Nerdy Little Liar [5] – Crazy

the-teddy-bear-and-the-girl

T’s Present

 

“NERDY LITTLE LIAR”

 

Starring :

Lee Ji Moon – Original Character

Kim Jong In – EXO

Oh Sehun – EXO

Kim Jong Dae – EXO

Also Starring :

TaeYong || Do Kyungsoo || Xi Luhan || Wu Yifan

and many more.

 

Length :

Chaptered

Genre :

Romance, School Life, AU, etc.

Rating :

17+

Disclaimer :

© OC’s name and Plot. All of famous cast(s) are belong to God, etc.

Attention :

Typo. No SIDER. This story might be contains rant and ‘hot scene’ (PG – 17). One Comment for One Smile.

 

Recommended Song :

David Guetta – Little Bad Girl ft. Taio Cruz, Ludacris

Kat Dahlia – Crazy

2NE1 – Falling In Love

Enrique Iglesias ft. Sammy Adams – Finally Found You

Previously on Nerdy Little Liar :

[Prologue] – Night Life & Day Life || [1] – Mischance || [2] – Shit Day || [3] – Boys & Throbs || [4] – The Reason ||

 

She might be bitch.

She might be nerdy.

Well, she might be a liar too.

So, prepare yourself when you greets her.

 

======

 

-o- Nerdy Little Liar -o-

 

“-Mulai hari ini, Lee Ji Moon adalah kekasihku.”

Mwo?!

Seketika Ji Moon memekik, disusul dengan teriakan histeris para yeoja yang berada di kantin sekolah saat ini. Wow, ‘kejutan’ yang mengejutkan dari Jong In. Satu pertanyaan yang terlintas di kepala Ji Moon. . .

‘Apa rencanamu sebenarnya, pria sialan?’

“Ti –tidak mungkin! Jong In oppa apa kau sedang bercanda?” tanya Soo Jung dengan raut wajah paniknya.

Hei, bukan hanya Soo Jung saja yang panik, si ‘korban’ juga tak kalah panik. Di bayangannya, para yeoja yang tengah ‘menggila’ dihadapannya ini seperti kumpulan monster yang siap menelannya hidup-hidup. Haruskah ia bunuh diri sekarang? Hah, itu konyol.

“Aku serius. Aku menyukai ner ―maksudku, Ji Moon, sejak pertama kali bertemu. Jadi apa salah jika aku menjadikannya kekasihku?” ujar Jong In dengan santainya.

Dan, oh Tuhan, para yeoja itu kembali berteriak histeris –bahkan beberapa ada yang memilih berlari meninggalkan kantin. Well, Jong In benar-benar seperti seorang idol. Memang terlalu berlebihan, tapi itulah yang terjadi.

“Jo –Jong In, k –kau tidak serius de –dengan apa y –yang kau kat –katakan, bukan?”

Dengan terbata-bata Ji Moon melontarkan pertanyaan itu. Baiklah, Ji Moon tau jika Jong In memang sedang mempermainkannya. Tapi maksud Ji Moon, apa Jong In benar-benar serius mengucapkannya di depan umum? Sialan, Jong In ternyata serius dengan ancamannya waktu itu.

Jong In hanya tersenyum miring menanggapi pertanyaan Ji Moon. Jelas, Jong In mengancam ‘hidup’ Ji Moon lewat pernyataannya ini. Oh Tuhan, cobaan macam apalagi ini?

.

.

.

 

Motherfucker! Apa maksud pernyataanmu saat di sekolah tadi, Jong In?” tanya Ji Moon sambil menatap tajam ke arah Jong In.

“Pernyataan? Pernyataan yang mana?”

Jong In malah bertanya balik dengan tampang sok polosnya. Ia kemudian meneguk wine-nya. Oh, they’re in the club, by the way. Malam ini, Ji Moon sengaja meminta Jong In datang ke ELLUI club untuk menemuinya –dan tentunya, meminta penjelasan Jong In.

Shit! Jong In, aku serius!” bentak Ji Moon.

