Wedlock ― Our Drama

57442471-1

T’s Present

 

“Wedlock”

 

Starring :

Park Ri Chan – Original Character

Oh Sehun – EXO

Also Starring :

Park Chanyeol ||

and many more.

 

Length :

Twoshots

Genre :

Married Life, Romance, AU, etc.

Rating :

17+

Disclaimer :

© OC’s name and Plot. All of famous cast(s) are belong to God, etc.

Attention :

Typo. No SIDER. This story might be contains dirty words and ‘hot scene’ (PG – 17). One Comment for One Smile.

 

 

_____________________________________________________

 

“Ah. . . Ah. . . Sehun –ahhh. . . nn. . . Aku mau keluarhh. . .”

“Ahhh. . . tahan baby, kita keluarkan bersama. . . Mmm. . .”

“Aku –aaaaahhh. . . nghh. . .”

Suara yang menjijikkan itu, terdengar samar-samar dikamar yang berada didalam apartemen mewah ini. Jangan berpikir jika yang sedang bercinta itu adalah sepasang suami-istri, karena sang istri justru tengah asyik mengganti channel televisinya. Lalu. . . siapa yang sedang bercinta?

“Aaaaannnhh. . .”

Ugh. Desahan itu pasti pertanda jika kedua insan itu telah mencapai orgasme mereka. Dan, sebentar lagi, kedua insan itu akan keluar dari kamar tersebut.

“Terima kasih untuk malam ini, baby,”ucap si pria sambil mengecup singkat bibir si wanita.

“Kapanpun kau butuh aku, kau bisa menelponku,”ujar si wanita sebelum menghilang dibalik pintu apatemen.

Ah, ternyata hanya seorang wanita jalang. Well, biar diperjelas, pria yang kini tengah melangkah menuju sofa tempat dimana seorang wanita tengah duduk disana, namanya Oh Sehun. Dan wanita disebelahnya kini, namanya Park Ri Chan –bukan, lebih tepatnya, Oh Ri Chan. Mereka, sepasang suami-istri –bukan dalam arti sebenarnya. Ini hanya seperti sebuah status. Mereka menikah, tapi tidak pernah bersentuhan sedikitpun. Skinship yang pertama dan terakhir mereka lakukan hanya ciuman singkat saat di altar dahulu.

Mengenai kenapa hal ini bisa terjadi, jangan salahkan soal cinta. Mereka memang tidak berdasar karena cinta, tapi hanya karena sebatas bakti pada kedua orang tua mereka masing-masing. Bisa disebut juga dengan, perjodohan. Memang hal yang terdengar norak dan konyol. Tapi itulah yang terjadi pada mereka. Jangan bayangkan soal masa kecil mereka yang saling berteman satu sama lain, mereka bahkan baru kenal sekitar 2 bulan yang lalu tapi seolah seperti takdir, mereka disatukan.

Mereka jarang berbicara, Ri Chan tampak pendiam saat didekat Sehun –atau mungkin ia memang tidak mau berbicara dengan pria itu. Dan Sehun yang seorang maniak sex juga tidak memperdulikan keberadaan Ri Chan. Tapi jangan salah, jika mereka sedang didepan kedua orang tua mereka, mereka akan berubah 180 derajat. Mereka bisa berubah menjadi aktris dan aktor yang ahli.

“Apa yang sedang kau tonton?” tanya Sehun sambil memainkan ponselnya.

“Bukan urusanmu dan bisakah kau menjauh dari hadapanku?”

Sehun hanya mendengus kasar mendengar ucapan yang dilontarkan istrinya. Hal yang biasa terjadi. Detik selanjutnya, Ri Chan berdiri dari posisi duduknya dan melangkah menuju dapur.

Drrrttt. . . Drrrtt. . . Drrrtt. . .

Ponsel Sehun bergetar –menandakan panggilan masuk. Ia melihat sekilas ke arah layar ponselnya lalu mengangkat panggilan tersebut.

