Amour, Obsede (Him)

ffdfd

Him

Cast : Kim Jongin, Song Jiyoon

Genre : Psychology-thriller, Dark Romance, Angst, Tragedy

Start : A, A1, A2, A3, A4, A5, A6,A7,A8, A9, A10,

Rating : PG

Kau tahu apa rasa sakit terburuk di dunia ini? Luka yang tak terlihat dan berada paling dalam.

Jongin meletakkan tubuh Jiyoon yang tertidur keatas kasur, dia kemudian mengecek kembali luka-luka yang berada pada tubuh nyaris telanjang gadis itu. Tidak ada yang begitu tampak kecuali bekas biru pada betis, paha dan punggungnya. Sementara muntahan darah dari mulut gadis itu sudah ia bersihkan.

“Kau tidak akan mati hanya karena cedera seperti ini.” bisiknya, maka dari itu Jongin tidak berminat membawa Jiyoon kerumah sakit. Dia menyelimuti tubuh Jiyoon kemudian keluar dari kamarnya, membiarkan gadis itu tidur nyenyak untuk malam ini.

Tiga gadis tadi benar-benar sialan. Meskipun Jongin selalu ingin membuat Jiyoon menderita, tapi mereka sama sekali tidak berhak untuk menyentuh mainannya—bolehkah Jongin menyebut Jiyoon begitu? Dia sudah menginjak handphone Jung Hyeri dan membuang memory card-nya ke closet WC, tentu urusan mereka belum slesai sampai disitu. They already made a big problem with Kim Jongin, life wouldn’t be easy for them anymore.

Langkah kaki pria itu berhenti di Bar-mini yang terletak di dekat dapur rumah mewahnya, dia menyuruh beberapa pelayan yang berdiam disana menyingkir agar dia bisa sendirian dan melampiaskan segala rasa penat yang membuatnya sesak.

Tangannya mengambil gelas sampanye kemudian menuangkan anggur Prancis itu kedalam sana, meminumnya dalam sekali tegak.

Fuck.” Dia mengutuk kesal. “Did I already hate her that much?” tanyanya untuk diri sendiri.

Dia tidak perlu memperdulikan Jiyoon bahkan jika gadis itu mati. Dia membenci Jiyoon, itu sudah ia tanamkan pada otaknya sejak bertahun-tahun yang lalu, sudah menjadi doktrin tetap dalam setiap hembusan napasnya.

Tujuannya adalah membuat Song Jiyoon menjadi miliknya, membuat gadis itu menyesal dengan apa yang ia perbuat dan merasakan rasa sakit yang sama dengannya sampai gadis itu menghembuskan napas terakhirnya.

Jongin sudah memiliki Jiyoon sekarang. Tapi dia tetap merasa bahwa dia tidak pernah bisa memiliki gadis itu sepenuhnya. Jiyoon tetap lah tetesan embun yang berada dibalik jendela kaca besarnnya, tak bisa ia sentuh, tak bisa ia miliki, hanya bisa ia lihat walau jarak begitu dekat.

Sekali lagi ia tuang cairan sampanye itu hingga memenuhi gelas dan meminumnya dengan cepat. Dia belum cukup mabuk untuk menetralkan kembali pikiran kacaunya dan ini semua diawali karena gadis brengsek itu, karena Song Jiyoon. Karena satu-satunya yang bisa ia salahkan atas segala kehancuran hidupnya adalah Song Jiyoon.

you made me like this Song Jiyoon.”

—–

Terlahir dengan IQ yang sedikit lebih tinggi dari manusia kebanyakkan membuat Jongin dapat mengingat beberapa peristiwa dalam hidupnya dengan begitu jelas.

Dia tak pernah lupakan kejadian ketika ia masih kecil. Keributan, lempar-melempar barang, caci-maki, pukul-memukul, teriakkan. Semuanya sama sekali tidak bisa ia hapus. Meskipun waktu itu dia tak mengerti apa arti dari pertengkaran, tapi nalurinya mengatakan bahwa itu hal yang tidak baik, hal yang menyakitkan, hal yang menakutkan sehingga ia menangis kencang. Akan tetapi tangisan atas rasa takutnya tetap tidak mengubah apapun, tidak menghentikan keributan itu dan tidak bisa membuatnya merasa tenang.

