Sweet Regret [Oneshoot]

sweet-regret

Sweet Regret

Romance

PG +17

Park Chan-Yeol ~ Lee Ji-Eun (IU)

——————————————————————————

Lelaki itu berjalan dengan langkah lebar yang tergesa gesa di sepanjang koridor Kyunghee. Orang yang dikenal tidak pernah sedih itu mengejutkan seisi KyungHee dengan tidak menyapa satu pun orang yang telah ia lewati, bahkan ia menabrak siapa saja yang menghalangi jalannya. Kepalanya terasa panas dan siap meledak kapan saja. Asal tau saja, ChanYeol—lelaki itu—belum pernah terlihat semenakutkan ini. baru kali ini tidak ada yang berani menyapa Chan-Yeol. Baek-Hyun yang mencoba menghibur lelaki jangkung itu dengan menirukan ahjumma-ahjumma tukang gossip di depan rumahnya saja hanya Chan-Yeol anggap angin lalu. Tidak ada yang dapat menyentuhnya hari ini.

Ia terus berjalan keluar dari gedung fakultas Ilmu Kedokteran menyebrangi halaman tengah KyungHee menuju gedung fakultas Teknik Informatika. Sesekali ia mengusap wajahnya menahan emosinya. Demi apapun, ia ingin sekali menendang apa saja, membanting apa pun, dan meneriaki siapapun yang menghalangi jalannya. Sungguh.. jika bukan karena Lee Ji-Eun, maka harinya tidak akan segelap ini. tidak akan.

Chan-Yeol berbelok dan langsung membuka pintu di dekat tangga itu dengan kasar. Beberapa orang yang ada di sana tersentak dan menatap ke arah pintu. Tapi nampaknya segerombolan gadis yang tengah asik bercengkrama itu sudah menganggap dunia milik mereka, mereka tidak terusik dengan keheningan yang tiba-tiba menyelimuti kelas.

“Ji-Euna..” Chan-Yeol berusaha menjaga nada bicaranya.

Ji-Eun—bahkan 2 gadis yang lain—menoleh, Ji-Eun berkedip sekali, tidak menyangka Chan-Yeol ada di depan pintu kelasnya dengan aura yang berbeda dari biasanya. Namun ekspresi gadis itu seperti air yang tenang, datar seperti selembar kertas dan dingin seperti kabut. Dan perlu di garis bawahi, Chan-Yeol sangat tidak suka Ji-Eun menunjukkan ekspresi seperti itu.

“Ne?” Ji-Eun kemudian menyahut.

Chan-Yeol yang tampak sudah di ujung kesabaran hanya menghembuskan nafas kasar. Ia berjalan dengan langkah lebar menghampiri Ji-Eun yang duduk di antara Jun-Hee dan Naeun lalu menarik paksa pergelangan Ji-Eun hingga gadis itu mau tidak mau keluar dari himpitan teman-temanya.

“Ada apa Chan-Yeol?” Oke, Ji-Eun tidak tahan untuk tidak bertanya.

Chan-Yeol tidak menjawab. Ia melangkah dan membawa Ji-Eun pergi dari kelas.

Ji-Eun tahu. Jika sudah begini, Chan-Yeol tidak lagi bisa diajak bicara. Ia tidak akan menjawab barang sepatah kata pun. Akhirnya, Ji-Eun hanya pasrah mengikuti Chan-Yeol dengan sedikit menahan sakit di pergelangan tangannya. Ji-Eun tidak pernah berfikir Chan-Yeol akan menggenggamnya sekuat ini.

Tunggu.. ini seperti Ji-Eun sangat mengenal sorang Park Chan-Yeol.

