5Js [Holiday]

5j-poster

Ziajung’s Storyline©

Casts: Kim Jongin | Choi Junhee | Kim Jongwoo | Kim Jaekwon | Kim Jaemi

Genre: Family, Comedy, Romance

Ratting: G

——————————————–

Day 1—JongHee’s Moment

Bola mata itu bergerak dalam tutupan kelopak mata. Ia merasa terganggu. Terganggu dengan sebuah benda yang terus mengusap lembut dadanya dan sebuah desahan nafas panas di leher belakangnya. Sial. Padahal ia bermimpi liburan di dunia cokelat tadi. Di mimpinya, tangan itu membekapnya erat, dan membuatnya jatuh dari puncak penuh gulali. Benar-benar perusak suasana.

Choi Junhee sudah setengah sadar sekarang. Ingin rasanya ia menggigit tangan itu, tapi yang ada ia malah kenikmatan. Terpaan nafas panas itu semakin terasa di lehernya, dan sekarang mulai merambat menuju pipinya. Sampai akhirnya ia merasakan sebuah kecupan dalam di pipinya. Kecupan-kecupan itu terus merambat ke pelipisnya, matanya, pipinya lagi, kemudian…

“Berhenti di sana, Kim Jongin.”

Nafas itu berhenti beberapa detik sebelum akhirnya mendesah. “Kenapa kau harus bangun…”

Junhee membuka matanya dan berbalik. Wajah itu sangat berantakan, namun harus diakui ia sangat menyukainya. Wajah polos seperti anak kecil yang menyebalkan, mengingatkannya dengan satu sosok. Pria itu tidak menjauh, malah memeluk perut Junhee untuk semakin mendekat. Ia menyusurukan kepalanya ke leher Junhee, meski wanita itu menolaknya.

“Boleh kan—“

“Tidak, Jongin-a. Ingat, hanya satu kali.”

Mendengar ocehan istrinya, Kim Jongin malah semakin gencar menggoda Junhee. Tangannya kembali merambat ke dada Junhee, hingga wanita itu memekik tertahan. Jongin tidak akan menyerah hanya dengan cubitan di tangannya. Ayolah… sudah hampir sebulan mereka tidak melakukannya. Ia tidak akan cukup hanya dengan satu kali, malam tadi.

“Argh!”

Jongin resmi berhenti dan menatap panik Junhee. “Wae? Apa ada yang sakit?”

Junhee memukul kepala Jongin. “Anakmu menendang! Sudah kubilang dia tidak terlalu suka di dekatmu.”

Sekarang Jongin menghela nafas dan rebahan di sebelah Junhee. Ia melihat perut buncit Junhee yang menyembul dari balik selimut. Kenapa dunia sangat ironis?! Ia yang menginginkan anak, tapi ia juga yang tersiksa pada saat-saat seperti ini. Usia kandungan Junhee sudah mencapai delapan bulan (dan itu membuatnya terlihat seperti gordzilla pemakan segala daripada seorang ibu hamil yang anggun. Percayalah, Junhee jauh lebih kejam saat hamil), jadi mereka harus berhati-hati jika ingin berhubungan. Bahkan terakhir mereka melakukannya adalah satu bulan yang lalu, itu pun juga hanya satu kali.

“Sebenarnya dia anakku atau anak Yonghwa hyeong, sih?”

Junhee terkekeh mendengarnya. Sebenarnya itu hanya alasan agar Jongin tidak meminta lebih. Sesuka apapun, ia tetap harus hati-hati. Ini bukan memang kehamilan pertamanya, tapi tetap saja rasanya seperti hal baru.

Masalah Jung Yonghwa…. Junhee sering kali meminta untuk bertemu dengan pria itu selama kehamilan anaknya ini. Sebenarnya Yonghwa hanya senior Junhee di tempat kerjanya dulu. Ia pernah bekerja menjadi guru vokal untuk sebuah agensi, dan Yonghwa adalah produser sekaligus konsultan musik. Well, tidak bisa berbohong, Junhee sempat menyukai sosok Yonghwa. Tepatnya sebelum makhluk astral ini mengganggu hidupnya.

