[Freelance] Sad Love – @yntheofani

Sad Love

Sad Love

Title : Sad Love

Author : Kim Yeonah

Length : Oneshoot

Rating : PG-15

Genre : Romance, Sad

Casts : Lee Junho (2PM) & Kim Soeun (Actress)

Author POV

Semua murid sedang berkumpul di kantin pada saat istirahat. Mereka mengobrol bersama, bernyanyi-nyanyi dan lainnya tapi tidak dengan Soeun. Dia disuruh mengangkat buku-buku dalam jumlah banyak itu menuju perpustakaan karena memang tinggal hanya dia sendiri di kelas bersama temannya. Soeun dan temannya melewati kantin untuk mengembalikan buku ke perpustakaan

“Lihatlah siapa yang lewat yuhuu” teriak seorang anak lelaki yang lalu berlari menabrak Soeun sehingga buku-buku yang dipegangnya jatuh karena hal itu semua murid disana menertawakan Soeun. Tak peduli dengan mereka Soeun langsung berjongkok untuk memungut buku. Tiba-tiba sebuah tangan meraih tangan Soeun dan itu membuat tangan Soeun menghentikan aktifitasnya “Lee Junho!” ujar seorang siswi yang ada disana, terkejut melihat Junho yang selalu mereka idamkan malah membela Soeun yang berstatus sebagai kakak kelasnya “Ini bukunya, nuna” ucap Junho sambil menyelipkan sebuah buku di tangan Soeun “Dimana buku lainnya? Kenapa hanya satu?”

“Aku yang akan membawakannya” Soeun pun langsung berdiri dan berjalan menuju perpustakaan. Teman Soeun masih membantu menuntun Soeun karena kekurangannya, mata indahnya itu tidak dapat melihat. Soeun yang dibantu telah mengembalikan semua buku itu ke perpustakaan sesuai yang diperintahkan oleh gurunya “Gomawo” ucap Soeun singkat “Cheonma, nuna” jawab Junho lalu berjalan meninggalkan Soeun

*********

Topik hangat hari ini, Junho dan Soeun. Semua murid membicarakan itu dari kejadian tadi hingga pulang sekolah. Telinga Junho sudah terasa panas mendengar semua itu “Kenapa kau membantu dia?” atau “Kau seharusnya tidak usah memperdulikan gadis buta itu” Memang apa salahnya membantu pikir Junho kenapa semua orang begitu mengasingkan Soeun

“YA! Oppa!” teriak seseorang dari belakang Junho. Dia tau dan sangat tau siapa yang akan dia lihat “1..2..3..” hitung Junho dalam hati dan gadis berambut kecoklatan itu pun kini berdiri di depannya dan mengoceh. Tanpa banyak bicara Junho langsung menutup mulut gadis itu “Ayo pulang” Gadis itu mencoba mengelak namun tangan besar milik Junho mampu mendorong dia terus berjalan mundur

“Eomma! Junho oppa mencoba menjadi pahlawan hari ini” Junho menutup mulut adiknya itu dengan paksa “Bisakah kau tutup mulutmu itu?” ujar Junho lalu meledek adiknya dengan meniru gaya mengoceh “YA!” Junho langsung menerima pukulan dari adiknya dan dia berlari ke atas “Junho-ya jangan nakal pada adikmu. Kalian cepat ganti baju lalu makan siang” Eomma mereka melerai dan akhirnya mereka berdua saling memeletkan lidah sebelum masuk ke kamar masing-masing

Junho keluar dari kamarnya dan berteriak “Jika tidak keluar juga akan kuhabiskan jatah makanmu, Yunmi-ya!” Sang eomma tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Sudah lama ia tak melihat Junho dan Yunmi bercanda seperti ini. Mereka semua mulai makan siang setelah Yunseo turun. Mereka semua makan dalam keadaan hening, fokus terhadap makanannya masing-masing hingga tiba-tiba Junho berlari dari tempat duduknya menuju kamar mandi. Eommanya langsung menyusul Junho. Dia mengelus punggung anak pertamanya. Makanan yang baru saja Junho makan keluar dari mulutnya bersama darah. Yunmi menatap iba pada kakaknya, sudah sekitar 5 bulan dia sering sekali muntah-muntah. Dia sungguh ingin marah terhadap penyakit yang bersarang di tubuh kakaknya. Jika bisa dia ingin menendang penyakit itu jauh-jauh, dia tidak ingin Junho tersiksa

Wajah pucat Junho tidak dapat dipungkiri. Kini dia harus kembali berbaring di tempat tidur dan tidur selama beberapa jam kedepan seperti yang dia lakukan beberapa bulan ini. Berat tubuhnya terus turun karena tidak mendapat asupan nutrisi. Makanan yang dia makan selalu saja terpaksa harus dikeluarkan lagi. Eomma Junho duduk di samping Junho yang tertidur. Dia terus menggenggam erat tangan Junho “Eomma ingin kamu sembuh dan tertawa seperti biasa lagi..”

*********

“Eomma, aku pulang” ujar Soeun begitu sampai di rumah “Soeun-ah kau sudah pulang” Eomma Soeun langsung menghampiri anaknya dan memberikan peluk hangat “Ada apa dengan tanganmu? Kenapa memar?” Soeun langsung berusaha menyembunyikan tangannya yang memar dari eommanya “Ani, aku tidak apa-apa”

“Apa kau diperlakukan buruk lagi di sekolah?” Soeun hanya tersenyum “Tapi aku mendapat sedikit bantuan hari ini… seorang adik kelas, Lee Junho” lanjut Soeun sebelum ibunya bertanya

“Junho yang kau bilang sering menjadi idaman para yeoja itu?” Soeun mengangguk.

