Ssst!! We’re married (Chapter 4)

Ssst!! We're married

Tittle          : Ssst!! We’re Married (Chapter 4)

Author       : @mskim22

Length       : Chaptered

Genre        : Marriage life, School life, Comedy (a little)

Rating        : PG-15

Main cast :

–          Kim Jongin (EXO)

–          Kim (Jung) Jinni (OC/You)

–         Jung Hoseok (BTS)

–         Moon Hyojin (OC)

Additional Cast:

–         Lee Onew/Lee Jinki (SHINee)

–         Kim Jonghyun (SHINee)

–         Kim Kibum (SHINee)

–         Song Eunra (OC)

–         Lee Eunkyung (OC)

–         Jeon Sunny (OC)

–         Jang Yein (OC)

 

Disclaimer: cerita ini murni bikinanku sendiri, cast diambil dari beberapa tokoh yang udah di sesuaikan 😉 harap jangan copas, karena bikin cerita itu butuh banyak jeri payah untuk merangkainya. Hargailah orang lain kalau kau mau dihargai 😉

 

Selamat membaca!! 😉

Edisi sebelumnya: Prolog, Chapter 1, Chapter 2, Chapter 3

Warning! Chapter ini mellow! T.T

 

~”~”~”~

 

Apa yang kucari adalah apa yang tak kulihat dari dirimu. Kau lebih manis dari setiap waktu yang pernah kulalui seumur hidupku.

 

~”~”~”~

 

Suasana masih sangat aman dan damai setelah selesai acara makan malam. Aku masih sibuk dengan cucian piring dan senandung lagu EXO di telingaku. She’s my lady~ nunbushin ni ipsure ppajyeo beorin naneun neoye… I’m running into your heart. Ahh lagunya pas sekali untuk malam-malam begini. Apalagi diluar sedang dingin. Bukankah bagus kalau lagu ini dinyanyikan untuk pasangan sambil menari ala Troublemaker dipadu dengan segelas wine. Ya walaupun aku tidak pernah mencoba wine setetespun seumur hidupku. Tapi aku ingin mencobanya nanti saat hari kedewasaanku. Ahhh… romantis sekali.

Deg-deg-deg

Jantungku tiba-tiba berdetak tidak beraturan saat mataku menangkap bayangan Jongin yang teduduk di meja makan dari lemari kaca di depanku. Lelaki itu sibuk memainkan ponsel seperti biasanya. Dia ‘kan penggila gadget. Tapi… perasaan ini…

Seepp!

Tubuhku seperti terhisap ke lubang waktu dimana malam itu aku kehilangan akal sehatku. Thanks to soju. Nafas itu… hangat itu… entah kenapa aku ingat jelas bagaimana Jongin melumatku. Bukankah itu… manis? Bukankah hangat tubuhnya adalah selimut terbaik untuk malam sedingin ini? Kenapa tiba-tiba aku jadi menginginkannya? Apa dia juga merasakannya?

Padahal aku ingat keesokan harinya semua itu jadi mimpi buruk. Hoseok marah padaku selama berhari-hari. Setelah kami pergi dari gudang karena lilin yang tiba-tiba mati dan bulu kuduk kami yang berdiri, ia membawaku ke tempat lain. Menyudutkanku meminta aku untuk menjelaskannya. Menjelaskan tentang kissmark di belakang leherku. Dan sebelum ia berhasil membuka mulutku, ia sudah pergi. Mendiamiku berhari-hari tanpa kabar.

Kalau saja saat itu aku hanya memilikinya, mungkin aku sudah mati putus asa, tapi kenyataannya aku punya Jongin. Jongin yang entah mengapa malah senang melihat aku terus menatap layar ponselku berharap Hoseok berhenti mendiamiku. Sial! Ia memang tidak melakukan apapun setelah kejadian itu. Tapi ia… ah iya… ia tidak pernah meninggalkanku sendiri. Ia selalu ada dimanapun aku merasa kesepian. Apa ia melakukannya dengan sengaja? Kenapa ia melakukannya? Bukannya ia harusnya marah padaku karena diam saja saat Hoseok memelukku dan menciumku? Dan soal pertanyaan Jongin waktu itu… uri… saranghaja… apa ia serius? Ouhh Jongin memang penuh dengan misteri. Tidak aneh kalau gadis-gadis di sekolah malah tersesat dan jatuh cinta padanya setiap kali ingin mengungkapkan misteri itu. Aku saja tersesat.

Aku mengusap belakang leherku yang sudah kembali mulus tanpa bercak dengan bulu kuduk merinding. Kenapa tiba-tiba aku jadi ingin tahu tentang Jongin?

PRANGG

Eh?! Aigoo!! Apa yang terjadi?

“Besok akan ada badai!” ucap Appa histeris. Remote tv yang tadi dipegangnya jatuh begitu saja ke lantai. Aku yakin besok Jongin akan mengeluh lagi karena remotenya mati.

Badai salju? Bukannya itu sudah biasa? Kenapa harus berlebihan begitu jinjja!!

“Sepertinya kita harus menginap disana, eottokhaji?” tanya Appa pada Eomma yang juga berekspresi sama berlebihannya.

Eh tunggu! Menginap? Memangnya mereka mau kemana?

“Eomma mau kemana?” tanyaku polos.

Bukannya dijawab, mereka malah terkekeh-kekeh menahan tawa. Mereka seperti mau berakting tapi gagal. Kulirik Jongin sudah mulai menghela nafasnya merasa lelah mengakui orang tuanya.

“Kami harus mengunjungi nenek Jongin. Kalian ‘kan sudah menikah, tapi kami belum memberi salam, hehe” jawab Eomma dengan ekspresi mengerikan. Bayangkan saja bagaimana wajahnya yang bulat itu dipaksa serius, padahal ingin tertawa. ‘Kan mengerikan.

“Besokkan libur akhir pekan, apa tidak sebaiknya kami ik…”

“Tidak perlu! Akhir pekan ‘kan hari yang berharga untuk pengantin baru hihihi” potong Appa dengan seringaian tidak jelasnya.

“Lagipula Eomma sudah menyiapkan makanan untuk kalian di kulkas, kalian jangan lupa menghabiskannya ya?! Itu baik sekali untuk kalian yang masih muda hihihi” dih, wajah Eomma semakin horor.

“Sudah malam, ayo kita tidur?” Appa memeluk Eomma sambil berbisik di telinga Eomma persis seperti pengantin baru. Padahal yang pengantin baru itu kami. Bagaimana sih?

“Khajja Oppa! Jinni-ya cepat selesaikan pekerjaanmu lalu tidur ya?!” pesan Eomma sebelum tubuhnya diangkat Appa dengan ala bridal style.