Pertemuan mereka dimulai saat Jongin tidak sengaja menabrak Junhee yang tengah menyebrang di zebra cross dengan sepedanya. Terdengar klise memang, bagai sebuah drama. Tapi setelah itu mereka malah sering bertemu karena agensi tempat Junhee mengajar tengah menjalin kerja sama dengan perusahaan Jongin. Junhee awalnya tidak terlalu mempermasalahkan itu, ia pikir Jongin hanya pria biasa. Tapi pada suatu saat, rasa biasa-biasa itu berubah menjadi penasaran, dan rasa penasaran berubah menjadi rasa jengkel, dan rasa jengkel itu lama kelamaan menyadarkannya kalau ia nyaman bersama Jongin.

“Jadi kau tidak merasa membuatnya?” dengan nada kesal dibuat-buat, Junhee bertanya. “Ah, geurae, ini memang bukan—“

Aniya… aku hanya bercanda.”

Jongin dengan cepat kembali memeluk perut Junhee, kali ini sambil mengelusnya sebagai ucapan maaf untuk si calon bayinya. Selain menjadi gordzilla, Junhee sering kali menjadi anak-payah-cengeng-yang-kerjaannya-hanya-memerintah. Sekali Jongin tidak menuruti kemauannya, maka ia akan menangis sambil mengoceh. Dan pada titik tertentu, ia akan meminta Yonghwa atau Lee Jeongmin—sahabat Junhee—untuk datang ke rumah.

“Tapi, Junhee-ya, beri aku satu ciuman, ya?”

Junhee memasang wajah berpikir. Ia selalu senang saat membuat Jongin jengkel. Pria itu akan menggigit bibirnya—seperti menahan umpatan—dengan dahi dikerut-kerutkan. Wajah aneh itu akan semakin aneh.

Tidak tahan dengan Junhee yang masih seperti itu, Jongin mengeluarkan jurus kedua. Aegyo gagal. “Chagiya…”

Arraseo. Berhenti melakukan itu!” ucap Junhee akhirnya.

Junhee kemudian menangkup wajah Jongin dan membawanya untuk mendekat padanya. Bibir mereka bertemu dalam kehangatan. Jongin selalu suka saat Junhee besikap sedikit agresif. Pada awalnya Junhee memang menguasai, tapi saat dia mulai kewalahan dengan lidah Jongin yang menyusup ke mulutnya, ia menyerahkan semua pada Jongin. Tidak ada yang lebih membahagiakan daripada saat Junhee berada di bawah kuasanya.

Jongin hampir mengurung Junhee kalau saja ia tidak ingat perut buncit itu—yang seakan terus meneriakan “jangan, Appa!”. Jongin harus cukup puas dengan hanya memainkan bibir mungil Junhee. Sesekali tangan Jongin mengusap perut Junhee sebelum akhirnya ke dadanya. Junhee mendesah dan tepat saat itu Jongin mengigit bibirnya—gemas karena Junhee berani-beraninya mengeluarkan suara seperti itu.

Aish… maafkan aku, Aegi-ya, karena sebal dengan keberadaanmu untuk saat ini. Jongin bergumam dalam hati. Atau juga… ia kesal dengan dirinya yang membuat Junhee seperti ini.

Mereka menyudahi ciuman manis itu dengan sebuah kecupan ringan di pipi Junhee. Jongin tidak menjauhkan wajahnya, hanya menempelkan dahinya di dahi Junhee.

“Kau ingin ke suatu tempat? Aku libur tiga hari ini.”

Junhee mendorong dada Jongin untuk menjauh. “Kau libur? Kenapa tidak memberitahuku dari awal?”

Well, karena tadi malam, ia langsung menyerang Junhee tanpa sempat membicarakan hal ini. Jongin tidak bisa mengatakan itu karena bagaimanapun itu memalukan. Tiba-tiba saja tadi malam hasratnya tidak bisa ditahan. Ia hampir melupakan kalau Junhee sedang hamil besar dan melakukannya dengan terburu-buru.

“Tadi malam—“

EOMMA!”

EOMMA, APPA SUDAH BANGUN?!”

