Amour, obsede (Savior)

 

ffdfd

Savior

Cast : Kim Jongin, Song Jiyoon

Genre : Psychology-thriller, Dark Romance, Angst, Tragedy

Start : A, A1, A2, A3, A4, A5, A6,A7,A8, A9, A10, A11,

Rating : PG

Jiyoon memilih tidak berlama-lama di kamar mandi, meskipun ruangan berdinding marmer itu memberikan kesan luxury bak milik hotel bintang lima ternama, tapi sedikitpun dia tidak merasa nyaman. Shampoo dan sabun yang ia gunakan, semuanya memberikan aroma Kim Jongin. Bahkan dia tidak mengerti harus menggunakan sikat gigi siapa di dalam sana, meskipun pada akhirnya dia menyerah dan hanya menggunakan mouthwash, tapi sekali lagi itu milik Kim Jongin.

Gadis itu keluar menggunakan handuk putih yang melilit tubuhnya serta rambutnya yang basah. Dengan segera ia mengenakan pakaian yang tadinya disediakan oleh Jongin, sebelum pria itu masuk dan mendapati dirinya setengah telanjang seperti ini. Atau Jongin akan marah-marah lagi karena Jiyoon memakan waktu yang terlalu lama. Maka dari itu dia harus menyelesaikan segalanya sesegera mungkin.

Tshirt putih serta basic pants rumahan berwarna coklat melekat pada tubuhnya, menutupi beberapa bagian kebiruan yang terdapat di betis, paha dan punggungnya yang masih terasa ngilu, perutnya juga terasa begitu nyeri disamping dia belum mengunyah apapun hari ini. Jiyoon menghela napas panjang sembari mengutuk perbuatan 3 nenek sihir sialan yang mengerjainya tadi malam. Benar-benar keterlaluan. Di satu sisi dia cukup menyesal karena tidak cukup kuat untuk membalas perbuatan no sense mereka bertiga. Lalu dia teringat dengan Jongin yang—bisakah dia katakan membantunya tadi malam? Maybe, just maybe he was not as bad as her though. Gadis itu dengan cepat langsung menyangkal pikirannya. Tidak, dia sama sekali tidak baik. Pria itu gila, sinting, tidak waras, psikopat. Jiyoon tentu tak mungkin lupakan apa yang Jongin perbuat pada dirinya, pada Jinwoo dan juga hidupnya. Tapi setidaknya Jongin melakukan itu karena dia membenci Jiyoon dengan alasan, tidak seperti mereka bertiga ataupun ayahnya.

Bau Jongin yang melekat pada tubuhnya membuatnya merasa pusing sekaligus mual. Bukan karena dia tidak suka aroma menyegarkan produk keluaran Huge Boss tersebut, tapi ini semua karena Jongin. Dia tidak suka Jongin. Dia benci pria itu setengah mati bahkan.

Jiyoon ingin keluar dari ruangan seluas 2500 meter persegi tersebut, tapi langkahnya terasa kaku ketika mata hazel itu terpana dengan bagian yang tersusun rapi di sudut ruangan. Boro-boro menuju pintu, kaki jenjang nya berjalan secara perlahan kearah Buffet Cabinet besar yang ditempati berbagai Piala dari emas, perak ataupun berlian diatasnya. Jiyoon melihat bingkai-bingkai yang tersusun indah memenuhi dinding disekitar buffet tersebut. Business achievement dari berbagai award mencantumkan nama lengkap Jongin dengan begitu elegant. Tanpa dia sadari, bibirnya membentuk sebuah senyum miris yang tak terlihat oleh siapapun. “He really worked hard.” Bisiknya pada diri sendiri, setengah kagum sepertinya. Tapi gadis itu kembali tertegun ketika melihat piagam yang berbeda dari yang lain, bukan lagi dalam bidang Economy, Business ataupun Humanity. Peringkat dua dalam lomba Science di Harvard University.

businessman was never his goal.” Jiyoon berucap dalam hati, baru saja dia ingin menyentuh piagam itu tapi suara pintu yang terbuka membuatnya reflek melihat kebelakang, Jongin sudah berdiri didekat pintu, menatapnya dengan tatapan datar seperti biasa yang dapat membuat Jiyoon merinding.