“Eomma akan membuatmu bisa melihat dunia lagi”

“Aku tidak apa-apa eomma. Aku mulai terbiasa dengan ini”

“Tapi akan lebih baik jika kau dapat melihat semuanya” Soeun tersenyum lagi “Sekarang kau harus istirahat” ujar eommanya dan menuntun Soeun pun pergi ke kamarnya

Soeun berbaring menghadap langit-langit. Tangan kirinya mengusap-usap tangan kanannya dan dia tersenyum mengingat kejadian tadi siang “Apa benar itu Junho?” tanyanya pada diri sendiri. Soeun memang merasakan sentuhan tangan laki-laki tapi dia tidak tau apa benar itu Junho seperti yang dikatakan murid lain. Soeun tersenyum saat membayangkan seperti apa wajah Junho, apakah dia sangat tampan?

Sang eomma yang melihat anaknya tersenyum dari celah pintu yang terbuka pun ikut tersenyum. Ini membuat tekadnya semakin tak terhindarkan untuk membuat anaknya kembali melihat dunia

*********

Soeun sedang berusaha membaca buku dengan huruf braille itu di taman untuk menghindari kebisingan kelas. Seseorang pun datang dan duduk di sebelah Soeun

“Annyeong..” ujarnya. Soeun terdiam sejenak namun dengan cepat dia dapat mengenali suara itu “J-Junho?” tanya Soeun memastikan namun dalam hati dia yakin yang duduk di sebelahnya adalah Junho “Woah, bagaimana nuna tau?” jawab Junho dengan nada terkesima dengan kemampuan Soeun mengingatnya

“Junho-ya, gomawo atas bantuannya kemarin”

“Itu bukan apa-apa. Aku hanya membantu. Nuna sedang membaca apa?”

“Aku sedang membaca novel tentang seorang gadis dengan kisah cinta sedihnya dan jangan panggil aku nuna, aku tidak setua itu” ucap Soeun membuat Junho tertawa “Arra..arra”

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Soeun kembali pada Junho “Menenangkan diri dan menemani nuna” jawab Junho “Sudah kukatakan jangan panggil aku nuna” Junho terkikik

“Mian..”

*********

Hari terus berlalu, Junho dan Soeun semakin dekat layaknya sahabat baik. Mereka bercanda bersama, jalan-jalan bersama, bahkan makan bersama. Sekarang Soeun pun tak segan untuk menggenggam tangan Junho saat dia takut atau membutuhkan seseorang. Junho selalu menjaga Soeun, tak membiarkan dia berada dalam kondisi terpuruk akibat kekurangannya

“Nuna… ayo kita ke pantai” ajak Junho begitu mengetahui Soeun menyukai pantai

“Pantai? Kajja!” Soeun langsung bersemangat dan menerima ajakan Junho. Mereka pun pergi. Junho membukakan pintu mobil untuk Soeun dan memakaikan seatbelt. Soeun terus mengenggam tangan Junho selama perjalanan. Mereka berhenti sebentar di tempat peristirahatan “Aku turun dulu sebentar” ucap Junho tapi Soeun tidak melepaskan tangan Junho “Aku tidak mau sendiri di mobil” Bibir Soeun gemetar menandakan dia ketakutan “Aku akan kembali sebentar lagi, tekan ini jika terjadi sesuatu” Junho mengarahkan tangan Soeun ke klakson. Junho merutuki dirinya, kenapa harus kambuh disaat dia pergi. Dia memukul perutnya kemudian berdiri dan kembali ke mobil

“Junho-ya?” Dia menggenggam tangan Soeun sambil menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya “Wae? Kenapa nafasmu seperti itu?” ujar Soeun khawatir “Ani aku baik-baik saja” jawab Junho setenang mungkin lalu menyalakan mesin mobil dan meneruskan perjalanan

“Kita sampai” Junho turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Soeun “Dimana tangganya?” tanya Soeun ketika akan turun ke pantai “Naiklah ke punggungku” ucap Junho dan Soeun pun naik. Junho menggendong Soeun dan menurunkannya saat di tengah pantai. Soeun menghirup udara laut sambil tersenyum. Junho ikut tersenyum. Soeun berlari kecil karena senang tetapi pandangan Junho mulai kabur dan dia merasa kakinya semakin lemas dan semuanya gelap

“Junho-ya! Junho-ya!!” Soeun panik karena sama sekali tidak mendengar suara Junho. Tanpa sadar air matanya mengalir karena ketakutannya “Apa kau mencari lelaki bernama Junho?” tanya seorang ahjumma. Soeun mengangguk cepat. Ahjumma itu membawa Soeun ke toko kecilnya di sisi pantai “Anakku menemukan dia pingsan dan membawanya kesini tapi anakku tidak tau jika dia bersamamu” jelas ahjumma itu panjang lebar “P-pingsan?” Soeun mencari-cari wajah Junho, sebuah tangan meraih tangannya dan meletakkannya di dadanya “Aku disini…” ucap Junho. Tangis Soeun semakin menjadi begitu merasakan detak jantung Junho “Kenapa tidak bilang kalau kau tidak dalam kondisi baik?” Soeun memukul dada Junho pelan “Jika aku tau aku akan menolak. Aku tidak ingin kau kenapa-napa” Junho bangun dan memeluk Soeun

