[ONESHOOT] JUST DREAM, BABY! – SEQUEL (TOMORROW – WHAT WE MEET BE?)

FF ini BUKAN buatan and milik Sangheera, tapi titipan dari seorang teman untuk dipostkan disini. 🙂10934417_355286694658509_1759264345_n

[ONESHOOT] JUST DREAM, BABY! – SEQUEL

(TOMORROW – WHAT WE MEET BE?)

Author : : SYAMMER ||Main Cast : : LU HAN AS XI LUHAN and HWANG NANA (OC)||Support Cast : : Sehun’s EXO, Han Jieun (OC), Some artist of WINNER and Other|| Genre : : Romance, little comedy, and Marriage Life||  Lenght : : Oneshoot || Rating : : PG 17+

NOTE :: ini cerita dari otak kanan aku sendiri. Maaf kalo ada banyak typo dan ceritanya mungkin agak sedikit amburadul. Nggak dapet feelnya. Maaf *BOW*. Don’t plagiat.

3 years later.

Monday 14 February 2016

Pagi ini pukul 07.30 KST. Sinar mentari menunjukan jati dirinya di timur. Menyinari daerah kawasan elit Cheongdam Dong. Hari begitu cerah. Sejuk. Menyegarkan. Menyusup masuk melalui celah tirai putih yang menutupi jendela berkaca lebar disebuah apartement. Sesosok pria tampan nampak tertidur pulas dan masih bergelung di atas ranjang tidurnya. Nampaknya ia tidak tidur sendirian. Sesosok wanita cantik tidur dengan kepala menyandar di dadanya lalu tangan kecil itu memeluknya. Dan masih berpakaian lengkap. Pria tampan itu mengenakan kaos oblong putih dan celana longgar warna hitam. Lalu istrinya mengenakan kaus putih kebesaran dan minipant warna hitam.

Mata pria itu menatap gundukan tanah berumput hijau segar yang menimbun jasad sang kekasih. Pria tampan itu berjongkok dihadapan gundukan tanah itu meletakkan bunga lili dan mawar itu di atas gundukan tanah itu.

Pria itu merasa ada seseorang dibelakangnya. Ia langsung berdiri dan membalikan tubuhnya saat itu pula ia melihat seorang gadis cantik pergi kulit pucat tinggi semampai dihadapannya. Ia tertegun dan terpaku saat melihat gadis itu. Kini pria tampan itu berjalan mendekat mencoba perlahan memegang wajah gadis. ternyata bukan ilusi. Kini perasaan pria itu bercampuraduk, bahagia, sedih, dan rindu. Gadis canti itu perlahan memelukan pria itu.

Gadis cantik itu menyentuh lembut wajah pria tampan itu yang sedang memeluknya. Pria itu merasakan hangatnya tangan gadis itu dan meremasnya tangan gadis cantik. ia melihat kekasihnya semakin memudar dari pandangannya dan lenyap. Tanpa sadar airmata pria itu mengalir lembut dipipinya.

Tiba-tiba…

“Nanaaaa….!!” teriak pria tampan itu. Pria itu masih memejamkan rapat kedua matanya sambil menggelengkan kepalanya. Tanpa sadar air matanya mengalir pelan disela kelopak matanya yang masih terpejam.

“NANAAAA…. jangan pergi!”

“Jangan…!”

Mata wanita cantik itu terbuka sempurna dari tidurya dan langsung meringsut dari tubuh pria tampan itu dan menghadap pria tampan itu dengan berduduk bersila. Ia mengeryit. Kenapa pria itu memanggil-manggil namanya.

“Iya Oppa aku disini?” jawab wanita cantik itu sambil mengelus pipi pria itu dengan lembut.

Pria tampan itu tersentak membuka matanya dan langsung mendudukkan tubuhnya. Mendapati wanita cantik tersenyum lembut saat melihatnya. Tanpa berpikir panjang pria tampan itu langsung meraih tubuh mungil wanita itu dan kemudian memeluknya erat. Pria tampan itu berkulit putih tinggi. Hidung mancung. Mata yang indah. Bibir merah tipis. Rambut lembut berwarna hitam legam. Dan keturunan orang China. Dialah suami sah wanita cantik yang sedang dipeluk itu. Xi Luhan. Dan masih dalam keadaan acak-acakan karena baru bangun tidur.

Oppa! kau mimpi buruk tentang aku, ya?” tanya wanita cantik itu polos. Wanita cantik itu memeluk erat pinggang suaminya dan mendongak kearah wajah suaminya yang tampan itu dengan rambut yang masih berantakan. Luhan hanya mengangguk pelan dan sedikit menundukkan kepalanya lalu mencium ujung kepala istrinya.

Wanita cantik itu adalah Hwang Nana. Wanita cantik itu berkulit putih pucat. Hidung mancung. Bibir tipis berwarna merah ceri. Tinggi semampai dan ramping. Berambut hitam kecoklatan yang menjuntai indah punggungnya. Mata sipit namun indah. Malah memeluk erat suaminya. Ia mendengar suara detak jantung suaminya berdetak tidak biasanya. Sedikit lebih cepat.

“Memangnya dimimpi itu aku sedang apa sampai kau teriak-teriak seperti itu, heumm?” tanya Nana polos sambil melipat bibir kedalam dan sambil mendongak menatap polos kearah Luhan. Mau tak mau membuat Luhan gemas dan tersenyum geli melihat wajah polos istrinya karena keinginantahuan istrinya tentang mimpinya.

Luhan memutar bola mata malas. “Rahasia.” Jawab Luhan enteng. Luhan masih ingin menggoda istrinya. Entah kenapa menyenangkan sekali melihat wajah kesal dan cemberut istrinya.

Sekarang wajah polos itu berganti dengan wajah cemberut. “Oppa! Aku tidak suka ada yang disembunyikan dariku baik itu kecil maupun besar dan baik itu buruk ataupun baik!” ujar Nana kesal. Berusaha melepaskan pelukan Luhan yang mengunci erat pinggangnya.

“Oh begitukah?” goda Luhan dengan seringai menyebalkan.

Oppa!

Luhan mendesah pelan lalu berujar. “Baiklah. Dalam mimpiku… Kau pergi meninggalkanku untuk selamanya. Sayang…” Sambil membelai lembut sisi wajah Nana.

Nana sedikit terkejut mendengar penuturan Luhan―suaminya. Apa Nana tidak salah dengar? Nana mendongak kearah wajah Luhan dan mendapati wajah Luhan menunduk menatapnya.

“Aku tak akan meninggalkanmu untuk selamanya kecuali kematian yang memisahkan kita, Oppa!” balas Nana.

Luhan menyadari ekspresi seperti itu kini Luhan malah semakin memeluk erat Nana hingga istrinya sesak napas kehabisan pasokan oksigen. “Oppa! Lepaskan pelukanmu!” desis Nana berusaha melepaskan pelukan erat Luhan.

Anii.” ujar Luhan pelan. Menggelengkan kepalanya pelan malah makin mengeratkan pelukannya.

“Yak! Oppa! Kau mau membunuhku dan calon anakmu, eo?” sungut Nana khawatir kalau calon anaknya kenapa-kenapa. Dan usia kandungannya masih dua bulan. Usia kandungan Nana masih sangat rentan sekali untuk keguguran.

Luhan langsung mengerjap dan menunduk menatap Nana bersungut seperti itu membuatnya terkekeh dan perlahan melepaskan pelukannya. Nana tahu kalau perasaan Luhan masih kacau karena mimpinya. Ia mencondongkan tubuhnya dan salah satu tangannya meraih gelas di atas meja yang berisi air minum. Lalu menyodorkan kearah Luhan agar meminumnya.

“Ini airnya Oppa.” Ujar Nana menyodorkan gelas itu.

“Gomawo. Chagiyaa..” ujar Luhan kalem sambil mengusap lembut ujung kepala Nana. Luhan mengambil gelas itu dan meneguk airnya hingga tandas.

Nana langsung meraih gelas kosong itu dari tangan Luhan dan menaruh kembali di atas meja di samping ranjang tidur mereka. Luhan sekarang memosisikan tubuhnya bersandar di headboard ranjangnya. Lalu Nana langsung menggamit di lengan kekar Luhan. Tapi Luhan malah memeluknya menyandarkan kepala Nana di dadanya. Dan kemudian keheningan menyapa mereka. Luhan dan Nana masih menikmati kehangatan dan kenyamanan mereka dan mereka memiliki waktu luang dan tidak perlu terburu-buru untuk menikmatinya. Salah satu tangan Luhan menarik selimut tebal itu untuk menghangatkan tubuh istrinya yang sekarang ada didalam pelukannya. Romantis sekali…

Kau memang beruntung sekali Nana. Mendapatkan suami yang tampan. Yang  menyayangimu. Yang tulus mencintaimu.  Yang peduli padamu. Yang menjagamu 24 jam. Seperti Luhan.

Mengapa mimpi itu serasa begitu nyata? Terasa seperti dalam tiga hari itu adalah detik demi detik disaat kau akan meninggalkanku untuk selamanya dalam mimpiku. Membuatku takut akan kehilanganmu, Nana. Dan sekarang aku bersyukur. Itu hanya mimpiku saja.” Batin Luhan mendesah lega. Luhan mengeratkan pelukannya pada istrinya sambil mata terpejam.

Batin Nana juga membalas ucapan batin Luhan. “Benarkah begitu? Dan dalam hari-hari itu aku tidak akan pernah meninggalkanmu untuk selamanya, Oppa! Iya benar. Itu hanya mimpimu.” Sambil menyurukkan kepala didada Luhan―suaminya dan memejamkan matanya sambil mengulumkan senyuman.

Tiba-tiba suara lembut memecahkan keheningan dikamar itu. “Oppa…” Nana bergumam pelan lalu kedua mata Nana terbuka sempurna. Namun cukup terdengar jelas ditelinga Luhan.

“Ada apa?” tanya Luhan datar. Luhan membuka matanya dan sedikit menundukkan kepalanya lalu menyandarkan pipinya di kepala Nana sambil memeluk Nana mesra.

