THE PATH OF HEART #1

Path of heart cover #1

The Path Of Heart #1

Deerumni’s Storyline

Cast :

Han Seyeon || Oh Sehun || Xi Luhan

Support cast :  Kim Jongin, Park Chanyeol, and Kim Jongdae of EXO | OC’s Shin Jihee | Song Mino of WINNER | Oh Jungsoo as Sehun&Luhan’s Father | Bae Irene, Son Wendy, and Kang Seulgi of RED VELVET
Genre : School life, Angst, Family, Romance, Comedy
Length : Multi Chapter 
Rating : PG -17 
Disclaimer : All story is mine. Don’t be a sider and plagiator!
Previous >> PROLOGUE

??????????????????????????????????????????????????????????????????

 Real affection is to maintain the condition of our heart as well as possible.

Entry

Seyeon mendorong pintu besar mansion tersebut secara perlahan, sedikit mengintip untuk memastikan ke seluruh penjuru rumah bahwa tidak ada yang melihat keadaannya sekarang. Rambut berantakan, seragam sekolah yang awalnya bersih dan rapi kini dipenuhi dengan tumpahan tepung, kecap, saus, soda, dan semacamnya, ditambah lagi dengan memar di kedua lututnya ini. Ugh, jika ketahuan bisa dipastikan paman Jungsoo pasti akan bertanya banyak hal padanya.

Setelah memastikan tidak ada pelayan yang berlalu-lalang di sekitar sana, Seyeon mulai memasuki rumah. Sedikit berjinjit agar derap langkahnya tak terdengar. Beberapa kali Seyeon bersembunyi di balik pilar ketika mendapati seorang pelayan tengah berjalan disana.

Sampai pada lantai dua, Seyeon menghentikan langkahnya sejenak. Mengatur kadar oksigen yang masuk ke paru-parunya agar dapat kembali bernafas dengan baik. Jangan sampai ia mati kehabisan nafas hanya gara-gara berlarian menaiki tangga tanpa henti, kan tidak lucu. Lagi pula jarak antara tangga dan kamarnya cukup dekat.

“Han Seyeon.”

Glek.

Seyeon meneguk salivanya dengan susah payah, tenggorokannya seakan tercekat. Ia ketahuan. Takut-takut ia menoleh kearah sumber suara. Terlihat Luhan di sana, menatap lurus tanpa ekspresi penampilannya dari atas sampai bawah. Seyeon yang merasa tak enak dipandangi terus menerus hanya dapat tersenyum kaku, berharap saja jika Luhan tidak melaporkan ini pada paman Jungsoo.

“H-hai.”

“…”

Tak ada perkataan yang keluar dari mulut Luhan memang. Tapi Seyeon yakin dari sorot matanya itu, terlihat sekali bahwa Luhan telah bertanya secara tersirat tentang penampilannya malam ini.

“Ah ini, ngg itu..” Seyeon tergagap. Oh bagaimana ini, otaknya bahkan terasa susah sekali merangkai kata-kata yang tepat untuk membuat alasan tentang penampilannya yang mengenaskan disituasi seperti ini saja. Menyebalkan.

“Segera bersihkan dirimu.”

Helaan nafas legah dari Seyeon terdengar cukup keras bersamaan dengan berlalunya Luhan setelah mengucapkan kata tersebut –entahlah, itu tampak terdengar seperti sebuah perintah. Ia seharusnya menduga bahwa Luhan mana mungkin mau memperdulikan orang asing seperti dirinya, tapi kenapa tadi? Tumben sekali.

.

.

.

Dentingan sumpit dan sendok yang beradu dengan sebuah piring terdengar menggema di dalam ruang makan keluarga Oh sekarang. Meja besar itu terlihat sangat menakjubkan dengan hidangan makan malam yang begitu menggiurkan. Satu porsi besar Tuna segar yang berada di tengah-tengah meja, lalu di sebelah kanan dan kirinya terdapat Sushi dan Beef Bourguignon –atau bisa disebut daging sapi panggang ala Perancis,  kemudian di lengkapi dengan Takoyaki dan berbagai macam buah-buahan segar sebagai penutup. Tak lupa jus jeruk dengan campuran madu bunga Heather dari Skotlandia yang menambah kelezatan makanan dan kemewahan suasana.

“Seyeon-a.” Suara berat dari paman Jungsoo membuat Seyeon yang tengah memakan satu potong Tuna segar itu menghentikan aktifitasnya, ia menoleh kepada pria paruh baya tersebut sebelum akhirnya menjawab. “Ne ahjussi?

“Bagaimana sekolah mu hari ini?”

Seyeon terdiam sebentar, berusaha terlihat sebiasa mungkin di depan Jungsoo. Ugh, pertanyaan ini kan sudah biasa dilontarkan oleh pria berhati baik itu dan seharusnya Seyeon juga harus terlihat sebiasa mungkin menjawabnya agar tidak ketahuan.

“T-tentu saja menyenangkan, ahjussi.

Seyeon tersenyum setelah itu. Entah sadar atau tidak, ucapan Seyeon tadi sempat membuat Luhan memperlamban kunyahan di dalam mulutnya. Namun sesegera mungkin ia mengatur ekspresinya seperti biasa. Gadis itu sedikit meringis mendengar ucapannya sendiri, walau sudah 6 bulan tinggal di masion mewah ini. Tetap saja menjawab pertanyaan seperti itu terus-terusan masih terasa berat untuknya.

“Ahh mendengarnya membuatku juga merasa senang. Ca, habiskan makanan mu Seyeon.”

