Don’t Stare at Me With That Eyes [Chap.3] – By Kimraeha

dontstare-bbon-posterchannel

Title : Don’t Stare at Me With That Eyes [part.3]

Author : Kimraeha

Cast :

  • Oh Sehun (EXO)
  • Lee Yoo Ri a.k.a Lee Hana(OC)

Main cast :

  • Suho (EXO)
  • Park Hye Jin (OC)

Genre : Angst, Horror, Mystery, Romance, Sad/Hurt, School-life.

Rating : 16+

Poster : Bbon @ Poster Channel

Disclaimer : Gejala yang ada di FF ini mungkin tidak sama dengan asli nya.

Ps : Jarak waktu Korea – San Francisco, California adalah kurang lebih 16 jam lebih cepat Korea.

Last Chapter

Chap. 1

Chap.2

*

*

“Without glasse im changed”

*

Preview Chap.2

“Kau ingin punya banyak teman kan?” Suho semakin mendekat ke arah Yoo ri, Yoo ri sudah menyadari gelagat aneh Suho ketika ia berbalik melihat Suho, keadaan sekolah yang sepi membuat Yoo ri panik dan hanya bisa mundur hingga terasa tekanan pintu di punggung dan bahunya. Suho tersenyum menyeringai dan mendekatkan tangannya pada Yoo ri.

“Maka lepaskan ini.”

Author

“Maka lepaskan ini.” Suho meraih salah satu kunciran yang bertengger rapi di rambutnya. Yoo ri yang merasa tak nyaman dengan posisi yang-sangat-dekat itu segera mendorong Suho agar jarak mereka menjauh.

“Aku tak suka seperti itu!” Yoo ri berteriak pada Suho yang sedang asyik melihat kunciran kuno Yoo ri. Suho tersentak saat mendengar Yoo ri berteriak padanya.

“Kau bisa melakukan apapun, tapi jangan lakukan itu.” Ucapnya penuh penekanan dan meninggalkan Suho sendiri. Wajahnya memerah saat ini. Suho merasa tak enak dan mengejarnya, Yoo ri terus membuang muka saat Suho meminta maaf. Suho benar-benar tak bisa menebak bahwa Yoo ri akan bersikap seperti ini.

Suho membiarkan Yoo ri mendahuluinya, Suho menghela nafas sambil melihat rambut Yoo ri yang diikat sebelah, sementara sebelahnya lagi tergerai.

Yoo ri berjalan tanpa mengetahui tujuannya, yang ia pikirkan hanya menghindar dari Suho. Tapi laki-laki itu terus saja mengikuti dirinya. Suho mungkin belum tahu Yoo ri tidak suka dekat-dekat dengan laki-laki, tapi harusnya ia tahu dan tidak melakukan itu pada Yoo ri. Yoo ri semakin mempercepat langkahnya. Sementara Suho masih gigih mengekornya, hingga akhirnya langkah Yoo ri tercekat.

Kaki yang melayang di udara, rambutnya hitam pekat, setelan yang sangat kotor, kini sesuatu yang benar-benar Yoo ri takuti sedang berada di hadapannya. Suho yang awalnya bingung mengapa Yoo ri berhenti langsung mengerti situasi yang ada ketika Yoo ri perlahan mundur sambil terpaku oleh hadapannya. Suho mengambil beberapa langkah dan berhenti di depan Yoo ri, sekarang posisi mereka saling berhadapan.

“Untuk yang ini pasti tidak biasa untuk mu, jadi aku akan-”

“Minggir.” Putus Yoo ri sebelum Suho melanjutkan kalimatnya. Ia menepis tubuh Suho ke arah lain agar tidak menghalangi jalannya, sosok tersebut pun sudah hilang. Suho kembali mengikuti Yoo ri yang masih belum tahu akan kemana. Yoo ri berbalik dan otomatis Suho berhenti.

“Mau sampai kapan kau mengikuti ku?” Yoo ri menatap intens ke arah Suho. Suho tak berkutik dan tetap diam, kelakuannya membuat Yoo ri geram.