“Uljima.. Kau tampak jelek saat menangis” canda Junho sambil mengusap air mata yang terus mengalir dari mata Soeun “Aku tak peduli.. hiks hiks”

“Hei aku baik-baik saja. Tidak perlu khawatir”

“Bagaimana bisa baik-baik saja, bahkan kau pingsan” Junho kembali mendekap Soeun dan mengelus punggungnya “Aku baik-baik saja, sungguh” Tangis Soeun mereda dan Junho mengajak Soeun keluar setelah sebelumnya berterima kasih kepada ahjumma dan anaknya. Junho mengeluarkan video cam dari tasnya dan merekam Soeun yang bermain air

“Soeun-ah tengoklah ke kanan” Soeun menoleh sambil tersenyum seakan tau kalau dirinya sedang direkam “Junho-ya, lihat tulisanku” ujar Soeun saat berusaha menuliskan huruf terakhir di pasir ‘Soeun love Junho’ Junho merekam tulisan Soeun lalu merekam dirinya yang mencium pipi Soeun “Menghadap ke depan dan tersenyum, aku merekammu” Soeun melambaikan tangannya dengan kaku ke arah kamera. Junho menggerakkan tangan Soeun sesuai keinginannya. Mereka tertawa bersama-sama

Langit berubah menjadi gelap dan bulan telah memunculkan diri. Junho menyalakan kembang api yang Soeun pegang dan mengarahkannya ke langit sembari merekam ekspresi Soeun dari dekat “Senang?” tanya Junho ketika kembang api telah berhenti keluar. Soeun mengangguk senang. Mereka duduk di pasir, Junho menggenggam tangan Soeun

“Soeun, Aku mencintaimu. Maukah kau menjadi kekasihku?” Tanpa ragu Soeun menjawab pernyataan cinta Junho “Iya..” Junho pun memeluknya “Saranghae” Soeun membalas pelukan Junho “Nado Junho-ya”

*********

Keesokan harinya, hingga pulang sekolah Soeun sama sekali tidak bertemu dengan Junho. Dia mulai berpikir sesuatu yang buruk menimpa Junho tapi dengan cepat dia berusaha menghilangkan semua pikiran buruknya

“Eomma.. Aku pulang” ujar Soeun setelah memasuki rumah dan melepas sepatu “Kau tidak pulang bersama Junho?” tanya eomma Soeun yang mengetahui anaknya pulang sendiri tanpa Junho yang biasanya selalu mengantar dia “Aku tidak bertemu dia hari ini, sepertinya dia tidak masuk” jawab Soeun yang sebenarnya juga bingung

“Aku mau mencari ke rumahnya, eomma bisa bantu aku?”

“Tentu saja eomma bisa” Eomma Soeun menggoes sepeda menuju rumah Junho demi anaknya yang ingin bertemu Junho. Sepeda itu berhenti tepat di depan sebuah rumah yang megah. Soeun diam setelah turun dari boncengan sepeda. Eommanya langsung meraih tangan Soeun dan menekan bel rumah Junho.

“Nuguseyo?”

“Soeun..” jawab Soeun sambil menekan tombol. Pintu pun terbuka. Eomma Soeun menuntun Soeun untuk masuk ke rumah itu

“Soeun unni!” ujar Yunmi begitu bertemu Soeun di tengah tangga menuju pintu rumahnya

“Yunmi? Apa Junho ada?” Yunmi terdiam sebentar dan akhirnya menjawab “Junho oppa di rumah sakit” jawab Yunmi lirih. Soeun langsung terkejut “Ada apa dengannya?” tanya Soeun dengan nada khawatir “Dia sakit semalam, jadi dia langsung dilarikan ke rumah sakit oleh eomma”

“Bisa antar aku ke sana?” Yunmi tampak berpikir sejenak, pasalnya oppanya itu telah memberikan pesan untuk tidak memberi tau Soeun tapi dia tidak bisa mencegah Soeun menemui Junho

“Baiklah aku antar” Yunmi pun memanggil supir pribadinya dan memintanya untuk mengantarkan mereka bertiga ke rumah sakit tempat Junho dirawat

*********

Mata Junho masih terpejam. Dia terlalu lelah karena semalam. Dia harus terus terjaga hingga pukul 4 menuju 5 pagi. Eomma Junho duduk di samping kasur Junho mengelus puncak kepala anaknya.

“Eomma..” Yunmi yang datang membawa Soeun membuatnya terkejut “Kenapa kau memberitahu Soeun?” bisik eommanya pada Yunmi “Aku tidak bisa merahasiakannya dari Soeun unni, dia harus tau” Soeun berjalan perlahan-lahan. Eomma Junho meraih tangan Soeun dan menyuruhnya duduk di tempat yang dia duduki sebelumnya. Tangan Soeun diselipkan di tangan Junho

“Tangannya dingin…” ucap Soeun yang merasakan suhu tangan Junho. Dia baru menyadari kalau Junho yang selama ini terus melindunginya bisa menjadi selemah ini “Junho-ya… Aku takut sesuatu terjadi padamu” Soeun berusaha menahan tangisnya agar tidak berisik tapi air matanya tidak tertahankan lagi sehingga dia harus menangis dalam diam

Kedua ibu berjalan keluar ruangan itu “Haruskah aku menanyakan ini…” Eomma Junho menarik nafas dalam “Apakah kau akan membiarkan anakmu menjalin hubungan dengan anakku yang mungkin saja akan meninggalkannya?”

