The Game[Chapter 1]

the game

XoByun Presented.

Tittle: The Game

Main Cast: Oh Sehun(EXO), Jung Soojung(f(x)) 

Genre: Romance, school, friendship, fluff

 Rate: Teen

Lenght:Chaptered

Disclaimer: All of the story is mine. Don’t claim as yours and don’t repost wihout my permision.

“I heard you good at playing games”

—-

Apa yang kau pikirkan dengan seorang gamers? Mungkin kita semua akan berpikir bahwa mereka adalah orang-orang yang mencintaii game-gamenya lebih dari apapun. Sepanjang harinya akan mereka habiskan dengan psp atau playstation mereka. Semua hal-hal di sekitarnya akan terabaikan. Belajar bahkan sangat jarang. Well, itulah Oh Sehun si gamers.

Tatapan Ahn Saem sang guru matematika mengarah tajam ke arah Sehun. Apalagi kesalahannya kalau bukan tidak mengerjakan tugas. Jujur saja, sebenarnya dia adalah murid yang cukup pandai. Contohnya saja pada ulangan harian, ia selalu saja mendapat nilai yang hampir sempurna. Sayangnya, ia terlalu malas mengerjakan tugas-tugas sekolah. Kecuali mata pelajaran Bahasa Inggris, dengan senang hati tanpa paksaan apapun ia akan mengerjakan semua tugas dan menjawab semua soal ujian dengan benar. Kebanyakan gamers memang seperti itu. Mereka pandai dalam Bahasa Inggris.

Dan, sedikit tentang Oh Sehun. Ia adalah seorang siswa yang sangat terkenal di sekolah. Bukan karena apa-apa. Sudah pasti karena ketampanannya yang ditambah dengan kulit putih seperti susu yang ia miliki dan otomatis bisa membuat para yeoja meleleh seketika. Selain menjadi gamers, ia adalah seorang pemain basket sekolah yang hebat. Katakanlah, dia seorang “Flower Boy” di sekolah.

Kembali ke Sehun.

“Kau tahu apa kesalahanmu?” tanya Ahn Saem pada Sehun. Tidak ekspresi gugup atau takut yang ditampakkan Sehun. Santai. Itulah satu kata yang bisa dideskripsikan darinya.

Sehun memutar bola matanya malas, “Katakan saja apa hukumanku.”

Ahn Saem sudah sangat tahu bagaimana Oh Sehun itu. Diberikan hukuman sekejam apapun. Tak akan pernah membuatnya jera. Ahn Saem pun mencoba memutar otaknya memikirkan hukuman apa yang pantas untuk siswa yang satu ini.

Ahn Saem menghela panjang napasnya tanda sudah menemukan jawaban yang tepat tentang hukum Sehun. Kali ini, guru matematika tersebut mengeluarkan ide yang  agak gila tapi setidaknya mungkin hal ini akan membuat Sehun memiliki semangat belajar.

“Oh Sehun! Jung Soojung! Temui aku nanti saat jam istirahat.” Sontak seisi kelas mengarahkan pandangan mereka ke arah Soojung dan Sehun setelah mendengar ucapan Ahn Saem.

Reaksi atas ucapan Ahn Saem pun dikeluarkan Soojung, “Aku? Kenapa aku? Hubungannya denganku apa?” Soojung menunjuk dirinya.

“Datang saja ketempatku! Jangan banyak protes atau ku kurangi nilaimu.” Ucap Ahn Saem yang tidak terima penolakan apapun.

Soojung menghela napasnya panjang. Ia tidak tahu apa kesalahannya dan mengapa sekarang ia dilibatkan dalam hukuman seorang Sehun tanpa alasan yang jelas. Kemudian, yeoja itu menatap sengit Sehun yang kini tengah juga memandanginya dengan tatapan sinis.

Keduanya pun saling mengalihkan pandangan masing-masing ke arah lain. Sehun mengalihkan pandangannya ke depan dan Soojung memilih mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Rasa takut mungkin ia rasakan saat ini.

Sesuai dengan perintah Ahn Saem tadi, sesudah jam pelajaran. Soojung langsung melangkahkan kakinya dengan cepat ke ruang guru. Sesampainya di sana, ia sudah menemukan Oh Sehun dan Ahn Saem yang –mungkin- sudah menunggunya sejak tadi.

