BD Syndrome {Chapter 5 : Manic 24} by ARLENE

bds4

BD Syndrome || Arlene Park (@babyyoo56) || Multi-chapter || PG || Park Yoo Mi, Oh Sehun, Kyungsoo, Byun Baekhyun, Ahn Hyun Yi , Park Chanyeol, Xi Luhan, Kim Jongin || Psychology, Romance, Friendship, Family, Drama, Hurt/Comfort, AU

 

Disclaimer : Plot story surely MINE || The cast(s) is being to God, their fams, and SME except the OC || Don’t like? Simple. Just close the tab! || Please leave any-review after you read this! I HATE SIDERS and PLAGIATORS SO MUCH!

cr: Arlenepark.March.2015@­series.collections

 

Previous part :

Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | NOW

 

***

 

 

Lima

Manic 24

 .

 .

.

Jan 24th, 2015

W Hospital, Seoul at 07:00 KST

 

     Aura kegembiraan yang terpancar kentara dari wajah Yoo Mi berhasil menyempurnakan cerahnya mentari pagi ini. Menghadirkan satu lengkungan sempurna yang terpahat manis di wajah tampan Chanyeol. Pria itu tampak sangat bahagia. Bukan semata-mata karena keadaan sang adik yang dianggapnya membaik, namun ada satu alasan lain yang ia sembunyikan. Ya. Kenangannya di hari kemarin bersama Hyun Yi, sang kekasih. Tepatnya, kekasih-orang-lain.

     Chanyeol gila? Ah-ha! Dirinya pun siap jika seluruh dunia memakinya setelah ini. Berlebihan? Biarlah … Chanyeol sungguh tak ingin ambil pusing dan memutuskan untuk mengikuti kata hatinya. Lagipula sadar atau tidak Luhan sendirilah yang menciptakan celah itu.

    “Oppa … aku benar-benar boleh pulang, ‘kan? Aku sangat merindukan kamarku, boneka Rilakkuma besar pemberianmu, dan kurasa aku masih memiliki beberapa judul novel yang belum kutuntaskan. Aku juga merindukan Han Ahjumma. Sungguh, aku merindukan semua itu,” repet Yoo Mi yang sontak menarik Chanyeol dari alam bawah sadarnya. “Jadi … benar ‘kan aku bebas hari ini?” Yoo Mi menambahkan dengan nada mendesak.

     “Hm.” Chanyeol mengangguk lalu tersenyum lebar. Pria ini melanjutkan kembali kegiatan berkemasnya.

     Tiba-tiba saja Yoo Mi melompat turun dari ranjang. Bergegas membantu kegiatan kecil kakaknya. “Aku masih tak percaya aku akan segera pulang,” ucapnya sembari mengangsurkan satu setel pakaian yang ia ambil dari dalam lemari pada Chanyeol. “Apakah kau ke kantor hari ini? Atau kau kembali mengambil cuti?”

     Chanyeol berdecak pelan lalu menoleh pada Yoo Mi dengan wajah gemasnya. Mendapat tatapan seperti itu dari sang kakak, Yoo Mi pun beringsut mundur sembari memamerkan cengirannya. Telunjuk dan jari tengahnya kini terangkat membentuk huruf ‘V’, simbol permohonan maaf atas kebawelannya pagi ini.

     “Jadi … apa kau bekerja hari ini? Bekerjalah Oppa! Aku tak ingin menjadi hambatan bagi kesuksesanmu.” Ya Tuhan … Sungguh Chanyeol ingin segera menyumpal mulut cerewet Yoo Mi. Namun sayangnya Chanyeol tak setega itu.

     “Hm,” Chanyeol kembali bergumam, “setelah mengantarmu pulang aku akan pergi bekerja. Tapi kau harus berjanji satu hal padaku.”

      “Apa?”

     “Jangan melakukan hal aneh lagi atau aku tak akan pernah meninggalkanmu barang satu detik pun!” Chanyeol mendekatkan wajahnya pada Yoo Mi, memicing dalam jarak kurang dari lima senti.

      Yoo Mi mendesis sebal dan balas memicingkan hazel-nya. “Eey … kau sedang mencoba mengancamku ya?”

      “Sebut saja begitu!”

    Tepat setelah Chanyeol memutuskan percakapan mereka, kepala Luhan menyembul dari balik pintu yang setengah tertutup. “Apakah aku mengganggu kalian?”

     Jika Yoo Mi menggeleng kuat sebagai jawaban, Chanyeol justru sibuk menelan ludah. Bayangan akan hari kemarin terputar jelas dalam turbulensi-nya. Membuat Chanyeol sedikit kepayahan menghadapi rasa bersalah yang kini terasa menghantui.

      “Kau bahagia sekali, Yoo. Apa terjadi sesuatu yang hebat kemarin?”

    Dua kalimat pertama Luhan membuyarkan lamunan Chanyeol. Meski kembali menyibukkan diri dengan kegiatannya, pria ini tetap mencuri dengar percakapan singkat Yoo Mi dengan dokter tampan itu.

     “Apa maksudmu, Dokter?” Yoo Mi mendengus. Tak membutuhkan waktu lama untuk menyadari bahwa Luhan tengah menggodanya. Kenangannya bersama Sehun di hari kemarin kembali terbayang, membuat kedua pipinya memanas seketika. Lalu, demi menutupi rasa malu yang ada, gadis ini pun bergegas melanjutkan kalimatnya, “Tentu saja aku bahagia. Sebentar lagi aku akan kembali ke kamarku. Kamar yang berwarna, bukan kamar serba putih yang membosankan ini.”

     “Apa kau juga gembira akan segera meninggalkanku?” Cih! Pria ini playboy atau apa? Mencoba menggoda adikku sementara dirinya sudah memiliki kekasih. Chanyeol merutuk kalimat Luhan dalam hati. Lihatlah! Chanyeol menjadi sensitif terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan Luhan. Ini konyol. Padahal kalimat Luhan tadi hanyalah sederet kata basa-basi yang lazim dilayangkan seorang dokter pada pasiennya.

     “Bukan begitu. Kau bisa mengunjungiku di rumah. Tentu saja kau akan melakukannya, ‘kan? Dan karena kau orang yang baik aku akan memasak untukmu. Kau suka apa? Kimchi? Samgyeopsal? Ramen? Ah tidak, ramen itu pasti membosankan untukmu. Bagaimana jika kue. Kue bolu. Apa kau menyukai makanan manis? Ak—”

     “Aku menyukai semuanya,” potong Luhan. Jika tidak salah, Chanyeol baru saja menangkap raut cemas di wajah Luhan. Benar saja. Dalam hitungan detik dokter muda itu berpaling pada Chanyeol. Mengucapkan sebuah kalimat yang membuat Chanyeol sedikit meragukan kebahagiaan Yoo Mi hari ini. “Chanyeol-ssi. Jangan lupa untuk terus mengabariku mengenai perkembangan Yoo Mi.”

     “Baik, Dokter,” sahut Chanyeol diakhiri senyum canggungnya.

    “Tsk. Aku bukan anak kecil yang harus kau awasi terus-menerus!” dengus Yoo Mi sebelum akhirnya berlalu ke kamar mandi.

     “Apa ada yang salah dengan adikku?” tanya Chanyeol pelan selepas kepergian Yoo Mi.

     “Tidak. Kuharap tidak,” jawab Luhan sama pelannya. Meragu.

***

Hannyoung High School, Gangnam, Seoul at 09:30 KST

 

     Baekhyun bersandar lemas pada daun pintu dengan tatapan kosong. Pusat sarafnya seolah enggan mencerna sederet kalimat yang belum lama disuap seseorang ke dalam gendang telinganya. Ternyata memang benar bahwa kenyataan itu cenderung tidak menyenangkan.

     Dalam diam, Baekhyun pun bergerak menuju kursi kayu terdekat, menjatuhkan pantat di sana, kemudian mengusap kasar dua sisi wajahnya. Oh, ayolah! Ke mana larinya ‘si serampangan Baekhyun’? Bahkan tanpa perlu bercermin Baekhyun sudah dapat membayangkan betapa menyedihkan raut wajahnya saat ini.

     Baru beberapa detik bermain dengan pemikiran konyolnya, sesuatu yang lain menarik perhatian Baekhyun. Sepasang sepatu bertuan. Didorong rasa ingin tahu, Baekhyun pun menunduk sedikit lebih dalam demi menelisik tiap inci sneakers abu belel yang baru saja berhenti tak jauh darinya. Setelah puas, dirinya lekas mendongak, menatap sang pemilik sepatu.

     “Sedang apa kau di sini?”

      Baekhyun mengangkat sebelah alisnya, berpikir. “Kau … mengenalku?” tanyanya ragu.

