[Freelance] Still – @SalmaMuharomi

bgy

Title     : Still
Author : SMI (Twitter: @SalmaMuharomi)
Cast : Han Jisoo(OC), Chanyeol (EXO)
Genre : Hurt
Rating : General
Length : oneshoot

Disclaimer : All story is mine. I Hate plagiatJ

 

PS: ini alurnya maju-mundur. Mungkin karena aku nya lagi galau jadi yagitudeh. Aku nulis cerita ini, menyesuaikan dengan karakter seorang perempuan yang egois, ingin melepaskan tapi membutuhkan untuk kembali. Cuma terpokus sama perempuannya aja. Yang ga ngerti pegangan dada Luhan gege ajaK.

-SMI
Aku membencimu.

Kata yang sama sekali tidak dapat tersampaikan menjadi sebuah keluhan yang mengalir di hatiku. 3 tahun sudah. Air mata terus mengalir. Di hari aku merindukanmu. Hingga di sekian hari aku merindukanmu. Terus menerus mengalir jatuh. Menjadikan air mata menyakitkan. Minggu lalu aku mengatakan pada diriku, aku baik – baik saja, setelah kata itu terucap secara bersamaan pula air mataku kembali mengalir. Air mata sebuah kerinduan itu pasti akan selalu menjadikan perih di hatiku, seperti ada sebuah ramuan yang membuat hatiku meremas sesak sangat – sangat terasa.

 

Aku sadar, kesalahan hubungan kita memang berasal dari diriku. Bukan keinginanmu, memang. Tapi aku yang memaksamu, kau enggan untuk mengatakan ‘iya’, aku terus menyeretmu untuk mendekatiku, lagi dan lagi. Lalu kemudian hari, kau dengan teganya merelakan kau bersanding denganku. Aku senang, sangat! Tapi itu dulu. Mengapa kau selalu gemetarkan hatiku terus menerus? Kau melakukannya seperti tidak terjadi apa-apa.

 

Sebenarnya aku sangat merindukanmu

 

Aku merindukanmu

 

Aku mencoba menghapus dirimu dari hatiku, tapi itu sepertinya tidak terjadi, aku bahkan tak bisa melakukannya. Aku terus mencoba seperti hari kemarin. Tidak ada yang berubah, sebenarnya aku kenapa?

 

Aku terlalu lemah. Jadi aku hanya bisa membayangkanmu. Aku melukis wajahmu yang tersenyum untukku kemudian kembali menghapus bayanganmu, lagi. Sekali lagi. Ini terlalu manis. Kau membuatku gila. Kau menempatkanku di titik ruang yang gelap, lalu membiarkanku sendirian. Kau memang tidak pernah meninggalkanku, tapi hatimu yang memang tak pernah mengijinkanku untuk menempatinya dengan suka rela. Tolong jangan terlihat baik di hadapanku. Kau membuatku semakin gila jadinya. Berhenti jadi terlalu baik untukku.

 

Apa semua ini baik-baik saja untukkumu?

 

Bahkan jika kita berpisah, kau akan baik saja kan?

 

Jangan ucapkan selamat tinggal untukku. Tapi aku tau kami akan berakhir. Haruskah aku yang mengatakannya sekarang?

 

Perpisahan? Sungguh aku tidak pernah menginginkan hal itu. Lalu apa yang terbaik untuk hubungan kami?

 

 

Aku hanya menatapmu, diam-diam bersembunyi ditemani rasa gemetaran dalam rasa takut. Sudah sekian kali aku berpikir apa yang kau perbuat padaku, kau bahkan tidak melakukan hal salah. Tapi mengapa aku menyukaimu tanpa alasan? Kau seperti tokoh romantisme komik, jika itu tentangmu, sekecil apapun itu, aku akan mengingatnya, maniak. Tidak peduli seperti apa perlakuanmu padaku. Aku mencoba untuk menyukai hal itu. Ini adalah perasaanku. Hati adalah hal yang paling penting. Aku menyukaimu. Dengar?

 

“aku menyukaimu”

 

“ah tidak. Ini terdengar norak.”