“Maaf, aku terlambat.” Soojung membungkukkan tubuhnya kemudian bangkit lagi dan menatap Ahn Saem dengan penuh tanda tanya.

Ahn Saem menatap Soojung dan Sehun secara bergantian. Tanda tanya besar kini berada di depan wajah keduanya. Jadi, apa maksud Ahn Saem ini?.

Ahn Saem berdehem, mencoba membuka pembicaraan mereka. Ia melipat tangannya, “Jadi, begini. Oh Sehun, kau kadang tidak semangat belajar matematika. Kira-kira apa alasanmu sehingga kau tidak semangat?.”

Sehun memutar bolanya jengah kemudian menatap malas Ahn Saem,”Aku sudah pandai.” Jawabnya singkat,padat,jelas dan konyol.

Soojung terkekeh mendengar alasan konyol Sehun yang satu itu, “Bodoh! Alasan macam apa itu.”

Sehun menatap tajam Soojung karena ucapannya itu. Menyadari tatapan Sehun, ia pun menghentikan kelakuannya itu dan kembali fokus pada Ahn Saem.

“Baiklah, kau memang sangat pandai Oh Sehun. Tapi, aku ingin ada semangat dalam dirimu. Maka, dari itu aku akan mencarikanmu seorang pengajar yang sangat tepat bagimu.” Ucap Ahn Saem kemudian menatap Soojung yang kebingungan.

“Jung Soojung, kau akan menjadi pengajar bagi Oh Sehun!”

“APA?!” pekik keduanya.

“Tidak ada penolakan.” Lanjut Ahn Saem.

“Sampai kapan orang ini mengajariku?.” Tanya Sehun dengan penekan pada kata ‘orang’. Seperti, ia sangat jijik untuk menyebutkan nama Soojung. Lirikan sinis pun diberikan Soojung pada Sehun.

“Sampai aku melihat adanya semangat belajar dalam dirimu.” Jawab Ahn Saem.

“Kalau semangat itu tidak pernah ada,bagaimana?”  Tanya Soojung .

“Yah, kau harus tetap berusaha meskipun dalam waktu yang lama. Jika kau gagal, nilaimu akan menjadi taruhannya.”

—-

Soojung mendengus kesal. Berkali-kali ia menghentakkan kakinya akibat kesal. Sungguh, ia menyesal bisa memiliki nilai yang sempurna kalau pada akhirnya ia harus membing Oh Sehun. Ini bahkan lebih buruk dari mimpi buruknya beberapa hari yang lalu.

Dan, sebenarnya bukan masalah berarti bagi Soojung untuk menjadi seorang pembimbing. Ia sudah berkali-kali mengajari teman-temannya yang kesulitan dalam hal akademik. Tapi, untuk pertama kalinya ia harus membimbing siswa seperti Sehun.  Demi neptunus, jika ada pilihan lain untuk tidak menjadi pembimbing Sehun, ia mungkin akan lebih memili pilihan lain tersebut.

“Jung, mau kemana?.” Mendengar ucapan itu, sontak Soojung mengalihkan pandangannya kepada pemilik suara. Soojung menghela napasnya. Ternyata, itu hanya Myungsoo. Sedikit tentang Myungsoo, dia adalah teman kelas Soojung sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama dan bisa jadi juga merupakan sahabat Soojung. Myungsoo tentu saja berbeda  jauh dari Oh Sehun yang memiliki otak dibawah rata-rata,selalu bersikap dingin, dan lebih mementingkan game daripada teman namun dengan sangat berat hati dan benar-benar tidak ikhlas, Soojung mengakuinya tampan. Sedangkan, Myungsoo, dia juga tampan, dia bahkan pandai, ramah kepada semua orang, dan dia juga sama seperti Oh Sehun yaitu mereka berdua adalah ‘Flower Boy’.

