Ambition [Chapter 2] ~ by Sehun’Bee

Ambition

SehunBee‘s Present

Ambition | Nice to Meet You

Main Cast :
.: Oh Sehun ~ Khaza Hanna :.

Support Cast :
.: Kai Kim ~ Jenny Kim :.

Genre :
.: Drama ~ Romance :.

Rating : PG-17

Lenght : { Chaptered }

Disclaimer :
Semua alur murni dari hasil kerja keras otakku. Jangan copy paste seenaknya dan jadilah readers yang baik dengan meninggalkan comment setelah baca.

Poster and Header Title by : popowiii | SHINING VIRUS

Summary :

520 Park Avenue adalah mimpiku, Kai. Dan aku tak ingin terus-terusan bermimpi tanpa bangun untuk mengejar mimpi itu. Aku tak ingin menjadi pecundang dengan tidur kembali, hanya karena takut menghadapi hari.

Previous Chapter

First Sight [1]

Ambition 2

Hangat atau panas? Entahlah, Sehun tak tahu. Namun, ketika ia keluar dari dalam gedungnya sinar matahari langsung menyengat kulitnya. Membuat suasana musim panas semakin terasa olehnya.

Suhu Bumi yang ada dipengaruhi oleh energi yang masuk berupa radiasi matahari yang terlihat, dimana orang menyebutnya sinar matahari dan energi yang keluar secara konstan dari permukaan Bumi ke angkasa dalam bentuk infra merah. Hingga menimbulkan efek rumah kaca dimana terjadinya penghangatan permukaan Bumi dan lapisan bawah atmosfer. Jika tidak ada efek rumah kaca mungkin Bumi akan lebih dingin 33° dari suhu saat ini, dan Sehun berharap itu terjadi di musim panas. Karena ia tak pernah tahan terhadap suhu Bumi di musim panas. Itu membuat kulitnya merah, bahkan hanya untuk keluar mengambil mobil.

“Musim panas di Amerika luar biasa. Andai aku masih kuliah, mungkin saat ini aku sedang berlibur.” Seorang gadis yang sedari tadi mengekor Sehun, berucap. Sungguh sangat bertolak belakang dengan Sehun, gadis itu justru terlihat begitu menikmati suhu siang itu. Bahkan saat Sehun sudah memasuki mobilnya, gadis itu masih betah pada posisinya—menikmati sinar matahari dengan mata yang terpejam rapat.

Sehun yang sudah siap mengemudi pun menatap heran gadis itu. Sebelum akhirnya, ia memutar bola matanya malas, “Kau tidak sedang berada di pantai, Jen. Berhentilah berkhayal..!!”

“Eh, bagaimana bisa kau— ” Jenny segera masuk ke dalam mobil Sehun, lantas menatap pria itu penuh selidik. Mencoba mengamati pria gagah dengan setelan kemeja putih dilapisi jas hitam tersebut. Pikirnya pun menerka, bahwa Sehun adalah seorang mind reader.

“Ah, tidak mungkin!” Jenny mengibas-ngibaskan sebelah tangannya di depan muka. Tidak mungkin Sehun tahu, ia sedang berkhayal berada di pantai Hawai yang indah. Itu pasti kebetulan. Ya kebetulan. Jenny yakinkan dirinya perihal itu, membuat Sehun yang melihatnya mengerutkan dahi bingung.

“Apanya yang tidak mungkin?” tanya Sehun menyelidik. Ia merasa gadis yang duduk di sampingnya itu sudah gila, karena seringkali berbicara tak jelas. Dan ini bukan kali pertama Sehun mendapati Jenny seperti itu, membuatnya harus lebih waspada untuk kedepannya.

“Tidak. Kau tidak perlu tahu,” ujar Jenny dengan cengiran bodohnya. Membuat Sehun semakin takut melihatnya.

Sudahlah.

Sehun tak ingin memikirkannya lagi. Ia fokuskan konsentrasinya untuk mengemudi menuju Fifth Avenue, tanpa memerdulikan lagi Jenny di sampingnya.

640px-Photograph_of_Fifth_Avenue_from_the_Metropolitan—New_York_City

Di sela – sela kesibukannya, Sehun ingin menyempatkan diri untuk membeli pakaian baru yang akan ia gunakan untuk menghadiri pertemuan antar pemegang saham nanti. Fifth Avenue sendiri membentang dari Washington Square Park, Greenwich Village hingga ke utara melintasi Jantung Manhattan. Dimana terdapat banyak pertokoan mahal kelas dunia di dalamnya, terutama di antara 49th street dan 60th street. Merek terkenal seperti, Louis Vuitton, Coco Chanel, Tiffany & Co, Gucci, Prada, Bottega Vaneta, Cartier, Harry Winston, Giorgio Armani, bisa ditemukan di dalamnya. Bahkan sabuk pinggang yang dibandrol dengan harga 2000 USD (cukup setara 24 juta Rupiah) menjadi pemandangan biasa di setiap etalase toko. Tak heran Fifth Avenue dijuluki sebagai ‘surga belanja dunia’ bagi mereka yang kaya harta.

Sehun sendiri menuju Butik Coco Chanel khusus pria, dan ia meminta Jenny untuk menemaninya sekaligus memilihkan pakaian yang pas untuknya nanti, karena ia tahu, gadis itu cukup baik dalam hal fashion. Terbukti dari setiap pakaian yang dikenakannya, dimana ia selalu bisa memadukannya dengan baik, hingga ia bisa tampil fashionable.

“Jen?” panggil Sehun, menginterupsi keheningan yang tercipta di antara mereka.

“Ya?” Jenny menoleh dengan sorot mata penuh tanya.

“Khaza Hanna. Menurutmu, orang seperti apa dia?” tanya Sehun. Sejak melihat rivalnya kemarin lusa, perasaannya gelisah. Ia sangat ingin bertanya perihal ini pada Jenny sejak kemarin, namun harga dirinya menghalangi. Dan kini, Sehun tak bisa menahan rasa penasarannya lagi. Terlebih, kenyataan yang belum lama ia ketahui, bahwa Jenny menjalin hubungan dengan sekretaris dari rivalnya tersebut. Membuatnya semakin ingin tahu, orang seperti apa pemimpin The Ritz-Carlton Tower itu.

“Sama sepertimu,” jawab Jenny apa adanya.

“Huh?” Sehun terlihat tak puas, sebelah alisnya pun naik ke atas.

“Kai bilang Nona Khaza orang yang menyeramkan, tapi ketika kau mengenalnya, kau tidak akan sanggup meninggalkannya,” ujar Jenny sambil memainkan jari telunjuknya di bawah dagu. Mengetuk-mengetuknya pelan, sambil mengingat kembali apa yang dikatakan kekasihnya.

Sementara Sehun, hanya bisa menunggu gadis lamban itu melanjutkan ucapannya.

“Awalnya aku tidak mengerti mengapa Kai mengatakan itu. Namun, ketika aku bertemu dengannya kemarin lusa. Saat itu juga aku mengerti mengapa Kai mengatakan demikian, ” jelas Jenny. Membuat Sehun semakin penasaran sekaligus gemas. Karena menurutnya, Jenny terlalu berbelit, atau mungkin ia yang tak sabaran? Ah, entahlah, Sehun hanya ingin mendengar pendapat Jenny secara langsung. Itu saja.

