Harder Than You Know (1/2) – Angelina Triaf

Sehun

Angelina Triaf ©2015 Present

Harder Than You Know

Oh Sehun, Luhan (EXO) with Park Cheonsa, Cho Hyunna (OC) | Romance, Hurt/Comfort, Marriage-life | T | Twoshots

“Bukan begitu caranya melindungi wanita. Pikirkanlah sekali lagi.”

0o0

Pagi yang indah. Sinar mentari dengan hangatnya menerobos kaca bening sebuah kamar bernuansa putih yang nampak tenang. Di dalamnya, terlihat dua orang yang masih menjelajah alam mimpinya masing-masing. Pria dengan rambut pirangnya yang acak-acakan kini menggeliat merenggangkan tubuhnya. Matanya perlahan terbuka. Ia terdiam sejenak. Di sampingnya, seorang gadis manis masih memejamkan matanya.

Ia teringat kejadian semalam. Bagaimana rasanya mengelus rambut halus yang rasanya sudah sangat lama ia tak menyentuhnya. Bagaimana kenyamanan itu ia rasa saat ia menyentuh tubuh gadisnya yang ternyata berkali lipat lebih hangat dari yang terakhir kali ia ingat.

Pandangannya hanya terfokus ke depan. Tatapannya kosong. Entah apa yang ia pikirkan, yang jelas ia masih tak bergerak dari duduknya untuk beberapa menit kedepan.

Gadis di sampingnya mulai menggeliat kecil. Matanya perlahan terbuka, menampakkan bulatan hijau cemerlang di dalamnya. Ia mengedip beberapa kali. Sangat menggemaskan. Gadis itu bangkit dan beringsut duduk menyandar kepala ranjang. Poni dan rambut blonde bergelombangnya bergoyang lucu seiring tegak tubuhnya.

Sang gadis yang melihat suaminya sudah bangun lebih dulu seketika membulatkan matanya. Ia kembali mengingat kejadian semalam. Ah, pantas saja tubuhnya agak sakit. Tak biasanya ia bangun terlambat.

“Sehun oppa, sudah bangun?” Tanya gadis itu pelan, namun masih dapat terdengar karena suasana kamar itu yang hening.

Ne.” Hanya jawaban singkat itu yang keluar dari mulut suaminya. Lalu Sehun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi. Gadis itu hanya tersenyum tipis, berganti pakaian lalu pergi menuju dapur.

Sehun tiba di dapur dengan penampilan segar sehabis mandi. Ia hanya memakai kaus putih dan celana pendek, pakaian santainya di rumah. Ia melihat masakan istrinya sudah tertata rapi di meja makan. Dan kini ia dapat melihat istrinya berjalan kearahnya sambil melepas apron yang tadi ia pakai.

“Sehun oppa, makanlah. Aku mau mandi dulu.” Senyum itu seakan sudah menjadi permanen di bibirnya. Bahkan tanpa balasan apapun, gadis itu langsung pergi meninggalkan suaminya yang kini sudah duduk dan mulai menikmati sarapannya.

0o0

Sehun sedang duduk santai di sofa sambil menonton televisi. Dilihatnya istrinya sedang membersihkan segala perabot di rumah minimalis mereka. Sehun menoleh sebentar kearahnya. Gadis itu terlihat manis dengan pakaian santainya.

“Cheonsa..” Gadis itu menoleh kearah sang pemilik suara.

Ne, oppa?” Ia tersenyum, yang membuat pipi chubby-nya naik dan matanya menyipit lucu.

“Perlu bantuan?” Tanya Sehun datar. Cheonsa membulatkan matanya sebentar, sebelum akhirnya ia tersenyum lagi.

“Tidak usah, sebentar lagi selesai.” Sehun hanya mengangguk lalu kembali fokus pada tayangan yang sedang ia tonton, sebelum ia ingat akan sesuatu dan kembali berucap.

“Mulai besok aku tidak pulang untuk beberapa hari. Ada pekerjaan penting.” Bahkan tanpa menoleh, kata-kata itu keluar dengan sangat lancar dari mulutnya.

