HUNCH [Chapter 6]—vanillaritrin

1414394516078Author : vanillaritrin | Genre : Romance, Fantasy, Surrealism | Length : Chaptered | Rating : PG – 17 | Main Cast : Go Nahyun (OC/You), Oh Sehun | Support Cast : Kang Yura (OC), Park Chanyeol, Hong Jonghyun, Huang Zitao, and the others | Poster : pinkfairy

Disclaimer : The plot is mine!

Thank you jungsangneul for beta-ing!

Intro | Ch 1 | Ch 2 | Ch 3 | Ch 4 | Ch 5

 ~~~

Kenyataannya Nahyun berharap Sehun tidak pernah mengubah sikapnya. Dia ingin Sehun terus memperlakukannya seperti ini dan dengan lebih jujurnya mereka satu sama lain, tampaknya garis pembatas tak kasat mata itu telah luntur sedikit demi sedikit.

Nahyun masih tidak ingin menerjemahkan letupan – letupan yang menggemuruhkan dadanya, getaran – getaran di hatinya sebagai bentuk perasaan berbeda. Dia menganggap semua sama saja seperti saat pertama mereka bertemu—hanya saja saat ini mereka lebih dekat dan leluasa untuk saling menyentuh satu sama lain. Nahyun akan menyimpannya sendiri dalam dirinya sampai saat yang tepat tiba dan mereka bisa menikmati waktu – waktu berharga itu lebih baik daripada sekarang.

“Kenapa aku tidak mengalami hal itu? Kenapa hukuman itu tidak berlaku padaku?”

Sehun berpikir sejenak. “Itu jugalah yang menjadi pertanyaanku sejak awal. Kau baik – baik saja bahkan mengingat semua detail dengan baik. Itu… aneh.”

“Kenapa orang yang melihat—,” Nahyun menggigit bibir dalamnya, “—pelenyapan itu dihukum menjadi gila? Kenapa tidak kau lenyapkan juga orang itu agar semuanya pasti aman, agar rahasiamu tidak terbongkar?”

Sehun membelai pipi Nahyun sekali lagi. Kali ini lebih lama.

“Kami tidak bisa sembarang melenyapkan orang. Ah, kami menyebut prosesnya sebagai eksekusi,” dia melirik mimik Nahyun yang terlihat hati – hati, “kau serius sekali.”

“Sehun.”

“Ya, aku lanjutkan. Jangan terlalu serius.” Sehun mencubit pipi Nahyun hingga memerah. Nahyun segera mengusap pipinya sambil merutuki Sehun dalam hati.

“Aku hanya mengeksekusi orang yang berbeda. Orang yang mempunyai kelebihan. Misalnya, indigo, teleportasi, orang yang dapat melihat masa depan atau kelebihan – kelebihan lainnya. Mereka punya pengadilan khusus. Mereka dikelompokkan sebagai orang yang berbeda. Dalam dunia kami disebut Lance.”

“Kami juga tidak bisa langsung mengeksekusi Lance. Kami harus menunggu perintah yang disampaikan saat tidur. Oleh sebab itu, jangan heran kalau aku sangat sulit dibangunkan,” kekeh Sehun ringan, “selain tugas eksekusi itu menyita waktu dan tenaga—kau tahu, aku sangat lelah walau hanya mengeksekusi satu orang, apalagi dua atau tiga—juga saat aku menerima perintah aku akan melampaui ruang dan waktu dalam tidurku.”

“Aku akan berada dalam dunia yang berbeda, yang tidak terjamah oleh alam pikiran manusia. Dan ketika aku menerima tugas itu, saat itulah aku berubah menjadi malaikat pencabut nyawa. Tidak ada sayap, balutan warna putih, dan senyum cerah. Penampilanku jauh lebih menyeramkan daripada yang manusia bayangkan.” Sehun menarik napas dalam setelah bercerita panjang.

Nahyun menggeser posisi berbaringnya agar lebih nyaman bertatapan dengan Sehun.

“Apa saat itu jiwamu terpisah dari ragamu? Apa kau masih bisa disadarkan bahwa kau adalah Oh Sehun? Apa kau bisa dihentikan?”

Sehun tertawa kecil. Lagi – lagi dia mencubit pipi Nahyun dengan gemas.

“Kau lucu sekali saat ingin tahu sesuatu,” Sehun menepuk pelan puncak kepala Nahyun, “eum… saat itu seharusnya jiwaku terpisah sepenuhnya dari ragaku. Jiwaku memanggil peran lain. Aku tidak mengenal Oh Sehun ketika itu. Dan tidak ada yang pernah mengetahui namaku sebab orang yang menyaksikan itu—bahkan hanya sekali—seharusnya sudah tidak waras. Jadi tidak ada yang mengenaliku.”

Lamat – lamat Nahyun mengangguk. Meskipun masih banyak hal yang membingungkannya.

“Aku juga tidak mengerti pada diriku sendiri mengapa malam itu aku menciummu. Ada dorongan kuat yang membuatku—,” Sehun berhenti sesaat mendapati pipi Nahyun agak bersemu.

“Jangan membahasnya lagi,” cegah Nahyun sebelum semua terlanjur jauh.

“—ingin melakukannya. Padahal saat itu seharusnya sisi manusiaku tidak keluar. Karena saat itu bukan Oh Sehun yang ada di sana, melainkan Oliver .” Sebuah seringaian muncul di bibir Sehun.

Nahyun mendengus namun sedetik kemudian menatap Sehun kembali.

“Apa itu sandimu?”

Err… kau bisa menyebutnya nama samaran,” koreksi Sehun.

Nahyun mengangguk kecil. Walaupun dia sempat kesal karena Sehun membahas ciuman itu tapi dia masih ingin tahu lebih banyak.

“Waktu itu aku mengeksekusi salah satu dari pria gempal yang mengejarmu,” Sehun mengubah posisinya menjadi terlentang, “kemudian aku datang ke flat-mu dengan kondisi buruk. Aku tidak sedang iseng berjalan – jalan. Aku baru mengeksekusi seorang Doppelganger di antara mereka—yaitu orang yang mempunyai kemampuan berada di dua tempat dalam waktu bersamaan. Ada temannya yang menyaksikan kejadian itu. Dia marah sekali padaku kemudian memukulku tepat ketika aku sudah kembali menjadi Sehun. Saat temannya yang lain datang untuk menyerangku bersamaan, dia sudah berjalan linglung lalu terduduk di dekat pepohonan.”

“Malam itu mereka mengancam untuk membunuh anggota keluarga Nam. Seseorang yang melihat proses eksekusi itu sudah gila,” Sehun menoleh pada Nahyun, “sebenarnya saat aku datang ke flat-mu, aku ingin memastikan keadaanmu. Sebab aneh bagiku kau masih sadar dalam waktu 1×24 jam. Kau pergi ke kampus, mengobrol dengan teman – temanmu, mendengarkan kuliah… ini ganjil sekali. Selain itu aku tidak kuat berlari. Mereka menginjak kakiku sampai rasanya mau patah. Juga waktu itu aku sengaja mengikuti kelasmu untuk mengawasimu. Aku tidak masuk kelas lain hari itu.”

Tatapan Nahyun menggali, “Jadi kau memanfaatkanku yang merasa iba padamu?”

“Awalnya begitu,” desah Sehun tak sabar, “tapi sepertinya ada yang berubah sejak malam itu. Aku… entah kenapa ingin melindungimu, ingin menjagamu, ingin kau baik – baik saja seperti itu selamanya.”

Nahyun merasa perutnya mulas seketika.

“Kau punya kemampuan menangkal hukuman yang baik dan kupikir aku ingin melihatmu seperti itu terus. Aku tidak ingin kau dihukum.” Sehun menatap Nahyun tepat di bola matanya.

“Dan, yeah, aku harus mencari tahu lebih banyak mengenai kasus pengecualian.” Sehun mengedipkan sebelah mata.

Nahyun melempar bantal ke wajah Sehun sebelum rona merah pipinya tertangkap oleh Sehun, “Bagaimana bisa ada malaikat dengan tatapan seduktif seperti itu?!”

Sehun menangkis bantal dengan sigap lalu menjadikannya alas kepala. Kini bantalnya menjadi dua tingkat.

“Sekarang giliranku.” Tubuh Sehun berbaring miring menghadap Nahyun.

“Aku belum selesai,” sela Nahyun sebelum Sehun sempat membuka mulut lagi.

“Hei, tidak adil. Kau sudah bertanya dan aku menjelaskan begitu panjang. Sekarang giliranku, Nona Go!” protes Sehun tak terima.

Nahyun mengangkat satu tangan ke udara—menghentikan ocehan Sehun.

“Apa kau tidak mencabut nyawa manusia normal?”