“Jika dia meninggalkan Soeun untuk sesuatu yang lebih baik maka aku tidak mengijinkan mereka menjadi dekat lagi namun apabila anakmu meninggalkan dia karena takdir. Aku tidak bisa melarang cinta mereka sekarang ini”

“Junho mengidap kanker hati stadium akhir. Itu sebabnya dia terbaring lemah disana. Semalam setelah kembali dari pantai, penyakitnya langsung kambuh dan ternyata semakin memburuk. Dokter mengatakan dia tidak dapat bertahan lebih lama lagi” Air mata eomma Junho kembali mengalir mengingat itu artinya anaknya akan meninggalkan dia untuk selamanya. Tak akan ada lagi senyum Junho di hari-harinya. Yunmi yang diam-diam mendengarkan eommanya langsung memeluk eommanya ketika dia menangis “Eomma.. kita harus berpikir kalau Junho oppa akan sembuh, dia tidak akan meninggalkan kita”

Di sisi lain, Junho telah bangun dan mendapati Soeun sedang menangis “Soeun-ah..” Jemari Junho berusaha meraih pipi Soeun dan mengusap air matanya “Uljima Soeun-ah” ucap Junho dengan suaranya yang terdengar lemah

“Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau masuk rumah sakit? Aku khawatir karena tidak bertemu denganmu di sekolah tadi”

“Kau akan menjadi terus khawatir dan tidak fokus belajar. Kau sudah akan lulus sekolah sebentar lagi. Tidak usah pedulikan aku, aku baik-baik saja”

“Kau selalu mengatakan itu, Lee Junho” Soeun mengambil nafas dalam lalu membuangnya lagi “Arra.. sekarang kau harus makan agar cepat sembuh” Soeun meraih mangkuk bubur dan menyendokkannya. Junho merubah posisi menjadi duduk dan memajukan mulutnya menuju sendok. Junho merebut sendok dari tangan Soeun “Buka mulutmu” Soeun pun membuka mulut dan Junho menyuapi Soeun. Setelah yang satu itu, Soeun terus menyuapi Junho hingga habis

“Sebentar lagi kau minum obat” Junho hanya diam tak menjawab Soeun. Dia sibuk menekan perutnya yang mulai terasa sakit lagi tanpa suara “Junho…” Soeun mencari-cari tangan Junho. Tetapi tangan Junho sedang mencengkeram kuat kasur, nafas Junho menderu namun tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya

“Soeun-ah, temani eomma sebentar” ajak Eomma Soeun berusaha membuat Soeun keluar dari ruangan itu. Lagi-lagi Junho harus memuntahkan semuanya, Junho menekan perutnya karena rasa sakitnya semakin menjadi “Akh!” Air mata Junho turun dengan sendirinya, dia tidak bisa menahan rasa sakit “Eom..ma…” panggilnya di sela kesakitannya. Eomma Junho memanggil dokter sambil terus menggenggam tangan Junho erat-erat. Dokter menyuntik Junho dengan obat pereda rasa sakit, perlahan Junho menjadi lebih tenang dan tepat saat Soeun kembali

“Junho kau baik-baik saja?” tanya Soeun “Ne..” jawab Junho tenang berusaha agar semuanya terdengar baik-baik saja “Junho tampak ingin istirahat, sebaiknya kita pulang Soeun” ajak eomma Soeun. Soeun pun mengangguk dan mencium pipi Junho sebelum pergi

“Aku sudah lelah dengan semua ini eomma” ucap Junho setelah Soeun pergi. Hidup bersama dengan obat-obatan tentu saja membuatnya muak. Dia ingin bebas seperti orang lain tapi itu tidak mungkin. Dia harus terus bergantung pada obat untuk meredakan rasa sakit bukan untuk menyembuhkan “Aku ingin menyudahi semua ini, tapi aku tidak ingin meninggalkan kalian. Aku harus bagaimana eomma” Junho menangis sebagai pelampiasan rasa kesal, bingung, dan takut dalam hatinya. Eommanya memeluknya berusaha menenangkan perasaannya tapi itu sama sekali tidak membuat Junho menjadi lebih tenang bahkan semakin terbebani

Eomma Junho telah tertidur tetapi Junho masih terjaga sambil memperhatikan eommanya. Dia tidak pernah menyadari kalau guratan yang menandakan umur eommanya semakin tua telah muncul. Sangat jelas terlihat begitu dia tidur seperti ini “Aku ingin menjadi pemimpin keluarga setelah kepergian appa, tapi aku tidak menyangka kalau aku juga akan mengikuti perginya appa. Mian eomma… aku tidak bisa melindungi kalian lebih lama”

*********

“Pagi eomma!” ujar Junho sambil tersenyum. Dia tidak lagi mengenakan rumah sakit melainkan telah berganti mengenakan sebuah kaos putih dengan celana jeans “Kenapa kau berganti baju?” tanya eommanya bingung. Junho terlihat berpikir sebentar “Aku ingin jalan-jalan dengan eomma dan adikku yang palingg cantik” Eommanya tertawa kecil “Kau memang hebat dalam soal merayu sama seperti appamu”

“Jadi, kita jalan-jalan kan eomma?” bujuk Junho sekali lagi dan eommanya pun mengangguk dengan pasrah “Yeay!” sorak Junho layaknya anak kecil lalu memeluk leher dan mencium pipi eommanya “Tapi pertama kita harus pulang dulu”

“Ne!” jawab Junho sambil memberi hormat seakan eommanya adalah atasannya. Eomma Junho mengacak-acak rambut Junho

“Oppa!” teriak Yunmi begitu melihat Junho pulang ke rumah dan langsung memeluknya “Apa oppa menjadi lebih baik? Kenapa bisa pulang lebih cepat?”

