Don’t Stare at Me With That Eyes [part.5] – By Kimraeha

dontstare-bbon-posterchannelTitle : Don’t Stare at Me With That Eyes [part.5]

Author  : Kimraeha

Cast :

  • Oh Sehun (EXO)
  • Lee Yoo Ri a.k.a Lee Hana(OC)

Main cast :

  • Other cast. You can find it~

Genre : Angst, Horror, Mystery, Romance, Sad/Hurt, School-life.

Rating : 17

Poster : Bbon @ Poster Channel

Disclaimer : Gejala yang ada di FF ini mungkin tidak sama dengan asli nya. FF ini murni dari pikiran author. DONT BE A PLAGIATOR.

———-

Last Chapter

Chap. 1

Chap.2

Chap.3

Chap.4

*

“Without glasses im changed”

*

Preview Chap. 4

“Tunggu disitu sebentar, aku akan mengirim seorang siswa untuk menemani mu.” Pria itu mengambil telepon  yang ada di meja nya. Ia menekan satu tombol yang sepertinya tersambung dengan sesuatu. Awalnya ia ingin menolak tapi akhirnya ia biarkan.

Tak lama kemudian pintu kembali terbuka, dengan reflek Yoo ri langsung melihat siapa yang datang.

“Annyeonghaseyo.”

***

Yoo ri POV

“Annyeonghaseyo.”

‘Bagus orang itu sudah datang.’ gumamku dalam hati. Aku memutar kepala tepat saat pintu nya terbuka bersamaan dengan masuknya seseorang. Mata ku membulat sempurna ketika orang itu membungkuk setelah mengucapkan salam. Oh Sehun. Sikapnya kelihatan biasa saja, mungkin ia tak mengenal ku karena penampilan ku yang terkesan sangat berubah.

“Ohhh cepat sekali, Sehun-ssi, tolong antarkan siswi baru ini berkeliling. Namanya Lee Hana.” Ujar pria yang hampir tak berambut itu sambil menepuk pundak ku. Sebenarnya aku tak terlalu menyukai kepala sekolah ini, saat aku membaca pikirannya, ternyata ia sangat yadong, sedari tadi ia melihat ke arah rok ku terus dan berfikiran macam-macam, oleh sebab itu aku tak mengindahkan permintaannya untuk duduk yang otomatis aku akan berlama-lama disini.

Kami keluar dari ruang kepala sekolah itu dan ia mulai memberikan tur nya. Aku tak memperhatikan tur nya, melainkan sikapnya. Sikapnya sangat tenang seolah aku ini benar-benar asing.

Aku menarik simpul di bibirku saat ia masih bersikap seperti itu selama 20 menit. Kupikir ia benar-benar sudah melupakan ku. Dan yang aku tanyakan dalam diriku sedari tadi adalah, mengapa ia memakai kacamata hitam di sekolah? Aku jadi tak bisa membaca pikirannya.

Kami sampai pada sebuah ruangan yang cukup besar dan disertai banyak meja dan kursi. Aku tahu, pasti ini kantin.

“Kemana para siswa?” Aku mencoba bertanya untuk membuat suasana tak terlalu canggung, tapi detik selanjutnya aku merutuki diriku sendiri karena menanyakan hal yang benar-benar membuat ku bodoh. Jelas saja para murid itu sedang belajar.

“Ha.” Ia tertawa meremehkan, sikapnya tak berubah, selalu menyebalkan, bahkan kepada orang yang baru di kenalnya sekali pun. Aku mendelik pelan, sepertinya ia mendengar tapi aku bersikap seolah aku tak tahu. Kami melanjutkan tur nya hingga selesai.

“Dan ini kelas mu.” Kami berhenti di depan sebuah pintu kayu geser. Aku mengintip dari jendela, dan mereka semua (murid) sedang belajar. Walaupun sedang belajar, tapi mereka menyadari kedatanganku. Aku menggeser pintu itu pelan dan semua orang tertuju pada ku. Aku mengeluarkan senyuman yang dipaksakan agar terlihat bersahabat, itu salah satu tips dari Suho untuk mendapatkan teman.

“Eh? Kita kedatangan teman baru rupanya. Silahkan masuk dan perkenalkan dirimu.” Guru yang sedang mengajar dengan ramah menyuruhku untuk bergabung dengan mereka.

Aku menyadari ada seseorang lewat dari belakangku. Tunggu? Mengapa orang ini juga masuk? Sepertinya ia berjalan ke kursinya. Aku menatap bingung ke arah punggungnya, apa kita sekelas? Matilah aku.

