LOVELINESS (Chapter 5) – My Object  

request-pc4

LOVELINESS (Chapter 5) – My Object

 

| Main Cast : Exo’s Kai and Han Yurin/OC |

| Support Cast : Lim Jae Bum a.k.a GOT7’s JB

Kim Young Won a.k.a  C-Real’s Chemi

EXO’s Member |

You Can Find if you Read

| Genre : Romance & Drama | Ratting : Pg-16 | MultiChapter |

Poster By: ArinYezzy @Poster Channel

Loveliness | 1 | 2 | 3 | 4 |

 

A/N : Original story By Kainear so STOP PLAGIAT! Sorry if you find typo and enjoy this FF thanks for all J jangan lupa ninggalin jejak kalau memang kamu adalah

“GOOD READER”

 

LOVELINESS

……………

Satu gerakan Kai berhasil mengecup singkat bibir Yurin. Yurin kaget dan sontak membuka matanya dengan sangat lebar, jantungnya berdegup kencang saat kembali merasakan bibir Kai mengecup singkat bibirnya dengan lembut.

“Hei” panggil Kai agar Yurin kembali ke tingkat kesadaran normalnya. Yurin mengejapkan matanya beberapa kali lalu menatap Kai dengan tatapan tidak percaya.

“Kau pencuri” gerutu Yurin. Kai hanya diam mendengarnya lalu melihat Yurin yang kini berdiri lalu merampas sebuah kamera di tangannya.

“Aku pulang” pamit Yurin dengan wajahnya yang masam namun baru Yurin akan pergi Kai menariknya dan berhasil membuat gadis itu berbalik manatap Kai.

“Besok malam jangan sampai kau melupakan janjimu” tegas Kai dengan raut wajah yang benar-benar menakutkan sekarang. Yurin diam lalu detik selanjutnya ia hanya mengangguk dan berbalik untuk berjalan saat merasakan tangan Kai mengendur di pergelangan tangannya.

“Gadis yang menarik” Kai tersenyum parau dengan senyuman kecil di sudut bibirnya.

 

……………………….

Pagi yang indah untuk mood yang bagus untuk Yurin walaupun dalam hatinya ada sedikit keraguan untuk menjalani hari ini. Yah hari ini adalah hari dimana Yurin harus melewati ujian persentasi pertamanya yang juga merupakan perjanjiannya dengan ayahnya untuk bisa menentukan sendiri masa depannya.

Yurin telah siap dengan pakaian rapi karena hari ini ujian persentasi jadi ia memakai pakaian yang sopan dan rambut yang terkuncir. Dengan langka yang riang ia pun menuruni tangga rumahnya dan tanpa Yurin sadari ternyata ayahnya dan kakaknya kini menatap heran kearah gadis itu dengan wajah yang bingung.

Gadis itu awalnya tak menyangka karena melihat ayah dan kakaknya kini ada di meja makan untuk sarapan karena biasanya dia hanya akan sarapan seorang diri tapi kenyataan pagi ini lagi-lagi membuat Yurin makin bersemangat.

“Pagi” sapa Yurin seraya duduk dikursinya, sedangkan ayah dan kakaknya hanya tersenyum menanggapi sapaan Yurin. Ayah dan kakak Yurin benar-benar bingung karena biasanya Yurin akan bersikap acuh tak acuh pada mereka sedangkan sekarang gadis itu tampak berbeda dari biasanya. Disamping itu ayah Yurin atau Tn. Han tau bahwa hari ini adalah hari penentuan perjanjiannya dengan anaknya, bukankah seharusnya anak itu merasa gugup? Tapi siapa sangka ternyata semua itu jauh dari perkiraan Tn.Han.

“Apa ada sesuatu yang menarik hari ini?” tanya Seung Yun saat melihat adiknya itu mulai mengoleskan selai pada rotinya. Yurin yang mendengarnya hanya tersenyum kemudian memakan rotinya. Seung Yun yang melihat hal itu juga ikut tersenyum, tak jarang Seung Yun melihat Yurin seceria ini semenjak ibunya meninggal dan ia sangat senang karena adiknya benar-benar cantik jika sedang tersenyum.

“Apa kalian tak punya jadwal oprasi atau hal semacam itu?” tanya Yurin balik memandang ke arah Tn. Han dan Seung Yun.

“Dokter juga manusia Nona, bagaimana kau berpikir ayah dan aku akan terus bekerja huh!”

