Miracle – Sohwadreamer

miracle-in-december

Main Casts :

Wu Yifan ~ EXO

Jung Min Hwa ~ OC

Support Casts :

Jung Family

Wu Family

Rating : PG- 16 || Length : Oneshoot || Genre : Sad, Romance, Hurt, Married Life,  Tragedy || Scriptwritter : J.jung

 

Also published on my wp:

sohwadreamer

 

 “Sorry, I don’t know. I don’t know my feeling. I don’t know if I love you. “

~o0o~

 

Disclaimer : Anyeonghaseyo~~ setelah aku ngubek pc ketemu lagi sama ff absurd ku yang udah lama.. ff ini murni buatanku.. no plagiat, no bash, please your comment chingu….. cekidot~

 

~o0o~

 

Jung Min Hwa adalah istri dari Wu Yifan sejak dua tahun yang lalu. Hingga sekarang mereka belum mempunyai keturunan. Salah satu penyebabnya karena pernikahan mereka adalah perjodohan. Klasik bukan?

Jung Min Hwa benar-benar menyukai Wu Yifan, bukan karena mereka sering bertemu. Min Hwa menyukai namja dingin yang tak pernah menganggapnya itu sejak pertama kali mereka bertemu untuk dijodohkan.

Wu Yifan, baginya pernikahan hanyalah untuk kepentingan perusahaannya. Ia sosok pekerja keras, yang tidak pernah mementingkan soal cinta. Baginya, cinta hanya membuang-buang waktu. Itulah yang menyebabkan dia tidak menganggap Jung Min Hwa.

Wu Yifan bukan seseorang yang jahat. Ia hanya menganggap Jung Minhwa sebagai partner kerjanya. Padahal sebenarnya Min Hwa tidak bekerja di perusahaan mertuanya, tuan Jung.

~o0o~

Jung Min Hwa P.O.V

Pagi ini aku bangun seperti biasanya. Wu Yifan, dia masih tertidur. Aku menatap wajahnya. Aku bingung padanya, kenapa ia tidak pernah menganggapku. Halah! Buang negative thinking-mu. Wu Yifan pasti akan menyukaiku suatu saat nanti.

Aku memutuskan untuk membuat sarapan untuk namja itu. Biarpun ia tidak menganggapku, tapi ia akan tetap memakan masakanku. Karena kalau ia tak sarapan dirumah, aku tak akan membiarkannya keluar selangkah dari pintu rumah kami.

“Apa sarapannya sudah matang? Aku ada rapat.” Tanya namja itu padaku. Ia akan berangkat kerja. Ia terlihat tampan sekali.

“Sudah matang?” Ia membuyarkan lamunanku. Benar-benar orang ini membuatku malu. Pasti ia berpikir aneh karena menatapnya begitu.

“Eoh, i-iya akan kusiapkan.” Jawabku agak gugup. Walaupun aku serumah dengannya, terkadang saat melihatnya aku agak canggung.

Aku menghidangkan makanan di meja. Namja itu sedang membaca koran. Ia menutup wajahnya dengan koran. Aku jadi tak bisa melihatnya.

“Yifan makanlah. Kali ini aku membuat sup krim jagung untuk sarapan kali ini.” Kataku menyuruhnya makan.

“Hmm.. gumawo.” Responnya padaku. Ia tak menatapku, selalu begitu. Tapi aku akan memancingnya lagi.

“Apa enak sup krimnya?” Tanyaku pada Yifan setelah ia mencoba sesuap.

“Enak.” That’s it. Itulah jawabannya. Sama lagi seperti hari-hari biasanya. Aku akan bertanya lagi.

“Hanya itu? Kau tak mau memujiku?” Aku bertanya padanya. Sebenarnya menanyakan hal semacam ini bisa membuatku dalam masalah. Kami bisa bertengkar.

“Tolong jangan menghancurkan pagiku. Aku masih ada meeting. Aku pergi.” Katanya sambil memungut jas dan tas laptopnya lalu pergi.

