Our Marriage – Chapter 14 [Part 2/End]

OM1

Created by ShanShoo || Park Chanyeol EXO with OC, Other || Chaptered || Romance, Married-life || PG-17

Personal blog : ShanShoo

Story before : 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 [ Part 1]

Disclaimer : Only Fanfiction, and only my imagination. Just enjoy it.

Sorry for a typos ^^V

Maaf yaa kalo bahasanya kurang enak buat dibaca. Maklumin, anak kuliahan yang dihimpit/? Sama tugas bener-bener bikin kata-kata dalam ff aku kurang berkembang 😦

Happy reading~

***

“Aku ingin melamar Choi Haneul, putri Anda.” Jawab Baekhyun, kali ini dengan nada yang tegas. Tidak seperti tadi.

Hening terjadi beberapa saat. Dan suara pria paruh baya itu memecah keheningan, “Semudah itukah kau mengatakannya?” dia bertanya, manik kelabunya masih menatap lurus lelaki itu.

“Tidak, Abeonim. Justru aku akan merasa sulit untuk mengatakan hal itu, jika aku tak mempunyai perasaan yang mendalam terhadap Haneul. Maka dari itu, ijinkan aku untuk melamar Choi Haneul. Aku mencintainya.” Baekhyun mengerjap dua kali, tak menduga jika dia akan berbicara dengan lancar seperti itu pada sosok pria itu. Sekaligus merasa senang, karena akhirnya dia berhasil mengucapkan apa yang selama ini dia pendam dalam hatinya.

Haneul, gadis yang duduk di samping Baekhyun pun mengerjapkan matanya, menahan air mata yang mulai menganak. Ada lengkungan senyum tipis di kedua sudut bibirnya. sorot matanya menatap hangat sosok Baekhyun yang secara perlahan menolehkan kepalanya pada gadis itu. “Haneul-ah, aku sangat mencintaimu.” Bisik Baekhyun dengan tatapan tulus.

“Byun Baekhyun,” tuan Choi menyerukan nama Baekhyun ketika dia sudah cukup lama memerhatikan dua insan muda di depannya yang saling berpandangan.

Baekhyun memutar lehernya ke depan, menatap tuan Choi dengan sedikit ragu.

Ada sebuah perasaan takut yang tiba-tiba saja menyelimuti hati Baekhyun. Dia takut jika pria itu tak menerima lamarannya untuk Haneul. Entahlah, Baekhyun sendiri tak tahu bagaimana bisa pemikiran itu menyelinap begitu saja ke dalam pikirannya. Intinya, saat ini Baekhyun terlihat begitu ketakutan.

Helaan napas panjang keluar dari mulutnya yang membuka kecil, “Jagalah anakku baik-baik. Aku mempercayakan anak gadisku padamu. Akan tetapi, jika Haneul tidak diperlakukan baik olehmu, dapat kupastikan, nyawamu akan melayang di tanganku!” dia mengancam Baekhyun dengan sorot matanya yang tajam. Namun suaranya begitu lembut, terdengar begitu menenangkan.

Baekhyun merasa hatinya akan meledak detik ini juga saat penuturan itu keluar dengan tegas dari tuan Choi. Dia benar-benar tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya saat ini. Kedua matanya terlihat semakin mengecil, seiringi dengan tawa kebahagiaan dan senyuman lebar yang terpatri di wajahnya. “Umm, aku berjanji, Abeonim, Eomeonim. Aku akan menjaga dan menyayangi Haneul dengan tulus.” Kata Baekhyun dengan antusias, tetapi benar-benar sarat akan sebuah ketulusan di dalamnya.

Tak jauh berbeda dengan Haneul. Gadis itu juga sungguh merasa sangat bahagia mendengar kedua orangtuanya telah menyetujui lamaran Baekhyun. Bahkan dia tak bisa membendung lagi tangis penuh kelegaan dan kebahagiaan di kedua matanya yang indah. Dia menatap kedua orangtuanya dengan pandangan buram.

“Terima kasih, Eomma, Appa.” Ucapnya tulus, disertai dengan setetes air mata yang turun membasahi pipinya.

Kedua paruh baya dengan kerutan samar di kedua sisi matanya itu mengangguk mantap. Mereka pun tak sungkan memberikan senyuman manis pada Haneul dan Baekhyun.

“Ah, sepertinya kita berdua harus meninggalkan pasangan muda ini, Sayang.” kata tuan Choi sambil menepuk pelan bahu sang istri.

Nyonya Choi membenarkan ucapan suaminya dengan anggukan cepat. “Kau benar, Sayang. Kalau begitu, ayo!” dia lalu menarik lembut tangan suaminya untuk pergi meninggalkan Baekhyun dan Haneul yang masih diliputi rasa gembira.

.

.

.

“Haneul-ah, apakah aku sedang bermimpi?”

Baekhyun duduk bersandar pada bangku taman di belakang rumah Haneul. Sedangkan gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu Baekhyun sembari memejamkan mata.

“Kau pikir, kau berada di sini dan memberanikan diri untuk berbicara pada kedua orangtuaku, adalah sebuah mimpi?” kata Haneul tanpa berniat menegakkan posisi duduknya.

Satu tangannya merangkul bahu Haneul, lalu mendekatkan jarak sisi tubuh mereka. “Kurasa begitu. karena aku masih tidak percaya, hal seperti ini akan terjadi. Aku sungguh…bahagia, sangat bahagia, Haneul-ah.”

Dia membuka matanya pelan, lalu mendongak. Mata bulatnya memandang Baekhyun lekat. “Akupun sama, sangat bahagia. Aku mencintaimu, Byun Baekhyun.”

Kalimat terakhir yang diucapkan Haneul membuat Baekhyun menundukkan kepalanya. Dia tersenyum lembut pada gadis yang dicintainya. Hingga di detik terakhir, dia memajukan wajahnya, dan menyatukan bibirnya pada bibir gadis itu. melumatnya lembut dengan mata yang saling terpejam.