Aku menelan saliva ku karena gugup, selain Oh Sehun, disana juga ada Hye jin. Park Hye jin yang duduk manis sambil menampilkan senyum cerianya. Pikiran ku panik bukan main, bagaimana bisa dari sekian banyak kelas di sekolah ini yang terpilih untuk menjadi kelas ku adalah kelas ini.

Awal di beritahu aku akan di masukan sekolah ini aku terus menolak karena aku tahu ada beberapa orang yang aku kenal disana, tapi karena itu permintaan eomma yang sangat aku sayangi, aku jadi tak tega dengannya. Dan aku benar-benar tak berfikir kami akan di satukan dalam kelas terkutuk ini.

Flashback

Seminggu yang lalu

“Yoo ri-a, kemari.” Eomma memanggilku saat aku sedang mengupas semangka di dapur. Aku mengatakan akan datang setelah semangka ini selesai. Sepertinya eomma tak sabar dan menghampiri ku ke dapur.

“Lihat. Kau akan masuk sini.” Aku belum menyadari brosur sekolah yang eomma pegang karena masih sibuk membuang kulit semangka.

“Yak! Lihatlah ini dulu.” Aku terkejut aaat tiba-tiba sebuah sendok mendarat di kepalaku. Aku meringis kesakitan sambil mengelus kepala.

“Wae eomma? Appo.” Eomma merasa bersalah dan segera minta maaf, aku mengiyakan dan mengajaknya duduk di sofa depan sambil memakan semangka yang baru aku potong.

“Kau akan masuk kesekolah ini.” Eomma menyodorkan brosur ke arah ku. Awalnya aku biasa saja, karena aku akan terima jika di masukan sekolah mana saja. Tapi sekolah yang dipilih eomma berbeda, ini Mercury High School. Aku tahu, tak sedikit murid sekolah menengah pertama ku yang masuk sekolah itu, termasuk Sehun dan Hye jin.

Aku mencoba merubah keputusan eomma dengan terus merengek, tapi eomma tetap bersikukuh dengan keputusannya. Aku juga merasa tak enak dengannya karena merengek terus dan dengan sangat berat hati aku menerima keputusan tersebut.

“Tapi eomma, aku punya satu syarat.” Ku tatap mata eomma dengan intens.

“Apa itu?” Dan aku mulai berbicara tentang syarat ku.

“Hm, sebenarnya ada seorang yang tidak aku ingin temui disana. Jadi bisakah eomma mengganti nama dan sekolahku kelulusanku saat mendaftar?” Aku mengeluarkan wajah memohon, walau terlihat bodoh setidaknya wajah itu pernah berhasil.

“Sehun? Eomma sudah melakukan itu. Tenang saja.” Aku menatap eomma dengan bingung. Bagaimana bisa ia melakukan itu? Awalnya kukira itu mustahil mengingat riwayat sekolah dasar sampai menengah pertama aku bernamakan Lee Yoo Ri.

Dan dari mana eomma tahu orang itu adalah Sehun, sebenarnya aku juga tidak mau bertemu Hye jin, hanya merasa tak enak meninggalkannya secara tak pamit.

“Bagaimana bisa?” Aku mengerutkan dahi sambil memperhatikan eomma yang sedang makan semangka.

“Kau tak perlu tahu.” Ujarnya sambil tersenyum lalu beranjak dari sofa yang kita duduki.

Hanya ada tiga orang di dunia ini yang tidak bisa ku baca pikirannya, yaitu eomma, appa, dan eonnie, dan entah mengapa, terkadang aku tak bisa membaca pikiran Hye jin.

Aku menggelengkan kepalaku saat mengingat bagaimana aku bisa masuk ke sekolah ini dengan nama baru ku. Dan aku juga tak tahu darimana eomma mengetahui nama ku saat di San Francisco, setahu ku appa tak pernah membicarakan hal tersebut dengan eomma, tapi siapa yang tahu?

“Baiklah, silahkan perkenalkan nama mu.” Ujar guru tersebut sambil tersenyum ramah. Aku sedikit maju dan membenarkan posisi ku.

“Annyeonghaseyo, Lee Hana imnida, bangapsemnida.” Aku membungkuk dan yang lain mendengarkan. Aku melihat ke arah Hye jin yang berada tepat di sebelah Sehun.

‘Omo, suaranya mirip dengan Yoo ri.’ Aku tertegun saat membaca pikirannya. Bagaimana kalau aku ketahuan. Dan orang di sebelahnya sedang memandang datar ke arah ku, aku masih bersyukur seperti nya orang itu masih tak mengenalku. Sebenarnya aku ingin membaca pikirannya, tapi aku merasa tak nyaman hanya untuk melihatnya sebentar.