Sehun meringis, “Mereka tidak dikategorikan sebagai Lance. Lance dianggap sejenis dengan makhluk seperti kami sedangkan manusia normal tidak.”

Nahyun mengangguk paham—meski masih banyak hal yang berada di luar nalarnya, “Artinya kelak bukan kau yang mengambil nyawaku?”

Tawa pelan meluncur dari bibir Sehun, “Apa kau mengharapkannya?”

Yeah, setidaknya aku mengenalmu,” jawab Nahyun seadanya.

Dan mati di tangan orang yang kau sayangi mungkin menjadi bagian yang cukup menyenangkan untuk dikenang, tambah Nahyun dalam hati.

Nahyun menggeleng kuat. Apa yang tadi batinnya katakan?!

“Ada apa?” Sehun menatap Nahyun bingung yang langsung ditampik oleh Nahyun dengan cengiran.

“Kau tidak bisa membaca pikiran, ‘kan?”

“Memang kenapa?”

Nahyun tersenyum antisipatif, “Ah, sudahlah. Aku mau tidur.”

Sehun menahan lengan Nahyun, “Hei, Nona Go. Aku mau bertanya.”

Nahyun berdehem sambil agak mengempaskan tangan Sehun. Dia berbalik membelakangi Sehun.

“Begitukah kau akan menjawab pertanyaanku? Dengan memunggungiku?”

Nahyun memutar bola mata malas. Detik berikutnya dia ingat ingin menanyakan satu hal lagi pada Sehun. Dia mendahului Sehun bicara.

“Baiklah,” Nahyun membalikkan tubuh menghadap Sehun, “sebelum ujian berakhir kau berjanji menceritakan sesuatu padaku.”

“Bukankah ini giliranku, huh?” Sehun menaikkan sebelah alis.

“Waktu itu kau bilang sebelum menjadi malaikat maut—,” Nahyun menelan ludah pahit, “—kau memang hanya memiliki beberapa teman.”

Sehun mengalah. Dia mengembuskan napas pelan.

“Ada sekitar enam orang tapi kebanyakan sudah pindah ke luar kota atau bahkan luar negeri. Yang tersisa di sini tinggal Tao,” Sehun mengusap kantung mata Nahyun yang agak menghitam, “kalau kau punya mata panda seperti ini, kau mengingatkanku padanya.”

“Apa dia punya mata seperti panda??” Mata Nahyun membulat dalam sekejap. Sehun tak kuasa meledakkan tawanya sampai setitik air mata terdapat di sudut matanya.

Yeah, dia punya kantung mata hitam seperti panda.”

Dan akhirnya Sehun mendekap Nahyun begitu erat karena ekspresi Nahyun yang menggemaskan.

“Apa badannya besar?” Sehun menangkap antusiasme dalam nada bicara Nahyun. Dia tidak ingin mengecewakannya jadi diputuskannya untuk bergumam. Walau nyatanya tidak seperti itu.

“Dia pasti sangat lucu.” Nahyun tergelak dalam pelukan Sehun. Meski Nahyun merasa ribuan kupu – kupu berterbangan di perutnya dan darahnya mengalir deras hingga pipinya panas, dia tidak menepis kebahagiaan itu merasuki setiap sel sarafnya.

Nahyun mengakui perasaan itu datang begitu saja tanpa permisi ketika Sehun mulai jujur dan terbuka padanya. Tanpa disadarinya ketika Sehun memberanikan diri mengatakan siapa dirinya, sejak saat itulah kebahagiaan mulai tumbuh jauh di sudut terkecil hatinya.

“Sehun.”

“Ya?”

Nahyun menyukai cara Sehun menyahut setiap Nahyun memanggil namanya hingga dia ingin memanggil Sehun seratus kali setiap hari.

“Apa itu artinya… kau pernah punya kehidupan normal seperti manusia biasa? Maksudku kalau ada satu titik yang mengubahmu menjadi malaikat maut pada saat – saat tertentu, artinya ada masa sebelum itu, bukan?” Nahyun memilin sweater rajut jaring – jaring yang dikenakan Sehun.

Sehun terenyak beberapa saat. Dia mengusap puncak kepala Nahyun sebelum mengendurkan pelukan mereka. Tangan Sehun masih bertengger di pinggang Nahyun dan dia tak melepas kontak mata dari Nahyun.

“Ada satu peristiwa yang memutarbalikkan seluruh kehidupanku. Satu peristiwa yang membuatku mengambil pilihan ini.”

“Tunggu. Kau… memilih? Bukan dipilih?” Nahyun menatap Sehun tidak mengerti.

“Ada yang dipilih, ada juga yang memilih,” jawab Sehun lembut. Dia menyambung, “Sejujurnya ini bukan pilihan mudah untukku. Tapi aku harus melakukannya.”

Nahyun semakin merapatkan tubuhnya dengan Sehun.

Mom punya kemampuan melihat masa lalu seseorang hanya dengan menatapnya. Bagian terkelam dari orang itu akan langsung diketahui olehnya dalam hitungan detik dan—ah, aku belum memberitahu mengenai mereka. Apa tadi sudah kuceritakan siapa yang memerintahkanku mengeksekusi Lance?”

Nahyun menggeleng pasti.

“Mereka terdiri dari tiga orang, yaitu Aegis, Darien, dan Haemon. Tidak ada pembagian atau ketentuan yang jelas mengenai siapa pemimpin mereka namun dari bahasa tubuhnya aku yakin Aegis. Aku tidak terlalu ingat, sepertinya Mom pernah memasuki alam bawah sadar terlalu jauh sampai ditawari untuk menjadi malaikat kematian. Tapi Mom tidak mau, Mom justru mendapatkan masa lalunya. Mulai saat itu dia tidak menyukai Mom dan sangat menunggu kematiannya. Well, kami tidak boleh membunuh orang selain yang diperintahkan. Itulah sebabnya kami tidak membunuh siapapun yang menyaksikan eksekusi dan menjadi tidak waras adalah hukumannya.”

Nahyun tidak bernapas selama Sehun bercerita.

“Tiba suatu saat Mom melihat masa lalu Appa. Waktu itu Appa pulang setelah reuni dengan teman – teman kuliahnya dan bertemu mantan kekasihnya. Mom sangat menderita hingga—,” Sehun membeku beberapa jenak, “—mereka yang kami eksekusi adalah yang sudah merasa tersiksa oleh kekuatannya sendiri hingga mereka benar – benar tidak menginginkannya. Mereka menyalahkan—bahkan mengutuk—takdir dan keadaan, mengapa mereka harus memiliki kelebihan seperti itu. Mereka meminta kelebihan mereka diambil. Saat itulah malaikat kematian datang menjemput.”

“Dan kau sudah bisa menebak selanjutnya.” Sehun membuang napas di udara.

Nahyun mengangguk lemah. “Karena itu kau ingin menjadi malaikat maut?”

“Aku punya sebuah misi dan sepertinya sebentar lagi akan berhasil. Saat sudah kupastikan berhasil, akan kuberitahu padamu.” Sehun tersenyum tipis.

“Balas dendam?” terka Nahyun.

Sehun mengangkat bahu tak acuh. “Salah satunya.”

“Lalu… ayahmu?” Nahyun bertanya dengan suara pelan.

Appa adalah manusia yang pernah melakukan kesalahan di masa lalu. Di luar itu, Appa sangat mencintai MomAppa menanyakan kepada orang – orang ke mana Mom tapi tak ada yang mengingatnya. Ingatanku mengenai Mom masih kuat, mungkin karena aku anaknya. Selain itu tak ada siapa pun yang mengatakan pernah melihat ibuku, entah pikiran mereka dihapus atau bagaimana. Appa menyangka dirinya gila dan minum obat penenang melebihi kadar seharusnya hingga… tiada.” Sehun menundukkan kepala.

Sehun hampir menjatuhkan air mata namun mencegahnya sekuat tenaga. Belum pernah dia seterbuka ini dengan seseorang. Terakhir kali dia menangisi kejadian ini ketika umurnya enam belas. Kini ada seseorang yang dengan sepenuh hati mendengarkan ceritanya dan dia merasa tersentuh.

Sebelum itu terjadi, sebuah tangan lain melingkari punggungnya. Diliriknya tangan itu, juga harum tubuh seseorang yang manis dan menenangkan. Nahyun membawa Sehun dalam pelukan. Dia menyandarkan kepala Sehun di dadanya.

“Pasti berat untukmu, ya?” Nahyun menepuk pelan punggung Sehun seirama.

Sehun tidak menjawab. Dia mencari cekungan leher Nahyun untuk berdiam di sana lebih lama. Nahyun menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka sebatas bahu Sehun lalu membiarkannya terlelap.