Jong In tertawa kecil. “Why so serious?

Ji Moon semakin kesal dengan tingkah Jong In yang terus-menerus mempermainkan dirinya. Ji Moon tampak mengepalkankan tangannya sambil terus melempar death-glare ke arah Jong In. Detik selanjutnya, Ji Moon bangkit berdiri dari posisi duduknya dan melangkah meninggalkan Jong In. Tapi, langkahnya seketika terhenti saat Jong In tiba-tiba memeluknya dari belakang. Sungguh mengejutkan.

“Kau mau tau alasannya?” ucap Jong In sambil mengeratkan pelukkannya.

What the hell! Lepaskan aku, Jong In!”

Ji Moon sedikit risih dengan perlakuan Jong In. Ia mencoba melepaskan pelukan tersebut. Ayolah, apa yang akan para sahabat Ji Moon pikirkan jika melihat hal ini? Mereka pasti akan mengejek dan ‘menggoda’ Ji Moon habis-habisan. Ugh.

“Aku menginginkan hatimu.”

Mwo?

Seketika Ji Moon mengerutkan dahinya. Ucapan Jong In tadi tidaklah terlalu ia dengar dengan jelas karena ‘ditelan’ oleh suara musik DJ yang menggema dan suara berisik yang dihasilkan orang-orang disekitar mereka juga.

Jong In lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Ji Moon. “Mungkin aku tidak bisa mendapatkan tubuhmu. Tapi, aku akan mendapatkan hatimu, nerd.”

Ji Moon tampak tertawa sinis mendengar ucapan Jong In. Come on, he must be kidding her, right? Well, to be honest, it’s not funny. Seriously.

“Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku.”

Setelah mengucapkan kalimat itu, Jong In lalu melepas pelukan dan melangkah ke lantai dansa –dan tentu saja mulai menari dengan ditemani gadis-gadis penggoda. Sedangkan Ji Moon, dia masih diam mematung di posisinya –mungkin otaknya masih dalam progres mencerna perkataan Jong In tadi. Geez.

.

.

.

Oppa, apa kau tidak punya kekasih di Jepang? Ayolah, oppa tidak mungkin menyia-nyiakan ketampanan oppa, kan?” tanya Ji Moon sambil tertawa kecil.

Saat ini tepat pukul 11 malam. Jika dihari biasa –tanpa adanya Do Kyungsoo, kakak laki-laki Ji Moon‒ Ji Moon mungkin belum berbaring di ranjangnya sekarang. Ia bisa pergi bekerja ke club tadi dengan beralasan keluar untuk kerja kelompok –alasan yang klasik. Ji Moon terpaksa merahasiakan pekerjaan utama –dan sampingannya‒ dari Do atau kalau tidak. . . game over. Hah, Ji Moon tidak bisa membayangkan bagaimana kelanjutan hidupnya jika saja Do tau tentang ‘kepribadian ganda’nya.

“Hei, oppa tidak sempat untuk hal-hal seperti itu.”

Aish, oppa masih saja maniak belajar. Apa oppa tidak bosan terus-menerus belajar?”

“Pertanyaanmu sangat aneh,” ejek Do sambil mengacak kasar rambut Ji Moon.

Oppa!” ucap Ji Moon sambil menepis tangan Do dari kepalanya.

“Baiklah, ini sudah larut malam. Lebih baik kau tidur sekarang,” ujar Do sambil menyelimuti tubuh Ji Moon dengan selimut.

Ji Moon hanya menanggapi ucapan Do lewat senyuman dan anggukan kepalanya. Sebelum keluar dari Ji Moon, tiba-tiba mata Do ‘menangkap’ sebuah kacamata berlensa bening –kacamata yang dipakai Ji Moon ke sekolah‒ terletak di atas meja belajar. Do tampak mengerutkan dahinya –bingung. Well, tentu saja Do bingung. Seingatnya, mata Ji Moon tidak ‘rusak’.

