Ambition [Chapter 1] ~ by Sehun’Bee

Ambition

SehunBee‘s Present

Ambition | First Sight

Main Cast :
.: Oh Sehun ~ Khaza Hanna :.

Support Cast :
.: Kai Kim ~ Jenny Kim :.

Genre :
.: Drama ~ Romance :.

Rating : PG-17

Lenght : { 5334 Words | Chaptered }

Disclaimer :
Semua alur murni dari hasil kerja keras otakku. Jangan copy paste seenaknya dan jadilah readers yang baik dengan meninggalkan comment setelah baca.

Poster and Header Title by : popowiii | SHINING VIRUS

Summary :

Ambisi itu positif, tapi ambisius itu negatif. Dan kau terlalu ambisius untuk menjadi yang teratas.

PS : Pastikan kamu baca author’s note di bawah FF setelah baca ya…!!!

FF ini tidak diperuntukkan untuk SINDER AND PLAGIATOR, tapi untuk mereka yang mengerti apa itu kerja keras dan menghargai^^

Happy Reading…!!!

Ambition

05.15 a.m. Matahari pagi di Manhattan, New York— sudah terbit.

esb

Begitu indah juga damai. Empire State Building –gedung tertinggi ke-2 di New York– membuat bayangan hitam yang begitu besar akibat cahaya matahari yang terbit di depannya hingga gedung lain yang berada di belakangnya tetap berada pada sisi gelap.

Musim panas di New York membuat siang lebih panjang dari malam. Kurang lebih 15 jam warga di sana bisa melihat cahaya matahari karena matahari baru akan terbenam pukul 8 p.m. Beruntunglah bagi negara yang berada pada garis khatulistiwa, sebab siang dan malam akan sama panjang –sepanjang tahunnya– dibanding dengan mereka yang berada jauh dari garis tersebut. Dan New York –negara bagian Amerika itu– terhitung beruntung dibanding mereka yang berada di Eropa. Karena musim panas di Eropa membuat siang bertahan lebih dari 20 jam lamanya.

Semakin lama, semakin tinggi pula matahari. Hingga cahaya putihnya yang merupakan gabungan dari spektrum warna cahaya membias setelah menembus setiap jendela kaca, lantas membaur— menerangi setiap sudut ruangan. Tak terkecuali, setiap kamar yang ada pada Four Seasons Hotel New York.

4_seasons_hotel_NY_56_jeh

Cahaya matahari juga sudah membaur menerangi setiap sudut ruangan yang ada pada hotel itu. Meski cahaya lampu tetap mendominasi.

Dan di salah satu kamar mewah hotel itu, terlihat seorang pria yang baru saja keluar dari dalam walk in closet. Tubuhnya dilapisi kemeja berwarna biru dongker dengan jas berwarna hitam. Tak lupa celana kain berwarna senada berbentuk skinny jeans melekat pada kaki jenjangnya. Kesan karismatik sekaligus gagah pun dapat dilihat darinya.

Rambut cokelatnya ditata asal hingga terlihat sedikit berantakan, namun justru membuat kesan maskulin pada dirinya semakin terpancar. Garis wajah tegas dengan hidung mancung yang lurus, kemudian alis hitam tebal berpadu dengan sorot mata yang tajam menjadi point plus untuknya. Hingga kesan manly-lah yang di dapat saat melihatnya. Begitu tampan juga sempurna. Namun sayangnya, laki-laki tampan sepertinya merupakan pemandangan biasa di Manhattan. Karena Manhattan adalah kota terkecil sekaligus terpadat di New York, tak hanya di New York, tapi juga di seluruh Amerika. Dan kota itu merupakan pusat media, budaya, makanan, seni, fashion, penelitian, keuangan, dan perdagangan. Hingga hanya orang-orang tertentu yang bisa hidup dan bertahan di dalamnya. Dan hanya mereka yang memiliki uang yang bisa menikmati segala keindahan sekaligus fasilitas yang disajikan di dalamnya. Luar biasa.

Dan pria itu salah satunya. Pria Asia asal Korea Selatan pemilik nama lengkap Oh Sehun itu, merupakan cucu dari pendiri Bertelsmann, Carl Bertelsmann. Sebuah perusahaan yang bergerak dibidang media massa, dan berpusat di Gütersloh, Jerman. Lama tinggal di Korea karena Ibunya merupakan wanita berdarah asli Korea, membuatnya lebih nyaman menggunakan embel-embel ‘Oh’ di depan namanya ketimbang ‘Bertelsmann’ di belakang namanya (Sehun Bertelsmann). Ayahnya sendiri berasal dari Jerman, Thomas Bertelsmann. Dan Thomas, merupakan CEO dari Bertelsmann Building yang berlokasi di Times Square, Manhattan. Sementara Sehun, berkecimpung dibidang Real Estate, dan kini telah memiliki status sebagai pemilik Random House Tower yang merupakan anak perusahaan dari Bertelsmann.

Berasal dari keluarga terpandang, memiliki wajah rupawan, pendidikan yang tinggi serta pencapaian yang luar biasa di usia yang baru menginjak 24 tahun, membuatnya menjadi orang yang patut diperhitungkan di kota yang menjadi pusat bisnis di Amerika itu. Karena hanya mereka yang memiliki ambisi dan mampu bersainglah yang dapat bertahan di sana, Manhattan. Dan hanya mereka yang memiliki uang yang akan dipandang. Karena laki-laki tampan ataupun wanita cantik begitu banyak di sini, namun hanya mereka yang berkelas yang pantas dilirik.

Kini, senyum kecil terbentuk di wajah angkuhnya. Sementara, titik fokusnya menatap lurus ke depan –ke arah tempat tidur– yang terdapat seorang gadis di atasnya. Gadis itu terlihat begitu damai dalam tidurnya, selimut tebal pun membungkus rapi tubuh polosnya. Terlihat begitu nyaman, tanpa beban.

I’m sorry, BabeIt’s over!

Senyum arogant penuh ambisi itu semakin terpancar dari wajahnya. Tubuhnya pun berbalik begitu saja, melangkah keluar tanpa mengucap sepatah kata apa pun lagi. Dan meninggalkan seorang gadis berdarah Spanyol yang menjadi one night stand-nya semalam –ah tidak– tapi seorang gadis yang telah masuk perangkapnya. Dan kini, Sehun telah mendapatkan apa yang ia inginkan. Dan apa yang terjadi semalam merupakan bonus dari kerja kerasnya selama ini untuk mendekati Ayah dari gadis itu.

Karena kini, kontrak kerjasama antar perusahaan telah ditanda tangani. Hingga Sehun tak lagi membutuhkan gadis itu untuk memperlancar jalannya, karena ia tahu, ayah gadis itu tak mungkin membatalkan kontrak kerjasama antar perusahaan mereka, meski hubungannya dan putrinya telah kandas. Karena jika ia melakukan itu, maka kekuasaan atas semua aset akan berpindah ke tangannya. He’s so sly.

