Amour, Obsede (It Hurts)

img_0122

Poster : Yaumila @ art fantasy

It Hurts

Cast : Kim Jongin, Song Jiyoon

Genre : Psychology-thriller, Dark Romance, Angst, Tragedy

Start : A, A1, A2, A3, A4, A5, A6,A7,A8, A9, A10, A11, A12

Rating : PG

Cinta tak terbalas itu begitu kejam. Jongin mencintai Jiyoon secara berlebihan sehingga rasa cintanya berubah menjadi benci. Karena dia mencoba hindari rasa sakit tanpa sadari dia malah semakin sakit.

Aku Luhan.” Jiyoon tak henti mengarakan pandangannya kearah pria tampan dihadapannya. Dia masih tak mendapatkan clue siapa pria ini meskipun dirinya sudah mendengar nama lengkap Luhan. Tapi Jiyoon dapat menangkap, dari mata besar pria itu yang semurni air, dari senyumnya yang begitu menenangkan, dari caranya berbicara kepada Jiyoon, itu semua menunjukkan bahwa dia orang baik.

Tapi tunggu, bukankah ciri-ciri seperti itu juga di miliki Jongin? Kau tentu tidak bisa menilai orang dari penampilan saja, bukan? Jiyoon tak ingin perduli kali ini, ada sesuatu yang membuatnya merasa tertarik pada Luhan dalam waktu—bisakah dia menyebutnya pertama kali bertemu?—ada sesuatu yang membuatnya merasa bahwa Luhan merupakan sebuah harapan. Meskipun nantinya dia harus menerima kembali kenyataan bahwa ini merupakan harapan kosong lainnya.

Jiyoon mengeluarkan senyumnya, mungkin itu senyum indah yang dimaksud Jongin, senyum yang bisa meluluhkan hati siapapun, senyum yang begitu memikat terutama di mata lelaki. Benar saja, mata Luhan turut tak bisa melihat arah lain melainkan gadis manis dihadapannya sekarang.

“tapi..tapi aku masih tidak mengingatmu.” Ucap Jiyoon pelan merasa tidak enak.

“Itu wajar jika kau tak ingat.” Balas Luhan santai, menatap seductive tepat ke manic mata Jiyoon yang tentu langsung membuat gadis itu menjadi kikuk. Dia hanya tak bisa bertemu pandang dengan seseorang dalam waktu cukup lama. Apalagi Luhan tampak tengah mem-flirt-nya kali ini.

“Kenapa?” tanya Jiyoon sementara matanya sudah menatap kearah lantai. Luhan tersenyum tipis, dia jarang temukan gadis cantik tetapi pemalu seperti yang ada dihadapannya ini. Jadi dia tidak bisa salahkan dirinya karena Jiyoon menjadi semakin menarik dimatanya sekarang.

“Minseok. Apakah kau ingat Minseok?”

Jiyoon sontak langsung kembali menatap luhan—yang masih dengan senang hati juga menatapnya, gadis itu mengangguk mantap, “tentu aku ingat.” Balas Jiyoon seadanya, dia tak mungkin lupakan Minseok seumur hidupnya. Kecuali jika ia amnesia, mungkin saja.

“Aku kakaknya Minseok.” Lanjut Luhan yang dihadiahi dengan tatapan terkejut sekaligus tidak percaya dari Jiyoon.

“Aku tidak pernah tahu jika Minseok memiliki saudara.” Balasnya ragu-ragu, dia mulai tidak mempercayai perkataan Luhan yang terdengar begitu menipu di telinganya. Sayangnya, jika pepatah yang menyatakan bahwa mata tak mungkin berbohong itu benar, Luhan tentu saja tengah berkata sejujur-jujurnya sekarang. Terlihat dari matanya yang begitu jernih bahwa ia tengah menceritakan sebuah kebenaran. “lebih baik kita bicara di sudut sana.” ujar Luhan sembari menunjuk bagian yang tak diminati oleh tamu. “tidak enak karena disini begitu ramai.”

Jiyoon mengangguk menyetujui, dia berjalan mendahului Luhan sementara pria itu langsung menegurnya, “apakah kakimu sudah baikkan? Perlu kubantu untuk menuju kesana?” tawar Luhan gentle, dia agak khawatir melihat cara Jiyoon berjalan, gadis itu seperti bisa terjatuh kapan saja.

