Vacillate [Chapter 11] – By Isanyeo

Forgive yourself first.

Judul : Vacillate – Chapter 11

Author : isanyeo

Cast : Kai, Sehun, Lee Jin, others.

Rating : PG-15

Genre : Drama, Romance, Slice of Life

Length : chaptered

Disclaimer:

It’s mine and it’s up to you if you’ll copy this story because it means my story is worth to be copied

Chapter 11 – The Mishap

Jin duduk di atas meja makan dengan piring bertahtakan sebuah telur mata sapi yang matang sempurna. Kira-kira sejam yang lalu Kai tiba-tiba hilang bersama wanita bernama Ahn Soojin, dan Jin berusaha menghilangkan ketakutannya dengan mencoba menggoreng telur dengan matang sempurna.

Jin terdiam ketika didengarnya suara mobil dari luar rumah. Bukan rumah milik Kai, namun miliknya. Jin sedikit berlari dengan langkah kaki yang aneh karena sakit di pergelangan kakinya. Ia menaiki tangga dan mendekat ke arah jendela dengan tirai yang masih menutupi kaca. Lalu disibakkannya tirai putih kelabu itu dan Jin bisa melihat dengan jelas sebuah mobil terparkir di halaman rumahnya.

“Sehun.”

Jin melihat Sehun yang terlihat begitu tampan dengan setelan jas keluar dari rumah mereka dengan terburu-buru serta ponsel yang menempel di antara pipi dan telinga kirinya. Sehun tak pernah tergesa-gesa sekalipun ia telat pergi ke sekolah, ia juga tak perlu repot-repot ke outlet miliknya tepat waktu. Jin hanya bisa mengerutkan keningnya melihat tingkah Sehun yang seperti itu.

Lalu mobil Sehun melesat begitu saja dan meninggalkan pintu pagar yang terbuka. Sesuatu yang mendesak pasti terjadi dan Jin penasaran akan hal itu. Rasa penasarannya menguap begitu saja ketika didengarnya suara pintu depan terbuka dan Jin menutup kembali tirai kelabu dan turun dengan langkah hati-hati.

Yang dilihatnya adalah sosok Kai yang berjalan perlahan ke arah Jin yang berada di anak tangga terakhir. Jin bisa melihat ekspresi Kai yang begitu lemah dengan tatapan sendu miliknya, Jin hanya bisa terpaku melihat Kai seperti itu. Lelaki yang selalu tersenyum di setiap ucapannya serta tawa yang sudah menjadi lagu bagi Jin kini menampakkan sisi yang Jin kira tak dimilikinya.

“Kau baik-baik saja?”

Kai berdiri tepat di depan Jin, satu anak tangga berdampak besar bagi Jin. Kini mata mereka sejajar dan Jin merasakan perasaan aneh itu lagi, perasaan yang ia tak bisa ia artikan sebagai rasa suka namun ia mengasumsikan seperti itu.

“Kau ingin menjawab apa?”

Jin terpaku. Ia tak mengerti apa yang ia harapkan dengan pertanyaan seperti itu.Selama ini Kai selalu menjawabnya dengan kata-kata yang orang lain tak pernah ucapkan darinya, mungkin kali ini Jin mengharapkan sosok Jongin akan menjawab bahwa ia sedang tak baik-baik saja.

“Kau sedang tak baik-baik saja.”

Kai tersenyum namun matanya tak seperti biasanya. Jin akan selalu melihat mata Kai yang berbinar dan menyipit setiap kali ia tertawa atau tersenyum, namun kali ini senyum itu terihat begitu menyedihkan. Lalu pikiran Jin melayang pada sosok Ahn Soojin yang tiba-tiba datang dan Kai menariknya keluar.

“Jangan menampangkan wajah seperti itu, Lee Jin?”

“Seperti apa, Kai?”

“Seperti ingin memberi sedekah padaku?”

Jin tersenyum kecil, pengandaian Kai terdengar lucu di telinganya walau di saat seperti ini. Jin menatap Kai dengan tatapan lembut dan Kai masih dengan tatapan sendunya. Adu mata mereka berlangsung lama. Cukup lama hingga tiba-tiba Kai meraih kedua sisi pinggang milik Jin dan menariknya lembut dan Jin tak berkedip menatap mata Kai.