Life is Ambition

Ambition

Sepasang stiletto berwarna hitam mengkilap beradu lembut dengan lantai– menghasilkan bunyi halus yang terdengar begitu berirama juga anggun. Seorang gadis yang memakainya, menggunakan Short Black Sequin Dress yang membentuk lekuk tubuh sempurnanya. Sungguh, perpaduan yang begitu sempurna sekaligus modis. Tak lupa sebuah blazer tanpa kancing berwarna senada ikut tersangkut di bahunya, menambah kesan fashionable sekaligus anggun pada dirinya. Rambut cokelat khas Asia-nya dibiarkan terurai dengan tatanan bergelombang. Hingga membingkai wajah mungil nan oval-nya. Kulitnya putih tanpa cacat bak porselin, begitu khas Asia—berbeda dengan mereka yang berdarah Western. Hingga membuatnya terlihat begitu menonjol dari semua wanita yang ada di sana.

The Ritz-Carlton Tower yang terletak di Battery Park City, –ujung barat daya Lower Manhattan– merupakan tempatnya berada saat ini. Gedung Hotel yang terdapat apartemen mewah di dalamnya itu, merupakan milik keluarganya yang dikelola langsung olehnya. Apartemennya sendiri kini menyandang status sebagai apartemen termahal di New York.

Darah bangsawan sekaligus pembisnis yang mengalir pada dirinya, membuatnya menjadi wanita karir yang begitu sukses diusianya yang baru menginjak 23 tahun. Dan ketertarikannya pada bidang Real Estate-lah yang membuatnya bergelut di dalamnya. Terlebih, keluarganya memang sudah sejak lama menggeluti bidang itu.

Gadis itu, Khaza Hanna putri dari Jo Khaza—pemimpin dari The Ritz-Carlton Hotel Company L.L.C., yang merupakan anak perusahaan dari Marriott International. Ia sendiri kini menyandang status sebagai CEO dari The Ritz-Carlton Tower, anak perusahaan dari The Ritz-Carlton Hotel Company yang dipimpin ayahnya. Namun, harta yang melimpah tak membuat Hanna menjadi seorang gadis yang manja. Ia lebih mandiri dan tak mau hidup hanya dengan bertumpang kaki. Akan tetapi, kehidupan yang keras, gaya hidup yang high class, dan arus budaya di negeri Paman Sam itu membuatnya menjadi pribadi yang dingin juga angkuh, sulit bergaul, sedikit bicara, dan workaholic. Tak heran ambisinya dalam berkarir menjadikannya seorang yang sukses di usia muda.

“Kau yakin akan terjun ke lapangan langsung?”

Gadis itu tidak sendiri. Seorang pria berdarah campuran Korea – Brazil yang menyandang status sebagai sekretaris sekaligus sahabatnya tengah berdiri di sampingnya. Hanna sendiri merupakan darah campuran Korea – Washington, D.C.

“Ya,” hanya satu kata singkat yang terlontar dari mulut gadis itu. Membuat pria tampan berkulit tan itu mendengus sebal. Ia tak menyangka, status persahabatan yang mereka jalin semenjak duduk di bangku Universitas tak mampu membuat gadis itu bersikap hangat padanya. Gadis itu masih sama —dingin seperti biasanya— ia hanya berbicara banyak, pada saat rapat ataupun pembahasan lain yang berhubungan dengan pekerjaan tentunya. Dan seharusnya, ia sudah terbiasa akan hal itu, namun tetap saja, sikapnya seringkali menjengkelkan.

“Kai?” panggilnya—datar. Namun, mampu membuat pria yang dipanggilnya melirik ke arahnya.

“520 Park Avenue akan menjadi apartemen termahal di New York, karena letaknya yang strategis dan dibangun tak jauh dari kawasan 15 Central Park West, yang merupakan kawasan elit di Manhattan sekaligus seluruh New York. Oleh sebab itu, aku ingin mendapatkannya dan menjadikannya salah satu gedung milikku,” ujar Hanna tanpa menunggu sahutan dari sekertarisnya.

“Gedung itu bahkan belum dibangun, namun sudah menjadi rebutan para pengusaha real estate.” Kai memutar bola matanya malas. Ambisi Hanna untuk tetap menjadi yang teratas kadang membuatnya jengah. Darah ayahnya benar-benar mengalir kental pada dirinya, tak heran Ritz-Carlton memiliki cabang yang tersebar hampir di seluruh dunia. Bahkan Ritz-Carlton juga berdiri di negara berkembang seperti Indonesia. Sementara perusahaan pusat The Ritz-Carlton Hotel Company itu sendiri berada di Chevy Chase, Meryland—sebuah pemukiman yang berada di perbatasan Washington, D.C.

“Karena itu peluang bisnis yang luar biasa, Kai.” jawab Hanna sebelum memasuki Lamborghini Reventon-nya. Kai sendiri langsung memutar tubuhnya setelah membukakan pintu untuk Hanna, lantas ikut masuk melalui pintu pengemudi.

“Ambisi itu positif, tapi ambisius itu negatif. Dan kau terlalu ambisius untuk menjadi yang teratas.” Kai berucap, setelah ia selesai memasang sabuk pengamannya.

“Oh yeah? Aku hanya ingin mempertahankan posisi The Ritz-Carlton Tower sebagai apartemen termewah sekaligus termahal di New York. Jika, 520 Park Avenue jatuh ketangan orang lain, maka The Ritz-Carlton Tower akan berada di urutan ke-2.” Lihat, gadis itu berbicara banyak hanya jika membicarakan urusan pekerjaan. Kai yang mendengarnya pun hanya bisa menggelengkan kepala. Ingin sekali ia bertanya, ‘lalu apa bedanya dengan ambisius?’ namun, ia urungkan niatnya. Karena ia tahu, Hanna memang seperti itu.

“Anak perusahaan Bertelsmann, Random House Tower yang akan menjadi saingan terberat Ritz-Carlton dalam perebutan saham nanti. Itu yang kutahu,” jelas Kai. Hanna yang mendengarnya pun hanya mengangguk mengerti.

“Random House Tower bukanlah saingan berat Ritz-Carlton, mereka hanya anak perusahaan yang belum lama berdiri.” Senyum kecil terbentuk pada bibir mungil gadis itu. Kata-kata angkuhnya terdengar begitu menyeramkan, karena diucapkan oleh seorang gadis cantik sepertinya. Beruntung Kai sudah terbisa akan mulut pedasnya.


Ambition

Sehun berdiri di depan sebuah jendela besar yang menyajikan pemandangan langsung ke arah Central Park. Apartemen The San Remo bahkan terlihat jelas dari tempatnya berdiri saat ini. Pemandangan itu begitu indah sekaligus menakjubkan, dan semua itu merupakan hasil karya manusia –atas izin Tuhan tentunya.

Random House Tower (tempatnya berada saat ini) merupakan apartemen sekaligus kantor baginya. Gedungnya sendiri menyandang status sebagai salah satu gedung tertinggi di New York, hingga membuatnya bangga karena sudah memilikinya.

“Kau sudah berhasil. Sekarang apa lagi yang kau pikirkan, hm?”

Suara lembut nan anggun menginterupsi Sehun dari lamunannya. Manik elang-nya melirik sesaat dengan senyum tipis di bibirnya.

“520 Park Avenue,” ujarnya singkat.

“Kau akan menggunakan cara licik lagi untuk mendapatkannya?”

Gadis itu, Jenny Kim—kembali bertanya. Statusnya yang merupakan sekretaris sekaligus sepupu dari seorang Oh Sehun, membuatnya hafal akan semua tabiat pria itu.

