STUPID LOVERS (WHO??!!) by noonapark

large

¶ Author : noonapark | Title : STUPID LOVERS (WHO??!!) | Cast : Park Chanyeol and YOU/OC | Genre : Romance—Comedy | Ratting : G | Lenght : Oneshot ¶

Previous : DON’T READ THIS! » PLEASE READ THIS! » GOOD MORNING DARLING! » LEARN TO BE PERVERT » T – SHIRT » TRAP » REVENGE

***

.

.

“Apa? Pergi?”

Chanyeol mengangguk dengan cepat. “Eum, aku harus pergi jadi aku tidak bisa pulang bersamamu. Maaf.”

Chanyeol seharusnya beruntung karena ada beberapa orang yang juga sedang duduk di kursi halte bus saat ini. Karena jika hanya ada mereka berdua di tempat itu, Eunsoo bersumpah akan menarik-narik telinga Chanyeol dan berteriak di depan wajahnya.

Oh, ini berawal dari sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal yang masuk ke dalam ponsel Chanyeol tadi pagi. Okay, Eunsoo berusaha berpikir positif dengan mengira bahwa pesan itu mungkin adalah akal-akalan Baekhyun. Ya, bisa jadi. Baekhyun dan Chanyeol adalah sahabat baik dan mereka sering melakukan hal-hal absurd bersama-sama. Dan pesan singkat itu mungkin salah satunya. Baekhyun mengirim pesan itu pada Chanyeol hanya untuk membuat Eunsoo cemburu. Mungkin.

Eunsoo yakin Chanyeol tidak mempunyai teman wanita lain selain dirinya. Heol, wanita normal mana yang mau berteman—apalagi berkencan—dengan seorang pria seperti Park Chanyeol? Uhm, bukan berarti Eunsoo mengira bahwa dirinya tidak normal. Tapi… ah sudahlah.

Dan entah mengapa Eunsoo tidak bisa lagi berpikir positif setelah merasakan hal-hal ganjal yang terjadi pada Chanyeol hari ini.

Dimulai ketika mereka pergi ke kampus. Di dalam bus, Chanyeol lebih banyak berkutat dengan ponselnya dibandingkan menjaili Eunsoo seperti biasanya; menggelitik, menusuk-nusuk pipi Eunsoo dengan jari telunjuk, atau memainkan rambut Eunsoo.

Diwaktu istirahat, Chanyeol juga langsung meminta ijin pada Eunsoo untuk pergi ke perpustakan.

Demi neptunus, Eunsoo tahu bahwa perpustakaan adalah sesuatu yang Chanyeol benci setelah serangga. Dan gadis itu tak habis pikir, benar-benar kesal karena Chanyeol justru berlari ketika menuju perpustakaan.

Eunsoo kesal, sungguh. Hari ini Chanyeol lebih banyak menghabiskan waktu bersama seseorang yang tidak Eunsoo ketahui. Seseorang yang masih misterius yang membuat Eunsoo benar-benar kesal karenanya.

Dan sekarang, Chanyeol juga ingin pergi membiarkan Eunsoo pulang seorang diri. Apa Eunsoo bisa bersabar lagi?

Tentu saja tidak.

Eunsoo menghadapkan tubuhnya pada Chanyeol dan menatap pria itu dengan tatapan curiga. “Chanyeol-ah.”

Dan Chanyeol yang merasa biasa-biasa saja hanya tersenyum, mendekatkan wajahnya pada Eunsoo membuat ujung hidung mereka hampir bersentuhan. “Hm? Ada apa?”bisik Chanyeol.

“Apa kau tidak sadar juga?”

Chanyeol menelengkan kepala. “Maksudmu?”

Eunsoo memejamkan mata tak habis pikir, lalu mendengus. “Ya! Kau benar-benar tidak sadar?! Maksudku, kenapa hari ini kau—“

Oppa!”

Eunsoo mendongak, Chanyeol pun langsung mendongak dan mereka mendapati seorang gadis mungil kini tengah berdiri tak jauh di hadapan mereka. Di hadapan Chanyeol tepatnya.