“Kau memakai kacamata sekarang?” tanya Do sambil menunjuk ke arah kacamata ala nerd itu.

Ji Moon reflek menghadap ke arah meja belajarnya. Otaknya seketika ‘berputar’ mencari alasan mengenai kacamata tersebut. Come on, Ji Moon tidak mungkin bilang pada Do kalau ia berubah menjadi nerd saat ke sekolah, kan? Ugh, itu tidak lucu sama sekali.

“Ya. Ti –tidak, maksudku, aku hanya menggunakannya saat akan membaca saja. Begitu.”

Not bad. Setidaknya itu masih masuk akal. Dan, sepertinya memang begitu. Do hanya membuat huruf ‘O’ dengan mulutnya –tanpa mengeluarkan suara, percaya atas apa yang Ji Moon katakan. Do lalu mencium puncak kepala Ji Moon dan mematikan lampu kamar Ji Moon sebelum keluar dari kamar Ji Moon. Huft, hampir saja.

======

“Membosankan.”

Entah sudah berapa kali Ji Moon mengucapkan kata ‘membosankan’ saat ini. Saat ini ia sedang menunggu Do menjemputnya sepulang sekolah, tapi ini sudah lewat 40 menit dari jam pulang sekolah dan Do belum menunjukkan kedatangannya.

Aish! Bahkan ponselnya pun tidak bisa dihubungi. Apa oppa lupa untuk menjemputku?”

Astaga, Ji Moon terlihat seperti orang gila yang sedang berbicara pada dirinya sendiri. Tapi begitulah, tidak ada murid Hannyoung High School disekitarnya yang bisa ajak berbicara, jadi mau tidak mau hanya dirinya sendiri lah yang bisa ia ajak berbicara –baiklah, konyol.

Drrrttt. . .

Ponsel Ji Moon bergetar. Seketika sebuah senyuman terukir diwajahnya –mungkin itu pesan dari Do oppa. Ia lantas melihat pesan masuk itu dan. . .

Monster JongIn

Hi, nerd. Dimana kau sekarang? Apa kau sudah pulang? Kau masih disekolah?

 

Ekspresi wajah Ji Moon seketika berubah. Ia lantas menghela napasnya lalu membalas pesan dari Jong In –dengan malas.

Aku sudah dirumah.

 

Hanya itu kalimat yang Ji Moon kirim ke Jong In. Terlalu singkat dan bohong juga. Ji Moon sepertinya ‘hobi’ sekali menghindari Jong In.

Drrrtt. . .

Ji Moon seketika mendecak kesal lalu mengambil ponselnya yang telah ia masukkan ke dalam tas ranselnya. Ini pasti dari Jong In lagi.

Oppa

Maaf, oppa masih dikantor cabang perusahaan Appa. Oppa mematikan ponsel karena sedang rapat. Kau tau kan ini hari pertama oppa bekerja di kantor? Jadi, sepertinya oppa tidak bisa menjemputmu. Maafkan oppa. Kau bisa pulang dengan temanmu, kan? Oppa akan membawakan coklat untukmu nanti.

 

Ji Moon hanya tersenyum singkat sambil membalas pesan dari Do oppa. Setidaknya ia sedikit lega karena Do oppa masih mengabarinya. Ia juga bisa memaklumi hal ini.

No problem. But, make sure you bring more chocolates for me. Or if you not, I’m gonna kick you out from Seoul. Lol.

 

Ji Moon lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas ranselnya kembali. Ia lalu melangkah perlahan menuju gerbang sekolah, namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat sebuah tangan menahan lengannya. Ji Moon reflek memalingkan tubuhnya ke belakang dan ternyata. . .

“Se –Sehun?”

“Kau belum pulang?”

“Be –belum. Kau sendiri juga. . . belum pulang?”

Hell, Ji Moon terlihat sangat kaku. Ayolah, Ji Moon, sadarkah kau jika kau itu terlihat aneh setiap berada di dekat Sehun? Hah, lupakan.

Basketball,” ucap Sehun seolah memberitahu alasan kenapa ia belum pulang.

