang laki-laki— lalu berdehem pelan sambil menyodorkan tangan.

“Namaku Im Jae Ra.”

Lelaki itu masih sibuk memandangi teman barunya –sambil mengemut permen lollipop, tidak sadar bahwa yang dipandangi itu tengah menatap aneh ke arahnya. “Oh my, apa suara malaikat memang selembut ini?”

Alis Jae Ra bertaut heran, tidak mengerti dengan gumaman pria di sampingnya. Ia menarik tangannya kembali, merasa canggung karena lelaki itu tidak membalas perkenalannya. Ia baru saja mengeluarkan buku saat lelaki aneh di sampingnya sibuk menulis sesuatu di sudut bukunya. Hingga terdengar suara kertas yang dirobek dan potongan kertas yang tiba-tiba muncul di atas buku catatannya.

‘Kim Tae Hyung. 080-812-974-22.’

Kepala Jae Ra sontak menoleh ke samping dan hanya mendapati senyuman lebar nan polos milik lelaki yang mengaku bernama Tae Hyung itu.

“Apa-apaan ini?”

“Nomor teleponku. Kau mungkin membutuhkannya nanti.”

.

I think I’m crazy these days

Girls wear things that make me cough.

Thank you very much for improving my eye sight

***

Musim panas sepertinya akan tetap menjadi favorit seluruh murid lelaki di salah satu sekolah ternama di Seoul itu. Karena saat pelajaran olahraga berlangsung, para murid wanita di sekolah mereka akan menggunakan celana super pendek di atas paha saja. Termasuk Tae Hyung. Karena ia melihat sang murid baru di kelasnya yang juga memakai celana pendek, memamerkan kaki jenjangnya yang mulus tanpa cacat sedikit pun.

Tae Hyung tengah melakukan pemanasan di dekat pohon rindang dekat lapangan sementara matanya tetap memperhatikan Jae Ra yang tengah tertawa bersama teman wanitanya, hanya berjarak beberapa meter dari posisinya. Ia kemudian terbatuk pelan saat matanya tidak lepas memandangi kaki jenjang Jae Ra dari belakang. Tiba-tiba saja ia merasa gugup, takut jika Jae Ra memergokinya –sedang mengagumi keindahan tubuh gadis itu.

Sejak kehadiran Jae Ra, ia berterima kasih pada gadis itu karena sudah membuat matanya kembali berfungsi dengan normal.

“Jae Ra-ya,” Tae Hyung menyerah melawan pikirannya untuk tidak mendekati Jae Ra. Ia menghentikan kegiatan pemanasannya dan menghampiri gadis itu sambil membawa botol minum miliknya. Membuat beberapa teman wanita Jae Ra menyingkir dan menyisakan mereka berdua di samping lapangan.

“Ini untukmu.”

“Aku belum haus, Tae Hyung.”

“Tapi kau pasti kepanasan.”

“Olahraganya bahkan belum dimulai.”

Tae Hyung berdehem pelan lalu tetap menyodorkan botol minumnya pada Jae Ra. “Tapi kau nanti pasti haus ‘kan? Minum dari sini saja.”

Sebenarnya Jae Ra sudah sering menghadapi Tae Hyung yang memaksanya menerima sesuatu seperti itu. Ia bahkan baru dua hari berada di sekolah baru dan Tae Hyung benar-benar menginvasi hidupnya.

Ara. Terima kasih, Tae Hyung-ssi,” pasrahnya seraya menerima botol minum milik Tae Hyung.

“Sama-sama, Jae Ra-ya,” Tae Hyung tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya, ia menggigit bibir bawahnya seraya memperhatikan Jae Ra yang tengah meneguk air minumnya. Rambut panjang gadis itu diikat satu dan membuat leher jenjang Jae Ra –yang sedang minum—tereskpos jelas di hadapannya.

Tiba-tiba saja Tae Hyung merasa panik. Sepertinya ia akan semakin mengagumi kesempurnaan Jae Ra mulai detik ini.

.

I’m 18, I know what I need to know

I know that girls are the best thing in the world

Yes I’m a bad boy, so I like bad girl.

Come here baby, we’ll be fine.

***

Sore itu Tae Hyung tengah menikmati permen lollipopnya sambil berjalan-jalan di salah satu mall pusat distrik Gangnam setelah menghabiskan waktu liburnya dengan bermain di game center di sana. Sebenarnya Tae Hyung sudah akan pulang ke rumah ketika matanya tidak sengaja menangkap Jae Ra yang sedang berdiri di di salah satu cafe, membuat langkahnya terhenti dan kembali mundur untuk memastikan pandangannya. Karena ia merasa tidak pernah salah jika sudah menyangkut Jae Ra.

Dan gadis itu memakai high heels. Membuat kaki jenjang gadis itu semakin terlihat indah.

Tae Hyung tertawa pelan seraya mengeluarkan permen lolipop dari mulutnya, ia melangkah lebar menghampiri Jae Ra—yang terlihat menunggu sendirian di depan kasir.

Annyeong.