“Jadi? Apa yang kau pikirkan tentangnya?” tanya Sehun pada akhirnya.

“Eum, menurutku Nona Khaza itu gadis yang menarik. Sisi misteriusnya itu membuat seseorang ingin mengenalnya lebih jauh lagi, tapi sayangnya, Nona Khaza gadis yang sulit disentuh karena angkuh. Membuatnya terlihat menyeramkan bagi orang yang baru pertama mengenalnya. Kai bahkan mengatakan, bahwa banyak pria yang menyukainya, namun hanya beberapa yang berani mendekatinya, itu pun tak bertahan lama. Karena selain angkuh, Nona Khaza juga pemilih dan memiliki selera tinggi, hingga tak jarang, banyak pria yang lebih memilih mundur.” Jenny menggendikkan bahunya tak acuh. Wajah datar Hanna tiba-tiba saja melintas dalam benaknya, namun tak lama, senyum manis gadis itu yang bertahan diingatannya.

“Dia memiliki senyum yang sangat manis, Oh Sehun. Sayang, senyum itu jarang diperlihatkannya. Kai bahkan mengatakan, bahwa selera humor Nona Khaza itu sangat jongkok. Tak jarang ia mengajaknya nonton acara komedi, namun Nona Khaza hanya diam memperhatikan. Bahkan di saat Kai tertawa terpingkal, ekspresi wajahnya masih sama. Makanya tadi aku bilang dia sama sepertimu. Jangankan untuk tertawa, tersenyum pun susah,” sambung Jenny, dan tanpa disadarinya, kalimat terakhirnya itu lebih seperti protes ketidaksukaannya terhadap Sehun.

Sehun sendiri terlihat tak peduli. Namun ia membenarkah, bahwa ia memang jarang tersenyum apalagi tertawa. Tapi, bukankah itu membuat wibawanya sebagai seorang pemimpin semakin terpancar?! Terlebih, mereka hidup di kota yang menjadi pusat bisnis dunia. Jadi Sehun rasa itu wajar.

“Lalu, apa yang membuat kekasihmu itu bertahan di sampingnya? Apa kekasihmu itu keluarganya?” tanya Sehun lagi. Kali ini, membuat kerutan halus tercipta di dahi Jenny. Gadis itu heran sekaligus tak mengerti, mengapa Sehun jadi banyak tanya seperti ini.

“Aku sendiri tidak tahu, Kai hanya bilang, Nona Khaza itu sahabatnya. Itu saja,” jawab Jenny dengan manik yang mengamati Sehun jeli. Mencoba mencari tahu apa yang kiranya dipikirkan pria itu.

“Dan ia bilang, jika kau mengenalnya maka kau akan menemukan alasan tersendiri mengapa kau tidak bisa meninggalkannya,” sambung Jenny, dengan napas yang berhembus berat. Ia gagal menemukan sesuatu yang janggal dari ekspresi wajah pria itu. Karena Jenny pikir, jika Sehun menanyakan Hanna karena ia menyukainya, maka akan ada perubahan dari ekspresi wajah datar itu —lebih berbinar, misalnya. Namun sayangnya, ekspresi wajah Sehun tetap sama—tak ada yang berubah sedikit pun. Bahkan pria itu tak lagi menyahuti ucapannya.

Dan pada akhirnya, keheningan kembali terjadi di antara keduanya, bahkan sampai mereka tiba di depan Butik Coco Chanel.

Sehun sendiri langsung keluar dari dalam mobilnya setelah memarkirkannya dengan sempurna di depan butik, diikuti Jenny yang mengekor di belakangnya. Manik tajam bak sorot elangnya seketika bergerak mengamati, saat dirinya sudah berada di dalam gedung itu. Kaki jenjangnya yang sempat terhenti pun kini kembali melangkah, mengikuti seorang pelayan yang menunjukkan tempat yang ia cari. Hingga mereka tiba di tempat yang Sehun maksud itu, dimana banyak jas dan kemeja yang tergantung di dalamnya.

“Pilihkan yang terbaik untukku, Jen!” Sehun berucap dengan santainya, lantas mendaratkan bokongnya di sofa yang berada di sudut ruangan.

Sementara Jenny hanya menurut, meski sesungguhnya ia amat ingin protes, karena Sehun sudah memiliki begitu banyak kemeja dan jas dengan berbagai merek terkenal di dalam walk in closet-nya. Namun, hanya untuk pertemuan antar pemegang saham saja, ia ingin membeli yang baru lagi. Sungguh pemborosan.

Tangan ramping gadis itu mulai memilah-milah jas yang tergantung di sana sembari mencocokkannya dengan kemeja yang berada di tangannya. Seorang pelayan pun dengan setia mendampinginya dan sesekali mengembalikan setelan yang menurut Jenny tak cocok. Gadis itu terus disibukan pada pakaian-pakaian khusus pria itu, tanpa memedulikan harga pakaian yang dipegang dan dipilihnya. Karena ia tahu, Sehun akan mampu membayarnya seberapa banyak pun jumlah nol di belakang angkanya.

“Jenny?” suara berat menginterupsi.

“Ya?” namun Jenny hanya menjawab apa adanya, tanpa mengalihkan perhatiannya dari pakaian yang dipegangnya.

“Kau sedang apa?”

“Kenapa berta—“

Deg.

Jenny menghentikan ucapannya, saat menyadari itu bukan suara Sehun. Bodoh. Bagaimana bisa ia melupakan suara manly itu?!

“Kai?” tanyanya tak percaya. Sungguh, Jenny bahkan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Kita bertemu lagi,” senyum tipis terbentuk di bibir seksi pria berkulit tan itu. Ia lantas mengulurkan tangannya demi mengacak puncak kepala gadis itu. Kai hanya tak tahan melihat ekspresi bodoh Jenny—itu terlihat lucu di matanya.

Rasa rindu pun menguar begitu saja. Meski semalam mereka tetap berhubungan via telepon, tapi tetap saja, rasa rindu karena jarang bertemu itu ada. Bahkan dalam satu Minggu, mereka hanya bisa berkencan satu kali, karena pekerjaan mereka yang begitu menumpuk hingga menyita waktu luang mereka untuk bertemu. Beruntung, dalam satu Minggu ini mereka sudah bertemu sebanyak dua kali. Lalu bagaimana bisa mereka menjalin kasih?

Semuanya berawal dari pertemuan tak terduga bagi keduanya. Di saat Kai mengunjungi Kakek dan Neneknya di Korea, saat itulah ia bertemu dengan Jenny. Lebih tepatnya, mereka bertemu di Hyundai Department Store. Saat itu, Jenny hendak keluar dari dalam pusat perbelanjaan tersebut, namun, karena kecerobohannya yang di atas rata-rata, ia hampir tertabrak oleh mobil yang melintas di depan gedung itu—karena ia sama sekali tidak melihat adanya kendaraan yang baru saja keluar dari area parkir. Beruntung, sang pengendara langsung menginjak rem mobilnya, lalu keluar menghampiri Jenny yang saat itu shock dibuatnya.

Dan saat itulah, untuk yang pertama kalinya Kai dan Jenny bertemu. Kai bahkan mengantarkan Jenny pulang karena rasa bersalahnya. Namun setelah itu, mereka tak lagi bertemu.

