Dont Stare at Me With That Eyes [Chap.4] – By Kimraeha

dontstare-bbon-posterchannel

Title : Don’t Stare at Me With That Eyes [part.4]

Author : Kimraeha

Cast :

  • Oh Sehun (EXO)
  • Lee Yoo Ri a.k.a Lee Hana(OC)

Main cast :

  • Other cast. You can find it~

Genre : Angst, Horror, Mystery, Romance, Sad/Hurt, School-life.

Rating : 16

Poster : Bbon @ Poster Channel

Disclaimer : Gejala yang ada di FF ini mungkin tidak sama dengan asli nya. FF ini murni dari pikiran author. DONT BE A PLAGIATOR.

Last Chapter

Chap. 1

Chap.2

Chap.3

*

“Without glasse im changed”

*

Prev chap.3

“Menangislah, itu cara yang lebih efektif di banding melakukan ini semua.” Suho tersentak mendengar kalimat tersebut keluar dari mulut Yoo ri, sudah lama Suho tidak merasakan hal seperti ini, bisa juga di sebut kasih sayang. Suho membenamkan wajahnya pada bahu Yoo ri dan mulai mengeluarkan semuanya, sementara Yoo ri mengelus punggung Suho dengan sabar. Malam ini bisa jadi malam terakhir mereka bisa seperti ini.

***

Author

“Gomawo.” Yoo ri tersenyum di sebelahnya menandakan ‘sama-sama’, Suho berjalan beriringan dengan Yoo ri di trotoar. Yoo ri berhasil membujuk Suho untuk pulang dan memahami kejadian yang telah terjadi.

Nasi telah menjadi bubur. Kenyataan yang terjadi di keluarga Suho harus di terima dengan lapang dada oleh Suho. Walaupun ini kali pertamanya, ia harus belajar dari Yoo ri yang memiliki lebih banyak masalah dari nya. Yoo ri menghentikan langkahnya, sontak Suho langsung berhenti dan bertanya padanya.

“Ada apa?” Tanya-nya tanpa persaan apa-apa.

“Aku akan kembali.” Tanpa basa-basi Yoo ri langsung mengatakannya, sedari tadi ia mencari waktu yang tepat untuk mengatakannya. Sebenarnya ia tak ingin mengatakannya sekarang, tapi ia sudah tak bisa menahan untuk waktu yang lebih lama.

Suho diam sebentar, baru saja ia merasakan kasih sayang yang tulus dari seseorang tapi orang tersebut akan pergi meninggalkannya, lagi. Suho tahu maksud omongan Yoo ri. Ia akan kembali pada negeri asalnya, waktu yang di tentukan tidak sama dengan yang akan terjadi. Nyatanya Yoo ri pulang lebih awal. Suho baru merasa kehilangan saat Yoo ri mulai menaruh perhatian kepada nya dan membuat laki-laki itu nyaman.

“Kapan?” Suho bersikap senormal mungkin walau ia tak bisa memungkiri, hati nya hancur. Disaat yang sama otak dan hati nya bekerja keras menahan agar ia tak menangis lagi. Ia tidak bisa menahan Yoo ri karena ia tak punya hak sama sekali, bahkan Yoo ri masih belum menerima Suho dengan sempurna. Ia jadi berfikiran Yoo ri melakukakan itu semata-mata hanya untuk perpisahan, tapi Suho menepis pikiran itu jauh-jauh.

“Lusa.” Nada Yoo ri sedikit bergetar, Suho mengeraskan rahangnya. Keadaannya memburuk kembali setelah tadi membaik. Mengapa hari ini sangat sial, pikir Suho.

Matahari mulai terbenam, sekeliling mereka menjadi lebih dingin dan gelap. Bukan saja suasana sekitar yang gelap dan dingin, tetapi hati mereka juga. Kedua nya di landa kebimbangan luar biasa, khususnya Suho, otaknya masih tak bisa menerima masalah-masalah yang mulai datang padanya. Suho menatap Yoo ri yang sedang memainkan kaki nya pada kubangan tempat ia berdiri.

Yoo ri sendiri cukup berat meninggalkan negara ini, mengingat ia sudah mempunyai cukup banyak teman dan juga ada seseorang yang nampaknya kini membutuhkan dirinya. Yoo ri khawatir Suho akan melakukan hal buruk lagi jika ia kesepian. Ia harus banyak berterima kasih pada Suho yang sudah merubahnya sampai sejauh ini.

Keputusan appa nya kemarin lusa membuat Yoo ri diam dan hanya berbicara yang penting saja pada appa nya. Saat makan malam pun Yoo ri mendiamkan appa nya, ia sudah mulai nyaman dengan lingkungannya sekarang dan ketika sudah nyaman ia akan pergi dan tak tahu kapan akan kembali. Yoo ri sempat hampir memprotes karena ini belum satu tahun seperti yang di janjikan, tapi ia mengingat sesuatu.