“Kai?”

“Ya?”

Tidak ada kata yang terucap setelah itu, Jin kehilangan kata-katanya selagi Kai yang makin menarik dirinya. Sedetik kemudian Jin hanya bisa terdiam ketika bibir Kai jatuh tepat di atas bibirnya, seperti sebelum-sebelumnya, ciuman itu terasa begitu lembut. Sama seperti sebelumnya tak ada gerakan apapun di sana, hanya sebatas bibir bertemu bibir. Namun kali ini kecupan itu sedikit lebih lama. Jin melingkarkan kedua tangannya di leher Kai dengan perlahan dan Jin juga merasakan tangan Kai yang memeluknya lebih erat di pinggang.

Keduanya sama-sama menarik diri dari ciuman itu, tatapan Kai melembut dan Jin tersenyum untuk itu. Kai kembali seperti Kai yang dilihatnya pagi ini di dapur dan Kai yang selalu hadir untuknya.

“Untuk sekarang, jangan tanyakan gadis itu.”

Jin mengerti apa yang diucapkan Kai. Kai juga seorang manusia, pasti ada rasa lelah yang hinggap di sana dan Jin tahu bahwa ia tak bisa selalu mengharapkan kata-kata yang selalu membuatnya takjub. Untuk saat ini Kai membutuhkan ketenangan dan Jin harap ia bisa memberikan itu untuk Kai.

Lee Jin dan Kai berakhir di depan Televisi dengan layar yang lebar di lantai dua. Mereka berdua memutuskan untuk menonton film bersama. Jin sempat menunjukkan telur mata sapi yang berhasil dibuatnya tadi pagi dan Kai bilang rasanya sedikit asin. Namun seperti biasanya, Kai masih akan tersenyum dan mengatakan padanya untuk tak berhenti mencoba. Jin lega, setidaknya ia tak membakar dapur elegan milk Kai.

“Kau suka dengan dua film sebelumnya?” tanya Kai.

Kai menanyakan tentang prequel film yang kini ditontonnya. Kisah tentang sebuah sistem negara dan ada satu tokoh yang menentang. The Hunger Games series.

“Ya. Aku sempat membaca ketiga novelnya.”

“Bagaimana ending ceritanya?” tanya Kai.

“Katniss menikah dengan Peeta, mereka memiliki satu anak perempuan dan satu anak laki-laki.” Jin mengingat-ingat tentang epilog buku ketiga karya Suzanne Collins itu.

Jin tak pernah menyukai buku. Hanya saja waktu itu ketika Jin tengah menunggu Sehun di lobi sekolah seseorang meninggalkan buku seri pertama The Hunger Games di kursi lobi. Jin tak mengetahui pemilik buku itu dan ia memilih untuk memungutnya. Sehun tak menjemputnya hari itu dan sebuah taksi datang atas perintah Sehun untuk menjemputnya, dan di perjalanan ke rumah itu, Jin membaca buku itu, dan di hari pertama di usianya ke-17 ia meminta seri kedua dan ketiga buku itu.

“Apa itu akhir bahagia menurutmu, Lee Jin?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena Prim, adik Katniss meninggal, Kai. Katniss menggantikan Prim di hari pemilihan Hunger Game ke-74, namun akhirnya Prim tetap meninggal.”

Kai tertawa di antara deru suara ombak dari film yang mereka tonton. “Itu akhir yang bahagia, Lee Jin.”

“Kenapa?”

“Karena setidaknya gadis bernama Prim di cerita itu hidup lebih lama dari yang sudah ditentukan. Ia sudah ditentukan mati jauh sebelum itu.” Kai menaikkan kedua bahunya.

Jin berpikir ulang tentang rentetan kalimat-kalimat di ketiga buku. “Mungkin kau benar.”

“Aku tahu. Hei, Lee Jin?” panggil Kai.

“Bukankah lelaki bernama Peeta Mellark itu benar-benar menawan?”