Meninggalkan aku dan Jongin yang menatapnya dengan tubuh membeku. Kalau saja aku belum menikah, mungkin aku akan berdoa supaya pernikahanku nanti akan langgeng seperti mereka. Terus romantis seperti baru menikah. Tapi ‘kan…

“Masih banyak yang belum dicuci?” tanya Jongin yang entah sejak kapan sudah disebelahku. Wajahnya memerah. Keningnya berkeringat. Dia habis apa coba jadi keringatan begitu?

“Kau habis apa? Habis nonton yadong ya?” tanyaku polos.

Ia menatapku dengan wajah kesal. Oops! Sepertinya aku terlalu jujur! “Kau tidak bisa lihat gelas yang kau sisihkan dipojok sana bekas apa? Itu ginseng merah yang Eomma berikan dan yang kau paling benci mencucinya.” jawab Jongin menunjuk gelas berukuran sedang dengan sisa cairan kental di dalamnya. Oh, kukira itu punya Appa. Rupanya bekas dia? Untuk apa dia minum itu? “Sini sarung tangannya!” ia menarik tanganku lalu melepas sarung tangan pink di tanganku.

Ia memakainya. Pertamanya aku bingung dia mau apa, tapi setelah ia mendekati wastafel aku sadar ia mau membantuku. Ia mengambil gelas yang baunya luar biasa dipojok sana lalu mencucinya. Tidak hanya itu, sisa cucian piring yang belum kuselesaikan juga di selesaikannya.

“Duduklah. Aku tahu kau berlatih sangat keras di kelas dance tadi.” ucap Jongin datar tanpa menatapku. Sibuk membilas piring.

Sringg

Bias-bias cahaya memenuhi ruang dapur ini. Tiba-tiba saja Jongin tampak sangat berkarisma seperti tokoh-tokoh dalam anime. Suami perhatian. Ah… rasanya dulu aku pernah bermimpi memiliki suami sepertinya. Aku… suka sekali melihatnya dari samping begini. Melihat garis rahangnya yang tegas. Bentuk hidungnya. Bentuk matanya. Dengan rambutnya yang setengah basah itu. Jongin… eh aku mikir apa sih?! Kenapa malam ini pikiranku kearah Jongin terus? Aku jadi merasa berdosa pada Hoseok.

Aku membuka kulkas, mengambil kotak susu kecil, membukanya lalu meneguknya kasar. Eh tunggu! Kenapa susu ini tidak enak? Tidak ada rasanya. Apa sudah basi?

“Apa Eomma suka menyimpan susu basi di kulkas?” tanyaku pada Jongin. Ia melirikku sebentar lalu menghampiriku.

Aku menyodorkan susu itu padanya, ia melepas sebelah sarung tangannya, lalu mengambil susu itu. Kukira ia akan langsung meminumnya, ternyata tidak. Ia memutar kemasan susu itu sebentar lalu mengembalikannya padaku. Wajahnya memerah. Eh? Kenapa? Apa dia melihat sesuatu yang aneh?

“Apa Eomma menyuruhmu meminumnya?” tanyanya sambil menunduk.

“E-eoh. Waeyo?” tanyaku heran. Bagaimana ia bisa mengetahuinya?

Tiba-tiba ia mengambil susu itu lagi lalu membuangnya ke tempat sampah sebelum aku sempat melihat apa yang membuatnya malu.

“Jangan meminumnya lagi, kau belum seharusnya meminum itu.” ucap Jongin sambil menaruh sarung tangannya di dekat wastafel lalu melewatiku berjalan naik ke kamar. Meninggalkanku sendiri.

Aku jadi penasaran dengan susu yang tadi dibuangnya. Aku mengambil kotak susu itu dan membacanya baik-baik. Tapi mataku langsung tertuju pada tulisan dipojok kemasan. “Susu untuk persiapan keha… milan…” hueeeek! Apa-apaan Eomma! Jangan-jangan aku jadi sering memikirkan Jongin karena susu ini. Aah, aku tidak hamil ‘kan?! Ya! Sadar! Aku ‘kan tidak pernah disentuh Jongin kecuali malam itu!

Deg-deg

Eh… kenapa? Kenapa aku malah merasa sedih? Kenapa aku merasa tidak suka melihat Jongin membuangnya?

Sudahlah, tidak perlu pura-pura tidak tahu. Kau tahu kau mulai menyukainya. Kau mulai menerima pernikahan ini dan kau mulai bergantung padanya. Kau selalu butuh dirinya dimanapun kau berada. Itu harusnya baik. Karena aku tidak pernah memikirkan tentang perpisahan. Tapi… bagaimanapun keadaannya aku tetap merasa bersalah. Disatu sisi aku takut aku mengganggu hidup Jongin, disatu sisi aku takut menyakiti Hoseok. Payah…

Sudah! Lebih baik aku tidur!

Aku berjalan keatas lalu menuju kamar. Ketika aku membuka pintu Jongin sedang berbaring sambil memandang jendela yang dibuka tirainya. Terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu. Dulu-dulu aku memang sering melihatnya merenung. Kadang aku seperti fans-fansnya ingin tahu apa yang ia pikirkan. Tapi aku tidak menghiraukannya karena aku merasa tidak perlu mengetahuinya. Sekarang? Rasanya aku ingin ia terbuka padaku. Eottokhae? Salahkan susu itu pokoknya!!

Aku menutup pintu kamar lalu berbaring di sebelahnya. Di tengah kami ada tumpukan bantal guling yang sudah kuikat agar ia tidak bisa menyentuhku. Biasanya aku merasa senang melihatnya, tapi sekarang… aku merasa terganggu. Aku ingin memandangnya. Melihat wajah manisnya. Sayang bantal guling susunanku ketinggian. Sial! Gagal curi-curi pandang!

“Hah…” dia menghela nafas.

Hatiku bergetar mendengarnya. Nafas itu pasti hangat. Sehangat malam itu saat kami tertidur diluar. Tertidur dalam pelukannya yang hangat sampai akhirnya ia membawaku ke kamar. Butuh waktu lama aku bisa mendapatkan ingatan itu karena aku lemah alkohol. Ingatanku akan rusak setiap aku mabuk.

Ckitt

Tuh ‘kan. Hatiku masih sakit kalau aku ingat bagaimana ia langsung merampas susu itu dari tanganku lalu membuangnya. Tindakannya tidak salah sih, itu ‘kan demi mencegah kehamilan juga. Tapi… ah aku curiga. Jangan-jangan aku ingin cepat-cepat punya anak lagi?!

“Jongin-ah…”

“Hm”

Dia menjawab. Itu artinya dia belum tidur. Aku jadi ingin menanyakan sesuatu padanya. Saat rumah sudah sepi begini ‘kan saat yang tepat untuk membicarakan hal-hal serius.

