Twinkling Eyes

twinklingeyes

Lured – Twinkling Eyes

by Diramadhani | Sehun, OC |

PG-15

Spin off dari —
Dancing Machine :
https://saykoreanfanfiction.wordpress.com/25/01/11/dancing-machine/

______

Aku tersenyum tipis begitu keluar dari gedung dan disambut kehadirannya —gadis dengan jaket merah maroon yang menundukkan kepalanya kebawah sembari menatap tanah. Meski begitu, garis-garis wajahnya masih dapat ku tangkap dengan baik dari sini. Rambut bergelombang dengan warna cokelat digerai tersampir di bahunya yang kecil, lehernya tenggelam dibalik syal bewarna putih salju dengan rapi. Sesekali kakinya yang dilapisi sepatu menendang-nendang kerikil kecil untuk mengisi kebosanan.

Kakiku secara sigap mengambil tindakan untuk melangkah ke arahnya. Kepalanya terangkat, membuat dua iris mata kami terjebak peraduan beberapa saat.

“Sudah lama menunggu?” Pertanyaan pertama dariku, dia tidak langsung menjawab, hanya memberiku sebuah tatapan penuh kilau yang menggelitik perutku beberapa hari terakhir.

“Ah, Se!” Dia memanggilku, agak berteriak. “Kau lumayan lama.” Ucapnya sembari mengerut ringan. Kami saling melempar senyum di detik kemudian.

Tanganku dengan refleks meraih tangannya, menautkan jemariku diantara jari-jarinya yang kecil.  Aku mulai menggemari perasaan yang singgah ketika bersamanya beberapa hari terakhir. Seolah bebanku terlepas dan aku bisa melupakan segalanya, bahkan tetang problema perasaanku dengan orang itu. Hari ini, gadis ini menjemputku lagi, untuk berlatih di sebuah tempat milik Yixing, yang katanya sudah disulap sedemikian rupa hingga menyerupai ruang seni.

Aku ingin mengalihkan, namun dari seluruh potret yang dapat kupandang, manikku selalu berakhir pada wajah yang berada di sampingku. Diam-diam aku bersyukur untuk dipertemukan dengannya, diberi kesempatan merasakan ‘nyaman’ bersamanya, merasakan lagi debaran jantung yang meletup-letup untuk senyuman di sepasang matanya yang berkelipan. Jika dia tidak dihadirkan di dalam kehidupanku, mungkin aku masih terjebak di dalam perasaan semacam ini kepada orang yang salah. Salah, dalam artian sesungguhnya.

“Hyerin?” Aku menggumamkan namanya diluar kesadaranku.

“Hn?”

“Tidak, lupakan,”

Terimakasih telah hadir di hidupku.

Hyerin melempar senyum tipis padaku setelahnya. Kemudian kami menempatkan diri di kursi bus. Kedua matanya tak lepas dari pemandangan yang tersedia dibalik kaca bus. Namun itu tidak lama setelah kepalanya berpindah ke bahuku, aku sempat terkejut, namun aku dapat mengatasinya dan membiarkannya bersandar disana, kudengar dia menyenandungkan sebuah lagu, dan aku ikut menikmatinya, kupejamkan mataku mengikuti lagu yang ia nyanyikan.

“Here I am. Feels like the walls are closing in. Once again, it’s time to face it and be strong. I wanna do the right thing now, i know it’s up to me somehow, I’ve lost my way.

If i cloud take it all back i would now. I never mean to let you all down. And now i’ve go to try to turn it all around. And figure out how to fix this. I know there’s a way so i promise. I’m gonna clean up the mess i made, maybe it’s not too late.” (*)

Baik, namaku Oh Sehun, adik  dari Oh Sejin. Aku adalah seseorang yang berimpian menjadi performer, menari, bersinar diatas panggung dengan disaksikan berjuta pasang mata di suatu tempat, mendengarkan sorak-sorai penggemar dan menjadi arah pandang utama, namun sampai sekarang hal itu belum tercapai, mungkin nanti.

Kakakku, Oh Sejin, adalah seorang komposer, dia penulis lagu di agensi yang sama tempatku menjadi trainee.

Menurutku, dia adalah gadis yang memiliki kekuatan magis, ketika seseorang menyaksikannya menyanyikan lagu ciptaannya sendiri, semua orang akan terhipnotis, terjebak dalam dunia yang dia tunjukkan. Ketika jemari kecil lentiknya yang menari diatas tuts piano dengan manis, lancar dan mulus; disertai dengan air wajah yang ekspresif, dibarengi dengan alunan harmonis yang menghanyutkan pendengar dan suara halusnya yang merdu. Semakin lama kau mendengarkannya, semakin kau terjebak. Tidak ada yang bisa lepas dari jerat pesonanya; dan sialnya, itu berarti termasuk aku, adik kandungnya.

