[Freelance] Je T’aime (Chapter 4) – @real__imaa

Je T'aime

Title : Je T’aime | Chapter 4

Author/twitter : noonapark (Twitter @real__imaa)

Cast : Park Chanyeol and YOU/OC

Genre : Romance, Hurt

Rating : PG 19

Length : Chaptered

Disclaimer : This story is mine. Also posted Here.

 

***

 

Pintu kamar mandi dibuka, disusul sosok Eun Soo yang kemudian muncul dari dalam sana, mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil sembari berjalan menuju tempat tidur. Gadis itu baru saja duduk di tepi tempat tidur ketika terdengar suara pintu kamar di ketuk.

“Nona? Kau sudah tidur?”

Eun Soo menoleh, menghentikan pergerakan tangannya, bangkit kemudian berjalan menuju pintu lalu membukanya.

“Bibi? Ada apa?”tanya Eun Soo kemudian.

Wanita paruh baya itu tidak langsung menjawab, melainkan menyodorkan sebuah ponsel di hadapan Eun Soo sebelum akhirnya berucap. “Ini, tadi ada orang yang menitipkan ini pada penjaga di depan. Dia bilang ini milik Nona.”

Eun Soo mengerjap pelan, lalu menatap ponsel—miliknya—yang saat ini berada di tangan Bibi Lee.

“Chanyeol.”

Gumaman Eun Soo terdengar terlalu pelan, membuat Bibi Lee menautkan kedua alisnya kemudian bertanya. “Siapa?”

Gadis itu langsung membalas tatapan Bibi Lee disertai senyuman yang terkesan dipaksakan. “Ah, bukan. Bukan siapa-siapa.”lalu mengambil ponsel dari tangan Bibi Lee. “Terima kasih Bibi.”dan masuk.

Helaan napas cukup panjang terdengar dari Eun Soo ketika Ia duduk bersila di atas kasur, menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang sembari menatap ponsel di tangannya lekat-lekat.

Selama beberapa saat, Eun Soo hanya menatap ponsel itu dalam diam. Ia baru saja akan meletakkan ponselnya ke meja nakas ketika tiba-tiba sebuah pesan LINE masuk.

“Kau sudah tidur?”

Terdapat tulisan seperti itu di sebelah foto seorang pria yang terlihat di ambil dari sisi samping. Tapi cukup mudah bagi Eun Soo untuk menebak bahwa pria itu adalah Chanyeol.

Lantas Eun Soo kembali mendekatkan ponsel itu ke hadapannya. Dan mengetik sebuah pesan di sana.

“Bukan urusanmu.”

Eun Soo sedikit menggigit bibir bawahnya setelah mengirim pesan itu. Menunjukkan wajah tanpa ekspresi meskipun dalam hati terkesan tidak sabaran untuk menanti balasan dari Chanyeol. Dan ternyata tidak butuh waktu lama untuk menunggu karena beberapa detik setelah itu, Chanyeol membalas pesannya.

“Kau menjadi dingin lagi setelah aku menciummu. Kau marah padaku?”

Eun Soo mendengus pelan, lalu maniknya kini fokus pada pesan susulan yang Chanyeol kirimkan selanjutnya.

“Kenapa kau kabur setelah aku menciummu, huh? Kau gugup? Apa ini pertama kalinya untukmu? Aku melihat tanganmu gemetaran tadi.”

Eun Soo tidak mungkin jujur bahwa itu adalah benar ciuman pertamanya. Ciuman pertamanya yang Chanyeol ambil secara paksa dan Eun Soo merutuki itu.

“Kau seharusnya bersyukur saat kau kabur, ada sebuah taxi yang lewat. Jika tidak…”

Kedua alis Eun Soo bertaut setelah membaca pesan Chanyeol berikutnya. Menunggu sambungan dari kalimat Chanyeol yang terkesan menggantung, namun setelah lewat dari sepuluh detik pria itu tak kunjung menyambungnya, membuat Eun Soo akhirnya membalas.

“Jika tidak? Apa kau akan mencelakaiku? Menculikku? Atau bahkan membunuhku?”

“Jangan berlebihan.”balas Chanyeol.

Eun Soo mendengus kesal, mengetik balasan dengan nada kesal pula.

“Apa kau selalu seperti itu pada setiap wanita yang kau temui?”

Chanyeol membalas. “Tidak juga, hanya padamu. Oh, kau pasti tidak percaya bukan? Dan lagi, setidaknya kau membalas perkataanku terlebih dahulu sebelum pergi.”

Eun Soo tentu saja paham apa maksud dari isi pesan Chanyeol. Gadis itu hanya menelan samar saliva-nya sebelum membalas. “Perkataan apa maksudmu?”

“Kau lupa?”balas Chanyeol cepat. “Besok! Besok aku akan menemui dan kita harus bicara!”

