YOU’RE MY EUFROSINE (SPECIAL CHAPTER) – JONGSESA

You Are My Eufrosine poster 3

Author : JONGSESA | Tittle : You’re My Eufrosine | Main Cast : Lu Sera (OC), Kim Jongin/Kai (EXO), Oh Sehun (EXO), Park Hayoung (OC) | Genre : Romance, fluff, comfort. | Rating : PG-15 | Length : Chaptered

Disclaimer : fanfic asli hasil murni imajinasi sendiri. Plagiat ? Siders ? BYE !

***

Senyuman itu. Aku harap aku akan selalu melihatnya dan aku pun berharap bisa menjadi salah satu alasan senyuman itu ada. –Kai-

***

Aku terlalu polos untuk mengerti apa getaran ini. Yang jelas, saat di dekatnya aku merasa nyaman dan damai. –Sera-

***

Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 |Chapter 7

Sesuai dengan yang sudah di rencanakan, hari ini mereka –Sera, Sehun, dan Hayoung- akan pergi jalan-jalan. Lebih tepatnya kencan buta antara Sera dan Kai yang dibuat Sehun dan Hayoung.

Penampilan Sera hari ini cukup berbeda dari biasanya, itu menurut Sehun dan Hayoung. Hari ini Sera menggunakan dress hitam dibalut dengan kemeja kotak-kotak, dilapisi lagi dengan jaket denim berwarna hitam, sepatu kets, rambutnya seperti biasa ia gerai, tak lupa snapback yang menghiasi kepalanya, serta ransel kecil di punggungnya. Terkesan tomboy tapi, tetap cantik.

Sebenarnya Hayoung sudah meminta Sera untuk mengganti gaya penampilannya, namun Sera menolak. Bagaimana tidak, Hayoung memintanya menggunakan kemeja denim tanpa lengan dan hotpants putih. Sera menolak bukan ia tidak suka dengan gaya seperti itu, hanya saja ia punya alasan sendiri dan hanya Sera yang tau alasan itu.

Mereka berangkat tepat pukul 8 pagi, setelah sebelumnya mereka sarapan di rumah Hayoung. Selama perjalanan menuju Lotte World, senyum bahagia tidak pernah lepas dari wajah cantik Sera. Ia senang akhirnya bisa jalan-jalan setelah dua bulan lamanya, Sehun tidak kunjung mengajaknya sekedar untuk keluar rumah dan bersenang-senang.

Sedangkan pasangan kekasih yang duduk di depannya –Sehun dan Hayoung- selama perjalanan, mereka terkadang saling melirik satu sama lain sambil menunjukkan seringaian mereka. Kena kau Sera..

Mereka sampai di Lotte World pukul 9.10, karena jalanan di kota Seoul di akhir pekan cukup ramai. Setelah mereka sampai, mereka bertiga berjalan menuju loket untuk membeli tiket masuk. Karena loket antrian yang cukup ramai, Sehun dan Hayoung mulai melancarkan aksinya.

“Sera, kau tunggu disini, ne. Biar oppa dan Youngie yang membeli tiketnya.” Ujar Sehun.

“aku ikut saja, oppa. Bukannya sama saja aku ikut atau aku menunggu kalian.”

“tentu saja beda, Ra-ya. Kalau kau ikut, nanti kami disangka membawa adik kecil kami saat berkencan. Kekeke” jawab Hayoung terkekeh dengan ucapannya sendiri.

“aku kan juga biasanya ikut bersama kalian, kalau kalian sedang berduaan dirumah. Lagipula aku memang adik Sehun oppa, ya kan oppa ?” Tanya Sera manja.

“ne, kau memang adik oppa, Ra-ya. Tapi, kau tunggu disini saja, ne. Kami tidak akan lama.” Bujuk Sehun.

“arra..arra. Kalian ini, aneh sekali tidak seperti biasanya.”sungut Sera sambil mengerucutkan bibirnya.

“jangan cemberut seperti itu, kau jelek sekali, Ra-ya.” kata Hayoung sambil mencubit kedua pipi Sera.

“ya ya !! appo..” ujar Sera sambil mengusap pipinya yang dicubit Hayoung. “cepat kalian beli tiketnya, aku tidak mau menunggu terlalu lama.” Lanjutnya kesal.

“mm..tunggu, ne.” jawab Sehun sambil mengacak rambut Sera.

Pada akhirnya Sera hanya bisa menunggu kedua orang itu, sambil mendengarkan musik di ipodnya dengan earphone.

***

Setelah memarkirkan Aston Martin DB9 Coupe miliknya di pelataran parkir Lotte World, Kai keluar dari mobilnya sambil merogoh saku celananya, karena ponselnya sejak tadi terus berdering. Kai tau siapa orang yang akan terus menghubunginya seperti itu, selain kakak iparnya –So Hee.

Benar saja saat Kai melihat siapa si penelepon cerewet itu, tidak lain dan tidak bukan adalah Oh Sehun. Mau tidak mau Kai harus menjawab telepon dari sahabatnya itu, dan menekan cepat tombol hijau pada layar touchscreen ponselnya.

“YA!! kenapa tidak menjawab teleponku sejak tadi, eo ?!” Teriak Sehun dari seberang. Kai bahkan sampai harus menjauhkan ponselnya karena suara Sehun.

Setelah mengunci mobilnya, Kai mulai melangkah masuk kedalam kawasan Lotte World. “kau itu cerewet sekali. Tadi aku sedang menyetir, mana mungkin aku harus menjawab telepon dari namja tapi seperti ahjumma sepertimu.” Jawab Kai kesal.

“ya ya !! kau !! aisshh jinjja !! kita bertemu di loket pembelian tiket, ne. Cepatlah, jangan jalan seperti siput !!.” PIP. Sambungan terputus sepihak yang dilakukan Sehun.

“kau !! ya !!” Kai menggerutu sambil menatap ponselnya. Sungguh kalau bukan karena tawaran Sehun kemarin, ia akan mencekik Sehun saat ini juga. Selanjutnya ia terus melangkah kearah yang diminta Sehun.