“Oh.”

“Mau pulang bersamaku?”

M –mwo?”

“Ah, tidak-“

Sehun menghentikan ucapannya lalu menarik tangan Ji Moon untuk ikut melangkah dengannya.

“-Bagaimana kalau Lotte World?

M –mwo?

.

.

.

 

Aigo~ Ini menyenangkan sekali, Sehun-ah,” ucap Ji Moon sambil tersenyum lebar.

Saat ini mereka sedang berada di Lotte World, entah kenapa Sehun tiba-tiba mengajaknya kemari. Dan seolah seperti terhipnotis, Ji Moon tak menolak atau pun bertanya panjang lebar mengenai hal ini. Baiklah, mungkin ia lupa karena terlalu senang –entah senang karena diajak ke Lotte World atau senang karena yang mengajaknya adalah Oh Sehun.

“Dasar gila. Kau menyukai semua permainan ekstrim tadi?” tanya Sehun sambil menaikkan sebelah alisnya.

“Ya! Semua permainan tadi hampir membuatku kehilangan jantungku! Tapi, ini menyenangkan.”

Aish, tingkah Ji Moon malah seperti anak kecil –bahkan anak kecil juga tidak akan berputar kegirangan seperti dirinya. Memalukan. Lihatlah, bahkan Sehun mentertawainya sekarang. Eh, tunggu. . . Sehun, tertawa?

Ahahaha. Kau konyol sekali.”

Seketika Ji Moon membulatkan matanya –juga mulutnya. Unbelieveable, Sehun si pria dingin sedang tertawa? Apa Ji Moon sedang bermimpi sekarang? Apa ini fatamorgana? Kalaupun begitu, Ji Moon sangat tidak ingin ini cepat berlalu. Entahlah, tapi Sehun terlihat manis dan jauh lebih tampan. Wait. . . what?

“Kau. . . bisa. . . tertawa?”

Great. Pertanyaan bodoh apa itu, Lee Ji Moon? Apa otakmu sempat terlempar saat kau bermain Bungee Drop tadi? Oh my God.

“Dasar bodoh,” desis Sehun sesaat setelah tawanya mereda.

Detik selanjutnya, ia menarik lengan Ji Moon –lagi. Dengan ekspresi wajah yang masih terlihat seperti ‘orang bodoh’, Ji Moon ikut mensejejerkan langkahnya dengan langkah kaki Sehun. Kali ini Sehun akan mengajaknya bermain apa lagi?

“Untukmu,” ucap Sehun sambil memberikan sebuah ice cream cone dengan rasa coklat kepada Ji Moon.

“Ah, gomawo.”

“Kau ke mobil saja duluan, aku ingin membeli sesuatu.”

Ji Moon hanya mengangguk-angguk kecil lalu melangkah ke tempat dimana mobil Sehun terparkir. Ia tampak melirik sekilas ke arah jam tangannya lalu kembali menjilati eksrimnya. Tiba-tiba, ia tersenyum mengingat wajah Sehun saat tertawa tadi. Baiklah, Ji Moon, hentikan senyummu atau orang yang melihatmu akan mengira kau gila.

Drrrttt. . .

Drrrttt. . .

Akhirnya senyuman ‘aneh’ Ji Moon menghilang saat ponselnya bergetar –pertanda panggilan masuk. Saat melihat layar ponselnya, ia justru memutar bola matanya dengan malas sambil mendecak kesal.

Monster JongIn calling. . .

Shit. Apa si mesum ini tidak punya kerjaan lain selain mengganguku? Menyebalkan.”

Bukannya mengangkat panggilan itu, Ji Moon justru langsung mematikan ponselnya. Ia lantas menggerutu tak jelas sambil bersandar di pintu mobil Sehun –dan tentunya sambil menjilati eksrimnya.

Dari kejauhan, tampak Sehun melangkah ke arah Ji Moon sambil membawa sebuah boneka beruang berwarna coklat dengan ukuran yang sangat besar. Woah, apa Sehun membelikan itu untuk adiknya? Entahlah.