“Ya. Peeta benar-benar sosok idaman, kau tahu? Mencintai Katniss semenjak ia masih berada di Sekolah Dasar hingga ke medan permainan. Dan ketika di acara malam sebelum Hunger Game dimulai, ketika Caesar mengatakan pada Peeta bahwa ia harus memenangkan permainan dan pulang untuk mengatakan perasaannya pada gadis yang ia cintai. Ternyata gadis yang ia cintai adalah Katniss.” Mata Jin berbinar begitu melihat sosok Peeta Mellark di layar televisi, ia mengingat bagaimana ia menggilai sosok Peeta.

“Ya, aku mengingat adegan itu. Kau tahu apa yang menarik, Lee Jin?”

“Apa, Kai?”

“Walaupun ternyata Katniss tidak menggantikan Prim saat itu. Peeta tetap tidak akan memilih untuk pulang membawa kemenangan.”

“Kenapa begitu?”

“Karena ia tahu Prim lebih berharga bagi Katniss. Ia lebih memilih untuk mengorbankan dirinya agar Prim bisa pulang. Dengan itu, Katniss akan tetap mengetahui bahwa Peeta mencintainya.”

Jin terdiam. Kai selalu mengatakan apa yang orang lain tak mungkin katakan. Ini hanya sebuah film, tapi Jin begitu terpukau dengan penjabaran dan tanggapan Kai tentang film itu. Lalu di benak Jin, ia ingin sekali memiliki seorang pria seperti Peeta, yang selalu mencintainya sampai kapanpun, atau mungkin lelaki seperti Kai? Lelaki berjiwa bebas dengan kebenaran yang selalu terucap dari bibirnya.

Malam tiba dan hari ini terasa begitu melelahkan bagi Jin. Ia yang kini tengah bersandar di sofa depan layar televisi melirik ke sebelahnya. Kai tertidur. Beberapa saat yang lalu, Jin memutuskan untuk menonton film yang lain setelah dilihatnya Kai tertidur pulas dengan wajah yang begitu lucu. Ia tersenyum kecil hingga diingatnya seorang wanita yang datang tadi pagi.

“Ahn Soojin.” Jin berbisik ke udara mengucapkan nama itu.

Masih jelas diingatnya wanita bernama Soojin itu masuk ke dapur dengan tatapan yang mengintimidasi serta Kai yang berubah. Sisi yang tak pernah dilihatnya tak mengurangi perasaan yang dimilikinya saat ini pada Kai, hanya saja kemunculan wanita itu membuatnya sedikit takut tentang akan apa yang terjadi selanjutnya.

Jin menoleh ketika didengarnya kaki-kaki sofa yang berdecit. Menandakan bahwa salah satu mereka bergerak tiba-tiba. Dilihatnya Kai yang meregangkan kedua tangannya dengan mata yang terbuka setemgah dan kedua bibir berjeda. Jin menunggu lelaki itu untuk benar-benar bangun, ia melihat bagaimana Kai berkedip satu atau mungkin untuk menyesuaikan matanya dengan cahaya lampu.

“Did you dream something?” tanya Jin.

Kai menoleh dan tersenyum kecil. “Ya, Lee Jin.”

“A dollar for your dream?”

“Hanya tentang suatu hal yang penting, saat ini. Kurasa aku terlalu memikirkannya sampai terbawa mimpi.”

Jin berhenti tersenyum. Ia merasa bahwa itu ada hubungannya tentang wanita tadi pagi. “Wanita itu?”

“Siapa?”

“Ahn Soojin?” Jin mengucapkan nama itu tanpa sebuah keraguan yang berarti.

Kai menganguk singkat. Matanya mengabur ke depan, tak terfokuskan pada satu titik dan itu tak biasa baginya. “Apa yang ingin kau tanyakan, Lee Jin? Aku tahu banyak pertanyaan di sana.”

“Tidak banyak, Kai. Hanya satu, dan itu sama seperti apa yang ia tanyakan padaku tadi pagi.”

Kau siapa? Jin benar-benar mendengar pertanyaan itu di kepalanya sekarang.