“Hy Suho! Good morning.” Suara perempuan di belakang Yoo ri menarik perhatiannya. Gadis berambut pirang dengan tanktop bertali dan rok mini itu berdiri di belakang Yoo ri. Suho tersenyum lalu menghampiri gadis tersebut dan meninggalkan Yoo ri.

“Hei! You look more beutiful after holiday.” Puji Suho sambil memeluknya. Gadis tersebut hanya tersenyum.

“Who is she?” Gadis tersebut memindahkan pandangannya ke arah Yoo ri. Yoo ri yang merasa di perhatikan segera bersikap se normal mungkin.

“I’ll introduce to you, Carmel she is Hana, and Hana she is Carmel.” Setelah Suho memperkenalkan Yoo ri sebagai Hana kepada gadis bernama Carmel tersebut, mereka berjabat tangan. Hampir saja Yoo ri membungkuk mengingat tradisi negaranya, tetapi tak ia lakukan karena ini bukan negara nya.

“Carmel korlov.” Yoo ri menjabat tangan Carmel dan bergantian menyebut namanya.

“Lee Hana.” Yoo ri tersenyum pada Carmel.

“You from Korea right? Same as Suho country?” Mereka melanjutkan percakapan sembari berjalan, sementara Suho mengekor mereka berdua di belakang. Yoo ri mengangguk, Carmel gadis yang tinggi, Yoo ri harus mendongkakan kepalanya untuk melihat Carmel.

Mereka berbincang cukup lama. Sekolah pun mulai ramai, tidak seperti tadi yang sepi. Anak-anak yang berlalu lalang selalu menatap aneh ke arah Yoo ri. Yoo ri belum sadar kalau ia masih mempunyai kunciran lain yang belum di lepas, sehingga membuatnya menjadi aneh. Suho sudah merasakan hal tersebut dan melihat Yoo ri dari bawah sampai atas, sorot matanya berhenti pada rambut Yoo ri, dengan cekatan ia segera menarik ikatan satu lagi. Yoo ri yang sadar membelakan mata saat sedang mengobrol dengan Carmel.

“Why?” Carmel menyadari tingkah aneh Yoo ri. Yoo ri hanya menggeleng dan memutar kepalanya ke belakang, dilihatnya Suho sedang menampilkan cengirannya. Mod Yoo ri kembali rusak, padahal dengan mengobrol dengan Carmel membuatnya lebih baik. Seseorang memanggil Carmel, tampaknya itu adalah teman-teman Carmel. Carmel meminta izin untuk pergi bersama teman-temannya. Sebenarnya Yoo ri agak berat mengingat ia akan bersama Suho lagi, tapi apa boleh buat, ia harus mengiyakan permintaan itu. Carmel pun pergi, sebelum pergi ia menyinggungkan senyum ke arah Suho dan dibalas senyum juga oleh Suho.

“Pacarmu kan?” Yoo ri yang sedari tadi menahan pertanyaan, akhirnya bertanya juga. Suho menatap Yoo ri dan menggidikan bahunya. Yoo ri terlihat bingung dengan jawaban Suho.

“Bilang saya iya.” Yoo ri meneruskan dengan tak acuh dan bergegas pergi ke kelasnya. Suho tersenyum di belakang Yoo ri.

Seoul – 06.00

Sehun bangun di hari ke-2 sekolahnya. Sekolah baru nya tampak tidak spesial seperti saat ia masuk sekolah menengah pertama. Ia juga tidak terlalu tertarik mengingat ia akan bersekolah dengan Hye jin, dan parahnya lagi pembagian kelas ajaran baru nya sangat menyebalkan bagi Sehun, karena ia berada di kelas yang sama dengan Hye jin. Lantas gadis tersebut selalu mencoba mengajak Sehun berbicara, tetapi Sehun selalu menjawab gadis tersebut dengan acuh, bahkan terkadang tidak di jawab.

Hari ini agenda yang akan di lakukan sekolahnya adalah mengenal para sunbae mereka yang merupakan anggota Organisasi Siswa. Setiap murid ajaran baru wajib mengenal mereka, kalau tidak bisa mereka akan di hukum dengan hukuman yang sesuai.

