[Freelance] You’re My Eufrosine (Chapter 03)

You Are My Eufrosine poster 1

Author : JONGSESA | Tittle : You’re My Eufrosine | Main Cast : Lu Sera (OC), Kim Jongin/Kai (EXO) | Other Cast : Oh Sehun (EXO), Lu Han (EXO), Wu Yifan (EXO), Park Hayoung (OC), Oh Cheonsa/Lu Cheonsa (OC), Becca Wu (OC), And find by Yourself. | Genre : Family, Romance, Sad, Angst. | Rating : PG-15 | Length : Chaptered

Disclaimer : fanfic asli hasil murni imajinasi sendiri. Plagiat ? Siders ? BYE !

***

Eufrosine, putri Zeus dan Eurinome, yang melambangkan dewi kegembiraan dan kebahagiaan. Lu Sera, gadis dengan kesempurnaan yang dimilikinya, dan dianggap sebagai Eufrosine karena selalu membawa kebahagiaan untuk orang disekitarnya. Namun, bagaimana jadinya, jika hidup Eufrosine sendiri tidak bahagia ?

***

Chapter 1 | Chapter 2

 

Sore itu Sehun sedang dalam perjalanan menuju toko kue, untuk membelikan cake kesukaan gadisnya. Hayoung, gadis itu memberi kabar bahwa dia tidak kuliah karena demam. Sehun yang merasa bersalah karena semalam tidak mengantar Hayoung dengan mobil melainkan mengikuti permintaan gadisnya itu untuk berjalan kaki. Memang hanya 10 rumah tapi tetap saja hawa dingin malam kota Seoul sukses membuat Hayoung menggigil.

Setelah membeli cake kesukaan Hayoung, Sehun yang memilih pulang lebih dulu dari kantor yang dipimpinnya kini, langsung menuju rumah Hayoung. Tidak butuh waktu lama, karena kompleks tempat Sehun dan Hayoung tinggal, berada dipusat kota dan tidak jauh jika ingin kemana-mana. Kini Sehun sudah memarkirkan mobilnya di depan rumah Hayoung dan langsung masuk kedalam rumah sambil membawa cake yang dibelinya tadi.

“kau datang, Hun” sapa wanita paruh baya, yang masih terlihat muda. Eomma Hayoung.

“ne, eommonim. Ku dengar Hayoung sakit, jadi aku pulang lebih awal.” Jawab Sehun yang merangkul eomma Hayoung layaknya ibu sendiri.

“Hayoung hanya demam, Hun. Tidak perlu khawatir. Dia yang mengaku, lupa memakai kaos kakinya saat tidur. Kau kan tau, Hayoung tidak bisa terkena hawa dingin lewat kakinya.” Jelas eomma Hayoung menenangkan Sehun.

“ne, eommonim. Aaa..ini aku bawakan cake kesukaan emmonim” kata Sehun sambil memberikan bungkusan cake yang sudah ia persiapkan untuk eomma Hayoung.

“aigoo..kau repot-repot sekali Sehun-ah. Gomawo, ne.”

“cheonma eommonim”

“Cepatlah ke kamar Hayoung, bujuk ia agar mau makan. Hari ini ia baru makan buburnya tadi pagi, itu pun tidak habis. Itu lah yang lebih eomma khawatirkan” jelas eomma Hayoung dengan nada khawatir.

“ne, aku ke kamar Hayoung dulu, eommonim.” Balas Sehun

Sehun mulai melangkah menaiki tangga ke lantai 2, menuju kamar gadisnya. Sesampainya didepan kamar Hayoung ia langsung membuka pintu kamar itu dan melihat gadisnya sedang memandang kosong ke arah jendela. Sehun melihat itu, mengerti apa yang sedang dipikirkan gadis itu. Ia menutup pintu kamar dan berhasil membuat Hayoung memalingkan wajahnya dan memandang Sehun yang mulai berjalan menghampirinya.

“kenapa kau nakal sekali nyonya Oh ? sudah sakit tapi masih tidak memakai kaos kaki, tidak mau makan, apa perlu aku yang menyuapimu?” tanpa menyapa Sehun langsung duduk dipinggir ranjang yang diduduki Hayoung.

“aku rindu padanya, oppa. Hiks..hikss..” akhirnya Hayoung buka suara, tapi juga dengan isakannya.

Sehun tidak tahan melihat wajah murung gadisnya tiap merindukan sahabat dan juga adik kecilnya itu –Sera. Sehun langsung merengkuh tubuh lemah Hayoung kedalam pelukannya.

“bawa dia kembali, oppa. Kumohon, oppa. Hikss.hiks”

“aku yakin Sera akan kembali, Youngie. Tapi-“ kalimat Sehun terpotong karena mendengar dering ponselnya. Sehun akan memukul kepala orang yang berani-beraninya mengganggu saat dirinya menenangkan gadisnya.