Dari kejauhan, Kai bisa melihat Sehun dan Hayoung yang sedang menunggunya. Kai mengernyitkan dahinya, karena tidak melihat orang yang menjadi alasannya ikut dengan Sehun dan Hayoung pergi kali ini.

Dimana gadis itu ? apa ia tidak jadi datang ? batin Kai.

Kai pun kembali melangkah dengan santainya kearah pasangan tersebut. Hayoung yang melihat Kai datang, menyadarkan Sehun dengan dagunya yang mengarah kearah Kai. Sehun yang mengerti, memasang wajah kesalnya pada sahabatnya itu.

“ya siput! Kenapa lama sekali, eo ? kami sudah lumutan karena menunggumu.” Sungut Sehun saat Kai sudah sampai di hadapannya.

“aku hanya terlambat beberapa menit, Hun. Kenapa kau berlebihan sekali ? biasanya kau tidak mempermasalahkan ini jika aku terlambat.” Jawab Kai santai.

“aku memang tidak masalah, Kai. Tapi kalau sampai Sera menunggu terlalu lama, itu menjadi masalahku. Tsk.” Sehun mendecak kesal pada Kai. Kai yang mendengar nama Sera, langsung membulatkan matanya.

“dia ikut ?” Tanya Kai polos.

“ne. Dan kau membuatnya menunggu, Kai.” Jawab Sehun sambil bersedekap.

“aigooo..kalian kenapa malah bertengkar.” Hayoung lelah mendengar dua orang laki-laki yang bersahabat ini jika sudah bertengkar.

“tapi memang benar, chagiya. Karena si siput hitam ini, Sera harus menunggu lama.”

“ya! kau mengataiku apa barusan ? siput hitam ? kau-“. Kai mulai kesal karena sudah dikatai siput kini ditambah dengan hitam.

“kalau kalian terus bertengkar, Sera akan semakin lama menunggu !!” ucapan Kai terpotong karena teriakkan Hayoung.

“Kai oppa, ini kau simpan tiketmu dan Sera. Aku mau ke toilet dulu.” titah Hayoung sambil memberikan dua tiket pada Kai, dan Kai menerimannya.

“ne. Aku juga mau ke toilet. Kami harus menahan buang air kecil selama setengah jam, demi menunggu siput hitam sepertimu, Kai.” Ujar Sehun.

“kenapa tidak bersama-sama saja ? lalu, mana gadis itu ?” tanya Kai masih belum mengerti.

“kalau bersama-sama, Sera pasti akan lebih lama menunggu. Dan jika gadis yang kau maksud adalah sahabatku, gadis itu punya nama. Cobalah untuk menyebut namanya, oppa.” Saran Hayoung.

“ne. Sera sedang ke toilet, Kai. Kau tunggu di pintu masuk saja, ne. Kau masih ingat bagaimana cara menemukan Sera, kan ?  ya sudah, kami ke toilet dulu. Youngie, kajja!!” ucap Sehun dan diakhiri dengan menarik tangan Hayoung untuk segera pergi, sebelum mendengar jawaban Kai.

“kalian itu kenapa suka sekali bertindak seenaknya, dan bodohnya aku masih saja berteman dengan kalian. tsk” Kai mendecak kesal karena ditinggal begitu saja.

Namun pada akhirnya, Kai tetap mengikuti apa yang Sehun perintahkan. Ia berjalan menuju pintu masuk, dan akan menunggu disana.

***

Sera POV

Sudah hampir setengah jam aku menunggu Sehun oppa dan Hayoung membeli tiket, tapi kenapa mereka belum datang juga.

“kenapa lama sekali ? apa antriannya sangat panjang, sampai selama ini ?” ucapku sambil terus melihat kearah loket pembelian tiket.

“babo, Sera babo ! ini kan hari minggu, tentu saja banyak pengunjung yang datang, babo !” kataku sambil memukul mukul kepalaku.

Lagi-lagi aku mengarahkan seluruh pandanganku kesetiap arah, siapa tau aku melihat Sehun oppa dan Hayoung. Aku melihat ada seorang pria tinggi, menggunakan varsity hoodie berwarna biru tua.

Tapi tunggu ? sepertinya aku mengenal pria itu. Apa dia…

“haaah..tidak mungkin dia ada disini. Tapi dari postur tubuhnya, pria itu mirip sekali degannya.” Erangku frustasi karena tidak bisa memastikan siapa pria itu. Karena pria itu berdiri jauh dari tempatku, dan aku hanya bisa melihatnya dari arah samping.

“Ra-ya…” seperti ada yang memanggilku ? aku pun menoleh kearah belakang dan betapa terkejutnya aku saat tau yang memanggilku adalah..

“Kai-ssi ?”

Sera POV end

***

Kai POV

“Si albino itu, kenapa suka sekali membuatku berpikir keras? Apa katanya ? cara menemukan gadis itu ? apa maksudnya ? tsk”

Selama perjalanan, aku hanya bisa bergumam tanpa henti dengan apa yang dikatakan si albino cadel –Sehun. Saat aku hampir sampai di pintu masuk, aku melihat seorang gadis yang membelakangiku sedang memperhatikan seseorang. Dari postur tubuhnya sepertinya aku mengenal gadis ini.

“bukankah Sehun bilang, ia sedang di toilet ?” Tanyaku pada diri sendiri dengan dahi berkerut.

Aku pun mulai melangkahkan kakiku lagi, setelah sebelumnya sempat terhenti karena masih terus bertanya-tanya dengan keadaan yang tidak aku mengerti.

“Ra-ya..” aigoo..kenapa seperti ini lagi. Kulihat ia terkejut, mungkin karena ada yang tiba-tiba memanggilnya dari arah belakang. Dan kulihat ia membalikkan tubuhnya dengan ekspresi terkejut.

“Kai-ssi ?”

“Ra-ya..” kenapa wajahnya manis sekali dengan ekspresi seperti itu.

“n-ne. K-kenapa kau bisa ada disini, Kai-ssi ?” tanyanya gugup. Tapi aku senang akhirnya bisa mendengar suaranya lagi dan menyebut namaku.

“mm..aku..aku..aku sedang bosan dirumah makanya aku kesini. K-kau juga bagaimana bisa disini ?” kenapa aku harus berbohong padanya.