Aku menyesal bertanya begitu. Ia jadi tak menghabiskan sarapannya. Aku salah kali ini. Mianhae Wu Yifan.

Wu Yifan P.O.V

Karenanya, sekarang moodku agak buruk. Belakangan ini, kami jadi sering bertengkar. Pasti selalu yeoja itu yang mulai. Entah penampilannya, masakannya, apapun itu yang bisa dipuji.

Aku memang tak mau memujinya. Aku takut memberikan harapan palsu padanya. Aku tau kalau dia menyukaiku. Aku tau dengan baik. Tapi aku belum, hmm.. mungkin tak akan menyukai Minhwa.

Dia cantik, pintar, dia juga pandai memasak. Kata ibuku, Minhwa adalah seorang menantu yang diinginkannya dari dulu. Tapi dia belum bisa mendapatkan hatiku.

“Tuan, Tuan Jung dari Jung Coorporation ingin bertemu anda. Dia memberikan alamat ini.” Sekertaris ku masuk. Aku agak kaget. Karena sependengaranku ia belum mengetuk pintu ruanganku.

“Baiklah, keluar. Lain kali ketuk dulu.” Kataku pada sekertaris itu. Tatapanya agak aneh melihatku.

“Saya sudah mengetuknya, tapi tuan tidak menjawab. Kalau begitu saya permisi.” Katanya lalu membungkukan badan dan keluar dari ruanganku.

Sekarang aku harus bertemu ayah yeoja itu. Aku harap kali ini kami membahas soal pekerjaan, bukannya tentang pernikahan ataupun Minhwa. Aku bosan.

 

Jung Minhwa P.O.V

Jam menunjukkan pukul 11 malam. Tumben Wu Yifan belum pulang. Ia biasanya akan ada di rumah 3 jam yang lalu. Aku jadi khawatir. Aku harus menelponnya.

“Kau belum tidur.” Kata seseorang di depan ranjang. Wu Yifan sudah pulang. Aku pun jadi tenang lagi.

“Malam sekali pulangnya. Ada apa?” Aku bertanya padanya. Tapi sepertinya ia tak akan menjawab. Ia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

Setelah itu, Wu Yifan duduk menyender di tempat tidur. Ia mau bekerja lagi. Buktinya, ia langsung membuka laptopnya.

Lama kami saling terdiam. Tiba-tiba Wu Yifan memecah keheningan.

“Aku lapar. Apa masih ada makanan?” Tanyanya padaku. Agak aneh. Ia jarang makan malam dirumah. Biasanya hanya sarapan.

“Ada. Tadi aku masak bento, masih ada sisa cukup banyak. Kau mau makan?” Aku bertanya padanya untuk memastikan.

“Eoh. Siapkan ya?” Katanya lalu pergi turun ke dapur. Ia pasti sudah tau jawaban ku. Aku tersenyum lalu turun untuk menyiapkan makanan untuknya.

 

Wu Yifan P.O.V

“Apa enak?” Yeoja itu bertanya padaku. Tentang masakannya. Ini memang enak. Sama seperti biasa, masakannya selalu enak.

“Hmm.. masakanmu enak sekali. Gumawo.” Kataku memujinya. Aku mengingat wejangan dari ayah yeoja ini tadi. Aku harus membuatnya senang. Tapi aku hanya bisa memujinya. Tak lebih.

“Wu Yifan, aku boleh bertanya?” Dia mengeluarkan suaranya lagi. Aku menghela nafas. Berusaha untuk bersabar menghadapi sikap kekanakannya ini.

“Hmm, mau Tanya apa?” Aku bertanya padanya. Mudah-mudahan dia tak bertanya yang macam-macam.

“Kau masih merasa terbebani dengan pernikahan ini?” Tanyanya. Aku hanya diam. Aku bingung harus jawab apa.

“Padahal, padahal aku.. menyukaimu.” Katanya agak pelan. Aku tak kaget. Aku sudah tau isi hatinya. Tapi maaf aku tak bisa Jung Min Hwa.

“Kau menyukaiku?” Ia bertanya lagi. Kali ini ia menatapku. Tapi aku masih focus pada bento di depanku.