~~~

Tao membuka lengan selebar – lebarnya setelah sebelumnya menemukan Sehun di depan pintu apartemennya. Sehun langsung menerobos masuk melalui celah sempit dan merebahkan diri di sofa empuk Tao. Tao berdecih, anak itu tidak berubah juga rupanya.

“Kau mau minum apa?” Tao menyusuri ruang tamu menuju dapur.

Sehun mendelik, “Tumben. Aku mau… soda! Tidak, tidak. Jangan soda. Eum… jus apel! Yeah, aku mau… tidak jadi jus apel. Aku mau susu sapi segar!”

“Kau mau susu?” Tao berbalik menghadap Sehun sambil menyandarkan tubuh di konter yang hanya sepinggangnya.

“Tentu—hei, ada angin apa kau menawariku minum?” Sehun mulai curiga.

“Karena aku akan menyuruhmu mengambil sendiri. Di sini self-service. Tidak ada yang akan kulakukan untukmu. Ambil sendiri, kau bukan tamu.” Tao melenggang ke ruang tamu dengan segelas air di tangan.

Tao mengempaskan diri di sofa lalu meneguk habis air putihnya.

“Kalau bukan tamu lalu apa, huh? Tuan rumah?”

Tao menyemburkan tawa sesudah air putih berhasil melewati kerongkongan. Sehun terkadang bisa melontarkan kalimat – kalimat di luar dugaan.

“Kukira kau mau mengenalkanku padanya,” ledek Tao sesaat kemudian. Mereka begitu mirip—menjadikan apapun di sekitar mereka sebagai mainan dan tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Topik apapun akan menjadi menarik bagi mereka lantaran memiliki banyak kesamaan.

Sehun mengambil bola pingpong yang mengganjal dudukannya. Dia mengamati bola tersebut di tangannya. “Dia sedang kuliah. Ini minggu – minggu krusial karena nilai akan diumumkan.”

“Kau tidak ingin melihat nilai?” Tao merebut bola itu dari tangan Sehun lalu meletakkannya di atas nakas.

“Bagaimana denganmu?” sindir Sehun. Keduanya tergelak sedetik kemudian.

Sehun bangkit lalu mengacak kulkas Tao yang kosong. Tiba – tiba dia tersipu membayangkan ekspresi Nahyun yang merengut dan wajahnya ditekuk sewaktu mereka berbelanja.