Eun Soo mendesis setelah membaca pesan Chanyeol yang terkesan menuntut.

“Apa kau orang yang suka memaksa? Aku tidak suka dipaksa. Jangan temui aku lagi dan… kau pikir aku anak remaja belasan tahun yang senang di ajak berkomunikasi dengan cara seperti ini?!”

Sesuai isi pesannya, Eun Soo benar-benar menatap layar ponselnya dengan tatapan kesal. Semakin kesal ketika Chanyeol kemudian membalas.

“Kau tidak suka? Lalu kenapa kau terkesan semangat—dan cepat membalas pesanku?”

Eun Soo mengerjap pelan. “Kau..”lalu meletakkan asal ponsel itu di sisi tubuh, segera berbaring dan menutupkan selimut hingga bagian dadanya.

Sebuah pesan kembali masuk beberapa detik setelah itu. Eun Soo mencoba menahan untuk tidak mengambilnya tapi… perlahan satu tangannya mendekat pada ponsel, mengambil lalu mendekatkannya di hadapan wajah.

“Cepat tidur karena besok kita akan bertemu. Dan ingat, aku tidak suka penolakan.”

Eun Soo mendesis. “Kau benar-benar harus dipenjarakan Park Chanyeol.”

Meletakkan ponsel itu di sisi tubuhnya, Eun Soo kemudian tidur terlentang disertai helaan napas yang terdengar berat, menatap lagit-langit kamar dalam diam, membiarkan beberapa bayangan Chanyeol berputar-putar dalam kepalanya.

Hingga kemudian kejadian beberapa jam yang lalu—saat Chanyeol menciumnya—turut tergambar di dalam kepala Eun Soo. Gadis itu mengerjap cepat, mencengkram erat ujung selimutnya kemudian bergumam. “Kenapa itu…”bibir Chanyeol bahkan masih terasa lembut dan hangat di bibirnya. “Ya! Kenapa aku…”juga ketika Chanyeol menutup mata tepat di hadapannya, mengelus dan memeluk tubuhnya erat-erat.

Eun Soo cepat-cepat menutup mata tapi wajah Chanyeol justru seolah melekat di balik kelopak matanya.

“Apa aku sudah gila?”gumam Eun Soo, membuka mata kembali lalu memiringkan tubuh.

Eun Soo mengambil guling dan memeluknya erat-erat. Memaksa keras matanya untuk terpejam. Dan kali ini bukan sekedar bayangan Chanyeol yang ada di dalam kepalanya, Eun Soo bahkan seperti mendengar Chanyeol berbisik tepat di telinganya.

“Aku mencintaimu.”

***

Jongin berdiri di hadapan meja pantry, hanya mengenakan celana tidur sembari sesekali menguap sementara kedua tangannya tengah sibuk mengolesi salah satu sisi roti dengan selai stroberi. Setelah selesai, Jongin kemudian menggigit ujung roti itu, membiarkannya tetap berada di mulut ketika kedua tangannya sibuk memilih-milih botol minuman di dalam kulkas.

“Di mana Sehun?”

Jongin tidak menoleh meskipun suara Chanyeol terdengar mendekatinya. Ia masih sibuk memilih minuman saat menjawab. “Tidur di luar.”dengan gumaman tidak jelas. Setelah mengambil sebotol cola dan menutup pintu kulkas dengan kakinya, Jongin berbalik. “Semalam ke mana saja kau—“Jongin tidak melanjutkan kalimatnya karena tiba-tiba roti itu jatuh begitu saja dari mulutnya.

Bukan. Bukan karena gigi-gigi Jongin tidak mampu lagi menahan roti itu, tapi karena Jongin terlalu terkejut dengan sosok Chanyeol di hadapannya saat ini.

“Chanyeol.”Jongin bergumam pelan, memperhatikan ujung kaki sampi ujung kepala Chanyeol dengan mata seolah tak berkedip. “Kau.. akan ke mana?”

Chanyeol hanya mendengus. “Katakan pada Sehun aku masih meminjam motornya.”ujarnya, lalu berbalik. “Aku pergi.”

Jongin hanya memperhatikan jejak kepergian Chanyeol dalam diam. Merasakan betapa anehnya Chanyeol hari ini.

Ya, ada yang aneh dengan pria itu.

Di mata Jongin Chanyeol terlihat seperti bukan Chanyeol di hari-hari sebelumnya. Di mana Chanyeol yang selalu memakai celana jeans dengan koyak di beberapa bagiannya, menganakan kaos dan hanya melapisinya dengan jaket berwarna gelap. Tapi hari ini tidak. Chanyeol terlihat mengenakan celana jeans tanpa koyak sedikitpun, mengenakan sneakers yang terlihat masih baru, tubuhnya dibalut kemeja berwarna biru lembut bahkan.. rambut Chanyeol terlihat lebih rapi dari hari-hari sebelumnya.