 

Aku menggaruk kepalaku gusar, sudah lebih dari 10 kali aku mengatakan hal yang sama di hadapan benda berbentuk persegi pandang yang ukurannya terlihat dari ujung kepalaku hingga perutku, cermin. Aku bertekad untuk mengatakan perasaan ini pada kenalan eoniku, kukira ini akan menjadi mudah, kenapa mengatakan hal ini menjadi sulit sekali? Apa aku sedang melakukan test untuk ujian? Kenapa perasaan gugup dihatiku seperti sedang maniki rollercoaster, getaran ini jelas terasa.

 

Aku menilai penampilanku di depan cermin dengan perlahan aku menghembuskan napasku yang sesak, dengan langkah kaki yang kurang nyaman karena gaun yang menutupi hingga tumit kakiku belum lagi sepatu terkutuk yang semakin mempercantik dan menyusahkanku untuk berjalan. Aku mempersiapkan ini semua, terutama kata-kata barusan di depan cermin. Aku Han Jisoo akan menyatakan cinta padanya, bukan orang yang tampan dan mempesona, aku menyukainya karena modal senyumnya yang mampu membuat kedua sudut bibirku ikut tertarik tersenyum membalas senyumnya yang ia berikan pada orang yang sangat ku kenal, eoniku. Umur kami hanya berbeda 5tahun, dia cantik, ah sangat cantik maksudku. Aku mengenal pujaanku karena dia teman eoniku. Mereka berteman cukup baik. Sebenarnya aku iri pada mereka, terutama saat ini. Hari ini memang bertepatan pada ulang tahun eoniku, Han Ji Ae. Aku melihat mereka sedang sibuk berbincang-bincang terkadang mereka mengumbar tawa mereka huah aku mulai merasa gerah, berita baiknya tentu saja mereka tidak hanya berdua.

 

Aku memeluknya dari belakang, menempatkan daguku di bahunya sambil mengucapkan kata kata yang kusimpan seharian ini. Ia tersenyum menanggapi sambil mengusap punggung tanganku yang berada di lingkaran perutnya. Eoniku.

 

“gomawo Jisoo-ahh, apa kau membawa hadiahku?”

 

“kau sudah memiliki semuanya, haruskah aku memberimu sesuatu?” yang mendengar ucapanku hanya terkekeh geli. Eoniku bahkan tertawa sambil menutup bibirnya, sangat feminim bukan? Khas seorang Han Ji Ae. Aku melepaskan pelukanku, setelah tawanya mereda ia mulai menatapku dengan pandangan yang kaku. Ia mulai meneliti pada apa yang aku kenakan dari bawah hingga atas. Ketika pandangan kami bertemu, ia menutup lagi bibirnya dengan ekspresi menahan tawa. Aku tau akan seperti ini.

 

“Jisoo-ahh. Kau aneh, kenapa kau menggunakan gaun itu? sepe—“

 

Sambil menahan malu karena ledekan eoniku, akhirnya aku langsung menggenggam jas seeorang yang berada di sisi kiri tubuhku, seperti yang sudah ku duga, ia mulai menjadi pusat perhatian semua teman-teman eoniku. Aku menggigit bibir bawahku, kemudian mendongkak menatap seseorang yang ku genggam jasnya, menarik jasnya pelan seolah-olah mengisyaratkan untuk mengikutiku. Ia menaikan sebelah halisnya, kebingungan. Aku tersenyum padanya lalu menariknya keluar dari percakapan mereka sebelumnya. Aku hanya menarik jasnya malu-malu tanpa berbalik ke belakang untuk sekedar memastikan apa reaksi dirinya aku bahkan tak peduli pada jas yang ia kenakan akan kusut atau tidak nantinya. Mianhae oppa.

 

“oppa, tunggu sebentar.” Sambil mengawasi ke kanan dan ke kiri, aku kembali mengatur jalan masuknya oksigen ke paru-paruku. Seakan tersadar, aku melirik tanganku masih dalam keadaan yang sama—membuat kusut jas mahal miliknya. Secara perlahan ku lepas genggamanku padanya dan mulai menatapnya dengan sedikit kesulitan, meskipun tinggi heels ku sudah lumayan, tapi aku harus tetap mendongkak sedikit lagi agar kami bisa saling bertatapan. Menyebalkan bukan?

 

“ada apa?” ia memulai percakapan yang akan terjadi pada kami.

