Nerdy Little Liar [3] – Boys & Throbs

PicsArt_1419687051678

T’s Present

 

“NERDY LITTLE LIAR”

 

Starring :

Lee Ji Moon – Original Character

Kim Jong In – EXO

Oh Sehun – EXO

Kim Jong Dae – EXO

Also Starring :

TaeYong || Do Kyungsoo || Xi Luhan || Wu Yifan

and many more.

 

Length :

Chaptered

Genre :

Romance, School Life, AU, etc.

Rating :

17+

Disclaimer :

© OC’s name and Plot. All of famous cast(s) are belong to God, etc.

Attention :

Typo. No SIDER. This story might be contains rant and ‘hot scene’ (PG – 17). One Comment for One Smile.

 

Recommended Song :

David Guetta & Showtek – Bad ft. Vassy

David Guetta – Little Bad Girl ft. Taio Cruz, Ludacris

Swedish House Mafia ft. Jhon Martin – Don’t You Worry Child

Previously on Nerdy Little Liar :

[Prologue] – Night Life & Day Life || [1] – Mischance || [2] – Shit Day ||

 

She might be bitch.

She might be nerdy.

Well, she might be a liar too.

So, prepare yourself when you greets her.

 

======

 

-o- Nerdy Little Liar -o-

Tonight, I want to fuck you. So hard.

Whatta!?

Red seketika membelalakan matanya dan menatap kaget ke arah Jong In. What the heck! Siapapun tolong bilang jika Jong In sekarang sedang bercanda. Oh, baiklah, tidak ada ekspresi bercanda di wajah Jong In. Gosh, he’s not serious, is he?

Wae? Kau tidak mau?” tanya Jong In dengan tatapan seduktifnya.

Damn. Seharusnya Jong In bisa mengetahui jawaban dari pertanyaannya lewat raut wajah Red. Tapi sepertinya, Jong In sedang berpura-pura ‘polos’. Sialan.

“Hei, aku tidak akan membiarkan ‘milikku’ dimasuki oleh ‘milikmu’. Tidak seinci pun.”

Red menatap mengejek ke arah alat vital Jong In lalu beralih menatap tajam tepat ke mata Jong In. Detik selanjutnya, Red mendengus dengan kasar.

Jong In tampak terdiam dan menatap kesal ke arah Red. Tapi tak lama, Jong In terlihat menarik salah satu sudut bibirnya. Oh man¸ apa yang baru saja terlintas di otak Jong In? Well, apapun itu, pastilah hal yang buruk –bagi Red.

YA!

Red memekik kaget saat Jong In tiba-tiba menarik tubuhnya hingga jatuh terbaring di atas sofa –dengan tubuh Jong In yang berada di atas tubuh Red. Jong In tidak menindih tubuh Red, ia hanya ‘mengunci’ pergerakan Red –dengan menopang tubuhnya dengan kedua tangannya.

“Kau itu budakku, nerd. Kau harus lakukan semua , yang Tuan-mu perintahkan. Tanpa penolakkan.”

Jong In menatap tajam ke arah Red. Red tampak mencoba mendorong tubuh Jong In yang berada diatasnya. Alright, it’s waste Red’s energy. Jong In adalah seorang namja dan Red adalah. . . haruskah diperjelas? Oh, nevermind.

You! Don’t touch my body or I’ll kill you right now!” bentak Red sambil balas menatap tajam ke arah Jong In.

Sialnya, Jong In hanya tertawa licik mendengar bentakan Red.

What? ‘Don’t try to touch your body?’ You mean. . . like this?

Jong In lalu mengarahkan sebelah tangannya –yang ia gunakan untuk menopang tubuhnya, ke arah buah dada Red. Jong In meremasnya dengan pelan dan cukup singkat.

Or maybe, like this?

Kali ini tangan Jong In bergerak ke paha Red. Jong In mengusap-ucap lembut paha Red, bahkan Jong In juga sengaja mengenai selangkangan Red. Oh, crap.

Neo! Jauhkan tangan kotormu dari tubuhku!”

Red terus menerus memberontak dengan memukul-mukul dada Jong In. Honestly, that’s useless.

“Hei, berhenti memberontak. Kau membuatku semakin bergairah.”

Mwo? Menjauhlah!”