“Apa yang kau lakukan disana?” tanya pria itu santai.

Gadis itu hanya diam memikirkan alasan hingga Jongin berjalan mendekatinya. “Aku tidak suka jika pertanyaanku tidak dijawab.” Desis pria itu tepat di hadapan Jiyoon. Jarak mereka terlalu dekat sampai-sampai Jongin merasa bergidik ketika mendapati wangi tubuhnya pada tubuh gadis dihadapannya. Dia tak dapat memungkiri bahwa Jiyoon menjadi jauh lebih menggiurkan.

Jongin mengangkat rahang Jiyoon sehingga mata gadis itu dapat bertemu dengan miliknya, meskipun terpaksa. Terlihat dengan jelas bahwa ketakutan begitu terpancar dari hazel indah itu. Tapi Jongin tidak melakukan apapun, membiarkan mereka berdua saling bertatapa dalam kebisuan di kurun waktu yang cukup lama, hingga pada akhirnya mata gadis itu terlihat tenang.

Jiyoon pikir dia sedang mabuk, karena Jongin terlihat begitu polos sekaligus indah ketika dia memperhatikannya selekat ini. Pria itu menggunakan kaos hitam dan celana kain hitam, rambut hitam kecoklatannya nyaris menutupi mata sayunya, bibir berisinya berwarna kemerahan tertutup rapat, terdapat bekas cukuran bulu-bulu halus diatas bibirnya yang membuat Jongin terlihat seperti anak lelaki yang baru tumbuh.

Jantung gadis itu berdetak tidak normal ketika Jongin menempelkan hidungnya ke pipi JIyoon dengan begitu gentle, pria itu turun kebagian lehernya yang terpampang jelas karena rahangnya masih diangkat Jongin, menghirupnya dalam-dalam. Jiyoon sebisa mungkin tidak mendorong dada bidang Jongin yang nyaris menempel pada tubuhnya, dia tentu tidak lupa apa yang dia dapati terakhir kali dia menghindar.

Bulu kuduknya terasa terangkat apalagi ketika Jongin sekali lagi menatap kearah manic matanya, mendekatkan bibirnya kearah milik gadis itu. Jiyoon memejamkan matanya, dia bahkan dapat merasakan hidung Jongin yang bersentuhan dengan tulang hidungnya, satu tangan pria itu memeluk pinggangnya erat. Jiyoon memejamkan matanya, entah karena tidak mau tahu apa yang akan terjadi atau karena terlalu terbawa suasana.

Dia tidak merasakan apapun hingga mendengar suara tawa mengejek dari Jongin, reflek gadis itu membuka matanya, “kau benar-benar ingin aku cium?”

Jiyoon tidak tahu bagaimana wajahnya sekarang, dia menduga pasti sudah semerah tomat busuk. Sementara Jongin masih tertawa bahagia dihadapannya, seperti baru saja memenangkan sebuah taruhan dimana dia tidak mungkin menang. Selain rasa malunya yang sudah menumpuk seperti tempat pembuangan sampah, Jiyoon malah menatap Jongin dengan pandangan anehnya. Pria ini benar-benar bipolar! Dia tertawa layaknya seorang anak kecil yang kegelian melihat tingkah badut yang lucu. Demi apapun, Jiyoon ingin menendang perutnya agar pria ini berhenti mempermalukannya atau membuatnya merasa lebih malu lagi.

“Kita berdua akan mati kelaparan jika aku melakukannya sekarang.” lanjut Jongin, masih tertawa.

Jiyoon ingin sekali berteriak pada Jongin bahwa pria itu salah paham, Jiyoon tidak bermaksud seperti yang ia pikirkan. Tidak, mana mungkin dia dengan rela mau dicium Jongin. Dia hanya…..hanya takut Jongin akan melakukan hal yang tidak manusiawi lagi jika Jiyoon mencoba untuk mencegahnya. Ya, benar karena itu. Itu alasan paling tepat.