Dan,

Jujur saja, Myungsoo menaruh perasaan kepada yeoja di sampingnya itu. Wajar memang bila perempuan dan laki-laki bersahabat dan salah satu dari mereka menaruh perasaan. Mungkin, sudah kesekian kalinya Myungsoo menyatakan perasaanya pada Soojung. Tapi, jawaban yang dikeluarkan yeoja itu selalu sama, “Tidak. Aku hanya menganggapmu sebagai kakakku, tidak lebih dari itu.”. Oh, tolong siapapun, kata-kata itu sangat menyakitkan dan mungkin sangat menusuk-nusuk hati.

Tapi, dengan sabar Myungsoo  menerima semuanya dan tetap berusaha selalu berada di samping Soojung baik dalam keadaan apapun. Meskipun sudah disakiti berkali-kali.

Kembali kepada Soojung dan Myungsoo,

“Aku? Entah, aku juga bingung mau kemana.” Jawab Soojung sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal tanda kebingungan.

Myungsoo mengangguk paham, “Kalau begitu, mari kita ke cafetaria!.”

Bukan ajakan yang buruk, dengan cepat Soojung menyetujuinya dan merekapun berjalan ke cafetaria. Keduanya hening, tidak ada percakapan berarti sedari tadi.

Tak disadari, mereka akhirnya sampai di cafetaria dan memilih duduk di bagian belakang. Soojung duduk duluan sementara itu Myungsoo yang memesan makanan. Tidak berapa lama, Myungsoo pun datang membawa nampan yang berisi  makanan. Kemudian, ia duduk di hadapan Soojung.

“Kau tadi darimana?” tanya Myungsoo seraya mengunyah makananya.

“Aku tadi dari ruang guru untuk menemui Ahn Saem.” Jawab Soojung.

“Untuk apa kau kesana?.”

“Ahn Saem menyuruhku untuk menjadi pembimbing Oh Sehun.” Ucap Soojung malas saat mengucapkan nama Sehun.

Myungsoo mengangkat sebelah alisnya mendengar ucapan Soojung, “Benarkah? Kau yakin bisa mengajari siswa seperti dia?.”

Soojung mengangkat bahunya pelan tanda tidak tahu. Ia sudah pasrah dengan hal itu. Mau menolak bagaimanapun tak akan bisa merubah nasibnya. Jadi, ia lebih memilih untuk menjalani saja meskipun ia sangat kesal dan merasa tidak rela.

—-

“Hey Jung! Kau daritadi kemana saja? Aku lelah mencarimu.” Tanya Seulgi yang sedang menatap kesal Soojung. Seulgi adalah salah satu terbaik Soojung. Meskipun, baru bertemu Seulgi saat memasuki sekolah menengah atas. Soojung sudah menganggapnya seperti saudaranya sendiri.

“Masa kau lupa? Aku tadi ke tempat Ahn saem.

Seulgi mendengus kesal, “Aku tahu yang itu. Setelah itu, kau kemana?.”

“Aku ke cafetaria bersama Myungsoo.”

Seulgi terbelalak mendengar ucapan Soojung barusan, “M-myungsoo? Kau yakin? Kau sehatkan?.”

“Tunggu, apa kau sudah mulai membalas perasaan Myungsoo?.” Lanjut Seulgi mulai menebak-nebak apa yang terjadi antara Soojung dan Myungsoo.

Soojung POV

“Tunggu, apa kau sudah mulai membalas perasaan Myungsoo?.” Lanjut Seulgi.

Apa-apaan dia dan apa maksud dari perkataan konyolnya itu. Mana mungkin aku membalas perasaan Myungsoo yang notabene sudah ku anggap sebagai kakakku sendiri. Itu tidak akan pernah terjadi.

“Tidak, dia hanya sekedar mengajakku makan. Aku tidak menolak karena aku juga sedang lapar saat itu.” Jelasku.

Seulgi pun menatapku dengan tatapan percaya kemudian menangguk paham.

“Oh iya, tadi kenapa Ahn Saem memanggilmu?.” Tanya Seulgi (lagi). Ia sepertinya tidak bosan bertanya padaku.

“Aku disuruh Ahn Saem untuk menjadi pembimbing Sehun. “ Jawabku seadanya.

“Itu sangat gila, kau tahu?” Lanjutku kemudian menggeleng-geleng tanda tidak percaya apa yang terjadi padaku barusan.