“Callista, dia menyukaiku. Dia sendiri yang menginginkanku dan aku hanya mengambil keuntungan dari itu.”

Gadis berdarah Korea itu hanya memutar bola matanya malas. Andai ia keturunan Bertelsmann, mungkin ia tak akan berakhir dengan menjadi sekretaris seorang Oh Sehun. Namun sayangnya, ia hanya seorang gadis biasa. Beruntung, adik dari Ibunya menikah dengan seorang pria kaya. Hingga ia bisa menjadi sepupu dari cucu pendiri Bertelsmann.

“Ini bukan pertama kalinya Oh Sehun. Kau selalu mempermainkan gadis-gadis kaya yang menyukaimu. Kau seperti laki-laki brengsek yang tak punya hati.”

“Kau mengenalku lebih dari siapa pun, Jen…”

Jenny bungkam. Ya, setidaknya Sehun tidak sebrengsek seperti yang ia maksud. Dalam dunia bisnis, hal-hal seperti ini sudah amat biasa. Bagai simbiosis mutualisme antara lebah dan bunga, hubungan yang Sehun jalin sama-sama hubungan yang saling menguntungkan untuk kedua belah pihak. Tak jarang, pria itu berakhir di ranjang dan berbagi kenikmatan dengan partner-nya. Yah, bukankah itu sama-sama menguntungkan? Meski Sehun yang mendapat keuntungan paling banyak. Sehun bisa membangun istana madunya, dan gadis itu bisa menyebarkan serbuk sarinya. Huh. Benar – benar seperti bunga dan lebah.

“Aku lupa. Aku berada di Amerika sekarang…” Gadis cantik itu memainkan anak rambutnya sesaat. Lantas beranjak, mendaratkan bokong sintalnya di sofa.

“Pertemuan antar pemegang saham 520 Park Avenue akan dilaksanakan Minggu depan. Siapa yang menanam saham paling tinggi, dialah yang akan keluar sebagai pemenang sekaligus pemilik 520 Park Avenue.” Jenny membuka lembaran berkas di depannya.

” . . . “

Tak ada jawaban dari Sehun. Pria itu beranjak dari tempatnya berdiri, menuju sofa single yang berada di balik meja kerjanya. Tangannya bergerak meraih tablet di depannya, lantas menyalakannya—mengecek pergeseran kurva-kurva harga saham di New York. Titik fokusnya pun terkunci pada benda pipih berlayar datar itu. Pergerakan angka-angka yang ditampilkan di dalamnya begitu menarik perhatiannya, seolah tak ada yang lebih menarik dari itu.

“Keluarga Hilton, The Ritz-Carlton Company, dan Bertelsmann diperkirakan akan menjadi yang terkuat,” sambung Jenny. Sehun sendiri masih berkutat dengan tablet-nya.

“Paris Hilton, dia seorang aktris sekaligus ahli waris Hilton Hotels Corporation dan perusahaan real estate milik ayahnya. Apa kau akan mendekatinya juga? Richard Hilton, ayahnya, akan menjadi salah satu pesaing terberatmu.” Jenny bertanya tanpa mengalihkan fokusnya dari tumpukan berkas yang berisi profil para pemegang saham 520 Park Avenue.

“Tidak. Dia terlalu tua untukku,” jawab Sehun apa adanya. Jenny yang mendengarnya hanya mengangguk mengerti. Ia pun membenarkan, mengingat umur Paris Hilton yang sudah menginjak 35 tahun, sementara Sehun baru berusia 24 tahun. Akan sangat lucu jika mereka menjalin hubungan, meski hubungan beda usia sudah amat biasa, namun jika Sehun menjallin hubungan dengan seorang aktris, tentu itu akan menjadi bahan perbincangan seluruh dataran Hollywood.

“Bagaimana dengan adiknya, Nicky Hilton? Dia seorang desainer fashion dan lebih muda 2 tahun dari kakaknya,” tanya Jenny lagi.

“Wajahnya tidak secantik kakaknya,” jawabnya tak acuh. Fokusnya terus tertuju pada tablet di tangannya.

Jenny yang mendengar jawaban Sehun kali ini pun mendengus sebal. Ia lupa, selama ini Sehun hanya menggaet gadis yang memiliki paras cantik sebagai targetnya.

“Kalau begitu, tidak ada yang bisa kau dekati untuk mempermulus jalanmu kali ini. Karena orang dari The Ritz-Carlton Company yang akan menjadi sainganmu adalah seorang wanita. Jo Khaza, pemimpinnya, sama sekali tak turun tangan. Semua kuasa telah diserahkan dan dikuasakan pada putrinya, Khaza Hanna, CEO The Ritz-Carlton Tower.” Jenny menggendikkan bahunya tak acuh, setelah melempar berkas di tangannya ke atas meja.

“Apa?” fokus Sehun teralihkan. Maniknya mengunci tajam Jenny yang tengah duduk di sofa panjang ruang kerjanya, “Jadi putrinya yang langsung turun tangan?”

Jenny hanya tersenyum sebagai jawaban. Bisa ia lihat perubahan ekspresi Sehun yang amat sulit dibaca. Namun, biasa ia simpulkan, pria itu terlihat tak suka atas informasi yang baru saja ia sampaikan.

“Akan sangat menggelikan jika kau medekati musuhmu secara langsung. Karena musuhmu itu akan dengan mudah membaca apa yang kau inginkan, dan kemudian menolakmu secara mentah-mentah. Karena biar bagaimanapun, Khaza Hanna tidak akan menjadi seorang CEO, jika ia tidak memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Ini saatnya kau bermain sehat Mr. Oh. Meski usia gadis itu lebih muda satu tahun darimu, tetap saja kau tak bisa meremehkan kemampuannya.” Jenny tersenyum menantang dan disambut senyum miring dari pria itu.


Ambition

Sungai East yang begitu jernih berwarna kebiruan menjadi titik fokus Kai saat ini. Bokongnya bertumpu santai di atas kap mobil boss-nya. Sementara tangannya, memegang segelas Java Coffee yang begitu khas di lidah. Meski Brazil, –negara asal ayahnya– merupakan produsen kopi terbesar di dunia, entah mengapa, ia lebih menyukai Java Coffee yang berasal dari Indonesia. Mungkin, karena biji kopinya yang kaya rasa dan rasanya yang tak akan berubah meski ditambah susu atau krim, atau– ah, entahlah, Kai sendiri tidak tahu.

Sesekali matanya melirik ke arah seorang gadis yang duduk di sampingnya. Namun, setiap kali melirik, hanya hal yang sama yang ia dapat. Keterdiamannya. Ya, gadis itu hanya diam—larut dalam dunianya. Terhitung, semenjak mereka selesai melihat-lihat lokasi pembangunan 520 Park Avenue. Dan Kai rasa, Hanna diam karena memang tak ada lagi pembahasan seputar dunia bisnis yang menarik baginya. Tak heran, ia hanya memiliki seorang teman sekaligus sahabat dalam hidupnya. Selain Kai, mungkin tak akan ada orang yang tahan bergaul dengan kebisuannya. Begitu membosankan. Terlebih, wajah cantiknya selalu berekspresi sama setiap harinya. Datar.

“Kapan kau ada waktu luang?” tanya Kai, menginterupsi keheningan yang terjadi di antara mereka.