Suara laki-laki yang terdengar begitu dekat di telinga itu sontak membuat Jae Ra menoleh cepat. Wajahnya hanya berjarak beberapa senti aja dari Tae Hyung dan ia segera mundur satu langkah untuk memberi jarak. Kehadiran Tae Hyung benar-benar berada jauh di luar dugaannya. Bagaimana bisa dari banyaknya mall di Seoul dan dari luasnya mall itu, ia bisa bertemu dengan Tae Hyung?

“Apa kau hanya membeli kopi?” Tae Hyung kembali berucap ketika matanya mendapati satu gelas ice americano yang baru disodorkan seorang kasir wanita. “Tolong buatkan satu lagi untukku.”

Ya. Kenapa kau tiba-tiba—.”

“Aku yang bayar,” Tae Hyung menyela dengan cepat seraya melebarkan senyumnya. Terlihat Jae Ra yang memutar bola mata, tidak berniat untuk melawan lelaki itu. Karena pada akhirnya Tae Hyung akan terus memaksanya.

Jae Ra mengambil ice americano miliknya, begitu juga dengan Tae Hyung setelah menyerahkan uang pada penjaga kasir. “Gomawo, lain kali aku yang traktir.”

Dwaesseo,” Tae Hyung kemudian membuat permen lolipopnya pada  tempat sampah di depan cafe ketika mereka berdua mulai melangkah meninggalkan cafe itu. Senyuman simpul masih terus terlihat di bibir Tae Hyung, lelaki itu bahkan sesekali melirik wanita yang kini berjalan di sampingnya. Merasa terlalu senang karena bisa berjalan bersama gadis itu diluar sekolah.

Anggap saja Tae Hyung tengah berkencan dengan Jae Ra sore itu.

“Apa kau mau sesuatu?” tanya Tae Hyung seraya memiringkan kepalanya, mencoba menatap Jae Ra yang sedikit lebih pendek darinya. “Katakan saja dan aku akan mengabulkannya.”

Jae Ra mendelik lalu mendecih pelan menanggapi ucapan Tae Hyung. “Aku mau pulang.”

Jinjja? Kau mau pulang naik apa? Bis? Taksi? Atau motor?” tanya Tae Hyung bertubi, membuat Jae Ra mulai merasa jengah.

“Jalan kaki.”

Johtda! Kau pasti mau berlama-lama denganku ‘kan? Ayo kita jalan kaki,” Tae Hyung kembali menyesap americanonya sambil tersenyum lebar pada Jae Ra. Oh, Tae Hyung pasti akan mimpi indah malam nanti setelah berkencan bersama Jae Ra sore itu.

Dan Jae Ra merutuki ucapannya sendiri. Kini ia melihat senyuman tidak pernah hilang dari bibir Tae Hyung ketika mereka mulai keluar dari mall tersebut. Jawaban bodoh yang keluar dari bibirnya pasti membuat Tae Hyung senang setengah mati. Jae Ra tidak habis pikir kenapa Tae Hyung selalu mengganggu hidupnya semenjak ia pertama kali menjadi teman sebangku lelaki itu.

Tae Hyung tidak menyukainya bukan?

.

Women I have fun with once in a while

I’m not interested in them

When I see you, I learn about the body

My testosterone increases…

***

Tae Hyung pernah memacari hampir sepuluh wanita dalam dua tahun terakhir. Dan ia tidak pernah benar-benar tertarik dengan semua mantan kekasihnya. Setelah mengenal Jae Ra, ia mulai belajar tentang bentuk tubuh seorang wanita. Sekarang ia mengerti kenapa murid lelaki di sekolahnya selalu membahas mengenai para wanita. Dan Tae Hyung mengakui bahwa ada gejolak aneh di dalam dirinya ketika Jae Ra berada di dekatnya.

Permen lolipop masih bertengger di mulut Tae Hyung ketika sang wali kelas tengah menjelaskan mata pelajaran Fisika. Dan Tae Hyung masih setia menopang dagu ke arah Jae Ra untuk memandangi gadis itu. Namun sepertinya Jae Ra berusaha tidak mengacuhkannya dan lebih memilih memperhatikan guru Lee.

“Jae Ra.”

“Im Jae Ra.”

“Jae Ra-ya~.”

Bisikan Tae Hyung memang mengganggu konsentrasi belajar Jae Ra, namun gadis itu berusaha mengabaikan gangguan dari Tae Hyung dan kembali mendengarkan guru Lee. Membuat Tae Hyung mengerucutkan bibirnya secara tak sadar. Terkadang Tae Hyung berpikir bahwa kehadiran Jae Ra di sana adalah sebuah kesalahan. Jika Jae Ra dianalogikan seperti lautan luas, gadis itu mungkin akan menjadi lautan paling dalam yang keberadaannya harus dikelola pemerintah. Keeksistensian Jae Ra sudah berhasil menjungkir-balikkan dunia Tae Hyung.

“Jangan lupa tugas minggu depan. Pelajarannya berakhir di sini, selamat siang.”

“Woah! Akhirnya dia keluar juga,” Tae Hyung mengangkat kedua tangannya ke atas, menggeliat kesana-kemari untuk meregangkan otot tubuhnya yang kaku  setelah hampir dua jam duduk di sana.