Seulgi menutup mulutnya dengan kedua tangannya setelah mendengar ucapanku kemudian menggeleng-geleng tanda tidak percaya, “Sungguh? Kau menjadi pembimbing Sehun?.”

Aku menatapnya heran kemudian menanggukkan kepalaku tanda meng-“iya”kan.

Kemudian, Seulgi mendengus pasrah lalu menundukkan kepalanya, “Andai aku juga pandai sepertimu, pasti aku bisa menjadi pembimbing Oh Sehun.” Keluh Seulgi.

“Nikmatnya menjadi dirimu, bisa memandangi Sehun setiap hari.” Lanjut Seulgi.

Aku meringis mendengar ucapan Seulgi, “Ya, aku juga berharap kau menjadi pandai dan kaulah yang menjadi pembimbing Sehun.”

Author POV

Soojung meringis mendengar ucapan Seulgi, “Ya, aku juga berharap kau menjadi pandai dan kaulah yang menjadi pembimbing Sehun.”

Belum sempat Seulgi menjawab ucapan Soojung, Kim Saem si guru sejarah yang memiliki tubuh langsing dan tinggi semampai itu sudah memasuki ruang kelas. Meskipun cantik dan memiliki tubuh yang sempurna tapi err…dia termasuk dalam jajaran guru killer di sekolah ini.

“Hari ini aku akan memberikan kalian tugas kelompok, kalian bisa ke perpustakaan sekolah untuk mendapatkan refrensi.”

Tidak ucapan selamat siang atau semacamnya yang diberikan oleh sang guru. Ia langsung saja memberikan tugas kepada siswa-siswanya. Ya, dia memang pantas untuk berada di daftar guru killer.

“Baiklah, aku yang akan membagi kelompok kalian. Satu kelompok terdiri dari dua orang dan setiap kelompok terdiri satu siswa laki-laki dan siswi perempuan, kalian mengerti?.” Lanjut Kim Saem.

Serentak seisi kelas mendengus kesal. Percuma mereka memberikan penolakan. Guru cantik yang sayangnya killer itu tidak menerima penolakan. Baiklah, mereka lebih memilih pasrah dibandingkan tugas mereka ditambah. Kemudian, Kim Saem pun mulai membacakan kelompok.

“Kim Myungsoo-Park Soora.”

“Park Chanyeol-Kang Seulgi.”

“Oh Sehun-…” Kim Saem menggantung pembicaraannya kemudian menerawang seisi kelas. Beberapa dari siswi perempuan tampak berharap agar sekelompok dengan Sehun. Tapi, kemudian tatapan Kim Saem tertuju pada Soojung.

“Oh Sehun-Jung Soojung.” Ucap Kim Saem kemudian.

Soojung mendengus kesal saat namanya disebutkan bersama Sehun. “Apakah tidak ada orang lain di kelas ini selain Sehun?.”

“Kau masih untung bersama Sehun, aku? Aku dengan Chanyeol.” Keluh Seulgi.

“Entah bagaimana jadinya kelompok ini kalau aku bersama Chanyeol. Kau tahukan? Namja bertelinga besar itu selalu mengangguku. Membayangkannya saja membuatku geli.” Seulgi bergidik nyeri membayangkan Chanyeol.

Soojung melirik Seulgi dengan tatapan curiga lalu mendekatkan kepalanya dengan kepala Seulgi dan berbisik, “Dia sepertinya meyukaimu.” Ucap Soojung dengan nada mencibir kemudian tertawa garing.

“Apa? Menyukaiku? Lebih baik aku hidup menyendiri seumur hidup daripada harus menjadi kekasihnya.” Ucap Seulgi seraya keduanya- Soojung dan Seulgi – melirik Chanyeol yang sedang tertawa sambil menganggu siswa lain bersama sahabatnya, Byun Baekhyun.

‘BRAK’

Sontak saat mendengar gebrakan itu, tatapan Seulgi dan Soojung  dan siswa lainnya pun langsung menuju ke arah Kim Saem yang tampak sedang menenangkan seisi kelas yang riuh. Tatapan sangar pun ditampakkan guru tersebut.