“Dia gadis yang kuceritakan padamu, Lee Jin. Wanita yang pergi ke Kanada, yang tinggal di rumahmu sebelumnya.”

Jin tertegun namun ia tak menunjukkan perasaannya itu melalui gerakan atau ekspresi apapun. Kata-kata yang terucap dari bibit Kai membuat sesuatu di dalam dadanya seperti terputus, terdorong ke bawah dan membuat kepalanya untuk beberapa detik terasa membesar dan darah mengalir lebih cepat. Ia mengignat betul kalimat terakhir di kedai selepas skydiving bersama Kai. Tentang Kai yang menunggu wanita itu untuk datang lagi.

“Aku meminta maaf karena dia bersikap seperti itu padamu, Lee Jin.”

“Itu bukan salahmu, Kai.”

“Aku membiarkannya membentakmu.”

“Lupakan.”

Kai yang meminta maaf karena wanita itu membentaknya tadi pagi membuat perasannya semakin tak karuan. Jin tak mengerti rasanya begitu aneh dan menyakitkan mendengar kata-kata Kai baru saja itu.

“Apa yang terjadi setelah kau membawanya keluar?” Nada suara Jin berubah dan Kai langsung menoleh ke arahnya, menatap sendu ke arah Jin.

Kai tak bersuara dan seperti tadi siang, Kai kembali menarik Jin ke dadanya, mengelus lembut rambut gadis itu dan menarik pinggangnya semakin erat ke arah Kai. Lalu di sana Jin merasakan matanya yang memanas dan nafasnya yang tercekat. Jin terlalu lemah di hadapan Kai dan Kai tahu betul tentang itu. Sedetik kemudian yang Kai rasakan adalah getaran tubuh Jin diikuti dengan isakan kecil. Kai memeluknya semakin erat dan isakan Jin semakin terdengar.

“Menangislah.”

“A-Aku takut, Kai.”

Kai mengecup puncak kepala gadis di dalam dekapannya itu dan Jin memeluk Kai erat. “Aku takut waktu yang tersisa ini tak akan bisa kunikmati bersamamu, Kai. Kekasihmu datang dan aku merasa takut. Kau akan bersamanya dan aku akan segera mengakhiri ini.”

“Jangan dulu, Lee Jin. Menangislah.”

Tak seperti sebelumnya, yang ingin Jin lakukan hanyalah menangis sembari mengeluarkan apa yang ingin ucapakan dan rasakan.

“Tidak, Kai. Seperti yang kubicarakan sebelumnya, Summer Festival seperti mimpi buatku, dan kau juga. Jika kali ini karena kedatangan Ahn Soojin akan memaksaku kembali ke rumah dalam waktu dekat, aku akan segera mengakhiri hal-hal yang seperti ini.”

“Tidak akan, Lee Jin. Dengarkan aku, itu tidak akan terjadi.”

“Ya?”

“Kau selalu mengatakan semua ini seperti mimpi padahal bukan. Jika memang ini seperti mimpi, buatlah itu nyata, Lee Jin.” Di saat seperti ini, Kai selalu bisa membuatnya merasa lebih baik, tak seperti kebanyakan orang yang akan merusak suasana dan berujung dengan air mata yang semakin deras memabanjiri pipi.

Kai butuh waktu beberapa saat untuk membuat isakan Jin tak terdengar kembali. Lalu Kai tak memberikan kesempatan untuk Jin melepaskan pelukan mereka. Kai tetap mendekapnya dan tangannya masih mengelus rambut Lee Jin.

“Ingatkah kau ketika aku bilang aku menunggunya, Lee Jin?” tanya Kai.

“Y-ya?”

“Kau tahu mengapa aku menunggunya?”

“Kenapa?”

“Aku ingin sebuah kepastian, Lee Jin. Soojin pergi tanpa sepatah katapun, ia masihlah wanita dan aku masih menghargai perasaan yang ia miliki padaku. Aku tak ingin memutuskan sebuah keputusan hanya karena perasaan itu membuatku jenuh dan tak lagi seperti yang aku inginkan. Maka dari itu aku menunggunya, menunggu kepastian hubungan kami,” Kai menjelaskan.

