[Se-Tae Series] Our Memories

B6CNkluCUAAHr4v

Author : ohnajla (chosangmi15)

Genre : Romance, Schoollife, marriage life

Rating : Teen

Length : Series

Cast : Kim Taehyung (BTS), Kim/Oh Sena (OC)

.

.

First Night Dating | Today | Let Me Know | Hormone Problem

Full House | Art Festival | When I Was Thirdteen

Love is Not Sex

.

Our Memories

.

Di akhir pekan, Taehyung tiba-tiba mengajak Sena ke Busan. Awalnya Sena menolak, karena Taehyung inginnya pergi dengan sepeda motor berdua. Tapi, semenjak pernikahan mereka, Sena dan Taehyung hanya mengunjungi nenek dan kakek Sena sebanyak satu kali. Rasa-rasanya mereka adalah cucu durhaka yang tidak mau mengunjungi nenek kakeknya.

Perjalanan berjalan mulus. Sejak sore hari ketika Sena baru pulang sekolah, mereka berangkat dan sampai di Busan tepat malam hari jam 9. Keduanya disambut hangat oleh kakek nenek Kim. Karena mereka datangnya malam, jadi nenek Sena menyuruh keduanya untuk segera makan kemudian tidur.

Taehyung kelihatan sangat berwibawa ketika bertemu nenek kakek istrinya. Dia tidak menunjukkan dirinya yang sebenarnya kalau dia itu manja. Sikapnya benar-benar sopan, bahkan berbicarapun sangat santun. Berulang kali kakek nenek Kim memujinya tampan.

Sena keluar dari kamar mandi yang terletak di lantai atas ketika Taehyung baru keluar dari kamar. Mereka berdua sepakat tidak ingin menginap di kamar Daena yang dulu, jadi mereka memilih menginap di kamar lantai atas.

“Sudah selesai mandinya?” tanya Taehyung sambil membantu Sena mengeringkan rambut secara manual.

Sena mengangguk sambil tersenyum.

Tak lama kemudian, Taehyung menyampirkan handuk itu ke bahu kiri Sena lalu mencium pipi gadisnya.

“Tidur duluan saja. Aku mandi dulu.”

Sena mengangguk.

Gadis itu mendesis ketika Taehyung mengacak rambutnya sebelum menghilang di balik pintu kamar mandi. Dengan senyum mengembang, Sena mengambil langkah riang menuju kamar yang akan mereka tempati. Karena Taehyung sedang mandi, maka Sena bisa dengan leluasa mengganti pakaiannya.

**

10.00 P.M

Masih belum mengantuk, Sena ikut-ikut Taehyung membaca salah satu seri komik One Piece. Dia tahu kalau suaminya sangat menyukai manga itu. jadi, dia hanya ikut-ikut saja biar nyambung ketika diajak mengobrol tentang tokoh di One Piece.

Tiba-tiba Taehyung menguap. Lebar mulutnya bisa membuat semua yang disekitarnya termasuk Sena, terhisap ke dalam. Tidak jauh beda seperti black hole, maupun tokoh anime favoritnya, Luffy.

“Kalau menguap itu, mulut ditutup,” celetuk Sena sambil membalik halaman komik di tangannya.

Taehyung meletakkan komiknya di atas nakas. Dia langsung memeluk tubuh Sena dari samping. Salah satu tangannya menurunkan tangan Sena yang sedang mengangkat komik.

“Sudah ya bacanya. Ayo tidur.”

“Aku masih belum mengantuk,” ucap Sena sambil mengangkat komik itu lagi. Sayangnya, gerakan tangan Taehyung untuk menindih lengan Sena dengan lengannya, lebih cepat.

“Tapi aku sudah mengantuk.”

“Tidur saja lah. Lagipula tidak ada hubungannya dengan aku membaca komik.”

“Tentu saja ada. Kalau aku tidur, sedangkan kamu membaca komik, bisa-bisa aku memimpikan Nami, bukan dirimu. Padahal aku selalu ingin memimpikan dirimu.”

Sena mengerucutkan bibirnya. “Baiklah baiklah. Jadi sekarang aku harus apa? Menunggumu tidur?”

