YOU’RE MY EUFROSINE (CHAPTER 6) – JONGSESA

You Are My Eufrosine poster 1

Author : JONGSESA | Tittle : You’re My Eufrosine | Main Cast : Lu Sera (OC), Kim Jongin/Kai (EXO) | Other Cast : Oh Sehun (EXO), Lu Han (EXO), Park Hayoung (OC), Oh Cheonsa/Lu Cheonsa (OC), And find by Yourself. | Genre : Family, Romance, Sad, Angst. | Rating : PG-15 | Length : Chaptered

Disclaimer : fanfic asli hasil murni imajinasi sendiri. Plagiat ? Siders ? BYE !

***

Eufrosine, putri Zeus dan Eurinome, yang melambangkan dewi kegembiraan dan kebahagiaan. Lu Sera, gadis dengan kesempurnaan yang dimilikinya, dan dianggap sebagai Eufrosine karena selalu membawa kebahagiaan untuk orang disekitarnya. Namun, bagaimana jadinya, jika hidup Eufrosine sendiri tidak bahagia ?

***

Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5

***

Kai POV

Semenjak keluar dari rumah Sehun, entah kenapa otakku tidak henti-hentinya memikirkan gadis itu. Kenapa ia tiba-tiba murung ? Lebih parahnya lagi, kenapa ia bisa histeris seperti itu ? Kenapa Sehun dan Hayoung sangat khawatir padanya ?

“aigooo.. kenapa aku jadi memikirkan hal yang seharusnya tidak aku pikirkan. Apa peduliku padanya. Aisssh jinjja.”

Akhirnya aku sampai juga dirumah. Ya, aku tidak langsung pulang ke apartemenku karena ada yang memintaku pulang ke rumah. Bukan, ini bukan rumahku lagi. Sejujurnya aku malas untuk menginjakkan kakiku ke rumah ini. Kalau saja bukan karena dua orang itu yang selalu memintaku datang, kupastikan aku tidak akan mau kesini.

Setelah memarkirkan mobilku, aku keluar dari mobil dengan wajah dingin yang selalu aku tunjukan.  Aku berjalan sampai di depan pintu masuk, menekan tombol bel intercom rumah itu. Aku hanya perlu menunggu beberapa saat, sampai akhirnya pintu rumah pun terbuka.

CEKLEK

“eo ?! ahjumma ?” heran karena tidak seperti biasanya yang membukakan pintu adalah Ahn ahjumma.

“aaa ne, tuan. Silahkan masuk. ” Jawab Ahn ahjumma –kepala pelayan- dirumah itu ramah.

“dimana dia ?” Tanyaku langsung tidak ingin berlama-lama.

“Ia sedang merajuk  dan tidak mau makan, kalau tidak bertemu anda.”

“aissh..jinjja, menyusahkan saja.”

Aku pun melangkah menaiki tangga ke kamar orang yang menyuruhku untuk datang ke rumah ini. Saat sampai di lantai 2, kulihat pintu kamarnya terbuka. Aku pun berjalan menghampiri kamar itu. Saat sampai di depan kamar itu, kulihat tidak ada siapapun didalamnya.

“haah..kau itu menyusahkan sekali, sama seperti appamu.” Ucapku sambil membuang nafas kasar.

Kalau sudah begini, ia pasti sedang di ruangannya.

Aku pun melangkah kearah ruangan yang tidak jauh dari kamar tadi. Saat kulihat pintunya terbuka, saat itu aku melihatnya sedang duduk menatap layar TV.

“ya!! kau ini kenapa, eo? Suka sekali menyusahkanku.” Sungutku sambil berjalan mendekatinya yang sedang focus pada kegiatan bermainnya.

“samchon!!”

GREB

“kenapa samchon lama sekali datangnya.” katanya sambil memelukku.

Aku melepaskan pelukan tiba-tiba dari anak ini. Ya, anak ini adalah salah satu alasan kenapa aku mau datang ke rumah ini. Kulihat wajahnya memerah dan ia mengerucutkan bibirnya, lucu sekali.

“mianhae, yang  penting sekarang aku sudah datang. Kenapa kau tidak mau makan, eo ?” kataku sambil mengacak rambutnya.

“Kai-a..” suara wanita yang memanggilku dari arah belakang.

Kuputar badanku untuk melihat siapa yang memanggilku. Wanita itu jalan kearahku dan anak ini sambil membawa nampan.

“Kai-a bujuklah ia agar mau makan, sejak pulang tadi ia tidak mau makan. Noona, lelah membujuknya.” Ucap wanita yang ku sapa ‘noona’ ini dengan nada pasrah.

“memang kenapa ia tidak mau makan ? Ahn ahjumma bilang ia merajuk, karena apa ?”

“kau tanyakan saja padanya, noona tidak bisa menjelaskan apa keinginannya itu.” Ujarnya sambil memberikan nampan berisi makanan dan minuman. Setelah memberikan nampannya padaku, ia duduk di sofa yang ada di ruangan ini.

Kini aku beralih menatap anak kecil ini, sambil mencoba untuk membujuknya makan.

