Secret Love (Flowers in Your Heart) – Angelina Triaf

BrFKLvYIYAACw07.jpg large

Angelina Triaf ©2015 Present

Secret Love (Flowers in Your Heart)

Kim Jongdae/Chen (EXO) & Hanagawa Ren (OC) | Fluff | G | Twoshots

Prev: Secret Love (Midnight Kiss)

0o0

“Oh ayolah Ren, jangan seperti ini terus..”

Sepertinya di saat Yixing sedang mengalami masa bahagianya bersama Hyunna, Jongdae harus menerima nasibnya yang kurang bagus—atau bisa dibilang sangat tidak bagus. Ren marah—siapapun pasti marah jika dikejar-kejar lalu jatuh dengan tidak elitnya di tanah yang kotor, dan bukannya membantu kekasihnya berdiri Jongdae malah lebih memilih untuk menertawakan gadisnya itu selama kurang lebih sepuluh menit. Bagus Jongdae, kau sangat pintar mencari masalah.

Jadilah sedaritadi Ren hanya berdiam diri setelah selesai mengganti baju dan celananya yang kotor terkena tanah, dan sampai saat ini Ren tetap mendiami Jongdae, sangat malas menatap wajah tampan kekasihnya yang menyebalkan. Ingin sekali rasanya ia mencakar wajah sempurna tanpa cacat itu—andai saja Ren tidak terlanjur mencintai Jongdae mungkin hal itu akan benar-benar ia lakukan.

“Awas itu ada ular di belakangmu!” Teriak Jongdae tiba-tiba di tengah keheningan mereka.

“Aku punya banyak ular di rumah. Mau aku kenalkan?”

Ren masih cuek sembari membakar sosis yang telah ia tusuk menjadi panjang di ranting kayu. Jongdae menepuk keningnya atas kebodohannya sendiri. Ren sangat suka ular, justru Jongdae-lah yang akan langsung menjerit saat Ren tengah bermain dengan peliharaannya itu. Dasar Jongdae bodoh.

Masih mencari akal lain untuk membuat hati Ren luluh dan memaafkannya. Ya, sebenarnya Ren tidak marah. Mungkin ia hanya kesal karena Jongdae menertawakannya. Simpel, hanya karena itu. Jongdae memang orang yang seperti itu, selalu kelepasan tertawa tanpa melihat situasi yang jelas. Namanya juga Jongdae, ia memang menyebalkan.

“Ren.. itu ada orang yang terbungkus kain putih sedang melihat ke arah kita..” Ucap Jongdae lagi, kali ini sok ketakutan.

“Tidak ada pocong di Korea, Kim Jongdae.”

Masih dengan jawaban ketus, Ren kini tengah menikmati sosisnya yang telah matang. Jongdae semakin gemas dan ingin sekali memakan tanah yang diinjaknya—jika saja tanah bisa dimakan.

“Memang namanya pocong, ya?”

“Dasar Jongdae bodoh.”

Dia yang menakut-nakuti, namun dia juga yang tidak tahu nama dari setan yang ia sebut. Lagi-lagi hening menemani mereka. Jongdae sebenarnya ingin sekali mencubit pipi Ren karena gemas. Pasalnya lusa Ren akan benar-benar pergi ke Jepang selama beberapa minggu—meninggalkan Jongdae di Korea, namun justru saat dimana seharusnya mereka bermesraan justru diisi dengan pertengkaran yang sama sekali tidak penting—menurut Jongdae.

“Ren.. Ayolah jangan seperti ini..”

Merasa percuma dengan semua ini, Jongdae akhirnya menyerah dan bangkit dari duduknya, meninggalkan Ren yang masih asyik dengan dunianya sendiri—memakan sosis sembari melamun memandangi api unggun. Ia berjalan tak tentu arah, hanya untuk sekedar menjernihkan pikiran saja. Ren terkadang memang seperti anak kecil, dan Jongdae telah mengetahui sifatnya itu semenjak mereka memulai persahabatan mereka semasa sekolah.

