[Friend] Say Hello #Goodbye’s next series – by Rika26

Say hello, baby~

———

friend-say-hello

[Friend]

Say Hello

Copyright ©2015 Rika26 (choicoflat)

Starring by

EXO’s Park Chanyeol || OC’s Choi Young

find in cover (?) = etc.

 

With feelin’

Angst, Marriage Life, Romance

 

Just for Teen rated

Read before,

[Friend] Goodbye

Storyline, Cover, OC, and Chanyeol (of course) is mine! *dilaser Baekhyun

Don’t bash, no plagiat, pure’s mine! Keep RCL!

 

Sorry for typo(s), real absurd story, no feel, alur maksa, dsb.

C = Chan

Y = Young

Just Chanyeol and Young POV

——————————

C

Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan—ya setidaknya bagiku. Aku lulus dengan hasil yang sangat memuaskan, dan satu lagi hal yang paling membahagiakan bagiku, kalian tahu? Tentu saja tidak, baiklah, akan ku katakan. Aku dijodohkan! Oh, kalian pasti mengira aku gila karena pada umumnya orang akan sedih dan kecewa jika ia dijodohkan oleh orang tuanya. Tapi aku? Oh sungguh tidak, karena kalian tahu yeoja yang akan disandingkan denganku siapa? Anak tunggal Seolri Corp! Choi Sulli, yeojachinguku sendiri. Sudah mengertikan kenapa aku bahagia? Hah~ oh ya, aku jadi ingin membagi kebahagian ini dengan Young. Eh, tapi dia kemana ya? Kurasa baru dua jam yang lalu kami bertemu, ah! Aku mengambil handphoneku, dan—sial! Kenapa harus lowbatt? Ah, nanti saja aku memberitahunya, dan sekalian bertanya dia akan kuliah dimana.

“Oppa, kau sedang memikirkan apa?” Suara Sulli membuyarkan fikiranku, aku berpaling dan tersenyum kearahnya yang juga tersenyum kearahku, dengan lembut kuusap surai kecoklatannya. Eh, surainya mirip dengan rambut Young, hanya saja rambut Young lebih lurus, kurasa, “Young…”

“Oppa, kau bilang apa?” Sulli menatapku. Aish, kenapa aku jadi menggumamkan nama Young? Ah, aku harus benar-benar menghubunginya nanti… atau sekarang saja? “Seol, kajja kita pulang, aku merasa tidak enak badan” Ajakku, syukurlah Sulli mengerti, ia tersenyum dan segera menarikku menjauh dari taman.

*

Ada yang aneh, kenapa pintu rumahnya tidak terbuka? Ah, maksudku dibuka? Sudah puluhan kali aku menekan bel nya, tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan/? didalam sana. Aku berbalik dan melangkah pulang dengan wajah muram, aku sedikit melirik kearah taman, dan—binggo! Disana ada Shin ahjumma.

“Ahjumma!” Panggilku, wanita setengah baya itu berjalan pelan menghampiriku dengan tatapan bingung.

“Waeyo Yeol-ah?”

“Apa Young ada?” Tanyaku, kening Shin ahjumma tampak berkerut, aku menatapnya bingung, ada apa sebenarnya?

“Ne? Kau tidak tahu? Young sudah pulang”

Syukurlah ia sudah pulang, tapi…

“Pulang? Lantas mana dia?” Kening Shin ahjumma makin berkerut.

“Sudah kubilang dia pulang Yeol, ke Kanada”

Apa? Apa aku salah dengar? “K-ka-kanada? Ottawa?”

“Anni, Young tidak pulang ke Ottawa, melainkan ke Vancouver, sejak 5 jam yang lalu”

Ada yang aneh dengan jantungku, apa aku terkena serangan jantung? Ah! Jangan sampai! Tapi kenapa dadaku sakit? Apa tadi aku salah makan?

“Pulanglah, aku akan melanjutkan pekerjaanku” Shin ahjumma pamit, ia kembali menuju taman kecil dihalaman rumah keluarga Choi. Sedangkan aku? Aku berjalan pulang kembali kerumahku dengan tampilan—yang kurasa—tidak sedap dipandang mata. Ada apa denganku?

