STUPID LOVERS (JEALOUS TO THE MAX) by noonapark

large (2)

¶ Author : noonapark | Title : STUPID LOVERS (JEALOUS TO THE MAX) | Cast : Park Chanyeol and YOU/OC | Genre : Romance—Comedy | Ratting : G | Lenght : Oneshot ¶

Previous : DON’T READ THIS! » PLEASE READ THIS! » GOOD MORNING DARLING! » LEARN TO BE PERVERT » T – SHIRT » TRAP » REVENGE » WHO??!!

***

.

.

.

Jadi pria bernama Xiao Luhan adalah teman Eunsoo semasa kecil.

Oke, sebenarnya Eunsoo dan keluarganya pernah tinggal di Cina. Tepatnya ketika Eunsoo masih bayi, karena pekerjaan sang Ayah, Eunsoo dibawa ke Cina dan mereka tinggal di sana sampai beberapa tahun kemudian. Sampai ketika Eunsoo berumur sekitar lima tahun, Eunsoo dan orang tuanya kembali ke Korea dan membeli sebuah rumah di samping rumah keluarga Chanyeol.

Yang mereka tempati sampai saat ini.

Setidaknya itulah yang Chanyeol ketahui setelah Eunsoo menjelaskan mengapa Eunsoo dan Luhan saling mengenal.

“Jadi kau lebih dulu mengenal Lutan dari pada aku?”

“Luhan! Namanya Luhan!”

Chanyeol memutar bola matanya dengan malas. “Terserah.”

Eunsoo menatapnya sekilas, lalu kembali sibuk membuat minuman di meja konter dapur. “Saat di Cina Luhan juga tinggal di sebelah rumah kami.”kata Eunsoo. “Aku tidak sempat bersekolah di sana, jadi Luhan menjadi satu-satunya teman baikku. Ya, dia sangat baik. Saat SMA Luhan juga sempat mengirimiku e-mail sebanyak beberpa kali.”

Chanyeol semakin mendekat di samping Eunsoo, kemudian menatap gadis itu dengan tatapan sinis. “Kau menyukainya?”

Pergerakan tangan Eunsoo langsung terhenti. Menoleh, lalu menatap Chanyeol dalam diam.

“Kenapa kau hanya diam?”Chanyeol mulai kesal. “Kau menyukainya? Apa kalian saling menjalin cinta saat di Cina atau.. Ya!”Chanyeol menggoyang-goyang lengan Eunsoo dengan nada geram. “Katakan padaku!”

“Chanyeol-ah!”Eunsoo menepis tangan Chanyeol dari tubuhnya. “Kenapa kau seperti ini? Ck!”

Sementara Eunsoo tengah meletakkan gelas berisi minuman di atas nampan, Chanyeol tetap berdiri di sampingnya, menatap Eunsoo dengan tatapan teramat kesal.

“Kau akan ke mana?”tanya Chanyeol saat memperhatikan Eunsoo mulai mengangkat nampan berisi satu gelas minuman.

“Memberikan minuman ini pada Luhan.”Eunsoo setengah memutar tubuhnya. “Minggir.”

Chanyeol hanya diam. Bukannya minggir, Chanyeol justru menggigit bibir bawahnya dengan geram, lalu dengan gerakan tiba-tiba pria itu menghadang di depan Eunsoo.

“Ya!!”Eunsoo memekik tertahan ketika gelas itu terguling di atas nampan, berusaha menahan dengan perut namun airnya jutsru membasahi sebagian tubuh dan juga lantai dapur.

Chanyeol tersenyum puas.

“Chanyeol.”Eunsoo mendongak, menatap Chanyeol dengan tatapan membunuh. “Kau…”

“Buatkan aku juga.”kata Chanyeol, lalu berbalik dan melesat pergi. Meninggalkan Eunsoo yang masih berdiri ditempatnya sembari menggenggam ujung nampan dengan gestur geram.

“Chanyeol!!!”

.

.

.

.

“Silahkan diminum Luhan.”Nyonya Shin mempersilahkan setelah Eunsoo meletakkan segelas minuman di hadapan Luhan.

Sementara Luhan mengangguk, Eunsoo mengambil posisi duduk di sofa di samping Chanyeol, berhadapan dengan Luhan yang duduk diantara Ayah dan Ibu Eunsoo.

“Aku tidak menyangka kau masih ingat pada kami.”kata Tuan Shin pada Luhan. “Kupikir kau sudah lupa.”

“Bagaimana aku bisa lupa pada kalian?”Luhan menatap Nyonya dan Tuan Shin bergantian. “Tentu saja aku tidak akan lupa.”lalu tersenyum dan memandang Eunsoo. “Apalagi Eunsoo, kami juga pernah berkomunikasi lewat e-mail saat SMA dulu. Dan sejak saat itu aku belajar bahasa Korea karena aku ingin sekali pergi ke sini.”