 

 

“aniyo. Hanya, ah oppa eottoke?” aku mulai gelisah, menggigit ujung jempolku masih dengan menatapnya. Ah aku mulai ragu untuk mengungkapkan hal ini padanya. Tapi jika tidak, kapan lagi?

 

“kalau tidak bisa mengatakannya sekarang, tidak apa-apa Jisoo-ah” ia menempatkan tangannya di pundaku yang sedikit terbuka karena model gaun ini yang memang seharusnya digunakan untuk orang-orang dewasa. Sedikit tenang dan mendapat kekuatan dari sentuhan tangannya di pundakku. Aku tersenyum, lagi untuk menyemangati diriku sendiri.

 

“aish. Aku menyukaimu. Chanyeol oppa” senyumnya yang tadi ia pamerkan kepadaku mulai menghilang dari wajahnya. Kenapa? Apa ia terkejut?

 

“jinjja? Um.. baguslah.” Katanya pelan sambil melpaskan sentuhan tangannya yang tadi berada di pundakku. Kenapa ia jadi begini?

 

“oppa wae? Apa aku salah? Hm? Kenapa kau tidak membalas perasaanku? Apa aku kurang romantis untuk mengatakannya? Ah! apa hari ini aku kurang cantik untuk oppa? Atau, apa oppa sudah memiliki seseorang yang oppa suka? Siapa? Sungguh? Hm? Jebal jawab aku oppa” aku gelisah, takut semua dugaanku padanya benar semua, apa yang kurang dari diriku?

 

“tidak, jisoo. Terlalu dini untukmu memulai kisah percintaan”ia mengatakannya sambil memasang senyum itu lagi, senyuman kesukaanku.

 

“kau menyangkutkan ini dengan keadaan umurku? lalu kenapa kalau aku lebih muda darimu? Bukankah yang terpenting aku menyukaimu.”

 

“oppa.. lihat aku, lihat mataku. Aku sudah menjadi gadis cantik, tidakkah oppa juga harusnya menyukaiku?hm? jeball~ katakan padaku sekarang, esok, dan malam-malam berikutnya bahwa aku milikmu..”

 

Aku mulai mengepalkan jemariku, sebenarnya aku menahan tangisku yang bersiap menjadi tontonan untukknya, tapi aku menahannya dengan mengeraskan kepalan tanganku. Aku tidak ingin terlihat cengeng di hadapannya. Biarkan aku menjadi orang lain untuk saat ini. Hanya untukmu oppa.

 

“ah, tidak begitu. Baiklah baiklah. Jangan menangis. iya, oppa menyukaimu, kau dengar jisoo?”

 

“jinjjaa?? Jadi, kita sudah menjadi sepasang kekasih kan oppa?” aku tersenyum bahagia mendengar pernyataan cinta nya barusan. Ini bukan mimpikan? Tuhan baik sekali padaku hari ini. Tapi, ia terlihat gusar sambil menggaruk kepalanya yang membuat tataan rambutnya sedikit berantakan. Ada apa?

 

“em. Sepertinya..” aku tidak meragukan ucapannya barusan. Bagus, mana mungkin Chanyeol oppa berbohong kan?

 

“kalau begitu…. Aku bolehkan memelukmu?aaa oppa” tanpa menunggu persetujuan dari nya, aku menjinjitkan kakiku, lalu memeluk lehernya. Aku tidak peduli, toh ia sudah menjadi miliku, aku kekasihnya bukan? Ah aku senang sekali. Akhirnya ia menerimaku. Aku yakin ia tadi hanya berekting agar dia tetap menjaga image nya di hadapanku. Semua pria memang seperti itu bukan? Ah menggemaskan sekali.

 

Saat itu, aku tidak tahu, benar-benar tidak tahu. Aku seakan-akan menjebakmu dalam permainan bodoh ini. Maafkan aku oppa. Tapi aku yakin. Aku sungguh menyukaimu. Cinta dan insting hati ini berbisik menyuruhku untuk bergegas dan mengakui cinta ini padamu. Aku menginginkanmu, sungguh dan wajah memerah tiap melihatmu ini adalah buktinya. Kau mengira aku yang polos. Tapi, aku belum pernah merasakan hal ini sebelumnya, tidak bisa kuhentikan, bahkan bibir ini tak bisa terucap. Ketika hubungan kita menjadi seperti ini. Sembunyi-sembunyi, aku memanggilmu dan melihat matamu melihat sekeliling, aku berbisik ‘sampai bertemu besok’ seperti itulah kisah kita. Oh sayang, ini tidak bisa terus seperti ini. Seseorang tolong aku.