“Sekarang kita sedang bersantai,” jawab Hanna sekenanya. Kai pun gemas dibuatnya. Jujur saja, meski sudah lama mengenalnya, Kai tetap tidak suka pada sikap dingin gadis itu. Meski kadang ia bersikap hangat, namun itu amat jarang ia tunjukkan.

“Setelah pertemuan antar pemegang saham, aku ingin mengenalkanmu pada kekasihku,” Kai meneguk kopinya pelan. Begitu khidmat.

” . . . “

“Kau jangan marah, jika kau tahu siapa dia,” sambung Kai, seketika mendapat lirikan penuh tanya dari Hanna.

“Kau akan mengenalnya nanti, tapi tidak untuk sekarang. Karena kau akan langsung menyuruhku untuk memutuskannya, jika aku mengenalkannya padamu sekarang.” Kai mengerti arti dari sorot tajam penuh tanya gadis itu. Detik berikutnya, hazel tajam itu kembali terfokus pada Sungai East di depannya.

“Kau menjalin hubungan dengan seseorang yang berada pada kubu lawan?”

“Uhuk. . .”

Pertanyaan Hanna sukses membuat Kai menyemburkan kembali kopi yang baru saja sampai ke tenggorokannya. Hanna memang bukan gadis yang banyak bicara, namun ia tak bodoh untuk mengerti maksud dari ucapan lawan bicaranya.

“Jadi benar?!” Hanna tersenyum miring, mendapati sahabatnya yang masih kesakitan akibat tersedak. Tangannya bergerak santai menepuk punggung lebar pria itu.

“Kau sudah mendapat jawabannya,” Kai meneguk habis kopinya, lalu melempar gelasnya asal ke dalam tong sampah.

“Aku tak masalah selagi kau tak mencampurkan urusan pekerjaan dengan urusan pribadi. Apalagi sampai membocorkan rahasia perusahaan ke tangan lawan.” Hanna kembali fokus pada pemandangan yang tersaji di depannya.

“Aku tidak bodoh. Bahkan sejauh ini, kami saling menghormati satu sama lain tanpa mengusik urusan pekerjaan masing-masing…”

“Aku percaya padamu. Kau satu-satunya orang yang aku percaya setelah keluargaku. Aku harap kau tidak mengecewakanku, Kai. . .” Kali ini, Hanna menatap lawan bicaranya. Menatapnya dengan sorot tajam yang amat sulit untuk diartikan.

Tangan Kai bergerak, mengelus surai coklat gadis itu. Bibirnya pun membentuk sebuah senyuman. Senyuman yang terlihat begitu tulus sekaligus menenangkan, “Jangan khawatir! Kau tahu, aku tak akan bisa menyakitimu sekalipun kau begitu menjengkelkan…”

Hazel itu melunak. Senyum tipis bahkan ikut terbentuk pada bibir mungil gadis itu, “Terima kasih untuk itu,” ujarnya lembut. Membuat perasaan hangat tercipta di antara keduanya.

Seburuk apa pun tabiat Hanna dalam bergaul, Kai tetap tak bisa menjauhinya. Sekalipun nada datar tak bersahabat seringkali terucap dari bibir indah gadis itu, atau pun sikap tak acuhnya pada lingkungan beserta orang di sekitarnya yang membuatnya dicap sebagai gadis angkuh. Kai tetap tak bisa menjauhinya. Karena ia tahu, gadis itu butuh teman, dan ia adalah satu-satunya teman yang Hanna miliki. Dan hanya ia yang mengerti segala hal tentangnya—lebih dari siapa pun, bahkan mungkin lebih dari kedua orang tuanya sendiri. Terlebih, gadis itu merupakan anak tunggal, hingga ia tak memiliki saudara untuk berbagi kasih.

“Kau harus lebih terbuka Hanna. Diusiamu saat ini, sudah seharusnya kau memiliki seorang kekasih…”

“Dan melepas virgin-ku?”

Kai tertawa mendengar pertanyaan sinis Hanna. Ia lupa alasan Hanna menutup diri, karena ia tak suka akan budaya Amerika. Dimana seks bebas, cara bergaul rendahan, serta gaya hidup yang menyedihkan menjadi budaya. Setidaknya itu yang Hanna lihat dari gemerlapnya New York.

Hanna menganggap seks bebas, hanya dilakukan oleh mereka yang tidak berpendidikan dan tidak mempunyai aturan hidup dalam hidupnya (tidak punya pegangan agama). Cara bergaul rendahan, dimana hal-hal negatif menjadi sesuatu yang dijunjung tinggi, seperti pesta minuman keras, narkoba, dan pamer kekayaan menjadi hal yang biasa. Dan terakhir, gaya hidup yang menyedihkan, dimana sepasang kekasih yang tidak memiliki ikatan sudah tinggal bersama bahkan memiliki anak.

Bukankah itu menyedihkan? Dan lebih menyedihkannya lagi, hal itu sudah menjadi hal yang amat biasa di negara maju seperti Amerika. Tak ada salahnya, jika Hanna menarik diri dari lingkungan sekitar demi menjaga kehormatannya sebagai seorang perempuan dan menjaga nama baik keluarganya di mata publik. Meski Hanna akui, itu bukanlah hal yang mudah. Dimana laki-laki tampan menjadi pemandangan yang biasa dilihat sekaligus indah di Manhattan.

Dan Kai, ia terbawa arus pergaulan Hanna. Ia berkomitmen untuk menjaga dirinya dari seks bebas sampai ia menikah nanti. Meski ia akui, itu tidaklah mudah. Namun, selagi ia mempunyai kesibukan untuk menata masa depan, ia yakin tak akan terbawa arus. Meski wanita cantik nan seksi menjadi pemandangan sehari-hari yang ia lihat.

“Kalau begitu, kau harus mencari laki-laki sepertiku,” Kai menepuk dadanya bangga.

“Aku tidak yakin kau akan berhasil, karena kau tengah menjalin hubungan saat ini,” elak Hanna dengan senyum miring di bibirnya.

“Ini bukan kali pertamanya aku menjalin hubungan Hanna. Dan sejauh ini, aku selalu tahan terhadap godaan, sekalipun kekasihku memiliki payudara besar…” Tawa Kai menyertai, setelah ia menyelesaikan kalimatnya.

“Hampir semua gadis di Manhattan memiliki payudara besar. Itu karena mereka sudah mengenal apa itu seks di masa pertumbuhan. Hingga ketika dewasa, tubuh mereka sudah terbentuk dengan baik dengan bantuan sentuhan pria.”

Kai menganga mendengar penuturan Hanna. Baru kali ini, ia mendengar gadis itu frontal dalam berbicara. Namun, pikirnya pun membenarkan, bentuk tubuh gadis perawan dan tidak, memang bisa dilihat dari bentuk payudaranya.

“Kajja, kita kembali ke kantor! Ada laporan keuangan yang belum aku periksa.” Hanna bangkit dari duduknya. Menyadarkan Kai yang tengah hanyut dalam pikir kelelakiannya.

“Bisakah kita makan siang dulu?”

Ambition

“Hahh. . . Nasibku begitu menyedihkan. Aku selalu berakhir dengan menemanimu makan siang bersama, hanya pada saat kau tidak memiliki kekasih. Selebihnya, kau bahkan tak pernah peduli aku sudah makan atau belum?!” Jenny mengoceh. Sementara pria di sampingnya, fokus pada jalanan di depannya.

