YOU’RE MY EUFROSINE (CHAPTER 8) – JONGSESA

You Are My Eufrosine poster 1

Author : JONGSESA | Tittle : You’re My Eufrosine | Main Cast : Lu Sera (OC), Kim Jongin/Kai (EXO) | Other Cast : Oh Sehun (EXO), Lu Han (EXO), Park Hayoung (OC), Oh Cheonsa/Lu Cheonsa (OC), And find by Yourself. | Genre : Family, Romance, Sad, Angst. | Rating : PG-15 | Length : Chaptered

Disclaimer : fanfic asli hasil murni imajinasi sendiri. Plagiat ? Siders ? BYE !

***

Eufrosine, putri Zeus dan Eurinome, yang melambangkan dewi kegembiraan dan kebahagiaan. Lu Sera, gadis dengan kesempurnaan yang dimilikinya, dan dianggap sebagai Eufrosine karena selalu membawa kebahagiaan untuk orang disekitarnya. Namun, bagaimana jadinya, jika hidup Eufrosine sendiri tidak bahagia ?

***

Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 |Chapter 7 | Special Chapter

***

Selama di perjalanan, Sera masih tetap bergeming. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Tatapannya kosong menatap kearah depan. Kai yang melihat Sera seperti itu, tidak berani mengajaknya bicara. Ia pun tidak berani untuk menatap Sera.

Mereka sampai saat hari sudah mulai malam dan jam sudah menunjukkan pukul 7. Kai memarkirkan mobilnya di halaman parkir rumah Sehun, yang sudah terpampang mobil Sehun disana. Ya, Hayoung mengendarai mobil Sehun dengan kecepatan tinggi agar lebih dulu sampai dirumah Sehun. Itu karena Sehun yang memintanya, karena Sehun dan Hayoung merasa ada yang mengganjal dihati mereka, tentang Sera.

Kai dan Sera turun dari mobil, dengan Sera yang melangkah lebih dulu dan masih dengan tatapan kosongnya. Kai yang masih berdiri di tempatnya, tidak mampu berkata-kata, namun pada akhirnya ia ikut masuk dan berjalan di belakang Sera.

CEKLEK

Sera masuk kedalam rumah Sehun dan langsung disambut dengan Sehun dan Hayoung yang langsung berlari menghampirinya. Sera yang masuk masih dengan tatapan kosong, tersentak dan memasang wajah ‘baik-baik saja’ dihadapan Sehun dan Hayoung.

“Ra-ya..kau darimana saja, eo ?” Tanya Sehun khawatir, sambil memegang kedua bahu Sera.

“tentu saja aku habis bersenang-senang, oppa. Kenapa kau khawatir seperti ini, hm? Bukankah tadi oppa memintaku untuk bersenang-senang.” Jawab Sera dalam satu tarikan nafas dan memasang senyumnya, senyum palsu lebih tepatnya.

“Sera, k-“ Kali ini Hayoung yang ingin berbicara, namun lebih dulu dipotong oleh Sera.

“aku mau mandi, badanku lengket sekali, Youngie.” Ujar Sera.

Lalu, Sera menoleh kearah Kai.

“terima kasih untuk hari ini, oppa. Aku senang hari ini. Ternyata kau tidak se-kaku yang ku pikirkan.” Lanjutnya yang juga memberi senyuman, yang Kai yakini adalah senyuman yang dipaksakan.

Sera tidak mau mendengar perkataan dari siapapun, ia langsung berjalan kearah tangga untuk masuk kedalam kamarnya. Ia butuh ‘penenang’.

Sera berjalan gontai saat akhirnya ia sampai di dalam kamarnya. Ia langsung masuk kedalam kamar mandi, menyalakan kran di bath up, dan wastafel. Sera membasuh wajahnya yang lengket karena air mata. Ia menatap bayangannya di cermin di atas wastafel. Lagi-lagi ia menangis, namun kali ini lebih memilukan.

“kenapa kalian selalu ingin aku jauh dari kalian ? apa salahku ? hikss.. eommaaaa..hikss.. hikss..”

Sera menangis sampai sesenggukan. Hatinya terlampau sakit, dengan hidupnya yang justru jauh dari kasih sayang ayah dan kakak kandungnya. Bahkan hampir tidak pernah merasakan kasih sayang dari keluarga kandung yang tersisa, yang Sera miliki saat ini.

Sera kembali mengingat suara tawa Lu Han yang tidak pernah ia dengar saat bersamanya, namun bisa ia dengar saat dirinya tidak ada didekat Lu Han.

Tangisan Sera berhenti seketika namun tetap terdengar isakan dari bibirnya, lalu menatap benci pada bayangannya di cermin. Tangannya yang ada disamping wastafel untuk menopang tubuhnya, terkepal sempurna. Ia muak dengan dirinya sendiri. Ia mengangkat tangannya yang terkepal dan selanjutnya…

PRAANGG

Sera memecahkan cermin dengan bayangannya yang ada disana, seolah-olah ia juga menghancurkan dirinya sendiri. Darah segar bercucuran di tangan kanannya yang terkepal. Nafasnya naik-turun akibat ulahnya sendiri. Ia merogoh saku jaketnya, mengambil botol berisi pil antidepresan, penenangnya. Sera mengeluarkan 5 butir pil dan langsung menelannya bulat-bulat, seperti biasa tanpa meminum pun Sera bisa menenggaknya sekaligus.

Sera jatuh terduduk dilantai. Sekarang yang ia harapkan hanyalah kegelapan yang membawanya bisa bersama dengan eommanya. Ya, Sera ingin mengakhiri hidupnya agar orang-orang yang ia sayangi bisa bahagia. Sera hanya ingin orang-orang yang ada di dekatnya bahagia, walaupun ia harus terluka dan akhirnya ia harus pergi untuk selamanya. Ia ingin menjadi seperti yang eommanya inginkan, yang eommanya selalu tulis diakhir surat setiap ia berulang tahun.

