Nerdy Little Liar [4] – The Reason

tumblr_nbuj3ts17R1tiyj7vo1_500

T’s Present

 

“NERDY LITTLE LIAR”

 

Starring :

Lee Ji Moon – Original Character

Kim Jong In – EXO

Oh Sehun – EXO

Kim Jong Dae – EXO

Also Starring :

TaeYong || Do Kyungsoo || Xi Luhan || Wu Yifan

and many more.

 

Length :

Chaptered

Genre :

Romance, School Life, AU, etc.

Rating :

17+

Disclaimer :

© OC’s name and Plot. All of famous cast(s) are belong to God, etc.

Attention :

Typo. No SIDER. This story might be contains rant and ‘hot scene’ (PG – 17). One Comment for One Smile.

 

Recommended Song :

David Guetta & Showtek – Bad ft. Vassy

David Guetta – Little Bad Girl ft. Taio Cruz, Ludacris

Swedish House Mafia ft. Jhon Martin – Don’t You Worry Child

Previously on Nerdy Little Liar :

[Prologue] – Night Life & Day Life || [1] – Mischance || [2] – Shit Day || [3] – Boys & Throbs ||

 

She might be bitch.

She might be nerdy.

Well, she might be a liar too.

So, prepare yourself when you greets her.

 

======

 

-o- Nerdy Little Liar -o-

 

“Lee Dasom.”

“Hadir.”

“Lee Soo Man.”

“Hadir.”

“Lee Ji Moon.”

Hening. Si pemilik nama tidak menunjukkan ‘tanda’ keberadaannya. Ah, mungkin ia tidak mendengar namanya saat dipanggil sonsaengnim –mungkin.

“Lee Ji Moon.”

Ini panggilan kedua dan masih sama. Tak ada jawaban dari yeoja yang terkenal nerd itu. Apa ia mulai tuli? Atau karena posisi bangkunya yang berada di barisan paling belakang makanya ia tidak mendengar dengan jelas? Okay, forget it. Sekarang lihatlah, beberapa pasang mata mulai melirik heran dan tajam ke arah Ji Moon. Tapi tentu saja, ia ternyata sedang melamun –atau semacamnya, jadi tatapan mereka tidak akan diperdulikan oleh Ji Moon.

“LEE JI MOON!”

Threes—“

Seketika Ji Moon tersentak kaget sebelum menutup rapat mulutnya dengan kedua tangan saat mulut ‘manis’nya hampir mengucapkan kata ‘Threesome’. Suara setengah memekik dari Kang sonsaengnim berhasil membuat Ji Moon ‘sadar’ dan hampir berhasil membuat Ji Moon ‘mati’ disaat yang bersamaan pula. Reaksi macam apa yang sekiranya akan diberikan seisi kelas jika saja Ji Moon mengucapkan kata ‘maut’ itu? Oh, lupakan hal itu.

“Apa kau melamun, nona Lee?” tanya Kang sonsaengnim sambil menaikkan sebelah alisnya.

“Ti –tidak, sonsaengnim. Su –sungguh. Jwosonghamnida, sonsaengnim. Saya tidak akan mengulangi hal ini lagi.”

“Baiklah. Oh, seminggu yang lalu kita telah melaksanakan ulangan Matematika dan hasilnya sudah keluar–“

Kang sonsaengnim menghentikan kalimatnya lalu mengambil satu tumpukan kertas dari dalam tasnya. Dan, biar ditebak, itu pasti lembaran tugas ulangan Matematika yang disebut oleh Kang sonsaengnim tadi.

“–Dan hasilnya cukup memuaskan. Tapi masih ada dua orang yang mengecewakan. Kim Taehyung dan tentu saja, Lee Ji Moon.”

Mwo? Aku?” tanya Taehyung.

