Guitar la Amor – Angelina Triaf

box 7

Angelina Triaf ©2015 Present

Guitar la Amor

Kim Namjoon/Rapmon (BTS) & Jo Yeonae (OC) | Fluff | G | Ficlet

0o0

Kamar yang semula hening berubah menjadi ruangan yang dipenuhi bunyi-bunyi aneh—yang sebenarnya berasal dari petikan gitar Namjoon sejak empat puluh menit yang lalu. Ia kini duduk di kursi yang menghadap televisi LED-nya, memetik senar gitar kunci demi kuncinya, sesekali menuliskan kunci yang pas di secarik kertas yang bahkan sudah tidak pantas disebut kertas lagi. Oh, jangan lewatkan sudut tempat sampahnya yang sudah sangat berantakan—banyak tumpukan bola kertas di sana.

Masih membahas dilema suasana antara Namjoon, gitar dan goresan pensil di atas kertas, mari kita lihat sisi lain dari kamar seorang Kim Namjoon. Tepat di atas ranjangnya, seseorang yang berbaring sejak berjam-jam yang lalu mulai menggeliatkan tubuhnya, berusaha menyesuaikan pandangannya pada cahaya yang memasuki jendela dengan lembut. Gadis dengan rambut kecokelatan yang agak acak-acakan itu kini langsung mendudukkan tubuhnya, mencari seseorang dengan matanya.

Dan yap, ia melihat pemuda tinggi yang dicarinya dengan wajah minta dilempar dengan bantal sedang asyik memainkan gitarnya dengan asal-asalan.

Ya, Namjoon oppa!” Sebuah pekikan serak berhasil lolos dari bibir mungilnya. Nihil, yang dipanggil masih asyik dengan kegiatan dan dunianya sendiri. Mengembungkan pipi karena kesal, gadis itu bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Namjoon, berusaha mendapatkan perhatiannya.

Ia duduk di samping Namjoon, mengerutkan keningnya karena keadaan kamar yang dipenuhi sampah kertas tidak jelas di sana-sini. Apakah terjadi sesuatu selama ia tidur? “Oppa..”

“Jangan menggoda oppa, Yeonae. Lebih baik kamu memasak sesuatu di dapur sana,” ucap Namjoon lembut, namun masih tidak memandang ke arah Yeonae. Semakin kesal, ia berdiri lagi dan benar-benar meninggalkan Namjoon, menuju dapur.

“Jangan salahkan aku jika ada racun tikus di makanan oppa!”

BRAK!

Pintu dibanting cukup keras, dan kita lihat reaksi Namjoon setelahnya. “Bahkan ia terlihat sangat lucu saat marah ketika baru bangun tidur,” satu kekehan kecil lolos dari bibirnya, sebelum ia kembali melanjutkan kegiatan non sense-nya—memainkan gitar secara random.

0o0

Bahkan sangat sulit membuat Namjoon menghentikan kegiatannya. Yeonae kehabisan tenaga karena harus menyeret Namjoon ke ruang makan. Alhasil kekesalan Yeonae semakin menjadi-jadi dan ia mendiami Namjoon sepanjang makan siang ini. Keheningan menyelimuti mereka. Namjoon juga ikut terdiam karena pada kenyataannya adalah, Yeonae menyembunyikan gitarnya. Kejam.

“Yeonae, katanya kamu akan memasukkan racun tikus ke makanan oppa—“

“Namjoon oppa!” Yeonae menatapnya sinis sedangkan Namjoon mempertahankan wajah polosnya. “Wae? Tadi kamu yang bilang, ‘kan?” Yeonae tidak menjawab, kembali fokus memakan makanannya dalam diam.

‘Dasar menyebalkan! Kubunuh kau, oppa!’

“Kau terlalu mencintaiku untuk melakukan hal itu,” ucap Namjoon pelan. Mungkinkah ia bisa membaca pikiran orang lain? Yeonae membulatkan matanya melihat Namjoon tersenyum mengejek seperti itu. “Jadi, di mana kamu menyembunyikan gitar oppa?” Namjoon menatap Yeonae, namun gadisnya itu tidak ingin menatapnya.

‘Sebenarnya apa yang menarik dari gitar bodoh itu? Apa ia lebih mencintai gitarnya?!’

“Aku mencintai kalian berdua—“

Oppa!”

“Apa lagi? Ekspresi wajahmu mudah tertebak, sayang.” Namjoon terkekeh kecil lalu kembali melanjutkan makannya. Yeonae memang selalu menggemaskan.

Dengan wajah yang memerah, Yeonae kembali melanjutkan makannya. Keheningan kembali datang menemani mereka. Mungkin sekitar sepuluh menit, sampai Yeonae bangkit dari duduknya dan membawa piring kotornya menuju bak cuci piring. Ia dengan wajah yang lemas berjalan gontai meninggalkan dapur beserta Namjoon di dalamnya. Mungkin ingin kembali beristirahat di kamar.

“Taruh saja piring kotornya di sana. Yeonae ingin istirahat,” ujarnya pelan sembari berlalu. Namjoon mengerutkan keningnya karena bingung. Apa yang terjadi dengan anak itu?

0o0

Setelah memutuskan untuk mencuci piring, Namjoon kembali masuk ke dalam kamar, mungkin sekarang Yeonae agak sedikit luluh untuk ia mintai kembali gitarnya. Perlahan ia membuka pintu, mendapati tubuh mungil Yeonae yang sedang duduk diam di sofa, memandang televisi dengan tidak semangat. Sebenarnya ada apa dengan anak ini?