 “Kau tidak mau ke kantin?” tanya Tae Hyung seraya beranjak dari duduknya, memperhatikan Jae Ra yang dalam diam memasukkan bukunya ke dalam tas.

Terlihat Jae Ra yang menggelengkan kepala. “Duluan saja. Aku masih harus ke perpustakaan.”

Araseo,” Tae Hyung kemudian melompati meja di belakangnya dan segera berlari menyusul Jungkook.

Keadaan kantin cukup ramai di jam makan siang dan Tae Hyung tengah bersenda gurau dengan Jungkook sembari menunggu antrian. Suara tawa Tae Hyung masih menggema ketika Jungkook menyenggol lengannya. Sahabatnya itu mengendikkan dagu ke arah Jae Ra yang baru saja memasuki kantin dengan ekspresi bingung. Beberapa murid bahkan mulai memperhatikan sosok cantik Jae Ra yang mulai mengantri di barisan belakang untuk mengambil jatah makan siang.

Tae Hyung membisikkan sesuatu pada Jungkook lalu segera keluar dari antrian dan menghampiri Jae Ra di belakang. “Jae Ra-ya, ayo tukar posisi.”

“Tukar?” Jae Ra memiringkan kepala dan melihat Jungkook yang melambai padanya di antrian depan. Hampir mencapai ibu kantin yang menyerahkan jatah makan siang. “Tapi kau sudah antri sejak tadi, Tae Hyung. Aku baru datang, jadi aku akan—.

“Apa kau pernah dengar istilah ladies first?” tanya Tae Hyung, memotong ucapan Jae Ra. Lelaki itu mengulum senyumnya seraya mengalihkan pandangan pada beberapa wanita –di antrian yang menatap kagum ke arahnya. “Istilah itu hanya berlaku untukmu, Jae Ra-ya.”

Para murid wanita di sana pun mulai ramai, merasa iri karena Tae Hyung benar-benar mendahulukan Jae Ra agar bisa mengambil makan siang lebih dulu. Sementara Jae Ra merasakan wajahnya memanas ketika beberapa murid lelaki bersiul padanya dan Tae Hyung yang masih mengulum senyum –dengan telinga memerah di hadapannya. Jae Ra menghembuskan napas pelan lalu segera menyusul Jungkook di antrian terdepan.

Tae Hyung menggeleng pelan sambil berdecak kagum saat memperhatikan Jae Ra dari belakang. Rambut, badan, kaki, dan semua yang dimiliki gadis itu benar-benar sempurna. Ia pasti tidak akan percaya jika ada seorang lelaki yang tidak tertarik pada Jae Ra. Karena semua yang dilakukan Jae Ra berhasil membuat Tae Hyung hampir gila. Di malam hari, ia selalu membayangkan sikap Jae Ra dan kadang tersenyum sendiri saat mengingat wajah gadis itu.

Setiap melihat Jae Ra, Tae Hyung harus berperang dengan gejolak aneh di dalam dirinya.

.

You look best in front, best from behind

From head to toe, you’re the best.

You look best in front, best from behind

Every step, you’re the best.

***

Sepertinya guru Lee sedang berpihak pada Tae Hyung saat pelajaran Fisika kemarin. Karena otaknya yang tidak begitu pintar dalam hitung-menghitung  dipasangkan dengan Jae Ra –yang pintar Fisika— dalam membuat tugas akhir semester. Keduanya harus menyelesaikan lima puluh soal Fisika yang akan dikumpul sebelum ujian dan Tae Hyung mempergunakan kesempatan itu untuk sekaligus belajar pada Jae Ra. Bahkan siang itu Tae Hyung berkunjung ke rumah Jae Ra dengan alasan tugas Fisika dan gadis itu tidak bisa menolak kedatangannya.

Tae Hyung duduk di sofa ruang tengah sambil memperhatikan setiap sudut rumah Jae Ra. Di dekat televisi berjejer rapi foto anggota keluarga Jae Ra dan ia baru tahu kalau Jae Ra ternyata memiliki seorang kakak laki-laki. Mereka sudah berteman selama dua bulan ini dan Jae Ra tidak pernah menceritakan kehidupannya pada Tae Hyung.

Eomma sedang keluar sebentar,” Jae Ra tiba-tiba datang dengan nampan berisi dua gelas air di atas meja. Gadis itu meletakkan dua gelas air tersebut ke atas meja lalu menghempaskan diri di sebelah Tae Hyung.

Dan Tae Hyung tersenyum lebar saat melihat wajah kusut Jae Ra dengan rambut acak-acakan di sampingnya. Sepertinya Jae Ra benar-benar bermalas-malasan di akhir pekan. “Cantik.”

“Apa?” Jae Ra menoleh dengan cepat dan mengunci tatapan dengan Tae Hyung yang tengah menatapnya. Jae Ra sudah sering berhadapan dengan Tae Hyung dalam dua bulan ini, namun entah kenapa saat itu ia merasa gugup. Hanya berdua di rumah sebesar itu dengan Tae Hyung yang duduk di sebelahnya, membuat Jae Ra panik tanpa sebab.