Yoo ri tahu ia akan kembali ketika eomma nya menelpon appanya saat tengah malam 4 hari yang lalu. Yoo ri terbangun saat appa nya membuat suara gaduh di luar. Yoo ri bangun dan mengintip ke lantai bawah, ia bisa mendengar sayup-sayup appa nya yang sedang berbicara memanggil nama eomma nya. Percakapan kedua nya terdengar cukup serius, walau Yoo ri tak bisa mendengarnya seluruhnya, tapi Yoo ri yakin itu lah sebab appa nya mengatakan bahwa Yoo ri akan pulang.

“Baiklah, berarti kita harus memanfaatkan esok hari.” Ujar Suho sambil tersenyum, senyumnya terlihat dipaksakan, Yoo ri tahu itu. Yoo ri mengangguk sambil tersenyum untuk menjaga perasaan Suho agar tidak memburuk. Yoo ri merasa bersalah pada Suho karena merusak perasaannya lagi.

“Hm.” Yoo ri mengangguk dan mengikuti Suho yang menyuruhnya naik ke mobil Audy silvernya. Di dalam mobil keduanya tampak canggung, Suho yang konsentrasi pada jalan sementara Yoo ri hanya mendengarkan lagu dari ponselnya. Kedua insan itu memilih untuk menenangkan diri mereka dengan caranya masing-masing.

“Kau akan baik tanpa ku kan?” Yoo ri betanya dengan hati-hati. Suho hanya tersenyum penuh arti dan mengangguk, Yoo ri tahu senyuman itu tak asli.

“Kau sudah menyiapkan semuanya?” Appa nya keluar kamar begitu Yoo ri masuk ke dalam rumahnya. Yoo ri mengangguk dan tampak kaget dengan kehadiran appa nya. Yoo ri tampak lega karena merasa appa nya tidak akan mengungkit ia dari mana.

“Bagus. Apa kau merasa terlalu cepat untuk kembali?” Yoo ri hanya tak memberi tanggapan, pikirannya jelas saja mengatakan iya, tapi tidak mungkin ia menolak keputusan appa nya. Yoo ri mengangguk dengan ragu dan segera memberi penjelasan.

“Hanya saja appa akan sendiri lagi, padahal aku masih ingin bersama appa.” Mata nya berubah sendu, appa nya hanya mangut-mangut di depan pintu kamarnya. Yoo ri meminta izin untuk naik ke kamarnya, ia beralasan ingin kembali mengepack barangnya.

Yoo ri membuka kamarnya dan menyalakan saklar di sebelah pintunya. Terdapat beberapa kardus kecil berisi barang-barang miliknya. Ia tinggal mengepack pakaiannya dan semua sudah siap. Ia harus tidur sekarang, Suho berjanji akan mengajak Yoo ri ke suatu tempat besok. Yoo ri pun mengganti pakaiannya dengan piyama dan segera tertidur.

Tin tin

Yoo ri melihat ke arah bawah balkonnya. Audi silver itu sudah terparkir rapi di halamannya. Yoo ri menyinggungkan sedikit senyum dan kembali ke kamarnya. Ia mengenakan pakaian santai dan tak lupa syal nya, walau hari sudah siang, cuaca nya akan tetap dingin karena sudah mulai masuk ke musim dingin.

Yoo ri turun ke bawah dan mendapati Suho sedang mengobrol santai dengan appa nya. Pakaiannya juga santai seperti Yoo ri. Suho menyinggungkan senyum saat melihat Yoo ri mucul. Ia segera mengajak Yoo ri keluar rumah setelah berpamitan dengan appa nya.

Di perjalanan Suho menyetel musik keras-keras dan sesekali mengikuti nya. Yoo ri yang bingung dengan liriknya hanya bisa tertawa melihat tingkah Suho yang seperti anak kecil.

“Kita akan kemana?” Teriak Yoo ri disela-sela lagu tersebut. Ia berteriak karena volume musik yang sangat kencang. Suho mengecilkan volume nya dan bertanya apa yang tadi Yoo ri katakan. Yoo ri mendecak dan mengatakannya dengan nada khas nya.

“Kita akan kemana? Kau belum memberitahu ku.” Orang yang ditanya justru senyum-senyum dan bukannya menjawab, membuat Yoo ri kesal.

“Kau akan tahu saat kita sudah sampai.” Yoo ri menenangkan diri nya saat mengingat ini akan menjadi hari terakhirnya disini. Ia harus berbuat baik pada Suho untuk membalas budi, Yoo ri merasa sangat berterima kasih kepadanya.

Suho membiarkan kaca mobilnya sedikit saat mereka sampai di daerah perbukitan, membuat hembusan angin yang dingin masuk saat mobil melaju santai.