“Yeonae..” Namjoon langsung duduk di sampingnya, mencubit pipi chubby gadisnya itu dengan semangat. Yeonae yang kesal berusaha melepaskan tangan jahil itu dari pipinya. “Ya! Oppa—“

Cup~

Matanya membulat sempurna begitu merasakan sesuatu yang lembut menyapa bibirnya. Namjoon hanya tersenyum kecil, tak ada habisnya ekspresi menggemaskan Yeonae, bahkan saat ini saat ia memberikan sebuah ciuman kilat yang manis. “Di mana gitar oppa, Yeon?”

“Jadi oppa menciumku hanya karena gitar—“ Kembali diciumnya lagi bibir yang cerewet itu, membuat sang gadis manis bersemu sangat merah. Matanya membulat lebih besar dari sebelumnya.

Oppa..”

“Jika tidak menjawab maka akan terus oppa cium sampai—“

“Baiklah! Gitarnya ada di taman belakang, puas?! Yeonae benci oppa!”

Melepas genggaman tangan Namjoon dari jemarinya, Yeonae beranjak menuju ranjang, membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut tebal. Namjoon hanya bisa geleng kepala dan pasrah dengan tingkah kekanakan Yeonae. Ayolah, mana mungkin ia lebih mencintai gitar daripada manusia?

Akhirnya Namjoon memutuskan untuk membiarkan Yeonae dengan kekesalannya. Ia beranjak menuju taman belakang dan mengambil gitar yang ternyata disembunyikan di dekat pohon ceri. Namjoon ingat, Yeonae sangat menyukai pohon ini, apalagi saat musim berbuah dan menampakkan ceri-ceri merah yang cantik. Namjoon tersenyum kecil mengingatnya, lalu kembali berjalan menuju kamar. Yeonae masih membungkus dirinya di dalam selimut, tapi berani taruhan jika gadis manis itu belum tidur.

Angin sore masuk melalui pintu yang terhubung langsung dengan taman. Namjoon merasa semakin melankolis saat ini. Ia memetik gitarnya sesekali, berusaha mencari nada awal yang pas untuk memulai permainannya. Sebuah kejutan cantik untuk gadis yang cantik pula.

Maafkan aku, mungkin aku terlalu rasional. Tapi tetap saja, jika kamu melihatku beberapa hari, kamu akan merasakan sebuah senyum hangat menyapamu. Mungkin kamu sedikit membenciku, atau mungkin saja tidak sama sekali. Aku tahu, aku tidak bisa melihatmu lebih karena kamu hanyalah bagian dari mimpi indahku. Kemudian kamu hanya memberiku satu hari untuk terus bermimpi. Bahkan jika itu hanya sebuah mimpi. Mimpi sehari-semalam. Dari semua kata-kata yang terlintas aku harus menelannya karena alasan segalanya menjadi sebuah realitas,”

Lantunan gitar absurd nan random yang selalu Namjoon perdengarkan, kini menjadi untaian syair sempurna yang mengalun seiring petikan dawai yang lembut. Dari balik selimut, Yeonae mendengarkan segalanya. Ungkapan seorang Kim Namjoon tentang bagaimana sulitnya mendapatkan hati gadis manis itu dulu. Dengan segala perjuangan, ribuan rayuan yang terucap. Namjoon hanyalah seorang laki-laki biasa yang mencinta dengan caranya. Ya, begitulah.

“Dari sekian banyaknya mimpi terindah, aku akan memilih satu dan pastilah itu kamu. Mari kita bertemu ketika ribuan bunga Lili itu bermekaran dan tak akan mengucapkan selamat tinggal saat mereka layu. Aku tidak berpikir akan mendapatkan lebih darimu dengan mudah. Tetapi, apakah aku sang egois yang terlalu mengharapkanmu? Aku masih berbohong, mengatakan bahwa kamu masihlah bagian dari mimpi indahku. Karena kamu selalu berada di tengah-tengah kehidupanku.”

Diawali dengan sebuah benang merah yang tipis dan diakhiri dengan rajutan sempurna cinta yang selalu terkait satu sama lain, Namjoon menatap gumpalan selimut beserta isinya yang masih saja diam. Apakah gadisnya itu benar-benar telah tertidur? Ia meletakkan gitarnya dan mendekat ke arah Yeonae. Jika gadis itu tidur, sia-sia sudah permainan sempurnanya tadi.

“Yeon..” Nihil, tak ada suara apa pun yang terdengar. Namjoon menghela napas dan hendak meninggalkan ranjang sebelum tangan lembut itu menariknya. Hanya sebuah tangan, dan sebuah kata-kata yang manis. “Oppa.. Maaf.” Namjoon tersenyum kecil lalu membaringkan tubuhnya di samping Yeonae. Dipeluknya gumpalan selimut itu bersama gadisnya di dalamnya.

Oppa, sesak!”

“Itu hukumannya karena sudah bertingkah menyebalkan.”

Ya, Kim Namjoon!”

“Selamat malam, sayang.”

Lembaran dongeng terakhir pastilah menjadi sesuatu yang selalu ditunggu-tunggu. Kala pangeran datang dan menyelamatkan putri ataupun melakukan hal heroik lainnya. Namun Namjoon di sini, menjadikan sebuah hal menyebalkan yang manis sebagai penutup dongeng sebelum tidurnya sendiri.

FIN

5 responses to “Guitar la Amor – Angelina Triaf

  1. sweet banget. aku suka suka alurnya. walaupun akhirnya mudah di tembak. tapi ttp oke. feelnya dapat :-*

  2. woy author~ mau tanya¡¡¡
    Yeonae itu siapanya Namjoon? waktu bNgun tdur jstru awalnya kukira dia adik nya namjoon.. istri kah? kok intim sekali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s