“Nah, kalian sudah bisa perpustakaan bersama kelompok kalian. Tugasnya kalian kumpulkan besok di meja saya.” Ucapnya kemudian. Setelah mendengar penjelasan lengkap, seluruh siswa pun berdiri kemudian langsung menuju ke perpustakaan bersama teman kelompok mereka.

“Hey Kang Seulgi! Kemari!.” Teriak Chanyeol pada Seulgi.

Seulgi melirik Chanyeol kemudian memutar bola matanya malas, “Aku ke sana dulu yah. Si kuping besar itu sudah memanggilku.” Ucap Seulgi pada Soojung. Kemudian, Soojung memberikan tanggapannya dengan mengangguk paham. Seulgi pun berjalan menuju Chanyeol yang sedang tersenyum jahil padanya.

“Apa kau tidak dengar dengan ucapan Kim Saem tadi? Ayo cepat!.”

“Iya, iya.” Ucap Seulgi pasrah, ia pun dan Chanyeol berjalan menuju ke perpustakaan. Sementara itu, Soojung yang memperhatikan keduanya, tersenyum pelan. Apa jadinya kalau mereka jadian?.

“Apa yang sedang kau lakukan? Ayo cepat atau kelompok kita akan mendapat bencana.” Suara berat itu membuyarkan lamunan Soojung. Siapa lagi pemilik suara berat tersebut kalau bukan Oh Sehun sang gamers. Soojung menatap Sehun yang kini sudah berada di sampingnya.

Sehun menarik sebelah alisnya kebingungan akan tatapan Soojung. Karena tidak ingin menunggu lama, Sehun pun menarik tangan Soojung. Yeoja itu tersentak kemudian menatap tangannya yang kini sudah berada digenggaman Sehun. Soojung bahkan tidak bisa melepaskannya karena genggaman Sehun yang terlalu kuat. Seisi koridor yang di mana di sana masih ada beberapa siswa berkelarian memandangi Sehun dan Soojung dengan tatapan nanar. Terutama, siswi perempuan. Pemandangan membuat hati mereka terkoyak-koyak. Sementara itu, Soojung menutupi wajahnya dengan menunduk.

Tidak berapa lama, setelah melawati koridor sekolah yang terasa panas akibat penggemar Sehun yang menatap sinis Soojung, pun mereka akhirnya sampai di perpustakaan. Benar saja, mereka terlambat. Kemudian, keduanya pun saling berpencar untuk mencari buku refrensi yang tepat.

Jari-jari dan mata Soojung bergerak meneliti setiap buku yang ada. Matanya tertuju pada judul-judul buku yang tertata rapi di rak. Soojung menghela napas kemudian tersenyum saat menemukan buku yang tepat. Saat ingin mengambil buku itu, buku tersebut terasa berat seperti ada orang lain yang menarik buku itu. Kemudian, karena penasaran, Soojung membuka jarak antar kedua buku yang menghalanginya.

Dan,

Matanya menangkap Sehun di seberang sana yang sedang menatapnya datar.
“Tunggu, apa lagi? Kita berdua sudah menemukan buku yang pas, bukan?.Ayo mengerjakannya.” Ucap Sehun kemudian.

Soojung tersentak, “Kau bilang apa tadi?.”

Sehun memutar kedua bola matanya malas, “Ayo kita mulai mengerjakannya.”

Soojung pun mengangguk paham dengan ucapan Sehun. Entah mengapa, setelah kejadian tadi. Pikirannya menjadi kosong dan tidak menjadi fokus. Lalu, mereka mencari bangku yang masih kosong. Untungnya, di bagian sudut perpustakaan masih kosong. Mereka pun duduk di sana. Tidak ada orang lain, sunyi,tenang dan sepi. Itulah suasana yang ada saat ini. Ditambah lagi dengan tempat mereka yang dekat jendela. Sehingga, dapat membuat mereka dengan mudahnya memandang keluar.

Setelah merasa semuanya pas, mereka pun mulai mengerjakan tugas dengan membaca buku refrensi terlebih dahulu. Keheningan menyelimuti mereka berdua. Beberapa menit berlalu, tidak ada percakapan yang terjadi.