“Sera..anak eomma, jadilah alasan untuk orang lain bahagia, sayang. Eomma, yakin kau akan menjadi anak yang dicintai banyak orang. Jadi, berjanjilah pada eomma. Buat siapapun tersenyum dan bahagia, nak. Eomma sayang Sera selamanya.”

“aku berjanji membuat siapapun bahagia, eomma. Tapi, kali ini biarkan Sera membuat mereka bahagia dengan cara seperti ini. Sera juga ingin bahagia, dengan cara bertemu eomma.”

Selanjutnya semuanya gelap dimata Sera. Ia pingsan dengan tangan bersimbah darah di samping tubuhnya.

***

Lu’s Apartment, Germany

Siang itu Lu Han sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja. Entah kenapa hatinya resah memikirkan adiknya –Sera. Hingga akhirnya ia lebih memilih pulang lebih awal.

Seperti biasa, setiap ia sampai di apartemannya tidak ada sambutan hangat dari istrinya –Cheonsa. Cheonsa lebih memilih duduk menonton TV, sambil memeluk boneka Teddy Sera yang selalu ada disampingnya.

Lu Han selalu menyapa istrinya, namun tidak ada jawaban yang ia dapatkan. Lu Han selalu memeluk, mencium, dan bermanja pada Cheonsa. Dan Cheonsa tidak menolak, jika Lu Han membutuhkannya. Tapi sangat sulit untuknya bersikap ramah pada suaminya itu. Bisa dibilang Cheonsa yang sekarang adalah Cheonsa yang dulu saat mereka masih kecil. Cheonsa yang membenci Lu Han.

Kali ini Lu Han memang dalam keadaan lelah. Setelah menyapa dan mencium puncak kepala Cheonsa, ia langsung masuk kedalam kamar dan berniat untuk menjernihkan pikirannya yang kacau dibawah guyuran shower.

Di dalam kamar mandi, di bawah guyuran shower, ia kembali mengingat semua yang telah ia lakukan selama ini. Terlebih pada adiknya –Sera. Tanpa ia sadari, air matanya ikut membasahi wajahnya bersamaan dengan air shower, saat ia mengingat Sera.

“Lu-ge rindu Sera. Apa Sera baik-baik saja disana ?” gumamnya dengan kepala menengadah keatas.

Setelah selesai dengan acara menenangkan pikirannya, Lu Han keluar dari kamar mandi dengan mata yang merah akibat habis menangis. Karena saat ini di Jerman sedang musim semi, Lu Han memilih menggunakan t-shirt putih polos dan celana pendek se lutut.

DRRTT DRTT

Ponsel Lu Han bergetar tanda ada pesan masuk. Lu Han mengambil ponselnya dan membaca pesan itu. Seketika mata Lu Han membulat sempurna saat membaca isi pesan itu.

From : 004940-7528634816

Annyeong, Lu Han Hyung.

Kudengar, tuan muda Lu sudah sampai di Jerman satu bulan yang lalu. Benarkah ?

Haah..aku sudah tidak sabar bertemu malaikatku.

Persiapkan dirimu hyung, aku akan memberi kejutan untukmu.

Annyeong..

Lu Han menggenggam ponselnya erat, seolah bisa saja melenyapkan ponsel itu beserta isi dari pesan itu. Matanya kembali memanas dan bersiap menghasilkan kristal bening yang akan membasahi lekuk wajah tampannya.

“Sera maafkan Lu-ge…” ucap Lu Han lirih, dan selanjutnya kristal bening itu jatuh membasahi wajahnya.

***

Di ruang tamu. Sesaat Sera sudah masuk ke dalam kamar, Sehun langsung mengajak Kai untuk duduk di sofa ruang tamu. Sedangkan Hayoung pergi ke dapur meminta pelayan untuk menyiapkan makan malam, dan selanjutnya pergi ke kamar Sera untuk mengajaknya makan malam.

“aku tau kau dan Sera habis darimana, Kai. Kau pasti melihatnya menangis lagi, kan ?” ucap Sehun dengan tatapan kosong.

“aku tau Sera pasti akan menggunakan kesempatan hari ini, untuk kesana. Jujur saja, aku memang sengaja untuk tidak membiarkannya pergi sendirian dan pergi ketempat itu. Aku takut jika Sera kesana ia-“

“SERAAAAA!!!!” suara teriakkan Hayoung memotong perkataan Sehun dan membuatnya tanpa ba-bi-bu langsung berlari menuju kamar Sera. Kai yang juga mendengar itupun, ikut berlari mengikuti Sehun ke kamar Sera.

Tadi, saat Hayoung ingin mengajak Sera untuk makan malam. Hayoung mengetuk pintu tidak ada jawaban, maka dari itu ia memutuskan untuk langsung masuk kedalam kamar. Saat di dalam kamar, Hayoung tidak menemukan Sera. Tapi, pintu kamar mandinya tidak tertutup sempurna. Maka dari itu, Hayoung berjalan menuju pintu kamar mandi untuk menutup pintu. Namun saat ia menutup pintu, justru ia mencium bau anyir di kamar mandi. Tak lupa cairan berwarna merah pekat yang mengalir akibat air kran yang sera sengaja buka tadi, bercampur dengan darahnya. Hayoung tidak bisa berbuat apa-apa, dan akhirnya ia hanya bisa berteriak.

Sehun melangkah serampangan masuk kedalam kamar Sera dan langsung menuju kamar mandi dengan Kai yang mengikuti di belakangnya. Saat sampai di dalam kamar mandi, Sehun langsung berjalan kearah Sera yang ada di pangkuan Hayoung. Sehun merengkuh tubuh Sera, mendekapnya dan mencoba menyadarkannya.

“SERA!! BANGUN!! RA-YA !! OPPA, MOHON BANGUNLAH !! HIKSS.” Lagi-lagi Sehun terisak melihat keadaan Sera yang bisa dibbilang cukup mengenaskan. Kai yang melihat itu hanya bisa mematung di depan pintu dan menatap kosong kearah Sera.