Jangan tanyakan siapa Taehyung, dimana tempat tinggalnya, atau siapa pacarnya. Ia hanya salah satu teman sekelas Ji Moon. Tidak terlalu penting, tapi percayalah, ia dan Ji Moon cukup sering bersama dikarenakan kesamaan nasib –example, mendapat nilai paling rendah di ulangan Matematika, berada di kelas remedial yang sama, dan sebagainya.

‘Hah, sial. Terkutuklah kau penemu Matematika.’

Itu suara rutukan yang berasal dari batin seorang Lee Ji Moon. Ia hanya terlalu malu untuk berteriak secara langsung –mungkin saja.

“Iya kau, Taehyung. Dan selepas pulang sekolah, tolong tetap berada dikelas. Kalian harus mengikuti kelas remedial. Nilai kalian yang tidak layak disebut nilai ini harus segera diperbaiki. Mengerti?”

“Tapi, sonsaengnim, aku punya janji pada ibuku untuk menemaninya berbelanja sepulang sekolah.”

Taehyung lucu sekali. Ini sudah jelas sebuah alasan yang terdengar bodoh. Seorang anak bad boy seperti Taehyung tidak mungkin. . . sudahlah, ini bukan hal yang penting. Lihatlah, bahkan beberapa orang mulai mencibir sesekali menahan tawa saat melirik Taehyung.

“Alasan yang tidak masuk akal, Kim Taehyung. Dan kau punya alasan juga, Lee Ji Moon?”

Ji Moon hanya menggeleng pelan.

Sebenarnya ada. Ingat ucapan Sehun kemarin? Well, Ji Moon tidak mungkin beralasan karena hal itu, kan? Ia lebih takut pada Kang sonsaengnim yang jelas-jelas kedudukannya lebih tinggi dibanding Sehun di Hannyoung High School. Dan soal Sehun, sudahlah namja dingin itu mungkin juga tidak serius dengan ucapannya kemarin.

“Bagus. Nah, sekarang buka halaman 20.”

.

.

.

 

“Ah, kemana Kang sonsaengnim? Kenapa ia lama sekali? Aku lapar sekali. Aku ingin segera pulang. Apa aku pulang saja, ya? Ah, kenapa tidak dari tadi saja aku kabur? Aish.”

“Taehyung, kau ini berisik sekali.”

Nada bicara yang terkesan sarkastik terlontar begitu saja dari mulut Ji Moon. Alright, ia hanya reflek karena Taehyung memang benar-benar berisik. Taehyung berbicara seperti seekor burung yang sedang lapar.

Mworago?” tanya Taehyung sambil menatap tajam ke arah Ji Moon.

“Aku tidak mengatakan apapun. Sungguh. Mungkin itu hanya perasaanmu saja.”

“Ck! Kenapa aku harus selalu ‘sial’ bersamamu? Kenapa bukan gadis-gadis seksi dan cantik saja yang ada disekitarku saat aku di kelas remedial? Lagi-lagi, nerd sepertimu yang ada didepan mataku. Menyebalkan.”

Ji Moon tidak menjawab ucapan Taehyung yang jelas sekali menyindir dirinya. Ia hanya tampak memutar malas bola matanya lalu sesekali membolak-balik halaman buku Matematikanya.

Drrrttt. . . Drrtt. . . Drrrtt. . .

Ponsel Ji Moon bergetar dari dalam tas ranselnya. Buru-buru Ji Moon mengambil ponselnya sebelum panggilan itu berubah menjadi ‘missed call’.

Monster JongIn calling. . .

Oh, fuck. Untuk apa Jong In menelpon dirinya? Oh, tentu saja, Ji Moon masih berstatus sebagai slave dari Jong In. Sekarang apa lagi yang akan terlontar dari mulut seorang Kim Jong In? Ji Moon menghela sesaat napasnya lalu melangkah keluar kelas untuk mengangkat panggilan dari ‘majikan’nya itu.

Baru saja ia akan mengangkat panggilan itu, dari kejauhan tampak sosok Kang sonsanegnim yang menuju ke kelas. Ji Moon mengurungkan niatnya, dan memilih mematikan ponselnya –agar Jong In tidak kembali menelponnya.