“Woah!”Eunsoo tersenyum lebar. “Kau benar-benar luar biasa Luhan. Aku ingat dulu kau adalah anak yang pendiam, tapi sekarang sepertinya kau sudah berubah.”

Luhan tersenyum renyah. “Itu karena dirimu.”

Eunsoo hanya tersenyum. Dan tidak ada hal lain yang bisa Chanyeol lakukan selain memandangi Eunsoo dan Luhan dengan tatapan kesal, bercampur dengan rasa curiga. Punggungnya masih bersandar pada sandaran sofa, sementara kedua tangannya masih Ia lipat di depan dada.

“Oya Luhan.”Eunsoo sedikit memajukan tubuhnya ke arah Luhan. “Apa kau ingat saat kita bermain—“

“Uhuk!”Chanyeol tiba-tiba batuk, pura-pura batuk lebih tepatnya. Hingga semua orang kini menatapnya, lalu Chanyeol menunduk dan pura-pura batuk selama beberapa kali.

“Chanyeol kau tidak apa-apa?”tanya Nyonya Shin.

Chanyeol mendongak, menunjukkan senyuman yang terkesan dipaksakan. “Tidak apa-apa Bibi.”

“Oya.”Luhan menatap Chanyeol. “Dia…”menggantung kalimat sembari menatap Nyonya Shin dengan tatapan bertanya-tanya.

“Oh, ini Chanyeol.”kata Nyonya Shin. “Park Chanyeol.”

Chanyeol langsung menarik ujung kaosnya, membusungkan dada. Dan Eunsoo yang melihat itu hanya menatapnya dengan tatapan datar.

“Rumah Chanyeol ada di sebelah.”sambung Nyonya Shin.

Chanyeol mengangguk beberapa kali.

“Semenjak kami tinggal di Korea Chanyeol dan Eunsoo berteman baik, sampai saat ini.”

Pergerakan kepala Chanyeol langsung terhenti. Bukan hanya itu, Chanyeol pun merasakan jantungnya berhenti berdetak untuk sejenak. Bola matanya terbuka lebar saat mendapati Luhan kini menatapnya dengan senyuman mengembang.

“Woah… teman baik semenjak kalian masih kecil? Itu sangat luar biasa.”kata Luhan, lalu melirik Eunsoo dan melanjutkan. “Jika aku yang tinggal di samping rumah Eunsoo mungkin aku sudah menjadikan Eunsoo pacarku.”

Eunsoo hanya menunjukkan senyuman canggung. Perlahan, Ia menoleh menatap Chanyeol yang masih mematung di tempatnya.

Sungguh, kalimat Luhan bagaikan sebuah komet yang jatuh dari atas langit kemudian mendarat tepat di kepala Chanyeol.

Chanyeol mengerjap pelan. “Maaf.” tiba-tiba mencengkram pergelangan tangan Eunsoo, lalu bangkit. “Kami ingin bicara sebentar.”

Sementara Luhan dan kedua orang tua Eunsoo menatap Chanyeol dengan tatapan bingung, pria itu menarik paksa tubuh Eunsoo dan membawanya keluar.

Mereka berhenti di halaman depan rumah Eunsoo, setelah Chanyeol melepaskan tangan Eunsoo, mereka berdiri saling berhadapan.

“Ya! Kenapa kau membawaku keluar seperti ini?”tanya Eunsoo kesal.

“Apa maksudnya teman?”sahut Chanyeol. “Kau belum mengatakan pada orang tuamu bahwa kita sudah pacaran?”

Eunsoo mengerjap pelan. Bibirnya kini mengatup rapat.

“Ya! Kau belum mengatakannya?!”

Eunsoo berdeham pelan sebelum menjawab. “Memangnya… kau sudah mengatakan pada orang tuamu bahwa kita sudah pacaran?”

Chanyeol menggeleng. “Belum.”sembari menunjukkan wajah tanpa dosa membuat Eunsoo langsung menatapnya dengan tatapan teramat kesal.

“Ya!”Eunsoo memukul lengan atas Chanyeol dengan geram. “Lalu kenapa kau malah menarikku keluar dan memarahiku seperti ini?”

“Tapi Eunsoo!”Chanyeol merengek. “Ibumu mengatakan pada Lutan bahwa kita hanya berteman!”

“Luhan.”Eunsoo mendengus. “Namanya Luhan!”

“Kau pikir aku peduli?”sungut Chanyeol marah. “Aku tidak mau tahu, kau harus mengatakan pada mereka, terutama pada Lutan itu bahwa kau pacarku!”

“Chanyeol.”