Chanyeol Oppa?”gadis itu tersenyum pada Chanyeol. “Jadi bagaimana? Apa kita jadi pergi ke toko buku?”

Eunsoo langsung menatap Chanyeol, merasakan asap tebal mengepul di puncak kepala saat melihat Chanyeol membalas senyuman gadis itu.

Dan parahnya lagi, Chanyeol mengangguk menanggapinya. “Tentu saja jadi.”

Chanyeol berdiri setelah itu. Eunsoo pun langsung berdiri, memperhatikan sang gadis dari atas sampai bawah. Gadis itu mengenakan dress di atas lutut, menghiasi kepala dengan bandana dan Eunsoo akui dia cukup cantik.

Tunggu. Apa? Cantik? Oh, tidak. Menurut Eunsoo dia jelek. Gemuk. Terlalu pendek dan tidak cocok jika disandingkan dengan tubuh Chanyeol yang tinggi.

Tidak cocok!

Eunsoo mengepalkan kedua tangan di sisi tubuh. Lalu menyenggol lengan Chanyeol membuat pria itu langsung menatapnya.

“Siapa dia?”tanya Eunsoo dengan nada kesal.

“Dia?”Chanyeol memandang gadis itu sejenak, kembali menatap Eunsoo kemudian tersenyum. “Kim Yejin. Kami bertemu saat aku mengikutimu membeli serangga mainan di toko. Aku tidak sengaja menabraknya dan… ya, sekarang kami berteman.”senyum Chanyeol semakin lebar. “Oya, ternyata dia juga berada di satu kampus dengan kita. Junior.”

“Bukan cuma itu.”Yejin tiba-tiba bersuara, lalu mendekat membuat Eunsoo dan Chanyeol langsung menatapnya. “Mungkin kalian lupa, aku juga pernah menjadi adik kelas kalian saat SMA.”

“Woah! Benarkah? Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?”tanya Chanyeol dengan mata membola.

Yejin menunduk, menunjukkan senyuman malu-malu sementara Eunsoo menatapnya dengan tatapan datar.

“Dan ternyata..”Yejin menatap Eunsoo. “Kalian tidak berubah. Sejak sekolah dulu kalian dikenal sebagai sepasang sahabat yang sangat akrab, bahkan sampai sekarang. Aku benar-benar kagum melihatnya.”

Senyum Chanyeol langsung memudar, bibirnya mengatup rapat sementara Eunsoo langsung melirik ke arah bus yang baru datang.

“Oke.”Eunsoo menghembuskan napas cukup panjang. Lalu menatap Chanyeol dengan tatapan geram. “Aku mau pulang. Selamat bersenang-senang.”

“Eu—Eunsoo…”Chanyeol tidak melanjutkan kalimat ketika Eunsoo menerobos di depannya. Gadis itu bahkan menyempatkan diri menginjak kaki Chanyeol membuat Chanyeol meringis tertahan. “Akh! Eunsoo?”

Chanyeol berusaha mengejar Eunsoo namun Yejin menarik tangannya.

Oppa.”

Eunsoo masuk ke dalam bus, bersama beberapa orang yang sejak tadi menunggu di sana. Setelah itu bus langsung bergerak perlahan, pergi meninggalkan Chanyeol yang memandangi Eunsoo di balik jendela.

Oppa.”Yejin semakin mendekat, mempererat genggamannya pada tangan Chanyeol saat melanjutkan. “Jadi bagaimana? Apa kita pergi sekarang?”

Chanyeol menatapnya dalam diam.

“Aku sudah mengatakannya padamu ‘kan? Ibu tidak akan mengijinkanku pergi kemanapun jika sendiri. Jadi..”Yejin mengulum senyum. “Tolong temani aku, eum? Kumohon.”

Chanyeol memundurkan kepala ketika Yejin semakin mendekatkan wajah ke arahnya.