“HUAA!! EOMMA, JONGWOO HYEONG NAKAL!”

Junhee dan Jongin menoleh bersamaan ke arah pintu kamar mereka yang terbuka lebar dan tiga monster kecil pengganggu masuk dengan cara bar-bar. Jongin menunduk lesu. Padahal ia sudah memimpikan waktu berdua hanya dengan Junhee. Ia akhirnya sadar, tiga-monster-kecil-yang-merupakan-hasil-hubungan-cintanya-dengan-Junhee masih berada di dalam rumah. Haruskah Jongin menitipkan ketiga anaknya itu kepada mertuanya?

Appa. Appa libur, kan? Ayo kita jalan-jalan!” Kim Jongwoo, si anak laki-laki tertua, langsung menyeruak di antara Jongin dan Junhee.

Oppa, minggir! Aku ingin bersama appa!”

Ya, Jaemi-ya, awas kakimu kena perut eomma!”

Lain dengan Jongin yang sudah menutup kepalanya dengan bantal, Junhee malah terkekeh sendiri. Ia duduk bersadar di dashboard sementara Kim Jaekwon, anak laki-laki lima tahunnya, memeluk dirinya dari samping. Kim Jaemi, saudari kembar Jaekwon yang lahir enam menit setelahnya, mencoba membuka bantal yang menutupi kepala Jongin. Jongwoo juga tidak mau kalah. Ia terus mengoceh sambil menduduki punggung Jongin. Bocah delapan tahun itu memang terlalu mirip dengan Jongin yang suka seenaknya.

Aish, Kim Jongwoo, berhenti!”

Jongin membuka bantalnya karena tidak tahan. Ia langsung disambut pekikan senang Jaemi dan senyum konyol Jongwoo. Jaemi memeluk leher Jongin sambil tertawa sendiri. Ia lebih suka berdekatan dengan Jongin, dibandingkan kakak kembarnya yang selalu menempel dengan Junhee. Sedangkan Jongwoo…. ia memang suka menghabiskan waktu dengan Jongin, tapi untuk bertengkar dan merebutkan sesuatu. Dan pada akhirnya, ia hanya mengadu pada Junhee lalu mendapat omelan lagi.

Appa, ayo kita bermain! Aku ingin ke Wonder World. Taehyun sudah dua kali ke sana—masa’ aku belum. Ayolah, Appa… aku ingin pamer gantungan kuncinya kepada Taehyun.”

Jongin mendesah mendengarnya. “Appa ingin istirahat, Jongwoo-ya.”

Eoh, majjayo! Appa pasti lelah, Oppa.” Jaemi menimpali, masih memeluk Jongin. “Appa hanya ingin bermain dengan Jaemi.”

“Ini masih hari Jumat,” Junhee akhirnya angkat suara. “Kalian masih harus sekolah.”

Suara kekecewaan keluar dari mulut mereka bertiga—secara bersamaan. Bahkan Jaekwon yang tidak terlalu tertarik dengan hari libur Jongin juga menunjukan ketidaksetujuannya dengan ucapan Junhee. Ia lebih suka di rumah. Bermain dengan adik-yang-akan-keluar-sebentar-lagi-nya. Di sekolah ia hanya belajar itu-itu saja. Padahal dia ingin sekali membuat kue di rumah bersama ibunya.

“Aku juga ingin libur, Eomma.” Jaekwon mengerucutkan bibirnya sambil menggesekan pipi ke lengan Junhee.

Jongwoo turun dari punggung Jongin dan menghampiri Junhee. Memangkukan dagunya ke perut buncit Junhee. “Iya, Eomma. Satu hari saja tidak apa-apa, kan?”

“Kim Jongwoo.”

“Ah… Eomma… aku ingin bermain dengan adik kecil.”

“Oh, oh! Aku lupa!”

Jaemi memekik tiba-tiba dan kemudian menyusup di sebelah Jongwoo. Ia menempelkan telinganya ke perut Junhee sambil memasang wajah serius, seolah ia sedang meneliti apa yang ada di dalam sana. Junhee hanya terkekeh. Sejak anak-anaknya tahu ia akan mendapat adik lagi, dan adik itu sekarang ada di perut Junhee, mereka bermanja-manja dengan cara seperti ini. Tidak seperti ayahnya yang lebih suka bermanja-manja dengan cara “menemui” anak keempatnya.