Ciuman hangat itu berakhir di detik ke lima. Dua wajah berparas indah itupun saling berjauhan sedikit demi sedikit. Mereka kembali berpandangan, saling menatap tepat di manik mata dengan perasaan penuh kebahagiaan.

Momen ini tak akan pernah Baekhyun lupakan. Momen di mana dia telah memberanikan dirinya untuk melamar Haneul di hadapan kedua orangtua gadis itu. Di mana dia memberanikan diri pula untuk menatap dalam sosok dua paruh baya itu dengan sungguh-sungguh, menyatakan jika dia tidak sedang bermain-main di dalam perkataannya.

“Haneul-ah,” lelaki itu menangkup kedua pipi Haneul, lalu mengusapnya lembut dengan ibu jari. “ Terima kasih karena kau telah hadir ke dalam hidupku, membuatku merasa nyaman saat berada di dekatmu, membuatku bahagia saat aku melihat senyumanmu. Dan…aku merasa sangat senang ketika aku selalu berhasil membuatmu marah dan kesal karena perbuatanku yang sedikit…menyebalkan.” setelah Baekhyun menyelesaikan kalimatnya, dia tertawa ringan. Mata kecilnya mulai menangkap adanya raut wajah Haneul yang sedikit ditekuk akibat perkataannya barusan. Demi apapun, Baekhyun sangat menyukai raut wajah kekasihnya itu.

“Baek, apa kau sedang mencoba memancing emosiku?” desis Haneul, diiringi tatapan tajam yang dilayangkannya pada Baekhyun.

“Tidak tidak, aku tidak sedang melakukan hal itu. Tapi, perkataanku yang terakhir ada benarnya, bukan?”

Haneul tak menjawab, dia hanya melipat kedua tangan di depan dada sambil mengerucutkan bibirnya. dalam hatipun ia sudah membenarkan ucapan Baekhyun meski tak diucapkan.

Merasa tak ingin momen romantisnya hancur karena sedikit kejahilannya itu, Baekhyun kembali berujar, “Aku mencintaimu. aku akan memegang janjiku untukmu, dan untuk kedua orangtua kita. Bahwa aku akan selalu menjagamu, melindungimu, dan mencintaimu sampai nanti.”

“Ya, aku mencintaimu. Sangat.” Lanjut Baekhyun ketika dia menghirup napas dalam dan mengeluarkannya perlahan.

Perasaan kesal dan marah itu hilang begitu saja. Rona merah mulai menghiasi kedua pipi gadis itu yang terasa begitu lembut setiap kali Baekhyun membelainya. Haneul melirikkan sedikit pandangannya ke arah Baekhyun yang tengah menatapnya intens, tetapi kemudian dia menolehkan wajah sepenuhnya pada lelaki itu dengan senyuman yang terkembang di bibirnya.

“Baek,”

“Hm?”

“Tidak, hanya saja…aku tak ingin berada jauh darimu.”

Baekhyun tertawa ringan, “Begitupun aku,” dia lalu meraih satu tangan Haneul, dan menggenggamnya lembut. “Nyonya Byun.”

Langit jingga yang terbentang di langit kota Seoul benar-benar memberikan rasa nyaman tersendiri bagi siapapun yang sedang memandangnya, termasuk Hyerin. Gadis itu menikmati pemandangan alam yang tersaji di langit sana sambil menggenggam ponselnya. Sejenak dia memejamkan kedua matanya, menikmati desiran lembut angin musim semi yang menerpa kulit wajah dan juga surai coklatnya yang dibiarkan tergerai.

Rasa hangat tiba-tiba menyergapinya, kala ia merasakan sepasang tangan kekar melingkar di perutnya. Salah satu bahunya pun terasa berat ketika seseorang yang memeluknya dari belakang itu meletakkan dagunya di sana.

“Apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanya Chanyeol dengan pandangan mengarah pada gedung-gedung yang tingginya sejajar dengan apartemen yang ditempatinya.

Satu sudut bibirnya tertarik ke atas. Kedua tangannya kini diletakkan di atas tangan Chanyeol, “Menikmati angin musim semi.” Balas Hyerin lembut.

Chanyeol tertawa kecil, “Pantas saja saat aku terbangun tadi, aku tak mendapatimu di sampingku.”

Hyerin berdecak kecil ketika mendengar nada bicara Chanyeol seperti anak kecil. “Park Chanyeol, aku bukanlah ibumu yang harus menunggumu tidur sampai kau terbangun nanti. Mengerti?” katanya sambil menahan tawa.

“Tapi aku tak dapat tertidur dengan nyenyak jika kau tak ada di dekatku.” Rajuk Chanyeol, mempertahankan nada bicaranya yang—mungkin—bisa membuat Hyerin muntah.

“Ugh, jangan berbicara terus, Yeol. Kau hampir membuatku tak sadarkan diri.” Hyerin memasang wajah memelas pada Chanyeol.

Lelaki itupun kembali tertawa, “Kau bilang begitu karena kau terbuai oleh perkataanku, kan?” tanya Chanyeol menggoda. Memperlihatkan deretan gigi depannya kala ia tersenyum lebar pada Hyerin.

Chanyeol melepaskan pelukannya, lalu berdiri di samping Hyerin dengan kedua sikunya yang bertumpu pada pagar pembatas. “Luhan ingin bertemu denganmu.”

Dengan cepat Hyerin memutar kepalanya pada Chanyeol sambil mengerjapkan matanya. “Kau bilang apa?”

Menatap jalan raya di bawah sana, Chanyeol menjawab, “Luhan ingin bertemu denganmu sore ini.” sambil menyatukan kesepuluh jemarinya.

Hyerin mengerutkan samar keningnya. Jika Luhan memang ingin bertemu dengannya, mengapa dia tidak mengatakannya secara langsung pada Hyerin?