 

 

Hingga waktu kembali menuntun langkahku dimana saat waktu memintaku berhenti menggenggam, menyuruhku melepaskannya. Kenapa kita harus melakukan ini? Katakan kenapa. Ini tidak akan berhenti berputar, hubungan kita. Naik dan turun. Kemudian kembali seperti semula. Katakanlah apa yang ada dipikiranmu, maka aku akan mengerti. Aku merasa khawatir ketika aku merindukanmu. Aku takut mungkin kau akan pergi.

 

Apakah cinta kita berakhir? Tolong katakan padaku bahwa ini tidak benar. Kau tak lagi dirimu yang dulu, apa memang sebenarnya kau yang ku bayangkan tidak pernah hadir dalam dirimu? Sebenarnya kau ini apa? Tampaknya kita sudah terlambat.

 

Kau melihat air mataku seakan itu bukan berarti apa-apa. Apakah memang hanya aku yang tersakiti malam ini? Kau terus berkata dengan tenang, kau bahkan dengan jahatnya berkata padaku bahwa kau tidak menyangkalnya. Kau sama sekali tidak menyukaiku dan menyesal. Kau sangat baik, bukankah kau yang dulu seperti itu? Cerita yang kau katakan sekarang. Aku tidak tahu bagaimana itu bisa menyakitiku. Ketika aku memikirkanmu, rasanya sakit, sakit. Kau tidak membuat kesalahan, aku yang harusnya menyembah maaf padamu karena membuat cerita kita menjadi seperti ini.

 

Meskipun aku bersamamu, aku merasa kesepian. Hal yang ku sebut cinta ini terlalu berlebihan bagiku. Karena bahkan saat aku bernapas, aku merasa sesak.

 

“kenapa harus..dia?”

 

“…”

 

“oppa, aku ingin mendengarkan suaramu. Aku merasa kosong disuatu tempat dan hatiku mulai sakit. Sebenarnya aku kenapa?”

 

Bekas luka meninggalkan air mata dan terkuncinya pikiranku. Nanti, aku hanya bisa menangis sepanjang hari dan mati. Haruskah?

 

“oppa tidak pernah menginginkanmu Jisoo, bukankah dari dulu hingga saat ini aku memang begitu, kau yang memulai semua ini. Maaf, aku juga harus memikirkan perasaan eonimu. Aku menyukainya. Tidakkah kau mengerti? Bukankah kau bilang kau bukan anak kecil lagi?”

 

Aku bahkan tak pernah mengharapkan kau menjadi seperti ini. Meskipun begitu, aku rasa aku masih menyukaimu.

 

“aku tahu kau tidak pernah memikirkanku oppa.”

 

“aku mengerti apa yang kau rasa—“

 

“tidak, kau tidak, kau bahkan tidak pernah mengerti diriku oppa. Kau hanya mengerti Ji-Ae eoni. Benar?”

 

Sudah berakhir, cintaku.

 

“aku tidak menyesal, oppa. Aku menyukaimu. Tapi aku sedih. Harusnya ini tidak berakhir seperti ini. Tapi aku muak seperti ini. Bolehkah aku melepaskanmu?”

 

Aku tak sanggup melihatnya seperti ini, aku mulai berjalan menjauh dari jarak pandangnya, tanpa mengucapkan selamat tinggal padanya, aku semakin takut karena aku tidak seperti diriku yang dulu, aku takut melihat diriku semakin lemah. Sekarang, kita hanya kenangan. Aku sangat senang, jangan lupakan aku. Wajah gemetar dan kata-katamu akan menjadi mimpi buruk yang harus ku sapa dengan bayangan senyumanmu yang dulu, Chanyeol oppa.