“Dan sebaiknya naik taxi. ”gumam Yejin, lalu memilin-milin ujung rambutnya. “Aku.. tidak biasa naik bus.”

Membuat Chanyeol melotot melihatnya.

***

“Eunsoo? Kau tidak makan?! Cepat keluar!”

“Aku sudah kenyang Ibu!! Aku sudah kenyang!!”Eunsoo menyahut dari balik selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.

Ketika sang Ibu kembali mengetuk pintu kamarnya, Eunsoo semakin meringkuk dibalik selimut, meremas selimut sembari menutup mata rapat-rapat.

Di luar, Nyonya Shin menghembuskan napas berat. “Kau yakin? Ibu memasak banyak daging malam ini.”

Tidak ada jawaban dari Eunsoo. Bahkan setelah Nyonya Shin menunggu sampai sepuluh detik kemudian.

“Ck! Ah! Terserahlah.”Nyonya Shin akhirnya berbalik, berjalan menuju pantry dan duduk di samping suaminya.

“Eunsoo tidak makan?”

Nyonya Shin menggeleng. Meletakkan nasi ke dalam mangkuk sembari menjawab. “Sepertinya tidak.”

Dan sepertinya Nyonya Shin salah.

Karena dua detik setelah beliau menjawab, Eunsoo tiba-tiba muncul di ambang pintu pantry. Mengenakan celana tidur pink polkadot, T-Shirt bertuliskan ‘KEEP CALM AND I ❤ PARK CHANYEOL’ dan jangan lupakan rambutnya yang berantakan.

“Ya! Setidaknya sisir dulu rambutmu Eunsoo.”tegur sang Ibu ketika Eunsoo menarik kursi di depan meja makan, lalu gadis itu duduk. “Kau bilang kau sudah kenyang.”

Eunsoo seolah tak peduli. Ekspressi wajahnya benar-benar kesal dan sang Ayah hanya bisa mendiamkan nasi di dalam mulut ketika melihat Eunsoo mengambil sedikit nasi ke dalam mangkuk, lalu menuangkan banyak daging di atasnya. Kemudian Eunsoo langsung menyantapnya dengan lahap, mulutnya bahkan sampai penuh membuat sang Ibu yang juga melihat merasa sesak.

“Ya! Ya! Jangan seperti itu. Kau perempuan dan seharusnya tahu bahwa makan dengan cara seperti itu menjijikan.”tegur Ibunya.

Bukannya menurut, Eunsoo justru kembali memasukkan daging ke dalam mulutnya. Membuat mulutnya penuh dengan daging dan sang Ayah hanya menggeleng pelan melihat itu, lalu kembali makan. Sang Ibu pun tidak bisa melakukan apa-apa selain menatap iba putri satu-satunya, lalu menunduk dan mulai menyantap makanannya.

Setelah selesai menelan semua daging di dalam mulut, Eunsoo memasukkan ke dalam mulut beberapa sayuran seperti selada dan wortel. Lalu memasukkan nasi, sosis dan kembali memasukkan daging. Gadis mengunyah sembari memperhatikan hidangan di atas meja dengan pandangan kesal. Pikirannya masih terlalu kacau karena sampai saat ini Chanyeol tak kunjung pulang, menghubungi Eunsoo pun tidak. Dan tidak ada hal lain yang bisa Eunsoo lakukan selain melampiaskan amarahnya pada makanan-makanan tak berdosa itu.

Eunsoo menggenggam sumpitnya erat-erat, mengunyah dengan gerakan semakin cepat.

“Eunsoo?”

Eunsoo langsung menatap Ibunya. “Eoh?”

“Ini.”Nyonya Shin menyodorkan sepiring penuh daging panggang di hadapan Eunsoo. “Antarkan ini ke rumah Chanyeol. Chanyeol juga suka daging ‘kan?”

Eunsoo mendengus kasar. “Untuk apa?!”serunya, membuat makanan di dalam mulut sedikit menyembur keluar.

“Ck! Eunsoo!”tegur Ibunya.