“anak tampan, sekarang makan, ne. Mau samchon suapi ?” bujukku. Kulihat ia mengangguk.

“tapi samchon harus mendengarkan ceritaku juga, ne ?” mintanya.

“ya!! bagaimana bisa begitu, nanti kau tersedak.”

“ayolah samchon, ceritaku seru sekali. Apalagi aku akan menceritakan padamu tentang wanita cantik.” Kali ini ia yang justru merayuku.

“kau ini masih kecil, Jongki-a. Tau apa tentang wanita cantik. Lagipula menuruni sifat siapa kau ini, eo ?” sungutku pada anak kecil ini, Jongki.

“tentu saja menuruni sifat samchonnya, Kai. Yaitu, kau.” Kali ini eomma Jongki bersuara, wanita yang kusapa noona –So Hee.

“ya! tapi, aku tidak genit sepertinya, noona.” Aku membela diri.

“aku tidak menyangka, suamiku memberi nama yang mirip denganmu, tapi sifatnya juga menurunimu.”

“aiissh…sudahlah tidak usah membahasnya.” Kini aku menatap Jongki lagi. “arraseo, samchon akan mendengarkan ceritamu.” Jawabku pasrah.

Aku mulai menyuapinya dan siap mendengarkan celotehan keponakanku ini.

“Samchon..” serunya sambil mengunyah makanannya.

“…”

“hari ini Jongki bertemu noona yang sangaaaaat cantik.” Ucapnya dengan mata berbinar.

“lalu ?” kataku yang kembali menyuapinya.

“noona itu tidak hanya cantik, tapi juga baik hati. Dia tidak seperti manusia, dia seperti malaikat, samchon”

Aku juga bertemu malaikat hari ini anak kecil, tapi pasti malaikatku lebih cantik daripada malaikatmu. Tunggu. Apa malaikatku ? aigoo..lagi-lagi, ada apa dengan otakku ini ? aku menggelengkan kepalaku, membuat Jongki keheranan.

“ada apa samchon ?” tanyanya.

“a-ani. Lanjutkan.”

“ne. Noona yeppeo juga memiliki senyum yang sangat manis, wajahnya semakin cantik jika sedang tersenyum. Jongki saja sampai ikut tersenyum dibuatnya.” Katanya sambil membayangkan ‘noona yeppeo’nya.

Aku juga seperti itu Jongki-a. Setiap melihat gadis itu tersenyum, aku juga ikut tersenyum.

“ne, Kai-a. Ia sangat cantik. Apalagi saat kau melihat senyumnya. Aigoo..noona saja saat melihatnya seperti tidak ingin berkedip. Kurasa umurnya tidak jauh denganmu. Ani, kurasa ia masih sekolah.” Kali ini So Hee noona ikut berucap.

“senyum noona itu seperti, senyum Yujin imo.”

DEG

Tiba-tiba aku berhenti menyendokkan nasi untuk Jongki. Senyumnya seperti Yujin ?

“mmm..aaa..anak tampan eomma sudah selesai makan. Anak pintar.” So Hee noona berucap gelagapan. “Kai-a..kau mau noona siapkan makan ?” Tanyanya padaku yang masih terdiam mencerna perkataan Jongki.

“Samchon ?” panggil Jongki yang menyadarkanku.

“tidak usah, noona. Aku belum lapar.” Tolakku halus.

“ne. Noona tinggalkan kau dengan Jongki, ne. Selama di pesawat ia tidak henti-hentinya meminta bertemu denganmu.” Selanjtunya So Hee noona mengambil nampan yang piring dan gelasnya sudah kosong, dan melangkah keluar ruang bermain Jongki.

“Samchon, Jongki belum selesai cerita !!” sungut Jongki.

“ne, ne, lanjutkan lagi ceritamu.” Jawabku.

“kira-kira noona secantik itu sudah punya kekasih belum ya ? Jongki ingin menikah dengan noona yeppeo, samchon.”

“ya! kau ini bicara apa, eo ? sejak tadi bicara yang tidak-tidak saja. Kau itu masih kecil, tapi sudah ingin menikah.” Apa-apaan anak ini ? menikah ? konyol sekali.

“kalau Jongki sudah besar, Jongki akan menikahi noona yeppeo.” Belanya.

“Jongki-a, kau itu masih berumur 3 tahun. Jika kau sudah besar nanti, noona yeppeo-mu itu pasti sudah menua. Kau mau menikah dengan wanita tua ?” jelasku sambil mengacak rambutnya. Kulihat ia mengembungkan pipinya lucu.

“walaupun ia sudah tua nanti, pasti noona yeppeo masih tetap cantik. Aaa..kalau begitu samchon saja yang menikah dengan noona yeppeo.”

Keponakanku ini, apa yang ia makan tadi pagi. Kenapa, bicaranya aneh sekali. Tidak biasanya ia langsung tertarik pada wanita sampai seperti ini.

“Kai ?”

Kali ini suara pria menyapaku dari arah belakang. Suara ini lagi. Kenapa dia ada di rumah ?