Jaemi mengangkat kepalanya lalu tersenyum pada perut Junhee. “Selamat pagi, Aegi-ya.”

“Jaemi-ya, kau mendahuluiku!” Jaekwon tidak mau kalah. Ia mendorong kecil Jaemi dan mengambil posisi Jaemi tadi. Ia pun melakukan hal yang sama seperti Jaemi. “Selamat pagi, Aegi-ya. Aku adalah Jaekwon hyeong.”

Jongwoo mendengus melihat kedua adiknya yang seperti terobsesi dengan perut ibunya. Ia kan yang menemukan cara itu, tapi kenapa adik-adiknya yang malah kerajinan melakukannya. Jongwoo merasa tersaingi. Ia pikir, setelah mendapatkan adik, ia akan bisa menyuruh adiknya sesukanya—seperti yang Chanyeol Ahjussi katakan saat ia menangis tidak mau adik. Kalau begini, lebih baik Jongwoo terus menangis saat itu.

Tapi… perlu diakui, ia tidak lagi kesepian. Walaupun menyebalkan, Jaekwon selalu mau menemaninya bermain. Dan lebih asiknya, Jongwoo selalu bisa mencurangi Jaekwon, hingga ia selalu menang. Jaemi juga selalu mau menggantikannya saat Jongin appa menyuruhnya. Ya… mungkin memang tidak seburuk yang dipikirkan sebelumnya.

“Jongwoo-ya, tidak mau menyapa adik juga?” tanya Junhee ketika melihat Jongwoo hanya memainkan bibirnya. Ia tahu, Jongwoo selalu melakukan itu saat ia tengah kesal.

Dengan wajah masih ditekuk, perlahan Jongwoo mulai mendekati perut Junhee. Sifatnya yang seperti ini mirip sekali dengan Jongin. Malu-malu kucing. Ingin sekali Junhee mencubit pipi anak laki-lakinya itu, tapi setelah itu pasti ia akan semakin cemberut. Ia bukan akan kecil lagi, katanya.

“Selamat pagi, Aegi-ya,” dengan nada imut, Jongwoo tersenyum lebar sambil menempelkan telinganya ke perut Junhee. “Di sini hyeong-mu yang paling tampan. Kau tidak boleh setampan diriku nanti, ya.”

Oppa, adiknya perempuan. Tentu saja tidak akan tampan!”

Aniya! Dia laki-laki! Sama sepertiku dan Jongwoo hyeong!”

Geutji! Dia laki-laki! Kau tidak akan punya teman, Jaemi-ya.”

Bibir Jaemi bergetar, dan lima detik kemudian tangisnya pecah. Sangat keras dan memekakkan telinga. “ Jongwoo oppa dan Jaekwon oppa jahat, Appa!”

AISH! AKU MAU TIDUR!”

“KIM JONGIN, JANGAN BERTERIAK!”

***

                “Ah… lelahnya…”

Junhee hanya melirik Jongin yang melemparkan tubuhnya ke sofa, di sebelahnya. Pagi ini mereka akhiri dengan omelan Junhee karena ketiga bocah itu hampir telat gara-gara adik-yang-akan-lahir dan Jongin yang tetap bersikeras ingin tidur dengan tenang. Junhee langsung menyeret ketiga anaknya itu ke kamar masing-masing dan menyiapkan mereka untuk berangkat ke sekolah.

Jongin kira, setelah itu ia bisa tidur dengan nyenyak, tapi Junhee malah bertambah garang. Wanita itu masuk kembali ke kamarnya, menyibak selimut Jongin, dan menyeret Jongin turun dari kasur. Dengan mata masih setengah terbuka, Jongin disuruhnya tanpa perasaan untuk mengantarkan ketiga monster imut mereka. Mungkin ini akan terdengar mudah jika anak-anak mereka tiga memiliki kelebihan hormon yang membuat mereka super hiperaktif—sama seperti Jongin dan Junhee.