“Aku ngidam Oppa… T-tapi Oppa jangan marah ya.” Ujar Nana memohon melas dengan wajah berekspresi polos.

“Ngidam?” beo Luhan memastikan ucapan Nana benar. Nana mengangguk pelan sambil menatapnya  polos. Lagi lagi membuat Luhan terkekeh melihat Nana dengan wajah memohon seperti itu.

“T-tapi Oppa jangan marah ya?” ujar Nana hati-hati. Takut kalau Luhan marah dengan permintaannya untuk yang satu ini.

Luhan menggeleng pelan. “Anii…” sambil mengelus ujung kepala Nana dengan lembut. Kini senyuman lembut terukir indah dibibir ceri Nana.

Kini kedua tangan Nana beralih merangkul tengkuk Luhan yang tadinya dipinggang Luhan dan berucap memperingatkan Luhan. “Oppa. Biarkan aku yang melakukannya. Dan Oppa jangan sampai lepas kendali. Ara!”

Luhan mengerjap. Ia tidak tahu yang dimaksudkan Nana. Luhan yang belum mencernak kata-kata yang terucap dari Nana. Buru-buru Nana menarik tengkuk Luhan―suaminya tanpa ragu sedikitpun menautkan bibirnya pada suaminya. Sedangkan Luhan terlalu terkejut dengan sikap istrinya itu. Membuat matanya membelalak lebar adalah gerak bibir Nana yang tergesa-gesa dan tak beritme. Langsung membuat jantung Luhan berdebar dan berdetak kencang. Seperti terkena sengatan jutaan volt listrik mengalir ditubuhnya bahkan sekarang otaknya.

Perlahan Luhan memejamkan matanya dan membalas ciuman Nana. Lengan kekarnya sedikit menekan punggung bawah Nana ketubuhnya. Perlahan Luhan memutar posisinya yang menyandar headboard ranjangnya dengan Nana. Salah satu tangan mengunci erat pinggang Nana dan tangan lainnya menyangga di headboard.

Ciuman mereka berlangsung lama dan sekarang ciuman Luhan yang begitu menuntut dan rakus itu. Hingga membuat Nana kewalahan meladeninya. Perlahan Luhan merebahkan lembut tubuh ramping Nana di atas kasur yang empuk tanpa melepaskan ciumannya. Kini Luhan menindih Nana dengan menyangga kedua tangannya untuk menumpu tubuhnya. Lalu tangan Nana mengalungkan dileher Luhan untuk menariknya lebih dekat.

Ting. . . Ting. . . Ting. . .

Tiba-tiba suara tangan memencet bell pintu apartementnya sepagi ini dan lebih lagi membuat Luhan kesal adalah suara bell itu menginterupsi ciumannya dengan Nana. Dan Luhan harus merelakan dirinya melepas ciumannya dari bibir Nana yang menggoda itu. Ia menoleh kearah pintu tanpa beranjak dari posisinya. Nana mendorong dada Luhan agar menyingkir dari atas tubuhnya. Luhan kembali menoleh kearah Nana yang tidak bisa berkutik dibawahnya dan karena penolakan Nana dan Luhan harus beranjak dari posisinya dan menegakkan tubuhnya dan mendengus pelan.

Oppa menyingkirlah!” ujar Nana sambil mendorong dada Luhan untuk menyingkir dari atas tubuhnya.

Beranjak dari posisinya dan menegakkan tubuhnya dan mendengus kesal. “Mengganggu saja!” umpat Luhan kesal. Merutuki orang yang datang bertamu sepagi ini di apartementnya.

Nana melihat Luhan beranjak dari atas tubuhnya dan mendengar Luhan mengumpat kesal langsung tertawa. “Waeyo, Oppa?” tanya Nana. Setengah tertawa. Apa lagi melihat wajah Luhan seperti itu wanita cantik itu tidak bisa menghentikan tawanya.

Nana memiringkan tubuhnya sambil menyangga kepala dengan salah satu tangannya dan memeluk bantal yang dihadapannya lalu mata menatap kearah dimana Luhan berjalan menuju pintu. Sedangkan Luhan tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Nana. Ia berjalan menuju pintu kamarnya dengan langkah gontai lalu tangannya meraih kenop pintu itu dan perlahan membuka pintu itu dan berlalu menuju pintu masuk apartementnya.

Sepeninggalan Luhan. Nana sendirian dikamar Luhan. Ia beranjak dari atas ranjang itu. Sesekali ia menguap dan langsung reflek menutupi dengan kedua telapak tangannya. Menapakkan kakinya dilantai apartement itu dan beranjak berdiri dan merapikan tempat tidur itu yang seperti kapal pecah. Setelah itu, ia berjalan menuju kamar mandi Luhan dan masuk kedalam untuk membersih diri.

Luhan memandang monitor bell itu masih berantakan. Seorang pria bertubuh tinggi. Berkulit putih. Mata tajam. Rahang tirus. Wajah tampan namun dingin. Hidung mancung dan bibir tipis.  Nampaknya seperti sekertarisnya. Kenapa ia datang sepagi ini? Luhan langsung memencet tombol  itu.

Plip. Plip.

Pintu itu terbuka. Lalu pria yang mengenakan kemeja putih berkerah hitam dan mengenakan jeans hitam yang berdiri diluar sana lalu memasuk ruangan apartement itu dan beberapa langkah ia menghentikan langkahnya dan membungkuk hormat pada Luhan.

Pria itu berujar to the point setelah membungkuk hormat. “Xi Sajangnim, maaf saya mengganggu Anda sepagi ini. Kemarin sore Anda menyuruh saya, Kim Jinwoo, dan Kang Seungyoon beserta Nam Taehyun untuk mempersiapkan pesta kejutan ulang tahun untuk istri Anda. Persiapan pestanya sudah siap. Tapi hari ini saya tidak bisa karena ada sesuatu yang mendadak.”

“Yak! Song Minho!… Kenapa? Apa kau sedang kencan hari ini dengan sesorang, heum?!” potong Luhan ketus. Sesekali Luhan ingin menggoda pegawainya yang satu ini. Pria tampan dan berwajah dingin ini tak lain Song Minho sekertarisnya diperusahaannya sekarang.

Pertanyaan itu langsung membuat Minho terkejut langsung menatap Luhan dan sedikit memerah dipipinya. Ia menunduk kepala lagi dan langsung mengusap tengkuk dengan salah satu tangannya. Nampaknya Minho salah tingkah membuat Luhan langsung terkekeh melihat Minho memerah dan untuk pertama kalinya Luhan melihat wajah Minho tersipu. Song Minho terkenal dengan karakter dinginnya dan berkarisma lalu sekarang mendadak malu dan memerah. Membayangkan saja sudah membuat tertawa. Dan tebakan Luhan seratus persen benar. Membuat Minho terdiam dan menunduk tanpa berani menjawab pertanyaan itu.

“Aaa… Minho ssi kau dan ketiga sahabatmu itu apa mereka juga sedang kencan sekarang?” tanya Luhan penasaran.

“Aniyaaa Xi Sajangnim~~~!” elak Minho.

“Kau mengelak tapi kenapa pipimu memerah seperti itu? Kau tak perlu berbohong Song Minho! Aku tahu itu.” Ujar Luhan menggoda Minho. “Aaa… Gadis yang bekerja bagian marketing itukan?  Siapa namanya? Park Sandara? Tidak heran kalau kau menyukainya. Dia cantik. Cerdas. Sopan. Kepribadian menarik. Dan satu, dia berhasil membuatmu jatuh cinta padanya. Benar begitu, Song Minho ssi?”

Minho langsung matanya membelalak terkejut mendengar pernyataan bertubi-tubi dari Luhan. Bagaimana presdirnya bisa tahu tentang hubungannya dengan Sandara? Minho hanya terdiam hanya menatap lurus Luhan yang berada dihadapannya tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Luhan terkekeh melihat reaksi Minho. Membuat pria itu semakin tersipu.

“Minho ssi ajak saja kekasihmu dan ketiga sahabatmu untuk datang kepesta ulang tahun istriku. Tidak ada tapi-tapian untuk menolak permintaanku atau kalau kau menolak. Tidak ada pilihan lain selain memecatmu dan kedua sahabatmu, ara!” pungkas Luhan seperti mengancam. Dan Luhan sedari tadi masih mengulumkan senyuman.

“Jangan Xi Sajangnim. Apa boleh saya datang menghadiri pesta ulang tahun istri Anda?” tanya Minho hati-hati.

“Tentu saja boleh. Aku tadi sudah bilangkan? Aku secara langsung sudah mengundangmu Minho ssi untuk datang di pesta ulang tahun istriku.”

“Ne. Ne. Xi Sajangnim. Saya sebaiknya pergi terlebih dulu ketempat itu untuk mengecheck keadaan disana Sajangnim. Maaf Sajangnim mengganggu pagi Anda.” Ujar Minho sebelum membungkuk hormat.

“Hmm. Ya. Pergilah!… Dan jangan lupa buatkan jadwal besok untukku.” Pungkas Luhan. Luhan mengakhir percakapan sekilas dengan Minho sambil mengulumkan senyuman.

Sebelum membungkuk hormat. “Ne, Xi Sajangnim.” Minho membalikkan tubuhnya dan  melangkah pergi menuju pintu keluar apartement Luhan dan menutupnya dari luar.

“Han Jieun?” panggil lembut pria lewat sambungan ponselnya. bertubuh tinggi putih. Tampan. Mata tajam. Bibir tipis. Hidung mancung. Tubuh propesional. Rambut lembut dicat kecoklatan. Sedang berdiri di depan pintu rumah seseorang. Dia mengenakan kacamata hitam. Topi berwarna hitam dan dipakai terbalik. Ia mengenakan kemeja warna putih motif dibalut dengan jas warna abu-abu bergaris dengan bawahan celana jeans warna hitam dan tak lupa ia memakai sneaker warna abu-abu. Dialah Oh Sehun.

Oppa? Waeyo?” tanya seseorang diseberang telepon.