Yurin hanya menaikkan bahunya tanda tak peduli karena itu memang pekerjaan Tn. Han dan Seung Yun jadi Yurin tak masalah meskipun harus selalu merasa kesepian.

“Jadi hari ini ya?” tanya tiba-tiba Tn. Han berhasil membuat Seung Yun dan Yurin spontan berbalik ke arah Tn. Han. Seung Yun yang bingung hanya melongo tak paham karena pertanyaan ayahnya.

“Iya” jawab Yurin singkat, walaupun Tn. Han adalah ayah Yurin tapi entah mengapa semenjak ibunya meninggal, Yurin sudah tak begitu dekat dengan ayahnya akibat pertengkaran mereka selama ini yang membuat hubungan mereka merenggang dan setiap kali berbicara akan terasa canggung.

Seung Yun lagi-lagi hanya diam, oh ayolah hanya dia-kah disini yang tak mengetahui permasalahan antara ayahnya dan adiknya ini walaupun ia sudah lama tinggak di luar negeri tapi-kan haknya juga mengetahui segala permasalahan dalam keluarga ini. “Apa yang kalian bicarakan?” tanya Seung Yun dengan wajahnya yang masih bingung.

“Jam berapa persentasimu akan dimulai?” tanya Tn. Han.

“Jam 10”

Terima kasih telah mengabaikan Seung Yun kali ini, oh tidak Seung Yun benar-benar merasa dongkol diantara ayahnya dan adiknya.  Apakah mereka berdua telah melupakan kalau Seung Yun ada disini? Bahkan pertanyaan Seung Yun tak ada yang menjawabnya walaupun sebenarnya Seung Yun tau ini mungkin menyakut penjurusan Yurin yan sama sekali tak disetujui ayahnya tapi inti permasalahan kali ini benar-benar tak ia tau.

“Sebenarnya ada apa?” tanya Seung Yun dengan nada yang merengek.

“Hanya tentang penjurusanku oppa, hari ini aku akan ujian persentasi pertama yang juga merupakan perjanjianku dengan appa. Jika aku lulus aku akan melanjutkan kuliahku di bidang yang sekarang ini, tapi jika aku gagal aku akan mencoba masuk kedokteran seperti perintah ayah” jelas Yurin hingga Seung Yun hanya mengangguk-angguk mengerti sekarang.

Setelah sarapannya selesai, Yurin segerah bangkit dari tempat duduknya lalu mengambil langkah pertama sebelum kakaknya menarik tangannya membuat Yurin langsung berbalik menatap heran kakaknya.

Oppa akan antar ke kampus” ucap Seung Yun sedangkan Yurin hanya mengangguk dilengkapi senyuman manisnya. Selain ibunya, Seung Yun kakaknya adalah orang yang paling mengerti dirinya walaupun jarang bersama setidaknya Yurin tak pernah berkelahi dengan kakaknya tak seperti ayahnya.

Mereka berdua pun pergi setelah berpamitan dengan Tn. Han walaupun mereka tak melihat tapi dalam hati Tn. Han ia sangat bersyukur karena kedua anak-nya saling menyayangi membuatnya selalu ingat dengan mendiang istrinya.

Tetap seperti ini Tuhan, aku bahagia saat kedua anakku benar-benar berada didekatku.

Semoga berhasil anakku Han Yurin.

Seandainya saja Yurin tau bahwa sesungguhnya ayahnya selalu percaya dan mencoba memberikan hal yang terbaik utnuk putrinya. Awalnya Tn. Han membebaskan anaknya untuk menentukan masa depannya tapi ia hanyalah ayah yang terlalu takut membiarkan anaknya mengerjakan hal-hal yang tak pernah ia rsakan itulah mengapa Seung Yun ia paksa menjadi dokter karena ia sudah tau bagaimana kehidupan dokter dan Seung Yun-pun tak masalah dengan itu, seandainya Yurin tau bahwa kemauan Seung Yun menjadi dokter adalah karena kemauannya sendiri bukan karena ayahnya.

…………………

 

Perjalanan Yurin menghabiskan waktu sekitar 15 menit dan akhirnya Seung Yun telah memarkirkan mobilnya di gerbang kampus Yurin. Yurin tersenyum sebelum akhirnya ia membuka pintu dan keluar dari mobil. Seung Yun-pun begitu, ternyata kakak Yurin ini mau melihat adiknya benar-benar memasuki gerbang itu lalu kemudian pergi.