Sampai pada akhirnya, Tuhan mempertemukan mereka kembali di sini, di Benua Amerika. Dimana saat Jenny melakukan rutinitas paginya di hari Minggu untuk lari pagi, ia tak sengaja bertemu dengan Kai yang juga tengah melakukan hal yang sama dengannya. Hingga mereka terlibat obrolan panjang dan berakhir dengan saling mengenal lebih jauh, sampai pada akhirnya, kecocokan antar satu sama lain membuat cinta tumbuh di antara keduanya. Dan setelah enam bulan saling mengenal, keberanian untuk saling berkomitmen pun tumbuh, hingga hubungan mereka melaju ke tahap berikutnya. Sampai saat ini, hubungan itu sudah berjalan selama dua bulan.

“Cara bertemu kita selalu tak terduga ya?” Jenny terkekeh lembut, “Kau sedang apa? Mana Nona Khaza?” tanpa menjawab pertanyaan Kai, Jenny justru bertanya balik. Hazel-nya pun berkeliling, mencari keberadaan wanita anggun yang ia maksud.

“Nona sedang berada di Washington, D.C. menemui Ayahnya di kediaman mereka. Dan Nona menyuruhku untuk membeli baju baru, agar aku tampil lebih trendi di pertemuan antar pemegang saham nanti. Bahkan Nona memberikanku uang untuk membeli baju dengan merek yang jauh lebih berkelas dari merek yang biasa aku pakai.” Kai berucap menjelaskan, dengan raut yang terlihat setengah hati.

“Haha… Seharusnya kau senang!” Jenny mengerti arti dari raut tak suka itu. Karena ia tahu, Kai mencintai kesederhanaan, meski keluarganya bisa dibilang kaya. Ya, walaupun tak sekaya keluarga pemimpinnya yang memiliki aset di mana-mana.

“Kau belum menjawab pertanyaanku, Nona Kim!” Kai mengalihkan pembicaraan. Ia hanya tak ingin membahas penderitaannya yang memiliki seorang sahabat sekaligus Boss yang gila fashion. Tak jarang Hanna mengomentari penampilannya yang menurutnya tak berkelas, karena memakai barang-barang dengan merek standar. Tak jarang pula, gadis itu memberikan Kai barang-barang mewah dengan harga fantastis untuk dipakainya. Dengan dalil,

‘Aku menyukai orang yang memiliki selera fashion tinggi. Karena penampilan adalah hal pertama yang akan orang lain lihat dan nilai pada diri kita. Dan kau adalah sekretarisku, maka kau harus memiliki kharisma yang sama denganku.’

Ugh, setiap mengingat kata-kata Hanna, Kai selalu bergidik ngeri. Bahkan setiap kali melihat gadis itu, Kai merasa seperti melihat uang berjalan, karena ia tahu, harga setiap barang yang dipakainya.

“Aku sedang memilihkan baju untuk Tuan Oh,” Jenny mengangkat dagunya, mengisyaratkan Kai untuk melihat arah yang ia tunjuk. Kai yang mengerti pun mengalihkan perhatiannya ke arah sudut ruangan, dan saat itu juga ia melihat pemimpin Random House Tower sedang duduk di atas sofa.

Pria itu terlihat sibuk dengan tablet di tangannya. Tak peduli dengan beberapa pasang mata yang tertuju padanya. Bahkan ada beberapa mata yang menatap kagum ke arahnya—yang berasal dari mata beberapa pegawai wanita yang ada di sana.

“Aku akan memilihkan baju untukmu juga,” ujar Jenny. Mencoba mengalihkan perhatian Kai dari Sehun, namun pria itu tetap bergeming. Entahlah, Kai merasa ada magnet tersendiri pada diri Sehun yang membuatnya terlihat begitu menarik juga berwibawa. Hingga membuatnya sedikit iri padanya sebagai lelaki.

Ambition 2

Senja di ufuk barat menjadi pemandangan yang indah dilihat dari Central Park. Namun, seorang gadis yang duduk di salah satu kursi taman lebih tertarik untuk memperhatikan arsitektur bangunan dari apartemen The San Remo.

SanremoApartments

Begitu indah sekaligus menakjubkan. Dalam hati ia berkeinginan untuk membangun gedung dengan arsitektur yang jauh lebih menakjubkan dari The San Remo. Dimana orang-orang penting akan memilih apartemennya sebagai tempat tinggal. Seperti halnya The San Remo, dimana Demi Moore, Tiger Woods, Steven Spielberg, Steve Jobs, tinggal di dalamnya. Tak hanya mereka, masih banyak lagi orang penting yang menghuni di sana. Bahkan pewaris gas alam Texas, Adelaide de Menil pun memilih The San Remo sebagai tempat tinggalnya.

Hanna, gadis itu terus larut dalam mimpinya. Ambisinya untuk memiliki 520 Park Avenue pun semakin kuat hingga ia bisa melobi Arsitek Robert A.M Stern untuk membuat bangunan seperti yang ia inginkan.

Berbagai macam cara pun ia lakukan, bahkan ia baru saja tiba dari Washington, D.C. satu jam yang lalu. Ia pergi ke sana untuk menemui ayahnya demi meminta bantuan pada Beliau, jika ia terdesak suatu saat nanti. Ya, Hanna hanya akan meminta bantuan ayahnya, jika ia sudah benar-benar terdesak sebagai rencana B. Namun selama ia bisa mengatasinya, maka ia akan tetap melakukan semuanya sendiri. Karena itu mimpinya dan apa pun yang terjadi nanti, 520 Park Avenue harus tetap menjadi miliknya.

Rasa lelah setelah menempuh perjalanan 260 mil (416 Km) selama 4 jam pun tak ia hiraukan. Dan bukannya pulang ke apartemen, Hanna justru lebih memilih bersantai di Central Park—menikmati pemandangan yang luar biasa indah di sore hari. Jam yang sudah menunjukkan pukul 7.30 pun tak membuatnya beranjak. Hanna tak peduli, meskipun ia harus pulang malam ke Battery Park City, Lower Manhattan.

Dan tanpa disadarinya, sepasang mata terus memperhatikannya sedari tadi. Seolah dirinya merupakan pemandangan yang jauh lebih indah dari The San Remo. Namun, memang demikian adanya, karena memang tak ada yang jauh lebih indah dipandang selain wanita di mata lelaki.

Seorang pria yang sedari tadi memperhatikannya itu terlihat santai dengan berdiri sambil menyandarkan sebelah bahunya ke sebuah pohon bertubuh besar. Niatnya yang hanya ingin melepas penat setelah bekerja dengan jalan-jalan sore, justru berakhir dengan hanya berdiam diri di bawah pohon. Kedua tangannya sendiri bersilang di bawah dada, membuat kharismanya sebagai seorang pemimpin semakin terpancar.

Seorang gadis yang menggunakan Casual Long Sleeve Dress dengan V-Neck itu terus menjadi pusat perhatiannya. Pikirnya pun bertanya, bagaimana bisa dress sederhana itu terlihat begitu elegant di tubuhnya? Bahkan Aura yang dipancarkan olehnya bagai magnet yang menarik habis semua perhatiannya.

Hanna’s Style

Hanna style

Tak hanya itu, tubuh S line-nya pun menjadi pemandangan indah tersendiri bagi laki-laki normal sepertinya. Hingga membuat senyum miring tercetak di bibirnya. Dalam hati ia berharap, bahwa gadis itu bukan rivalnya. Karena dengan begitu, ia tak akan ragu untuk mendekatinya lalu mencicipi semua yang ada pada dirinya.