“Lutan menyukaimu!”Chanyeol semakin mendekat, membuat jarak antara wajah mereka hanya tersisa beberapa inci saja. “Kau tidak bisa melihatnya?”Chanyeol mendengus kesal. “Berani-beraninya dia memelukmu dan.. Ya! Kau juga memeluknya tadi. Kau menyukainya? Kau menikmatinya? Jangan genit!”lalu mengacak-acak rambut Eunsoo membuat gadis itu meronta tertahan.

“Chanyeol!”Eunsoo menepis tangan Chanyeol dari kepalanya. Lalu menatap pria itu dengan tatapan tak percaya. “Menikmati apa maksudmu? Kami hanya teman!”

“Teman bagaimana?”sahut Chanyeol. “Bagaimana jika dia menganggapmu lebih dari sekedar teman? Atau jangan-jangan Lutan kesini hanya untuk—“

“Eunsoo?”

Mereka menoleh, mendapati Nyonya Shin barusaja muncul di ambang pintu.

“Ya! Apa yang kalian lakukan di luar? Cepat masuk. Di luar dingin.”titah Nyonya Shin. “Dan kau Eunsoo, siapkan kamar di sebelah kamarmu karena Luhan akan menginap selama satu malam di sini.”

Eunsoo mengerjap pelan. “Apa? Menginap?”

Dan bola mata Chanyeol terbelalak tak percaya. Mulutnya bahkan setengah menganga.

“APA?! MENGINAP?!!”

.

.

.

.

.

Chanyeol bersumpah. Ia lebih memilih dihadapkan dengan sekawanan serangga daripada membiarkan Luhan menginap di rumah kekasihnya, di samping kamar kekasihnya. Oh, Chanyeol tidak akan membiarkan itu.

Maka berbekal ide yang dihasilkan oleh otaknya yang lamban, Chanyeol memberanikan diri untuk berdiri berhadapan di depan kedua orang tua Eunsoo. Tak jauh dari sofa ruang tamu, Chanyeol menarik Luhan lalu merangkul pundaknya.

“Paman, Bibi, biarkan Lutan menginap di rumahku saja malam ini.”kata Chanyeol, lalu menunjukkan cengiran tiga jarinya.

“Namaku Luhan.”ralat Luhan.

“Ah!”Chanyeol menatapnya. “Maaf teman, aku lupa.”

Luhan hanya tersenyum tipis, berusaha menyingkirkan tangan berat Chanyeol dari pundaknya namun Chanyeol justru semakin erat merangkulnya.

Dan Eunsoo yang berdiri di samping Chanyeol hanya bisa menghembuskan napas berat.

“Kupikir karena kami sama-sama lelaki.”Chanyeol kembali menatap kedua orang tua Eunsoo. “Mungkin tidur bersama akan membuat kami menjadi lebih dekat.”

“Apa maksudnya tidur bersama?”tanya Eunsoo sembari memandang Chanyeol dengan tatapan curiga.

Chanyeol langsung membalas tatapan Eunsoo. “Ah! Maksudku tidur satu kamar. Haha!”

“Iya, tapi..”Luhan meringis tertahan. “Tolong lepaskan tanganmu.”

Chanyeol pura-pura terkejut. Karena pada dasarnya Ia sengaja memperlakukan Luhan seperti itu. Lalu Chanyeol cepat-cepat melepas rangkulannya dari tubuh Luhan dan menatap Luhan dengan tatapan cemas dibuat-buat.

“Maafkan aku teman.”

Luhan mengangguk sembari mengelus pundaknya. “Ya, tidak apa-apa.”

“Jadi bagaimana? Kau bersedia tidur di rumahku ‘kan? Bukannya lelaki dan perempuan yang belum menikah tidak boleh tinggal satu rumah? Dan lagi..” Chanyeol mendekatkan wajahnya pada Luhan lalu melanjutkan. “Eunsoo selalu mendengkur jika tidur. Sangat berisik.”desis Chanyeol.

“Ya!!”Eunsoo langsung menarik topi hoodie yang dikenakan Chanyeol, membuat Chanyeol langsung mundur dari hadapan Luhan. “Kapan aku melakukan itu huh? Jangan asal bicara!”

Chanyeol tersenyum renyah, lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Eunsoo dan berbisik. “Apa kau ingin dicium di sini?

Eunsoo mendelik, melepas cengkramannya pada topi hoodie Chanyeol lalu mundur beberapa langkah. Membuat Chanyeol langsung menatapnya dengan senyuman puas.

“Jadi.. Luhan tidur di rumah Chanyeol?”tanya Tuan Shin.

Nyonya Shin menangguk menanggapinya. “Terserah Luhan saja kalau begitu.”