Jiyoon tentu menggelengkan kepalanya, “Tidak perlu.” Kemudian melanjutkan langkahnya yang begitu pelan menuju jarak sekitar 10 meter dengan nyeri dikakinya yang tak kunjung hilang. Luhan yang di belakangnya tentu berjaga-jaga agar sigap menangkap gadis itu apabila kakinya berulah lagi.

“Aku tinggal di Beijing bersama kakek dan nenek sementara Minseok di Seoul.” Cerita Luhan lagi setelah mereka berdua tiba di tempat yang Luhan maksud, “aku dipisahkan karena bukan anak kandung ibunya Minseok.”

“Jadi kalian hanya saudara tiri?” tanya Jiyoon menyimpulkan.

Luhan membenarkan, “tapi tetap saja kami saudara, bukan?” lanjutnya dengan nada murung.

“Kenapa kau tidak datang ketika Minseok sakit ataupun ke pemakamannya?” Jiyoon bertanya layaknya tengah mengintrogasi naradapidana.

Luhan tersenyum miring, bukan seringai yang menyeramkan, dia terlihat begitu santai sembari mengatakan, “aku datang. Maka dari itu aku mengenalimu. Tapi kita tidak sempat berkenalan secara langsung.” Jelasnya.

Gadis itu mulai mengerti. Semuanya mulai masuk akal hingga ketika pernyataan Luhan lainnya membuat rahang gadis itu nyaris terjatuh. “Kau tahu Minseok tidak mati karena sakit. Dia dibunuh. Seharusnya yang menjadi incaran itu aku.” Dia berkata dengan nada sedih sekaligus rasa bersalah, tidak terlalu sedih hingga Jiyoon mampu percaya itu dalam sekali pikir. Gadis itu memandang Luhan dengan tatapan kau-pasti-bercanda miliknya. Tapi keterkejutannya tidak hanya sampai disitu, “begitu juga kakekmu. Beliau dibunuh.” Lanjut Luhan parau. Pria ini seperti mengetahui banyak hal, menyimpannya sendirian begitu lama hingga akhirnya berbagi semuanya pada Jiyoon.

Luhan tidak tahu apakah terlalu cepat memberitahukan Jiyoon sekarang, tapi dia telah mencari Jiyoon dari awal tiba di Seoul setelah kepindahannya dari Amerika. Dia memerlukan Jiyoon karena dua alasan rahasia. Salah satunya karena alasan ini, Jiyoon berada dalam bahaya.

“Darimana kau tahu?” Jiyoon bertanya layaknya ilang akal, terlihat begitu kosong, meskipun dia tak bisa percaya ini, sesuatu dalam dirinya membuatnya begitu percaya pada Luhan.

“Dari bukti yang sengaja di lenyapkan.”

“Siapa? Siapa yang melakukannya?” nada bicara gadis itu mulai panic. Kali ini Luhan yang hindari kontak mata dengan Jiyoon, dalam senyumnya dia menyatakan begitu lirih, seperti berbisik.

“Malaikat kegelapan.”

Jiyoon tak mampu keluarkan suaranya. Meskipun jantungnya sudah berdetak tak normal karena keterkejutan sedaritadi, tapi kali ini rasanya lebih parah hingga tangannya banyak keluarkan keringat dingin. Seperti mimpi terburuknya menjadi kenyataan. Well, Jongin adalah mimpi buruk lainnya tapi ini sesuatu yang berbeda, sesuatu yang mungkin lebih parah.

Luhan tertawa geli, “aku bercanda.” Ucapnya sembari menyeringai. Itu sangat menyebalkan bagi Jiyoon. Apakah yang diceritakannya sedari tadi hanya omong kosong? Kau tahu, Jiyoon bahkan nyaris percayakan semuanya. Tapi darimana Luhan tahu tentang malaikat kegelapan? “Tidak, aku tidak bercanda dalam semuanya. Yang membunuh mereka tentu manusia. Manusia biasa. Kau seharusnya mengenal orang itu.” lanjut Luhan mulai serius, jika daritadi nada bicaranya bisa dikatakan sedang bercerita sebuah lelucon.