“Aku rasa, kau tidak membutuhkan perhatian lebih dariku, Jen…” Sehun tersenyum kecil setelah menanggapi ocehan gadis itu, karena ia tahu, Jenny sudah memiliki kekasih. Dan detik berikutnya, ia kembali mendengar protes keluar dari dalam mulut kakak sepupunya itu. Kali ini, Sehun lebih memilih diam –mendengarkan– dengan fokus yang tidak berkurang sedikit pun dari jalanan di depannya.

Lamborghini Veneno-nya terus melaju menuju 113 MacDaugal Street dan berhenti tepat di depan Minetta Tavern Restaurant. Jenny yang melihat tempat makan siang yang dipilih oleh Sehun kali ini pun bungkam. Ia tak lagi protes, berganti dengan senyum kecil di bibirnya. Setidaknya, Sehun selalu mengajaknya makan di restaurant mewah yang tidak sesuai dengan isi kantongnya. Dan ia mendapatkannya secara gratis tanpa potong gaji.

“Masih tak ingin menemaniku makan?” tanya Sehun sarkastik. Dan langsung disambut dengan cengiran khas gadis itu.

Mereka pun turun, lalu berjalan berdampingan layaknya sepasang kekasih. Kedatangan mereka langsung disambut oleh pelayan di sana, yang kemudian mengantarkan mereka menuju meja yang masih kosong.

Jenny terlihat begitu antusias saat memilih makanan yang ada di buku menu. Bahkan saat Sehun sudah selesai memilih makanan sebagai menu makan siangnya, gadis itu masih sibuk memilih. Membuatnya sedikit jengah sekaligus malas —Jenny benar-benar kampungan— Ya, setidaknya itulah yang Sehun lihat dari sosoknya.

Matanya berkeliling, menikmati suasana mewah nan nyaman yang tercipta di restaurant mahal itu. Namun terhenti, saat fokusnya menangkap sesosok gadis yang duduk di samping jendela. Kedua tangannya bersilang di bawah dada, tatapannya lurus pada laki-laki yang duduk di depannya. Penampilan serta fashion-nya terlihat begitu high class. Seperti wanita Manhattan pada umumnya, namun entah mengapa Sehun terfokus padanya. Seolah tertarik pada aura yang dipancarkannya. Aura yang sama dengannya, dingin, misterius, sekaligus menggoda. Tatanan rambutnya rapi dan dibuat bergelombang, begitu cocok dengan wajah oval-nya. Wajahnya cantik seperti wanita Asia, sangat berbeda dengan gadis Manhattan pada umumnya. Namun, gadis cantik sudah menjadi pemandangan yang biasa di sini. Lalu apa yang membuat Sehun tertarik untuk terus menatapnya?

Sehun pun tak tahu jawabannya, gadis itu hanya nyaman untuk dilihat. Tak lama, Sehun kembali mengalihkan fokusnya pada Jenny yang kini sudah selesai memilih menu. Seolah tak ingin menjatuhkan harga dirinya dengan terus-terusan menatap seorang gadis yang tidak dikenalnya. Itu bukan gayanya, Sehun biasa dikagumi bukan mengagumi.

“Apa kau rindu Korea?” Jenny membuka pembicaraan, membuat fokus Sehun sepenuhnya tertuju padanya.

“Tidak,” jawab Sehun singkat, membuat Jenny seketika mempoutkan bibirnya.

“Keluargamu menetap di sini. Jadi, tidak ada alasan untukmu merindukan tanah kelahiranmu.” Jenny berujar dengan fokus yang tertuju ke arah jendela, “Sedangkan aku? Semua keluargaku masih menetap di Korea, hanya kau, Bibi dan Paman yang ada di sini–“

“Kau tidak menganggap kami keluarga?” sela Sehun cepat. Jenny menggeleng cepat sebagai jawaban.

“Bukan begitu. Aku hanya rindu Mama dan Papa, juga suasana kota Seoul,” tampiknya.

“Natal nanti, kau bisa pulang, Jen. Aku akan mengosongkan semua jadwalmu.”

“Benarkah?” mata Jenny berbinar.

“Kau tidak percaya pada Boss-mu?” senyum menyebalkan terukir di wajah tampan pria itu. Membuat Jenny seketika memasang poker face andalannya.

“Hanya saat kita berada di kantor. Selebihnya, kau tetap adik sepupuku karena Ibumu merupakan adik Ibuku.” Tegas Jenny terlihat lucu untuk wanita seusianya. Padahal, usianya hanya 3 bulan lebih tua dari Sehun.

“Terserah Kau saja, Noona,” Sehun menggendikkan bahunya tak acuh. Maniknya kembali melirik gadis yang duduk di samping jendela. Hal yang sama pun ia dapat –sama seperti tadi– gadis itu hanya diam. Bibir mungilnya terkatup rapat, sementara fokusnya kini tertuju pada pemandangan yang tersaji di samping tubuhnya. Ia hanya menatap keluar tanpa menaruh minat sedikit pun dari apa yang dilihatnya. Terlihat dari sorot tajamnya, yang hanya menatap datar setiap objek yang dilihatnya. Melihat gadis itu, membuat Sehun merasa seperti melihat refleksi dirinya sendiri.

Tak lama, makanan yang dipesannya dan Jenny datang. Bersamaan dengan datangnya makanan yang dipesan oleh gadis itu beserta kekasihnya. Ya, setidaknya kesimpulan itu yang Sehun dapat saat melihat gadis itu bersama seorang pria.

Sehun mulai memakan makanannya dengan begitu khidmat. Berbeda dengan Jenny yang terlihat lebih rakus. Ia hanya tak ingin menyia-nyiakan kebaikan seorang Oh Sehun. Itu saja. Bahkan saat Sehun sudah merasa kenyang, gadis itu masih sibuk dengan makanannya. Hingga membuat Sehun harus kembali menunggu, kali ini, menunggu gadis itu menghabiskan makan siangnya.

“Kajja. . .” Sehun bangkit dari duduknya, saat melihat Jenny meminum minumannya.

“Apa? Aku belum selesai…” Jenny mendongakkan wajahnya menatap Sehun yang sudah berdiri tegak. Dan sayangnya, ucapannya itu sama sekali tak dipedulikan oleh Sehun. Pria itu justru berjalan dengan santainya menuju pintu keluar. Tak peduli dengan Jenny yang menggeram kesal dibuatnya. Sebelum akhirnya, ia ikut bangkit dari duduknya.

Dengan tertatih Jenny mengejar langkah cepat kaki Sehun. Sementara alisnya bertaut lucu, terlihat begitu marah juga kesal. Fokusnya terkunci sempurna pada punggung lebar nan atletis pria itu. Hingga tak lagi memperdulikan keadaan sekitar. Dan disaat yang bersamaan, seorang pria berjalan dari arah kanan tubuhnya. Pria itu berjalan santai dengan fokus lurus ke depan. Hingga sampai pada satu titik—

Bruk.

“Akh…”

Tubuh mereka saling bertabrakan. Jenny oleng seketika, namun pria itu refleks menahan tubuhnya, hingga ia tak jatuh terjerembab. Sehun yang mendengar suara Jenny pun berbalik.