“Jadi sebenarnya kau mau Tanya apa?” Aku sengaja mengalihkan pertanyaannya. Itu karena aku tak bisa menjawab pertanyaan itu. Terlalu sulit bagiku.

“E-eoh. Lupakan. Aku rasa aku mulai mengantuk. Aku naik dulu.” Katanya lalu pergi begitu saja.

 

Jung Min Hwa P.O.V

Dia jahat. Masa ia mengabaikan pertanyaan seriusku. Padahal aku butuh keberanian ekstra untuk bertanya begitu padanya. Aku tau kalau ia tak menyukaiku. Tapi aku hanya ingin memastikannya. Siapa tau ia menyukaiku juga. Tapi ternyata aku terlalu berharap lebih.

Aku merebahkan badanku. Mencoba menutup mataku. Tak lama, Wu Yifan masuk. Ia juga langsung merebahkan badannya. Aku langsung memunggunginya. Aku malas melihatnya. Aku takut menangis di depannya.

Aku juga punya batasan untuk bertahan. Dan ini sudah hampir batasnya. Kupikir ia akan mengatakan sesuatu. Kupikir ia akan peka dengan perlakuanku yang memunggunginya. Tapi ternyata ia sudah tidur sekarang.

Tak terasa, air mataku mengalir. Aku menutup mulutku. Aku takut namja disebelahku ini mendengar aku menangis. Aku tak mau ia merasa kasihan padaku.

 

Wu Yi Fan P.O.V

Aku mendengar ia menangis. Aku memang belum tertidur. Entahlah, aku merasa ada yang aneh denganku. Dadaku rasanya agak nyeri mendengar yeoja ini menangis. Apa aku kasihan padanya? Sepertinya aku menyukai Min Hwa.

Aku segera menghilangkan pikiranku tentang ‘sepertinya aku menyukai Min Hwa.’  Aku segera menutup mataku dan berusaha untuk tidur. Aku tak ingin pikiran ku melantur kemana-mana. Jadi kuputuskan untuk tidur saja.

~o0o~

“Yaa.. bangunlah. Ini sudah jam sepuluh. Tumben kau belum bangun.” Aku mendengar teriakan yeoja itu. Aku bisa gila. Rasanya aku baru tidur sebentar. Ini semua karena pikiran aneh semalam, aku jadi tak bisa tidur.

Aku lalu segera membersihkan diri di kamar mandi. Untungnya hari ini hari sabtu, jadi aku tak pergi ke kantor jadi tak perlu takut telat. Aku memang atasan, tapi aku harus memberikan contoh yang baik bagi bawahanku.

“Yaaa! Kau belum bangun?!” Yeoja itu berteriak lagi. Aku tersenyum mendengar teriakan yeoja itu.

“Kau sudah gila Wu Yifan?” Tanyaku pada diriku sendiri. Aku bingung kenapa aku harus tersenyum mendengar teriakan yeoja ini.

“Yaaa! Dari tadi aku berteriak. Jadi kau sudah bangun? Kau juga sudah mandi. Bantu aku pasang pohon natal. Minggu depan sudah natal. Hmm??” Aku sudah disambut celotehannya saat keluar dari kamar mandi. Untung aku tak punya penyakit jantung. Menghadapi yeoja ini penuh ‘kejutan’.

“Bagaimana? Kau tak usah membantuku. Cukup duduk saja, ya? Please..” Ia memohon padaku. Aku sebenarnya malas sekali.

“Ya, baiklah. Aku hanya duduk saja kan?” Kataku akhirnya. Setidaknya ini seperti permohonan maafku kemarin, karena tak bisa menerima cintanya.

Akhirnya kami turun kebawah untuk memasang pohon natal. Tidak, lebih tepatnya Min Hwa memasang pohon natal, dan aku menontonnya memasang pohon natal.

~o0o~

Aku menemaninya seperti ini, lama sekali. Tapi aku bingung apa yeoja ini tak lelah? Atau aku yang tidak menikmati waktu ku untuk menemani yeoja ini? Aku tidak tahu. Seketika aku teringat pertanyaannya semalam.