“Let’s eat” dengan kasar, Jongin menarik tangan Jiyoon agar mengikutinya keluar. Dia masih tertawa bodoh sesekali sementara gadis itu hanya diam membisu menahan kekesalannya. Kakinya masih terasa begitu sakit sehingga dia tak mampu menyeimbangi langkah Jongin, “kau turun lah duluan.” Ucapnya kalem. Jiyoon menuruti, dengan kesusahan karena menambah rasa perih pada kakinya, dia menelusuri satu persatu tangga megah yang menghubungkan kelantai dasar, tangannya tentu memegang penyangga dengan begitu erat, takut terjatuh.

Dia sudah sampai di tangga terakhir ketika Jongin tiba-tiba menyenggol tubuhnya dan tentu saja berhasil membuat nya berteriak kaget dan terduduk. Pria itu berjalan santai seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana, menuju meja makan, seperti sama sekali tak melakukan perbuatan salah apapun.

Beberapa pelayan yang mendengar teriakkan Jiyoon dengan segera beranjak datang mendekati gadis yang memijat-mijat kakinya tersebut, rasanya berlipat lebih sakit dari sebelumnya, kakinya bagaikan patah, dia sama sekali tak memiliki kekuatan untuk berdiri.

“Don’t help her.” Perintah Jongin santai. Sama sekali tidak merasa kasihan dengan ringisan kesakitan yang tak henti keluar dari bibir Jiyoon. Pelayannya tentu berhenti, mengikuti perintah Jongin dan membiarkan Jiyoon menahan rasa sakitnya sendirian didekat tangga. Jongin memutar langkahnya, kembali berjalan mendekati Jiyoon karena cedera pada kaki gadis itu terlihat jauh lebih parah dari yang diinginkan Jongin, ringisan bahkan tak henti keluar dari bibir merah mudanya.

Jongin menjongkokkan badannya, mengecek kaki kanan Jiyoon yang begitu kaku, dia ingin menyentuhnya tapi Jiyoon lebih dulu menghalangi tangan Jongin menggunakan tangannya, “please, don’t.” Mohonya, nyaris menangis. Jongin tidak perlu menambah rasa sakit pada kakinya menjadi jauh lebih buruk.

Jongin tersenyum menyeringai, “kuharap kakimu patah.” Ujarnya dengan nada tanpa keperdulian sedikitpun. Pria itu kemudian mengangkat tubuh Jiyoon menuju ruang makan, dia tidak sadar bahwa berat Jiyoon seringan ini.

“kenapa kau melakukannya?” tanya Jiyoon tampak frustasi, sudah berapa kali Jongin membuat Jiyoon sekacau ini semenjak pertama kali dia memiliknya? Ini tidak akan berhenti, tentu saja.

“Aku tidak sengaja, Cherie.” Jawabnya acuh. Mungkin jawaban yang sebenarnya karena dia baru saja menyadari bahwa tidak seharusnya dia membuat Jiyoon merasa nyaman. Lebih baik ditakuti daripada dicintai jika kau tidak bisa menjadi keduanya, Jiyoon tidak mungkin mencintainya jadi Jongin harus tetap membuat gadis itu merasa takut padanya, sehingga dia akan terus aman. Teori yang dikeluarkan Machiavelli itu seperti begitu berlaku untuk kehidupannya sekarang.

————

“Aku merindukan Jiyoon.”

Jongin memamakan makan siangnya dalam diam, dia berada disebuah café dekat kantor bersama Oh Sehun, si pengacara famous yang kebetulan mengunjungi kantornya untuk urusan penuntutan terhadap Manager Project, masalah pidana, apalagi.

“Bagaimana bisa Jiyoon mengundurkan diri tanpa kesepakatan kita terlebih dahulu?” suara itu berasal dari beberapa gadis di belakang mereka, membuat kedua lelaki tampan itu tak mampu berucap satu katapun meskipun tujuan mereka kemari bukan hanya untuk makan siang. “Apakah kau tidak berpikir bahwa ini aneh?” suara itu tak kunjung berhenti. Jongin jelas tahu bahwa Jiyoon yang mereka maksud sama dengan miliknya. Jadi dia memilih untuk mendengarkan kata-kata mereka dengan baik, sama sekali tidak menikmati Kwetiau yang dia makan.

“Tidak ada yang aneh. Jiyoon memilih untuk berhenti. Itu keputusannya, diluar dia pamit ataupun tidak.”