Ren yang cantik dan manis, wajah khas Asia-Eropa yang jelas terlihat. Namun berbanding terbalik dengan sikap tomboy-nya yang justru membuatnya semakin terlihat mempesona, memiliki aura yang berbeda dari yang lain. Jongdae jatuh cinta pada pandang pertama kali ia melihat Ren. Saat Ren menawarkan sebuah persahabatan manis padanya. Gadis cantik dengan eye-smile yang selalu membuat Jongdae memikirkannya.

Melamunkan Ren memang tak pernah ada habisnya bagi Jongdae. Ia terus berjalan entah kemana karena sejak tadi hanya melamun saja. Oh tidak, ini tidak akan menjadi lucu jika Jongdae tersesat di kebun villa temannya sendiri—salahkan halaman villa ini yang begitu luas. Merasa masa bodoh, Jongdae kembali meneruskan jalannya, kali ini tanpa melamun agar tidak semakin tersesat.

Sementara Jongdae asyik berpetualang, Ren yang baru tersadar dari lamunannya mendapati ketidakadaan Jongdae. Kemana kekasihnya itu? Sedaritadi hal itulah yang Ren pikirkan. Ren masih terdiam. Sebenarnya ia tidak marah pada Jongdae. Ia hanya kesal, dan itu justru membuatnya malas bicara sehingga mendiamkan Jongdae tadi. Namun Ren tak ada maksud membuat Jongdae sedih, ia hanya malas bicara.

Baru saja ia akan bangkit dari duduknya untuk mencari Jongdae, dari arah kanannya Yixing dan Hyunna telah kembali. Malam semakin dingin, kemana pula Jongdae ini? Apa yang harus Ren katakan jika Hyunna dan Yixing menanyakan keberadaan Jongdae?

‘Jongdae sedang jalan-jalan, ia tidak mengajakku.’ Ah, jawaban konyol.

‘Jongdae kabur karena aku marah padanya.’ Bagaimana mungkin Ren menjawab seperti itu?

‘Jongdae tersesat di kebun villa Hyunna eonnie.’ Ini lebih tidak masuk akal lagi.

Jadi apa yang harus Ren katakan? Kini ia bingung sendiri memikirkan Jongdae. Ia mungkin agak menyesal. Oke, agak. Pasalnya Jongdae juga memiliki sifat kekanakan yang hampir sama dengan Ren, atau mungkin bisa dibilang sama persis? Oh tidak, Hyunna dan Yixing semakin dekat. Bagaimana ini?

“Ren, kenapa sendiri? Dimana Jongdae?” Bagus, Ren tak akan bisa mengelak apapun jika yang bertanya adalah Yixing. Oppa satu ini terlalu baik untuk dibohongi. Bagaimana ini?

Ren hanya diam. Ia merutuki sosisnya yang telah habis beberapa menit lalu. Kini tak ada apapun yang bisa ia lakukan selain melamun memandangi tanah berumput yang ia injak. Bahkan sekarang Hyunna telah resmi duduk di sampingnya sementara Yixing duduk di hadapannya, memeriksa apakah Ren baik-baik saja atau tidak.

“Ren? Apakah kalian ada masalah?” Kali ini Hyunna yang membuka suaranya. Bagus, Ren semakin tak bisa mengelak mendengar suara khawatir khas Hyunna. Eonnie satu ini juga terlalu baik untuk dibohongi.

Merasa percuma, Ren akhirnya langsung memeluk Hyunna. Tangisnya pecah, dan Hyunna hanya bisa balas memeluknya. Yixing yang melihatnya bingung antara kasihan dan ingin tertawa. Pasti hanya pertengkaran kecil, pikirnya. Namun entah mengapa jika Jongdae dan Ren bertengkar hal itu justru terlihat sangat lucu untuk dilihat. Mereka memang sangat manis.

“Jongdae meninggalkanku. Dia memang kekanakan, eon. Aku benci dia..” Ren sangat lucu. Bahkan Yixing hampir saja kelepasan tertawa jika saja Hyunna tidak menatapnya tajam seperti itu. Ren semakin mengeraskan suara tangisnya.

“Kau yakin begitu kejadian sebenarnya? Tak ada yang lain?” Hyunna bertanya dengan lembut. Ren melepas pelukannya dan menatap Hyunna kesal.

“Pasti kalian telah bertemu Jongdae.” Tatapan datar Ren resmi membuat Yixing tertawa. Adiknya satu ini sangat manis jika sedang kesal.