“Tidak.”Eunsoo menggeleng, lalu melengos. “Sebanyak apapun Chanyeol makan daging dia tidak akan bisa pintar karena…”Eunsoo tiba-tiba menggantungkan kalimat. Mengerjap pelan, lalu menatap Ibunya dengan tatapan horor.

“Eunsoo?”Nyonya Shin menautkan kedua alis.

“Berikan padaku.”Eunsoo tiba-tiba berdiri. Merampas piring berisi daging dari tangan Ibunya. Lalu berbalik dan melesat pergi.

Meninggalkan sang Ibu yang menatap jejak kepergiannya dengan tatapan bingung sementara sang Ayah masih melanjutkan makannya dengan tenang.

.

.

Di ambang pintu pagar rumahnya, Eunsoo duduk sembari meletakkan kedua telapak tangannya di atas lutut. Menatap lurus ke depan dengan tatapan menerawang.

Eunsoo mengira dengan mengantarkan daging panggang itu ke rumah Chanyeol, Eunsoo memiliki alasan lain untuk pergi ke rumah Chanyeol, bertanya pada kedua orang tua Chanyeol apakah Chanyeol sudah pulang atau atau belum. Tapi jawaban mereka selalu sama; Chanyeol belum pulang dan Chanyeol tidak memberikan kabar apapun pada mereka.

Eunsoo menghembuskan napas berat untuk ke sekian kalinya. Menundukkan pandangan, lalu sebuah suara yang terdengar samar tiba-tiba masuk ke dalam pendengarannya.

“Terima kasih sudah menemaniku, oppa.”

Eunsoo langsung menoleh, mendapati Yejin dan Chanyeol barusaja tiba di depan pagar rumah Chanyeol.

Lantas Eunsoo langsung berdiri, bersembunyi di balik pagar sembari menyembulkan sedikit kepalanya untuk mengintip Chanyeol dan Yejin di sana.

Chanyeol menggaruk belakang kepalanya, lalu tersenyum. “Tidak apa-apa. Tapi sebaiknya kau tidak perlu mengantarku.”

Eunsoo mungkin tidak tahu bahwa Chanyeol menunjukkan senyuman yang terkesan dipaksakan. Dimata Eunsoo, Chanyeol tetap saja membalas senyuman Yejin dan itu membuat hatinya benar-benar merasa dongkol. Eunsoo bahkan tidak menyadari bahwa kedua tangannya saat ini mencengkram erat besi pagar rumahnya.

“Tidak oppa.”Yejin menggeleng pelan. “Anggap saja sebagai ucapan terima kasihku padamu.”

Chanyeol lagi-lagi menunjukkan senyuman yang dipaksakan. “Ya sudah, kalau begitu aku akan masuk.”

Chanyeol berniat masuk namun Yejin menahan tangannya.

“Tunggu.”

Chanyeol kembali menatap Yejin. “Ada apa?”

“Sebagai ucapan terima kasih…”Yejin seolah menggantung kalimat, menggigit bibir bawahnya dengan geram membuat Chanyeol menatapnya disertai kedua alis yang bertaut.

“Yejin? Ada ap—“

Sebuah kecupan mendarat di pipi Chanyeol. Dari Yejin. Lalu setelah menarik wajahnya kembali, Yejin menunduk malu, memilin-milin rok dress nya sementara Chanyeol membeku ditempatnya.

Dan jangan tanyakan apa yang Eunsoo lakukan setelah melihat kejadian itu.

Perlahan, Eunsoo berdiri dengan tegap. Merasakan sebuah batu besar barusaja mengantam dadanya. Membuat dada dan tenggorokan Eunsoo terasa sesak. Membuat matanya terasa memanas.

Chanyeol mengerjap pelan. Lalu menatap Yejin dengan tatapan terkesan tidak suka. “Yejin, kenapa kau—“Chanyeol tidak melanjutkan kalimat ketika terdengar suara pagar yang ditutup. Dengan cara yang kasar menimbulkan suara yang benar-benar nyaring.