“Aku berfirasat bahwa Jiyoon diculik. Mungkin saja kan kalau…….” Kata-kata yang barusan keluar dari bibir seorang gadis berbando pink itu membuat Sehun menyemprotkan kembali makananannya keluar. Dia terbatuk-batuk dan menyerobot asal minuman diatas meja, dia mencuri capucino milik Jongin asal kau tahu. Beberapa pasang mata yang duduk disekitar mereka tentu langsung tertuju pada Sehun, ada yang tidak perduli tetapi beberapa perempuan stuck karena keindahan wajah rupawan pria itu. Dia mengelap bibirnya kasar menggunakan sapu tangan, mukanya sudah memerah karena menahan malu, berikut Jongin yang juga harus menahan malu akibat ulah bodoh Sehun, meskipun rasa paniknya jauh lebih menguasai.

Gadis-gadis yang duduk dibelakang Jongin tentu tidak melanjutkan pembicaraannya, mata mereka malah focus kearah Sehun dimana wajahnya dapat dinikmati dengan sudut yang begitu pas oleh mereka, sementara Sehun menghindari tatapan kagum mereka dengan gayanya yang angkuh, tapi malah terlihat keren dimata mereka. Jongin melanjutkan makannya seperti hal tadi tidak penting, tapi otaknya sama sekali tak berhenti berpikir.

“Bagaimana dia bisa tahu?!” Sehun bertanya takjub setelah gadis-gadis itu memilih keluar duluan dari café yang mulai sepi. Well, jam makan siang hampir habis, jadi hanya tinggal mereka berdua dan 3 orang anak SMA yang duduk di bangku ujung di dalam sana. “aku akan tepuk tangan jika dia menduga bahwa penculik Jiyoon ada diruangan yang sama dengannya.” Sehun nyaris tertawa melihat ekspresi datar Jongin, dia tahu bahwa pria ini tengah panic sekarang, teman terdekatnya sejak SMA itu selalu pandai menyembunyikan ekspresinya.

Meskipun Jongin mempertanyakan hal yang sama dengan yang diucapkan Sehun pertama kali, tapi dia lebih kesal dengan kenyataan jika masih ada yang perduli dengan Song Jiyoon.

“Haruskah aku menghabisi gadis tadi?”

Sehun menggeleng cepat, “dia hanya menduga, kurasa dia gadis bodoh yang kebetulan tebakannya benar.” Balas Sehun santai. Dia kembali menyeruput capucino milik Jongin, dengan tidak tahu malu.

Jongin menyenderkan tubuhnya di kursi, mengacak-acak rambutnya frustasi kemudian. “Si brengsek itu makin merepotkan hari demi hari.” Ucapnya mengeluh.

“Kenapa? Kau mulai jatuh cinta padanya lagi?”

diantara semua orang yang Jongin kenal di dunia ini, hanya Sehun yang tahu segalanya tentang dirinya dan Jiyoon termasuk apasaja yang dia lakukan terhadap gadis itu. Mungkin Jongin terlalu mempercayai Sehun, tapi dia tidak memiliki alasan untuk tidak mempercayai lelaki licik sekaligus brengsek dihadapannya sekarang.

“Itu tidak mungkin, idiot. Aku tidak akan berhenti membencinya sampai dia mati.” Balas Jongin dengan sungguh-sungguh, matanya memancarkan keseriusan yang yang tak dapat dipungkiri siapapun.

Sehun tersenyum menyeringai, bermaksud mengejek jawaban murahan yang keluar dari bibir Jongin, “Jangan terlalu jahat Kim Jongin, kau bisa membuat gadis itu kehilangan kewarasannya.”

“Aku tidak perduli. Mungkin itu ide yang bagus.”

“Kau benar-benar ingin dia gila?” Mata sipit Sehun langsung melebar ketika mendengar jawaban Jongin, oh tentu saja temannya yang kekanakan ini hanya bercanda, kan? Dari awal Sehun tahu bahwa yang dilakukan Jongin kepada Jiyoon nyaris melewati batas. Dia sudah mengatakannya berkali-kali secara tidak langsung. Tapi Jongin bukan anak kecil lagi, dia cukup dewasa untuk memikirkan akibat dari perbuatannya sendiri. Jangan harap Sehun akan membantunya di meja hijau jika suatu saat nanti pria ini akan mendapatkan karma atas perbuatannya.

