I’m Yours (Chapter 3)

FFme

Cast :: Xi Lu Han ; Ahn Gie Nae (OC) ::

Support Cast :: Im Yoon A ; Oh Sehun ;  You can find ::

Genre :: School life ; Romance ; Sad ; Hurt ; Commedy ::

Rating :: PG -17

Declaimer :: Aku berfikir dan menghasilkan ide ini, subjek dan objek disini ada yang sebenarnya dan ada yang karangan, ini cerita khayalan, ambil nilai positifnya, apresiasi saya butuhkan ::

Inspired :: T Ara feat EB – First Love

[ Prologue ], *1* Come Back, 2

CEKLEK

Gina muncul dibalik pintu dengan mood yang sangat buruk, ia benar-benar kusut, entah apa yang ia fikirkan, pasti itu benar-benar buruk baginya.

Drrt Drrt

Ponselnya bergetar dibalik kain seragam yang dikenakan, ia kemudian mengambil dan mengangkat ponselnya.

“Ne yeoboseyo”

“Gee-ya”

“Eomma” ucap Gina riang

“Wah sepertinya anak eomma sedang bahagia”

“Ne, eommaneun ttemune, bogoshipoyo eomma” mempout bibirnya

“Na ddo, apa keadaanmu baik-baik saja? kau sudah makan? Sudah minum susu dan vitamin?”

Gina menahan tawanya mendengar eommanya begitu perhatian, sebenarnya ia sering seperti ini tapi bedanya kini jarak mereka sangat jauh sehingga membuat setiap katanya semakin istimewa.“Na ddo? Hanya itu? Ya, eomma. Apakah eomma sedang belanja?”

“Ah ne, eomma belanja di bookstore”

“Ha? Bookstore? Apa eomma membeli buku? Eomma ingin sekolah lagi? Apa tidak eomma terlalu tua untuk sekolah lagi?” menutup mulutnya yang hampir mengeluarkan bunyi dari pita suaranya.

“Aish…kau ini… eomma membeli buku tapi bukan untuk sekolah”

“Buku apa dan untuk apa?” Tanya Gina penasaran

“Buku cara menjaga hubungan jarak jauh. Bahasa Inggrisnya Long Distance Relationship Care” melafalkan kata demi kata dengan berfikir

“Mwo? Apa eomma sudah menemukan pengganti appa? Nuguseumnika? Apa dia seperti appa? Apa dia tinggi? Apa dia baik? Ap…”

“Gee-ya” ucap keras Nyonya Ahn membuatnya menghembuskan nafas kasar disebrang sana. “Dengarkan eomma dahulu sampai selesai berbicara” lanjut Nyonya Ahn kalem. “Semua salah, eomma membeli buku itu untuk menjaga hubungan kita tetap baik walau jarak kita jauh, arrachi?”

“Eomma… apa maksud eomma? Akukan anak kandung eomma, sejauh apapun kontak batin seorang ibu dan anak takkan terputus, eomma jangan berlebihan, tenanglah aku disini bahagia” ujar Gina tulus menenangkan.

“Benarkah?” Tanya Nyonya Ahn ragu

“Ne…” mengangkat tangannya yang diperban “Gwenchana” lanjut Gina lirih

Lu Han mematikan ponselnya karena tak ada yang menjawab diseberang sana. Ia bukanlah orang yang kepo dan terlalu basa basi, ia lebih suka sesuatu yang simple saking simplenya ia malas membalas ucapan lawan bicaranya.

Suara pintu apartementnya berbunyi menandakan ada seseorang disana yang ingin bertamu atau sekedar menyapa apartementnya. Lu Han berjalan mendekat kearah pintu kemudian menekan tombol sandi untuk membukanya.