“Keluarlah!” perintahnya singkat sambil melihat jam uranium berwarna hitam legam yang melingkar di tangan kirinya. “Sudah setengah delapan pagi.”

“Keluar?” beo Jieun tak mengerti. “Baiklah! Tutup sambungannya, Oppa!” jawab suara seberang sana.

Ne…” balas singkat.

Tut. Tut. Tut.

Sehun menutup sambungan telepon dengan seseorang. Ia memasukkan ponselnya kedalam saku jasnya. Ia kemudian membalikkan tubuhnya kearah halaman. Ia menghirup udara segar. Mata Sehun menyapu seluruh pekarangan rumah itu dari balik kaca mata hitamnya. Tangan kirinya menggantung bebas dan masih menggenggam seikat buket bunga tulip warna merah segar yang masih mengatup. Tiba-tiba suara menginterupsinya untuk berbalik.

Clek.

Pintu depan terbuka perlahan. Dan sosok cantik keluar dari balik daun pintu kayu ek itu. Mengenakan kemeja putih kebesaran seperti milik seorang laki-laki dan mengenakan minipant hitam dan rambut masih sedikit berantakan habis tidur. Perlahan Sehun berbalik kearah gadis itu dan tersenyum lembut. Sedangkan gadis itu terkejut melihat sosok pria tampan dihadapannya. Sehun mengulurkan buket bunga itu kearah gadis itu dan gadis itu menerimanya. Tapi gadis masih menatapi Sehun dengan tatapan selidik.

Waeyo?” tanya Sehun penasaran.

Gadis itu tak mengalihkan tatapannya dengan tatapan selidik. Siapa orang tampan ini? Sehun Oppa mungkin? Tapi ia sedang sibuk. Ia menggeleng pelan menolak spekulasinya. Ia mendial up nomor ponsel kekasihnya. Lalu meletakan ponsel itu di telinganya. Tiba-tiba ponsel Sehun bergetar dan Sehun mengambilnya dari balik saku jasnya lalu menggeser tombol hijau pada layarnya dan menempelkan ke telinganya. Gadis itu terkejut melihat Sehun mengangkatnya.

“Nuguya?” ujarnya masih menatap Sehun selidik.

“Han Jieun kau tak mengenaliku bahkan suaraku?” goda Sehun. Melihat reaksi gadis cantik dihadapannya.

“Eung?”

Gadis itu terkejut melihat Sehun tiba-tiba mendekatkan wajah di bawah telinga gadis itu. Pipi gadis itu langsung memanas. Jantungnya berdetak tidak karuan. Bertalu-talu. Lagi lagi gadis itu dikejutkan Sehun dengan lembut mengecup pipi halusnya. Matanya semakin membulat. Setelah Sehun menjauh dari wajahnya. Sehun tersenyum melihat reaksi gadis itu. Gadis cantik berkulit putih. Rambut hitam lembut menjuntai indah dipunggungnya. Hidung yang  mancung. Mata tajam namun memikat. Bibir tipis berwarna merah ceri. Tubuh tinggi semampai. Ramping dan lekukan tubuhnya nyaris sempurna terbentuk S-line. Gadis yang diciri-cirikan adalah Han Jieun. Gadis yang berdiri di hadapan Sehun sekarang. Yang tingginya tidak lebih dari dada Sehun.

Jieun dengan berani mengulurkan salah satu tangannya melepaskan kacamata hitam yang dikenakan Sehun saat ini. Tapi Sehun malah menarik tangannya dan Jieun terlonjak terkejut ke tubuh Sehun dan dengan cepat lengan kekarnya melingkar ketat dipinggang ramping Jieun lalu memeluknya erat. Dan menenggelamkan wajahnya dibahu Jieun dan berbisik ditelinga Jieun.

“Aku merindukanmu, Jieun…” suara husky Sehun menggelitik indera pendengaran Jieun.

Nana keluar dari balik pintu kamar mandi sambil mengusap kasar rambutnya yang basah dan saat itu pula melihat Luhan masuk kedalam kamarnya dan masih mengenakan kemaja putih kebesaran milik Luhan dan minipant warna hitam. “Siapa tadi?” tanya Nana penasaran.

“Song Minho. Sekertarisku.” Ujar Luhan singkat sambil menutup pintu itu.

Nana masih penasaran dengan kedatangan sekertaris Luhan ke apartement suaminya. “Lalu, kenapa ia datang kesini?” tanya Nana lagi.

Luhan yang hendak pergi kekamar mandi terpaksa menghentikan langkahnya didepan Nana dan menjawab pertanyaan Nana sekarang. “Dia datang minta ijin karena ada urusan mendadak.” Ujar Luhan jujur.

“Aku dulu pernah bertemu dengan Minho dikantin perusahaanmu Oppa. Aku juga pernah berpas-pas dengan Minho di lift tapi ia menggandeng seorang wanita cantik tidak salah nama Park?? Park Sandara! Pegawaimu yang bagian marketing itukan?” ujar Nana menganalisis. “Apa Minho sedang kencan dengan gadis itu? Biasanya Minho tipe orang yang dingin yang tak peduli dengan namanya kencan. Apalagi wanita. Tapi gadis itu beruntung sekali gadis itu.” Nana tersenyum-senyum sendiri mengingat Minho.

Luhan langsung terkejut mendengar argumen Nana. Luhan gantian menatap penuh tanya pada Nana. Kenapa ia bisa tahu tentang Minho? Sekarang wajah Luhan sedikit berubah kesal dan mengeryitkan dalam dahinya. Ada apa dengan dirimu, Lu? Cemburu? Mungkin?

Kemudian Nana menatap lagi wajah Luhan berubah sedikit dingin. Nana mengeryit. Ia tidak mengerti. “Kenapa Oppa? Kau marah?”

“Kenapa kau bisa tahu tentang Song Minho?” ujar Luhan kesal tapi wajahnya nampak marah.

“Ya… hanya tahu saja.” Jawab Nana enteng. Masih sibuk mengusap kasar rambut basahnya dengan handuk.

“Kau sering bertemu dengannya dan tak menemuiku, eo?” tanya Luhan gusar.

Nana sekarang mulai tahu jalan pikiran Luhan. Nana tahu Luhan sekarang nampak sedang tergulung cemburu. “Hmm…” menatap polos Luhan yang kesal. “Kenapa kau marah? Diakan hanya sekertarismu…”

Luhan sekarang malah perkacang pinggang dan menghujami tatapan tajam pada Nana. Wanita itu tersenyum seringai dibibirnya. Nana menjalankan aksinya untuk menggoda Luhan. Ia ingin tahu seberapa besar rasa cemburu yang melanda di diri Luhan sekarang. Kini Nana melemparkan handuk disofa hitam disebelah sana. Wanita itu melangkah sekali untuk berdiri lebih dekat dengan suaminya.

Dengan berani tangannya meraba dada Luhan dengan seductive dan arah matanya mengikuti arah gerak lincah tangannya. Kini perlahan naik dileher Luhan. Salah satu tangannya merangkul tengkuk Luhan dan salah satu tangannya meraba rahang tajam Luhan. Tapi Luhan menolak sentuhan Nana saat meraba rahang tajam miliknya. Melihat reaksi Luhan membuat Nana semakin semangat menggoda suaminya yang tampan ini.

Kemudian kedua lengan Nana merangkul tengkuk Luhan dengan sempurna lalu tiba-tiba menarik sedikit arah ke wajahnya hanya terpaut lima senti saja antara wajahnya dengan wajah suaminya. Luhan terkejut melihat sikap frontal istrinya reflek tangan Luhan yang sedari tadi berkacak pinggang kini beralih memegang pinggul ramping wanita cantik itu. Nana sedikit menarik tengkuk Luhan dan menyisakan jarak satu senti saja dari bibirnya. Nana memiringkan wajahnya dan berbicara husky tepat satu senti di depan bibir Luhan.

I’m Yours. But I know you so jealous with me now.”ujar Nana menggoda Luhan dengan suara huskynya.

Keterkejutan Luhan hilang begitu saja dan kini Luhan bergantian menatap Nana dengan seductive. “Of course. You know that. I’m jealous with you because you’re is mine. And you wanna try seduce me with this way.” Balas Luhan dengan suara huskynya. Dan lengan kekarnya menarik pinggang Nana dalam pelukannya.

You wanna gone on to kiss me?” bisik Nana. Menginterupsi Luhan yang nyaris menyentuh bibirnya.

Luhan mengerjap. Sedikit menjauh dari wajah Nana hanya terpaut dua senti saja. “Certainly, today you so have something on the my brain. Sexy…” Salah satu jemari tangannya menyelipkan rambut basah Nana kebelakang telinga. “You very much so beautiful to by way of myself.” Tergambar jelas dibibir Luhan terbentuk seringai buas.

Nana membalas seringai Luhan. Dia juga tidak ingin kalah begitu saja dengan ucapan vulgar Luhan yang ditujukan padanya. “So… Let me prior do kiss you’re lips. But you have go to…” ucapan Nana menggantung lalu mendorong kuat dada Luhan dan akhirnya terlepas. “… have go to bathe, now!” seru Nana dengan napas terengah-engah setelah mendorong kuat Luhan.

Luhan terkejut belum siap dengan penolakan tiba-tiba dari Nana dan membuatnya terhuyung kebelakang. “Waeee?!!” protes Luhan.

Oppa kau bau keringat! Sekarang lebih baik Oppa mandi terlebih dulu. Air hangat sudah ku siapkan. Aku mau membuat sarapan untuk kita.” Ujar Nana setelah mengatur napasnya sambil berlalu melewati Luhan.

Namun hendak melangkah. Pergelangan tangan Nana ditangkap oleh tangan kekar Luhan. Nana langsung menoleh kearah Luhan yang sedang menatapnya lekat. Nana memutuskan kembali melangkah dan berhenti lalu berdiri tepat dihadapan suaminya.

“Ada apa lagi?”