“Jika itu bisa membuatnya tidak pergi dariku, bukankah tidak masalah?”

“Dasar sinting.” Sehun mengejek Jongin sembari menghabiskan cappucinonya, “kupikir kau masih mencintainya setengah mati.”

“Bahkan keberadaan alien di bumi pun terdengar lebih masuk akal daripada ucapanmu barusan.” Balas Jongin tidak mengalah. Sehun terus saja memaksa agar dirinya mengakui perasaannya, tapi bukankah dia tidak pernah berbohong? Dia selalu mengatakan yang sejujur-jujurnya kepada Oh Sehun. Termasuk tentang perasaannya terhadap Song Jiyoon. Tapi tidak sekalipun lelaki itu terlihat mempercayai ucapannya.

“Kau membuatnya terlihat semakin mungkin, for your information.” Sehun menatap lekat mata sayu Jongin yang tampak begitu tajam, “bertahun-tahun Song Jiyoon tidak bisa hilang sedikitpun dari pikiranmu. Kau bahkan tidak bisa berkencan dengan gadis lain.” Sehun mengejek lagi, membuat Jongin menatapnya kesal setengah mati atas kebenaran itu. “Jika kau memiliki keberanian untuk melupakannya, aku akan percaya dengan kata-katamu itu.” lanjut Sehun menantang. Karena jika kau benar-benar benci, kau tidak akan perduli sama sekali.

“Aku akan melakukannya. Aku akan membuang gadis itu ketika dia sudah begitu rusak dan tidak berguna lagi. “ Desis Jongin tajam, menerima tantangan Sehun barusan, matanya benar-benar memancarkan keseriusan, sementara Jongin adalah tipe orang yang selalu bertindak sesuai dengan ucapannya. Mungkin sebentar lagi Oh Sehun akan percaya bahwa Jongin benar-benar tidak memiliki perasaan apapun terhadap Song Jiyoon selain benci.

————-

Jiyoon kerap kali bertanya-tanya pada dirinya sendiri kenapa dia begitu takut mati. Dia tidak perlu takut untuk terjatuh karena dia sudah berada ditanah. Dia tidak perlu takut kehilangan karena dia tidak miliki siapapun.

Dia berpikir bahwa dia tidak memiliki apa-apa, bahkan dirinya sendiri bukan apa-apa. Hidupnya begitu mengerikan, begitu menyedihkan hingga dia merasa takut untuk hidup. Dia takut terhadap dua hal yang kontradiksi. Takut terhadap kehidupan sekaligus kematian. Dan menurutnya, tidak ada hal yang lebih buruk dari itu.

Jongin menjentikkan jarinya didepan wajah Jiyoon, membuat gadis itu sadar bahwa dia berada di tengah keramaian, meskipun sedaritadi yang dia rasakan hanyalah kesendirian. “Apa yang kau pikirkan?” tanya Jongin pelan. Jiyoon menatap kearah Jongin yang berjalan disebelahnya, sekali lagi tidak mau tertipu dengan topeng malaikat yang menyamarkan hati iblisnya. Pria itu menggunakan tuxedo berwarna putih sementara kemeja didalamnya berwarna hitam. Rambut nya dia tarik ke belakang, membuatnya terlihat begitu tampan, Jiyoon bahkan tidak dapat deskripsikan betapa menawannya Jongin terlihat.

“Aku bertanya-tanya apakah ada seseorang yang kukenal didalam ruangan ini.” Jawab Jiyoon asal. Mereka berdua sedang berada disebuah acara bisnis yang diselenggarakan tepat diakhir tahun, Jongin mengajak Jiyoon untuk ikut karena dia tidak ingin pergi sendirian. Tentu saja si Oh Sehun juga datang tapi dia menolak untuk pergi bersama Jongin, harga diri nya harus ditaro dimana jika orang-orang menuduh mereka sebagai pasangan Gay untuk yang kesekian kalinya.