3 years later…

Y

Sudah 3 tahun ya? Dan aku masih hidup? Ah, itu keren sekali. Banyak orang yang mengatakan pada orang yang dicintainya ‘aku tak bisa hidup tanpamu’ dan kufikir, itu berlebihan. Buktinya, aku masih hidup sampai sekarang—meskipun tanpa cinta pertamaku. Kenapa aku berkata demikian? Ya, kurasa aku sudah dapat sedikit melupakan cinta pertamaku. Dan, kurasa aku menemukan orang baru yang memang seharusnya kucintai, mungkin pepatah ‘cinta datang karena terbiasa’ yang awalnya kufikir hanyalah sebuah pepatah semu itu ada benarnya juga, inilah buktinya.

“Oy, kita sudah sampai, kau kenapa melamun, baby?” Aw! Aku meringis tertahan, dia mencubit hidungku cukup keras. “Ya! Appo!”

“Ish, i’m sorry” Ia memohon dengan tampang bersalahnya, itu malah membuatku ingin tertawa. “Haha, kau lucu” Kini giliranku menarik pangkal hidungnya.

“Ya! Aish, kajja kita turun” Ia berjalan mendahuluiku, aku hampir tertawa terbahak jika saja seorang pramugari tidak memperingatkanku untuk segera turun.

Aku menghirup dalam-dalam udara ini, udara yang tidak kuhirup selama tiga tahun terakhir. Kulihat dia sedang mendengus dengan bibir mengerucut yang menurutku sangat lucu. “Kajja baby” Aku tersenyum jahil sambil menggandeng tangannya menuju mobil jemputan milik ayahnya sambil sesekali mencubit pangkal hidungnya yang terlalu mancung itu pelan.

*

“Ya! Aku ingin istirahat! Menjauhlah”

“Shirreo! Sebelum kau menciumku!”

Perdebatan ini selalu terjadi hampir setiap malam, aku memutar kedua bola mataku kesal.

Dengan bibir mengerucut aku berjalan pelan menuju pintu, aku ada ide brilian!

“Ehm, kudengar penghuni apartemen sebelah itu seorang namja tampan, bagaimana kalau kita, maksudku aku mengun—”

“Itu tidak akan terjadi!”  Sudah kuduga, ia langsung memelukku dan menggendongku menuju ranjang. “Ya! Turunkan!” Aku memukul pelan punggungnya yang lebar itu sambil tersenyum, kurasa aku tak salah mencintai orang.

***

C

Tak terasa sekarang sudah tiga tahun, sebenarnya kau dimana Young? Eh, kenapa aku jadi memikirkan Young? Arrrgh!

“Oppa! Cepat makan! Kau bilang kau ada meeting 40 menit lagi! Ppalli!” Aish, Sulli! Diamlah! Suara cemprengmu menggangguku! “Diam! Kau tidak lihat aku sedang lelah?!”

Aku melangkahkan kakiku keluar dari pintu apartemen, aku muak jika begini. Kulihat handphone ku yang sedari tadi terus bergetar karena panggilan Sekretaris Kim,  memangnya ini pukul berapa? Meetingnya kan masih 35 menit—mwoya?! Aish, sekarang apa? Aku bisa terlambat,  segera aku berlari menuju basement untuk mengambil mobilku, dan—oh! Aku meninggalkan kunci mobilku diapartemen. Kenapa aku sial sekali hari ini?

“Permisi, tuan. Bisakah kau minggir sedikit, aku ingin lewat”

Suara bodoh ini! Kenapa menggangguku!

“Hey, bisakah aku menumpang?” Tanyaku tak menghiraukan tatapan anehnya.

“Memangnya kau mau pergi kemana?”

“Kantor K.Li Group”

“Ah, kebetulan sekali aku—”

“Cepat! Aku bisa terlambat!”

Persetan dengan orang ini, yang penting aku bisa segera sampai disana atau appa akan membunuhku. Lagipula sepertinya orang ini tidak peduli dengan gerutuanku, ia hanya mengendikkan bahu dan segera menggas mobilnya menuju kantor yang kumaksud.

*

Aku segera turun dari mobilnya tanpa mengucapkan terimakasih, kulihat ia berjalan menuju meja resepsionis. Ku edarkan pandanganku keseluruh lobi, binggo! Ada Sekretaris Kim disana.

“Huft, maaf. Apa aku terlambat?” Aku menatap Sekretaris Kim takut-takut.

Sedang sekretaris Kim memandangku takjub, ada apa sebenarnya? “Kau sudah kenal dengan CEO perusahaan ini?”