Chanyeol kembali merangkul pundak Luhan. Membuat Luhan meringis tertahan.

“Tentu saja!”seru Chanyeol, menatap Luhan kemudian menunjukan cengiran lebar. “Kita akan menjadi teman. Iya ‘kan? Bro!”

.

.

.

.

.

“Ibu.”

“Hm?”

“Sebenarnya… aku dan Chanyeol. Kami… berpacaran.”

Bruuz!

Eunsoo harus mundur beberapa langkah untuk menghindari air yang menyembur dari mulut Ibunya.

“Ibu!”Eunsoo menatap Ibunya kesal.

Nyonya Shin menatap Eunsoo dengan tatapan tak percaya. Meletakkan gelas minumnya di meja konter dapur, lalu mengerjap pelan.

“K-kalian pacaran?”

Eunsoo memilin-milin ujung bajunya. Menunduk. “Jangan tanya lagi.”gumamnya. Lalu berbalik. “Aku ingin tidur. Sebaiknya Ibu juga cepat tidur.”

Eunsoo kemudian berjalan cepat keluar dari pantry, meninggalkan sang Ibu yang menatap jejak kepergiannya dengan tatapan kosong.

.

.

.

.

.

Chanyeol tengah duduk di sisi tempat tidur, melipat kedua tangan di depan dada seraya bola matanya memperhatikan Luhan yang tengah sibuk memasang kasur lantai di sebelah tempat tidurnya.

“Ehm!”Chanyeol berdeham. Ketika Luhan masih sibuk dengan aktivitasnya, seolah tak mengindahkan Chanyeol. Chanyeol kemudian menendang-nendang ujung kasur lantai yang di tata Luhan. “Hey.”

Masih membungkuk, Luhan mendongak. “Apa?”

“Kupikir kau harus tahu ini. Sebenarnya…”Chanyeol seolah menggantung kalimatnya. “Aku dan Eunsoo. Kami berpacaran.”

Luhan terdiam selama beberapa saat. Mengerjap pelan, perlahan bangkit hingga kini Luhan berdiri tegap. “Kalian pacaran? Kau… dan Eunsoo?”

Chanyeol mengangguk. “Eum. Jadi mulai sekarang jangan dekati Eunsoo lagi. Maksudku.. jangan memeluknya apalagi yang lebih dari itu. Kau mengerti?”Chanyeol mendengus setelah itu, lalu naik ke atas tempat tidur, merebahkan tubuhnya dengan posisi meringkuk membelakangi Luhan, dan menutupkan selimut hingga batas lehernya.

Luhan terdiam sejenak, memandangi punggung Chanyeol, kemudian tersenyum tipis.

“Ya, aku mengerti.”

***

Pagi hari, kelopak mata Chanyeol terbuka perlahan karena mendengar suara samar yang menggelitik indra pendengarnya. Semakin lama suara itu terdengar semakin jelas membuat kelopak mata Chanyeol akhirnya terbuka sempurna.

“Jadi kau ingin pulang pagi ini?”

“Hm, aku harus pulang hari ini.”

“Kenapa cepat sekali? Kau baru sampai semalam.”

“Sebenarnya tidak semalam. Aku sudah dua hari berada di sini, aku menginap di rumah keluargaku yang ada di Myungdeong. Setelah itu aku mencari alamat rumahmu.”

“Ah, begitu.”

Chanyeol mengerjap pelan. Berbalik, matanya langsung membulat saat mendapati Luhan dan Eunsoo tengah duduk berdampingan di tepi tempat tidurnya.

Setelah merasakan ranjang itu bergerak, Luhan langsung menoleh ke belakang. “Oh? Kau sudah bangun?”

Eunsoo turut menoleh. Mendengus pelan, menarik satu guling lalu memukulkannya ke tubuhnya Chanyeol, menimbulkan bunyi bugh cukup keras membuar Chanyeol mengerang tertahan.

“Argh! Eunsoo!”

“Bangun Chanyeol! Cepat bangun!”

Luhan hanya tertawa sementara Chanyeol barusaja berhasil merampas guling itu dari tangan Eunsoo. Menariknya, lalu membuangnya ke lantai.

“Kau kejam!”

Eunsoo hanya memutar bola matanya dengan malas. “Cepat bangun.”

Chanyeol kemudian bangkit dengan nada ogah-ogahan. Lalu duduk dan menatap Luhan dengan tatapan sinis. “Kenapa kau tertawa?”

Luhan cepat-cepat mengatupkan bibirnya. “Ah tidak.”sembari menggeleng. “Oya, aku meminjam kamar mandimu tadi. Aku juga sudah menyimpan kasurmu di lemari. Terima kasih sudah mengijinkanku menginap di sini. Aku akan pulang.”