Ne. Aku akan menyiapkan segala keperluan oppa.” Seperti biasa, selukis senyuman selalu mengiringi akhir ucapannya. Walaupun ia tahu bahwa Sehun tak melihatnya, ia yakin, Sehun dapat merasakan senyumannya.

0o0

 

Keesokannya, Sehun berdiri di depan cermin besar dalam kamarnya. Ia sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Dari belakangnya, Cheonsa datang dengan membawa nampan berisi susu putih dan sandwich kesukaan Sehun. Sehun melihat istrinya dari pantulan cermin. Gadis itu bahkan semakin cantik tanpa ia sadari.

Oppa, makanlah walau hanya sedikit.” Cheonsa tersenyum lalu meletakkan nampan itu di meja nakas sebelah ranjang.

Sehun menghampiri Cheonsa yang duduk di pinggir ranjang. Ia mengambil gelas susunya dan minum perlahan. Ia berpikir. Sudah berapa lama ia tak pulang ke rumah? Sudah berapa malam yang ia lewati tanpa kehadiran Cheonsa di sisinya? Sudah berapa jam, menit, detik yang ia lewati tanpa menghiraukan bagaimana keadaan Cheonsa seorang diri di rumah?

Cheonsa, seperti biasa ia selalu tersenyum sambil memperhatikan Sehun makan dalam diam. Melihat Sehun berada di rumah seharian kemarin saja ia sudah sangat bersyukur. Bisa kembali merasakan hangatnya tubuh Sehun sehari saja ia sudah sangat senang.

“Aku berangkat.” Tanpa ucapan terimakasih, tanpa ciuman selamat pagi. Tanpa apapun. Sehun langsung mengambil tas kerjanya dan pergi menuju pintu, meninggalkan Cheonsa seorang diri.

Cheonsa hanya menghela napas pelan. Dan kini pandangannya terfokus pada handphone Sehun yang tergeletak di samping bantal. Cheonsa mengerutkan alisnya. Pasti Sehun lupa membawa ponselnya. Ia mengambil ponsel itu, hendak mengejar Sehun sebelum suaminya itu pergi.

Namun, ia melihat hal ganjil dalam handphone itu. Nampak wallpaper foto suaminya bersama seorang wanita, yang mungkin lebih tua dari Cheonsa. Mereka terlihat sangat bahagia di foto itu. Cheonsa membulatkan matanya, namun tak bertahan lama karena kini malah sebuah senyuman menggantikan ekspresi terkejutnya.

“Aku mau mengambil..” Belum selesai Sehun berkata, ia kini melihat Cheonsa sedang melihat sesuatu di ponselnya. Sehun ingat jika ia lupa membawa ponselnya dan berniat mengambilnya. Namun malah pemandangan ini yang ia dapat.

Ah, oppa. Aku baru saja akan mengantarkan handphone ini padamu. Ternyata kau masih ingat jika ini tertinggal.” Cheonsa tersenyum lalu memberikan ponsel itu pada Sehun.

Pria itu hanya mematung. Ia masih tak menyangka bagaimana ekspresi Cheonsa saat ini. Mengapa gadis itu malah tersenyum? Sehun kira ia akan dihujani air mata dan dicaci maki oleh istrinya. Namun, mengapa ia malah disambut dengan senyuman yang sangat manis?

“Namanya Cho Hyunna, jika kau mau tahu.” Sehun langsung berbalik dan hendak pergi meninggalkan Cheonsa, sebelum ia mendengar satu kalimat ringan yang terasa perih untuk didengar.

“Ia cantik.” Sedetik, Sehun terpaku dengan opini Cheonsa. Lalu ia kembali berjalan meninggalkan gadis itu sendiri.

Setidaknya Cheonsa tahu kenapa Sehun jarang pulang. Bahkan dalam satu tahun pernikahan mereka ini, setidaknya hanya dua hari tiap bulannya yang ia lalui bersama suaminya. Dan baginya itu sudah sangat cukup. Masih dapat melihat wajah Sehun di hadapannya pun ia sudah sangat bersyukur.

