Full Colour? Chapter 2

 

 

tumblr_momxqljVMY1sq411to1_1280

Author               : Jenn

Title                   : Full Colour? Chapter 2

Genre                : romance, friendship, school life

Ratting             : PG-16

Cast                   : Jill (OC) | Kim Taehyung (BTS) | Jung Hoseok (BTS)

Support Cast   : BTS Member | Jack (OC)

Chapter 1 | Chapter 2

“jangan lepaskan genggamanku”

***Full Colour?***

Chapter 2

Author POV
            “Jill!!”

Taehyung berlari dengan 2 cup coffee di tangannya. Jimin mengikutinya di belakang.

“ini untuk mu. Mian kami terlambat” Jill mendengus kesal. Taehyung duduk di sebelah kanan Jeill dan Jimin di sebelah kiri Jei.

“kau yang memintaku untuk jangan terlambat. Tapi kau sendiri yang terlambat. Lihat pertandingan hampir selesai” kesal Jill.

“jangan salahkan aku. Ini karena Jimin terlalu lama mandi” tuduh Taehyung. Jimin melotot tak terima.

“enak saja kau menyalahkanku. Ini salahmu juga. Kau sendiri yang memintaku untuk –“ belum selesai Jimin berbicara Taehyung sudah menutup mulutnya. Mata Taehyung melotot seakan mengatakan “tutup-mulut-mu”.

Jill mengernyitkan dahinya bingung

“ada apa dengan kalian berdua?” Tanya Jill

“ahahaha, tidak apa-apa. Iya kan Jimin” Jimin mengangguk seraya meminum ice coffeenya.

Jill menghela nafas kesal. Jill lebih memilih menonton pertandingan daripada meladeni kedua temannya itu. Tanpa Jill sadari, dibelakang tubuhnya Taehyung dan Jimin saling berhighfive.

***Full Colour?***

            Dilain tempat di Whushun Hospital, pria dengan kemeja biru dipadukan dengan celana jeans panjang yang senada.

“permisi, adakah seorang pasien sini yang bernama Jill?” Tanya Hoseok.

“jam berapa ia masuk?” Tanya seorang suster

Hoseok menggaruk  tengkuknya “aku tidak tahu. Tapi aku punya surat panggilannya. Ini” suster  itu mengambilnya dan mulai mengamati.

“mohon tunggu sebentar”

Pria bersurai coklat itu mengangguk. Ia dudukkan tubuhnya disalah satu kursi. Tangannya mengetuk ngetuk tangan kursi dengan bosan. Matanya berkeliling melihat keadaan sekitar.

“tuan Jung”

Merasa di panggil Hoseok beranjak dari duduknya. Suster itu memerikan amplop tadi.

“sepertinya ini sudah lama. Nona Jill memang pernah kemari. Tapi maaf, kami tidak bisa memberitahu”

“tapi aku keluarganya” namun suster itu tetap kukuh. Hoseok menghela nafasnya dengan kesal

“ku mohon beritahu aku. Aku keluarganya dan aku harus tahu”

“maaf tuan, tidak bisa”

“ada apa ini?” seorang pria berkacamata dengan jas dokternya angkat bicara.

“ahh dokter Kim” dokter itu tersenyum dan membetulkan letak kacamatanya.

“tuan ini ingin tahu sesuatu dari nona Jill. Aku sudah mengatakan tidak boleh, tapi tuan ini tetap memaksa” jelas suster itu.

“tentu saja, aku ini keluarganya” dokter Kim mengerutkan dahinya.

“anda, keluarganya?” Tanya Dokter Kim. Hoseok mengangguk

“ya, aku keluarganya. Ahh perkenalkan, Jung Hoseok. Kakak Jill” dokter Kim menjabat tangannya.

“Kim Seok Jin. Senang berkenalan. Apa kau ada waktu siang ini?” dokter Kim – Kim Seok Jin tersenyum simpul. Tatapan matanya tak pernah lepas dari wajah Hoseok.

Hoseok mengangguk mengiyakan.

“kita bertemu di café bucks siang nanti. Aku akan menjawab semua pertanyaanmu”

***Full Colour?***

Jill POV

Myeongdong di hari minggu sangat ramai apalagi ketika malam hari. Aku jamin, aku tidak aka bisa bebas berjalan seperti ini. jadwal hari mingguku digagalkan oleh alien yang entah datang dari mana. Membuat janji tapi dia yang mengingkari. Itu memang kebiasaannya.