Tidak. Sebenarnya hubungan mereka tidak sedekat itu, sebelumnya. Well, baiklah… mereka memang terlihat dekat beberapa bulan ini. dan jangan lewatkan fakta bahwa makhluk humoris macam Chan-Yeol ini menyukai Lee Ji-Eun yang dikenal.. tidak, dia tidak sepopuler Chan-Yeol. Ji-Eun hanyalah mahasiswi fakultas Teknik Informatika yang tidak hobi bicara panjang lebar, namun meski begitu Choi Jun-Hee dan Naeun mengakui bahwa Ji-Eun adalah pendengar paling baik yang pernah ada. Predikatnya sebagai cumload 2 semester ini memang berimbas pada jalan pemikirannya yang amat logis dan.. analisisnya sangat kuat. Tapi justru itu menjadi titik lemah Ji-Eun. Ji-Eun memang pendengar yang baik, namun jika salah satu dari Choi Jun-Hee dan Naeun mulai bercurhat tentang cinta, Ji-Eun tidak pernah berkomentar. Yeah.. mungkin ia sesekali berkomentar, tetapi komentarnya sangat tidak meyakinkan. Bahkan terkesan menjengkelkan.

Mereka sampai di halaman belakang KyungHee. Chan-Yeol berhenti di bangku panjang dekat pohon Sakura kemudian menarik tangan JI-Eun agar gadis itu ada di depannya. Seharusnya Ji-Eun tahu apa yang di maksud Chan-Yeol lewat matanya yang memerah dan sedikit kerut di keningnya. Tapi sayangnya kepekaan gadis itu tidak lebih tinggi dari rumput yang ia pijak.

Hening mengisi beberapa detik diantara mereka. Chan-Yeol menggeram pelan. Sungguh.. Ia tidak tahan dengan sikap Ji-Eun yang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu itu. Tega teganya gadis itu membuat suasana hatinya kacau hari ini.

“Jelaskan padaku..” Gumam Chan-Yeol.

“Menjelaskan apa?” balas Ji-Eun.

Sekali lagi Chan-Yeol menggeram. “Jangan pura-pura tidak tahu Ji-Euna.” Nada Chan-Yeol meninggi.

“Aku memang tidak tahu, Chan-Yeol. Jadi jelaskan padaku dan jangan membuatku bingung.” Ji-Eun menyamakan.

Chan-Yeol membuang nafas kasar sambil memalingkan wajahnya, diam sejenak kemudian kembali menatap Ji-Eun. “Lalu apa maksudmu menerima pernyataan Min-Hyuk kemarin sore, huh?!”

Ji-Eun mengerjap.

“Jadi jelaskan padaku kenapa kau menerimanya sementara aku tidak?!” Ungkap Chan-Yeol tidak sabar.

Setelahnya nafas Chan-Yeol naik turun karena emosi, sedangkan Ji-Eun mengernyit sambil membalas tatapan Chan-Yeol yang berapi-api.

“Aku tidak menerimanya.” Jawab Ji-Eun tenang.

“Cih.. omong kosong.” Chan-Yeol memalingkan wajah.

“Sungguh..”

“Semua orang tahu, Lee Ji-Eun.” Ujarnya sakartis.

“Ini tidak seperti yang kau kira.” Ji-Eun maju selangkah mendekat pada Chan-Yeol. Dan ia kecewa melihat Chan-Yeol menjauh selangkah kebelakang, terkesan menghindarinya.

Tapi detik itu juga Chan-Yeol merasa bersalah dengan wajah kecewa Ji-Eun. Ini pertama kalinya Chan-Yeol menghindarinya. Kemudian nada Chan-Yeol merendah “Kenapa kau lakukan itu padaku Ji-Euna?”

Chan-Yeol yang melembut justru menohok Ji-Eun dengan keras. Tidak. Ini salah paham.

“Aku sudah bilang Chan-Yeol. Aku tidak menerima siapapun, kemarin atau kapanpun.” Mata Ji-Eun mulai berkabut.

Chan-Yeol diam dengan menahan dentuman keras di dalam dada.

Ini adalah sakit yang luar biasa. Bagi Chan-Yeol maupun Ji-Eun.

Ji-Eun yang baru beberapa jam lalu menyadari ada sesuatu yang lain terhadap Chan-Yeol harus mendengar nada tinggi dari seorang Chan-Yeol. Jujur saja, Ji-Eun tidak pandai mengungkapkan isi hati.