“Tidak mau.”

You! I’ll kill you, Kim Jo —mmpph!”

Seketika ucapan Red terhenti akibat ciuman Jong In. Red juga reflek memejamkan matanya namun tangannya masih aktif bergerak memberontak. Red tampak tak membalas ciuman Jong In. Ia justru menutup rapat bibirnya.

Tak kehabisan akal, Jong In menggigit kasar bibir bawah Red. Spontan, Red membuka mulutnya. Sial, Jong In berhasil. Dengan penuh nafsu, Jong In menjilati lalu melumat bibir Red. Lidah Jong In juga mulai ‘bergerak’ masuk ke dalam mulut Red. Jong In ‘menang’ –mungkin.

Red akhirnya memilih menyerah. Ia membalas ciuman Jong In. Oh ayolah, hal senikmat ini sangat sulit untuk ditolak. Lagipula, memberontak seperti apapun tidak akan membuahkan hasil. Dan kini, Red justru kehilangan kontrol atas dirinya.

Perlahan, Jong In mengalihkan bibirnya dari bibir Red. Ia mengecup singkat dagu Red sebelum akhirnya mengukir kissmark di leher Red. Jong In tampak tak puas dengan satu kissmark disana, lalu kembali menjilat, menggigit, dan menghisap bagian leher Red lainnya –membuat lebih banyak kissmark di leher yang memang menggiurkan itu.

Ah. . . haahh. . .

Red –yang sangat bodoh dalam hal ‘menahan-desahan’ ini, akhirnya meloloskan satu desahan pelan saat lidah Jong In semakin terasa ‘liar’ menyentuh kulit lehernya. Come on, Red, kuasai dirimu.

“Cukup.”

Red seketika tersadar saat tangan Jong In mulai meremas kuat buah dadanya. Red tampak menahan tangan Jong In itu. Meski tubuhnya ‘menginginkan’ lebih, tapi akal sehatnya harus tetap dipergunakan.

Jong In hanya menaikkan sebelah alisnya, bingung. Ia malah enggan menjauhkan tangannya dari buah dada Red. Geez.

“Lepaskan aku, Jong In,” sambung Red sambil mencoba mendorong tubuh Jong In.

Jong In justru menggeleng cepat –menanggapi ucapan Red. Lalu, tangan Jong In mulai kembali meremas-remas buah dada Red.

“AW!”

Seketika Jong In memekik kesakitan saat ia merasakan nyeri pada alat vitalnya. Yap, Red menendang ‘junior’ Jong In –dengan cukup keras. God, kenapa tidak dari tadi saja Red melakukannya? Lupakan saja soal itu, sekarang ini kesempatan. Saat Jong In mulai sedikit ‘melemah’, Red langsung mendorong tubuh Jong In. Dan berhasil, Jong In jatuh dari sofa.

Ya! Nerd! You. . . shit!

Jong In mengumpat sambil sesekali meringgis. Jong In meringkuk di atas permadani di ruang VIP itu sambil terus memegangi alat vitalnya –masih tertutup celananya. My oh my, itu pasti terasa sakit.

Pay my body, dude,” ucap Red sambil menjulurkan lidahnya –mengejek Jong In.

Seulas senyuman ‘kemenangan’ juga tampak dibibir Red. Saat ini, Jong In yang ‘kalah’. Jong In tampak mencoba bangkit berdiri saat rasa nyeri-nya mulai berkurang. Ia lalu melempar death-glare ke arah Red.

Dear, my fucking slave. I’ll make sure, you’ll regret it!

Jong In mengucapkannya dengan penekanan di setiap kata. Oh, sepertinya Jong in merasa kesal –mungkin juga ‘malu’. Sungguh, Red membuatnya merasa seperti bukan seorang namja yang ‘populer’ lagi.

Red kemudian mendengus kasar –lagi, sebelum akhirnya melangkah keluar dari ruang VIP ini dan meninggalkan seorang Jong In yang menggeram kesal.

“Kau akan menyesalinya, nerd. I swear.

Okay, Lee Ji Moon a.k.a Red. Congratulation, you’ve made a great mistake.

======

Go to hell, Nerd.

Mati. Mati. Mati.

Nerd sialan. Sampah.

Tamat riwayatmu, Nerd.