Oh, Jong In pasti murka. Pasti. Okay, whatever. Ji Moon tidak perduli akan ancaman Jong In. Berbicara soal Jong In, apa Sehun sekarang berada di parkiran? Hah, Ji Moon sekarang malah memikirkan Sehun. Aish.

“Ji Moon? Kenapa kau masih berada di luar kelas?” tanya Kang sonsaengnim saat telah berada didepan kelas.

“Mungkin ia akan kabur,” celetuk Taehyung.

Ji Moon hanya menghembuskan napas dengan kasar sebelum akhirnya kembali duduk di bangkunya.

======

 

“Ck! Ternyata sudah jam 5 sore. Apa sebaiknya aku menelpon TaeYong saja?”

Ji Moon akhirnya selesai dengan kelas remedialnya. Sekarang ia sedang berjalan menuju gerbang sekolah dan mungkin akan meminta TaeYong untuk menjemputnya. Ia lantas mengeluarkan ponselnya dari tas ranselnya tapi, entah kenapa ia tiba-tiba pikirannya teringat akan parkiran. Sehun. Apa mungkin Sehun masih ada di parkiran? Tunggu dulu, Ji Moon tau ini konyol tapi entahlah, anggap saja Ji Moon hanya memenuhi rasa penasarannya. Dengan ragu, Ji Moon berbalik menju arah parkiran sekolah.

“Ah, Ji Moon kau bodoh sekali. Apa yang kau harapkan? Sehun masih berada diparkiran dan menunggu nerd sepertimu? Lucu seka —Sehun?”

Seketika Ji Moon menghentikan langkahnya saat melihat Sehun berdiri di sebelah mobil berwarna putih. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali. Ia juga tiba-tiba kesulitan bernapas. Oh shit, what the heck!

Dengan setengah berlari, Ji Moon menghampiri Sehun. Tepat saat ia berada didepan Sehun, ia hanya menatap Sehun dengan tatapan penuh tanya. Sementara yang di tatap hanya membalas tatapan Ji Moon dengan wajah datarnya.

“Lama sekali.”

Hanya itu terlontar dari mulut Sehun. Sedangkan, Ji Moon, mulutnya rasanya ingin meledak dengan berbagai macam pertanyaan.

“Kau. . . menunggu. . . aku?”

You aren’t blind, are you?

“Tapi. . . kenapa? Maksudku, k –kau. . . kau—“

“Kau sudah cukup banyak membuang waktuku dengan kedatanganmu yang telat dan sekarang kau mau membuang waktuku dengan ocehanmu juga?”

Detik selanjutnya, Sehun masuk ke dalam mobil miliknya tanpa berniat menunggu Ji Moon menjawab pertanyaannya.

Tiiinnn.

Suara klakson mobil Sehun mengejutkan Ji Moon. Ji Moon mengelus pelan dadanya sesaat lalu membuka pintu mobil Sehun. Sebelum masuk ke dalam mobil Sehun, mata Ji Moon ‘menangkap’ sebuah mobil masih berada di parkiran tak jauh dari mobil Sehun. Dan perasaan Ji Moon mengatakan kalau ia mengenal dengan jelas pemilik mobil itu. Kim Jong In. Apa itu mobil milik Jong In?

.

.

.

 

“Sehun? Ini. . . untukku?”

Suara dengan nada ragu itu terlontar dari mulut Ji Moon. Sehun baru saja memberinya sebuah kalung dengan liontin berbentuk kunci. Saat ini mereka berada di salah satu toko perhiasan di mall yang cukup terkenal di Seoul.

Wae? Kau tidak suka? Tidak masalah, kau boleh cari yang la—“

Anio. Aku menyukainya. Kalung ini cantik sekali. Maksudku. . . kenapa kau memberikan kalung ini padaku?”