Ekspresi Luhan tiba-tiba berubah dari tatapan lekat digantikan tatapan memohon dan memasang wajah super imut. Membuat Nana mendengus kesal. Nana paling tidak suka kalau Luhan memasang ekspresi seperti itu. Lalu Luhan mengulurkan salah satu tangannya diperut Nana dan mengusap lembut lalu menciumnya. Reflek jemari Nana mengusap lembut rambut suaminya. Sentuhan dari Nana membuat Luhan nyaman. Luhan kembali menegakkan tubuhnya lalu menatap Nana sekilas lalu menarik pelan tangan Nana untuk mengikutinya.

Nana mengeryit. Tidak mengerti. Ia hanya patuh saja. “Kemana?” tanya Nana penasaran.

“Ke kamar mandi…” ujar Luhan kalem setelah berdiri di depan pintu kamar mandi. “Ayo kita mandi bersama…”

Ajakan Luhan sukses membuat Nana langsung terkejut dan mata Nana membulat dan sedikit memerah dan bahkan ternganga. “OPPA! NEO MICHEOSOO!!!!” pekik Nana. Tapi Luhan malah menariknya masuk kedalam kamar mandi. Nana yang berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Luhan.  Tetap saja nihil. Percuma saja Nana melawan Luhan. Tetap saja. Kalah.

Oppa! Lepaskan tanganku sekarang!” ujar Nana sedikit ketakutan.

Melihat Luhan dengan seringai dibibirnya lalu menutup pintu kamar mandi itu dan menguncinya dari dalam dan membiarkan kunci tertetap tergantung disana. Luhan menarik tangannya dan mendorong pelan ke daun pintu itu dan menghimpit lalu merangkapnya. Lagi lagi Nana harus terkejut melihat sikap suaminya ini.

Oppa! Apa maumu, eo?” desis Nana. Sambil kedua tangannya mencoba mendorong bahu Luhan untuk memaksimalkan jaraknya dengan Luhan.

Luhan hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan Nana. Ia hanya mematung menatap lekat Nana tanpa berbicara sedikitpun. Nana mendongak melihat ekspresi suaminya begitu dingin. Nana yang sedari berontak mencoba melepaskan dari ketatnya kurungan Luhan. Wajah Luhan yang begitu dekat dengan wajah Nana membuat napas hangat mereka bertemu. Mata Nana bergerak-gerak mengamati ekspresi suaminya ini dan sekarang kedua tangannya berada digenggaman Luhan yang merangkapnya dan membuatnya tidak bisa bergerak.

You wanna kiss me now?” tanya Nana pelan.

Luhan hanya diam menatap wajah cantik istrinya. Kini daerah pelipis Luhan berkeringat dingin. Tubuhnya sedikit bergetar. Sebenarnya pertanyaan Nana memang Luhan inginkan hal itu tapi ada sesuatu yang membuatnya mengurungkan niatan itu. Dan sekarang Luhan tidak tahan lagi. Luhan melepaskan diri dari Nana. Nenarik tangan Nana pelan agar menjauh dari daun pintu. Salah satu tangan Luhan membuka kunci kenop dan membuka pintu itu lalu menarik Nana keluar dari kamar mandi itu. Nana yang sekarang tidak mengerti dengan sikap aneh suaminya ini.

Oppa, kau ini kenapa?” tanya Nana penasaran.

Luhan hanya diam tak menjawab lagi pertanyaan yang dilontarkan Nana. Tiba-tiba Luhan melayangkan ciuman singkat yang membuat Nana langsung terkejut dan membeku ditempat yang dilakukan tiba-tiba dari suaminya dan menatap aneh suaminya.

Kini Luhan sudah melepaskan ciumannya. Dan Nana sudah tersadar. Tiba-tiba telapak tangan Nana memegang kening suaminya. Nana merasakan keringan dingin yang bermunculan di kening dan pelipis Luhan. Tapi suaminya memegang tangannya dan memindahkannya. Nana melihat ekspresi Luhan seperti tersiksa.

“Nana… Lebih baik kau pergi dapur buatkan kita sarapan. Palliwa!” ujar Luhan dingin dan berlalu tanpa memperdulikan Nana lalu melangkah ke dalam kekamar mandi.

“Dasar aneh!” cibir Nana pelan.

Nana beranjak berjalan keluar dari kamar suaminya. Sementara suaminya didalam kamar mandi mendesah lega karena telah menyelesaikan urusannya dan sesegera melanjutkan acara mandinya.

Oppa…” guman Jieun pelan. Gadis itu baru menyadari yang sedang memeluknya sekarang. Jieun hapal mati dengan aroma tubuh Sehun. Perlahan kedua tangannya memeluk punggung bidang Sehun dan mengelus lembut.

Sehun kini melepaskan pelukannya dan matanya meneliti Jieun dari atas ke bawah. Lalu mengeryitkan dahinya. “Baju siapa yang kau pakai? Apa ada namja lain dirumahmu, eo?” tanya Sehun penasaran.

“Ha?! Memangnya aku terlihat wanita murahan apa?!” semprot Jieun kesal sekaligus marah. “Ini kemejamu! Opppa sayang… kau tahu sejak kau pulang dari perjalanan bisnismu di Beijing kau terlihat aneh, ara!”

Sehun langsung tersenyum geli mendengar kekesalan Jieun yang ditujukan padanya. Jieun yang menatap Sehun tersenyum geli tak pelak membuat Jieun bertambah kesal dengan sikap Sehun.

“Kau cantik sekali jika marah seperti itu…” ujar Sehun kalem sambil mengelus pipi Jieun.

Jieun mendengar kalimat yang diucapan Sehun langsung ternganga. Sedikit memerah sekaligus kesal. “Jincha!” pekik Jieun geram. “Kau ini datang hanya untuk mengejekku, eo? Pergi sana!” usir Jieun ketus. Tapi sebenarnya Jieun rindu setengah mati pada pria yang ada dihadapannya sekarang.

Jieun berbalik melangkah masuk kedalam rumah tapi langkahnya terhenti. Tiba-tiba tangan kekar menyelinap masuk dipinggangnya dan merasakan kehangatan dipunggungnya. Ternyata Sehun yang memeluknya. Lalu dagu pria itu menyangga di bahunya. Jieun merasakan napas hangat menerpa lehernya seperti tersetrum sengatan jutaan listrik ditubuhnya. Ia menutup mata untuk menahan diri untuk tidak merasakan sentuhan dari Sehun terlebih lagi dilehernya. Ia berharapa Sehun untuk tidak melakukannya tapi harapan sia-sia. Sehun malah dengan lembut mencium leher jenjang miliknya. Membuatnya frustasi menahan gejolak didadanya. Ia mematung dan pipinya semakin memanas.

“Op-oppa lepas… Le-lebih kita masuk saja.” Ujar Jieun gugup menginterupsi Sehun yang mencium lehernya lalu melepas jemari Sehun yang ada pinggangnya.

“Oh… Ne…” Sehun menarik tangannya dari pinggang ramping milik Jieun. Kemudian Sehun melihat punggung Jieun semakin menjauh lalu membukakan pintu untuknya.

Sehun mengikuti Jieun masuk kedalam rumah. Tiba-tiba tangan Jieun dicegah oleh Sehun. Jieun langsung menoleh kearah tangannya lalu mendongak kearah Sehun. Jieun menatap Sehun yan tersenyum lembut padanya.

“Ayo kita kencan…” ujar lembut Sehun. Tiga kata itu sukses membuat Jieun terdiam terkejut dan sedikit ternganga melihat Sehun.

Jieun yang hendak menjawab tiba-tiba Sehun langsung melayangkan ciuman kilat. Membuat Jieun membeku ditempat masih belum bisa merangkai kata-kata untuk menjawab Sehun. Pipinya kembali memanas. Jantungnya kini berdetak kencang. Kebat-kebit. Darah Jieun berdesir.

Matanya kini menatap tepat di iris coklat milik Sehun. Tanpa berkedip sedikit pun. Sehun tersenyum manis melihat reaksi Jieun dan sedikit menjauh wajahnya dari Jieun. Lalu mengecup lembut pipi Jieun.

“Sayang… mandilah… kau sedikit bau alkohol.” Sehun berbisik telinga Jieun.

Jieun mengerjap. Eh? Lalu mata Jieun menatap horor kekasihnya. “Jangan mengikutiku!” seru  Jieun pada Sehun sambil berjalan menuju kamarnya. “Tetap disana Oppa! Aku mendengar suara derap langkahmu.” Sehun berjalan hendak mengikuti Jieun. Mau tak mau membuat Jieun berbalik lalu menatap tajam Sehun yang hendak berjalan kearahnya.

“Anjha!”  seru Jieun menatap tajam Sehun.

Sehun menurut setelah mengucap dengan setengah hati. “Araseo!”

“Good Boy!” ujar Jieun datar.

Jieun kembali melangkah menuju kamarnya sementara Sehun menatap punggung Jieun menjauh sambil tersenyum penuh arti. Tiba-tiba rasa mengantuk menguasainya. Sehun merebahkan tubuhnya disofa panjang itu. Dan tertidur lelap tanpa melepas topi dan kacamata hitamnya.

Satu jam kemudian. Jieun keluar mengenakan kaos longgar abu-abu lalu berbalut blazer hitam selutut dan jeans hitam panjang. Lalu mengenakan boot higheels warna hitam bertali. Tak lupa ia menyanggul tali tas kecil dibahunya. Ia membiarkan rambutnya terurai indah dipunggungnya. Ia menuju ruang tamu ia melihat Sehun tertidur disofa. Jieun sedikit mempercepat langkahnya kearah Sehun. Gadis itu hendak memarahi Sehun yang tertidur di sofa tapi ia mengurungkan niatnya karena melihat wajah Sehun terlihat kelelahan. Ia mendudukan tubuhnya disamping Sehun. Jieun menatap lekat Sehun yang sedang tertidur lelap lalu tangannya melepaskan kacamata hitam dan topi milik Sehun dengan pelan.

Oppa… Kau ini kenapa masih saja bisa tidur dengan benda ini yang mengganjal di kepalamu, eo?” gumam Jieun pelan. Tersenyum lembut sembari mengelus lembut ujung kepala Sehun.