“Lalu? Kepastiannya?”

Kai melepaskan pelukan mereka pada akhirnya, matanya menatap Jin penuh arti. “Kami berakhir. Soojin sempat menjadi seorang wanita yang mengesankan dan menakjubkan bagiku, dia berhasil membantuku memperbaiki diriku sendiri, dia begitu hebat, Lee Jin. Namun, semua itu sudah tak berlaku sekarang.”

“Dia mencintaimu, Kai?” Ucapan Jin lebih terdengar seperti pernyataan daripada pertanyaan. Jin bisa melihat itu dari bagaimana Soojin membentaknya pagi ini. Rasa marah karena seorang gadis memasak di rumah lelaki yang dicintainya.

“Itu bukan cinta, Lee Jin. Yang Soojin miliki sekarang adalah obsesi. Obsesinya itu semakin besar daripada terakhir kali aku bertemu dengannya.”

“Kenapa kau berhenti menyukainya, Kai?”

Kai tersenyum kecil dan mengenggam sebelah tangan Jin dengan lembut. “Karena Ahn Soojin bisa melakukan semuanya sendiri, Lee Jin. Aku tak akan berguna apapun baginya. Aku hanya akan menjadi pelampiasan rasa obsesi miliknya itu, bukan sebagai pria yang ia cintai.”

Jin mengerti sekarang. Mengapa Kai menunggu wanita bernama Ahn Soojin itu dan lagi-lagi Kai membuatnya takjub. Kai tahu bahwa perasaan yang Ahn Soojin miliki bukan sebuah cinta melainkan sebuah obsesi. Lalu dengan gerakan yang cepat Jin mendaratkan bibirnya di bibir Kai, dengan cepat, sangat cepat. Hingga mungkin membuat Kai membelakkan matanya beberapa detik sebelum ia tertawa.

Kau dan Kai juga tak punya kepastian, Lee Jin.

Saura itu terdengar tiba-tiba di pikiran Jin. Namun Jin tak ingin memikirkan hal itu terlalu berat sekarang. Ia ingin membuat semua yang baginya mimpi itu menjadi sebuah kenyataan terlebih dahulu, ia ingin menikmati momen saat ini hanya bersama Kai.

Sehun berlari-lari kecil di sebuah koridor dengan tembok bewarna putih mendominasi. Orang-orang di sekitarnya melihatnya sedetik kemudian mengalihkan pandangan mereka seolah itu adalah hal yang biasa.

Lalu dilihatnya papan departemen A&E dan Sehun masuk kedalamnya. Dilihatnya ranjang-ranjang berjejer dipisahkan dengan beberapa jarak dan sekat putih. Didengarnya beberapa orang berteriak kesakitan dan menjerit histeris. Matanya mengamati satu per satu orang yang berbaring sembari berkeliling dengan langkah cepatnya.

Mata Sehun membelak ketika dilihatnya seorang wanita tengah tak sadarkan diri dengan infus yang terpasang di punggung tangan kirinya serta selang nasal kanul oksigen yang terpasang di kedua lubang hidungnya.

“Yeon.”

Sehun meraih pinggir kasur di mana Yeon berbaring.

“Tak ada masalah berarti untuk Nona Lee Yeon, Tuan. Hanya tangan sebelah kanan yang retak dan beliau sedikit terguncang.”

Sehun mendengarkan lelaki tua dengan jas putih yang dikenakannya itu dengan baik-baik. Beberapa saat yang lalu pihak Rumah Sakit dimana ia berada sekarang menghubunginya, memberi tahu bahwa Yeon mengalami kecelakaan ringan. Sehun segera melesat mendengar itu dan kini ia hanya bisa memejamkan matanya, berdoa untuk keselamatan Yeon.

“Dimana kau sekarang, Lee Jin?” ucap Sehun selirih mungkin.

Sebelum pihak Rumah Sakit menghubunginya. Sehun mendapatkan telfon dari Lee Yeon, telfon itu hanya berlangsung beberapa detik, hanya terdengar suara Lee Yeon yang merintih dan mengucapkan nama Lee Jin dua kali. Lalu telfon terputus dan membuat Sehun panik.