Mata Soojung yang awalnya terfokus pada buku, kini mata dan pikirannya sudah terfokus pada wajah Sehun. Wajah itu. Putih bersih, mata yang indah dan hidung yang tidak seperti hidung orang asia kebanyakan. Well, dia juga bisa serius dan aku rasa otaknya tidak seburuk yang kukira. Pikir Soojung. Seiring dengan itu, senyuman mengembang di wajah Soojung mengikuti perintah otaknya.

“Bagaimana menurutmu? Apa itu benar?.” Ucap Sehun yang matanya masih tertuju pada buku yang sedang ia baca.

Soojung belum menjawab, pikirannya masih terfokus pada Sehun. Sehun pun tersadar bila yeoja di sampingnya itu mulai tidak fokus. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Soojung yang sedang menatapnya letak. Sehun menatapnya kebingungan.

“Berhenti menatapku dan fokuslah pada tugas ini.” Ucap Sehun sambil menarik Soojung. Kemudian, Soojung meringis kesakitan. Lalu, Sehun melepaskan tangannya dari hidung Soojung. Yeoja itu mengelus hidungnya yang memerah akibat ulah Sehun.

“Kau menyakiti hidungku.” Ucap Soojung kesal.

“Maka dari itu, berhentilah menatapku.” Jawab Sehun.

“Cih, aku tidak menatapmu Oh Sehun.” Cibir Soojung.

“Lalu, siapa yang kau tatap? Petugas perpustakaan yang botak itu?.” Tanya Sehun.

Soojung mengedarkan pandangannya, kemudian menangkap seorang siswa laki-laki yang bertubuh cukup gempal sedang tertidur pulas yang berada tepat di seberang mereka.

“Aku menatapnya.” Soojung menunjuk siswa itu dengan dagunya. Sehun pun melirik siswa itu kemudian kembali menatap Soojung yang memberikannya tatapan menantang.

“Ckck, jadi tipemu adalah namja bertubuh gempal? Dasar.” Ucapan Sehun mencibir kemudian kembali fokus pada buku di hadapannya.

Soojung mendengus kesal mendengar ucapan Sehun.

“Oh iya, satu lagi. Bersihkan kotoran hidungmu itu. Kau tampak jorok.” Lanjut Sehun.

Soojung memutar bola matanya malas, kemudian setelah itu, ia kembali fokus mengerjakan tugas mereka. Untuk pertama kalinya, ia melihat Sehun  serius dalam mengerjakan tugas. Tidak berapa lama kemudian, akhirnya tugas mereka selesai dan bisa mereka kumpulkan terlebih dahulu.

“Ternyata kau hebat juga dalam sejarah.” Puji Soojung.

Sehun hanya tersenyum pelan mendengar ucapan Soojung. Kemudian, keduanya merapikan tugas mereka. Sehun bertugas mengembalikan buku refrensi dan Soojung yang merapikan kertas-kertas di meja. Setelah merasa semua sudah rapi, merekapun kembali duduk dengan keheningan. Mereka belum berniat mengumpulkan tugas itu.

“Bagaimana kalau kau tidak usah mengajariku, aku bisa belajar sendiri.” Ucap Sehun dengan penuh keyakinan didukung dengan raut wajah meyakinkannya. Bahkan, Soojung sangat geli melihat ekspresi Sehun.

Kemudian, Soojung menjitak kepala Sehun. Lalu, Sehun meringis kesakitan saat Soojung menjitaknya kemudian Sehun mengusap-usap kepalanya yang keskitan.

“Hey! Apa yang kau lakukan?.” Tanya Sehun masih dengan posisi mengusap-usap kepalanya yang kesakitan.

“Ck, justru harusnya aku yang bertanya. Apa yang kau katakan? Kau ingin mendapat marah dari Ahn Saem?.” Tanya Soojung balik.

“Aku kan bisa mengatakan bila kau tidak ingin mengajariku.” Ucap Sehun dengan polosnya.

Soojung menghela napasnya kemudian menatap Sehun sinis, “Kau bilang apa tadi? Kau ingin mati, yah?”. Ucap Soojung dengan nada yang cukup keras.