Sehun mengenakan seragam kotak-kotak menengah atas nya. Seragam berwarna coklat itu cocok berada di tubuh ideal nya. Ia memoleskan sedikit gel ke rambut, membuat rambutnya terlihat lebih kaku. Sehun mengambil tas dan menyampirkannya di bahu. Ia turun untuk menghampiri Appa dan eomma nya yang sudah menunggu di meja makan.

Waktu menunjukan pukul 07:00 satu jam tersisa untuk tidak terlambat. Sehun menyapa orang tua nya yang sedang menikmati sarapan, eomma nya tersenyum sementara appa nya sedang membaca surat kabar.

“Apa acara sekolah mu hari ini?” Appa nya bertanya sambil menyeruput kopi hitam. Sehun sudah duduk di kursi.

“Hanya berkenalan dengan para Sunbae.” Appa nya mengangguk dan melanjutkan membaca surat kabarnya. Sementara Sehun menikmati roti bakar coklat buatan eommanya dalam diam. Beberapa menit kemudian Sehun selesai dan berpamitan dengan eomma nya. Hari ini Sehun akan di antar oleh appa nya.

Di perjalanan keduanya terdiam, hanya ada suara mesin dan radio di dalam. Appa nya sedikit gelisah karena sedari tadi Sehun hanya menatap jalan dan tak menyapanya.

“Apa ada sesuatu yang kau pikirkan, nak?” Appa nya bertanya sambil masih terfokus pada jalanan. Sehun menengok dan menggeleng pelan, dan kembali melihat jalan di jendela samping nya. Appa nya menggeleng-geleng heran.

Appa nya menurunkan Sehun di dekat gerbang sekolah, sebelum Sehun pergi, appa nya berbicara.

“Jika ada masalah, katakan pada appa ya.” Appa nya tersenyum, garis wajahnya yang mulai keriput menyinggungkan sebuah senyum alami. Sehun mengangguk, dan ia pergi kedalam sekolahnya. Sebelum melanjutkannya langkahnya Sehun menengok ke arah belakang dan mendapati appa nya masih berusaha memutar balikan mobil, ia menyinggungkan senyum dengan sendirinya. Ia masih berfikir apakah ia akan bercerita kepada appa nya.

Baru saja melangkah ke dalam gerbang, Hye jin sudah menyambar tangan Sehun dari samping. Sehun kaget setengah mati saat tiba-tiba Hye jin muncul dari arah semak-semak.

“Abeojineun?” Tanya Hye jin sembari menyematkan tangannya pada lengan Sehun. Sehun melepaskan sematannya dan mengangguk, ia mengatur nafasnya yang berantakan karena kemunculan Hye jin yang mengejutkan.

“Uwoh, aku belum pernah melihat appa mu sebelumnya.” Hye jin terus saja mengoceh tanpa henti, Sehun terus tak menggubsirnya membuat Hye jin menambah ocehannya. Mereka sampai ke kelas, sudah banyak yang datang ke kelas.

Sehun menaruh tasnya di atas meja, tapi Hye jin juga ikut menaruh tas nya di samping meja Sehun, Sehun melirik Hye jin bingung. Hye jin menyengir dan menunjuk papan tulis. Mata Sehun mengikuti jari Hye jin dan Sehun mengerti apa yang telah terjadi. Hari ini di tentukannya kursi untuk mereka duduk selama satu semester, kemarin mereka memilih tempat duduk sendiri, tapi hari ini tempat duduk mereka di tentukan oleh pihak sekolah. Dan sialnya Sehun akan duduk dengan Hye jin selama satu semester ini.

Sehun mendengus sebal dan meninggalkan kelas. Hye jin malah mengekornya dan membuat Sehun tambah kesal.

“Cukup, sampai disini.” Sehun tiba-tiba berhenti dan berbalik ke arah Hye jin. Hye jin cukup terkejut dengan kelakuan Sehun.

“Waeyo?” Hye jin bertanya tanpa rasa bersalah sedikit pun. Sehun ingin sekali mendorongnya kalau saja ia bukan seorang gadis. Sehun menarik nafas dan mulai mengajukan pertanyaan.