Sehun menggendong Sera keluar dari kamar mandi dan merebahkannya di ranjang.

“Youngie, tolong bantu oppa. Gantikan baju Sera. Oppa akan memanggil dokter, ne.” minta Sehun dengan tergesah-gesah.

“jemput eomma saja, oppa. Akan lama jika, harus menunggu dokter. Aku jamin, eomma tidak akan mengetahui penyebabnya.” Jawab Hayoung yakin, sambil mengambil beberapa pakaian hangat untuk Sera.

“ne. oppa jemput, eommonim dulu, ne. Kai, kau tunggu disini.” Titah Sehun yang selanjutnya melesat kerumah Hayoung untuk meminta pertolongan pada eomma Hayoung.

Kai keluar dari kamar Sera. Tubuhnya merosot di depan pintu kamar, ia benar-benar tidak mengerti dengan keadaan yang saat ini terjadi. Yang ia tau, hatinya berjuta kali lebih hancur melihat keadaan Sera sekarang ini, daripada saat ia harus kehilangan adiknya-Yujin. Tanpa sadar air mata jatuh begitu saja membasahi pipinya.

Tidak butuh waktu lama Hayoung mengganti baju Sera. Kai akhirnya kembali masuk kedalam kamar dan berjongkok disamping ranjang Sera sambil menggenggam tangan dingin gadis itu.

Lima menit berlalu, Sehun datang bersama eomma Hayoung. Kai pun menjauh memberi jarak untuk eomma Hayoung memeriksakan keadaan Sera dan memilih berdiri di samping Sehun.

“biar eomma, periksa dulu ne. Youngie, bantu eomma bersihkan tangan Sera. Beri antiseptik,  setelah itu perban tangannya, ne.” perintah eomma.

“ne, eomma.”

Tidak sulit untuk Hayoung mengerjakan perintah yang eommanya katakan. Walaupun ia bukan mahasiswi kedokteran dan bercita-cita seperti eommanya, tapi sejak kecil Hayoung sudah terbiasa melihat cara-cara untuk memberi pertolongan pertama ataupun membantu eommanya dalam mengobati luka-luka seperti ini.

Kai berniat untuk menanyakan hal yang sejak tadi mengganggu pikirannya pada Sehun. Namun, ia tahan dulu saat Hayoung dan eommanya selesai mengobati luka dan memeriksa keadaan Sera.

“bagaimana kondisi Sera, eommonim ?” Sehun langsung bertanya dengan nada cemas.

“Sera hanya sedang kelelahan. Tapi, apa eomma boleh tau kenapa Sera memecahkan kaca ?” Tanya eomma Hayoung menyelidik.

“….” Tidak ada yang menjawab satu pun.

“Eomma tidak akan menceritakan kepada siapapun tentang hal ini, asal kalian mau menceritakan apa yang terjadi. Eomma juga tidak akan memaksa kalian untuk menceritakannya sekarang. Yang terpenting sekarang adalah, jaga Sera dan jangan biarkan ia sendirian.”

“t-tapi, eomma-“ Hayoung tergagap.

“jangan memaksakan untuk bercerita tanpa sepengetahuan Sera, ne. Ceritakan saat Sera sudah ingin bercerita. Yasudah, eomma pulang dulu, ne.”

“biar kuantar eommonim.” Ucap Sehun.

“tidak usah, Hun-ah. Eomma sudah meminta supir untuk menjemput. Jagalah adik kecilmu itu,ne.” tolak eomma halus sambil memberi ketenangan pada Sehun dengan mengusap punggungnya.

“hati-hati, eomma.” Titah Hayoung yang masih setia duduk diranjang, disamping Sera.

“kau menginap disini saja, ne. eomma pulang.” Selanjutnya eomma Hayoung berlalu pergi dibalik pintu.

Sehun pun berjalan kearah Sera dan duduk diranjang Sera, mengusap surai hitam Sera yang masih basah karena keringat.

“Ra-ya..kenapa kau melakukan hal bodoh seperti ini, hm ? apa kau mau meninggalkan oppa dan Youngie lagi ?” tanya Sehun lirih pada Sera yang masih terbaring lemah.

“Sera, oppa mohon. Berhentilah menyakiti dirimu sendiri. Hiks..” lanjutnya seraya isakan kembali keluar dari bibirnya.

Hayoung pun hanya bisa menutup mulutnya agar isakannya tidak ikut keluar. Hayoung menemukan Sera dikamar mandi dengan botol obat yang ada di genggamannnya, dan ia yakin Sera meminum obat itu tidak hanya satu atau dua pil saja. Sebelumnya Hayoung melihat mulut Sera berbusa, namun ia langsung membersihkannya agar Sehun tidak semakin khawatir.

Kai tidak bisa lagi menahan emosi dan air matanya, saat Sehun mengungkapkan hal yang semakin membuatnya terlihat bodoh diruangan itu. Ia langsung menghampiri Sehun, dan mencengram bahu Sehun kuat.

“katakan padaku apa yang terjadi, Hun !! kenapa dia melakukan ini semua ?!” teriak Kai sambil mengguncang tubuh Sehun.

“…”

“Sehun, jawab aku !! kenapa dia melakukan hal bodoh seperti ini ?!”

Sehun menatap Kai dengan air mata yang masih terus keluar. “berjanjilah, setalah aku menceritakannya, kau akan selalu bersamanya, menjaganya, dan membuatnya bahagia.” Minta Sehun dengan nada serius.

Kai hanya mengangguk dan selanjutnya Sehun mengajak Kai duduk di sofa yang ada di kamar Sera.

Sehun mulai menceritakan semua hal tentang Sera. Mulai dari ia bertemu Sera, apa yang terjadi dalam hidup Sera selama ini, sampai awal mula Sera menjadi gadis yang ketergantungan dengan obat antidepresan seperti sekarang.