Yeoboseyo?

“Sehun, ini eomma. Malam ini eomma dan appa ingin mengunjungi apartemen kalian. Apa boleh?”

“Tentu saja. Bukankah aku dan istriku tidak pernah melarang kalian untuk mengunjugi kami?”

“Ah, kami hanya mencoba menghargai privasi kalian. Kalau begitu eomma dan appa akan tiba satu jam lagi.”

“Baiklah. Hati-hati dijalan.”

Detik berikutnya, Sehun mengakhiri panggilan tersebut. Dengan tubuh yang masih bertelanjang dada, Sehun menghampiri Ri Chan yang tengah berada di dapur. Ia harus memberi tahu istrinya soal ini –atau kalau tidak ‘drama’ mereka bisa terbongkar.

.

.

.

“Wah, kalian semakin hari, semakin mesra saja. Eomma bangga sekali akan hubungan kalian,” ujar eomma Sehun sambil meneguk kopinya.

“Begitulah, eomma.”

Sehun berusaha membuat eommanya percaya dengan apa yang eommanya lihat dengan terus-menerus menggenggam tangan Ri Chan. Bahkan senyum bahagia juga mereka tunjukkan. Sudah dibilang kan kalau mereka itu ahlinya.

Aigo, jika melihat kalian mesra seperti ini, appa jadi tidak sabar ingin punya cucu. Pasti kebahagian kita akan semakin lengkap. Benar, ‘kan?”

Ucapan appa Sehun membuat Ri Chan dan Sehun saling mencuri pandang satu sama lain sebelum akhirnya ikut berpura-pura tertawa kecil.

Bagaimana mungkin mereka akan punya anak? Mereka tidur saja terpisah, Sehun di kamar dan Ri Chan memilih tidur di sofa depan televisi. Jangan kira jika Sehun yang memaksa istrinya untuk tidur di sofa, ini semata-mata karena kemauan Ri Chan sendiri. Ri Chan hanya tidak mau jika harus tidur di ranjang yang penuh dengan sisa-sisa hasil percintaan Sehun dan ‘wanita’nya.

“Tapi itu juga bukan masalah, selama kalian terus mesra seperti ini, kami pasti akan selalu bahagia,” ucap eomma Sehun.

“Tentu saja, kami pasti akan terus saling mencintai. Benarkan, chagi?” tanya Sehun pada istrinya sambil mengusap lembut tangan istrinya itu.

Ri Chan hanya tertawa kecil diikuti dengan yang lainnya yang juga ikut tertawa.

_____________________________________________________

 

“Hari ini aku akan pergi dengan Chanyeol, mungkin hingga larut malam. Jika orang tuamu datang kerumah atau orang tuaku yang datang, kau beritahu aku,” ujar Ri Chan sambil meneguk segelas susu coklat pagi hari ini.

Sehun yang tengah mengoles selai di rotinya hanya mengangguk-angguk kecil menanggapi ucapan istrinya.

“Dan tolong jangan bercinta di sofaku,” tambah Ri Chan sebelum melangkah meninggalkan ruang makan.

Sehun hanya mendengus sesaat sebelum memakan rotinya.

 

.

.

.

 

“Hei, Chanyeol, kau pikir aku takut? Jika hanya minum bir kalengan ini aku tidak mungkin kalah darimu.”

Saat ini Ri Chan sedang duduk di salah satu bangku taman. Ini sudah pukul 9 malam, dan sepertinya kedua sahabat ini masih enggan pulang kerumah mereka masing-masing.

“Cih! Sejak kapan kau mulai sombong seperti ini, huh? Kau pasti akan kalah dariku.”

“Seorang Park Ri Chan tidak akan kalah dari apapun.”

“Kau yakin margamu ‘Park’, nona Oh?”

Ri Chan hanya mendengus kasar mendengar ucapan dari sahabatnya ini. Chanyeol senang sekali menggodanya seperti itu. Menyebalkan.