“Maumu apa?” Sehun bertanya sambil melipat tangan di dada nya. Ia menatap intens ke arah Hye jin yang masih bersikap santai. Hye jin bermain dengan kuku nya seperti tak menghiraukan Sehun. Sehun mulai geram dengan gadis di depannya. Sehun meraih pundak Hye jin dan menggoncang-goncangkannya. Hye jin terlihat shock karena perlakuan Sehun yang tiba-tiba tersebut. Hye jin menghentikan kegiatan yang dilakukan Sehun kepadanya dengan menyentakan tangan Sehun ke bawah, tangan Hye jin memegang tangan Sehun. Sehun segera menarik tangannya yang ada di genggaman Hye jin, lalu ia berdeham. Ia bersiap untuk meninggalkan Hye jin.

“Tunggu.” Hye jin menarik tangan Sehun lagi. Dirinya menatap Sehun penuh harap. Hye jin merasakan tenggorokannya nengering.

“Kalau aku bilang yang sebenarnya apa kau akan berubah kepada ku?” Hye jin menatap Sehun penuh harap. Sedangkan Sehun menatap Hye jin bingung dan seperti meremehkan. Hye jin menunduk dan siap berbicara.

“Aku-”

“Sudahlah, aku ingin pergi dulu, nanti saja bicaranya.” Sehun memutus perkataan Hye jin. Sepertinya Sehun tahu arah pembicaraan ini akan kemana. Sehun menyentakan lengan Hye jin pelan dan meninggalkannya, tidak peduli Hye jin memanggilnya beberapa kali.

Sekarang sedang berlangsung perkenalan sunbae di kelas mereka. Keduanya tampak lebih canggung dari biasanya, tepatnya Hye jin yang sedari tadi diam dan menunduk. Sehun yang duduk disebelahnya pun hanya memperhatikan ke depan dan tak menghiraukan gelagat Hye jin.

“Coba sebutkan nama sunbae ini, kau gadis yang dibelakang.” Salah satu dari sunbae sunbae itu menunjuk ke arah Hye jin. Hye jin masih belum sadar sebelum akhirnya Sehun menyikutnya dan menunjuk kedepan dengan kepala-nya. Hye jin mengikuti arahnya dan benar semua orang di dalam kelas melihat ke arah Hye jin.

“Ne?” Hye jin mengeluarkan kata itu dengan tidak sadar. Sehun mengambil sesuatu dari tasnya. Salah seorang Sunbae laki-laki mendekat ke arah Hye jin, Hye jin sedang ketakutan karena sedari tadi tidak memperhatikan dan malah terkalut dalam pikirannya. Sunbae nya sampai dan ia menumpukan tangannya pada meja Hye jin.

“Tadi aku bertanya apa padamu?” Sunbae tersebut menatap Hye jin yang kelihatan ketakutan, Hye jin memindahkan pandangannya pada orang sebelahnya, Sehun sedang menulis sesuatu pada tangannya, Hye jin tidak tahu itu apa, tapi pikir Hye jin yang pasti tidak ada hubungannya dengan Hye jin.

“Ayo jawab.” Sunbae tersebut memukul meja Hye jin pelan dan kembali ke depan. Sunbae itu melipat tangannya di dada, Sunbae-sunbae yang lain melihat Hye jin kecewa. Hye jin benar-benar merutuki diri nya sendiri, bukan saat yang tepat untuk memikirkan itu tadi.

Dari arah samping lengan Hye jin seperti di senggol. Itu Sehun, tatapannya tetap ke depan namun telapak kanannya terbuka dan tertulis sesuatu disitu. Choi rye mi, itu adalah nama sunbae yang ditanyakan. Hye jin mendongkak melihat Sehun dan tersenyum.

“Cho- Choi rye mi.” Hye jin segera menjawab pertanyaan sunbae itu. Hye jin benar-benar merasa berterima kasih kepada Sehun, sementara orang yang menolongnya itu hanya menatap datar ke depan.

Setelah kelas itu berakhir mereka akan makan siang di kantin. Sehun pergi duluan saat Hye jin masih membereskan barangnya, Hye jin terlihat kecewa saat Sehun meninggalkannya.