“appa !!” kulihat Jongki berlari menghampiri pria itu dan menghambur digendongannya.

“Jongki-a, kau sudah makan, eo ? appa dengar dari eomma kau tidak mau makan ?” peduli apa dia pada anaknya.

“sudah, appa. Kai samchon yang menyuapiku.” Jawab Jongki.

“Kai, kapan kau datang ?” Tanya pria itu.

“…” aku muak mendengar suaranya, lebih baik aku pulang sekarang. Tugasku sudah selesai menemani Jongki.

Aku pun berdiri dari posisi duduk, dan mulai melangkah ingin keluar ruangan itu.

“Kai !”

“…” aku tidak menggubrisnya, kini aku sudah diluar ruangan dan menuju kearah tangga.

“Kim Jongin !”

Seketika aku berhenti, aku tidak suka dipanggil dengan nama itu.

“Kai samchon !!” Jongki ikut memanggilku, turun dari gendongan appanya dan berlari kearahku.

“samchon mau kemana ? Jongki masih ingin bermain dengan samchon..hiks..hiks..” Jongki merengek bahkan sampai menangis.

Aku berjongkok dan mensejajarkan tubuhku dengan Jongki dan menghapus air matanya.

“samchon harus pulang sekarang. Aigoo..anak tampan tidak boleh menangis, ne. Samchon pulang dulu.”

“tapi, samchon baru datang. Kenapa sudah pulang saja, samchon tidak rindu dengan Jongki ? hiks..”

“tentu saja, samchon rindu denganmu, Jogki-a. Tapi-“ aku memalingkan wajahku menatap appa Jongki dengan tatapan sinis. “appamu sudah pulang. Jadi, Jongki main dengan appa saja, ne.”

“tapi kapan samchon datang lagi ? kenapa samchon tidak tinggal disini saja. hiks..”

Aku kembali beralih menatap Jongki. “ini bukan rumah samchon, Jongki-a. Samchon janji akan datang lagi. Uljima, anak tampan jangan menangis lagi.” Kataku menenangkan Jongki.

“janji ?” Jongki mengacungkan kelingkingnya.

“janji.” Aku mengacungkan kelingkingku dan mengaitkan dengan kelingking Jongki sambil tersenyum.

Aku berdiri dan mulai melangkahkan kaki menyusuri anak tangga, meninggalkan Jongki dan pria itu.

Aku berjalan menuju pintu rumah saat sudah dilantai bawah.

“Kai-a, kau mau pulang ?” Tanya So Hee noona. Dan kubalas dengan anggukan.

“kenapa buru-buru sekali. Kau bahkan belum makan, Kai.”

“orang itu sudah pulang, dan tugasku menemani Jongki sudah selesai noona.”

“Kai-“

“sudahlah noona, berkali-kali noona memintaku berdamai dengannya aku tetap tidak akan setuju. Aku pulang dulu, ne. Jaga dirimu dan Jongki, noona.” Ucapku sambil berlalu menuju keluar rumah dan berjalan cepat kearah mobil. Sungguh aku muak berlama-lama dirumah ini, terlebih ada pria itu.

Aku sampai dimobil, dan membuka pintu untuk masuk. Tapi tertahan karena ada yang menahannya. Pria ini..

“Kai, aku tidak tau apa salahku selama ini padamu. Tapi, kumohon tinggal lah disini. Jongki kesepian, Kai.” Ucap pria ini.

“…” aku memalingkan wajahku kearah lain.

“Kai !! tatap hyungmu jika sedang bicara !!” teriak pria ini, dan aku menatapnya dengan tatapan tajam.

“apa ? hyung ? kau masih menganggapku adik ? setelah selama ini, kau tidak mempedulikanku, tidak memberikan kasih sayang padaku dan Yujin, kini kau masih mengatakan kau kakakku ?! tsk..sayangnya aku tidak sama sekali menganggapmu.”

PLAKK

Perih. Itu yang aku rasakan. Ini pertama kalinya ia menamparku.

“K-Kai, m-mian, bukan mak-“

“terima kasih atas bentuk kasih sayangmu, Tuan-“ aku kembali menatapnya tajam. “ Kim Junmyeon”. Lanjutku dan aku langsung masuk ke dalam mobil, dan melajukan mobilku keluar dari rumah itu.

“terima kasih, Suho hyung. Kau semakin membuatku membencimu.” Gumamku didalam mobil, dan tanpa aku sadari air mata jatuh dari pelupuk mataku.

Kai POV end

***

Tidak perlu waktu lama untuk Kai agar sampai di apartemennya. Bagaimana tidak, Kai melajukan mobilnya dengan kecepatan menggila. Ya, Kai sedang tidak dalam mood yang baik. Terlebih insiden tamparan dari hyungnya –Suho.

Setelah memarkirkan mobilnya di basement, Kai langsung menuju ke lantai apartemennya. Sesampainya didalam apartemen, Kai langsung masuk kedalam kamarnya dan membanting tubuhnya ke ranjang empuknya.