“bukannya kau mau ke rumah Sehun oppa hari ini ?” tanyanya sambil mengerutkan dahi.

“tidak. Siapa yang bilang aku akan kerumah Sehun hari ini ?” aku pun tak habis pikir dengan pertanyaan yang ia tanyakan.

“Sehun oppa yang bilang padaku, kalau kau akan datang hari ini kerumahnya.”

“sungguh aku tidak pernah bilang seperti i-“

DRRTT DRRTT

Ponselku bergetar, dan benar saja ada pesan masuk. Aku langsung membelalakkan mataku saat membaca siapa yang mengirim pesan dan isi dari pesan itu.

From : Oh Sehun

Bagaimana ? kau sudah menemukannya, kan ? apa kau menggunakan cara yang dulu pernah aku katakan padamu ? kekekke

Hari ini aku percayakan adikku padamu dan mulai sekarang, jaga dan buat ia terus tersenyum. Jangan sampai aku melihatnya sedih hari ini karena ulahmu.

Berusahalah jadi alasannya tersenyum, Kai.

Tersenyum ? apa ia aku bisa membuatnya tersenyum ?

Kai POV end

***

Sera POV

Kenapa dia ada disini ? ottokhae ? aku ikut kesini kan, untuk menghindar darinya.

DRRTT DRRT

Ponselku bergetar, tanda ada pesan masuk.

From : Youngie

Ra-ya, mianhae. Antriannya panjang sekali, sampai aku harus menahan buang air kecil. Dan sekarang aku dan Sehun oppa sedang ke toilet.

Sungguh kami tidak tau, kalau Kai oppa juga ada disini. Jadi, kami menitipkan tiketmu padanya. Kau masuk saja duluan, kami tau kau sudah lama menunggu. Kau bisa bersama Kai oppa.

Bersenang-senanglah hari ini, Ra-ya.

Aku hanya bisa mengerutkan dahiku, bingung dengan isi pesan Hayoung.

Apa sebaiknya aku masuk duluan saja ya ? memang benar aku sudah cukup lama menunggu dan sudah tidak sabar untuk main di dalam. Tapi apa harus dengannya ?

Sera POV end

***

Cukup lama mereka terlalu fokus dengan ponsel dan pikirannya masing-masing. Akhirnya Sera dan Kai mulai mengangkat kepalanya, sampai akhirnya tatapan mereka saling bertemu.

Karena terlalu gugup, akibat acara saling tatap itu. Sera kembali menundukkan kepalanya, sedangkan Kai hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sampai akhirnya..

“kau mau masuk sekarang ?” tanya Kai pada akhirnya untuk menghilangkan kegugupan yang masih ia rasakan.

“ne ?” Sera mengangkat wajahnya menatap manik mata orang yang mengajaknya bicara.

“hm. Apa kau mau masuk sekarang ? Hayoung sudah menitipkan tiketmu.”

“denganmu ?” Tanya Sera yang berhasil membuat jantung Kai hampir copot, karena ekspresi terkejut Sera yang justru membuatnya semakin terlihat menggemaskan.

“i-itu kalau kau mau.” Jawab Kai gugup sambil kembali menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

“hahaahha..” suara tawa Sera keluar dari bibirnya, dan membuat Kai membelalakkan matanya.

“w-wae ?” Tanya Kai gugup.

“aniya. Aku kan sudah bilang, jangan menggaruk tengkukmu jika memang tidak gatal, nanti tengkukmu lecet, Kai-ssi.” Jawab Sera yang sambil menutup mulutnya agar tawanya tidak kembali pecah, melihat Kai gugup.

“aaa..ne, ne. Jadi bagaimana, kau mau masuk sekarang atau tidak ?” Tanya Kai lagi dengan nada kesal yang dibuat-buat, yang sebenarnya sedang menutupi kegugupannya yang tak kunjung hilang.

Sera mengangguk dan tersenyum lebar. “kajja, kita masuk duluan saja.” ujarnya lalu mulai melangkah lebih dulu di depan Kai.

Kai yang masih berdiri di tempatnya, akhirnya bisa membuang nafasnya kasar. “gadis ini, kenapa selalu tau kalau aku sedang gugup. Dan jantung ini-“ Kai memegang dadanya. “kenapa selalu seperti ingin keluar dari tempatnya kalau melihatnya tersenyum.”

“Kai-ssi, cepatlah. Tiketku ada padamu. Kalau kau masih berdiri disitu, sama saja kita menunggu Sehun oppa dan Hayoung.” Teriak Sera yang sudah jauh dari tempat Kai berdiri dan dekat dengan pintu masuk.

Kai tersentak dengan suara Sera yang memanggilnya, dan berhasil membawanya kembali sadar dari dunianya sendiri. Selanjutnya, pria tampan itu mulai melangkah kearah Sera dan jalan beriringan untuk masuk kedalam.

***

Tidak terasa sudah 3 jam mereka bermain di Lotte Wolrd dengan menaiki berbagai macam wahana. Mulai dari wahana adventure, seperti Adventure of Sinbad dan Pharaoh’s fury. Tidak puas dengan itu, Sera mengajak Kai untuk menemaninya menuju kearah wahana yang memacu adrenalin di bagian wahana magic yang ada di luar gedung. Seperti wahana Gyro Swing, Gyro Drop, dan Wakiki Wave.

Kai yang awalnya mengira Sera akan mengajaknya untuk bermain wahana-wahana biasa saja, menelan salivanya sulit. Saat Sera terus saja menarik tangannya kesana-kemari untuk mencoba wahana memacu adrenalin itu. Ya, bahkan Kai harus menahan nafasnya tiap kulitnya bersentuhan dengan Sera. Jantungnya kembali berpacu berkali-kali lipat, karena skinship yang selalu Sera lakukan lebih dulu dan tentunya juga saat mereka akan segera mulai mencoba wahana yang bisa dikatakan berbahaya itu.

Kai bahkan mulai merasa pusing dan hampir memuntahkan isi perutnya, sesaat setelah menaiki wahana Gyro Drop. Namun rasa pusing dan mual itu hilang begitu saja, setiap Kai mendengar Sera yang menanyakan keadaannya dan melihat Sera tersenyum senang karena puas, hasratnya menaiki wahana-wahana yang ia inginkan bisa terpenuhi.