“Setidaknya aku tahu jika Sehun oppa bahagia di luar sana.” Gumam Cheonsa pelan, lalu ia membereskan gelas dan piring kotor itu dan berjalan menuju dapur. Kembali melakukan aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga.

0o0

Tak terasa tiga bulan telah berlalu. Cheonsa masih sama seperti tiga bulan sebelumnya. Selalu tersenyum. Kini setelah ia tahu tentang gadis bernama Cho Hyunna itu, Cheonsa jadi tak terlalu khawatir akan keberadaan Sehun jika ia tak pulang ke rumah.

Cheonsa sedang menyiram rumpun mawar di tamannya. Jika ia melihat mawar entah kenapa ia jadi teringat saat-saat pernikahannya dan Sehun dulu. Sehun yang terlihat sangat tampan dengan tuxedo putihnya. Namun senyumannya memudar. Ia juga teringat bagaimana wajah dingin Sehun saat menatapnya pertama kali di altar.

Setitik air mata mengalir di pipinya. Ia sadar, Sehun tak pernah mencintainya. Ia sadar, dan harusnya ia tahu diri. Sehun hanya ingin melindunginya. Ia tahu hal itu, dan entah kenapa itulah alasan kenapa ia masih bisa tersenyum sangat manis di depan Sehun. Cheonsa cukup tahu diri dan tak ingin menuntut lebih.

Ia melamun memikirkan semua hal itu, yang tanpa sadar malah tak memfokuskan matanya saat menyiram tanaman. Entah dari mana, sebuah tangan meraih selang yang menggantung di tangannya. Ia terlonjak. Apakah ini Sehun? Apakah benar suaminya sudah pulang?

“Se—Ah, annyeong Luhan oppa.” Sepersekian detik, rasa terkejut itu ia ganti dengan seulas senyuman. Ternyata bukan Sehun.

Annyeong, Cheonsa. Sehun masih harus mengurus beberapa pekerjaan, dan ia menyuruhku untuk melihat keadaanmu. Mungkin ia akan pulang beberapa hari lagi.” Entah mengapa, Cheonsa merasa jika senyum Luhan sangat manis.

Namun, berusaha sekeras apapun membenci Sehun, ia tetap mencintai suaminya. Walaupun ia tahu, bahkan sangat tahu bahwa suaminya tak pernah menyimpan perasaan apapun padanya. Hanya perasaan kasihan. Ya, mungkin hanya rasa kasihan yang Sehun miliki untuk Cheonsa.

Ah oppa, mari masuk. Aku membuat kue coklat hari ini.” Cheonsa tersenyum, dengan terpaan cahaya senja yang membuatnya berkali lipat sangat manis. Luhan hanya tersenyum dan mengangguk lalu mengikuti Cheonsa masuk ke dalam rumah.

0o0

 

Luhan duduk di sofa sambil melihat sekeliling. Rumah ini sangat rapi. Apakah Cheonsa selalu membereskan rumah ini sendiri? Ia jadi merasa kasihan pada Cheonsa. Gadis itu masih terlalu muda untuk merasakan sakit hati yang ia rasakan sekarang.

Luhan kembali teringat, segala memorinya tentang peristiwa bertemunya Sehun dan Cheonsa, yang berakhir dengan sebuah pernikahan konyol. Waktu itu, Cheonsa hanyalah gadis tujuh belas tahun yang Sehun dan Luhan temui sedang bekerja paruh waktu di caffe favorit mereka.

Sehun selalu bercerita padanya, bagaimana ia ingin sekali melindungi gadis manis itu. Luhan tersentuh. Suatu keajaiban jika Oh Sehun mempunyai rasa peduli pada orang lain selain dirinya dan keluarganya. Tapi, satu yang membuat Luhan kecewa. Saat ia menanyakan apakah Sehun mencintai gadis itu, jawabannya ialah tidak. Sehun hanya merasa perlu untuk melindungi gadis rapuh itu.

Lalu setelah Sehun dan Cheonsa saling mengenal, di hari kelulusan Cheonsa, Sehun melamarnya. Cheonsa, yang notabene-nya hanyalah seorang gadis polos, menerima lamaran itu dan tiga hari setelahnya mereka menikah.