Hahaha, tadi kami bertemu Jongdae di taman bunga depan villa. Ia terlihat seperti orang tersesat jika saja kami tak memberitahunya arah kembali ke sini.” Yixing kembali serius saat mendapat satu pukulan di kepalanya oleh Hyunna. “Mungkin kamu bisa menyusulnya.”

Ucapan Yixing membuat Ren semakin bingung. Apakah ia harus mengalah dan menyusul Jongdae? Tapi bagaimana jika nanti justru Jongdae-lah yang balik marah padanya? Uh, semuanya sangat membingungkan bagi Ren. Hyunna kembali menatap Ren dan mengusap kepalanya, menyingkirkan anak rambut yang menutupi matanya.

“Pergilah, Ren.”

Hanya itu yang bisa Hyunna ucapkan. Ren tersenyum kecil dan akhirnya bangkit dari duduknya lalu pergi ke arah yang Yixing tunjuk. Malam ini sangat dingin, dan Ren dengan bodohnya lupa memakai jaket yang lebih tebal. Ia hanya mengenakan sweater peach kesayangannya. Namun setidaknya itu lebih baik ketimbang tidak memakai penghangat sama sekali.

Ren terus menjelajahi kebun villa Hyunna yang luas ini. Melelahkan, ditambah ia sangat kedinginan. Ia mulai merindukan Jongdae di saat sepeti ini. Pelukan hangatnya, keceriaannya. Ren memang tak pernah betah jika harus berlama-lama marah dengan Jongdae. Toh memang begitulah Jongdae, terkadang—atau bahkan sering—ia memang terlalu berlebihan menanggapi apapun. Namun sekali lagi, Ren memaklumi hal itu. Ia menyayangi Jongdae apapun keadaannya.

Dimana Jongdae? Ren telah mengikuti instruksi Yixing. Kini ia tengah berada di taman bunga dekat air mancur, dan katanya Jongdae sedang duduk diam di sini sembari melihat bintang. Namun kemana dia? Sejauh mata Ren memandang sama sekali tak ia temukan keberadaan Jongdae. Apakah Jongdae telah kembali ke villa? Oh tidak, Ren akan benar-benar marah jika hal itu terjadi.

Jam telah menunjukkan pukul dua dini hari, dan Ren benar-benar mengantuk sekaligus kedinginan. Bagaimana bisa orang tinggal di pegunungan dan tidak mati membeku karenanya? Ren mengeratkan pelukannya pada dirinya sendiri. Seandainya saja Jongdae di sini. Seandainya saja Jongdae-lah orang yang memeluknya..

“Jongdae dimana? Ren kedinginan—“

Baru saja Ren akan memejamkan matanya jika saja lengan itu tak melingkar manis di pinggangnya, memberikan perasaan hangat dan kenyamanan bagi Ren. Ia tersenyum, sedangkan Jongdae hanya terdiam sembari masih memeluk erat Ren dari belakang. Padahal baru terhitung beberapa jam saja mereka bertengkar kecil, namun Jongdae merindukan Ren seakan mereka telah dipisahkan bertahun lamanya. Sungguh berlebihan, namun memang itulah yang Jongdae rasakan. Kerinduan yang sangat pada Ren, pada kehangatan dan kasih sayang serta keceriaan gadisnya. Jongdae merindukan itu semua.

Tak ada kata yang keluar dari mulut keduanya. Hanya sebuah pelukan hangat dan masing-masingnya dapat mengetahui bagaimana perasaan mereka. Cinta yang meletup dan menghangatkan suasana yang dingin di sekitar mereka, kasih sayang yang tiada hentinya mengalir bersama waktu di tiap detik jarumnya, dan segala hal manis lainnya. Jongdae dan Ren, sepertinya nama mereka memang sudah dicatat oleh Tuhan agar saling menjaga. Untuk saling melengkapi dan mengasihi. Ya, hanya ada mereka. Jongdae dan Ren.

“Ren, maaf..” Hanya itu yang mampu Jongdae katakan. Ia bingung dengan suasana seperti ini. Bagaimana dengan Ren?