Sehun menelan ludahnya dengan susah payah kemudian menghela napasnya pelan mencoba untuk menenangkan dirinya.

“Baiklah, aku akan belajar. Datang saja ke rumahku nanti.” Setelah menyelesaikan ucapannya, Sehun pun merapikan buku-bukunya dan lalu bangkit dari duduknya kemudian beranjak meninggalkan Soojung yang menatapnya kebingungan.

“Dasar aneh.” Gumam Soojung. Kemudian, ia menyusul Sehun yang sudah mulai menjauh dari pandangannya.

—-

“Sial!Sial!.” Umpat Soojung sedari tadi mulai dari ia keluar rumahnya sampai ia sudah berada di depan gerbang sebuah rumah. Kalau dipikir lagi, kenapa dia yang harus ke rumah Sehun dan kenapa bukan namja itu saja yang kerumahnya. Lagipula, dia yang butuh, kan?.

Soojung menekan bel rumah Sehun. Sebelumnya, ia sudah sangat yakin bila ini benar-benar rumah Sehun. Apalagi yang digambarkan Sehun tentang rumahnya membuat Soojung benar-benar yakin. Rumah yang cukup mewah dibalik pagar hitam dengan pekarangan yang cukup luas. Dengan mantap, Soojung kembali menekan bel rumah Sehun.

Tidak berapa lama, seorang namja yang menggunakan celana pendek dan baju berwarna hitam tanpa lengan  keluar dari dalam rumah dan menuju ke pagar dan sesegera mungkin membukakan pagar untuk Soojung.

Sehun memperhatikan penampilan Soojung dari atas ke bawah begitu pula dengan Soojung yang memperhatikan penampilan Sehun.

“Apa yang kau lakukan disitu? Cepat masuk. “ Ajak Sehun lalu ia menarik tangan Soojung agar segera masuk kemudian menutup pagar. Sehun pun berjalan di depan, Soojung mengekori di belakang. Soojung memperhatikan dengan detail bagian depan rumah Sehun.

Meskipun pekarangan rumah Sehun cukup luas, namun untuk mencapai pintu rumah Sehun.

Tanpa Soojung sadari, Sehun menghentikan langkahnya dan itu membuat kepala Soojung menabrak punggung Sehun. Kemudian, Sehun membalikkan tubuhnya.

“Apa yang kau lakukan? Seharusnya kau mengatakan dulu kalau kau ingin berhenti.” Sebenarnya, percuma mengeluarkan protes dalam bentuk apapun, Soojung yakin seratus persen. Sehun tidak akan menerimanya.

“Bisakah kau berjalan agak cepat? Dan jangan mengekoriku.” Ucap Sehun kemudian Soojung hanya menjawabnya dengan mengangguk malas.

Merekapun masuk ke dalam. Sesampainya di dalam, Soojung memperhatikan seisinya. Cukup luas, pikir Soojung. Lalu, mereka sampai di ruang keluarga. Kemudian, Sehun merapikan playstationnya. Soojung memperhatikan Sehun yang sedang merapikan barang-barangnya dan di sana berserakan playstation milik Sehun dan matanya menangkap sesuatu yang agak ganjal err… itu adalah sebuah majalah dewasa,

“Sehun, majalah siapa itu?.” Tanya Soojung pada Sehun yang tampak sibuk merapikan, kemudian matanya tertuju pada benda persegi panjang yang berisi lembaran-lembaran.

Sehun menelan ludahnya susah payah kemudian meraih majalah itu, “Ini bukan majalahku. Ini milik hyungku.” Jelas Sehun, kemudian ia melangkahkan kakinya ke dalam sebuah kamar bersama dengan benda terkutuk itu.

—-

“Bagaimana mengerjakan soal ini? Aku benar-benar tidak mengerti.” Ucap Sehun kemudian menggeser bukunya ke hadapan Soojung yang sedari tadi memperatikannya.

“Hampir semua soal kau tanyakan padaku.” Keluh Soojung.

“Itukan memang tugasmu, untuk mengajarku.” Ucap Sehun asal.