Terkadang aku menertawakan diriku sendiri terlalu berdelusi, namun kian hari ‘rasa’ itu makin pasti dan sulit untuk dielak, semakin kau tolak semakin kuat dia berpegang. Aku sering menyugestikan diriku sendiri agar berhenti karena aku tahu itu salah. Namun semakin aku mencegah, semakin berkembanglah rasa itu, apalagi aku harus berada disekeliling Sejin nyaris tiap hari.

Namun aku memang tidak boleh punya harapan. Sejin tidak mungkin membalas ‘rasa’ itu, dan akhir-akhir ini, aku yakin dia memperhatikan lelaki bernama Kim Jongin, yang beberapa tahun lebih tua dariku, lelaki itu juga penari, trainee yang akan debut sebentar lagi. Namun aku tak bisa melakukan apapun selain duduk diam; menyaksikan pertunjukan kisah cinta mereka dalam sunyi.

Saat keterpurukanku akan perasaan cinta tabu yang gila dan tidak dapat ditolelir ini, seseorang datang kepadaku; tujuannya sangatlah sederhana. Dia memintaku untuk membantunya menyelesaikan proyek akhir sekolah kelompoknya, dia ingin mengadakan pertunjukan kecil untuk anak-anak kurang beruntung di rumah sakit. Namun dia mengeluh kekurangan penari lelaki dan memintaku mengisinya, saat itu aku tidak memikirkan apapun dan hanya mengiyakan. Dan orang itu adalah Hyerin, gadis yang kepalanya berada di pundakku sekarang.

Dan beralih soal kakakku, beberapa hari yang lalu, aku tidak sengaja meninggalkan ponselku di sanggar tari. Aku segera kembali ke gedung agensi, namun sesampainya disana, aku tak jadi mengambil ponselku dan membiarkannya berada disana. Kebetulan, indera penglihatku disuguhi pemandangan Oh Sejin, kakakku, berciuman dengan Kim Jongin.

Aku tidak bertahan disana lebih dari tiga detik, jangan tanya bagaimana perasaanku saat itu, akupun tak berani memberi pandangan deskriptifnya. Hal yang kutahu saat itu adalah secepatnya meninggalkan gedung agensi, bahkan tanpa sempat memikirkan tujuan dan asal berlari kemanapun, sejauh mungkin dari eksitensi Sejin atau Jongin. Dan aku tidak tahu sebabnya, namun berakhirlah langkahku di ruang seni sekolah.

Entahlah, aku hanya mengikuti gerak kakiku yang memimpin ketika pikiran dan perasaanku tersita oleh satu objek yang sama; kejadian Jongin dan Sejin. Aku merasa dadaku sesak dan marah, sesak karena aku berusaha menahan tangis, marah karena tidak bisa melakukan apapun untuk menenangkan diriku sendiri, marah karena membiarkan perasaan itu berkobar dan mengambil alih diriku, marah karena tidak menyesalinya meskipun itu menyakitkan.

Aku menyedihkan. Beberapa menit disana, aku terus seperti itu, tidak bergerak barang sejengkal. Hanya diam, merasakan sesak dengan pikiran yang hilang entah kemana.

“Se? Sehun?”

Aku mendengar seseorang memanggil namaku, aku bahkan tidak mengenal suara siapa itu, dan perlahan kudengar suara tapak kaki mendekat. Aku menyembunyikan kepalaku dibalik dua lututku, menutupi wajahku yang terkesan begitu menyedihkan. Menyembunyikan wajah, diriku yang sebenarnya dan semua kehancuranku. Aku tidak ingin siapapun melihatnya. Aku terlalu lemah.

Seharusnya memang aku tidak perlu ‘memelihara’ perasaan ini. Seharusnya aku tidak pernah jatuh cinta pada-nya, seharusnya aku—

“Se? Kau baik-baik saja?” Suara itu terdengar lagi, memotong segala apa yang kupikirkan. Perlahan, aku mengenali seperti itu, orang yang paling tidak ingin kutunjukkan sisi lemahku. Dan dia benar-benar disini sekarang. Aku semakin menutup wajahku.