Luhan juga masih mengingat jelas, bagaimana wajah terkejut Cheonsa saat tahu bahwa Sehun menikahinya hanya karena rasa kasihan. Gadis itu hanya memasang wajah terkejut, lalu selanjutnya hanya senyum yang menghiasi wajahnya. Luhan semakin iba melihat keadaan Cheonsa sekarang yang selalu ditinggal Sehun bekerja.

Sehun memang direktur muda yang harus menjalankan bisnis ayahnya, bersama Luhan sebagai sahabat sekaligus sekretaris pribadinya. Bahkan Sehun selalu menyuruh Luhan untuk memantau Cheonsa setiap bulannya, yang membuat Luhan mau tak mau harus melihat pemandangan menyedihkan yang tersembunyi di balik senyum manis Cheonsa.

“Luhan oppa, silahkan dimakan.” Cheonsa meletakkan nampan berisi brownies dan teh hangat di atas meja. Cheonsa duduk di samping Luhan yang kini baru tersadar dari lamunannya.

“Terimakasih. Bagaimana kabarmu, sehat?” Luhan melihat Cheonsa yang sepertinya semakin kurus. Kulit susunya semakin pucat dan matanya sedikit sayu walaupun hal itu tak mengurangi kecantikan Cheonsa.

Ne, aku sehat.” Cheonsa tersenyum, seperti biasa. Luhan hanya menghela napas pelan. Apakah Cheonsa tak lelah jika harus selalu tersenyum seperti itu? Luhan sangat tahu bahwa Cheonsa mengalami hari-hari yang berat tanpa Sehun.

Luhan mengambil sepotong kue dan langsung memakannya. Sangat enak, seperti biasa saat ia datang berkunjung. Cheonsa hobi memasak dan sepertinya dengan memasak membuatnya sedikit terhibur dalam kesendiriannya. Luhan menoleh, ia mendapati setitik air mata mengalir di pipi chubby Cheonsa.

Luhan terkejut. Itulah tetes air mata pertama yang ia lihat dibalik senyum manis Cheonsa. Tanpa ragu ia langsung memeluk Cheonsa, membiarkan gadis itu tenang. Luhan sangat sadar, bahwa Cheonsa hanyalah seorang gadis kecil yang masih membutuhkan kasih sayang.

“Aku merindukan Sehun oppa.” Itulah kalimat pertama yang keluar dari bibir cherry Cheonsa. Gadis itu tenang dalam pelukan Luhan. Sepertinya gadis itu tidak menangis sesenggukan seperti perempuan lain pada umumnya.

Sepuluh menit berlalu. Hanya keheningan yang menemani mereka. Cheonsa masih merasa nyaman dalam pelukan Luhan, dan Luhan sepertinya tak ingin melepaskan gadis kecil di pelukannya. Entah sejak kapan, sepertinya ia mulai menyukai Cheonsa.

“Luhan oppa..” Panggil Cheonsa pelan. Luhan hanya diam, menunggu Cheonsa melanjutkan kalimatnya.

“Apa oppa kenal dengan Cho hyunna? Ia sangat cantik.” Luhan tersentak. Cho Hyunna adalah gadis yang selalu bersama Sehun. Mereka adalah sepasang kekasih.

Luhan semakin mengeratkan pelukannya pada Cheonsa. Harusnya gadis itu yang menangis, namun malah Luhan yang kini tak kuasa menahan tangisnya. Seolah ia dapat merasakan bagaimana perihnya hati Cheonsa yang selalu tersenyum untuk menghapus rasa sakit di hatinya.

“Kenapa oppa menangis? Oppa punya masalah? Ceritakanlah pada Cheonsa.” Cheonsa melepas pelukan mereka, menghapus jejak air mata di pipi Luhan. Gadis itu tersenyum sangat manis.