Seyeon hanya bisa mengangguk dan kembali makan dengan hati-hati menanggapi ucapan Jungsoo. Entah mengapa dirinya masih merasa begitu asing ditempat ini. Tempat ini terasa berbeda, walau bahkan tempat tinggalnya yang dulu masih kalah jauh dibandingkan tempat semacam ini, namun setidaknya ia bisa merasakan kehangatan dengan berbagai lelucon disana. Ya. Dulu. Sebelum kejadian badai salju itu menimpa Gwangju, daerah asalnya.

Ah kenapa malah begini? Mereka kan sudah bahagia disana, ibu pasti akan sangat kecewa jika melihatku seperti ini, gumam Seyeon dalam hati.

“Tadi siang kepala sekolah Choi melaporkan pada ayah bahwa 3 bulan terakhir ini kau semakin sering membolos. Kemana saja kau Oh Sehun? Masih ingin menyia-nyiakan hidup?”

Suasana ruangan yang tadi hening dan santai kini terasa menegangkan. Aura kemarahan perlahan-lahan terlihat jelas dari wajah pemuda itu –Sehun meletakkan sumpit di atas meja makan berlapis kaca itu dengan cukup keras, hingga tak pelak menimbulkan suara dentaman nyaring yang menggema di sekitar ruangan besar tersebut.

“Lalu apa masalah mu?”

Jungsoo menarik nafas dalam, berusaha setenang mungkin menghadapi sifat pembangkang putranya yang satu ini. Ia menatap mata tajam Sehun lekat sebelum kembali berbicara lagi. “Tidak bosan menyia-nyiakan hidup? Apa balap liar begitu bermanfaat untuk mu?”

Sehun terkekeh sinis. “Kau tidak berhak mengaturku. Urusi saja mereka dan jangan pedulikan aku.” Ucapnya kemudian, bangkit dari tempat duduknya sembari mengambil jaket kulit yang tergantung pada sandaran kursi.

“Seharusnya aku pulang larut seperi biasa, terus-terusan berada disini membuat ku sangat tidak nyaman.”

Jungsoo menatap nanar punggung Sehun yang berlalu. Tidak ada yang berubah. Sebesar apa pun perhatian yang ia tunjukkan pada pemuda itu, tetap saja tidak dapat mengubah pemikiran Sehun terhadap dirinya. Ya, dia mengerti dan memaklumi.

Seyeon merapatkan giginya tegang. Sejak tadi, diam-diam ekor matanya melirik kedua putra Jungsoo yang berada di depannya secara bergantian. Luhan, sang kakak yang seharusnya bisa menjadi penengah pertikaian ini pun nampak terlihat biasa saja. Lalu Sehun –ugh, Seyeon sudah tak habis pikir lagi dengan kelakuan pemuda itu. Padahal paman Jungsoo begitu baik dan penyayang pada mereka semua.

Tapi kenapa? Semuanya terlihat begitu dingin satu sama lain, tidak peduli, dan mereka terasa jauh. Sungguh, Seyeon tidak mengerti dengan keluarga ini. Padahal jika bisa dikatakan, mereka semua terlihat begitu sempurna di mata orang-orang luar.

“Luhan-a, duduklah disini dulu. Ada yang ingin ayah bicarakan padamu.”

Suara berat tersebut membuyarkan pemikiran Seyeon, pria paruh baya itu sekarang menatap putra pertamanya. Luhan yang sekarang hendak berdiri, menyudahi makan malamnya yang masih tersisa.

“Jika ayah berbicara hanya untuk menyuruhku pergi ke sekolah bersamanya, sudah pasti aku tidak akan bisa.” Ucap Luhan dengan nada monoton seperti biasa, lelaki itu mulai beranjak lagi. Tak menghiraukan perkataan sang ayah padanya.

Jungsoo mendesah pasrah, begitu sulit membuat keadaan menjadi lebih baik. Bahkan untuk membuat Seyeon merasa nyaman berada di mansion ini saja susah sekali rasanya.

Merasa ditatap iba oleh Jungsoo, Seyeon tersenyum maklum. “Ahjussi  tidak perlu menyuruh Luhan untuk menghantarku ke sekolah terus-terusan, ini sudah 6 bulan dan lagi pula aku sudah terbiasa menaiki bus ke sekolah kok.”

“Tapi paman sudah banyak berhutang budi pada ayah mu dan paman rasa ini belum seberapa untuk menebus kebaikan ayah mu, Seyeon.”

Seyeon kembali tersenyum, senyum tulus seperti biasa. “Bagiku ini sudah lebih dari cukup ahjussi, kau memberiku tempat tinggal yang begitu luasnya dan jujur itu semua membuatku merasa tersanjung. Lagi pula yang membantu paman adalah ayah saya, bukan saya.”

Jungsoo tertegun. Gadis ini… hatinya begitu baik dan tulus. Persis sama seperti kedua orang tuanya dulu. “Melihatmu seperti ini, membuat ku teringat akan mendiang Seungwoo dan Hera. Sifat mu persis sama seperti kedua orang tua mu Seyeon.”

Mendengar Jungsoo menyebutkan kedua nama mendiang orang tuanya, tiba-tiba saja membuat mata Seyeon memanas. Ingin menangis. Apa lagi saat ia kembali teringat tentang masa-masa menyenangkan bersama mereka. Keluarganya.

Jungsoo yang melihat perbedaan dari raut wajah Seyeon, merasa tak enak dengan perkataannya barusan. Bagaimana pun, kejadian enam bulan silam yang telah merenggut nyawa kedua orang tua Seyeon sekaligus sahabatnya memang meninggalkan luka yang begitu mendalam, terutama bagi seorang gadis remaja seperti Seyeon.

“Oh mianhae Seyeon-a. Paman tidak bermaksud untuk mengingatkan mu –“

“A-ah tidak ahjussi… lagi pula bencana itu terjadi karena kehendak Tuhan. Eomma appa.. aku yakin mereka sudah berbahagia disana.” Tutur Seyeon sopan –sebelum kembali menyantap makan malamnya– tersenyum dengan mata berseri, walau tetap terbesit sebuah kesedihan disana.