“Perkenalan yang singkat ya, oh ya kudengar kau juga dari San Francisco ya.” Kata guru tersebut sambil tertawa. Aku membulatkan mata saat mendengar kata ‘San Francisco’. Sehun tahu aku pergi ke sana, apakah saat ini ia masih belum mengenalku? Aku tersenyum dan mengangguk pelan ke arah guru tersebut memberi kepastian. Ku harap laki-laki itu tidak mendengarnya.

“Baiklah, silahkan duduk, masih ada satu kursi di sebelah Han mi. Kalian sama-sama ber-awalan Han. Haha-” Seisi kelas ikut tertawa, termasuk Hye jin, tapi tidak dengan orang di sebelahnya yang malah menatap datar ke luar jendela. Seperti nya guru ini senang melucu. Aku tak berpikir lelucon itu lucu, tapi ku pakasakan untuk ikut tertawa, sekedar pencitraan.

Aku juga tak mau bersikap seperti saat menengah pertama yang sering menyendiri. Aku akan mencari banyak teman disini tanpa ada yang mengetahui kemampuan ku. Kecuali jika laki-laki itu menyadari diri ku, dan jika ia sudah menyadarinya aku hanya berharap ia tak memberitahu siapa pun.

Aku berjalan ke arah kursi yang dituju. Dan sialnya kursi ku berada tepat di sebelah Hye jin. Jarak meja kami hanya berpaut sekitar 30 sentimeter. Saat aku duduk Hye jin menatap ku dengan senyum manisnya, aku membalasnya dan ia terlihat senang. Kami pun memulai pelajaran dengan biasa.

“Oh ya, ngomong-ngomong Sehun-ssi, mengapa kau memakai kacamata hitam di dalam kelas?” Tubuhku terasa kaku dan perlahan menengok ke arah Sehun yang sedang menatap lurus ke depan.

“Saya sedang sakit mata, mohon di perbolehkan.” Kepalanya di tundukan, aku mengederkan pandangan pada sekeliling kelas dan mendapati mata-mata itu mengarah padanya.

“Baiklah, mari kita mulai pelajarannya.”

Author

Bel tanda istirahat berbunyi. Semua siswa di Mercury High School mulai berhamburam keluar kelasnya. Kecuali satu kelas, yaitu kelas yang mulai hari akan menjadi sekolah Yoo ri.

“Bagaimana kalau kita mulai sekarang?” Salah seorang siswa laki-laki dengan dasi yang tak terpasang rapi maju kedepan sambil membawa aquarium berukuran kecil dan berbentuk bulat. Didalam nya terdapat banyak kertas warna-warni yang di gulung kecil-kecil. Siswa-siswa lain mengangguk dan sepakat akan memulai sesuatu yang di katakan siswa tadi.

Yoo ri yang masih tak mengerti situasi hanya memperhatikan teman-temannya dari tempat duduknya tanpa mendapati feeling apa-apa. Siswa yang memegang aquarium tadi berjalan ke arah Yoo ri yang masih terlihat bingung. Sesampai nya di meja Yoo ri, siswa tersebut menyodorkan aquarium itu ke arah Yoo ri. Yoo ri menatap aquarium dan siswa itu secara bergantian. Ia tahu ia harus mengambilnya salah satu kertas itu, tapi ia harus bersikap seolah tak mengerti kondisi agar yang lain tak curiga. Ia juga baru mengetahui itu saat siswa tersebut berjalan ke arahnya.

“Ambilah satu.” Ujarnya karena tak mendapati respon apapun dari Yoo ri. Yoo ri berlagak ragu-ragu dan mengambil sebuah kertas berwarna kuning dan memberikannya pada siswa tadi. Yoo ri memperhatikan siswa tersebut dengan seksama, ia membuka gulungan kecil kertas tersebut dan mengeluarkan ekspresi terkejut.

“Namja.” Kata siswa itu dengan lantang. Sehun yang sedari tadi diam langsung merasa tertarik dan mengubah pandangannya ke arah siswa tadi. Ia selalu malas jika sedang melakukan hal ini, karena ia pikir ini permainan bodoh dan ia benci hal bodoh. Tapi kali ini beda, sinar mata nya menandakan kegelisahan.

Yoo ri benar-benar bingung mengapa siswa-siswa lainnya terlihat aneh dan merasa tertarik dengan secarik kertas bodoh itu. Pikirannya bekerja keras sehingga tidak mudah mendapati pikiran mereka satu-satu bagi Yoo ri.

“Apa agenda kita hari ini?” Ujar siswa lain dari belakang sambil melihat sebuah note di ponselnya.

“Sekarang tanggal 12. Omo! Kisseu.” Siswa lainnya menimbrung dan melihat ponsel temannya itu. Matanya berpindah ke arah Yoo ri yang masih kebingungan.