“Aniya. Bagaimana kalau kita menceritakan masa-masa pacaran kita? Kita kenang lagi masa-masa pacaran kita yang sulit kita lupakan.”

“Aku tidak tahu maksudnya. Bagaimana kalau oppa duluan saja?”

Taehyung mencium lembut leher jenjang Sena. “Baiklah. Harap dengarkan dan jangan ditinggal tidur.”

Sena mengangguk.

Sehari setelah kejadian di acara dies natalies sekolah, nama mereka berdua mulai terkenal seantero sekolah. Tidak hanya dilingkup SMP saja, tapi SMA juga. Kisah cinta mereka itu menggemparkan sekolah. Apalagi ketika berita tentang Taehyung yang mempermalukan Hyorin, gadis bergaun hitam yang disiramnya dengan kopi, juga mulai menyebar. Sesi pembullyan pun terjadi.

Begitu bel istirahat berbunyi, Taehyung cepat-cepat keluar kelas untuk mencari makan di kantin. Pagi tadi dia belum makan apapun, jadilah perutnya keroncongan. Sialnya, sesampai di kantin, dia mendapati geng pro Hyorin yang menguasai meja pemesanan.

Karena tidak ada harapan, Taehyung memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Tapi langkahnya tiba-tiba terhenti saat suara seorang laki-laki memanggil namanya. Dengan berat hati, Taehyung memutar tubuhnya kembali.

Itu anak pemilik Jeon Corp, Jeon Jung Kook.

“Kau mau makan, kan? Kenapa tiba-tiba pergi?”

Taehyung bisa melihat kilat sinis dari sorot mata Jungkook.

“Aku tidak lapar.”

“Oh ya? Benarkah?”

KRUCUK.

Taehyung merutuki perutnya yang berbunyi di waktu yang tidak tepat. Seringaian tipis tercipta di bibir Jungkook.

“Perutmu tidak bisa membohongiku. Oh, atau jangan-jangan kau tidak punya uang untuk membeli makanan?”

Penghinaan itu, membuat salah satu tangan Taehyung terkepal. Tanpa dosa, Jungkook tersenyum.

“Tenang saja. Kali ini aku yang traktir.”

Belum saja Taehyung menyetujuinya, Jungkook sudah memanggil kawan-kawan satu gengnya tadi untuk mengambilkan semua makanan yang ada di menu. Kini, Taehyung sudah duduk di salah satu kursi kantin berhadapan dengan belasan piring dan mangkuk yang penuh makanan.

Jungkook yang duduk berhadapan dengan Taehyung, tersenyum tipis.

“Ini semua untukmu. Yah.. anggap saja sebagai ucapan selamat atas jadianmu kemarin dengan cucu direktur Oh Corp.”

Taehyung menatap Jungkook tajam. “Apa yang sedang kau rencanakan padaku?”

Jungkook memandangnya innocent. “Rencana apa? Aku tidak sedang membuat rencana apapun padamu.”

“Dari sorot matamu, aku sudah tahu!”

Jungkook tersenyum miring. “Memang aku tidak boleh menraktir TEMAN seangkatanku?”

Taehyung mendengus sinis.

“Ah, tidak perlu berdebat panjang lebar lagi. Aku sedang cari teman buat makan siang denganku. Makanlah.”

Taehyung tidak bisa menolak kesempatan ini. Dia ikut makan bersama Jungkook, hanya saja tidak rakus seperti orang kelaparan kebanyakan.

Satu suapan..

Dua suapan..

Lima suapan..

TING!

Sendok yang dipegang Taehyung tiba-tiba saja jatuh membentur mangkuk. Tangan kanan pemuda itu memegangi kepalanya yang tiba-tiba pening. Dia berusaha menggapai gelas minumannya, tapi gagal karena terlalu jauh. Kepalanya serasa berputar-putar, kian lama efeknya hingga ke penglihatannya yang perlahan merabun. Sekilas Taehyung bisa melihat senyum kemenangan dari wajah Jungkook, sebelum akhirnya semua gelap.