Sementara ditempat berbeda Song Minho, Kim Jinwoo, Nam Taehyun dan Kang Seungyoon. Sedang sibuk mengecheck hotel termewah di Seoul terletak dikawasan Yongsam, Hannam-dong. Mereka sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Tiga jam kemudian. Mereka menghentikan aktifitas mereka dan sepakat untuk bertemu di ballroom mewah itu.

“Eotteo? Apakah sudah selesai semuanya?” ujar Minho mengawali percakapan. Song Minho melihat reaksi bermacam-macam dari ketiga sahabatnya.

“It’ have done.” Ujar datar Jinwoo. Taehyun hanya mengangguk kepala saja. Dan Seongyoon mengangkat salah tangan ibu jarinya kearah Minho.

“Oh, iya aku hampir lupa untuk mengatakan ini pada kalian…” ujar Minho menghentikan langkah ketiga sahabatnya yang akan keluar dari ballroom itu.

“Apa?” tanya Seungyoon penasaran.

Jinwoo dan Taehyun saling berpandangan lalu berganti menatap Minho penasaran. Ada apa memangnya? Minho mengedarkan pandangannya pada ketiga sahabatnya itu lalu tersenyum sumringah.

“Hmm… Kita diundang secara khusus oleh Xi Sajangnim untuk hadir di ulang tahun Nyonya Xi.” Seru Minho sambl mengulumkan senyuman. Ia puas melihat reaksi ketiga sahabatnya. Ada yang ternganga. Mata membelalak dan meneguk air ludahnya.

Taehyun mengerjap. “Yang kau maksud Nyonya Xi itu Nana?”

Minho mengangguk pelan. “Daebak!!!” seru Jinwoo langsung meluncur dari mulutnya.

“Nana dulukan primadona kampus kita dulu lalu nomor dua Jieun sekaligus sahabatnya!” Celetuk Seungyoon. “Aku juga pernah mendengar kabar pernikahan Nana dan Tuan Xi itu adalah hubungan persahabatan antara orang tua mereka masing-masing dan takdir mempersatukan mereka. Yang ku herankan sekali adalah Jieun. Sudah lama sekali kita tidak bertemu dengan gadis itu. Apa ia diundang Nyonya Xi juga?”

Taehyun dan Jinwoo melihat perubahan ekspresi Minho yang berubah dingin setelah mendengar nama Jieun. Mereka bingung dengan ekspresi Minho. Seungyoon menginterupsi suasana yang sedikit canggung.

“Ah… Minho-ya… Aku lapar… Kau kan sekertaris sekaligus asisten Tuan Xi. Jadi kau harus mentraktir kami makan siang. Ara!!” seru Seungyoon merangkul leher Minho dan Minho hanya mengangguk pasrah dan berlalu Jinwoo dan Taehyun mengekor saja dibelakang tidak mengerti dengan situasi saat ini. Seungyoon sebenarnya tahu tentang perasaan Minho pada Jieun dulu.

“Chagiya… kau masak apa, eo?” tanya Luhan kalem sambil memeluk Nana dari belakang.

Pelukan tiba-tiba dari Luhan langsung membuatnya terkejut. Membuatnya kehilangan konsentrasinya saat ini dengan sikap Luhan sekarang. Luhan menyangga dagunya dibahu Nana melihat tangan istrinya begitu lincah dan telaten mengiris bawang bombai dengan pisau. Sedari tadi Nana sudah menahan diri dengan sikap suaminya yang tampan ini. Kini dagu Luhan berganti dibahu Nana satunya.

Oppa! kau merusak konsentrasiku memasak. Ara!” seru Nana kesal. “Makanannya sudah kusiapkan di meja Oppa. Cepat makan!”

Luhan menggeleng pelan menolak perintah istrinya. “Anii…”

“Akh!” Nana mengaduh dan memegang jemarinya yang teriris itu. Jemari lentiknya terisi dengan aluminium tajam. Darahnya langsung mengucur keluar dengan derasnya.

Reflek Luhan melepas pelukannya langsung meraih jari telunjuk lentik milik Nana dan menyesap darah yang keluar dari jemari Nana itu. “Mianhae Nana…” ucap Luhan langsung minta maaf pada Nana. Istrinya hanya mengangguk pelan. Luhan langsung mematikan kompor itu dan menarik Nana kedalam kekamar mandi lalu membasuh jemari istrinya di wastafel dengan air. Luhan membuka kotak p3k dilemari kaca kamar mandinya. Ia menetesi obat merah. Nana yang menahan perih hanya meringis dengan telaten Luhan langsung menempelkan handplast di jemari lentik Nana tepat dilukanya.

Luhan lagi-lagi minta maaf pada Nana. “Mianhae, sayang. Jemari indahmu terluka karena aku…” sambil memegang jemari-jemari Nana.

Oppa jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ini tak apa Oppa…” memegang wajah Luhan memberikan pengertian.

Luhan menatap lekat tepat di iris coklat Nana. kini kedua tangan Nana berada di leher Luhan mendongak kearah Luhan. Dan sekarang wajah mereka begitu dekat hanya terpaut sepuluh senti saja. Nana melihat rambut Luhan yang basah yang acak-acakan tanpa menutupi keningnya. Tanpa sadar mebuat Nana mengelus sisi wajah Luhan. Lalu Luhan lebih mendekatkan lagi wajah hingga berujar pelan di depan bibir Nana. Tapi lebih tepat ia mengguna suara huskynya.

“Ayo kencan sayang…” ajak Luhan.

Ajakan Luhan sukses membuat Nana terkejut sedikit ternganga. Matanya mengerjap. Lucu sekaligus gemas melihat reaksi Nana. Luhan yang gemas melihat Nana seperti itu tanpa aba-aba Luhan langsung meraup bibirnya dan menguncinya lalu memagutnya dengan lembut. Tapi Nana saking terkejutnya langsung membelalakkan matanya dengan ciuman tiba-tiba yang diberikan Luhan padanya.

Semenit kemudian Luhan merelakan dirinya untuk melepaskan ciumannya. Dan menjauhkan wajahnya dari Nana. Wajah Nana seketika memerah setelah Luhan melepaskan ciumannya dan mata Luhan menatapnya sambil tersenyum lalu tangan Luhan meraih jemari Nana menarik pelan untuk keluar dari kamar mandi yang ukurannya lumayan besar.

“Kkaja!” ajak Luhan. “Kenapa lama sekali besarnya?” tanya usil Luhan sambil menunjuk perut Nana yang masih ramping dengan jari telunjuknya.

Nana tersenyum saat Luhan menggenggam tangannya dari dalam kamar mandi dan mengikutinya. Tapi pertanyaan yang dilontarkan Luhan membuat Nana kesal. “Oppa! Kau ini! Jincha!!!” langsung memukul lengan Luhan hingga Luhan melepaskan jemari Nana dan mengaduh seketika mengelus lengan yang menjadi bekas pukulan Nana.

“Aku hanya bercanda sayang…” ujar Luhan mengelus ujung kepala Nana dengan lembut. “Tapi kau sangat jadi mengerikan jika kau marah!” keluh Luhan mempoutkan bibirnya sambil menatap Nana yang menatapnya tajam.

“Bercandamu tidak lucu, Oppa!” balas Nana ketus. “Salah sendiri menggodaku seperti itu!”

“Dasar wanita! Susah sekali kalau diajak bercanda saat hamil muda…” gumam Luhan pelan.

“Oppa kau bilang apa tadi?”

Luhan menggeleng pelan. “Anii…” mengalihkan tatapan dari Nana lalu merangkul bahu sempit istrinya yang sedang kesal padanya. Lalu melangkahkan kembali kaki mereka ke meja makan di sebelah dapur mini itu.

Dan Luhan mendekatkan bibirnya ditelinga Nana sambil berbisik, “Entah kenapa ya hari ini gairah nafsuku naik saat berada didekatmu, Nana…” suara husky Luhan dan hembusan napas Luhan menerpa leher Nana lalu dengan cepat mencium kilat pipi Nana dan langsung menarik tangannya dari bahu sempit Nana dan sedikit menjauh dari Nana.

Luhan tahu setelah mengatakan hal itu pasti Nana akan memukulnya. Dan Luhan tahu kalau wanita hamil tidak melakukan hubungan intim. Luhan hanya ingin menggoda istri yang cantik ini kesal. Sedang Nana sendiri terkejut dan memerah mendengar kata-kata vulgar yang diucapkan Luhan. Nana yang kesal hendak memukul Luhan tapi dengan sigap Luhan menjauh dan menarik tangannya dari bahunya.

Nana melangkah mendekati Luhan dan memukul dada Luhan. “Dasar mesum! Rasakan itu! Rasakan!” seru Nana yang masih memukul Luhan.

“Ampun! Nana! Ampun!” ujar Luhan merintih kesakitan sambil menangkis tangan Nana yang semakin keras memukul lengannya. Lalu dengan cepat tangan Luhan menahan tangan Nana. “Apa aku harus mencium bibirmu dulu agar kau berhenti memukulku eo?” goda Luhan sambil merendahkan kepalanya kearah Nana.

“Yak!” pekik Nana walaupun disana ada sedikit kegugupan. “DASAR MESUM!!”

Luhan hanya tersenyum geli mendengar Nana mengumpat kepadanya. “Memang! Wae?… Aku sudah lelah Nana berdebat denganmu, sayang. Sebaiknya kita makan lalu kita kencan!”

Luhan menarik tangan Nana pelan menuju kearah kursi makan dan mempersilahkan Nana untuk duduk lalu ia menduduk tubuhnya menghadap kearah istrinya ambil makan menikmati masakan buat istrinya.

“Kau hari ini sangat menyebalkan sekali.” Cibir Nana. Tak pelak Luhan langsung tertawa renyah mendengar cibiran Nana yang ditujukan padanya.

“Memang aku menyebalkan, Nana.” jawab Luhan enteng. Langsung membuat Nana cemberut. Lalu menatap sinis Luhan. Luhan yang melihat reaksi Nana langsung tertawa.