TIITT…CEKLEK

“Annyeong” tampak seorang pria berperawakan tinggi, berwibawa, nan fasionable. Tampak dari pakaiannya, sudah bisa ditebak, seorang pria memiliki wajah tampan, tinggi, nan fasionable. Wu Fan. Dengan stylenya yang santai tangan dimasukkan disaku celana menyapa dengan penuh senyum tepat saat Lu Han membuka pintu. Sayang… Lu Han hanya membalas dengan menggerakkan kepala kesamping mengisyaratkan agar Wu Fan masuk. *Bukti bahwa Lu Han itu Mr.Simple*

Dan itu membuat Wu Fan memasang ekspresi tak suka “Aku datang kesini bertujuan baik, kau malah membuka pintu tanpa senyum, kau juga tidak berkata apa-apa sedikitpun. Huh… sambutan apa ini? Dan oh…pakaianmu benar-benar tidak sopan, kau ingin mati, huh?” cerocos Wu Fan menunjuk nunjuk tubuh Lu Han. Wu Fan masuk kedalam apartement Lu Han kemudian mendudukkan diri ke sofa dan mengambil buku dibawah meja.

Lu Han meresponnya dengan menghembuskan nafas kasar “Hyung, mianhe…aku sedang malas, kau tau senyumku itu mahal, suaraku juga terlalu indah untuk berbicara, dan untuk… akh, hyung kau datang pada waktu tidak tepat” berjalan menjauh.

“Jika yang datang orang lain apa kau akan memakai seperti itu? Kau selalu bersikap beda padaku” berteriak dengan suara keras sambil membolak-balik halaman buku. “Setidaknya kau harus menghargai hyungm…” Wu Fan mengalihkan pandang pada Lu Han dan sialnya Lu Han tak ada ditempat lagi.

“Ya, Lu Han…” membanting buku kesal kemudian berjalan agak cepat kekamar Lu Han dengan raut wajah sebal sekaligus kesal. Wu Fan meraih kenop pintu kemudian menggerakkannya kebawah.

CEKLEK. Terbuka…

“Ya…”

BREK

“Lu Han kau benar-benar nappeun sekkiya” teriak Wu Fan dengan nafas senin kamis ( terengah-engah ).

“Wae?” teriak Lu Han dari balik pintu sedang memakai pakaiannya.

“Kau melepas handukmu saat aku masuk, pabbo” runtuk Wu Fan

“Mwo? Jinjja? Ya…ya… hyung kau…akh…kau benar-benar byeontae” Lu Han mengacak-acak rambutnya  frustasi

“Ya… Lu Han mana ku tau kalau kau sedang berganti pakaian” membela diri

“Seharusnya hyung tau, kalau aku berganti, sudah jelaskan keadaanya” Lu Han juga ikut membela dirinya

“Aku tau, tapi kenapa kau lelet sekali berganti pakaian? Seperti siput. Gada.” Pergi keluar dari apartement Lu Han.

“Ya…hyung…ya…”

BREK    TTIIITTT

Lu Han keluar dari kamarnya sambil menggerutu “Kenapa bisa keluar?” ia mengingat kembali “Aishh” Lu Han baru mengingat kalau tak menutup pintunya lagi setelah Wu Fan masuk. Ia benar-benar frustasi, ia tak suka ada orang yang mengetahui pribadinya meskipun itu orang tuanya.*Kalian taukan*

Sore  Pukul 07.10 CST

Suasana mulai sepi nan dingin, langit sementara tak lagi terang, mengijinkan matahari tuk istirahat sejenak, memberi kesempatan bulan dan bintang menghiasi langit menggantikan awan.

Seorang remaja pria masih memakai seragam lengkap namun bisa dibilang sedikit urakan, blazernya tak dikancing, dasi yang longgar, seragam yang dikeluarkan, dan 2 kancing atas tak bertautan lagi, serta tasnya digantung satu ditangan kiri berjalan santai memasuki sebuah rumah yang bisa dibilang seperti istana kepresidenan namun lebih kecil. Dengan ekspresi yang datar menunjukkan masalah pada dirinya.