“Sampai kapan kalian akan bermain drama seperti itu? Sampai rambut kalian berubah menjadi putih?” tanya Chanyeol sambil tertawa kecil.

“Diam kau. Kau sendiri juga, kapan kau akan menikahi kekasihmu itu? Kau tidak takut jika ia diambil orang lain?”

Kali ini gantian Ri Chan yang tertawa kecil dan Chanyeol yang mendengus.

“Aku sudah pernah bilang padamu, kan? Aku tidak akan menikahi siapapun sampai kau bahagia,” ujar Chanyeol sambil menggenggam erat tangan Ri Chan.

“Tapi aku sudah bahagia karena memiliki dirimu.”

“Itulah masalahnya, jika aku menikahi wanita lain, maka aku sudah bukan milikmu lagi. Itu berarti kebahagianmu menghilang.”

“Kau bodoh sekali, Chanyeol.”

Dan ledakan tawa terjadi diantara mereka. Detik selanjutnya mereka mulai meminum bir kalengan mereka. Mungkin mereka telah memulai ’pertandingan’ mereka.

.

.

.

 

“Se –Sehun, apa kau bisa ke taman di dekat sungai Han sekarang? Ri Chan tengah mabuk dan aku tidak bisa membawanya pulang karena aku membawa motor. Maafkan aku.”

Sehun tampak memutar bola matanya dengan malas lalu melirik ke arah wanita yang tengah melepas pakaiannya satu-persatu. Sehun menjauhkan ponselnya lalu menyuruh wanita itu mendekat kearahnya dan membisikkan sesuatu kepada wanita itu. Ekspresi wanita itu terlihat kesal sebelum akhirnya pergi keluar dari kamar Sehun –dan mungkin dari apartemen juga.

Sehun lalu kembali menempelkan ponselnya di telinga kanannya. “Lima belas menit.”

Setelah mengakhiri panggilan tersebut, Sehun lalu melangkah keluar dari apartemen dan menuju tempat dimana mobil miliknya terparkir.

Dan tanpa berlama-lama, Sehun mengendarai mobilnya menuju tempat dimana Ri Chan berada.

“Sial. Menyusahkan sekali,” gerutu Sehun sambil terus menambah kecepatan mobilnya.

“Ugh, Chanyeol, kepalaku rasanya berat sekali. Tapi setidaknya aku yang menang. Sudah kubilang kau pasti kalah dariku. Kau, Park Chanyeol, tidak akan pernah menang melawan aku, Park Ri Chan.”

Ri Chan mulai bercerocos tak jelas. Ia juga sesekali berbicara ‘aneh’. Sepertinya ia memang mabuk berat. Tentu saja, 10 kaleng bir. Jumlah yang cukup untuk membuat seorang Ri Chan mabuk.

“Astaga, kenapa suamimu lama sekali?” gerutu Chanyeol sambil terus menahan tubuh Ri Chan yang sesekali akan ambruk.

“Suami? Suami apa? Aku, Park Ri Chan, masih lajang. Kau jangan bodoh, Tuan.”

“Sudahlah, Ri Chan, berhentilah berceloteh. Dan perhatikan langkahmu.”

“Masukkan ia ke mobil.”

Suara berat seseorang membuat Chanyeol sedikit terkejut. Tapi saat ia melihat dengan jelas, ternyata itu adalah Sehun –suami Ri Chan.

“Syukurlah kau datang,” ujar Chanyeol.

“Jika kau tidak menelpon, aku tidak akan datang. Sekarang bawa ia kedalam mobilku, aku tidak mau menggendongnya,” ucap Sehun lalu melangkah menuju mobilnya.

Dengan perlahan, Chanyeol menggendong tubuh Ri Chan ala bridal style menuju mobil Sehun. Dan dengan hati-hati, Chanyeol meletakkan Ri Chan agar duduk di sebelah kemudi.