Kemudian suara hening hanya suara sendok, garpu, dan pisau terkadang suara gelas yang diletakkan di atas meja. Beberapa saat kemudian Luhan menyelesaikan acara makannya dan Nana masih asyik melanjutkan acara makannya. Luhan yang melihat Nana makan begitu lahap menyunggingkan senyumannya, ia menyandarkan punggungnya disandaran kursi sambil melipat tangan di dada.

“Pelan-pelan sayang kalau makan. Kau bisa tersedak.” Ujar Luhan pelan memperingatkan Nana.

“Aku sudah selesai.” Ujar Nana meletakan sumpitnya disamping mangkuk keramik porselin putih itu.

“Eh? Sudah selesai?”

Nana hanya mengangguk pelan sambil mengusap bibirnya membersihkan sisa saos dibibirnya dengan tisu. “Biarkan aku yang membersihkannya. Kau lebih baik ganti baju dan siap-siap saja.” Ujar Luhan kalem sambil tersenyum lembut kearah Nana.

Nana hanya mengangguk pelan dan menatap polos kearah Luhan yang berdiri di pinggiran sisi meja makan itu. Nana merasa ada yang aneh didiri Luhan―suaminya itu. Hari ini ada yang berbeda dari Luhan. Senyumannya sumringah sekali bahkan mungkin ceria sekali. Nana yang sedari tadi tidak beranjak dari kursi makannya malah menatap Luhan dengan tatapan penasaran.

“Kenapa kau sedari tadi menatapku seperti itu?” tanya Luhan. “Aku memang terlalu tampan hingga kau tak bisa mengalihkan tatapanmu, ya?”

Luhan membual membuat Nana merasa mual. “Yak! Oppa kau terlalu percaya diri sekali, eo? Siapa bilang kau tampan?” cibir Nana.

“Biar saja!… Kau yang bilang aku tampan dan jawaban itu dari dalam hatimu, sayang…” goda Luhan.

Kena kau Nana. Kena skakmat. Kau tak bisa mengelak Nana. Karena Luhan sudah tahu tentang sebenarnya dirimu Nana. Hingga Nana kehilangan kata-kata untuk membalas kata-kata Luhan. dan mendengus pelan. Luhan hanya terkekeh melihat puas reaksi Nana sambil membawa beberapa mangkuk, piring, gelas dan lain lainnya menuju tempat pencuci piring di dapurnya.

Tangan Jieun tengah-tengah mengusap ujung kepala Sehun. Tiba-tiba tangan Sehun menggenggam tangannya dan langsung membuatnya terkejut. Membuatnya langsung berdiri dan mencoba melepaskan genggaman tangan Sehun. Nampaknya Sehun tidak tidur dan membiarkan Jieun menyentuh wajahnya dengan bebas. Namun mata Sehun masih terpejam.

“Jieun… Bantu sadarkan aku…” ujar Sehun setengah sadar dan Jieun masih sibuk menarik-narik tangannya agar beranjak dari sofa panjang itu.

Jieun membungkuk membantu Sehun untuk beranjak berdiri. Tapi saat berdiri Jieun tidak kuat menahan beban tubuh Sehun yang terlalu berat hingga Jieun keseimbangan tubuh Jieun goyah dan mereka jatuh diatas sofa namun Sehun menindih tubuh Jieun saat itu juga. Wajah mereka begitu dekat hingga hembusan napas mereka bertemu. Wajah Jieun langsung memerah seketika saat dikunci oleh tatap Sehun yang begitu intens. Mereka saling menatap tepat diiris coklat masing-masing. Sekilas Sehun mengulaskan ciuman lembut pada bibir ranum Jieun. Lalu Sehun melepaskan ciumannya dan beranjak dari posisinya begitu juga Jieun.

Sehun beranjak berdiri dan mengulurkan tangan kanan tepat dihadapan Jieun dan salah satu tangannya bersarang disaku kiri celananya. “Kkaja!… Bisakah kita pergi sekarang?” ajak Sehun sambil tersenyum lembut.

Saat itu juga Jieun masih menyisir rambutnya yang sedikit berantakan. Tiba-tiba tangan Sehun mengulurkan kearahnya membuatnya sedikit terkejut. Ia menatap uluran tangan Sehun lalu kearah pemilik tangan itu yang tersenyum kearahnya. Dengan senang hati Jieun menerima uluran tangan Sehun lalu pria itu sedikit menarik pelan tangan gadis itu. Dan Jieun malah menyelipkan jari kurusnya disela jari Sehun lalu salah satu tangannya mengambil tas kecilnya meja. Dan mereka berlalu meninggalkan rumah gadis itu.

Didalam mobil suasana hening menyapa mereka. “Oppa? Eodiseonikka?” tanya Jieun mengawali percakapan mereka. Bertanya pada seseorang yang sedang duduk dibelakang pedal kemudi mobil.

Sehun menoleh sekilas kearah Jieun lalu kembali menghadap kedepan kembali konsentrasi mengemudi, “Grand Hyatt Hotel.” Jawab Sehun enteng tanpa menoleh kearah Jieun.

M-mwo?” Jieun terkejut langsung membelalakan matanya. “Kenapa kesana, eo?”

Sehun mendengus pelan. “Kau ini lupa atau apa, Jagiya? Hari ini hari apa?”

“Hari Minggu, Oppa.”

 “Lalu tanggal berapa sekarang?” tanya Sehun lagi.

“14 Februari.” Jawab Jieun datar sambil melihat tanggal yang tertera di layar ponselnya. “Ada apa Oppa dengan tanggal itu, eo?”

“Jincha!!” seru Sehun tak percaya dengan pertanyaan yang dilontarkan kekasihnya ini. “Sahabat macam apa kau ini, eo? Kau sendiri lupa kalau sahabatmu hari ini ulang tahun?!”

“Hehehe… Aku benar-benar lupa Oppa. Terlalu banyak memikirkanmu!” ujar Jieun polos.

Sehun mendengus kesal. “Kau ini! Kemarin aku diundang Luhan untuk datang ke acara birthday party istrinya dan ia juga menyuruhku mengajak pasanganku yaitu kau.”

“Kenapa kau memberitahuku sekarang, eo? Pakaian kita terlalu santai Oppa. Aku juga belum beli kado buat Nyonya Xi.” Gerutu Jieun panik.

“Kukira kau sudah mengetahuinya ternyata tidak sama sekali. Kau tak perlu membelikan kado buat dia. Aku sudah membuat kado untuk mereka. SEPASANG.” Ujar Sehun menghentikan kepanikan Jieun. “Acaranya memang santai tidak formal, Jagiya.”

Oppa berhenti memanggil dengan sebutan menjijikan ‘itu’!” protes Jieun.

Sehun langsung menoleh kearah Jieun. Mengeryitkan dahinya. Ia tak mengerti yang katakan Jieun. “Apa? Aku tidak mengerti yang kau katakan, Jagiya.”

“Ku bilang berhenti memanggilku dengan sebutan ‘JAGIYA’, ara!” protes Jieun. Sehun memanggilnya dengan sebutan ‘jagiya’ membuatnya kesal dan Jieun menekankan kata ‘jagiya’ pada Sehun. Pria tampan disampingnya akhirnya tertawa mendengar protes kekasihnya yang duduk disebelahnya.

Sehun masih terkekeh apa lagi melihat ekspresi Jieun saat ini. “Wae?” tanya Sehun datar sekali. Bahkan saking datarnya membuat Jieun semakin geram melihat Sehun seperti itu.

“Kau seperti player sedang mencari mangsa!” umpat Jieun kesal. Menatap sinis Sehun. “Kau berubah jadi aneh setelah pulang dari bisnismu di Beijing. Apa kau disana sering keluar malam dan pergi ke diskotik, eo?”

Jieun melihat raut wajah Sehun yang tersenyum miring tanpa dosa membuatnya semakin curiga kalau Sehun sering keluar malam disana dan bersama wanita-wanita disana. Memang Sehun melakukan itu saat disana hanya ingin sekedar melepas penat. Jieun kini geram melihat Sehun disebelahnya. Tanpa sadar Jieun duduk menyingkur menghadap pintu mobil dan memilih mengalihkan pandangannya keluar jendela kaca mobil Sehun dan enggan  menatap pemilik mobil yang ia tumpangi sekarang.

Nana keluar dari kamar Luhan mengenakan kaos putih longgar tanpa lengan dengan jeans hitam lalu berbalut jaket abu-abu gelap tebal serta tak lupa memakai boot highheels hitam setungkai. Dan memakai kacamat hitam tapi hanya untuk menarik rambutnya kebelakang saja. Luhan yang baru membereskan acara makan tadi yang hendak mendudukan tubuhnya disofa hitam itu. tiba-tiba…

Tuk. Tuk. Tuk.

Luhan langsung berdiri matanya mencari sumber suara nyaring itu. Dan pria itu terkejut melihat penampilan istrinya. Lalu kenapa tubuh istrinya sedikit lebih tinggi? Mata pria itu menurun melihat kebawah. Melihat kaki Nana.

“Kau itu sedang hamil, Nana! Lepas sepatu hak tinggimu itu! Aku takut kau dan janin dirahimmu kenapa-kenapa, Ara!” Luhan menatap Nana begitu tajam hingga membuat Nana mengalah dan  menuruti nasihatnya.

Nana kali ini mengalah tapi wajahnya merengut. “Ya… sayang sekali ya nak. Eomma tidak bolehkan Appa-mu memakainya.” ujar Nana polos sambil menundukkan kepalanya seraya kedua tangannya mengelus lembut perut ramping.

Luhan mendengus pelan. “Jangan mengujiku seperti itu, Nyonya Xi. Sikapmu membuatku seperti bersalah. Sekarang lepas sepatu hak tinggimu itu!” seru Luhan dengan suara tenang menahan kekesalannya.

Oppa kau yang melepaskan sepatuku saja, eo?” gantian Nana yang memohon dengan tampang polos sambil beraegyo didepan Luhan.