Mereka berhenti di sebuah padang rumput yang luas dan langsung menghadap ke pemandangan indah San Francisco. Yoo ri terkesiap dengan pemandangan yang di suguhkan.

“Ayo turun.” Suho mengajak Yoo ri yang masih terkesima dengan hal yang ada di hadapannya.

Suho menyenderkan punggungnya pada kap mobil, Yoo ri mengikuti tepat di sebelahnya.

“I’ll have to let you go. You top my days when you come with all the good things i can never imagine.” Yoo ri melihat ke arah Suho yang sedang menatap pemandangan di depannya.

“And i’ll have to let you go now. When my goal is almost reach.” Yoo ri mengerutkan dahi nya ketika mendengar lanjutan kalimat Suho. Tujuan apa yang sebentar lagi Suho capai? Dan apa hubungannya dengan Yoo ri?

Suho tersenyum di sebelah Yoo ri dan masih memandangi pemandangan. Pandangannya nanar ke depan, Yoo ri ingin membaca pikirannya, tapi ia pikir ini bukan waktu yang tepat.

“Ayo kita pergi.” Yoo ri tersentak saat tangannya di tarik Suho menuju mobilnya.

“Mengapa sangat cepat?” Yoo ri mencoba merenggangkan cengkraman Suho.

“Karena di sini dingin, dan terlalu damai, aku tak terlalu menyukainya, lagipula bukannya kau harus berberes?” Suho masih berusaha memasukan Yoo ri ke dalam mobilnya. Yoo ri lengah dan dalam satu hentakan ia sudah di dorong masuk oleh Suho. Suho memasang safety belt Yoo ri dan pergi ke ke kursi kemudi.

“Jadi hari ini berakhir?” Yoo ri menekuk wajahnya karena merasa tak puas dengan hari yang di janjikan Suho. Suho malah sibuk dengan mobilnya yang ingin ia putar balikan.

Sepanjang jalan Yoo ri menghindari kontak mata Suho, yang ia pikirkan hanyalah cepat sampai di rumah, mood nya sudah berantakan karena hari yang diinginkannya tidak sesuai.

“Kau tidak mau turun?” Suho bertanya pada Yoo ri saat ia melepaskan safety belt nya sementara Yoo ri masih tidak melakukan apa-apa. Dengan kasar Yoo ri melepas safety belt miliknya lalu keluar mobil.

“Mwoya? Kau marah hanya karena aku mengajakmu kesana dan tak melakukan apa-apa?” Suho berteriak sambil tertawa saat Yoo ri hampir memasuki rumahnya. Yoo ri berhenti dan berbalik.

“Bukan hanya marah, tapi aku juga kesal.” Sedetik kemudian ia berbalik dan masuk kerumahnya. Suho masih menganggap hal itu lucu dan tentu saja masih tertawa, ia mengekor Yoo ri sampai naik ke kamarnya. Tapi saat baru saja ia akan masuk ke kamar Yoo ri, Yoo ri langsung menutup kamarnya dan sukses membuat hidung Suho terantuk cukup keras oleh daun pintu nya, tawa yang awalnya ada di gantikan dengan rintihan kesakitan.

“Aww. Yak! Appo aish buka ini!” Suho memegang hidungnya yang sakit sambil terus berusaha membuka pintu Yoo ri.

Setelah cukup lama berusaha membuka pintu sambil menahan sakit di hidungnya, akhirnya Suho menyerah dan duduk di depan pintu Yoo ri sambil menyenderkan punggungnya, tentu saja masih memegangi hidungnya yang sakit.

“Kau tahu..” Suho mulai berbicara. Sementara di dalam Yoo ri sedang merebahkan dirinya di kasur sambil memeluk kertas ukuran A3 tersebut.

“Sebelum kau datang, aku tidak memiliki teman yang benar-benar seorang teman. Mereka hanya menginginkan harta ku saja, dan..” Suho menghentikan ceritanya memastikan ada suara dari dalam, rupanya Yoo ri mulai bergerak dari kasur menuju pintu kamarnya, suara itu berasal dari seprei yang bergesekan. Yoo ri berjongkok menghadap pintu. Suho menyinggungkan senyum, ia tahu Yoo ri mempunyai hati yang lunak, dan cerita Suho adalah cerita yang memang ingin ia utarakan tetapi tidak punya waktu yang tepat.

“.. Dan aku anak tunggal sekarang, seharusnya aku mempunyai adik, tapi tuhan mengambilnya saat ia berusia 17 hari. Itu sebabnya aku selalu kesepian.” Yoo ri tersentak saat tahu Suho punya adik, nasibnya hampir sama, yang membedakan Yoo ri menjadi seorang adik bukan kakak. Yoo ri mulai merasa bersalah karena sebentar lagi ia akan pergi dari sini.