“Apa Chanyeol baik-baik saja?”

.

.

.

.

.

Kenyataan tidak berjalan mulus seperti yang Chanyeol pikirkan.

Ia sudah datang satu jam lebih awal dari biasanya ke rumah Eun Soo. Menunggu hingga beberapa jam namun gadis itu tidak juga menampakkan sosoknya. Chanyeol sudah mengunjungi panti asuhan namun penjaga panti mengatakan bahwa Eun Soo tidak berkunjung hari ini.

Dan penantian Chanyeol berakhir di sini. Di tempat les piano gadis itu.

Berdiri dengan gelisah di sisi motor sembari menatap ke arah jendela, namun bukan Eun Soo yang Chanyeol lihat, tapi gadis lain yang juga bermain piano di sana. Chanyeol sudah berulang kali mencoba menghubungi ponsel gadis itu tapi tidak pernah tersambung, Eun Soo seperti sengaja mematikan ponselnya hari ini.

Berbekal keyakinan tujuhpuluh lima persen dari seratus persen yang Chanyeol miliki, Ia memutuskan untuk tetap menunggu di depan tempat les. Duduk bersandar di atas motor sampai langit senja menyambut, bersamaan dengan berakhirnya les piano disusul para murid yang kemudian keluar satu-persatu dari tempat itu.

Chanyeol langsung berdiri tegak, maniknya sibuk memperhatikan peserta les yang keluar tapi Ia tidak menemukan Eun Soo di sana.

“Di mana kau, huh?”

Mungkin Chanyeol tidak sadar—dan tidak tahu bahwa sedari tadi Eun Soo juga tengah memperhatikannya.

“Eun Soo, kau tidak pulang?”

Gadis itu sedikit tersentak mendengar suara guru Kim, cepat-cepat menjauh dari sisi jendela kemudian menghadap guru Kim dan menjawab. “Ah.. guru Kim.”diam sejenak sebelum akhirnya melanjutkan dengan nada hati-hati. “Apa aku boleh masuk ke ruang aula? Aku janji tidak akan lama.”

Terdengar helaan napas cukup panjang dari guru Kim. “Lebih dari setengah bagian aula itu dibangun menggunakan uang Ayahmu.”guru Kim kemudian mengangguk pelan. “Eum, pergilah.”

Eun Soo menyunggingkan senyuman tipis, membungkuk singkat dan berucap. “Terima kasih.”

Guru Kim mengangguk, membalasnya dengan senyuman tipis ketika Eun Soo mulai pergi dari hadapannya. Tapi saat Eun Soo baru naik beberapa tangga, gadis itu tiba-tiba berhenti.

“Oya, guru Kim.”

“Ya?”

“Jika nanti..”diam sejenak sebelum akhirnya melanjutkan. “Jika ada yang mencariku, katakan saja Anda tidak tahu apa-apa.”Eun Soo tersenyum. “Terima kasih.”kemudian kembali melangkah menuju lantai dua. Meninggalkan guru Kim yang menatap jejak kepergiannya dengan tatapan bingung.

“Ada apa dengannya hari ini?”guru Kim bergumam pelan. “Datang lebih awal, pindah tempat duduk dan sekarang ingin tinggal sejenak di tempat ini?”tambahnya, mendesah pelan lalu membereskan tempat ruangan les.

Selesai mengemasi tempat les itu, guru Kim kemudian keluar, menutup pintu dan ketika berbalik, betapa terkejutnya wanita itu saat mendapati sosok tinggi Chanyeol sudah berdiri tepat di depannya.

“Oh?! Si-siapa?”

“Apa Eun Soo ada di dalam?”tanya Chanyeol tanpa basa basi.

“Dia ada di..”telunjuk guru Kim terlanjur menunjuk ke dalam ruangan sementara kalimatnya kini menggantung, teringat dengan pesan Eun Soo beberapa saat yang lalu. “Ah, maksudku..”guru Kim menurunkan tangannya perlahan. “Eun Soo dia—“

“Permisi.”sela Chanyeol, sedikit mendorong tubuh guru Kim—agar menyingkir dari pintu—lalu bergegas masuk ke dalam. Mengabaikan guru Kim yang menatap jejak kepergiannya dengan tatapan kesal.

“Astaga dia.. tidak sopan sekali.”desis guru Kim. Wanita itu terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya melanjutkan. “Apa tidak apa-apa meninggalkan mereka berdua?”guru Kim menatap ke arah badan jalan kemudian menggeleng pelan. “Sudahlah, dilihat dari penampilannya sepertinya dia pria baik-baik.”menutup pintu lalu pergi.

.

.

.

.

Nada-nada dari tuts piano mengalun lembut di udara, menyambut kedatangan Chanyeol yang baru saja tiba di ambang pintu aula.