Dan disinilah mereka, food court. Sera yang melihat wajah Kai yang mulai pucat, mengajaknya untuk makan. Awalnya Kai terus menolak, dan mengatakan kalau ia baik-baik saja. Memang sebenarnya Kai belum makan apapun tadi pagi, hanya meminum susu. Itu pun tidak ia habiskan. Tapi saat melihat Sera yang kesal karena dirinya selalu menolak, akhirnya ia hanya bisa menurut. Kebetulan ini sudah masuk waktunya makan siang. Jadi, tidak ada salahnya mereka mengisi perut mereka terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke wahana yang lain.

Setelah mereka selesai makan dan mengistirahatkan kakinya yang sedari tadi terus berlari kesana-kemari, berpindah dari wahana yang satu ke wahana yang lain, akhirnya mereka memutuskan berjalan santai sambil menikmati es krim ditangan mereka masing-masing.

Sebenarnya dari mulai mereka masuk kedalam Lotte World dan jalan beriringan, semua pasang mata tidak henti-hentinya tertuju pada Kai dan Sera. Bukan tatapan yang mengintimidasi, tapi tatapan kagumlah yang mereka tujukan pada pasangan yang terlihat begitu serasi itu. Bagaimana tidak, penampilan Kai tidak jauh berbeda dengan Sera. Hari ini Kai terlihat santai namun tetap tampan, dengan kaos hitam polos yang dibalut kemeja kotak-kotak yang warnanya sama seperti yang Sera kenakan, celana jeans, sepatu kets, dan tak lupa snapback di kepalanya. Terlihat sangat serasi, bukan ?

Awalnya Sera tidak begitu mempedulikan hal itu, karena orang-orang itu hanya memperhatikannya. Tapi kali ini Sera mulai risih karena sebagian diantaranya ada yang mengambil fotonya dengan Kai, dan sesekali berdecak kagum melihat hasil foto mereka dengan objek dirinya. Ya, Sera tidak suka di foto jika tanpa seizin dirinya. Kai yang melihat Sera mulai risih, mengajak Sera untuk duduk di bangku taman yang tidak begitu ramai.

Setelah keduanya duduk, hening kembali tercipta diantara keduannya.

“kau lelah ?” Tanya Sera yang memulai pembicaraan.

“ne ? ani, aku tau kau merasa risih dengan situasi seperti tadi.” Jawab Kai sambil menjilati es krim cokelatnya.

“mm..gomawo.” hanya itu tanggapan yang Sera berikan.

“setelah ini kau mau naik wahana apa lagi ? bisakah kita naik wahana yang tidak begitu membuat jantungku hampir copot ?”Kai kembali bersuara.

“hahahhahah” tawa Sera kembali pecah mendengar perkataan Kai barusan. Kai yang mendengar Sera tertawa, menoleh kearah Sera.

DEG

Jantung Kai kembali berpacu tidak karuan melihat wajah Sera yang memerah karena terlalu lama tertawa. Sera yang merasa diperhatikan, akhirnya menghentikan tawanya.

“mianhae, Kai-ssi.” Sera masih terus mencoba mengatur nafasnya karena terlalu lama tertawa. “padahal tadinya aku ingin mengajakmu naik wahana French Revolution.” Lanjutnya dengan sedikit nada kecewa.

“aniya. Tidak apa-apa kalau kau mau naik wahana itu. Tadi aku hanya bercanda.” Ujar Kai yang tidak bisa mendengar nada kecewa Sera.

“gwaenchana, Kai-ssi. Kita bisa naik wahana yang lain.” Sera menenangkan diiringi senyuman manisnya yang membuat Kai kembali tidak bisa melepaskan pandangannya dari wajah cantik Sera.

Kai hanya mengangguk dan kembali berujar. “mm..aku..aku..minta maaf, atas kejadian di dance room beberapa-“

“ne. tidak apa-apa, Kai-ssi. Waktu itu aku juga mungkin terbawa suasana. Lagipula aku sudah melupakan kejadian itu.” Sera memotong kalimat yang akan Kai ucapkan dan kembali fokus pada es krim vanillanya. Detak jantung Sera menjadi tidak karuan jika harus mengingat kejadian itu.

Dalam hati Kai kecewa, mendengar Sera yang sudah melupakan kejadian itu. Padahal dirinya sampai tidak bisa tidur, jika sudah mengingat kejadian yang sampai sekarang ia tidak tau kenapa bisa ia lakukan.

Kai menganggukkan kepalanya. “ne, baguslah kalau begitu. Setidaknya aku bisa tidur tenang, jika sudah mengatakan itu.” ups! Kai menutup mulutnya, karena keceplosan mengatakan fakta yang memang terjadi padanya.

Sera menoleh kearah Kai sambil mengerjapkan matanya, tidak mengerti. “kau bilang apa Kai-ssi ?”

“a-aniya. Aku tidak mengatakan apa-apa.” Jawab Kai gugup sambil menunjukkan cengir kudanya. Dan Sera hanya menganggukkan kepalanya, seolah mengerti dan kembali fokus pada es krimnya.

“mm..Sera..”akhirnya Kai memanggil nama gadis itu dengan benar.

“ne ?” Tanya Sera kembali menoleh kearah Kai.

“bisakah kau tidak memanggilku dengan sebutan formal seperti itu. Kau bisa menyebut namaku saja.”

“aa..ne. Bagaimana kalau aku memanggil mu oppa ? kau kan seumuran dengan Sehun oppa, jadi tidak sopan sepertinya jika aku hanya menyebut namamu saja. otte ?”

Kai hanya mengangguk malu, dengan panggilan Sera berikan padanya. “ne. kau boleh memanggilku dengan itu.”

“haaah..kalau begitu, kajja!” Sera kembali berdiri karena es krimnya sudah habis dan kembali menarik tangan Kai untuk ikut berdiri.

“kita harus selesaikan yang disini dulu, oppa. Setelah dari sini, apa kau mau menemaniku ke suatu tempat ?” ujar Sera sambil menatap Kai.