Ya… setidaknya Jongin mengerti, ternyata seperti inilah Junhee setiap pagi. Well, Jongin terkadang berangkat terlebih dulu gara-gara pekerjaannya. Bahkan kadang tidak pulang karena harus inspeksi ke luar daerah.

“Kau mengantar mereka sampai masuk?” Junhee masih sibuk mencemili snack keju sambil menonton gosip pagi di tv. Kakinya diluruskan di atas meja, sehingga perut buncitnya terlihat seperti sebuah bantal besar.

Eoh.” Jawab Jongin. Ia melirik kotak snack yang dipegang Junhee. “Ya, sudah kubilang jangan terlalu banyak makan itu! Aku jadi berpikiran kau gendut gara-gara terlalu banyak nyemil, bukan karena aku hamili.”

“Ini kemauan aegi, tau!”

“Sudah minum susumu?”

Eoh.”

“Minum vitamin? Sarapan?”

Junhee memutar bola mata lalu menoleh. “Sudah dan sudah. Aku makan banyak tadi.”

Hah… ternyata benar. Ia memang terlalu banyak makan. Jongin berpikir sambil mengamati bentuk tubuh Junhee sekarang. Wanita ini benar-benar mirip babi di hidangan kebaktian. Bukan hanya perutnya, hampir semua bagian tubuh wanita itu membengkak dua kali lipat. Jongin hanya berharap anaknya tidak sebesar apa yang dipikirkannya, ia tidak mau melihat Junhee kesakitan saat mengeluarkannya nanti.

Jongin tidak tahan. Ia merebut kotak snack yang Junhee pegang dan menutupnya rapat. Ia kemudian menyembunyikan kotak itu di belakang tubuhnya. Ia tahu, Junhee akan marah-marah padanya, atau kemungkinan terburuk… rambutnya akan menjadi sasaran lagi.

Ya, Jongin-a…”

Jongin menoleh dengan wajah jelek, siap mendapat serangan dari Junhee. Tapi yang ia lihat bukan wajah monster-mode-on yang sering Junhee keluarkan saat marah, tapi malah mata berkaca-kaca mirip anak anjing. Bibir Junhee tertekuk ke bawah—tapi sungguh, itu malah membuat Jongin ingin menciumnya. Jongin menurunkan matanya dan melihat tangan Junhee yang mengelus-elus perut buncitnya, seolah tengah menenangkan anak keempatnya itu. Dan sumpah, saat itu Jongin merasa dirinya adalah ayah paling jahat di dunia.

Y-Ya… j-jangan begitu…” Jongin menangkup wajah Junhee lalu memeluknya. Awalnya ia berpikir Junhee akan menangis keras, tapi kemudian ia merasakan sakit di kepalanya.

Junhee-monster-mode is actived!

“Aku sedang makan! Kenapa direbut!”

Mendapat serangan dua arah—dari rambutnya yang ditarik juga dadanya yang dipukul, Jongin pun melepaskan pelukannya. Ia mengaduh saat Junhee menghentikan serangannya. Rasa sakit itu masih tersisa di akar-akar rambutnya. Kini giliran Jongin yang merajuk. Ia merapatkan tubuhnya di lengan sofa sambil menekuk lututnya. Ia tidak mau menatap Junhee (well, meski diam-diam ia melirik Junhee untuk memastikan apakah tingkahnya ini berhasil menarik simpati Junhee).

“Kau sudah ingin menjadi ayah empat kali, tapi tingkahmu tidak jauh berbeda dari Jongwoo.”

“Kau menarik rambutku, Junhee-ya,” Jongin tidak mau kalah. “Aku tersakiti…”

Junhee memutar bola mata. Mungkin karena stres berkepanjangan akhir-akhir ini—karena pekerjaan—Jongin suka bertindak di luar perkiraan Junhee. Memang masih dalam batas wajar. Setidaknya Jongin tidak bertingkah sememalukan Jeongmin saat melamar pacarnya tiga bulan yang lalu di tepi jalan tol. Sahabatnya itu hampir menjadi selebritis dadakan karena menyebabkan kemacetan panjang waktu itu.