Kali ini ia benar-benar membutuhkan Jin untuk berada di samping Yeon. Ia tahu bahwa Yeon akan segera mencari Jin seketika ia bangun. Sehun tahu bahwa walaupun Yeon akan mati sekalipun, hal yang ingin selalu ia ketahui pertama adalah Lee Jin. Walaupun Lee Jin tak mengerti akan hal itu namun Sehun mengetahuinya lebih baik daripada siapapun, bahwa Lee Yeon, demi apapun di dunia ini begitu menyayangi adiknya, Lee Jin. Walaupun, kejadian beberapa waktu lalu ketika ternyata Yeon mengetahui bahwa Jin selama ini menyukainya dan memilih untuk pura-pura tak mengetahuinya sedikit membuatnya bingung, namun Sehun memilih untuk percaya pada Yeon, bahwa mungkin ada sebuah alasan yang jelas di balik tindakannya itu.

“Lee Jin, dimana kau sekarang?”

So, how about this chapter, everyone? Terima kasih yang sudah mau menunggu ff ini. Saya seneng banget ada yang bilang nunggu ff ini. This ff isn’t that great but thanks for appreciating my story ❤

Mungkin minggu ini masih bisa nge-post beberapa chapter tapi mungkin minggu depan udah nggak bisa karena mau ujian. Nggak bakal berhenti gitu aja kok. Udah ada pikiran buat endingnya seperti apa.

Comment please and thanks for reading ❤

53 responses to “Vacillate [Chapter 11] – By Isanyeo

  1. Huh… melegakan !!! Ternyata Kai dan Soojin udah END !!! Tapi itu Yeon kenapa bisa kecelakaan gtu ? And ya… aku makin ngerasa srek sama Kai-Jin hihi -,+
    Ditunggu ya next chap’y !!! -,+

  2. Lega bacanya waktu tau Kai ama Soojin ‘udahan’ hahaha. Tp masih ada feeling gimana gitu pas tau kalo Jin ama Kai tuh masih tanpa status, kayak greget? Tapi seru banget jalan ceritanya, walaupun konflik baru meningkat? Hehehe. Ditunggu next chapter ya😉❤

  3. ihiww’-‘)/akhirnya dipost jugaa~~~berasa digantung deh..perasaannya leejin/?ke kai..ato mungkin kai nya yg belom merasa?pdhl udh cium2an._.duh makin penasaran okey.-. keep writing thorr

  4. iya thor aku salah satu orang yg nunggu chap selanjutnya selalu nunggu malah ,, suka banget sama ff ini apalagi pas bagian kai nya 🙂 di tunggu shap selanjutnya nyaa thor , fighting buat ujian nya 😀

  5. hubungan kai soojin berakhir beneran kan? syukurlah.
    yeon baik2 aja kan?
    penasaran kelanjutannya, cepet dilanjutin thor. keep writing 🙂

  6. yey ff yg aku tunggu2 udah keluar… aku makin penasaran nih sama sikapnya yeon dan alasan knapa dia pura2 gatau kalo jin itu suka sama sehun, yaudah gapapa. Jin sama kai aja ya..

    okedeh ditungu bagt ya next chapternya…

  7. q smpet deg”an,q pkir kai dan soojin bkal msh pacaran trnyata mreka putus!!!!!bagus deh,soalnya q dah sreg bgt ama kai-jean..tpi status kai jean msh blum jelas ya..ff km sllu berhasil bkin para readers pnasaran,jdi dtnggu next part ya.fighting cingu!!!!^.^

  8. suka sama jin & kai .eh tapi iya ya mereka ga ada kepastian. buat aku chapter ini ga terduga dan aku suka itu. di tunggu chapter selanjutnya.

  9. akhirnya bisa fokus sama kai-jin + sehun-yeon.
    semoga hubungan kai-jin ada kepastian juga wks
    ditunggu next update nya. ffnya keren sumpah.

  10. entah kenapa aku ngerasa kai cma pgn nglindungin jin doang ya bkan sejenis cinta gitu
    trus aku malah ngerasa yg cinta sama jin itu sehun cma si sehun kyak semacam blm sadar aja.