Luhan sungguh tak habis pikir. Bagaimana bisa ada orang seperti Cheonsa. Harusnya Cheonsa menjadi malaikat surga yang bahagia, bukan menjadi manusia yang selalu merasakan perih di hidupnya. Ia masihlah remaja yang seharusnya merasakan kebebasan dan kebahagiaannya di masa muda. Namun malah hal sebaliknya yang ia dapat.

“Bagaimana kau bisa kuat menghadapi semua ini, Cheonsa?” Luhan meletakkan kedua tangannya di pipi Cheonsa. Gadis itu hanya tersenyum.

“Karena aku mencintai Sehun oppa. Aku percaya padanya.”

Skak. Luhan kini merasa bahwa ia adalah orang yang jahat karena tak bisa berbuat apa-apa. Dulu, ia tak sanggup menolak permintaan Sehun untuk mengurus pernikahan Sehun dengan Cheonsa. Dan sekarang, ia juga tak kuasa untuk menasihati Sehun atas perbuatannya yang keterlaluan.

“Malaikat itu nyata adanya. Karena Cheonsa adalah seorang malaikat.” Ucap Luhan. Ia mengelus rambut Cheonsa dengan sayang. Cheonsa—lagi-lagi—hanya tersenyum mendengar kalimat itu.

“Aku akan selalu menjadi malaikat untuk orang-orang yang aku sayangi.” Cheonsa mengambil sepotong kue dan memasukkannya paksa ke mulut Luhan, yang membuat Cheonsa tertawa lucu. Lalu mereka hanyut dalam candaan itu.

0o0

 

Tiga hari setelahnya, Sehun pulang ke rumah bersama Luhan di belakangnya. Cheonsa yang membukakan pintu itu tersenyum lebar karena senang. Luhan yang melihat senyum Cheonsa hanya mampu menghela napas. Kapan Sehun sadar atas perbuatannya ini?

“Sehun oppa butuh apa? Biar Cheonsa siapkan.” Cheonsa mengambil tas kerja dari genggaman Sehun sambil berjalan di sebelahnya.

“Siapkan kamar untuk Luhan hyung. Dan siapkan air hangat juga.” Ucap Sehun tanpa sedikitpun menoleh pada Cheonsa. Cheonsa mengangguk dan langsung meninggalkan Sehun dan Luhan untuk membuatkan minuman.

Sehun duduk di sofa. Menyandarkan kepalanya lalu terpejam sejenak. Ia benar-benar sangat lelah. Luhan ikut duduk di sampingnya. Ia memandang Sehun dengan pandangan yang tak dapat didefinisikan apa maksudnya.

“Ini, aku baru saja selesai membuat cheese cake. Makanlah.” Cheonsa berlalu setelah sebelumnya meletakkan sepiring cheese cake dan dua gelas teh madu kesukaan Sehun.

“Sehun..”

“Jika ingin membahas tentang Cheonsa jangan sekarang hyung, aku lelah.” Sehun masih memejamkan matanya. Luhan hanya mengendikkan bahu lalu mulai memakan kue yang tersaji di meja.

Sehun sama sekali tak beranjak dari posisinya. Ia benar-benar lelah karena bekerja nonstop beberapa bulan ini. Ia benar-benar mengorbankan masa mudanya untuk hal yang menurutnya membosankan, jika saja ayahnya tak memaksanya untuk melakukan hal ini.

Oppa, air hangatnya sudah siap.” Cheonsa datang diiringi senyuman manisnya seperti biasa. Luhan memandang Sehun tajam. Apakah sahabatnya ini tidak mempunyai mulut untuk sekedar berterimakasih?

“Luhan hyung mandi saja duluan. Aku masih ingin memejamkan mata sebentar.” Luhan mengangguk lalu pergi meninggalkan Cheonsa dan Sehun berdua. Mungkin mereka perlu waktu berdua untuk bicara.

Luhan mengintip di balik pintu. Ia melihat Cheonsa menghampiri Sehun lalu mulai memijat pelipis Sehun. Ya Tuhan, Luhan benar-benar ingin menangis saat ini. Sehun bahkan hanya terdiam tanpa mengucapkan terimakasih atau kata-kata manis lainnya. Sungguh, ia menyesal menuruti permintaan Sehun yang ingin menikahi Cheonsa.