Chanyeol mengangguk cepat. “Ya, sebaiknya kau cepat pulang.”

“Chanyeol.”Eunsoo menatapnya datar.

Chanyeol membalas tatapan Eunsoo. Mengangkat kedua alis sembari menggidikkan bahu. Seolah bertanya; Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?

Dan Eunsoo hanya menghembuskan napas berat setelah itu.

“Baiklah kalau begitu.”Luhan berdiri. “Aku harus segera pergi.”

Eunsoo turut berdiri. “Ayo, aku akan mengantarmu.”

Setelah itu Luhan mengambil ransel miliknya lalu memakainya. Mereka berjalan menuju pintu, pergi meninggalkan Chanyeol yang masih duduk di atas tempat tidur dengan selimut yang menutupi bagian kakinya.

“Ya! Eunsoo!”Chanyeol menyibak selimutnya. Lalu melompat dari atas tempat tidur. Dan berlari menuju pintu. “Eunsoo tunggu aku!”

.

.

Pergerakan kaki Chanyeol terhenti saat Ia tiba di depan pagar rumahnya. Di tepi jalan, masih mengenakan celana pendek di atas lutut, kaos putih polos rumahan dan jangan lupakan rambutnya yang masih berantakan.

Pria itu terdiam, memperhatikan sebuah mobil taxi yang berhenti di depan pagar rumah Eunsoo. Di sana ada kedua orang tua Eunsoo, Eunsoo, Luhan dan… seorang gadis muda yang Luhan rangkul dengan satu tangan.

Chanyeol mengerjap pelan.

“Oh, jadi Luhan pergi ke Korea hanya untuk menjemput kekasihnya?”tanya Nyonya Shin menggoda Luhan.

Luhan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Eunbi bilang dia ingin melihat keadaan Cina. Jadi aku berniat membawanya ke sana.”

“Apa kau juga berbohong saat mengatakan bahwa kau belajar bahasa Korea karena ingin bertemu denganku?”tanya Eunsoo.

Luhan nyengir. “Selain karena Eunbi, itu juga karena dirimu.”

Eunsoo hanya mencibir. Sementara Eunbi menunjukkan senyuman maklum pada Eunsoo. “Luhan memang seperti itu.”

“Ya, aku tahu.”

“Baiklah, kami harus segera pergi karena penerbangan kami sebentar lagi.”kata Luhan.

Tuan dan Nyonya Shin mengangguk. “Ya, kalau begitu hati-hati di jalan.”

“Jika kalian akan menikah jangan lupa hubungi aku, kalian mengerti?”kata Eunsoo.

Eunbi mengangguk. “Tenang saja.”

Luhan mengangguk menanggapinya. “Dan kau Eunsoo.”lalu mengulurkan satu tangannya, mengacak pelan puncak kepala Eunsoo dan melanjutkan. “Selesaikan dulu kuliahmu, setelah itu baru bercinta. Kau mengerti?”

“Ya! Aku sudah dewasa. Aku bukan anak-anak lagi kau tahu?!”Eunsoo tersenyum miring setelah itu.

Luhan terkekeh pelan, kemudian menarik tangannya kembali. “Ya. Ya. Aku tahu. Baiklah, kalau begitu kami pergi. Sampai jumpa.”

“Sampai jumpa.”Eunsoo melambai.

Sementara itu, Luhan mendekati taxi lalu menuntun Eunbi masuk terlebih dahulu ke dalam taxi. Ketika Luhan berniat menuju pintu sebelahnya, pergerakan Luhan terhenti, senyumnya mengembang saat mendapati Chanyeol masih berdiri di depan pagar rumahnya.

“Chanyeol-ah, aku pergi dulu! Sampai jumpa!”seru Luhan.

Eunsoo langsung mengikuti arah pandangan Luhan, mulutnya menganga saat menyadari kondisi Chanyeol yang seperti saat ini.

“Jangan lupa datang ke pernikahanku nanti! Kau mengerti?!”Luhan melembai setelah itu.

Chanyeol menelan samar saliva-nya. “Menikah? Dia akan menikah?”gumamnya pelan. Memperhatikan Luhan yang tersenyum semakin lebar, lalu Luhan berjalan menuju pintu taxi sebelahnya.

Mobil itu pergi.

Menyisakan kedua orang tua Eunsoo, serta Eunsoo yang memperhatikan kepergian Luhan. Dan Chanyeol yang masih terdiam di tempatnya.

Setelah taxi yang ditumpangi Luhan dan Eunbi hilang dibelokan jalan, Eunsoo langsung berbalik, menatap Chanyeol dengan mata memincing.

“Chanyeol..”