“Cepat ambil air dingin! Tidak ada apapun lagi, bodoh! Aku belum belanja,” seru Tao dari sofa. Dia menyandarkan punggung dan membuat tubuhnya serileks mungkin.

Sehun membawa segelas air dingin ke atas nakas lalu menenggaknya sampai tak bersisa. Posisinya masih berdiri menyamping dengan Tao dan ucapannya membuat Tao memiringkan kepala ke arahnya.

“Pernahkah kau merasa berbelanja itu menyenangkan?” Sehun menanyakannya lebih kepada diri sendiri.

Yeah, menyenangkan bagi yang menyukainya. Apapun hal yang kau sukai akan menyenangkan jika dilakukan.”

“Tidak, maksudku—,” Sebuah tawa hangat tergelincir dari bibir Sehun. Dia lalu duduk di samping Tao, “—kau bisa bertengkar dan berdebat dalam memilih barang yang mau kau beli.”

Sebelah alis Tao terangkat. Sejurus kemudian dia mendapatkan maksud Sehun. Dia membulatkan mulutnya.

“Sehun-a, semua akan terasa menyenangkan kalau dilakukan bersama orang yang kau suka.”

“Orang yang kusuka? Siapa? Aku tidak menyukai siapapun.” Sehun menggeleng – gelengkan kepala.

“Kau tahu, orang yang sedang jatuh cinta tidak jauh berbeda dengan orang gila.” Tao tidak menghiraukan sangkalan Sehun sebelumnya.

“Aku tidak sedang—“

“Kau tersenyum sendiri di depan kulkasku tadi. Memang aku tidak lihat?” Tao menyela. Sehun diam seribu bahasa.

“Lalu kau mengatakan berbelanja sambil bertengkar dengannya adalah hal yang menyenangkan. Kapan hari sewaktu aku menemanimu membeli mobil—oh, kau bahkan memikirkan keselamatannya—kau mengatakan ingin menjaganya, ingin melindunginya. Selama ini kau selalu menolak jika kusarankan membeli mobil.”

“Meskipun yang kau katakan tentangnya adalah hal – hal yang membuatmu kesal atau jengkel, aku selalu melihat matamu berbinar – binar. Kau meracau mengenai dirinya, seolah dia orang paling menyebalkan di dunia. Namun kau tidak sedikitpun terganggu dengan tingkahnya yang membuatmu merasa seperti itu. Kau menyukai saat – saat kalian bersama, berdebat, adu mulut. Kau meracau mengenai dirinya, seolah dia orang paling menyebalkan sedunia. Namun kau tetap menceritakannya dengan pandangan tidak paham bagaimana dia bisa membuatmu seperti ini. Kau menyadarinya tapi enggan mengakuinya. Kau sedang jatuh cinta, Oh Sehun,” tutup Tao tanpa jeda untuk menyela.

Sehun mengacak rambutnya. Dia tidak punya hati jadi bagaimana dia bisa jatuh cinta? Mendadak suara Nahyun terdengar di kepalanya—menepis pikirannya barusan. Ucapan Nahyun saat dia mengakui siapa dirinya pada satu malam.

“Percayakah kau kalau aku tidak punya hati?”

“Kau punya. Kau menolongku dari para pria jahat itu. Kau membawaku ke tempat yang aman. Kau memelukku saat aku tidak bisa tidur. Kau meyakinkanku bahwa semua baik – baik saja.”

Argh!” Sehun memegang kepalanya yang pusing serta merta.

“Kau baik – baik saja?” Tao dengan sigap mendekat pada Sehun lalu menyodorkan segelas air putih padanya.

Sehun mengangkat satu tangan. “Aku baik – baik saja. Hanya… ini membingungkan. Aku belum pernah merasakan yang semacam ini.

Atau sudah terlalu lama tidak merasakannya. Hingga terasa asing sekali jauh di dalam lubuk hatinya.

“Jangan terlalu dipikirkan. Biarkan waktu memberimu jawaban yang pasti,” Tao menepuk pundak Sehun dua kali, “aku mau ke minimarket sebentar. Paling tidak aku mau menyimpan makanan kecil di kulkas. Kau mau kubelikan apa?”

Yeah, biarkan ini mengalir dan Sehun akan mendapatkan jawaban yang tepat. Semoga saat itu dia belum terlambat.

Ketika Tao bangkit, suara bel ditekan sebanyak tiga kali menggema. Sehun dan Tao beradu pandang beberapa detik—tidak ada yang pernah mendatangi Tao kecuali Sehun dan kakak perempuannya.

Tao terkejut begitu membuka pintu.

“Zitao?”

Suara perempuan. Sehun menyelinap dari samping Tao untuk melihat siapa wanita yang berada di balik pintu apartemen Tao.

“Kudengar kau tidak sehat.” Gadis dengan rambut sepunggung berwarna cokelat terang itu mengangkat plastik berisi apel di tangannya. Rambutnya agak bergelombang alami di ujungnya.

“Eh? Eum… silahkan masuk, Dohee.” Tao menyikut Sehun untuk mundur dan memberi jalan untuk Dohee.

Tiga langkah dari pintu sesudah Dohee masuk, Sehun menangkap kode nonverbal dari Tao yang mengusirnya secara tidak langsung.

“Ah, aku harus pulang sekarang. Ini sudah sore dan—yeah, kau tahu Nahyun, ‘kan? Dia cerewet sekali. Dia akan mengoceh sepanjang malam dan mungkin menyuruhku tidur di luar.” Sehun tertawa kaku. Dia menggaruk tengkuknya sekilas.

“Sampai jumpa, Man.” Tao melayangkan tatapan terima kasih pada Sehun.

“Oh, kau pulang? Hati – hati di jalan!” Dohee melambai ke arah Sehun. Sehun membalasnya dengan segaris tipis senyuman.

Samar – samar Sehun mendengar percakapan Tao dan Dohee sebelum pintu tertutup.

“Kau sakit apa? Kemarin Dosen Jang menanyakanmu…” dan telinga Sehun sudah tidak dapat menangkap apa pun lagi.

Sehun tertawa kecil selama berada di lift.

Huang Zitao, kau berhutang cerita padaku.

Sementara di balik pintu apartemen—setelah Tao selesai dengan sejuta alasan yang berusaha terdengar masuk akal—pria China itu memulas tajuk kemenangan di bibir.