     Pemilik sepatu tadi berdecak sebal sebelum akhirnya menempatkan diri di samping Baekhyun. “Aku Se-hun. Oh-Se-hun. Kita beberapa kali bertemu di W Hospital,” jelasnya. Menangkap ekspresi bingung yang membingkai wajah manusia di hadapannya, pria ini lekas menambahkan, “Masih tidak mengingatku? Ya sudah. Lupakan saja!”

      “Oh.” Baekhyun mencekal pergelangan tangan Sehun, menahan niatan pria itu untuk pergi. “Maaf. Aku memang pelupa,” tambah Baekhyun dengan sedikit bumbu kebohongan. Baekhyun bukan seseorang yang pelupa. Jelas sekali. Tinggal di negara orang memaksanya menjadi pribadi yang mandiri dan mudah mengingat. Lagipula sifat pelupa jika dipelihara hanya akan menghambat kelulusannya di Harvard. Jadi, saat Baekhyun merasa melupakan sesuatu itu adalah sesuatu yang sejak awal memang ingin ia lupakan, seperti Sehun misalnya. Pria yang baru saja ia ingat sebagai sosok pahlawannya Yoo Mi. Sembunyikan senyum sinismu, Baekhyun!

      “Jadi … sedang apa kau di sini?” Sehun mengulang kembali pertanyaannya.

      “Mencari tahu sesuatu,” jawab Baekhyun.

      “Kurasa tujuan kita sama.” Sehun menegakkan tubuhnya. “Informasi apa yang kau dapatkan?”

     Baekhyun mencibir lalu tertawa kecil. “Kenapa aku harus membaginya padamu?” balas tanya pria ini dengan santai. Baekhyun pun ikut menegakkan tubuh. Kini punggungnya tampak lurus bahkan sedikit tertarik ke atas, berharap dengan begini dapat menyamai tinggi Sehun –yang tentu saja mustahil. Membuat Baekhyun kembali menggerutu dalam hati. Merutuk bergelas-gelas susu yang tak pernah absen mengisi jadwal sarapannya selama tiga tahun terakhir.

     “Tsk,” decak Sehun sebal. “Tidak harus. Jika kau tidak mau biar aku cari tahu sendiri.” Sehun bergegas bangkit, namun satu cekalan Baekhyun kembali menahannya.

     “Akan kuceritakan padamu,” putus Baekhyun.

     “Baguslah kalau begitu.” Sehun bersedekap, angkuh.

     Baekhyun mendengus sebal. “Kau ini tahu sopan santun atau tidak? Berapa usiamu? Aku yakin kau lebih muda dariku. Harusnya kau mengucapkan terimakasih karena aku mau membagi informasi yang kudapat denganmu. Sung—”

      “Kau bahkan lebih cerewet dari pembantuku di rumah,” potong Sehun sembari memiringkan kepalanya.

      “Kau—”

      “Usiaku dua puluh satu tahun,” potong Sehun lagi. “Cepatlah. Aku tidak suka menghambur-hamburkan waktuku.” Sehun berpura-pura sibuk melirik arloji yang melingkari pergelangan tangannya. Kentara sekali bahwa dua anak manusia ini tidak menyukai satu sama lain.

     Baekhyun menganga tak percaya. Sepasang matanya mulai mengerjap lucu. Tiba-tiba saja ia teringat pada Luhan. Apakah dirinya semenyebalkan ini saat berhadapan dengan Luhan? Pasti tidak! Raut angkuh sangat tidak cocok dengan wajah tampannya ini.

    “Begini …” Baekhyun memulai penjelasannya. Mengesampingkan rasa kesal yang nyaris menguasainya. “Kyungsoo itu memang ada. Dia satu-satunya sahabat Yoo Mi,” Baekhyun kembali mendesah berat, “Sehari sebelum pengumuman kelulusan, Kyungsoo ingin membelikan es krim kesukaan Yoo Mi yang ada di kedai seberang sekolah ini … lalu … kejadian na’as itu terjadi. Ketika kembali … Kyungsoo—”

     “Tertabrak?” sambar Sehun cepat. Menebak dengan segala keyakinan yang ia miliki. Sebenarnya tak tega juga mendapati suara pria di sampingnya yang mulai bergetar.

     Baekhyun mengangguk kecil lalu memaksakan diri untuk tersenyum. “Tapi aku masih tidak bisa menyimpulkan seperti apa Kyungsoo yang selama ini disebut-sebut Yoo Mi. Aku selalu berharap bahwa Kyungsoo itu hanya bagian dari delusi karena rasa bersalah Yoo Mi, tapi perasaanku justru berkata lain.”

     “Apa kau mengenal Kyungsoo?”

     Satu pertanyaan Sehun membuat Baekhyun terhenyak. Sebegitu kentaranyakah sampai Sehun dengan mudah menyadarinya? Meski ragu, pada akhirnya Baekhyun mengangguk juga. “Kami pernah bertetangga. Aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri. Rasanya aneh saat tahu bahwa aku menyukai gadis yang selama ini diceritakannya padaku. Ini kali pertama kami menyukai gadis yang sama.”

     Tunggu dulu. Kini giliran Sehun yang terkesiap mendengar pernyataan Baekhyun. Pria itu menyukai gadis yang Kyungsoo sukai? Gadis … yang mana? “Kau menyukai Yoo Mi?” tanya Sehun kemudian, berusaha sedingin mungkin. Dalam hati pria ini berharap bahwa dugaannya salah, namun sial, Baekhyun justru kembali mengangguk. Membuat Sehun kesal dan ingin menendang jauh-jauh kebenaran yang baru saja menyelimuti praduganya.

     “Ngg … Sehun-ssi. Bisakah aku menumpang sampai ke Seoul?” tanya Baekhyun diikuti cengiran khasnya.

   Pergi saja sendiri! Satu kalimat penolakan diciptakan Sehun meski akhirnya tertahan di kerongkongan. Setidaknya sisi kemanusiaan Sehun masih bekerja dengan baik. Karena itulah dirinya memutuskan untuk mengangguk dalam diam, masih dengan wajah angkuhnya.

***

Gangnam, Seoul at 11:15 KST

 

     Chanyeol berlari terbirit-birit begitu mendengar debuman keras dari kamar Yoo Mi. Pikirannya kalut mengingat mood swing yang bisa terjadi kapan pun pada adiknya itu. Beruntung, pria ini masih diizinkan menghela napas lega setibanya di kamar Yoo Mi. Gadis itu baik-baik saja. Buktinya ia masih sanggup memamerkan cengirannya pada Chanyeol.

     Sayang kelegaan dalam hati Chanyeol tak bertahan lama. Selang beberapa menit fokusnya membulat, menatap lurus pada satu titik di mana laptop Yoo Mi teronggok mengenaskan di lantai. Benda elektronik kebanggaan adiknya itu kini terpisah menjadi dua bagian.

     “Yoo, apa yang terjadi?” tanya Chanyeol dengan irisnya yang telah berganti menatap Yoo Mi.

     Yoo Mi sendiri masih bertahan dengan cengiran lucunya. “Boleh aku pinjam laptopmu, Oppa?” pinta Yoo Mi sembari menautkan kedua jemarinya di depan dada.

      Chanyeol mengambil langkah panjangnya. Bergegas memunguti potongan laptop Yoo Mi. “Kenapa laptopmu jadi begini?” tanya Chanyeol, mengabaikan sejenak permohonan adiknya. Dirinya nampak cemas. Bukan perkara laptop yang rusak -mengingat dia bisa membeli selusin laptop yang lebih bagus dari ini-, melainkan tentang kecerobohan Yoo Mi dan respon tanpa arti yang disuguhkan adiknya itu. Padahal sudah jelas laptop ini merupakan salah satu benda kesayangannya. Bagaimana mungkin adiknya bersikap seolah tidak ada hal penting yang terjadi?

      Belum menemukan jawaban untuk kuriositas pertamanya, kini Chanyeol kembali dikejutkan oleh gaya bicara Yoo Mi. Adiknya berbicara sangat cepat, oh tidak, bahkan terlampau cepat. Nyaris dalam satu tarikan napas. Membuat ia kepayahan untuk mencerna dengan baik apa yang tengah diucapkan adiknya.

     “Se-sebentar. Aku ambil laptopku dulu. Kau tunggu di sini,” sela Chanyeol, takut adiknya tiba-tiba kehabisan napas akibat terlalu asyik bicara. Konyol memang. Tapi Chanyeol yakin siapa pun yang melihat cara bicara Yoo Mi saat ini pasti akan merasakan hal yang sama.

     Chanyeol pun bergegas kembali ke kamarnya. Rasa ingin tahu mendorongnya untuk segera menghubungi Luhan. Bukankah pria itu sendiri yang menyuruhnya mengabari perkembangan Yoo Mi? Ya … ini memang tidak layak disebut perkembangan, tapi Chanyeol yakin Luhan mengerti apa yang sedang dialami adiknya.