Tae Hyung mengulum senyumnya lalu segera mengalihkan pandangan ke arah lain. Ia takut tidak bisa menang melawan gejolak aneh di dalam dirinya. “Ajari aku semua bab Fisika ini, eoh?”

Ya. Kita sekelompok untuk mengerjakan tugas Fisika, Tae Hyung. Bukan untuk mengajarimu, ara?” Jae Ra mendesis pelan kemudian membuka buku tebal berisi materi Fisika dan soal yang akan mereka kerjakan.

“Jae Ra-ya, aku tidak mengerti semuanya,” Tae Hyung mulai merayu dengan nada manjanya pada Jae Ra. Namun gadis itu malah beralih duduk di atas karpet dan membuka buku catatannya, bersiap mengerjakan soal-soal Fisika itu. “Im Jae Ra.”

Ara ara. Cepat turun ke bawah,” ujar Jae Ra akhirnya. Ia merasa berhutang budi pada Tae Hyung karena lelaki itu selalu baik padanya selama ini. “Astaga. Aku tidak percaya harus mengulangi semuanya dari awal.”

“Kau tidak mau teman sebangkumu yang baik ini tidak lulus Fisika, ‘kan?” Tae Hyung memiringkan kepala sambil mendekatkan wajahnya pada Jae Ra, sontak membuat gadis itu memundurkan kepala. Tae Hyung kemudian terkekeh pelan, merasa lucu dengan ekspresi ketakutan Jae Ra.

“Berhenti menggodaku, Kim Tae Hyung. Kita harus mulai belajar sekarang,” Jae Ra hanya menggelengkan kepala seraya memperhatikan tumpukan buku di meja ruang tengahnya. Mencoba meredakan detak jantung yang menggila karena tatapan Tae Hyung. Tatapan lelaki itu begitu mematikan dan bisa membuat wanita mana pun tergoda, termauk Jae Ra.

“Sudah selesai?”

“Sebentar. Jangan mengintip, Jae Ra-ya,” Tae Hyung menggeser bukunya menjauh lalu kembali menyibukkan diri mengerjakan soal-soal Fisika yang diberikan Jae Ra.

Jae Ra mendesis pelan, ia melirik jam di ruang tengah rumahnya yang menunjukkan pukul tiga sore. Ibunya belum pulang dari pasar sejak sebelum makan siang dan Jae Ra mulai gelisah. Ia mulai gelisah hanya berdua saja bersama Tae Hyung di sana.

Kkeut!” pekik Tae Hyung, membuat Jae Ra menoleh cepat. Ia menyerahkan bukunya pada Jae Ra, matanya tidak lepas memperhatikan Jae Ra yang duduk –dengan cukup dekat di sebelahnya dan memeriksa semua yang sudah dikerjakannya.

Jae Ra menggigit ujung pensilnya sembari memeriksa tulisan tangan Tae Hyung yang berantakan. Sementara Tae Hyung terus menatapnya dari samping dan membuat Jae Ra gugup setengah mati. Sebelumnya ia tidak pernah merasa gugup jika terus diperhatikan oleh Tae Hyung sepanjang mata pelajaran. Karena tidak tahan menahan rasa gugupnya, Jae Ra menoleh cepat ke arah Tae Hyung dan mendaratkan ujung pensilnya di kening lelaki itu.

“Jangan menatapku terus, Tae Hyung,” ujar Jae Ra cepat.

Tae Hyung mengelus keningnya lalu malah tersenyum simpul pada gadis itu. “Wae? Aku sedang lihat bukunya, bukan kau, Jae Ra-ya.”

Cish, dasar pembohong,” Jae Ra pasrah saja dan kembali memeriksa tulisan tangan Tae Hyung. “Ya! Bagaimana kau mau lulus kalau tulisannya seperti ini. Susunan angkanya juga berantakan, rumusnya tidak jelas, dan—.”

Sial.

Ucapan Jae Ra terhenti ketika bibir Tae Hyung mendarat di pipinya. Cukup lama menempel di sana dan membuat wajah Jae Ra sontak memanas seketika. Hingga Tae Hyung menjauhkan wajahnya kembali, Jae Ra segera meraba pipi kanannya –yang terasa sedikit basah. Masih tidak percaya dengan apa yang sudah Tae Hyung lakukan. Dan sedetik kemudian terdengar suara Tae Hyung yang menarik Jae Ra kembali ke dunia nyata.

“Cerewet,” Tae Hyung terkekeh pelan lalu mengacak pelan rambut Jae Ra. “Tapi aku suka gadis cerewet sepertimu.”

Mwo?” tanya Jae Ra, mencoba memastikan pendengarannya.

“Aku menyukaimu, Jae Ra-ya,” Tae Hyung mengatakan dengan mantap sambil menatap lurus ke dalam mata Jae Ra. “Ah, sepertinya aku mulai mencintaimu.”

“Kim Tae Hyung kau—.”

Kedua mata Jae Ra membulat sempurna begitu Tae Hyung memajukan wajahnya dan mendaratkan bibirnya pada bibir gadis itu. Tae Hyung tersenyum sekilas di dalam ciuman –singkat mereka lalu menjauhkan wajahnya kembali. Semburat merah terlihat menghiasi wajah Jae Ra –dan bahkan hingga ke telinga gadis itu. Dan entah kenapa pemandangan di depannya terlihat menggemaskan di mata Tae Hyung.