“Padahal aku sedang libur,” ucap Jongin tanpa menatap Junhee. “Tidak bisakah kita menghabiskan waktu dengan cara romantis?”

Junhee tertegun beberapa saat, sebelum akhirnya berkata dengan lembut. “Baiklah, sini. Peluk aku.”

Mata Jongin berbinar. Ia dengan cepat menggeser tubuhnya dan memeluk Junhee dari samping. Sesekali ia menyerusukan kepalanya ke lekukan leher Junhee untuk menggoda wanita itu. Tidak apa-apa tidak ada “acara ranjang” untuk hari liburnya, menurutnya begini pun sudah cukup. Jongin sudah jarang bisa bemesraan dengan Junhee. Selain karena pekerjaannya semakin sibuk sejak diangkat menjadi direktur pemasaran, ketiga anaknya juga sering sekali mengganggu. Ya… meskipun Jongin juga menyukai saat-saat bersama ketiga anaknya.

Junhee terkekeh sambil mengusap rambut coklat Jongin. Kalau dipikir-pikir, sudah berapa lama mereka tidak seperti ini. Saat pacaran dulu, Jongin suka sekali memeluk Junhee seperti ini. Pria itu sesekali akan menusuk-nusuk pipi Junhee yang bulat lalu setelah Junhee mulai kesal, dia pasti akan mengalihkan Junhee dengan ciumannya. Jongin selalu memiliki seribu satu cara untuk membuat Junhee merona.

“Sebenarnya aku sangat merindukanmu,” Jongin berbisik, lalu tangannya beralih ke perut Junhee. “Tapi… anakku pasti tidak menyetujuinya.”

Kehamilan kali ini, Junhee menjadi jauh lebih sensitif. Beberapa kali ia selalu tidak nyaman saat Jongin di dekatnya. Entah itu terjadi kram perut, mual, atau… muncul keinginan untuk memukul Jongin. Jongin dan Junhee memang memilih tidak ingin mengetahui jenis kelamin bayinya. Mereka hanya memastikan kalau kali ini bukan kembar lagi (dan itu berarti Jongin bisa meminta untuk menambah anak lagi. Well, kesepakatan mereka adalah maksimal lima anak).

“Aku lebih suka seperti ini. Seperti saat kita pacaran dulu.”

Jongin menusuk-nusuk pipi Junhee. “Seperti ini?” lalu ia terkekeh sendiri.

Kalau biasanya Jongin yang selalu memulai sebuah ciuman, kali ini Junhee bertindak lebih dulu. Ia menangkup wajah Jongin, membuat wajah pria itu terlihat lucu dengan bibir yang mengerucut karena himpitan telapak tangan Junhee, lalu menciumnya gemas. Junhee menjauhkan wajahnya, menikmati sisa-sisa ekspresi terkejut Jongin. Wanita itu tertawa pelan.

“Eish… menggodaku, ya?”

“Kenapa aku baru sadar kalau kau sangat imut?”

“Jongwoo, Jaekwon, dan Jaemi saja sangat imut, tampan, dan cantik, sudah pasti aku juga seperti itu.”

Junhee memasang wajah datar. Lagi-lagi.

Chup!

“Dan aku selalu sadar, kalau kau memang selalu cantik.”

Junhee tidak bisa menyembunyikan wajah meronanya. Sudah ia katakan, Jongin selalu memiliki seribu satu cara untuk membuatnya merona.

“Jongin-a.”

“Eum?”

“Aku mau pisang.”

Jongin menautkan alisnya sambil berpikir, sebelum lima detik kemudian ia menunduk, menatap sesuatu di bawah sana. Ia pun kembali menatap Junhee yang tengah menunggu responnya. Tapi Jongin merasa masih mengambang. Tidak paham apa Junhee tengah memakai bahasa kiasan atau apa.

“Maksudmu…” Jongin menunjuk celananya.

Junhee ikut menunduk dan akhirnya sadar maksud Jongin. Ingin sekali ia meninju kepala yang selalu penuh dengan hal-hal mesum itu lalu mengubur wajahnya sendiri. Ini memalukan!

“Pisang! Buah pisang! Aku mau pisang! Pisang yang di kulkas! Kau mengerti tidak, sih?!”