Chanyeol menoleh, mendapati pagar rumah Eunsoo sedikit bergoyang dan siluet gadis itu yang terlihat sekejap mata.

“Eunsoo?”gumam Chanyeol.

Chanyeol berniat pergi namun Yejin menahan tangannya. “Oppa.”

“Lepaskan aku.”Chanyeol menepis tangan Yejin. Memandang Yejin dengan tatapan serius dan melanjutkan. “Kau mengatakan padaku bahwa kau hanya pergi sebentar, hanya di toko buku. Kenapa kau malah mengajakku pergi butik? Ke salon? Dan pulang di jam seperti ini?”

Yejin mengerjap pelan. “Apa.. oppa marah padaku?”

“Tentu saja!”sahut Chanyeol. “Aku juga ingin menghabiskan waktu bersama pacarku.”

Yejin melotot. “Apa? Pacar?”

Chanyeol mendengus. “Cepat pulang. Aku tidak mau Eunsoo salah paham.”

Setelah berkata seperti itu, Chanyeol lekas berbalik dan berlari ke rumah Eunsoo. Sosoknya kemudian hilang dibalik pintu pagar menyisakan Yejin yang terdiam di tempatnya.

“Maksudnya.. mereka pacaran?”Yejin bergumam pelan. Lalu memandangi pintu pagar rumah Eunsoo dengan tatapan yang sulit diartikan. “Chanyeol oppa, dan Eunsoo?”

.

.

.

“Eunsoo-ya.”suara Chanyeol terdengar bersamaan dengan sosoknya yang barusaja muncul di ambang pintu kamar Eunsoo.

Merasa bersyukur karena gadis itu tidak mengunci pintu kamarnya, Chanyeol kemudian masuk, mengunci pintu kamar Eunsoo dari dalam, dan terdiam saat mendapati Eunsoo tengah duduk di lantai. Gadis itu menyandarkan punggung di sisi tempat tidur, memeluk kedua lututnya sembari menunduk, membenamkan wajahnya di atas lutut.

“Eunsoo-ya.”

Chanyeol cepat-cepat menghampiri Eunsoo, lalu duduk di samping Eunsoo dan menatap gadis itu lekat-lekat.

“Kau melihatnya?”

Satu isakan lolos dari bibir Eunsoo.

“Eunsoo.”Chanyeol semakin mendekat. “Kau melihatnya?”

Bukan cuma satu, kali ini dua isakan lolos sekaligus dari bibir Eunsoo. Membuat perasaan bersalah langsung memenuhi rongga dada Chanyeol.

“Eunsoo-ya.”Chanyeol melingkarkan kedua tangannya di tubuh Eunsoo, mengelus-elus pundak Eunsoo dan melanjutkan. “Aku tidak tahu mengapa Yejin melakukannya. Maksudku.. kenapa Yejin menciumku. aku—“

“Jangan katakan di depanku!”Eunsoo mendorong tubuh Chanyeol dengan kedua tangannya. Hingga kini tubuh Chanyeol sedikit mundur sementara Eunsoo menatapnya dengan mata yang basah. “Kau menyukainya?”

Chanyeol menggeleng cepat. “Tidak. Aku—“

“Tentu saja kau menyukainya!”seru Eunsoo, semakin terisak saat melanjutkan. “Kau menyukai ciuman. Kenapa? Kau sudah bosan denganku? Terserah! Kau ingin kita putus? Terserah! Putus saja kalau begitu! Aku benci padamu!”

“Ya! Kenapa kau berbicara seperti itu?”

Chanyeol berusaha mendekat namun Eunsoo menolaknya.

“Kau benar-benar keterlaluan.”mata nanar Eunsoo menatap Chanyeol dengan tatapan serius. “Chanyeol, kau benar-benar keterlaluan. Kau bahkan hanya diam saat Yejin mengatakan kita hanya bersahabat. Kenapa? Kau malu mengakui aku sebagai pacarmu?”tenggorokan Eunsoo terasa tercekat. “Karena aku bodoh? Karena aku tidak bisa berdandan seperti Yejin? Karena aku tidak menggunakan pakaian yang cantik seperti Yejin? Kau malu mengatakan padanya bahwa aku pacarmu?”