“Sehun-a” teriak seorang wanita paru baya dari belakang. Membuat pria itu―Sehun―menghentikan langkahnya, menutup kelopak mata kemudian mendongakkan kepala keatas bersamaan untuk menghirup oksigen dalam-dalam, wanita paru baya itu berjalan mendekat denan wajah dingin saat itu juga ia―Sehun― mengembalikan posisi kepalanya menghadap kedepan menghembuskan nafas kasar kemudian menoleh “M…”

PLAK

Sebuah tamparan berhasil mendarat keras dipipi Sehun hingga mengubah posisi arah kepalanya, Sehun tanpa ekspresi.

“Dari mana saja kau, huh? Kau tidak lihat ini pukul berapa? kemana saja kau? Dan bagaimana…ah…kau benar-benar kacau” oceh marah wanita yang menamparnya.

“Jawab eomma” bentak eommanya―wanita paru baya yang menamparnya―.

“Heuh…” Sehun tertawa hambar “Aku dari sekolah ada urusan penting tadi, aku hanya telat 10 menit dan kau menamparku? Jangan sebut dirimu eomma didepanku, kau tak pantas disebut eomma” intonasi yang rendah penuh ancaman dan kebencian.

“Setidaknya kau bisa menghubungi eomma…Kau aku lahirkan dan besarkan agar menjadi seorang yang berguna, apa kau tidak sadar kalau appamu sudah meninggal? Kau anak tunggal, anak satu-satunya, siapa yang akan meneruskan keturunan dan bisnis ayahmu? Kau harapan satu-satunya” dengan nada penuh ketegasan.

“Tapi kau tidak perlu mengorbankan tugasmu dan bertindak seperti ini” bentak Sehun dengan mata memerah kemudian pergi meninggalkan eommanya terpaku hingga menghilang di ujung tangga. Tak berapa lama setelah itu terdengar suara debaman pintu.

Disaat yang sama

Dikamar, di ranjang.

Lu Han membuka kelopak matanya perlahan, terbangun dari mimpinya. Sedikit menggeliatkan badan kemudian merenggangkannya. Ia mulai bangkit dan duduk ditepi ranjangnya yang empuk itu kemudian turun memakai sandal berjalan keluar dengan mengucek matanya. Ia berjalan terus melewati ruang demi ruang menuju dapur. Didapur, ia mengorek-ngorek setiap laci, tak apa-apa, lalu pandangan tertuju pada benda persegi panjang berpintu didalamnya bersuhu dingin yang dapat menyimpan dan mengawetkan makanan, ia mendekati kemudian membukanya. Tangan meneliti satu per satu benda disitu dan yang ada hanya telur yang masih utuh, selai, mentega, roti tawar, susu sirup, dan air putih.

Lu Han mendesah lelah dan mendecak sebal. Menutup pintunya perlahan. Walau didalamnya ada roti tawar, selai, mentega, dan susu, ia tak mau memakannya. BOSAN adalah alasan dari semua ini, hampir selama 1 bulan hanya memakan itu-itu saja, ia ingin yang lebih bervariasi.  Jika bisa ia berharap ada seorang bidadari cantik ah tidak…bidadari yang bersifat keibuan yang memasakkannya makanan bervariasi setiap hari. Yah…tapi sepertinya itu sebuah khayalan terlalu berlebihan, mana ada bidadari di dunia ini? Tidak ada.

Lu Han memegangi perutnya yang mulai keroncongan “Aku lapar”. Ia mengambil jaket dan dompetnya, setelah itu bergegas pergi dengan sepedanya meluncur ke mini market yang didatanginya tadi.

Setelah perjalanan yang tidak terlalu jauh ini, ia akhirnya sampai, memarkir sepedanya kemudian masuk kedalam untuk membeli beberapa cemilan dan makanan yang bisa mengisi perutnya sudah mulai meronta karena kosong.