Kai yang sejak tadi mendengar fakta-fakta baru tentang Sera, hanya bisa menatap nanar pada gadis yang masih setia di alam bawah sadarnya.

“kau tau, Kai. Kalau saja membunuh orang tidak berdosa, aku akan membunuh siapapun yang menyakiti malaikatku.” Ujar Sehun yang terkekeh dengan ucapan yang sudah lama tidak ia dengar dan ia ucapkan.

“kau berlebihan, Hun.” Jawab Kai yang merasa perkataan Sehun tidak masuk akal.

“dan kau akan selalu menjawab seperti itu, jika ‘penjaga’ Sera berkata seperti itu, Kai.”

“maksudmu ?” dahi Kai mengkerut karena perkataan Sehun yang semakin tidak masuk akal.

“begini saja lebih mudahnya. Apa kau akan membunuh siapapun yang berani menyakiti Yujin ?”

“tentu saja, Hun. Aku adalah kakaknya, itulah tugasku untuk menjaganya.” Jawab Kai cepat dan tegas.

“ya seperti itulah makna penjaga yang kumaksud. Penjaga itu adalah kakak-kakak Sera, Kai.”

“maksudmu, Sera mempunyai banyak kakak ?” tanya Kai yang masih belum mengerti.

“lebih tepatnya, kakak angkat. Dan aku bisa dibilang salah satu diantaranya.” Jawab Sehun

“mwo ?” Kai terkejut, saat tau Sehun adalah kakak angkat Sera.

“Lucu, bukan ? sekumpulan kakak angkat, menyayangi adik angkatnya layaknya, adik kandung. Bahkan sampai rela membunuh orang yang menyakiti adik yang bukan adik kandungnya. Kau mungkin masih sedikit bingung tentang hidup Sera, Kai. Maka dari itu, cobalah mengenalnya dan-“

Sehun menatap Kai yang juga sedang menatapnya, menunggu kalimat selanjutnya. “dan aku ingin kau menjadi penjaganya. Bukan menjaga kakak terhadap adiknya, tapi menjaga pria pada gadisnya.” Lanjutnya.

Selanjutnya Sehun berdiri dari duduknya dan bermaksud melangkah kearah ranjang Sera. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar pertanyaan Kai.

“Hun, bolehkah aku juga menjaga Sera ?”

Sehun tersenyum mendengar respon Kai atas perkataannya tadi. Ia pun menoleh kearah Kai yang menatap kearah Sera.

“sebagai apa kau ingin menjaganya ?” Tanya Sehun.

DEG

Jantung Kai seolah berhenti berdetak. Kai pun juga tidak mengerti kenapa, tiba-tiba keinginan yang selalu ia simpan didalam hatinya terucap begitu saja dari bibirnya. Ya, semenjak melihat Sera menangis di dance room, itulah pertama kalinya ia begitu menginginkan untuk menjaga Sera. Namun, Kai juga tidak tau sebagai apa ia ingin menjaga gadis itu.

“apa pertanyaanku begitu menguras otakmu, Kai ?” Tanya Sehun lagi.

“ani. Aku pun juga tidak tau kenapa aku ingin menjaganya dan sebagai apa aku menjaganya. Hanya saja, setiap aku melihatnya tersenyum aku selalu teringat Yujin.” Jawab Kai dengan kepala tertunduk saat menyebut nama adik tercintanya.

Sehun menepuk bahu Kai memberi semangat.

“mungkin terlalu cepat untukku menanyakan hal itu padamu, Kai. Kau bisa mendapatkan jawaban yang sesungguhnya seiring dengan berjalannya waktu, dan kuharap saat aku menanyakan hal itu lagi, kau punya jawaban yang pasti, Kai.”

Setelah mengatakan hal itu, Sehun kembali melanjutkan langkahnya ke ranjang Sera. Ia bisa melihat Hayoung juga sudah tertidur disamping kanan Sera sambil memeluk gadis itu. Itu adalah kebiasaan Hayoung, yang akan selalu memeluk Sera jika mereka tidur bersama.

Sehun mengecup sekilas kening Hayoung dan Sera, sebelum ia pergi ke kamarnya untuk mengambil bantal dan selimut. Ia berencana menjaga Sera malam ini, dan tidur di sofa kamar Sera. Saat ia melangkah menuju pintu kamar Sera, Sehun berhenti dihadapan Kai yang masih duduk di sofa dengan kepala yang masih tertunduk.

“kau mau pulang atau-“

“aku akan menginap malam ini, Hun.” Kai mendongakkan kepalanya dan langsung memotong perkataan Sehun.

“ne. Aku ambil bantal dan selimut dulu.” Ucap Sehun dan setelah itu ia berlalu ke kamarnya.

Kai beranjak dari duduknya dan berjalan kearah ranjang sebelah kiri Sera. Ia berjongkok untuk menyamai tingginya dengan wajah Sera yang sedang tertidur. Kai mengangkat tangannya ragu, namun pada akhirnya ia meyakinkan dirinya untuk mengusap pipi Sera yang dingin.

“cepatlah bangun, Sera. Ijinkan aku mengenalmu lebih jauh lagi.” Ucapnya lirih dengan tatapan sendu.

Tanpa Kai sadari, Sehun yang sebenarnya belum beranjak untuk ke kamarnya dan berdiri dibalik pintu kamar Sera yang tidak tertutup, tersenyum senang mendengar apa yang Kai katakan.

“aku tau, sebenarnya kau sudah merasakannya Kai. Tapi, aku ingin kau yang menyadarinya sendiri.” Ucapnya dan selanjutnya melangkah ke kamarnya untuk mengambil bantal dan selimut.

***

Malam pun telah berlalu dan digantikan dengan cahaya sinar matahari yang masuk ke celah jendela, yang menandakan pagi pun telah datang. Gadis cantik yang sudah tertidur hampir 12 jam dan sudah membuat orang-orang disekitarnya khawatir pun, ikut terganggu dengan cahaya hangat yang menyilaukan itu.