“Apa oppa makan dengan baik disana?” Cheonsa masih memijat pelipis Sehun. Inilah yang Sehun butuhkan. Sentuhan lembut istrinya saat ia lelah.

Ne.” Jawab Sehun terlewat singkat. Baru saja Cheonsa akan bicara lagi, bel rumah berbunyi dan Cheonsa dengan sigap langsung berjalan menuju pintu.

Ia melihat dari intercom. Seorang wanita cantik yang kira-kira lebih tua darinya berdiri di depan pintu dengan senyum yang sangat cantik. Cheonsa membukakan pintu dan memasang senyum termanisnya.

Nuguseyo?” Tanya Cheonsa sopan. Wanita itu tersenyum lalu mengulurkan tangannya.

“Kau pasti adiknya Sehun. Wah, kalian sangat mirip, ya. Cho Hyunna imnida, Sehun yeojachingu.” Rentetan kalimat itu seakan jarum yang satu per satu menusuk hati Cheonsa. Namun, malah senyum manis andalannya yang ia tunjukkan.

Ah, ne. Cheonsa imnida. Sehun oppa baru saja pulang, ia sepertinya masih lelah. Eonnie masuklah.” Hyunna tersenyum lalu masuk mengikuti Cheonsa.

Hyunna langsung menghampiri Sehun yang masih menutup matanya. Ia mencium pipi Sehun yang sontak membuat Sehun membuka matanya. Ia kaget, tentu saja. Bagaimana bisa Hyunna kesini? Bagaimana dengan Cheonsa?

“Sehun oppa, Hyunna eonnie mencarimu. Eon, mau minum apa?” Cheonsa yang melihat adegan itu langsung segera tersadar dan memilih untuk mengikuti permainan Sehun.

“Apa saja.” Hyunna tersenyum. Dalam hati Cheonsa mengiyakan. Pantas saja Sehun menyukai wanita berambut kemerahan itu. Hyunna memang sangat cantik.

Sehun hanya terdiam. Mau tak mau ia harus membicarakan hal ini nanti dengan Cheonsa. Luhan yang baru saja selesai mandi tercengang melihat pemandangan di depannya. Cho Hyunna sedang mengobrol dengan Sehun. Lalu, bagaimana dengan Cheonsa? Luhan hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sehun sangat keterlaluan.

“Luhan hyung sudah selesai? Hyunna, aku mandi dulu.” Hyunna mengangguk lalu Sehun meninggalkan Hyunna bersama Luhan.

Annyeong oppa. Luhan oppa menginap disini?” Sapa Hyunna sopan. Baru saja Luhan akan menjawab, namun matanya tertuju pada gadis yang datang dari arah dapur membawa segelas teh dan sepiring kue seperti yang ia makan tadi.

Eon, silahkan dimakan. Luhan oppa, sudah selesai?” Cheonsa tersenyum lalu duduk di seberang Hyunna, di samping Luhan.

Gomawo. Cheonsa sangat cantik. Mirip dengan Sehun. Kalian adik-kakak yang manis.” Ucapan Hyunna membuat Luhan membulatkan matanya.

Tega sekali Sehun mengaku bahwa Cheonsa adalah adiknya. Jika saja Sehun bukanlah sahabatnya, Luhan ingin sekali memukulnya sampai ia meminta maaf pada Cheonsa. Namun—sekali lagi—Luhan tak mampu berbuat apa-apa. Luhan melirik Cheonsa. Gadis itu tersenyum mendengar pujian Hyunna.

Gomawo, eon. Aku ke kamar dulu, ya.” Cheonsa tersenyum lalu meninggalkan Hyunna berdua dengan Luhan.

Cheonsa masuk ke dalam kamarnya dan Sehun. Ia mendapati suaminya sedang mengeringkan rambut di depan cermin besar kamar mereka. Sehun yang melihat pantulan Cheonsa masuk kini terdiam. Menghentikan aktifitasnya sejenak.