“Aku masih berharap jika kau membohongiku.” Ucap Jiyoon lirih. Pikiran serta hatinya tak bisa terima ini dengan begitu cepat, dia sudah mengiklaskan kepergian mereka tetapi kedatangan Luhan dengan kisahnya yang terdengar propaganda membuat Jiyoon harus mengenangnya kembali, merasakan sakit seperti pertama kali ditinggalkan dulu, tapi kali ini rasanya lebih sakit, lebih sesak, lebih tidak bisa ia terima dengan mudah. Beruntung dia mulai terbiasa dengan rasa seperti itu.

“Kau tidak perlu pikirkan itu. Maksudku menceritakan ini padamu agar kau berhati-hati.” Luhan menyatakan dengan nada menenangkan, namun itu tak berpengaruh banyak bagi Jiyoon. Dia tidak takut apabila terjadi sesuatu padanya, banyak yang sudah terjadi hingga membuatnya nyaris tak perduli lagi. Tapi kenapa harus pembunuhan? Apa tujuannya? Apa motifnya, dan yang terpenting….siapa pelakunya? Yang dikatakan Luhan memang belum tentu benar, tapi apabila itu merupakan kebenaran dari sebuah rahasia yang baru terungkap, itu artinya malaikat kegelapan yang berada dalam mimpinya adalah sesuatu yang nyata. Mungkin alam ingin memberitahunya melalui mimpi, melalui firasat. Meskipun firasatnya tidak selalu benar, tapi tentang malaikat kegelapan, dia tak mengerti bagaimana semuanya menjadi begitu sesuai.

“Kuharap kita bisa berteman seperti kau dengan Minseok diwaktu kecil.” Luhan mencoba mengganti topic, dia kembali mengeluarkan senyum polosnya yang begitu menawan di mata Jiyoon, bukan hanya Jiyoon sepertinya, mungkin semua orang. Dengan malu-malu dia mengulurkan tangan kanannya untuk Jiyoon, sedikit takut akan ditolak.

“Ya.” Jiyoon menyetujui, dia menyambut tangan Luhan. Mereka bersalaman tidak lama, hanya beberapa detik dan Jiyoon langsung menarik tangannya kembali.

“Jika Minseok melihatmu sekarang, dia pasti jatuh cinta kepadamu.” Luhan mencoba menggoda Jiyoon dengan sebuah gombalan basi yang membuat telinga sakit tapi kacaunya itu berhasil membuat pipi gadis itu terlihat semakin memerah. Ayolah, dia sama sekali tidak suka digoda.

“Ngomong-ngomong apakah kau kemari sendirian?” tanya Luhan basa-basi, dia sudah tahu Jiyoon pergi bersama siapa. Dia sudah perhatikan Jiyoon dari gadis ini masuk kedalam ruangan besar ini.

“Aku bersama Kim Jongin.”

“Kim Jongin?” ulang Luhan pura-pura terkejut. “Apakah kau kekasihnya Jongin?” dia bertanya berlagak cemburu. “Sepertinya aku terlambat.”

Jiyoon menggeleng, “bukan.” Jawabnya kalem.

“Kalau begitu tunangan? Atau istri?” Well, jelas-jelas tidak ada cincin apapun pada jari-jari bersih gadis itu.

“Bukan.”

“Teman kencan? Korban PHP? Adik? Sepupu?”

“Bukan semua.” Jiyoon mulai merasa tidak nyaman dengan pertanyaan ini.

“Lalu apa?” tanya Luhan begitu penasaran, dia seperti memaksa agar Jiyoon memberitahunya status mereka.

“Aku harus mencari Jongin sekarang.” ucap Jiyoon, tidak sedikitpun menjadi jawaban yang memuaskan bagi Luhan.

“Kalau begitu mari mencarinya bersama. Dia temanku.”

JIyoon sontak menggeleng, dia bisa mati jika Jongin mendapatinya tengah bersama Luhan, apalagi menemuinya bersama Luhan. Segala hak-nya berada ditangan Jongin. Termasuk untuk berhubungan dengan orang lain bukan lagi merupakan haknya. Jika Jongin tidak suka, dia bisa mati, atau setidaknya Jongin pasti menyiksanya lagi. Jiyoon tentu hapal apa konsekuensinya. Dan demi apapun, dia tidak pernah berminat sekaligus tidak bernyali untuk melawan perintah Jongin. Sedangkan hal ini merupakan kejadian diluar kontrolnya.