Kali ini, angin musim semi yang menerpa kulitnya tak membuat nyaman, ketika dia mendengar hal itu. Hyerin menghembuskan napas dengan kasar, lalu memandang langit dengan tatapan heran.

“Dan untuk hal mengenai pernikahan kita, Minkyung sudah mengatakannya pada Luhan.” sambung Chanyeol ketika dirasa ia tak mendengar Hyerin berbicara.

Dia menengokkan wajahnya pada Hyerin, memandang Hyerin sejenak sebelum kembali fokus menatap jalan raya. “Minkyung memberitahunya ketika mereka berdua bertemu di salah satu kafe. Kurasa, itu yang dikatakan Luhan padaku saat kami memutuskan untuk pergi ke kafe dekat bandara.”

Pertanyaan yang terus mengganggu pikirannya terjawab sudah. Rupanya Minkyung telah memberitahu Luhan cukup lama. Hyerin yang diam membisu, mulai berujar. “Kau tahu? Aku merasa tak enak hati jika bukan aku sendiri yang mengatakannya pada Luhan.” Hyerin menundukkan kepalanya. Merasa perasaan bersalah menyergapi dirinya.

“Jangan merasa tak enak hati seperti itu. Lagipula ini bukan salahmu.” Ucap Chanyeol, berusaha menghibur istrinya yang masih memasang wajah murung.

Hingga pada detik ketiga, Chanyeol menyentuhkan kedua telapak tangannya pada kedua bahu Hyerin. Menghadapkan tubuh mungil itu padanya, dan satu tangannya tergerak untuk mengangkat dagu Hyerin. Menatap lekat manik mata gadis itu sambil berujar, “Temuilah Luhan sekarang, aku akan mengantarmu ke sana.”

Luhan membuka lembaran demi lembaran buku milik perpustakaan pusat kota Seoul yang tengah dibacanya di atas meja panjang. Sesekali dia mengangguk pelan ketika dia mengerti pembahasan dalam buku itu. Setiap kali ada seorang pengunjung yang memasuki perpustakaan, Luhan selalu membalikkan tubuhnya menghadap ke arah pintu untuk menatap sang pengunjung. Berharap pengunjung itu adalah seseorang yang saat ini ingin dia temui.

Bukan, dia bukan seseorang itu. Dia orang lain. Dan untuk hal itu, Luhan hanya bisa menghela napas panjang.

15 menit kemudian ketika Luhan sudah mulai merasa bosan, dia merasa ada seseorang yang memanggil namanya cukup keras. Mengingat tempat yang sedang disinggahinya ini adalah tempat yang tidak memperbolehkan siapapun untuk berbicara keras.

Luhan membalikkan tubuhnya, dan sekarang ia sudah mendapati sosok gadis itu yang kini berdiri tepat di sampingnya.

“Hyerin-ah,” kata Luhan diiringi senyuman manis yang selalu membuat wajahnya terlihat lebih tampan.

Hyerin segera mendudukkan dirinya di samping Luhan pada bangku panjang perpustakaan. Dia lalu menyimpan tas tangannya di atas meja, “Oh, aku melewati jam pertemuan kita. Maaf.” Sesal Hyerin ketika dia melirik sekilas jam tangannya.

“Tidak usah dipermasalahkan, lagipula aku juga baru datang beberapa menit yang lalu.” Luhan mencubit hidung Hyerin dengan gemas, setelahnya ia tertawa kecil.

“Aish!” gerutu Hyerin.

“Hyerin-ah,”

“Hm?” gumam gadis itu.

“Semoga kau dan Chanyeol selalu bahagia.”

Deg

Hyerin tersenyum kaku. Matanya melirik ke sana kemari dengan cepat, menghindari kontak mata dengan Luhan. Dia tak ingin melihat wajah lelaki itu yang menampilkan senyuman yang dipaksakan.

“Jika Chanyeol menyakitimu, cepat beritahu aku. aku akan datang untuk menghajarnya dan membawamu pergi.”

Perkataan itu sukses mendapatkan pukulan keras dari Hyerin di lengan kanannya. Lelaki itu meringis kesakitan sambil menahan tawa. Kemudian dia mengusapnya dengan lembut. “Tenagamu besar juga ternyata.” Keluh Luhan dengan tawanya yang ringan.

“Perkataanmu yang terakhir benar-benar menyebalkan, Lu.” Desis Hyerin, tak mempedulikan keadaan Luhan sekarang.

“Aku memang selalu menyebalkan, bukan begitu?”

“Ya, itu benar.”

“Luhan-ah, terimakasih atas ucapannya. Maaf aku tak cepat memberitahumu mengenai pernikahanku dengan Chanyeol.”

Luhan berdecak kecil, “Kau adalah orang ketiga yang mengucapkan kata ‘maaf’ padaku. dan aku sudah bosan mendengarnya.” Katanya dengan nada kesal yang dibuat-buat.

Hyerin hanya bisa tertawa konyol mendengarnya sambil mengusap-ngusap lembut lengan Luhan yang terasa sakit karena pukulan kerasnya.

Selang 5 detik, Hyerin memutar pandangannya untuk memerhatikan setiap rak-rak buku perpustakaan yang menjulang tinggi. Ditatapnya satu persatu rentetan buku yang dapat dijangkau oleh penglihatannya sembari menggumam tak jelas.

Setelah puas dengan kegiatannya, dia kembali menatap Luhan. “Jadi, kau sering menghabiskan waktu soremu di sini?”

Mendengar pertanyaan ringan itu, Luhan mengangguk dua kali. “Tidak hanya sore saja. Jika aku merasa membutuhkan ketenangan, aku akan berkunjung kemari.”

“Kenapa kau harus memilih perpustakaan?” tanya Hyerin lagi.

“Karena…perpustakaan ini adalah tempat yang cocok untukku menenangkan pikiran. Itu saja.”

Merasa penuturan Luhan cukup jelas untuk dimengerti, Hyerin mengangguk kecil. Kemudian dia mengambil alih buku yang ada di hadapan Luhan, dan membacanya sekilas. “Buku ini membahas tentang apa?” tanyanya dengan pandangan tertumpu pada buku itu.