 

 

Aku hanya ingin tahu, akankah cinta ini kembali datang? Aku belum siap untuk memulainya lagi, bahkan aku hanya bisa berharap berharap dan berharap meski aku tidak bisa memilikimu lagi. Jika aku meneriakkan namamu dengan sekuat tenaga memintamu kembali, apakah kau akan menariku kedalam duniamu, lagi? Aku telah kehilanggan cinta dari orang yang salah. Kau tahu? Aku tak bisa lagi melangkah, mendekatimu. Aku tidak menyerah. Tapi aku masih merasa tidak pantas bahkan jika ada sebuah bunga tidur mengajakku untuk bersanding denganmu, aku akan mengatakan “ini tolol”. Aku belajar hidup, setengah mati. Aku bukan hantumu lagi. Aku benar-benar melepasmu, tak mengusikmu sama sekali. Bahkan aku tersenyum menyaksikan mesranya kisah kalian di depanku. Apakah kau sakit akan cinta yang ku berikan padamu? Apa cinta yang ku berikan adalah lelucon untukmu?

 

Lagi, aku menangis untukmu.

14 responses to “[Freelance] Still – @SalmaMuharomi

  1. jadi Chanyeol pacaran sama kakanya Jisoo gitu?? harusnya Chanyeol dari awal jangan nerima Jisoo, kasian kan Jisoo jadi terlalu banyak berharap, Jisoo juga sih yang maksa tapi harusnya Chanyeol lebih tegas..
    ada sequelnya kah author?? Jisoo jadi lebih dewasa dan Chanyeol mulai nyesel ninggalin Jisoo, dan JIsoo udah pacaran sama orang lain hahaha drama banget ya..
    ffnya bagus author, di tunggu ff lainnya author..

  2. yahh.. sdih bngett,, kesian jisoo nya.. 😦
    Ada sekuel kah thor ?? ada dong.. *maksa
    bikin jisoo nya bahagia, tp sma chanyeol lgi..
    Oke deh, keep writing ya^^

  3. Jadi Chanyeol pacaran sama kakak’y Jisoo,kenapa mereka dari awal ga jujur sama Jisoo, kalo kayak gitu kan,Jisoo ga bakalan terlalu sakit hati
    Chanyeol juga kenapa dia nerima cinta’y Jisoo,kalo ternyata dia pacar kakak’y
    Ada sequel kah thor???

  4. yeol kurang tegas.. huft…
    nich need squel thor…kasih pangeran penolong buat jisoo… request kris oppa…
    kereen.. cocok tuch jd pangeran berkuda putih,, kekeke…
    ff nya bgus…
    karya selanjutnya ditunggu y 🙂

  5. Jisoo kasian. Dia terlalu berharap. Ini juga salah Chanyeol yang gak tegas dari awal 😦 Sequel chingu, buat Chanyeol nyesel

  6. thor buat sequel thor. buat chanyeol menyesal trus ada cast cowo baru buat bisa alihin rasa suka jiso ke chanyeol

  7. Chanyeol aaarrrgghhh dasar PHP!! Kalo gak suka dari awak kenapa harus nerima??? Ha??? Astaga.. chan kau mempermainkan perasaan kaka beradik ini.. khususnya jisoo ugh, nyebelin.. #emosi

    thor ini kisah author?? Author ngalamin kisah cinta kayak gt?? Jinjja???
    Uuuuhh pasti nyesekk… baguss thot kerennn… keep writing and fighting^^

  8. Omoo.. nyesek, senyesek, nyeseknya.
    Ksihan banget JiSoo..
    knpa sih chanyeol gg bilang yg sebenernya sama JiSoo dari awal.?! Ih, bikin greget..
    sad ending

  9. kalo gini akhirnya harusnya chanyeol jangan nerima jisoo dari awal, bilang aja kalo yg dia suka itu kakaknya bukan jisoo, kalo udah kyak gini kan jadi kasian jisoo… 😦
    keren keren, ditunggu next ffnya 🙂

  10. Nyeseknya tuh disini thor. Disini *tunjuk ulu hati
    Chanyeol kamvret, menyianyiakan perasaan Jisoo. Kasian Jisoonya pasti sakit banget tuh hatinya.
    Need sequel thor

  11. jisoo tidaaak 😭 sedih ah, kenapa harus cinta bertepuk sebelah tangan dan kenapa harus kakaknya. ceye juga sih php bgt😯 nice fanfict bikin nyesek yah, ditunggu karya lainnya keep writing author fighting!!!😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s