Nyonya Shin melirik ketika ujung matanya menyadari Eunsoo tengah melangkah cepat mendekati Chanyeol. Nyonya Shin kemudian menyenggol lengan suaminya lalu mereka memperhatikan Eunsoo yang barusaja tiba di hadapan Chanyeol.

“Chanyeol!!”Eunsoo berseru. “Kenapa kau seperti ini?!”sembari menarik-narik baju Chanyeol membuat pria itu memekik tertahan.

“Eunsoo-ya!”Chanyeol mencoba mencegah pergerakan tangan Eunsoo.

“Setidaknya mandi dulu Chanyeol. Ya! Kau tidak malu?! Bagaimana kau bisa keluar dengan keadaan seperti ini?!”

“Ya! Eunsoo hentikan.”Chanyeol justru tertawa geli. Setelah berhasil melepas kedua tangan Eunsoo dari tubuhnya, Chanyeol kemudian berlari menuju rumah. “Kau jelek!”ejek Chanyeol.

“Chanyeol!!!”

Eunsoo turut masuk ke dalam rumah Chanyeol, menyisakan kedua orang tuanya yang masih berdiri di depan pintu pagar rumah.

“Kau yakin mereka pacaran?”tanya Tuan Shin, lalu melirik istrinya. “Seperti itu? Apa ada orang yang pacaran seperti itu? Mereka tidak pernah akur setiap hari.”

Nyonya Shin menatapnya, lalu menggidikkan bahu. “Entahlah. Mungkin mereka menikmati seperti itu. Aku juga sudah mengatakan pada Ibu dan Ayah Chanyeol, sebaiknya biarkan saja mereka.”

Tuan Shin tersenyum tipis. “Ya, Eunsoo benar. Dia bukan anak kecil lagi. Dan Chanyeol pun bukan anak kecil lagi. Biarkan saja mereka.”

Nyonya Shin mengangguk. Lalu berbalik dan berjalan mendekati pintu pagar. “Ayo masuk.”

Tuan Shin turut berbalik. Namun berhenti ketika tiba-tiba Nyonya Shin menghentikan langkahnya. “Ada apa?”

“Tunggu.”bola mata Nyonya Shin terbelalak lebar. Mengerjap pelan, lalu menatap suaminya dengan tatapan horor. “Jika mereka sudah pacaran dan… setiap pagi Chanyeol membangunkan Eunsoo di kamar.. YA!!”Ia memekik tertahan. “Apa yang mereka lakukan?!!”

Tuan Shin langsung menyentuh pundak istrinya. “Tenang. Chanyeol anak baik-baik jadi kau tidak perlu khawatir.”

“Ta-tapi…”

“Tidak perlu berlebihan.”jawab Tuan Shin dengan nada tenang, lalu pria itu mendekatkan mulut pada telinga istrinya dan berbisik. “Pria seperti Chanyeol tidak mungkin tahu hal-hal yang seperti itu.”

Nyonya Shin memundurkan kepala. “Kau yakin?”

Tuan Shin mengangguk. “Tentu saja. Meskipun umur mereka sudah dewasa tapi sebenarnya mereka masih polos.”

Nyonya Shin akhirnya menghembuskan napas lega, menundukkan pandangan dan bergumam. “Ya, umur mereka sudah dewasa dan seharusnya mereka berhenti bersikap seperti anak-anak. Ah! Pikiran mereka benar-benar masih polos. Ck!”

“Yasudah, ayo masuk.”

“Eum, ayo.”

Seperti kedua orang tua Eunsoo, kedua orang tua Chanyeol pun memiliki pikiran yang sama. Maka Tuan dan Nyonya Park hanya saling memandang saat Chanyeol berlari di belakang mereka, di belakang sofa yang ada di ruang televisi, disusul Eunsoo yang kemudian berlari di belakang Chanyeol.

Dan tidak lama kemudian hanya debuman pintu kamar Chanyeol yang terdengar samar.

“Apa Ibu Eunsoo yakin mereka pacaran? Seperti itu, bermain di dalam kamar?”gumam Nyonya Park.

Tuan Park masih fokus pada tayangan berita di hadapannya. “Biarkan saja, mereka masih anak-anak.”

Nyonya Park mendesah pelan, lalu kembali memperhatikan tayangan di depannya. “Ya, mereka selalu seperti itu dari dulu. Kapan mereka akan tumbuh sesuai umur? Ck!”

.

.

.

.

.

“Chanyeol!!”

“Tidak kena!”

“Kemari kau!”

“Tangkap aku kalau bisa. Haha! Kau jelek!”

“Kau jelek Chanyeol! Kau sangat jelek! Cepat mandi!!”

Pada akhirnya Eunsoo melemparkan bantal ke lantai, lalu naik ke atas tempat tidur, berdiri berhadapan dan mereka saling membalas pukulan di sana.