Memang benar, kemarin sore Min-Hyuk datang padanya. Ini sedikit aneh karena sebelumnya Ji-Eun tidak terlalu akrab dengan teman sekelas Chan-Yeol itu. Bahkan percakapan pertama mereka berlangsung beberapa hari yang lalu saat Ji-Eun menunggu Chan-Yeol di depan gedung olahraga universitas setelah pertandingan basket selesai. Siapa sangka Min-Hyuk akan membicarakan hal yang berat seperti ‘Aku mencintaimu’ di percakapan mereka yang kedua kalinya. Dalam hati Ji-Eun terheran. Kenapa orang ini bisa datang padanya ke Universitas sedangkan Chan-Yeol mengaku tidak ada kelas saat mereka bertukar pesan pagi itu.

Reputasi Min-Hyuk tidak kalah besar dengan Chan-Yeol di KyungHee. Belum lagi ia mengatakan kalimat itu dengan lantang di halaman KyungHee sambil berlutut dan menyodorkan serangkai bunga layaknya drama televise. Kemudian sebagai sopan santun Ji-Eun mengambil bunga dari tangan Min-Hyuk. Namun kata berikutnya adalah “Akan kupikirkan.”

Baiklah. Sekarang Ji-Eun seratus persen sadar. Ia tidak seharusnya memberi Min-Hyuk harapan dengan berkata seperti itu jika memang hatinya sekarang penuh dengan Chan-Yeol.

Ji-Eun… kau memang bodoh.

“Chan-Yeol. Maafkan aku.. ”

“Aku benar-benar menyukaimu..” bola mata Ji-Eun kembali menatap Chan-Yeol. “Apa kau tahu?” lanjut Chan-Yeol.

Ji-Eun terdiam. Seakan hanyut dalam tatapan Chan-Yeol. Lidahnya kelu untuk saat ini, entah kenapa.

Chan-Yeol menghela nafas. “Sia-sia harapanku jika kau ternyata memberi harapan pada orang lain.”

Kemudian Chan-Yeol berbalik dan melangkah pergi.

Kesadaran Ji-Eun seperti tercabut begitu saja. Butuh waktu lama untuk memproses kata-kata terkahir Chan-Yeol hingga gadis itu mendapati Chan-yeol sudah jauh meninggalkannya. Kakinya lemas dan kemudian ia terduduk di bangku panjang setelah melihat Chan-Yeol berbelok melangkah ke gedung KyungHee. Air mata Ji-Eun akhirnya menetes untuk kebodohannya.

———————————————–

Chan-Yeol membolos hari ini. setelah menemui Ji-Eun di belakang Universitas ia enggan melangkahkan kaki ke kelasnya. Belum lagi kepalanya mungkin akan pening jika melihat wajah Min-Hyuk dengan tatapan mengejeknya. Chan-Yeol bersumpah akan mencacati wajah Min-Hyuk—yang katanya tampan—dengan kepalan tangannya jika saja Min-Hyuk berani menyulut emosi Chan-Yeol sekali lagi.

Akhirnya Chan-yeol menghabiskan sisa harinya di gedung olahraga. Mendrible bola dan memasukkan kedalam ring. Terus seperti itu sambil sambil memikirkan gadis pendek bernama Lee Ji-Eun tanpa rasa lelah.

Gadis itu..

Chan-Yeol menggeram sambil melempar bola dengan keras hingga terpantul entah kemana. Ia terduduk, menunduk dan menarik rambutnya dengan mata menatap nanar tetesan keringat dari dahinya.

Tega sekali memperlakukanku dengan seenak hati. Jika memang tidak membutuhkan kenapa gadis itu terus saja mengurung dan mengikatku untuk tidak pergi. Apa dia pikir ini tidak menyakitkan? Ini sangat sakit!!