Tentu saja Jungsoo dapat menangkapnya. Gadis itu… walau terlihat ceria tetapi menyimpan kedukaan yang menghujam tentang kejadian yang menimpa keluarganya.

.

.

.

Pagi yang cerah menghiasi sepanjang jalanan kota, tak henti-hentinya Seyeon bersenandung kecil baik saat berada di bus atau pun ketika dirinya telah turun dari sana. Dengan menenteng ransel coklatnya, gadis bersurai hitam panjang itu terlihat menikmati udara musim semi yang masih melanda Seoul beberapa hari ini.

Tak lupa sebelum memasuki gerbang Cheonshim High School, Seyeon menyempatkan diri untuk menyapa beberapa satpam sekolah yang berada disana. Salah satunya Kang Hodong, satpam yang telah hampir sepuluh tahun bekerja disekolah ini memang begitu mengagumi sosok salah satu murid yang duduk dibangku kelas 2 Cheonshim itu. Mengingat sudah betahun-tahun lamanya ia bekerja, namun baru kali ini ada seorang siswa yang tanpa malu-malu menyapa para satpam di pagi hari. Sungguh mengagumkan.

Sesampainya di dalam kelas, Shin Jihee –seorang gadis berkacamata tebal dengan rambut yang dikepang dua menyapa Seyeon dari tempat duduknya. Seyeon jelas langsung menanggapi. Jihee –satu-satunya sahabat sekaligus teman sekelasnya ini memang terlihat berbeda dari siswa lainnya.

“Kau baik-baik saja? Kenapa kau tak menjawab panggilan ku tadi malam? Apa mereka melakukan sesuatu lagi eo?”

Seyeon menggeleng pelan sembari terkekeh kecil, benar dugaannya. Pasti Jihee langsung mencecarnya dengan berbagai macam pertanyaan, padahal belum sampai satu detik ia duduk dibangku kelas. “Ya tentu aku baik-baik saja, sudahlah Jihee-ya kau tak perlu cemas begitu.

Jihee mendesah pelan mendengar ucapan Seyeon, sahabat satu-satunya ini. “Eiy.. berhenti berkata aku baik-baik saja. Tadi malam kau tidak menjawab telpon ku, kau pasti sedang dikerjai lagi oleh ketiga rubah sok populer itu kan?”

Seyeon kembali terkekeh kecil, berusaha mencairkan suasana. “Sudahlah tidak usah dibahas lagi, sekarang aku juga sudah baik-baik saja.”

“Jujur saja, aku heran padamu. Kenapa kau tidak melaporkan semua perlakuan mereka pada Jungsoo sajangnim? Bagaimana pun dia kan pemilik sekolah ini dan dia telah menjadi wali mu juga, mau tak mau dia juga harus tau Seyeon.”

Seyeon memukul pelan lengan Jihee. Bagaimana bisa gadis di depannya ini bisa berucap begitu enteng? padahal melakukan itu semua kan tidak mudah. Dasar.

“Aku hanya tidak ingin membuatnya khawatir. Dia sudah begitu baik, memberikan ku banyak fasilitas mewah dan aku tidak mungkin melaporkan hal kecil ini mengingat betapa sibuknya paman Jungsoo.”

Jihee menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan jalan pikiran Seyeon yang sebegitu polosnya. “Tapi kan Seyeon, hidup mu sudah cukup sulit dengan kejadian-kejadian ini. Jadi apa salahnya kan kau memberitahukan apa yang terjadi? Atau biarkan aku saja yang mem–”

“Kau ini! berhenti bicara yang tidak-tidak. Ah, sudahlah kenapa kita malah membahas ini.” Seyeon memotong ucapan panjang Jihee cepat. Tertawa ringan. Berusaha mengalihkan pembicaraan.

Tak lama berselang, suara bel terdengar beriringan dengan masuknya Cho Kyuhyun–guru Matematika berparas tampan yang mengajar dikelasnya–dengan membawa beberapa lembar kertas dan tas kerja di tangan kanan dan kirinya.

Jihee yang hendak berbicara langsung membungkam mulutnya, memutar tubuhnya kearah depan –sambil mencibir tak suka akibat bel yang berbunyi disaat yang tidak tepat. Sedangkan Seyeon yang duduk di belakangnya hanya dapat tertawa tanpa suara.

“Baiklah, ku harap kalian semua tidak lupa jika aku akan mengadakan tes pagi ini.”

Suara desahan berat terdengar riuh di dalam kelas kala guru berbadan tegap itu mengucapkan satu kalimat. Tes? Itulah hal yang paling ditakutkan oleh seluruh siswa. Bagaimana bisa mereka langsung diberikan tes hitung menghitung pagi-pagi begini?

“Saya akan membagikan kertas ini dan saya harap kalian dapat mengisinya dengan benar.” Lanjut guru Cho sembari membagi-bagikan satu lembar kertas di setiap meja siswa.

Oh, jangan tertipu dengan paras tampan guru ini. Sifat tegas dan tidak membeda-bedakan siswa satu dengan siswa lainnya ini telah sukses membuat Cho-songsaenim masuk ke dalam salah satu list guru yang paling ditakuti oleh seluruh siswa Cheonshim.

Matanya memicing pada salah satu meja tak berpenghuni yang bertengger di bagian pojok kelas, kilat-kilat tajam tergambar jelas disana. Para siswa yang melihatnya hanya dapat diam tanpa suara. Apalagi sekarang masalahnya jatuh pada orang yang sama. Yah… Seperti biasa.

“Kim Jongin, Park Chanyeol.”

“Ya saem?”