Ia mulai memilih beberapa cemilan. Setelah beberapa menit. Memilah dan memilih, ia sudah mendapat cemilan yang dia inginkan, kemudian berputar ke rak lainnya mengambil 1 ramen instan. Setelah selesai berbelanja ia tak langsung pulang karena perutnya tak bisa diajak kompromi…yah memang perut tak bisa berbohong…akhirnya ramen yang ia beli tadi menjadi korbannya, memakannya segera yang harus ia lakukan dari pada ia harus berakhir tak sadarkan diri hanya karena kelaparan…itu konyol.

Ia menuju meja yang berada didalam mini market, disana ia mulai melakukan step-step memasak ramen instannya, tanpa ia sadari karena mungkin saking kelaparannya dan focus dengan ramennya, sedari tadi ada gadis yang sangat ia kenal berada disampingnya melakukan hal yang sama dengan tangan penuh hansaplas dan earphone ditelinga. Mereka tak menyadari satu sama lain, mereka terlalu sibuk.

Setelah gadis itu selesai, ia mulai beranjak keluar mini market, disusul dengan Lu Han. Gadis itu duduk disusul Lu Han yang ikut duduk didepannya. Mereka sama-sama makan masih tak menyadari keberadaan satu sama lain, kebetulan suasana agak ramai sehingga memilih cuek dengan sekitar.

Setelah hampir selesai makan gadis itu mulai memperhatikan sekitar dan mendapati Lu Han didepannya sedang menikmati ramennya, Lu Han yang merasa ada yang memperhatikannya, mulai mengalihkan tatapannya kedepan dan alhasil mendapati satu sama lain.

“Neo…” ujar mereka kaget bersamaan.

“Kau kenapa kesini?” masih bersamaan

“Kau… sejak kapan ada disini?” Tanya Lu Han sedikit berteriak

“Aku dari tadi, kau?” Tanya Gina tak kalah keras

Semua orang melihati mereka, berbisik, menunjuk-nunjuk kemudian pergi. Mereka bukannya tak peduli tapi ada yang lebih penting, mempertahankan harga diri masing-masing.

“Aku juga dari tadi” jawab Lu Han tak mau kalah

“Ataaauuuu… kau membuntutiku” tuduh Gina

“Ya… kau jangan menuduhku, kau pasti berpura-pura padahal sebenarnya kau yang membuntutiku” tak terima

“Ya … Lu Han, namaku Gina…”

“Ahn Gie Nae, arra” potongnya sebal

“Ya jangan memotong”

“Hish… pergi kau, kau mengganggu makanku” ujar Lu Han menggebrak meja membuat kuah ramen Gina tumpah.

“Hish, kau…” Gina berdiri mengambil sumpit kemudian menyumpit mie ramen milik Lu Han “Ya, Aph…” menyuapkan paksa

“Makan ramenmu baik-baik” meninggalkan Lu Han yang tersedak “Uhuk…uhuk..” menepuk-nepuk dadanya.

Sedangkan Gina menggerutu sendiri, mulutnya komat-kamit entah apa yang diucapkan, pasti itu celaan. Baru beberapa meter, Gina berhenti mendengar Lu Han terbatuk-batuk, ia mendesah kasar kemudian berbalik berjalan mendekati Lu Han, memberikan sebotol air mineral tapi Lu Han menolaknya.

“Lu Han…Lu Han disaat seperti ini masih saja menolak” ujar Gina dalam batin.

 

Gina membuka tutup botol, memegang dahi Lu Han mendorongnya hingga mendongak kemudian meminumkannya secara paksa, setelah itu meletakkan kasar botol air mineral itu kemeja, tangannya menyilang menunggu Lu Han hingga tidak terbatuk lagi.