I’m Sorry,” Jenny refleks membungkukkan tubuhnya. Kebiasaannya saat masih di Korea begitu melekat pada dirinya.

“Jenny?” suara berat pria itu menginterupsi.

“Kai?” hazel Jenny berbinar, melihat pria yang ditabraknya.

“Sedang apa kau di sini? Kau sendirian?” Kai memegang bahu Jenny, dengan raut wajah penuh tanya sekaligus khawatir.

Sementara Hanna, hanya diam memperhatikan pria di depannya. Tanpa berniat membuka suara, bahkan untuk sekedar bertanya.

“Aku baru saja selesai makan siang bersama atasanku. Kau sendiri?” Mereka terlibat dalam percakapan hangat tanpa memperdulikan lagi situasi dan kondisi sekitar.

“Aku juga. Ah, perkenalkan, ini Nona Khaza atasanku.” Kai tidak melupakan keberadaan Hanna di sampingnya. Ia mengenalkan gadis itu dengan sopan dan memanggilnya dengan panggilan sopan pula. Tidak seperti biasa, saat mereka hanya sedang berdua, —Kai tak akan menggunakan embel-embel ‘Nona’ saat memanggil Hanna— karena Hanna sendiri yang menginginkannya.

“Dan Nona, ini Jenny Kim. Gadis yang aku ceritakan tadi,” Kai tersenyum lembut ke arah Hanna, sementara Jenny membungkukkan tubuhnya sopan tanpa berani mengulurkan tangannya pada gadis itu, bahkan untuk sekedar berjabat tangan sebagai salam perkenalan. Ia hanya merasa tak pantas untuk menjabat tangan gadis itu. Itu saja.

“Senang bertemu dengan Anda, Nona.” Jenny tersenyum. Begitu cantik juga manis. Hanna hanya menatapnya dan mengambil kesimpulan bahwa gadis itu merupakan kekasih sahabatnya. Tak lama, senyum kecil terukir di bibir Hanna. Membuatnya terlihat semakin cantik sekaligus anggun.

Kai yang melihat senyum itu pun bernapas lega. Setidaknya Hanna tak terlalu dingin pada Jenny. Melihatnya tersenyum pada orang baru saja sudah lebih dari cukup. Kai sudah cukup senang melihat reaksi Hanna, karena ia tahu, Hanna bukanlah orang yang mudah untuk tersenyum pada orang yang baru dikenalnya. Ia pun sudah mewanti-wanti ini pada Jenny, ia mengatakan pada gadis itu bahwa boss-nya adalah orang yang begitu menyeramkan. Ia juga mengatakan pada Jenny untuk berlapang dada dalam menerima reaksi apa pun yang ditunjukkan oleh boss-nya saat mereka bertemu nanti. Dan Jenny hanya tertawa menanggapinya.

Sekarang, Jenny mengerti mengapa Kai mengatakan itu. Ia bahkan merasa amat kikuk berhadapan dengan atasan kekasihnya. Namun tak bisa dipungkiri, ia terpesona dalam sisi misterius gadis itu. Membuatnya begitu penasaran akan sikap dinginnya yang terkesan tak bersahabat. Terlebih, wajah blasteran-nya terlihat begitu sempurna. Membuatnya betah mengamati wajah itu lama-lama.

“Jenny…”

Jenny mengerjap mendengar namanya dipanggil. Saat itu juga, ia sadar dari rasa keterkagumannya dan segera mengalihkan fokusnya pada pria yang tengah berjalan menghampirinya.

Kai dan Hanna pun ikut menoleh ke arah sumber suara. Dan saat itu juga, fokus mereka saling bertubrukan.

Deg.

Sehun refleks menghentikan langkah kakinya, —menyadari Jenny yang tak sendiri. Namun, manik elang-nya terkunci pada seorang gadis yang sempat mengambil alih fokusnya. Tatapan tajam nan dingin mereka pun bertemu. Namun, hanya sesaat karena gadis itu hanya meliriknya sekilas.

“10 menit, tidak lebih. Aku menunggumu di mobil,” Hanna kembali tersenyum ke arah Jenny, sebelum berlalu meninggalkan keduanya.

Stiletto-nya pun kembali beradu lembut dengan lantai, saat kaki jenjangnya melangkah dengan anggunnya bak seorang model. Sementara tatapannya lurus ke depan, tanpa memperdulikan tatapan kagum yang ditunjukkan padanya.

Sehun sendiri bergeming kaku di tempatnya berdiri, saat gadis itu melewati tubuhnya. Bahkan Sehun sama sekali tak menoleh demi menatap kembali sosoknya. Namun, parfum kelas dunia berhasil menyapa indera penciumannya. Menggodanya untuk menghirup habis aromanya. Bahkan saat sosoknya telah menghilang, aroma itu masih bertahan di udara. Luar biasa.

Pada pandangan pertama dalam hitungan detik, Sehun tak akan melupakan bagaimana tatapan wanita itu menguncinya. Sayang sekali, Sehun bukan pria bodoh yang mudah jatuh cinta, hingga ia tak langsung jatuh dalam pesonanya. Ia hanya tertarik. Itu saja. Tak lebih.

.

.

.

¤ To Be Continued ¤

.

.

.

Author’s Note

Hai, aku kembali dengan FF series ke-3 ku, setelah MY FATE and REGRET^^

Jika di Regret aku mengangkat sisi gelapnya dunia, maka di Ambition ini aku akan mengangkat sisi gemerlapnya dunia, dengan setting Manhattan, New York. Kenapa ga di Korea lagi? Karena akan sangat disayangkan kalau kita hanya terfokus pada satu tempat. Sementara, di dunia ini begitu banyak tempat luar biasa yang bisa aku tuangkan ke dalam bentuk tulisan dan kalian bayangkan lewat bacaan, yang terpentingkan para pemainnya dari Korea…hehe Jadi jangan minta aku untuk mengubah setting tempat FF ini, kalau ga suka, aku ga maksa buat baca. Lagipula, FF dengan setting Korea udah banyak di luar sana. Dan aku hanya ingin mencoba pengalaman baru..hee

Oh ya, kalian kenal Taylor Swift sama Selena Gomez, kan? Nah, mereka itu masih virgin. Dan mereka berkomitmen untuk melakukan seks setelah menikah (mungkin ini alasan kenapa Swift pacarannya ga pernah lama dan Selena putus sama Justin). Itu sebabnya, aku membuat karakter Hanna di sini beda dari FF aku sebelumnya.