Kedua pria yang dipanggil menyahut bersamaan. Menjawab dengan tegang dan keras, walau ketakutan terpancar jelas di wajah keduanya.

“Aku tidak mau tahu, kalian bawa anak itu kesini sekarang. Jangan kembali sebelum teman kalian ditemukan.”

Sejurus setelah guru Cho memerintahkan Kai dan Chanyeol, pintu kelas tiba-tiba saja terbuka lebar. Memunculkan sesosok lelaki berpenampilan jauh dari kata rapi. Seragam sekolahnya keluar tak beraturan dengan dua kancing baju dibagian atas yang terbuka, posisi jas yang di pakai asal-asalan, dan lihat saja rambut hitamnya yang sangat acak-acakan itu. Persis seperti habis bangun tidur. Namun begitu, tetap saja tak dapat menurunkan kadar ketampanan pria yang masih setia bersandar pada badan pintu yang terbuka disana.

Suasana kelas menjadi semakin tegang. Hening sekali. Guru Cho memandangi salah satu muridnya itu tajam seolah dapat menyileti siapa pun siswa yang menatap matanya saat ini. Sehun yang menjadi sasaran utama malah terlihat biasa saja, tak ada raut wajah takut sama sekali yang tergambar disana. Hanya ekspresi wajah santai tanpa beban.

Jongin dan Chanyeol yang baru saja menghela nafas legah mendadak kembali tegang secara bersamaan. Pasalnya, sahabat mereka satu itu begitu nekad bahkan brutal, dan pastilah bayangan-bayangan perdebatan sengit antar siswa dan guru pun sudah memenuhi pikiran-pikiran mereka.

“Setelah membuat banyak masalah, kau masih bisa masuk dengan ekspresi seperti itu Oh Sehun.” Ucap guru Cho pada akhirnya setelah menatap sengit Sehun beberapa detik.

“Baiklah aku pergi.”

Sehun berucap dan langsung melenggang begitu saja. Guru Cho lantas membelalak kaget –tak habis pikir melihat kelakuan Sehun yang semakin lama semakin tak tahu aturan seperti ini. Semua siswa yang berada dalam kelas pun begitu, termasuk Seyeon yang sejak tadi diam membisu dengan sorot mata yang tak pernah lepas dari sosok Sehun.

“Cepat kerjakan soal kalian dan kalian berdua. Kim Jongin, Park Chanyeol. Cepat bawa anak nakal itu kemari!”

Dan pada akhirnya, baik Jongin maupun Chanyeol masih harus keluar mencari Sehun si keras kepala itu di luar kelas, meninggalkan nilai tes mereka yang malang.

.

.

.

Lima jam telah berlalu, para siswa Cheonshim High School tampak berbondong-bondong menikmati jam istirahat mereka dengan mengunjungi Cafetaria sekolah. Terlihat Luhan bersama Kim Jongdae–sahabat karibnya–tengah menikmati makan siang di salah satu meja.

Tak ada candaan atau pembicaraan apa pun diantara keduanya –oh tidak juga–mungkin hanya Jongdae saja yang sejak tadi terus berceloteh panjang lebar kepada Luhan yang hanya di tanggapi dengan sebuah gumaman singkat.

“Oh Luhan, coba kau lihat disana. Dia Seyeon bukan?”

Luhan menoleh sekilas, mengangguk sebelum akhirnya kembali memakan santap siangnya lagi. Jongdae tersenyum, mengangkat tinggi tangannya sebelum memekik. “Seyeon-a! Disini!”

Seyeon yang berdiri disana sontak merasa terpanggil, menengokkan kepala mencari asal suara. Oh disitu ada Jongdae, sepertinya sunbaenya itu menyadari sudah tak ada lagi dua bangku tersisa selain ditempatnya. “O, sunbae?”

“Makanlah disini!”

Seyeon tampak ragu-ragu. Membuat Jihee yang baru saja datang membawa nampan menatapnya heran, “Hey, kau kenapa?”

A-ani. Hanya saja…”

“Wah coba lihat itu! Jongdae sunbae melambai-lambaikan tangannya padamu, hm… sepertinya dia sedang menawarkan mejanya.”

Ya ampun. Ternyata Jihee menyadarinya juga. Oh, bukannya Seyeon tidak senang ketika Jongdae menawarkan meja makan untuknya. Hanya saja… disana ada Luhan dan yang pasti laki-laki itu tidak menyukai kehadirannya.

“Ayolah Seyeon, aku tak ingin mati kelaparan disini.”

Mau tidak mau Seyeon mengangguk dan mulai berjalan membawa nampan menuju meja tersebut. Benar juga apa kata Jihee, bagaimana pun yang terpenting sekarang adalah isi perutnya yang sudah meronta ingin diberikan asupan makanan sekarang ini.

Susah payah Seyeon melangkah. Menghirup nafas lamat-lamat sebelum menghembuskannya lagi, berusaha menghilangkan rasa takutnya pada Luhan. Ya, dari pada harus mati konyol karena kelaparan lebih baik seperti ini.

“kalian duduklah, tidak usah sungkan pada ku.” Jongdae tertawa di akhir kalimatnya, cukup untuk membuat beberapa sisa nasi di dalam lidahnya terlihat. Sedangkan Seyeon dan Jihee hanya tersenyum canggung sembari duduk di dua kursi yang tersedia disana.

Gomawo sunbae.” Seyeon berucap pelan, sambil sesekali melirik Luhan yang dengan tenang memakan santap siangnya. Apa mungkin lelaki itu tidak melihatnya? Pikir Seyeon asal, namun langsung menggelengkan kelapanya cepat.

Jongdae kembali tertawa renyah, menyerup Lemonade pesanannya sejenak sebelum berbicara lagi. “Naver mind, kau tidak usah canggung begitu Seyeon. Aku tahu Luhan juga tidak akan keberatan, bukan begitu o?” Pria itu menyikut lengan Luhan yang tak mendapati respon apa pun, kemudian melebarkan senyum pada Seyeon.