Chan-Yeol akui Ji-Eun berbeda, sikapnya yang tenang mengundang rasa ingin tahu lebih hingga Chan-Yeol sendiri candu. Chan-Yeol sudah mengenal Ji-Eun sejak SMA. Tapi mereka tidak pernah benar-benar ada dalam sebuah percakapan hingga Tuhan memberi mereka jalan untuk saling mengenal lewat dompet Ji-Eun yang tertinggal di aula sekitar satu tahun yang lalu. Semua berjalan dengan baik, kecuali Chan-Yeol yang selalu gusar jika melihat Ji-Eun lewat di depannya tanpa menyapa. Akhirnya, Chan-Yeol yang selalu mencari cara untuk bisa berkomunikasi dengan Ji-Eun hingga anugrah lain datang pada Chan-Yeol. Hari itu, Chan-Yeol melihat Ji-Eun menangis dan tertawa lepas untuk yang pertama kalinya. Kemudian sejak saat itu, tangis Ji-Eun adalah hal baru yang ia benci dan tawa Ji-Eun adalah hal baru yang ia sukai. Lalu hubungan mereka berkembang.

Tanpa sadar Ji-Eun mulai membalas Chan-Yeol, dengan selalu merindukan pesan singat Chan-Yeol setiap pagi. Mereka lebih sering berjalan berdua dari biasanya hingga mirip seperti sepasang kekasih. Kemudian suatu hari Chan-Yeol tidak sengaja mengetahui Ji-Eun membantah mereka sedang berkencan saat ke dua temannya mengintrogasi Ji-Eun di belakang Universitas. Jujur saja, itu menjadi salah satu pendorong Chan-Yeol mengungkapkan perasaannya pada Ji-Eun tepat di depan rumahnya setelah mereka pulang dari Lotte World.

Dan jawaban JI-Eun. “Aku belum bisa menjawab sekarang.”

Chan-Yeol menggeram mengingat adegan demi adegan masa lalu yang membuatnya ingin sekali menceburkan dirinya ke lahar panas. Baru saja Chan-Yeol ingin berteriak dan tiba-tiba Baek-Hyun datang sambil menenteng ransel dengan sebelah tangan.

“Ayo ke Club.” Ajaknya.

————————————-

Gadis itu menutup layar laptopnya. Ia meremas jarinya dan sesekali menggigit kuku sambil memandang ponsel di samping laptopnya.

Chan-Yeol tidak membalas pesanku. Kemana dia?

Kemudian Ji-Eun meraih ponselnya dan cepat cepat menekan panggilan cepat nomor satu. Lalu nama Chan-Yeol tertera di layar ponsel diiringi dering panggilan. Benar kan? Ji-Eun bahkan sudah tidak ingat sejak kapan Chan-Yeol jadi yang nomor satu. Ji-Eun memang sangat terlambat menyadari perasaannya. Rasa kehilangan memang tanda rasa memiliki. Tunggu.. jadi Ji-Eun merasa kehilangan sekarang? ini terlalu rumit.

Ji-Eun menunggu. Namun tidak ada jawaban. Ia menekan panggilan cepat nomor satu lagi, lagi dan lagi. Tapi sama. Tidak ada jawaban.

Coba menghubungi Baek-Hyun. Barang kali Chan-Yeol sedang bersamanya.

Ji-Eun kembali menunggu. Namun sama. Tidak ada jawaban.

Gadis itu menghela nafas. Menggengam ponselnya dengan kedua tangannya dan menempelkan ke dahi. Berharap ponsel itu segera berdering dengan Chan-Yeol yang menelfon. Tetapi sudah lima belas menit ia diam di posisi itu dan layar ponselnya tetap mati.

Akhirnya dengan keyakinan penuh Ji-Eun bangkit dan melesat ke kamarnya, memakai jaket dan syal, mengambil tas kecilnya, memasukkan dompet dan ponsel kedalamnya. Ji-Eun sendiri tidak tahu harus mencari Chan-Yeol kemana, tapi malam ini ia harus menemui Chan-Yeol dan mengungkapkan perasaannya. Ia tidak perduli terlambat atau tidak.

Tiba-tiba tepat setelah Ji-Eun selesai memakai sepatunya, Bel apartmennya berbunyi. Ji-Eun mengernyit dan membuka pintu.