‘Kau menyukaiku?’

Aku bingung dengan perasaanku. Aku tak bisa menjawab pertanyaannya. Apa jangan-jangan sekarang aku menyukai..

“Bantu aku pasang bintang diatasnya. Aku tak sampai.” Yeoja ini membuyarkan lamunanku. Dasar. Aku melihat dia meloncat-loncat seperti itu. Dia memang agak pendek.

 

Min Hwa P.O.V

“Yaa! Tolong aku memasangnya, eoh?” Aku memohon padanya. Jadi setidaknya ia membantuku menghias pohon natal ini. Walau hanya memasang bintang diatas pohon ini.

Aku berusaha untuk melompat-lompat agar sampai di puncak pohon ini. Tapi aku memang pendek. Tak terasa aku menginjak lampu pohon yang sepertinya menusuk kakiku.

“AAA!” Aku terduduk. Aku melihat ibu jari kakiku terluka. Darah mulai bercucuran. Aku mulai menangis.

“YAA! Gwenchana?!” Yi Fan, namja ini menghampiriku. Wajahnya terlihat lucu saat panik seperti itu.

“Mana sini kulihat.” Aku memberi kakiku yang terluka. Ia melihatnya, dan jujur lukanya agak besar. “Kau itu harusnya berhati-hati, dasar ceroboh!” ia mengomeliku. Ia perhatian padaku.

“Tunggu aku ambilkan kotak P3K dulu.” Ia pergi mengambil kotak itu. Aku melihatnya tak terasa wajahku terasa hangat. Entah mengapa aku jadi tak bisa menyembunyikan perasaanku seperti ini.

Tak lama ia kembali sambil membawa kotak P3K. ia langsung mengangkatku dan mendudukanku di sofa rumah kami. Aku jadi merasa canggung atas perlakuannya.

Ia lalu mengobati lukaku. Baru kali ini aku melihat Yi Fan seperti ini. Namja dingin ini, membantuku.

“Mana bintangnya? biar aku yang pasang.” Ia bertanya padaku setelah mengobati kakiku. Aku memberinya bintang yang ada di tanganku. Ia pun memasangkan bintang itu.

“Natal ini kau dirumah kan? Tahun lalu kau tidak dirumah loh.” Aku bertanya pada Yifan yang saat ini duduk disebelahku.

“Kenapa memangnya? Sepertinya aku akan melakukan perjalanan bisnis.” Jawabnya. Aku merasa saat ini, aku akan sendirian lagi tahun ini.

“Kita belum pernah merayakan natal bersama. Kau tak usah pergi ya, kumohon. Lagipula kau kan bos nya. Serahkan pada bawahanmu saja. Eoh??” Aku memohon pada Yifan. Kalau ayahku melihat aku memohon seperti ini, pasti namja dihadapanku ini sudah mati di tangannya.

“Karena itu, karena aku ini bosnya. Aku harus melaksanakannya.” Kata Yifan sambil bangkit berdiri. Sepertinya, ia menghindariku lagi. Ah, aku lelah menghadapinya. Sungguh.

“Kau selalu begitu!” Kataku sambil berdiri, setengah berteriak. Aku langsung menghindarinya, aku segera menuju kamar.

“Kau tak salah paham, karena aku mengobati lukamu kan?” Pertanyaannya menghentikan langkahku. Aku menggigit bibirku. Aku mengepal tanganku. Menahan air mata kerenanya. Tak cukupkah dua tahun ini?

Aku memutuskan untuk segera ke kamar saja. Tidak menjawab pertanyaan yang menyakitkan darinya itu. Mungkin itu yang paling baik.

~o0o~

Aku melihat jam ditanganku. Waktu menunjukan pukul 8 malam. Seminggu lagi natal. Dan aku tak bisa menahannya untuk tinggal pada natal nanti.

Aku melihat ke arah luar. Salju turun. Aku segera mendekat ke arah jendela. Aneh memang, tapi ini salju pertama tahun ini. Aku segera menyatakan permohonan.