“S-seyeon-a..”

Seketika Seyeon –bahkan Jongdae juga ikutan tersentak begitu mendengar Jihee yang tiba-tiba saja memanggilnya dengan suara tersendat dan peluh yang entah sejak kapan membasahi wajahnya sembari meraba-raba kantung seragam sekolahnya. Lantas saja Seyeon menatap cemas sahabatnya itu, “Jihee-ya kau kenapa?”

“Bisakah kau bawakan aku obat?” pintah Jihee tersenyum penuh arti di akhir kalimatnya.

Obat? Seyeon mengendus, dia mulai lagi. Harusnya ia bisa menebaknya tadi.

.

.

.

Ruang kepala sekolah ini terasa amat sangat membosankan bagi Sehun, sedari tadi ia hanya terus-terusan mendengar ucapan-ucapan panjang dari Choi Siwon –kepala sekolah Cheonshim. Jika saja kedua temannya ini tidak menyeretnya mati-matian seperti buronan tadi, mungkin sudah dipastikan Sehun telah lama kabur.

Tapi karena mereka berdua, dirinya harus terpaksa seperti ini. Terkurung bak buronan yang harus dijaga ketat dan mendengar celotehan panjang dari dua pria tua sekaligus. Pertama guru Cho dan sekarang kepala sekolah Choi juga ikut-ikutan menceramahinya. Yah, beruntunglah Kai dan Chanyeol sudah bersahabat lama dengan Sehun sehingga lelaki itu masih mempunyai sedikit hati untuk tidak memecahkan kepala besar mereka berdua habis-habisan.

“Oh Sehun, kau dengar itu?!”

Sehun mendecih pelan, menatap malas kepala sekolah Choi yang sudah naik pitam menasehatinya. Oh geez. Percuma saja, Sehun bahkan tidak mendengarkan satu kata pun apa yang keluar dari mulut pria tambun itu dari awal.

Lagi-lagi kepala sekolah Choi harus kembali mengontrol kadar kesabarannya melihat reaksi yang diberikan Sehun. Menarik nafas pelan-pelan, meneguk segelas kopi hitam, lalu menghembuskan nafasnya lagi sebelum kembali berbicara.

“Baiklah, tidak ada gunanya aku berbicara panjang lebar di hadapan mu. Namun perlu kau ketahui Sehun. Sifat mu yang semakin berandalan seperti ini malah akan semakin membuat ayahmu memintaku untuk semakin sering mengawasi dirimu.”

“Meminta mu?” Sehun terkekeh sinis. “Apa sebegitu kayanya dia sampai kau menuruti semua permintaannya?”

“Sehun-“

“Dia hanya akan benar-benar peduli kepada anaknya.”

“Sehun-“

“Dan aku bukan anaknya.” Sehun bangkit, sedikit membenarkan celana sekolahnya, lalu melenggang begitu saja. Tak mengindahkan suara kepala sekolah Choi memanggil namanya berulang-ulang.

Bahkan kedua sahabatnya –Jongin dan Chanyeol yang tadi masih berada disana untuk memastikan Sehun tidak kabur juga ikut-ikutan memanggil sekaligus mengejarnya. Sehun tentu saja tak mengubris, ia benar-benar merasa malas untuk sekedar berbicara saat ini. Mood-nya telah hancur. Ucapan pahit itu membuat perasaannya semakin terasa menyakitkan.

Dan aku bukan anaknya?

Seyeon tersentak, ucapan yang dikatakan Sehun… dia sungguh tidak mengerti. Oh jangan heran kenapa gadis itu tiba-tiba bisa mendengarnya, karena sejak tadi ia sudah mendengar mungkin tiga puluh dari seratus persen isi dari percakapan antara Sehun dan kepala sekolah Choi. Yah, tepat saat ia baru saja keluar dari Cafetaria dan berjalan menuju ke kelasnya bermaksud  untuk mengambil sebuah kotak berisi coklat –yang Jihee bilang adalah sebuah ‘obat’ itu–dari dalam tasnya.

Dia paham betul jika sahabatnya pasti akan seperti ini lagi ketika berada di dekat Jongdae yang sejatinya adalah orang yang dikagumi Jihee. Jujur saja, Seyeon sempat tak mengerti kenapa perempuan berkacamata besar itu selalu memakan coklat yang katanya adalah obat penetral detak jantung saat ia melihat Jongdae. Yang benar saja, memangnya ada obat seperti itu?

Oh lupakan soal Jihee dan penetral detak jantungnya itu. Yang jelas sekarang Seyeon seakan tengah berada dalam puncak keheranan tertinggi kala suara Sehun pada kepala sekolah Choi terus terngiang-ngiang di otaknya. Berkali-kali Seyeon menepuk-nepuk pipinya, berharap jika ia sedang bermimpi. Namun rasanya tetap sama, sakit.

“Apa mungkin aku saja yang salah dengar ya? –aw.”

Seyeon menjerit namun tertahan ketika bahunya tanpa sengaja mengenai sebuah lengan besar milik seorang pria. Ia mengaga, matanya membesar seakan ingin keluar tatkala ia menyadari bahwa kini Sehun sudah berada di depannya.  Pria itu menggeram, melirik Seyeon tanpa minat sebelum berlalu pergi.

Jongin dan Chanyeol terlihat baru saja keluar sambil meneriaki nama Sehun berkali-kali. Langkah besar mereka terhenti kala menyadari Seyeon disana, berdiri di balik pintu ruangan kepala sekolah bak sebuah patung bernafas.