Hei, come on, tentu saja Ji Moon bingung. Untuk apa seorang pria memberikan seorang gadis kalung –yang bahkan bukan temannya? Geez, nevermind.

“Aku tidak punya tujuan apapun. Aku tertarik pada kalung ini saat melihatnya tadi, dan aku sangat benci jika sesuatu yang aku suka menghilang dari pandanganku. Jadi aku beli kalung ini dan memintamu untuk memakainya agar aku bisa terus melihat kalung ini.”

Wow, Sehun si makhluk dingin menjelaskan dengan panjang lebar. Hal yang langka. Tapi bukan itu yang tengah diperdulikan Ji Moon, karena sekarang pikirannya malah kosong. Dadanya terus berdebar dengan cepat, sesekali berdenyut nyeri dan juga terasa seperti berdesir. Apa Ji Moon tengah menderita sakit jantung? Ayolah, seseorang tolong jelaskan keadaan Ji Moon sekarang.

“Ah begitu. Gomawo, Sehun-ssi. Gomawo. Boleh. . . aku memakainya?”

“Tentu. Setelah ini kita mau kemana lagi?” tanya Sehun sambil melirik ke arah arlojinya.

“Umm. . .”

Ji Moon tampak tidak fokus menjawab pertanyaan Sehun karena ia sendiri sedang berfokus mencari pengait kalung. Ia tampak kesulitan memakai kalung tersebut.

“Biar kubantu,” ujar Sehun.

“Ti –tidak perlu. . . ak ‒aku bisa sen—“

“Berbaliklah.”

Sehun memotong ucapan Ji Moon dengan nada dinginnya dan dengan gerakan canggung, Ji Moon memutar tubuhnya –membelakangi Sehun. Yap, tak butuh waktu lama, kini kalung pemberian Sehun itu telah menghias leher Ji Moon. Benar-benar kalung yang cantik, selera Sehun bagus sekali.

That’s necklace suits you. So beautiful.”

Apa? Sehun bilang apa tadi? Beautiful? Who? Ji Moon or the necklace? Terserah saja, intinya ucapan Sehun semakin menambah kecepatan debaran yang konyol ini. Apa Sehun sedang mencoba membuat Ji Moon mendapat serangan jantung? And oh my God, is she blushing? Apa-apaan ini.

“Kau suka bubble tea? Bagaimana kalau kita minum itu?” tanya Sehun sambil melangkah mendahului Ji Moon.

“Tentu. Aku suka bubble tea,” ucap Ji Moon setengah berbisik lalu mengikuti langkah Sehun dari belakang dan tentu saja dengan senyum yang terus mengembang.

Kau aneh sekali, Lee Ji Moon –dan juga memalukan dengan tingkah konyolmu itu.

======

Cahaya matahari menerobos masuk melalui berbagai celah. Dan seorang gadis yang tengah tertidur lelap akhirnya harus terpaksa membuka matanya saat secercah cahaya matahari seperti ‘menusuk’ matanya. Ia menggeliat kecil diatas ranjangnya sebelum akhirnya turun dari ranjangnya.

Dengan langkah gontai ia menuju ke kamar mandi, membasuh wajahnya dan menggosok giginya. Selepas itu ia lalu melangkah ke arah dapur –bermaksud meminum segelas air.

“Haus sekali,” ucapnya sambil mengusap pelan lehernya.

Seketika ia menghentikan langkahnya saat tiba-tiba jemarinya merasakan sesuatu dilehernya. Oh, kalung pemberian Sehun. Ia –Ji Moon, lantas tersenyum lebar sambil melanjutnya langkahnya lagi. Ah, semalam itu benar-benar sangat menyenangkan. Entahlah, tapi itu yang dirasakan Ji Moon. Bahkan semua teman-teman Ji Moon tampak heran dengan sikapnya saat di club semalam. Mulai dari Ji Moon yang terus menerus tersenyum, Ji Moon yang tidak mau menerima satu ‘pelanggan’ pun, Ji Moon yang. . . sudahlah, terlalu banyak keanehannya semalam.