Kau pasti benar – benar menyukai Nahyun, Sehun-a.

~~~

Nahyun sedang mencuci ketika Sehun menaiki tangga menuju atap. Sehun memainkan kunci mobil di tangannya dengan alis terangkat sebelah.

“Kau mencuci baju?” tanya Sehun dengan tatapan ‘tidak-biasanya-kau-rajin’.

“Memang siapa yang akan mencuci kalau bukan aku, hah?” Nahyun memicing pada Sehun. Dia sangat menekankan kalimat selanjutnya. “Ini sprei dan sarung bantalmu yang semerbak parfum wanita.

Tawa Sehun meledak saat itu juga. Nahyun sangat lucu—atau selalu lucu—saat marah. Dia menyelipkan kunci mobil ke dalam saku lalu hendak membantu Nahyun mencuci.

“Hei, apa yang kau lakukan?! Cuci dulu kakimu, nanti kotor lagi! Yang ini sudah bersih!” omel Nahyun sambil berkacak pinggang.

Sehun berpura – pura masuk ke dalam rumah. Matanya sibuk mengitari teras—mencari slang air yang seharusnya berada tak jauh dari ember. Saat berhasil menemukannya, dia mengarahkannya pada Nahyun.

“Oh Se—OH SEHUN! APA YANG KAU—AISH! BAJUKU BASAH SEMUA!”

Nahyun menyipratkan busa – busa di ember ke arah Sehun sebelum pria itu semakin menjadi. Yeah, tampaknya berhasil karena Sehun agak terkecoh karenanya. Namun itu hanya berlangsung beberapa detik sebelum Sehun menyemprotnya dengan air kembali.

“BERHENTI SEKARANG! SALAHMU SENDIRI KENAPA WANGI PARFUM WANITA MASIH MEMBEKAS! AKU BENCI MENCIUM WANGINYA JADI KUCUCI SUPAYA HILANG!”

Nahyun salah kalau dipikirnya Sehun berhenti. Sepertinya mood Sehun sangat bagus hari ini jadi dia ingin bersenang – senang sepanjang hari.

“Sialan kau, Oh Sehun! Brengsek! Jangan menyemprotku la—ARGH!”

~~~

Sehun duduk bersila di sofa dengan mulut sibuk mengunyah popcorn. Nahyun masih di dapur—merapikan perabotan sesudah dicuci bersih. Ketika drama favorit Nahyun dimulai, gadis itu mengambil posisi di samping Sehun. Dia mengambil segenggam popcorn kemudian menaikkan volume televisi.

Yeah, dia sudah menganggap rumah Sehun seperti rumah sendiri.

Lima belas menit berlalu tanpa suara, hanya deheman kecil Sehun sesekali. Sehun tidak begitu menyukai drama dan ingin menonton yang lain, sebenarnya. Tapi drama yang ditonton Nahyun kelihatannya tidak buruk dan kini dia tidak tinggal sendiri. Tentu ada toleransi jika ada orang lain di rumahnya.

Tunggu. Sehun tidak pernah seperti ini sebelumnya.

Kala para wanita jalang tinggal di rumahnya, dia selalu memegang kuasa penuh atas segala sesuatu. Mereka harus menuruti kemauan Sehun, apapun itu. Bukan Sehun kasar, terkadang dia merajuk atau merayu mereka agar mengikuti kemauan Sehun. Sehun selalu bermanja – manja dengan mereka hingga akhirnya mereka menurut.

Lain halnya di tempat tidur.

Terkadang Sehun akan memaksakan hasratnya pada para wanita. Dia akan tetap meminta mereka melayaninya dan—yeah, wanita sangat lemah dalam urusan itu. Karena meski mereka menolak, tubuh mereka bereaksi lain. Sehun hanya perlu merangsang sedikit lalu mereka menjadi tak berdaya. Bahkan sewaktu mereka berteriak kesakitan dan menyuruh Sehun berhenti, dia tidak berhenti. Dia tidak memikirkan ketika dia berbaring, sang wanita belum mencapai puncaknya. Wanita itu akan menuntut lebih dan Sehun dengan senang hati mengikuti kemauan mereka. Dia licik, terkadang tidak adil.

Bagaimana bisa sekarang dia begitu banyak mengalah demi Nahyun? Gadis ini benar – benar berbahaya.

“Oh, sudah iklan lagi.” Nahyun melirik Sehun dari sudut mata. Dia menangkap Sehun mencermatinya selama menonton drama namun pria itu segera mengalihkan tatapannya.

“Lusa aku mau ke Daejeon dengan teman – teman. Kami menginap.” Nahyun mengambil sejumput popcorn dari buket.

Tangan Sehun terhenti di udara sekian detik. “Apa?”

“Bibi Jonghyun membuka toko jus di Daejeon. Kami ingin membantunya karena kabarnya toko jus itu cukup ramai. Selain itu, yeah, kami sudah lama tidak berlibur. Terakhir sewaktu liburan musim panas dan ini sudah musim gugur,” jelas Nahyun.

Seperti ada bohlam di kepalanya, Nahyun bertanya, “Pertama kali kita bertemu saat aku dikejar para pria gempal, ‘kan? Apa itu mimpi?”

Sehun melahap popcorn sebelum menjawab, “Itu benar – benar terjadi. Aku tidak menyangka pikiranmu bercampur aduk dari peristiwa itu. Kukira kau masih bisa membedakan mimpi dan kenyataan pada peristiwa itu. Keduanya nyata, Nahyun.”

Nahyun mengangguk. Tatapannya membentur televisi lagi—berharap dramanya cepat dilanjutkan namun masih iklan yang ditayangkan di sana.

“Jadi saat itu kau dikejar para pria gempal? Sepertinya kau sudah diincar.” Sehun menghabiskan popcorn dalam buket.

Yeah, sepertinya begitu. Aku membeli esen cokelat di toko Paman Kang lalu mereka datang. Kemudian aku bertemu mereka lagi saat mampir ke toko Paman Kang. Padahal paman sudah mengingatkanku bahwa banyak orang jahat di sekitar sana. Tetap saja mereka menemukanku meski aku sudah berputar melewati jalan berbeda.” Nahyun menggigiti kukunya.

Sehun bergumam, “Lalu pertemuan kedua kita? Kau sedang apa?”

Nahyun berusaha mengingat kedua kalinya dia memergoki Sehun melenyapkan—ralat, mengeksekusi—seseorang. Waktu itu Sehun menciumnya dan… kenapa dia hanya ingat bagian itu?!

“Aku sedang—,” Nahyun menggantungkan kalimat sembari mengorek ingatannya sendiri, “—ah! Aku membeli buku di toko depan SMA-ku dulu. Aku belum pernah melalui jalan itu sebelumnya lalu aku melihat kejadian itu.”

Drama yang ditonton Nahyun memasuki scene terakhir. Sehun tidak mengusik Nahyun dan berjalan menuju konter. Dia meletakkan buket popcorn yang kotor di bak cuci piring lalu berinisiatif mencucinya. Yeah, tidak ada salahnya sesekali rajin membereskan rumah.