Beberapa detik kemudian, tubuhku menegang, ketika sepasang tangan memindahkan kepalaku pada sebuah pundak kecil. Aku tahu, satu-satunya orang yang mungkin, dia pastilah Hyerin. Perlahan, kuangkat wajahku, memberanikan diri untuk memberikan tatapan pada wajahnya dari sudut pandangku, dia tak balik menatap, mata hitamnya terfokus ke depan.

Aku terlalu sibuk dengan mengamati wajahnya; hidung bangirnya, bibir tipisnya dan mata hitamnya yang berkilauan, sejenak, aku lupa tentang segalanya, lupa tentang rasa sesak yang melandaku, dan meresap ke duniaku dan dirinya. Aku tidak bisa membantu tapi aku mulai merasakan dadaku bergemuruh nyaman, meletup-letup dan perutku tergelitik halus.

“Se?” Dia balik menatapku, sejenak, kami terjebak dalam peraduan pandang sebelum dia memutuskan kontak.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. Tapi aku ingin jujur padamu, Se.” Gumamnya, seolah berbicara pada dirinya sendiri. Namun karena kepalaku berada di pundaknya, suara kecil itu masih ditangkap oleh telingaku. “Aku menyukaimu, Se.” Ucapnya lagi.

Blank.

Pikiranku kosong dan aku  tidak bisa melihat atau memproses sesuatu di dalam kepalaku. Tidak ada yang bekerja selain indera penglihatku yang sibuk mengamati wajahnya, terpikat dan terpesona, hanya pada satu objek itu; dan beberapa detik kemudian, kutemukan diriku sendiri menempelkan bibirku di bibir bawahnya, memberikannya waktu beberapa detik sembari mencicipi airmataku yang ikut terjatuh disana, dia membalasnya, aku memegang rahangnya dan dia mulai menekan tengkukku. Ciuman itu terasa menyakitkan sekaligus membingungkan bagiku. Ketika aku sadar, aku membawa diriku menjauh, membuat jarak dan duduk beberapa keramik darinya.

Aku berdeham, memperhatikan apapun selain dia yang terduduk satu kaki dari tempatku. Ketika kulirik dia, dia menghadapkan wajahnya ke arah lain, aku mengikutinya, dan kami saling berbalik pandang, seolah begitu jauh.

“Hye?” Panggilku, setelah beberapa menit membiarkan kekosongan diantara kami.

“Hm?”

“Jangan pernah di ingat.” Ucapku pelan. “Jangan mengingat wajah menyedihkanku barusan.”

Karena kau adalah orang yang paling kutakutkan untuk melihatnya.

“Sesuatu terjadi dan aku sangat terpukul dan…”

“Kau tidak perlu menjelaskannya, Se.” Dia memotong ucapanku. “Aku tidak akan mengungkitnya.” Ucapnya lagi, dia bangkit dari duduknya. “Aku harus pergi sekarang. Jika kau butuh sandaran atau orang lain untuk bicara, telepon aku.”

Dan dengan kalimat itu, dia meninggalkan ruang kesenian.

Aku menghela nafas mengingat kejadian hari itu. Kulirik rambut cokelat yang menggelitik leherku, merasakan keberadaannya bersandar di bahuku diam-diam membuatku mengulum sebuah senyum. Aku melirik sejenak keluar, hujan mulai membasahi jalanan. Perjalanan ke ‘tempat‘ Yixing tersisa beberapa menit lagi. Kuarahkan hidungku ke kepalanya sekali lagi, menusukkan indera penciumku diantara helai rambutnya, menikmati harum shampoo yang dia gunakan.

“Se?” Dia memanggilku.

“Hn?”

“Kau belum memberiku kepastian, Se. Hari itu maksudku, apa kau membalas perasaanku? Apa arti ciuman itu? Dan kau namai apa hubungan kita sekarang?” Tanyanya.

Aku terdiam, tubuhku menegang dan aku tertegun, aku sangat yakin, cepat atau lambat ia akan segera menanyakan hal ini, tapi aku tidak tahu hal itu akan datang secepat ini. Aku terdiam beberapa saat dan begitu pula ia, mungkin dia menunggu jawaban yang bahkan belum kutemukan.

Aku tersenyum padanya, mengacak rambut cokelatnya dan berkata, “Berhentilah memenggal namaku dengan kata ‘Se’. Itu terdengar aneh.” Dan ketika jawaban itu yang aku berikan, dia hanya tersenyum tipis, agak masam. “Aku akan menunggu, Se.”

Ya, tunggu aku memastikan semuanya. Itu tidak akan lama.