Oh Shit.

Pelan – pelan Sehun memejamkan matanya dengan sebelah tangan yang memijat pelipis, mencoba untuk menghilangkan pikiran kotornya. Ia heran, bagaimana bisa pikir kelelakiannya itu begitu cepat bekerja di saat seperti ini? Hhh, yang benar saja. Sehun bahkan merasa menjadi seorang pria polos yang tak pernah merasakan tubuh wanita.

Tak ingin semakin larut, Sehun putuskan untuk segera beranjak dan pergi dari tempat itu. Sepertinya, ia harus mencari seorang wanita untuk menemaninya malam ini. Namun, baru beberapa langkah ia melangkah, kakinya kembali berhenti. Tubuhnya pun terasa kaku, sementara hatinya memberontak meminta untuk kembali. Batinnya seolah merasa belum puas melihat gadis itu, keinginan untuk melihatnya kembali pun begitu kuat. Namun, Sehun hanya bisa bergeming di tempatnya, tanpa berniat kembali membalikan tubuhnya. Dan tanpa disadarinya, ia tengah berdiri di tengah-tengan jalan setapak. Beruntung, Central Park sedang sepi pengunjung.

Excuse me,”

Deg.

Suara lembut itu mengalun indah di indera pendengarannya. Pelan-pelan ia membalikkan tubuhnya, demi memastikan bahwa bukan gadis itu yang bersuara. Bodoh memang jika Sehun berharap demikian, karena gadis itu sedang duduk di kursi taman. Namun nyatanya, apa yang ia harapkan benar adanya.

Oh God.

Tubuhnya pun semakin kaku melihat seorang gadis yang kini berdiri lurus di depannya itu, hingga membuatnya hanya bisa diam menatapnya. Sementara Hanna, hanya menatap heran ke arahnya.

“Anda menghalangi jalanku, Tuan!” Merasa jengah pada pria yang tak kunjung menyingkir itu, membuat Hanna terpaksa mengeluarkan kata-kata sinisnya. Ah, tidak, cara bicara Hanna memang seperti itu. Rendah namun menusuk.

Dan saat itu juga Sehun sadar akan kebodohannya, bahwa ia sedang berdiri di tengah-tengah jalan setapak yang sempit. Dan secara tidak langsung, ia menjatuhkan wibawanya di depan gadis itu.

Sungguh bodoh.

Tubuhnya pun bergeser ke samping, memberikan jalan untuk Hanna. Tanpa berani mengucap sepatah kata pun.

Hanna sendiri langsung melanjutkan langkah kakinya, tanpa memerdulikan lagi orang yang menurutnya aneh itu, lantas melewatinya begitu saja. Membuat Sehun semakin kikuk dibuatnya, namun, ia tak ingin menjadi pecundang, hingga pada akhirnya,

“Nona Khaza?” Sehun memanggil namanya.

Hanna yang merasa namanya terpanggil pun berhenti, lalu berbalik demi menatapnya.

“Jadi benar?” Sehun bertanya, seolah ia takut salah orang.

“Ya.” Hanna menelisik pria di depannya, tanpa berniat mencari tahu siapa namanya.

“Aku tak menyangka kita akan bertemu sebelum pertemuan antar pemegang saham.”

Sebelah alis Hanna terangkat samar. Pikirnya pun bertanya, siapa kiranya orang yang berada di hadapannya itu? Tak hanya itu, ia pun merutuki dirinya sendiri karena malas memperhatikan foto beserta profil dari para pemegang saham 520 Park Avenue. Namun, melihat dari penampilannya, Hanna sudah bisa mengambil kesimpulan bahwa dia keturunan Bertelsmann, karena hanya orang dari Bertelsmann yang memiliki usia yang tak jauh darinya. Dengan kata lain, hanya ada dua pengusaha muda di antara para pemegang saham 520 Park Avenue, sekaligus menjadi yang terkuat karena nama yang berada di belakang mereka, Ritz-Carlton dan Bertelsmann.

“Tuan Bertelsmann?” tanya Hanna pada akhirnya. Mencoba untuk memastikan bahwa dugaannya itu benar.

“Ya. Senang bertemu dengan Anda di sini, Nona,” ujar Sehun dengan senyum tipis di bibirnya.

“Ya. Sampai bertemu lagi nanti, Tuan,” Hanna terlihat tak berminat untuk bercengkrama dengan rivalnya. Ia membalikkan tubuhnya begitu saja, setelah menganggukkan kepalanya ringan pada Sehun—seolah memberikannya kode nonverbal untuk segera pamit undur diri.

Sehun sendiri hanya bisa membalasnya dengan anggukan serupa. Selanjutnya, ia hanya bisa memandang punggung mungil gadis itu. Ia tak menyangka, ternyata apa yang dikatakan Jenny itu benar adanya, bahwa gadis itu sangat angkuh, bahkan ia sama sekali tak memberikan kesan pertama padanya. Padahal biasanya, orang akan berpura-pura baik pada rivalnya dengan bersikap jauh lebih bersahabat, namun sepertinya, tidak dengan Hanna—gadis itu berbeda. Ia bahkan secara terang-terangan menganggapnya musuh. Hingga membuat Sehun semakin tertarik akan dirinya.

“Aku akan berada di atasmu, Nona,” ujar Sehun ambigu, tanpa mengalihkan fokusnya sedikit pun dari punggung Hanna yang semakin menjauh.

Ambition 2

Hanna terlihat gelisah. Sedari tadi ia hanya duduk sambil memutar-mutar tubuhnya di sofa single miliknya. Pekerjaannya yang masih menumpuk di atas meja pun tak ia hiraukan. Kai yang kebetulan baru saja memasuki ruang kerja gadis itu, hanya bisa mengerutkan alis bingung.

Tidak biasanya.

Dua kata itu muncul begitu saja dalam benak pria berkulit tan itu. Karena Hanna yang dikenalnya memiliki pembawaan yang tenang. Lalu, apa yang membuat gadis itu gelisah? Kai tidak akan tahu sebelum bertanya, karena Hanna bukan gadis yang mudah ditebak.

“Ada apa denganmu?” tanya Kai, sembari meletakkan laporan baru untuk Hanna periksa. Ia daratkan tubuhnya di atas meja—tepat di samping gadis itu. Terlihat lancang memang, namun, saat mereka sedang berdua, maka status keduanya pun berubah—bukan Boss dan bawahan lagi, namun sahabat.

“Entahlah, aku ha— tidak, aku tidak apa-apa.” Dusta Hanna cepat. Meski sesungguhnya, ia sangat ingin menceritakan apa yang sedang ia rasakan pada Kai, namun, mengeluh bukan gayanya. Baginya, mengeluh hanya dilakukan oleh mereka yang lemah, dan Hanna tak ingin menjadi seorang gadis yang lemah. Sekali lagi, itu bukan gayanya.

“Hanya untuk berbagi, bukan mengeluh!” Kai mengerti dengan baik jalan pikiran gadis itu. Hanna yang mendengarnya pun hanya diam menatap manik pria itu.

Lidahnya mendadak kelu—sulit berucap. Namun, hatinya terasa semakin gundah, membuatnya semakin ingin untuk mengatakannya, hingga pada akhirnya, bibir mungil berbentuk hati itu bergerak pelan.