Sehun melepaskan pelukannya perlahan, dan merogoh saku jasnya. Saat melihat siapa penelepon itu, Sehun mengernyit karena nomornya tidak dikenal. Dengan kasar sehun menekan tombol hijau di layarnya.

“yeobseyo” ucap Sehun ragu.

“yeobseyo, oppa?” sapa Sera.

Sehun mengenal suara ini. Ini suara.. “Sera ?” tebak Sehun tepat sasaran. Mendengar nama orang yang dirindukannya Hayoung membulatkan matanya, menunggu kebenaran selanjutnya.

“ne, oppa. Ini aku Sera. Aku baru mengganti nomorku, kumohon janga beritahu siapa pun, ne ?”minta Sera

“Sera, ya tuhan…kau membuat oppa khawatir. Ne, oppa tidak-“ ucapan Sehun terpotong karena ulah Hayoung yang langsung merebut ponselnya.

“Ra-ya? Hiks..hiks..kau kemana saja eoh ? aku merindukanmu, kembali lah ke Korea Sera..hiks” ujar Hayoung yang kembali terisak.

“Youngie ? kau menangis ? uljjima, Youngie. Sekarang aktifkan loudspeakernya, ne”

Hayoung menurut apa yang diminta Sera, mengaktifkan loudspeaker.

“oppa, Youngie, kalian jangan khawatir. Nan gwenchana.”

“bagaimana bisa aku tidak mengkhawatirkanmu Sera, 2 hari ini kau tidak mengabariku seperti biasanya.” sungut Hayoung kesal

“mianhae, ada yang harus aku urus disini.” Jawab Sera tenang.

“Ra-ya, kau dimana sekarang ?” kali ini Sehun yang bicara dengan nada lembutnya.

“eoh, ne. Aku sampai lupa dengan tujuanku menghubungimu, oppa. Aku sedang di dalam taksi, menuju bandara.”

“kau mau kemana Ra-ya ?”Tanya Sehun cepat, mendengar Sera yang sedang menuju bandara.

“ke Korea, oppa.” Jawab Sera sekenanya.

“JINJJA ?? SERA, KAU AKAN KEMBALI KE KOREA ? AAAA SERA CEPAT LAH DATANG, AKU RINDU PADAMU” teriak Hayoung histeris. Lain halnya dengan Sehun, ia tengah berfikir apa yang membuat Sera berubah pikiran.

“ne, tunggu aku Youngie. Mmm..Oppa bisakah kau menjemputku jika nanti aku sampai di Korea?” Tanya Sera ragu.

Entah apa yang membuatnya ingin segera melancarkan rencananya, Sehun menjawab.

“Mianhae, Ra-ya. Sepertinya oppa tidak bisa menjemputmu, Hayoung sedang sakit. Ottokhae ??” jawab Sehun dengan nada menyesal yang di buat-buat. Hayoung yang melihat tingkah aneh kekasihnya, menyentil kening Sehun. Sehun meringis tapi tak terdengar oleh Sera di seberang sana.

“gwenchana, oppa. Biar nanti aku naik taksi saja. Lebih baik kau jaga hayoung, oppa.” Balas Sera.

“shirreo shirreo !! kami akan menjemputmu Sera, aku hmmmpp-“ Sehun membungkam mulut Hayoung yang hendak menggagalkan rencananya.

“kau masih sakit, chagiya.” Ucap Sehun pada Hayoung yang bisa di dengar Sera. “Ra-ya, kau tidak usah naik taksi. Oppa akan minta tolong sahabat oppa untuk menjemputmu. Kabari saja oppa, ne” seolah mengerti maksud Sehun, Hayoung meminta Sehun melepaskan tangannya yang menutup mulutnya.

“tidak usah, oppa. Jangan merepotkan temanmu.” Tolak Sera halus atas ide Sehun.

“tidak ada penolakan Sera ! hubungi oppa terus, sampai kau masuk ke pesawat, ne” Perintah Sehun.

Seolah tau Sera ingin menjawab perkataannya, Sehun mendahuluinya. “Jangan membantah, Lu Sera! Ya sudah, oppa harus menyuapi Hayoung dulu, Sera. Lihat, ia bahkan tidak mau makan, kalau kau menolak dijemput” bohong Sehun, yang membuat Hayoung senang mendengar ancaman untuk Sera.

“haah..arra arra, aku tidak membantah. Dan kau, Youngie !! makan lah, kalau kau sakit aku tidak mau bertemu denganmu. Dan ingat, jangan beritahu siapapun aku akan ke Korea oppa, Youngie.” jawab Sera pasrah dilanjutkan kalimat ancamannya untuk Hayoung. Andai kau tau Sera, Hayoung bahkan kini, sedang melompat kegirangan mendengar kau kembali ke Korea dan tidak menolak permintan Sehun.