Hari yang suram. Sepulang sekolah, Ji Moon berniat mengambil novel pemberian Jong Dae di lokernya. Tapi saat ia membuka lokernya, sejumlah kertas-kertas dengan berbagai tulisan –tepatnya anacaman– justru memenuhi lokernya. Sudah ia duga, cepat atau lambat hal ini pasti akan menimpanya. Ji Moon lalu menghela napas dengan panjang sebelum akhirnya membuang semua kertas yang tidak penting itu ke dalam tong sampah yang berada tak jauh dari loker siswa.

“Cih! Berani sekali kau membuangnya, nerd.”

Ji Moon terperanjat saat seseorang menyentuh pundaknya. Ji Moon lalu memutar tubuhnya ke arah belakang dan. . . awesome. Kumpulan fans fanatik para 3 besar ‘Popular Boys In Hannyoung High School’. Oh my, you’re going to die, Ji Moon.

“Aku hanya—“

PLAK!

Dammit. Ji Moon mendapat tamparan di pipi kanannya. Rasanya cukup perih dan panas.

“Ap –apa salahku?” lirih Ji Moon sambil memegangi pipinya.

Tiba-tiba tawa ‘sinis’ terdengar. Lalu, seseorang dengan name tag ‘Park Jiyeon’ melangkah maju mendekati Ji Moon.

PLAK!

Kali ini pipi kiri Ji Moon yang jadi sasaran kedua. Rasanya semakin bertambah perih dan juga panas. Aw.

Nerd sialan! Kau pikir siapa kau, huh? Beraninya kau memonopoli ‘idola’ kami! Rasakan ini!”

Bersamaan dengan ucapan Jiyeon itu, sebuah telur ‘dihantam’kan ke kepala Ji Moon. Cukup menyakitkan saat telur itu pecah di kepala Ji Moon dan ugh. . . bau. Sepertinya ini telur busuk. Sial.

“Kumohon, jangan begini. Maafkan aku. Aku tidak pernah memonopoli ‘idola’ kalian. Sunguh, ini hanya salah paham.”

Ji Moon mencoba membela diri. Lagipula, yang dikatakan Ji Moon itu benar. Sial, sekarang Ji Moon benar-benar mengutuk semua sekolah yang memiliki anak-anak ‘populer’ didalamnya.

Jiyeon mendengus lalu menatap sinis ke arah Ji Moon. “Kemarin kau diberi buku oleh Jong Dae oppa. Lalu, kudengar, Jong In oppa mencarimu dan memegang tanganmu. Terakhir, Soo Jung bilang padaku kalau Sehun oppa menolongmu. Kau masih mau—“

“Aku bisa jelaskan soal itu.”

Ji Moon malah memotong ucapan Jiyeon. God dammit, apa yang baru saja kau lakukan Ji Moon? Memotong ucapan orang yang sedang marah sama saja dengan. . .

PLAK! PLAK! PLAK!

Tiga pukulan berturut-turut mendarat dikepala Ji Moon. Kini, kepala Ji Moon mulai pusing. Teman-teman Jiyeon yang sedari tadi ‘menonton’, terdengar tertawa licik sambil sesekali mencibir Ji Moon. Dasar.

“Cih! Girls, beri si nerd ini hadiah,” ucap Jiyeon sambil melangkah mundur –bergabung dengan teman-temannya yang lain.

Tunggu. . . hadiah? Hadiah apa yang akan seorang Jiyeon berikan? Oh, tidak.

Do it, girls.

Seolah seperti aba-aba, semua teman Jiyeon tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari saku seragam mereka. Eh, itu. . . telur.

Ji Moon sontak membelalakan matanya. “Kumohon ja —AW!”

Seketika telur-telur itu dilemparkan ke arah Ji Moon. Kepala dan tubuh Ji Moon seolah jadi incaran. Kini seragam dan rambut Ji Moon pun penuh dengan putih dan kuning telur yang aromanya sangat amat bau ini. Sial, mereka benar-benar telah merencanakan ini dengan baik. Oh Tuhan, kasihanilah Ji Moon.

Ledakan tawa disertai bunyi telur yang pecah memenuhi sekitaran loker siswa ini. Bau telur busuk juga menyeruak, tapi seolah ‘terbakar’ amarah, Jiyeon dan teman-temannya mengabaikan bau busuk ini. Astaga.