Ini benar – benar seperti bukan dirinya.

Tapi selama Nahyun ada di sini… tak mengapa. Dia rela berbagi tugas, berbagi kamar, berbagi tempat tidur dengannya. Well, walaupun yang pertama hampir tidak pernah terjadi. Nahyun merapikan rumah Sehun tanpa dumalan. Dia hanya mewanti – wanti untuk meletakkan barang yang sudah bersih dan rapi di tempatnya, juga yang kotor diletakkan di tempatnya agar cepat dibersihkan.

Berhubung mereka hanya berdua di rumah, Sehun tidak ingin menambah pekerjaan Nahyun yang segunung dengan kemalasannya. Dia mulai meletakkan pakaian kotor di mesin cuci, piring kotor di bak cuci piring, dan kertas – kertas ditumpuk asal—walaupun asal yang penting tidak berceceran.

Ditambah, Nahyun adalah mahasiswi yang juga punya segudang tugas untuk dikerjakan. Sedangkan dia mahasiswa abal – abal yang tidak pernah mengerjakan tugas dan jarang masuk kuliah.

Sehun mendengar televisi dimatikan dan Nahyun masuk ke kamar. Sehun menyusul dalam sekejap. Dia melihat Nahyun memasukkan beberapa potong kaus ke dalam tas yang cukup besar. Sehun merasa Nahyun perlu membeli tas besar untuk bepergian dan mungkin beberapa perlengkapan wanita.

“Kalian naik bus?” Sehun mendudukkan diri di tepi ranjang.

“Naik mobil Jonghyun. Aku dan Yura datang ke flat Jonghyun dan Chanyeol lalu kami berangkat bersama.” Nahyun terlihat sibuk memilah celana – celana santai.

“Berapa hari kalian di sana?” Mata Sehun mengikuti Nahyun yang bolak – balik dari lemari ke tasnya di lantai.

“Hanya menginap semalam. Dua hari satu malam.” Nahyun terlihat bimbang memilih celana selututnya yang berwarna crème atau putih tulang.

“Yang itu,” tunjuk Sehun pada satu yang berwarna crème, “warna putih lebih cepat kotor.”

Nahyun mengangguk setuju. Dia memasukkan celana crème yang dipilih Sehun lalu menutup tas dengan risleting.

“Kalian berencana ke mana saja?” selidik Sehun. Nahyun merasa geli mendengar nada bicara Sehun yang seakan menginterogasi.

“Banyak sekali pertanyaanmu. Seperti polisi saja,” keluh Nahyun sambil merangkak menuju tempat tidur.

Sehun mengubah posisi duduknya berdekatan dengan Nahyun yang sudah berbaring terlentang.

“Hei, aku perlu tahu. Kalian berencana ke pantai atau ke tempat lain atau hanya ke toko jus bibi Jonghyun?” Sehun mendesak.

Tsk! Aku tidak tahu! Pokoknya kami akan berlibur! Kadang hal – hal seperti itu terlontar spontan! Begitu kami melihat tempat bagus, kami biasanya langsung mendatanginya!” Nahyun mengomel.

“Selamat tidur,” tutup Nahyun saat melihat Sehun membuka mulut—hendak protes.

Sehun menutup mulutnya lagi setelah berdecih. Dia memberi Nahyun punggung lalu menyisakan jarak tidur yang jauh dengan Nahyun.

~~~

“Nahyun-a!”

Bibi Geum memeluk Nahyun kemudian menariknya masuk ke dalam flat. Dia menyeduh teh sementara Nahyun duduk di kursi makan. Desain interiornya masih sama—hampir tak ada yang berubah kecuali kalender yang berganti bulan. Bibi Geum masih sebaik yang terakhir diingatnya. Dia sehat dan selalu tersenyum.

“Kau sudah pindah?” Bibi Geum meletakkan cangkir teh di depan Nahyun. Dia masih sibuk kesana kemari—entah mengurus apa.

“Ya, Bi. Sudah cukup lama tapi aku belum sempat berpamitan. Maafkan aku.” Nahyun menjatuhkan wajahnya.

Bibi Geum kembali secepat kilat. Dia duduk berhadapan dengan Nahyun.

“Kau pasti punya alasan mengapa terburu – buru pindah jadi tak masalah. Asalkan kau baik – baik saja aku sudah tenang,” kekeh Bibi Geum, “ayo, minum tehnya.”

Nahyun mengangguk kemudian menyeruput tehnya. Kehangatan langsung menjalar di seluruh tubuhnya.

“Bagaimana kabar Bibi? Bibi harus lebih berhati – hati karena sekarang tetangga Bibi berkurang satu dan tetangga lain tidak saling memedulikan,” Nahyun memberitahu.

“Tentu, Nahyun-a. Eum… kurasa belakangan keadaan sudah lebih baik. Terakhir sewaktu kau menggedor pintuku dan kubilang ada yang ingin mencelakaiku. Sesudah itu tidak ada kejadian apapun. Mungkin penjagaan di sini sudah diperketat,” Bibi Geum berkata dengan nada tenang—seperti biasa.

Mungkin juga karena pria – pria jahat itu sudah ditangkap, imbuh Nahyun dalam hati.

“Atau mungkin orang – orang jahat sudah ditangkap polisi?” tanya Bibi Geum sepersekian sekon kemudian.

DEG

Nahyun merinding seketika. Bibi Geum tertawa kecil melihat kelopak Nahyun membesar.

“Banyak faktor,” sambungnya lagi.

Susah payah Nahyun berusaha berdiri di tempatnya. Dia takut—sangat takut, bahkan. Di rumah ini hanya ada dirinya dan Bibi Geum, pintu tertutup, dan di luar awan mendung terlihat menggumpal di langit bebas. Mereka menutupi sinar mentari yang seharusnya menyengat di siang hari.

Dia merasa seribu kali lebih takut daripada saat Sehun mengancamnya.

“Bibi, sepertinya aku harus pergi. Teman – temanku menunggu dan aku harus sampai di kampus dalam sepuluh menit. Aku pamit se—”

“Itu benar, Nahyun-a. Aku seorang cenayang. Dan aku tahu apa yang menyebabkanmu pindah.” Bibi Geum memotong dengan tegas.

Nahyun melangkah mundur dengan lutut gemetar. Mendadak wewangian dupa dan rempah mengelilinginya, begitu memusingkan.

“Pikiranmu dapat termanipulasi. Kau sulit membedakan mimpi dan realita, benar?” Bibi Geum semakin maju menyusul Nahyun yang berjalan mundur.

“Kau dapat menemukan perbedaannya, Nahyun-a. Mimpi seringkali tidak logis namun kenyataan tidak. Walau kenyataan yang kau hadapi sekarang sulit dimengerti logika tapi semua masih berhubungan. Kau bisa menarik benang merah dari sana. Mimpi yang terasa nyata adalah cara hukuman itu bekerja untukmu. Mereka memanipulasi pikiranmu agar bisa menguasai dirimu lebih dalam, mencengkerammu lebih kuat, dan mencapai tujuan mereka. Namun itu tidak terjadi padamu, tidak berhasil padamu. Kau bisa membedakannya, Nahyun-a. Kau sangat kuat.”

Nahyun menabrak pintu di belakangnya. Tidak ada alasan untuk tidak panik sekarang lantaran Bibi Geum tinggal berjarak semeter darinya. Nahyun ingin berteriak namun suaranya tercekat. Dia bahkan tidak bernapas.

Bibi Geum memajukan wajahnya hingga jarak di antara mereka tinggal sejengkal garis tipis. Nahyun yang memejamkan mata tersadar dengan bunyi kenop pintu di belakangnya. Dia tidak mengetahui bahwa Bibi Geum yang membukakan pintu untuknya dalam jarak sedekat itu.

Tanpa basa – basi Nahyun langsung berlari sekuat yang dia bisa. Sekarang dia mengerti mengapa orang lain begitu menjauhi Bibi Geum. Dia sangat—sangat menakutkan. Nahyun rasanya akan bermimpi buruk malam ini. Oh, terserah. Yang penting dia pergi dari tempat itu sesegera mungkin.

Tiba – tiba pikiran mengenai tinggal dengan Bibi Geum yang diutarakannya pada Sehun muncul. Nahyun menggeleng kuat, dia tidak dapat membayangkan bagaimana hidupnya jika tinggal dengan Bibi Geum.

Beruntung dia tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan bus ke kampus. Setidaknya bertemu dengan teman – temannya jauh lebih baik daripada sendirian di rumah Sehun. Walau stress-nya tak kunjung berkurang selama di bus, dia bisa sedikit bernapas lega telah benar – benar meninggalkan tempat itu.

Di dalam flat, Bibi Geum terkesiap. Dia memandang teh yang baru diseruput Nahyun satu kali lalu pandangannya jatuh pada kenop pintu. Dia mengernyit heran.

“Apa yang kulakukan? Bukankah tadi Nahyun datang?