Menghentikan langkah sejenak sembari memperhatikan Eun Soo yang tengah duduk di depan sana, Chanyeol kemudian mendengus pelan, berjalan menuju gadis itu dengan melewati deretan kursi yang masih tertata rapi, lalu masuk ke dalam lingkaran cahaya yang menyorot gadis itu beserta piano di atas panggung.

“Kau sengaja menghindariku?”

Pergerakan tangan Eun Soo terhenti, diam sejenak sebelum akhirnya menoleh, mendapati Chanyeol dengan penampilan berbeda tengah menatapnya dengan tatapan tidak main-main.

“Katakan padaku, kau sengaja menghindar dariku?”Chanyeol mengulang pertanyaannya dengan nada yang lebih tegas, sembari melangkah mendekati Eun Soo.

Menundukkan pandangan, lalu Eun Soo kembali menatap lurus ke depan dan berucap dengan sebuah gumaman. “Bagaimana kau bisa sampai ke tempat ini?”

Chanyeol tentu saja mengharapkan sebuah jawaban pasti dari pertanyaannya, bukan pertanyaan balik seperti yang Eun Soo lontarkan barusan. Meskipun gadis itu bertanya, tapi Ia benar-benar tidak peduli apakah Chanyeol akan menjawab pertanyaannya atau tidak. Terbukti saat jemari Eun Soo kembali mnekan-nekan tutus piano tanpa memberikan Chanyeol sedikit waktu untuk merespon pertanyaannya.

“Eun Soo.”

Eun Soo hanya diam, berusaha tetap fokus pada piano di hadapannya. Tapi Eun Soo tidak bisa fokus lagi saat tiba-tiba Chanyeol menahan satu pergelangan tangannya. Membuatnya langsung mendongak. “Apa yang kau—“

Chanyeol lebih dulu menarik tubuh Eun Soo, memaksa gadis itu berdiri menghadapnya dan langsung menatap Eun Soo tepat di matanya.

“Kau pikir aku sedang main-main?”

Ya, dilihat dari tatapannya Chanyeol memang tidak sedang main-main. Tapi Eun Soo berusaha menampik itu, dengan menghindari tatapan Chanyeol kemudian menjawab dengan suara plan. “Apa yang kau inginkan?”

Chanyeol terdiam selama waktu cukup lama. Perlahan cengkramannya pada tangan Eun Soo mengendur, melepasnya lalu mundur dua langkah.

“Sebelum bertemu denganmu, aku bertemu dengan banyak wanita.”kata Chanyeol. “Beberapa di antara mereka bahkan lebih cantik darimu, lebih menyenangkan, tubuhnya lebih menarik dan karena itu, aku tidak segan-segan untuk tidur bersama mereka.”Chanyeol tersenyum tipis. “Tapi lihat dirimu.”sembari memperhatikan tubuh Eun Soo yang dibalut dress dengan warna lembut, lagi-lagi melapisinya dengan baju hangat. “Kau hanya wanita biasa. Sangat biasa tapi kau tahu? Aku merasa sangat gila saat memikirkan kenapa aku bisa tertarik pdamu. Kenapa jantungku bisa berdetak semakin cepat saat aku berada di dekatmu. Kenapa aku merasa tidak tenang saat kau berada jauh dariku. Ya, aku rasa aku hampir gila jika memikirkan semua itu.”

Eun Soo menunduk semakin dalam.

“Terserah jika kau ingin percaya atau tidak, tapi ini pertama kalinya bagiku. Aku.. merasa seperti ini.”

Eun Soo terdiam.

“Dan aku sudah sejauh ini tapi kau hanya meresponnya dengan pertanyaan seperti itu? Bertanya apa sebenernya yang aku inginkan?”Chanyeol mengalihkan pandangan sejenak sembari tersenyum miring. Mendengus lalu kembali menatap Eun Soo dan melanjutkan. “Dari awal aku mengenalmu sebagai gadis yang sombong, bahkan sampai sekarang.. kau masih saja seperti itu.”

Eun Soo langsung mendongak saat mendengar nada ketus yang tersirat dalam kalimat Chanyeol.

“Lupakan.”Chanyeol melepas kancing kemeja di pergelangan tangannya, tersenyum miring lalu menarik lengan kemeja itu sampai siku, mengacak-acak rambutnya dan melanjutkan. “Lupakan kau pernah bertemu denganku, semuanya sudah selesai.”

Kaki Eun Soo sedikit maju ketika Chanyeol berbalik, berdiri membelakanginya lalu mengambil langkah untuk pergi. Tapi saat Chanyeol baru berjalan beberapa langkah, Eun Soo menyambar tas di sisi piano lalu melemparkannya di tubuh Chanyeol. Tepat mengenai punggung Chanyeol membuat langkah pria itu langsung terhenti.