“Apa kau bahagia dengan pernikahan ini? Apa kau bahagia bersamaku?” tanyaku sambil menunduk sesekali. Aku mengarahkan tatapanku ke arah jendela besar yang menayangkan pemandangan langit malam. Berusaha menyembunyikan rasa maluku. Aku paling tidak bisa bicara serius dengannya. Apalagi soal perasaan. Wajahku pasti langsung memerah.

“Bagaimana denganmu?” yah, dia malah balik bertanya.

Duh, aku ingin memaksa ia untuk menjawabnya, tapi aku takut. Apa aku harus menjawab pertanyaanku sendiri? Aku bahkan belum bisa menjawabnya. Eottokhae?? Masa harus pura-pura tidur?! Seperti drama saja!

“Aku… aku tidak tahu, tapi… aku… aku kecewa saat kau buang susu itu…” jawabku dengan mata terpejam. Wajahku rasanya sudah menguap seperti air kukusan. Ah eottokhae? Eh kok aku jawabnya begitu sih? Seperti mengharapkan punya anak saja. Duh aku harus meralatnya! Tapi bagaimana?

“Mian, aku hanya takut permintaan Eomma mengganggumu…”

Eh… kok pipiku hangat? Jangan-jangan…

Aku membuka mataku perlahan sambil melirik kearah kananku. Benar ‘kan dugaanku! Dia sudah merusak susunan gulingku dan menatapku dari jarak dekat.

Ia tersenyum. Wajahnya berseri. Seperti ada banyak kunang-kunang yang berterbangan di sekitaran wajahnya.

Deg-deg-deg

Tuh ‘kan. Seseorang siapa saja tolong aku. Sepertinya jantungku mau lepas.

“K-kau kenapa?” tanyaku gugup. Ia tidak menjawab. Sepertinya dugaanku benar. Dia paling suka membuatku gugup dengan wajah memerah. Sial!!

“Apa kau menyukaiku?”

JLEB

Rasanya seperti diserang dengan panah. Langsung menembus ke jantung. Bagaimana dia bisa menanyakan perasaanku dengan semudah itu? Aku bahkan butuh keberanian besar untuk mengucapkan kata cinta pada Hoseok.

Issh aku harus kuat! Dia ‘kan belum jawab pertanyaanku! “Kau belum jawab pertanyaanku…”

“Tidak” jawabnya sebelum aku selesai mengucapkan kalimatku. Ia menjauhkan tubuhnya kembali ke tempat semula.

Eh? Tidak? Dia tidak bahagia dengan pernikahan ini? Dia tidak bahagia bersamaku? Jeongmal?

Pernikahan ini memang bukan kemauanku, tapi… aku malah merasa sakit. Apalagi saat ia membalikkan tubuhnya membelakangiku. Jongin… kenapa aku malah takut kehilangannya? Apa suatu hari aku akan kehilangannya?

Ada yang salah ‘kan dengan diriku?! Yaa! Jinni-ya! Kau masih punya Hoseok! Bagaimana kau mau meninggalkannya eoh?! Tapi…

Hah… sepertinya memang aku bukan ditakdirkan untuknya…

Drrt-drrrrt

Ponselku bergetar. Kukira itu dari Appa, tapi ternyata bukan. Itu… Hoseok! Aigoo! Akhirnya Hoseok menghubungiku lagi!!

 

Ayo kita bertemu

 

Haaaah!! Dia mengajakku kencan? Setelah sekian lama?? Issh… tapi ‘kan besok Appa dan Eomma pergi… itu adalah saat yang bagus memang untuk kabur, tapi tetap saja aku harus izin pada Jongin. Bagaimanapun dia ‘kan suamiku. Aku harus izin apa ya?

“Siapa?”

Eh! Dia menoleh padaku lagi. Ah, aku harus jawab apa? Apa aku tanyakan saja padanya? Dia mengizinkanku tidak ya? Tapi dia ‘kan tidak bahagia dengan pernikahan ini. Dia pasti mengijinkanku ‘kan?!

“Hoseok. Dia mengajakku berkencan…” jawabku hati-hati.

Jongin menatapku diam. Aku tegang menunggu reaksinya. Tapi… “Oh” hanya itu jawabannya. Tuhan, aku jantungan setengah mati, dia cuma menjawab itu.

Ia kembali membalik tubuhnya lalu tidur. Hah… sudahlah, mengerti soal Jongin itu sulit. Yang penting aku sudah bilang padanya.

 

~”~”~”~

 

Ramalan itu benar… hujan salju mulai turun menutupi langit saat matahari pulang ke asalnya. Padahal bulan Januari hampir berakhir. Kami sudah berada di cafe saat semua orang berlari pulang. Aku belum mau pulang. Rasanya sehari saja tidak cukup menghabiskan waktu dengannya. Sudah sejak lama aku tidak tertawa melihat tingkahnya. Belum lagi kalau dia sudah aegyo. Sepatuku sudah berulang kali melayang ke wajahnya. Ooops yang itu tolong diabaikan!

“Bisakah kita kembali seperti dulu?” pertanyaan itu akhirnya muncul juga. Pertanyaan yang sudah kuperhitungkan memang, tapi mau bagaimana? Sebanyak apapun aku memikirkannya, aku tetap tidak bisa menjawabnya. Padahal tadi masih ketawa-ketawa, tiba-tiba atmosfer berubah jadi serius.

Aku buru-buru menggulung tawaku ketika mendengar pertanyaannya yang sudah jelas serius itu. Padahal sebelumnya dia lagi peragain ketawanya Youngji Kara.

Hah… kau tahu ‘kan kejadian beberapa hari lalu saat di gudang sekolah yang ‘angker’. Ah aku jadi ingat selama 2 hari aku jadi panas dingin, Appa meminta bantuan orang pintar di Paris sana katanya aku diikuti hantu. Hoseok juga. Sialnya cuma Jongin yang selamat. Cih!

Kembali ke cerita! Jadi setelah kejadian Hoseok yang melamarku tepat setelah Jongin memintaku untuk melewati pernikahan ini dengan semestinya. Aku tahu hidupku tidak sesimple dulu. Kalau saja hidupku dijadikan drama, mungkin 3/4 penonton sudah membenciku. Aku seperti mempermainkan pernikahan. Tapi mereka tidak mengerti! Coba saja mereka jadi aku. Aku dan Hoseok bukan hanya bermain-main. Kami mencintai satu sama lain. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Itu pun karena ada alasannya.

Hujan turun lagi, mengalahkan dentingan lagu jazz yang terputar di cafe ini. Aroma cappucino semakin tercium setelah 3 orang memasuki cafe lalu memesan 3 menu yang sama. 2 orang lelaki dan seorang perempuan. Seperti kami. Bisakah kami seperti mereka saja? Menghabiskan malam minggu dengan bermain bersama. Geurae… aku bertemu masa-masa ini. Aku bertemu penyesalan ini lagi. Ketidaksiapanku atas pernikahan ini.