Kemudian, setelah membaca soal itu dengan teliti, Soojung mulai menjelaskannya satu persatu. Jarak Sehun dan Soojung yang terlalu dekat, membuat Sehun tidak fokus pada soal itu melainkan pada wajah serius Soojung. Wangi parfum milik Soojung bahkan sudah tercium jelas di hidung Sehun.

“Apa kau sudah mengerti?.” Tanya Soojung kemudian membalikkan kepalanya ke arah Sehun yang masih memperhatikannya. Bahkan, jarak wajah mereka hanya tinggal beberapa senti saja. Demi neptunus, jantung Sehun mendesir seketika.

Soojung meraih pulpennya kemudian memukul kepala Sehun dengan benda itu. Pukulan itu membuat lamunan Sehun buyar seketika.

“Apa yang kau lakukan?.” Tanya Sehun seraya meringis kesakitan dan tangannya bergerak mengusap-usap kepalanya yang kesakitan.

Soojung memutar bola matanya, “Aku yang harusnya bertanya, apa yang sedang kau lakukan?.”

“Memperhatikan wajahmu seriusmu membuatku geli.” Sehun terkekeh.

Soojung mengernyitkan dahinya, “Kau bilang apa? Dasar.”

Mereka pun kembali pada aktivitas awal. Keheningan pun menyelimuti mereka lagi. Sehun sedang terfokus pada soal-soal di hadapannya.

“Sehun?” Panggil Soojung.

“Ya?” Sahut Sehun yang matanya masih belum beralih dari soal-soal itu.

“Katanya kau hebat dalam bermain game.”  Ucap Soojung.

“Tentu saja, lalu kau mau apa?.” Kini pandangan Sehun mengarah pada Soojung.

“Ayo kita bermain game!.” Ajak Soojung.

Sehun mengernyitkan dahinya kemudian menaikkan sebelah alisnya, “Kau yakin menantangku?.”

Soojung mengangguk mantap, “Tapi ini berbeda dari permainan yang lain. Mungkin seperti Truth Or Dare tapi yang ini lebih menantang. Hukumannya sangat parah. ” Soojung tertawa geli saat menjelaskan tentang permainan itu.

Sehun tampak menimbang-nimbang ucapan Soojung kemudian ia tersenyum sinis, “Ya sudah, katakan saja. Aku akan mengikuti apapun syaratnya. Dan tampaknya itu seru.”

“Kau yakin?Ku harap kau tidak menyesal!. “

   -To Be Continued-

 

Haloo! Bagaimana dengan fanfic yang satu ini? Gaje? Full of typo? Kependekan? hehe:’v
Oh iya, jangan lupakan commentnya. Maafkan kalo banyak typo-,-
Yang udah baca harus comment, yang ga baca tapi ga comment, aku sumpahin deh, hehe  gak kok. Tapi bagusan kalo kalian comment sih /maksa/. Comment kalian itu bermanfaat jadi penyemangat aku buat ngelanjutin dan aku berusaha buat biar makin bagus. Makasih banget yang udah mau baca dan komen /bow/ . Oh iya, aku next atau stop aja ff ini? Kalau next yah gapapa kalau stop yah akurapopo kok /nyengir kuda.

36 responses to “The Game[Chapter 1]

  1. Mjlh syp tu? Apa sehun punya hyung?

    pa nnti prsyrtnnnya?
    stauku game itu sgt mmtikn bgttt

    Ffnya bgus

    Lnjut smngtttt

  2. penasaran sama game apa yg akn mereka mainkan …
    TOD nya tentang apa ???
    siapa yg bkl kalah ?? ahhh penasaran …
    ditunggu next chapnya fighting …

  3. wahhhh game apa tuh wkwk, bisa ya dua orang keras kepala di pertwmukan gitu, aku suka banget jalan ceritanya update soon please

  4. Woah!! Daebak! Game apa itu? Lalu apa hukumannya? Dan apakah nantinya Krystal tang kalah? Ku harap begitu…. Yayaya ini keren, ditunggu kelanjutannya.. fighting

  5. Oh ya ini kapan dilanjut? Akhirnya ketemu lagi, udah berkali-kali aku cari ff kaistal the game, gak ketemu, eh ternyata disini. Lupa! Kirain udah dilanjut, ayo thor aku sangat menunggunya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s