‘’Mudah-mudahan, natal nanti, Wu Yifan akan menyukaiku sepenuhnya. Dan ia akan bersikap baik padaku. Hanya itu, kumohon kabulkanlah TUHAN.”  AKu menyampaikan keinginanku. Aku memang kekanak-kanakan. Huh..

 

Wu Yifan P.O.V

 

’Mudah-mudahan, natal nanti, Wu Yifan akan menyukaiku sepenuhnya. Dan ia akan bersikap baik padaku. Hanya itu, kumohon kabulkanlah TUHAN.’  Ia masih percaya pada salju pertama? Dasar.

Tapi kalau itu bisa terjadi, terjadilah. Aku kasihan padanya, ia benar-benar menungguku selama ini. Dan kalau ini terjadi, dialah cinta pertamaku. Dan kami pasti akan hidup bahagia hingga akhir.

Aku tersenyum memikirkan hal-hal semacam itu. Aneh, aku merasa permohonan nya akan terjadi. Dan mungkin aku tak akan menolak nya.

Hah, aku rasa aku sudah gila karena yeoja ini. Bear-benar.

~o0o~

Minggu pagi tadi, aku sudah menemaninya untuk belanja kebutuhan natal nanti. Ia terlihat sangat bersemangat sekali. Sampai-sampai sekarang sudah jam 5 sore. Benar-benar tak ada lelahnya yeoja ini.

“Kau tak lelah? Aku sudah lelah sekali. Ayo pulang.” Aku bertanya agar  ia sadar kalau sudah delapan jam kami belanja. Dan bawaannya sudah banyak sekali. Sekitar 12 kantung belanjaan besar. Ini sudah mulai gila sepertinya.

“Eoh, mian. Aku tak sadar. Hmm, sepertinya sudah semua. Ya sudah ayo pulang.” Heol, dia jadi tak akan pulang kalau aku tak mengingatkannya. Benar-benar, dasar yeoja!

 

Min Hwa P.O.V

Selama perjalanan, aku tak bisa melepaskan pandanganku darinya. Ia benar-benar tampan, dan aku benar-benar menyukainya. Aku tersenyum sendiri.

“Jangan melihatku seperti itu.” Namja ini ternyata tau kalau aku melihatnya dari tadi. Aku tetap melihatnya.

“Oh, iya! Kau benar-benar tidak bisa natal nanti. Sehari saja, eoh?” Aku bertanya pada Yifan. Aku harap ia bisa bersamaku natal nanti.

“Tidak.” Hanya itu jawabannya. Seperti biasa lagi. Entah kenapa ia begitu terus. Aku benar-benar kesal sekarang.

“Sekali saja. Aku janji tak akan menganggumu.” Aku memohon padanya kali ini.

“Aku sudah bilang tak bisa.” Ia bahkan tak melihatku. Menyebalkan.

“Kau keterlaluan! Sekali saja. Apa kau mau merayakan dengan yeoja lain?! Apa kau tau, seberapa lelahnya aku menunggmu?! “ Entah kenapa tiba-tiba emosi ku memuncak. Aku mengatakan apa yang ada di otakku selama ini.

“Kau berlebihan.” Itulah dia, selalu dingin padaku.

“Kau menyukaiku?” AKu bertanya padanya. Kalau kali ini dia bilang belum atau tidak. Aku benar-benar meninggalkannya.

 

Wu Yifan P.O.V

Aku tak bisa memberikan jawaban lagi. Pertanyaannya masih belum bisa kujawab. Kulihat ia menangis. Aku merasa bersalah padanya.

Aku ingin menepikan mobil yang ku kendarai. Tapi naas, ada truk yang menabrak kami. Aku terlempar keluar. Tapi yeoja itu masih di dalam.

Aku yang terlempar seketika langsung bangun dan mendekati mobilku yang didalamnya ada Min Hwa. Baru aku melanjutkan tiga langkah tiba-tiba mobil itu meledak. Min Hwa belum terselamatkan.