“Apa kau mendengarkan ku?” Suho mulai berdiri menghadap pintu, didalam Yoo ri ragu-ragu untuk menjawab, tapi akhirnya iya menjawab.

“Hm.”

“Bagus, sekarang tolong buka ini.” Yoo ri berpikir beberapa kali sebelum membuka pintunya, ia masih kesal dengan Suho dan ia juga merasa kasihan pada Suho. Pikirannya menjadi bimbang.

Suho hampir putus asa sampai suara anak kunci terbuka terdengar di telinganya, Suho tersenyum dan bersiap untuk langsung masuk ke dalam. Tinggal satu kunci lagi tapi suaranya tertahan, Suho menaikan alisnya bingung.

“Tidak, kau pulang saja. Besok kita masih bisa bertemu di bandara.” Tangan Suho menyelos dari gagang pintu. Ia menatap sedih pintu Yoo ri dan meninggalkannya.

Sementara di dalam, Yoo ri tetap merasa bersalah, tapi ia tak bisa menerima Suho terus menerus. Ia merasa menjadi sedikit lebih ‘gampangan’ terhadap Suho akhir-akhir ini. Bukan hanya karena perjalanan tadi saja, tapi ia punya banyak alasan yang menyebabkannya menghindar dari Suho, salah satunya menyangkut ketakukan terbesarnya.

Yoo ri menarik 2 koper pada tangan kanan dan kirinya. Ia menunggu appa nya yang sedang mengurus sesuatu sambil duduk di kursi tunggu. Ia juga menunggu Suho, ia sudah berjanji hari ini akan datang.

Appa nya sudah kembali dan mereka berencana untuk makan siang terakhir mereka. Appa nya tidak akan ikut ke sana karena masih ada banyak urusan yang harus di selesaikan disini. Yoo ri tampak gelisah sambil sesekali melihat jam di ponselnya.

“Kau sudah tahu masalah keluarga junmyeon?” Sedari tadi appa nya memperhatikan gerak-gerik Yoo ri yang terlihat seperti menunggu seseorang. Yoo ri mengangguk pelan. Cahaya sedih matanya terpancar dari balik sotflens coklatnya.

“Kau pasti merasa bersalah karena harus meninggalkannya sendiri bersama masalah-masalahnya.” Appa nya menebak dengan tepat. Yoo ri menatap datar piringnya yang telah kosong.

“Sebentar lagi ia datang, kita tunggu saja.” Appa nya berdiri dan membayar makanan mereka. Yoo ri dan appa nya kembali ke ruang tunggu, 30 menit lagi pesawatnya akan terbang ke korea.

Suho memacu mobilnya dalam kecepatan tinggi, ia terus melirik arlojinya. Tadi pagi ada sedikit masalah dengan appa nya yang membuatnya sedikit terlambat untuk pergi ke bandara.

Mobilnya berhenti dan ia segera keluar dari mobilnya, ia berlari ke dalam mencari sosok yang sudah ia beri janji. Ia menabrak seorang perempuan hingga barang-barang dan juga gadis tersebut terjatuh.

“Maaf, aku ingin membantu mu tapi aku sangat terburu-buru.” Gadis tersebut tersenyum dan mengangguk. Suho langsung kembali berlari sambil mencari lagi.

“Appa, 10 menit lagi aku harus pergi, dan dia belum datang.” Yoo ri menatap pintu masuk ruang tunggu dengan datar. Appa nya mencoba menenagkan dengan mengelus punggungnya. Yoo ri harus minta maaf pada Suho, itulah sebabnya ia mulai khawatir saat orang itu tak kunjung muncul.

Suara pemberitahuan untuk segera menaiki pesawat tujuan korea sudah terdengar. Dengan berat hati Yoo ri akan melangkahkan kaki nya menuju gate untuk keluar. Ia memeluk appa nya untuk terakhir kali hari ini.

“Apa aku terlambat?” Sosok yang di tunggu Yoo ri akhirnya datang dalam keadaan yang cukup berantakan. Suho tersenyum walau wajahnya sangat lelah tapi masih terlihat sangat ceria. Yoo ri tak bisa menyembunyikan senyumnya lagi dan mendekat ke arah Suho.

“Aku akan mengunjungi mu jika liburan.” Suho meletakannya kedua tangannya pada pundak Yoo ri, Yoo ri mengangguk. Suho melirik gate yang berada di belakang Yoo ri. Sudah banyak yang keluar, dan seharusnya Yoo ri juga sedah keluar. Suho tak tahu harus melakukan apalagi.

“Sudah sana, kau hati-hati ya. Jangan melupakan ku.” Suho mengusap kepala Yoo ri lembut, Yoo ri sedikit kecewa saat ia akan benar-benar pergi. Yoo ri membalikan badan dan berjalan ke arah gatenya. Ia memeluk appa nya sekali lagi dan pergi meninggalkan mereka.