***

Seoul at 12:50 KST

 

     Seperti biasa, musim dingin mempersingkat jam kerja matahari. Meninggalkan enam derajat celcius yang cukup menyiksa bagi Yoo Mi, namun tidak bagi Chanyeol. Di saat Yoo Mi sibuk merapatkan baju hangat yang ia kenakan, Chanyeol justru bergerak melepas jas hitamnya.

     “Oppa. Kenapa kau—” ucapan Yoo Mi terputus akibat ulah Chanyeol. Jas milik kakaknya itu baru saja berganti tugas, melindungi tubuh kurusnya. Hal ini kontan membuat Yoo Mi terperanjat. “Waah … Lagakmu sudah seperti pemeran utama pria dalam drama saja, Oppa. Cepat pakai kembali jasmu. Apa kau tidak kedinginan, huh?”

     Chanyeol terkekeh lalu mengacak pelan puncak kepala adiknya. “Jadi apa tema untuk drama yang kuperankan? Brother complex?” Tawa Chanyeol semakin lebar. Ia pun menambahkan, “Mana mungkin aku menyukai adikku sendiri? Ini bukan drama. Ini adalah ketulusan seorang kakak pada adiknya yang … JELEK.” Chanyeol mengeraskan suaranya di akhir kalimat. Tentu saja untuk menggoda adiknya.

     “Tidak lucu! Jika aku jelek bagaimana denganmu? Kau merasa tampan, begitu? Aku bahkan belum pernah melihatmu mengencani satu wanita pun. Lalu, sebenarnya apa tujuanmu mengajakku kemari? Bukankah kau akan pergi bekerja? Kenapa malah membuang-buang waktumu seperti ini? Berapa lama lagi aku harus menunggu sesuatu yang bahkan aku sendiri pun tak tahu? Menyebalkan!” Ejekan Chanyeol rupanya mengingatkan Yoo Mi pada omelannya yang sempat tertunda akibat ulah picisan Chanyeol. Masih belum puas, gadis ini lekas menambahkan, “Harusnya tad—hmmp.”

     Chanyeol menjepit bibir Yoo Mi dengan kedua jarinya. Pusing menyerap serentetan kalimat yang terus diucapkan adiknya itu dalam tempo terlampau cepat. Terlalu banyak perubahan yang ditunjukkan Yoo Mi hari ini. Pertama, gadis itu menjadi lebih cerewet. Kedua, gadis itu menjadi lebih ceroboh. Dan … ketiga, gadis itu menjadi sangat amat sensitif melebihi kulit bayi.

     “Aku masih punya waktu setengah jam. Jarak dari sini ke kantor pun sudah dekat. Kita di sini untuk menunggu seseorang tentunya. Jadi … berhentilah mengomel dan membuat kepalaku pening, atau aku takkan pernah membelikanmu boneka Rilakkuma lagi. Mengerti?” Chanyeol menutup rentetan jawabannya dengan kalimat bernada ancaman. Setelah menerima satu anggukan pelan dari Yoo Mi, barulah Chanyeol menarik kembali jemarinya.

     “Kita menunggu siapa?” tanya Yoo Mi cepat.

     “Orang baik hati yang siap menjagamu selagi aku tak ada.”

     “Siapa?” Yoo Mi berpikir sejenak. “Se … hun?”

    Chanyeol menoleh dengan tatapan mengejeknya. “Aah, apa kejadian kemarin membuatmu terus memikirkan Sehun? Memang apa saja yang kalian lakukan? Apa aku melewatkan sesuatu?”

     Yoo Mi berdecak. “Tidak ada. Aku hanya … menebak.” Kali ini gadis itu bersungguh-sungguh mengangsurkan jas hitam milik Chanyeol. Bersikeras hingga kakaknya itu mengalah dan bersedia mengenakan kembali jas miliknya itu.

     “Benarkah?” Chanyeol mendekatkan wajahnya pada wajah Yoo Mi. Menyeringai puas saat melihat adiknya itu mengangguk ragu. “Bagaimana jika yang kita tunggu bukan Sehun?”

     “Chanyeol-ah?”

    Sapaan seseorang serta merta membebaskan Yoo Mi dari kungkungan jahil sang Kakak. Bukan hanya itu, kehadiran orang tersebut baru saja menjawab rasa penasaran Yoo Mi yang tertahan sejak tadi.

      Ternyata memang bukan Sehun yang mereka tunggu.

     “O-oh, Baekhyun-ah,” balas Chanyeol.

     Jangan tanya bagaimana mereka berdua bisa seakrab ini meski hanya sekali bertemu. Faktanya sikap ‘sok kenal sok dekat’ yang Baekhyun miliki membuat semua orang dapat dengan mudah menerimanya. Semua, kecuali Sehun dan beberapa nama yang memang tidak menarik minat Baekhyun.

     “Hai! Aku merindukanmu.” Tanpa rasa malu sedikit pun, Baekhyun menepuk puncak kepala Yoo Mi. “Apa kau masih ingat padaku?”

   Yoo Mi menggumam singkat, diikuti dehaman Chanyeol yang cukup keras. Seakan tersadar, Baekhyun mengarahkan kembali fokusnya pada pria di samping Yoo Mi.

     “Kalau begitu aku permisi. Aku titip adikku, Baekhyun-ah. Terimakasih banyak.”

      Dan satu anggukan Baekhyun pun menghantarkan kepergian Chanyeol.

     Setelah memastikan kendaraan beroda empat yang dikemudikan Chanyeol telah bergerak menjauh, Baekhyun kembali menatap Yoo Mi. Masih dalam keheningan ia mengulurkan tangannya.

     “Apa?” tanya Yoo Mi tak mengerti.

     “Ayo jalan-jalan! Kau suka cappucino float? Aku tahu kedai minuman yang enak di sini.”

    Dengan senyum sumringahnya Yoo Mi menerima uluran tangan Baekhyun. Dalam sekali gerakan gadis itu bangkit berdiri. Tak menolak saat Baekhyun menariknya pergi menjauhi kursi taman yang beberapa detik lalu berada dalam kuasanya.

    “Apa kau masih ingin berteman denganku?” tanya Yoo Mi membuat langkah keduanya terhenti. Gadis ini terhenyak karena Baekhyun tiba-tiba saja melepaskan tautan jemari mereka. “Kenapa? Kau sudah tidak berminat ya?” tanyanya lagi, sarat akan kekecewaan.

     “Tentu saja aku selalu ingin menjadi temanmu.” Bahkan lebih. Sambung Baekhyun dalam hati.

      Yoo Mi tersenyum. “Baiklah. Mari kita berteman! Oh tidak, kita sudah resmi berteman sekarang,” ucapnya riang.

     Akibat terlalu asyik dalam kesenangannya, Baekhyun terlambat mengetahui bahwa Yoo Mi sudah berlalu dari hadapannya. Wajah pria ini berubah pucat pasi setelah mendapatkan kembali kesadarannya. Fokusnya berkeliling, mencari. Dan di sanalah Yoo Mi. Bersiap menyeberang jalan dengan senyum mengembang di wajah.

     Baru satu langkah mendekat, Baekhyun kembali menegang. Ia berlari secepat mungkin dan meraih pergelangan Yoo Mi. Menarik mundur gadis itu hingga ke tepian jalan. Belum hilang keterkejutan mereka, pria ini lekas memuntahkan satu kalimat bernada ketus sebagai wujud dari kekhawatirannya. “Kau mau mati ya?” Jangan salahkan kekasaran Baekhyun. Sungguh dirinya memang kehilangan kendali karena tiba-tiba saja bayangan akan kematian Kyungsoo menghantuinya. Baekhyun benar-benar tak ingin kejadian serupa menimpa Yoo Mi. Ia takut kehilangan Yoo Mi, teramat sangat takut hingga sulit mengontrol emosinya seperti saat ini.

      Yoo Mi menunduk. Ketakutan saat melihat kedua manik cokelat Baekhyun yang berkilat penuh emosi. “Aku tidak sengaja. Maaf … Kumohon jangan marah padaku,” lirihnya.

     Baekhyun menyuap kasar karbondioksida buatannya ke udara. Mencoba meredakan emosi yang menyelimuti hatinya. Tanpa permisi pria itu membawa tubuh Yoo Mi ke dalam dekapan hangatnya selama beberapa detik. “Tidak apa-apa. Aku tidak marah. Maaf sudah kasar padamu,” ucapnya kemudian mengusap lembut kedua pipi pualam Yoo Mi, mengangkat wajah gadis itu agar kembali menatapnya.

     Binar kebahagiaan itu ada saat tatapan keduanya bertemu. Sama seperti Sehun, Baekhyun pun berhasil membuat Yoo Mi merasa nyaman. Baekhyun dan Sehun. Dua pria yang sama-sama baik hati dan bersedia menjaganya.

     Baekhyun membawa jemari Yoo Mi ke dalam kuasanya. “Ayo! Jangan lepaskan tanganku lagi.”