“Aku hanya bosan di rumah sakit jadi aku ingin jalan-jalan bersamamu juga eomma” Tatapan mata Yunmi mendadak berubah. Dia melepaskan pelukannya pada Junho dan mundur beberapa langkah “Ini bukan permintaan terakhir oppa kan?” Raut wajah Yunmi menunjukkan kalau dia akan menangis dalam hitungan detik “Bagaimana jika aku tidak mau menuruti keinginan oppa? Apa oppa akan tetap pergi?” Air mata Yunmi mendadak jatuh sembari mulutnya berbicara. Junho sangat mengerti kenapa Yunmi seperti ini. Dia takut jika dia harus kehilangan Junho yang telah menjadi teman, kakak, sekaligus menjadi sosok pemimpin keluarga sejak kecelakaan yang merenggut appanya

“Ini bukan permintaan terakhirku” ucap Junho berusaha menenangkan Yunmi “Aku hanya ingin merasakan kebersamaan keluarga kita lagi” lanjutnya. Tetapi Yunmi bukanlah anak kecil yang mudah dikelabui dia tau kalau setelah ini sesuatu pasti akan terjadi. Hatinya merasakan kehilangan begitu dia menatap lekat mata Junho namun apa yang bisa dia perbuat jika itu memang takdir. Yunmi pun bersiap untuk pergi karena Junho membujuknya, ya bujukan Junho tidak pernah gagal. Yunmi dan eommanya selalu mengalah begitu Junho mengeluarkan rayuannya

“Aku siap. Ayo pergi” ajak Yunmi. Mereka pun pergi ke taman untuk piknik keluarga. Junho berbaring di rumput “Sudah lama aku tidak piknik” ucapnya. Yunmi pun terlihat menghitung “Hmm sekitar 2 tahun?” Junho mengendik tak yakin

Hari ini Junho mengajak eommanya dan Yunmi pergi ke tempat yang biasanya mereka datangi untuk bersenang-senang bersama appa Junho dulu dan tempat terakhir untuk hari ini adalah makan bersama di restoran dengan view sungai Han di malam hari. Mereka bersenang-senang hari ini dan melupakan semua yang terjadi menghapus penat juga kesedihan. Sesampainya di rumah Junho langsung memeluk eommanya dan Yunmi

“Terima kasih telah menemaniku bersenang-senang hari ini, eomma.. juga Yunmi” ucap Junho sambil tersenyum membuat kedua matanya semakin sipit

“Ne… sekarang istirahat lah” suruh eomma Junho. Yunmi dan Junho pun berjalan ke kamar masing-masing

*********

Hari ini hari minggu. Junho bergegas berganti baju begitu melihat jam menunjukkan pukul 11. Dia berjanji pada Soeun untuk mengajaknya ke tempat yang sangat ia ingin kunjungi. Dia langsung memasuki mobil dan menancap gas setelah pamit pada eommanya

Ting Tong.

Bel rumah Soeun berbunyi. Tidak lama kemudian Soeun muncul dari balik pintu sudah berpakaian rapi “Ayo pergi” ajak Soeun. Junho pun menggandeng tangan Soeun, membukakan pintu mobil dan menutupnya lagi. Junho mengajak Soeun ke Namsan Tower karena di buku diary milik Soeun tertulis kalau dia ingin pergi kesana bersama kekasihnya nanti dan kini dia sudah punya kekasih. Setelah sampai di sana, Junho membeli gembok dan membantu Soeun menuliskan harapannya. Hal yang sedikit menyesakkan melihat harapan yang Soeun tulis ‘Forever with Junho’ Junho tersenyum kemudian menulis harapannya ‘Love Soeun until the end’ begitu selesai Junho memasang dua gembok itu di antara ratusan atau mungkin ribuan gembok disana dan membuang kuncinya.

Waktu cepat berlalu. Kini Soeun dan Junho berada di atas kapal di sungai Han menikmati angin malam juga makan malam mereka. Junho menggenggam tangan Soeun terus-menerus, enggan untuk melepaskannya walau sebentar saja

Entah apa yang ada di pikiran Junho. Dia membawa Soeun ke gereja dan mengajaknya berdoa, meminta doanya agar dikabulkan.

“Apa yang akan kau lakukan jika hari ini adalah hari terakhir kau mendengar suaraku?” tanya Junho tiba-tiba membuat Soeun bingung usai berdoa “Aku akan tetap mencintaimu”

“Gomawo karena akan tetap mencintaiku” ucap Junho lalu mencium bibir Soeun lembut. Dadanya langsung merasa sesak dan air mata mulai mendesak untuk keluar tapi Junho dengan segera mengendalikan perasaannya. Junho menyelipkan sebuah cincin di jari Soeun. Junho mengecup cincin di tangan Soeun “Ayo kita pulang..” ajak Junho. Soeun pun menurut