“Yoo ri-a! Hati-hati!” Suho meneriaki Yoo ri yang belum jauh dari tempatnya. Appa Yoo ri terlihat sedikit terkejut saat Suho mengetahui nama asli anaknya. Dan Yoo ri pun menghilang di balik gate tersebut.

“Sudah berapa lama kau tahu?” Appa Yoo ri dan Suho baru saja keluar dari bandara.

“Ne? Tahu apa?” Jawab Suho.

“Nama asli nya.”

“Ah itu, kertas usang yang bergambar hangul ‘LEE YOO RI’ dengan goresan pensil.”

“Mwo? Dimana dan kapan kau melihatnya?” Wajah appa Yoo ri berubah dan membuat Suho bingung, memang apa salahnya dengan gambar itu?

“Di kamarnya tepatnya di meja riasnya, waktu itu.” Appa nya mengangguk dan terlihat menerawang. Suho masih belum mengerti dan membiarkannya.

“Ne.. tadi aku melihatnya saat di bandara.” Seseorang sedang bercakap di telepon.

“Aku tidak tahu, tapi ia bilang sedang terburu-buru.” Lanjutnya.

“Baiklah.” Lalu menutup telponnya dan kembali berjalan.

Orang itu menyeret kopernya sambil memakai kacamata hitamnya. Badannya yang mungil terbalut sweater pink tebal dan rok mini hitam, rambut pirangnya di biarkan tergerai.

Yoo ri sampai di Korea pada jam 2 dini hari, karena sempat transit di berbagai negara. Bandara masih sepi, yang ada hanya beberapa turis yang kelihatannya baru sampai juga. Yoo ri belum memberitahu eomma nya kalau ia sudah sampai, ia akan memberitahunya jika sudah pagi.

Yang Yoo ri lakukan hanya duduk di kursi tunggu sambil mendengarkan mp3 nya. Ia sesekali mengecek jam yang ada di ponselnya. Sekarang sudah jam 4 pagi, mungkin eomma nya sudah bangun.

Yoo ri mencoba menghubungi eomma nya sekali tapi tidak tersambung, ia mengurungkan niatnya untuk menelpon sekali lagi karena ia berfikir eomma nya masih tidur. Ia pun kembali menunggu.

Yoo ri ketiduran di bangku tunggu sampai ia dibangunkan oleh getaran dari ponselnya, eomma nya menelpon. Yoo ri segera mengangangkatnya.

“Eomma aku sudah berada di Korea da-”

“Tidak usah, biar aku saja.”

“Aku bisa eomma, eomma tunggu saja di rumah ne?”

“Jinja? Baiklah aku akan segera pergi.” Yoo ri mengakhiri percakapannya dan menelpon taksi. Tak lama kemudian taksi pun datang.

Ia memanfaatkan perjalanan dengan tidur, waktunya satu setengah jam. Ia sudah melewati penerbangan yang melelahkan.

Kediaman Sehun

“Eomma aku akan pergi olahraga.” Sehun menegak susu coklat yang sudah di sediakan eomma nya. Hari ini hari libur setelah seminggu dirinya melewati ujian yang melelahkan di tambah lagi dengan tempat duduk nya yang sangat-sangat tidak ia inginkan. Gadis itu terus saja mengganggunya selama di sekolah, ia menggeleng keras, Sehun tak ingin memikirkannya di pagi hari karena pasti akan merusak mood nya.

“Ne, hati-hati yang sayang.” Eomma nya sedang menjemur baju di atas. Sehun mengambil sepatu olahraga nya dan melakukan pemanasan. Ia mulai berlari dengan tempo pelan di halaman rumah kemudian keluar pagar.

Sudah cukup lama Sehun berkeliling di daerah sekitar, ia berniat pulang. Karena dirinya lelah, Sehun memutuskan untuk melewati jalan yang lebih dekat untuk sampai ke rumah. Ketika berjalan, ia berhenti, sepertinya ia melihat sesuatu. Ia menerawang kedepan dan menipitkan matanya agar penglihatanya menajam. Ia membelakan mata saat tersadar apa yang sedang ia lihat, ia tak percaya dengan penglihatanya dan menggeleng keras, tapi tidak seperti di kantin waktu itu, sesuatu yang dilihatnya tidak hilang, melainkan tetap disana sedang menurunkan koper dari bagasi taksi.

Sehun maju dengan langkah yang tersendat, mata nya masih terpaku oleh seorang disana. Orang itu tersenyum saat seorang wanita paruh baya menghamipiri dan memeluknya.