“Hei, gowamo Sehun-ssi. Maaf karena merepotkanmu. Dan maaf juga karena membiarkan istrimu mabuk. Kumohon maafkan aku.”

Chanyeol berulang kali menundukkan tubuhnya, ia benar merasa bersalah karena membiarkan Ri Chan mabuk.

“Ya, ya, ya. Terserah kau saja.”

Hanya itu yang Sehun katakan sebelum akhirnya memacu mobilnya menuju ke apartemen.

Sehun tampak melirik sekilas ke arah Ri Chan yang tampak tertidur dengan kepala yang menyadar di kaca mobil.

“Dasar bodoh,” desis Sehun lalu berfokus pada jalanan lagi.

“Ugh, panas. Kenapa disini panas sekali? Aish.

Ri Chan terbangun dari tidurnya dan kini malah mengeluh kepanasan –meski cuaca malam ini terasa cukup dingin. Sepertinya ia merasa kepanasan karena pengaruh alkohol dalam tubuhnya.

Aish! Panas sekali. Hei, Tuan, apa kau tidak merasa kepanasan? Ah, panas sekali,” celoteh Ri Chan sambil membuka jaket yang ia pakai.

Ia lalu melemparkan jaket itu ke arah belakang. Selanjutnya ia mulai membuka kemeja yang ia pakai dan melemparnya juga. Kini ia hanya berbalut tanktop. Sehun hanya melirik sekilas lalu mendengus kasar.

Shit! Kenapa masih terasa panas? Kenapa kau tidak menghidupkan AC-nya, huh? Ah, kau ini.”

Dengan gerakan asal-asalan, Ri Chan melepas tanktop yang ia pakai. Sehun tampak melirik ke arah Ri Chan lalu sontak membelokkan setir ke tepi jalan dan juga menghentikan mobil dengan mendadak.

“Hei! Apa kau tidak bisa menyetir dengan benar? Kau mau membunuhku, huh?” cerocos Ri Chan sambil menunjuk-nujuk ke arah Sehun.

“Pakai ini,” titah Sehun sambil mengulurkan jaket milik Ri Chan tadi.

“Tidak mau. Disini sangat panas, kau tau? Apa kau tidak merasakannya?”

Ri Chan tampak mengipasi dirinya dengan tangannya. Orang yang tengah mabuk memang tidak bisa berpikir dengan jernih.

“Aku bilang pakai ini, Ri Chan!”

Sehun mulai mencondongkan tubuhnya ke arah Ri Chan lalu memaksa memakaikan jaket itu pada Ri Chan. Ayolah, Sehun itu pria normal, ia bisa saja berbuat seperti apa yang sedang ia pikirkan sekarang. Tapi, tidak. Ia tidak mau dianggap memperkosa seseorang –meskipun Ri Chan adalah istrinya.

“Kau ini kenapa sih? Aku sudah bilang panas, bukan? Kau tuli? Menjauh dariku.”

Ri Chan tetap bersikeras tidak mau menutupi tubuhnya yang hanya berbalut bra hitam itu. Ia mencoba mendorong tubuh Sehun agar menjauh darinya.

“Tolong pakai ini, Ri Chan. Atau setidaknya, tutupi saja tubuhmu.”

Ri Chan justru tertawa sinis sambil menatap intens ke arah Sehun. “Wae? Apa aku tidak seseksi gadis-gadis yang biasa kau tiduri? Apa ukuran dadaku terlalu kecil untukmu? Apa ak ―mmmpph.

Seketika Sehun menarik dagu Ri Chan dan membungkam mulut istrinya itu dengan ciumannya. Ri Chan reflek menutup kedua matanya lalu membalas ciuman lembut Sehun. Awalnya memang ciuman yang lembut, tapi seiring dengan tangan kiri Sehun yang bergerak turun ke arah payudara Ri Chan, ciuman itu berubah kasar dan menuntut.

Aaah. . .