Prok. . . prok. . .prok. . .

Tiba-tiba suara tepuk tangan seseorang menghentikan aktifitas yang sedang terjadi ini. Sontak saja, seluruh mata menuju ke arah orang itu. What the heck! Itu, Sehun. Lagi.

Seketika raut wajah para pembully tadi berubah panik. Mereka juga tampak salah tingkah.

“Berikan telur itu padaku. Aku juga mau melemparnya,” titah Sehun pada Jiyeon.

What? Mata Ji Moon membulat kaget saat mendengar ucapan Sehun barusan. Apa Sehun serius dengan ucapannya? Sial.

“Ini, oppa. Lempar ia dengan keras,” ucap Jiyeon sambil memberikan telur yang dipegangnya.

Ji Moon hanya mampu memejamkan matanya dengan erat. Jika Sehun benar-benar melakukannya, ini pasti akan terasa sakit. Ji Moon hanya mampu bersumpah serapah di dalam batinnya.

“Lempar dengan keras?” tanya Sehun pada Jiyeon.

Jiyeon tampak mengangguk cepat lalu tersenyum penuh arti. Sehun lalu mengambil ancang-ancang dengan melempar rendah telur itu ke udara lalu menangkapnya lagi. Kemudian. . .

Kyaaaaaaaaa!

Seketika teman-teman Jiyeon memekik histeris saat telur itu justru dilempar ke arah Jiyeon. Jiyeon tampak terdiam mematung. Dia pasti syok berat.

Mata Ji Moon reflek terbuka saat mendengar pekikan tadi. Ia menautkan alisnya saat melihat keadaan Jiyeon.

“Eh? Apa yang—“

Ucapan Ji Moon terhenti –lagi, saat Sehun menarik tangannya menjauh dari tempat tadi. Teman-teman Jiyeon yang melihat hal itu, tampak menatap tajam arah Ji Moon sebelum beralih ‘menyadarkan’ Jiyeon.

“Se –Sehun, aku. . . aku—“

“Berisik.”

Dingin dan terkesan sarkastik –as always. Hell, tidakkah ini seperti. . . dejavu?

.

.

.

“Dasar bodoh, kenapa tidak melawan?” tanya Sehun dengan nada suara ‘khas’nya.

Ji Moon kini telah dibawa Sehun menuju ke arah gedung belakang sekolah yang terdapat keran air. Ji Moon yang juga tengah membasuh rambutnya hanya melirik sekilas ke arah Sehun lalu kembali membersihkan rambutnya.

“Aku takut,” ujar Ji Moon setengah berbisik.

Oh ayolah, Ji Moon kini sedang berakting sebagai ‘nerd’ dengan sangat baik. Bahkan sebenarnya, Ji Moon merasa sedikit geli dengan ucapannya barusan.

“Kau memang bodoh.”

Sehun lalu mengarahkan tangannya ke sela-sela rambut bagian belakang Ji Moon. Ia mengambil beberapa cangkang telur yang terselip disana. Yeah, itu memang sulit dijangkau. Tapi. . .

Deg. Deg. Deg.

Debaran apa yang Ji Moon rasakan ini? Gugup? No way. Sudahlah, Ji Moon tidak mengambil pusing soal ini.

“Kenapa kau membantuku. . . lagi?” tanya Ji Moon sambil mematikan keran air.

“Aku tidak suka—“

“Tidak suka melihat adegan pembullyan, begitu?”

Jujur saja, Ji Moon sedikit bingung dengan sikap Sehun. Ia juga bingung harus mengatakan apa sekarang. Disatu sisi ia ingin berterima kasih pada Sehun tapi disatu sisi ia juga ingin meminta Sehun untuk tidak perlu membantunya lagi. Ayolah, Sehun hanya mempersulit keadaaan –dan menambah masalah juga.

“Tidak tahu terima kasih,” desis Sehun.

Hell, demi kutub Utara yang dingin, Sehun adalah makhluk terdingin yang pernah Ji Moon temui. Benar-benar seperti es –atau mungkin lebih dingin dari itu.

Ji Moon menghela napasnya. “Baiklah, maafkan aku–“ Ji Moon lalu menundukkan tubuhnya.