“Oke. Aku hanya khawatir. Itu saja,” ujarnya pada akhirnya. Tangannya ia silangkan di bawah dada dengan kaki yang juga ikut bersilang di atas sofa.

Kai tersenyum mendengarnya, “Mengkhawatirkan hari esok?” tanyanya lagi. Ia tahu apa masalahnya, karena hari esok rapat umum para pemegang saham dilaksanakan. Dan saat itu, Hanna harus melakukan presentasi agar dipilih menjadi CEO. Jadi, tak hanya uang dengan jumlah banyak yang akan membuatnya terpilih, tapi juga kemampuan leadership yang luar biasa menjadi salah satu patokannya. Karena mereka yang memegang saham tidak akan mau menguasakan tanggung jawab perusahaan mereka pada orang yang tidak becus bekerja. Terlebih, New York merupakan negara dengan persaingan bisnis yang ketat. Bahkan sangat ketat.

“Ya. Bukankah aku seperti seorang pecundang? Bahkan aku sudah gentar sebelum bertarung.” Hanna berucap dengan kepala yang menengadah ke atas. Menatap langit-langit kantornya.

“Apa yang membuatmu kehilangan kepercayaan diri?” tanya Kai menyelidik. Jujur saja, ini kali pertamanya ia melihat Hanna seperti ini. Sebelumnya, gadis itu tak pernah takut terhadap apa pun. Lagi pula, kemampuan memimpinnya sudah dibuktikan dengan suksesnya The Ritz-Carlton Tower di bawah kepemimpinannya.

Hanna bergeming. Pertanyaan Kai seolah mampu merobek semua ingatannya, hingga ia menemukan alasan di balik kegelisahannya itu.

“Bertelsmann,” ujar Hanna, “aku bertemu dengan seseorang dari Bertelsmann. Lebih tepatnya, CEO dari Random House Tower,” sambungnya.

“Apa?” Kai terlihat tak percaya dengan apa yang didengarnya. Bahkan, ia masih mengingat dengan jelas Hanna pernah mengatakan, bahwa Random House Tower hanyalah anak perusahaan yang belum lama berdiri dan mereka bukanlah saingan berat Ritz-Carlton. Huh, untuk yang kesekian kalinya, Kai dibuat pusing oleh sahabatnya itu. Namun, ingatannya kembali berputar, membuatnya kembali mengingat pertemuan pertamanya dengan atasan Jenny.

Gambaran-gambaran akan sosok Oh Sehun pun terus mengambil alih semua fokus Kai. Hingga Kai mengerti akan alasan yang membuat Hanna sedikit ciut karenanya.

Hanna sendiri tak lagi bersuara. Ia hanya malas jika harus menceritakan semuanya pada Kai. Tanpa menjawab pertanyaan terakhirnya pun, Hanna yakin Kai sudah menemukan sendiri jawabannya. Karena ia tahu, sekretarisnya itu juga pernah bertemu dengan pria itu.

“Saat aku bertemu dengannya, aura kepemimpinnya begitu terpancar—ia terlihat gagah juga berkharisma. Dan yang jadi masalahnya, kau perempuan!” Kai menatap Hanna serius. Namun gadis itu hanya menatap tanpa minat ke arahnya. Heran akan cara berpikir pria itu, kenapa tiba-tiba ia mempermasalahkan masalah gender.

“Kau perempuan dan dia laki-laki—“

“Lalu apa masalahnya?” sela Hanna cepat.

“Tentu saja dari situ kau sudah kalah Nona. Terlebih, Oh Sehun terlihat lebih matang darimu. Kau sendiri yang bilang, penampilan adalah hal pertama yang akan orang lain lihat pada diri kita. Dan penampilan Oh Sehun itu begitu mendukung. Oh ya tunggu dulu, kau bertemu dengannya di mana?”

Hanna terdiam. Pelan – pelan, ia mencoba mengingat kembali sosok Sehun saat itu. Pikirnya pun membenarkan, saat gambaran akan sosoknya melintas di benaknya. Dimana aura kepemimpinannya begitu melekat juga terpancar dari tubuh tinggi tegapnya. Sehingga membuat orang yang baru pertama kali melihatnya dapat menilai, bahwa ia adalah seorang yang kompeten dan pantas menjadi pemimpin.

“Hanna?” panggil Kai saat tak kunjung mendapat jawaban.

“Central Park,” jawab Hanna pada akhirnya.

“Central Park? Bukankah itu sangat dekat dengan Random House Tower? Kau pasti sedang mengagumi The San Remo saat bertemu dengannya.” Tebak Kai dan benar adanya, karena ia tahu, gadis itu begitu mengagumi arsitektur The San Remo. Dan menjadikan gedung itu sebagai motivasi untuk mengejar mimpinya.

Tiba-tiba, Hanna bangkit dari duduknya, lantas melangkah menuju jendela besar yang ada di sudut ruangan. Cukup lama ia membisu dengan titik fokus yang tak tentu arah, pernyataan Kai pun tak kunjung digubrisnya. Membuat Kai, hanya bisa diam memperhatikan.

” 520 Park Avenue adalah mimpiku, Kai. Dan aku tak ingin terus-terusan bermimpi tanpa bangun untuk mengejar mimpi itu. Aku tak ingin menjadi pecundang dengan tidur kembali, hanya karena takut menghadapi hari,” ujar Hanna pelan sarat akan ambisi. Ia tak mau kalah, meski ia seorang perempuan. Ia akan membuktikan kemampuannya sebagai seorang pemimpin dan mendapatkan apa yang menjadi mimpinya itu. Karena mimpi untuk diraih, bukan hanya untuk dilihat dan dikagumi. Jemari mungilnya bahkan ikut terkepal erat, seolah musuhnya itu ada di depan mata.

Kai yang melihat Hanna kembali percaya diri pun tersenyum. Padahal, ia tak mengatakan apa pun untuk membuatnya kembali bersemangat. Ia justru mengatakan hal-hal sebaliknya. Namun memang seperti itulah Hanna, ia tak suka merendah dan direndahkan. Hingga ia akan membuktikan bahwa ia mampu dengan tindakan, bukan hanya dengan ucapan.

Ambition 2

Sehun’s Walk in Closet

walk in closet

Sehun memasuki walk in closet-nya dengan tubuh yang dibalut bathrobe. Jas, celana, kemeja, dasi, jam tangan serta sepatu, semuanya sudah tersusun rapi di dalam sana. Tapi kali ini, ia tak perlu pusing untuk memilih kemeja dan jas mana yang akan dipakainya, karena Jenny sudah menyiapkan semuanya untuknya, bahkan gadis itu sendiri yang memilihkannya di butik.

Sebenarnya, Sehun sendiri tak mengerti mengapa ia ingin tampil sempurna hari ini. Meski sesungguhnya, ia memang selalu tampil sempurna setiap harinya dengan pakaian apa pun yang dikenakannya, tanpa harus meminta Jenny menyiapkannya. Padahal, ia tak pernah seperti ini sebelumnya hanya untuk menghadiri acara penting. Karena semua pakaian dari mulai formal, semi formal, juga casual sudah tersedia di dalam walk in closet-nya. Namun, Sehun menganggap itu wajar, karena ia melakukannya demi mencapai tujuan, dimana penampilan dan skill menjadi nomor satu. Dan ia hanya ingin tampil lebih meyakinkan lagi di depan para pemegang saham nanti, terutama di depan seorang wanita yang menjadi rival terkuatnya. Sehingga kepercayaan atas kepemimpinan 520 Park Avenue bisa jatuh ke tangannya.