Sehun berharap Hye jin tidak salah sangka dengan yang di lakukan Sehun tadi. Karena sejak kejadian tadi Hye jin terus saja tersenyum dan sesekali melihat ke arah Sehun. Sehun merasa risih di perlakukan seperti itu.

Kantin

Sehun mencari tempat duduk yang kosong setelah menerima makanannya, ia berjalan sambil memegang nampan yang berisi menu hari ini. Tersisa satu bangku yang berada di pojok, ia memutuskan untuk makan di sana, Sehun juga berharap Hye jin tidak menemukannya.

“Boleh aku duduk disini?” Sehun menghentikan makannya, ia mengenal suara ini. Sehun menaruh kembali sendok nya dan mendongkak, ia tersentak saat melihat siapa yang meminta izinnya.

“N-neo?” Sehun menatap seseorang di depannya dengan tidak percaya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya dengan penglihatannya, dan benar saja, ia salah lihat, Sehun menghembuskan nafasnya berat. Sehun terlalu memikirnya. Ia memukul-mukul kepalanya yang terus saja berhalusinasi.

“Eh, sedang apa kau?” Tiba-tiba orang yang sedang tidak ingin Sehun temui muncul di hadapannya, Sehun sedang ingin sendiri sekarang tetapi orang ini muncul lagi. Gadis itu duduk di depan Sehun dan meminum susu pisangnya. Sehun segera berdiri sambil mengangkat nampannya, ia sudah tak punya nafsu makan.

“Ya! Jangan menghindar terus, aku hanya ingin berteman memangnya salah!” Hye jin berteriak membuat semua yang ada di sekitarnya mulai berbisik-bisik. Sehun memperhatikan sekitarnya dan mulai merasa tertekan, ia kembali duduk mau tak mau. Hye jin menyinggungkan senyum puasnya, dan kembali makan seperti biasa. Sehun menyeruput kuah kari yang menurutnya sudah tidak ada rasanya lagi. Tapi Sehun harus melakukannya atau gadis di depannya akan mengira yang tidak-tidak.

Sehun selesai makan duluan dan bersiap untuk kembali ke kelasnya lagi. Tapi Hye jin kembali berulah dengan meminta Sehun tetap di situ sampai ia selesai. Sehun sudah tidak bisa menerima ini dan membiarkan Hye jin melakukan sesukanya.

“Baiklah kalau begitu.” Hye jin berbicara pada punggung Sehun yang mulai menjauh, Sehun mendengar dengan jelas tetapi ia memilih tidak menggubsirnya. Sehun menaruh nampan dan piring nya di tempat piring kotor, lalu beranjak ke kelasnya.

San Francisco – 6 bulan kemudian

“Appa. Aku benar-benar melihatnya!” Yoo ri masih terus merayu appa nya agar percaya oleh apa yang dilihatnya. Appa nya masih saja mendiamkannya, bagaimana bisa appa nya percaya tanpa ada bukti yang pasti. Yoo ri mendecak kesal, sudah seharian Yoo ri meyakinkan appa nya.

Semalam Yoo ri melihat sendiri dengan mata kepalanya sendiri laki-laki itu masuk dan keluar bersama wanita dari bar itu. Dirinya sudah di amanati oleh appa dari laki-laki itu untuk selalu mengawasi anak semata wayangnya tersebut.

Yoo ri sudah putus asa dan naik ke kamarnya. Ia merebahkan dirinya di kasur, kacamata yang bertengger di antara hidungnya dilepas lalu ia memijat dahi nya sendiri.

“Eonnie, bagaimana ini.” Ia berbicara sendiri sambil meringkuk, ia bangkit dan mengambil sesuatu dari laci meja nya. Di ambilnya kertas berukuran kira-kira A3 itu secara hati-hati. Yoo ri menatap kertas yang sudah cukup usang itu, ia meraba nya halus dan memeluknya.

“Eonnie, appa keras kepala lagi.” Yoo ri mengadu pada ruang kosong di depannya, sambil memeluk kertas tersebut.