“Brengsek.”desis Eun Soo disertai senyuman hambar. Chanyeol masih diam di tempatnya ketika Eun Soo melanjutkan. “Kau mungkin bisa mengatakan dan melakukan dengan semudah itu. Tapi bagaimana denganku? Kau mungkin tidak pernah memikirkannya.”

Chanyeol berbalik perlahan, menghadap pada Eun Soo dan mendapati gadis itu tengah menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Aku tahu selain ini terlalu cepat..”Eun Soo menundukkan pandangan, tersenyum tipis kemudian melanjutkan. “Aku selalu ingat saat malam itu, Ibu pulang dari kantor polisi dan mengatakan bahwa dia ingin membunuhmu, Ibu ingin membunuh pria yang sudah menyakiti putri satu-satunya.”Eun Soo menatap Chanyeol. “Dan.. kau pikir aku juga tidak merasakannya?”kemudian berjalan ke arah Chanyeol dan memeluk pria itu erat-erat. “Aku juga merasakannya kau tahu?!”seru Eun Soo sembari menyandarkan pipinya pada dada Chanyeol. “Entah sejak kapan, aku benar-benar merasakannya. Aku merasakan jantungku berdetak dengan cepat, aku merasakan tubuhku sangat hangat saat kau memelukku, aku merasa aman, aku merasa bahagia dan..”tenggorokan Eun Soo terasa tercekat, disusul setitik liquid bening yang kemudian muncul dari sudut matanya saat Ia berkedip.

Eun Soo menunduk. Mundur perlahan lalu menatap Chanyeol dengan mata nanar. “Menurutmu.. apa yang harus kukatakan pada Ibu tentang ini? Aku menyukai—tidak. Aku rasa aku mencintai pria yang salah. Meskipun Ibu selalu mengatakan bahwa aku adalah putri kesayangannya. Namun faktanya aku tetap orang asing yang tidak berhak—bahkan sedikitpun untuk menolak kemauannya. Dan ini,”Eun Soo menunjuk piano yang berada di sisinya. “Kau pikir aku menyukai benda ini?! Mereka yang selalu memaksaku untuk melakukannya, memaksaku untuk mengikuti kompetisi ini dan itu dan…”Eun Soo terisak. “Ya, mereka yang memaksaku.”

Chanyeol terdiam sementara Eun Soo kini menunduk.

“Jika kau merasa gila.. mungkin aku sudah gila. Aku benar-benar gila saat memikirkan bagaimana dengan kedua orang tuaku jika mengetahui ini. Apa yang akan mereka lakukan padaku? Kau selalu dengan bangga mengatakan bahwa kau sudah pernah meniduri wanita ini dan itu sementara..”Eun Soo menatap Chanyeol, melanjutkan dengan suara lirih. “Malam itu adalah ciuman pertamaku.”

Chanyeol merasakan dadanya terenyuh. Terlebih ketika bibir Eun Soo menyunggingkan senyuman tipis saat pandangannya kembali menunduk.

“Aku selalu mencoba melupakan perasaan bodoh ini. Melupakanmu dan menganggapmu sebagai seorang pria asing yang tidak akan berarti apa-apa dalam hidupku. Tapi kenapa Chanyeol.. kenapa kau justru terus menerus mengikutiku? Berada di sekitarku dan membuatku semakin lelah untuk menahan semua ini?”

“Eun Soo.”

“Kau benar, aku hanya gadis biasa yang sombong sementara kau pria brengsek yang tidak tahu diri. Jadi lupakan. Lupakan kita pernah bertemu dan Chanyeol.”Eun Soo menatap Chanyeol tepat di matanya. “Jangan muncul lagi di hadapanku agar aku bisa melupakanmu dengan tenang.”

Eun Soo membersihkan sisa air matanya dengan kasar. Berniat pergi tapi Chanyeol lebih dulu menarik tangannya, lalu membawa tubuh Eun Soo dalam dekapan yang hangat.

“Jangan pergi.”Chanyeol mempererat pelukan sembari membenamkan wajahnya di leher Eun Soo, di sela-sela rambut Eun Soo yang beraroma Jasmine. Membuatnya merasa tenang.

Eun Soo menundukkan pandangan perlahan. Dengan perlahan pula kedua tangannya kemudian melingkar di pinggang Chanyeol, membalas pelukan Chanyeol tak kalah erat.

“Aku membencimu, Park Chanyeol.”kedua mata Eun Soo tertutup perlahan, disusul pelukannya yang semakin erat sementara Chanyeol menyunggingkan senyuman tipis di sela-sela rambut gadis itu.

“Aku lebih membencimu, Shin Eun Soo.”