     “Hei! Bukankah kau yang lebih dulu melepasnya?” protes Yoo Mi cepat. Gadis itu menghempaskan jemari lentik Baekhyun yang mengurung miliknya, kemudian berbalik dalam satu hentakkan. Menciptakan satu kecelakaan kecil yang tak sempat Baekhyun cegah. “Aw,” ringis Yoo Mi sembari mengusap dahinya. Satu tangannya yang bebas langsung memukul tiang besi yang baru saja ia tabrak.

     Orang lain mungkin menganggap tingkah konyol Yoo Mi ini lucu, namun tidak di mata Baekhyun. Satu kata terbesit dalam pusat sarafnya. Mania. Ya, sepertinya Yoo Mi sedang mengalami episode manianya. Itulah alasan mengapa Yoo Mi menjadi begitu ceroboh dan sensitif. Bagaimana ini?

     Sepertinya Baekhyun benar-benar tak diizinkan berpaling barang satu detik pun.

     “Yoo,” panggil Baekhyun. Ibu jarinya bergerak, mengusap lembut memar pada dahi Yoo Mi. “Kau tidak apa-apa?” tanyanya cemas. Dalam hitungan detik keduanya terdiam. Sampai akhirnya Baekhyun yang kembali memulai, “Mania? Kau sedang mengalaminya ya?”

     Hazel Yoo Mi membulat sempurna. “Kenapa? Apa aku tidak boleh merasa bahagia? Aku hanya merasa senang karena bisa kembali ke rumah. Aku tak begitu takut lagi menghadapi keramaian. Tapi kenapa kalian semua menyangkutpautkan hal ini dengan penyakitku? Harus berapa kali kutekankan? Aku-baik-baik-saja!”

     Well, Baekhyun semakin yakin dengan pemikirannya. Yoo Mi tidak sedang dalam keadaan yang benar-benar baik. Tapi tentu saja gadis itu tak akan mau mendengarkan Baekhyun. Yoo Mi tak tahu apa yang tengah dialaminya, bahkan meski Yoo Mi menyadarinya, gadis itu akan tetap memungkiri dan bersikap bahwa tak ada yang salah.

     “Tidak sakit, ‘kan?” Baekhyun memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan.

      Yoo Mi menggeleng.

     “Ayo! Kedainya sudah dekat.”

***

Yoshida Corporation, Seoul at 14:00 KST

 

     Chanyeol menatap gusar layar ponselnya. Menunggu dan terus menunggu, meski akhirnya sia-sia. Setumpuk proposal yang harus ia selesaikan hari ini mungkin akan terbengkalai tanpa bantuan sang asisten.

     Setelah membuang sepuluh menitnya dengan percuma, pria ini tampak menempelkan ponsel pintarnya ke telinga. Menunggu panggilan tersambung, dan … “Cepat angkat teleponku!” bentaknya pada sesosok pria lain di hadapannya. Siapa lagi kalau bukan sang asisten yang kini tengah menatap heran padanya?

     “KENAPA LAMA SEKALI, HUH? CEPAT SELESAIKAN ATAU KAU KUPECAT, KIM JONGIN!” teriak Chanyeol menggebu setelah panggilannya tersambung.

     “Hei!” Pria bernama Kim Jongin tersebut membanting ponselnya ke atas meja. Mengabaikan panggilan Chanyeol yang masih tersambung. “Aku bahkan berada tepat di hadapanmu. KENAPA HARUS BERTERIAK, HYUNG?”

   Chanyeol memutus panggilannya dan balas menatap Jongin sengit. “SIAPA YANG MENGIZINKANMU BERTERIAK PADAKU? AKU INI ATASANMU, BODOH!”

     Setelah menghembuskan napas beratnya, Jongin memaksakan seulas senyum. “Maaf, Bos,” ucapnya dengan nada pura-pura lembut.

     “Ekspresimu menjijikkan!” maki Chanyeol.

     Jongin memutar bola matanya kesal. “Ada apa denganmu sebenarnya, Hyung? Kau aneh sekali hari ini.”

     “Aku? Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Aku ba-ha-gi-a.”

     Tak sulit bagi Jongin untuk menarik kesimpulan bahwa atasannya tengah berbohong. Pria bodoh mana yang mengaku bahagia dengan pancaran emosi di tiap tatapannya? Chanyeol memang tak pandai berbohong.

     “Kau bisa menceritakan masalahmu padaku jika kau mau,” ucap Jongin tulus.

   Chanyeol menghempaskan tubuh pada sandaran empuk kursi putarnya. Terdiam sejenak. Membiarkan turbulensi-nya bekerja, memutar serangkaian adegan menyakitkan yang dibencinya.

     Tadi sebelum ke kantor Chanyeol sengaja mengambil jalan melewati Universitas tempat Hyun Yi menimba ilmu. Berharap dapat mencuri waktu untuk menjumpai gadis itu. Namun sungguh sayang, bukannya menuai bahagia dirinya justru dipaksa melihat kejadian yang paling ingin dihindarinya. Di mana Hyun Yi tersenyum riang saat Luhan menjemputnya. Ah, harusnya sejak awal Chanyeol sudah curiga urusan macam apa yang dimaksud Luhan.

     Dan alasan mengapa ia menghubungi Jongin tadi hanya untuk menahan keinginannya menghubungi Hyun Yi. Gadis yang kini tengah asyik berkencan dengan kekasihnya. Uh, romantis sekali!

     “Hyung?” Panggilan Jongin terdengar bersamaan dengan sekelebat ingatan Chanyeol akan perkataan Yoo Mi padanya.

 

Aku bahkan belum pernah melihatmu mengencani satu wanita pun.

 

     “Jongin-ah,” Chanyeol mendesah, “sepertinya aku benar-benar menyukai kekasih orang.”

     Jongin kontan terlongong. Tak percaya.

***

Coffee Bene, Seoul at 14:00 KST

 

     Yoo Mi tengah asyik mengedarkan fokusnya. Berbinar saat hazel-nya dimanjakan oleh suasana klasik yang kental mewarnai seluruh penjuru kedai ini. Sementara Baekhyun? Pria itu benar-benar membuktikan ucapannya. Pupilnya menikam lurus ke arah Yoo Mi, tak bergerak sedikit pun kecuali berkedip –spontanitas yang tak mungkin dihindarinya.

     Dua gelas tinggi cappucino float yang baru saja diantarkan pelayan kontan menarik pusat perhatian Yoo Mi. Senyumnya terkembang begitu lepas. Menatap segelas kopi miliknya umpama emas berlian, begitu berharga dan … langka. Ah, karena terlalu lama menutup diri dan bertahan dalam kesendirian, tak pernah berjalan meski hanya selangkah melewati pintu kamarnya, membuat Yoo Mi menjadi sosok yang … ya … sebut saja ketinggalan jaman. Sedikit memalukan, tapi ini memang kali pertamanya melihat racikan kopi dalam bentuk yang begitu manis, bukan sekadar kopi hitam atau kopi susu. Belum lagi episode mania yang dialaminya membuat banyak hal yang ia lihat menjadi begitu menarik, meski gadis itu tidak menyadarinya.

mocha-root-beer-float

     Setelah puas memandangi hal asing tersebut, Yoo Mi pun menarik segelas cappucino float bagiannya. Mengaduk perlahan, lalu menyeruputnya hati-hati. Menikmati setiap rasa baru yang menyapa inderanya. “Enak,” gumam Yoo Mi, polos.

     Baekhyun menyeringai puas. “Pasti enak kalau aku yang membelikannya.”

     Alis Yoo Mi menukik. Pria di hadapannya ini terlalu percaya diri. Lagipula apa hubungannya? Mungkin gadis ini bisa mengerti jika Baekhyun yang membuatnya sendiri. Tapi ini? Yoo Mi yakin sekalipun yang menraktirnya hari ini hanya seorang kakek tua, bukannya Baekhyun ‘si pria muda yang mengaku tampan’, rasa manis yang dikecapnya akan tetap sama.

     “Benarkah kau ini seorang dokter?”

     Baekhyun ganti mengernyit. “Memang kenapa? Apakah aku terlalu tampan untuk menjadi seorang dokter? Apa lebih baik aku jadi idol saja? Ah, ya. Kau pasti ingin menyarankan aku menjadi salah satu member boyband karena ketampanananku ini, ‘kan? Memang banyak sih yang mengatakan bahwa aku ini mirip salah satu member EXO.”

     Ya Tuhan … Yoo Mi mendadak mual mendengar cicitan tak bermutu Baekhyun. “Kasihan sekali yang jadi pasienmu,” ledeknya kemudian.

      “Memang kenapa? Apa kau takut pasien-pasienku itu tak kuasa menahan aura ketampananku?”