“Apa aku membuatmu menunggu?” tanya Sehun sambil mengeluarkan kunci mobilnya dari saku celana.

“Tidak. Tidak. Apa itu untuk adikmu?” tanya Ji Moon sambil menunjuk boneka yang dipegang Sehun.

“Bukan. Ini untuk seseorang. Seseorang yang membuatku tertawa hari ini.”

“Oh, begi —mwo?

“Ambil. Itu untukmu.”

Sehun memberikan boneka tadi pada Ji Moon lalu masuk duluan ke dalam mobilnya. Dengan wajah yang masih bingung, Ji Moon juga ikut masuk ke dalam mobil. Entahlah, ekspresinya saat ini sangat amat sulit untuk dideskripsikan. Ia terlihat bingung, kaget, namun juga senang disaat yang bersamaan. Di pikirannya saat ini ada banyak pertanyaan yang mau ia tanyakan kepada Sehun. Bahkan ia juga ingin bertanya pada Sehun mengenai debaran yang sedang ia rasakan saat ini. Tapi untung saja, mulutnya sedang kesuliatan untuk mengucapkan sepatah kata pun. Gosh, dasar yeoja gila.

======

“Oh Sehun. Maukah kau jadi kekasihku?”

“Oh Sehun. Will you marry me?

“Oh Sehun. Saranghae.”

Oh dear, Lee Ji Moon sepertinya memang sudah gila. Sebaiknya ia memeriksakan dirinya ke psikiater atau mendaftarkan dirinya ke rumah sakit jiwa terdekat. Bagaimana tidak? Saat ini ia sedang berada di kamarnya dan berbicara dengan boneka beruang pemberian Sehun semalam. Astaga, lupakah ia jika 10 menit lagi bel sekolah berbunyi?

“Oh Tuhan, aku pasti sudah gila.”

Well, finally you realized it. Good girl.

“Ji Moon-ah. Sampai kapan kau akan berada di dalam kamar? Apa kau mau terlambat?” pekik Do dari arah luar kamar Ji Moon.

Ji Moon reflek melihat ke arah jam dinding yang ada di kamarnya dan langsung meletakkan boneka dari Sehun di atas ranjangnya. Ia kemudian memasukkan kacamata ala nerd-nya kedalam ranselnya sebelum membuka pintu kamarnya. Untung saja ia sudah berseragam lengkap.

“Ayo berangkat. Sepertinya oppa harus sedikit mengebut hari ini.”

Sorry.

.

.

.

 

“Bukumu terbalik lagi.”

Seketika Ji Moon terkejut saat suara seseorang terdengar didekatnya. Ia lantas mengalihkan pandangannya dari arah lapangan basket ke arah sampingnya. Kim Jong Dae, sudah lama tidak melihatnya ke perpustakaan.

“Apa yang sedang kau lihat?” tanya Jong Dae sambil ikut melihat ke arah luar jendela perputakaan yang memang mengarah ke lapangan basket tersebut.

“Ti –tidak. Aku tidak melihat apapun. Aku hanya sedang melamun,” kilah Ji Moon sambil menutup buku yang dipengangnya.

“Hei, ayo jujur padaku. Kau melihat apa? Atau. . . siapa?”

“Ak –aku tidak. . . ah, sudahlah, aku akan kembali ke kelas saja.”

Ji Moon lalu bangkit berdiri sambil membenarkan posisi kacamatanya. Woah, hei apa itu? Semburat merah itu. . . astaga, Ji Moon tersipu malu? Sebenarnya siapa yang ia lihat di lapangan basket tadi? Apa mungkin. . . Sehun? Yap, bisa jadi.

“Hei. Ji Moon kau mau kema—“

Ssstttt!

Oops, sepertinya Jong Dae lupa kalau ia sedang berada di ruang perpustakaan. Dan koor dari beberapa pengunjung perpustakaan tadi menyadarkannya. Jong Dae hanya tersenyum kaku lalu berlari kecil menyusul Ji Moon yang sudah keluar perpustakaan lebih dulu.