Langit malam yang hari ini tampak sangat pekat karena mendung membuatku melayang ke dalam perasaan terdalamku. Perasaan hangat yang kadang menyakitkan.

Dulu, sebagai seorang anak yatim piatu yang tidak pernah mendapat kasih sayang, selalu kesepian, mendapatkan seorang lelaki yang mencintaiku sepenuh hati adalah anugrah terindah yang pernah kumiliki. Ketika ia mengungkapkan sejuta rasa sayangnya padaku. Berbisik di telingaku bagaimana ia mencintaiku. Ketika ia memelukku, menciumku, menjagaku. Ia lebih dari semua gambaran malaikat yang pernah kudengar. Ia adalah segalanya. Aku bisa tertawa, menangis, takut, nyaman, bahkan mengekspresikan rasa cintaku padanya. Ia saja sudah cukup. Itu yang kupikirkan. Kau tahu seberapa besar skala perasaan itu menjangkit di hatiku. Kau tahu seberapa mahal harga dirinya untuk hidupku. Itu karena aku yatim piatu. Tidak mudah seorang anak yatim piatu bisa mendapatkannya. Aku harus menunggu selama 16 tahun untuk mendapatkannya. Ia lebih dari Ibu dan Ayah karena aku tak pernah mendapatkan kasih sayang dari mereka. Itu bukan perasaan yang bisa kulepaskan begitu saja. Ketika semua orang memilih orang tua sebagai cinta pertama mereka, bagiku dialah cinta pertamaku. Alam semesta yang tak pernah meninggalkanku.

Melepaskan Hoseok sama dengan melepas seluruh harta yang ku miliki dan menjalani hidup yang baru hanya bermodalkan sehelai kain di badan. Itu sulit. Meskipun aku tahu cinta bisa didapatkan dengan mudah. Tapi kenangan itu tidak akan mudah hilang. Kenangan itu akan terus menghantuiku sekalipun aku tahu yang tidur di sebelahku bukanlah Hoseok, tapi Jongin.

“Memang kau merasa ada yang berubah?” tanyaku mulai dihujani awan hitam. Rasanya suasana di cafe ini jadi ikut mendung. Entahlah, dari semalam aku sudah merasa mellow setelah Jongin mengatakan tidak. Rasanya jiwaku menguap ke udara.

“Kau yang berubah” jawab Hoseok menatap lurus ke dalam mataku. Aku merasa seperti disinari laser. Jantungku berhenti berdetak mendengarnya. “Kau berubah sejak kau keluar dari panti asuhan… apa kau tidak punya sesuatu yang mau kau jelaskan?” tanya Hoseok membuatku semakin terdiam.

Semenjak aku keluar dari panti asuhan? Itu sekitar 3 bulan yang lalu. Ya aku akui aku memang banyak berubah. Aku tak punya banyak waktu dengannya. Tapi itu karena aku harus menyesuaikan waktu dengan Appa. Aku belum berani mengatakan pada Appa tentang Hoseok karena seperti yang semua orang tahu panti asuhan melarang kami untuk berpacaran. Siapa yang sangka kalau ternyata aku malah dinikahkan dengan Jongin.

Terus sekarang aku harus apa? Rasanya aku tak bisa berbohong padanya. Aku ingin jujur. Aku ingin dia tahu semuanya, tapi… akankah kali ini aku berhasil?

Bibirku tak sengaja kugigit. Tangan dan kakiku membeku. Jantungku berdetak cepat. Mataku hanya bisa menatapnya. Berbicara tentang banyak perasaan hanya dengan matanya.

Hah… apakah ia benar-benar akan meninggalkanku kalau aku mengatakannya? Apakah wajah tampan itu akan sedih setelah aku mengatakannya? Apa senyum di bibir tipis itu akan hilang setelah aku mengatakannya? Apa kehangatan itu tak akan pernah menyelmutiku lagi setelah aku mengatakannya? Apa ia akan baik-baik saja setelah aku mengatakannya?

Bayangan wajah Hoseok memudar sedikit demi sedikit. Tertutupi lapisan bening yang membuat mataku perih. Panas. Hatiku terbakar. Aku benci menangis. Aku benci menangis di depannya. Tapi membayangkan ia bukan milikku lagi rasanya menyakitkan. Aku tidak siap. Aku tidak bisa meninggalkannya. Aku masih mencintainya. Aku masih sangat mencintainya. Lalu aku harus bagaimana? Ia tidak bisa terus digantungkan seperti ini. Aku tidak bisa terus berlari. Suatu hari aku pasti akan lelah, dan aku tak akan punya siapapun untuk tempatku bersembunyi kalau aku terus membiarkan waktu berlalu seperti ini. Semua orang akan semakin membenciku. Tapi aku tidak bisa mengatakannya. Tidak bisa.

“Yaa… wae? Wae? Wae? Kenapa kau jadi mellow begini eoh?” Hoseok beralih ke kursi di sebelahku.

Ia menarik bahuku menatapnya. Wajah kudanya menatapku khawatir.

Aku menatapnya sendu. Bisakah ia mengerti saja tanpa harus kujelaskan? “Saranghae…” ucapku ingin mengakhiri pembicaraan ini.

Ia menatapku sebentar, hanya sebentar sebelum sebelah tangannya beralih menarik daguku. Ia menciumku. Hangat. Tapi kehangatan itu terganggu karena suara seseorang yang baru saja meninggalkan cafe dengan kasar. Entahlah, mungkin ia sedang terburu-buru atau ia tak suka melihat kami. Aku tidak peduli. Karena mungkin ini akan menjadi kencan terakhirku dengannya. Kau tahu Jongin bukan lelaki yang baik hati, ia tidak akan mengijinkan aku kencan dengan pacarku untuk kedua kalinya. Ya… aku tahu… dia suamiku sekarang.

 

~”~”~”~

 

Aku turun di halte tempat biasa dengan bus terakhir yang baru saja meninggalkanku. Hidungku berair dan pipiku lengket. Aku menghabiskan sejam waktu berkencanku hanya untuk menangis. Pikiranku kacau. Rasanya seperti Jongin dan Hoseok beradu di dalam kepalaku. Mungkin harusnya aku menetapkan satu pilihan.

Hujan salju turun semakin lebat. Mantel yang kukenakan rasanya jadi semakin menipis. Angin yang berhembus membawa butiran salju mengguyur tubuhku. Dingin. Tapi lebih dingin hatiku yang berada dalam kegalauan.