“Kau sangat beruntung, bisa saja kau mendapatkan si devil smirk Kim Jongin atau Park Chanyeol yang ahli di segala bidang. Hm bisa juga Oh Sehun, ia lumayan.” Seorang dari belakang Yoo ri menyenggol lengan Yoo ri, Yoo ri terlihat tak senang mendengar nama ‘Oh Sehun’.

‘Apa maksudnya, tanggal 12? kisseu? Apa yang salah dengan tanggal itu dan apa hubungannya dengan ciuman?’ Batin Yoo ri tertekan dengan perilaku teman-temannya yang belum juga memberitahu prosedur tentang hal yang di sebut ‘permainan’ ini.

“Ya! Ppaliwa! beritahu siapa itu?” Seorang siswa berteriak lagi, suasana kelas semakin ricuh dan membuat Yoo ri tak tahan.

“Arraseo arraseo. Apa kau penasaran juga Lee Hana-ssi?” Siswa Laki-laki itu menggoda Yoo ri dan yang bisa Yoo ri lakukan hanyalah menyerngitkan dahi.

“Baiklah, namja itu adalah…” suasana kelas semakin mencengkram dan riuh. Sangat kontras dengan suasana hati Yoo ri yang sedang ingin sendiri.

“Adalah…” warga kelas diam dan menyimak siapa yang ada di balik kertas itu.

“Kim Jongin.” Suasana kelas mendadak kacau, benar-benar kacau. Para siswi terlihat tak percaya dengan nama yang tertera di balik kertas itu. Seorang dengan postur tegap dan tinggi menghampiri meja Yoo ri dari arah belakang.

“Jadi ini yeoja yang akan merasakan bibirku?” Laki-laki itu meraih dagu Yoo ri yang langsung di tepis oleh Yoo ri, kemudian ia berdiri, ia merasa tak terima dengan perlakuan laki-laki tadi. Siswi-siswi lain histeris sementara Yoo ri justru merasa jijik dengan laki-laki yang ada di depan matanya.

“Pergi.” Yoo ri hampir mendorong laki-laki itu ke arah samping, tapi tangan laki-laki yang diketahui bernama Kim Jongin itu lebih cepat dari tangan Yoo ri.

“Kau harus mematuhi peraturannya.” Jongin mengeluarkan smirk nya di hadapan Yoo ri. Suasana kelas semakin riuh di tambah siswi-siswi lain dari luar kelas yang menatap Yoo ri iri.

Di sisi lain, Sehun mencoba untuk tak menghiraukan teman-temannya yang sedang melakukan permainan bodoh itu.

Agar di perjelas, pada minggu pertama mereka masuk, seluruh kelas di perintah untuk membuat game oleh ketua organisasi siswa. Kelas dengan game ter-unik akan di nobatkan sebagai kelas terkreatif dan di beri hadiah yang di rahasiakan. Mereka di beri waktu seharian untuk berdikusi dan barangkali ingin mempraktekannya. Pada sore hari nya ketua organisasi siswa beserta anggota nya mengunjungi kelas satu persatu untuk melihat game nya.

Dan kelas Sehun lah yang di nobatkan sebagai kelas terkreatif. Sejak saat itu mereka semua memainkan permainannya setiap satu bulan sekali dengan orang yang bergilir, dan mereka mempunyai jadwal sesuai tanggal yang di tentukan.

Kebetulan sekali kelasnya belum bermain bulan ini dan Yoo ri masuk di saat yang tepat.

Sehun terlihat geram pada Jongin yang sedari tadi terus mencoba untuk menyentuh Yoo ri. Tapi Yoo ri tetap bersikukuh tidak mau jika di suruh berciuman dengan namja tak tahu diri itu.

‘Cih, sampai kapan pun aku tak akan mau jika di suruh berciuman dengan namja yadong ini.’ Batinnya sambil terus menghindar dari tangan Jongin yang mencoba meraih tengkuknya terus.

“Kisseu.. kisseu.. kisseu..” Suara berisik kelas yang terus menyuruhnya berciuman menyebabkan ia pusing. penglihatannya mulai kabur dan kekuatannya melemah.

Saat tangan Jongin hampir memegang bahu Yoo ri, sebuah tangan lainnya lebih dulu mencengkram tangan tersebut.

“Sudahlah, kau tidak lihat wajahnya? Bodoh begitu, benar-benar bukan selera mu.” Kata laki-laki berkacamata hitam itu sambil menghempaskan tangan Jongin ke bawah.

“Wae? Tak biasanya kau ikut dengan permainan ini. Ada apa denganmu Sehun-a?” Jongin menatap laki-laki di depannya seperti menyelidiki.

“Aniya, tapi kau lihat wajahnya? Ia orang dengan wajah terbodoh yang pernah aku lihat, dan tentu saja tidak seperti selera mu.” Jawabnya santai dan hampir berlalu.