“kemana ?” Tanya Kai polos.

“nanti kau juga tau, oppa. Kajja, aku tau kita akan ke wahana apa sekarang.” Selanjutnya Sera kembali menarik tangan Kai untuk mengikutinya kearah wahana yang Sera maksud.

Dari kejauhan, setiap gerak-gerik Sera dan Kai tidak pernah lepas dari pantauan dua pasang mata. Siapa lagi kalau bukan Sehun dan Hayoung. Mereka berdua kini lebih cocok disebut mata-mata. Bagaimana tidak, mereka berdua memakai topi, kacamata hitam, dan bersembunyi di balik pohon yang jaraknya mungkin tidak akan disadari oleh Sera dan Kai.

“aku senang sekali bisa melihat Sera terus tersenyum hari ini, oppa.” Ujar Hayoung yang tangannya sejak tadi ada digenggaman Sehun.

“oppa juga, Youngie. Sudah lama sekali aku tidak melihat Sera ceria seperti itu.”

Keduanya mulai melangkah mengikuti kearah wahana yang Sera dan Kai tuju. Sehun membelalakkan matanya, selanjutnya tawanya pecah.

“hahahahahahah…hmmph-”

“oppa, jangan keras-keras tertawa. Lihatlah, semua orang memperhatikan kita. Bagaimana kalau nanti kita ketahuan lagi ?” ucap Hayoung sambil membungkam mulut Sehun dengan tangannya dan sesekali membungkukkan badannya pada orang-orang yang menatap mereka dengan tatapan aneh, karena suara tawa Sehun yang menggelegar.

Sehun melepaskan tangan Hayoung yang menutup mulutnya, dan mencoba mengatur nafasnya karena tertawa cukup keras.

“mianhae, Youngie. Coba sekarang kau lihat !” Sehun menunjukkan papan bertuliskan nama wahana yang sekaligus menjadi alasannya tertawa.

GHOST HOUSE

Hayoung yang membaca tulisan di papan itu hampir saja memecahkan tawanya seperti Sehun, kalau saja Sehun tidak menutup mulutnya terlebih dahulu.

Hayoung melepaskan tangan Sehun yang menutup mulutnya. “oppa, bukankah ini akan semakin seru.” Ujar Hayoung sambil menunjukkan seringaiannya.

“tentu saja, chagiya.” Sehun pun juga menunjukkan seringaiannya.

Selanjutnya mereka pun mulai masuk kedalam area wahana tersebut untuk ikut mengantri dan tak lupa untuk melihat apa yang akan terjadi di dalam sana antara Kai dan Sera.

***

Sejak masuk kedalam area wahana Ghost House, keringat dingin tak kunjung berhenti membanjiri wajah Kai. Ya, inilah yang membuat dua sejoli tadi –Sehun dan Hayoung- tertawa sangat keras.

Kai takut dengan hantu.

Sera yang melihat gelagat aneh Kai, mencoba bertanya.

“apa oppa takut ?”

Kai yang mendengar pertanyaan Sera, mencoba menenangkan dirinya dan memasang tampang baik-baik saja.

“tidak. Mana mungkin aku takut dengan wahana ini. Aku ini laki-laki pemberani.”

Sera hanya mengangguk mengerti. Namun, saat ia melihat ada keringat di pelipis Kai, Sera mengambil tissue dari saku jaketnya dan menyeka keringat Kai.

“mianhae, oppa. Tadi aku mengajakmu berlari, kau sampai berkeringat seperti ini.” Ucap Sera yang fokus mengelap dahi Kai yang basah karena keringat dingin.

“…” tidak ada jawaban. Kai terlalu fokus pada wajah malaikat yang tengah menyeka keringatnya.

Dari jarak sedekat ini, Kai bisa merasakan hembusan nafas hangat Sera. Kai menyusuri setiap pahatan tuhan yang ia ciptakan pada wajah Sera. Wajahnya yang tirus dan seputih susu, alisnya yang tebal, matanya yang terlihat selalu berbinar, hidungnya mancung, pipi yang selalu terlihat merona, dan berakhir menatap bibir Sera. Kai kembali mengingat bagaimana saat ia bisa dengan begitu beraninya mendaratkan bibirnya disana. Sampai akhirnya..

“next..” suara dari petugas wahana menyadarkan Kai. Sera yang mendengar pun, memutar tubuhnya kemudian menarik tangan Kai untuk segera naik ke dalam kereta yang akan membawa mereka menyusuri wahana tersebut.

Sera dan Kai duduk di barisan ketiga, dan empat baris di belakang mereka ada si pengintai –Sehun dan Hayoung-, yang kebetulan sekali bisa masuk dalam rombongan mereka.

Sehun sedari tadi terus mencoba menahan tawanya dengan menggenggam tangan Hayoung yang juga tengah menahan tawanya. Sedangkan orang yang sedang mereka intai. Ani. Hanya satu diantara keduanya, sedang mencoba menetralkan detak jantungnya dan membuat ekspresi wajahnya senormal mungkin, saat kereta mulai bergerak maju.

Ekspresi dari para pengunjung hampir sama, ada yang berteriak ketakutan, terkejut, menutup mata, dan sebagainya. Namun, tidak dengan Kai. Ia masih terus berusaha memasang tampang berani dan tidak terkejut, walaupun terkadang ia hanya tersentak kaget biasa.

Tapi saat sampai di area dengan setting seperti ada di dalam hutan, keberanian Kai sedikit demi sedikit mulai luntur saat satu persatu orang-orang yang di rias menyerupai hantu-hantu mendekat kearah kereta pengunjung. Sampai akhirnya….

BAMM

“KYAAAA” teriakkan terdengar dari seluruh pengunjung, terlebih kali ini Kai ikut teriak cukup keras. Bagaimana tidak, tepat dihadapan kai sebuah tangan jatuh bergelayutan.

“KYAAA SERAAA!!! AYOO KITA PULANG !!!” teriak Kai yang duduk disamping Sera sambil memeluk gadis itu dan menyembunyikan kepalanya di cekungan leher Sera.