Sreet

Aku menahan langkahku saat melihat seorang lelaki yang menyandar di tiang sebelah toko yang sudah tutup dengan kedua tangan yang dimasukkan ke saku celana. Tubuhnya dipenuhi butiran salju. Ia kedinginan. Apa yang sedang ia lakukan? apa ia menungguku? Untuk apa ia menungguku? Sejak kapan ia ada disana? Dia ‘kan tahu malam ini akan ada badai. Kenapa masih diluar?

Aku berlari mendekati ia yang beralih dari menatap jalanan lalu menatapku. Rahangnya mengeras. Alisnya bertaut. Tidak ada satu kehangatan pun disana. Langkahku terhenti lagi. Sekelebat mimpi buruk menghantuiku. Perasaanku jadi tidak enak. Dia masih jauh disana, tapi hanya dengan melihatnya aku merasa aku sudah mengetahui segalanya. Semua rasa marah dan sakitnya. Aku merasakan itu sebelum ia menjelaskannya padaku. Kenapa? Kenapa aku bisa merasakannya?

Dia berjalan kearahku. Matanya menatap lurus kedalam mataku. Tegas. Menegaskan sebuah kesalahan yang sudah kubuat. Dan dengan ajaibnya aku merasa bersalah atas kesalahan yang aku sendiri belum tahu apa.

Ia berhenti tepat di depanku. Bibirnya membiru, wajahnya pucat. Ia sudah berada di luar cukup lama. Tapi raut penuh kemarahan itu masih tetap ada. Aku ingin bertanya tapi aku tidak berani. Jongin tampak menakutkan. Seperti vampire yang ingin menerkamku.

“Bisakah kau mendengarku sekali saja?” tanyanya membuatku mematung. Suaranya yang berat terdengar sedikit derak dan tercekat. “Bisakah kau berhenti bertemu dengannya? Aku sudah membiarkanmu bersamanya setiap hari, setiap kita latihan dance. Tapi kau tetap keras kepala ingin bersamanya?!” nada bicaranya meninggi.

Ia melarangku lagi. Melarangku bertemu dengan Hoseok lagi. Ia terus memperlakukanku seperti itu. Seperti aku adalah miliknya tapi ia tak benar-benar ingin bersamaku. “Wae? Kenapa aku harus mendengarkanmu? Kenapa aku harus mendengarkan orang yang tak bahagia hidup bersamaku?”

“Aku suamimu!”

“Tapi kau tak pernah mencintai…”

“Aku mencintaimu sejak malam itu. Malam dimana aku dengan bodohnya berbagi segelas soju denganmu.” potongnya dengan tegas. Matanya meantapku penuh keyakinan. Ia tak berusaha melihat kemanapun selain kedalam mataku.

Aku menurunkan pandanganku. Kelopak mataku berat, ada butiran-butiran yang bersiap jatuh dari kedua mataku.

“Kau selalu bersikap seolah aku tak pernah peduli padamu, padahal aku sudah melakukan segalanya untukmu. Aku tidak pernah sekalipun tidak menganggapmu sebagai istriku. Kau istriku. Kau satu-satunya yang ingin kulindungi di dunia ini.”

Aku menatapnya lagi. Kali ini wajahnya sudah mengabur. Hatiku sakit mendengarnya. Ia terus menyudutkanku.

“Karena aku tahu kau mencintai lelaki Gwangju itu, aku membiarkanmu pergi kapanpun kau membutuhkannya. Aku akan pergi kapanpun kau butuh waktu berdua dengannya. Aku tak menyuruhmu meninggalkannya karena aku takut kau sakit. Tapi sampai sekarang kau tak pernah melihat itu. Kau hanya melihatnya dan memanfaatkan aku ketika ia tak ada. Kau yang tak pernah bahagia dengan pernikahan ini. Bukan aku…” nada bicara Jongin menurun. Jakunnya bergerak naik turun dengan berat. Ia terluka. Ia kecewa padaku.

Butiran air mataku menetes. Aku ingin menjawabnya tapi tenggorokanku tercekat. Aku ingin memeluknya. Ia sangat kecewa padaku dan aku tak tahu bagaimana aku bisa meminta maaf padanya.

“Dan sekarang kau menciumnya? Memeluknya masih dengan mengenakan cincin pernikahan itu? Kau tak pernah mengerti tentang pernikahan Jung Jinni…” ia menatapku dingin lalu membalik tubuhnya berjalan meninggalkanku. Tanpa berbalik. Bahunya membungkuk. Ia sudah memikul beban yang berat selama ini. Dan aku tak pernah memikirkannya.

“Hiks… hiks…” gejolak dalam dadaku membuncah. Dia ada bersamaku. Dia selalu mengawasiku dimanapun aku berada. Termasuk di cafe tadi. Tapi aku tak pernah melihatnya. Aku tak menyadarinya. Aku tak pernah mempedulikannya.

Lingkungan di sekitarku berubah menjadi berjuta layar yang menayangkan seluruh memori bagaimana baiknya Jongin memperlakukanku selama ini. Mengisi kekosonganku dengan kehadirannya. Jauh sebelum ia memberiku sebutir obat dan segelas soju.

Aku berjalan mengikuti jejaknya dengan langkah gontai. Mataku tak berhenti menangis. Seluruh memori yang terputar di kepalaku menyudutkanku. Seperti memanahku dari segala arah. Memaksaku untuk mengejarnya. Hanya ia yang aku miliki sekarang. Bahkan Hoseok sama sekali tak bisa menolongku. Ia tak bisa melindungiku. Harusnya aku sadar betapa beruntungnya aku selama ini. Mendapatkan dirinya. Lelaki yang peduli dan selalu melindungiku padahal ia tidak mengenalku sebaik Hoseok.

Dan ketika ia mengatakan ‘saranghaja’ untuk pertama kalinya. Apa yang aku pikirkan saat itu? Itu adalah kalimat yang paling sulit ia utarakan, tapi aku melupakannya begitu saja hanya karena Hoseok yang tiba-tiba datang memeluk dan menciumku di depannya.

Aku tidak akan sekuat Jongin jika aku yang ada diposisinya saat itu. Aku tidak akan berpikir untuk mengambil Ori lalu pergi dari tempat itu. Aku tak pernah memiliki hati seluas hatinya. Yang masih tetap hidup bersamaku walaupun aku tak pernah berusaha untuk melihatnya meski sedetik.

“Jongin-ah…” panggilku setengah berisak.

Ia menghentikan langkahnya dan berbalik melihatku. Tuh ‘kan… bahkan ia masih mau melihatku sekalipun aku sudah menyakitinya berulang kali. Bagaimana aku bisa membalas semua kebaikanmu Jongin-ah…

“Hiks… hiks…” aku berusaha menghentikan isakanku saat aku berada di depannya. Ini tidak adil kalau aku tetap menangis sedang ia terus berusaha terlihat kuat menghadapiku.