“Ah, it’s Sunday. Akan lebih menyenangkan jika Sehun mengajakku pe ―aish! Apa yang kupikirkan barusan?”

Ji Moon malah bercerocos sendiri sambil sesekali meneguk air mineralnya. Sepertinya sebentar lagi Ji Moon akan masuk rumah sakit jiwa.

Drrrttt. . . . .

Drrrtt. . . .

Drrrtttt. . . .

Getaran ponselnya yang menunjukkan 3 tanda pesan masuk. Ia lantas membuka pesan-pesan masuk itu.

Donkey

Ini tanggal 20 Februari. Happy Birthday, Lee Ji Moon. I Love you. Jam 8 malam aku akan menjemputmu. Kita berpesta malam ini! See ya! Once again, Happy Birthday.

 

DJ Wu

Gadis kecil-ku ini sedang berulang tahun rupanya. Happy Birthday, Red. TaeYong sudah bilang soal pesta, bukan? Aku akan menunggumu disana. Don’t be late, bby.

 

Luhannie

Hi, Happy Birthday. See you tonight.

Ji Moon tampak tersenyum kecil melihat pesan masuk dari para sahabatnya itu. Ternyata ini tanggal 20, astaga bahkan ia lupa jika hari ini hari ulang tahunnya. Setidaknya, Ji Moon beruntung punya sahabat yang perduli padanya –meskipun sepertinya keluarganya lupa akan hari ulang tahunnya. Tunggu. . . keluarga?

.

.

.

 

Pukul 7 malam dan Ji Moon tengah bersiap-siap untuk pergi merayakan ulang tahunnya bersama para sahabatnya. Ia sibuk merapikan rambutnya. Tiba-tiba ia melirik sebentar ke arah ponselnya. Ia tampak berpikir sebentar lalu mengambil ponselnya dan mencari kontak seseorang.

Setelah dapat nomor kontak yang ia cari, ia lantas melihat layar ponselnya dengan jarak yang sengaja dijauhkan dari wajahnya. Apa ia sedang melakukan video call? Cukup lama ia menatap layar ponselnya, sampai tiba-tiba seulas senyuman terukir.

“Hai, eomma,” sapanya pada seseorang diseberang sana.

“Hai, baby. I miss you so much! How are you, baby?”

Dia, ibu dari Lee Ji Moon. Ibunya sedang bekerja di New York. Seorang wanita karir. Ayah Ji Moon juga bekerja di kota yang sama, hanya saja mereka beda perusahaan. Dan jika dilihat dari ‘background’ tempat ibu Ji Moon sekarang, sepertinya ibu Ji Moon sedang berada di kantornya. Tunggu dulu, jika di Seoul sedang pukul 7 malam berarti di New York sekarang pukul 5 pagi. Astaga, betapa sibuknya ibu Ji Moon.

“Aku sehat. Bagaimana dengan eomma? Dan. . . apa eomma sedang di kantor sekarang?”

“I’m fine. Ya, eomma sedang di kantor sekarang. 15 menit lagi eomma harus menghadiri rapat. Bagaimana sekolahmu?”

“Begitulah. Tidak ada yang penting.”

“Woah, where will you go, baby? Sepertinya kau akan ke suatu tempat. Apa kau akan pergi bersama pacarmu?”

Eomma! Aku tidak punya pacar, tapi, yeah aku akan ke suatu tempat dengan teman-temanku.”

“Aish, kenapa anak eomma yang cantik ini belum punya pacar?”

Ji Moon hanya tertawa kecil. “Eomma, apa eomma ingat ini hari apa?”

“Hari ini? Umm. . . oh, it’s Sunday! Kenapa? Kau mau bertanya kenapa eomma masih bekerja dihari Minggu bahkan di hari yang masih terlalu pagi ini?”