Gwaenchana?” tanya mereka serempak. Seyeon terkesiap, kembali tersadar atas lamunan singkatnya. Sesegera mungkin ia berlari tanpa mengubris pertanyaan keduanya, seolah telinganya kini hanya dipenuhi oleh perkataan singkat Sehun.

Dan aku bukan anaknya…

Apa mungkin Sehun… tidak tidak, mana mungkin. Seyeon tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya ketika hal yang tak masuk akal terbesit dibenaknya.

Sedangkan Jongin dan Chanyeol yang masih berdiri disana membatu, begitu heran melihat reaksi teman sekelas mereka yang terkesan aneh. Keduanya bertatapan satu sama lain sebelum menatap punggung gadis itu kembali.

“Dia kenapa?”

“Entahlah.” Chanyeol menggeleng, “Apa jangan-jangan dia melihat hantu?” Lanjutnya seraya melihat-lihat ke seluruh penjuru koridor sekolah dengan raut wajah ketakutan.

“Mana ada hantu disiang hari bodoh.” Balas Jongin disertai satu pukulan telak yang berhasil mengenai kepala Chanyeol. Sedangkan Chanyeol –pria jakung itu menatap Jongin garang yang malah dibalas dengan kikikan geli oleh Jongin.

“YA! KIM JONGIN! KAU INGIN CARI MATI RUPANYA!”

.

.

.

Angin malam berhembus kencang, hiruk pikuk pengendara motor menghiasi sepanjang arena pertandingan balap ilegal di kawasan Sangbong, Jungnang-gu. Tak ingin disusul sang lawan, Sehun yang berada pada barisan paling awal terus melaju dengan kecepatan kencang bersama motor sportnya. Lalu kemudian di ikuti Jongin, Chanyeol, dan beberapa para peserta lainnya yang berada di barisan belakang. Masing-masing dari mereka saling bertantangan. Tak ingin tertinggal dan ingin merebutkan posisi juara.

Sampai pada motor Sehun yang telah menginjak garis finish pertama kali–kemudian disusul oleh Jongin, tiga pemain lain, lalu Chanyeol dan peserta lainnya–membuat suara riuh semakin terdengar di tengah hingar bingar kegelapan malam.

“Wohoo bravo! Sehun kau menang lagi, sepertinya kau memang tak bisa terkalahkan eo?” Jongin bertepuk tangan. Disusul Chanyeol yang baru saja turun dari motor sportnya, menghampiri Sehun.

Lelaki jakung itu pun ikut menimpali, mengapit leher Sehun dengan kedua lengannya sebelum mengeluarkan suara. “Ingin kau apakan dengan uang sebanyak itu Sehun? Kau tidak pernah mentraktir kami! Payah sekali.”

Sehun menyeringai, ia menatap amplop coklat yang baru saja diberikan padanya dengan kilat bahagia. “Bersenang-senang, membeli banyak bir, kalian pikir apa lagi?”

Jongin dan Chanyeol melotot, menyikut lengan Sehun berasamaan ketika mendengarkan hal yang dikatakan oleh lelaki urakan itu. “Ya ya! kau ingin mati muda? Kemarin kau sudah meminum 3 botol bir dan sekarang kau mulai lagi.” Ucap Jongin disertai dengan gelengan ringan.

Sehun mendecih tak peduli. Masa bodoh. Yang terpenting dirinya bisa merasakan kesenangan. Berbalap, menang, uang, dan semua itu membuat ia setidaknya masih dapat merasakan kesenangan. Ya, kesenangan yang walau hanya terasa sesaat saja.

“Oh Sehun.”

Sebuah suara berhasil mengintrupsi percakapan ketiganya. Sehun yang merasa namanya terpanggil, menoleh. Menatap tajam penuh keheranan ke arah pria itu –pria yang terlihat mengerling dibalik helm hitam yang dikenannya dan menatap Sehun penuh jenaka.

“Dia siapa?”

“Entahlah. Tapi kurasa dia tidak mengikuti pertandingan. Melihat motor yang ia kenakan, sepertinya dia baru saja datang.”

“Atau mungkin dia anggota baru?”

Jongin dan Chanyeol terlihat sibuk berbisik satu sama lain mengamati orang asing di depan mereka, walau setiap pasang mata yang berada di sekitar arena balap ini tampak lebih memilih diam tak bersuara.

“Oraenmaniya, chingu.”

Pandangan Sehun semakin menajam tatkala pria itu melepas helm hitam dikepalanya, mengangkat setengah alisnya sembari tersenyum miring kearah Sehun yang terlihat menahan emosi. Jongin dan Chanyeol terlihat shock dengan mata menajam, tak kalah tajam dengan Sehun. Semua orang tersentak. Berbondong-bondong berbisik, menatap ke-empat orang itu penuh minat dan harap-harap cemas.

“Bagaimana kabar keluarga mu tercinta? Apa ibu mu baik-baik saja? Oh mian, aku lupa kalau kau sudah tidak punya ibu.” Pria itu tertawa ringan sekali, tak menghiraukan tatapan Sehun yang semakin menusuk padanya.

“Oh Sehun. Astaga! Apakah aku harus memanggil mu dengan marga itu?”

Sehun mengumpat kasar, amarahnya menyulut tak tertahankan. Pandangannya benar-benar sangat tajam. Ia turun dari motor sportnya dengan nafas membara seakan ingin meledak, mengeraskan gempalan tangannya dengan wajah memerah seolah tengah terbakar api.

Holy shit! Song Mino!”

Bugh.

Tanpa ampun Sehun langsung melayangkan pukulan bengis kearah pemuda itu. Suasana area balap mendadak menjadi ricuh akibat pertengkaran yang ditimbulkan Sehun pada pemuda di depannya. Jongin dan Chanyeol berlari panik, berusaha memisahkan Sehun yang begitu emosi dengan Mino. Namun tetap saja mereka tidak bisa menghentikan lelaki itu dengan mudah. Bagaimana pun tenaga Sehun cukup kuat.