Aku menatapnya dengan mata yang sudah tak dapat melihat dengan jelas. Wajah manisnya kabur tersapu air mataku. Aku tak dapat melihat ekspresi apa yang ia gunakan untuk melihatku. Aku hanya bisa mengangkap siluetnya yang selalu berdiri melihatku. Memperhatikanku dengan sepenuh hati. Kenapa aku tidak pernah melihatnya? Kenapa aku tidak pernah menghargainya? Baboya…

“Aku ingin mencintaimu… tapi… aku takut aku akan menyakitimu. Aku tidak tahu kalau kau melakukan semua itu dengan sepenuh hatimu. Aku tidak tahu kalau kau juga menyukai pernikahan ini. Aku tidak tahu kau peduli padaku. Maafkan aku. Aku tahu aku jahat padamu. Aku tidak tahu harus dengan apa aku menebusnya. Maafkan aku. Maafkan aku yang telah mengabaikanmu. Hiks… maafkan aku…”

Hug~

Ia menarikku kedalam pelukannya. Menyandarkan aku di dadanya. Membuaiku dengan aroma tubuhnya yang selalu terkoar setiap kali aku membetulkan dasinya. Seluruh indraku mengenalinya, tapi hatiku masih buta. Tetap saja buta.

“Kau tak pernah menyakitiku… Jinni-ya…”

Sebuah kecupan hangat mendarat di puncak kepalaku. Hangat nafasnya berhembut meniup belahan rambutku. Ditengah angin musim dingin yang berhembus. Hoseok bahkan tak pernah melakukan ini padaku. Setiap musim dingin kami jarang bertemu karena aku harus menetap di panti asuhanku. Menahan rasa rindu dan kesepianku seorang diri di dalam kamar. Tapi kali ini, semua sudah berakhir. Aku tak menemukan kesepian itu saat bersama Jongin.

BRAKK

Eh? Apa itu?

Aku buru-buru melepas pelukan Jongin. Kami sama-sama melihat ke arah sumber suara. Seorang gadis bertubuh gemuk menatap kami dengan mata yang nyaris keluar.

“K-kalian… s-sudah menikah?”

JDERR

Petir menyambar diatas kami. Aku berniat menjauh dari Jongin tapi ia malah memegang tanganku erat. Menahanku jangan pergi.

“E-eunkyung-ah… i-ini tidak seperti apa yang kamu bayangkan…” ucapku berusaha keras meyakinkannya. Kalau sampai pernikahan ini bocor, masa depan kami mungkin tidak akan terselamatkan. Issh! Kenapa kita harus bertengkar disini sih?! Eunkyung juga kenapa ia ada disini?!

“Neo… jadi lelucon yang selama ini kau mainkan adalah kenyataan? Kau jahat Jinni-ya!” mata Eunkyung mulai dipenuhi butiran air mata.

Tuhaan… kenapa semua ini harus terjadi hari ini? Aku sakit melihatnya menangis. Dia temanku. Teman baikku. Aku tidak mau ikut kehilangannya juga. Jebal…

“Eunkyung-ah… jebal dengarkan aku dulu!” jeritku dengan tangisanku yang kembali pecah.

Eunkyung berjalan mundur sedikit demi sedikit. Bibirnya mengerucut menahan isakan yang sebentar lagi akan meledak. Aku mengerti perasaannya. Aku mengerti. Tapi ia harus mendengar penjelasanku dulu. Aku sudah berusaha untuk memberitahukan semua ini padanya, tapi kenyataannya ia tak mau mendengarku.

“Eunkyung-ah jebal… aku membutuhkanmu. Kumohon jangan tinggalkan aku…” pelasku ketika ia mulai membalik tubuhnya lalu berlari pergi.

Aku berbalik menatap Jongin memohon padanya untuk membiarkan aku mengejarnya. Ia masih memegang tanganku erat tanpa bicara. Aku berusaha melepasnya sekuat tenaga, sampai akhirnya aku terbebas dan langsung berlari mengejarnya. Megejar Eunkyung yang sudah menghilang dibalik tikungan pertokoan yang sudah tutup.

Ia kemana? Kemana ia pergi? Oh! Itu dia!!

“Eunkyung-ah! Eunkyung-ah!!” jeritku mengejar diluetnya di tengah guyuran hujan salju yang semakin lama semakin parah. Aku hampir terpeleset beberapa kali kalau tidak memegang tiang.

Ia berhenti di depan toko tempat aku biasa membeli roti. Melihatnya terdiam aku segera mengejarnya. Ketika aku sudah dekat, aku menghentikan langkahku dan berjalan perlahan. Ia menangis tersedu-sedu sambil membelakangiku. Bahunya naik-turun dengan berat. Sulit mengatur antara nafasnya yang terengah-engah dengan isakannya.

“Eunkyung-ah… aku sudah berusaha memberitahumu. Diantara semua orang aku paling percaya padamu, tapi kau tidak pernah mendengarkan aku. Aku…”

Eunkyung membalik tubuhnya menoleh padaku. Matanya merah, kedua pipinya basah. Satu hal yang paling tak bisa kulihat dari dirinya adalah ketika ia menangis. Rasanya menyesakkan. Apalagi ia menangis karena aku. Tuhaan… aku sangat merasa bersalah malam ini.

“Kau berbohong pada kami hanya demi dia…”

“Kau tahu memberitahu semua ini tidak mudah. Kau yang mengajarkan aku untuk tidak terlalu terbuka pada orang lain. Aku hanya takut Jongin ikut kena imbasnya. Aku tidak mau ia dikeluarkan dari sekolah hanya karena menikah denganku. Kau mengerti ‘kan Eunkyung-ah?” aku memegang kedua bahunya mencoba meyakinkannya. Tapi tiba-tiba ia menghempas kedua tanganku kasar. Ia menatapku dengan alis bertaut. Ia marah. Raut penuh kebencian terpancar jelas di wajahnya. Tuhaaan… kumohon jangan biarkan aku kehilangannya juga.

“Sejak kapan kau lebih memikirkan dia daripada kami? Apa kau selama ini tak pernah memikirkan kami?”

“Aku memikirkan kalian! Kau yang paling menyukai Jongin. Aku tidak bisa mengungkapkan berita ini dengan mudah karena aku takut kau kecewa padaku. Aku takut kau membenciku…”

“Kau hanya memikirkan dirimu sendiri Jung Jinni!” potong Eunkyung kasar. Ia menatapku tajam lalu pergi meninggalkanku. Tak memberiku kesempatan tentang kesalahan lain apa yang sudah membuatnya jadi semarah itu selain menyembunyikan soal pernikahan ini.