————

Mata tajam itu tentu menatap bengis kearah sepasang pria dan wanita yang tengah berbincang di dekat tempat minuman, jarak mereka 20 meter sepertinya, tapi ia tetap bisa melihat, menyaksikan, perhatikan semuanya dengan begitu jelas. Semakin detik berlalu, kemarahannya kian bertambah. Tampak jelas dari matanya yang mulai memerah dan tangannya yang tengah mengepal kuat. The innocent angel just turns to be sadistic devil.

Kenapa si brengsek itu susah sekali mendengarkan perkataanku?

Dia tak henti mengutuk, mencerca, memaki-maki dalam hati untuk sebuah nama yang sama. Pikirannya penuh dengan kekejian-kekejian yang ingin ia lakukan pada Jiyoon atas perbuatan begitu menjijikan dimatanya yang dilakukan oleh gadis itu. Apakah dia selalu menggoda seluruh lelaki? Jongin tentu tidak lupa bahwa dimatanya Jiyoon tak lebih dari seorang gadis murahan yang bisa dibeli dengan uang. Tapi Jongin telah menyerahkan uangnya, dia seharusnya memiliki Jiyoon sepenuhnya, bukan? Dia punya hak mutlak atas gadis brengsek itu.

Tapi kemarahannya bercampur dengan perasaan lain ketika melihat gadis itu tersenyum pada Luhan, begitu tulus dan iklas. Dia menghela napas berat, mencoba tertawa, atau setidaknya tersenyum sedikit. Dia pernah jatuh cinta setengah mati dengan senyum itu. Dia tak mungkin lupakan janji bodohnya dulu yang akan melakukan apa saja agar membuat Jiyoon terus tersenyum. Sementara yang ia inginkan sekarang hanyalah airmata gadis itu. Tanpa sadar bahwa ia merindukannya, bolehkah ia merasa begitu iri pada Luhan? Mereka berdua baru bertemu hari ini, dari gerakkannya, Luhan telah berhasil membuat Jiyoon merasa nyaman, gadis itu bahkan tersenyum padanya. Luhan memang selalu beruntung. Terlahir di keluarga kaya, dia tidak perlu bekerja begitu keras untuk membayar uang kuliah ataupun kebutuhan sehari-hari. Pria itu juga baik dan sopan, dia memiliki segalanya dalam hal yang instan, Jongin sedikitpun tak pernah terlalu mempermasalahkan itu. Dia tidak pernah begitu iri. Tapi untuk soal Jiyoon, tentu dia tidak bisa diam saja.

“Kau tidak perlu cemburu jika tidak miliki perasaan apapun lagi terhadap gadis itu selain benci.” Nada datar milik Sehun menusuk telinganya dengan begitu dingin. Pria itu langsung duduk di meja yang sama dengan Jongin, hanya mereka berdua disitu, tidak perlu tanyakan gadis spanyol yang tadi di gandeng Sehun. Mungkin pria itu telah menyerahkannya kepada lelaki lain.

Jongin ingin menyangkal kata-kata Sehun tapi pada akhirnya pikirannya menjadi blank. Apakah benar dia tengah cemburu? Dia menuangkan segelas wine sekali lagi sembari langsung meminumnya, mulai mabuk.

“Ini tidak adil.” Ungkap Jongin parau. Rasa sakit yang terus ia tahan daritadi tentu belum bisa hilang begitu saja. Jiyoon hanya memberikannya rasa sakit, mungkin ini bisa dijadikan salah satu alasan kenapa dia begitu membenci gadis itu.

“Hidup tidak pernah adil bagi semua orang. Maka dari itu hidup menjadi adil.”jawab Sehun asal.

“Aku akan semakin menghancurkan Song Jiyoon.”

“Berhentilah menjadikannya sebagai objek, Jongin!” ujar sehun Jengkel.

Sesantai mungkin Jongin menjawab, “Dia pantas di perlakukan seperti itu.”