Gadis itu, Lu Sera. Ia mencoba membuka matanya, yang terusik dengan cahaya itu. Sera berhasil membuka matanya dan mencoba menyesuaikan cahaya disekitarnya. Ia mencoba menggerakkan tangan kanan dan kirinya. Tangan kanannya dapat bergerak bebas dan terasa sakit, namun tangan kirinya entah kenapa sulit untuk ia gerakkan.

Sera menggerakkan kepalanya, melihat ke sisi kirinya. Ia hampir saja memekik melihat siapa yang tidur terduduk di lantai sambil menggenggam tangannya, kalau saja pintu kamarnya tidak terbuka dan menampilkan seorang laki-laki dan perempuan sedang membawa nampan. Ya, mereka adalah Sehun dan Hayoung.

Sehun dan Hayoung yang melihat Sera sudah membuka matanya langsung berjalan cepat kearahnya.

“Ra-ya..kau sudah bangun ?” Tanya Sehun sambil mengusap puncak kepala Sera

Kai yang mendengar suara Sehun pun ikut terbangun dan langsung membelalakkan matanya melihat Sera yang sudah sadar.

“Sera, kau sudah bangun ? apa ada yang sakit ? dibagian mana ?” cecar Kai yang langsung menggantikan posisi Sehun yang ada disamping Sera.

Sehun dan Hayoung hanya terkekeh geli mendengar nada kekhawatiran Kai dan mereka tidak berniat untuk berbicara, karena ingin melihat apa saja yang akan terjadi diantara Sera dan Kai.

“gwaenchana, oppa. Aku saja baru bangun, belum tau di bagian mana yang sakit. Akh..” jawab Sera menenangkan, namun ia baru merasakan tangan kanannya yang diperban tiba-tiba saja berdenyut.

Kai langsung beringsut kearah kanan Sera dan mengusap tangannya dengan penuh kasih sayang.

“pelan-pelan, Ra-ya. tanganmu itu, masih sakit. Kau itu gadis, tapi tenagamu kenapa seperti seorang pria, eo ?” ucap Kai yang mencoba menghibur Sera dengan pertanyaan konyolnya.

“aku bukan gadis biasa, oppa. Aku juga bukan gadis penakut sepertimu.” Jawab Sera sambil menjulurkan lidahnya mengejek Kai.

“kau sedang mengejekku, eo ?” ujar Kai sambil mengacak rambut Sera.

“apa kalian lebih suka sarapan dengan bermesraan seperti itu, daripada sarapan dengan sup ayam ?” Tanya Hayoung dengan nada kesal yang dibuat-buat, namun perkataannya secara tidak langsung juga menggoda Sera dan Kai.

Sera dan Kai yang mendengar perkataan Hayoung, tiba-tiba wajah mereka memanas karena merona. Kai pun yang tadi memegang tangan Sera, buru-buru ia lepaskan.

“ya ! kenapa wajah kalian memerah seperti itu ? apa jangan-jangan kalian memang lebih suka sarapan dengan bermesraan seperti tadi ?” Sehun semakin menggoda Sera dan Kai.

“oppa~” rengek Sera sambil menutup wajahnya yang sudah memerah, bahkan tangan kanannya yang sakit ia hiraukan agar bisa menutupi wajahnya.

“aigooo…adik kecilku ternyata sudah dewasa, ne.” Sehun terus menggoda Sera yang masih setia menutup wajahnya.

“ya albino ! jangan bicara seperti itu.” Kai mencoba menetralkan detak jantungnya dengan membela diri. “Sera, turunkan tanganmu, ne. Tanganmu masih sakit.” Kai membela Sera sambil mencoba menarik tangan kanan Sera yang ia yakini masih terasa sakit.

“shireo !! Sehun oppa pasti masih ingin menggodaku seperti tadi, oppa.” Sera masih merengek karena takut Sehun menggodanya lagi.

“Young-ah, minta kekasihmu itu berhenti menggoda Sera, ne.” mohon Kai pada Hayoung.

“ne, oppa. Berhentilah, menggoda Sera. Lihatlah, penjaga Sera semakin khawatir.” Bukannya membantu, Hayoung semakin menggoda Sera dan Kai.

Sera melepaskan tangannya yang menutupi wajahnya, dan ternyata benar wajahnya benar-benar seperti kepiting rebus. “Kai oppa, Youngie ikut menggodaku huaaa~”

Dan untuk pertama kalinya Sehun dan Hayoung mendengar Sera merengek pada Kai. Sedangkan Kai yang mendengar Sera merengek padanya, jantungnya kembali berdetak tidak karuan.

“ne, ne. Oppa sudah selesai menggodamu.” Sehun akhirnya mengalah untuk tidak menggodanya lagi. Ani. Ini hanya sementara. Karena Sehun sangat suka melihat wajah Sera yang memerah jika sudah digoda seperti tadi.

“Sera, hari ini oppa tidak masuk kerja. Tapi, oppa harus menemani youngie ke kampus sebentar, ne. kau tidak apa-apa bersama Kai dirumah ?” Tanya Sehun serius sambil mengusap kepala Sera.

“gwaenchana oppa.” Jawab Sera sambil tersenyum.

“mm..kalau begitu jangan lupa makan sup ayamnya selagi hangat. Ingat, dihabiskan !” perintah Sehun mengingatkan.

Sera mengangguk mengerti.

“aa..Ra-ya. eomma bilang, perbanmu harus sering diganti dan juga lukanya harus sering dibersihkan dengan antiseptic, ne. Kai oppa, tolong bantu Sera, ne.”

Kai juga mengangguk mengerti.

“haah..yasudah aku berangkat dulu, ne. Annyeong Sera, Kai oppa.” Ujar Hayoung sambil menarik tangan Sehun.

“Kai, jaga adikku !!” teriak Sehun saat sudah tidak ada lagi didalam kamar Sera namun masih bisa terdengar oleh Sera dan Kai.