Oppa duduklah, biar Cheonsa yang mengeringkan rambutmu.” Sehun tanpa bantahan, langsung duduk di kursi terdekat. Membiarkan Cheonsa mengeringkan rambutnya dengan handuk yang sedaritadi ia pakai.

Selama beberapa menit, hanya keheningan yang menemani mereka. Sehun melihat pantulan wajah Cheonsa dari cermin. Gadis ini, semakin cantik setiap kali pertemuan singkat mereka. Sehun juga dapat mencium aroma mawar khas tubuh Cheonsa, yang membuat Sehun tenang jika berada di dekat istrinya itu.

“Rambut oppa agak kasar. Apa oppa selalu memantau lapangan? Perhatikan kesehatanmu juga, jangan terlalu memforsir kerja.” Selalu, saat moment seperti ini terjadi pasti Cheonsa akan menasihati Sehun. Sehun hanya terdiam mendengar suara Cheonsa, yang sepertinya sudah bertahun lamanya tak ia dengar.

“Rambutmu semakin panjang. Poninya juga. Potonglah sedikit.” Entah mendapat dorongan dari mana. Seakan mendapat ilham dari Tuhan, kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Sehun.

Cheonsa terlonjak. Baru kali ini ia mendengar kalimat manis seperti itu dari Sehun. Setetes air mata jatuh di pipi putihnya. Tanpa kata apapun, Cheonsa langsung memeluk leher Sehun. Ia terlampau senang. Bahkan dengan kalimat sederhana itu saja sudah membuat hatinya sangat bahagia. Sehun masih peduli padanya.

Sedangkan Sehun? Ia masih terdiam di tempatnya. Ia hanya menikmati perlakuan Cheonsa padanya. Sehun merasa nyaman dengan harum rambut Cheonsa. Mereka larut dalam keheningan untuk beberapa menit kedepan. Namun Cheonsa segera sadar dan melepas pelukannya.

Ah, Hyunna eonnie menunggumu. Nah, rambutnya sudah kering. Cheonsa keluar dulu ya, oppa.” Cheonsa langsung keluar dari kamar mereka. Entah kenapa, mendengar Cheonsa menyebutkan nama Hyunna membuat hati Sehun sedikit sakit.

0o0

 

Karena Sehun terlalu lelah, ia memutuskan untuk tidak bekerja dulu selama beberapa hari. Ia selalu berada di rumah dan bersantai. Bahkan terkadang ia membantu Cheonsa membuat kue. Apakah itu sebuah awal yang baik? Sepertinya tidak. Karena Hyunna lebih sering berkunjung dan membuat Cheonsa hanya bisa memberikan senyuman termanisnya.

Disaat yang sama, Luhan juga menempatkan dirinya disaat yang tepat. Disaat Cheonsa hanyut dalam kesendiriannya melihat Sehun dan Hyunna tertawa bahagia, Luhan seakan malaikat yang akan selalu menghibur Cheonsa bagaimanapun caranya.

Kini Cheonsa sedang duduk di sofa, menonton drama favoritnya sambil memakan kue buatannya sendiri. Beginilah keseharian Cheonsa di sore hari. Sehun datang dari arah taman belakang dan mendudukkan dirinya di samping Cheonsa. Cheonsa hanya menoleh sambil tersenyum, lalu menyuapkan sepotong kue ke mulut Sehun. Sehun tak menolak. Ia menikmati segala perlakuan manis istrinya padanya.

Luhan datang menyusul lalu duduk di sisi kanan sofa. Matanya mengawasi segala pergerakan Sehun. Luhan sudah menduga cepat atau lambat hal ini akan terjadi. Dan disaat inilah Luhan ingin selalu menemani Cheonsa dan memberikannya semangat.

“Cheonsa, ada hal yang ingin aku sampaikan.” Sehun tetap memandang televisi itu. Luhan sudah bersiap akan memukul Sehun jika kalimat itu benar-benar ia ucapkan sekarang.

Ne, oppa?”

“Dua hari lagi aku akan menikah dengan Hyunna.” Skak. Sehun menatap Cheonsa datar. Luhan masih berdiam diri di tempatnya, menunggu reaksi Cheonsa.