Dan Taylor Lautner (salah satu pemain Twillight), dia itu masih pejaka. Itu sebabnya, aku buat Kai demikian. Toh aslinya juga Kai emang kalem, beda sama Sehun yang pecicilan dan bahkan dengan terang-terangan suka sama Mikerr-,-

untuk profil keluarganya sendiri, aku ngambil dari,

Bertelsmann dan Ritz-Carlton

Semua yang aku jelasin tentang Bertlesmann dan Ritz-Carlton itu Fact (kecuali nama pemimpin The Ritz-Carlton Hotels Company, itu nama yang aku ciptain sendiri). Keterangan tempat (nama gedung) juga Fact, terus profile keluarga Paris Hilton juga Fact. Jadi, intinya aku masukin pengetahuan umum di FF ini. Untuk Ritz-Carlton sendiri pasti kalian udah ga asing ya, karena di Jakarta juga ada^^

Dan asal mula konfliknya berasal dari artikel ini…

Belum dibangun apartemen ini sudah jadi yang termahal di New York

Aku kembang itu ke dalam cerita, supaya ga berkesan mengada-ngada. Biar sama kaya Regret, yang juga ngambil dari artikel-artikel tentang Mafia…

Mungkin untuk sekarang yang baca masih bingung, tapi untuk kedepannya pasti terbiasa, lagian Manhattan itu kota yang paling sering dipake buat maen film kok, Transformers dan King Kong salah satunya. Aku yakin, kalian pasti gampang bayanginnya😀

Oh ya, Teman-teman lamaku (readers lama) pasti udah hafal betul dengan cara main aku, jadi aku peringatkan dari sekarang untuk tidak mempersulit diri kalian sendiri dengan menjadi sinder, karena sewaktu-waktu rating FF ini bisa naik begitu saja dimana ada konten dewasa di dalamnya. Dan saat itu, FF ini akan diprotect, dimana yang bisa dapetin pw-nya cuma mereka yang ngikutin rules^^

See youu ya,

Oh Sehun

sehun

Khaza Hanna

KHanna

Kai Kim

kai

Jenny Kim

Jenny Kim

Saranghae Yeorobun❤

Regards,

Sehun’Bee

1,413 responses to “Ambition [Chapter 1] ~ by Sehun’Bee

  1. uwaaaaaa melalang buana di wp ini dan nemu ini ff . keren pake banget . apalgi karakter castnya dingin misterius gituu uwaaaa aku suka banget authornim ..:)

    btw aku reader baru annyeong haseyo. bangapseumnida ^^ *bow*

  2. AP1
    Kyaaaaa keren kak……
    Kai sama jenny nanti sehun sama hanna ya….
    Sehun paling tampannn dan hanna paling cantikkk @94Rini.
    Oh yah kak maap baru komen di ff kakak,,,padahal aku udah lama jadi readers kakak, hehe semenjak ff ambition chapter 1. Ada beberapa halangan kenapa aku gk bisa komen di ff bee,, oh yah aku punya twiter @94Rini,,,nanti aku akan minta pw ambition chapter 14,setelah memenuhi syarat syaratnya,mohon diberi.

  3. Hello author salam kenal🙂
    Saya readers baru disini hihihi
    Part I cukup buat aku terkesan , bahasa author yang kayak novel terjemahan jadi bikin aku greget bacanya , soalnya aku emang suka bahasa baku di ff .
    Dan memasangkan Sehun dengan gadis yang punya paras gitu juga yang aku suka .. Maksudku Sehun kan ganteng banget ya jadi pasangannya kalo bisa ya visualnya setara dengan Sehun kayak Hanna itu hihihi
    Oke deh thor , no more word for this chapter .. I like this so much .. Dan saya akan lanjut baca chapter selanjutnya di pagi yang cerah ini kekekekeke

  4. Reader baru.. karakter pemainnya, gaya penulisanya, settingnya, temanya, bagus semua. jarang nemuin yg ff yg kayak gini. Suka bgt deh❤

  5. Hi kk, salam kenal. aku reader baru. baru baca setelah sekian lama ff ini ada. Ini ff pertama yg aku baca dari sekian ff kk yg kk punya. Baca sumarry nya aja udah buat aku penasaran apa lagi udah baca sampai akhir chapter 1 , nambah tingkat penasarannya. Awalnya aku susah ngerti, mngkin karena otak ku yg lg gak fokus. Hehe. intinya aku suka ff ini kk. Mulai dari penulisannya, karakter pemainnya, sampai settingannya. Pokoknya berkelas deh.^^

  6. Gils gils gils ntaps lah thor seperti biasa. Itu si sehun ga usah sok jual mahal deh bang dd jadi sebal melihatnya

    Btw kebetulan nih lagi demen sama manhattan akunya hahaha

  7. Kesan pertama pas baca chapter satu Ambition itu berasa kaya nemu harta karun.. Hehe. Banyak pengetahuan, kaya kosakata, cara penyampaiannya juga unik beda dari yang lain..
    Aku boleh penasaran gak ya? Kak nurul hobinya baca buku apa sih? Serius ini cerita keren deh! Jadi pingin ke Manhattan gara-gara baca ceritanya. Haha #Baper

  8. Oke! pertama tama aku readers baru disini mau ijin buat baca ff ini ya thor terus juga salam kenal!!!. udah laaaamaaaa banget aku ngga baca ff teruss… AAAAAAAAAAAAHHHH!!!!!! akhirnya setelah sekian lama aku nyari ff nya sehun nemu disini.. suka banget deh sama karakter sehun yang kek gitu. apalagi latarnya bukan di korea yekan? jadinya ada hal baru aja waktu lagi bacanya,, awalnya sih rada ngga ngerti soalnya aku ngga tau apa apa soal nama nama perusahaannya gitu hehee..
    seru banget ceritanya. apalagi sifat hanya-nya sama kek sehun cocok banget deh pokoknya. mau baca lanjutannya deh..

  9. Hai thor! salam kenal aku readers baru disini.. ijin baca ya,, hmm udah lama aku ngga baca ff terus ini nemu ff main castnya sehun dan aku sehunstan haha..oke awalnya aku baca ff ini rada ngga ngeh sama nama namanya tapi saat aku baca berulang ulang akhirnya udah sreg .. suka banget sama karakter sehun yang kek gitu juga karakter hanna nya beda sama di ff lain sukaaaaaaaa banget pokoknya. jadi aku mau lanjut baca chap selanjutnya dan sebelum lanjut ada baiknya aku ngasih komentar hahaha..

  10. Hayy… sbnarx ak prna bc ini tp tdk smpat komen. Hehehe mianhe.
    Oh sbnrx aku sk skl ff ni mkx aku bc lagi . sifat sehun sm hanna omg daebak ice prince vs ice princes hahaha

  11. Haii kakk, udah lama banget sejak aku selesai baca ff ini huhuu rindu dengan sosok hana dan sehun disini. Aku dulu udah pernah baca ff ini dan ikut nunggu update per bulan juga wkk. Dan setelah tadi, tetiba keinget ff ini pas abis baca2 paket IPS :p. So, aku ijin baca lagi yapp. Btw, kalo kakak inget id komen aku dulu: xoluvtsbta (dan skarang masih sama). Yahh siapa tau masi inget dan ngga sungkan buat bagi pw ff yg di protect (lagi) karna yg di kemaren entah masi ada ato ngga :’D Tenang kak tetep bakal komentar tiap chap lagi karna ini salah satu ff kaporit dari author kaporit jugaa *eakk

  12. Menjadii salah 1 fanfic fav.di blog ini membuat penasaran pingin baca
    Daaannn ternyata gak nyesel, ceritanya menarik dengan karakter (Sehun&Kai) yg saya suka💓
    Ditambah sama fakta2nya mayaan lahh nambah2 pengetahuan umum wkwk.
    Trus aku suka banget sama cara penulisan & pemilihan kata2nya yg bikin kalimatnya gak berat & mudah dimengerti👍
    Ok lanjut part 2

  13. Haii kak aku new readers :)) salam kenal izin baca ceritanya yaa :)) chapter prtama bagus bngtt kata2 yg kaka pake tuh bagus berat tp gk berat2 amat lahh bisa dipahami terus langsung di ksh tau konflik nya jd gk mikir keras untuk konflik tp bukan krna udh ketauan konflik gk kepo ama ceritanya ini malah kepoin bngtt gmna sehun biar menangin itu 520 park a venue atau hanna yg menangin atau malah paris hilton wkakakak😂😂 ceritanya classy gtu yaa high class jd agak make otak bacanya wkakakakak😂😂😂 keren kak 👍👍 fighting !!!