***

Sudah cukup lama menghabiskan waktu dalam keheningan, Eun Soo kemudian berdiri tegak setelah sebelumnya bersandar mata motor Chanyeol. Menghadap pria itu disertai senyuman tipis, Eun Soo kemudian berucap. “Sudah malam, aku akan masuk.”

Chanyeol turut berdiri tegak, mendekat dengan satu tangan yang kemudian mengelus pipi Eun Soo, dan menjawab. “Eum, selamat malam.”

Eun Soo mengangguk pelan, menurunkan tangan Chanyeol dari pipinya lalu berbalik, berjalan menuju pagar rumahnya. Tapi ketika satu tangan Eun Soo baru saja menyentuh besi pagar, ponselnya tiba-tiba berdering. Gadis itu berhenti untuk mengambil ponsel dari dalam tas, mengangkat kedua alis ketika mendapati nama Chanyeol yang tertera di layar ponsel.

Menghadap pada Chanyeol yang masih berdiri di sebrang jalan, Eun Soo menggeser tombol hijau lalu menempelkan ponselnya ke telinga. “Kenapa?”

Chanyeol tersenyum. “Aku merindukanmu.”

Eun Soo mendesis pelan sebelum akhirnya menyahut. “Tapi kau masih bisa melihatku.”

“Ya, aku memang masih bisa melihatmu.”kata Chanyeol, mulai melangkah perlahan untuk mendekati Eun Soo. “Tapi aku benar-benar merindukanmu.”

Eun Soo hanya tersenyum. Masih tersenyum ketika Chanyeol tiba tepat di hadapannya. Dengan ponsel yang masih menempel di telinga masing-masing, Chanyeol kemudian mendekatkan wajah mereka, menutup mata perlahan saat bibirnya mulai menyentuh bibir Eun Soo, lalu menyapunya dengan lembut.

Eun Soo menutup mata perlahan, menikmati rasa dimana seperti ada ratusan kupu-kupu yang menggelitiki perutnya, menimbulkan sensasi geli, menyenangkan, dan membuatnya bahagia.

Hingga beberapa saat kemudian, Chanyeol memisahkan bibir mereka perlahan.

“Sampai jumpa.”

Eun Soo hanya tersenyum tipis. “Eum, sampai jumpa.”lalu berbalik, menurunkan ponsel dari telinga dan benar-benar masuk ke dalam pagar rumahnya. Meninggalkan Chanyeol yang justru masih diam di tempatnya.

Chanyeol menurunkan ponsel dari telinga, menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, menahan senyum dan bergumam pelan. “Aku merindukannya, lagi.”

***

Pagi ini mungkin akan menjadi pagi yang buruk bagi Sehun dan Jongin.

Ya, Chanyeol tiba-tiba menjanjikan; jika Ia sudah mengambil kartu tabungan di rumah, Ia akan memberi uang pada Sehun dan Jongin untuk bersenang-senang. Asalkan pagi ini Sehun dan Jongin pergi dari rumah.

Awalnya Sehun sempat uring-uringan, tapi pria itu akhirnya menurut setelah Jongin memberitahunya tempat bagus untuk bersenang-senang dan tentu saja, ada banyak wanita di sana.

Dan di sinilah Chanyeol berada saat ini; berdiri di depan pintu apartemen sembari menunggu kedatangan Eun Soo.

Bel pintu akhirnya berbunyi setelah lebih dari lima belas menit Chanyeol menunggu. Ia cepat-cepat membuka pintu dan melihat Eun Soo tersenyum padanya.

“Selamat pagi.”

Chanyeol menjawabnya dengan sebuah kecupan hangat di bibir, membuat Eun Soo terdiam sementara Chanyeol dengan santai merangkul pundak gadis itu, dan membawanya pergi menuju pantry.

“Aku lapar, kau bisa membuatkan sarapan untukku?”

Eun Soo berusaha melirik Chanyeol yang tengah memeluknya dari belakang; melingkarkan kedua tangannya di perut Eun Soo dengan dagu yang bersandar pada pundak gadis itu.

“Jadi kau menyuruhku pagi-pagi berkunjung hanya untuk membuatkan sarapan untukmu?”

Chanyeol mengangguk dengan santai. “Ya, begitulah.”

Lalu Eun Soo berusaha melepas tangan Chanyeol sembari berucap. “Kalau begitu lepaskan aku.”

Chanyeol hanya mengangkat dagunya, membuat Eun Soo menunggu kapan Chanyeol akan melepas tangan tapi pria itu justru semakin mempererat pelukannya.

“Chanyeol.”

“Kenapa? Kau tidak bisa memasak jika seperti ini? Aku yakin, aku tidak akan terlalu menganggu, percaya padaku.”

Eun Soo mendengus. “Baiklah, kalau begitu biarkan aku pulang.”

“Oke.”sahut Chanyeol, cepat-cepat menjauh membuat Eun Soo akhirnya tersenyum puas.