Perlahan, senyum miring tercetak di wajah tampannya, saat bayang-bayang akan wajah angkuh itu mengambil alih semua fokusnya. Namun lamat-lamat, ingatannya kembali membawanya pada saat ia melihat gadis itu menatap penuh minat ke arah senja di ufuk barat –ah, tidak– Sehun rasa bukan senja yang gadis itu lihat. Seingat Sehun Apartemen The San Remo juga ada di arah sana.

“Tunggu, The San Remo?” gumam Sehun pelan, saat menyadari akan sesuatu. “Apa benar dia menatap ke arah sana?” tanyanya pada diri sendiri. Jika iya, maka ia dan gadis itu memiliki ketertarikan yang sama pada apartemen tersebut.

Kali ini, senyum kecil penuh arti yang terbentuk di bibir mungil pria itu. Dari dulu, ia memang begitu mengagumi The San Remo, ia bahkan selalu menyempatkan diri untuk berdiri di balik jendela besar kantornya, hanya untuk menatap indahnya arsitektur apartemen itu. Namun, ia sedikit ragu, apa benar Hanna juga melakukan hal yang sama karena hal yang sama? Ah, entahlah, Sehun tak mau ambil pusing. Ia lantas berbenah, menyiapkan dirinya dengan segera, agar tak mempermalukan dirinya sendiri dengan datang terlambat.

Kemeja hitam dengan setelan jas hitam pun dipakainya. Tak lupa celana kain berbentuk skinny jeans melekat di kaki jenjangnya. Membuat kesan maskulin, kharismatik, sekaligus gagah terpancar pada dirinya.

Ambition 2

Little Black Dress dengan Short Taffeta High Neck keluaran Hermés yang membentuk lekuk tubuhnya menjadi pakaian yang dipilih Hanna kali ini. Dress tanpa lengan yang digunakannya itu membuat kulit putih susunya terekspos, namun membuatnya tampil elegant seperti biasa. Terlebih, dress itu jatuh di atas lutut, sementara kakinya tak dilapisi stocking, sehingga kaki jenjang bak porselin-nya itu dapat dinikmati oleh seluruh mata yang melihatnya. Untuk alas kakinya sendiri, Hanna memilih High Heels jenis Pump Shoes dengan warna senada. Membuat kesan high class semakin terpancar pada dirinya.

“Sempurna,” gumam Kai saat melihat Hanna keluar dari dalam gedung apartemennya. Ia lantas membukakan pintu mobil untuk Boss-nya itu, sebelum akhirnya berputar demi ikut masuk ke dalamnya.

“Kau siap?” tanya Kai setelah memasang seat belt-nya.

“Tentu.”

“Apa pun hasilnya, kau akan menerima?”

“Ya. Setidaknya aku sudah berusaha.”

Good girl,” puji Kai, sebelum akhirnya menjalankan mobilnya menuju kawasan Rockefeller Center, tempat dimana 19 gedung komersial dibangun di Manhattan.

445px-GE_Building_by_David_Shankbone

Tak butuh waktu lama untuk Hanna dan Kai tiba di salah satu gedung perkantoran mewah itu. Mereka lantas keluar dari dalam mobil, demi memasuki gedung yang akan menjadi tempat dimana rapat pertemuan antar pemegang saham dilaksanakan. Arsitektur luar biasa indah pun menjadi pemandangan yang menyambut kedatangan mereka, ketika melangkahkan kaki ke dalamnya. Namun bagi keduanya, arsitektur seperti itu merupakan pemandangan lumrah di Manhattan. Karena Kai dan Hanna sudah terbiasa menikmati indahnya New York dengan segala asetnya yang mendunia.

Dan di saat yang bersamaan namun di titik yang berbeda, seorang aktris Hollywood terlihat baru saja keluar dari Limosin hitamnya. Ia lantas melangkah dengan anggunnya diikuti seorang pria berpakaian rapi di belakangnya. Kai yang melihat kehadiran wanita itu pun, hanya bisa tersenyum miring. Sebelum akhirnya, menekan tombol lift di depannya lalu masuk ke dalamnya bersama Hanna.

Angka 20 pun kembali di tekannya, “Paris Hilton yang datang. Dugaanku benar, Richard Hilton tak akan langsung turun tangan,” ujar Kai setelah membenarkan posisinya di samping Hanna.

“Mungkin Richard ingin anaknya lebih mendalami bisnis.” Tebak Hanna tak acuh.

“Itu sebabnya, aku tidak memasukkan keluarga Hilton ke daftar saingan terberatmu. Karena dari awal sudah terdengar isu bahwa Paris yang akan datang, bukan ayahnya.”

“Ya. Karena wanita itu hanya tahu tentang pesta, bukan bisnis,” ujar Hanna ada benarnya. Beruntung, mereka hanya berdua di dalam lift, sehingga Kai tak perlu khawatir mendapat lirikan tajam dari orang-orang di sekitar.

Ketika lift kembali terbuka, keduanya langsung keluar lantas menuju ruang rapat. Dan saat itu juga Kai merasa bangga, mendapati tatapan kagum dari orang-orang yang menyadari kehadiran mereka. Sebenarnya, ia merasa bangga bisa berdiri di samping Hanna, karena gadis itu cukup terkenal di kalangan pebisnis. Bagaimana tidak?! Gadis itu bahkan langsung menyandang status sebagai CEO setelah lulus kuliah dan dengan ide-ide briliannya The Ritz-Carlton Tower bisa menempati urutan pertama sebagai apartemen termahal di New York. Hingga membuat namanya masuk dalam jajaran pengusaha real estate yang sukses dalam pencapaiannya, terlebih usianya masih sangat muda.

Dan dalam dunia bisnis, memang hanya mereka yang memiliki kemampuanlah yang pantas dipandang. Sementara wajah cantik Hanna, hanya menjadi point kesekian yang menambah nilai kesempurnaannya. Karena dunia yang kejam ini tidak pernah menyeleksi seseorang dari fisiknya, tapi kemampuannya. Dan hanya mereka yang memiliki ambisi serta kemampuanlah yang akan bertahan.

Kini, Hanna dan Kai sudah memasuki ruang rapat. Tatanan meja berbentuk leter U pun menyambut kedatangan mereka. Jumlah anggotanya sendiri ada 20, sementara yang sudah tiba baru beberapa dan sebagian dari mereka tak langsung memasuki ruang rapat karena memang rapat akan dimulai 30 menit lagi. Sepertinya, darah Korea Hanna dan Kai begitu kental, sehingga mereka selalu menjunjung tinggi nilai kedisiplinan terhadap waktu. Dengan dalil, lebih baik datang awal daripada terlambat dan bukannya lebih baik datang terlambat daripada tidak sama sekali. Karena itu hanya motto untuk mereka yang malas.

Hanna langsung mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi di balik meja panjang itu. Sementara, Kai langsung memberikan Hanna tablet berwarna putih dengan bentuk yang sangat pipih, agar gadis itu bisa kembali mempelajari bahan untuk presentasinya nanti. Beberapa pasang mata yang ada di ruang itu pun tertuju pada keduanya, lebih tepatnya pada gadis berwajah datar itu.

“Aku dengar Nona Khaza masih virgin,” ujar seseorang, tanpa melepaskan pandangannya dari Hanna.