Satu desahan pelan keluar dari mulut Ri Chan saat tangan Sehun meremas payudara Ri Chan terlalu keras. Ciuman Sehun pun kini mulai berpindah ke leher Ri Chan. Sehun tidak membuat kissmark disana, ia hanya mengecup singkat leher Ri Chan. Dan ciuman itu mulai menjalar ke bagian payudara Ri Chan yang tampak menyembul dari bra yang Ri Chan pakai. Dengan kedua tangan yang masih bergerak meremas payudara yang masih tertutup oleh bra itu, Sehun kembali menciumi bibir gadis yang berstatus sebagai istrinya itu dengan liar.

“Ugh.”

Tiba-tiba Ri Chan merasa perutnya seperti dikocok dan sesuatu memenuhi tenggorokkannya. Ia sontak mendorong tubuh Sehun, lalu membuka kaca mobil dengan tergesa-gesa. Dan tepat sekali, ia muntah. Sehun tampak bingung harus melakukan apa, ia hanya mengambil botol air mineral miliknya lalu menyuruh istrinya itu untuk minum tepat setelah Ri Chan selesai memuntahkan seluruh ‘isi perut’nya. Tapi, belum sempat Ri Chan meneguk air mineral tersebut, ia telah pingsan terlebih dulu.

Sehun hanya menghela napasnya lalu menyelimuti tubuh Ri Chan dengan jaket milik Ri Chan tadi. Detik berikutnya, Sehun kembali mengendarai mobilnya kembali ke apartemen.

_____________________________________________________

Pagi. Aku sudah pergi ke kantor. Makanan dan obat sudah kuletakkan di atas nakas. Istirahatlah.

―Sehun.

Sebuah memo kecil terletak disebelah kepala Ri Chan. Meski kepalanya masih terasa sakit, ia tetap memaksa kakinya menuju kamar mandi.

“Sial. Kenapa aku bisa berbaring diranjangnya? Menjijikkan. Dan memo bodoh itu juga, apa-apan itu. Konyol.”

Ri Chan menggerutu kesal sambil membasuh wajahnya. Ia lalu melangkah keluar dari kamar mandi dan menghampiri nakas. Ia tampak tertawa sinis melihat semangkuk bubur, segelas air mineral, dan sebotol penuh obat diatas nakas. Ri Chan kemudian melangkah keluar dari kamar tanpa berniat menyentuh apapun yang telah Sehun siapkan.

“Ah, mana ponselku? Sebaiknya aku menelpon Chanyeol untuk mengabari keadaanku.”

.

.

.

 

“Apa ia sudah makan buburnya? Apa ia juga sudah meminum obatnya? Apa ia membaca memo ku? Apa –Aish! Lebih baik kutelpon saja.”

Dengan gusar Sehun mengambil ponselnya dan mencari kontak Ri Chan tapi baru saja ia akan menelpon istrinya itu, seseorang mengetuk pintu ruangannya.

“Masuk.”

Dan, oh my God. Ternyata sekretaris pribadi Sehun. Dan biar ditebak, mereka tidak akan berbicara mengenai berkas tapi. . .

“Anda membawa kondom hari ini, Sajangnim?” tanya sekretaris seksi itu sambil memutar kursi Sehun agar menghadap ke arahnya.

Sehun meletakkan ponselnya kembali lalu merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kondom.

“Kau sudah mengunci pintunya, baby?” tanya Sehun sambi melonggarkan dasinya.

“Tentu.”

.

.

.

 

“Cih. Seharusnya sudah kuduga.”

Sehun tampak mendengus kasar saat melihat semua yang tadi pagi ia siapkan, tidak disentuh sama sekali. Baiklah, Sehun sadar, ia saja yang terlalu berlebihan dan sok baik. Seharusnya tadi ia tidak perlu repot-repot melakukan itu.