  14. Annyeong authorr aku rader baruu,
    Ff keren bangett padahal baru chp 1,aku suka cara penulisannya kak mudah dipahami
    Ff nya juga menambah pengetahuan, aku bahkan sama sekali gk tau tentang latar belakang keluarga sehun hanna 😂

  15. Huaaahhh, betapa high classnya hanna. Wow!!! Dia bahkan wanita yg luar biasa, sehun si bad boy ku rasa dia sangat menyukai hanna pada pandangan pertama. Life is ambition. Mereka sama2 orang yg mempunyai ambisi yg sangat tinggi. Aku sangat excited bgt bacanya, sampe gk berkedip 😘

  16. Hai kak, sebenarnya aku reader lama yg udah berkali-kali baca ff ini. Maaf karna kebetulan baru bisa komen sekarang karena keterbatasan alat dan kuota.
    Ambition is my favorite fiction and the best fiction yg pernah ku baca.

  17. Halo thor! Aku reader baru. Salam kenal ya…
    baru kali ini aku nemu ff yang nyertain pengetahuan umum yang dilandasi fakta. Pastinya sangat bermanfaat banget buat reader selain buat hiburan juga pengetahuan.
    aku suka cara penyampaian author yang tidak monoton dan pemilihan diksi yang baik.
    ff ini keren banget. Keep writing thor! Terima kasih juga udah published ff yang bikin aku tahu tentang keluarganya Paris Hilton dan yang lain-lain.
    pokoknya daebak bet ff nih…
    sukses thor..

  18. Setelah aku menemukan ff regret, akhirnya aku menemukan ff ini (padahal ini udh lama ya):v oke aku lagi coba baca ff yg genre kaya ginigini lagi bosen sama yang sweet gitu hehe:3 btw aku sekarang jadi salah satu fans nya author sehunbee nih ff nya keren keren soalnya ya walaupun blm aku baca semua. Tapi aku sudah mengakui author kereen^^

  19. authornim, cuma mau bilang ffnya bagus. Aku suka sama bahasa dan cara kaka bawain ceritanya, jarang” nemu cerita yang kaya gini…. jang!!

  20. Halooo kakk masih inget aku kah?? hehehe kyknya udah enggak deh,, aduhh maaf nihh aku baru baca ff eonni skrg padahal udah lama bangett ini ff, dan knp aku baru baca ini ff? karena aku hiatus selama menjadi readers ini saykorean.. wkwkw :v
    Padahal ku hiatusnya bulan agustus 2015 lho yaa wkwkwkw😀
    Aaaaa~ sukaa bangett makin penasaran eonn..
    Fighting~😀

  21. Hay eonni, aq reader baru ni… menurut aq ff ni keren bnget latar tempat di luar negeri pengetahuan baru ni, apalagi bahasanya pun mudah dipahami dan satu lagi aq suka yg cast namanya sehun sma hanna… ditunggu next chapter eonni

  22. Cinta manusia kutub yakk keren. Cocok bgt sama gambaran Hanna sama Sehun. Ceritanya masuk juga, banyak yg fact jadi gampang buat imajinasinya.

  23. Disini aku benar2 jatuh cinta sama semuanya, judul, cast (sehun pula ><), sama latar tempatnya.. Dan kalimatnya itu loh, , aku gak tau musti komentar kayak gimana, tapi sejauh yang aku baca sampai pada akhirnya kegiatan membacaku terhenti pada chapter 10 aku benar2 di buat nge fly sama tingkah sehun, dan gemes sendiri sama pribada hanna yang kyk bigitu, aku menyukai pesan2 yang di sampai kan di dalamnya juga,
    aku baru berkomentar itu karena aku juga baru tau ada ff sehun yang sekeren ini, mungkin berlebihan tapi percayalah, sejak sehun mulai mendekati hanna, aku benar2 di buat gemes sendiri, dan jujur, aku sangat penasaran bagaiman kisah ini berakhir, aku udah nge add fb mu author😀, jadi aku berharap kalau akan dapat pw nya juga, aku juga udah ngirim e mail, ini komentar aku secara keseluruhannya:D maaf untuk keterlambatannya, dan kalau seabdainya aku lancang main langsung minta aja, tapi tolong pahami rasa penasaran ku ini,,, huhuhu YoY

  24. Disini aku benar2 jatuh cinta sama semuanya, judul, cast (sehun pula ><), sama latar tempatnya.. Dan kalimatnya itu loh, , aku gak tau musti komentar kayak gimana, tapi sejauh yang aku baca sampai pada akhirnya kegiatan membacaku terhenti pada chapter 10 aku benar2 di buat nge fly sama tingkah sehun, dan gemes sendiri sama pribada hanna yang kyk bigitu, aku menyukai pesan2 yang di sampai kan di dalamnya juga,
    aku baru berkomentar itu karena aku juga baru tau ada ff sehun yang sekeren ini, mungkin berlebihan tapi percayalah, sejak sehun mulai mendekati hanna, aku benar2 di buat gemes sendiri, dan jujur, aku sangat penasaran bagaiman kisah ini berakhir, aku udah nge add fb mu author😀, jadi aku berharap kalau akan dapat pw nya juga, aku juga udah ngirim e mail, ini komentar aku secara keseluruhannya:D maaf untuk keterlambatannya, dan kalau seabdainya aku lancang main langsung minta aja, tapi tolong pahami rasa penasaran ku ini,,, huhuhu YoY

  25. WOW! So amazing ..
    Aq blm bca yg lain sih alias this is 1st time I read your masterpiece .. And this is perfect! Gaya bahasanya bgs bgt dan alur ceritanya jga gk ngebosenin.. Apalg cara penggambaran tokohnya jga gk rumit bgt plus aq suka pake BGT sma karakter Sehun & Hanna ..
    Good job, friend 👍

  26. This is my first time reading your masterpiece ..
    and~~ WOW !! I very like it..
    cara penggambaran tokohnya bgs bgt, alur cerita gk ngebosenin dan latarnya yg gk mainstream bikin aq betah bca FF ini.. apalg latar blkg FF yg berdasarkan real life..
    aq paling suka karakter Sehun dan Hanna jga alur ceritanya yg pake setting konflik bisnis.. mnurut aq, gk smua author bsa pake background cerita kyk gni.. so, I think you’re an amazing author …

    Good job (y)

  27. Keren banhet ceritanya. Apalagi dibumbuhibtentang bisnia. Sehun emang selalu cocok kalau jadi ceo atau bos. Dan aku suka banhet karakter khaza hanna.

  28. Wahh ceritanya amazing . Suka sama jalan ceritanya kak . Baru baca aja udah dapet feelnya . Good job buat kakak🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s