“Kena..uhuk..pa..kau melind..uhuk iku”

“Sudah diam kau, lagipula siapa yang melindungimu? Aku membantumu, bodoh”

Di bawah sinar lampu pinggir jalan terdapat bayangan sepasang kaki yang berjalan disusul bayangan  roda dan kaki lain dibelakangnya. Gina yang berjalan didepan dan Lu Han dibelakangnya. Gina berjalan kaku, bola matanya bergerak tak menentu, deru nafas kegugupan menyelimutinya, peluh yang mulai membasahi permukaan kulit padahal udara malam ini lumayan dingin, entah apa yang ia rasakan tapi tak seperti biasanya.

Lu Han yang dibelakang tersenyum-senyum geli melihat tingkah aneh gadis yang berada didepannya, ia ingin tertawa terbahak saking begitu lucunya, jika saja ia tidak ingat kalau gadis didepannya itu sensitive, ia akan melakukannya.

Terlalu senang dengan fikirannya, hingga tak menyadari kalau Gina berbalik dan sudah melihatnya intens. Gelagapan, ya itu yang terjadi pada Lu Han, segera memalingkan kepalanya.

“Kau… byeontae” tuduh Gina membuat Lu Han menatap Gina sengit

“Byeon…tae?” diam sejenak mencerna “Ya… kau selalu menuduhku, kemarin nappeun, tadi menguntit, sekarang byeontae, kalau begitu kau sekkiya”

“Ya… baru kali ini pria sekkiya berbicara seperti itu”

“Ya… tadi byeontae sekarang sekkiya”

“Kau memang pantas, semuanya buruk untuk dirimu”

“Hishhh, jinjja…” mendesis sebal

“Hantu” teriak Gina menakuti, dan berhasil, Lu Han bahkan sampai melompat dan berteriak melengking. Gina benar-benar puas, ia tertawa terpingkal-pingkal, apalagi setelah ekspresi ketakutan Lu Han seperti monyet tercekik sekarang ekspresinya benar-benar konyol, terlihat tolol dan polos, itu membuat suasana semakin menarik untuk Gina.

“Ya kau…” Lu Han tak terima

“Wae? Wajahmu benar-benar konyol hahaha” Gina memegangi perutnya yang mulai sakit. “Aku pulang, haha…” masih tertawa.

Tiba-tiba seekor tikus lewat di atas kakinya, dengan spontan Gina histeris dan melompat, Lu Han yang tau, melepas sepedanya untuk menangkap Gina.

Berhasil…

Lu Han berhasil menangkap Gina, Lu Han tiba-tiba tersenyum aneh, beberapa saat kemudian Lu Han melepas pelukannya pada Gina…

BRUKK…

“Yakk…” ucap Gina kesakitan memegangi bagian belakangnya

“Upss… maaf tanganku licin” ekspresi Lu Han nampak kesenangan, kemudian mengambil sepeda, menaiki, kemudian mengayuhnya dengan cepat.

“Yak Lu Han… Kau akan auh… besok kau akan mati” ujar Gina teriak sebal.

Ke esokan harinya. Disekolah…

Hari ini tidak seperti biasa, Lu Han hari ini berjalan kaki, sama dengan Gina. Bedanya… Lu Han 1 menit lebih dulu berangkat dibandingkan Gina.

Entah kenapa Lu Han tak naik sepeda, tapi perasaannya tampak senang hari ini.

Saat didepan gerbang, tali sepatu Lu Han lepas, ia membungkuk menalikannya kembali.

WUZZ

TBC ……

Halo semua… mian lama, KTSP membuatku tambah gila 😦 aku benar-benar kesulitan, menyita banyak sekali waktuku, ini aja aku nyicil—nyicil  mian 😦

Ini gak aku baca ulang mian agak aneh 😀

Selamat membaca, tolong beri apresiasinya ya 🙂

4 responses to “I’m Yours (Chapter 3)

  1. Terlalu kejadian diluar sekolah jadi gak asik. Banyakin adegan di sekolah napa thor. Sehun juga dikit disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s