“arraseo..aku akan makan Sera, tenang saja. Yasudah kami tutup dulu, ne. Hubungi kami, kalau sudah tau naik penerbangan pukul berapa, ne. Annyeong” PIP sambungan terputus secara sepihak yang dilakukan Hayoung.

“ya!! Ya!! Kau seenaknya sekali, Youngie !!” Sera yang kesal menggerutu tak jelas menatap ponselnya. Supir taksi yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala terkekeh.

Sera yang kesal, berbanding terbalik dengan si pelaku pembuat Sera kesal –Hayoung. Setelah sambungan terputus, selanjutnya Hayoung langsung menghambur kedalam pelukan Sehun, dan Sehun membalas pelukan Hayoung sambil mengusap sayang kepala kekasihnya. Entahlah, Hayoung sangat senang mendengar sahabatnya itu kembali ke Korea. Bukan hanya karena bisa selalu bertemu dengan Sera, tapi juga karena bisa memulai rencananya bersama sang kekasih –Sehun.

“kau senang, chagi ?” Tanya Sehun yang melihat perubahan mood Hayoung kembali ceria.

Hayoung mengangguk dalam pelukan Sehun. “sangat, oppa. Aku sangat senang. Gomawo, oppa” jawab Hayoung yang semakin mengeratkan pelukannya.

“sudah kewajibanku membuat kekasih dan adikku bahagia, Youngie. Tapi-“ Sehun menggantungkan kalimatnya dan merenggangkan pelukannya. Hayoung yang tidak mengerti, mengerutkan dahinya. “kau harus makan, Youngie. Sera pasti benar-benar tidak ingin bertemu denganmu, kalau kau sakit.” Lanjutnya.

“tapi aku tidak lapar, oppa. Lagipula, lihatlah aku sudah sehat sekarang.”

Sehun tak habis akal, ia ingat dengan cake kesukaan Hayoung yang pasti tidak akan ditolaknya.

“arraseo, kalau kau tidak mau makan. Cake ini untukku saja, kau tidak mau, kan ?”

Hayoung yang melihat Cake kesukaannya, menatap cake itu dengan mata berbinar dan sulit menelan salivanya. Sehun yang melihat reaksi Hayoung, mulai memotong cake, tapi terhenti karena rengekan Hayoung.

“itu kan untukku, kenapa oppa yang memakannya ? berikan padaku !!”

“shirreo !! kalau kau mau cake ini, makan dulu, ne ?” bujuk Sehun.

“aku tidak lapar, oppa. Ppalli, berikan cake itu, oppa !!!” Hayoung kembali merengek sambil mencoba menggapai cake.

“kau bilang kau tidak lapar, kenapa mau makan cake tapi tidak mau makan bubur, eoh ? pilihannya hanya itu, kau mau cake ini tapi makan bubur, atau cake ini aku sendiri yang menghabiskannya.” Ancam Sehun.

“arra..arra. aku mau makan bubur itu, tapi sedikit saja, ne” Hayoung tidak bisa membiarkan Sehun menghabiskan cake itu sendiri.

“anak pintar.” Senyum Sehun puas karena berhasil membujuk Hayoung makan. “mau oppa suapi ?” tawar Sehun.

Hayoung tidak menjawab hanya mengangguk malu. Sehun yang melihatnya, tidak tahan untuk mencium kening Hayoung.

CHU~

“aigoo..kau manis sekali, chagiya.”

“cepat suapi aku atau aku berubah pikiran, oppa” ujar Hayoung yang sebenarnya tersipu malu karena perlakuan Sehun. Selanjutnya Sehun mulai menyuapi Hayoung.

***

Lu’s Apartment, Beijing.

Jam sudah menunjukan pukul 9 malam, tapi Sera belum juga pulang. Lu Han dan Cheonsa yang pulang pukul 7 malam, mendapati apartemen mereka masih gelap dan sepi. Cheonsa melihat kamar Sera dan keadaan masih seperti biasa. Mereka pikir, Sera masih diluar dan mungkin akan pulang sebentar lagi. Tapi ini sudah cukup larut untuk seorang Lu Sera, ia bukan gadis yang akan pergi diatas jam 8 malam. Bahkan, jika ia akan pulang larut pasti masih dalam pengawasan Kris. Catat Kris, bukan Lu Han.

Cheonsa yang cemas, tidak henti-hentinya mondar-mandir sambil mencoba menghubungi orang-orang atau tempat-tempat yang mungkin didatangi Sera. Sedangkan, Lu Han yang duduk di sofa masih fokus dengan ponselnya.