Luhan mendengus berat dan menuruti permintaan Nana. Luhan sudah melepaskan sepatu yang dikenakan Nana. Ia kembali menegakkan tubuhnya lalu  masuk kekamar. Beberapa menit kemudian Luhan―suaminya keluar dari kamarnya mengenakan kemeja putih lalu merangkap dengan kaos abu-abu longgar berbalut jas panjang selutut warna hitam dan mengenakan jeans hitam dan sneaker hitam bertali putih. Lalu kacamata hitam menghiasi matanya. Dengan gaya rambut yang sedikit berantakan tanpa menutupi keningnya.

Nana langsung terkejut melihat suaminya terlihat seperti bujangan. Kacamata yang ia gunakan sebagai bando seketika jatuh menutupi matanya. Ia mendongak menatap Luhan begitu detail dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sungguh seperti pemuda bujangan yang belum menikah. Lalu Nana melihat tangan Luhan tak melihat sepatu atau apa ditangan Luhan.

Oppa! Sepatuku mana, eo?”

“Tidakku ambil. Yang kuherankan. Kenapa semua sepatumu hak tinggi semuanya, eo?”

“Biar saja!… Memangnya kenapa kalau sepatuku berhak tinggi semuanya?”

“Ya tak apa. Tapi tidak ada sepatumu yang flat satupun, eo?”

“Ada tapi rumahku…”

“Ha?! Tak ada pilihan lain…” Luhan mengulurkan kado warna merah maron berpita emas pada Nana dari balik punggung bidangnya.

Nana terkejut sambil menerima kado dari Luhan. “Apa ini Oppa?”

“Buka saja!” Luhan tersenyum lembut melihat reaksi Nana sambil mengelus ujung kepala istrinya.

Saat Nana membuka kado itu. ia terkejut ternyata sepatu flat warna abu-abu gelap mengkilap dan ada sedikit hiasan diujung kaki. “Sepatu?”

Luhan hanya mengangguk lalu tangannya mengambil sepasang sepatu itu dan berjongkok sambil mengenakan sepatu cantik itu dikaki putih Nana. Nana tersenyum manis melihat perhatian suaminya dan menggigit kuku dijari tangan kanannya. Tidak biasanya Luhan seromantis ini. Luhan kembali menegakkan tubuhnya dan menghadap Nana sambil tersenyum lembut.

“Cantik!” puji Luhan sambil melihat sepatu yang nampak pas dikenakan Nana. Tanpa aba-aba Luhan mencium kilat dibibir Nana. “Itu ciuman untuk mengawali kencan kita hari ini, sayang!” ujar Luhan setelah menjauhkan wajahnya dan tersenyum geli melihat reaksi Nana.

 Nana sendiri langsung membeku ditempat dan kotak kado yang ada ditangan Nana langsung terjatuh diantara kaki Luhan dan Nana. Luhan langsung menyambar tangan Nana dan sedikit menariknya agar melangkah mengikutinya. Mereka keluar dari apartementnya dan menuju Grand Hyatt Hotel.

“Jieun kita sudah sampai… ” ujar Sehun kalem sambil melepas seatbelt Jieun.

“Kau pergi dulu sana aku nanti menyusul.” Balas ketus Jieun tanpa membalikan tubuhnya.

 “Wae? Akukan datangnya bersamamu Jieun ah.” Sehun tidak mengerti dengan jalan pikiran Jieun.

Kini Jieun membalikkan tubuhnya menghadap Sehun. “Terserah.”

Sehun terheran-heran dengan sikap Jieun. “Kau ini kenapa, heh?” tanya Sehun bingung. Jieun langsung membuka kenop pintu mobil itu dan mengabaikan pertanyaan dari Sehun. Ia langsung keluar begitu saja dan membanting pintu mobil itu. dan langsung masuk ke lobby hotel itu.

Tiba-tiba langkah Jieun terhenti didepan pintu masuk lobby hotel ada lengan kekar melingkar dibahu sempitnya. Ia terkejut dan menolah pada pemilik lengan itu dan ternyata Kang Seungyoon. Ia tersenyum kecut. Lalu ia melihat seseorang disebelah Kang Seungyoon. Song Minho. Ia merasa sedikit canggung.

“Jieun ah… Lama tak jumpa?” tanya Seungyoon antusias. “Kau sudah menikah?”

“Owh… Kau.” Ia sedikit canggung dirangkul Seungyoon seperti itu. “Belum.”

“Belum?!” seru Seungyoon. “Lalu siapa yang berdiri sampingmu itu, Jieun?” tanya Seungyoon sambil melihat bingung orang yang menatap Nana tajam dan melepaskan rangkulan tangannya.

Jieun sedikit terkejut melihat Sehun sudah berdiri disampingnya. Jieun sedikit kesal pada Sehun terpaksa memperkenalkan Sehun pada dua temannya ini. “Seungyoon ssi, Minho ssi. Ini kenalkan Oh Sehun tunanganku.” Sehun tersenyum ala kadarnya sambil berjabat tangan dengan teman Jieun ini.

“Kang Seungyoon.”

“Song Minho.”

“Senang bertemu dengan kalian.” Ujar Sehun datar.

Tiba-tiba Jieun melihat dua sosok pria tampan berjalan masuk ke lobby dan berteriak. “Jeogiyeo!”

Jinwoo dan Taehyun berlari pelan kearahnya dan berdiri disebelah Minho. Jinwoo terkejut melihat Jieun yang berubah. “Kau sekarang semakin cantik saja Jieun ah…” puji Jinwoo. Taehyun hanya tersenyum melihat Jieun.

Sehun sedari tadi menahan kekesalan sekaligus cemburu. Apalagi Jinwoo memuji terang-terangan Jieun dan respon Jieun tambah kesal. Jieun memang sengaja membuat Sehun cemburu.

“Siapa dia Jieun ssi?” tanya Taehyun datar matanya melihat Sehun penasaran.

Jieun hendak menjawab pertanyaan Taehyun namun dipotong Seungyoon, “Dia Oh Sehun tunangan Jieun!”

“Ha?! Kau sudah tunangan? Kenapa kau tak mengundang kami, eo?”

“Hahaha… Mian, acara kami sangat pribadi hanya keluarga saja.”

“Oh…” Seungyoon, Jinwoo, dan Taehyun kompak ber oh sedangkan Minho hanya mengangguk mengerti.

“Kalian di undang juga oleh Luhan Oppa?” tanya Jieun penasaran pada keempat pria tampan yang ada dihadapanya sekarang.

Keempat orang tampan ini mengerjap bingung menatap Jieun kenapa Jieun memanggil Luhan dengan sebutan ‘oppa’. “Luhan Oppa? Maksudmu Xi Sajangnim?” tanya Minho tiba-tiba.

Jieun mengangguk. Sehun yang sedari tadi merasa dicampakkan oleh Jieun tiba-tiba Sehun menginterupsi percakapan Jieun dan keempat pria-pria ini. “Permisi mengganggu sebentar. Seungyoon ssi. Dimana ballroomnya?” tanya Sehun pada Seungyoon yang berdiri tepat disamping Jieun.

“Ballroom? Ada dilantai 14, Sehun ssi.” Ujar Seungyoon formal.

“Ow.. Gambsahabnida.” Sehun menganggung pelan dan tersenyum. “Kkaja!” Sehun menyambar tangan Jieun agar mengikutinya.

Chingudeul! Aku duluan!” seru Jieun melangkah meninggalkan mereka berempat ditengah lobby.

“Nee!!!” teriak Jinwoo.

Taehyun menatap punggung Jieun dan Sehun menjauh menuju lift. “Sepertinya aku pernah melihat pria itu? Dimana ya?” gumamnya.

 “Siapa?” tanya Jinwoo setelah mendengar gumamnya Taehyun. Seungyoon dan Minho langsung menatap Taehyun panasaran.

“Tunangan Jieun.” Jawab Taehyun datar. “Siapa? Sehun-ssi?” tambah Seungyoon.

Taehyun mengangguk pelan. “Sepertinya orang itu pewaris Hyundai Grup.”

“HYUNDAI GRUP?!!” seru Minho, Jinwoo dan Seungyoon kompak. “Aku dengar begitu.” Tambah Taehyun.

Mereka sedang sibuk membicarakan Sehun dan Jieun. Tiba-tiba Luhan dan Nana sudak berdiri di belakang mereka. Luhan berdeham menginterupsi pembicara mereka. Jinwoo, Minho, Seungyoon, dan Taehyun langsung berbalik dan terkejut melihat orang dibelakang mereka. Karena Luhan memakai baju terlalu santai dan keempat karyawannya tak mengenalinya.

“Maaf, siapa ya?” tanya Jinwoo penasaran.

Luhan langsung membuka kacamata hitamnya begitu juga dengan Nana. Tak pelak mereka berempat langsung membungkuk hormat dan sekaligus minta maaf kelancangan mereka.

“Maaf Xi Sajangnim. Kami benar-benar tidak tahu kalau orang itu Anda.” Minho mewakilkan maaf dari ketiga sahabatnya.

“Wooaah… Kalian berempat kenapa disini? Kencan?” potong Nana. “Aku pernah memergokimu Minho bergandengan bersama Park? Park?”

“Park Sandara.” Luhan menambahi. “Good Job, Minho ah!” puji Nana. “Lalu kalian tidak kencan juga?”

“Ya begitulah, Nyonya Xi.” Ujar Jinwoo.

“Tuan Xi! Kalau ingin ke ballroom. Tempat itu dilantai 14.” Minho menginterupsi.

“Ballroom?” tanya Nana penasaran. “Memangnya ada apa diballroom?”

“Tempat meetingku besok, sayang.” Ujar Luhan bohong pada Nana. “Tolong kalian untuk siap-siap.” Bisik Luhan pada keempat karyawannya.

“Kalian bicara apa, eo?”

“Aniyaa… Nyonya Xi. Masalah meeting.” Jawab Jinwoo. “Lebih baik kami mengundurkan diri. Dan silahkan menikmati waktunya Xi Sajangnim.” Mereka membungkuk hormat dan berlalu.