“CEO? Siapa?”

“Kau tadi datang bersamanya kan? Si pria tinggi yang datang bersamamu tadi adalah CEO perusahaan ini”

Mwoya? Apa katanya? “Jinjja? M-ma-maksudku iya”

Oh! Kenapa bisa begini? Apa jangan-jangan nanti pria itu tidak mau bekerja sama dengan perusahaanku, aarrgh! Kau bodoh Park Chanyeol!

“Annyeonghaseyo, aku Wu Yi Fan, panggil saja Kris. Kau pasti Kim Joonmyeon kan?” Namja yang disebutkan Sekretaris Kim tadi menghampiri kami, ia tersenyum seraya berjabat tangan dengan Sekretaris Kim, lantas sekarang ia beralih hendak menjabat tanganku, “Dan kau pasti Park Chanyeol kan? Aku Kris” Aku balas menjabat tangannya seraya tersenyum, tampaknya ia tidak marah dengan kejadian barusan, huft syukurlah.

*

“Apa tadi pagi kau buru-buru sekali? Haha, aku sampai bingung Chanyeol-ssi” Aku, Kris, dan Sekretaris Kim berjalan beriringan, Kris sesekali mengeluarkan lelucon yang sanggup membuatku dan Sekretaris Kim tertawa, yah tampaknya ia namja yang seru,wajahnya tampan, posturnya juga tinggi, usia ku dengannya hanya terpaut dua tahun, sangat cocok untuk kriteria namja idaman Young. Apa? Young?

“Tunggu sebentar” Kris tampak menjauh sebentar, ia tampak menganggkat telfon dari seseorang, aku dan Sekretaris Kim pun ikut berhenti menunggunya.

***

Y

Aish! Apa meetingnya lama sekali? Aku kan sudah sangat merindukannya! Ugh—oh! Tersambung!

“Yeoboseyo, waeyo chagi?” Tanyanya lembut dari ujung sana, ah suara beratnya itu makin membuatku ingin segera memeluknya.

“Ya! Kenapa kau tidak mengangkat telfonku eoh?”

“Aish, memangnya kenapa? Kau merindukanku eoh?” Nada suaranya terdengar jahil, namun tetap saja membuat pipiku bersemu merah, syukurlah dia tidak ada disini, bisa-bisa ia menarik hidungku habis-habisan jika melihat pipiku.

“Ehm, apa boleh aku berbohong?” Balasku dengan nada manja.

“Ya! Aku tidak pernah mengajarkanmu berbohong eoh!” Ujarnya masih dengan nada yang sama, “Eoh tunggu sebentar” Kudengar diujung sana seseorang memanggilnya. “Aish, aku ada meeting lagi siang ini, nanti kita lanjutkan dirumah haha, sudah dulu ya, tunggu aku dirumah baby~”

Bip

Sambungan terputus, dan aku mendengus. Ugh—eh? Ada telfon masuk, segera saja ku angkat, namun sayangnya bukan Kris yang menelfon, melainkan appa.

“Yeoboseyo, waeyo appa?”

“Ke kantor security system center sekarang! Sistem terserang virus, para teknisi tidak bisa memperbaikinya, ppalli!”

Bip

Ugh! Apa aku juga harus bekerja?! Appa dan ahbeonim keterlaluan! Harusnya hari ini aku dan Kris bersantai dirumah, bukannya bekerja, tapi ah sudahlah, lebih baik aku segera pergi ke kantor SSC, appa membutuhkanku.

***

C

“Dari siapa?” Tanyaku saat Kris sudah kembali bersama kami.

“Oh, dari istriku” Kris memasukkan kembali handphone nya kedalam saku jas nya seraya tersenyum, tampaknya ia begitu bahagia mendapat telfon dari istrinya tersebut.

Aku dan Sekretaris Kim hanya mengangguk, kamipun kemudian melanjutkan jalan kami menuju ruang meeting kedua.

*

Kris menghampiriku yang duduk dilobi menunggu taksi, “Pulang bersama Chanyeol-ssi?” Tawarnya. Aku berfikir sejenak, lebih baik aku pulang dengannya daripada menunggu taksi yang entah kapan datangnya. Aku mengangguk mengiyakan, kemudian berjalan beriringan dengannya menuju basement.