Orang yang pertama dihubungi Cheonsa adalah Kris. Kris yang mendengar Sera tidak ada di apartemen, bingung. Karena ia masih ingat, mengantarkan Sera pukul 4 sore tadi, dan Sera bilang Cheonsa dan Lu Han ada di apartemen. Tapi, Kris tidak mengatakan itu pada Cheonsa. Ia yakin, Sera pasti berencana pergi tanpa sepengetahuannya, Lu Han, Cheonsa, dan Becca. Kris yakin alasan Sera, adalah Lu Han. Kali ini Kris, benar-benar geram dengan Lu Han dan akan memberi pelajaran pada Lu Han.

Cheonsa juga menghubungi Sehun, tapi adiknya itu juga menjawab tidak tau. Sehun benar menuruti kemauan Sera untuk tidak memberitahu siapapun. Cheonsa benar-benar dibuat khawatir oleh Sera. Lu Han yang melihat istrinya masih mondar-mandir dan berkutat dengan ponselnya untuk menanyakan keberadaan Sera, mencoba menenangkan.

“tenanglah, chagiya. Aku yakin Sera baik-baik saja. Duduklah, apa kau tidak lelah terus berjalan mondar-mandir ?” ucap Lu Han dengan tenang.

“kau bilang apa ? tenang ? baik-baik saja?” Cheonsa tidak habis pikir Lu Han memintanya untuk tenang. Cheonsa mendecak kesal. “Tsk, aku benar-benar menyesal mengikuti pemikiran Sera selama ini, yang mengatakan kau adalah pria baik hati, bertanggung jawab, dan bisa dikatakan sempurna.”

“m-mwo ? apa yang k-“ ucap Lu Han terpotong.

“bahkan aku menyesal menikah denganmu, Lu !!” nada suara Cheonsa mulai meninggi.

“Cheonsa, kumohon ja-“

“kau bahkan tidak pernah peduli padanya, Lu. Hikss..” Cheonsa kembali terisak. “harus bagaimana lagi untuk bisa membuatmu sadar, Lu. Sera selalu menomor satukan dirimu. Kau mungkin tidak sadar, setiap pagi hari, aku yang menyapanya, tapi yang dia sebut lebih dulu namamu. Hikss..dia masih bisa terima jika baba jarang memperhatikannya, karena Sehun yang mencoba membuatnya mengerti. Tapi, Sera hanya ingin kau memperhatikannya. Sera hanya bisa bergantung padamu, Lu. Hikss..” jelas Cheonsa yang semakin terisak bersamaan dengan kata-kata yang keluar dari bibirnya. Lu Han tidak bisa berkata-kata dan hanya bisa mematung.

Cheonsa sudah lelah dengan tingkah suaminya, kali ini ia harus lebih tegas pada Lu Han. Ia menghapus air matanya dengan kasar dan kini matanya menatap Lu Han dengan tatapan tajam.

“sudah kukatakan berkali-kali dan aku tidak pernah bosan mengatakan ini, bahkan aku berharap ini benar-benar terjadi.” Cheonsa membalikkan tubuhnya untuk melangkah ke kamar Sera. Tapi belum sampai ia membuka pintu kamar Sera, ia menghentikan langkahnya tanpa mambalik tubuhnya. “kau akan menyesal menyia-nyiakan Sera, Lu.”

Setelah mengatakan itu, Cheonsa langsung masuk kedalam kamar Sera. Sedangkan Lu Han, tidak seperti biasanya. Kali ini, Lu Han seperti terjebak di suatu ruang hampa dan hanya ia didalamnya. Kali ini Lu Han benar-benar khawatir jika ia menyesal atas perbuatannya. Lu Han tidak ingin kehilangan malaikatnya. Tapi sekali lagi, ia kembali menjadi Lu Han yang mencoba tenang.

“aku tidak akan menyesal, aku sudah siap dengan apapun yang terjadi nanti.” Gumam Lu Han sangat pelan.

Cheonsa yang ada didalam kamar Sera, menatap nanar pada ranjang Sera. Diatas ranjang itu ia melihat boneka Teddy milik Sera. Bukan. Itu boneka eomma Sera yang ia berikan untuk gadis kecilnya. Cheonsa melangkah menuju ranjang Sera. Cheonsa ingat, baru semalam ia menemani Sera tidur, tapi kini Sera belum juga pulang.

Cheonsa memeluk boneka itu, seolah ia bisa memeluk Sera. Sera selalu memeluk boneka itu ketika tidur. Dan seolah memang hanya untuknya, boneka itu tidak pernah terlepas darinya sampai Sera terbangun dari tidur. Dengan berderai air mata Cheonsa terus memeluk boneka itu, ia benar-benar merindukan Sera. Cheonsa beralih menuju meja belajar Sera, masih sambil memeluk boneka itu. Diatas meja itu terdapat album foto berwarna merah –warna kesukaan Sera.