Oppa belum pergi?” tanya Yurin saat melihat kakaknya kini berada tepat disampingnya yang sedang memandang gedung kampus Yurin. Yurin menaikkan menatap bingung kakaknya, oh ayolah bahkan saat ini kakaknya tampak kerena dengan kacamata hitam kakaknya kenakan. Yurin berbohong jika mengenai betapa kerennya kakaknya tapi jika Yurin mengakuinya Seung Yun akan selalu membanggakan hal itu.

Beberapa mahasiswi tampak memandang Seung Yun dengan tatapan berbinar, bisa Yurin dengar beberapa mahasiswa mengutuknya karena dekat dengan Seung Yun dan itu membuat Yurin kesal karena kakaknya bisa membuatkannya masalah.

“Aku hanya ingin melihatmu menyebrangi gerbang itu, setelah iu aku pergi” jawab Seung Yun, Yurin memutar bola matanya malas, kadang ia tak pernah benar-benar mengerti pola pikir kakaknya itu.

Oppa­ leboh baik kau pergi saja” perintah Yurin seraya mendorong Seung Yun menuju pintu mobil kemudi.

“Hey, berhenti mendorongku” tiba-tiba saja Seung Yun berbalik lalu menyentil jidat Yurin membuat gadis itu meringis kesakitan dibaluti tatapan tajam yang ia berikan pada kakaknya.

“Jangan menatapku seperti Nona, baiklah semoga ujianmu sukses” ucap Seung Yun seraya mengacak-acak rambut Yurin, oke sekarang Seung Yun berhasil membuat beberapa mahasiswi menatap Yurin dengan tatapan ingin memangka gadis itu dan menjadi pusat perhatian. Yurin yang merasa malu lalu memukul perut kakaknya kesal.

Seung Yun berhenti lalu meringis kesakitan tapi telapak tangannya masih saja diatas kepala Yurin kemudian ia mendekatkan wajahnya di telinga Yurin membuat beberapa mahasiswi berteriak histeris.

“Kau harus menang dari ayah mengerti” bisik Seung Yun dan Yurin yang mendengarnya hanya mengangguk mengerti lalu tersenyum.

“Terima kasih Oppa sudah mendukungku” senyuman Yurin benar-benar manis kali ini.

 

………….

 

Yurin berjalan dengan santai di koridor. Akhir-akhir ini ia benar-benar menjadi pusat perhatiaan akibat ulah orang-orang menyebalkan, mulai dari Kai dan sekarang karena kakaknya sendiri, oh ayolah bahkan Yurin merasa heran mahasiswi di kampus ini karena terlalu mengurusi urusan orang lain.

Sebuah suara kini tersengar memanggil namanya, sudah tak asing suara yang cempreng itu benar-benar nyaring bunyinya di telinga Yurin. Yurin berhenti lalu membalikkan tubuhnya melihat kini sosok perempuan berlari kearahnya dengan kecepatan yang Yurin tak bisa terkah yang jelas dalam masalah mengejar ataupu berlari Min Ra adalah ahlinya walaupun pada akhirnya ia sendiri yang akan merasa kelelahan.

Nafas Min Ra masih memburuh, gadis itu bahkan kini terduduk lemas seraya mengambil oksigen sebanyak—banyaknya sebelum ia mulai berbicara.

“Kau benar-benar gadis yang luar biasa Min Ra” ejek Yurin, bagaimana tidak kebiasaan Min Ra untuk hal yang satu ini adalah hal yang paling Yurin benci. Siapa yang suka jika ada orang yang memanggilmu dengan suara yang terpantul hampir seluruh koridor membuat orang-orang menatap diri kita.

“Khh,,,,u,,,,dehhngar O,phha mu khhhe,,sini” ucapnya masih dengan nafas yang memburuh. Yurin tertawa kecil melihat bagaiamana perjuagan Min Ra sahabatnya menyelesaikan kaliamatnya. Min Ra menatap kesal Yurin yang kini menertawakannya seketika saat Min Ra melihat Yurin langsung menghentikan tawanya.

“Iya, tadi dia hanya mengantarku” jawab Yurin lalu memberikan sebotol air minum pada Min Ra yang ia ambil dari tasnya. Min Ra langsung meminumnya dengan rakus tanoa memperhatikan orang-orang memandang mereka aneh.

“Yak! Min Ra kau harus jaga image mu” tegus Yurin saat merasakan orang-orang menatap mereka. Min Ra yang sadar langsung tersenyum bodoh.

“Maaf dan terima kasih air minumnya”

Mereka berdua-pu berjalan tanpa memperhatikan yang lainnya, walaupun keduanya malu tapi apa yang bisa mereka lakukan jika keadaannya benar-benar memalukan seperti ini.