.

Women are the best gift

My only wish is you

If it’s you, I’m OK

I can’t control my self.

***

Sudah beberapa jam yang lalu Tae Hyung tiba di rumah dan memasuki kamarnya, membersihkan diri lalu tidur terlentang di kasur menghadap langit-langit kamar. Wajah Jae Ra terus terbayang di kepalanya dan ia hampir gila jika memikirkannya. Ia mendesah napas frustasi kemudian menutup wajahnya dengan bantal. Harusnya ia tidak bertindak bodoh dengan seenaknya mencium gadis itu tadi. Dan ia harusnya tidak terburu-buru mengungkapkan perasaannya pada Jae Ra.

Namun rasanya Tae Hyung hampir tidak bisa menahan gejolak perasaannya. Ia sudah kalah pada gejolak perasaannya dan tiba-tiba saja mengeluarkan kata-kata keramat itu dari bibirnya sendiri.

“Kenapa?”

“Apa ada alasan untuk mencintai seseorang?”

“Aku sudah punya pacar, Tae Hyung.”

“A—apa?”

Sial.

Kejadian tadi sore kembali terngiang di dalam kepala Tae Hyung dan membuatnya semakin frustasi. Ia bahkan hampir tidak pernah melihat Jae Ra saling berkirim pesan dengan kekasihnya di sekolah. Atau ketika pulang sekolah, Tae Hyung selalu mengikuti Jae Ra sampai rumah dan tidak pernah menemukan gadis itu bertemu dengan seorang lelaki mana pun. Apa Jae Ra tengah berbohong padanya?

Tae Hyung bergegas mengubah posisinya menjadi duduk. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas kasur lalu mencari nomor ponsel Jae Ra di sana. Jari tangannya bergerak ragu di atas layar sentuh ponsel, berpikir dua kali untuk menelepon Jae Ra. Namun kemudian jemarinya terhenti pada gambar telepon berwarna hijau di samping nama Jae Ra, menelepon gadis itu. Rasa penasaran benar-benar menggelitik pikirannya.

“Jae Ra.”

‘Ada apa?’

Nada bicara Jae Ra terdengar dingin di telinga Tae Hyung. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, dimana Jae Ra selalu menyapanya dengan ramah di telepon. Kejadian tadi sore sepertinya mulai mengubah sikap gadis itu padanya.

‘ Tae Hyung…. Jangan membuang waktuku, atau teleponnya—.’

“Siapa namanya?”

‘Mwo? Kau bertanya siapa?’

“Pacarmu,” Tae Hyung menggigit bibir bawahnya saat jantungnya terasa dicubit dan membuat rasa sesak di dadanya.

Terdengar helaan napas berat Jae Ra di seberang sana. ‘Kau tidak berniat melukainya ‘kan?’

“Jae Ra-ya.”

‘Namanya Park Chanyeol dan dia bukan anak sekolah seperti kita.’

Senyuman miris muncul di bibir Tae Hyung sedetik kemudian. Ia menjauhkan ponselnya dan hanya terdengar suara panggilan Jae Ra yang terdengar samar di telinganya. Seorang Im Jae Ra sudah mengacak-acak pikiran dan hidupnya selama dua bulan ini, mengenalkan Tae Hyung pada gejolak aneh yang selalu muncul saat gadis itu berada di dekatnya. Sebelumnya ia tidak pernah merasa sedih akan seorang wanita, toh ia selalu mendapatkan semua wanita yang menarik di hidupnya dan berpisah dengan mudah.

Namun kenapa rasanya sulit sekali merelakan Jae Ra? Tae Hyung bahkan tidak sadar bahwa kedua matanya mulai memanas dan rasa sesak di dadanya yang semakin mendominasi. Kedua tangannya terkepal erat, meremas ponsel yang masih berada di dalam genggamannya. Ia bukan seorang lelaki yang akan mudah menyerah dalam memperjuangkan sesuatu. Dan ia tidak akan menyerah untuk mendapatkan Jae Ra, sebelum ia melihat kekasih gadis itu dengan kedua matanya sendiri.

.

You’re not mine, but you’re the best

Your body twist in front of me

I want to approach you

You’re so beautiful.

***

“Selamat pagi, Im Jae Ra.”

Permen lolipop tampak bertengger di bibir Tae Hyung ketika ia melangkah memasuki kelas dan menyapa Jae Ra yang tengah duduk di salah satu bangku di dalam kelas. Senyuman bahagia di bibirnya memudar ketika menyadari sesuatu. Jae Ra baru saja pindah ke tempat duduk yang berseberangan dengan tempat duduknya, berjarak dua baris dan bahkan ada seseorang yang kini menjadi teman sebangkunya.

Apa gadis itu berusaha menghindarinya?

Tae Hyung memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana lalu melangkah menghampiri Jae Ra. Tepat ketika berhenti di sebelah Jae Ra, ia mengalihkan tatapan pada seorang wanita –yang menjadi teman sebangku baru gadis itu.