“Oh ya, jika kau ingin melanjutkan silahkan saja, tapi jangan salahkan aku jika fans-fans mu berpindah kepadaku.” Lanjutnya sambil menyorot ke arah jendela yang penuh dengan murid perempuan. Dan segera berlalu ke luar pintu.

Yoo ri yang sudah mencerna keadaan nya berniat mengejar Sehun. Ia rasa harus berterima kasih, walau ia tahu resiko selalu ada. Tapi tangan sialan itu berhasil membuat Yoo ri kembali berhenti sebelum berhasil keluar kelasnya.

“Kau mau kemana? Kita belum selesai.” Ujarnya sambil terus mencengkram kuat lengan Yoo ri. Yoo ri menarik nafas dalam dan dalam satu hentakan ia mengehempaskan kembali tangan itu ke bawah.

“Aku tidak punya cukup waktu untuk berurusan denganmu.” Ucap Yoo ri dengan tegas sambil menatap tajam ke arah Jongin, sementara siswa-siswa lain berbisik di belakang mereka. Yoo ri tak peduli dengan tatapan-tatapan aneh sekelilingnya dan berlalu ke luar kelas.

‘Akhirnya ketemu juga. Aku tahu, ia tak berubah.’ Yoo ri menghembuskan nafas berat setelah berlari mencari orang itu. Sebenarnya ia bisa saja berjalan, tapi ia tak cukup sabar untuk memastikan sesuatu lebih cepat.

“Sehun-ssi.” Yoo ri maju secara perlahan setelah mengatur nafasnya. Ia melihat Sehun yang sedang menatap depan sambil tetap mengenakan kacamata hitamnya dan kedua tangan yang dimasukan ke dalam saku celananya.

Sehun melirik ke belakang dengan posisi tetap seperti itu, memastikan siapa yang datang. Ia menarik sudut kanan bibirnya.

“Waeyo?” Yoo ri tertegun saat Sehun menggunakan bahasa informal kepadanya, sebenarnya itu hal yang wajar karena mereka sepantaran. Yoo ri tahu, Sehun adalah siswa yang sopan, jadi ia tak mungkin memakai bahasa itu kepada orang yang baru dikenal. Yoo ri memainkan jarinya gelisah, dipikirannya bisa saja Sehun sudah mengetahui dirinya.

“Anu, em terima kasih sudah menolongku.” Yoo ri meremas roknya, ia terlalu gugup sekaligus takut, padahal tidak biasanya ia bersikap seperti itu.

“Siapa bilang aku menolong mu?” Sehun membalikan badannya searah dengan Yoo ri. Yoo ri panik karena Sehun mulai mendekat ke arahnya. Karena Sehun memakai kacamata hitam, Yoo ri semakin sulit masuk ke dalam pikirannya.

“Terserah, pokoknya aku berterima kasih.” Yoo ri mengatasi ke gugupannya dengan menyudahi percakapan mereka.

Saat jarak mereka semakin sedikit, Yoo ri memilih untuk turun dari atap sekolah dan kembali ke kelasnya, dan lagi, pundaknya di tahan oleh tangan yang Yoo ri tahu betul itu siapa.

“Kau baru saja sampai, tidak ingin menyapa ku?” Yoo ri tersentak. Ia belum punya cukup keberanian untuk berbalik, ia masih mengumpulkan keberanian untuk menatapnya.

“Waeyo? Mengapa pundakmu bergetar?” Dengan tangan yang masih bertengger di pundak Yoo ri, ia memasukan kacamata hitamnya dengan tangan satu nya ke dalam saku. Sepertinya Sehun sudah siap, entah siap untuk apa.

Keberaniannya mulai terkumpul banyak. Ia berbalik pelan tapi pasti. Dan yang ia temukan adalah Sehun yang sedang tersenyum pada nya tanpa kacamata hitam itu lagi.

“Lama tak bertemu, Lee-Yoo-Ri.” Sehun sukses membuat Yoo ri membulatkan kedua mata sipitnnya. Yoo ri menelan saliva nya dengan susah payah, ia sudah mengira, pasti Sehun sudah menyadari dirinya

“Ap-apa maksudmu, namaku Lee Hana, dan siapa itu Lee Yoo ri?” Yoo ri menghempaskan tangan Sehun dari pundaknya dengan kasar. Hari pertamanya benar-benar sial.

“Kau tak usah menghindar, aku tahu dari awal bahwa kau adalah Lee Yoo ri, bukan Lee Hana.” Sehun menatap Yoo ri intens, pandangan mereka bertemu dan terasa sengit. Yoo ri benar-benar sudah masuk ke dalam perangkap Sehun yang secara tak sengaja ia buat.