Sehun, ia tahu senyum itu, senyum yang jarang terlihat itu jadi ia tak mungkin salah. Pikirannya benar, itu adalah sosok yang beberapa bulan ini ia pikirkan. Walaupun penampilannya berubah banyak, tapi Sehun tak mungkin salah mengenal orang itu.

Sehun memberanikan dirinya untuk melewati rumah itu ketika pemilik rumah sudah masuk. Ia melirik pintu kayu yang tertutup itu dengan hati-hati, memastikan pemilik rumahnya tak akan keluar lagi.

Di dalam rumah Yoo ri.

“Bagaimana perjalanan mu? Omo kau jadi lebih cantik setelah dari sana.” Eomma nya memeluk Yoo ri sambil terus mengembangkan senyumnya. Yoo ri tersenyum dengan hangat dan menbalas pelukan eomma nya.

“Sangat lelah eomma, aku transit di 2 negara.” Yoo ri menunjukan wajah lelahnya, eomma nya langsung mengusap wajah Yoo ri seakan banyak keringat yang menempel. Yoo ri hanya tertawa melihat tingkah eomma nya. Ia sangat merindukan eomma nya itu. Selanjutnya ia memeriksa semua koper dan barang-barangnya.

“Satu.. dua.. sepertinya ada yang kurang.” Yoo ri mangut-mangut sambil memperhatikan barang-barangnya.

“Oh iya! Bungkusan oleh-oleh, karena itu besar dan berat aku meninggalkannya di luar sebentar.” Yoo ri teringat dan ingin bergegas mengambilnya, tapi tangan eommanya mencekal lengannya.

“Kau kan lelah biar eomma saja.” Eomma nya hampir keluar, tapi Yoo ri merasa bungkusan itu berat untuk di angkat sendiri, jadi ia memutuskan keluar bersama untuk membantu.

Sehun masih berdiri di luar memandangi pintu kayu tersebut. Ia tak berkutik sedari tadi, hingga suara pintu di buka membuat mata nya terbelak, ia panik. Ia tak tahu harus berbuat apa dan masih diam, sampai pintu itu terbuka barulah ia lari secepat yang ia bisa.

“Eoh, ada apa dengan orang itu? Lari nya cepat sekali.” Eomma nya melihat Sehun, tetapi tidak melihat wajahnya, Sehun sudah lebih dulu lari sebelum menampakan wajahnya.

Yoo ri melongokan kepala di belakang eommanya, mengikuti arah pandang eomma nya dan melihat ada orang berlari. Yoo ri mengedip kan matanya, sepertinya ia familiar dengan postur tubuh orang itu.

‘Sepertinya aku kenal, tapi siapa ya?’ Yoo ri menerawang ke atas selama beberapa saat sampai di panggil eomma nya untuk membantu membawa bungkusan besar itu. Saat mengangkat Yoo ri masih memikirkan orang tadi, ia benar-benar seperti mengenal orang itu tapi tak ada satu pun orang yang masuk ke dalam pikirannya. Ia sudah tak mau memikirkannya dan memilih mengistirahatkan tubuhnya.

Sehun POV

Aku berhenti pada mesin penjual minuman di taman. Lelah sekali rasanya habis berlari ketika tubuh sedang tidak siap. Dan gara-gara berlati tadi kaki ku terkilir. Aku merutuki diriku sendiri karena bersikap bodoh. Mengapa aku harus berlama-lama disana?

Aku memasukan koin pada mesin penjual minuman dan menekan tombol 7. Cola pun keluar dari bawah mesin. Aku membukanya dengan kasar karena aku sudah sangat lelah dan kehausan. Aku duduk di salah satu bangku yang menghadap ke taman. Banyak anak kecil dan orang tua nya sedang bermain bersama. Terkadang aku merindukan masa-masa kecil ku. Kutarik simpul di bibir ku, rasanya sangat nyaman memikirkan masa kecil ku yang gembira.

Aku kembali memikirkan kejadian tadi. Kucubit tangan ku untuk memastikan ini bukan mimpi, dan benar saja rasa nya sakit. Entah mengapa tiba-tiba simpul di bibirku tertarik sendiri tanpa ku minta, yang jelas aku tak bisa menghindari senyuman ini.

“Benar itu kau kan?” Aku bergumam sendiri.

Tiba-tiba sekelibat memori saat kami masih di menengah pertama masuk kedalam pikiran ku. Aku tak tahu ini persaan apa, yang jelas aku senang saat melihat ia lagi, walau penampilannya berbeda, kacamata nya sudah tak bertengger lagi, kuncir dua itu juga sudah musnah entah kemana. Pakaiannya menjadi jauh lebih trendy, aku yakin kehidupan di sana berpengaruh banyak pada nya.

Dan tunggu, ia sudah tak memakai kacamata nya lagi. Apa dia baik-baik saja? Aku menggeleng kepala keras, untuk apa memikirkannya sejauh ini. Aku memutuskan untuk benar-benar pulang sekarang.