“Tentang bagaimana caranya melupakan cinta pertama.”

Ada kerutan samar di kening Hyerin. Jemarinya menutup buku itu untuk membaca judul yang tertera di bagian sampul.

“Tapi, buku ini membahas tentang bagaimana menjadi seseorang yang sukses di masa depan…” tegas Hyerin sambil menatap Luhan intens.

Tidak ada respon lagi untuk Hyerin.

Terlebih lagi di saat manik mata mereka bertemu, mereka terdiam. Membiarkan suara-suara bisikan kecil para pengunjung menjadi latar suara di antara keduanya.

Ada yang berbeda dari cara pandang Luhan terhadap Hyerin. Kedua mata indah yang dimiliki Luhan kini tak terlihat seperti biasanya, seperti di saat pertama kalinya lelaki itu memandang Hyerin berbinar, hingga memunculkan senyuman mengembang di bibir lelaki itu.

Sorot mata berbinar itu padam seperti api yang menghilang karena siraman air. Hyerin tak tahu apa yang terjadi pada lelaki yang duduk mematung itu, tetapi dia dapat merasakan suatu perasaan sakit lewat tatapannya.

“Lu, kau…baik-baik saja?” hanya pertanyaan itu yang dapat terlontar dari bibir mungilnya. Selebihnya, dia terdiam.

Luhan menggeleng pelan. Dan Hyerin tak tahu maksud dari gelengan kepala itu, apakah dia baik-baik saja, atau malah tidak baik-baik saja.

“Jadi?” kata Hyerin sambil mengangkat sebelah alisnya.

“Aku sedang dalam keadaan tidak baik. Rasanya seperti ada sesuatu yang menancap di sini.” telunjuknya pun terarah untuk menunjuk dada kirinya. Luhan tersenyum miris, membiarkan perasaan sakit itu semakin menjalar ke dalam organ di bagian dadanya.

“Luhan-ah,” Hyerin menelan samar ludahnya, dia mengerjapkan matanya dua kali ketika telinganya mendengar Luhan tertawa hambar.

“Kau tak perlu khawatir, aku akan kembali tenang dalam beberapa detik lagi. Kau tahu? Tempat ini benar-benar cepat untuk mengobati lukaku.” Ada nada bangga yang terselip di kata-katanya.

Tanpa disadari, gadis itu menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Dia menghela napas lega saat tahu, jika tempat ini memang berpengaruh besar bagi Luhan. setidaknya, Hyerin tidak harus merasa sedikit gugup saat dia ingin mencoba untuk mengembalikan senyum manis di wajah Luhan.

“Sayangnya, hari ini adalah hari terakhirku untuk menikmati ketenangan dan kenyamanan di sini.”

“Maksudmu?” tanya Hyerin dengan alis yang bertautan.

“Besok, aku harus kembali ke Beijing. Waktuku untuk menghabiskan liburan di sini telah berakhir.”

“…..”

“Hey, berhentilah menatapku seperti itu!” Luhan mengusap wajah Hyerin dengan dengan cepat hingga membuat Hyerin sedikit terkejut.

“Tapi…kenapa harus besok?”

“Aku harus memberikan beberapa tugas kuliahku pada dosen. Lebih cepat lebih baik, kurasa.” Kata Luhan sambil mengangkat bahu.

“Aku tahu kau berbohong. Kau bilang akan kembali ke Beijing karena di sini tak ada Minkyung ‘kan?”

Ucapan Hyerin yang tak terduga itu mendapat respon tatapan lebar dari Luhan.

Benar, semua yang dikatakan Hyerin benar. Tapi, dia terus menyangkalnya. Dia tak ingin terlihat seperti itu di depan Hyerin. Walaupun pada akhirnya, dia akan ketahuan menyembunyikan alasannya itu.

“Sekarang aku ingin menanyakan hal ini padamu,” ada jeda selama beberapa detik sebelum Hyerin melanjutkan kalimatnya, “Apa kau menyukai Minkyung?”

Gadis itu menatap Luhan serius, tidak ada lelucon atau candaan apapun di sana. Tidak, untuk hal ini Hyerin tak akan bercanda. Karena ini menyangkut perasaan hati Luhan, sahabatnya.

“Apa aku terlihat menyukainya?” tanya Luhan.

Seseorang, tolong bawakan benda apapun yang mempunyai beban berat untuk memukul kepala Luhan. Hyerin membutuhkannya sekarang.

“Aku tak bisa mengatakan iya. Tapi, aku bisa melihat perasaan itu lewat kedua matamu, Luhan.” tegas Hyerin tanpa berniat untuk tertawa.

Hening kembali merangkul mereka. membawa mereka ke dalam sebuah pikiran berkecamuk yang tak bisa dienyahkan dengan cepat. Hyerin yang tak tahan akan keheningan itu kembali berbicara, “Kejar cintanya jika kau memang benar-benar menyukai gadis itu.”

“Hyerin-ah,”

“Jangan bohongi perasaanmu sendiri, Lu Han. Aku tahu kau menyukainya. Maka dari itu, perjuangkan cintamu jika kau tak ingin dia dimiliki oleh lelaki yang justru tak dicintainya. Aku yakin, kalian berdua saling memendam perasaan satu sama lain.” Jelas Hyerin dengan nada bicara tenang, namun membuat Luhan diam seribu bahasa.

“Aku menyayangimu, Luhan. dan aku tak ingin melihatmu seperti ini. kau sahabatku, dan aku ingin melihatmu bahagia bersama dengan seseorang yang kaucintai. Hanya itu.”

“Hyerin-ah, terimakasih atas segalanya. Kau benar, aku mungkin…bodoh karena menyembunyikan perasaan ini untuknya. Ya, aku berjanji, aku akan mengejar cintaku. Aku tak akan melepasnya, aku berjanji.”