Setibanya di ‘tempat‘ Yixing, aku — Oke, jelasnya, seperti tujuan awalku kemari, aku berlatih. Yixing dan aku akan berkolaborasi untuk pertunjukan ini. Aku menyetujuinya karena kulihat Yixing adalah penari yang baik, kami menyatukan unsur kekuatan kami dan itu nampak perfect. Ini adalah hari terakhir latihan, ngomong-omong. Sabtu ini kami akan tampil di rumah sakit anak-anak. Kudengar, mereka sudah menunggu-nunggu penampilan kami.

Aku terduduk di lantai bersama Yixing, kami masih terengah-engah dan keringat masih mengalir di sekujur tubuh kami. Aku menaruh punggungku bersandar pada tembok dan menyaksikan latihan anggota yang lain, dan ketika giliran Hyerin. Seperti yang kalian tebak, aku tidak bisa mengalihkan pandangku darinya.

Gadis itu mulai memetik gitar dengan jemari kecilnya, seketika ruangan sunyi senyap, hanya berisikan suara petikan gitar dan  lagu halus yang berasal dari bibir tipis miliknya. Arah pandang semua anggota disini terfokuskan padanya, melibatkan diri masing-masing pada lagu yang ia nyanyikan. Suaranya terdengar halus dan nyaman ketika tersampaikan pada indera pendengaranmu, membawakan lagu itu dengan sempurna, tanpa celah. Membuat kami terserap dalam emosional yang ia keluarkan. Aku tidak terkejut mendapati diriku mengamatinya lagi, dia benar-benar mirip dengan Oh Sejin dengan segala pesona yang dimilikinya.

Mereka bernyanyi dengan sangat indah, memberikan hipnotis kepada pendengar untuk memahami apa yang ingin mereka sampaikan. Mereka sama.

Dan ketika lagu itu berakhir, gadis itu beralih menatapku, membuatku terjebak seturuan pandang dengannya lagi, mata hitamnya berkilau-kilau indah dan aku mulai merasakan ‘sesuatu’ menggelitik perutku untuk sesaat. Dan aku tahu, apa yang membedakan Hyerin dan Sejin. Kedua mata berkilau yang indah itu, hanya Hyerin seorang yang memilikinya.

Riuh tepuk tangan bergemaan ketika Hyerin mulai meninggalkan kursinya. Dia berdiri beberapa langkah dariku. Aku berjalan mendekat, menempatkan diri tepat disampingnya yang kini memfokuskan diri menyaksikan anggota lain yang mulai berlatih.

“Hye?” Panggilku. Dia menoleh kepadaku, memberikanku kilauan matanya sekali lagi. Dan aku tersenyum padanya. Aku menyampirkan rambut cokelat yang jatuh menutupi pelipisnya ke belakang telinga. Dia menatapku penasaran.

“Kau tidak perlu menunggu terlalu lama, Hye.” Ucapku, lebih halus dari yang kukira, dan ketika aku melihat kerutan tidak mengerti di dahinya, aku terkekeh sejenak. “Sebenarnya, aku lebih suka tindakan dibanding kata-kata. Tapi yah, aku juga menyukaimu.”

Dan bibirku berakhir diatas miliknya sekali lagi, tanpa aba-aba, awalnya dia terkejut namun berakhir untuk memilih membalasku, tanganku beralih memegang pinggangnya dan dia mulai melingkarkan lengannya di tengkukku. Persetan dengan anggota lain diruangan ini, persetan dengan mereka. Tapi perasaan hangat ini, getaran berlebih di seluruh tubuhku ini, debuman keras organ di balik dadaku ini, lebih dari segalanya. Dan hanya pada Hyerin aku merasakannya. Mungkin Sejin juga, namun akan kupastikan itu tidak akan berlaku lagi. Karena yah, aku telah terjatuh untuk Hyerin.

***

#SehunMoveOn 😀

#DeepKissingAgain xD

#IMustCrazy =))

Have been published @ http://galleryofexofanfic.wordpress.com and http://milkywaystories.wordpress.com

Advertisements

9 responses to “Twinkling Eyes

  1. ohhh jinjaaa….
    jadi sehun selama ini murung karena dia mendem perasaannya ke kakak nya sendiri Oh Sejin
    Oh man, yg bener aja dong oh sehun. i know, sojin punya banyak pesona that make you falling to her. tp gak gitu juga kali, berarti kan sehun egois

    tp yeaahh, finally sehun move on yekann, dia ketemu hyerin, kirain hyerin bakal di php-in sama sehun

    okee ini keren eonnie, aku salah terus nebak jalan ceritanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s