Ketika sampai rumah aku mengatur wajah dan jalan ku sebiasa mungkin, aku sudah mencoba untuk tidak tersenyum dan berjalan biasa, bisa, tapi hanya sebentar. Hal ini membuat ku frustasi, eomma pasti akan bertanya padaku, kaki sakit tapi wajah ceria? Hal itu tak mungkin di terima begitu saja oleh eomma. Aku membuka pintu hati-hati, lebih baik tidak bertemu eomma untuk saat ini.

“Eoh? Kau sudah pulang? Mwoya? Ada apa dengan kaki mu?” Sial. Eomma keluar dari dapur tepat saat aku membuka pintu. Dugaan ku benar, pasti eomma akan menanyakan ku dengan beragam pertanyaan.

“Terkilir saat lari tadi.” Aku menjawab jujur, kali ini eomma menatap mataku. Aku gugup dan membuang pandangan ku.

“Tapi mengapa tampang mu senang begitu?” Tepat. Eomma sangat efisien melihat keseluruhan anak nya. Aku menelan saliva ku, aku tidak tahu harus mengatakan apa, jadi aku memilih diam.

“Heol, cerita lah pada eomma, sini eomma balut kaki mu itu.” Eomma menggodaku dengan menusukan jarinya di pinggang ku, geli ku terangsang dan segera menghentikan eomma. Eomma ke belakang untuk mengambil kotak P3K, sementara aku duduk di sofa.

Tak lama kemudian eomma datang membawa kotak putih tersebut dan segelas air. Aku tersenyum dan segera mengambil gelas nya.

“Sini.” Eomma menarik kaki ku tepat setelah ia duduk di sebelah ku. Eomma membalut kaki ku dengan penuh kasih sayang, hanya eomma yang bisa membuat ku merasakan kasih sayang senyaman ini.

Setelah selesai membalut, eomma membenarkan duduk nya. Eomma tersenyum pada ku, eomma sangat cantik saat tersenyum seperti itu, pantas saja appa menikahinya. Aku terkekeh sendiri saat memikirkan itu. Eomma terlihat bingung dan aku mengatakan aku baik-baik saja.

Aku naik ke kamar ku untuk cuci muka. Selesai cuci muka aku keluar untuk membersihkan kamar. Aku mulai dari ranjang ku kemudian lemari, dan terakhir meja belajar. Aku membongkar semua benda yang ada di meja itu. Sudah lama aku tak membersihkannya jadi terlihat tumpukan debu di atasnya. Aku membuka semua laci dan mengeluarkan barang-barangnya.

Awalnya aku membersihkan biasa saja, tapi aku melihat ada benda berkilau diantara benda-benda lain. Aku menyingkir benda-benda di sekitar benda berkilauan itu. Aku mengambil barang itu itu dengan hati-hati. Sebuah kalung. Aku tak yakin ini milik siapa, tapi aku merasa pernah melihatnya. Aku mengingat nya beberapa kali dan aku berhasil.

Flashback

Author

“Lihat, bagus kan? Eonnie yang memberikannya pada ku.” Gadis itu memamerkan kalung berhias satu buah batu kecil yang berkilauan yang bertengger di lehernya. Gadis lainnya yang berada di sebelahnya terlihat kagum dan terpaku oleh kalung itu.

“Darimana eonnie mu membeli itu?”

“Mollayo, yang pasti aku senang.”

“Woah boleh aku mencobanya?”

“Hmm.. karena kau teman ku, jadi boleh tapi sebentar saja ya.” Gadis itu melepas kalungnya untuk di berikan pada gadis lain di disebelahnya.

“Bagus tidak jika aku yang pakai?”

“Karena itu punya ku tentu saja bagus.”

Mereka tertawa bersama, dan waktu nya gadis itu mengembalikan kalungnya pada yang punya.

“Ini.” Gadis itu menggantungkan kalungnya pada jari telunjuknya. Baru saja gadis pemiliknya akan mengambil, ada seorang anak laki-laki menyenggol tangan itu membuat kalung nya jatuh ke arah yang tidak di ketahui. Gadis pemiliknya langsung berdiri dan berteriak pada orang yang menyenggol tangan temannya itu.

“Yak! Jalan disana bisa, mengapa kau jalan disini!”

“Eoh? Meja ku disana, mengapa tak boleh lewat sini?” Orang itu menunjuk meja nya yang berada di belakang meja mereka.

“Yak! Aish Oh Sehun, kau tahu, kau baru saja menghilangkan kalungnya yang berharga.” Gadis satu nya tak mau kalah dan makin memojokan orang yang telah diketahui adalah Sehun.