“Oh tidak.” Aku tetap mendekati mobil itu, polisi menahan aku agar tidak mendekati mobil itu.

“Anda tidak bisa mendekati mobil tersebut. Api masih ada tuan.” Kata polisi yang menahanku itu.

“Kau tau, istriku ada di mobil itu! Kau mau aku meninggalkannya begitu! Hah?!” Aku berteriak di depan polisi itu. Aku memegang kerah bajunya. Aku meninjunya sekali. Polisi itu terjatuh.

“Tuan, kendalikan diri anda.” Kata polisi itu tapi aku tak perduli. Aku meninjunya lagi, terus-menerus.

“Bagaimana bisa, bagaimana bisa?! Aku bahkan belum mencintainya dengan benar! Hidupkan dia lagi, kumohon..” Aku menangis karena kepergiannya. Berarti aku membutuhkannya.

“Jebal, kembalilah Jung Min Hwa.. maafkan aku yang tak memperlakukan mu dengan baik.. sa-saranghae Min Hwa-ya.. HAAA!” AKu menangis sambil melihat kearah mobil sialan itu.

Sekarang aku kehilangannya, dan aku baru menyadari kalau aku mencintainya.

~o0o~

Hari ini, hari pemakaman yeoja itu. Yeoja yang seharusnya masih tertawa saat ini. Yeoja yang selalu ingin merebut perhatianku, dan yeoja yang kucintai. Jung Min Hwa

 

 

~ REST IN PEACE ~

Our beloved Daughter, Wife, and Friend

Jung Min Hwa

– 18.12.2013 –

~o0o~

“Kenapa kau pergi secepat itu, aku belum mengatakan kalau aku mencintaimu. Aku bahkan belum berbuat baik padamu Min Hwa-ya. Kembalilah. Hanya itu yang ku inginkan. Aku berjanji aku akan memperbaiki kesalahanku. Eoh?”

Aku menangis meratapi kepergiannya. Aku juga meratapi kebodohanku. Tiba-tiba salju turun disaat seperti ini. Aku jadi ingat akan apa yang dilakukan Min Hwa saat salju pertama turun tahun ini.

“Aku harap KAU bisa mengembalikan Min Hwa ku.” Kataku mengatakan permohonan pada TUHAN. Aku mengikuti apa yang Min Hwa lakukan, karena sepertinya berhasil. Buktinya sekarang aku benar-benar mencintai yeoja malang itu.

“Kenapa kau menangis?” Suara yeoja yang kukenal. Suaranya menampakkan kebingungan. Aku tak tahu apa sekarang aku gila atau tidak.

“Bahkan sekarang aku mendengar suaramu. Aku sudah gila.” Kataku pada diriku yang sangat menyedihkan ini. Aku menyesal melakukan hal jahat padanya.

“Yaa.. kenapa kau menangis?” Tanyanya lagi. Aku tersenyum kecut. Kurasa inilah balasan atas apa yang kulakukan padanya. Aku tak bisa melupakannya.

Tapi tiba-tiba, aku membuka mataku. Aku melihat yeoja itu disampingku sekarang. Jung Min Hwa, aku yakin itu. Tapi kenapa aku tidak di pemakaman, kenapa ada di kamar?

“Kau kenapa? Mimpi buruk ya?” Ia bertanya padaku. Aku menangis, aku bingung apa mungkin permohonanku terjadi?

Aku segera memeluk yeoja itu. Aku tak mau kehilangannya lagi. Aku tak mau mengulangi kesalahanku.

“Y-yaa.. ke-kenapa kau begini?” Dia pasti bingung karena tingkahku yang aneh ini. Tapi aku masih bingung apa ini mimpi?

“Jangan pergi lagi. Aku tak mau kehilangan dirimu. Aku bisa gila.” Kataku sambil menatapnya lekat-lekat. Ia malah menghela nafas.

“Kenapa? Kau kan tak menyukaiku. Sudahlah cepat, hari ini natal. Kau bilang kau ada perjalanan bisnis penting kan?” Katanya yang mulai bangkit berdiri. Aku menahan tangannya.