“Kau sudah mempersipkannya?” tanya Min Ra, Yurin hanya mengangguk.

“Mengenai kameramu yang kembali, aku masih tak percaya. Aku pikir jika sesuatu telah Kai miliki mungkin akan sulit mengambilnya kembali tapi kau berhasil”

Yurin mendengus kesal saat mendengar tuturan Min Ra, “Seandainya kau tau, bagaimana pengorbananku mengambil kamera ini malam itu” gerutu Yurin.

“Yang jelas kamu berhasil jadi kita bisa ujian persentasi” ucap Min Ra dengan senyum, mencoba memberi semangat kembali pada diri mereka berdua kerana bagaimana-pun caranya Yurin harus bisa lolos ujian persentasi ini.

“Kau benar dan kita harus lolos dalam satu putaran ujian”

……………..

 

Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu oleh Yurin, Min Ra dan mahasiswa jurusan seni garfis fotografer kini datang, waktu ujian persentasi.

Semua peserta kini duduk di kursi yang berderet-deret ke atas seperti kursi bioskop tapi ini dilengkapi dengan sebuah meja. Semua peserta dibiarkan melihat persentasi peserta lainnya meskipun ada tiga profesor yang menilainya ditambah dengan dua orang fotografer terkenal membuat semangat para mahasiswi tak menciut.

Walaupun Yurin tak memperlihatkan wajah gugupnya tapi ayolah ia mendapat nomor urut tampil yang ke-lima sedangkan Min Ra akan tampil urutan 12 oh benar-benar terpaut jauh membuat keduanya tak bisa berbohong kalau mereka benar-benar gugup.

Saat Yurin mulai mempersiapan barang-barang yang akan ia apersentasi, handphone-nya bergetar menandakan sebuah pesan masuk, ia-pun melihatnya dan tersenyum saat mendapati nama JB kini tertera di LCD handphone-nya.

From : JB J

Semoga berhasil ! Semangat ! I Love You ! J

 

Yurin tersenyum membaca pesan singkat Jaebum, tapi belum sempat ia mematikan handphone-nya, Yurin membulatkan matanya saat melihat sebuah pesan masuk dan tertera sebuah nama yan paling ia wanti yakni Tn. Ice.

From: Tn. Ice

Jika kau tak berhasil kameramu akan ku ambil dan ingat nanti malam tepati janjimu

 

Yurin yang membacanya hanya merinding, bagaimana mungkin orang iru mengancamnya bukannya memberikan semangat lelaki itu malah menakut-nakuti Yurin.

“Dasar Gila” gerutu Yurin lalu kemudian mematikan HP-nya diikuti lampu diseluruh ruangan ikut mati dan yang menyalah hanya LCD yang ada di depan.

Suasana kegugupan benar-benar terasa saat peserta pertama tampil, tak banyak waktu yang diberikan hanya 10 menit untuk satu orang, selesai tidak selesai harus dihentikan. Yurin berusaha mengatur detak jantungnya karena sekarang sudah tiga peserta yang mempresentasikan. Yurin kemudian menatap Min Ra yang lumayan jauh dari dirinya. Oh seandainya saja Min Ra dekat dengan Yurin mungkin saat ini mereka akan saling memberikan semangat. Min Ra menatap ke arah Yurin seakan tatapan itu berbicara pada Yurin, “Kau pasti bisa”.

Setelah peserta ketiga turun, naiklah mahasiswa ke-4 lalu kemudian mulai mempresentasikan objeknya. Ujian persentasi pertama membahas mengenai objek dan keistimewaan objek yang mereka ambil dan itu tergantung pemaparan mereka serta kwalitas gambar serta pengeditan ataupun original.

Tanpa terasa 10 menit terasa cepat membuat Yurin mengambil nafas panjang lalu mengeluarkannya pelan, sebelum Yurin naik ia sempat melihat ke arah Min Ra yang tampak tersenyum seraya memberi semangat pada gadis itu.

“Selamat pagi, perkenalkan nama saya Han Yurin. Sebelumnya terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya. Ujian persentasi ini adalah ujian pertama sekaligus ujian terakhir yang bisa saya ikuti…” semua orang heran dengan perkataan Yurin termasuk para juri tapi Yurin tetap melajutkan persentasinya.