“Kau tinggal ditingkat berapa?” Tanyaku sesaat setelah berhasil memasang safebelt, kulihat Kris tampak mengingat sebentar.

“Tingkat 12, apartemen nomer 12 – 3. Bagaimana denganmu?” Tanyanya balik. Aku baru sadar ternyata ia adalah tetangga ku,

“Whoa! Aku juga berada ditingkat 12, apartemen nomer 12 – 2” Ujarku takjub, “Kau yang baru pindah kemarin?” Tanyaku lagi.

“Eo nde, aku dan istriku pindah kesana kemarin. Ah ye, apa kau juga sudah menikah?”

Aku malas membahas ini, “Ye, aku sudah menikah. Hm, kau seperti bukan orang Korea asli. Kau blasteran?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Eo, aku lahir di China dan besar di Kanada, yah… begitulah”

Entahlah obrolan ini sudah sampai sejauh mana, yang kurasa kami sudah mengupas semuanya, masalah kantor, urusan saham, hingga kehidupan pribadi masing-masing. Sudah kuduga, Kris memang orang yang asyik diajak mengobrol, hingga tanpa kusadari kami telah sampai di basement. Kris memarkirkan mobilnya, setelah mengunci mobil, Kris dan aku kembali berjalan beriringan menuju apartemen kami masing-masing yang sama-sama terletak dilantai 12.

***

Y

Hhh! Lelah sekali rasanya, aku menghempaskan diriku diatas sofa panjang ruang tengah, hari pertama di Korea ternyata lebih sibuk daripada di Vancouver, ugh! Sebuah tangan tiba-tiba menarik hidungku pelan, “Ya! Appo!” dan berhasil membuatku menjerit tertahan karena kaget.

“Ish, i’m sorry baby” Ia duduk disampingku, kemudian merebahkan kepalanya keatas pahaku. Sekali lagi, ia kembali menarik hidungku!

“Ya!” Aku mengglitiki tubuhnya, dan ia ikut bangkit menggelitikiku, “Awas kau ya…”

Stop! Baby, stop! Ya! Geli—ugh!”

“Awas kau, aku tidak akan melepaskanmu, my baby” Ia membisikkannya tepat ditelingaku, dan sukses membuat tengkuk ku makin geli, “Ya! Eo? Ada tamu?” Kami menghentikkan kegiatan menggelitik/? kami saat seseorang menekan bel, secara refleks aku dan Kris memalingkan wajah kearah pintu, “Kau buka sana, aku haus” Ck! Dia beralasan pergi kedapur, kulihat ia tertawa kecil disana. Dengan malas, aku menghampiri pintu dan langsung membukanya tanpa melihat intercom terlebih dahulu.

“Kris… eoh, Young, benar? Apa kau ingat aku?” Seorang pria cantik/? terlihat berdiri didepanku dengan senyuman khas, aku ikut tersenyum membalasnya.

“Nde, kau… Leohan? Eo, Xiao Luhan! Ada apa? Apa kau mencari Kris?” Tanyaku, pria itu tampak berujar sambil mengangguk, “Ne, apa Kris ada?”

“Eo, sebentar, aku panggilkan. Ayo masuk terlebih dahulu” Aku dan Luhan masuk kedalam apartemen,  bertepatan dengan Kris yang baru saja kembali dari dapur dengan segelas air es ditangannya, “Krisseu! Ya!” Panggilku, Kris menoleh dan tampak kaget melihat seorang pria bersamaku, terbukti dengan air es dimulutnya yang menyembur hampir mengenaiku.

“Xiao Luhan! Eo, jamsimanyo!” Kris tampak kelabakan, ia meletakkan asal gelas air es nya, kemudian berlalu menuju kamar dengan tergesa-gesa. Lima menit kemudian ia sudah keluar lengkap dengan setelan jas kerja nya.

“Eo! Aku lupa, ck! Hari ini ada pertemuan dengan kolega dari Australia. Kenapa aku bisa lupa? Ya! Luhan! Kenapa kau tidak mengabariku eoh?” Kris mencoba memasang dasinya, namun selalu gagal. Seraya terkekeh, aku mengambil alih dasinya kemudian memasangkannya keleher panjangnya, kulihat dari ekor mataku Luhan hanya geleng-geleng kepala.