“Jika ada award pasangan paling mesrah, kurasa kalian pantas mendapatkannya.” Jongin sadar itu suara Sehun tapi dia sama sekali tidak sadar sejak kapan pria itu sudah berada disekitar mereka, menggandeng seorang perempuan cantik berwajah oriental, mungkin keturunan Spanyol. Jongin memutar bola matanya malas, merasa terganggu dengan kehadiran Sehun yang menyebalkan.

“You look gorgeous tonight, Song Jiyoon.” Lanjut Sehun memuji. Dia tidak berbohong sama sekali karena gadis yang berada disebelah Jongin itu terlihat bagaikan dewi. Kalau saja saingannya bukan Jongin, dia mungkin sudah melakukan sedikit cara kuno untuk mendekati Jiyoon.

“Thanks.” Jongin menjawab pujian Sehun, sebelum gadis disebelahnya itu sempat mengucapkan satu patah kata-pun atas kekaguman yang ditujukan untuknya, “Bisakah kau tidak mengganggu kami, huh?” tanya Jongin malas. Dari ekspresi wajahnya kentara sekali bahwa dia memiliki keinginan untuk memukul kepala Sehun sekuat yang ia bisa. Kalau saja ini bukan tempat ramai.

Sehun tertawa santai, “mengganggu Song Jiyoon maksudmu?” tanyanya mengkoreksi. Dan Sehun rasa pertanyaannya begitu tepat sasaran ketika melihat raut Jongin yang tampak kesal.

Jongin tidak tahu bagaimana bisa dia berteman dengan Sehun, pria ini sama sekali tidak pantas disebut sebagai teman apalagi teman dekat. Sementara Jiyoon menatap keheranan mereka berdua, dalam hatinya dia bertanya sendiri, mereka tidak berniat berkelahi disini, kan?

“Fine. Aku mengalah, selamat bersenang-senang, kawan.” Sehun berucap sebelum Jongin sempat membalas ucapannya lagi. Dia begitu terhibur dengan tingkah Jongin yang tampak sangat bodoh dihadapan dirinya serta Jiyoon, si gadis berwajah oriental yang dibawanya tentu tak perlu dihitung.

“Sehun itu temanmu, kan?” Jiyoon sendiri tidak mengerti bagaimana kata-kata bodoh tersebut dapat lolos begitu saja dari bibirnya. Jiyoon tentu mengenal Sehun. Pria itu salah satu murid disekolahnya dulu, cukup terkenal karena dua hal. Pertama, dia kapten futsal dan yang kedua, dia sahabat satu-satunya Kim Jongin. Wajah pria itu berubah banyak, dulu dia tidak seputih dan setampan sekarang. Jiyoon bahkan nyaris tidak mengenalinya tadi.

“Kuharap bukan,” jawab Jongin dingin tanpa melihat kearah Jiyoon. Pria itu membawa Jiyoon segera beranjak dari tempat itu, mengambil segelas sampanye yang hanya akan menghiasi tanganya, dia tidak berminat untuk minum. Pria itu menatap malas ketika pandangannya menangkap Sehun yang sekarang tengah mengganggu Luhan, teman kuliah mereka dulu. Jika saja Sehun tidak ada disana, dia sudah pasti menghampiri Luhan sekarang. Pria itu baik hati dan menyenangkan, meskipun mereka menyukai dua club bola yang bertentangan.

Malam itu terasa berjalan begitu lambat bagi Jiyoon. Dia tidak pernah ketinggalan untuk datang ke pesta apapun dari kecil, bahkan setiap malam minggunya selalu penuh dengan pesta dari berbagai tempat ataupun acara. Tapi sebenarnya dia tidak begitu menyukai pesta, apalagi ditempat asing seperti sekarang. Well, tidak terlalu asing sebenarnya. Sesekali dia menemukan wajah yang dia kenal, seperti teman bisnis ayahnya, atasan kerjanya bahkan bossnya di Nylon ada disini. Tapi tidak satupun dari mereka yang berkemungkinan dapat menjamin hidupnya akan baik-baik saja jika dia menceritakan apa yang tengah terjadi dengannya pada mereka.