“Aku berkata jujur tapi appa masih tidak percaya.” Lanjutnya dan hampir terisak.

“Eonnie, bogoshipoyo.” Yoo ri menyenderkan tubuhnya sambil masih memeluk kertas tersebut, ia menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih.

Saat-saat seperti Yoo ri tidak di perhatikan inilah yang membuat ia merindukan eonnie nya. Ia teringat saat eonnie nya membuatkan tulisan yang sedang ia pegang, eonnie nya seseorang yang pandai menggambar. Sejak kecil Yoo ri sering sekali minta di gambarkan tokoh-tokoh baru oleh eonnie-nya, dan tentu saja dengan senang hati di kerjakan. Bahkan Yoo ri lebih menyayangi eonnie nya di banding appa nya, oleh karena itu kepergian eonnie nya membuat Yoo ri terpukul dan menjadi lebih tertutup, padahal dulu Yoo ri adalah pribadi yang riang.

Setelah puas menangis di kamar Yoo ri pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Ia akan bersiap untuk mencari bukti agar appa nya percaya dengan perkataannya. Ia berganti baju dan tak lupa memakai kaca matanya.

Ia mengambil syal miliknya, di tempat Yoo ri sedang musim dingin, oleh sebab itu ia memilih memakai pakaian panjang dan juga celana panjang. Ia memakai jaket yang cukup tebal dan melilitkan syal merahnya di leher sampai menutupi mulutnya. Ia juga memakai topi untuk melindungi penyamarannya.

Ia mengendap-endap berjalan keluar rumahnya. Ia tak mau appa nya tahu, karena sudah pasti akan dilarang. Yoo ri berhasil keluar, ia sudah menghubungi taksi sebelumnya.

Sementara itu..

Pria itu menggenggam gelas berisi wine nya. Ia memutar-mutar gelas tersebut di tangannya sambil melihat ke luar jendela. Ia tersenyum lalu duduk di sofa nya.

“Anak yang berani.”

Yoo ri sampai di depan sebuah bar ternama. Yang bisa masuk hanyalah yang memiliki kartu member. Jangankan kartu member, umur Yoo ri sendiri belum cukup untuk masuk ke sana. Yoo ri menelan ludahnya dan melihat sekitarnya, tampaknya laki-laki itu belum datang, atau mungkin saja ia sudah datang dan ada di dalam. Tapi bagaimana cara memastikan itu? Yoo ri berfikir.

Ia melihat sebuah mobil besar berisi wine, ide nya langsung muncul begitu saja. Ia merapatkan jaketnya dan topinya agar matanya tak kelihatan, tak lupa ia memasukan rambut panjangnya pada jaketnya. Ia membantu orang-orang yang menurunkan wine itu, awalnya mereka sedikit bingung tapi ketika Yoo ri membantu mereka menjadi biasa saja, lagipula jaket Yoo ri dengan mereka sama-sama hitam, yang membedakan adalah Yoo ri mengenakan topi dan syal. Yoo ri pun berhasil masuk sebagai pengantar wine.

Suara berisik musik memenuhi gendang telinga Yoo ri, lampu-lampu sorot itu menyilaukan matanya. Ini kali pertama Yoo ri masuk ke dalam bar seperti secara langsung. Biasa nya ia hanya menyaksikannya di TV, tapi kini kehidupan malam benar-benar ada di hadapannya. Yoo ri meninggalkan sekeranjang wine itu dan pergi ke lantai utama bar tersebut. Bar ini berisi orang-orang dari kalangan atas, semua nampak memakai barang-barang bermerek. Yoo ri membuang pandangan saat tak sengaja melihat orang sedang bercinta, ia meminta maaf dan segera berlalu.

Ia sibuk mencari laki-laki itu, setiap ada pinru terbuka ia langsung mengalihkan pandangan, tapi yang ditemui nya sejak tadi hanya orang-orang mabuk atau sedang bercinta. Ia benar-benar muak dengan tempat ini, bagaimana bisa orang masuk ke tempat seperti itu. Ia sudah bersiap ingin keluar dari pintu belakang, tapi pintu utama tiba-tiba terbuka lagi dan Yoo ri menemukan laki-laki itu. Ia datang sendiri dengan pakaian yang berantakan. Saat ia masuk, beberapa wanita berbaju tak pantas langsung mengerubungi laki-laki tersebut. Yoo ri membelakan mata sambil menutup mulutnya karena tak percaya ia bisa melakukan hal tersebut.