Cheonsa membuka setiap halaman yang menampilkan fotonya, Sera, Lu Han, Sehun, dan Hayoung sejak kecil sampai sekarang. Di halaman terakhir, hanya ada 1 foto berukuran yang lebih besar dari foto yang lain. Foto Sera dan Lu Han, dengan Sera yang memeluk Lu Han dari samping dan senyum yang menunjukan eye smilenya, dan Lu Han dengan wajah datarnya. Dibawah foto itu Sera menempelkan kertas dengan tulisan “first time, we take a photo together. please give me your smile, ge. Sera sayang Lu-ge.” Sera semakin sedih melihat tulisan itu.

Ya, Lu Han tidak pernah mau jika difoto berdua dengan Sera, jika bersama-sama mungkin ia masih mau. Sera tidak pernah memaksa Lu Han, tidak apa jika bersama-sama tapi Sera pasti akan memilih berfoto disamping Lu Han. Foto itu diambil karena Cheonsa yang memaksa Lu Han, bahkan Cheonsa sampai harus merajuk sampai akhirnya Lu Han mau menurut.

Kini fokus Cheonsa beralih pada bingkai foto yang ada di meja belajar Sera. Ada 5 bingkai foto tersusun rapih. Empat diantaranya berukuran kecil, dan yang satu berukuran sedang. Bingkai paling kanan terdapat foto Cheonsa, Lu Han, Sera, Sehun, dan hayoung yang sedang merayakan ulangtahun Sera. Bingkai disampingnya, terdapat foto Lu Han, Sera dan baba mereka –Lu Jinsu. Bingkai paling kiri, terdapat foto Lu Han, Sera, dan Cheonsa saat pernikahan mereka setahun yang lalu. Disamping kanan bingkai, terdapat foto Lu Han dan Sera yang ada didalam album foto tadi. Dan Bingkai yang ada ditengah berukuran sedang atau lebih besar dari yang lainnya, terdapat foto Lu Han sendiri sedang tersenyum.

Bisa terbayangkan seberapa berharganya Lu Han untuk Sera ? jawabannya, sangat berharga dan tidak ternilai dimata Sera. Bahkan Sera tidak memajang fotonya sendiri di dalam kamarnya, setiap foto di bingkai itu selalu ada Lu Han.

Cheonsa semakin menangis saat matanya menangkap bayangan ponsel Sera, yang ternyata tidak dibawanya. Melihat wallpaper ponsel Sera, lagi-lagi Cheonsa merasa sesak. Wallpaper ponsel Sera foto Lu Han yang sedang tertawa, Cheonsa menebak foto ini diambil secara diam-diam. Apa Sera benar-benar tidak pernah melihat Lu Han tertawa saat bersamanya ? jawabannya lagi- lagi, Ya.

Cheonsa beranjak ke arah lemari Sera, mencoba memastikan apa yang tiba-tiba saja mengusik hatinya. Saat membuka lemari Sera, seolah lumpuh, Cheonsa jatuh terduduk. Lemari Sera berantakan dengan pakaian yang sepertinya diambil kasar.

Lu Han yang mendengar seperti ada sesuatu yang jatuh, bergegas masuk ke kamar Sera untuk pertama kalinya. Catat, pertama kalinya. Betapa terkejutnya Lu Han melihat Cheonsa yang menangis terduduk sambil memeluk boneka dan memegang ponsel Sera ditangan kirinya.

“Cheonsa ? ada apa, chagiya ?” Tanya Lu Han panik.

Cheonsa menatap tajam pada Lu Han, selanjutnya..

PLAKK

Cheonsa dengan tangan kanannya yang bebas menampar pipi mulus Lu Han cukup keras, sampai sudut bibir Lu Han mengeluarkan darah.

“kau puas sekarang ?! puas ?! kau benar-benar membuatku kecewa, Lu !!” teriak Cheonsa

Lu Han tidak menjawab, tapi ia memeluk Cheonsa sangat erat dan tidak berniat melepaskannya. Cheonsa terus meronta dalam pelukan Lu Han. Tapi, ia sudah lelah sampai akhirnya Cheonsa tak sadarkan diri. Lu Han membawa tubuh lemah istrinya ke ranjang Sera. Menutup tubuh istrinya dengan selimut sampai sebatas dagu, dan memberikan kecupan hangat di kening istrinya sebelum ia kembali ke kamarnya. Merasa istrinya sudah damai di alam mimpi, Lu Han mulai beranjak. Lu Han menghentikan langkahnya.