Sehun lalu membuang semua yang tadi pagi ia siapkan itu ke dalam tong sampah yang memang ia sediakan dikamarnya. Ia bahkan tidak perduli meski mangkuk dan gelas itu pecah. Sehun lalu mengganti pakaiannya dan melangkah menuju dapur untuk mengisi perutnya. Tapi, saat Sehun melewati ruang televisi, ia menghentikan langkahnya lalu menatap ke arah Ri Chan yang tengah berbaring di sofa sambil membaca sebuah buku.

Wae? Kau mau memarahiku karena tidak memakan bubur buatanmu?” tanya Ri Chan seolah menyadari keberadaan Sehun.

“Apa wajahku terlihat seperti seseorang yang punya waktu untuk itu?”

Ri Chan hanya mendengus kasar tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang ia baca. Begitupun Sehun, ia juga terdengar mendengus sesaat sebelum melangkah ke dapur.

_____________________________________________________

Ya! Chanyeol! Kembalikan eskrimku!” pekik Ri Chan sambil melompat-lompat kecil untuk menggapai eskrim miliknya yang berada di tangan Chanyeol.

“Kalau begitu kau harus berusaha lebih keras,” ucap Chanyeol sambil terus mengangkat tinggi tangannya yang tengah memegang eskrim Ri Chan.

Sore ini mereka tengah berjalan-jalan santai di sekitar sungai Han. Mereka memang sahabat yang sudah dekat sejak taman kanak-kanak, dan sungai Han adalah tempat favorit mereka untuk sekedar bersenang-senang.

Aish! Chanyeol, kembalikan eskrimku. Kau membuatnya mencair.”

“Baiklah. Baiklah. Ini, ambilah. Kau masih saja seperti anak kecil.”

“Berisik,” desis Ri Chan sambil memakan eskrimnya.

“Ri –Ri Chan?”

Hm?

“Bu –bukankah itu. . . suamimu?” tanya Chanyeol sambil menunjuk seorang pria dan wanita yang tengah bercumbu didalam mobil.

“Ah, itu. . . itu. Bu –bukan, mungkin kau salah lihat. Ayo kita pergi.”

Sial. Kenapa Sehun harus bercumbu di dalam mobil? Tidak masalah jika kaca mobilnya gelap, tapi kaca mobil Sehun itu tembus pandang. Apa ia tidak malu dilihat oleh orang lain? Dan sekarang, Chanyeol melihatnya. Mungkin Chanyeol tahu kalau Ri Chan dan Sehun dijodohkan, tidak saling mencintai, tidur terpisah, dan sebagainya. Tapi, hingga saat ini Ri Chan belum pernah menceritakan pada Chanyeol kalau Sehun selalu bercinta dengan wanita-wanita yang berbeda. Lalu sekarang, Ri Chan harus mengalihkan perhatian Chanyeol –bagaimanapun caranya.

“Tunggu dulu. Aku yakin itu Sehun. Aku juga kenal plat mobilnya. Ri Chan, suamimu berselingkuh!” ujar Chanyeol sambil menunjuk ke arah mobil tadi.

“Bu –bukan. Chanyeol sudahlah, kita tidak bisa melihat dengan jelas dari sini. Lebih baik kita ke restoran saja. Ak –aku lapar. Kajja.”

Ri Chan berusaha menarik tangan Chanyeol untuk pergi menjauh. Bagi Ri Chan, Chanyeol tidak perlu tahu soal ‘kebiasaan’ Sehun. Ri Chan melakukan ini bukan karena ia ingin ‘melindungi’ Sehun, hanya saja, ia merasa kalau hal ini tidaklah penting mengingat ‘kebiasaan’ Sehun juga tidak merugikan dirinya.

“Lepas. Aku yakin dia itu Sehun, Ri Chan!” bentak Chanyeol setelah menepis tangan Ri Chan.