“Eunsoo-ya..”sungguh, melihat Eunsoo seperti ini membuat mata Chanyeol terasa memanas.

“Pergi.”Eunsoo kembali menunduk, kembali memeluk kedua lututnya lalu melanjutkan nada pelan. “Aku tidak ingin melihatmu.”

Chanyeol menatap Eunsoo selama beberapa saat. Kemudian mendekat, memeluk tubuh Eunsoo erat-erat.

“Aku mencintaimu.”

Eunsoo berusaha berontak namun Chanyeol mencegahnya. Chanyeol justru mendekap Eunsoo semakin erat, kemudian mendekatkan mulutnya pada telinga Eunsoo.

Dan bergumam. “Terima kasih, Eunsoo. Dengan kau menangis seperti ini.. aku tahu bahwa kau juga mencintaiku.”

Pergerakan tubuh Eunsoo terhenti. Meskipun isakan kecil masih terdengar darinya, namun Eunsoo merasa tenang, merasa sedikit lega saat Chanyeol memeluknya semakin erat. Mengelus rambut Eunsoo, dan kembali bergumam di telinga Eunsoo.

“Aku tidak mungkin menyukai wanita lain. Apalagi mencintai wanita lain selain dirimu. Jadi kumohon, percayalah padaku, Eunsoo-ya. Aku benar-benar mencintaimu.”

.

.

.

Eunsoo sudah terbiasa menjalani banyak waktu bersama Chanyeol. Sudah begitu banyak waktu yang mereka lalui bersama dan sungguh, membayangkan sehari saja tanpa Chanyeol membuat Eunsoo ingin menangis rasanya.

Dan Chanyeol pun begitu. Chanyeol tidak bisa membayangkan bagaimana dunianya berjalan jika Eunsoo tidak berada disampingnya. Chanyeol tidak mampu rasanya.

Mereka berada di atas tempat tidur, merebahkan tubuh saling berhadapan dengan selimut yang menutupi hingga batas dada mereka.

“Aku merindukanmu.”gumam Chanyeol, tersenyum lalu memberikan kecupan hangat di bibir Eunsoo.

Eunsoo cemberut, satu tangannya kemudian terulur ke wajah Chanyeol. Menyentuh pipi Chanyeol lalu mengusapnya dengan kasar.

“Dia menciummu di sini? Dia pasti ingin mati.”

“Akh!”Chanyeol meringis tertahan ketika Eunsoo mengusap pipinya semakin kasar. “Eunsoo-ya, jangan terlalu kuat.”

Eunsoo mendengus, menghentikan pergerakan tangannya, setengah bangkit kemudian mendaratkan kecupan dalam di pipi Chanyeol. Membuat pria itu langsung menutup mata dan menyunggingkan senyuman yang dikulum.

“Aku sudah membuang bekasnya.”kata Eunsoo, lalu kembali merebahkan tubuhnya dengan nyaman.

“Ya, kau sudah membuang bekasnya.”Chanyeol menarik pinggang Eunsoo, membuat tubuh mereka semakin mendempet dan membiarkan wajah mereka hanya tersisa jarak beberapa senti saja.

“Chanyeol-ah.”Eunsoo menyelipkan satu tangannya di balik lengan Chanyeol, membalas pelukan pria itu lalu melanjutkan dengan nada pelan. “Jangan tinggalkan aku.”ada jeda sejenak sebelum Eunsoo kembali melanjutka  n. “Karena.. jika kau meninggalkanku, aku tidak yakin ada pria lain yang mau menikah denganku.”

Chanyeol tersenyum hangat. “Kalau begitu, kau juga. Jangan tinggalkan aku, karena aku tidak yakin akan ada wanita lain yang mau menikah denganku.”