“Chan-Yeol?!” Ji-Eun terbelalak mendapati Chan-Yeol berdiri di depan pintu dengan sebelah tangan menumpu tubuhnya yang terlihat agak tidak seimbang di mulut pintu dan bau alcohol yang kentara sekali oleh indra penciuman.

Chan-Yeol mengangkat wajah dan menatap Ji-Eun. “Ji-Euna..” panggilnya pelan dengan suara serak. Baru saja ia menegakan badan dan tiba-tiba tubuhnya ambruk mengenai Ji-Eun.

Ji-Eun sendiri memekik kaget dan dirinya sampai terhuyung kebelakang tertimpa tubuh Chan-Yeol yang menjulang tinggi plus berat—tentunya. Gadis itu mengerjap dan menoleh kearah Chan-Yeol yang ternyata sudah memejamkan matanya. Ji-Eun menghela nafas.

Gadis itu kemudian menutup pintu dan memabawa Chan-Yeol masuk dengan susah payah. Ia membaringkan Chan-Yeol di sofa ruang tengah dan—tidak dapat dipungkiri—nafas Ji-Eun naik turun setelahnya. Well, ukuran Chan-Yeol dan Ji-Eun tidak sepadan jika kalian lupa.

Ji-Eun berdiri. Menatap sedih Chan-Yeol yang terpejam dengan rambut dan kemeja berantakan, sebelah tanganya menggantung lemas hingga menyentuh lantai. Ji-Eun membungkuk, berniat membenarkan tangan Chan-Yeol. Namun Ji-Eun terkejut hingga memekik pelan ketika tangan Chan-Yeol justru menarik pergelangan tangannya hingga Ji-Eun jatuh di atas dada Chan-Yeol. Lelaki itu memeluk tubuh mungil Ji-Eun setelahnya.

Ji-Eun reflek beringsut agar menjauh dari Chan-Yeol. Tapi Chan-Yeol nampaknya tidak mengizinkan, ia semakin erat memeluk Ji-Eun. Pipi Ji-Eun memerah dan dadanya berdebar kencang. Oh Tuhan, ia tidak pernah sedekat ini dengan Chan-Yeol sebelumnya.

“Chan-Yeola..” gumam Ji-Eun pelan. Demi apapun, ia lupa cara bernafas sekarang.

“Sebentar. Biarkan ini sebentar saja.” Balas Chan-Yeol yang masih menutup mata.

Tapi Ji-Eun butuh sesuatu untuk menutupi wajahnya. Ia tiba-tiba merasa malu tanpa sebab, merasa darahnya mengalir dengan hangat hingga membuat Ji-Eun merona. Ia menelungkupkan wajahnya dengan kedua tanganya dan itu membuatnya bertambah buruk. Aroma Chan-Yeol yang bercampur dengan keringat dan alcohol menimbulkan sensasi aneh pada Ji-Eun.

Ji-Eun memejamkan mata. Menahan gejolak yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dadanya berdebar dua kali lebih kencang, lebih keras hingga ia takut Chan-Yeol bisa mendengarnya.

Tapi kemudian lamat-lamat Ji-Eun merasakan detak jantung Chan-Yeol dibalik tanganya. Perlahan Ji-Eun beringsut, meletakkan telinga di atas dada Chan-Yeol, mendengarkan detak Chan-Yeol dengan seksama.

Ini menyenangkan. Jantung Chan-Yeol dan jantungnya sendiri berdetak seirama. Menenangkan hingga melumpuhkan syaraf tegang manapun di diri Ji-Eun.

“Ji-Euna..” panggil Chn-Yeol dengan suara rendahnya,

Ji-Eun mendongak.

Chan-Yeol membuka mata, menunduk untuk menatap Ji-Eun. “Aku menyukaimu..”

Ji-Eun mengerjap. Sial, Ji-Eun berdebar lagi.

Chan-Yeol menarik nafas kemudian mengerang pelan. “Tidak. Aku tidak menyukaimu.”

Dan seketika Ji-Eun bagai batu yang dijatuhkan dari langit. Apa-apaan pria ini?