*

Suara isakan seorang perempuan membuat Taehyung membuka matanya perlahan. Untuk beberapa detik, dia sedang mengumpulkan seluruh nyawanya. Begitu terkumpul, semuanya terlihat asing. Dia tidak pernah berada di tempat ini sebelumnya. Langit-langit ruangan yang sudah rusak, dan bau debu tebal di sekitarnya, Taehyung yakin dia tidak sedang berada di kelas maupun di rumah.

“Hiks.”

Kepalanya langsung menoleh.

Tertangkap olehnya sosok seorang gadis berseragam SMP yang sedang duduk melipat kaki sambil memeluk sebuah tas. Bahu gadis itu naik turun menandakan bahwa sedang terisak.

Taehyung perlahan bangkit kemudian berjalan mendekati gadis itu. langkahnya agak terseok-seok karena tubuhnya masih lemas serta kepalanya pusing.

Matanya melebar ketika mendapati gelang dengan gantungan huruf ST yang berada di pergelangan tangan gadis itu.

“Sena?”

Merasa namanya dipanggil, gadis itu segera mengangkat kepala.

“Sunbae?”

Taehyung berlutut di hadapan gadis itu. “Kenapa ada disini?”

Sena kembali mengingat alasan mengapa dia menangis. “A-a-a-aku… H-h-hyorin sunbae… mengunciku disini.”

Sorot mata Taehyung berubah iba. Dia menghapus air mata di pipi Sena menggunakan ibu jarinya.

“Tenang, ada aku disini.”

Sena mengangguk pelan sambil menunduk kembali. Kini Taehyung berpindah posisi di sebelah Sena. Tanpa ragu, dia menyisir rambut Sena dengan jarinya.

“Dia tega sekali melakukan ini padamu.”

Sena mengusap wajahnya sebelum menoleh pada Taehyung.

“Sunbae sendiri.. kenapa disini?”

“Aku juga dikunci. Tapi entahlah. Bangun-bangun aku sudah ada disini.”

“Siapa yang melakukannya?”

Taehyung menurunkan tangan ketika rambut Sena sudah terlihat agak rapi. “Molla.”

Sena mendesah pelan kemudian membuka tasnya. Entah apa yang sedang dia lakukan, tapi tangannya berhasil menarik sebuah kotak bekal.

“Aku tadi ke kelas 3. Inginnya menemui sunbae dan memberikan ini. Tapi, yang kutemui malah Hyorin sunbae. Mian, aku baru bisa memberikannya sekarang.”

Taehyung memandang Sena serta kotak bekal itu secara bergantian.

“Kamu ke kelas 3? Mencariku?”

Sena mengangguk takut-takut.

Taehyung mendesah, dan menerima kotak itu. “Gomawo. Tapi lain kali, jangan kesana sendirian.”

Sena mengangguk lagi.

Taehyung memandangi tutup kotak bekal di tangannya. Ini pertama kalinya, dia bisa memegang sebuah kotak bekal. Dulu ibunya tidak pernah membuatkannya kotak bekal, karena memang usianya masih bukan usia sekolah. Sebenarnya dia senang, seseorang seperti Sena mau membuatkannya makanan. Hanya, dia terlalu gengsi untuk menunjukkan perasaan itu.

Begitu dibuka..

“Eomma yang memasaknya,” ucap Sena tanpa menoleh ke orang yang diajaknya bicara.

Taehyung tersenyum. Bau capjay yang begitu khas langsung memblokir pernafasannya, seolah-olah oksigen tidak bisa masuk.

“Katakan terima kasih pada eommamu.”

“Ne.”

“Kau tidak mau makan denganku?”

Sena menggeleng pelan. “Selera makanku hilang.”

Taehyung menoleh. “Wae?”

“Mollaseo.”

Pemuda itu menutup kotak bekal tersebut, lalu meletakkannya di dekat kaki. Ia memandang sejenak wajah Sena dari samping sebelum memeluk gadis itu. Dia tidak tahu kalau Sena sangat terkejut.

“S-s-sunbae?”

“Aku adalah oppamu, panggil aku oppa.”

Sena tak menjawab.

“Mian, aku tidak sedang mencari kesempatan di dalam kesulitan kita sekarang. Ini pertama kalinya, aku akan bicara serius denganmu.”

Jantung Sena mulai berdebar tak menentu. “Bicara… apa?”