“Ya! Sudah hampir puluhan kali aku menelfon dan meng- sms- mu! Tapi semuanya tidak ada yang kau jawab dan balas. Jadi aku memutuskan untuk pergi ke apartemen mu selagi masih ada waktu” Luhan mempout bibirnya, ia jadi semakin cantik menurutku! Ah~ neomu yeoppo!

“Haish, lupakan. Chagi, aku pergi. Bye~” Kris mengecup keningku, kemudian ia menyeret Luhan yang membungkuk kearahku menuju keluar apartemen. Aku kembali terkekeh, dan memutuskan untuk menonton televisi.

***

C

Aku terus mengacak isi brankasku, dimana file itu?! Eo! Apa ini?

Aku menatap amplop biru itu bingung mencoba mengingat. Eo! Amplop ini diberikan oleh Kim Myungsoo, kira-kira 3 tahun yang lalu, pantas saja warnanya sudah sedikit kusam. Apa jangan-jangan Myungsoo… eo! Tidak mungkin! Lebih baik aku lihat isinya. Tapi… buka tidak ya?

Setelah berfikir cukup lama dan meyakinkan diriku bahwa Myungsoo bukan seorang homo, kutarik pita biru yang melekat di amplop itu perlahan, kemudian kukeluarkan isinya, disana tertata rapi tulisan tangan seseorang yang sangat kurindukan.

12cont

Tak terasa setetes kristal bening menuruni pipiku, menciptakan sungai kecil. Isi surat ini… sungguh.

Ku masukkan kembali surat itu dan menyimpannya dalam saku ku saat kudengar suara derap langkah seseorang dibalik pintu kamar.

“Oppa, kau bilang ada meeting dengan kolega dari Australia ‘kan? Cepatlah” Aku hanya mengangguk menanggapi omongan Sulli, bersamaan dengan file yang kucari terjatuh dari brankas kelantai, binggo! Akhirnya kutemukan file nya! Dengan segera aku menyambar jas kerja ku dan melangkahkan kaki ku menuju pintu.

***

Y

Acara televisi ini sungguh membosankan, dan—eoh? Ini kan kunci mobil Luhan? Dan.. ini juga kunci mobil Kris? Lalu.. aigoo.. mereka memang pelupa, ck! Segera ku gapai blazer coklat milikku yang tersamping didekat pintu keluar. Setelah memastikan pintu terkunci dengan password, kulangkahkan kaki ku menuju lift, terlihat juga disana seseorang yang sedang menunggu lift selesai digunakan.

Aku sedikit menundukan kepala menghormatinya, ia pun begitu. Entah perasaanku saja atau bagaimana, aku seperti mengenalinya, seperti dekat dengannya, tapi… entahlah, mungkin hanya perasaanku saja.

“Park Chanyeol?” Eh? Kenapa aku menggumamkan nama itu?

“Eo? Kau mengenalk… CHOI YOUNG?!” Aku terkesiap dengan teriakannya diakhir kalimat, aku menarik nafasku sebentar sebelum menghembuskannya, jadi benar? Pria ini… Park Chanyeol?

“Ne, Chanyeol-ssi. Eo? Kau Chanyeol ‘kan?”

“Ya! Apa kau melupakanku CHOI YOUNG-SSI?!” Ia menekankan kalimat Choi Young-ssi, lagi. Matanya tampak memancarkan amarah, aku tak tau kenapa. Apa ia marah padaku karena telah meninggalkannya dulu? Ah, itu lucu sekali, tidak mungkin. Aku tersenyum pahit mengingatnya, butiran kristal sudah hampir meluncur melewati pipiku, ia juga sama, dipelupuk matanya juga tampak genangan air yang siap untuk turun kapan saja.

“Memangnya kenapa?” Aku mencoba menatap mata sendunya,

“Aku merindukanmu, ya!” Tangannya terbuka hendak memelukku, tubuhku ingin membalas pelukan itu, namun hatiku berkata lain. Ada apa ini?

Bertepatan dengan pintu lift yang terbuka, Chanyeol menurunkan tangannya, ia kemudian hanya tersenyum kecut dan mencoba menghapus air mata nya yang sudah menggenang.

“Ah! Kebetulan sekali, kau membawakan kunci mobil, chagi?”

Aku menyeka air mataku yang hampir keluar. Kemudian aku tersenyum kearah seorang yang baru saja keluar dari lift, Kris.