     Siapa pun, tolong selamatkan Yoo Mi. Setelah menyeruput kembali kopinya, gadis itu menyahut, “Kau terlalu genit untuk ukuran seorang dokter. Kau pasti sudah biasa memberi harapan-harapan palsumu pada gadis-gadis di luaran sana.” Yoo Mi berdecih. “Haruskah aku menyebutmu … playboy?”

     “Play … boy?” Baekhyun mengulang kata terakhir yang dihunuskan Yoo Mi sebagai senjata penyerang. Gadis itu ingin berdebat ya? “To be honest, I just act like this in front of you. (Sejujurnya, aku hanya bersikap seperti ini di hadapanmu.) Meski ya … aku ini orang yang ramah tapi aku tidak mengumbar perhatianku pada sembarang orang.”

      “Terserah apa katamu, Tuan!”

      “Aku melakukan ini karena suatu alasan.” Baekhyun merubah nada bicaranya menjadi serius.

      “Aku tahu.”

      “Benarkah?”

     Yoo Mi mengangguk yakin. “Kau melakukannya karena kau ingin membantuku, ‘kan? Kau memerhatikanku karena aku ini pasien sahabatmu. Tapi tenang saja, aku akan segera sembuh. Bahkan sekarang pun aku sudah merasa sangat-sangat baik,” ucap Yoo Mi dalam satu tarikan napasnya.

    Baekhyun merutuk. Apa yang ia harapkan? Yoo Mi menyadari perasaannya dengan mudah, begitu? Saat ini, walaupun Baekhyun mengungkapkan perasaannya secara gamblang rasanya akan percuma. Kejujurannya hanya akan tenggelam dalam lautan semu. Sebelum semangat gadis itu benar-benar meremehkan kejujurannya, Baekhyun memutuskan untuk menahan pengakuannya sementara waktu ini.

      “Apa kau punya bolpoin?”

      Baekhyun berkedip lucu, terkesiap. “Untuk apa?”

      “Menulis.”

      “Menulis apa? Memang kau bawa kertas?” kini giliran Baekhyun yang bertanya.

     Yoo Mi menepuk dahi. “Oh iya. Aku bahkan tidak punya kertas apa pun. Bagaimana ini, aku ingin segera menuliskan poin-poin dari ide cerita yang kudapat,” racaunya setengah frustasi.

     “Kau suka menulis?” tanya Baekhyun yang dijawab satu anggukan Yoo Mi. Tanpa perlu bertanya lebih lanjut Baekhyun sudah dapat merasakan bagaimana mendesaknya ide yang didapat gadis itu. Pasti ini salah satu pengaruh dari episode yang tengah dialaminya. “Apartemenku dekat sini. Kau bisa pinjam laptopku di sana.”

      Yoo Mi kontan mengangguk semangat. “Ayo cepat!” Ia berdiri tergesa, membuat kursi yang semula didudukinya sedikit terdorong ke belakang.

     “Habiskan dulu minumanmu!”

    “Ah, iya.” Masih dengan gerakannya yang cepat Yoo Mi langsung menandaskan cappucino float-nya, tidak lagi menggunakan sedotan.

     Baekhyun pun sudah selesai dengan kopinya. Pria itu tampak terkekeh sebelum akhirnya berdiri dan berjalan menghampiri Yoo Mi. “Dasar bocah!” ledeknya begitu melihat sudut bibir Yoo Mi.

     Belum sempat Yoo Mi menggerakkan jemarinya, Baekhyun sudah lebih dulu ambil tindakan. Pria itu menjilat sudut bibir Yoo Mi. Membersihkan buih-buih cappucino float yang tertinggal di sana dengan cara yang tak pernah Yoo Mi bayangkan meski hanya dalam mimpi. Tidak sampai di situ, Baekhyun justru menyapa sempurna plum­-nya. Kedua material basah itu bertemu. Ini gila, tapi Baekhyun baru saja mencuri ciuman pertama Yoo Mi.

***

     Sehun masih kesulitan memercayai apa yang baru saja dilihatnya. Buku menu yang semula menutupi hampir tiga per empat wajahnya pun merosot secara perlahan hingga perbatasan hidung dan bibir. Membebaskan manik sewarna obsidian yang tengah membelalak sempurna.

     Tiba-tiba saja dirinya menyesal karena telah memutuskan untuk tinggal, dan bukannya bergegas meninggalkan tempat ini seperti niatannya setengah jam yang lalu. “Brengsek!” sungutnya pelan. Meski terjadi dalam waktu yang terbilang singkat, tetap saja Sehun tak bisa menerimanya.

    Bagaimana mungkin dirinya berbesar hati melihat gadis yang ia sukai dicium lelaki lain? Di hadapan umum pula! Pasti si pendek itu sudah gila! Rutuknya dalam hati. Dan Sehun semakin kesal saat tahu gadisnya tak melakukan perlawanan. Atau mungkin tak sempat saking terkejutnya? Dan … tunggu dulu! Apa yang baru saja Sehun pikirkan? Gadisnya? Sejak kapan gadis bermata hazel yang berjarak beberapa meter itu menjadi gadisnya?

     Tiba-tiba saja seseorang muncul dan mengejutkan Sehun. Dengan jahil orang tersebut menarik kursi yang diduduki Sehun hingga –nyaris- terjungkal.

     “Kau gila ya?” maki Sehun tak tanggung-tanggung. Seolah diberi jalan untuk meluapkan kekesalannya. Terlebih begitu mengetahui siapa oknumnya. Luhan, pria yang tidak disukainya karena dua alasan. Satu, dia sering menyia-nyiakan adiknya. Dua, dia adalah sahabat Baekhyun, pria yang oh, menyebut namanya saja Sehun malas.

     “Apa yang kau lihat, Oppa?” suara lainnya kembali mengejutkan Sehun. Ternyata Hyun Yi juga ikut bersama Luhan.

     Teringat sesuatu, Sehun kembali mengarahkan fokusnya ke titik di mana peristiwa menyebalkan tadi terjadi. Kembali merutuk saat sadar bahwa Baekhyun dan Yoo Mi sudah menghilang.

     “Hei, Albino! Apa yang kau cari apa, huh?” tanya Luhan santai.

     Sehun menatap sebal pada Luhan. “Aku bukan Albino. Rambutku tidak putih dan mataku tidak merah. Untuk apa kalian kemari?” balas tanyanya setelah melayangkan sedikit aksi protes.

     Luhan terkekeh sembari menggenggam jemari Hyun Yi yang terkulai bebas di atas meja. “Tentu saja berkencan. Apa lagi?!”

    Sehun mendesis. “Menjijikkan!” dengusnya. “Kenapa kalian harus menggangguku? Kenapa duduk di sini sementara masih banyak kursi lain yang kosong?”

     “Kalian berdua selalu membuat kepalaku pening tiap kali bertemu,” Hyun Yi menimpali. “Ayo, Luhan! Kita cari kursi lain saja. Bukankah kau mengajakku ke sini untuk berkencan bukannya bertengkar?”

     “Tidak perlu. Biar aku yang pergi.” Sehun menahan pergelangan Hyun Yi, menggagalkan niat gadis itu untuk berlalu dari kursinya. “Jika dia menyakitimu lagi segera kabari aku.”

     “Hei!” Luhan menghardik sementara Hyun Yi tersenyum jengah sambil mengangguk kecil.

     Sehun bangkit dan bergegas pergi meninggalkan sepasang kekasih itu. Mengabaikan reaksi kesal yang sempat ditunjukkan Luhan. Pria ini mengambil langkah lebarnya dengan membawa satu pertanyaan menuntut.

     Ke mana si pendek itu membawa Yoo Mi?

***

     Hyun Yi menyuap potongan terakhir Sushi-nya. Tersenyum pada Luhan yang sudah lebih dahulu menghabiskan makanannya. Sedikit risih saat tahu kekasihnya itu tak kunjung mengalihkan pandangan, terus menikamnya dengan sorot mata tak terbaca.

     “Berhenti menatapku seperti itu, Deer,” ujar Hyun Yi setelah meneguk sedikit air putihnya.

     Perlu dicatat, Deer merupakan panggilan kesayangan Hyun Yi pada Luhan.

     Luhan terkekeh. “Memangnya kenapa? Apa sekarang aku dilarang menikmati kecantikan kekasihku sendiri?”

     Mati saja kau, Hyun Yi! Rutuk sang empunya nama dalam hati. Rayuan maut Luhan memang selalu berhasil membuat Hyun Yi melambung, terbang setinggi langit, meski pada akhirnya tak jarang pria itu menghempaskannya begitu saja. Mengabaikan Hyun Yi karena sibuk mengurusi setumpuk analisanya tentang pasien ini dan itu.

     “Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.” Luhan menggenggam hangat jemari Hyun Yi, kegiatan yang paling ia sukai.

     “Apa?”

    “Tadi pagi Minseok Sunbae datang menemuiku,” Luhan menghela napas sejenak, “kau mengenalnya, ‘kan? Dia kepala Rumah Sakit tempatku bekerja. Dia memberiku penawaran—”

     “Penawaran apa?” potong Hyun Yi.