“–gomawo Sehun-ssi. Gomawo.” Ji Moon lalu menegakkan tubuhnya lagi.

“Aku tidak mau menerima ucapan terima kasih seperti itu.”

Mwo? Ta –tapi—“

“Besok, sepulang sekolah temui aku diparkiran mobil. Tunggu aku disana.”

M –mwo?

.

.

.

“Jadi . . . hei, kau tidak mendengarkan aku?”

Jong Dae menepuk pelan pundak Ji Moon yang kini tengah duduk melamun di samping kemudi. Ji Moon lalu mengerjapkan matanya berkali-kali sebelum menatap ke arah Jong Dae.

“Eh? Ak –aku. . . aku tidak. . . aku. . . maafkan aku.”

Ji Moon merasa bersalah pada Jong Dae. Sepertinya ia mengabaikan Jong Dae dan malah memikirkan maksud ucapan Sehun. Dia benar-benar sedang bertanya-tanya apa tujuan Sehun. Dasar orang yang sulit ditebak.

“Baru saja aku akan memaafkanmu, kau sudah melamun lagi,” ucap Jong Dae sambil tertawa kecil.

“Aaa. . . ma –maafkan aku.”

Jong Dae hanya tersenyum sekilas lalu kembali berfokus pada jalanan didepannya. Sore ini Ji Moon sedang berbaik hati meluangkan waktunya untuk menemani Jong Dae ke toko kue. Yah, Jong Dae bilang ibunya sedang berulang tahun dan ia ingin membelikan ibunya kue, tapi Jong Dae beralasan jika ia tidak tahu harus membeli kue apa. Jadi, seolah sulit untuk menolak, Ji Moon bersedia menemani Jong Dae. Dan ngomong-ngomong, kue ulang tahun yang –mungkin– sesuai dengan selera ibu Jong Dae, telah mereka dapatkan.

“Dimana rumahmu? Aku akan mengantarmu ke rumah. Aku tidak mungkin mengantarmu ke depan cafe tadi, kan?”

Well, seperti yang Jong Dae bilang. Ji Moon tidak membiarkan Jong Dae menjemputnya dirumah. Ji Moon justru menyuruh Jong Dae untuk menjemputnya di depan sebuah cafe –yang memang berdekatan dengan klub ELLUI. Hei, ingat kan kemana tujuan Ji Moon setiap sepulang sekolah?

“Tidak perlu. Kau antarkan saja aku ke cafe tadi.”

Ji Moon hanya sedang tidak ingin bersusah payah kembali ke ELLUI lagi setelah ia tiba dirumah. Lagipula, ia punya ‘pelanggan’ hari ini.

“Kenapa tidak mau diantar kerumah saja?”

“Aku benci rumah. Aku merasa seperti berada di pemakaman.”

Eoh?

“Hu –huh? Eh? Anio. Maksudku, aku. . . aku akan. . . pergi kerumah temanku lagi. Ne, ia akan menjemputku disana. Dan kebetulan rumahnya juga dekat dengan pemakaman, begitu. Ya, begitu. . . begitu.”

“Oh.”

Ji Moon bodoh. Gara-gara terlalu keras memikirkan ucapan Sehun, ia secara ‘tidak sadar’ mengucapkan itu. Ia hampir saja menceritakan soal kehidupannya yang bahkan terkadang ia sendiri benci. Benar-benar bodoh.

“Jong Dae-ya, sampaikan ucapan ‘selamat ulang tahun’ dariku pada ibumu. Dan aku harap, semoga ibumu selalu sehat.”

“Terima kasih banyak. Ibuku pasti senang mendengarnya.”

======

Ah. . . Ah. . . Ah. . . fas –aahhh. . . fasterhhh. . .

Desahan yang begitu sexy itu terdengar di salah satu ruang VIP yang ada di ELLUI. Dan suara desahan ini pastilah milik si DJ itu, Red.

Yes. . . Yes. . . Yes. . . Ahhh. . . Nghh. . .

Semakin didengar, desahan itu terdengar semakin keras. Sekarang, coba tebak siapa ‘pelanggan’ Red kali ini? Dia, Ok Taecyeon. 2PM’s rapper. Oh my God, betapa beruntungnya seorang Red.