Chan-Yeol mendudukan diri—dan Ji-Eun—dengan masih memeluk gadis mungil itu. Menatap Ji-Eun hingga—lagi-lagi—membuat dirinya hanyut. Perlahan Chan-Yeol mendekat, menyatukan dahi mereka dan menatap Ji-Eun lebih dalam lagi. “Aku tidak menyukaimu.” Ulang Chan-Yeol.

Ji-Eun tidak terlalu mendengar ucapan Chan-Yeol, telinganya penuh dengan suara debaran jantungnya. Bahkan Ji-Eun tidak berani membalas tatapan Chan-Yeol. Sungguh.. Nafas Chan-Yeol membuatnya bergetar.

“Tapi aku mencintaimu..” bisik Chan-Yeol.

Seribu kupu-kupu kini menggelitik perut Ji-Eun.

“Sekarang jawab aku.” Chan-Yeol menyentuh dagu Ji-Eun, mengundang gadis itu untuk balas menatapnya. “Apa kau juga mencintaiku?”

Dengan tangan sedikit gemetar, Ji-Eun memegang tangan Chan-Yeol. Kemudian ia tersenyum sambil mengangguk.

Chan-Yeol tersenyum lebar. Ia menggengam tangan Ji-Eun, lalu mencium gadisnya dengan sepenuh hati.

——————————

Kepala Chan-Yeol berputar putar. Ia menekan pelipisnya kemudian membuka matanya dengan perlahan, mengerjap menyesuaikan cahaya yang serasa menusuk matanya.

Semalam ia mimpi indah. Dalam mimpinya ia berciuman dengan Ji-Eun dan menyatakan cintanya. Sungguh indah bukan?

Tunggu.. Dimana ini?

Chan-Yeol melihat sekeliling.

Apartmen Ji-Eun?

Jadi yang semalam itu…

Kemudian perhatian Chan-Yeol teralihkan dengan gadis yang keluar dari dapur sambil membawa cangkir di masing-masing tangannya. Gadis itu terkesiap melihat Chan-Yeol yang sudah terduduk di sofa, tapi kemudian ia tersenyum dan menghampiri Chan-Yeol.

Chan-Yeol terus memperhatikan Ji-Eun. Bagaimana Ji-Eun meletakkan cangkir itu di meja dan duduk di hadapannya sambil tersenyum. Alangkah indahnya pagi ini. batin Chan-Yeol.

“Pusing?” Tanya Ji-Eun lembut. Penuh perhatian.

Chan-Yeol bergumam sebagai balasan, kemudian ia kembali memijit pelipisnya. Kapalanya memang masih berdenyut walau tidak terlalu menyakitkan.

“Kalau begitu minum ini.” Ji-Eun mengambil satu cangkir dan Chan-Yeol menjauhkan wajahnya ketika Ji-Eun berniat membantunya minum.

“Apa ini?” Tanya Chan-Yeol sebelum ia mendekat untuk memeriksa isi cangkir dan mengendusnya.

“Teh hijau, Park Chan-Yeol.” Jawab Ji-Eun agak malas.

Chan-Yeol melirik Ji-Eun sebelum menyesap sedikit teh hijau di tangan Ji-Eun.

Ji-Eun meletakkan kembali cangkir itu di meja. Ia kemudian menatap Chan-Yeol. Chan-Yeol masih ling-lung soal mimpi semalam (atau kejadian semalam?). Ji-Eun kembali tersenyum dan merapihkan rambut Chan-Yeol. Lelaki itu Nampak berantakan pagi ini.

“Ada kuliah hari ini? sebaiknya kau mandi dulu.” Ujar Ji-Eun.

Chan-Yeol terdiam. Memperhatikan Ji-Eun yang sibuk merapihkan rambutnya. Kemudian Chan-Yeol memegang tangan Ji-Eun yang terulur di ramutnya. Ia menggegam sambil menatap tangan Ji-Eun yang nampak mungil terbungkus oleh tangannya.

Ji-Eun tertegun.