     Luhan tersenyum tipis. “Aku belum selesai, Sayang,” ucap Luhan sembari mengeratkan genggaman tangannya. “Ada Rumah Sakit di Swiss yang tertarik dengan kinerjaku.”

     Tiba-tiba saja Hyun Yi kesulitan mengatur debar jantungnya sendiri. Tak ada alasan pasti untuk hal ini. Mungkin karena dirinya yang terlalu takut membayangkan kepergian Luhan. Diabaikan saja rasanya sakit bukan main, apalagi jika benar-benar ditinggalkan. Swiss … tidak dekat, ‘kan?

     Selepas menyematkan senyum tipis di wajah cantiknya, Hyun Yi menguatkan diri. Ia berujar lirih, “Selamat! Aku ikut senang mendengarnya.”

   “Benarkah kau senang mendengarnya? Tidakkah kau takut jika kita nantinya terpisah jauh?” Luhan tak memercayai ucapan singkat kekasihnya. Meski menemukan banyak nada paksaan dalam kalimat tersebut, tetap saja bukan itu yang ia harapkan. “Aku baru saja berniat memperbaiki hubungan kita. Aku tak akan pergi jika kau memintaku untuk tinggal.”

     “Sungguh? Jika aku menahanmu kau takkan pergi? Kau yakin dapat berbesar hati merelakan kesempatan emas itu untukku, Luhan?”

     Luhan termangu. Keyakinan yang semula ia pegang teguh seolah menguap tanpa jejak. Melebur bersama angin musim dingin sore ini. Hal tersebut tak pelak membuat Hyun Yi kembali dipaksa mengulum senyum pahitnya. Sadar bahwa hingga saat ini dirinya masih belum menjadi prioritas bagi Luhan. Lalu sekarang Hyun Yi harus bagaimana? Merelakan Luhan dan meratapi nasibnya sendiri di sini? Tiba-tiba saja Hyun Yi menyesal telah menolak ajakan Chanyeol demi bertemu Luhan. Bersama pria itu pasti takkan melukainya seperti ini.

      Ya Tuhan … Apa yang baru saja kupikirkan? Hyun Yi menggigit bibir. Terkejut dengan pemikirannya sendiri.

     “Sayang?” panggil Luhan.

   “Pergilah jika kau ingin pergi, dan tinggal jika kau ingin tinggal,” ucap Hyun Yi datar, benar-benar tanpa penekanan.

     Menyadari suasana yang semakin tidak nyaman, Luhan pun memaksa kerja otaknya. Mencari bahasan lain yang sekiranya mampu merubah keadaan. “Oh, ya. Kau masih ingat Baekhyun? Mulai besok dia resmi beker—”

     “Luhan,” sela Hyun Yi cepat. Dasar Luhan bodoh, dia baru saja menyebutkan sebuah nama yang pernah menjadi salah satu alasannya melupakan Hyun Yi. Memperburuk suasana hati Hyun Yi di luar kesadarannya. “Aku ingin pulang.”

     “Sayang … Aku masih ingin bersamamu,” Luhan merajuk.

     “Aku merasa semakin lama aku menghabiskan waktu denganmu, semakin besar peluangmu membuatku kecewa. Jadi, kumohon … antarkan aku pulang, se-ka-rang!”

***

Millatel Chereville Apartment, Seoul at 18:10 KST

 

     Sepulang dari kedai tadi, Baekhyun mengajak Yoo Mi berjalan-jalan. Tepatnya menemani Baekhyun berbelanja bahan makanan serta beberapa keperluan lain demi kelangsungan hidup Baekhyun satu bulan ke depan. Sejatinya ia sengaja melakukan ini agar fisik Yoo Mi cepat merasa lelah dan dapat tidur nyenyak malam nanti, sebab jika tidak begini ia yakin Yoo Mi akan sulit tidur karena semangat menggebu yang dibawa episode mania-nya. Baekhyun cukup perhatian, ‘kan? Dan pria ini memiliki cara tersendiri untuk menunjukkan kepeduliannya.

     Namun sepanjang perjalanan mereka, Yoo Mi mendadak irit bicara. Sepertinya kecupan singkat Baekhyun di kedai tadi penyebabnya.

     “Kau masih tak ingin bicara padaku?” Baekhyun menatap gemas gadis yang berdiri di sampingnya.

     Yoo Mi menoleh, lalu kembali berpaling saat hazel-nya bertumbukan dengan manik cokelat Baekhyun. Mulut gadis itu masih betah dengan kesunyiannya. Tak tahan, Baekhyun pun merangsek maju, mengunci tubuh kurus Yoo Mi dalam kungkungannya. “Apa aku harus menciummu lagi baru kau mau bicara padaku?”

     Yoo Mi mengerjap lucu. “Cepat buka pintunya!” Dengan dua tangannya gadis itu mendorong Baekhyun. Gugup begitu kentara membingkai wajah tirusnya.

     “Aah, kau ingin aku menciummu di dalam ya?” goda Baekhyun.

   “Dasar mesum!” sentak Yoo Mi. “Kau ini benar lulusan Harvard ya? Kelihatan sekali budaya luar yang meracunimu. Akan jadi apa bangsa kita kalau semua dokternya seperti dirimu? Aku bersumpah jika aku menjadi mahasiswi nanti, aku tak akan menjadi lulusan sepertimu! Asal kau tahu, ciuman itu ciuman pertamaku dan kau,” Yoo Mi menempelkan telunjuknya ke hidung Baekhyun, “mencurinya tanpa seizinku. Dasar pria mesum!”

     Baekhyun tertawa, kemudian bergegas menekan sejumlah angka yang telah dikomputerisasi menjadi kata sandi –atau kunci- apartemennya. Sebelum memutar kenop pintu, pria ini kembali melayangkan manik cokelatnya pada Yoo Mi. “Yang perlu diluruskan ada tiga. Satu, aku sama sekali tidak menyukai budaya luar yang kaumaksud. Dua, aku bukan pria mesum. Dan tiga yang paling penting, itu tadi juga ciuman pertamaku.” Baekhyun bergegas membuka pintu apartemennya. “Masuklah!”

     Tanpa banyak bicara Yoo Mi menuruti perintah Baekhyun. Sebenarnya gadis itu sengaja menyembunyikan wajahnya yang memanas dengan memunggungi Baekhyun. Bagaimana bisa pria itu membahas ciuman pertama mereka tadi dengan begitu ringan?

     Dengan gerakan tubuhnya, Baekhyun kembali dengan sikap –sok- berkuasanya. Ia menyuruh Yoo Mi duduk di ruang tamu, sementara dirinya berjalan masuk ke kamar. Selang beberapa detik pria itu kembali dengan membawa sebuah laptop dalam genggamannya.

     “Menulislah sesukamu.” Baekhyun membawa barang belanjaannya untuk segera diletakkan di dapur. Namun baru dua langkah menjauh, ia sudah berbalik. “Oh, iya. Kakakmu bilang dia akan menjemputmu sedikit terlambat. Jadi duduklah dengan tenang dan aku akan memasak sesuatu untuk makan malam.”

     “Memasak? Bagaimana jika aku yang memasak?” Wajah Yoo Mi tampak berseri-seri.

     “Memangnya bisa?”

     Yoo Mi mengerucutkan bibir. Sadar dirinya baru saja diremehkan.

     “Ya sudah. Memasaklah untukku.” Baekhyun mengalah. Membiarkan Yoo Mi mengekorinya ke dapur. “Aku ingin ganti baju sebentar.”

     Yoo Mi mengangguk singkat. Gadis itu sibuk mencari beberapa bahan dan alat yang ia butuhkan. Tepat saat Baekhyun menutup pintu kamarnya, gadis itu memulai kegiatan pertama. Mengiris beberapa sayuran dengan mulut yang tak tinggal diam. Terus memuntahkan kalimat demi kalimat yang disahuti Baekhyun dari dalam kamarnya.

     Dalam hitungan menit Baekhyun kembali dengan mengenakan baju santainya. Pria itu bersandar pada dinding, mengikuti setiap pergerakan Yoo Mi dengan khidmat. Tak lupa telinganya pun ikut sibuk menyerap setiap perkataan Yoo Mi, meski sayangnya ada beberapa kalimat yang tak sengaja ia lewatkan. Ya. Yoo Mi kembali dengan tempo bicaranya yang menggila.

     “Hei Park Yoo Mi!” tiba-tiba saja Baekhyun memekik keras. Dilanda cemas kala manik cokelatnya menangkap sesuatu. Pria itu menghampiri Yoo Mi dengan tergesa dan …

 

 

Sampai bertemu di chapter selanjutnya-

GLOSSARY :

A

Ahjumma : Bibi

B

Brother Sister Complex : munculnya perasaan cinta terlarang antarsaudara.