Jongin tidak tahu banyak tentang kedua orang tuanya, tapi dia ingat bahwa ayahnya pergi dan pulang kantor dengan setelan jas keren sementara ibunya selalu menggunakan perhiasan mengkilap ketika membawanya keluar rumah, rumahnya besar dan terdapat banyak pelayan, mobil juga terpakir dimana-mana. Jadi dia menyimpulkan bahwa dia terlahir di tengah-tengah keluarga kaya.

Suatu hari ayahnya membentak kasar ibunya dan meminta agar dia segera keluar dari rumah mewah miliknya. Ibunya menangis, memohon agar pria yang tercantum di buku nikah yang sama dengannya itu berpikir ulang. Setidaknya jangan lakukan itu demi Jongin, anak mereka. Tapi ayahnya bahkan berkata bahwa dia bisa pergi dengan membawa Jongin, dia takkan permasalahkan hal tersebut.

Ibunya membawa Jongin pergi dan mereka tinggal di sebuah Apartemen sederhana. Setiap kali Jongin bertanya ‘kenapa ayah tidak ikut?’, ibunya dengan senyum yang begitu manis akan menjawab dengan kalimat, ‘ayah akan datang menjemput kita sebentar lagi.’ Seorang ibu yang mengajarkan dirinya untuk tidak berbohong tentu tidak mungkin memohonginya, kan? Sehingga Jongin percaya dan itu bisa membuatnya tenang.

Jongin selalu menanti kapan ‘sebentar lagi’ itu tiba, dia berjanji akan menunggu dengan sabar hingga pada akhirnya ibunya tak pernah kembali lagi keapertemen mereka. Dia sendirian dan kesepian, tetap tak ada yang datang. Sekencang apapun dia menangis, tetap tidak ada yang perduli. Beruntung seorang nenek tua baik hati yang hidup sendirian di sebelah apartemennya melihat dia keluar dengan wajah pucat dan penuh airmata, nenek itu memberikannya makan dan mengizinkan anak kecil itu tinggal bersama dirinya yang sudah renta, tapi Jongin harus kembali sendirian setelah nenek itu meninggal lalu hidup di panti asuhan.

See? He was already abandoned and unwanted from the first time.

Satu hal yang dia pahami, ibunya begitu mencintai ayahnya tetapi ayahnya tidak sama sekali. Jongin tidak menyalahkan ayahnya sepenuhnya, ibunya juga salah karena begitu bodoh dan tidak bisa membuat ayahnya membutuhkannya sedikutpun. Maka dari itu ia selalu bersumpah untuk tidak pernah menjadi bodoh seperti ibunya.

Ketika dia tumbuh, hidup tidak pernah berbaik hati kepadanya, kesengsaraan selalu datang. Seperti berada di dalam hutan belantara dimana sekelilingnya adalah serigala-serigala lapar dan dia harus bertahan jika tidak ingin ‘dimakan’. Hukum rimba berlaku disini. Jadi wajar jika tangannya dapat memukul sesuatu hingga begitu menyakitkan ataupun badannya tidak mudah lemah. Tetapi dia hanya diam saja apabila manusia-manusia disekolahnya dulu menghajarnya, memukul ataupun menendangnya tanpa ampun, dia membiarkan tubuhnya diperlakukan bak sampah tanpa protes sedikitpun. Bukan karena dia tidak dapat melawan, tapi karena dia tahu pada akhirnya yang menang adalah uang.

Semua luka itu terasa belum cukup hingga akhirnya ia jatuh cinta. Ia tidak mau bernasib sama dengan ibunya, maka dari itu dia mencoba menolak perasaan seperti ini berada pada dirinya. Tapi pada akhirnya dia harus menerima kekalahan karena seorang gadis berhasil membuatnya melayang keatas langit paling tinggi ketika mata mereka bertemu, membuat jantungnya berdetak tidak normal ketika mereka berbicara, membuat perutnya terasa penuh dengan kupu-kupu yang berterbangan ketika melihat gadis tu tersenyum. It was really beautiful. Dia bahkan berpikir bahwa gadis itu mampu menghilangkan luka-luka pada dirinya. Maka dari itu Jongin selalu berjanji untuk membuat gadis itu bahagia, untuk menjaganya dalam kondisi apapun.