“Hingga hanya menyakiti dirimu sendiri pada akhirnya?” Sehun bertanya dengan desisan yang juga terdengar semakin kesal. Jongin mulai berlebihan, well, Jongin bisa saja membunuh Jiyoon apabila dia hanya berdua bersama gadis itu setelah melihat kejadian ini. Dan Sehun sama sekali tidak berminat melihat sahabatnya ini berubah menjadi pembunuh. Dia tahu bahwa Jongin adalah orang baik, pria itu suka membantu orang, dia juga selalu bersikap sopan dan sabar. Tapi apa yang dilakukannya kepada Jiyoon sama sekali tidak akan terduga oleh siapapun yang mengenalnya. Jongin sudah melewati batas dari awal sekali, semakin lama perbuatannya malah semakin buruk. Karena perasaan benci itu akan terus tumbuh dan tumbuh tanpa perlu di pupuk hingga pada akhirnya itu hanya akan menghancurkan dirinya sendiri.

Pengaruh Jiyoon dalam hidup Jongin memang sebesar itu. Sampai-sampai terkadang Sehun merasa bahwa dia tidak mengenali Jongin. Atau mungkin Jongin sendiri nyaris tidak mengenali dirinya lagi.

“Aku puas jika dia menderita. Kau tahu? Itu membuatku senang.” Balas Jongin membela diri.

“Sudah kukatakan, berhentilah menjadikannya objek. Kau mungkin akan menyesal nanti.”

“Aku sama sekali tidak akan menyesali apapun.” ucapnya tidak mau kalah dengan nada suara santai penuh keyakinan. Bahkan Jongin sempat berpikir jika akhirnya dia harus dihukum akibat segala perbuatannya, itu tidak masalah selama segala dendamnya terhadap Song Jiyoon terbalaskan.

“Kalau begitu jangan salahkan aku jika berharap Luhan bisa membebaskan Jiyoon darimu. Jika gadis itu hanya membuatmu menderita, kau lebih baik melepaskannya.”

Jongin tertawa meremehkan, menganggap Sehun tengah bercanda dengan ucapannya barusan. Jiyoon membuatnya menderita? Bukankah sebaliknya? “Tidak ada yang bisa menyelamatkan Jiyoon dariku.” Tegasnya untuk kesekian kali terhadap kalimat yang sama.

“Kau tahu siapa Luhan.” Sehun sama sekali tidak bermaksud memanas-manasi, tapi dari tempat yang tidak terlalu jauh dari Jongin, dia juga memperhatikan segala gerak-gerik antara Luhan dan Jiyoon, tapi dia juga melihat kearah Jongin secara bergantian, tentu saja.

“Luhan juga tidak akan berhasil.” Jongin membalas, mencoba memberikan keyakinan pada Sehun untuk mempercayainya lagi.

Namun Sehun tersenyum sinis, “Kau ragu.” Ucapnya menyindir, itu kentara sekali dari mata dan suaranya bahwa Jongin sendiri merasa tidak yakin.

“Dia benar-benar tidak akan berhasil.” Tegas Jongin lagi, tapi yang terdengar malah nada hampir putus asa. Jauh dari dugaannya bahwa Sehun akan tertawa, pria itu tampak tak kalah serius sekarang.

“Apakah kau setakut itu untuk kehilangan Jiyoon, huh?”

Kali ini Jongin menatap kearah Sehun dalam-dalam, pria itu tak henti memancingnya daritadi tapi tidak tahu kenapa mulutnya malah menjawab sesuatu yang bahkan tidak terpikirkan oleh otaknya, “Ya, benar. Aku setakut itu. Maka dari itu Jiyoon tidak pernah boleh pergi dariku. Dia tidak mungkin mencintaiku. Jika aku berbuat baik padanya, dia pasti akan meninggalkanku pada akhirnya.” Jongin berkata pelan, tapi napasnya menggebu-gebu, seperti kemarahan yang dia tahan sejak tadi keluar berangsur-angsur bersama setiap kata yang ia ucapkan. Tampak begitu frustasi.

Sehun tidak mampu melanjutkan serangan-serangannya untuk Jongin. Tidak penting apakah pernyataan seperti ini yang ingin ia dengar dari Jongin atau dia masih tidak percaya bahwa Jongin bisa mengatakan ini pada akhirnya, lelaki itu terlalu dibutakan oleh rasa benci hingga menurut Jongin sendiri dia tidak mengenal perasaan lain selain benci. Tapi kali ini, Sehun tidak dapat deskripsikan kata lain untuk Jongin selain menyedihkan.

“Apakah kau benar-benar tidak bisa berhenti?.”