Jimin sudah pergi setelah pertandingan selesai. Aku tahu kenapa Taehyung mengajaknya menonton pertandingan baseball. Itu adalah akal-akalan Jimin untuk membuatku tetap berlatih. Bukan berlatih dalam artian melakukannya tapi mengamati. Mengamati bagaimana cara lawannya melakukan pukulan, kekuatan mereka, dan berpikir bagaimana caranya mengalahkan lawannya untuk minggu depan.

Aku duduk disalah satu café terbuka  yang ada di Myeongdong. Café itu terlihat sepi, kurasa baru saja buka. Aku tidak memesan apa-apa. Aku hanya duduk beristirahat menunggu Taehyung yang sedang pergi ketoilet.

Musim gugur tidak begitu dingin seperti musim dingin. Juga tidak begitu panas di musim panas. Musim gugur bagiku adalah musim terindah. Dimana daun-daun kuning berguguran menghiasi jalan. Mengingat musim gugur 5 tahun yang lalu, ayah dan ibu mengajakku menonton pertandingan Dodgers di Amerika. Saat itu aku senang sekali. Ayah dan ibu memang tahu apa kesukaanku.

Ku basahi tenggorokanku dengan coffee yang sudah dingin. Mengingatnya membuatku merindukan ibu. Sudah lama aku tidak mengunjunginya. Anak macam apa aku ini.

“Jill. Ta-da!!”

aku terkaget melihat Taehyung tiba-tiba ada didepanku. Tangannya menunjukkan gantungan ponsel dengan model yang berbeda. Aku mengernyitkan dahiku heran.

“apa?” tanyaku ketus

Ponselku ditarik paksa olehnya. Lalu ia memasangkan gantungan ponsel itu di ponselku dan ponsel miliknya.

“lihat, lucunya. Serasi kan?” ucapnya dengan senang.

Serasi? Apa maksudmu Taehyung. Kenapa hatiku jadi bergetar seperti ini.

“se-serasi? Apa maksudmu?” Tanya ku. Sial, kenapa suaraku terdengar gugup.

“wae? Bukankah sarung tangan dan bola sangat serasi. Kau sarung tangan dan aku bola. Itu maksudku. Memang apa yang kau pikirkan?” tanyanya.

Taehyung menatapku dengan intens. Raut wajahnya terlihat serius tidak seperti biasanya. Apa yang harus kujawab. Tidak mungkin kan jika aku mengatakan bahwa aku berpikir kita berdua yang serasi. Ohh ayolah, demi kemenangan timku minggu depan aku tidak mungkin mengatakannya.

Taehyung tersenyum lebar dan menjentikkan jarinya.

“ahh aku tahu. Pasti kau berpikir jika kita serasi kan? Iyakan iyakan?”aku menunduk malu. Bagaimana bisa alien itu tahu. Kau salah jika menganggapnya polos Jill. dia terlalu peka.

“aku pasti benar. lihat wajahmu memerah. Hahhaha. Aku tidak menyangka jika kau berpikiran seperti itu”

Taehyung tertawa dengan keras. beberapa pejalan kaki memperhatikan kami. Aku menundukkan wajahku malu. Apa yang harus kuperbuat. Ini sangat memalukan.

“le-lebih baik, aku pergi saja” aku berjalan dengan cepat menjauhinya. Kurasa Taehyung tidak tahu akan kepergianku. Aku masih bisa mendengar tawanya.

Kurasakan genggaman tangan di tangan kananku. Ternyata itu tangan Taehyung. pria itu menarikku mngikutinya. Senyum terpancar di wajahnya. Aroma khas tubuhnya tercium olehku. Punggungnya yang tegap terlihat kokoh dari belakang. Punggung kokoh yang selalu melindungiku. Punggung yang selalu menjadi sandaranku.

“tetap bersamaku”

“eh?”

“tetaplah bersamaku. Apapun yang terjadi”

Tetap genggam tanganku

***Full Colour?***

Author POV

Minggu ini penuh dengan latihan. Tidak ada keluhan, tidak ada waktu istirahat panjang. Setelah pulang dari Myeongdong Jill banyak menyendiri dikamar. Perkataan Taehyung membuatnya uring-uringan semalaman.