Tapi keadaan berlaku kejam untuk yang kesekian kalinya. Jongin pernah membaca buku tentang Hak Asasi Manusia dimana dalam buku itu menuliskan bahwa apapun keadaannya manusia memiliki derajat yang sama. Tidak ada perbedaan apapun, kaya ataupun miskin manusia memiliki hak yang sama dalam kehidupan. Karena dunia sudah terbebas dari masa perbudakkan, kasta ataupun diskriminasi. Dan semuanya terasa bullshit ketika gadis itu sendiri yang berkata bahwa Jongin sama sekali tidak pantas berteman dengannya karena pria itu tidak memiliki apa-apa. Gadis itu, Song Jiyoon mengajarkan Jongin sekali lagi bahwa uang merupakan segalanya, uang yang paling berkuasa dan dengan uang kau bisa dapatkan apa saja. Maka jangan salahkan Jongin jika akhirnya dia membeli gadis itu menggunakan uangnya dan membuat gadis itu merasakan apa yang ia rasakan. Dia tidak lagi ingin membahagiakan gadis itu, tapi menyakitinya. Dia tidak akan menjaganya, tapi menghancurkannya.

Salahkah dia jika ia merasa bahwa perbuatan Song Jiyoon tidak termaafkan?

Karena luka yang Jiyoon tanamkan begitu dalam, begitu menusuk tepat di hatinya dan membuatnya hancur tanpa sisa. Sama sekali tidak bisa diperbaiki lagi. Bahkan ketika dia mencoba untuk merusak gadis itu dan berpikir semuanya akan kembali seperti semua, dia tetap merasa kesedihan tanpa akhir. Jongin memiliki segalanya sekarang, harta, kekuasaan, nama baik, bahkan Song Jiyoon, tapi hidupnya tetap terasa…….menyedihkan. Meskipun dia merasa hebat dan puas ketika menyiksa Jiyoon, dia tetap merasa ada satu yang salah.

Jongin tidak ingin lagi percaya cinta. Dia tidak mau menjadi budak cinta yang berakhir menyedihkan. Love is pain. Love only hurts in the end. And his wounded was already more than enough.

Hal yang paling menyakitkan adalah kehilang dirimu dalam proses mencintai seseorang terlalu banyak, dan melupakan bahwa kau juga special.

——–

Kau tahu apa yang lebih kuat dari rasa takut? Sebuah harapan.

Jongin membuka matanya segera ketika suara-suara berisik itu berhasil membuatnya keluar dari mimpi buruk.

“Maaf mengganggu tidurmu, tuan. Tapi ini sudah pukul 8 pagi, apakah tuan tidak ke kantor?” Jongin melihat kondisinya, dia masih berada di mini-bar dengan mengenakan kemeja tadi malam yang sudah kusut, 3 botol sampanye kosong berada didepan mata dan dua orang pelayan wanita menatapnya khawatir. Jongin mengusap-usap wajahnya kasar sehingga dia bisa benar-benar bangun.

“Terimakasih sudah mengingatkan.” Ucapnya datar, reaksi yang sudah menjadi gaya khasnya, kemudian pergi dari tempat itu menuju kamarnya yang berada di lantai atas.

Jongin menghela napas kesal ketika melihat Jiyoon masih tertidur seperti tidak bernyawa diatas tempat tidurnya. DIa membuka pintu kamar mandi secara kasar dan membersihkan tubuhnya yang terasa begitu letih.

Pria itu keluar dari kamar mandi dan masih mendapati gadis itu tak bergerak dari posisinya. Dia mengambil salah satu kaos yang berada di dalam lemari raksasa dikamarnya secara acak dan memakainya dengan segera, berikut celananya juga. Dia tidak berniat pergi ke kantor dalam kondisi seperti ini maka dari itu dia menghubungi Sekretaris Jung untuk menyamarkan jadwalnya.