“Yejin pasti sangat mau menikah denganmu.”desis Eunsoo.

Chanyeol menggeleng. “Tapi aku tidak mau menikah dengannya. Aku hanya mau menikah denganmu.”

“Tapi Yejin menyukaimu. Dia bahkan mengirimkan pesan cinta untukmu. Kau pasti bangga ‘kan?”

“Pesan cinta?”kulit kening Chanyeol mengerut. “Pesan cinta apa maksudmu?”

Eunsoo mendengus. “Ya! Tentu saja pesan…”Eunsoo tiba-tiba menggantung kalimatnya. Ia terdiam seolah baru mengingat sesuatu.

Ah, Eunsoo hampir lupa. Tanpa sepengetahuan Chanyeol, Eunsoo menghapus pesan ucapan selamat pagi dari Yejin tadi pagi.

“Eunsoo.”Chanyeol semakin mendekat. “Pesan cinta apa?”

Eunsoo mengerjap cepat, lalu bedeham pelan sebelum melanjutkan. “Y-ya! Kenapa kau penasaran? Apa kau benar-benar menyukainya?!”

“Aku hanya ingin tahu.”Chanyeol cemberut. “Kenapa kau marah lagi padaku? Sebaiknya cium aku. Aku suka dicium.”Chanyeol kemudian menunjukkan cengiran tiga jarinya. “Tapi jika Eunsoo yang melakukannya.”

Eunsoo menatap Chanyeol sejenak, lalu membuang napas dengan kasar. “Tidak. Aku tidak mau menciummu karena kau sedang dihukum.”

“Tapi tadi kau menciumku.”

“Diam!”sentak Eunsoo, menyembunyikan wajahnya di bawah dagu Chanyeol dan mendekap pria itu semakin erat. “Jangan bicara lagi Chanyeol.”

Chanyeol hanya tersenyum. Mendekap Eunsoo semakin hangat lalu memejamkan mata. “Apa ini hukumannya? Aku menyukainya.”

“Dasar bodoh.”

Mereka diam setelah itu.

Hingga beberapa saat kemudian…

“Eunsoo?!”

Eunsoo langsung mendongak, menatap Chanyeol dengan mata membulat.

“Ibu!”

“Eunsoo-ya, buka pintunya!”

Chanyeol turut membulatkan mata. “Ayo sembunyi.”lalu menarik selimut dan menutupkan ke seluruh tubuh mereka.

“Chanyeol!”Eunsoo membuka selimut kembali, menatap Chanyeol dengan tatapan kesal. “Bukan sembunyi! Kau harus pulang!”seru Eunsoo tertahan.

Chanyeol cemberut. “Tapi aku masih ingin di sini. Tidur denganmu, apa tidak boleh?”

Eunsoo menatapnya dengan tatapan tak percaya.

Sementara Chanyeol semakin mendesak dan melanjutkan dengan nada gemas. “Aku ingin menginap di rumahmu. Di sini. Tidur denganmu. Hihi!”

“Ya!”Eunsoo menarik telinga Chanyeol.

“AAA—Eunsoo!”

“Cepat bangun!”

Eunsoo segera bangkit, duduk di atas tempat tidur dan memaksa Chanyeol agar turun dari tempat tidurnya.

“Eunsoo?!”

Eunsoo melirik pintu, lalu mendorong-dorong tubuh Chanyeol dengan kedua tangannya. “Cepat Chanyeol! Cepat!”

“Iya tunggu! Jangan mendorongku—Ya!”

Pada akhirnya Chanyeol turun dari ranjang. Dengan berat hati, pria itu berdiri di sisi ranjang memperhatikan Eunsoo yang juga turun dari ranjang, lalu mereka berjalan menuju pintu dan membukanya.

“Oh? Chanyeol? Kapan kau datang?”tanya Nyonya Shin.

Chanyeol tersenyum lebar—seperti biasanya. “Tadi, Bibi sedang di dapur saat aku masuk.”