Ini yang Hyerin inginkan. mendapati sahabatnya yang kembali bersemangat seperti sedia kala. Jika Luhan bahagia, maka Hyerin pun akan ikut bahagia. Seperti halnya hari ini.

Malam ini, Hyerin sedang menyibukkan diri dengan sebuah buku novel yang dibeli oleh Chanyeol satu minggu yang lalu. Buku novel yang terbuka di hadapannya, benar-benar membuat Hyerin tenggelam ke dalam imajinasi sang penulis novel itu. Dia terlihat begitu serius membaca kata demi kata di novel itu sambil sesekali tersenyum kecil.

Tak jauh darinya, Chanyeol memandangi sosok Hyerin yang sepertinya tak menghiraukan keberadaan Chanyeol. Lelaki yang tengah memegang gelas air putih itu mendesah pelan. Dia lalu berjalan menghampiri Hyerin yang duduk sambil bersandar di sandaran tempat tidur, dan dibalut dengan selimut tebalnya sebatas perut.

“Hyerin-ah, kau terlihat serius sekali.” Katanya sambil menyimpan gelas itu di atas nakas. Setelahnya, ia menaiki tempat tidur, dan duduk di samping Hyerin.

Gadis itu tak menjawab, jiwanya terlalu larut ke dalam alur novel yang disajikan.

“Hyerin-ah,” Chanyeol kembali memanggil nama Hyerin. Namun tetap tak mendapat jawaban.

“Kau benar-benar mengacuhkanku?” nadanya kali ini terdengar dingin. Tapi tetap saja, Hyerin tak merespon sedikitpun.

“Baiklah, jika itu memang maumu.”

Hyerin terkejut ketika tiba-tiba saja Chanyeol mendorong tubuhnya, dan menindih tubuh mungilnya yang masih terbalut selimut. Novel yang berada dalam genggaman kedua tangannya pun kini terjatuh ke atas lantai yang dingin. Kedua matanya melebar sempurna, memerhatikan lekuk wajah Chanyeol yang begitu tampan dan menggoda.

“A-apa yang mau kau lakukan, Park Chanyeol?” tanya Hyerin sedikit ketakutan.

“Aku akan menghukummu karena kau telah mengacuhkanku!” setelah Chanyeol mengatakan itu, dia segera melumat bibir merah Hyerin dan menghisapnya dengan lembut. Dia memejamkan matanya, berbanding terbalik dengan Hyerin yang terus membulatkan matanya.

Chanyeol menghentikan aktivitasnya sejenak untuk berkata, “Kau terlihat cantik saat kau berkeringat seperti ini.” tangannya membelai lembut pipi gadis itu, lalu menatapnya lekat.

“Chanyeol-ah, hentikan—”

Dia tak dapat menyelesaikan kata-katanya saat Chanyeol kembali menyerang bibirnya. melumatnya, dan mengecupnya berkali-kali.

Darahnya berdesir hebat. Jantungnya berdetak di atas normal kala ia mulai terbuai oleh lumatan lembut bibir Chanyeol. Diapun akhirnya memejamkan mata, dan balas melumat bibir Chanyeol yang terasa begitu manis.

Tiga detik setelahnya, Chanyeol melepaskan tautan bibir mereka. Lalu memandang lekat Hyerin yang memiliki mata sayu saat ini. “Hyerin-ah, aku tahu, ini mungkin terdengar gila dan aneh. Tapi…aku harus mengatakannya. Aku…menginginkannya malam ini. Aku ingin…menjadikanmu wanitaku, milikku, hanya milikku. Bolehkah?”

Keheningan mengambil alih semuanya. Keduanya bungkam, tidak ada yang berniat untuk berbicara lagi.

Dia belum menjawab, otaknya masih terus mencerna perkataan Chanyeol barusan yang terdengar begitu jelas di telinganya. Demi apapun, dalam situasi seperti ini membuat Hyerin tak bisa mengambil keputusan dengan cepat. Setiap kali dia membuka mulut, tidak ada suara yang keluar dari sana sedikitpun. Terlalu sukar baginya sekadar untuk mengatakan sepatah kata.

“Hyerin-ah, maaf jika aku membuatmu merasa tertekan. Aku terlalu memaksakan dirimu. Maafkan aku.”

Chanyeol terlihat murung sekarang, terlihat dari ekpsresi wajahnya yang menunjukkan adanya kekecewaan yang sempat tertangkap oleh penglihatan Hyerin. Dia beranjak menjauhi tubuh Hyerin yang membeku dan terasa dingin. Tetapi, belum sempat Chanyeol menjejakkan satu kakinya ke atas lantai, sebuah tangan lembut menahan pergerakannya. Chanyeol menoleh, dan mendapati adanya sorot mata teduh dari kedua mata gadis yang dicintainya.

“Maafkan aku, Chanyeol-ah. Aku tak bermaksud membuatmu menjadi seperti ini. Aku…ya, aku mengijinkannya.”

Hasrat ingin memiliki Hyerin seutuhnya telah kembali. Ribuan kupu-kupu siap menggelitik perut Chanyeol yang tengah terdiam dengan rentetan ucapan Hyerin yang terngiang di telinganya. Ratusan kembang api pun seolah menyempurnakan kebahagiaan Chanyeol dalam hatinya, kala ia mendapati istrinya yang tersenyum tulus, diiringi dengan setitipk air mata yang menyusuri daerah pelipisnya.

“Kau yakin?” tanya Chanyeol memastikan.

Gadis itu mengangguk lemah, senyumannya belum luntur. Dia berusaha untuk menutupi rasa gugup dalam dirinya, dan terus berusaha mengatur debaran jantungnya yang sulit dikendalikan.

Tubuh lelaki berpostur tinggi itu kini kembali berada di atas tubuh Hyerin, tangannya yang besar mengusap peluh yang bercucuran di kening gadis itu. “Aku akan melakukannya dengan lembut, karena aku tak mau mendapatimu kesakitan karenaku,” Chanyeol berkata dengan begitu lirih, memandang Hyerin sayang sambil mengulas senyum kecil.