Jongin mengambil sebuah kursi kecil dan mengangkatnya ke sebelah tempat tidur Jiyoon sehingga dia dapat memperhatikan gadis yang masih terlelap itu dengan jarak yang begitu dekat, meskipun ini bukan pertama kalinya dia melakukal hal seperti ini.

“it’s always like this. Someone always waiting for someone who never comes home. Always someone loving something more than that thing loves them. And after a while you want to destroy whatever that thing is, so it cant hurt you no more.” Dia bergumam pelan sembari memperhatikan wajah tak berdosa Jiyoon yang matanya masih terpejam sempurna. “But why do I still hurt?” dia bermaksud menanyakan itu pada Jiyoon. Tapi gadis itu tidak akan bisa menjawabnya.

Jongin berusaha untuk duduk tenang disana, tapi sesuatu mengacaukan pikirannya, dia mengecek badan Jiyoon untuk yang kesekian kalinya. Detak jantung dan denyut nadinya terasa normal.

“Weak.” Sindirnya. Dia benci orang yang lemah dan dia benci melihat Jiyoon yang tidak dapat berbuat apa-apa ketika orang lain menyerangnya. Jiyoon tidak selemah itu, dia tahu bahwa gadis ini tidak pernah terima jika seseorang memperlakukannya tidak adil, dia selalu mampu untuk mengungkapkan isi pikirannya meskipun tidak sejalan dengan siapapun, dia berani berbuat nekat tanpa perduli konsekuensi. Tapi sekarang dia tidak berdaya sama sekali. Payah sekali, bukan? “But no one is allowed to hurt you…except me.”

Tangannya bergerak kearah wajah gadis itu, perlahan, sangat hati-hati tapi tidak sampai menyentuhnya. Jiyoon terlihat begitu rapuh, membuat pria berkulit tan itu merasa apabila tangannya menyentuh Jiyoon sedikit saja, gadis itu bisa langsung hancur berkeping-keping.

Ya, Jongin memang sudah dari berbulan yang lalu mencoba untuk menghancurkan, merusak, menyakiti gadis itu. Dia merasa semuanya belum cukup, dia merasa gadis itu masih begitu kuat, masih begitu memiliki banyak tenaga untuk meninggalkannya, sesuatu yang takkan ia biarkan terjadi sampai kapanpun. Meskipun ia akan menyakiti gadis itu sampai ia mati, rasa takut akan kehilangan Song Jiyoon tentu tidak bisa hilang dari pikirannya.

Dia mengacak-acak rambut basahnya frustasi sebelum mengatakan,

“I am sorry…for loving you too much.” Itu adalah permintaan maaf pertama yang ditujukan Jongin untuk Jiyoon. Gadis itu takkan dengar, dia takkan pernah tahu bahwa Jongin baru saja meminta maaf atas sesuatu yang tidak dapat dia control.

“I am waiting for the day when you love me more than I love you.”

———

“Should I rape you again so you can wake up?” Jongin mulai geram melihat Jiyoon tidak bangun juga. Sudah jam 11, Jiyoon tidak akan bangun jika dia hanya diam dan terus memperhatikannya.

Dia menendang kasar pinggiran tempat tidur ukuran raja itu dan membuatnya berguncang hebat, nyaris membuat Jiyoon berguling dan terjatuh, beruntung gadis itu mampu menahan tubuhnya. Dia memejamkan matanya beberapa kali hingga akhirnya matanya terbuka dengan raut yang begitu kebingungan.

Jiyoon kemudian memperhatikan seisi ruangan dengan raut was-was sekaligus panic, dan Jongin dapat menyaksikan gadis itu bernapas lega ketika dirinya menyadari keberadaan Jongin. “Dimana aku?” tanya Jiyoon polos.