M

Mania : suatu aktivitas fisik dan perasaan gembira yang luar biasa. Gejala manik umumnya berkembang dengan cepat dalam beberapa hari. Penderita biasanya merasa senang, tetapi sekaligus juga mudah tersinggung, jadi suka berdebat atau -sebagian kecil- memusuhi orang lain secara terang-terangan. Anehnya, penderita yakin bahwa dirinya baik-baik saja, tidak merasa ada yang salah.

O

Oppa : panggilan perempuan kepada laki-laki yang lebih tua.

S

Sunbae : senior.

Hello everyone! Arlene’s here~ Aku kembali membaa Chapter 5 yang errr bikin aku pengen nonjok muka si Baekhyun dan pukpukin Jongin :v Oke, di sini Baekhyun selingkuhin aku *nangis meraung2* (apaan sih /?) Jongin juga kasian kena bentak. Sehun? Aku seneng dia lagi gak bisa TP2 sama si Yoo walaupun akhirnya harus mengorbankan Baekhyun 😀 Well, udah makin jelas kan siapa Kyungsoo dan apa hubungannya sama Yoo Mi? Coba-coba tebak Kyungsoo itu apaan? Sepertinya hari ini Yoo Mi pun melupakan Kyungsoo karena terlalu asyik dengan episode manianya .-. Soal gaya bicara Yoo Mi di atas itu dia ucapin dengan tempo menggila, tau kan yang kayak gini nih :

“BaekhyunjahatbangetudahselingkuhinakumanaperhatianbangetsamaYooMi.

Lupaapamasihadabininyadisini?”

Kebayang kan gimana pusingnya mereka yang dengerin omongan Yoo Mi? Dan … oh iya, aku mau tanya nih, di FF ini kapel apa yang kalian suka? SeYoo BaekYoo HanYi ChanYi? Lebih cocok siapa sama siapa? Ayo-ayo yang udah baca tinggalin jejaknya sekalian sempilin jawabannya di kolom komentar ya :3 Jejak yang kalian tinggalkan itu berharga banget lho buat aku, kalo bisa sih ya rada panjangan, jangan cuma sekedar ‘next, gft, tag again’ yg udah mainstream syalala~ Dan aku benci sama orang yg kalo udah baca langsung kabur. Semoga gak ada ya :’)  See you soon guuuuyyyyysssss~

ONCE MORE, DON’T FORGET TO LEAVE ANY REVIEW AFTER YOU READ THIS STORY!
Bye bye :*

69 responses to “BD Syndrome {Chapter 5 : Manic 24} by ARLENE

  1. EONNI.. THANKS FOR FAST UPDATE KYAAA.. KALO AKU SIH SUKA SEYOO (SEHUN-YOOMI) aku jdi kasihan sama tuh orang karena dichapter ini ga kebagian jatah buat ‘berduaan’ sama Yoomi kkkk~ kasihan juga sih eon.. Sehunnya.. dia Cast Utama kan? masa cuma dapet jatah pas abis ciumannya Baekhyun ke Yoomi *ehh* poor buat kamu nak XD *lirik Sehun* eonniii.. ini berapa Page? nah.. aku suka banget baca fanfic yg di BOLD kaya begini 🙂 kan tulisannya jadi tebal.. dan buat semangat bacanya 😀 btw Sehun kalah 1langkah tuh eon sama Baekhyun, Baek aja yg baru pulang dr Harvard udh langsung ngajak Yoomi keapartementnya.. lah Sehun kapan? /eh/ -_- kamunya Complicated banget sih milih bias Ultimated :/ kaya aku aja /.\ foto Kai sama Sehun tuh bersaing eon didalam Galeri wkakakk 😀 itu Yoomi ngomong2 dapat ide apa sih eon? Fanfiction juga kah¿ wah jangan2 dia author di SKF juga 😀 duhh comentku merambat.. sudah dulu.. ditunggu chapter soonnya 😉 hwaiting Arlene eonni 😉

    • Kan mereka giliraaan~ Sehun udah menang banyak di chapter sebelumnya 😀 sekalian authornya ngetes perasaan sendiri (masih galau soal ultimate bias) 😀 Ini 20 page kalo gak salah *lupa*. Itu Yoo Mi ketularan aku jadi suka nulis /? Doh udah kamu Kai aja biasnya, biar Sehun buat aku, yaaa? :p
      Btw, tengkyuuh Lian. Semoga gak bosen yaaaa ^_^

  2. Seyoon plz seyoon hahah. Dan disini mereka gadpt jatah berduaan lolll. Si baekhyun main nyosor nyosor aja lagii. Loll nextt ya

  3. Uhhh keren ni ff .. Tentu saja SeYoo dong .. Hehehehe npa bkn sehun aja yg mncuru ciuman prtamanya yoomi .. 🙂 npa hrus baekhyun ?? Pngin nangis .. 😥

  4. Uhhh keren ni ff .. Tentu saja SeYoo dong .. Hehehehe npa bkn sehun aja yg mncuri ciuman prtamanya yoomi .. 🙂 npa hrus baekhyun ?? Pngin nangis .. 😥

  5. Ohh author mksih buat info tntng pnyakit” yg brkaitan dgn psikologi ..
    Uhhh keren ni ff .. Tentu saja SeYoo dong .. Hehehehe npa bkn sehun aja yg mncuri ciuman prtamanya yoomi .. 🙂 npa hrus baekhyun ?? Pngin nangis .. 😥

  6. Baekhyun astaga.. Kurang ajar kau nak… #dihajarFansBaek#Peace
    Hyun yi ini sama Chan apa Lu ?? Hayo… Dipilih dipilih 5000 5000 #lho?
    Aku pastinya pilih kapel SeYoo !!!!

  7. BAEKYOO aja thor plisss :’ aduh apadeh ini wkwk. Thank You udh negpostnya cepet hehe. oh iya sedih deh disini Kyungsoo nya hantuuu huhuhuhu 😥 . Chanyi aja luhan biarin pergi keswiss aja wkwk parah. But the part this bagus banget aku suka deh sama bahasanya ringan dan cepet ngerti dan ga kaya orang awam wkwk. Next.

  8. BAEKYOO aja thor plisss :’ aduh apadeh ini wkwk. Thank You udh negpostnya cepet hehe. oh iya sedih deh disini Kyungsoo nya hantuuu huhuhuhu 😥 . Chanyi aja luhan biarin pergi keswiss aja wkwk parah. But the part this bagus banget aku suka deh sama bahasanya ringan dan cepet ngerti dan ga kaya orang awam wkwk. Next..

  9. Kan author yang satu ini pinter banget bikin readernya penasaran tingkat akut kkkkkkk
    Oh iya aku lebih suka baeyoo sama chanyi couple sih wkwkwkwk sebenernya seyoo couple juga gapapa wkwkwkwk tapi ngga tau kenapa aku lebih feelnya ke baeyo dan chanyi couple , kali kali kan seru kayanya kalau si byunbaek yang menangin hati perempuan xoxoxoxo

  10. yey update!!! Banyak scene baekyoo disini, awwww byunbaek ucuuul bet hahaha. Chemistry baekyoo dapet ko, apalagi yoomi nya jg malu malu gitu. Sehun? Are you okay? hehehe cuma bisa cengingisan sm reaksi dia pas ngeliat adegan baekyoo di cafe. #staystrongsehunie
    Tp request boleh? ntar banyakin scene seyoo juga ya. Soalnya msh bimbang, couple favoritnya siapaaa?
    Dan selalu, setelah baca ff ini, banyak pengetahuan psikolog yg didapetin. Makasi udh masukkin unsur psikolog di ff ini. Love bgt lah♡ Di adegan terakhir, yoominya ngapain? Nyilet tangan nya atau kenapa? hahaha sampe bikin byunbaek khawatir?
    Ditunggu chapter selanjutnyaaaaa, yg panjang kalau boleh 🙂 dan ga lama-lama juseyo.

  11. Sebenarnya aku suka sama sehun , tapi khusus Ff ini aku lebih suka kalo baekhyun sama yoo mi . Karna feel nya lebih dapeettt 😀
    Chapter selanjutnya ditunggu ya,
    Hwaiting 😀

    • Beda kok. Mungkin faktor Kyungsoo-nya yg bikin keliatan mirip 🙂
      Drama IOTL-nya aja aku gak kelar nonton. Abis skizo yg dibahas di film itu agak gak pas. Harusnya skizo lebih parah dari BD yang aku bahas di FF ini 😉

  12. Kaya nya couple baekyoo lucu deh tapi aku juga suka seyoo couple tapi terserah authornya aja.tapi aku masih bingung kyungsoo itu apaan jadi aku masih penasaran jadi aku masih setia nunggu lanjutan ni ff

  13. yaaa itu yoomi kenapa lagi itu ??
    yaampun sehun wkwkwkwk..
    aku paling suka ChanYi sama SeYoo wkwkwkw kakak sama adik tukeran gitu kak..