Bibir mereka bertemu, saling berpagutan untuk menyalurkan seluruh cinta dan kasih sayang yang dimiliki keduanya. Tidak ada celah penglihatan di mata mereka, mereka benar-benar terpejam dengan sempurna untuk menikmati setiap sentuhan lembut di sudut-sudut bibirnya.

Dan bulan purnama yang terang benderang di sana, seolah menemani kebahagiaan mereka berdua di malam yang indah ini. Malam yang penuh dengan kehangatan sempurna, yang tak akan mereka lupakan seumur hidup.

***

 

Two month later

Lelaki bermata bulat itu berjalan mondar-mandir di depan sebuah ruangan dengan pintu yang dilapisi cat berwarna putih. Ke sepuluh jemari tangannya saling meremas hingga buku-buku jarinya memutih, sedangkan mulutnya tengah menggumam tak jelas.

Aroma obat-obatan perlahan menyusup ke indera penciumannya. Namun dia tak mempedulikan hal itu. Tidak, tidak ada lagi yang dipedulikannya terkecuali seseorang yang saat ini tengah berada di ruang berpintu putih itu.

Otaknya terus memikirkan hal-hal negatif ketika ia kembali mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Ketika ia mendapati Hyerin yang terus merasakan mual di perutnya, merasa pusing, dan merasa jika kondisi tubuhnya semakin melemah. Sungguh, seluruh rasa sakit yang dirasakan istrinya itu membuat pikirannya kalut dan berkecamuk. Ia begitu takut jika Hyerin mengalami suatu penyakit aneh. Oh, tidak! demi apapun, Chanyeol tak bermaksud berkata seperti itu. Hanya saja, pikirannya yang tengah kacau itu memudahkan berbagai prasangka buruk datang menghampirinya.

“Kenapa lama sekali?” katanya dengan nada rendah. Sesekali ia menatap pintu itu dengan perasaan tak menentu.

Ketika dia merasakan kedua kakinya mulai pegal, ia berjalan menghampiri kursi tunggu di dekatnya. Lalu duduk di sana perlahan. dia menopangkan kedua tangannya di atas paha, lalu menyatukan jemarinya sambil memejamkan mata.

“Kuharap tidak ada sesuatu yang terjadi padanya,” dia kembali menggumam tatkala perasaan tak enak menghampiri dirinya.

10 menit kemudian, seseorang yang telah ditunggunya telah keluar dari ruangan itu. Dia menolehkan kepalanya dengan cepat ke arah sumber suara pintu. Lalu bangkit berdiri, dan menatap seseorang di hadapannya dengan tatapan cemas.

“Apa yang terjadi, Hyerin-ah?” dia memegang kedua bahu Hyerin, dan meremasnya kecil. Tatapannya sarat akan kekhawatiran.

Hyerin balas memandang manik mata Chanyeol. Bibir bawahnya ia gigiti. Bulir bening air matanya mengalir cepat membasahi kedua pipinya. Dan hal itu malah semakin membuat Chanyeol khawatir.

“Bicaralah,” Chanyeol berujar dengan nada yang menenangkan. Tetapi Hyerin menanggapinya dengan air mata yang terus keluar.

“Hyerin-ah!” bentak Chanyeol.

Tak berselang lama, seorang pria paruh baya dengan jas putih yang membalut tubuh tegapnya, keluar dari ruangan di mana Hyerin keluar dari sana. Pria itu membenarkan letak kacamatanya sembari berdehem kecil.

“Apakah Anda bernama tuan Chanyeol?” tanya pria yang bername-tag Oh Jisoo di jas putihnya.

Chanyeol mengangguk cepat, “Bagaimana keadaan istri saya, Dok? Apakah baik-baik saja?”

Dokter Oh lalu memandang Hyerin, dan Hyerin membalas pandangan itu. Mereka berdua mengulum senyuman kecil yang tak diketahui oleh Chanyeol.

“Dengarkan aku, Chanyeol-ssi. Sepertinya, nyonya Hyerin mengalami…”

“..tidak, maksudku…Hyerin-ssi saat ini tengah mengandung. Dan usia kandungannya sudah sekitar 2 minggu.” Dokter Oh mengakhiri kalimatnya dengan senyuman kecil.

Baiklah, sepertinya sekarang Chanyeol harus bisa membedakan di mana sekarang dia berada. Apakah berada di sebuah mimpi atau di sebuah kenyataan.

Chanyeol membeku di tempat. Mata bulatnya semakin melebar kala ia terus mencoba untuk mencerna seluruh perkataan dokter paruh baya di hadapannya itu. Kepalanya kemudian menoleh pada Hyerin di sampingnya yang saat ini memasang senyuman lebar, diiringi tangisan kebahagiaan yang keluar dari bibir mungilnya.

“B-benarkah,”

Hyerin langsung menjawabnya dengan anggukan kecil.

“Selamat atas kehadiran sang calon bayi, tuan dan nyonya Park.” dokter itu menjabat tangan Chanyeol dan Hyerin bergantian. Dan dua insan muda itu membungkuk kecil sebagai tanda terima kasih. Setelahnya, dokter Oh pergi meninggalkan mereka berdua yang sampai saat ini tengah menampilkan senyuman kebahagiaan.

Dan belum genap dua detik keheningan melanda, lelaki tampan dengan tubuhnya yang tinggi itu menghambur untuk memeluk sosok wanita yang ia cintai. Park Hyerin.

Dalam pelukan itu, Chanyeol meluapkan seluruh kebahagiaannya, seluruh kelegaannya, dan seluruh keceriaannya yang perlahan mulai merasuk. Dia membelai lembut surai coklat istrinya, begitu lembut seolah surai itu adalah sesuatu yang paling berharga.

Air mata kebahagiaan itu mengalir di wajah Chanyeol.