“Baiklah aku salah. Maafkan aku. Tapi aku serius kalau.. aku sangat mencintaimu dan tak mau kehilangan dirimu. Maafkan aku ya?” Aku berkata yang sejujurnya pada yeoja ini.

Dia menangis. Aku segera memeluknya, tapi tangisnya makin keras. Aku jadi ikut menangis. Akhirnya kami menangis bersama sambil berpelukan. Aku bersyukur kalau tadi hanya mimpi. Lalu kami sama-sama diam.

“Kau tau, permohonan natalku tahun ini dikabulkan. Dan kau tahu permohonanku adalah agar kau menyukaiku mulai sekarang. Aku benar-benar sangat senang. Heheh..” Katanya sambil tertawa. Aku tersenyum mendengar perkataannya.

“Permohonan ku tahun ini juga terkabulkan kok.” Kataku padanya. Ia terlihat kebingungan saat ini. Sangat lucu.

“Permohonan? Seorang Wu Yifan?” Katanya seolah tak percaya kalau aku membuat sebuah permohonan.

“Aku harap TUHAN mengembalikanmu padaku. Dan sekarang terjadi.” Aku mengatakannya. Aku yakin ia pasti merasa aneh.

“Hah? Maksudmu?” Ia benar-benar bingung. Aku mengacak rambutnya sayang. Lalu aku mengecup bibirnya. Kisseu.

“Mulai sekarang, aku akan memperlakukanmu dengan baik. Akan memujimu terus, menyayangimu sepenuh hatiku.. Jung Min Hwa terima kasih sudah hidup.” Aku berkata padanya. Dan kalimat terakhirku tadi karena aku takut kehilangan dirinya seperti mimpi tadi.

Dan aku tak akan mengulangi kesalahanku padamu lagi Jung Min Hwa. Akan kupastikan kaulah satu-satunya yeoja yang kusayangi di dunia ini melebihi apapun. Dan aku akan selalu membuat dirimu bahagia

 

~ The End ~

24 responses to “Miracle – Sohwadreamer

  1. Awalnya sedih….kupikir min hwa beneran meninggal >●< syukurlah itu hanya mimpi buruk yifan hehehe…klo dibuat sequel kayanya keren hehe penasaran gmn kehidupan mereka ketika yifan sudah mulai mencintai min hwa?pengen liat yifan cemburu hehe

  2. sempet shock n mw nangis…
    tp untung hanya mimpi… reader bernapas lega.. haahh..
    butuh sequel nich…
    keep writing y thor…🙂

  3. udah dibuat kaget dan bikin sedih pas part kecelakaan. Ternyata itu cuma mimpi . Kereeen bisa bawa feelnya🙂. Syukur mereka happy ending. Kalo bisa ada sequelnya hehe

  4. hemm dr awal ffini kirain pas baca sad ending ternyata ada happy endingnyaa selamat yaa kaget pas adegan terakhir mobil itu terbakar tpi ko cuma mimpi yaa pgimana ceritanya terus yg di pusat belanja gimana tuj

  5. Waaaaahh,,
    Author’y emank bner2 bkin gw sport jantung yaa,, gw shock bnget bca part yg yifan n min hwa yg kclakaan,, kirain min hwa bner2 mninggal trnyata enggak,, -.-”
    Ceritnya keren,,😉
    Kyak’y usul reders laen untuk bwat sekuel’y boleh jga tuch,,😉

  6. Ya ampunn, aku kira yifan cuma halusinasi._. Tau nya cuma mimpiiiiii, huft sempet kaget pas kecelakaannn… Tapi akhirnya happy endingg! Keep writingggg!

  7. Pingback: Another Disaster ? [ Miracle – Sequel ] – J.jung | SAY - Korean Fanfiction·

  8. sempet nangis waktu yifan ditinggal min hwa, taunya cuma mimpi😀 akunya yang cengeng atau athornya yang keren yah bikin ceritanya😀 keep writing yaa

  9. Pingback: Another Disaster ? [ Miracle – Sequel ] – Sohwadreamer | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s