~~~

Nahyun menghambur ke dalam pelukan Sehun begitu pria itu membuka pintu rumah. Hari ini dia pulang lebih cepat dan membatalkan niat untuk kuliah. Sesudah apa yang terjadi tadi siang, dia linglung. Saat dia menginjak pelataran kampus, di saat yang sama ucapan Bibi Geum terngiang di kepalanya.

Nahyun sangat cemas pada dirinya sendiri. Dia sempat berdiam di taman fakultas sastra. Namun itu sama sekali tidak membantu. Kalaupun dia mengikuti kuliah, dia bisa menjamin tidak akan mendapatkan materi apapun. Juga teman – temannya akan semakin mengkhawatirkannya. Bisa – bisa rencana mereka ke Daejeon gagal.

Putus asa, Nahyun kembali ke rumah. Nahyun pasrah jika tidak ada Sehun di rumah. Dia akan bergumul di tempat tidur hingga malam menjelang. Namun Sehun ada di balik pintu, berdiri dengan ekspresi tak terbaca.

“Sssttt, tenang.” Sehun merapalkan kalimat itu di tempat tidur. Dia membawa Nahyun ke dalam pelukannya sepanjang sore—membiarkan gadis itu tertidur sampai malam tiba.

Nahyun terbangun dengan kondisi berantakan. Dia tidak menemukan Sehun di sampingnya dan kamar mandi. Sewaktu membuka pintu kamar, harum masakan menyapa dirinya.

“Makanlah, Na. Aku memesannya barusan.” Sehun menata dua piring di meja makan. Nahyun tidak memedulikan penampilannya yang kacau. Dia menghabiskan makanan seperti tak terjadi apapun.

Sesudah makan, Sehun menariknya kembali ke kamar. Dia memainkan ujung rambut Nahyun dan sesekali menghirup aroma rambut Nahyun. Nahyun masih tak kunjung bicara. Sehun berinisiatif memulai terlebih dahulu.

“Biasanya kau melempar handuk ke wajahku supaya aku bangun. Kenapa akhir – akhir ini tidak?” kekeh Sehun ringan.

Nahyun tak merespons.

“Jam berapapun kau bangun, bangunkan aku juga. Kalau aku tidak bangun artinya aku harus membayar jam tidurku yang terpotong tugas. Aku akan sangat sulit dibangunkan sehabis menjalankan tugas.” Sehun berusaha mencairkan suasana.

Nahyun akhirnya bicara. Meski bibirnya seperti tidak bergerak dan dia kelihatan seperti… habis melihat sesuatu yang membuatnya trauma. Pandangannya kosong meski Sehun membelai pipinya.

“Tanganmu dingin.”

Sehun menempel bibirnya ke kening Nahyun. Nahyun merasakan bibir Sehun bergetar di keningnya. Getarannya merambat sampai ke dada—menimbulkan gelombang tak terdeteksi dalam sudut hatinya.

“Artinya sebentar lagi aku akan diberi tugas.”

Ragu – ragu Nahyun melingkarkan tangannya di punggung Sehun. Dia sudah terlanjur begitu dekat dengan Sehun hingga dapat memberanikan diri melakukannya. Nahyun tak pernah secepat ini dekat dengan pria sebelumnya. Sehun adalah yang pertama yang dapat membuatnya begini.

“Apa besok aku akan terbangun tanpamu di sisiku?” Nahyun mempererat dekapannya seolah tak memperbolehkan Sehun pergi.

Sehun membalas dekapannya dengan hangat. “Hanya beberapa jam dan tidak akan terasa, Na. Kau akan menganggapnya sebagai mimpi dan ketika kau bangun besok aku sudah memelukmu lagi.”

Nahyun mencari posisi senyaman mungkin. Dia menyandarkan kepalanya di dada Sehun.

“Tadi aku bertemu Bibi Geum,” Nahyun berujar lirih, “dia baik – baik saja. Dia sehat dan bugar.”

Nahyun dapat merasakan napas Sehun berembus di puncak kepalanya.

“Aku—tadi aku tidak seperti melihat Bibi Geum. Awalnya memang seperti dia tapi dia mengetahui apa yang terjadi padaku, Sehun-a. Dia tahu aku sedang dihukum dan dia mengatakan aku bisa membedakan mimpi dan kenyataan dengan memerhatikan ciri – cirinya. Tapi caranya mengatakan itu membuat bulu kudukku meremang. Aku tidak seperti melihat Bibi Geum. Dia sangat menakutkan… matanya besar dan dia mengutarakannya dengan nada tegas. Dia maju selangkah demi selangkah selagi aku mundur sampai menubruk pintu. Dia seperti mau… memakanku. Aku—aku takut sekali, sungguh.”