Hari minggunya menjadi lebih membingungkan begitu Hoseok pulang kerumah. Pria itu tiba-tiba saja menghampirinya lalu memeluknya dengan erat. Jill sempat bertanya apa yang terjadi. Tapi pria itu hanya tersenyum dan mengajaknya makan bersama.

“waktu istirahat 15 menit” Jill mendengus kesal. ia berjalan dengan lemas ke pinggir lapangan. Keringat membasahi tubuh putih pucatnya.

“ash, Jimin senpai kejam sekali. 15 menit? Dia pikir kita robot?” kesal seorang pria berambut hitam dengan poni depan. Pria itu duduk disamping kanan Jill dan meneguk air mineral yang sudah disediakan.

“kau berisik Tanaka-kun” kesal Jill. Handuk putih menyerap keringat di wajahnya. Botol air minum tinggal setengahnya. pria itu – Tanaka Shen melepas topinya dan melipat lengan bajunya hingga atas.

“aku tahu, senpai pasti tidak terima dengan waktu istirahat kita” Tanaka menatap kesal Jimin yang ada di seberang bangku, bersama anggota yang lain.

“mau bagaimana lagi. Kita masih punya waktu 6 hari lagi untuk latihan. Lawan kita dari SOPA. Tidak mudah untuk mengalahkannya”

“tapi waktu 15 menit tidak cukup untuk mengisi perutku. Belum lagi untuk mengantri. Ash, apa dia ingin aku pingsan di tengah lapangan? Jimin-teme”

Satu pukulan mendarat di kepalanya. Jimin berdiri di belakangnya dengan tongkat baseball di tangannya. Rupanya pria itu memukul Tanaka dengan tongkat baseball. Pria jepang itu mengusap kepalanya yang sakit.

“ittaiyo senpai” ucap Tanaka memelas. Jimin duduk disebelah kanan Tanaka lalu menatapnya marah.

“kau sedang menjelekkanku ya?” tuduh Jimin.

“tidak. Kami tidak menjelekkan senpai. Iya kan Jill senpai”

“kau saja. Aku tidak ikutan. Aku pergi dulu”

“yaa, eodiga?” Tanya Jimin

“10 menit lagi kita mulai. Ya!!”

Jill berlalu pergi tak mendengar teriakan Jimin

***Full Colour?***

            “Taehyung hyung!!” Jungkook berlari menghampiri Taehyung. Pria dengan sifat 4D itu berhenti dan menunggu Jungkook.

“wae?” Tanya Taehyung

Jungkook membungkuk mengatur nafasnya. Perlu diketahui Jungkook berlari dari gedung A ke Gedung B. karena untuk tingkat 1 gedungnya terpisah dengan gedung tingkat 2. Tapi tingkat 2 berada satu gedung dengan tingkat 3.

“hyung, hah hah. Disana” Taehyung mengernyitkan dahinya.

“apanya?” tanyanya bingung

“disana. Disana”

“disana apanya kookie? Yang jelas”

“Hoseok hyung sedang dipukuli di toilet” matanya seketika terbelalak.

“mwo! Toilet mana?”

“toilet paling ujung”

***Full Colour?***

            Cress

Air kran keluar begitu diputar. Jill membasuh wajahnya lalu ia pandangi wajahnya dicermin. Ini sudah lebih dari 10 menit tapi Jill belum kembali ke lapangan.

Beberapa titik air menetes. Ia hembuskan nafanya secara perlahan. Ini hal yang paling tidak Jill suka. Memandangi wajahnya membuatnya teringat dengan ibunya. Teringat belaian kasih sayangnya. Pelukan hangatnya. Kecupan yang selalu ia berikan. Aroma tubuhnya khas. Senyuman yang manis tak pernah surut.

“akhh”

Jill tersentak. Suara teriakan terdengar olehnya. Tidak begitu jelas tapi Jill tau itu makna akan kesakitan. Setelah suara jeritan terdengar lagi suara benda yang dipukul. Jil mengerti, ini sebuah pembulian.

Tongkat baseball yang dibawanya ia genggam dengan erat. Berjalan secara perlahan. Suara gaduh semakin terdengar lebih jelas. Ia buka pintu toilet dengan cepat. Namun tak ada apapun.

Apa di toilet pria? Batin Jill. Hei, apa pedulimu Jill. Biarkan saja batin Jill lagi.

Brug

Brag

“Akhhh”

Jill menghentikan langkahnya. Diam termenung. Ashhh apa yang harus kulakukan?