“Benarkah semalam… aku meyatakan cinta padamu?” Tanya Chan-Yeol. Lebih pada dirinya sendiri.

Ji-Eun merona. Namun ia menunduk.

Mereka sama-sama diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Maafkan aku… karena membuatmu menunggu.” Ji-Eun memulai.

Chan-Yeol mengangkat wajah.

“Maaf telah membuatmu terluka.”

Chan-Yeol memeluk Ji-Eun. Membelai rambut gadisnya dengan sayang. “Sudahlah.. sudah tak apa apa.”

“Maafkan aku..” ulang Ji-Eun.

“Yang penting sekarang kita sama-sama tahu.. bahwa kita saling mencintai.” Kata Chan-Yeol, Ji-Eun tersenyum kemudian.

Gadis itu balas memeluk Chan-Yeol dengan erat. “Aku mencintaimu, Park Chan-Yeol.”

“Aku lebih mencintaimu, Lee Ji-Eun.”

—————————————

Fin

—————————————-

Hai hai hai… ‘-‘/ pada kenal diriku tidak. huhu… saya maklum kalo kalian gak kenal saya u,u

Oke, kalo gitu aku intro sekalian. aku author Ishkassi. udah .. .-. *tabok xD

lama gak post. Ini Fanfic baru yang keluar dari otak saya setelah mogok beberapa lama e.e

btw, feelnya dapet gak? kalain jenuh gak bacanya?

tolong saranya doong *muka melas.

gomawo ^^ *bow

By Ishkassi

21 responses to “Sweet Regret [Oneshoot]

  1. Bagus kok ka’ suka suka suka 😀
    BTW kemana tuh si Minhyuk ,, kali aja gitu nongol 🙂 😛

    iya sih aq g pernah tau author kirain author Baru gtu di SKFF #hohoho ternyata udh lama toh 😀

    • ahahaha.. Min-Hyuk mah udah gak penting. wkas *jahat :v

      Udah lumayan lama sih. yaa .. cuma jarang post aja. soalnya masih sibuk buat persiapan UN u,u

  2. sweet, sweet bnget ini mah.. feelnya dpet kok. kirain knpa yeol jlan di koridor serem begitu, eh taunya lagi galau to, ckck smpe baek ahjuma juga gk di gubris, hihii. ji eun juga sih pake kasih harapan buat min hyuk, kan kesian yeol jadi sedih, huhuu. tapi akhirnya mereka bersatu, chukae.. ^_^ author-nim keep writing, ne..

  3. aaaaaaa cast nya IU aaaa aku sukaaaa
    dan ini sosweet bangeeet >< wkwwkww chan aduuhh gk pp lah mabuk dikit tpi akhirnya bisa jadian. ecieeee… bagus kok gak ngebosenin. chan nya terus terang banget klo dia suka.. siapa cwek yg gak melting di gituin wwkwkw aduuuhh gak bisa berenti senyum…

  4. eh.. gyaa…so sweet..
    ngefeel lho, bagus n nda ngebosenin kok
    waawa… suka deh..
    sequel dong.. ahehe *abisx bagus sih 🙂
    hwaiting! keep your style

  5. Omo….Daebak…Saya suka…Saya suka….Feelny dpt bgt..Dibikin sequelny ok jg tuch kyae…Smgat y!!!!

  6. annyeonghaseyo new readers disini
    naneun yeyen imnida
    salam kenal ya thor
    ini sweet bnget hehh
    feelnya juga dpet kok thor
    suka bnget ngeliay chaenyo marah2 kayak gtu heheh
    bikin iu chanyeo lagi ya thor
    suka bnget ma couple ini
    ditunggu ff iu yg lain ya thor
    smngt thot 🙂 fighting 🙂 ganbate 🙂 chayo 🙂

  7. woah daebak.keren thor.gak.tau deh mw coment apa lgi.aku tunggu ff slnjut-a yg cast yeoja-a lee jieun.gk.peduli namja-a spa.klu.yeoja-a lee jieun aka IU.feel-a dpt bgt.yg lain gak.hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s