Dan benar perkiraan Luhan. Cheonsa tidak marah, tidak mencaci maki Sehun ataupun menangis meraung. Ia hanya tersenyum manis seperti biasa. Dan itu membuat hati Luhan semakin sakit. Terbuat dari apa hati gadis itu? Ia benar-benar ingin memukul Sehun kalau saja Cheonsa tidak mulai membuka mulutnya.

“Selamat, oppa. Aku doakan yang terbaik untuk kalian.” Sehun sedikit tersentak. Bagaimanapun juga ia istrinya. Apakah ia tak ingin mengucapkan hal lain selain kata ‘selamat’?

“Kau..tidak marah?” Tanya Sehun pelan. Oke, ia mulai khawatir dengan keadaan Cheonsa sekarang. Entah kenapa senyum manis istrinya itu kini terlihat menakutkan di mata Sehun.

“Aku sudah kehilangan emosiku, oppa. Aku sudah tidak bisa marah ataupun yang lain. Aku hanya bisa tersenyum. Aku tidak marah padamu, karena aku mencintaimu. Dan aku hanya ingin kau bahagia.” Tak ada ekspresi lain. Walaupun perkataannya sangat menusuk, namun senyuman manis itu tak pernah pupus dari wajahnya.

“Aku istirahat dulu, ne? Akhir-akhir ini kepalaku sedikit pusing. Mungkin kelelahan. Sehun oppa, Luhan oppa aku duluan, ya.” Cheonsa berlalu menuju kamarnya dan Sehun. Sehun menatap punggung Cheonsa nanar.

Apakah ia sudah sangat keterlaluan? Sehun bertanya-tanya, dimana hatinya selama ini? Mengapa ia tak bisa mencintai Cheonsa? Mengapa tak ada rasa apapun dalam hatinya untuk Cheonsa? Apakah hatinya mati rasa? namun mengapa ia merasa nyaman saat bersama Hyunna?

“Sejujurnya, aku sangat ingin memukulmu, Oh Sehun.” Luhan memulai pembicaraan serius dengan Sehun. Sehun menatap sahabat yang sudah ia anggap sebagai hyung-nya itu. Kesabaran Luhan sudah mencapai batasnya saat ini.

“Pukul saja, ini salahku.” Ucap Sehun datar. Pikirannya saat ini menerawang entah kemana. Luhan menghampiri Sehun, duduk di sampingnya.

“Sayang sekali aku bukan orang seperti itu. Pikirkan sekali lagi Sehun, atau aku akan membantumu dalam berpikir jernih. Dan kau pasti tahu caraku tersendiri dalam menyelesaikan masalah. Malam.” Luhan bangkit dan meninggalkan Sehun yang masih mencerna perkataan hyung-nya itu.

Apa yang akan terjadi?

TBC

112 responses to “Harder Than You Know (1/2) – Angelina Triaf

  1. sehun nyaaaa jahat banget kasian cheonsa luhan bantulah cheonsa.
    nangisss mulu baca nya.masih aja bisa senyum dikeadaan sperti itu kau memang baik cheonsa

  2. nyisek bcnya chingu…
    klw qw jdi cheonsa udh k6 cerai tu sehun…
    sehun knp nybelin bgt…
    cpt update dong chingu…

  3. Ya tuhannnnn aer mataku tba2 ngalir gtu ajj lohh gk two knp…. Pas baca ini feelnya dpt… Ktanya nyentuh dn y plng kena tuh tiap adegan nya…. Demi apa aq suka ff ne wlpun sakitttttt … Tp qo add manusia ky cheonsa aq suka karakter dy perthankan yhh

  4. Sumpah aku mewek keras bacanya/? Jrang jarang ada ff yang bagus banget dan feelnya kerasa banget kayak gini. CHeonsa bener bener kuat yah:’) sehun tega banget sumpah minta ditimpuk:’3 aku bener bener suka ffnya really love it !

  5. Aiiiiiih, feelnya kerasa banget ini! Woooow banget karakter Cheonsa disini. Tetep senyum meskipun disakitin berkali-kali, heol!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s