Ia menatap langit-langit kamar, dan memutar kembali memori otaknya tentang kejadian apa saja yang ia alami hari ini. Mulai dari ia di bangunkan secara paksa oleh sahabatnya –Sehun-, untuk menjemput adiknya. Lalu, bertemu dengan gadis cantik seperti malaikat dengan senyum yang mirip dengan adiknya –Yujin.

“Sera..Sera..Sera..aigoo kenapa lagi aku ini ?” Kai menarik rambutnya frustasi karena terus saja memikirkan gadis itu –Sera. Lalu ia kembali menatap langit, mengingat memori otaknya lagi.

Lalu, ia mengingat bisa melihat setiap ekspresi yang ditunjukan oleh Sera. Tersenyum, tertawa, merajuk, menangi, murung, dan..

“sebenarnya apa yang terjadi padanya, kenapa moodnya bisa berubah drastis dalam waktu singkat. Mungkin, aku bisa menanyakannya nanti pada si albino itu.”

Dan berakhir mengingat pertengkaran singkatnya dengan Suho dan berakhir dengan tamparan di wajah tampannya. Kai memegang pipi yang ditampar Suho.

“sakit juga. Tapi, ini tidak ada apa-apanya dengan sakit hatiku karena kehilangan Yujin yang disebabkan olehnya.” Kai tersenyum miris mengatakan hal itu. Dan selanjutnya Kai mulai memejamkan matanya untuk beristirahat.

***

Dua minggu sudah Sera tinggal dirumah Sehun, dan selama itu juga Sera tidak di ijinkan pergi kemana-mana tanpa didampingi Sehun atau Hayoung. Siapa yang tidak mengijinkannya ? Jawabannya, Sehun. Sehun tidak ingin Sera pergi keluar rumah sendirian, karena takut Sera berniat kabur. Sungguh, Sehun tidak ingin itu terjadi.

Ia tidak ingin gadis yang sudah ia anggap seperti adik kandungnya ini, menghilang dari pengawasannya. Sehun tau, Sera terlihat kuat diluar. Tapi sebenarnya hatinya sangat rapuh.

Sehun dan Hayoung juga tetap melakukan aktifitasnya seperti biasa. Sehun pergi bekerja, dan Hayoung yang pergi kuliah. Walaupun begitu, Sehun selalu menyempatkan menghubungi Sera, menanyakan keadaannya setiap 2 jam sekali, bahkan Sehun selalu menyempatkan pulang cepat jika pekerjaannya sudah selesai. Berlebihan bukan ? Tapi Sehun tidak peduli jika orang menganggapnya berlebihan. Toh, itu juga keinginannya dan kekasihnya –Hayoung.

Lalu, kenapa Sera tidak ikut kuliah dengan Hayoung ? oh, apa kalian lupa ? Sera sudah menyelesaikan studi S1nya di China dengan predikat lulusan terbaik satu tahun yang lalu. Sedangkan Hayoung, ia akan selalu cepat pulang jika kegiatan dikampusnya sudah selesai. Karena saat ini Hayoung hanya sedang menyusun skripsinya dan akan di wisuda beberapa bulan lagi.

Sungguh kakak dan sahabat yang baik bukan ?

Lalu, bagaimana dengan Kai ?

Sehun selalu mengajak Kai untuk datang ke rumahnya. Entah itu alasan main games, latihan dance, atau sekedar berkumpul. Tentu saja niat Sehun bukan hanya itu. Niatnya adalah agar Kai dan Sera bisa saling mengenal satu sama lain, dan membuat mereka lebih dekat. Terkadang rencana Sehun juga dibantu oleh kekasihnya –Hayoung- yang sengaja mengajak Sehun pergi berdua, agar Kai dan Sera memiliki waktu berdua. And see, it’s work..

***

Tidak terasa, satu bulan sudah Sera tinggal dirumah Sehun dengan keadaan Sera yang tidak lagi bersedih bahkan sampai minum obatnya. Itu semua berkat hadirnya Sehun, Hayoung dan….Kai.

Ya, mereka tidak pernah membiarkan Sera kesepian terlalu lama. Karena mereka selalu memberikan perhatian pada Sera. Walaupun Kai, tidak seperti perhatian yang Sehun dan Hayoung tunjukan. Tapi, dengan kehadirannya yang selalu dipaksa oleh Sehun, sedikit membuat Sera juga merasa tidak kesepian.

Lalu bagaimana kabar yang di China ?

Ingatkah kalian, betapa Lu Han menginginkan Sera pergi ke Korea dengan memberinya waktu 3 hari untuk bersiap, dan ia yang akan pindah ke Jerman bersama istrinya –Cheonsa ? Memang benar Lu Han dan Cheonsa akan pindah ke Jerman tapi tidak dalam waktu dekat itu. Itu hanya alasan Lu Han agar Sera terbiasa tanpanya. Lalu apa Sera tau Lu Han masih di China ? Jawabannya, Ya.