Taecyeon. Wajah yang tampan. Tubuh yang err. . . kekar. ABS yang sempurna. Dimples yang manis. Dan jangan lupakan ‘junior’nya yang. . . wow. Sungguh sosok yang menggairahkan. Itulah, kenapa Red sangat suka jika Taecyeon yang ‘memesan’ dirinya.

“Kau banyak mendesah hari ini, sayang,” bisik Taecyeon disela-sela ‘aksi’nya.

Oh God, suara Taecyeon yang berat semakin membuat Red ‘meleleh’. Sial, kenapa Taecyeon senikmat ini?

Kiss –aahh. . . me, baby.”

Red terangsang hebat. Seluruh tubuhnya seolah-olah seperti menginginkan namja yang berada diatasnya ini. Berulang kali tubuh Red tampak terangkat sedikit saat Taecyeon mengenai titik sensitifnya.

Red mencengkram kuat lengan Taecyeon saat namja itu akan mendaratkan ciuman di bibir Red –yang sudah cukup membengkak. Tapi saat itu akan terjadi. . .

Wanna do a threesome?

Suara seseorang menginterupsi ‘kegiatan’ mereka. Dan, shit, ternyata salah satu anggota 2PM lainnya. Nickhun Buck Horvejkul. Yeah, Nickhun. Sejak kapan ia berada disini? Dan apakah ia juga ‘menonton’ Red dan Taecyeon?

What?”

Benar juga. Tadi Nickhun bilang apa? Threesome? Gila.

“Red-ssi kau sendiri yang jahat. Setiap kali aku ingin ‘memesan’mu, aku pasti kalah cepat. Dan hari ini aku ingin dirimu. Ayo lakukan threesome.”

Ugh, Nickhun terlihat seperti anak kecil yang meminta sesuatu pada orang tuanya. Tapi bukan itu masalahnya. Masalahnya, Red belum pernah melakukan ‘itu’ sebelumnya. Ia memang sudah sering melakukan banyak gaya dalam bercinta, but threesome? Itu bahkan belum pernah terlintas dipikirannya.

No! Hell no! Nickhun, kau bisa bercinta denganku besok. Aku akan—“

“Aku menginginkanmu sekarang, ‘junior’ku sudah menegang. Mana mungkin kutahan hingga esok.”

Nickhun mulai melangkah maju mendekati ranjang tempat Red dan Taecyon bercinta –yang juga tersedia di ruang VIP. Red tampak menatap kaget ke arah Nickhun.

Oppa!”

Red menepuk lengan Taecyeon –berusaha menyuruh Taecyeon untuk mengusir Nickhun. Tapi Taecyeon malah mengangkat bahunya seolah tidak tahu harus berbuat apa. Sial.

“Kita coba saja,” bisik Taecyeon pada Red.

Red tampak menelan salivanya dengan susah payah. Ia berulang kali menatap Taecyeon dan Nickhun –yang kini mulai melepas pakaiannya satu persatu –secara bergantian. Actually, she’s not ready. Tapi, baiklah ia penasaran dan ada ‘sesuatu’ dalam dirinya yang seolah ‘ingin’. Dan sepertinya, sebentar lagi, ruang VIP ini akan dipenuhi desahan dan erangan yang lebih keras dari sebelumnya. Well, happy threesome, Red.

-o- Nerdy Little Liar -o-

 

[To Be Continued]

 


 

Next on Nerdy Little Liar :

“Sehun? Ini. . . untukku?”

“Eomma, apa eomma ingat ini hari apa?”

“Oppa? Ka -kapan kau tiba di Korea?”

“Mulai hari ini, Lee Ji Moon adalah kekasihku.”

“Hei, guys, apa kalian pernah merasakan jatuh cinta?”

“You act like a porn star, you know.”


 

A/N : WordPress pribadi : www.welcomeintkingdom.wordpress.com #iklanlewat.