Laki-laki tersebut pindah ke meja bar, ia seperti memesan sesuatu, beberapa detik kemudian botol yang nampaknya wine dan satu gelas kecil tersedia di depannya. Sambil bercanda dengan wanita-wanita itu ia menegak minuman keji tersebut. Yoo ri masih memperhatikan dengan jelas apa yang laki-laki itu lakukan hingga ia lupa apa tujuannya kesini.

Suho POV

Sejak masalah itu muncul aku sudah tidak peduli dengan larangan-larangan appa. Ia sendiri tidak menyayangiku, untuk apa aku menyayanginya. Aku mulai melakukan hal-hal yang dilarang appa kepada ku, padahal aku sendiri tidak terlalu suka seperti ini. Aku hanya ingin membuat appa melihatku sebagai seorang yang berharga. Aku sangat menyayanginya, tapi itu dulu, rasanya tidak seperti sekarang.

Aku meneguk wine-wine itu dengan wanita-wanita yang terus saja menggodoku, tak jarang aku membalasnya walau hanya dengan senyuman. Aku juga tak akan melanggar prinsip ku, aku tidak akan berbuat yang berlebihan. Cukup datang kesini saja sudah membuatku sedikit lebih baik.

Prangg

Aku mendengar suara gelas pecah, aku mencari sumber suara tersebut. Tampaknya gelas tersebut di pecahkan oleh salah seorang staff bar ini. Tapi tunggu, mengapa ia meminta maaf sambil membungkuk? aku mempertajam pendengaran ku, aku sudah sedikit mabuk saat ini. Orang itu berbahasa korea. Aku masih bisa mendengar dengan baik walau suara musik itu sangat keras.

Author

Yoo ri tak sengaja menyenggol gelas yang di bawa oleh pelayan bar tersebut, dan tanpa Yoo ri sadar, ia minta maaf sambil membungkuk dan mengucapkan permintaan maaf memakai bahasa korea. Ia merutuki diri nya sendiri saat menyadari Suho memperhatikannya, ia segera meninggalkan tempatnya tadi karena Suho mulai menghampiri nya.

Yoo ri hampir berhasil keluar kalau tangan itu tidak menahannya. Pemilik tangan tersebut menarik Yoo ri ke dinding bar, jelas saja kekuatan Yoo ri kalah oleh pemilik tangan tersebut. Pemilik tangan tersebut adalah Suho. Suho berusaha melihat wajah Yoo ri yang sedang Yoo ri pertahankan untuk terus menunduk. Kacamatanya mulai tak terpasang dengan benar, jika tidak ia betulkan maka bisa saja kacamata itu jatuh. Ia ingin membetulkannya kalau saja kedua tangannya tidak di tahan oleh Suho.

Ternyata hitungan Yoo ri benar kacamatanya terjatuh tepat di dekat kaki Suho. Suho melonggarkan cengkramannya dan terfokus pada apa yang terjatuh, setelah meyakinkan pandangannya, ia memandang Yoo ri sambil melepaskan cengkramannya. Lorong bar yang sempit dan gelap, serta Suho yang mabuk membuat Suho merasa tertekan saat melihat Yoo ri.

“Apa kau melihat semuanya?” Tanya nya sambil berusaha memulihkan otaknya yang berada di bawah kendali alkohol itu. Yoo ri tak berani menjawab dan hanya mengangguk. Ia menggenggam ponselnya yang di bawa untuk mengambil bukti dengan erat, nyatanya ia tak berhasil mengambil bukti dan malah mengankibatkan masalah yang lebih besar, yaitu Suho mengetahui keberadaannya.

Suho mengambil kacamata Yoo ri yang terjatuh dan memberikannya pada Yoo ri sambil menyuruhnya pulang.