Setelah Sehun dan Hayoung pergi, hening kembali menyelimuti kedua orang tersebut –Sera dan Kai. Tak lama, cacing di perut Sera tidak bisa diajak kompromi dan pada akhirnya berbunyi. Sera yang merasa malu, hanya merutuki dirinya sendiri. Sedangkan Kai, ia terkekeh mendengar perut Sera yang minta segera diisi.

“kalau kau lapar, seharusnya bilang saja Ra-ya.” Kai berdiri dari duduknya yang disamping kanan Sera menuju sisi Kiri Sera yang terdapat nampan berisi sup ayam, yang Hayoung bawa tadi.

“hehehehehe..oppa juga makan, ne.” ucap Sera.

Sera mencoba untuk duduk dan bersandar pada headboard ranjangnya, tapi ia merasa kesulitan karena tangan kanannya masih begitu linu dan terkadang berdenyut. Kai yang melihat Sera kesulitan, mencoba membantunya.

Kai memegang bahu Sera untuk bisa bangun dari posisi tidurnya tadi. Hingga akhirnya Sera berhasil duduk bersandar pada headboard, namun jarak wajah mereka saat ini cukup dekat. Sampai akhirnya tatapan mereka saling bertemu, dan untuk beberapa saat waktu seolah berhenti berputar.

Kai tidak pernah bosan menatap wajah Sera yang begitu sempurna dimatanya. Bahkan, saat baru terbangun dan dalam keadaan belum mandi pun Sera tetap terlihat sempurna dimatanya. Sedangkan Sera, ia tidak pernah bosan menatap manik mata Kai yang begitu menenangkan untuknya. Sera selalu merasa nyaman dan tenang jika bisa melihat mata itu.

Tanpa diduga, Kai mendekatkan wajahnya kearah Sera. Sera pun hanya bisa memejamkan matanya, saat merasakan hembusan nafas Kai menyapu wajahnya.

CUP

“tersenyumlah untukku, Ra-ya.” ujar Kai setelah mencium kening Sera. Sera masih memejamkan matanya.

CUP CUP

“dan mata ini-“ ucap Kai setelah mencium kedua mata Sera. Ia menggantungkan kalimatnya sambil mengusap pipi Sera. Sera pun membuka matanya, dan saat itu matanya kembali melihat mata tenang itu.

“jangan pernah lagi keluarkan air mata dari mata berbinar ini, kumohon.” Lanjut Kai seraya memberikan senyum kedamaian pada Sera.

Sera tidak bisa berkata apa-apa, ia terlalu sulit mengartikan apa yang tengah terjadi pada dirinya sendiri. Pada akhirnya ia hanya bisa membalas dengan tersenyum.

Selanjutnya Kai menegakkan kembali posisinya dan mengambil mangkuk berisi sup ayam untuk Sera.

“biar aku saja, oppa.” Sera mencoba meraih mangkuknya dari tangan Kai yang siap menyuapinya.

“apa kau kidal, hm ?” Tanya Kai mengejek.

“aaa..ne. Aku lupa, tangan kananku sedang sakit hehehe” jawab Sera polos.

“kalau begitu, aaaa…” Kai menyodorkan sendok yang berisi daging ayam kearah Sera dan meminta Sera membuka mulutnya.

Sera pun akhirnya sarapan pagi bersama Kai. Dan tidak seperti biasanya, kali ini Sera menghabiskan makanannya, itu karena ia disuapi.

Pada dasarnya, Sera juga masih sering disuapi tapi tetap saja tidak habis. Mungkinkah karena yang menyuapinya Kai ? entahlah hanya Sera yang tau. Yang jelas Sera begitu lahap memakan sarapan paginya kali ini.

***

Hari yang biasanya begitu lama Sera rasakan, menjadi begitu cepat. Seharusnya ia senang karena itu, tapi kali ini ia tidak suka kalau waktu bergerak begitu cepat. Begitupun dengan Kai, ia tidak mau hari ini berlalu dengan cepat.

Ya, hari sudah mulai sore dan orang yang mengatakan hanya pergi sebentar tidak kunjung menampakkan batang hidungnya dirumah itu. Mereka –Sehun dan Hayoung- hanya mengarang cerita saja, kalau akan pergi sebentar. Mereka kembali ingin memberi waktu untuk Sera dan Kai berdua.

Dan sepertinya, Sera dan Kai masih belum sadar akan hal itu. Tapi yang jelas, hari ini mereka selalu berdua. Kai selalu menemani Sera jika gadis itu ingin jalan-jalan di halaman belakang rumah Sehun, menonton dvd di kamar, sampai makan siangpun Kai kembali menyuapi Sera.

Sera yang merasa mendapat satu perhatian lagi dari seseorangpun, langsung merasa nyaman seperti biasanya. Tidak. Sera merasakan kenyamanan yang lain saat bersama pria yang baru ia kenal selama dua bulan ini. Yang tak lain sahabat salah satu kakaknya –Sehun.

Sera tau, Sehun sama overprotektifnya dengan Kris, walaupun Kris lebih parah daripada Sehun. Tapi Sera tidak menyangka, Sehun yang biasanya tidak suka jika ia didekati laki-laki yang tidak ia sukai, justru membiarkannya dekat dengan laki-laki lain. Sera hanya mengira Sehun percaya pada Kai, karena pria itu sahabat Sehun sendiri.

Dan disinilah mereka, kamar Sera.

Saat ini Kai sedang membersihkan dan mengganti perban di tangan Sera. Ia melakukan apa yang Hayoung perintahkan tadi sebelum pergi.

“lain kali pukul aku saja, ne. Lihatlah, semua gadis merawat tangannya agar tetap cantik. Tapi kau, justru malah menyakitinya.” Oceh Kai sambil melilit kain kassa di tangan Sera.

“oppa sudah mengatakannya berkali-kali hari ini dan kau itu cerewet sekali seperti Kris oppa dan Sehun oppa. Tsk” Sera mendengus kesal karena Kai terus saja berkata seperti itu, setiap sedang membersihkan perbannya.