Aku ingin mengejarnya, tapi itu percuma. Aku sudah kehilangannya. Ketika aku berusaha melindungi Hyojin, aku malah kehilangan mereka. Dan disaat yang sama aku juga harus kehilangan Hoseok demi Jongin. Hah… apa kesalahan terbesar yang selama ini telah kulakukan? Kami menikah dengan penuh restu. Bukan karena kesalahan. Tapi kenapa pernikahan ini membawa banyak rintangan di hidupku?

Aku berjalan pulang dengan pundak lunglai. Dadaku pilu. Tubuhku dingin. Bukan dingin karena badai yang sebentar lagi datang, tapi karena kehilangan mereka. Rasanya hatiku kosong. Yang kumiliki sekarang hanya Jongin. Oh iya, Jongin? Jongin kemana? Dia tidak ikut mengejarku. Dia… “Aigoo! KIM JONGIN!!!” jeritku saat melihat Jongin yang sudah terjatuh di depan rumah.

Sekuat tenaga aku berlari kearahnya. Ia tak merepon. Tetap tertidur di lantai. Ada apa dengannya?!

“Yaa! Yaa! Kim Jongin! Sadarlah! Sadar! Kim Jongin kau kenapa?”

Tubuhnya dingin. Suhu tubuhnya menurun drastis. Issh! Ini pasti karena dia terlalu lama diam diluar!

Buru-buru aku membuka pintu lalu mengiringnya masuk. Aku menidurkannya diatas sofa. Apa dia punya hypotermia? Kenapa Eomma tidak mengatakannya padaku?

“Aigoo… Jongin-ah! Sadarlah! Kau kenapa? Aku harus apa?”

Ah aku harus mengganti bajunya! Ruang tamu terlalu dingin, sebaiknya aku membawa ia ke kamar.

“Bertahanlah Jongin…” ucapku setengah kesusahan. Dia lebih berat dariku. Aku agak kesusahan membawanya ke kamar.

Di kamar aku membaringkan ia di tempat tidur. Menutup intu lalu menyalakan pemanas ruangan ke suhu yang tinggi.

“Dimana bajunya? Dimana??” aku panik. Semua baju yang kudapat berlengan pendek. Itu terlalu dingin! Dia butuh baju hangat. Dimana aku bisa menemukannya jinjja!! “Aaaah!” teriakku frustasi.

Apa yang harus kulakukan? Apa? Bahkan aku tidak berguna untuk suamiku sendiri? Kenapa aku bodoh sekali hari ini?

Aku melirik Jongin yang sudah sangat pucat. Bibirnya biru. Tangannya gemetar dingin menyentuhku. “Apa yang harus kulakukan Jongin-ah? Apa yang bisa kulakukan?”

Eh… bukankah dulu Seulgi, teman sekamarku di panti pernah hampir mati membeku? Ada! Ada satu caranya!

Aku meraih kancing baju Jongin dan membukanya satu persatu. Membuka seluruh pakaiannya yang sudah basah kuyup terkena lelehan salju. Aku ikut membuka bajuku. Membiarkan aku lebih leluasa menyentuh kulitnya dengan sekujur tubuhku.

Aku berbaring di sebelahnya. Tanganku menelusup ke bawah tubuhnya. Sebelah tangan yang lain menaikkan selimut sampai bahu Jongin tertutupi. “Jongin-ah…” panggilku sambil menarik dagunya agar menatapku. “Cium aku. Hanya itu yang bisa membuat suhu tubuhmu normal lagi.” ucapku sebelum melumat daging berwarna kebiruan itu lembut.

Aku merapatkan tubuhku ketubuhnya. Seluruh kulit kami yang tak berbalut kain saling bersentuhan. Berbagi kehangatan agar mengembalikan pembuluh darahnya yang menyempit.

“Jebal… sembuhlah…” isakku menangis diatas pipinya. Aku berdoa dengan sepenuh hatiku agar ia dapat selamat. Tak ada lagi yang kupikirkan sekarang selain dirinya. Aku tak ingin dia sakit. Jebal.

“J-jinni…” bisik Jongin yang tiba-tiba langsung membuatku membuka mata.

Ia sadar! Tuhan terima kasih!!

“Jongin-ah… gwaenchana?” tanyaku memburu. Kutangkup wajahnya mencoba memastikan kalau tubuhnya sudah lebih hangat.

“J-jinni… b-bolehkah a-aku…” aku terdiam mendengarnya. Ia terlihat serius dan aku tidak punya ide tentang apa yang akan ia utarakan. “Memilikimu malam ini?” tanyanya sambil memaksa kedua matanya untuk melihatku.

Memilikiku?

“Saranghae…” ucapnya dengan wajah bersemu.

Lama kelamaan wajah pucatnya berubah jadi berseri. Tangannya yang sebelumnya kaku menyentuh pipiku. Membawa sensasi es di wajahku. Ia menarik daguku dan kembali menciumku. Tapi kali ini bukan aku yang memulainya. Melainkan ia. Gejolak-gejolak panas merambat ke seluruh tubuhku. Bibir dinginnya membuatku menggila. Aku tak ingin dia dingin. Aku ingin dia ikut merasakan tubuhku yang menguap. Di tengah badai salju diluar sana yang datang secara tiba-tiba di akhir bulan januari. Untuk pertama kalinya aku menggila dalam keadaan sadar. Seperti inikah ciuman kami di malam itu?

“Saranghae…” ucapku tak sadar sebelum memeluk tubuhnya lebih erat. Aku menaikan selimut yang kami kenakan dan menenggelamkan tubuhnya sedalam kehangatn tubuhku. Bukan hanya kau yang bisa menghangatkanku Tuan Kim. Tapi aku juga.

 

`~”~”~”~

 

Matahari sudah meninggi ketika aku menggeliat. Ada sesuatu yang terasa janggal di dalam lapisan selimut tebal ini. Omona! Aku lupa kami tidak memakai pakaian apapun semalam karena Jongin yang kedinginan.

Aku membalik tubuhku menghadap seseorang yang rela memberikan tangannya sebagai bantalanku dan tangannya yang lain menjadi selimutku.

Chu~

Belum sempat aku melihat wajahnya ia sudah mengecup bibirku. Ia tersenyum manis dengan wajahnya yang sudah tidak pucat lagi. Aku senang melihatnya. “Morning” ucapnya sambil tersenyum manis. Menampakkan deretan giginya yang putih dan rapi.

Terlalu manis sampai membuatku tanpa sadar ikut tersenyum melihatnya. Untuk pertama kalinya aku merasa ia tampan sekali. Setelah 2 tahun hidup sekelas dengannya, baru kali ini aku mengerti apa yang gadis-gadis di sekolah dan Eunkyung sukai darinya. Mereka benar. Jongin tampan…

Tuhan, apa aku sedang bermimpi? Lelaki setampan ini adalah suamiku? Apa Tuhan tidak berlebihan padaku?