Yurin menklik satu tombol pada laptopnya, semua orang-orang yang ada pada ruangan itu spontan berteriak saat melihat objek yang Yurin tampilkan. Suasana ruangan semakin panas apalagi sekarang orang-orang mulai ribut saat melihat objek yang Yurin tampilkan pada LCD. Ya gambar itu adalah sosok Kai yang tampak tersenyum saat menshoot bola dan bohong jika Yurin mengatakan Kai tak keren.

“… Semua orang yang disini mungkin mengenal orang ini, yah dia adalah Kim Jong In atau yang lebih dikenal dengan Kai…” semua orang kini manatap Yurin dengan berbagai tatapan.

“…Saya tau mungkin setelah keluar dari ruangan ini, saya mungkin saja akan diamuk oleh para fans dari orang ini tapi dari beberapa objek yang saya bidik objek inilah yang snagat menarik. Mungkin orang-orang berpikir keistimewaan dari gambar ini adalah tampang dari objek itu tapi menurutku salah. Keistimewaan dari gambar ini adalah mata objek, bisa kalian liat senyuman yang sesungguhnya dari objek adalah senyuman dari teman-teman tim-nya yang ia liat dari sudut mata hitam itu” Yurin memperbesar gambar mata Kai yang kemudian tampak mata itu melihat senyuman teman-temannya.

“Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?” tanya seorang dosen pada Yurin.

“Aku mengambil objek manusia karena yang paling penting dari objek ini adalah apa yang objek ini rasakan” jawab Yurin.

“Lanjutkan”

“Jadi objek ini menggambarkan mengenai semangat dan kesetia kawanan….”

 

……………….

 

Yurin kini berada di kantin kampusnya, tanpa Yurin sadari gosip-gosip mengenai ujian persentasinya sudah tersebar luas sampai ke fakultas seni tari bahkan sudah beberapa orang yang datang melablak Yurin tapi ayolahh Yurin tak takut, bukankah itu hak-nya untuk mempresentasikan apa saja? Dan tidak ada yang bisa melarangnya.

“Aku tak pernah menyangka kau mempresentasikan foto Kai” ucap Min Ra seraya memakan sandwichnya.

“Aku juga tak percaya laki-laki itu menghapus semua hasil potretku dan hanya menyisikan fotonya saja, itu membuatku gila. Tapi entah mengapa saat aku melihat foto Kai, ada sesuatu dimatanya yang tampak terkunci bukan hanya senyum teman-temannya tapi aku merasakan tatapan itu menatap sendu seakan menyimpan sebuah kesedihan yang mendalam” jelas Yurin membuat Min Ra hanya diam mendengar penjelasan Yurin.

“Yang jelasnya kita sudah Ujian. Ahh leganya”

………………

 

Jam sudah menunjuk pukul 06.00 KST dan Yurin masih ada di Kampusnya atau lebih tepatnya di perpustakaan untuk mengerjakan proyek selanjutnya tapi baru saja Yurin akan mengambil buku sebuah tangan kini menariknya hingga ia tertarik ke belakang dan langsung berhadapan dengan sosok laki-laki itu. Kai.

“Sejak kapan kau ada disini?” tanya Yurin dengan heran, jujur saja ketakutannya mulai menjalar keseluruh tubuhnya. Ia tau gosip mengenai ujiannya pasti sudah berhasil sampai pada telinga Kai dan Yurin takut jika Kai melakukan hal-hal aneh lagi.

“Baru saja” jawabnya singkat dengan wajah yang datar.

“Kau mau apa lagi huh?” Baiklah Han Yurin selamat kau baru saja memberanikan dirimu untuk menetang Kai yang juga berhasil membawamu dalam celaka.

“Kau melupakan janjimu Nona?” tanya Kai berbisik tepat di telinga Yurin. Yurin ingin sekali mundur tapi mau bagaimana lagi punggungnya sudah berhasil menyentuh rak buku hingga mendorongpun pasti akan sia-sia karena ia tau tenaga laki-laki pasti lebih kuat dari perempuan.

“Janji?” tanya Yurin seraya menunduk dan tubuh yang bergetar ketakutan. Kai mengangkat dagu Yurin hingga berhasil membuat wajah mereka benar-benar berhadapan dan hanya berjarak beberapa centi. Oh ayolah semburan merah wajah Yurin kini sudah tampak membuat Kai yang melihatnya mengeluarkan smirknya. Semburan merah itu benar-benar membuat Yurin malu terlebih lagi pandangan lurus Kai tepat pada manik matanya membuatnya tak bisa berkutik apalagi smirk laki-laki ini kini terlihat lagi.