Jongin tersenyum menyeringai, dia seperti mendapati kekuatannya kembali, “tidak akan. Aku lebih baik membunuhnya daripada berhenti menyakitinya.”

Setelah Jongin mengatakan itu dia langsung sadar bahwa Jiyoon berada disekitar mereka, menatap kosong kearahnya, kemungkinan besar Jiyoon mendengar beberapa percakapan idiotnya bersama Sehun. Tapi dia tidak akan perduli.

Dengan tajam beserta kemarahan yang kembali menumpuk, dia kembali menatap kearah Jiyoon, terlihat begitu bengis dan siap menerkam, “Sudah puas bermain-mainnya?”

Apakah Jongin tahu bahwa tadi aku bersama Luhan? Jiyoon bertanya sendiri dalam hati. Dia tidak dapat bergerak sama sekali, bahkan dirinya tidak sanggup untuk bernapas. Jongin benar-benar tampak menyeramkan sekarang. Mati kau Song Jiyoon.

“Mari pulang sekarang Song Jiyoon. Kuharap kau bisa bayangkan apa yang akan kau dapatkan setelah ini.” desis Jongin sebagai ancaman. Jiyoon ingin sekali lari, dia bisa meminta tolong pada Luhan dan bersembunyi dibalik punggungnya. Dia berkhayal bahwa itu bisa menjadi tempat teraman untuknya. Tapi kakinya tak dapat bergerak sedikitpun, nalurinya lebih memilih untuk diam dan mengikuti Jongin. Yang berarti ia akan menderita lebih parah lagi. Tapi bukankah Jiyoon sudah terlalu terbiasa dengan rasa sakit? Dia hanya perlu memejamkan matanya dan memikirkan hal yang lain…sampai semuanya slesai dan Jongin merasa puas melihatnya tersiksa.

Jongin bangkit kemudian mencengkram lengan Jiyoon dengan kuat hingga gadis itu meringis kesakitan. Dia tidak pamit terlebih dahulu pada Sehun, pria itu juga tidak akan perduli. Jiyoon tidak mencoba untuk meronta atau memohon agar Jongin berhenti ketika pria itu dengan kasar memaksanya keluar dari keramaian, bibirnya hanya keluarkan ringisan sakit yang dengan susah payah ia tahan.

“Mereka kenapa?” tanya Luhan heran, dia bahkan nyaris menyusul apabila tangannya tidak ditahan Sehun, memaksanya duduk menemani pria itu.

Sehun membalikkan gelas tequila kemudian menuangkan setengah gelas untuk Luhan, pria itu langsung menghabisinya dalam sekali teguk. “Sama sekali bukan urusan kita.”

Itu memang sama sekali bukan urusan untuk Sehun, tapi tentu saja itu menjadi urusan untuknya mulai sekarang.

“Jongin tidak akan menyakiti Jiyoon, kan?” tanyanya polos.

Sayangnya Luhan tidak tahu apa yang tengah terjadi. Tentu saja Jongin dalam bahaya besar jika dia sampai tahu.

———

Mercedes Benz S Class milik Jongin memang bukanlah mobil balap, tapi pikirannya yang terasa kacau dan setengah diracuni alcohol membuatnya memperlakukan mobil itu seperti sedang berada di sirkuit. Mereka berdua tentu terhanyut dalam pikiran masing-masing, Jongin yang terus mengontrol dirinya sendiri agar tidak menghabisi Jiyoon disini sedangkan Jiyoon yang terus menatap kosong kedepan, terlalu banyak yang berkelana diotaknya sehingga dia lelah sendiri.

Mobil itu sampai dirumah yang ditempati Jiyoon beberapa bulan terakhir (Jongin juga menempatinya terkadang) dalam waktu jauh lebih cepat dari perkiraan Jiyoon, meskipun dia terus berdoa agar waktu bisa berhenti. Atau sedikit berharap Jongin menabrak sesuatu sehingga mereka tidak bisa pulang. Dia tidak siap dan tidak akan pernah siap untuk menerima keadaan berikutnya. Tiap kali Jongin marah, dia berpikir bahwa dia pasti akan mati.

Jongin membuka pintu mobil kemudian membantingnya dengan begitu kencang. Jiyoon keluar dengan sendirinya, tapi dia tak kunjung beranjak. Jadi, Jongin kembali menarik sekaligus mencengkram tangannya dengan tidak manusiawi.