Eun Soo kemudian membuka kulkas. Kedua alisnya langsung bertaut ketika mendapati hanya ada beberapa bungkus snack, beberapa botol minuman dan tiga lapis roti tawar.

“Chanyeol.”Eun Soo kembali menghadap Chanyeol. “Tidak ada sesuatu yang bisa di masak di dalam kulkas.”

Chanyeol menggidikkan bahu tak peduli. “Kalau begitu tidak usah memasak.”lalu mendekat pada Eun Soo, semakin mendekat membuat Eun Soo harus mundur, tapi ketika baru dua langkah Eun Soo mundur, punggungnya lebih dulu membentur kulkas, membuatnya terdiam sementara Chanyeol terus mendekat dengan senyuman yang sulit diartikan.

“Eung, Chanyeol.”Eun Soo berusaha mendorong dada Chanyeol dengan kedua tangannya. Bukannya menjauh, Chanyeol malah semakin mendekat, mensejajarkan wajah mereka hingga kini Eun Soo bisa merasakan napas hangat pria itu menerpa wajahnya.

Chanyeol sedikit memiringkan kepala, membuat Eun Soo menutup mata dan..

“Ada sesuatu di kepalamu.”kata Chanyeol, menahan tawa setelah mengambil daun kering kecil yang menyelip di atas kepala Eun Soo. “Kenapa wajahmu memerah?”Chanyeol kembali berdiri tegak, memasukkan kedua telapak tangan ke dalam saku celana sembari memperhatikan Eun Soo yang kini menatapnya dengan tatapak kesal.

“Kau benar-benar lucu, Park Chanyeol.”sahut Eun Soo, memaksakan senyum namun sejurus kemudian ekspressinya berubah menjadi datar.

Chanyeol benar-benar tertawa ketika Eun Soo menjauhkan punggungnya dari kulkas. Gadis itu kemudian berdeham pelan, berniat pergi tapi Chanyeol lebih dulu menarik tubuh Eun Soo dalam pelukannya.

“Kau marah?”

Eun Soo menggeleng pelan sembari membalas pelukan Chanyeol. “Aku tidak marah tapi.. untuk pertama kalinya aku merasa takut padamu.”

Jawaban Eun Soo membuat senyum Chanyeol memudar perlahan. Ia terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya menyahut. “Kenapa?”

Eun Soo menundukkan pandangan. “Di matamu, apa aku sama dengan wanita-wanita yang pernah kau kencani? Apa kau pernah berfikir untuk..”

Chanyeol cukup mengerti kenapa Eun Soo terkesan menggantung kalimatnya. Melepas pelukan mereka, Chanyeol kemudian menatap Eun Soo tepat di matanya. Memberikan kecupan hangat di bibir, lalu bergumam dengan ujung hidung mereka yang masih bersentuhan. “Jangan mengungkit hal itu.”kata Chanyeol, kembali meletakkan kepala Eun Soo di bawah dagunya. Kedua mata Chanyeol kemudian tertutup, pelukannya semakin erat saat Ia bergumam. “Ya, jangan mengungkit hal itu karena… sungguh, aku sedang mati-matian menahan segalanya saat ini. Kau seharusnya tahu bahwa menahan untuk tidak melakukannya dengan orang yang dicintai itu sangat sulit.”

Eun Soo menundukkan pandangan, mengulum senyum sembari membalas pelukan Chanyeol tak kalah erat.

“Aku percaya padamu, Chanyeol-ah.”

“Ya, kau harus percaya padaku, Eun Soo.”

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

-to be continue-

 

50 responses to “[Freelance] Je T’aime (Chapter 4) – @real__imaa

  1. Chanyeol sama Eunsoo udah pacaran ya…
    Makin sweet aja.. gimna tuh tanggapan ibunya eunsoo?
    Next ditunggu

  2. Aaahhh chanyeol romangis sekali…agak khawatir Sama hubungan mereka…apa dapet restu dr orti eunsoo??bagaimana dg keluarga chanyeol???
    Sehun ma jongin bener2 deh…gak bisa lepas dr perempuan nakal…hadeehhh bocah…

  3. Aiguhhhhhh switt bgt astagah pens berat aduhhh kapn nextnya nihhh pasti bentar lgi muncul konfliknya ditunggu dehhh thorr

  4. yeayyyy ahirnya eunsoo x chanyeol bersatu uhuyy *tumpengan* ahh hubungan mereka yg rumit dan gak biasa/? bikin penasaran deh kkk~

  5. Huah cpt bgt nih dipostnya. Hbs plg lgsg cek eh ini udh dipost.
    Gila. Knapa eunsoo mau kl itu dipaksa??? Kl q pribadi, kl dipaksa tmbh gk bsa q mlakukannya. Kyaaaaaaaaaaa chanyeol bnr2 udh tobat. Cieeeee eh btw thor gk pnya ftonya chanyeol badboy gk? Penasaran nih. Pnya idline gk? Kl ada apa? Geurae see ya in the next pos