Malam itu keadaan sangat sunyi. Semua orang telah tertidur lelap namun Junho masih meringkuk kesakitan. Dia menekan perutnya dan memukulnya. Keringat dingin mengucur deras di wajah bahkan tangan Junho “Eomma…” panggil Junho sekuat tenaganya “Eomma..” Bibir Junho gemetar, tak mampu untuk berteriak lebih lantang “Hoek” Cairan kental berwarna merah mengotori lantai kamar Junho. Tidak hanya sekali tetapi cairan itu terus menerus mendesak keluar dari perut Junho. 15 menit kemudian dan Junho masih tetap berusaha menahan semua rasa sakitnya dalam posisi yang sudah terjatuh dari kasurnya. Junho berusaha meraih botol di meja kecil tetapi usahanya gagal. 5 menit lagi berlalu, Junho kembali muntah namun kali ini Yunmi datang dan melihat keadaan Junho. Dia langsung berlari turun memanggil eommanya

“Junho-ya!” Eommanya langsung berlari masuk. Meletakkan kepala Junho di tangannya

“Telfon ambulance cepat” perintahnya pada Yunmi. Detak jantung Junho yang mulai melemah membuat eommanya semakin takut dan panik. Tidak lama kemudian ambulance datang dan paramedis membawa Junho ke rumah sakit. Yunmi dan eommanya hanya duduk dan menunggu kabar dari dokter. Mereka berdua terus menangis memikirkan kemungkinan terburuk yang terjadi pada Junho. Selang beberapa saat, dokter pun keluar

“Maaf kami sudah melakukan sebisa kami..”

*********

4 years later….

Seorang dokter cantik tengah mengunjungi pasien anak-anak. Mereka terlihat ceria setelah sakit mereka membaik. Dia memutuskan untuk bermain dengan mereka sebentar lalu kembali ke ruangannya untuk memeriksa pasien lain

“Apa keluhan anda, ahjumma?”

“Kepala saya sering pusing beberapa hari ini”

“Mari saya periksa” Pasien itu pun berbaring dan Soeun memeriksanya “Anda mengalami anemia, perbanyak istirahat dan makan sayur-sayuran” Gadis yang sekiranya masih berumur 20-an itu pun mengangguk lemah “Soeun unni.. Kau tidak ingat siapa aku?” Soeun terdiam dan menatap mata gadis itu lekat-lekat “Tampaknya aku belum pernah melihatmu sebelumya”

“Kau memang tidak melihat, tapi sering mendengar suaraku terlebih lagi kakakku”

Soeun semakin bingung dengan perkataan wanita di depannya “Apa maksudmu? Siapa kakakmu?” Gadis itu menarik tangan Soeun dan menyentuh cincin yang masih terpasang di jari Soeun “Kau tau darimana cincin ini?” sontak Soeun mengingat malam itu, malam dimana menjadi terakhir kalinya dia mendengar suara itu “Lee Junho….” ucapnya pelan “Tapi aku tidak tau dia dimana sekarang dan.. Apa kau adik Junho?” Soeun yang baru sadar begitu arah pembicaraannya semakin mengarah ke seseorang yang selalu ada disampingnya 4 tahun lalu “Iya.. aku Yunmi, adik Junho oppa”

Soeun terkejut “Dimana Junho? Kenapa dia tidak pernah muncul, aku sempat berpikir kalau dia tidaklah nyata”

“Dia pergi” jawab Yunmi dengan singkat dan suara yang sedih

“Jika kau ingin tau mengenai dia, besok kita bertemu di cafe ‘M’ jam 12” lanjutnya lagi

********

Keesokan harinya, Yunmi telah menunggu di cafe itu sebelum jam 12. Dia menyesap teh pesanannya sembari menunggu Soeun datang. Soeun pun datang dan langsung duduk di kursi di hadapan Yunmi “Ingin memesan minuman terlebih dulu kah? Setelah itu kita akan pergi” Soeun terlihat bingung “Ah ye tunggu sebentar” pinta Soeun. Dia pun berjalan ke kasir dan memesan sebuah Ice Moccacino. Setelah mengambil pesanannya mereka berdua pun masuk ke mobil. Suasana di dalam mobil sangat canggung, Soeun hanya memandang keluar jendela sementara Yunmi terlihat fokus menyetir. Mobil pun berhenti di depan sebuah makam

“Untuk apa kita kesini?”

“Sebaiknya kita masuk saja dulu” ajak Yunmi sambil membawa pot bunga kecil. Yunmi duduk di menghadap berbagai kotak disana. Namun matanya hanya tertuju pada kotak yang terdapat foto kakak tersayangnya. Yunmi meletakkan pot kecil itu di samping foto Junho yang sedang tersenyum lebar menunjukkan eye smile-nya “Aku merindukanmu Junho oppa. Saengil Chukkahanda” Soeun terkejut bukan main kalau ternyata kata pergi itu ternyata pergi dari dunia ini. Soeun berdiri disamping Yunmi, melihat tanggal di handphonenya, 25 January 2015. Soeun ingat kalau di tanggal ini dia pernah membelikan kue untuk ulang tahun Junho. Air mata Soeun turun mengingat semua kenangannya dengan Junho “Yunmi-ya…”