Jongdae meletakkan dagunya di bahu kanan Ren, pelukannya semakin erat. Jongdae bingung harus berkata apa lagi. Kenapa lidah jadi terasa kelu hanya untuk mengucapkan kata-kata manis yang mampu menghangatkan hati? Jongdae merutuki dirinya sendiri. Keheningan semakin memerangkap mereka dalam situasi yang aneh. Ren sama sekali tak berucap apapun. Tidak memaafkan, tidak pula untuk menolak permintaan maaf barusan. Apa yang sedang Ren pikirkan?

“Aku tahu aku sering bersikap menyebalkan. Tapi, Ren—hey, kenapa menangis?”

Jongdae membalik tubuh Ren menghadapnya, namun justru pemandangan Ren yang menangis tertangkap oleh matanya. Tanpa menjawab pertanyaan Jongdae, Ren langsung kembali memeluk Jongdae dengan erat, menenggelamkan wajahnya dalam kehangatan tubuh Jongdae. Pria itu tertawa kecil lalu balas memeluk gadisnya. Pasti Ren juga merasa tak nyaman dengan pertengkaran kecil mereka. Satu rahasia kecil dalam gadis itu, Ren tidak bisa benar-benar marah pada Jongdae.

Diusapnya kepala Ren, sesekali diciumnya rambut panjang gadisnya agar ia tenang. Malam semakin larut, dan Ren masih belum menghentikan tangisnya. Hanya tangisan kecil, namun segala air mata yang tumpah itu menyiratkan banyak hal. Bahwa Ren sangat menyayangi Jongdae dan tak bisa berada jauh darinya. Jiwa mereka telah menjadi satu, dan sudah tak mungkin dipisahkan lagi.

Setelah dirasa tangis Ren sudah berhenti, Jongdae melepaskan pelukannya, melihat wajah Ren yang kini memerah akibat menangis dan mungkin juga karena udara yang semakin dingin. Lalu dihapusnya sisa air mata yang masih menggenang di mata Ren dengan ibu jarinya. Setelahnya Jongdae meletakkan kedua telunjuknya di kedua sudut bibir Ren, mengangkatnya sehingga terkembanglah sebuah senyum kecil yang manis khas Ren.

“Begini lebih cantik.” Jongdae mengacak rambut Ren sebelum ia pergi ke dekat air mancur. Jongdae terlihat seperti sedang mengambil sesuatu. Ren hanya mengerutkan keningnya melihat kelakuan Jongdae. Apa lagi yang akan ia lakukan?

Jongdae kembali menghampiri Ren yang masih terdiam. Entahlah, sepertinya Ren sedang malas bicara setelah menangis tadi, ditambah lagi ia mulai mengantuk.

“Tadi aku bosan karena hanya berdiam diri di sini, jadi..” Satu flower-crown resmi tersemat di kepala Ren. Gadis itu semakin membatu, entah harus mengucapkan apa pada Jongdae setelah ini. Bagaimana bisa Jongdae yang menyebalkan bersikap manis seperti sekarang ini? “Aku membuat ini. Benar ‘kan, terlihat sangat cantik.”

Ren semakin terdiam. Bagaimana mungkin ia masih bisa marah pada Jongdae jika akhirnya seperti ini? Karena masih malas bicara, Ren hanya tersenyum kecil pada Jongdae, yang membuat Jongdae gemas dan kembali mencubit kedua pipi Ren. Entah perasaan dari mana, Jongdae lagi-lagi memeluk Ren. Sepertinya ia benar-benar rindu dengan gadisnya itu. Mata Ren semakin sayu, ia sudah tak bisa menahan kantuknya.

Oppa, Ren mengantuk..” Racaunya tak jelas, masih dalam pelukan Jongdae. Jongdae melepas pelukannya begitu menyadari keanehan Ren. Sejak kapan gadis itu mau memanggilnya oppa?

“Ya ampun gadis ini, hihi.” Jongdae tertawa kecil melihat Ren yang sudah setengah terpejam. Ia mengangkat Ren dalam gendongannya, memeluknya agar tidak kedinginan, “ayo kita kembali ke tenda atau sleeping beauty ini akan kedinginan.”