“AAAA!!”Eunsoo memekik saat Chanyeol menarik rambutnya. “Chanyeol!”

“AAAA!!”dan kali ini Chanyeol yang memekik saat Eunsoo berhasil menarik telinganya. “Eunsoo lepaskan!”

Mereka terus bergelung heboh. Sampai akhirnya—entah bagaimana—Chanyeol berhasil menjatuhkan tubuh Eunsoo dipermukaan kasur. Menarik selimut, lalu Chanyeol menggulung tubuh Eunsoo dengan selimut hingga kini hanya bagian kepala Eunsoo yang terlihat.

“Chanyeol!!!”

Chanyeol tersenyum puas setelah berhasil menindih tubuh Eunsoo, benar-benar mengunci pergerakan tubuh gadis itu.

“Ya! Lepaskan aku Chanyeol!”

Chanyeol menggeleng. “Tidak.”lalu menopang dagu dengan kedua tangannya.

“Ya!”Eunsoo mendengus. “Kenapa tadi kau keluar dengan penampilan seperti ini?”desis Eunsoo sembari memperhatikan tubuh Chanyeol. “Luhan dan pacarnya pasti menertawakanmu. Kau sangat jelek kau tahu?”

“Aku tampan. Aku yakin itu.”sahut Chanyeol, lalu menahan kedua tangannya di sisi kepala Eunsoo dan mendekatkan wajah mereka. “Kenapa? Kau malu?”

“Tentu saja!”sembur Eunsoo. “Wanita mana yang tidak malu jika kekasihnya keluar rumah hanya dengan celana pendek berwarna kuning dengan gambar kartun One Piece… astaga!”Eunsoo tak habis pikir. “Kau benar-benar keterlaluan.”

“Oh? Pacarku benar-benar malu rupanya.”Chanyeol menunjukkan ekspressi penuh sesal yang dibuat-buat. “Maaf. Kalau begitu aku akan menciummu.”

Lalu tanpa menunggu persetujuan dari Eunsoo, pria itu mempertemukan bibir mereka begitu saja. Mengecupnya dengan gemas membuat Eunsoo mengerang tertahan sembari menahan kedua tangannya yang tak bisa berkutik dibalik selimut.

Chanyeol bahkan mengatakan Ah! Setelah memisahkan bibir mereka. “Apa sekarang kau akan memaafkanku? Aku tidak akan keluar seperti itu lagi setelah ini.”

“Ck!”Eunsoo mendecak sebal. “Y-ya! Keluarkan aku dari—“

“Aw! Pipimu memerah!”Chanyeol menggigit bibir bawahnya dengan gemas. “Oya, morning kiss!”

Eunsoo melotot. “Ya!”

“Jangan menolak! Tadi itu ciuman permintaan maaf kau tahu?”

Mulut Eunsoo setengah menganga. Yang kemudian merapat setelah Chanyeol membungkam dengan bibirnya. Menciumnya lamat-lamat.

Setelah beberapa saat kemudian, Chanyeol memisahkan bibir mereka perlahan. Menujukkan senyuman malu-malu sementara pandangan mereka kini bertemu.

Eunsoo tidak lagi bicara setelah itu. Menatap Chanyeol tepat dimatanya. Membiarkan selimut menggulung tubuhnya dan membiarkan Chanyeol terus berada di atas tubuhnya. Ditengah-tengah bias sinar mentari pagi yang masuk melalui celah jendela, mereka terus saling memandang dalam diam, merasakan napas hangat mereka bercampur menerpa wajah, dan merasakan detak jantung mereka saling beradu.

“Kau cemburu pada Luhan?”gumam Eunsoo tiba-tiba.

Chanyeol langsung cemberut. “Tentu saja. Dia memelukmu di depanku. Aku ingin merontokkan rambutnya saat itu. Kau tahu? Semalam aku sengaja menjatuhkan bantalku di atas kepalanya, berulang kali. Hihi!”

“Astaga Chanyeol.”

“Anggap saja aku sedang melindungimu.”

“Melindungi apa maksudmu? Luhan sudah memiliki pacar. Apa kau tidak malu padanya? Apa kau tidak ingin meminta maaf padanya?”

Chanyeol menggeleng. “Untuk apa malu? Meminta maaf? Luhan sudah pergi.”sembari menunjukkan wajah tanpa dosa membuat Eunsoo langsung menatapnya dengan wajah tanpa ekspressi. “Kau juga cemburu pada Yejin.”Chanyeol tersenyum nakal setelah itu.

“Ya! Jangan sebut namanya di depanku! Kau mengerti!”amuk Eunsoo.

Chanyeol mengulum senyum. “Hmm.. kau bahkan sampai menangis.”