  14. seyoo couple dong
    author jgn korbanin baekhyun buat misahin sehun sama yoomi ya
    kasian oppa gue jadi sedih deh
    nih dia lgi nangis gara” liat si baek nyium yoomi

    next di tunggu yaaa

    • Sebenernya daripada ngorbanin Baekhyun mending ya kantongin aja bawa pulang :p Lagian Sehun gak bilang2 kalo dia sampe nangis /?
      Ditunggu aja deh ya, makasih 😉

  15. aku lbh suka couple BaekYoo soalnya mreka lucu dan imut klo sama” hehe ^^ dan yah mgkn si Baek jga dpet lbh baik dlam mnjaga yoomi mengingat pekerjaannya sbagai seorang dokter .-. trs d ff ini ada dua kan ya kisah love trianglenya si yoomi yg disukai sma dua org cwok dan si yeol yg ska sma hyunyi dan hyunyi jga mgkn sbaliknya dan itu td si yoomi pas d dpur knpa tangannya kepotong sma piso atau gimana ???

  16. baekhyun astaga.. lancang banget main cium” aja
    kalo dintanya couple faforite no 1 ya pasti seyoo dong kak yang keduanya hunyi
    keep writing

  17. pliiissss seyoo bangeeett toloongggg harus seyoo
    mau luhan mau chanyeol serah tapi ingin luhan deh wkwk
    semangaaaattt

  18. Ahaha… Tinggi bdn d sbut trllu jelas d sni :D.
    Enth knp ak mlih BaekYoo couple eonn. Sweet aj.
    Kyungsoo hantu? ._. Haa, busou..
    Mau saran : selipin kejadian2 tk trduga eonn. Ap lgi yaa? Ah, bkin sehun tmbh ngenes :D.
    Ok it aj. Sprti biasa. Selalu kren. D tnggu chp slnjut x. Fighting n keep writing eonn!:)
    *kurngpnjngya?hee,mian.nnti2dpnjngin*:D

    • Maapkan karena di part ini terlalu banyak nistain Baekhyun >_< Soal kejadian tak terduga udah ada dari awal kok, tp berhasil apa enggaknya ini yg gak tau /? Makasih yaaaa 😉

  19. Yahh thor lagi seru seru nya baca tiba tiba tbc -.-

    Wkwk baekhyun berani kali deh nyium di depan umum
    Kasihan banget sehun kalah langkah
    Nahh hyunyi itu juga ada rasa atau gimana ya sama chanyeol terus gimana juga perasaannya sama luhan masih cinta

    Hhm…. Author next chapter panjangin yaaa

  20. Sblmnya jongin pernh muncul ya, aku lupa ada jongin sblmnya hehe..
    Aku lbh suka seyoo x ya, tp sbnrnya baek baik jg c, dy duluan yg suka ama yoo seblm kenal sehun hmm.. Masa lalu baek-yoo-kyungsoo mesti tau dulu neh baru baru bisa mutusin haha…
    Kalo hyunyi ama luhan aja, kalo ga luhannya ama aku wkwkwkw

  21. Pingback: BD Syndrome {Chapter 6 : When ‘if’ changed into ‘regret’} by ARLENE | SAY - Korean Fanfiction·

  22. BaekYoo aja deh mendingan hehe kalo masalah hyun yi sama luhan or chanyeol… gimana yaaa… bingung banget….

  23. Jujur aku lebih suka couple baekyoo, dan pas banget dicapter ini moment baekyoo banyak banget, pliss nanti yoomi sama baekhyun aja yh, walopun gg rela suamiku di couplin sama orang lain, tapi aku suka couple baekyoo yah yah yah, penasaran sama kelanjutannya nih eonni ^,^

  24. Baekki.. aku ga relaaa.. lebih cocok sehuuun.. walaupun aku harus patah hati liat sehun bersama wanita lain #lebaymodeon
    Lanjut aja kali ya ke chapter 6nyaah

  25. Aku lebih suka couple seyoo sama hanyi ,,karna apa..??? Karna mereka lebih clop ?
    Chap ini keselll akut sama baek 😦
    jong in kamu emang selau di nista’in ? jadi sabar aja yah..hihihi

  26. Mian eonnie ga ngasih comment di ff sebelumnya,dikarenakan sinyal yang pengem di begal #abaikan.. Btw jadi kyungsoo,baekhyun sama sehun suka sama yoomi? Wihh..yoomi pesonanya gede bgt bisa disukain tiga cowok sekaligus haha next chapt ya^^

  27. Aku suka hanyi sbnrnya tp pas tau luhan mau ke swiss aku jd ragu, pati nnti banyak chanyi momen huhu gak mau. Kalo buat yoomi sama siapa aja aku setuju deh haha asal happy ending yeyeye. Kl kyungsoo masih ada mungkin aku bakal lbh suka yoomi sm kyungsoo. Poor kyungsoo

  28. Pingback: BD Syndrome [Chapter 8 : New Problem] by ARLENE | SAY - Korean Fanfiction·

  29. Chapter 5

    Waduh ada apa nih. Kenapa pas Yoomi ngomong Luhan ngerasa ada keanehan di Yoomi. Hmmmm. Kepo deh ap~
    Kak masa sih si Kyungsoo yang ada di khayalannya Yoomi itu hantu?._.
    Yoomi kayaknya udah mulai suka sama Sehun deh. Dia maunya ama Sehun terus cieilaaah~~ Tapi juga ada Baekhyun yang bikin Yoomi nyaman gitu
    Nah itu Luhan malah mau ke Swiss yaelah mas ntar pacarnya keburu diambil orang-_- kasian sih si Hyunyi kayaknya sedih gitu (yaiyalah-_-)
    dan……..ada apa dengan yoomi…………………

  30. wah kalo luhan ke swiss ntar banyak chanyeol-hyunyi momentnya dong haha :3 tapi kasian juga luhan nya .-.
    btw itu yoominya ngapainnn O.O

  31. Ya ampun baek nyium yoo mi! Hyun yi sama chanyeol ajaaaa. Yoo mi masih berkomunikasi ga sih sama kyungsoo? Ih penasaran~

  32. Jadi kyungsoo itu … udah meninggal? kayaknya kyungsoo itu cuma khayalan nya yoomi *sebenernya aku sempet mikir dia hantu* tpi dia temennya yoomi kan? seperti yg baekhyun blng diatas:3
    msih bingung nentuin couple favorit disini u,u
    ijin baca chapter selanjutnya 😀

  33. Aku suka dua duanya,baekhyun sehun sama sama baik dan penyayang sm yoomi,author hebat kasih alur dalam cerita ini,ceweknya polos bgt. Semangat ya author!

  34. masa gua gak bisa baca chap 4 kak dan akhirnya gua bingung apa yg terjadi ama yoomi-sehun.
    satu perempuan dua laki laki, gua jd gak tau mesti ngeship siapa. semuanya baek. hurrr

  35. komen ku telat bgttttt >< gpp deh namanya kan reader baru.. aku suka baekyoo karna aku emang sukanya baekhyun #plakk tapi ikutin alur aja deh palingan juga yang jadi seyoo kan sehun main castnya gpp deh terima aja.. tapu sumpah yaa moment baekyoo sweet bgt loh.. baekhyun ko bisa ngegombal gitu sih jadi pgn gantiin yoomi deh ahh..
    ohya katanya kyungsoo jg suka sama yoomi terus gimana tuh perasaanya dia lihat yoomi deket sama sehun baekhyun duh pertanyaan nih mending lanjut baca aja deh

  36. Thoor Yoomi memotong tangannya atau tidak sengaja? ngeri bacanya . Aq suka cara baekhyun menciumnya. haha lucu

  37. Kyungsoo mna eon? Dia udh ilang tah? Kasian Sehun wkwkw. Aku ngakak sama kelakuan Chanyeol wkwkw Kai selalu ternistakan 😂 jeng jeng jeeeng siapa kah yg menang? Chanyeo atau Luhan? Dan Sehun atau Baekhyun…

  38. Hyunyi jng tinggalin luhan…udah resiko pnya pacar dokter…tega bgt deh…buat chanyeol mnding cari cewe lain aja deh…mmg sih luhan sndiri yg buat celah tpi hyunyi tolong setia sama luhan toh klo luhan sukses jga hyunyi yg bangga…klo yoomi mnding sama sehun….klo sama baekhyun kasian dyo….brati selama ini yg temenin yoomi arwah kyungsoo aka dyo dong….apa cuma halusinasi yoomi saya krn pas dyo meninggal yoomi sdg tggu dyo ….

  39. Aduuhhh. . kasian dh ma sehuniex…bakhyun jg apa”an sih lgsug cium” aja
    Mwq ciumn pertm yoomi it dgn sehunn.. Hihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s