“Selamat pagi juga, Kim Yeri,” Tae Hyung tersenyum lebar lalu berlutut di dekat meja, tepat di sebelah Yeri –karena Jae Ra duduk di pojok dekat dinding. “Ya. Apa kau mau makan gratis selama seminggu?”

Keurae!” sahut Yeri semangat dengan kedua mata berbinar.

“Aku akan menraktirmu selama seminggu kalau mau bertukar tempat duduk denganku,” tawar Tae Hyung seraya memiringkan kepalanya, sesekali ia melirik Jae Ra yang tengah melemparkan tatapan dingin padanya.

“Woaah, dengan senang hati, Kim Tae Hyung!” Yeri kemudian beranjak dari kursi sambil membawa tasnya. Gadis itu bahkan melangkah semangat menuju tempat duduk barunya –tepat di sebelah Jimin. Menempati tempat duduk Tae Hyung yang lama.

Tae Hyung hanya terkekeh pelan dan menghempaskan tubuhnya di kursi –sebelah Jae Ra. Ia menoleh pada Jae Ra, membalas tatapan dingin gadis itu dengan tatapan teduh miliknya. Tidak peduli seberapa keras Jae Ra berusaha menghindar, ia akan tetap bisa meraih gadis berparas cantik itu agar berada di dekatnya.

Cih. Kenapa kau tetap mendekatiku?” tanya Jae Ra, tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

Tae Hyung mengendikkan bahu tak acuh seraya mengeluarkan permen lolipop dari mulutnya, tampak –pura-pura berpikir sambil menempelkan permen itu di bibirnya. “Karena aku mencintaimu. Apa belum jelas?”

“Tapi aku—.”

Dwaesseo. Kita masih sekolah, Jae Ra-ya. Kau tidak berniat menikah dengannya sebelum lulus sekolah ‘kan?” pertanyaan Tae Hyung benar-benar membuat Jae Ra terdiam di depannya. “Itu berarti aku masih punya waktu satu tahun untuk mengubah perasaanmu. Menikah saja bisa bercerai, apalagi yang masih pacaran sepertimu.”

“Kim Tae Hyung. Sekeras apapun kau berusaha, perasaanku tidak akan berubah, ara?” Jae Ra mendengus pelan lalu mengeluarkan buku catatannya dari dalam tas.

Tae Hyung memasukkan permen itu kembali ke dalam mulutnya seraya melipat tangan di depan dada. “Kalau begitu….”

Ucapan Tae Hyung yang menggantung mulai menggelitik rasa penasaran Jae Ra. Jae Ra kembali menoleh dan menatap Tae Hyung yang tengah tersenyum simpul ke arahnya. Pada kenyataannya, Jae Ra benci mengakui bahwa Tae Hyung tidak kalah tampan jika dibandingkan dengan kekasihnya. Tae Hyung mempunyai mata kecil dengan tatapan teduh, hidung yang mancung, senyum yang menawan, dan wajah yang seperti bayi. Membuat wanita mana pun pasti akan luluh pada ketampanan dan sikap lelaki itu.

Jae Ra pernah hampir goyah akan sikap Tae Hyung, namun ia selalu ingat dengan seorang pria yang sudah mengisi hatinya dalam dua tahun ini.

“Bawa pacarmu dan kenalkan dia padaku,” Tae Hyung menyunggingkan senyum miring, tidak bisa menyembunyikan rasa geli karena keterkejutan Jae Ra.

“Sudah kubilang dia bukan anak sekolah seperti kita, Tae Hyung,” Jae Ra berusaha mengelak agar Tae Hyung tidak mendesaknya untuk membawa Chanyeol.

“Sesibuk apapun dia, kalau kau –pacarnya menelepon dan bilang ingin bertemu, dia harusnya datang ‘kan?” Tae Hyung kembali bertanya dengan nada sedikit menyindir. Karena pada kenyataannya ia memang tidak pernah menemukan Jae Ra bertemu laki-laki dalam dua bulan ini.

Jae Ra menghembuskan napas panjang, ia sudah sangat hapal dengan sikap keras kepala Tae Hyung. Dan Tae Hyung tidak akan berhenti memaksanya jika ia belum mengabulkan permintaan lelaki itu. “Ara. Dia akan menjemputku pulang sekolah nanti, puas?”

Tae Hyung hanya terkekeh sambil mengangguk pelan menanggapi ucapan gadis itu. Ekspresi kesal Jae Ra entah kenapa terlihat menggemaskan di mata Tae Hyung. Kerutan yang muncul di kening dan alis yang hampir bertaut milik Jae Ra, membuat gadis itu semakin terlihat cantik. Anggap saja Tae Hyung sudah terobsesi pada kecantikan seorang Im Jae Ra.

.

Because of who? Because of a girl.

Because of who? Because of hormones.

Because of what? Because I’m a man.

Because I’m a man? Because of a girl…

***

Bel pulang sekolah berbunyi dan membuat Tae Hyung senang setengah mati. Akhirnya rasa penasaran akan kekasih seorang Im Jae Ra akan terungkap sebentar lagi. Ia berharap bahwa Jae Ra menyerah –membohonginya dan mengatakan bahwa gadis itu hanya berusaha menghindarinya saja. Tae Hyung segera berdiri dari kursi lalu memperhatikan Jae Ra yang masih duduk –sambil memainkan ponselnya.