“tentu saja aku cerewet padamu, karena aku sayang padamu. Apa salah kalau aku cerewet seperti itu padamu.” Kai mendengus sebal, karena sejak tadi Sera selalu mengatakan kalau ia cerewet. Tapi..

“kau bilang apa, oppa ?” Tanya Sera sambil mengerjapkan matanya, karena mendengar kata yang justru membuat kerja jantungnya berdetak cepat.

DEG

Kai baru sadar ia mengatakan apa, ia hanya merutuki dirinya telah mengatakan hal itu.

“oppa ?” panggil Sera.

Kai yang merasa dipanggil menatap kearah Sera dan memberikan senyuman ketenangan untuk Sera.

“aku sayang padamu. Jadi, wajar bukan kalau aku cerewet seperti itu.” Jawab Kai yang kembali fokus pada kegiatan melilit kassanya.

“…” tidak ada jawaban, Sera masih terus menatap kearah Kai dengan tatapan tidak mengerti.

“haah..sudah selesai.” Ujar Kai setelah selesai dengan perban Sera. Lalu Kai mengangkat wajahnya dan saat itu pula ia melihat Sera masih menatapnya.

“w-wae ?” Tanya Kai gugup dan mulai dengan kebiasaannya untuk menggaruk tengkuknya. Namun tangannya yang ingin menggaruk karena Sera menangkap tangannya.

“aku harus bilang berapa kali, jangan menggaruk tengkuk kalau tidak gatal, oppa.” Ucap Sera dengan nada tenang.

“kau juga cerewet seperti So Hee noona dan adikku, Ra-ya.” Kai mencoba mengalihkan rasa gugupnya dengan bicara dengan nada kesal yang dibuat-buat.

“itu karena aku sayang padamu, oppa.” Jawab Sera dan memberikan senyumnya pada Kai.

“a-apa?” Kai semakin gugup dan mungkin saat ini ia merasa berbicara tanpa ada jantung ditubuhnya karena jantungnya sudah melompat keluar dari tempatnya.

“mm..aku sayang padamu oppa, jadi wajar kalau aku cerewet padamu.” Sera seolah membalikkan perkataan Kai, namun ia merasakan hal lain saat mengatakan itu.

“kau ini sedang membalikkan perkataanku, eo ?” Kai kembali mengalihkan rasa gugupnya.

“ne. Berarti skor kita sama, oppa.” Jawab Sera lalu ia menjulurkan lidahnya mengejek Kai.

“kau ini.”Kai terkekeh dan mengacak rambut Sera.

“Sera, oppa ke kamar mandi dulu ne.” lanjut Kai.

“ne, oppa.” Jawab Sera disertai anggukan.

Kai pun berjalan kearah luar kamar Sera. Itu hanya alasan saja, karena ia sedang mencoba menetralkan detak jantungnya yang masih berdetak tidak normal.

Saat sudah diluar kamar Sera, Kai bersandar di dinding luar kamar dan memegang dadanya sambil menghembuskan nafasnya yang sempat tercekat. Sedangkan Sera ia bersandar lemas di headboard ranjangnya dan juga memegang dadanya, yang bisa ia rasakan detakan jantungnya.

“ada apa sebenarnya denganku ?” gumam mereka bersamaan namun hanya mereka sendiri yang mendengarnya. Namun setelah bergumam, keduanya juga tersenyum bersamaan.

Kai yang masih memegang dadanya dan tersenyum sendiri, tak luput dari dua pasang mata yang sejak tadi memperhatikannya. Atau lebih tepatnya memperhatikan dirinya dan Sera selama dirumah.

Siapa lagi kalau bukan Sehun dan Hayoung.

Sehun dan Hayoung hanya mengarang cerita untuk pergi, yang sebenarnya mereka tetap berada dipekarangan rumah Sehun yang luas. Dan tentu saja, Sehun yang memerintahkan seluruh pelayan dan penjaga rumahnya untuk bertingkah seolah tidak ada dirinya dirumah.

Sehun dan Hayoung selalu mencoba mencari tempat persembunyian yang tepat setiap kedua target mereka –Kai dan Sera- berpindah tempat.

Dan disinilah mereka, bersembunyi dibelakang tiang kokoh dan besar rumah Sehun. Tiang itu tidak jauh dari kamar Sera, jadi mereka bisa mendengar apa saja yang Sera dan Kai katakan tadi. Tidak. Apa saja yang Sera dan Kai lakukan seharian ini.

“aigoo..sepertinya Kai oppa, sedang jatuh cinta. Benarkan oppa ?” bisik Hayoung sambil menatap Kai yang masih terus tersenyum.

“si hitam itu, memang sudah jatuh cinta dengan Sera sejak pertama kali bertemu. Tapi dia itu terlalu bodoh dan tidak menyadarinya, Youngie.” Balas Sehun.

“kau bilang Kai oppa bodoh dan tidak menyadarinya ? berkacalah oppa, tsk !”

“MW-“ Sehun baru saja ingin mengeluarkan protesnya saat Hayoung langsung membekap mulutnya dengan tatapan ‘jangan-mulai-merusak-suasana-lagi’

“apa kau tidak ingat ? kalau saja Sera tidak berteriak keras-keras karena menemukan foto kita masih kecil saat kau sedang menciumku ada di dompetmu, mungkin kau tidak akan menyatakan cinta padaku ‘kan ? jadi, kau sama saja dengan Kai oppa.” Jelas Hayoung panjang lebar.

Sehun yang mulutnya masih dibekap oleh Hayoung, perlahan memegang tangan kekasihnya itu agar mau melepasnya.

Sehun tersenyum manis menatap Hayoung yang menatapnya dengan kesal.

Hayoung benar. Kalau saja Sera tidak membuatnya malu dan tidak memberinya semangat untuk menyatakan cintanya pada Hayoung, entah kapan ia akan berani mengucapkan kata-kata cinta itu pada gadis yang ada dihadapannya ini.