Dan ibu Ji Moon tampak tertawa seolah yang ia katakan benar. Cukup jahat untuk dikatakan, tapi, ibu Ji Moon sungguh tidak peka.

Kali ini Ji Moon tertawa dibuat-buat. “Ah, iya itu yang ingin kutanyakan. Tapi eomma sudah bisa menebaknya. Ck! Baiklah, kalau begitu aku harus bersiap-siap lagi, sebentar lagi temanku akan datang menjemputku. Take care and I love you, eomma. Sampaikan salamku pada appa.”

“Baiklah. Bye, baby. Eomma will always love you dan jika sedang liburan eomma dan appa akan mengunjungimu di Seoul. Bersenang-senanglah, Ji Moon.”

Yeah,” ucap Ji Moon pelan bersamaan dengan berakhirnya video call.

Ji Moon tampak menahan air matanya. Ia juga terlihat meremas ponselnya. Dan detik selanjutnya. . .

Brak!

Ji Moon menghempaskan ponselnya ke lantai. Ia bahkan tidak perduli meski ponselnya rusak, ia masih punya banyak ponsel yang sewaktu-waktu bisa ia pakai. Dan kini, air mata itupun tampak ‘meluncur’ bebas mengaliri pipinya. Ia sesegukkan. Jelas ia sedih, tahu bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang orang tuanya sendiri tidak ingat hari kelahirannya? Menyedihkan sekali jika berada di posisi Ji Moon sekarang. Dan mungkin Ji Moon sebenarnya punya alasan kenapa ia ‘berkepribadian ganda’. Disatu sisi ia ingin keramaian. Tapi disatu sisi juga telah terbiasa hidup dalam kesendirian. Tapi entahlah, ia juga tak mengerti dirinya sendiri.

.

.

.

 

Bye, terima kasih untuk pesta malam ini. I love you so much, guys,” ucap Ji Moon setelah turun dari mobil yang dikendarai TaeYong.

Okay, Happy Birthday, Red!” ucap TaeYong, Luhan, dan YiFan hampir bersamaan.

Ji Moon hanya tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya saat mobil TaeYong mulai menjauh dari hadapannya sebelum akhirnya ‘menghilang’ di jalanan. Dengan senyum yang terus lebar, ia melangkah masuk ke dalam rumahnya. Ia melirik sekilas ke arah jam tangannya, tepat jam 12 malam. Ia kemudian membuka pintu rumahnya dan. . . gelap. Hell, apa listrik sedang padam? Dengan dibantu oleh penerangan yang dihasilkan dari ponselnya, Ji Moon melangkah masuk perlahan ke dalam rumahnya. Baru beberapa langkah ia memasuki rumahnya, tiba-tiba. . . seluruh lampu nyala kembali.

Ji Moon sempat tersentak kaget. Seketika pula, matanya membulat sempurna saat meilhat sosok namja yang tidak asing berdiri tak jauh dari hadapannya. Tiba-tiba kakinya terasa lemas. Dan alhasil, Ji Moon jatuh terduduk di lantai rumahnya.

Ya! Ji Moon-ah, are you okay?” tanya namja itu dengan paniknya saat ia menghampiri Ji Moon.

Oppa? Ka –kapan kau tiba di Korea?” tanya Ji Moon sambil menatap heran ke arah namja dihadapannya.

Baiklah, biar diperjelas. Namja itu adalah kakak laki-laki dari Lee Ji Moon. Bukan kakak kandung, melainkan kakak angkat. Kedua orang tua Ji Moon pernah mengangkat seorang anak laki-laki sebelum melahirkan Ji Moon. Dan nama dari kakak Ji Moon adalah Do Kyungsoo. Jadi, tidak heran jika mereka beda marga. Do juga bersekolah di salah satu universitas yang ada di Jepang, dan sepertinya tahun ini adalah tahun kelulusannya. Mungkin itulah alasannya kenapa ia kembali ke Korea.