Cheonsa sama seperti adiknya –Sehun- yang memberikan perhatian lebih pada Sera dengan menelepon dan menanyakan keadaannya setiap hari. Lalu bagaimana dengan Lu Han ? Nothing. Selama Sera pergi, maka selama itu pula Lu Han tidak menghubunginya sama sekali. Dan Cheonsa tidak bisa memaksa Lu Han, karena pria itu selalu terlihat sibuk dengan pekerjaannya dan persiapan kepindahannya ke Jerman.

*Kita lupakan tentang hal-hal yang menyakitkan untuk Sera*

Dan disinilah mereka –Sera, Sehun, dan Hayoung-, yang sedang menikmati waktu akhir pekan mereka dipagi hari dengan berenang di kolam renang yang ada dirumah Sehun. Mereka selalu menyempatkan berenang di pagi hari setiap akhir pekan untuk mengajak Sera berenang. Karena saat mereka masih kecil, mereka selalu berenang bersama, hanya saja sekarang mereka hanya bertiga tanpa ada Cheonsa.

Sudah dua jam mereka berenang, namun sepertinya belum ada yang mau mengakhiri waktu santai mereka. Sampai akhirnya Sera yang lebih dulu mengakhirnya. Karena mulai didera hawa dingin air kolam. Dan ia pun bergegas membersihkan dirinya di kamar mandi yang ada dipinggir kolam renang itu.

Kai yang baru sampai dirumah Sehun dengan wajah yang sedang memendam amarah, menghampiri Sehun dan Hayoung yang tengah bermain di kolam renang.

“albino, aku pinjam ruangan, ne.” ucap Kai datar,ketika sampai di pinggir kolam tanpa menyapa dan langsung pada tujuannya datang.

“ya! kau panggil apa aku tadi !” jawab Sehun kesal

“albino.”

“aisshh..jinjja. Youngie, Kai mengataiku albino” ucap Sehun pada Hayoung dengan nada manja.

“kau memang seperti albino, oppa.” Jawab Hayoung sambil terkekeh melihat wajah kesal kekasihnya.

“aissh kalian berdua sama saja. ne, kau pakai saja ruangannya. Jangan terlalu memaksakan tubuhmu Kai, jangan sampai kau terjatuh dan berakhir cidera.”

“kau ini cerewet sekali, seperti ahjumma penjual sayur.” Ujar Kai enteng dan langsung berlalu meninggalkan pasangan kekasih tersebut.

“ya!! kau-“

“sudahlah oppa, kalau kau marah-marah kau memang seperti ahjumma kekeke..” Hayoung mencoba menenangkan namun akhirnya kekehan pun kembali ia berikan.

“kau bilang apa ? aku seperti ahjumma?” ucap Sehun dengan nada menggoda sambil mendekat kearah Hayoung. Hayoung yang melihat perubahan sikap Sehun gelagapan.

“a-aniyo, oppa. I-itu..tadi..a-aku-“

“coba katakan sekali lagi, Youngie. Oppa seperti apa ?” Sehun terus memojokkan Hayoung dengan nada menggoda.

“OPPA!! MIANHAE, AKU JANJI TIDAK MENGATAIMU SEPERTI ITU LAGI !!HUAAA!!” teriak Hayoung sambil menutup mata, ketika ia merasa punggungnya sudah menabrak sudut kolam.

“jeongmal ?” Sehun terus merapatkan tubuhnya dengan Hayoung. Sehun menahan tawanya saat melihat Hayoung sebenarnya ketakutan namun lebih terkesan merengek.

CHU~

Sehun mengecup singkat bibir Hayoung. Saat itu juga Hayoung langsung membuka matanya, dan bisa ia lihat Sehun sedang tersenyum puas karena berhasil menggodanya.

“OPPA!!!” teriak Hayoung sambil memberikan cipratan air kolam kearah Sehun.

“ya! ya ! Youngie, kau mau melawan oppa eo? Ya rasakan ini !!” Sehun pun balas mencipratkan air pada Hayoung. Begitulah mereka, pasangan yang romantis dengan cara mereka sendiri.

***

Lu’s Apartement, Beijing, China.

Di akhir pekan ini, tidak ada kata istirahat untuk seorang Lu Han. Bahkan di pagi hari ini saja ia sudah berada di ruangan kerjanya yang ada di apartemen, untuk membaca beberapa berkas penting yang berserakan di mejanya.

Lu Han berdiri menuju sofa yang ada di ruangan itu. Bagaimanapun ia juga merasakan lelah pada tubuhnya.

Lu Han duduk dan menyandarkan punggungnya di sofa berwarna merah maroon empuknya, untuk meregangkan otot-ototnya yang kaku. Tak lama, Lu Han merogoh saku celana santainya mengambil ponselnya.

Lu Han tidak menggunakannya untuk menelepon, mengirim pesan, atau sebagainya. Ia hanya memandangi lock screen ponselnya. Lock screennya menampilkan 2 orang wanita yang begitu berarti dalam hidupnya. Seorang wanita yang kini telah menjadi istrinya dan seorang gadis yang selalu ia buat menangis –Cheonsa dan Sera.