Benar saja. Ren benar-benar terpejam dalam gendongan Bridal Style Jongdae. Flower-crown itu juga masih berada di kepala Ren. Jongdae berjalan santai, menikmati hembusan angin dingin yang menerpa wajahnya. Wajah tidur Ren memang yang paling manis. Damai dan menggemaskan seperti anak kecil. Hanya saja Ren terlalu sering memakai make up. Sebenarnya Jongdae tidak suka, namun make up memang sudah menjadi makanan sehari-hari bagi model sepertinya. Hanya saat jalan-jalan bersama Jongdae saja Ren tak pernah menggunakan make up, atau hanya memolesnya tipis.

Hari ini mereka semua akan pulang ke kota dan besok Ren sudah harus kembali ke Jepang. Ia baru akan kembali ke Korea sekitar satu bulan lagi, paling cepat dua minggu. Jongdae tak bisa membayangkan bagaimana ia akan merasakan rindu nanti. Berbeda dengan Yixing dan Hyunna yang bisa setiap hari bertemu di gedung latihan. Hidup memang tak selamanya berjalan sesuai yang kita inginkan.

Akhirnya Jongdae sampai di tenda. Sudah sepi, pasti Yixing dan Hyunna sudah tidur. Baru saja Jongdae membuka tenda Hyunna dan Ren, ia mendapati gege-nya itu tertidur di samping Hyunna. Huh, kesempatan. Baiklah, mau tidak mau Jongdae harus tidur dengan Ren di tendanya dan Yixing. Jongdae masuk ke dalam tenda, membaringkan Ren dengan perlahan. Ia juga masuk dan memilih untuk duduk di samping Ren yang tertidur. Gadisnya itu memang sangat manis.

Jongdae jadi teringat momen saat teman-temannya tak percaya jika kekasih Jongdae adalah seorang model keturunan Jepang-Jerman dengan wajah yang sangat cantik. Padahal dulu Ren adalah gadis kecil manja namun senang memanjat pohon. Orang tua Ren bahkan rela membuatkan rumah pohon di halaman rumahnya di Korea agar Ren tidak terlalu sering memanjat pohon sembarangan lagi. Jongdae sering diajak Ren untuk berkunjung ke rumah pohonnya. Siapa sangka gadis kecil manja itu kini sukses menjadi model terkenal?

Setelah melamun cukup lama, Jongdae memilih tidur. Ia menatap langit-langit tenda, ternyata ia tak bisa tidur. Tiba-tiba Ren memeluknya. Jongdae hanya tertawa kecil melihat Ren yang tertidur dengan pulas.

“Hari ini aku biarkan kamu menyamakanku dengan guling kesayanganmu. Malam, sayang.” Jongdae membenarkan posisi tidurnya, menghadap Ren. Dikecupnya kening Ren dan Jongdae pun ikut tertidur memeluk kekasihnya. Malam yang panjang ini adalah salah satu yang tak akan pernah Jongdae lupakan.

0o0

“Huaa, akhirnya kita pulang! Hah, aku mengantuk..”

Mereka baru saja sampai di apartemen Ren. Yixing dan Hyunna langsung pulang setelah mengantarkan Jongdae dan Ren. Kini Jongdae tengah berada di dapur untuk mengambil segelas air dan Ren langsung merebahkan tubuhnya di sofa.

“Aku lelah sekali, rasanya masih ingin istirahat sampai besok dan membatalkan keberangkatan ke Jepang,” ucapnya pada Jongdae yang kini duduk di sofa sampingnya. Jongdae hanya menggeleng pasrah sembari menatap Ren. Bagaimanapun juga Ren tetaplah Ren, suka seenaknya sendiri.

“Kamu mengantung flower-crown yang kubuat kemarin di ruang tamu?” Tanya Jongdae setelah tak sengaja melihat lingkaran bunga itu bertengger manis di dinding atas televisi.

“Iya, habisnya di kamar sudah penuh—“

“Kau masih menyimpan flower-crown yang telah kuberi sebelumnya? Pasti sudah layu dan kering, ‘kan?” Jongdae menatap Ren tak percaya. Sepanjang mereka menjadi kekasih, mungkin sudah tak terhitung lagi berapa flower-crown yang telah Jongdae buat untuk Ren, dan Ren menyimpan itu semua?