“Aku adalah oppamu, aku adalah kekasihmu. Aku tidak sedang menyuruhmu untuk tunduk pada semua ucapanku. Aku hanya ingin kamu mendengar ini. Apapun yang terjadi, aku akan tetap melindungimu. Aku akan tetap menjadi tamengmu, panggil aku kalau kamu sedang dalam kesulitan. Jangan lihat laki-laki lain. Jangan mau mengikuti mereka meski mereka membawa namaku. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Memberontak saja kalau memang kamu ingin. Untuk masalah Hyorin… jangan pernah membencinya, jangan memiliki dendam apapun dengannya. Biarkan dia melakukan apa yang dia suka. Kau bisa melawannya kalau dia sudah melewati batas kemanusiaan. Percaya padaku, semua akan baik-baik saja.”

Sena terdiam seribu bahasa. Dia tidak akan menyangka, kalau Taehyung akan berbicara seserius ini dengannya. Dia pikir, hubungan sepasang kekasih itu hanya dipenuhi oleh kisah-kisah romantic atau sebaliknya. Tapi dengan Taehyung tidak begitu. Baginya, ini seperti tahap pendewasaan diri.

Perlahan, Taehyung melepaskan pelukannya. Dia tersenyum sambil mengaitkan rambut Sena di belakang telinga.

“Saat tidak menangis, kamu terlihat cantik.”

Pipi Sena spontan memerah.

Taehyung tiba-tiba merasakan kejanggalan. Dia baru sadar, seragam yang dipakai Sena basah kuyup, belum lagi rambutnya yang kering dan lengket seperti baru saja disiram air.

“Apa yang dilakukan Hyorin sebelum menguncimu?”

Sena tidak menyangka Taehyung akan bertanya begitu. Dia langsung saja membuang pandangan.

“Hyorin sunbaenim tidak melakukan apapun.”

“Jangan bohong padaku, Sena.”

“Tidak.”

“Tidak salah maksudmu? Seragammu basah, rambutmu lengket, apa dia menyirammu juga?”

Sena menggigit bibirnya, suatu kebiasaan saat bingung.

Tanpa bertanya lagi, Taehyung segera melepas blazernya kemudian memakaikannya di punggung Sena.

“Bagaimana kalau ayah ibumu khawatir, ketika anak gadisnya pulang dengan badan basah kuyup dan rambut lengket? Bagaimana khawatirnya mereka kalau kamu demam setelah ini? Kenapa kamu tidak memikirkan itu, huh? Jangan membuat orang lain cemas. Cukup aku saja yang cemas dengan kondisimu.”

Air mata Sena kembali menetes. “Oppa…”

“Mulai sekarang jangan tutupi masalahmu dariku.”

“Aku… aku tidak bisa memercayai orang lain.”

Mata Taehyung melebar. “Maksudmu?”

“Kecuali Daehun, tidak ada yang kupercaya lagi di dunia ini,” Sena mengusap pipinya dengan punggung tangan.

“Wae?”

“Aku… takut.”

Taehyung langsung menangkap pergelangan tangan Sena, ketika gadis itu mengucek mata terlalu keras. “Apa yang kamu takutkan?”

“Sakit hati… saat semua orang tidak memercayaiku lagi.”

Taehyung mengusap lembut kulit tangan Sena. “Itukah yang kamu takutkan? Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk menceritakan semua masalahmu. Kalau kamu memang ingin cerita, silahkan saja. Aku tidak pernah menghargai sesuatu yang dimulai dengan paksaan.”

Sena menoleh. Dia bisa melihat bola mata Taehyung, yang seakan memancarkan sinar ketulusan.

“Oppa… apa… cinta itu seperti yang kamu lakukan ini?”

Taehyung menggeleng. “Mollaseo. Aku juga tidak begitu tahu, apa itu cinta.”

“Eomma pernah bilang, cinta itu seperti aku dengan Daehun. Eomma selalu mengatakan agar aku mencintai adikku, dan saat kutanya bagaimana caranya, eomma bilang aku harus mengusap kepalanya kalau dia berhasil melakukan sesuatu, memeluknya saat dia menangis dan mencium keningnya ketika Daehun membutuhkan kekuatan. Apa seperti itu?”