“Ku tegaskan sekali lagi nama ku- hmp”

“Diam.” Sehun memutus kalimat Yoo ri dengan membekap mulut Yoo ri menggunakan tangannya. Yoo ri meronta-ronta tak menentu karena merasa tak terima.

“kubilang diam, kau mau ketahuan oleh mereka.” Yoo ri diam dan mencerna perkataan Sehun. Ia mendengar sayup-sayup namanya dari dalam sekolah, sepertinya anak-anak kelasnya sedang mencari dirinya yang kabur dari permainan bodoh itu. Yoo ri memanfaatkan kesempatan yang sunyi itu dengan melepas bekapan tangan Sehun dan membuat jarak di antara mereka.

“Tidak, tapi menjauhlah dari ku.” Yoo ri mundur dan memasang kuda-kuda seperti ingin bertarung. Sehun mentertawakannya remeh dan membuat Yoo ri tambah jengkel.

Ceklek-
Ceklek-

Mereka berdua langsung memindahkan pandangan pada pintu atap saat di rasa ada yang ingin membukannya.

“Ya! Bisa saja mereka disini, ini tak bisa dibuka.” Terdengar dengan jelas seorang siswa yang mencoba membuka pintu atap tersebut, ia tak mau jika di suruh berciuman dengan orang yang baru dikenalnya, malahan orang itu belum dikenal sama sekali. Yoo ri panik dan mengedarkan pandangan ke semua penjuru atap untuk mencari tempat persembunyian, dan dilihatnya Sehun yang terlihat biasa saja berjalan mendekat ke arahnya.

“Mwo? Kau mau apa?” Yoo ri yang posisinya sudah terpojok oleh dinding merasa lebih panik lagi di tambah desakan suara pintu atap yang di paksakan terbuka. Saat jarak mereka tinggal sedikit Sehun menggerakan tangannya untuk menggapai sesuatu ke arah Yoo ri.

“Y-ya! Jangan sentuh aku!” Yoo ri menutup mata nya sambil meluruskan tangan ke depan seakan-akan tameng bagi dirinya.

“Cih, siapa yang ingin menyentuhmu, aku hanya ingin membuka pintu yang berada di belakangmu. Minggir.” Sehun mendorong pelan tubuh Yoo ri ke samping dan masuk ke dalam ruangan dengan pintu yang di tuju. Wajah Yoo ri memanas, bagaimana bisa ia bersikap seakan-akan ingin di sentuh di saat seperti ini. Ia menundukan wajahnya dalam-dalam, mungkin Sehun akan berfikir dia Byuntae sekarang.

“Kau tidak ingin masuk?” Sehun menawarkan Yoo ri yang masih memegang pipinya yang memerah sambil menunduk. Yoo ri mendongkakan kepalanya pelan untuk melihat ruangan itu. Gelap dan sempit. Yoo ri berfikir itu hanya akan muat untuk satu orang. Yoo ri ragu untuk masuk mengingat ia harus bergelap-gelapan dan bersempit-sempitan dengan Sehun, tapi pikirannya semakin terpuruk karena suara pintu atap yang tak kunjung berhenti untuk di buka. Tapi Yoo ri bersikukuh tidak akan mau masuk ke dalam situ kecuali Sehun keluar.

“Yasudah kalau begitu.” Sehun menutup pintu besi berkarat itu dengan pelan karena tak mau menimbulkan suara yang dapat membuat orang di luar sana curiga.

Yoo ri menggigit bibir bawahnya gelisah. Ia tak bisa terus disini, tapi tak ada juga tempat persembunyian yang tepat selain tempat yang di tempati Sehun. Ia meremas rok nya gelisah. Desakan pintu yang semakin ingin di buka membuatnya panik bukan main.

Sementara di dalam gedung

“Ya! Ayo kita dobrak saja, aku yakin dia di dalam.” Usul salah satu siswa tersebut. Mereka mulai memilih orang-orang yang tepat untuk mendobrak pintu tersebut. Tidak peduli pintu itu akan rusak atau tidak, yang pasti mereka tak akan menyerah sampai menemukan Yoo ri yang mereka rasa tak mau menuruti permainan mereka.

Jongin juga antusias dan menawarkan diri untuk mendobrak. Sudah terkumpul 3 orang dengan cepat, termasuk jongin. Mereka memberi aba-aba pada masing-masing pendobrak.

“Hana.. dul.. set”

Brak

Pintu besar itu tidak juga terbuka pada percobaan pertama, dan mereka mencoba untuk ke dua kalinya.

“Hana.. dul.. set..”