  11. kok kykny bkalan ad twist yg keren bgt nantinya ya??
    rsa yg jongin puny buat soojin sma kyk perasaan sehun sma yeon,
    dan sma jjuga dgn perasaan jin sma sehun. tpi aduuh bingung jdinya
    keren bgt,,bnyk bgt makna yg bsa diambil, ditungguin next chptrny,,
    keep writing

  12. cepat.. cepat.. cepat.. cepat..cepat di update lanjutannya author. harus cepet. siapa suruh author bikin unpredictable kayak gini? *카이&진을 너무 사랑해* ❤ ❤

    finally no Ahn Soojin anymore *fiuh*
    i'm glad for waiting this story, you must be know that author.

    kai kok ehm- no assurement(?)
    but i like this part. pembawaannya kai bener2 bikin lee jin luluh. setenang air. pingin rasanya kalo di dunia ada sseorang kayak kai gini.
    naturally perfect boy.

    yeon kenapa? sampek retak tulang? plot ini aku suka. kalo biasanya lee jin terbiasa lihat senengnya sehun-yeon. sekarang biar gantian sehun lihat kai-jin.

    next author~

  13. Semoga saja kai tak memberi harapan yang dapat membuat jin sakit dan terluka kasihan dia masih terlalu polos apalagi melihat sehun dan yeon yang akan menikah.
    Next chapternya ya thor

  14. memang kata org dulu cinta gk prlu diucapkn yg penting perhatian & kasih sayang, tp klo kai gk blg cinta, reader mana tau sbrnya perasaan kai kpd jin tu gimna!!
    hubungan jin & kai layaknya hubungan org dewasa , slng nengisi & merasa nyaman akn lbh baik bila mereka brsama smpai menikah. kai akn menunggu jin hingga tamat sekolah, lalu menikah. so sweet… jd ingat kisah cinta tmn aku yg brtunangan sjk 1 SMK , stlh tamat langsung menikah. si cwok nunggu smpe 3 thn demi cinta.

  15. .waaah kukira bakal ada pihak ketiga antara jin dan kai, tp sepertinya tidak… don’t worry, aku selalu nunggu crita kamu koq,, keep writing! di tnggu next chapter..

  16. hmmmm walopun sebenarnya kai masih misterius tpi aku berharap dia gk jahat 🙂
    Yeon masuk rumah sakit? hati2 mrka gk jadi nikah…tpi Sehun masih suka sma Jin gk ya??
    ini makin hari makin penasaran aja tpi aku senang moment kai-jin romantis bgt hahahahah
    next chap^^

  17. makin so sweet wae thor… makin suka deh, akhirnya soojin go away deh. tinggal cinta segiempat blm ktmu jlanny nih

  18. Aaah beneran suka sekali sama kai ya ampun dia itu di gambarin disini bener-bener seolah dia itu laki yg santai,hangat dan pengertian T.T .

    Lee jin kenapa aku iri sama kamu :(((( ,suka banget sama waktu yg dilaluin jin sama kai bener-bener manis T.T.

    Ngomong ngomong kenapa yeon kecelakaan???

  19. Nafas lega jongin sdh putus sama masa lalunya. Sesak lg karena hts sm jin. Dan yeon, get well soon yachhh wkwk

  20. makasih juga buat kakauthor yang udah nyempetin publish nih ff ditengah kesibukan belajarnya semangat ujiannya ya kak 13 14 15 april wish luck {}
    kai itu suka jin gitu ..jin gak pengen kepastian dari kai gitu..yeon kecelakaan gimana…sehun.lu sebenernya milih yeon apa jin ?? yeon aja deh ya biar kai sama jin lu kan gak pekaan hun orangnya lu juga udah mau nikah..masa ya dibatalin cuma gegara pengakuan jin

    uhhhhh lanjut kak ❤

  21. Soojin terobsesi sma Kai, aku kepikiran juga klo Yeon juga terobsesi sma Sehun n jadi deh dia pura” ngga tau klo Jin menaruh hati pda Sehun
    Next ya kak

Leave a Reply to fymaynd Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s