Jongin hanya menatapnya datar dengan tangan yang terlipat didepan dada, dia masih duduk dikursi sebelah tempat tidur, “in my bed.” Jawabnya malas. “kau membuatku tidak pergi ke kantor, muntah darah di mobilku dan tidur di tempat tidurku. Kau tahu berapa kerugian yang kau sebabkan, huh?” tanyanya kesal.

Jiyoon menggeleng polos. Dalam hati dia menjawab, “bukan aku yang menginginkan kau tidak ke kantor, membawaku dengan mobilmu dan tidur di kamarmu.” Tapi demi apapun dia tidak akan berani menyebutkannya langsung pada Jongin.

“Aku pikir kau sudah mati.” Ucapnya acuh.

Jiyoon menjawab datar, “aku juga berpikir begitu.”

Membuat Jongin mengeluarkan tawa sinisnya, “jika kau mati, tidak akan ada yang menangisimu. Jadi jangan mati dulu, bodoh.” Jiyoon merasa bahwa kata-kata Jongin barusan tepat sasaran. Dia menjadi sesak dan menundukkan kepala-nya dalam-dalam. Everyone hates her right now.

Jiyoon tiba-tiba mendudukkan tubuhnya dan menatap Jongin dengan mata besarnya yang semakin terbelalak, “Foto?”

“Sudah dihapus.”

“Terimakasih.” Ucap Jiyoon canggung, dia bahkan mengucapkan itu tanpa melihat kearah Jongin.

“Aku menyesal.”

“Ya?”

“Aku menyesal tidak memindahkannya lebih dulu ke handphoneku sebelum menghancurkan handphone gadis itu.”

Fuck you.Jiyoon mengutuk dalam hati, mungkin tanpa kontrolnya wajahnya sudah mulai memerah seperti tomat busuk sekarang.

“Apakah kau…bisa pinjamkan aku baju?” tanyanya sesopan mungkin, sekali lagi tanpa melihat kearah Jongin dan dengan nada suara yang begitu canggung.

Pria itu bangkit dari kursinya dan berjalan kearah sofa yang berada di ruangan luas ini. Dia mengambil baju perempuan yang sudah terlipat rapi kemudian melemparkannya dengan kasar kearah Jiyoon. Gadis itu hanya menatap baju yang diberikan Jongin dengan tatapan kosongnya, dia menatap penuh tanya Jongin yang tidak kunjung pergi.

Jongin tersenyum nakal, “Kenapa? Bukankah aku sudah melihat semuanya?”

“Tapi…..” Jiyoon menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, dia tidak mau mengambil resiko apabila kata-katanya berakhir membuat Jongin marah.

Jongin tersenyum pada Jiyoon, berhasil membuat gadis itu berpikir bahwa dia sedang berhalusinasi. Jongin tidak mungkin tersenyum tulus padanya. Jiyoon masih terpana sekaligus tak percaya hingga pria itu mengatakan, “fine, aku akan keluar. Kau bisa mandi dulu jika mau.”

He didn’t want to do anything. For now, he didn’t want to break her more. Apa yang dilakukan gadis-gadis gila itu pada Jiyoon sudah keterlaluan, jadi dia tidak akan menambahnya lagi. Tidak untuk sekarang, setidaknya.

———

credit quote nih : Do you know what’s more powerful than fear?
Hope.
Do you know what the worst pain in the world is?
It’s the wounds that stay deep inside that can’t be seen.
Do you know who the strongest person in the world is?
A broken hearted man. -Luzyhan

 

Advertisements

414 responses to “Amour, Obsede (Him)

  1. Spechless sama semua kata kata mutiara dichapter ini, bener semua 😚😚 jongin tetep baik baik sama jiyoon ya,kasian dia udh gapunya siapa siapa lagi;3;

  2. aduhh nihh fanfic pembawaan bahasanya gua suka banget.. ngomong2 si jongin makin aja yahh.. sayangilah si jiyoon,

  3. sungguhh jongin terus kek gini aja donggg baik gituu ahh suka wkwkwk. tapi kalo diliat2 sih jongin disini keliatan kayak org yg didepannya kuat tapi dalemnya rapuh bgt sama kayak jiyoon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s