“Ayo pulang, Jae Ra-ya,” ajak Tae Hyung, namun Jae Ra melirik sinis ke arahnya sambil mendesis pelan.

“Tunggu sebentar,” Jae Ra mengunci layar ponselnya lalu beranjak dari kursi. Mengikuti Tae Hyung yang sudah berjalan duluan di depannya.

Banyak sekali yang memperhatikan  Jae Ra dan Tae Hyung yang berjalan bersama di koridor sekolah. Tidak heran toh sudah beredar isu yang mengatakan bahwa keduanya berpacaran –karena selalu terlihat berdua di setiap sudut sekolah. Oh lebih tepatnya, Tae Hyung yang selalu mengikuti kemana pun Jae Ra pergi. Apalagi jika mengingat sikap manis Tae Hyung pada Jae Ra –yang membuat wanita mana pun merasa iri.

“Dimana pacarmu?” tanya Tae Hyung tidak sabaran ketika mereka berdua tengah berjalan melewati lapangan basket menuju gerbang depan.

“Dia sudah di depan,” Jae Ra tampak melirik jam tangannya lalu mempercepat langkah, hampir meninggalkan Tae Hyung di belakang. Dan Tae Hyung terpaksan menyamakan langkah cepat Jae Ra dengan langkah besarnya.

Langkah Tae Hyung melambat sebelum mencapai pintu gerbang sekolahnya. Ia melihat Jae Ra berlari menghampiri seorang lelaki yang tengah bersandar pada motor besar di tempat parkir. Seorang gadis cantik seperti Jae Ra, memang sudah sepantasnya memiliki kekasih yang tampan dan Tae Hyung hampir tidak berkedip ketika melihat seorang lelaki berpostur tinggi dengan bentuk tubuh proporsional dan wajah yang tampan tengah mengobrol bersama Jae Ra di depan sana. Jae Ra bahkan terlihat tertawa sebelum lelaki itu mengacak rambut Jae Ra dengan seulas senyum lembut.

Ya. Kim Tae Hyung, cepat kesini,” Jae Ra melambai singkat pada Tae Hyung yang malah terpaku beberapa meter di belakangnya. Jae Ra melemparkan senyum pada Chanyeol lalu segera menghampiri Tae Hyung untuk menarik tangan lelaki itu menghampiri kekasihnya.

Tae Hyung tampak salah tingkah ketika berdiri di depan lelaki –yang sedikit lebih tinggi darinya itu. apalagi ketika mata besar lelaki itu memperhatikannya dengan intens dan tangan yang terlipat di depan dada.

Oppa, dia teman pertamaku di sekolah ini, namanya Kim Tae Hyung,” ujar Jae Ra, memperkenalkan Tae Hyung pada Chanyeol.

Terlihat Chanyeol yang mengangguk pelan sambil menyodorkan tangannya pada Tae Hyung. “Annyeong. Aku Park Chanyeol, pacarnya Jae Ra.”

A—annyeong, Chanyeol-ssi,” Tae Hyung tiba-tiba gugup seraya membalas jabatan tangan Chanyeol. Ia melepaskannya dengan cepat dan segera melemparkan tatapan tajam pada Jae Ra. “Sepertinya aku harus pulang sekarang, Jae Ra-ya. Bwayong.

Tae Hyung membungkuk singkat pada keduanya lalu melesat begitu saja meninggalkan pelataran parkir. Dadanya bergemuruh hebat, menjalarkan rasa panas ke seluruh tubuhnya ketika Jae Ra bersikap sangat ramah pada lelaki yang mengaku bernama Chanyeol itu. Tae Hyung tertawa miris, Jae Ra bahkan bukan miliknya dan ia tidak pantas cemburu pada gadis itu. Jae Ra berhak memilih siapa lelaki yang dicintainya bukan?.

Dan seharusnya Tae Hyung tidak berusaha memasuki kehidupan Jae Ra dari awal.

.

Women are cold icebergs, let it go

A female who drives me crazy

After winning the war of hormones

I pop my pimples…

***

*

*

[War of Hormone] END

Ima’s note :

HAPPY ‘V’IRTHDAY , KIM TAEHYUNG!

komen~ komen~ komen~

Makasih banyaak ~^^

Regards,

IMA♥

Advertisements

47 responses to “War of Hormone — by IMA

  1. Cicuiit gator kaca ada maling—eh?(?) Kecian amat alien 4 dimensi yang ngaku2 anaknya Baekhyun sama Daehyun yang tingkahnya kek BaekYeol jadi atu yang namestagenya dipake sama Chanyeol buat selca ini.-.
    Sabar aja yeth, KKK
    Fighting buat yg lainnya~

  2. Yah yah yaaaaahhhh… kok gitu. Eh, tapi ini remaja banget deh, trus tingkahnya Taehyung itu bener2 bikin aku pengen nimpuk kepalanya >_<
    Si cewek entah kenapa mengingatkan aku pada cewek yang ada di MV-nya GOT7 yang stop it itu… dinginnya berasaa…
    ^^
    Uke IMA ditunggu karya-nya yang lain eaaaa…. Love ya ❤