Lu Han melihat lemari Sera yang berantakan. Lu Han menutup pintu lemari Sera, dan melanjutkan langkahnya untuk keluar. Kali ini langkahnya terhenti karena meja belajar Sera yang ada dekat pintu keluar. Lu Han melakukan sama persis dengan yang dilakukan Cheonsa tadi. Pandangannya mulai mengabur karena cairan bening yang siap keluar dari mata rusanya. Tapi, saat melihat halaman terakhir album foto Sera, tidak terduga Lu Han mengambil foto itu dan keluar dari kamar Sera bergegas ke kamarnya. Didalam kamarnya Lu Han, berteriak frustasi mengingat semua sikapnya selama ini pada adiknya, malaikatnya, Sera. Air mata itu keluar dengan mulusnya dari mata Lu Han. Lu Han menatap kosong pada foto yang diambilnya tadi, ia mengingat tulisan yang ada di foto itu.

‘maafkan Lu-ge, Ra-ya. Andai Lu-ge bisa menunjukan senyuman itu tiap kali dihadapanmu, akan Lu-ge berikan. Ijinkan Lu-ge mendapatkan balasan atas semua ini, Sera. Sera harus bahagia tanpa Lu-ge’ batin Lu Han yang membawa foto itu dalam dekapannya.

***

Kai memasuki apartemennya, dan menghempaskan tubuhnya ke sofa di ruang TV. Hari ini ia sangat lelah. Memang apa yang dikerjakan Kai ? Kai memang tidak bekerja di perusahaan milik keluarganya, tapi ia lelah karena harus menggantikan pekerjaan kakak iparnya sebagai owner Café selama ia pergi liburan. Baru saja ia ingin memejamkan matanya, suara ponsel mengganggunya dan memaksanya kembali bangun. Tanpa melihat siapa yang meneleponnya, Kai langsung menekan tombol hijau.

“yeobseyo” suara dari seberang

PIP

Mendengar suara itu, Kai langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak. Ia baru akan menutup matanya lagi, tapi lagi-lagi ponselnya berbunyi. Terpaksa Kai kembali menjawab.

“YA!! Kau ini kenapa tidak sopan sekali, eoh ? langsung mematikan begitu saja, tsk” sungut si penelepon tadi –Sehun.

“aku lelah, Hun” jawab kai malas.

“tidak ada alasan, Kai. Besok pagi, kau jemput adikku di bandara.”

“kenapa tidak kau saja. Lagipula sejak kapan kau punya adik ? Cheonsa noona saja tidak mau punya adik sepertimu.”

“YA!! Aku punya adik !! tidak ada penolakan Kai, kau ingat janjimu ? kau masih laki-laki, kan ? jadi penuhi janjimu !!”

“kenapa kau suka sekali memaksa, eoh ? shirreo !!”

“baiklah kalau tidak mau. Aku akan melaporkan pada cheonsa noona, apa saja yang terjadi padamu selama ia tidak ada.” BINGO ! Sehun tau kelemahan Kai yang sangat menghormati kakaknya -Cheonsa.

“YA!! Dasar bayi tukang lapor !! arra..arra aku akan menjemput adikmu besok. Beritahu aku seperti apa orangnya dan kedatangan pukul berapa. Aku lelah, kututup teleponnya !!” PIP. Jawab Kai kesal karena kebiasaan sahabatnya selalu mengancamnya karena tau kelemahannya, yang takut pada Cheonsa. Selanjutnya Kai melangkah menuju kamarnya dan mengistirahatkan tubuhnya yang lelah seharian ini.

Sedangkan Sehun, ia masih tersenyum atau lebih tepatnya menyeringai.

“Tuhan ijinkan aku membuat mereka bahagia.” Sehun bergumam sambil menatap kosong langit Seoul malam itu.

***

“Kai !! Ppali, Ireona!!” Teriakan di pagi hari dari seorang Oh Sehun.

Pagi-pagi sekali, Sehun sudah melesat masuk kedalam apartemen Kai. Laki-laki itu –Kai- masih tetap tidak bergeming. Sebenarnya Sehun sudah membangunkan Kai, dengan meneleponnya sejak pukul 6 pagi. Tapi tidak ada jawaban sama sekali yang ia dapat. Sehun melupakan sesuatu tentang sahabatnya itu. ‘KAI TIDAK BISA BANGUN PAGI DAN SANGAT SULIT UNTUK DIBANGUNKAN.’ Itulah yang Sehun lupakan dari seorang laki-laki yang seumuran dengannya -21 tahun-, berkulit tan, dengan garis wajah yang tegas, yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.

Tapi ini benar-benar membuatnya kesal. Bagaimana tidak, Sehun diberitahu Sera kalau ia ikut penerbangan pertama pagi ini, dan akan sampai pukul 8 pagi. Tapi lihatlah, jam dinding sudah menunjukan pukul 7.30 pagi, dan yang menjemputnya masih terlelap diatas kasur empuknya. Mungkin jika Kai saat ini baru terbangun, tidak mustahil bagi seorang Kai, bisa sampai di bandara Incheon hanya dalam waktu singkat. Dan Sera hanya akan menunggu sebentar. Tapi, tidak. Sehun tidak akan membiarkan Sera menunggu walau hanya sebentar.