“Benarkah? Pergaulan anak muda zaman sekarang itu jauh lebih keras. Aku rasa itu tidak mungkin!” Elak pria di sampingnya.

“Dia memakai purity ring, lihatlah jari manisnya!”

“Purity ring?”

“Ya itu cincin yang melambangkan kesucian, dimana pemakainya berkomitmen dan berjanji di hadapan Tuhan untuk tidak melakukan seks sebelum menikah. Cincin itu bahkan populer di kalangan aktris, Selena Gomez juga pernah memakainya.” Pria paruh baya itu menjelaskan, membuat pria di sampingnya mengangguk mengerti.

“Aku tidak menyangka, kau begitu mengikuti perkembangan dunia hiburan,” ejeknya kemudian, membuat tawa lepas dari mulut keduanya.

Sementara, senyum tipis terbentuk di bibir seorang pria yang sedari tadi hanya duduk diam mendengarkan. Fokusnya sendiri masih terkunci pada wajah yang begitu nyaman di pandang itu. Sebelum akhirnya, ia beranjak dari kursinya demi mendekati titik fokusnya itu.

“Apa kau belum menguasai bahan presentasimu, Nona?” tanyanya setelah berdiri tepat di samping Hanna. Kai yang melihat kehadirannya pun membungkuk hormat.

Sementara Hanna, hanya menoleh demi menatap sosok dengan suara yang tak asing lagi baginya itu.

“Kekasihmu ada di luar,” ujar Sehun, secara tidak langsung meminta Kai untuk meninggalkan mereka berdua. Kai yang mengerti segera meminta persetujuan pada Hanna lewat kode nonverbal-nya, anggukan kepala pun ia dapat sebagai jawaban.

Sehun segera menempatkan tubuhnya di kursi yang ada di samping kanan Hanna, dengan posisi yang tepat menghadap gadis itu. Hanna sendiri hanya menatapnya dengan sorot mata yang seolah mengatakan, apa yang membuatmu datang kemari dan menggangguku?

Sehun yang mengerti pun tersenyum, “Hanya ingin lebih dekat dan lebih mengenal siapa rivalku,” ujarnya terus terang.

Hanna ikut tersenyum, namun bukan senyum dalam artian sesungguhnya. Detik berikutnya, Hanna mengalihkan perhatiannya dari wajah tampan itu. Tampan? Ya, Hanna akui Tuan Bertelsmann itu tampan, tinggi dan putih juga berwibawa. Namun, bukan Hanna namanya jika ia langsung masuk dalam pesona pria itu. Karena ia sudah terbiasa melihat laki-laki tampan di Manhattan.

“Aku tidak suka basa-basi, Tuan.” Hanna mengerti dengan baik tujuan pria itu datang menghampirinya. Mengenal musuh secara langsung tanpa perantara. Ya, kurang lebih seperti itu dan bukankah itu cara ampuh untuk mencari kelemahan lawan.

“Anda benar-benar pribadi yang tak bersahabat, Nona,” Sehun semakin betah mengamati wajah itu dari dekat. Tak peduli dengan sikap dingin Hanna terhadapnya. Dari situ pun ia bisa menilai, bahwa Hanna jauh lebih beku darinya. Karena dalam beberapa hal, ia masih bisa bersikap hangat pada orang lain. Sedangkan Hanna, tidak, ia begitu tertutup pada hal-hal baru seolah tak ingin disentuh.

Hanna sendiri hanya diam tanpa berniat menimpali ucapan pria itu, membuat Sehun ikut diam dibuatnya. Bicara pun percuma, tak akan ditanggapi—itu yang Sehun pikirkan. Sehingga pada akhirnya, ia hanya bisa diam menikmati kesempurnaan pahatan Tuhan itu.

Namun tak lama, manik Sehun turun, mencoba untuk mengamati jemari lentik Hanna—demi memperjelas pengelihatannya pada cincin yang dipakai gadis itu. Emas putih dengan berlian yang menjadi hiasannya pun Sehun lihat pada jari manis sebelah kiri Hanna. Dan yang ia tahu, purity ring memang dipakai di jari manis sebelah kiri sebagai tanda ikatan janji dengan Tuhan, sebelum digantikan dengan cincin pernikahan.

Jadi benar dia masih virgin? Batin Sehun bertanya. Maniknya lantas kembali menatap wajah tak acuh itu, demi kembali mengagumi keindahannya, dimana hidung mancung Hanna, bulu mata lentiknya, bibir mungilnya, kulit halusnya, dan semua yang ada pada dirinya menjadi pemandangan yang begitu nyaman untuk dilihat. Sehun bahkan merasa seperti pria bodoh yang tak pernah melihat wanita, sampai-sampai ia tak bosan memperhatikan gadis itu.

Hanna yang merasa terus diperhatikan pun semakin risih dibuatnya. Ia ingin mengabaikannya saja, tapi perasaan tak nyaman semakin mendominasi. Hingga pada akhirnya, ia menutup matanya pelan – pelan, mencoba untuk mengendalikan emosinya yang tiba-tiba memuncak.

“Apa tidak ada hal lain yang bisa Anda kerjakan, Tuan?” tanya Hanna pada akhirnya, dengan nada suara rendah namun menusuk seperti biasa.

“Aku hanya sedang menunggu. Dan melihatmu membuatku tak merasa bosan, Nona,” jawab Sehun tak acuh. Tatapan tajam sarat akan ketidaksukaan pun ia dapat. Namun, ia tak peduli. Sebelah tangannya bahkan masih betah bertumpu pada meja—membentuk sudut siku-siku dengan tangan yang menyentuh pelipis. Tak heran, Hanna merasa tak nyaman dibuatnya, karena siapa pun yang diperhatikan dengan cara seperti itu, pasti akan merasa terganggu.

Sementara Hanna masih setia dengan tatapan menusuknya, seolah mengusir Sehun lewat tatapannya itu. Hingga pada akhirnya, helaan napas berat terhembus dari hidung mancung Sehun—maniknya lantas bergerak mengamati sekeliling, dan ternyata, ruangan itu sudah mulai ramai oleh peserta rapat. Itu berarti, ia memang harus pergi.

Namun sebelum itu, Sehun mendekatkan tubuhnya pada Hanna yang masih setia menatap sinis ke arahnya. Hanna sendiri hanya diam, saat pria itu mendekat dan menempatkan bibirnya di samping telinga. Sampai pada akhirnya, aroma yang begitu maskulin sukses menerobos masuk indera penciumannya. Begitu memabukkan sekaligus menggoda. Membuat Hanna tanpa sadar memejamkan matanya, demi menikmati aroma itu.

“Semoga sukses, Nona,” ujar Sehun berbisik, membuat bulu roma Hanna meremang seketika. Detik berikutnya, ia merasakan sentuhan lembab nan halus di pipinya, saat pria itu menempelkan bibir mungilnya di sana.

Deg.

Mata Hanna melebar, tubuhnya kaku.

Sehun sendiri begitu menikmati wangi semerbak yang menguar dari tubuh Hanna. Membuatnya semakin tak tahan ingin menyentuh kulitnya dan menghirup setiap inci permukaannya. Hingga pada akhirnya, ia lampiaskan hasratnya dengan menghirup habis aroma itu melalui pipi mulus Hanna. Lancang memang, namun Sehun tak peduli. Lagi pula, mereka berada di Amerika bukan Korea.