Tidak bisa Lu Han pungkiri, ia begitu merindukan Sera. Namun, ia tau jika ia menunjukan rasa rindunya pada Sera maka bisa membuatnya hancur juga. Sera, adalah kelemahannya. Sekuat apapun Lu Han untuk mencoba menjadi kakak yang baik, sekuat itu pula kelemahannya akan memperburuk dirinya.

Lama Lu Han memandangi wajah adik yang begitu ia rindukan, tiba-tiba saja ada telepon masuk. Lu Han yang melihat nama si penelepon, wajahnya berubah menegang. Namun, akhirnya ia menekan tombol hijau di layar ponselnya.

“yeobseyo, Lu Han-ssi” sapa dari seberang.

“…”

“bagaimana kabarmu ? a-ani, bagaimana kabar malaikatku ?” tanyanya.

“…”

“kuharap kau tidak melupakan janjimu, hyung. Aku sudah tidak sabar bertemu dengannya dan memilikinya. Cepatlah ke Jerman, lalu bawa malaikatku bertemu denganku.”

“…”

“haahh..sepertinya kau sedang sibuk, hyung. Kau bahkan tidak berkata apapun padaku. Yasudah ku tutup teleponnya, ne. Annyeong hyung.” PIP. Sambungan terputus dari seberang.

Lu Han masih menempelkan ponselnya di telinganya. Ia mematung, tenggorokannya kering, wajahnya mengeras mendengar perkataan si penelepon. Ia bukan tidak mengerti maksud yang si penelepon katakan. Ia mengerti, bahkan sangat mengerti. Tapi, ia tidak tidak bisa mengatakan apapun. Yang ada di pikirannya kini hanya satu orang…

“bantu aku eomma, apa yang harus aku lakukan ?” gumamnya.

***

Sera POV

Entah kenapa hari ini, aku tidak begitu semangat untuk berenang. Padahal biasanya justru aku yang menahan Sehun oppa dan Hayoung lebih lama untuk berenang. Mungkin, karena aku lelah semalaman movie marathon. Ini semua karena Sehun oppa membelikanku banyak dvd film bagus dan semuanya aku suka.

Aku melangkah menuju tangga sambil mengeringkan rambutku yang masih basah. Kali ini aku masih menggunakan kaos kebesaran Sehun oppa, karena tadi aku lupa membawa baju ganti dan hanya membawa bawahan celana training.  Baju Sehun oppa basah karena rambutku yang belum kering, jadi lebih baik aku ganti baju daripada nanti ia mengoceh karena aku flu karena kedinginan. Menyebalkan.

Saat aku sampai di lantai atas aku melangkah menuju kamarku, namun tiba-tiba aku mendengar suara musik dan suara decitan dilantai. Aku terus berjalan menuju kamarku, dan suara itu semakin terdengar jelas. Saat aku sampai di depan pintu dance room yang dekat dengan kamarku, kulihat ada orang yang sedang menggerakan tubuhya indah mengikuti alunan musik.

“apa itu Sehun oppa ? bukankah ia masih di kolam renang bersama Hayoung.” Tanyaku pada diri sendiri karena tidak begitu jelas melihat orang itu, terlebih di ruangan ini hanya ada satu lampu yang ada ditengah ruangan.

Kuberanikan diri masuk ke ruangan yang memang sejak tadi pintunya tidak tertutup itu, dan melangkah dengan perlahan agar kehadiranku tidak disadari orang yang masih fokus menggerakan tubuhnya. Aku memilih duduk dekat pintu, dan terus memperhatikan gerakan yang kulihat, dan tanpa sadar mulutku menganga karena kagum. Betapa terkejutnya aku saat tau siapa orang itu…

“kau kagum karena wajah tampanku atau karena gerakanku ?”

DEG

“Kai-ssi ?”

Bahkan aku tidak sadar kalau musik sudah berhenti. Dan kini ia tengah berjalan kepinggir ruangan yang dindingnya dipenuhi kaca.

Aku pun beringsut menghampirinya dan duduk berhadapan dengannya. Saat itu juga aku langsung bertepuk tangan karena kagum. Sungguh gerakannya benar-benar indah, mulai dari lagu bertempo cepat bahkan sampai bertempo lambat.

“kau kenapa ?” Tanyanya dengan nada bicara datarnya.

“aniya, aku baru tau kau bisa menari seindah itu. Sehun oppa juga bisa menari tapi tidak seserius saat kau menari. Apa kau seorang penari ?”

“MWO ?! kau pikir aku laki-laki macam apa sebagai penari. Itu hanya hobiku, sekaligus pelampiasanku jika sedang kesal.”

“jadi tadi kau menari karena sedang kesal ? woaaa…saat sedang kesal saja bisa sebagus itu apalagi tidak sedang kesal. Daebak!” ujarku kagum. Dan kulihat ia mengangguk sambil mengelap keringatnya. Kemudian hening.

“kau mau melihatku menari ?” kataku memecahkan keheningan yang terasa begitu membosankan.

“ne ? kau bisa menari ?” tanyanya heran.