 

.

.

.

 

Ji Moon saat ini sedang membawa banyak buku tugas milik teman-temannya. Tadi, Shin sonsaengnim meminta bantuannya untuk membawakan buku-buku ini –dan tentu saja, seorang nerd tidak akan menolak perintah gurunya, kan?

“Hei.”

Ji Moon yang tadinya melangkah menunduk –bermaksud memperhatikan langkahnya, tiba-tiba menghentikan langkahnya lalu menatap ke arah depannya. Si pria menyebalkan seumur hidup Ji Moon, Kim Jong In. Ji Moon seketika mendecak kesal lalu melangkah ke arah kanan.

Nerd,” ucap Jong In sambil bergeser ke arah kanan –menghadang jalan Ji Moon.

“Minggir,” ujar Ji Moon sambil mencoba melangkah ke arah kiri.

Jong In juga ikut bergeser ke kiri. “Red.”

Ya!

Ji Moon memekik tertahan –mengingat ini masih waktu pembelajaran. Ia lantas melempar death-glarenya tapi sialnya hanya dibalas senyuman miring dari Jong In. Oh dear.

“Biar kubantu,” ucap Jong In sambil mengambil semua tumpukan buku dari tangan Ji Moon.

“Hei biar aku yang—“

“Aku tidak akan membiarkan kekasihku dalam kesusahan.”

“Menjijikkan.”

Jong In hanya tertawa kecil mendengar ucapan Ji Moon. Hei, ini mengingatkan Ji Moon dengan tawa Sehun semalam. Eh, aish. Lagi-lagi nama ‘Sehun’ yang muncul di kepalanya.

“Hari ini mau pulang bersamaku?” tanya Jong In saat mereka hampir sampai di depan ruang guru.

“Tidak mau.”

“Tapi aku kekasihmu.”

Fuck you.”

“Red~”

“Diam, bodoh.”

======

“Kalian pacaran?” tanya Jong Dae sambil menutup buku novel yang tadi ia baca.

Sehun yang sedari tadi sibuk memainkan ponselnya, tiba-tiba ikut menghentikan aktifitasnya dan menatap ke arah Jong In.

Jong In lalu tersenyum miring. “Yap.”

“Kau mempermainkannya,” celetuk Sehun –dengan wajah yang datar, tentunya.

“Tidak juga. Aku akan membuatnya jatuh cinta padaku. Aku akan membuatnya tergila-gila pada sosok Kim Jong In.”

Jong Dae lantas menaikkan sebelah alisnya. “Dia tidak akan jatuh cinta padamu.”

“Kenapa tidak? Aku lebih tau dirinya dibanding kau.”

“Cih. Adikku tidak akan jatuh cinta pada ―maksudku, dia tidak akan—“

“Adikmu? Jong Dae sadarlah, ia Lee Ji Moon. Bukan Kim Daeun, adikmu.”

“Ma –maafkan aku. Aku lupa. Aku mau mengambil minum dulu.”

Jong Dae melangkah tergesa ke arah dapur di apartemen Jong In. Hell, ada apa sebenarnya? Apa yang mereka bicarakan tadi?

“Sosok Ji Moon membuatnya semakin sulit melupakan adiknya,” ucap Sehun sambil mengambil novel milik Jong Dae tadi.

“Begitulah. Hei, kapan kekasihmu akan kembali ke Korea?” tanya Jong In sambil melempar kulit kacang ke arah Sehun.

Sehun hanya melirik sekilas ke arah Jong In lalu mengacuhkan sahabatnya itu. Dasar Sehun, selalu saja bersikap ding —Apa? Jong In bilang apa tadi? Kekasih? Sehun? Come on, kenapa percakapan mereka hari ini aneh sekali? Oh, shit.

.

.

.

 

Donkey

15 menit lagi kau bertugas. Kenapa kau belum juga muncul? Kau mau membuat DJ Wu murka lagi?