Jongin menghembuskan nafas yang sedaritadi ditahannya. Sia-sia ia menahan hasratnya, Junhee memang memegang teguh nasehat dokter Kang. Tapi setidaknya ia merasa terhibur dengan ekspresi Junhee tadi.

“Kenapa tidak pisang yang lain?”

“KIM JONGIN!”

“Maksudku pisang yang ada di supermarket.” Jongin tersenyum miring, sekali lagi ia berhasil.

Junhee mengalihkan pandangan lalu mencibir tanpa suara. Jongin tahu, Junhee sangat malu dengan reaksinya sendiri. Wajah wanita itu sangat merah sekarang, persis saat ia sedang berada di bawah kuasanya.

Jongin mendekatkan bibirnya ke telinga Junhee. “Arraseo, tapi aku juga sedang ingin minum susu.”

Junhee menoleh cepat, dengan wajah galak.

“Maksudku susu yang ada di kulkas.”

Dengan tawa keras, Jongin berdiri dari sofa menuju dapur. Bisa ia dengar Junhee berteriak tidak jelas untuk menutupi malu dan jengkelnya.

-The End-

—————————————————

See ya ^^고맙다

Regards: Ziajung

30 responses to “5Js [Holiday]

  1. Hahahha…lucu bgt crtnyya…menghibur..ttp aja yang nmnya Jongin ya Jongin biar udah pnya anak mau 4 jg..

  2. Ini lucu kak, kluarga yg unik…anak sm bpknya sama2 unik, pgn lihat anak ke 4 nya jongin lahir trus bsrnya jd gimana. Hihi

  3. hahahahahahaha
    E busyet. . 5j. .menuju 6j nie
    Hehehehe
    Hadeuh gk kebayang gimana rempongnx kim family. .
    And this is so cute

  4. yaampun ff nya kocak banget hehhe, anak sendiri dibilang monster hehe, istri sendiri dibilang gozilla hehe
    haha kocak kocak

  5. Ckckck… Hebat banget ya bang… Anak tiga aja udah ribut… Apalagi ntar yang masih dalem perut lahir… Ngak takut rumahnya ancur ya…

  6. Hahahaha….
    dari awal cerita sampe akhir seru banget dan bikin ketawa terus..
    ya ampun perjanjian macam apa itu, bikin anak maksimal 5… ckckckck. Ada2 saja.

  7. Tuh kan, apa aku bilang ff kamu itu bagus dan gak bikin aku bosen mau panjangnya kek manapun.

    bukan sok muji atau apa, aku selalu suka pas kamu bikin karakter kai disetiap ff kamu. beda aja gitu, karakter kai yang kamu buat selalu bisa bikin aku melting *peluk kai* dan baru kamu author yang bisa bikin aku suka Kai di pairingin sama idol lain. biasanya aku gasuka hehe.

    aku suka kai disini, biarpun dia sosok suami yang pervert dan ayah yang menyebalkan, tapi tiap sisi manjanya keluar itu….. AAAAAAA BISA GAK DISISAIN SUAMI YANG KAYAK GITU?

    apalagi pas adengan terakhirnya itu, ambigu sekali kwkwkwk _yadong-mode-on.

    keren deh pokoknya. buat kamu yang semangat yah ^_^

  8. Bwahahahahaha XD sumpah dr awal sampe akhir aku ngakak teruuusss! Lucu abis ceritanyaaa hahahaha
    Walopun kata2nya “mengarah” tp malah itu yg bikin ngakak XD
    Cute bangeett ih anak2nyaa.. Apalagi sikembar yg silang suka sama eomma appa nya. Cungeettss
    Pokonya suka banget sama ff ini dan keluarga ini~
    Bikin lg dong eonni hehehe fighting! 😀

  9. Ya ampun jongin wkwkwkwk
    Gila anaknya byk amat, rame deh rmhnya..
    Zia, kok wp mu ga bs dibuka ya hmm…

  10. kkeke mereka lucu bnget 😀
    ya ampun anak2 jongin sma junhee pda ribut semua ya xD
    keren zia ffnya, selalu suka sma couple ini 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s