Brak

Sementara di atap, Yoo ri terkejut mendengar pintu itu semakin di paksakan terbuka dengan cara yang tak Yoo ri ketahui. Ia tak tahu harus bagaimana lagi, ia harus mengikhlaskan ciuman pertamanya pada seorang yang belum di kenalnya. Memikirkannya membuat kepala Yoo ri berdenyut hebat.

Brakk

Seorang menarik tubuh Yoo ri dari belakang pada waktu yang sama ketika pintunya terbuka.

“Mwoya? Dia tak ada disini?” Beberapa siswa terlihat kecewa menemukan tak ada orang yang di cari di sana. Sementara para murid perempuan terlihat lega Yoo ri tak di temukan disini.

“Aku yakin mendengar mereka disini. Apa dia loncat dari sini?” Siswa lain melihat ke arah bawah yang mustahil jika orang yang melompat dari situ tidak mati.

“Ahh mengecewakan, kita harus mencarinya sebelum hari ini selesai, karena permainan ini akan hangus esok hari nya.” Seorang siswa lain memprovokasi siswa-siswa lainnya. Sementara Jongin mendelik sebal, seperti nya ia benar-benar kesal karena lengannya sakit untuk alasan yang sia-sia.

Sementara di tempat Yoo ri berada ia sedang duduk dengan sebuah lengan melingkar di lehernya, dan lengan lainnya yang melingkar rapi di pinggang Yoo ri. Yoo ri merasa punggungnya bersender pada suatu yang empuk dan berdetak. Ia mendengar suara orang bernafas selain dirinya yang terasa tepat di telinganya.

“Lep-”

“Jangan bergerak dan tutup mulut mu itu jika tak ingin ketahuan.” Omongan Yoo ri kembali di potong oleh Sehun. Mereka berdua sedang berada di dalam ruangan yang sangat kecil, oleh sebab itu mengapa mereka berdua saling menempel. Entah mengapa Yoo ri menuruti perkataan Sehun dan membiarkan kedua lengan Sehun tetap bertengger leher dan pinggangnya. Kedua nya mendengar keadaan luar dalam diam.

Ceklek

Suara pintu tertutup. Akhirnya orang-orang itu turun juga setelah sedikit lama berada di atap. Yoo ri menghembuskan nafas lega dan segera tersadar akan posisinya, ia langsung berdiri yang otomatis kedua lengan Sehun terlepas, tapi ruangan itu terlalu pendek sehingga kepalanya terantuk cukup keras oleh langit-langit yang terbuat dari besi itu.

“Akh-” Rintih Yoo ri yang langsung menutup mulutnya sendiri.

“Tenang saja mereka sudah pergi. Dan jangan ceroboh.” Sehun yang lebih tinggi dari Yoo ri berdiri lalu menunduk dan segera keluar dari ruangan pengap itu. Yoo ri mengikutinya dan berdiri tepat di sampingnya

“Mengapa kau menolongku?” Yoo ri bertanya Sehun dengan polosnya. Sehun sedikit tersentak dan bertindak senormal mungkin.

“Akan ku katakan. Aku tidak pernah menolongmu, Aku hanya tak suka melihat orang yang dipaksa atau tersiksa.” Jawabnya tak acuh dan melebarkan tangannya lebar-lebar. Ia menghirup nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan.

“Di dalam sangat pengap. Disini jauh lebih enak.” Yoo ri mengikuti arah pandangan Sehun ke arah depan. Ia tak melihat apa-apa selain makhluk yang sedari tadi berlalu lalang. Yoo ri mengindikan bahu dan berbalik berniat kembali ke kelas. Mata Sehun mengikuti arah pergi Yoo ri yang mengarah ke pintu atap.

“Kau yakin ingin ke kelas disaat seperti ini?” Yoo ri menaikan sebelah alisnya. Benar juga perkataannya, ia tak bisa kembali ke kelasnya, setidaknya hari ini.

“Lalu, kita akan kemana kalau bukan ke kelas?” Sehun menyerngitkan dahinya.

“Kita? Aku sih akan kembali ke kelas, karena yang dapat masalah kau, bukan diriku.” Ujarnya sambil berlalu ke arah pintu.

“Tunggu. Tapi kau juga tadi yang menarik ku sehingga aku tak ketahuan.” Sehun berhenti selangkah sebelum kembali masuk ke dalam gedung sekolahnya.

“Mengapa tadi kau tidak membiarkan ku?” Desak Yoo ri lagi.

“Karena kau Lee Yoo ri.” Yoo ri segera menutup mulutnya kembali yang hampir mengeluarkan protesan lagi.

“Terserah kau ingin menganggapku siapa, tapi untuk apa kau melakukan hal tadi jika tetap akan meninggalkan ku? Kau tertari-”

“Memangnya kenapa kalau iya?”