Jiyoon menghela napas panjang, Jongin tengah naik ke panggung karena pria itu memenangkan penghargaan sebagai pembisnis terbaik, haruskah dia turut senang? Atau pertanyaan yang lebih tepat harus ditujukan kepada Jongin, apakah pria itu merasa senang? walaupun dia tidak mau mengakuinya tapi Jiyoon merasa kagum, siapa yang tidak? Semua orang bertepuk tangan meriah ketika nama Jongin disebutkan sementara pria itu hanya tersenyum kecil. Seperti sama sekali tidak bangga atas hasil kerja kerasnya selama ini. Atau mungkin dia merasa bahwa dia tak pantas mendapatkan ini.

Jiyoon berjalan menuju meja yang diatasnya berjejer fermentasi anggur-anggur termahal di dunia, dia ingin meminum satu gelas saja setidaknya. Tapi belum sempat gadis itu mencapai meja tersebut, kakinya kembali berulah, sehingga secara tidak langsung dia terjatuh dihadapan badan seseorang. “I am sorry.” Ucapnya. Dia mencoba untuk kembali berdiri seutuhnya, tapi sekali lagi dia hampir terjatuh, membuat seseorang dihadapannya mau tidak mau menyentuh lengannya agar dia tidak benar-benar terjatuh.

Jiyoon menatap kearah depan, menemukan seorang pria muda dengan tuxedo hitam yang tengah balas menatapnya. Pria itu menatapnya khawatir. “Apakah kakimu terluka?” tanyanya gentle. Belum sempat Jiyoon menjawab, pria itu memberikannya satu pertanyaan lagi,“Song Jiyoon?” tanyanya memastikan. Sekali lagi dia memperhatikan Jiyoon dengan seksama, menikmati wajah cantik gadis itu yang begitu polos.

“Da..darimana kau tahu namaku?”

“Kau sama sekali tidak mengingatku?”

Mengingat apa? “Sebentar, apakah kau mengenalku?”

“Ya, wajahmu tidak banyak berubah.”

Jiyoon menatap wajah asing dihadapannya secara lebih seksama. Dia lupa apakah dia memiliki

sahabat kecil yang terlupakan atau bagaimana. Tapi dia tidak ingat sama sekali dengan wajah ini, meskipun di saat yang bersamaan dia merasa kenal. Sebisa mungkin Jiyoon mencari memorinya tentang pria yang tampak tampan dan cantik disaat bersamaan, tapi nihil.

“Aku Luhan.”

Tanpa sadar Jiyoon membalas senyuman hangat yang diberikan Luhan, senyum itu membuatnya merasa tenang, merasa aman. Tanpa sadar juga dirinya bahwa seseorang menatap mereka berdua dengan tatapan membunuh.

Pangeran mungkin datang untuk menyelamatkan tuan putri, tapi si Monster jahat tentu tidak akan membiarkan itu terjadi begitu saja.

————–

I will edit it kalo sempat. jangan protest pendek/ minta cepet ya. u know i will hiatus from tomorrow. Tq

 

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/b38/52797398/files/2015/01/img_1207.png

 

 

 

 

Advertisements

362 responses to “Amour, obsede (Savior)

  1. Wah luhan sebenernya siapa sih? Kok dia baru muncul sekarang? Duh makin penasaran aja deh sm jalan ceritanya

  2. Sehun mah jail kayanya ya.. Jonginnya digodain terus itu haha😂 sepertinya yang melihat luhan sama jiyoon dengan tatapan membunuh itu jongin.. Dan sepertinya luhan bakalan ada hubungannya dengan mereka kedepannya? Sepertinya itu juga:(

  3. akhirnya satu2 cast nya mulai keluat semua 😁
    luhan bisa nolong jiyoon ga ka? ga akn terlalu berharap deh takutnya ntar sama aja lagi 😂

  4. Sehun jal banget tapi suka kalau dia ngejahilin jongin,jiyoon bakalan gimana ya nasibnya setelah jongin tau kalau dia ketemu luhan?

  5. idiii sumpah parah si ya si jongin kalo mau godain orang. pertama mau nyium eh gajadi terus nyenggol jiyoon pas ditangga sumpah kasian kan jiyoonya kakinya lg cedera wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s