“Kau tidak pernah berpikir untuk membatalkannya-kan Nona? Hmm, meskipun kau ingin membatalkannya kau-pun tak akan bisa” ujar Kai seraya mendekatkan wajahnya pada wajah Yurin, hidung lelaki itu kini menyentuh hidungYurin. Yurin hanya bisa menutup matanya rapat dan mencoba menahan getaran serta mencoba menetralkan detakan jantungnya yang benar-benar memburu. Bahkan deruan nafas Kai benar-benar menyiksanya.

“K..kai, ini terlalu dekat” desah Yurin, Kai yang mendengarnya hanya mengeluarkan smirknya dan tak mengehentikan tatapannya. Kai tak tau sejak kapan ia menyukai menakut-nakuti Yurin, sampai akhirnya aroma tubuh Yurin memenuhi indra penciumannya lagi sama seperti pertama kali ia bertemu dengan Yurin saat di loker.

Kai sudah tak tahan dengan aroma yang terus saja menggodanya dan dengan perlahan ia lingkarkan lengannya pada pinggang ramping Yurin, sontak gadis itu membuka matanya bulat saat merasakan Kai mulai menenggelamkan kepalanya di lekukan antara lehernya.

Kai kini berhasil memeluk Yurin, lingkaran tangannya kini benar-benar sempurnah dan ia berhasil menghirup aroma tubuh ini.

“Kudengar kau menjadikan fotoku objek di ujian persentasimu?” tanya Kai seraya mempererat pelukannya pada tubuh mungil Yurin. Yurin hanya diam, ia masih tak tau harus menjawab apa pertanyaan Kai walaupun ia sudah tau jawabannya tapi siapa yang speechless kalau tiba-tiba di peluk oleh lelaki.

“Han Yurin” panggil Kai bermaksud menyadarkan Yurin. Yurin yang mendengarnya hanya mengguk membenarkan pertanyaan Kai. Kai tersenyum dibalik wajahnya yang ia tenggelamkan di antara leher dan bahu Yurin. Oh aroma yang benar-benar memabukkan.

“Ka..i, bisa kau lepaskan ini? aku tak mau orang-orang melihat kita seperti ini” nada suara Yurin bergetar, Kai tau betapa gugupnya Yurin sekarang bahkan detakan jantung Yurin yang memburuh bisa lelaki itu rasakan dan dia menyukainya.

“Lima menit lagi dan yang harus kau lakukan hanya diam atau kau akan mengetahui akibatnya jika melakukan hal aneh” perintah Kai dengan nada suara yang tajam hingga berhasil membuat Yurin tak bisa berkutik. Sejujurnya ia merasa bersalah pada Jaebum jika dia diperlakukan seperti ini pada Kai tapi apa boleh buat ia juga tak berani pada lelaki menyeramkan ini.

Setelah Kai melepaskan pelukannya ia bisa melihat kalau Yurin tak bisa menatapnya lagi-lagi Kai harus bertindak agar Yurin menatapnya. Kai awalnya kaget tapi dengan wajah yang datar karena melihat wajah Yurin memerah dan mata yang berkaca-kaca.

“Kai kau jahat, kau membuatku menjadi orang yang jahat. Aku sudah punya kekasih dan kau terus saja menggangguku, tolonglah aku hanya ingin bersama dengan Jaebum tanpa melibatkanmu” ucap Yurin dengan mata yang berkaca-kaca, ia mencoba menahan dirinya untuk tak menangis.

Kai lalu menarik kembali Yurin dalam pelukannya, meskipun Yurin menolaknya tapi apa yang bisa ia lakukan, ia hanya bisa diam meneriman perlakuan Kai.

 

“Akan kutunjukkan kau bukanlah orang yang jahat” bisik Kai.

 

 

TBC

A/N: Yeahhhh HAPPY NEW YEAR 2015 ! tidak banyak yang mau di sampaikan cuma mau ucapian kata-kata itu. nah maaf nunggu lama hehe alasannya tidak usah aku jabarkan yah tapi aku usahain ff ini akan berlanjut meski berbagai alasan menghalangi aku. oke terima kasih sudah membaca 🙂

 

60 responses to “LOVELINESS (Chapter 5) – My Object  

  1. Pingback: LOVELINESS (Chapter 12) – Dillema (Part 2) | Kainear·

  2. Pingback: LOVELINESS (Chapter 12) – Dillema (Part 2) | SAY KOREAN FANFICTION·

  3. Yurin ama kai aja 🙂 mereka berdua cocok bangett, tapi jaebum kasian juga sih harus menikah disaat dia pacaran ama yurin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s