“….” Tidak ada jawaban. Sera sedang berusaha mencerna apa yang sedang ia rasakan. Kai memeluknya dan..hembusan nafas Kai yang hangat menjalar di kulitnya.

“jebaal Sera, kita jangan naik wahana ini lagi, ne.” ucap Kai saat mengangkat kepalanya dan menatap Sera dengan tatapan memohon, namun masih memeluk gadis itu.

Sera yang melihat wajah ketakutan Kai yang justru terlihat lucu, tiba-tiba saja tawanya pecah.

“hahahhahaha”

“wae ? kenapa kau malah tertawa, dibagian mananya dari wahana ini yang lucu ?” Tanya Kai kesal.

“hahahha wajahmu yang lucu, oppa.” Sera tertawa sambil memegang perutnya.

“aaaa..pokoknya kita jangan pernah ke wahana ini lagi, ne.” rengek Kai.

Akhirnya Sera berhenti tertawa dan mengatur nafasnya kembali. Kini ia beralih melepaskan tangan Kai yang ada di pundaknya. Kai yang baru sadar sejak tadi memeluk Sera, perlahan menurunkan tangannya dan kembali duduk normal.

Tidak terduga oleh Kai, Sera justru menggenggam tangannya dan memberikan senyuman yang membuat hatinya yang tadi ketakutan kini lebih tenang.

“ne. Setelah dari sini kita langsung pulang, oppa.” Ujarnya dan kembali memberikan senyuman yang membawa ketenangan untuk Kai.

Kai hanya mengangguk dan kembali menatap kearah depan, karena perjalanan mereka didalam wahana itu sudah selesai.

Sehun dan Hayoung yang sejak tadi memperhatikan setiap adegan diantara Kai dan Sera, hanya bisa tersenyum bahagia. Melihat Kai dan Sera yang terlihat semakin dekat, apalagi saat melihat ekspresi Kai yang takut dan memeluk Sera seperti tadi.

“aigooo..pasangan yang di depan itu romantis sekali.”

“ne. Mereka juga terlihat sangat serasi. Lihatlah, mereka seperti memakai baju couple.”

“aaa..apa mungkin mereka adalah pasangan suami istri yang sedang bulan madu ?”

“sepertinya tidak. Kalau aku boleh menebak, gadis itu sepertinya masih duduk di bangku terakhir sekolah menengah dan kekasihnya itu hanya berbeda dua tahun dengannya.”

“aaa..tetap saja. Mau mereka sudah menikah atau belum. Mereka terlihat sangat serasi.”

Sehun dan Hayoung kembali tersenyum, mendengar percakapan dua orang gadis yang duduk di depan mereka. Dan bagaimana bisa, mereka tidak menyadari kalau penampilan Kai dan Sera hari ini, justru terlihat seperti sepasang kekasih yang menggunakan baju couple.

“aku berharap Kai bisa menjadi alasan Sera bisa bahagia, Youngie.” Ujar Sehun sambil merangkul Hayoung yang duduk disampingnya.

“dan aku juga berharap Sera bisa menjadi malaikat untuk Kai oppa, Sehunnie oppa” lanjut Hayoung yang menyandarkan kepalanya di bahu Sehun.

Setelah kereta yang membawa para pengunjung berhenti, para pengunjung langsung berhambur keluar dari area wahana itu. Tak terkecuali Kai-Sera dan Sehun-Hayoung. Jika sejak tadi Sera yang menarik tangan Kai, kali ini justru Kai yang menarik tangan Sera untuk segera keluar.

Apa dia sebegitu takutnya dengan hal-hal yang menyeramkan ? batin Sera saat Kai terus menariknya sampai di luar wahana indoor tersebut.

Sehun dan Hayoung yang melihat ‘tawanan’ mereka berdiri tepat di depan pintu keluar wahana, buru-buru bersembunyi dibalik tembok untuk mendengar apa yang akan kedua orang itu bicarakan.

Sera melepaskan genggaman Kai ditangannya perlahan.

“oppa, apa kau takut dengan hal-hal yang menyeramkan ?” Tanya Sera.

“aniya. Aku hanya merasa tidak nyaman dengan suasana sunyi seperti itu.” Jawab Kai.

“mm..kalau begitu, kau tidak usah pergi menemaniku ke tempat selanjutnya, oppa. Biar aku sendiri saja, ne.”

“memang kau ingin pergi kemana, Ra-ya ?” Tanya Kai khawatir.

“aku tidak bisa memberitahumu sekarang, oppa. Yang jelas kita akan keluar dari kawasan ini. Kau pulang saja duluan.”

“shirreo ! biar aku yang mengantarmu, kajja.” Jawab Kai tegas tidak mau mendengar penolakkan dari Sera. Selanjutnya Kai kembali menggenggam tangan Sera untuk keluar dari Lotte World menuju tempat parkir.

Dua orang yang sejak tadi bersembunyi di balik tembok pun mulai mengikuti Sera dan Kai dengan tanda tanya besar di kepala mereka.

“oppa, kira-kira Sera mau kemana ?” Tanya Hayoung yang menyamai langkah besar Sehun.

“aku tidak tau, Youngie. Tapi, entah kenapa tempat itu terlintas begitu saja di otakku. Kau pasti mengerti maksudku, Youngie.” Jawab Sehun dengan nada khawatir.

Hayoung menghentikan langkahnya, begitupula dengan Sehun. Mereka saling menatap dengan tatapan serius.

“mungkinkah, oppa ?” ujar Hayoung dan hanya mendapat anggukan dari Sehun. Kemudian mereka melanjutkan kembali langkah mereka untuk mengikuti kemana Sera akan pergi.

***

Selama satu setengah jam untuk menuju tempat yang Sera tuju, keduanya –Kai dan Sera- hanya akan bicara saat Sera mengarahkan jalan menuju tempat itu. Kai tidak berani mengajak Sera bicara, karena sejak tadi dari ekor matanya, Kai melihat Sera hanya tersenyum miris pada ponselnya.

Setelah tau kearah mana Sera akan membawanya, keringat dingin mulai menguap di dahi Kai. Namun, Kai tetap berusaha tenang disamping Sera.