Dia membuka pintu rumah dan langsung melemparkan tubuh Jiyoon kedinding dengan begitu kuat ketika masuk. Gadis itu berteriak kesakitan, dia nyaris terjatuh karena rasakan tulang belakangnya yang seperti remuk jika saja Jongin tidak lekas menahannya. Ini baru permulaan, sayangnya.

“You are not allowed to talk to anyone and go anywhere without my permission. Apakah kau lupa peraturan itu, huh?” tanyanya geram. Jongin sama sekali tak bisa perlihatkan sikap pura-prura manisnya. Dia benar-benar dalam kemarahan besar kali ini. Dengan begitu kuat dia mencengkram rahang Jiyoon. Tapi gadis itu tidak bergeming, hanya matanya yang berkontakkan dengan Jongin yang menunjukkan bahwa dia tengah kesakitan. Tangan Jongin turun keleher Jiyoon, mencoba membuat gadis itu mencicipi awal kematian untuk kesekian kalinya. Tapi tidak tahu alasannya, tangan Jongin malah terasa kaku. Dia masih menatap kearah Jiyoon, tergambar ketakutan yang begitu kentara sementara gadis itu tidak keluarkan perkataan ataupun perlawanan apapun.

“kenapa harus Luhan?” tanyanya lirih.

Jiyoon mencoba hindari kontak mata dengan Jongin, tapi pria itu memaksa agar dirinya menatap kearahnya, dengan perasaan ngeri, Jiyoon bahkan menahan napasnya daritadi. Pria itu menatapnya dengan tatapan marah besar. Bukan, bukan hanya marah. Terlihat luka dan kecewa juga tergambar di manik mata tajamnya. Napas Jongin memburu, rambutnya berantahkan sementara wajahnya merah padam.

Jiyoon tak memiliki kemampuan sedikitpun untuk menjawab meskipun otaknya telah menyiapkan berbagai kalimat terbaik untuk diucapkan. Seperti ‘aku dan Luhan hanya membicarakan sesuatu yang tidak kau mengerti. Aku tidak bermaksud menggodanya, kau salah paham.’ Dan beberapa lainnya. Tapi dia tak sanggup keluarkan satupun. Terlalu terpana dengan kekacauan pada diri Jongin.

Jongin merasa ini sama sekali tidak adil. Luhan seperti berhasil merebut hati Jiyoon hanya dalam pertemuan pertama. Jiyoon terlihat begitu nyaman, tenang, baik-baik saja ketika bersama Luhan. Seperti tidak rusak sama sekali meskipun Jongin telah menghancurkannya berulang kali.

Sementara jika didekatnya, Jiyoon terlihat begitu ketakutan, begitu tak nyaman seperti ingin segera lari sejauh mungkin dan tidak pernah kembali. Ayolah, Jiyoon baru mengenal Luhan sehari sementara bertahun-tahun untuk dirinya. Tapi tidak bisakah sekali saja Jiyoon menatapnya seperti yang ia lakukan terhadap Luhan? Kenapa ini begitu tidak adil?

“Kau pasti masih bertanya-tanya kenapa aku lakukan ini semua padamu. Kau pantas mendapatkannya, Song Jiyoon. Satu-satunya yang bertanggung jawab atas segala perbuatanku adalah dirimu. Kau menghancurkanku, membuatku menderita, membuatku tidak bisa pikirkan hal lain selain balas dendam terhadapmu. Kau membuatku mati rasa hingga tidak mau perduli dengan apapun di dunia ini selain penderitaanmu. Aku…aku membencimu.” Jongin berkata semuanya dengan begitu lirih. Jiyoon mendengarkan semuanya dengan begitu baik, tak lupa matanya yang tertaut dengan mata Jongin. Mata itu begitu indah namun menyedihkan disaat yang bersamaan. Terlihat begitu menderita, begitu rapuh, begitu rusak. Dan seperti yang dikatakan Jongin barusan, ini semua disebabkan olehnya.

Jadi Jiyoon tak dapat salahkan siapapun lagi jika pada akhirnya dia mulai menyalahkan dirinya sendiri. Ya, tentu saja. Tentu saja ini salahnya. Dia yang harus bertanggung jawab atas kerusakkan pada diri Jongin.