“Pulanglah, kau masih terlalu kecil dan polos untuk masuk tempat ini.” Suho mengelus rambut Yoo ri dan tersenyum. Yoo ri menggeretakan gigi nya dan mengepalkan tangannya. Saat Suho sudah hampir meninggalkannya, Yoo ri berteriak.

“Kau sendiri apa?” Suho menghentikan langkahnya ketika Yoo ri mulai berbicara.

“Kau malah berada disini dikelilingi wanita-wanita seperti itu, dan juga wine yang tak penting itu. Dan kau menyuruh ku pulang karena aku masih kecil? Kau kira kau tidak? Aku dan kamu hanya berbeda beberapa tahun!” Lanjutnya. Yoo ri yang sedari tadi menahan akhirnya mengeluarkan protesnya. Suho mendengarkan Yoo ri dengan baik. Suho berbalik dan menyeringai.

“Kau tidak tahu masalahku.” Suho menatap dingin ke arah Yoo ri, sepertinya Suho lupa Yoo ri bisa membaca pikirannya kapan saja. Yoo ri tersentak saat tahu pikiran Suho, ia menjadi gelisah, tak seharusnya Yoo ri tahu pikiran Suho sekarang, tapi itu bukan kesalahan Yoo ri sepenuhnya, kemampuannya lah yang membuat ia tahu.

Yoo ri perlahan mendekat ke arah Suho, dirinya menjadi lebih berani saat sudah bergaul dengannya. Suho mengangkat alisnya sebelah, pandangannya mulai kabur karena ia mabuk. Yoo ri meraih tangan Suho yang dingin. Ia menatap Suho dalam.

“Menangislah, itu cara yang lebih efektif di banding melakukan ini semua.” Suho tersentak mendengar kalimat tersebut keluar dari mulut Yoo ri, sudah lama Suho tidak merasakan hal seperti ini, bisa juga di sebut kasih sayang. Suho membenamkan wajahnya pada bahu Yoo ri dan mulai mengeluarkan semuanya, sementara Yoo ri mengelus punggung Suho dengan sabar. Malam ini bisa jadi malam terakhir mereka bisa seperti ini.

*

TBC

*

Prev Chap.4

“Gomawo.”

“Kau akan baik tanpa ku kan?”

“Aku akan sering mengunjungi mu.”

“Benarkan itu kau?”

‘Aku yakin itu dia.’

……………..

Yeay chap. 3 nya selese!^^ Disini masih belom ada Sehun sama Yoo ri moment nya karena Yoo ri masih di san francisco, tapi nanti di chap. 4 bakal… em udah deh kalian tunggu aja ya:) itu bocoran loh hehe, makasih banget yang udah menyempatkan baca ff ku ini, makasih juga teman-teman yang udah mendukung terus buat aku jadi semangat deh*pidato, haha garing banget kan authornya. pokoknya jongmal gomawo bagi para reader yang udah nyempetin baca ff ku ini apalagi yang comment sama like juga:) . saranghae:*

18 responses to “Don’t Stare at Me With That Eyes [Chap.3] – By Kimraeha

  1. Makin sweet aja yoori ama suho.. Tapi pengennya sih sehunnya yg sama yoori..
    Kerennnn ffnya
    ditunggu nextnya… Fighting!

  2. Uhuhuh gk sabar nantiin sehun-yoori moment :3
    Suho, secool apapun dia pasti akan lemah pd saat tertentu..jadi kasian aku *lha
    Ditunggu chap 4 nya XD

  3. Author mana nih part sehun-yura nya
    Dari tadi aku baca gak ada part nya 😦

    Mian baru koment
    Ini garagara aku cari part sehun-yura

  4. masih penasaran nih. sbnr nya yoori knpa pindah ke san francisco.trus hubungan dia sm sehun itu apa? apa mereka sama2 pnya kelebihan?

  5. Pingback: Dont Stare at Me With That Eyes [Chap.4] – By Kimraeha | SAY - Korean Fanfiction·

  6. Pingback: Don’t Stare at Me With That Eyes [part.5] – By Kimraeha | SAY - Korean Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s