Tetapi Chanyeol membiarkan air matanya mengalir dengan bebas.

“Kenapa kau tak mengatakannya langsung, hm?” suara Chanyeol merendah, dia membenarkan letak dagunya di bahu Hyerin sembari tersenyum kecil.

“Aku…” Hyerin menghembuskan napas pelan, “Aku gugup, maafkan aku.”

“Umm, tidak apa-apa. Terima kasih, Hyerin-ah. Aku berjanji, aku akan menjagamu, dan menjaga malaikat kecil kita sampai dia lahir ke dunia.” Bisiknya begitu lembut, hingga dia merasa begitu terbuai akan perkataan suaminya.

Dan wanita yang berada dalam pelukan Chanyeol itu, menjawab perkataannya dengan sebuah anggukan kecil seraya mengeratkan pelukannya, dan membenamkan wajahnya di dada bidang Chanyeol.

“Apa? Jadi, sekarang…Hyerin sedang mengandung anakmu?” suara Baekhyun terdengar begitu nyaring. Bahkan nyaris membuat Haneul menumpahkan lemon tea yang sedang diminumnya. Bukan, hal itu bukan karena ia terkejut mendengar suara Baekhyun. Melainkan saat ia mendengar jika sahabat karibnya itu sedang mengandung calon bayi.

“Kau serius, Rin?” Haneul menatap lekat Hyerin sambil menyimpan cangkir minumannya dengan tergesa-gesa.

Dan anggukan kecil dari Hyerin, membuat Haneul menarik kedua sudut bibirnya ke atas.

“Aku ikut senang mendengarnya!” kali ini, giliran Haneul yang menyaringkan suaranya sambil tertawa ringan.

“Haneul-ah, bagaimana jika kita mempercepat tanggal pernikahan kita? Aku ingin cepat memiliki anak seperti Hyerin dan Chanyeol.”

Haneul terkesiap mendengar ucapan Baekhyun yang sungguh tak terduga itu. Dia melebarkan matanya, dan menatap tajam sosok lelaki tampan yang duduk di sampingnya. Tangannya terkepal dan dengan cepat memukul keras puncak kepala Baekhyun yang menyebalkan.

“Bicara seperti itu lagi, maka hubungan kita akan berakhir!”

Gadis itu tak mempedulikan rintihan kecil yang keluar dari mulut Baekhyun. Dia hanya terus memandangi raut wajah Baekhyun dengan ekspresi kesalnya. Tetapi, saat dia kembali menatap Hyerin, ekspresinya berubah menjadi ceria.

“Selamat atas kehamilannya, Hyerin-ah. Jika anakmu lahir nanti, aku akan ikut menjaganya dan merawatnya seperti adikku sendiri.” Haneul menyatukan kedua tangannya lalu menempelkannya di satu sisi pipinya. Matanya begitu berbinar, dan bibirnya tersenyum lebar.

Mendengar penuturan Haneul yang menggemaskan itu, Hyerin menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil. “Umm, terima kasih, Haneul-ah.”

“Ya! Haneul-ah, aku mohon…aku ingin kita menikah—”

“Oh, jadi kau benar-benar menginginkannya, Byun Baekhyun?”

Sepertinya, Baekhyun tak bisa melanjutkan kata-katanya lagi setelah mendengar Haneul yang berbicara dengan nada dinginnya. Dia hanya bisa tersenyum simpul lalu menghembuskan kasar napasnya. “Maafkan aku,”

“Haneul-ah, kau tak boleh terus bersikap seperti itu pada Baekhyun. Bagaimana jika nanti Baekhyun benar-benar meninggalkanmu, hm?” kata Chanyeol, menyela pertengkaran kecil dua pasangan itu yang tak pernah berhenti beradu kata.

Seolah merasa ada yang membela, Baekhyun membuka percakapan. “Ah, kau benar sekali, park Chanyeol. Hm, apa jadinya jika nanti hubunganku dan Haneul berakhir?” dia mengetuk dagunya sembari menatap langit-langit ruang apartemen Chanyeol dan Hyerin.

Haneul berdecak sebal, “Kau membayangkannya karena kau menginginkannya?”

“Ya! Kalian kekanak-kanakkan sekali! Bisakah kalian berhenti bertengkar?”

Oke, sepertinya mereka berdua tak bisa berkutik lagi jika sudah mendengar suara Chanyeol yang terdengar tajam dan mengerikan.

30 menit kemudian, Haneul dan Baekhyun sudah pergi meninggalkan apartemen. mengingat saat ini waktu telah menunjukkan pukul 3 sore. Dan di jam itu, Haneul harus mengantarkan beberapa kue pesanan pelanggannya di berbagai tempat.

Di kursi sofa panjang itu, Chanyeol merebahkan kepalanya di atas paha Hyerin yang tengah duduk bersandar. Dia memejamkan matanya sambil tersenyum kecil, dan ketika Hyerin melihat senyuman itu, dia ikut tersenyum.

Tangan kanannya tergerak mengusap sayang rambut Chanyeol, “Kau sedang memikirkan apa sampai kau tersenyum seperti itu?” tanya Hyerin memulai percakapan.

“Aku?”

Hyerin mengangguk cepat ketika Chanyeol bertanya sambil membuka mata.

Chanyeol lalu bangkit dari posisinya, dan duduk di samping Hyerin. “Ada banyak sekali hal yang kupikirkan.” Ucapnya dengan kedua mata menatap Hyerin.

“Apa itu?”

“Kebahagiaan kita, kebahagiaan Baekhyun dan Haneul, juga kebahagiaan Luhan dan Minkyung-eh, tunggu sebentar! Apa mereka berdua…”

“Umm, kau benar. Minkyung membatalkan pertunangannya ketika Luhan menghubunginya, dan mengatakan jika Luhan menyukai gadis itu. Kau tahu? Saat keduanya sudah mengetahui perasaan masing-masing, mereka memutuskan untuk bertemu di suatu tempat di Jepang. Luhan yang mengatakan hal itu padaku.”