“Ah..”Nyonya Shin hanya mengangguk, lalu menatap Eunsoo. “Oya, Eunsoo.. ada tamu di luar.”

“Tamu?”kedua alis Eunsoo bertaut.

Nyonya Shin mengangguk sembari menunjukkan senyuman misterius. “Lihat saja, kau pasti akan terkejut.”lalu wanita itu berbalik dan berlalu begitu saja.

Chanyeol dan Eunsoo saling memandang tak mengerti.

“Tamu? Siapa?”tanya Chanyeol.

Eunsoo menggeleng. “Kau pikir aku tahu.”

Chanyeol tiba-tiba mendekat, menempelkan keningnya pada kening Eunsoo membuat gadis itu memundurkan kepala sejauh beberapa senti.

“Chanyeol!”

“Kau berselingkuh?!”

“Berselingkuh apa maksudmu?!”Eunsoo mendorong dada Chanyeol dengan kedua tangannya. “Mempunyai satu pacar saja sangat merepotkan bagaimana aku bisa berselingkuh? Ck!”

Chanyeol langsung menunjukkan senyhuman gummy, mencubiti kedua pipi Eunsoo dengan gemas. “Ya, Eunsoo ‘kan mencintai Park Chanyeol.”lalu Chanyeol mendaratkan bibirnya pada bibir Eunsoo setelah itu. Mengecupnya dalam-dalam membuat Eunsoo meronta tertahan.

“Chanyeol!”Eunsoo berhasil menepis tangan Chanyeol. Mendorong tubuh Chanyeol kemudian berlari keluar.

“Eunsoo!”Chanyeol menahan senyum. “Tunggu aku!”lalu berlari.

.

.

.

.

.

Di ruang tamu, setelah Chanyeol berhenti berlari, senyumnya memudar perlahan.

Tak jauh di depannya, Chanyeol melihat Eunsoo tengah berdiri berhadapan dengan seseorang.

Seorang pria.

.

.

“Luhan?”

“Eunsoo?”

Bola mata Chanyeol terbelalak lebar. Mulutnya bahkan setengah menganga saat pria bernama Luhan itu semakin mendekat di hadapan Eunsoo.

“Luhan? Kau benar Luhan?”Eunsoo menunjuk pria itu dengan jari telunjuknya.

Luhan mengangguk cepat. “Ya, ini aku.”

Demi neptunus! Demi seluruh serangga yang hidup di dunia ini! Demi mata bulat Kyungsoo dan demi apapun itu. Chanyeol hampir berteriak saat tiba-tiba Luhan menarik tubuh Eunsoo ke dalam pelukan. Mendekap Eunsoo erat-erat dan yang membuat napas Chanyeol kini terasa tercekat di tenggorokan adalah ketika melihat Eunsoo membalas pelukan Luhan.

.

.

A-apa ini?!; Chanyeol hanya bisa menyebutkan pertanyaan itu dalam hatinya. Terlalu sulit untuk berkata-kata.

Dan di depannya, Luhan menutup mata. Terlihat menikmati saat-saat memeluk gadis itu.

Gadis yang teramat Chanyeol cintai.

“Kau tidak berubah. Aku merindukanmu, Eunsoo.”

“Kau juga tidak berubah. Aku juga merindukanmu, Luhan.”

.

.

.

.

.

.

Chanyeol mematung di tempatnya.

.

.

.

“Eunsoo… tidak!”

.

.

.

.

.

.

.

.

.

*fin*

Entah kenapa aku seneng banget gunain nama Kim Yejin sebagai PHO *smirk* selir-selir Chanyeol pasti tau kan siapa Kim Yejin? Dia sesungguhnya nyata. Tapi disini aku bayangin dia OC kok. Hihi!

Dan aku ngrasa makin kesini makin aneh ceritanya. Iya ngga sih? Iya -_-

206 responses to “STUPID LOVERS (WHO??!!) by noonapark

  1. engga makin aneh, malah makin makin seru thor daebbak hihi
    tapi mau apa lagi ini ada luhan?!?!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s