Oppa baru saja tiba. Oppa menunggumu lama sekali. Oppa tiba pukul 9 tadi. Kau kema—“

Seketika Ji Moon memeluk oppa-nya dengan erat. “I miss you so much. Terima kasih karena sudah kembali ke Korea.”

Do tampak terkekeh kecil sebelum akhirnya membalas pelukan dari adik perempuannya yang paling ia sayang ini. Meskipun mereka bukan saudara kandung tapi percayalah mereka bahkan lebih akur dibanding saudara kandung lainnya. Dan ngomong-ngomong, malam ini biarkan mereka saling melepas rindu sepuasnya.

“Hei, Happy Birthday. Maaf karena lupa membeli kado untukmu,” ucap Do disela-sela pelukan mereka.

“Ternyata oppa mengingatnya. Bagiku, oppa adalah kado teristimewa. Thanks oppa, thanks.”

======

“Jong In lepaskan aku! Kau mau membuatku dibunuh oleh para fans fanatik-mu, huh?” gerutu Ji Moon sambil mencoba melepaskan cengkraman tangan Jong In dari pergelangan tangannya.

Hell, shut your fuckin’ mouth up, nerd. Just follow me. Okay?

Ini adalah jam istirahat di Hannyoung High School. Semua orang biasanya akan menikmati jam ini untuk menenangkan otak mereka selepas pembelajaran –semua orang, kecuali Ji Moon. Baru saja tadi ia akan ke perpustakaan untuk sekedar bertemu Jong Dae atau bersantai, tiba-tiba saja Jong In datang dan langsung menarik paksa tangannya menuju ke suatu tempat yang bahkan Ji Moon juga tidak tahu.

Tidak masalah jika ia hanya mengikuti Jong In dari belakang, tapi dengan ‘kondisi’ tangannya yang ditarik Jong In, tatapan dari beberapa yeoja yang melihat ini justru tampak berbeda. Mereka seolah-olah berharap tangan Ji Moon bisa putus lewat tatapan mereka. Geez, bitch please.

“Oke,” celetuk Jong In setelah menghentikan langkahnya.

Ji Moon tampak mengerutkan dahinya saat menatap sekitarnya. Ini. . . kantin sekolah. Untuk apa Jong In membawanya kemari? Oh Tuhan, apapun itu, tolong jangan hal-hal yang aneh. Kasihani Ji Moon yang malang itu.

Prok! Prok! Prok!

Jong In menepuk tangannya tiga kali dan seketika semua pasang mata menatap ke arah Jong In dan Ji Moon. Kali ini apa lagi?

“Baiklah, semuanya tolong dengarkan. Aku, Kim Jong In menyatakan-“

Jong In melirik sekilas ke arah Ji Moon yang masih berdiri mematung disebelahnya. Detik selanjutnya, Jong In tersenyum miring.

“-Mulai hari ini, Lee Ji Moon adalah kekasihku.”

Mwo?!

-o- Nerdy Little Liar -o-

 

[To Be Continued]

 

 

Next on Nerdy Little Liar :

 “Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku.”

“Bagaimana kalau Lotte World?”

“Oh Tuhan, aku pasti sudah gila.”

“Kalian pacaran?”

 

A/N : WordPress pribadi : www.welcomeintkingdom.wordpress.com #iklanlewat.

Maaf karena kelamaan lagi. Saya lagi nge-blank gitu. Gatau dah napa. Cerita ini juga saya akui mengecewakan banget. Terlalu lambat dan basa-basi. Maklumin ya, saya lagi fokus sama satu hal yaitu, AUDISI SM ENTERTAINMENT. Saya, tahun kemarin sekitar akhir bulan-an gitu, berselancar di gugel terus nemuin soal audisi SM yang diadain di Indo. Saya yang gak aptudet ini langsung antusias gaje, saya mikirnya mungkin audisinya masih ada. Tapi ternyata, udah lewat jauh. Sedih awalnya, tapi setelah terus-menerus mantengin gugel dari pagi ampe pagi akhirnya. . . jreng. . . jreng. . .