“Iya ada beberapa yang sudah kering. Aku memberinya air dan pengawet. Setidaknya bisa tahan agak lama sebelum benar-benar kering. Ayo bantu aku membereskan koper untuk besok,“ ajak Ren seraya bangkit dari tidurnya dan hendak berjalan menuju kamarnya.

“Tidak mau, bereskan saja sendiri.” Sebenarnya Jongdae mau. Ia hanya ingin menggoda Ren.

Ren mendengus pelan lalu kembali melangkahkan kakinya ke arah Jongdae duduk. “Jongdae sayang, ayolah..” Ren memeluk leher Jongdae dari belakang, mencium pipinya dan menggoda Jongdae agar bangkit dari duduknya dan membantunya di kamar.

“Ren, kamu tahu ‘kan apa yang akan terjadi jika berani menggodaku seperti ini?”

“Aku tahu,” ucap Ren polos. Atau sok polos?

“Dan kamu tahu ‘kan apa konsekuensi yang akan kamu dapat karena sudah berani menggodaku?” Nada bicara Jongdae tak kalah menggoda dibandingkan dengan Ren. Mereka memang pasangan yang sama-sama jahil.

Ren mengangguk, kembali mencium pipi Jongdae, bahkan lehernya pun tak luput dari bibir Ren. Dasar gadis nakal, “sangat tahu.”

Jongdae menyerah, ia akhirnya bangkit dari duduknya dan berjalan langsung menuju kamar Ren, mengabaikan Ren yang tersenyum penuh kemenangan. Jongdae memang pria baik, ia tak akan mungkin membiarkan Ren mengerjakan pekerjaan yang menyusahkan sendirian. Jongdae membuka pintu kamar Ren, dan benar saja, banyak flower-crown yang tergantung di dinding kamar, bahkan hampir semuanya masih terlihat segar. Jongdae membuka lemari paling bawah Ren, tempat koper Ren disimpan.

“Jongdae bantu aku memilih sepatu dan topi, ada di lemari paling bawah—“ Belum selesai ucapan Ren, Jongdae telah membuka lemari bagian atas milik Ren. Tempat semua..

“Kau memiliki banyak sekali koleksi yang bagus, nona Hanagawa.” Ucap Jongade dengan nada bicara yang dibuat menggoda.

Tempat semua lingerie-nya tergantung dengan cantik. Bagus, Jongdae melihatnya.

“Aku hanya mengenakannya saat tidur,” bela Ren dengan wajah memerah, membuat Jongdae semakin semangat untuk menggodanya.

“Oh, benarkah? Tapi kenapa setiap aku menginap di sini kamu hanya mengenakan kaus putih polos kesayanganmu dan celana pendek? Bukan memakai salah satu dari—kau tahu—itu,” ujar Jongdae sambil menunjuk semua lingerie-nya. Jongdae mendekatkan dirinya pada Ren. Sudah kepalang basah, lebih baik Ren ikut menggoda Jongdae saja. Jongdae itu pria baik, tak mungkin otaknya memikirkan hal yang tidak-tidak. Jongdae pasti hanya ingin menggoda Ren saja.

“Jadi, tuan Kim ini ingin melihatku memakai salah satu dari itu, hm?” Kini Ren yang mendekatkan tubuhnya ke arah Jongdae. Ia memainkan jemarinya di dada Jongdae. Saatnya menggoda Jongdae! “Baiklah, bagaimana jika sekarang aku langsung memakainya? Tepat di hadapanmu,” bisik Ren seduktif, membuat pipi Jongdae memerah. Padahal kan ia yang ingin menggoda Ren, kenapa justru ia yang tergoda?

Pfftt.. Hahaha, Jongdae pipinya merah. Kyeopta!” Ren langsung kabur begitu melihat wajah Jongdae berubah menjadi angker. Dasar Ren jahil. “Ya! Awas kau ya, Ren! Jika tertangkap nanti kau harus benar-benar memakai itu di hadapanku!”

Mulai lagi suara cempreng Jongdae dan teriakan ketakutan Ren memenuhi apartemen itu, meninggalkan satu lagi momen manis di antara mereka. Jongdae dan Ren, sepertinya mereka memang ditakdirkan menjadi anak kecil selamanya.

FIN

9 responses to “Secret Love (Flowers in Your Heart) – Angelina Triaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s