Sehun meraih dagu Hayoung agar menatapnya.

“aku memang pria bodoh yang harus dibuat malu dulu, baru bisa mengatakan perasaanku padamu. Aku bersyukur memiliki adik seperti Sera. Karena dia, aku bisa mengenalmu.” Ucap Sehun yang sukses membuat Hayoung merona.

Sehun mengusap pipi Hayoung yang merona. “ karena Sera aku bisa menggodamu dengan terus menjahilimu. Karena Sera aku bisa menyadari apa yang aku rasakan padamu. Karena Sera aku bisa mengatakan kata-kata yang menurutku sangat sulit untuk aku katakan.”

Sehun mengecup dahi Hayoung sekilas dan menempelkan dahinya dengan Hayoung. “tapi aku sadar aku lebih beruntung bisa memiliki lawan, teman, adik, dan kekasih yang selalu ada disampingku. Aku bersyukur memiliki kekasih sepertimu. Karena kau, aku tidak pernah merasa kesepian. Karena kau, aku selalu ada tempat untuk aku mencurahkan isi hatiku. Dan yang terpenting, karena kau, aku bisa menjadi diriku sendiri.”

Hayoung langsung memeluk tubuh kekasihnya itu dengan wajah merona.

“kau itu suka sekali membuatku malu dan itu membuatku kesal, oppa.” Ujar hayoung dengan nada kesal.

“I Love You, Park Hayoung..” Sehun tidak menggubris kekesalan gadisnya. Ia justru mengatakan kata cinta yang memang benar selalu sulit ia ucapkan.

“I Love You too, Oh Sehun..” balas Hayoung.

Keduanya asik dengan dunia mereka sendiri, dan tanpa sadar salah satu target mereka tengah menatap adegan romantis tersebut.

Kai yang telah selesai dengan kegiatan ‘senyum sendiri’, tidak sengaja mendengar suara orang yang sedang berbisik. Dan benar saja, ternyata suara itu berasal tidak jauh dari kamar Sera.

“mereka selalu saja membuatku iri, tsk.” Kai mendecak sebal melihat adegan yang selalu membuatnya sakit mata dan terkadang membuatnya iri.

Setelah itu ia kembali ke kamar Sera dan tidak mempedulikan pasangan kekasih tersebut.

***

LC’s Building, Germany

Siang itu, baru saja Lu Han ingin keluar dari ruangannya dan berniat mengisi perutnya karena sudah waktunya makan siang.

Tiba-tiba saja, saat ia baru beranjak dari kursi kerjanya pintu ruangannya terbuka. Saat itu juga mata rusa Lu Han membulat sempurna melihat siapa yang datang.

guten tag, Herr Lu. Nett,Sie kennen zu lernen.” ( selamat siang Tuan Lu. Senang bertemu denganmu.) sapa pria yang datang ke ruangan Lu Han dengan seringaian tercetak di wajah tampannya.

“kau ?!”

TBC

author’s note 

we meet again, readers !!

Pertama-tama, makasih buat yang selalu ninggalin jejaknya dari chapter 1-special chapter 🙂

Makasih yang suka sama special chapternya, ikut seneng kalo kalian suka 🙂

Langsung aja yaa…

Ini aku post cepet, soalnya sesuai sama yang aku bilang kalo cuma bisa ngepost jumat-minggu…

Jadi, sampai ketemu jumat depan dengan KaiRa-SeYoung.. Semoga kalian ga lupa ceritanya dan tetep suka sama cerita yang aku buat.. 

Dan juga, yang penasaran sama cowoknya yang di Jepang dan Jerman yang ngerebutin Sera. Tenang aja chapter selanjutnya mulai ketauan kok…

segitu aja yaa cuap-cuapnya…

Regards, JONGSESA (DAC)

78 responses to “YOU’RE MY EUFROSINE (CHAPTER 8) – JONGSESA

  1. Pingback: YOU’RE MY EUFROSINE (CHAPTER 10) – JONGSESA | SAY - Korean Fanfiction·

  2. Pingback: YOU’RE MY EUFROSINE (CHAPTER 11) – JONGSESA | SAY - Korean Fanfiction·

  3. Pingback: YOU’RE MY EUFROSINE (CHAPTER 12) – JONGSESA | SAY - Korean Fanfiction·

  4. Pingback: YOU’RE MY EUFROSINE (CHAPTER 13) – JONGSESA | SAY - Korean Fanfiction·

  5. Seraaa kaiii jadian aja sanaaa!!! Ini perintah!!/wht
    Sehun hayoung gausah sembunyi udah ketawan sama kai-_- dasar pasangan peak ckckck

    siapa tuh yang datengin luhan?

  6. Cieee jong in -sera falling in love..suit suit ..
    Jadi ,sebnar nya cowok yang di jepang sama yang di jerman itu beda ?? * pantesan aura? nya itu agak beda *
    klo yang di jerman aura nya agak nakutin + dingin
    tapi klo yang di japan aura nya itu hangt + lembut .,hihi

  7. Cieee jong in -sera falling in love..suit suit ..
    Jadi ,sebnar nya cowok yang di jepang sama yang di jerman itu beda ?? * pantesan aura? nya itu agak beda *
    klo yang di jerman aura nya agak nakutin + dingin
    tapi klo yang di japan aura nya itu hangt + lembut .,hihi .

  8. Pingback: YOU’RE MY EUFROSINE (CHAPTER 14) – JONGSESA | SAY - Korean Fanfiction·

  9. Pingback: YOU’RE MY EUFROSINE (CHAPTER 15) – JONGSESA | SAY - Korean Fanfiction·

  10. Daebaaaak scenenya romantis banget si Kai sama Sera. Mau dong jadi Sera 😦 Kai sama Sera sama sama nggak peka sama perasaan sendiri pfttt. Sebenernya yang di Jerman itu siapa dan mauanya apaaaa

  11. Pingback: YOU’RE MY EUFROSINE (CHAPTER 17) – JONGSESA | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s