Taehyung tersenyum. “Jadi, aku harus melakukan semua itu padamu sebagai bentuk cinta?”

Sena menunduk. “Mollaseo.”

“Ne. Eommamu benar. Itu salah satu cara menunjukkan rasa cinta ke orang lain, yaitu melalui sentuhan fisik. Tapi, cara mengapresiasikan cinta tidak sebatas itu saja. Kamu bisa menunjukkan rasa cintamu tanpa menyentuh orang tersebut.”

“Eotteokke?”

“Mau melindunginya, selalu berada di sampingnya, selalu siap mendengar semua keluhannya dan mendampinginya apapun yang terjadi.”

Sena terdiam.

“Merasa bahagia ketika orang yang dicintainya bahagia, dan ikut merasakan kesedihan saat orang yang dicintai merasa sedih.”

Sena mengangkat kepalanya lagi. “Apa oppa mau melindungiku? Selalu berada di sampingku? Siap mendengar semua keluhanku? Mendampingiku apapun yang terjadi? bahagia ketika aku bahagia? Sedih saat aku sedih?”

Taehyung tersenyum dan sedikit mendekatkan wajahnya. “Nado nan molla. Kurasa, kamu yang tahu jawabannya.”

Sena mengangkat salah satu tangannya yang bebas. Untuk pertama kalinya, dia menyentuh kulit wajah Taehyung. Dalam ruang gelap yang hanya disinari cahaya rembulan dari jendela penuh debu, Sena bisa merasakan garis-garis kasar di wajah itu. Terkadang dia menemui bekas luka disana, hingga tak sengaja membuat Taehyung meringis.

“Saranghae..”

Taehyung tersenyum sebentar sebelum menggigit ujung jari telunjuk Sena. Dia menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sampai membuat tangan Sena bergoyang. Dia tersenyum saat Sena tersenyum.

*

Semalam, Sena tidur pukul 3 dini hari. Sedangkan Taehyung tidur tiga jam sebelum dirinya. Awalnya dia tidur dengan paha Taehyung sebagai bantalnya, tapi karena tidak lekas tertidur, akhirnya dia merubah posisi menjadi duduk dan meletakkan kepala Taehyung di pahanya. Sambil menunggu rasa kantuknya, dia sibuk mengangumi wajah tampan Taehyung dan mengusapnya. Wajah bersih tanpa jerawat itu, ternyata memiliki banyak goresan bekas luka. Sena pernah mendengar kabar bahwa salah satu murid di SMP Daesang ada yang disebut-sebut sebagai Gangsta Boy. Dia awalnya tidak tahu kalau orang itu adalah Kim Taehyung. Dia baru menyadarinya, kala menari bersama Taehyung di Ballroom sekolah.

Pagi ini, Taehyung bangun lebih awal. Begitu membuka mata, yang pertama kali Taehyung lihat adalah wajah Sena yang berada beberapa senti di atasnya. Dua mata di wajah cantik itu tengah memejam, membuat bulu mata bagian atas dan bawah menyatu. Bibir kecil ranum itu tertutup rapat, dan hembusan napas dari hidung pinokio wajah cantik itu menerpa kulit wajahnya.

“Gadis bodoh,” gumam Taehyung seraya bangkit dan duduk di samping Sena. Dia meletakkan kepala gadis itu di atas pundaknya.

biga oneun jiteun saek seoul geu wie

(Ditengah bayangan hari hujan di kota seoul)

dallineun chadeul, sabange kkumteuldaeneun usandeul

(Mobil-mobil berlalu lalang, payung-payung gelisah di sisi jalan)

nalssineun heurim gonggineun malgeum

(Cuaca cerah dan sedikit berawan)

jeo biga geuchyeo goin mul wie bichyeojin

(Hujan telah berhenti, menciptakan pantulan di genangan air)

yeonhoesaek baegyeongui nan wae yeogi meomchwo seosseulkka

(Dunia yang kelabu, dari sekian banyak tempat mengapa langkahku harus terhenti disini)

saenggagi manheun geonji eomneun geonji jal molla

(Aku bahkan tak tahu apakah aku punya terlalu banyak pikiran atau bahkan tidak sama sekali)

Perlahan Sena membuka mata. Barusan, telinganya mendengar suara merdu yang tengah melantunkan sebuah lagu.

biga oneun jiteun saek seoul geu wie

(Ditengah bayangan hari hujan di kota seoul)
yeojeonhi jam mot iruneun naega heuryeojine

(Aku masih tak bisa tidur, seakan diriku memudar)
jeo biga geuchyeo goin mul wie bichyeojin

(Hujan telah berhenti, menciptakan pantulan di genangan air)
oneulttara deo chorahan naega geuryeojine

(Memantulkan bayanganku yang terlihat lebih menyedihkan hari ini)

“Apa maksudnya?”