Dan dengan setengah berlari, Chanyeol menghampiri mobil tadi. Ri Chan tampak membelalakkan matanya saat melihat pergerakan Chanyeol. Ri Chan lalu mencoba mengejar Chanyeol tapi sial, Chanyeol telah lebih dulu mengetuk kaca mobil tersebut.

“Chanyeol, dia—“

“Bajingan! Keluar kau!”

Sayang sekali, tapi dugaan Chanyeol memang tepat. Sehun agak sedikit kaget dan reflek menghentikan ‘aktifitas’nya saat kaca mobilnya diketuk dengan cukup keras oleh Chanyeol. Sehun terlihat menautkan alisnya saat melihat Chanyeol dan Ri Chan yang berdiri di luar mobilnya. Sehun menghembuskan napasnya dengan kasar lalu keluar dari mobilnya.

What the he—“

BUGH!

Satu pukulan ‘mendarat’ di wajah Sehun. Ri Chan sontak membulatkan matanya –kaget atas apa yang Chanyeol lakukan.

“Kalau kau memang tidak mencintai Ri Chan, setidaknya jangan selingkuhi dia! Dasar bajingan!” bentak Chanyeol sebelum akhirnya menarik tangan Ri Chan dan pergi meninggalkan Sehun.

Sehun mendengus kasar sambil memandangi punggung Chanyeol dan Ri Chan yang mulai menghilang dari pandangannya. Untungnya, pukulan Chanyeol tidak terlalu keras jadi Sehun tidak mengalami luka –kalaupun ada, mungkin hanya sekedar lebam biasa.

“Hey, Sayang. Apa kau baik-baik saja? Siapa mereka?” tanya wanita yang berada di dalam mobil Sehun saat Sehun telah masuk kembali ke dalam mobilnya.

“Keluar dari mobilku. Pulang sana,” titah Sehun dengan nada yang sarkastik.

Mwo? Ta –tapi kita—“

“Keluar!”

 

.

.

.

 

“Chanyeol, aku. . . aku tidak—“

“Kenapa kau terus menerus membelanya? Dia jelas-jelas berselingkuh, Ri Chan! Kau tidak buta, kan?”

“Ta –tapi kau. . . kau salah paham, Chanyeol. Su –sudahlah kita bicarakan ini lain kali saja. Tolong antar aku kembali ke apartemen.”

Mwo? Setelah apa yang bajingan itu lakukan, kau masih mau kembali ke apartemen? Apa kau gila? Dimana harga dirimu? Lebih baik kau menginap dirumahku.”

“Tidak, Chanyeol. Tidak. Kau tidak mengerti, tolong percaya padaku. Aku akan menyelesaikan ini. Kami suami-istri, Chanyeol. Kau ingat?”

“Tapi. . . Ri Chan, ak—“

“Kau sahabatku, kan? Kau mengenal diriku, kan? Trust me.”

“Baiklah. Tolong kabari aku jika terjadi sesuatu.”

Dan pembicaraan mereka pun berakhir. Chanyeol tampak ragu tapi biar bagaimanapun ia harus menuruti apa yang Ri Chan katakan. Kini, Chanyeol mengendari motornya dengan kecepatan sedang menuju apartemen Ri Chan.

“Hei, aku minta maaf atas perlakuan Chanyeol padamu. Dia hanya salah paham.”

Ri Chan mencoba mencairkan suasana kaku dan canggung yang sedang ‘menyelimuti’ ruang makan saat ini. Sedari tadi mereka hanya diam sambil sesekali melahap makanan mereka.

Yeah, kekasihmu memang yang terhebat,” ucap Sehun datar sambil mengaduk-aduk kasar mienya.

“Dia bukan kekasihku.”

“Terserah.”

Hanya itu yang diucapkan Sehun. Ia lalu melempar sumpitnya ke atas meja makan dan bangkit berdiri dari posisi duduknya.

“Dasar kekanak-kanakan,” desis Ri Chan sambil menatap ke arah Sehun.

Mwo?