“Bolehkah aku mencintaimu?” tanyaku tanpa sadar. Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirku. Matanya membutakan pikiranku. Aku tak ingin berkedip. Bisakah aku terus melihatnya? Bisakah kami seperti ini saja selamanya? Bahkan aku tak ingat kalau semalam aku sudah melalui masa yang sulit.

“Sebanyak yang kau bisa, Kim Jinni!” jawabnya sambil mencubit hidungku. Menegaskan marga baruku yang ia berikan. Aku sudah menjadi bagian dari keluarga Kim.

Aku tersenyum lebar. Rasanya sampai dari kuping ke kuping. Bagaimana bisa aku melewatkan harta paling berharga sepertinya? Dimana mataku sampai tak melihat ketampanannnya yang mampu melumpuhkan puluhan bahkan ratusan gadis? Dimana keangkuhanku yang sudah membuatku buta bagaimana aku menjadi seorang gadis yang paling beruntung di dunia ini?

Aku menarik wajahnya dan menciumnya lagi. Melumat daging kemerahan itu dengan perasaan bahagia. Rasanya seperti ada jutaan kupu-kupu yang terbang di dalam perutku. Sekarang aku mengerti apa yang dikatakan Sunny. Saat-saat paling bahagia bagi sepasang pengantin adalah waktu ketika mereka bersama.

“Ah eottokhae? Sepertinya aku tergila-gila padamu…” ucapku merasa tak dapat menahan diri. Sepertinya benar, aku keturunan berpikiran byuntae. Eottokhaji? Untung saja aku sudah menikah. Setidaknya aku tidak harus takut tertangkap basah Ibu panti lalu mendapat hukuman 7 hari 7 malam ‘kan.

“Hm…” ia tersenyum ditengah ciumannya. Tangannya mengangkup wajahku. Membuat wajahku jadi terlihat lebih kecil dari telapak tangannya. “Gomawo” ucapnya membuat mataku membulat.

“Untuk apa?” tanyaku bingung.

Ia menarik tubuhku merapat ke dadanya. Merasakan seberapa hangatnya ia sekarang. Tak seperti semalam yang sudah seperti mayat. “Semalam adalah malam kedua aku bisa tidur dengan lelap” bisiknya di telingaku.

“Geurae? Apa selama ini kau tidak pernah tidur?”

Ia tidak menjawab. Hanya menarikku lebih erat lalu tiba-tiba mengangkat tubuhku dari balik selimut dengan ala bridal style seperti apa yang Appa lakukan pada Eomma.

“Yaa! Yaa! Kau mau bawa aku kemana? Aku tidak pakai apa-apa, arra?!” protesku sebelum ia benar-benar membawaku keluar dari selimut.

“Mandi. Apa kau mau seperti ini saja sampai besok? Kau bau!”

Sial! “Turunkan aku! Aku bisa mandi sendiri!”

“Anni…” eh? “Kita mandi sama-sama!” jawabnya lalu melesat berlari masuk ke kamar mandi dengan aku di tangannya. Sial! Dia lebih byuntae daripada aku!

 

-to be continued-

 

Huaaaa kemaren mati lampu, jadi gabisa posting ff T.T

Eh ngomong-ngomong chapter ini rencananya mau dibikin sedih banget, tapi gagal lagi. Bayangin muka Jongin malah belokin jalan cerita jadi so sweet so sweetan. Comedynya ga ada… hah #jedukin kepala ke meja

Jwesonghamnida yeorobun. Udah lambat posting, kalo feel kurang berasa, typo, ga ada comedynya duh mianhae…. pengen nangis dah. Tapi ini aku bikinnya udah nangis-nangis masa, abis itu senyum-senyum sendiri deh. Campur-campur.

361 responses to “Ssst!! We’re married (Chapter 4)

  1. aduduu baru juga part part awal uda banyak konfliknya nde-_- kai setia bgt asli pen banget punya suami kek dia😑 btw itu mereka anuan? ._. otakku konek deh kalo begini-_- fighting thor!

  2. Pingback: Ssst!! We’re Married (Chapter 10) | SAY - Korean Fanfiction·

  3. hahah jonginn yammpun:3 lanjut ya bang:v
    ehh itu beneran gak pake apa2 mereka? ‘-‘
    btw kok sosweet bgt gituuh:D ah jadi pengen:v

  4. wihhhhh kai padahal udah tersakiti beberapa kali tapi masihhh aja baik sama jinni…akhirnya kalian sadar juga kalau kalian saling mencintai ..ciatttttt ..duh jadi gk pengen ada konflik di chap selanjunya nih..udah happy aja teruss hehe 😁😁 ijin baca ya 🙏😁

  5. Pingback: Ssst!! We’re Married (Chapter 11-End) | SAY - Korean Fanfiction·

  6. walau awalnya mellow gitu…
    tp ending nya mereka malah sweet bgt…
    akhirnya mereka mengungkapkan perasaan masing2….
    terus hoseok gmn yaa???
    eunkyung juga, dia pasti kecewa bgt…
    next chapter…
    keep writing 🙂

  7. Wwkwkwkw sweet banget… tapi di chap ini ada rasa.. sedih.. sama sweet nya gitu deh… berarti mereka udh first nigght… cieeeee

  8. Etdah emg klo mau menghangatkan tubuh orang, peluk tp gak pake apa2? Wow binggo, itu mandi bareng baneran? Sifat yd nya kji kumat

    Udh ketauan pernikahan nya, tinggal di tuntasin+selesaiin

  9. rumit ya ada di posisi jinni, dia jadi istri org yg di sukai sahabat”nya dan dia juga punya hoseok. semoga aja nanti enggak makin rumit dan lebih banyak moment jinni-jongin ^^

  10. Ahirnya ada yg tau kalo jinni udah nikah sama jongin,, walaupun resikonya satu per satu mereka akan meninggalkan jinni. Tapi aku percaya suatu saat nanti mereka akan mengerti😃
    Setidaknya jinni masih punya jongin… uwaaaaaahhh nyebut namanya aja udah buat senyum2 sendiri 😍
    Duh pasangan pengantin baru yg lagi saling jatuh cinta kyaaaa… 😊
    Ya setidaknya apapun yg mereka lakukan udah halal alias gk dosa wkwkwk😚

  11. Ga pake apa”? blum pernh apa”? tpi kok udh berani mandi bareng… apa ga malu satu sama lain :’D

  12. Jongin……halalin gue plisseeu 😂 jinni mian yee suami mu penggoda iman…..udah ganteng romantis lil bit /? Byuntae lg….aaaaaakkk pengen banget punya suami kaya jongin……

    Thor, bikin moment sweat/? *eh! Sweet maksud aing thor yg banyak donk….ehem ehem….demi bulu keteknya sehun itu bikin mrinding disco, arra….tuh kan jiwa byuntae menguar lagi…..ehehehe….

    ^.^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s