Setelah 1 jam berada disana, akhirnya mereka pun memutuskan untuk pulang. Sebelum menyalakan mesin Yunmi memberikan sebuah kardus cukup besar “Ini untukmu unni, bukalah dan lihat isinya” Soeun membuka kardus itu dan mendapati Video cam, Album foto, Buku diary miliknya dan sebuah iPod bersama headsetnya. Soeun membuka album foto itu perlahan-lahan. Di halaman pertama terlihat foto Junho dalam ukuran besar dibawahnya tertulis ‘owner : Lee Junho’ Soeun melihat foto-foto setelahnya sambil tersenyum hingga di bagian hampir belakang, Soeun menemukan foto-fotonya hasil potretan Junho. Soeun mengeluarkan salah satu fotonya dan dibaliknya tertulis ‘my beloved girl’ Soeun kembali membuka halaman berikutnya, tidak ada foto terbaru Junho hingga di akhir album foto terdapat fotonya bersama Junho dengan tangan melakukan v-sign. Dia ingat foto ini diambil saat mereka akan pergi ke Jeonju, waktu itu Junho meminta bantuan orang untuk memotret. Soeun membalik foto itu dan mendapati lagi tulisan tangan Junho

‘I hope this picture will be a great memory of us

My love is never end for you

I will love you until the end of my life, Soeun nuna…’

Tidak terasa kalau kini mereka sudah tiba di depan gerbang rumah Soeun “Gomawo Yunmi-ya, sampaikan salamku pada eommamu” Yunmi mengangguk dan tersenyum “Annyeong unni” pamitnya lalu pergi

“Eomma.. aku pulang” ucap Soeun. Sebuah kebiasaan yang tak pernah hilang walaupun bertahun-tahun telah berlalu “Ne.. Apa yang kau bawa?” tanya eomma Soeun “Hanya beberapa benda dengan kenangan penting“ jawab Soeun “Kenangan apa?”

“Ayo lihat bersamaku eomma” ajak Soeun. Mereka pun duduk di sofa dan Soeun membuka screen video cam milik Junho. Di video pertama terlihat Soeun yang membawa kue dan Junho sedang meniup lilin. Video ini direkam saat ulang tahun Junho yang ke-21. Berikutnya adalah saat ulang tahun Soeun ke-22. Terlihat Junho membawa sebuah kue dengan lilin diatasnya sambil bernyanyi lagu selamat ulang tahun “buat harapan dan tiup lilin” Soeun memejamkan mata lalu meniup lilinnya dengan dibantu Junho “Saengil Chukkhae nuna” Junho pun mencium pipi Soeun. Mata Soeun telah berkaca-kaca melihat video itu. Ditambah saat dia melihat video selanjutnya, video saat mereka bermain di pantai. Dalam video itu Soeun dapat melihat jelas wajah pucat Junho yang masih tetap berusaha tersenyum. Adegan memeluk itu menjadi akhir video tersebut. Air mata Soeun sudah tidak tertampung lagi, air matanya pun jatuh begitu saja membasahi pipinya “Eomma.. aku rindu dia, aku ingin bersama dia” ucap Soeun sambil terisak “Aku sudah tidak bisa melihatnya atau menyentuhnya lagi sekarang. Dia sudah berada di dunia yang berbeda eomma”

“Eomma tau…” Soeun pun terdiam, terkejut dengan pernyataan eommanya “Eomma tau dia sudah tidak ada di dunia lagi dan eomma juga tau kalau dia yang mendonorkan mata untukmu, Soeun” jelas eommanya sambil membuka sebuah kertas dari kardus. Kertas yang sudah ditanda tangani eomma Junho bahkan Junho sendiri sebelum dia meninggal

“Bagaimana…”

Flashback

“Andwae!” eomma Junho langsung merosot begitu mengetahui anaknya sudah tidak lagi bersamanya. Dia telah pergi selama-lamanya

“Anak anda meminta untuk mendonorkan matanya ke seseorang bernama Kim Soeun tetapi kita membutuhkan persetujuan dari pihak keluarga juga. Anak anda telah menandatangani ini sejak 2 hari lalu” Dokter menunjukkan sebuah kertas dimana tertera tanda tangan Junho sebagai pendonor disana. Walau hatinya masih berat untuk melakukan itu, eomma Junho tetap menandatangani surat itu.

Dokter langsung mengabari Soeun dan keesokan harinya Soeun langsung menjalani operasi mata “Eomma aku takut” ujar Soeun. Namun eommanya menguatkan Soeun agar tidak takut. Soeun pun mengangguk. Operasi berjalan cukup lama namun operasi tersebut berhasil. Soeun dipindahkan ke ruang rawat inap

Diluar dua wanita paruh baya sedang bertemu.

“Jadi Junho adalah pendonor mata untuk Soeun?” eomma Junho mengangguk lemah. Masih dalam keadaan sedih atas kepergian anaknya yang bahkan belum 1 hari “Tolong rahasiakan siapa pendonornya dari Soeun sampai saatnya dia mungkin memang harus mengetahuinya. Ini permintaan Junho” eomma Soeun mengerti dia pun juga tidak ingin Soeun sedih

1 hari setelahnya..