Taehyung tersenyum. “Mollaseo. Aku hanya sedang ingin bernyanyi.”

“Kenapa genangan air memantulkan bayanganmu yang lebih menyedihkan hari ini?”

Taehyung tetap tersenyum. “Aku selalu terlihat menyedihkan bukan?”

“Aniyo.”

“Benarkah?”

Sena melingkarkan tangannya di lengan Taehyung. “Bagiku oppa selalu terlihat tampan.”

Taehyung tersenyum lagi. “Benarkah?”

“Seharusnya, akulah yan terlihat lebih menyedihkan hari ini.”

“Aniyo.”

ttaseuhage buneun hyanggiroun baram nae du bore seuchimyeon nan, saranghaetdeon geudae eolguri tteo-oreujyo

(Saat angin yang wangi berhembus dengan hangat menyentuh lembut di kedua pipiku, wajahmu yang kucintai muncul dalam pikiranku)

oh~ gilga-e sumeoseon ireumdo moreuneun deulkkochi pil ttaejjeumen, gieok jeo pyeone gamcwo dun geudaega tteo-oreujyo

(Oh, pada saat itu bunga liar tanpa nama bersembunyi di sisi jalan sedang mekar, Kau yang kusembunyikan di satu sisi memoriku muncul kembali)

My baby illa illa illa, baby illa illa illa, baby illa illa illa
Never forget love

cheot sarangeun areumdawoseo cheot sarangeun kkochiramnida bomi omyeon hwaljjak pineun o~ nuni bushin kkot-cheoreom

(Cinta pertama disebut dengan bunga karena keindahannya
Jika musim semi datang ia akan bermekaran, seperti bunga yang mempesona)

cheot sarangeun eorin-ae cheorom cheot sarangeun seotureumnida sarangeul akkim-eopshi jugo gatjil mothanikka

(Cinta pertama itu lemah seperti anak kecil
Karena aku tak bisa memiliki dan memberikan curahan cinta)

Taehyung terdiam.

“Apa suaraku terdengar mengerikan?”

Taehyung menggeleng, tapi Sena tidak tahu.

“Itulah, yang kurasakan padamu sekarang.”

Taehyung melihat puncak kepala Sena. Dia terdiam sebentar sebelum meletakkan dahinya disana. Mungkin, rambut Sena masih lengket, tapi bau cherryblossom yang menguar, membuatnya tidak ingin mengangkat kepala.

“Nado.”

Sena tersenyum tipis sambil meraih tangan Taehyung dan menggenggamnya.

“Oppa… apa aku terlalu kecil untukmu?”

“Ye?”

“Usiaku masih 13 tahun. Apa tidak terlalu muda bagimu?”

Taehyung tersenyum. “Ani.”

“Apa oppa tidak ingin menciumku?”

Taehyung terdiam untuk beberapa detik, sebelum akhirnya dia tersenyum lagi.

“Ingin sebenarnya.”

“Lalu?”

Taehyung melepaskan rangkulan Sena kemudian menangkup wajah gadis itu. Wajah mereka dalam posisi sejajar, kedua mata mereka berada di satu garis lurus. Hanya satu yang membedakan. Karena usianya masih 13 tahun, Sena terlihat masih kekanakan dan polos seperti anak usia 7 tahun. Sedangkan Taehyung yang telah memasuki tahap remaja, garis-garis wajahnya semakin terlihat tegas.

“Haruskah aku melakukan itu?”

Sena mengerjap sekali. “Kenapa tidak?”

“Aku bukan Daehun.”

Sena mengerutkan keningnya. “Maksud oppa?”

“Tidak semua orang bisa menciummu.”