Tak lama, Sehun menjauhkan tubuhnya, lantas beranjak dengan segera—meninggalkan Hanna yang masih bergeming di tempatnya. Seolah mencoba lari, sebelum gadis itu sadar atas apa yang baru saja ia lakukan, dan kemudian menghujami dirinya dengan kata-kata tajamnya.

Sehun sendiri sadar akan kebodohannya itu, dan ia tak ingin mendapat malu karenanya. Biar bagaimanapun, Hanna tetap rivalnya. Namun ternyata, banyak mata yang melihat kelancangannya itu. Sehun bahkan bisa melihat tatapan bertanya sekaligus curiga dari para pemegang saham lain. Namun, ia tak heran, karena dirinya dan Hanna sudah diperhitungkan akan menjadi yang terkuat. Dan masalah kelancangannya, Sehun rasa itu sudah biasa, karena ciuman di depan umum bukanlah hal tabu di Amerika, dan hal itu bahkan bisa dilakukan oleh mereka yang tak memiliki hubungan.

 

Dan tanpa disadari Sehun, apa yang dilakukannya itu terlihat berbeda di mata para pemegang saham lain. Karena mereka memperhatikan apa yang dilakukannya sejak awal, dimana dirinya terus menatap Hanna dalam waktu yang cukup lama tanpa terlibat obrolan dengan gadis itu, dan ketika pergi, ia mencium pipinya. Membuat mereka curiga, bahwa Sehun dan Hanna sedang menjalin hubungan.

Sehun yang baru menyadari arti tersembunyi dari tatapan para pemegang saham pun tersenyum. Bukankah itu bagus?

.

.

.

 

¤ To Be Continued ¤

.

.

.

LBD yang Hanna pakai,

lbd

Terima kasih buat kalian yang udah mau baca dan comment^^

 

Bye,

Saranghae yeorobun^^

 

Regards,

Sehun’Bee

1,105 responses to “Ambition [Chapter 2] ~ by Sehun’Bee

  1. Uwoohhhh its great story. Penggambaran tokohnya jelas. Gmna jadinya klo mreka berdua jatuh cinta? Msih dinginkah keduanya. Okee mw bca next chapternya dulu

  2. wah daebak! first time baca ff sekeren ini. disini penggambaran tokoh sama plotnya jelas, ceritanya gak buru-buru.. dan yang paling aku suka disini cast nya sehunnie😉 Next…

  3. Hahahha gara gara baca ff ini baru tau kalau ada purity ring gitu #kudet 😂😂😂
    Eh sehun licik ya men nyosor aja 😂😂😂 awas ada yang ngamuk entar 😂😂

  4. Huaaahh aku baru lanjut baca lagi jib wkwk kemaren yg part 1 aku baru baca seminggu yg lalu heheeehe #curhat
    Tipe ff nya aku suka banget kak, nggak langsung to the point, ngasih tau ttg pengetahuan umum jg jadi nggak bosen baca nyaa.
    Semangat utk buat ff yg lebih baik selanjutnya kak eheheh:D

  5. sehun lancang bet cium cium depan umum yampun sehun, udah gitu para pemegang saham senyum malah disenyumin :3 sehun dingin tapi mengejutkan banget asli :p
    ini bahasa nya rapi banget kak ahh kabita :3 pokoknya bahasanya ya enak aja baca ff nya. semangat nulis terus ya kak ^^ makasih juga untuk pengetahuan umumnya juga hihu

  6. It’s just my review ya thor ..
    Masih ada typo , entah menurut yang lain bagaimana tapi menurutku alurnya agak lambat ..
    Tapi seluruhnya aku masih suka karna Sehun yang berkarisma di ff ini ..
    Nilai plusnya lagi author selalu nyelipin visual untuk tempat dan juga busananya .. aku selalu suka ff seperti itu .. Good Job thor🙂 maaf kalo apa yang aku ucapkan disini nggak berkenan dihati author .. itu cuma pemikiranku aja hihihi Semangat thor ..🙂

  7. kenapa baru nemu ffmu athor wahhh kenape gk dari dulu ,, sumpahh ni ff , apalagi dengan karakter and setting yg antimainstrem ,, baru chapter 2 aja udah daebak bgt

  8. Duh, pingin gigit jari saking apiknya alur yang kakak buat. Kapan ya aku bisa kaya kak nurul :’) #Abaikan
    Oh ya kak, entah kenapa di chapter dua ini terbesit dibenakku kalo judulnya akan lebih greget jika “520 Park Avenue” berhubung itu tujuan utama para tokoh dan kesannya agak misterius gimana gitu.. Hehe (jangan anggap serius kak, cuman berpendapat :D)

    Oke. Ijin baca chapter selanjutnya ^^

  9. Kesan pertama pas baca chapter satu Ambition itu berasa kaya nemu harta karun.. Hehe. Banyak pengetahuan, kaya kosakata, cara penyampaiannya juga unik beda dari yang lain..
    Aku boleh penasaran gak ya? Kak nurul hobinya baca buku apa sih? Serius ini cerita keren deh! Jadi pingin ke Manhattan gara-gara baca ceritanya. Haha #Baper

  10. Waaaaaaaaahhhhh!!!! sehun paraah gilaaa. greget banget sumpah bacanya seru soalnya apalagi hanna deg degan gitu wakatu dicium sehun ahaha..
    Sebenernya aku udah ngasih komen di chapter 1 kemaaren krn aku baca chapter 1 nya juga kemaren. eh tappi tadi aku liat komen aku ngga ada disitu terus aku kasih komen lagi tadi tapi ngga bisa juga..
    aku masih boleh baca lanjutannya kan authornim?

  11. Hah…sehun memang lancang main nyerobot aj cium” ank orag. Hahaha tp i like it. Hanna emosi tuhhh….
    Penjejelasanx jg detail.. hbat sm authorx.

  12. Mampuss si sehun bikin taktik leh ugha wkakakkaak😂😂 pgn ketawa baca chapter ini. Keren bngtt kak ff nyaa izin baca next yaa :)) buat chapter ini bnr2 bisa dipahami kata2nya gk bgitu susah dipahami easy aja gtu oiyaa pas baca chapter ini suka bngt ama kalimat ini
    “Karena mimpi untuk diraih, bukan hanya untuk dilihat dan dikagumi. ” KEEP WRITING KAK !! FIGHTING !

  13. gak pernah bosen baca lagi, mskpun udh brulang kali sihh. tp tetep ajah kren. gua suka sehun, dan gua suka pembawaan hanna

  14. gatau kenapa aku malah senyum gaje baca chapter ini hanna beda banget sama yg biasanya kalo sehun ya gitu gitu aja:3 aneh juga sih kalo karakter kai kaya gitu kalem kalem gimana padahal biasanya agak liar(?) Kan:v keren keren lah

  15. Daebak kak ceritanya. Sehun berani banget ya. Dan yg paling aku suka karakter khaza hanna, dia kayak perfect girl. Ah sumpah, lanjut kak

  16. Kayaknya sehun suka deh ama hanna. Dan hanna yg jarang bergaul dengan orang lainpun kayak tersipu gitu saat dicium sehun.
    Maaf kak aku komen di chap 4 dulu, soalnya kemarin aku udah komen di chap ini tapi nggak tahu kalo nggak masuk di bagian komentar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s