  6. Mereka buat aku iri.. 😦
    chayeol sweet.. 😀
    aku khawatir..klo2 ntar ortu ny eun soo.,tahu hbungan mereka. 😦
    terus pisahin merka berdua. 😐
    dan juga aku juga khawatir,klo ntar cewek yang chanyeol hamilin,datang lagi ke kehidupan yeol.,dan ngerusak semua ny. 😦

  7. Chanyeol udh tobat, sekalian buat Sehun sama Kai tobat juga dong thor hehehehe. Ditunggu kelanjutannya

  8. lucuu. so sweet. romance nya dapet banget. chanyeol eunsoo💓. di tgg thor chap selanjutnya😁

  9. Huaaa lucu banget. Semoga orangtua Eun Soo mau ngerestuin mereka. Sehun sama Kai blm tau mereka jadian ya? Kalo mereka tau reaksinya kayak gimana ya? Ditunggu next chapternya!!

  10. Bikin iri dehhh mereka so sweet bangettttttt padahal lagi seru tapi malah tbc -,- lanjut ya thor sumpah aku suka banget sama alur cerita nya feel nya dapet banget, tapi chapter ini agak pendek -_- update nya jangan lamalama ya thor
    Nexttt !!!!! Fighting !!!!!

  11. hadeh romance nya bikin lupa daratan ini mah 😀 huwow kiss nya itu loh setiap saat 😀 pokok nya di tunggulah kelanjutan nya thor 😀

  12. Tapi yeol slalu nyosor mulu tuh._. Wkawka apa dia bner2 bisa megang omongannya kalo dia gk akan nglakuin ‘hal buruk’ pada eunsoo? Apa di bener2 bisa brbh dan dpt ngatasi masalah2nya termasuk mslah kluarganya?
    Critain jg dong tentang gmn sikap ortu eunsoo ke eunsoo. Ya critain secuil kehidupan tentang dia dan kluarganya kalo di rmh

  13. aaahhh ini makin lama makin seruuuu….
    aku baru sempet baca hari ini sampe chap 4 karena kemaren kemaren sibuk banget sama kuliah jadi gak sempet baca #gak nanya
    tapi sosok chanyeol jadi bad boy disini menarik, disisi lain sweetnyq dia juga gak hilang
    aku suka aku sukaa…
    next ya author 🙂

  14. omg,makin so sweet aja sie chanyeol oppa dan eun soo^.^
    smoga hbungan mreka ga ada gangguan deh,ksian soalnya..
    pnasaran ama next part,dtnggu ya..fighting^.^

  15. romantis banget waaww.. btw itu orang tua nya chanyeol orang kaya atau gimana, kenapa chanyeol numpang sama minjem motor tempat sehun? kayaknya bagus diperjelas lagi deh latar belakang keluarga chanyeol hehe 🙂

  16. sumpah ya aku daridulu seneng bgt ff dari km ciyuss😍😍
    apalagi km pasti ngepostnya gk lama lama gt 👏
    yah walopun aku biasanya jd siders /aib tolong dimaafkan😂😂😂
    tp seenggaknya aku gk jd siders buat km bhak .wht
    suka bgt kalo castnya itu pcy apalagi badboy gini ih kzl
    btw ini genrenya hurt ya? sad ending dong?¿??
    duh gk siap siyal😣😣
    etapi aku ada saran nih,
    mendingan km buat titik titik untuk jarak per paragraf jgn byk byk deh😂😂😂
    soalnya serasa di phpin gt kalo liat keknya msh byk gitu eee malah udh TBC😔
    itu kan kmprt moment ya kan¿¡¿

  17. Aduh maaf ya author aku baru komen di chapter 4 , baca ngebut soalnya hehe.
    Kereen bgt asli , sumpah.
    Senyum sendiri bacanya , gemess bgt sama mereka.
    Oke dtunggu kelanjutannya :*

  18. Ahhh tambah manis aja si? Greget aku bacanya kak. Trus gimana ni orangtuanya eun soo sama chanyeol perihal hun mereka?
    Next chapnya ditunggu kak

  19. Mulai saat ini, aku bakal menjuluki mereka the sweetest couple
    Gilak, bru pacaran ajah uda seromantis ini , apalagi klo uda lama yah?

  20. ungkapan cinta chanyeol sama eunso itu pasti dideskripsikan dengan benci dan aku sangat membenci mu.pasangan yang BENAR SoSweet bikin yang baca iri ajah ..
    sehun jongin lucu kocak karakter nya,chan juga,apa lagi pas sekarang udah jadian sama eunsoo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s