“Kai !! bangunlah !!! jangan sampai membuat adikku menunggu !!” perintah Sehun.

Kai hanya melenguh pelan, ia benar-benar masih bisa merasakan seluruh tubuhnya sakit karena kelelahan. “sebentar lagi, Hun. Aku masih mengantuk, 5 menit lagi, ne” Kai kembali membenamkan wajahnya dibawah bantal.

Sehun sudah benar-benar kesal, terpaksa melakukan serangan telak untuk Kai. Ia pura-pura membuat ponselnya seakan-akan ada panggilan masuk.

“yeobseyo ? eoh, noona ? haah..kebetulan sekali noona menghubungiku pagi ini. Kau tau noona, aku ingin memberitahukan sesuatu tentang Kai. Selama ini se-“ kalimat Sehun terpotong karena Kai terbangun duduk dan langsung merebut ponselnya.

“noona, tidak noona. Jangan percaya pada Sehun, dia ber-“ kali ini kalimat kai yang terpotong. Bukan karena Sehun merebut ponsel. Tapi, ia baru sadar tidak ada suara apapun diseberang sana.

“ya!! Kau menipuku !! aisshhh jinjja !! kenapa kau menyebalkan sekali, eoh ? tidak bisakah kau menunggu sebentar saja.” ujar kai kesal karena merasa dibodohi Sehun.

“tidak.” Jawab Sehun singkat.

“arraseo, aku bangun. Sekarang kau bisa pergi. Kalau kau masih disini, aku tidak akan mau menjemput adikmu.” Kai mulai beranjak dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi dikamarnya.

“tidak akan”

“kalau begitu aku tidak akan menjemput adik-“

“dan lebih memilih, aku mengadukanmu pada noona. Cepatlah bersiap, setelah itu aku akan memberitahu seperti apa adikku” ancam Sehun dengan senyum kemenangannya.

“arra..arra !! jinjja, kau ini hanya bisa menggunakan noonamu untuk mengalahkanku” sungut Kai kesal sambil menutup pintu kamar mandi. Dan Sehun, ia memilih keluar dari kamar Kai dan menunggu di meja makan.

Tidak butuh waktu lama menunggu Kai bersiap, 15 menit waktu yang cukupnya untuk bersiap. Kai memilih menggunakan kaos hitam polos dibalut dengan kemeja kotak-kotak biru yang sengaja tidak ia kancingkan, sepatu kets, dan snapback. Dan Kai memilih celana pendek dibawah lutut. Kai terlalu malas untuk berpakain lebih rapih. Lagipula, mulai hari ini ia tidak akan menggantikan kakak iparnya lagi di Café. Karena kakak iparnya juga akan pulang hari ini.

Kai bergegas keluar kamar, dan melihat Sehun di meja makan sedang focus pada ponselnya. Kai berjalan menghampiri Sehun, dan Sehun yang merasakan kai mulai menghampirinya menatap sebentar ke arah Kai, lalu kembali focus pada ponselnya. Tapi tunggu ? Sehun kembali menatap Kai dari atas sampai bawah.

“ya!! Kenapa penampilanmu seperti itu ? ganti !!” Sehun kesal dengan penampilan Kai yang menurutnya seperti orang yang justru ingin kepantai, bukan ke bandara.

“kau mau aku mengganti pakaianku dan membuat adikmu menunggu lebih lama ?” jawab Kai setelah duduk di kursi yang ada disamping Sehun.

“tapi, tidak seperti ini juga, Kai !! bagaimana nanti kalau adikku yang cantik seperti malaikat itu jalan beriringan denganmu yang seperti ini ? orang-orang di bandara pasti mengira kau adalah supirnya Kai. Aissh jinjja, aku bisa gila !!!” erang Sehun frustasi.

“ya!! Apa kau bilang ? supir ? mana mungkin ada supir setampan diriku, Hun. Dan apa tadi kau bilang ? adikmu cantik seperti malaikat ? dulu kau juga mengatakan seperti itu tentang Cheonsa noona, tapi ternyata dia lebih mirip singa yang berparas cantik. Kalau kau masih mau aku menjemput adikmu, jangan banyak komentar tentang penampilanku.”

“hhhh..” Sehun menghembuskan nafasnya kasar. “baiklah. Tapi kali ini aku sungguh-sungguh, adikku lebih pantas disebut malaikat dari pada seorang manusia, Kai.” Ujar Sehun sambil menatap Kai serius.

“kenapa kau malah membanggakan adikmu itu. Sekarang beritahu padaku seperti apa adikmu yang kau bilang seperti malaikat itu jadulu kau juga mengatakan seperti itu tentang Cheonsa noona, tapi ternyata” kesal Kai

Sehun memberikan ponselnya pada Kai. Kai mengambilnya malas, selanjutnya ia melihat apa yang ada di ponsel itu.