“aaaaaakhhhhhh”

BRAKKK

Pintu terbuka dengan paksa. Jill berdiri didepan pintu toilet pria. Didepannya ada 3 orang pria dan 1 orang dengan wajah penuh lebam. Mata Jill terbelalak. Seorang pria dengan wajah penuh lebam itu, ia mengenalnya.

“Jung Hoseok”

“J-Jill, pe-per-pergi dari si-sini” nafas pria itu terengah. Tentu saja, wajahnya sudah penuh lebam dan darah, seragamnya kotor dengan beberapa kancing yang terlepas.

Jack, sang ketua berhenti melakukan aksinya dan memandang Jill remeh.

“akhh, permainan tidak akan menyenangkan. Jill, apa kabar” jill menatapnya sinis

“shut up your mouth bastard”

Senyum Jack menghilang. Tatapan remeh menjadi tatapan tajam. Kakinya melangkah secara perlahan.

“jangan libatkan dia. Urusanmu denganku Jack”

Satu pukulan mendarat di perutnya. Oh Jae Shin pelakunya.

“kau cantik” puji Jack. Tangannya terangkat berusaha membelai kulit mulus Jill. Belum sempat, Jill sudah menepisnya.

“jauhkan tangan kotormu”

“sebenarnya aku tidak suka bermain kasar dengan wanita, tapi kau memaksaku”

Jack maju lebih dekat lagi. Pria itu sedikit membungkukkan tubuhnya, menyamakan tinggi dengan wanita itu.

“kau cantik. Tubuhmu…wow. Berapa yang harus ku bayar?”

BUG

Tongkat baseball yang Jill bawa ia hantamkan dengan keras ke kepalanya. Jack jatuh memegang kepalanya. Pria itu terlihat sangat kesakitan.

Jae Shin dan Hae Soon menolong Jack. Dengan cepat Jill menghampiri Hoseok.

Namun tangan lain menariknya dan mendorongnya ketembok. Orang itu – Hae Soon mengambil tongkat baseball di lantai. Jack dibantu berdiri oleh Jae Shin. Darah menetes dari kepalanya.

“kau. Kau juga harus merasakannya”

Tongkat baseball itu terangkat sangat tinggi. Jill tak bisa bergerak. Punggungnya terasa nyeri, kakinya juga lemas. Seseorang, tolong kami.

            BUG

Haesoon tergeletak begitu terkena pukulan seseorang. Darah menetes dari sudut bibirnya. Orang itu berjalan menghampiri Jill.

“Jill, neo gwaenchana?” Tanya orang itu – Taehyung.

“Hoseok hyung, Hoseok Hyung”

Jungkook mengguncangkan tubuh pria itu. tapi Hoseok masih menutup matanya. Jill beranjak dari duduknya. Ia memangku kepala Hoseok di pahanya.

“Hoseok-ah. Ya! Ireona! Hoseok! Jung Hoseok!!”

Matanya berlinang. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Jatungnya berdegup dengan kencang. Tangannya gemetar. Kelebat bayangan masa lalu datang bagaikan roll film.

“i-ibu”

Jack dan teman-teman berlari pergi begitu Taehyung akan menghajar mereka.

“ibu”

“Jill, sadarlah”

Tatapannya kosong. Tubuhnya bergetar hebat.

“ibu” lirihnya lagi

“jungkook bawa Hoseok hyung ke klinik sekolah. Biar aku yang mengurus Jill” jungkook mengangguk cepat dan membawanya ke klinik sekolah

“ibu”

Jill mulai menangis ketakutan. Dibayangannya darah berceceran dimana-mana. Orang-orang berkumpul mengelilinginya. Hujan turun dengan deras.

“Jill! Lihat aku” mata memerah itu menatap Taehyung dengan sedih.

“dengar, ada aku. Ada aku disini” pria itu memeluk tubuh lemah itu dengan erat. Jill membalasnya. Ia sandarkan tubuhnya pada Taehyung. Pria itu mengusap rambutnya dengan pelan. Memberikan ketenangan.

“Tae. Aku takut” lirihnya.

“gwaenchana. Ada aku disini”

Dekapan tangan itu kian mengerat. Seakan tangan itu tak ingin terlepas dari sandranya. Sandra yang ia sayangi, atau mungkin kini lebih.

———

2 responses to “Full Colour? Chapter 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s