Yoo ri membelakan mata saat Sehun lagi-lagi memotong pembicaraannya, tapi dengan cara yang benar-benar membuat Yoo ri tertegun. Bibir mungilnya nya kini menempel pada bibir Sehun setelah Sehun sukses menarik pinggangnya tanpa permisi dalam keadaan Yoo ri yang sedang lengah.

Yoo ri terus berusaha melepas tautan mereka, wajahnya mulai memerah karena tak terbiasa seperti ini. Sehun sendiri merasa bersalah sudah melakukan ini secara tiba-tiba. Ia segera melepaskannya dan hampir tersungkur ke belakang karena dorongan Yoo ri yang cukup kuat.

“Apa yang kau lakukan?!” Yoo ri berteriak bersamaan dengan air mata nya yang terjatuh. Sehun merasa benar-benar semakin merasa bersalah setelah melihat air mata Yoo ri yang jatuh.

“M-mian-” Ia baru saja ingin mendekat ke arah Yoo ri tapi langsung ia urungkan mengingat pasti Yoo ri tak mau.

“Aku benci kau!” Kata-kata itu berhasil membuat hati Sehun tersayat. Sehun membiarkan Yoo ri masuk kembali ke gedung tanpa menahannya lagi, meninggalkan dirinya dan hatinya yang sakit.

“Aku tetap akan pergi ke Korea saat natal! Aku harus memberitahu kebusukan appa selama ini pada Yoo ri.” Seorang namja berdiri tegas sambil menumpu-kan tangannya pada meja kerja seorang pria paruh baya.

“Kau tidak akan bisa, appa sudah memblokir semua kartu kredit mu.” Jawab pria paruh bayu itu sambil meminum teh nya dengan santai.

“Appa!”

“Cukup junmyeon! Appa tak mau mendengarnya lagi! Pergi!” Urat-urat di kepalanya keluar saat appanya menyuruhnya pergi. Ia mengepalkan tangannya menahan amarah yang sewaktu-waktu bisa keluar dan dapat menyakiti appa nya sendiri.

“Aku-membenci-appa.” Katanya tegas dan segera berlalu ke luar ruangan besar itu. Sementara pria paruh baya itu menatap punggung anaknya remeh.

*
TBC
*

Prev Chap.6

“Maaf aku tak bermaksud.”

“Apa pun itu?”

“Minggir.”

“Kalian mempunyai banyak kesamaan, jangan-jangan kalian kembar.”

“Tolong-“

“Kembalilah ke alam mu!”

*****

Heyooo!! Author kembali dengan membawa chapter ke 5 yang sebagian besarnya adalah couple Sehun-Yoo ri~~ gimana? Author tau nih ff abal bgt-.- makanya author sangat berterima kasih bagi yang sudah baca apalagi meninggalkan jejak berupa LIKE atau COMMENT U.U

Author ga pinter basa-basi jadi udah dulu ya annyeong!^^~

22 responses to “Don’t Stare at Me With That Eyes [part.5] – By Kimraeha

  1. Yeyy akhirnya chapter 5nya muncul juga hehe, ini ff daebak banhet thor :v salken yaa readers baru dan maaf baru comennt sekarang 😦 karena baru download appnya di hp biar lebih gampang gitu :v. Keep writing thor !! ^^

  2. sehun ni gimana sih
    katanya nggak suka liat org di paksa eeh dia malah kyk maksa cium hana aka yoori
    tpi itu bagusnyaa hihhihi
    jongin yg sabar yaaa…..

    eeh tpi sumpah aku masih bingung…ada sesuatu yg kurang jelas dan aou nggak tau apa itu
    tpi nggak masalah sih
    ceritanya masih nyambung
    jadi nggak perlu dipikirin okeee

    next pasti di tunggu

  3. Ga suka maksa tapi ko maksa??? 😀 . Ah pusing pala ebi :v
    Sehun oh 😀
    Keren thor !! D tunggu klnjutanny

  4. Haii~~ salam kenal nama saya naura readers yg baru sempet comment huhu mianhae author 😦

    Ntah kenapa aku suka banget sama ceritanya soalny bikin baper(?) dan ya game apa itu?! pliss saya mau jadi YooRi wkwk. Duh itu bapaknya suho kenapa? Korupsi ya akhh tidaak.gak

    wks ah iya aku bingung sebenarnya. Sebelumny mintaa maaf ya, misteri ny dapet, romance, school-life, dan baper juga dapet. Tp aku blm menemukan letak ke-hor-roran- nya dmana’-‘ apa emg blm muncul? Kalo diliat dari previem chap. 6 kykny emg mulai dari situ horrornya hehe. Tp semangat thor nulisnya’-‘8

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s