Setelah memarkirkan mobilnya, Sera dan Kai keluar dari mobilnya. Sebelum mereka melangkah Kai langsung beringsut berdiri di samping Sera.

“bukannya aku sudah bilang padamu untuk tunggu di mobil atau langsung pulang saja, oppa ? kau pasti merasa tidak nyaman kan berada disini.” Ujar Sera melihat Kai yang kembali berkeringat.

“gwaenchana, Ra-ya. kajja.” Kai mencoba membuat Sera tidak merasa bersalah membuatnya datang ke tempat ini.

“kalau begitu pegang tanganku, oppa.” Ucap Sera sambil mengulurkan tangannya pada Kai dan selanjutnya Kai menggenggam tangan Sera.

Kai dan Sera mulai melangkah menaiki menyusuri tanjakan yang diatasnya terdapat bukit. Lagi-lagi senyum tak pernah lepas dan hilang dari wajah cantik Sera. Kai yang awalnya merasa takut dan tidak nyaman di tempat ini, bisa jauh lebih tenang dengan sentuhan tangan Sera yang ia genggam dan bisa melihat senyum menenangkan itu. Tanpa sadar Kai menarik ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman, yang sayangnya Sera tidak bisa melihatnya.

Saat Sera dan Kai hampir sampai, ada seseorang yang memanggil Sera.

“SERA !!” seru wanita paruh baya itu dan berjalan mendekat kearah. Sera yang sedikit terkejut menoleh kearah datangnya suara. Namun tidak untuk Kai, ia tersentak kaget dan semakin mengetatkan genggamannya pada Sera.

“ahjumma !!” jawab Sera.

Dari kejauhan wanita yang Sera panggil ahjumma itu, datang menghampiri mereka berdua. Sera mencoba melepaskan genggamannya pada Kai, dan berhasil.

“sudah lama sekali kau tidak kesini, nak. Kapan kau datang dari Beijing, Ra-ya ?” tanya wanita paruh baya itu sambil mengusap surai hitam Sera.

“ne, ahjumma. Sebenarnya aku di Seoul sudah hampir dua bulan. Tapi aku baru bisa kesini hari ini.”

“arraseo.” jawabnya mengangguk mengerti, lalu beralih pada pria yang masih setia berdiri disamping Sera dengan tatapan cemas dengan sekitarnya -Kai. “apa dia kekasihmu, Ra-ya ?”

“eo ?” Sera menoleh ke arah Kai. Kai yang merasa ditatap pun mencoba tenang.

“apa kau kekasih Sera, anak muda ?” kali ini ahjumma bertanya langsung pada Kai.

“a-aniya, kami hanya berteman saja ahjumma.”jawab Kai gugup sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

“jinjja ? aigoo..padahal kalian terlihat sangat serasi jika menjadi pasangan kekasih.”

“ahjumma..” rengek Sera karena merasa sedang di goda oleh ahjumma itu.

“arra..arra..”wanita itu terkekeh geli karena melihat kedua remaja itu yang wajahnya sudah berhasil ia buat merona.

“mm..ahjumma..” Sera kembali bersuara dan mengambil sesuatu yang sudah ia bawa sejak dari Beijing dan sengaja ia bawa ke tempat ini yang ada di dalam ranselnya. Lalu ia memberikannya pada si ahjumma.

“eo ? milik siapa ini, Ra-ya ?” Tanya si ahjumma saat Sera memberikan sebuah guci yang isinya pastilah abu. Ya, Sera membawa guci berisi abu Xiao Wei untuk ia simpan di tempat ini.

Pemakaman yang sama dengan eommanya.

“ini milik salah satu adikku dipanti, ahjumma. Bisakah kau mengurus tempat dan menyimpannya di rumah abu di area pemakaman ini ?” minta Sera.

“aa..ne. Tentu saja, Ra-ya. Ahjumma akan menyimpannya sekarang. Apa ada lagi yang kau butuhkan, sayang ?” Tanya si ahjumma.

Sera menggeleng. “gomawo, ahjumma. Kalau begitu aku ingin bertemu dengan eomma dulu, ne. Annyeong, ahjumma.” Selanjutnya Sera kembali berjalan meninggalkan Kai dan ahjumma penjaga pemakaman.

Sebelum ahjumma itu benar-benar pergi dari hadapan Kai ia, mendekat kearah Kai.

“anak muda, jagalah Sera seperti hanya dia yang kau miliki di dunia ini. Dia malaikat yang tuhan kirimkan untuk memberi kebahagiaan orang-orang yang ada didekatnya, hanya saja wujudnya seperti manusia.” Ucap si ahjumma dan setelah itu ia menepuk bahu Kai dan berlalu pergi.

Kai masih mencoba mencerna apa yang ahjumma itu katakan. Ani. Sehun juga selalu berkata hal yang sama. Sampai akhirnya suara Sera menyadarkannya, dan membuat manik matanya kini menatap pada seorang gadis yang sedang membungkuk pada sebuah gundukan dengan batu nisan di bagian depannya.

Rest In Peace

Choi Hanni

1970, July 4th – 1996 April 14th

“Annyeonghaseyo,  eomma.” sapa Sera sambil membungkukkan badannya memberi penghormatan pada orang yang tidak pernah bisa ia rasakan sentuhannya.

Sera berjongkok dan memandang sendu kearah batu nisan itu. Mengusap ukiran yang bertuliskan nama orang yang rela menukar hidupnya agar dirinya bisa melihat indahnya dunia –eommanya.

“eomma, mianhae. Sera baru bisa datang mengunjungi eomma.” Air mata mulai menumpuk di pelupuk matanya dan bersiap tumpah dari tempatnya. “nae bogoshippo, eomma. Hikss..” isakan pun keluar dari bibir Sera.

“eomma, mulai sekarang Sera pasti akan sering berkunjung. Sudah dua bulan ini, Sera tidak bertemu Lu-ge, eomma. Sera rindu Lu-ge dan baba, eomma. Hikss.. eomma…eomma pasti bisa melihat betapa tampannya Lu-ge sekarang. Lu-ge juga sukses dalam hal bisnis seperti baba. Hikss.. tapi, Lu-ge terlalu sibuk, eomma. Jadi, Lu-ge tidak ingin membuat Sera kesepian dan memintaku untuk tinggal bersama Sehun oppa di Korea. Hikss..”