Sehun hanya menggidikan bahu nya dan kembali berjalan ke arah mejanya dengan santai. Sementara dua gadis di belakangnya menatap benci ke arahnya. Saat ia hampir duduk, ia merasa ada sesuatu di kaki nya. Kalung. Ia mengambilnya dan melihat sejenak, lalu mengantonginya dan bersikap seperti biasa saja.

“Aduh dimana itu jatuh?” Dua gadis itu terlihat sedang mencari, sementara Sehun melihat mereka dengan geli.

Sehun POV

Pasti waktu itu. Aku berniat mengembalikannya saat pulang, aku sudah menunggu nya di gerbang sekolah saat pulang, tetapi ia tak kunjung muncul, jadi aku memutuskan untuk membawa nya pulang, dan masih tersimpan sampai sekarang. Ini terjadi saat kami masih kelas 1 menegah pertama, dan baru seminggu masuk. Walaupun baru seminggu di menengah pertama, kami sudah bertemu sejak sekolah dasar.

‘Tapi apa benar itu dia?’ Aku memandang kalung tersebut sambil bertanya dalam hati.

‘Aku yakin itu dia.’ Aku memasukannya ke saku dan lanjut membereskan. Aku bertanya-tanya di mana ia akan bersekolah nanti.

Author

Sepatu berban biru itu berjalan bersama pemakainya diantara siswa-siswa lain. Rambutnya yang sebawah bahu itu dibiarkan tergerai dan tasnya tersampir di kedua bahunya. Setiap ia lewat selalu saja ada yang melihatnya layaknya orang asing. Yoo ri. Ia membuka pintu bertuliskan kepala sekolah.

“Annyeonghaseyo.” Yoo ri masuk dan langsung di sambut oleh seorang pria paruh baya dengan kepala yang hampir tak berambut yang sedang duduk di kursinya.

“Kau sudah datang?” Pria itu menyuruh gadis tersebut untuk duduk di kursi tamu, tapi ia menolak karena ia masih ingin melihat-lihat area sekolah.

“Terima kasih, tapi aku akan mengelilingi sekolah dulu.” Pria itu mengangguk dan pergi menuju mejanya.

“Tunggu disitu sebentar, aku akan mengirim seorang siswa untuk menemani mu.” Pria itu mengambil telepon  yang ada di meja nya. Ia menekan satu tombol yang sepertinya tersambung dengan sesuatu. Awalnya ia ingin menolak tapi akhirnya ia biarkan.

Tak lama kemudian pintu kembali terbuka, dengan reflek Yoo ri langsung melihat siapa yang datang.

“Annyeonghaseyo.”

*

*
TBC
*

Preview part. 5

“Bagaimana bisa?”

“Ku tegeskan sekali lagi namaku-“

“Diamlah.”

“Memangnya kenapa kalau iya?”

***

Jeng! Jeng! akhirnya chap 4 nya kelar dan Sehun-Yoo ri reunian nih walopun baru dikit, yg pasti chap.5 nya lebih banyak lagi dong~ yeayyy maaf ya kalo gaje-.- author nya juga sibuk, tapi masih nyempetin bikin nih FF soalnya kan males kalo berkutat dengan buku terus, yegak? Garing. Ok kalo begitu, author mengucapkan banyak-banyak terima kasih karena sudah menyempatkan untuk baca FF ini apalagi yang meninggalkan FEEDBACK setelah membaca. Author harap kalian bukan SILENT RIDER yaa:) Ya sudah kalau begitu, sekali lagi author ucapkan terima kasih~ chapter 5 nya menyusul ya~ Annyeong^^

18 responses to “Dont Stare at Me With That Eyes [Chap.4] – By Kimraeha

  1. Suka kak ceritanya, hehe tapi baru baca yg chapter ini, yg sebelumnya gatau.-.
    Oiya klo boleh tau kakak line brp? Aku Nadia line 00 salama kenal 🙂
    Lanjutin ya kak, ditunggu~
    Fighting!

  2. yoori tetap memakai nama hanna wktu pindah sekolah? gmna caranya padahal ijazah yoori wktu SD & SMP kn dgn nama yoori.
    ish dia mau main kucing2an dgn sehun ya!!!

  3. Wuaaaahhh yaahhh kasihan joonmyeon kesepian huhuhhuhuuu…next chap-nya ditunggu HWAITING!!!

  4. siswa yg nemenin yoori sehun kan
    semoga ajaaa

    di sini jga masih blm ada konflik yaaa
    aku penasaran konfliknya bakal gimna
    karena nggak ada clue untuk konfliknya
    dan entah knp aku ngerasa ini nggak akn berkonflik yg ribet” gitu….karena blm ada tanda” bakal ada konflik

  5. Pingback: Don’t Stare at Me With That Eyes [part.5] – By Kimraeha | SAY - Korean Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s