. 

.

.

Derap langkah yang beradu dengan lantai marmer menggema di sepanjang koridor Cheonshim. Tak peduli dengan peluh yang hampir membasahi kemeja sekolahnya, Seyeon terus mencoba berlari kencang secepatnya untuk meninggalkan sekolah ini. Kecemasan semakin melanda tatkala sebuah langkah lain mulai jelas terdengar di indra pendengarannya. Langkahnya terhenti dengan nafas tersengal-sengal, mencoba berpikir. Karena dengan tenaga yang hampir habis seperti ini, sangat tidak mungkin jika dirinya bisa berlari dengan cepat lagi sedangkan langkah ketiga gadis itu kian terdengar semakin dekat.

“Nah Han Seyeon, mau kemana lagi ka- ya! kemana gadis sialan itu!”

Irene berucap kesal seraya berkacak pinggang penuh amarah. Kedua rekannya pun –Son Wendy dan Kang Seulgi– terlihat sama. Mata mereka menyusuri setiap sudut koridor dengan teliti, namun perempuan itu tak kunjung terlihat. Oh ya, mungkin karena intensitas cahaya yang mulai memudar seiring berjalannya malam membuat penglihatan mereka menjadi sedikit menurun.

“Apa mungkin dia berada disana?”

Wendy berujar, matanya tampak memandang salah satu ruang penyimpanan yang berada di bagian koridor paling ujung dari tempat mereka berdiri. Irene dan Seulgi tampak ikut mengamati objek yang dimaksud Wendy lalu mencibir tak yakin.

It’s Impossible. Seluruh ruangan sudah terkunci rapat, jadi mana mungkin dia berada disana.” Seulgi menyela seraya tertawa rendah. Wendy mengangguk, benar kata Seulgi.

“Tunggu dulu, ada baiknya jika kita periksa tempat itu.” Irene memicing curiga ketika sebuah bunyi terdengar samar-samar dari sana, kedua bola matanya melihat-lihat koridor, menaikkan satu alisnya seraya menyeringai jahat. Sekarang kakinya mulai melangkah kecil, memeriksa salah satu ruangan tersebut dengan penuh keingintahuan. Namun sayang, niatnya terpaksa harus terhenti kala kedua mata jelinya mendapati Kang Hodong –salah seorang satpam yang terlihat sedang menuju kemari dengan sebuah senter ditangannya. Irene mengumpat geram, berusaha meredam amarahnya. Dasar satpam gendut sialan.

“Baiklah kita pergi. Kali ini dia bisa aman, namun besok akan ku pastikan si perempuan sialan itu tidak akan bisa lolos lagi.” Gadis itu bergumam penuh emosi. Menjentikkan jemari tangannya –sebagai isyarat kepada kedua rekannya untuk segera pergi dari tempat ini.

Seyeon mendesah panjang ketika suara hentakan alas sepatu dengan lantai marmer itu terdengar berangsur mengecil. Tersenyum legah sekali saat tubuhnya telah keluar dari dalam ruangan. Oh Tuhan… hampir saja dirinya harus kembali menjadi bulan-bulanan ketiga gadis itu lagi. Sungguh, dia benar-benar berterima kasih pada ruang penyimpanan ini karena belum terkunci dan pak Hodong yang ternyata masih berada disekitar sini. Dia selamat.

Agasshi. Kenapa anda belum pulang? Padahal hari sudah larut.”

Seyeon tergelak ketika tiba-tiba pak Hodong menepuk punggungnya dari belakang, bertanya dengan raut wajah bingung dengan kerutan yang tergambar jelas di dahi besarnya.

“I-itu aku… Oh astaga! Sudah jam 11 malam. Aku harus bergegas pulang sebelum paman Jungsoo mencariku. Sampai jumpa besok Hodong kyong-bi!”

Melihat gelagat Seyeon, Hodong hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Dasar anak muda, selalu saja bersikap aneh. Ia membatin sebelum mengunci ruang kosong yang baru saja menjadi tempat persembunyian Seyeon tadi.

Setengah jam sudah Seyeon duduk termangu di dalam halte bus, menatap jalanan yang sudah sedikit lengang dengan pandangan sendu. Mungkinkah ia harus tidur disini sendirian? Mengingat bus terakhir yang sudah lewat satu jam lalu, sangat tidak mungkin jika sudah hampir tengah malam seperti ini masih ada bus yang beroperasi. Apalagi jarak antara sekolah dan mansion keluarga Oh cukup jauh, bisa dibayangkan seberapa jauh kakinya harus melangkah menuju rumah besar itu.

Angin malam mulai menyentuh kulit putihnya yang dilapisi oleh baju dan jas sekolah. Dengan gerakan spontan, Seyeon langsung menggosok-gosokan kedua lengannya. Berusaha menghangatkan tubuhnya sendiri dari dinginnya udara malam.

Ia terkekeh pilu. Baterai ponselnya habis dan ia tidak bisa menghubungi siapa-siapa. Nasib buruk seolah tidak pernah sudi untuk berhenti menghampiri kehidupannya, dan sekarang perutnya terasa lapar. Ugh, miris sekali.

Tak lama, bunyi sebuah klakson terdengar dan sontak saja membuat Seyeon terperanjat dari tempat duduknya. Matanya membesar sempurna ketika mendapati sebuah Maybach Landaulet berhenti di depan halte bus, lalu kemudian menyipit kecil mengamati mobil mewah tersebut.

Sepertinya aku pernah melihat mobil ini, tapi dimana ya? Ia bergumam pelan. Masih terus mengamati dengan teliti, mengingat-ingat namun tidak ada hasil. Pikirannya seolah telah buntu akibat ucapan singkat Sehun kepada kepala sekolah Choi tadi siang.