DEG

Di ponsel itu, menampilkan foto Sera sedang tersenyum manis. Entah apa yang Kai rasakan. Saat melihat senyum Sera, Kai merasa tubuhnya kaku, dan seperti ada sengatan listrik disekujur tubuhnya. ‘senyum itu..Yujin’ batin Kai yang masih menatap foto Sera.

“Namanya Lu Sera. Dia bagai malaikat bagi orang-orang yang menyayanginya. Dan aku juga berharap, Sera juga bisa menjadi malaikat untukmu, Kai.” Jelas Sehun yang juga ikut menatap foto Sera.

“…” tidak ada jawaban. Tapi kini, Kai menatap Sehun. Sedangkan Sehun tidak membalas tatapan Kai dan masih menatap foto Sera dengan tatapan sendu.

“tolong jemput dan jaga Sera, Kai” kalimat yang penuh makna, namun hanya Sehun yang mengerti apa arti yang baru saja ia katakan. Sehun mengambil ponselnya yang masih digenggam Kai, dan beranjak untuk kembali kerumahnya.

“dan buat adikku itu bahagia.” lanjut Sehun sambil menepuk pundak Kai, memberi semangat. Selanjutnya Sehun mulai melangkah keluar apartemen Kai dengan senyum bahagia mengembang di wajahnya.

Kai yang awalnya masih mematung, seakan sadar apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia melihat jam dinding yang menunjukan pukul 7.50 pagi. Ia langsung mengambil kasar kunci mobilnya dan bergegas berjalan keluar dari apartemennya dan menuju bandara.

“senyum itu..aisshh..jinjja!! senyuman itu sama dengan senyuman Yujin.” Gumam Kai gusar saat sudah di dalam mobil. Selanjutnya ia mulai membawa mobilnya membelah kota Seoul pagi itu yang tidak terlalu ramai, menuju bandara Incheon.

***

Incheon Airport, South Korean.

Sera POV

Aku perlahan membuka mataku, saat kurasakan cahaya matahari pagi Seoul mengusik tidurku. Ya, aku tertidur di Coffee Shop bandara Incheon. Sebenarnya aku berbohong pada Sehun oppa, soal aku naik penerbangan pagi menuju Korea. Aku sampai di Korea sejak pukul 4 pagi tadi, karena penerbangan pertama dari Beijing menuju Seoul hari ini, pukul 2 pagi. Jadi, aku tidak ingin merepotkan Sehun oppa dan sahabatnya untuk menjemputku di jam-jam saat orang-orang masih terlelap, lebih baik aku berbohong kalau aku naik penerbangan pukul 6 pagi. Mian, oppa. Sera bebrbohong padamu.

Dan bagaimana bisa aku tidur di Coffee Shop? Itu karena salah satu pegawainya mengenaliku. Saat aku membeli kopi, ia mengijinkanku untuk tidur disini. Awalnya aku sudah memilih ruang tunggu, untuk tempatku menunggu sampai pagi dan mungkin aku bisa menyempatkan merenggangkan tubuhku karena 2 jam lebih di pesawat. Tapi pegawai itu memaksa dengan alasan sebagai bentuk tanda terima kasih karena mau foto bersamanya. Sungguh, aku tidak begitu suka jika orang terlalu memuji atau bahkan menjadikanku idola mereka. Menurutku, itu berlebihan. Aku tidak suka sesuatu yang berlebihan.

Setelah mengumpulkan kesadaranku dan kulirik jam tangan yang melingkar di tangan kiriku, 8 pagi. Haaah sebaiknya aku pergi dari sini, karena pasti sebentar lagi tempat ini akan ramai pengunjung. Sebelum pergi, aku menyempatkan berterima kasih pada pegawai itu. Lalu, aku berniat untuk ke toilet sekedar menyegarkan wajahku.

Sera POV end

***

Sera berjalan menuju toilet sambil mengetikkan sesuatu di ponselnya. Mungkin, ia mengirimkan pesan pada Sehun kalau ia sudah sampai di Korea. Tapi, karena terlalu fokus pada ponselnya Sera tidak melihat jalan di depannya. Sampai akhirnya..

DUG

Sera menabrak seseorang sampai orang itu terjatuh kelantai, sedangkan Sera yang sedikit kaget, sehingga ia melangkah mundur sedikit. Merasa bersalah, Sera mencoba membantu yang baru saja ditabraknya berdiri.

“neo-?” ucap Sera

TBC

54 responses to “[Freelance] You’re My Eufrosine (Chapter 03)

  1. Pingback: YOU’RE MY EUFROSINE (CHAPTER 17) – JONGSESA | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s