“Memangnya kau akan diam jika seandaninya Luhan menciumku—“

“Eunsoo!”sela Chanyeol, menunjukkan ekspressi kesal dan melanjutkan. “Jangan membuatku membayangkannya. Aku benci itu.”

“Kalau begitu berhenti mengataiku seperti itu. Aku tidak cemburu.”

“Aku juga tidak cemburu!”

“Jangan meniruku!”

“Jangan meniruku!”

“Chanyeol!”

“Eunsoo!”

“Ya!”Eunsoo mendengus kesal, berusaha menggerakkan tubuhnya namun hal itu hanya sia-sia. “Buka selimutnya Chanyeol, aku tidak bisa bergerak!”ucapnya seolah ingin menangis.

Bukannya menurut, Chanyeol justru semakin mendesak. Tiba-tiba menunjukkan senyuman misterius sembari mendekatkan wajahnya pada Eunsoo perlahan-lahan.

“Cha.. Chanyeol…”

“………….”

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

“Eunsoo? Kenapa lama sekali? Kau tidak sarapan?”

Di ruang televisi, Eunsoo tidak membalas tatapan Ibunya. Eunsoo menundukkan kepala, menangkap wajah dengan kedua tangan untuk menyembunyikan rona merah yang menghiasi wajahnya. Kemudian berlalu begitu saja menuju kamar.

Nyonya Shin menggeleng pelan. Setelah itu kembali menonton televisi bersama sang suami yang duduk di sampingnya.

“Mungkin Eunsoo sudah sarapan di rumah Chanyeol.”celoteh Tuan Shin.

“Ya, sepertinya.”

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sepertinya.

Mereka tidak tahu sarapan apa yang Chanyeol berikan untuk putri semata wayang mereka.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

*fin*

Beneran yang ini absurd. Beneran! ._.v

235 responses to “STUPID LOVERS (JEALOUS TO THE MAX) by noonapark

  1. haha malu banget pasti chanyeol udah cemburu buta gitu sama luhan wkwk orang tua mereka kok percaya banget kalo mereka ga bakal ngelakuin apa2 sih ckck kocak banget wkwk

  2. Ya ampun makin suka ama ini couple deh
    Seneng banget bacanya ^^
    Mian chingu aku malah keasyikan baca mulu lupa komen *bow

  3. Yeaaayyyy~ satu sama niiih…
    Yeool cemburunya lucuuuu…
    tp cemburumu keliru tuh Yeoool…
    jgn lupa minta maaf ya nnti sm Luhan…!
    okeh aq lnjut baca ya… 😉

  4. sarapan apaan tuh ? ckckckkck , pacarannya kocak banget , seru tapi kalo punya pacar kaya gtu

  5. Kemarin L jadi KLMN .sekarang lutan-______- sumvah absurd banget si chanyeol-____-. Ehm btw itu ‘sarapan’ maksudnya apa yaaa 😂😂😂

  6. Hihi luhan udah mau nikah ternyata, harusnya kau malu yeol dan astaga kau keluar dengan keadaan memalukan seperti itu omaigaaatt 😀

  7. waaa…. gantian sekarang chanyeol yg dibuat cemburu sama eunsoo…
    btw itu para orangtua percaya banget sama ‘kepolosan’ chanyeol haha

  8. Entah kenapa sejak awal baca sampe ke part ini, ngbayangin chanyeol gitu.. Aaaa imut banget pasti duh duhhhhh~

  9. jadi… ternyataaa luhan udah punya pacar ??? ckckck pasti malu bgt tuh chanyeol XD ahhh baguss bangett thor, ini mah pasangan nya yg absurd ceritanya mah nggak pernah dehh seriuss.. ahhh kapan mereka nikah nihhh wkwkwk
    XD LANJUTT YA KAK ^^

  10. chanyeol cemburu sama orang yg salah kayaknya. luhannya udah punya pacar haha, malu banget itu pasti si chanyeol haha, ngakak liatnya. belom lagi kissingnya mereka. ehmm, chanyeol pervert banget iya. haha

  11. Chanyeol pasti malundeh aslinya karena udah salah faham sama Luhan.. Dengan pedenya bilang ‘jangan dekati Eunsoo’ hahaha…. Tapi dasar Chanyeol somvlak ya.. Tetep aj pede.

    Tiap hari ada ‘Morning Kiss’ nya…ehemmmm suka deh.

    Dan kedua orang tuanya gak percaya mereka pacaran dengen tingkah seperti itu… Gak percaya Chanyeol bisa kissing sama Eunsoo hahaha

  12. Sesuai ama jdulnya “Stupid Lovers” haha.. org tua mreka aja ampe geleng2 liat cra pacaran mreka.

    Ih pnsran Eunsok itu knp pas plg dr rmh chanyeol?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s