Chanyeol mengangguk pelan diiringi senyuman lebarnya. “Aku ikut senang mendengarnya.”

“Begitupun aku,” sahut Hyerin menimpali.

“Aku akan sangat bahagia jika malaikat kecil ini telah hadir ke dunia, dan memberi banyak warna dalam kehidupan kita.” Chanyeol menyentuhkan telapak tangannya di perut datar Hyerin, dan mengusapnya lembut.

Hyerin tersenyum hangat, dan meletakkan tangannya di atas tangan Chanyeol. Kedua matanya mulai mengeluarkan cairan bening, pertanda kebahagiaan itu menyelinap memasuki relung hatinya.

Bahagia. Satu kata itu mampu menarik kedua sudut bibir mereka tertarik ke atas untuk melengkungkan senyum tulus. Dan mampu melekatkan tatapan-tatapan mereka yang sarat akan kasih sayang. demi apapun, Chanyeol terus berharap pada Tuhan agar dirinya dan Hyerin selalu bersama sampai kapanpun. Karena dia mencintainya, dia tak ingin kehilangan Hyerin. Dia akan berusaha untuk membuat Hyerin nyaman saat bersamanya.

“Aku mencintaimu dengan sangat tulus, Park Hyerin.” Ungkap Chanyeol, menangkup kedua pipi Hyerin, menatapnya lekat tepat di manik mata.

“Aku juga, Park Chanyeol. Aku mencintaimu, sangat.” Hyerin mengusap lembut punggung tangan Chanyeol di pipinya. Pandangannya mulai buram terhalang oleh air mata yang menganak di kedua kelopak matanya.

Tidak ada lagi cahaya temaram di balik kedua bola mata bulat mereka. tidak ada lagi sebuah rasa sakit yang menghantam hati mereka. dan tidak ada lagi kata-kata dingin dan menyakitkan yang terlontar dari mulut keduanya.

Semuanya tergantikan oleh perasaan cinta yang menggebu, yang sanggup menghilangkan rasa sakit dan menyakitkan itu dalam sekejap.

Chanyeol menyentuhkan bibirnya dan mengecup lembut bibir Hyerin dengan penuh perasaan. Dia menangis dalam diam, membiarkan air matanya sendiri beradu dengan bibirnya dan bibir Hyerin. Keduanya kembali hanyut dalam suasana haru dan penuh bahagia kala mereka memejamkan erat matanya.

5 detik setelahnya, Chanyeol melepaskan tautan bibirnya dan Hyerin. Wajahnya mereka berada dalam jarak yang dekat, hingga Hyerin mampu merasakan deru napas hangat Chanyeol yang tak menentu.

Mereka tak bosan-bosannya melengkungkan senyuman tulus setiap kali mereka saling bertatapan lekat. Hingga pada akhirnya, Chanyeol menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya, membenamkan wajah wanita itu di dadanya yang bidang. Dia mengusap puncak kepala Hyerin. “Waktu sembilan bulan memang bukanlah waktu yang sebentar, tapi aku akan berusaha sabar untuk menantikan kehadirannya.” Ungkap Chanyeol pelan, disambut dengan rona merah yang menjalar di pipi Hyerin meskipun dia tak mengetahuinya.

.

.

.

“Karena ketika sebuah cinta datang menyelinap di antara kau dan dia, maka cinta itu akan merekatkan hatimu dan hatinya menjadi sebuah kepingan utuh yang tak akan pernah mudah hancur meski diterjang badai besar.”

.

.

.

.

.

.

FIN

Huaaaa OM nya selesaaaiii…..OM nya selesaaaaaaiiiii!!!!!!! *teriak histeris!

Aduh gimana nih pendapat kalian soal last chapter ini? gaje? Kecepetan alur? Bahasanya ngaco? Bahasanya ga enak dibaca? *Udah pasti deh itumah T^T

Maapin banget yah kalo emang ff ini berakhir dengan sangat tidak jelas, hingga bikin kalian kurang puas. Aku minta maaf banget. Ide aku udah bener2 mentok di sana 😥

Apapun respon dari kalian semua, aku terima. Karena respon dan saran kalian bisa aku jadiin motivasi agar ff yang selanjutnya bisa lebih baik lagi dari sebelumnya.

Inget! Jangan lupa tinggalkan komentar sehabis membaca :3

 

Makasih bagi para readers yang udah mau ngikutin alur ff ini dari pertama hingga akhir. Makasih buat readers yang selalu nyempetin waktu buat tinggalin komen dan sarannya. Dan makasih juga buat para ‘siders’ yang udah setia ngikutin ff ini meski tanpa ninggalin jejak :3

Maap aku gabisa balesin komen kalian satu-satu. Tapi aku tetep baca komen kalian semua, kok :’)

Cukup sekian aja deh cuap2 dari aku :’)

Sampai ketemu di ff lainnya yaaa :* ♥

Advertisements

213 responses to “Our Marriage – Chapter 14 [Part 2/End]

  1. Sungguh bikin baper ni ff. Daebak…… keren banget….
    Jadi terbayang kalau nanti punya suami yg kayak park chanyeol trus aku jdi park hyerin….

  2. Finally!!! 🎉🎉🎉 Wah tamat, ya? TAMAT, YA?! 😊😊😊
    Wah seneng bgt, mereka semua punya ‘happy ending’ nya masing-masing… Akhirya Hyecan punya anak jugaaaa 😳😳😏😊😇😄.
    Keren bgt Kak Isaaan 😇… 👍👍👍💗
    Sebagai info dan penutup komen Aku di FF ini… Aku sering baca beberapa chap dalam satu waktu, dan setiap satu chap udh di baca, Aku langsung ngetik komen di tempat tersendiri.. Dan, Aku baru post komennya barengan 😁. Jadi keliatannya random 😂.. *sekedar info…. C U (see you) on your FF lainnyaaaa ^_^. 🙋🙋🙋

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s