Sehun melonggarkan pelukannya dan menemukan ketakutan tercetak jelas di raut Nahyun.

“Kalau begitu jangan pergi sendirian. Selalu bawa teman mulai sekarang. Sekalipun itu… Jonghyun. Siapapun asal kau jangan sendiri. Kalau tidak ada yang bisa mengantarmu, telepon aku. Berhati – hatilah mulai sekarang, Na. Siapapun bisa menyakitimu,” Sehun menatapnya tepat di manik mata Nahyun, “apa Bibi Geum punya kemampuan lebih?”

“Dia cenayang. Dia baru mengakuinya tadi setelah aku mengenalnya sebagai tetangga yang baik selama empat tahun. Aku selalu menganggapnya sebagai satu – satunya tetangga yang peduli. Dulu aku bahkan sering menginap di flat-nya tapi dia tidak pernah seperti itu. Aku takut, Sehun-a… aku takut…”

Sehun mengusap punggung Nahyun. Dia menyandarkan dagunya di puncak kepala Nahyun.

“Orang – orang seperti itu lebih peka terhadap orang yang kuat sepertimu. Empat tahun ini kau tidak pernah mengalami kejadian aneh. Kini kau mengalami kejadian tidak biasa, kau kebal dari hukum kami. Mereka lebih tajam dalam mengendus kejanggalan. Mungkin sekarang caranya melihatmu berbeda dan sisi cenayangnya lebih dominan ketika bersamamu. Dia tidak sengaja menunjukkannya namun itu seperti pertarungan antara dua peran.” Sehun berbicara setenang air tak beriak.

“Sekarang aku di sini. Tenanglah.” Sehun menepuk punggung Nahyun dengan irama menenangkan. Dia mencoba mengalihkan topik dan kebetulan matanya bertemu dengan tas pergi Nahyun.

“Besok kau ke Daejeon, ‘kan? Bersenang – senanglah. Pergi ke pantai atau makan es krim kedengarannya bagus. Kuharap kondisimu lebih baik setelah berlibur dengan teman – teman.” Sehun tersenyum simpul walau Nahyun tak melihatnya.

“Kau tidak marah kalau aku ke pantai?”

Yeah, Sehun berhasil.

“Kau sudah menganggap mereka keluarga. Untuk apa aku marah?” tawa Sehun pelan. Dia memberi jarak agar dapat mengelus rambut panjang Nahyun.

“Sehun-a, aku tidak bisa menangis.”

TBC

Note:

Alooowwww!

Tau ga kenapa aku post lebih cepet? Komennya turun hiks aku jadi ngerasa ga memenuhi kepengenan kalian 😦 Maaf kalo ceritanya aneh dan blm bisa diterima yaa huhu

Kmrn ga terlalu banyak pertanyaan yaa, jadi lgsg aja aku jwb. Sehun gamungkin salah sasaran/korban dear, mungkin nanti bakal jelas di chapter2 belakang yaa. Skrg lagi fokus ke SeHyun dulu kekeke tapi pasti nanti aku jelasin :’) Sehun gapunya kekuatan apa2. Kalo soal ada jadwal, gada jadwal. Tergantung perintah aja dari tiga pemimpinnya. Pertanyaan yg lain kayaknya udah kejawab di sini hehe

P.S. : Yg kmrn nanyain contact wp beta reader aku klik di sini XD

Love,

vanillaritrin ❤

Jung Dohee

tumblr_mq5b9gAwsU1r75uk0o1_500

213 responses to “HUNCH [Chapter 6]—vanillaritrin

  1. Wahhh yg punya cewek yg d suka gak hanya sehun ya
    Tapi tao juga
    Wkwkwkwkw

    Itu itu sehun sebenernya jeleus kan nahyun mw pergi liburan
    Apa lagi ada jonghyunnya
    Ahahaha

  2. Oh gitu ya? Yang dilenyapkan Sehun adalah orang yg memiliki kemampuan istimewa. Ahh aku merasa mereka tidak semata-mata dilenyapkan. Mungkin mereka diasing kan gitu, sampai ajal menjemput mereka. Kan kata Sehun mereka tidak bisa langsung mati seperti manusia biasa. Yeah itu hanya kesimpulanku aja hihi
    eung…Sehun itu ga dark amat ya jiwa yang sebenarnya. Soalnya dia ga dingin-dingin amat jadi orang. Sebut saja dia orang yang tenang, dia kalo ngomong tuh tenang banget gitu kesannya.
    Mwoya? Bibi Geum ga sadar sama yang dia lakukan? Jadi dia kek punya dua sisi gitu? Wah….beneran dah. makin menarik
    Akhinya Tao menyadarkan Sehun bhakss
    sayangnya teman Sehun tinggal Tao saja huhh

  3. damn big shit!! –”
    tmnku ad yg main line play dan make nama oliver -nama samaran-… -.-
    berarti aku selaam ini temenan sama malaikat pencabut nyawa donk.. /? oh no!! ><
    .
    .
    #JustKidd xD

  4. Bibi geum nyeremin jg ya.. ><
    Apa lg mksd nahyun kl ddy gk bs nangis?penasaran..mkin rame ceritanya… ^^

  5. ehem.. sehun perhatian nih..
    ceilah, pakek nama samaran juga? oliver? kayak minyak zaitun, //itu olive oil//
    disini tao ceramah terus ya.. heheh tapi kata-katanya menyentuh banget..
    kenapa si Nahyun gak bisa nangis?
    .keep writing ya!

  6. Sehun mencoba menjadi yang terbaik padamu Nahyun. berhubung mungkin baru kali ini dia merasakan getaran-getaran lope2(?) Bhakkk:D awalnya protektif tapi akhirnya mencoba toleransi. Apa karena Nahyun gak bisa nangis makanya ada pengecualian,kah?

  7. Haha sehunnn cemburu.. dan oh sehun scr tdk sadar sdh mnyukai nahyun.. aku smpat bigung hub mrk it sprt apa? Padhl mrk slg mnykai satu sama lain tp tdk ad yg mngngkpkn prasaan mrk.
    Dan bini geum cenayan???

  8. Jangan bilang Sehun bakalan mengeksekusi bibi Geum?? o_o
    Btw, itu bibi Geum kenapa?? Serem ih -.-
    Sehun gak niat nyusul Nahyun libiran gitu??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s