Ri Chan tidak mengubris ucapan Sehun. Ia justru memilih berfokus pada makanannya. Ia hanya malas dan bosan dengan semua hal yang selalu terjadi diantara ia dan Sehun. Ia merasa seperti tinggal dengan orang asing. Tidak pernah ada pembicaraan yang jelas, tidak pernah saling menyapa, tidak pernah —hah, intinya sangat membosankan. Terkadang Ri Chan –dan mungkin juga Sehun, berpikir kapan pernikahan ‘palsu’ ini akan berakhir. Mungkin benar juga perkataan Chanyeol, apa sampai rambut mereka memutih, baru mereka akan mengakhiri ‘drama’ ini?

Ri Chan bangkit berdiri setelah menyelesaikan makannya. Ia tampak menghela napasnya lalu menatap ke arah Sehun.

“Kita akhiri saja ini semua. Aku muak.”

[To Be Continued]

A/N : nenek-nenek numpang lewat www.welcomeintkingdom.wordpress.com .

Hai, para makhluk belubang hidung dua/? saya ngebuat cerita baru yang gapenting pake banget nih. Jujur aja lah, saya sendiri juga gak ngerti ini cerita tentang apa /dordor/. Saya ngerasa kalo saya ngebuat efef ini dibawah alam bawah sadar mbah dukun saya. Maapkan kalo cerita ini gaje, bikin mual, pusing, dan positip hamil /tusuktusuk/. Oiya, awalnya ini mau jadi oneshot, eh entah kenapa malah jadi twoshots. Apa aku satu-satunya setan didunia ini yang gabisa bikin cerita oneshot????? /oke kuburin aku saja./ Ohiya, ada yang tau apa itu arti “WEDLOCK” ? Nah cari aja di gugel ntar ketemu kok. Wedlock ini sendiri punya banyak arti dan maksud jadi susah buat dijelasin, intinya kalian cari aja lah di gugel /phiss/.

Nah, udahlah gitu aja kesan&pesan dari putri khayangan yang tertukar ini /abaikan/. Biarpun efef ini jelek dan aneh tapi ini efef halal kok buat dibaca (dibaca sama anak yang udah diatas umur maksudnya). Minta komennya yaaaaaaaa? Oke akhir kata. . .

SEKIAN

TERIMA KEKASIH

T’s❤

61 responses to “Wedlock ― Our Drama

  1. Keren! Aku suka sama ff ini. Ri chan kasian ya, sehun juga sih kelakuan nya parah banget. Ditunggu kelanjutan nya.. ini seru!

  2. sebenernya bego juga ya si richan mau mau aja gitu di gitu in sama sehun, emangnya ga jijik gitu ada yg lagi bercinta di rumah yg sama dan itu kedengeran Dx
    tapi bagus lah ff ini aku suka, dan penasaran banget sama kelanjutannya ditunggu yaa next chapter nya😄😄

  3. sehun jangan gitu lagi lah, jaga perasaan ri chan juga dong.. kirain setelah disediain bubur dll mereka bakal lebih baik, taunya engga. kelanjutannya ditunggu yaa 🙂

  4. aaa…. seru bnget critanya sehun jadi maniak s*x awal.nya aja udah vulgar gmna akhirnya penasaran
    next thor

  5. Soloh sehunnn,,,bakal di bawa kemana nih hubungan sehun ricchan thor??
    Ahahaaaa gw malah ngakak pas baca note author,,,
    Next d tggu…

  6. Ngenes bgt sih jd richan..mau aja ngeliat suami selingkuh trus bercumbu d depan mata sendiri aja
    Huufft
    Walaupun mereka terpaksa menikah apa g ada sedikit feeling apa d hati mereka masing2…
    Jgn bikin sad ending y chingu
    Semangat d tunggu lanjutannya

  7. WOW feelnya dapet banget pas aku baca ini,ri chan kamu sabarr yaaa 😂kereeennn bangetttt kapan dilanjuttt thor?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s