Haeeeeeee. . . masih ada yang ingat dengan efef ini? Tidak? Yasaodah, aku pororo eh rapopo. Oke, pertama-tama saya ingin berterima kasih atas komen dan sarannya yang sangat amat membantu. TERIMA KASIH BANYAK. Kedua, saya ingin minta makan eh MAAF karena ngepostnya benerannya lama. Saya banyak magernya huhuhu. Ketiga, saya memang sengaja nggak ngepost efef ini di wp prib saya hehe, jadi kalo ada yang nyari ini efef di wp prib saya , gak bakal nemu (dih yang mau maen ke wp lu sape?). Oke, kenapa? Karena saya udah menganggap SKF sebagai rumah kedua saya *dihapaan*. Keempat, saya bakalan mencutikan ataupun memfinish-kan paksa beberapa efef. Ini dikarenakan alur cerita mulai gaje/? ataupun ide belum ngalir/? (jadi mohon maaf).  Kelima, (simak baik-baik).

Buat yang merasa dibawah umur, SUDAH BACA RATING dan ATTENTION? Nah!

Disana sudah dijelaskan soal rating yang khusus 17+ dan saya juga peringatkan kalo efef ini mengandung rant (kata-kata kasar) dan adegan panas yang belum lulus sensor *abaikan*. Jadi, saya minta pengertian teman-teman semuanya. Saya nggak pernah melarang siapapun buat baca efef saya (kecuali keluarga saya). Menurut saya, semua orang punya HAK buat membaca dan saya sebagai author punya KEWAJIBAN memberi ‘peringatan’ (dan saya udah melakukan itu). Jujur saja, saya agak malas buat memprotek efef saya. Itu ribet di saya dan juga di kalian, iya kan? Hehe. Tapi, KALAU INI MEMANG TERLALU VULGAR, SAYA AKAN BERSEDIA MEMPROTEK EFEF SAYA BUAT CHAP YANG ‘BENERAN’ HOT *APAANCAPSLOKJEBOL*. Tergantung gimana saran dari kalian. Dan yaoloh, kampret! Saya ngebacot panjang banget disini. Udah gitu aja lah, tolong dibaca yang dan dihayati *lupakan*.

Sekian.

Terima kekasih.

T’s ❤

289 responses to “Nerdy Little Liar [3] – Boys & Throbs

  1. oh ya ampun red bener2 haha
    sehun dingin dingin perhatian kayaknya dia suka sama ji moon
    aduuh kasian bget kai ditendang sama ji moon haha

  2. Huaaa jimon kasian banget kena bully dari temen2nya😣😣 tapi sehun dateng dateng terus nyelametin dia buat yg kedua kali dengan alesan yg aneh sebenernya-_- dan red, asdfghjkl 180° beda jauh sama jimon😂 1 orang punya 2 kepribadian sekaligus

  3. Pingback: Nerdy Little Liar [6] – Revealed | SAY KOREAN FANFICTION·

  4. Ni ff berbahasa indonesia pertama yg pernah aq bc yg isinya “hot” bgt. Biasanya ff genre ginian yv aq bc tu bhs inggris. Tp keren kq critanya, seru bgt…

  5. theesome with 2PM’s members? how lucky you are, red. hell no, ga nyangka bakalan sama mereka. kirain sehun sama jongin. Tapi mengingat sehun belum tau red jadi ga mungkin sih yaaa.
    but red! what the kok bisa dapetin artis2 kek gituu. maygad gakuku dan gakuad aing

  6. yah kenapa taecyeon oppa sama nickhun oppa juga masuk listnya si red sih,wah gak terima aku author -,-

  7. Pingback: Nerdy Little Liar [7] – To Tell You | SAY KOREAN FANFICTION·

  8. Seorang nerd melakukan threesome? Wow!!!! Prok prok prok/? Gilaaaaa Jimoon, daebak(y) setelah seungri, taecyeon&nichkhun???? BAH AKU JEALOUS RED!!! Aduh Jongdae mending gausah deket2 si nerd deh, kasian dia blm tau belangnye si Jimoon kek gmn, mending ama aku bang?? .ggg btw, JONGIN APALAGI TINGKAHMU NAK??!!!

  9. ohh dasar kulkas berjalan hueh nyebelin sifatnya sehun heh. haha where jongin ?? dia tenggelam kah ?? kayaknya jimoon itu keluarganya broken home kalo nggak orang tuanya sibuk ?? fighting kak

  10. Red parah banget… Seungri taecyeon Nickhun lagi.. Kai jugaa… Sehun jangan jangan suka sama jimoon?? Makin seru!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s