“tentu saja aku bisa menari, walaupun tidak sebagus dirimu. Kau mau lihat ?”

“boleh.” Katanya sambil memberikan ipodnya padaku

“tapi kau harus memberi komentar tentang tarianku, ne.” ujarku sambil berdiri dan memilih lagu yang ada di ipodnya.

“ne.”

Aku sudah memilih lagu yang akan aku gunakan untuk menari. Sejujurnya aku bisa menari karena belajar otodidak, karena aku suka semua hal yang berhubungan dengan seni. Termasuk menari. Kali ini aku memilih modern dance dengan aliran blood elf dance. Yaitu tarian yang mengekspresikan dari lirik lagu dengan gerakannya. Dan aku memilih lagu dari salah satu boyband terkenal di Korea EXO-Baby Don’t Cry

Sera POV end

***

Kai POV

Aku tidak menyangka gadis ini bisa menari sebagus itu. Kupikir dia hanya merendah dengan mengatakan gerakannya tidak sebagus diriku, tapi buktinya ia begitu menghayati setiap lirik dan diekspresikan dengan gerakannya.

Sungguh gerakannya seperti menyihirku, hingga aku seperti tidak bisa mengedipkan mataku barang sejenak. Tapi tunggu. Apa itu air mata ? apa dia menangis ?

Aku mengernyitkan dahiku karena melihat hal yang aneh di wajahnya. Ya, aku yakin ia mengeluarkan air mata. Dan ini pertama kalinya setelah satu bulan aku melihatnya tidak lagi menangis.

Tanpa sadar aku beranjak dari dudukku dan melangkah menghampirinya yang masih fokus pada tariannya. Dan aku pun ikut menggerakan tubuh mengikuti alunan lagu ini.

Aku tau ini bukan dance pasangan, tapi entah kenapa tubuhku juga ingin mengikuti gerakannya. Ia sadar kehadiranku yang mengikuti gerakannya, tapi ia tidak menghentikan tariannya.

Sampai pada bagian akhir lagu, aku merasa jika gerakan ini akan bagus jika kami lakukan. Gerakan dimana kami jalan mendekat dan aku menghapus air mata. Dan sepertinya ia tau maksudku, karena ia juga ikut jalan mendekat kearahku. Saat jarak kami sudah dekat, aku bisa melihat jejak air mata di pipi mulusnya. Aku menggerakkan tanganku untuk menghapus jejak air matanya. Tapi ini tidak seperti yang aku bayangkan, ia justru mengangkat wajahnya dan menatapku dengan tatapan sendu. Entah kenapa, hatiku merasa sangat sakit melihat tatapan sendu itu. Seperti jika ia merasakan kesedihan, aku pun juga bisa merasakannya.

Entah keberanian darimana sehingga aku mendekatkan wajahku ke wajahnya, semakin dekat sampai aku bisa merasakan deru nafas hangatnya di wajahku dan kulihat ia memejamkan matanya. Aku pun ikut memejamkan mataku sampai akhirnya aku bisa merasakan bibirku sudah menyatu dengan bibirnya.

Tidak ada gerakan ataupun lumatan, hanya menempel. Aku hanya ingin memastikan apa yang ia tengah rasakan sekarang ini. Sungguh aku bisa merasakan kesedihannya lewat ciuman ini. Tapi ada perasaan lain yang aku rasakan. Getaran. Ya, aku yakin ini getaran yang aku rasakan di hatiku. Bukan hanya itu, rasa ingin selalu ada disampingnya ketika dalam keadaan apapun juga bisa aku rasakan saat ini.

Mungkinkah ?

Kai POV end

***

Cukup lama mereka saling menyatukan bibir tanpa ada pergerakan dan lumatan. Akhirnya Kai melepaskan bibirnya dari bibir Sera dan mulai menjauhkan wajahnya tapi tetap menatap wajah Sera. Perlahan Sera membuka matanya, dan ia bisa melihat tatapan sendu Kai yag ditujukan padanya.

Tangan Kai yang masih di wajah Sera, mengusap pipi Sera lembut menghantarkan rasa tenang untuknya.

“kumohon jangan menangis.” Ucap Kai.

“…”

“bisakah, kau tunjukan senyuman itu saja, terlebih untukku.” Lanjut Kai.

Sera tidak mengeluarkan suaranya tapi ia menjawab dengan senyuman yang Kai inginkan. Senyuman tulus dan dari hatinya. Kai yang melihat senyuman yang Sera berikan, membuat detak jantungnya berdetak tidak karuan. Senyuman yang akhir-akhir ini begitu membuatnya hampir kehilangan jantungnya yang seolah-olah bisa copot dari tempatnya.

Tanpa mereka sadari, dari pintu ruangan yang tidak tertutup sempurna itu, ada dua pasang mata melihat setiap kejadian yang terjadi antara mereka. Mulai Sera yang menari sampai Kai yang mengucapkan kata-kata yang begitu manis di telinga wanita mana pun.