Yunmi dan eomma Junho harus memakai pakaian hitam lagi. Kali ini karena meninggalnya anak sulungnya, Lee Junho. Semua orang yang datang memberikan ucapan belasungkawa sama seperti saat kepergian suaminya. Disaat suasana telah sepi, eomma Junho masih tidak beranjak dari sana. Dia duduk terdiam sambil memegangi foto Junho. Eomma Soeun pun datang “Jangan terus menangis, dia tidak akan tenang jika kalian begini. Kuatkanlah diri kalian” ucap eomma Soeun menyemangati namun eomma Junho tidak bisa mengubah rasa kehilangannya terhadap sosok Junho yang selalu membuatnya bahagia dengan kelakuan-kelakuannya “Aku sudah merasa lebih tenang, setidaknya aku masih dapat melihat Junho di mata Soeun”

*********

Dokter telah membuka perban di mata Soeun. Perlahan-lahan Soeun membuka matanya dan perlahan-lahan cahaya mulai masuk ke matanya. Dia bisa melihat sekarang. Soeun tersenyum pada eommanya yang berada di sampingnya

“Eomma aku mau berterima kasih pada keluarga pendonor mata ini”

“Mereka tidak di Seoul lagi” jawab eomma Soeun singkat tak memberi tahu kalau keluarga Junho tidak di Seoul karena mereka berada di Ilsan, tempat kelahiran Junho. Jika Soeun tau dia pasti datang kesana untuk berterima kasih berhubung jarak tidak sejauh luar negeri

Setelah hari itu, Soeun meneruskan pendidikannya dengan penuh semangat. Dia memasuki universitas dan memasuki fakultas kedokteran. Memang kadang dirinya sempat teringat memori lama dengan seseorang yang tak pernah ia lihat wajahnya dan setelah dia bisa melihat orang itu tidak pernah muncul di hadapannya. Di umur Soeun ke-26 dia telah menjadi dokter di sebuah rumah sakit terkemuka di Seoul

Flashback end

“Kenapa eomma tidak pernah bilang?” ucap Soeun sambil terus menangis “Eomma tidak mau membuatmu menangis hari itu juga” jawab eommanya sambil mengelus puncak kepala Soeun. Setelah itu pun dia berpindah menuju kamarnya

Masih sambil menangis dia meraih iPod dari dalam kardus juga buku diarynya yang entah bagaimana bisa ada pada Junho. Soeun memasukkan headset ke dua telinganya. Dia memutar lagu berjudul ‘I’m In Love’ –yang dibuat Junho untuk Soeun sambil melihat-lihat diarynya. Dia ingat kalau dia pernah menulis sebuah karangan di buku ini, terinspirasi oleh buku yang sering dibacanya dulu. Dibawah karangan Soeun tertulis tulisan tangan orang lain yaitu Junho “putarlah lagu dengan judul sad love dan dengarkan baik-baik liriknya” Soeun pun merubah lagunya. Suara lembut yang familiar terdengar di telinganya “Liriknya berasal dari karanganku…” gumam Soeun. Junho membuat lagu itu berdasarkan karangan Soeun dan juga ditujukan untuk Soeun

Neol saranghae…

Oneuldo neol saranghae

Ireohke wonhago ittneunde

Geunyang isseo jumyeon andwaeni

Nan neoman bomyeon yokshimi naseo

Keobina…

Soeun mengetahui kalau yang menyanyikan lagu ini adalah Junho. Dia sangat ingat suara Junho bahkan setelah 4 tahun berlalu. Lelaki multi talenta dengan suara merdu, pandai membuat musik, hebat dalam menari dan sempat pandai dalam olahraga

“Andai saja aku dapat melihatmu Junho. Aku ingin mendekapmu erat”

Dada Soeun terasa semakin sesak akibat tangisannya namun hal itu tidak menghentikan tangannya untuk tetap membalik halaman buku diarynya. Sebuah kertas pun jatuh. Soeun memungutnya dari lantai. Kertas itu berasal dari buku diarynya, Soeun pun membuka kertas itu dan itu adalah sebuah surat

For my beloved girl, Soeun

Thank you for all the memories you gave me. All the time with you is precious to me

Thank you for loving this guy. The guy who will leave you

Maybe when you read this, i already leave this beautiful world

As my promise before, i will love you until the end of my life

If you want to know you’re my first girlfriend, my first kiss and the last one for all of that

I’m sorry for become your worst boyfriend, i hope you’ll find the better one than me

Don’t cry and live happily nuna… We will meet again someday, i hope J

From your bad boyfriend,

Lee Junho

Soeun menangis jauh lebih kencang. Dia membiarkan semua air matanya keluar

“Kau memang seseorang yang buruk Junho! Kau membuatku menangis” ujar Soeun sambil memukul-mukul bantal lalu memendam wajahnya di bantal sambil menangis

“Aku merindukanmu Junho… Sangat merindukanmu”

*********

Esok adalah hari pernikahan Soeun dengan kekasihnya, Song Jaerim. Soeun mengajak Jaerim ke makam Junho sambil membawakan bunga kecil untuk Junho

“Junho-ya, aku akan menikah besok. Dia lah yang akan menjadi pasanganku. Aku akan berusaha memulai hidup bahagia” ucap Soeun kemudian Jaerim meninggalkan Soeun sendiri agar lebih leluasa untuk bicara

“Aku membawakanmu bunga Junho-ya. Bunga yang sering kau belikan untukku. Maaf karena aku tidak menjadi pasanganmu selamanya tetapi aku masih mencintaimu karena kau adalah cinta pertamaku juga ciuman pertamaku”

“Saranghae Junho-ya”

*********

Soeun berjalan menuju altar dengan mengenakan pakai pengantinnya sambil tersenyum ringan. Jaerim telah menunggu disana bersama penghulu. Mereka mengucapkan janji suci seperti yang pertama diucapkan penghulu. Jaerim mencium bibir Soeun setelahnya. Di sudut ruangan Soeun melihat lelaki berkemeja putih. Lelaki itu tersenyum kearahnya kemudian menghilang. Soeun berusaha menahan tangisnya dengan digantikan senyum

“Gomawo Junho..” gumam Soeun

–The End–

2 responses to “[Freelance] Sad Love – @yntheofani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s