  3. ksian uri alien cintanya bertepuk sebelah tangan hehe :v. seperti biasa kak ff u alurnya enak di baca dan ini ngak ngebosenin 🙂

    aku kira si jae ra msh single eh ternyata dia udah punya pacar :3 dan plisss si V maksa banget yee -_ –

    BDW happy birthday V uri alien 😀

  4. haha taehyung nekat sampe minta ketemu, pas ketemu langsung mau pulang. kasian banget taehyung, jaera udah punya chanyeol
    nekatnya itulo keren hihii
    keep writing kak!!
    #HappyVDay

  5. Aaa, sumpah. Ini awalnya manis banget, apalagi tingkahnya Tae Hyung. Tapi end nya rada miris.

    Selamat ulang tahun Kim Tae Hyung, alien super tampan yang ke 20.

  6. Hahahahaha… Dear… IMA.. Hadiah ultahnya cinta bertepuksebelah tangan ya….
    Kalau ada sequelnya oke nih….
    Saran aja sih…..
    Btw… Oke kok Ff nya.

  7. kyaaa. taehyun kasian banget..
    padahal dia udah beneran cinta kayaya..
    huh, yaiyalah cewek secantik gt masa ga punya cowok kkk
    semangat buat kisah-kisah sweet jihyun sama jongin selanjutnya yaa hihi

  8. Kakak.. ini sumpah KEREN !
    Kasihan ma baby taehyung-nya, dia nekat amat sih! hehe 😀
    Happy ‘V’irthday ma Baby Kim TaeHyung!
    Semoga tambah mirip Baek hyun hahaXD, tambah gila + tambah tamvan hehe 😀 ❤

  9. waa,, aku suka banget ma lagu ini..
    ceritanya jg keren..tp kok endingnya gitu sih??
    di mv nya kan taehyun ma si cwek.. huhu

    ah, gpp,, yang penting ceritanya seru..

    BTW HBD Tae! haha,, HappyVDay yah semua..

    ditunggu cerita yg lain
    fighting

  10. My taetae duh ngegemesin bgt di ff ini… ga papa msh bnyk cew yg gemes bgt sama kmu termasuk noona hehehe. Happy 19 v… klo yg dikorea 20.

  11. kasihan taehyung, udah bener2 mherasain jatuh cinta, eh.. udah punya. saingannya chanyeol lagi. lebih dewasa, tinggi, keren. saingan berat.!

  12. What the?! kirain Jaera bohong, ternyata? Ini sulit dipercaya author-nim!(?). Bikin sequelnya dong author-nim, penasaran sama nasibnya Taehyung setelah tau pacarnya Jaera itu, pleaseee author-nim!! *masang wajah semelas-melasnya*#huweekk

  13. huahahahahaha dasar alien, terus aja kejar jaera giliran ngeliat chanyeol pengecut banget dah langsung kabur. seru ini seru, happy vdayy ya thor!!! /eh kelewat pasti ini udah tanggal 31 dikorea -_- keep writing thor^^

  14. Kasihan uri taehyung. Sini sama aku aja beb-,- Taehyungnya gws yaaah, kamu tetep ganteng kok melebihi chanyeol oppa*mungkin’-‘. Keeep writing

  15. Ceritanya bagusss, tapi ya rada nyesek juga ending nya aheheh. kayanya kalo dibuat squel bagus nih. wkwk. nice ff thor!

  16. yahh padahal taehyung nya sweet banget sikapnyaa -,- tapi chanyeol juga keren bangetttt >< bagus lah pokonyaa thor, cara penulisannya aku juga suka banget!! Keep writing thor \m/

  17. special gift for V ya? but kenapa justru dia yg tersakiti disini 😦 arghhh pengen lihat betapa sempurnanya Im Jae Ra yg author buat :3
    sampai bikin V trgila2 gtu :3 anyway aku suka bgt loh scene saat V makan lollipop ketika lg dance WAR OF HORMONE :3 unyu2 gmna gituuuu~

  18. poor taehyung>< sabar ya, perempuan masi banyak kok/chuckles. HEHEHE habede my dearest! jangan makin aneh ya luv luvvvv<3 btw ffnya semi-sad ending but a lil bit fluff ya arghhh gangerti deh:( bagus kok thor, keep writing!!!

  19. Aku kira taehyung bakal ngejar sampe dapett
    Taunya stop disanaa dengan hasil mengecewakan huhu
    Fghtingg!!

  20. Dua duanya bias aku😂😂
    kalo aku jadi Jae Ra mungkin aku juga bakal milih Chanyeol wkakaka😍😍
    Ceritanya enak, anak sekolahan banget gitu hihi, alurnya juga pas, keren hihi💋💋
    Berhubung jae ra udh sama chanyeol, gimana kalo V sama aku aja?huahaha /iniapa/

  21. yah… V gugup ketemu chanyeol..
    ngebayangin ekspresinya V gimana ya..
    bagus kak..

    keepwriting^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s