Pukul 17.30 KST. Senja menampakkan sinarnya begitu juga dengan mentari ingin pergi keperaduannya. Langit berwarna-warni nampak begitu indah. Seperti hati Luhan sekarang ia terus mengulumkan senyumannya menuntun istrinya berjalan sambil menutup kedua mata istrinya.

Oppa kenapa kau menutp mataku, eo? Aku tidak bisa melihat apapun.” Ujar Nana ketus sambil membuka telapak tangan Luhan.

“Aku akan menuntunmu dan aku punya sesuatu untukmu, sayang.” Luhan menghentikan langkahnya membuat Nana terhenti karena tertahan oleh tangan suaminya ini. Setelah Minho dan Seungyoon membukakan pintu ballroom itu. Luhan menuntun istrinya masuk kedalam ballroom beberapa langkah dan Minho beserta Seungyoon menutup pintu itu dari dalam lalu pintu itu tertutup sempurna. Saat itu pula Luhan melepaskan telapak tangannya dan beralih merangkul bahu sempit istrinya.

Nana terkejut. “Oppa kenapa gelap sekali, eo?” tanya Nana sedikit ketakutan.

“Kau tak perlu takut, sayang. Aku dibelakangmu.” Ujar Luhan menenangkan Nana. Lalu tangan Luhan memberi aba-aba pada karyawannya.

Byar.

Lampu menyala terang. Tirai hitam menyingkap otomatis kesisi jendela. Dan sambut oleh ucapan selamat ulang tahun. Derai tepuk tangan mengisi ruangan itu.

“Saengil chukka hambnida. Saengil chukka hambnida. Saranghaneun Hwang Nana. Saengil Chukka hambnida.” Seru undangan yang hadir diacara itu sambil bertepuk tangan.

Jieun mendorong meja sedikit mendekat dimana Nana dan Luhan berdiri saat ini. Jieun tersenyum sumringah melihat Nana yang masih begitu terkejut dengan kejutan ini. Semua ikut bahagia. Tiba-tiba mata Nana menangis pelan karena bahagia. Ia langsung membalikan tubuhnya menghadap suaminya dan langsung menghamburkan pelukannya. Membuat Luhan sedikit terkejut dengan sikap Nana lalu Luhan mengusap lembut punggung istrinya. Nana begitu bahagia sekali hari ini dan buatkan kejutan suaminya. Tak hentinya airmatanya mengalir. Ia semakin mengeratkan pelukannya. Luhan menunduk melihat wajah Nana yang basah karena airmata.

“Sayang, kenapa kau menangis?” tanya Luhan pelan sambil menghapus jejak air mata dipipi istrinya.

“Aku bahagia sekali, Oppa. Dan terima kasih untuk semuanya.” Nana masih memeluk Luhan.

“Lebih baik lepaskan pelukanmu dan buatlah pengharapan.” Ujar Luhan melepaskan pelukan Nana.

Nana mengangguk pelan. Wanita itu sedang memejamkan matanya, dengan tangan terkepal di bawah dagunya, dan bibir yang tertarik di bagian ujungnya. Luhan penasaran, apa yang di kumandangkan seorang Hwang Nana di dalam hatinya hingga Istrinya itu bisa nampak begitu bahagia. Lalu Nana meniup lilin lilin kecil yang menghiasi kue tart. Dan di akhiri tepukan selamat dari Luhan―suaminya, Jieun―sahabatnya sekaligus kekasih Sehun―sahabat Luhan dan keempat karyawannya beserta pasangannya.

“Apa pengharapanmu, Nana?” tanya Luhan penasaran.

“Yang jelas rahasia, Oppa!”

“Potong kuenya Nana.” perintah Jieun. “Siapa orang pertama yang kau berikan kuenya?”

Orang pertama yang diberi kue adalah Luhan―suaminya lalu Jieun dan Sehun terakhir. Dan 5 tahun kemudian.

Seorang anak kecil perempuan cantik berumur lima tahun naik keranjang tidur ayahnya. Dan mengguncang pelan tubuh ayahnya lalu membangunkan Luhan―ayahnya.

Appa ayo bangun…” ujar gadis kecil cantik sambil mengguncang-guncang pelan bahu Luhan. “Appa ayo bangun. Sudah siang, Appa! Ayo pergi kekebun binatang…”

Luhan setengah sadar lalu meraih dan memeluk anaknya kedalam pelukkannya. “Sebentar Luna. Oh… Kau sudah cantik sekali…”

Gadis kecil berambut hitam yang panjang menjuntai indah punggungnya. Mata indah, hidung mancung, dan bibir tipis mirip sekali dengan Luhan―ayahnya sedangkan paras cantik berkulit putih rambut kecoklatan jemari lentik pas seperti Nana―ibunya dan anak dari Luhan dan Nana yaitu, Xi Luna. Anak semata wayang mereka berdua.

Oppa bangunlah! Kau ini malas sekali saat hari mingggu, eo?” cibir Nana didapur sambil menyiapkan bekal makan. “Dari pada Luna nangis!”

Appa harus membayar hutang padaku!”

“Hutang apa Luna?” tanya Luhan penasaran yang dibuat-buat sambil menatap Luna dan memeluknya.

“Katanya Appa mengajakku kekebun binatang akhir minggu? Benarkan Appa?” pertanyaan Luna bertubi-tubi mau tak mau membuat Luhan terkekeh senang.

“Baiklah!” ujar Luhan beranjak duduk sambil memeluk Luna dalam pelukannya. “Tapi Appa harus mandi dulu. Lalu kita berangkat kekebun binatang.”

“Hore!!! Kekebun binatang! Kekebun binatang!” teriak Luna gembira sambil meloncat-loncat girang di atas ranjang. Tak pelak membuat Luhan terkekeh melihat tingkah lucu anaknya. “Eommaaa! Kita jadi pergi kekebun binatang!” seru Luna masih dikamar Luhan.

Nana tersenyum mendengar teriakan girang Luna, “Iya… Luna…”

Beberapa saat kemudian Luhan keluar dari kamarnya dan menggendong Luna yang tersenyum sumringah digendongan ayahnya. Dan mereka menikmati sarapan pagi mereka sambil tertawa ceria dan bersendau gurau dalam sebuah keluarga kecil yang baru.

END

Thanks for reading!! Ditunggu kritik sarannya yaa

Warm regard,

SYAMMER

18 responses to “[ONESHOOT] JUST DREAM, BABY! – SEQUEL (TOMORROW – WHAT WE MEET BE?)

  1. seruu
    Tp agak janggal aj waktu nana mau mandi
    “Ia berjalan menuju kamar mandi Luhan dan masuk kedalam untuk membersih diri.” Mereka udah nikah kan ya brrt kmr mndi bersama kan ya ^^ bukan milik luhan aj

    Trus sehun jieun..mereka sdh tunangan kan tp noh temen2x malah bilang sehun calon tunangan jieun..

    It aj dear ^^

  2. kirain bakal sad ending pas liat awalannya tadi
    syukurlah gk jadi
    bagus kok
    kejutan yang manis dari luhan buat nana

  3. so sweet banget luhannya beri kejutan ulang tahun untuk istri tercinta ,Nana ya ampun begitu romantis ya .
    aha kasihan sehunnya sempat gak dipeduliin sama jieun karena ngobrol dengan anak buah luhan.

    luhannya harus extra bersabar dia gak bisa melakukan apa yang ia inginkan karena nana sedang hamil.
    akhirnya Luna lahirnya kkk lucu ya dia bangunin luhannya .
    happy ending thor

  4. Maaf se maaf maafnya kak….
    tapi aku bener2 ga dapet feel nya ii baca ini
    maaf banget loh kak
    mungkin aku terbiasa ngefeel luhan sama sera kali ya, jadi pas diganti luhan sama nana jadinya kayak gimanaaa gitu
    yaelah pantesaaaan
    awalnya tak kira ini ff nya mbak heera, kok diksinya beda, pokoknya beda banget, kayak ngerasa ini bener2 bukan karangan mbak heera
    maaf aku yg ceroboh gak baca note di paling atas, langsung baca ke cerita aja hehe, maaf ya mbak heera…
    dan keep writing buat temen mbak heera, ceritanya bagus kok, asli maaf aku sejak awal mikirnya karyanya mbak heera ini, makanya aku terbayangnya ke lusera terus eh ternyata, asli maaf udah mengabaikan note nya hehe

  5. wahh bgus ceritanya, menarik bgt..
    feelnya dpt,
    luhan sma nana so sweet yaa, jdi senyum” sndri bcanya…
    kluarga yg bahagia..

  6. Hah kirain apa juga sad ending. Kiranya alhamdu Hahahaaaa tadi aku cuman iseng 2 buka blog ini eh tau tau ada postingan kak sangheera.
    Lah kak, kok nama kopel luhan beda? Brrasa aneh aja sih soalnya udah terbiasa baca yg lusera jadi yang ini kurang dapet feelnya. Seolah luhan itu selingkuh/? Apalah abaikan 😑
    Okelah kak, semangat untuk ketikan ff project baru juga sama ff sequel wb hehe._. Semoga kakak selalu dalam keadaan tenang dan sehat. Semangat kak 😁 seribu cinta dr your bigger fan 😘

  7. awal aku baca aku kira ini buatan sangheera eonni.. soalnya covernya Luserra..
    pas aku baca, lah kok nana? trus bahasa yg dipkek kok gk kyak Sangheera eonni??
    ternyata bner bkan buatan sangheera eonni…

    mav ya.. ak gk baca smpe akhir..
    gk bermaksd gitu…

    tpi daebakk…

    ak bleh juga gk nitip FF buat di posting-in?
    tpi.. klo eonni kberatan jga gpp kok, ak gk maksa…

    oke eon, keep write!! percepat pembuatan MTEOL-nya…..

  8. sumpah sempet gak nyangka kalo ternyata chapter 1 dan 2 itu cuma mimpj buruknya luhan hahaha… alhamdulillah mereka berakhir bahagia wkwkwkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s