Oh… berbicara soal Sehun dan kepala sekolah Choi, membuat rasa penasarannya kembali muncul. Ia bahkan melupakan soal mobil mewah yang bertengger di depannya ini. Ingin rasanya ia bertanya kepada Sehun –tidak, tidak. Dia saja tidak pernah bertegur sapa dengan lelaki itu, apa lagi harus bertanya. Mungkin paman Jungsoo bisa…

Seyeon terperanjat lagi untuk kedua kalinya, suara klakson itu kembali terdengar. Membuyarkan lamunannya dan menatap aneh kearah mobil mewah tersebut. Jendela terbuka dan betapa kagetnya dia ketika disana, Luhan. Menatapnya datar dari dalam mobil.

Seyeon mengerjap tak percaya. Jangan sampai ia berhalusinasi tak jelas malam-malam begini. Tidak. Tidak mungkin, sepertinya ada yang bermasalah dengan indra penglihatannya.

Luhan terlihat tak tahan, ia langsung keluar dari dalam mobilnya dan meraih tangan Seyeon cepat. “Masuklah ke mobil.”

Mwo?”

“Ayah mencemaskan mu dan menyuruhku mencari mu, kau ini selalu saja merepotkan.” Luhan berucap dingin, memandang Seyeon yang kini tengah menunduk malu. “Mianhae…”

“Sudahlah, masuk ke mobil.”

Tanpa menunggu balasan dari Seyeon, Luhan langsung menggenggam tangan Seyeon. Membawa gadis itu untuk segera masuk ke dalam mobilnya. Seyeon masih termangu, antara merasa janggal sekaligus tak percaya atas sikap Luhan padanya. Pria ini… mengantarnya ke sekolah saja tidak sudi, tapi malam ini kenapa dia mau menuruti perintah paman Jungsoo untuk mencarinya? Padahal jika di pikir-pikir kan bisa saja paman Jungsoo menyuruh supir lainnya.

“Berapa lama lagi kau akan berdiri disitu.”

Seyeon terkaget lagi kala mendengar nada suara Luhan yang terkesan dingin. “O-oh ya.” Ia mengangguk berat sebelum memasuki mobil, sedikit ragu. Pasalnya, ini adalah kali pertama Seyeon masuk ke dalam mobil Luhan yang mungkin saja sekarang pria itu sedang menahan kamarahan karena sudah berani menaiki mobil mahal ini dengan seragamnya yang sudah dipenuhi bekas keringat.

Disisi lain, sepasang mata mengamati kejadian di depannya dengan tatapan membara. Tangannya memegang kuat-kuat rok sekolahnya, berusaha meredam rasa panas yang menggelayuti dadanya. Giginya bergematuk tak suka dan penuh benci.

“Han Seyeon. Kau benar-benar.”

To be continued. . .

Hi! Annyeong! Anybody’s here? Ada yang udah kenal aku? GAK  Oke aku bakalan perkenalin diri dulu. Aku Deerumni 98’ line kalian bisa panggil aku rumni atau apalah terserah yang penting enak dipanggil –hah?- Aku salah satu author baru di SKF ini sekitar udah dua minggu yang lalu-an lah. Dan kembali dengan membawa part 1-nya setelah kemaren sempet membawa sebuah prolognya yuhuu.

Yah walau aku tau respon di prolognya gak begitu banyak tapi aku masih nyoba buat yang #1. Tapi untuk yang kali ini, kalo responnya masih gitu-gitu aja yah… terpaksa gak aku lanjutin 😦 karena jujur aja bagi aku yang sejatinya adalah seorang author amatiran yang masih belajar untuk menulis dengan baik dan benar, amat sangat membutuhkan respon kritik dan saran dari kalian semua tentang ff ku ini. Jadi aku mohon bgt buat kalian yang udah baca agar bisa menyempatkan diri meninggalkan jejak satu/dua kata deh yaah, minimal komennya 30-an keatas biar aku semangat nulis kelanjutannya 🙂

Oke sekian ucapan panjang lebar ku yang aku tahu pasti kalian pada ngantuk bacanya yakan yakann? HOHO. Ditunggu kritik sarannya  and see you di next part atauuu… tidak sama sekali ^^

Bye bye!

 tumblr_n7vizoRKXJ1rbr3rto1_500

tumblr_murm8m622m1s1rq5ro1_500

Regards,

Deerumni.

56 responses to “THE PATH OF HEART #1

  1. wahh tulisanmu aja udah bagus kok, enak dibacanya, menarik lagi. walaupun belum terlalu keliatan jalan ceritanya, tapi aku udah suka. kasian seyeon, serba salah deh kayanya dia. jadi inceran bullying anak red velvet lagi. fighting yaa untuk kelanjutanya, pasti aku tungguin deh 😉

  2. Hohohoho udan baca cap 1 dan udah ngerti jalan ceritanya
    Baru baca ff yang cast nya rv trus peran jahat sih heheh biasa liat mereka lucu kalo dipanggung trus ngebayangin mereka jahat, masih belom bisa diterima *apanih(?)
    Lanjut yaa

  3. bahasanya sudah bagus kok 🙂 Alurnya juga. Ngga terkesan abal-abalan. Malah kayak sudah sering membuat FF 🙂 aku suka. Semoga bisa di pertahanin ya 🙂
    kalo bisa request, pengen cast nya Kai aja yg jd main cast 🙂
    makasih ya udh di izinin baca 🙂
    semangat buat selanjutnya! 😀

  4. ceritanya bagus kok aku suka
    penasaran sm orang yg liat seyeon sm luhan
    lanjut bc chap selanjutbnya

Leave a Reply to rahmaniy Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s