“Wae?”

Taehyung tersenyum. “Kecuali keluarga dan suamimu, orang lain tidak boleh menciummu.”

“Wae? Oppa kan kekasihku.”

“Kekasih itu beda dengan suami. Suami itu seperti status ayahmu pada ibumu. Pada seorang suami, seorang perempuan tidak boleh menutupi apapun, seluruhnya. Tapi pada seorang kekasih, ada batasan yang harus kamu tahu.”

“Batasan?”

“Ne. yang paling utama adalah tidak bersentuhan fisik secara berlebihan. Berawal dari sebuah ciuman, bisa-bisa bergerak menjadi masalah besar, yaitu merusak masa depanmu. Kamu tidak ingin kan, kalau melahirkan di usia 14 tahun?”

Sena menggeleng cepat. Taehyung mengacak pelan rambut Sena.

“Maka dari itu, jangan pikirkan hal-hal seperti itu lagi. Aku pasti akan menciummu, tenang saja. Kita harus menunggu waktu yang tepat. Arrachi chagiya?”

Sena mengangguk mantap. “Arrachi.”

*

“Aku sudah melupakan kisah itu,” ucap Sena sambil menggaruk kepalanya.

Taehyung menyentil ujung hidung Sena. “Makanya jangan memikirkanku terus.”

Sena mengerucutkan bibirnya. “Siapa juga yang memikirkanmu?”

“Ah ternyata benar, kau selalu memikirkan oppa tampanmu ini.”

Gantian Sena yang menyentil hidung Taehyung. “Aku jawab apa, kamu bicara apa.”

Taehyung tak peduli dan memilih mengeratkan pelukannya. “Ah.. tiba-tiba aku mengantuk.”

“Yaa, sekarang giliranku bercerita.”

“Aku tidak yakin kamu masih mengingat masa-masa pacaran kita.”

“Siapa bilang?”

“Tentu saja kamu. Bukannya kamu sudah lupa kisah kita yang kuceritakan barusan.”

“I-i-i-itu..”

“Sudahlah, ayo tidur.”

“Aku masih belum mengantuk.”

“Dipaksa saja.”

“Aku tidak menghargai sesuatu yang dilakukan dengan paksaan.”

“Aku seperti pernah mendengar kalimat itu.”

“Nah kan. Oppa juga lupa.”

“Siapa bilang aku lupa?”

“Tentu saja oppa.”

“Kapan aku mengatakannya?”

“Barusan.”

“Memang aku bicara bagaimana tadi?”

“Kira-kira begini, aku seperti pernah mendengar kalimat itu.”

“Lalu menurutmu, aku lupa karena berbicara seperti itu?”

“Tentu saja.”

“Babo.”

“Mwo?”

“Ck. Aku bisa saja melepas kancing bajumu.”

“Maldo andwae!!” Sena buru-buru membekap dadanya.

Taehyung tersenyum tipis. “Makanya, diamlah.”

“Aku tidak bisa terima kau menyebutku bodoh.”

“Waeyo? Bukankah kenyataannya juga begitu?”

Sena langsung menarik pipi Taehyung hingga pemuda itu meringis kesakitan.

“Appo!! Yaa lepaskan Sena!”

Sena terpaksa melepaskan tarikannya saat Taehyung menangkap tangannya.

“Makanya, jangan sebut aku bodoh.”

“Ya sudah kalau itu maumu. Belum mengantuk, kan? Ayo bermain sebentar.”

Sebelum Sena tahu maksudnya, Taehyung langsung mematikan semua lampu yang ada di kamar utama dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh mereka.

“Yaa, apa yang akan kau lakukan?”

“Sudah kubilang, ayo bermain.”

“Mau tahu apa permainannya? Kata kuncinya adalah, aku suamimu.”

“Lalu? Apa hub- mwo?! Melakukan itu sekarang?! Yaa! bagaimana kalau aku hamil!!”

“Yaa, jangan berteriak.”

“Andwae! Yaa… kalau kamu berani menyentuhku, aku akan menangis sekeras-kerasnya.”

“Silahkan saja.”

“OPPA!!!!!!!!!!”

END

102 responses to “[Se-Tae Series] Our Memories

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s