00062363

Ada yang tahu soal audisi SM Entertainment? Adakah dari kalian yang ingin ikut audisi itu? Ada yang udah daftar? Ada yang udah pernah ikut tahun kemarin dan pengen ikut tahun ini lagi?

Saya, T, jujur saja akan ikut audisi itu.  Jadi saya mau cari temen-temen yang juga ikut audisi itu. Jadi kita bisa barengan berjuang di audisi itu/?.

Nah, tolong beritahu saya, ya? Terima kasih.

Sekian.

Terima kekasih.

T’s❤

238 responses to “Nerdy Little Liar [4] – The Reason

  1. Cie,,,akhirnya sm kai juga walaupun itt kai yg berambisi..thor sebenernya sehun sm chen suka sm ji moon gx sh???

  2. Ka ikutan audisi? Wah gimana? Sukses? Hebat bisa ikut 😀
    Sehun kayanya suka deh ke jimoon, soalnya ngasih kalung terus suka nolongin lagi. Kasian jimoon, kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya jadi dia jadi bad girl-___-
    Btw, kai main ngomong aja..
    Cieeee yang dilema antara sehun dan jongin😂

  3. Pingback: Nerdy Little Liar [6] – Revealed | SAY KOREAN FANFICTION·

  4. Nah lo kan sehun pasti suka sama ji moon. Aih sayang ji moon nya nakal huhuhuhuhuhu aku suka ji-jong dri pda sama sehun.

  5. maygad.. emang sukses bikin jantungan ini ff. ada aja yang bikin kaget. previous chap threesome chap ini suami gue dibawa2.. akang kyungieee.. Aku garela punya adik ipar macem ji moon. eh tapi dia keren sih, gajadi. Aku suka sama ji moon yang punya dua sisi. wkwkwk.
    and jongin.. what the hell are you doin? maksudmu apa bilang gituu:”v kesian si ji moon…

  6. weh ternyata,kakaknya angkat ji moon itu do kyungsoo yah? dan juga yang mengatakan pas jongin bilang,kalau ji moon kekasih ternyata si jongin yang ngomong,pas baca di part sebelumnya

  7. Aq udh kemen blm y d chapt ini??
    Emmm 😮..!!! komen lagi aja deh…hehe
    Pasti ada apa2 nih kai ngumumin klo red jd pacarnya hahaa

  8. Pingback: Nerdy Little Liar [7] – To Tell You | SAY KOREAN FANFICTION·

  9. Sehun, entah masih gangerti aja sebenernya dia tuh knp??? Dia punya perasaan gitu sama Jimoon? Sama halnya sama si Jongdae -,- apa bakal ada cinta segitiga, atau segiempat ditambah Jongin wkwkwkw~~~ pantes Jimoon kelakuan kek begitu dia kagak diperhatiin ama emak bapaknye abisan juga jauh kan di NY -_- yg sabar ye Jimoon masih ada si abang unyu/? Kyungsoo kok :3 pls, Jongin mulai gila bhaaay

  10. heuh hehe jongin nekat pakai banget !! kasian ji moon nanti tambah dibully terus sehun gimana jongdae gimana ??? yya kasian mereka berdua

  11. Waahh jongin semacam gu jun pyo di bbf nih…. Tapi sehun apa kabar?? Kayanya aku lebih ngeship sehun sama jimoon…

  12. Yaampun sehun pasti suka tuh sama ji moon..
    Terus maksud jongin apa coba ngomong di kantin kalo ji moon pacarnya?
    Sayang bgt kalo mereka rebutin cewe ga bener gitu, semoga ji moon cepet” tobat deh :””

  13. Apa yg dilakuin sama jong in Jadi keinget adegan diBBF hahaha :v

    jadi-in orang pacarnya seenak jidat :v hhjahahaha

Leave a Reply to Kim Dee Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s