“Kau bisa membunuhku jika semua ini menjadi selesai.” Gumamnya sedih. Dia melihat kearah lantai, terlalu tidak sanggup untuk terus bertatapan dengan Jongin. Meskipun Jiyoon terlihat begitu kosong, dia serius dengan ucapannya. Mungkin dia sudah tidak takut mati lagi mulai sekarang. Perasaan bersalahnya mulai mengalahkan egonya.

Dia akan menerima dengan iklas jika Jongin memilih untuk membunuhnya sekarang. Kalau saja itu bisa memperbaiki Jongin kembali, menghapuskan segala dosa-dosanya terhadap Jongin. Pria itu sama sekali tidak jahat sebelumnya. Dia orang baik. Dan tidak sepantasnya orang baik seperti Jongin berubah menjadi monster menakutkan hanya karena gadis sepertinya. Karena kebencian itu akan terus berkembang. Jongin mungkin hanya ingin menyakiti Jiyoon, tapi dia juga akan menyakiti orang lain pada akhirnya. Seperti Jinwoo, dan sebentar lagi bisa saja terjadi pada Luhan ataupun yang lainnya. Ini harus dihentikan.

“Sayang sekali. Aku tidak ingin mengotori tanganku dengan darahmu.” Balas Jongin sinis. Jiyoon merasa terlalu helpless hingga dia tidak berminat untuk katakan apapun lagi. “Hidupmu sama sekali tidak akan berguna jika kau mati sekarang.” lanjutnya menyindir. Sementara Jiyoon tidak merasakan apapun ketika perkataan itu di lontarkan Jongin. Orang normal pasti akan merasa sakit hati atau setidaknya tersinggung.

Tangan Jongin terkepal kuat sementara matanya menatap bengis kepada Jiyoon, siap melancarkan segala aksinya yang sudah sangat ingin ia perbuat daritadi. Dia melayangkan tinjuannya. Terdengar dentuman yang begitu kuat dan napas tersenggal. Itu sama sekali tidak mengenai Jiyoon, hanya bersarang pada dinding yang sempat bergetar tepat disebelah kepala Jiyoon. Pria itu bagaikan tak sanggup untuk melakukan apapun lagi. Dirinya seperti menghianatinya sendiri secara terang-terangan.

Kalau saja tinjuan Jongin tidak meleset, Jiyoon dapat memastikan tulang tengkoraknya sudah dipastikan remuk.

Sebisa mungkin Jongin mengatur kembali napasnya yang tidak stabil, “Hate me as much as you want. but dont ever try to leave me.” Ucapnya parau sementara Jiyoon hanya menatap datar kearah Jongin. Dia betul-betul tak dapat rasakan apapun lagi selain kekosongan.

“Jongin….” Gadis itu mencoba berbicara tapi laringnya seperti tersenggal sesuatu hingga ia tak mampu melanjutkan perkataannya sedikitpun.

“Aku tidak pernah bisa memilikimu dengan cara baik-baik. Jadi jangan salahkan aku jika semuanya menjadi semakin buruk.”

Cinta tak terbalas itu begitu kejam. Jongin mencintai Jiyoon secara berlebihan sehingga rasa cintanya berubah menjadi benci. Karena dia mencoba hindari rasa sakit tanpa sadari dia malah semakin sakit.

———–

370 responses to “Amour, Obsede (It Hurts)

  1. Aku kira jongin bakalan nyakitin jiyoon lg
    Ternyata dia ngerasa ada sesuatu dihatinya yg dia anggap benci dan padahal itu cinta, cinta yang berlebihan dan takut kehilangan sosok jiyoon

    Dia gak mau jiyoon ninggalin dia, makanya dia buat cara” kejam ke jiyoom biar jiyoon gak berani pergi dari dia

    Ya ampuuun
    Kaian sama dua”nya kalo gini

  2. jongin gak mau jiyoon ninggalin dia .,.,. uda bisa ngendalii amarahnya si jongin .,.,. jangan bilang kalo luhan suka sama jiyoon ,.,.,. nice

  3. jongin cemburu😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂
    Gapapa kok cemburu itu normal kok:’) apalagi kalo cemburu ke orang macem luhan;’)

  4. sumpah ihh kasian bgt jongin disinii. disini jongin kyk bener2 nunjukin kalau dia tuh jg rapuh. jongin keliatan menyedihkan bgt anjir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s