“aigoo..mereka romantis sekali, oppa” kata Hayoung yang mengintip dengan menyembulkan kepalanya di pintu dengan Sehun dibawahnya.

“huaaa..adikku, kenapa kau mau dicium Kai, sebelum Kai mengungkapkan perasaanya padamu.”sungut Sehun.

“ya! oppa, kecilkan suaramu. Mereka bisa mendengar nanti, kalau suaramu seperti itu.”

“tap-tapi..i-itu..Ra-“

SREKK

DUG

“oppa, sakit. Ya !” Sehun dan Hayoung kehilangan keseimbangannya. Membuat pintu berderit dan mereka jatuh ke lantai

Sera dan Kai yang masih bertatapan, terkejut dengan suara itu. Kai yang bisa melihat apa yang terjadi, merutuki pasangan kekasih yang mengganggu kegiatannya dengan Sera.

Sera membalikkan tubuhnya betapa kagetnya ia melihat Sehun dan Hayoung tersungkur kedepan. Dan itu membuatnya berpikiran kalau pasangan kekasih itu melihat apa yang terjadi antara dirinya dan Kai.

Sera berjalan cepat mengambil handuk dan langsung menuju pintu, dimana Sehun dan Hayoung masih berusaha untuk berdiri dengan rasa sakit di tubuh mereka. Kai pun juga mengikuti yang Sera lakukan.

Setelah sampai dekat pasangan kekasih yang masih meringis kesakitan itu, Sera hanya melirik sekilas kearah Sehun dan Hayoung, lalu beralih pada Kai yang berdiri di belakangnya. Selanjutnya ia melangkah keluar dengan kepala tertunduk dan berbelok kearah kiri –kamarnya. Sebenaranya Sera hanya merasa malu karena kejadian tadi, terlebih ada yang memergokinya.

BLAM

Setelah pintu kamar Sera terdengar kini Kai yang melihat kearah Sehun dan Hayoung bergantian.

“wae ? kenapa menatapku seperti itu, eo ?” Tanya Sehun kesal.

“kau !! aarrrggghhh !!! aku mau mandi, pinjam kamarmu.” Jawab Kai frustasi. Selanjutnya ia melangkah keluar dan berbelok kearah kanan –kamar Sehun. Kai pun juga sebenarnya merasa malu, dengan apa yang baru saja ia dan Sera lakukan.

Tersisalah pasangan kekasih yang bernasib naas karena kecerobohan mereka sendiri.

“sakit, oppa. Aishh..jinjja, ini semua karena kau oppa” sungut Hayoung sambil mengelus pinggangnya.

“ne, nanti kita obati. Tapi kau senang kan, chagi ?”

“ne, aku senang oppa. Sepertinya rencana kita mulai berhasil.” Jawab Hayoung sambil bergelayut manja pada Sehun, bahkan ia melupakan rasa sakitnya tadi.

“tentu saja. Rencana kita pasti berhasil, Youngie. Walaupun, itu tidak akan mudah.”

“ne, oppa. Aku tau maksudmu” jawab Hayoung.

Selanjutnya mereka keluar dari dance room menuju lantai bawah untuk mengobati sakit yang mereka rasakan karena tersungkur.

***

Germany

Seorang pria tengah duduk di sofa berwarna biru gelap yang menghadap kearah jendela sebuah apartemen, dengan tangan yang memegang sebuah foto. Didalam foto itu menampilkan seorang gadis cantik dengan dress putih dengan menampilkan senyum malaikatnya.

“apa kabar malaikatku ? tunggulah, sebentar lagi kau akan menjadi milikku, Sera.” Gumamnya dengan senyum miringnya sambil menatap foto Sera.

TBC

60 responses to “YOU’RE MY EUFROSINE (CHAPTER 6) – JONGSESA

  1. Uhuhuh~ giliran lagi mau manis” nya kenapa harus ada yng ganggu 😦
    siapa pria yng di scens akhir ???
    Chanyeol kah ?? Dia kn gak muncul” walaupun kdng nama nya di sebut” ,,

  2. KAI KAI KAI SERA SERA SERA!SECEPAT ITU?!?!
    Ohmy!! Cepet bahagia ya kaliaan wuhuuu!!
    Siapa si orng yang di jerman itu? Apa hubungannya sama luhan?

  3. Pingback: YOU’RE MY EUFROSINE (CHAPTER 14) – JONGSESA | SAY - Korean Fanfiction·

  4. Pingback: YOU’RE MY EUFROSINE (CHAPTER 15) – JONGSESA | SAY - Korean Fanfiction·

  5. So sweet banget sih Bang Kai nih ah :3 tp konflik batin Sera-Kai masih agak kurang nih hihi tp gapapa kok tetep sukaaa!!!! Bang Kai siap2 saingan datanggg

  6. KAI SERA KAI SERA I LIKE YOU. ffnya keren banget. Semua rasa ada hahah. Sedih bahagia kecewa semuanya ada. Kerenlahh pokoknya. Lanjuttt yaa

  7. Pingback: YOU’RE MY EUFROSINE (CHAPTER 17) – JONGSESA | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s