 

Oh no. Sedari tadi Ji Moon bingung harus bilang apa pada TaeYong. Hari ini ia bertugas sebagai DJ dan ia sudah kehabisan alasan untuk bisa keluar rumah tanpa dicurigai oleh Do. Ia sudah banyak memakai alasan –dan alasan yang sama sering diulang. DJ Wu pasti akan menelannya hidup-hidup jika ia tidak bertugas malam ini.

“Ji Moon? Kau tidak makan? Kenapa kau terus menatap layar ponselmu?” tanya Do sambil meneguk air minumnya.

“Oh, aku. . . ti –tidak, bukan apa-apa,” jawab Ji Moon sambil mengaduk mie-nya.

“Kau tidak suka makanan malam ini? Kau mau yang lain? Bilang saja, akan oppa buatkan.”

“Tidak oppa, tidak. Aku suka makanan malam ini, aku. . . sudah kenyang.”

“Benarkah?”

“Ya. Aku akan kekamar saja, ada tugas yang harus kuselesaikan. Bye, oppa.”

Do tampak mengerutkan dahinya melihat tingkah adiknya itu. Ia kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu kembali memakan mienya.

Donkey

Aku sudah didepan rumahmu. Keluarlah. Tumben sekali kau mengunci pintu rumahmu.

 

Mwo?!

Ji Moon sontak melempar ponselnya ke ranjang lalu berlari ke luar kamarnya dan menuju ke pintu masuk rumahnya. Baru saja ia keluar dari kamarnya, ia telah melihat Do melangkah lebih dulu ke arah pintu masuk. Oh tidak, jangan sekarang.

Oppa, biar aku yang buka pintu itu,” pekik Ji Moon sambil berlari ke arah Do yang kini telah berada tepat di depan pintu rumah.

Do hanya mengerutkan alisnya lalu tanpa ragu ia membuka pintu rumahnya. And. . .

“Red, let’s go to clu—

-o- Nerdy Little Liar -o-

 

[To Be Continued]

 

 

Next on Nerdy Little Liar :

 “Kau pergi ke klub malam?”

“Sehun, I miss you so much.”

“Menyukainya hanya akan melukai dirimu sendiri.”

“I love you, Lee Ji Moon.”

“Sehun, ak –aku. . . aku. . . me –me –me—“

 

A/N : WordPress pribadi : wwwkipopfanfiction.wordpress.com #iklanlewat. Ini bukan wordpress baru, saya cuma ganti username biar mudah diingat xoxo.

Twitter: www.twitter.com/iamkipop ini twitter buat temen-temen yang mau pollow saya. Kalau mau minta polbek tinggal mensen aja, kalau mau minta unpol tinggal mensen saja, kalau mau minta block juga tinggal mensen aja. Ini twiter ya buat kalau nanti ada adegan full nc yang pake protek gitu loh. Dipollow mbah~

Hah, cerita ini makin lama makin ngebosenin ya? Yasudahlah, saya ngerti kok. Beberapa chap kedepan mungkin emang gak akan ada adegan yadong dulu. Karena, ini bukan cerita yadong jadi eh jadi gak semua chap isinya yadong-an/? Jadi buat yang cuma menunggu adegan yadong doang, harap bersabar dan banyakin doa dulu deh /halah/. Nah, bentar lagi kayaknya konflik bakal muncul nih. Satu persatu masalah akan terungkap berarti ini cerita semakin mendekati umurnya /apaan/. Nah udahlah itu aja, saya juga gatau mau bilang apa lagi dah. Kalau begitu. . .

Sekian.

Terima kekasih.

T’s

Cie Sehun ketawa:

 tumblr_inline_munk1o6XHg1qzxwms

258 responses to “Nerdy Little Liar [5] – Crazy

  1. Ketauan juga tuh kalo ji moon suka ke club.. bagus deh biar ji moon cepet” tobatxD
    Duh jongin beneran suka ga yah sama ji moon? Bakalan love triangle nih..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s