Sera menghapus air matanya kasar. “eomma, mianhae. Aku masih Sera yang cengeng, tapi Sera berjanji akan membuat siapapun bahagia, eomma. Sera berjanji akan memberikan kebahagiaan untuk siapapun, eomma. Hikss…”

“Annyeonghaseyo, ahjumma” tiba-tiba Kai sudah berdiri disamping Sera dan membungkukkan badannya sebagai bentuk penghormatan. Sera yang mendengar suara Kai, mendongakkan kepalanya.

“aaa..ne, eomma. Aku hampir lupa, hari ini aku datang bersama teman Sehun oppa. Namanya Kai oppa.” Ujar Sera seolah bisa berbicara langsung dengan eommanya.

Setelah memberi penghormatan pada eomma Sera, Kai memberi jarak antara dirinya dan Sera yang kembali mencurahkan isi hatinya selama ini pada mendiang eommanya.

Kai yang berdiri dibawah pohon ginkgo dekat makam eomma Sera. Hati Kai begitu sakit, saat air mata Sera terus saja keluar dari mata indahnya dan isakan dari bibir Sera  juga tak henti-hentinya terdengar di telinga Kai. Rasanya ia ingin sekali ada di samping gadis itu, memeluknya dan memberi ketenangan.

Sampai akhirnya ia melihat Sera kembali membungkukkan badannya, lalu berbalik  berjalan kearahnya dengan kepala menunduk.

“ayo kita pulang, oppa.” Ucap Sera dengan kepala menunduk, saat sudah sampai dihadapan Kai.

“…”

Sera mendongakkan kepalanya, menatap orang yang ada di depannya.

GREB

Kai yang sejak tadi menahan diri untuk memeluk Sera, kini sudah tidak bisa ia tahan lagi. Kai melihat wajah sembab Sera, matanya bengkak, dan masih bisa ia lihat air mata itu masih mengalir di pipinya. Dan Kai tidak bisa melihat itu diwajah gadis yang entah sejak kapan, begitu berpengaruh dalam kerja jantungnya.

“hikss…hikss..” Sera sudah tidak bisa menahan tangisannya. Dan ia pun membalas pelukan Kai yang begitu menenangkan untuknya.

“kenapa kau menangis lagi, hm ?” ucap Kai sambil mengelus punggung Sera yang bergetar.

Tidak ada jawaban dari Sera dan hanya isakan yang begitu memilukan yang Kai dengar.

“kumohon Sera, jangan menangis seperti ini.” Perlahan Kai melepaskan pelukannya dan mecoba menatap wajah Sera. Sera pun menatap wajah laki-laki yang ada di hadapannya.

Perlahan Kai mengangkat tangannya dan mengusap pipi Sera yang sudah basah karena air mata.

“kau tau, Sehun dan Hayoung selalu bilang padaku, jika mereka memiliki seorang malaikat dalam hidupnya. Hari ini, aku di beri kepercayaan oleh mereka untuk menjaga malaikat itu. Aku tidak boleh membuatnya bersedih barang sedikit, dan mereka hanya mau malaikatnya itu tersenyum.” Ucap Kai masih sambil menghapus air mata di pipi Sera. Saat ia lihat sudah tidak ada lagi, Kai kembali membawa Sera kedalam dekapannya, mengusap punggungnya memberi ketenangan.

“dan mereka juga bilang, kalau malaikatnya menangis, aku akan dibunuh oleh mereka. Jadi apa kau mau aku dibunuh oleh pasangan kekasih itu, hm ?” kata-kata konyol itu keluar begitu saja dari mulut Kai dan sukses membuat Sera sedikit terhibur hingga terkekeh.

Kai kembali melepaskan pelukannya dan menggenggam tangan Sera.

“kajja, kita pulang. Sehun dan Hayoung juga akan membunuhku, kalau malaikatnya pulang terlambat.”

Selanjutnya mereka melangkah kearah mobil Kai dan pulang menuju rumah Sehun.

Sehun dan Hayoung yang sejak tadi berdiri jauh dari jangkauan Kai dan Sera, pada akhirnya ikut menangis. Terlebih Sehun, ia begitu sakit melihat gadis yang begitu ia sayang layaknya seorang adik, harus menangis sendu seperti itu. Hayoung yang melihat kekasihnya menangis, memberi ketenangan dengan menyandarkan kepala Sehun bersandar di bahunya.

“aku tidak bisa melihat Sera seperti itu Youngie, hikss.. siapapun tidak boleh membuat adikku menangis seperti itu. Hiksss…” ujar Sehun yang sejak tadi hanya terdiam terisak, kini mencurahkan perasaannya saat melihat Sera menangis.

“oppa, kalau Sera tau kau menangis, ia pasti juga akan sangat sedih, oppa. Hiks… tenanglah, sekarang ada Kai oppa disampingnya. Kau sedang berusaha membuatnya bahagia, jangan sampai ia bersedih lagi saat melihat kau menangis. Hikss..” ucap Hayoung yang sebenarnya juga mencoba menenangkan dirinya.

Hayoung melepaskan pelukannya dan menatap wajah kekasihnya.

CHU~

“kajja, kita pulang, oppa. Biar aku yang menyetir, ne.” ujar Hayoung setelah ia mengecup sekilas bibir Sehun. Selanjutnya Hayoung membawa Sehun untuk masuk ke mobil dan duduk dikursi penumpang disamping pengemudi.

TBC

59 responses to “YOU’RE MY EUFROSINE (SPECIAL CHAPTER) – JONGSESA

  1. Pingback: YOU’RE MY EUFROSINE (CHAPTER 14) – JONGSESA | SAY - Korean Fanfiction·

  2. Pingback: YOU’RE MY EUFROSINE (CHAPTER 15) – JONGSESA | SAY - Korean Fanfiction·

  3. So sweet campur sedih campur romantis. Feelnya kerasa banget chingu :’) makasih buat special chapternya! Sukaaa

  4. Pingback: YOU’RE MY EUFROSINE (CHAPTER 17) – JONGSESA | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s