“Eo, aku membawanya, igeo” Aku menyodorkan kunci mobil miliknya dan milik Luhan bersamaan. Setelah mengacak rambutku, tatapan Kris beralih pada Chanyeol, apa? Chanyeol? Aku melupakannya tadi, ah, ia pasti marah padaku, tapi ah sudahlah.

“Eo, annyeong Park Chanyeol-ssi” Kris tersenyum kearah Chanyeol, begitupun sebaliknya. Hanya saja, senyum Chanyeol seperti senyum bingung bercampur tidak ikhlas(?) menurutku.

“Kau mengenal Chanyeol?” Bisikku, Kris mengangguk, “Say hello, baby. Dia partner kerjaku untuk selama yah… kontrak kerja ini berjalan, mungkin” bisiknya.

“Engg, kau mengenal Young? Apa kau temannya?” Chanyeol ikut masuk dalam pembicaraan. Sedang aku hanya menatap Kris menunggu apa yang akan dia katakan pada Chanyeol.

“Eo? Mengenal? Tentu saja aku mengenalnya” Kris terkekeh sebentar, lalu meletakkan tangannya pada bahuku,  “Dia istriku, Park Chanyeol-ssi”

“A-APA?!”

*END or TBC?*

A/N

Yo, makin gak jelas yo yo :3

Ada yang mau dilanjut gak? :3

Lanjut? Gak? Yaudah, cukup sampai disini(?):v

Baydewey aku mau nyetop(?) FF Just ya :3 responnya dikit banget, aku jadi males ngenext nya u,u

Untuk itu(?) aku ada project FF baru(?) tapi masih proses pemilihan tema dan cast :3

Ntar aku adain vote juga, kek yang dilakuin(?) sama author Irna Cho :3

Udah dah :’v must Keep RCL ya! ^^

Gak RCL? Panci Diyo melayang(?) :’v


Mini Library

Series

Oneshot

Silent readers? Is not my style -_-


Plagiat? Please contact me :

Advertisements

33 responses to “[Friend] Say Hello #Goodbye’s next series – by Rika26

  1. Aku kira young belum nikah terus chanyeol belum nikah xD
    Tapi gak papa young cocok kok sama kris xD
    Ah penasaran bagaimana ekspresi sama chanyeol ntr waktu tau young istrinya kris xD

    • Hahay XD rencananya mereka mau aku tunangin aja dulu(?) tapi gak jadi u,u *doh apaini*
      Thankseu komennya ya^^v

  2. Ciee chanyeol kaya kesamber petir nih pasti potek banget-_- dasar, dikasih surat malah baru dibuka :’D
    Young udh nikah beneran? Atau kris yang ngaku2? Tp gpp dah udh pda nikah :’D ga boleh cerai2 wkwk
    Next yaa

    • Kkkk~ XD
      Kasian ya Chanyeol *peluk Chanyeol/?:v
      Yah mungkin Chanyeol pikun waktu itu ya/?:v

      XD thankseu udah baca n’ komen ya ^^v

    • Itu kan ada aku bilang End or Tbc(?) XD
      Tergantung readersnya ya mau lanjut apa enggak :’v
      yang penting makasih udah baca n’ komen ya ^^v

  3. Next dong thor XD , aku penasaran sama ekspresi chanyeol oppa saat dia tahu kalau young udh nikah :3
    FF nya bagus banget loh thor 🙂

    • Hihi XD
      Mungkin kalau jadi Chanyeol rasanya bakal sakit banget(?) ya:v *bahasamacamapaini:’v
      makasih udah baca n’ komen ya ^^v

  4. akhir ny chanyeol metemu sma young tpi sayang pas mereka ketemu lg young udh punya suami. next tor

    • Disini Chanyeol juga udah nikah loh u,u
      Moga bisa dinext ya :’3
      Thankseu udah baca n’ komen ^^v

  5. Pingback: BOOKMARKET | ELECTRIC WATER FROST·

  6. Yhaa udah pada nikah ternyataㅜㅜ tapi gapapalah ntar konfliknya makin bikin greget 😀 kalo bisa youngkris cerai aja trus young ama ceye dah /digaplok/ jadikan kek ‘pasangan yg tertukar/?’ Wkwkwk :v
    lanjut thor~

    • Lah :v
      aku lagi frustasi mikirin si young ama siapa :’v

      Thankseu udah baca n’ komen yo ^^v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s