Gone

748686159

by Tamiko

Poster credit to Shinji

Ficlet || Oh Sehun || Hurt || G

Because the sky is blue, it makes me cry – The Beatles

.

.

Tik..

Tik..

Tik..

Suara jarum jam setia menemani mata Sehun yang menolak istirahat. Seperti pengingat tetap kalau waktunya berpisah dengan si pemilik senyum manis terus bertambah seiring pergerakan yang didengar oleh Sehun. Dia sudah tidak tahu lagi berapa kali detak jarum itu tertangkap oleh indra, sepertinya lebih dari seribu kali. Ah Sehun tidak yakin. Dia sudah berhenti menghitung sejak sampai di angka seribu dua ratus tiga puluh tujuh tadi. Karena dia tidak bisa konsentrasi untuk menghitung lebih jauh. Angka itu mengingatkannya akan kebersamaan yang singkat bersama pemilik bulu mata indah. Hanya sejauh seribu dua ratus tiga puluh tujuh hari.

Ya. Sehun menghitungnya. Mereka sudah berkencan selama dua ratus tiga puluh tujuh hari tepat saat bulu mata indah itu menutup sempurna dengan lima jari singgah di kiri kanan pelipis bergerak mengurutnya seraya mengatupkan bibir atas dan bawah. Entah apa yang menimbulkan keresahan gadis itu sehingga dia membuat gerakan itu. Yang Sehun tahu hanya netra kecoklatan itu yang menatapnya sendu dan bibir yang wajarnya membentuk senyum yang menggetarkan hati Sehun itu terbuka mengucapkan kata yang ingin dibuang Sehun sejauh mungkin dari kotak ingatannya.

“Kita berpisah saja Sehun.” Kata-kata itu keluar dari bibir yang bergetar. “Ini demi kebaikanmu.”

Bullshit.. Apa orang-orang masih mengutarakan alasan seperti itu saat ingin mengakhiri sebuah hubungan? Sehun tidak bisa melihat sisi baik dari perpisahan mereka. Sudah hampir satu minggu sejak gadis itu memutuskan jalinan kasih mereka secara sepihak dan Sehun sampai detik ini tidak merasa baik-baik saja. Seperti ada bongkahan es menimpa dadanya yang menghalanginya dari bernafas normal. Bongkahan es seukuran yang ditabrak oleh Titanic yang hebat itu. Paru-parunya begitu sesak. Apa yang baik dari itu?

Oh Sehun memaksa kelopak matanya menutup. Meski tidak ada tanda-tanda dari matanya ingin beristirahat. Sejujurnya mereka sudah cukup banyak beristirahat empat puluh delapan jam terakhir. Tapi dia—Sehun—masih tidak bisa merasa lega. Dia masih ingin menidurkan biji netranya. Mengantarnya ke sebuah mimpi tentang senyum manis yang menjadi candunya. Kelopaknya di sisi lain menolak menutup. Seperti digerakkan tangan tak terlihat untuk kembali membuka tiap kali Sehun berhasil merapatkannya. Sehun tidak bisa terpejam.

Teringat pemilik surai indah yang mematahkan hatinya tidak main-main dengan kata-katanya. Gadis itu benar-benar mengakhiri hubungan mereka. Kali ini unuk selamanya. Sehun yakin. Karna tidak satu pun dari telepon Sehun yang diangkatnya. Dan ratusan pesan teks yang dikirim Sehun sampai tiga ratus tujuh puluh tiga detik yang lalu tidak satu pun yang mendapat balasan. Sehun sepertinya sudah dicampakkan.

Chanyeol hyung yang tadi pagi mengunjunginya sudah mengatakan itu padanya. Tapi harga diri Sehun menolak pernyataan lelaki tinggi itu.

“Berhenti menghubunginya Sehun. Itu hanya akan mengganggunya.” Chanyeol bahkan sama sekali tidak menyembunyikan rasa iba yang begitu jelas dari suara beratnya.

Sehun merasa tersinggung. Tapi tetap membalas kata-kata Chanyeol tanpa menanggalkan kesopanannya. “Tidak hyung. Kau sendiri tau bagaimana keras kepalanya dia.” Sehun tidak percaya dia terdengar seperti sedang merengek pada pria yang lebih tua itu. “Dia selalu mengabaikanku setiap kali marah. Ini hanya rajukan sesaat seperti biasa.”

“Kalau dia marah seperti biasa, memangnya apa yang salah yang akhir-akhir ini kau lakukan Hun?” Chanyeol menyisirkan jarinya pada rambut coklatnya. “Kau bahkan tidak melakukan apapun yang mengesalkannya dua bulan ini. Jadi apa masalahnya?”

Sehun tidak menjawab. Diam-diam menyetujui perkataan Chanyeol. Walaupun Sehun sudah terbiasa diabaikan gadisnya tiap kali dia melakukan kesalahan, tapi kali ini Sehun tidak melakukan apa-apa. Dan Sehun diputuskan olehnya. Ini bukan pertengkaran biasa dan dia sendiri merasa ini seperti perpisahan yang terakhir dan untuk seterusnya. Sehun bahkan sempat mensugesti hatinya untuk tetap baik-baik saja. Tapi bayangan tentang lesung pipi yang muncul bersama senyum indah selalu memporakporandakan hati Sehun berulang kali sejak gadis itu berhenti menghubunginya.

“Mungkin dia hanya lelah,” Sehun masih memaksa bibirnya untuk berbisik pelan, meski sakit yang menghantam dada kirinya semakin nyata.

“Ya dia lelah dan ingin bebas.”

“Itu tidak benar. Dia pasti kembali lagi.”

Chanyeol memicingkan mata kemudian mendesis “Itu dia masalahmu Sehun.” Kedua tangannya digunakan untuk menangkup kepala Sehun. Chanyeol mempertemukan iris gelap mereka. “Kau selalu meyakinkan dirimu bahwa dia akan kembali. Kau selalu mengemis untuk dia kembali padamu. Itu salah. Sangat salah.”

“Lalu aku harus bagaimana? Aku sangat mencintainya.”

Chanyeol menghela nafas kasar saat Sehun memaksa melepaskan kepalanya dari kedua tangan Chanyeol lalu memalingkan wajahnya ke arah marmer di bawah kakinya.

“Lupakan dia.”

Begitu mudah dua kata itu keluar dari mulut Chanyeol. Seakan-akan itu adalah tugas paling gampang yang pernah dibebankannya kepada Sehun. Kenyataannya itu sangat berat. Dia tidak dapat melakukannya. Bahkan itu seperti tugas yang mustahil untuk diselesaikannya.

Jejak pemilik senyum manis hadir di setiap sudut ruangan Sehun. Sikat giginya yang masih bertengger di samping milik Sehun.Tidak tersentuh sejak kehadiran terakhir gadis itu di apartemen Sehun. Sayuran fermentasi yang dibuat oleh ibu gadis itu dan disimpan di lemari pendingin Sehun akhir minggu lalu. Kemeja Sehun yang masih tersisa wanginya. Dan setiap Sehun menatap pada langit-langit, Sehun melihat gadis itu memamerkan deretan giginya yang rapi seperti malam natal setahun lalu. Pigura gadis itu masih menempel sempurna di langit-langit kamar.

Lalu bagaimana Sehun menghapus bayang gadis itu dari benaknya? Sedangkan satu senyum tetap melekat keras kepala di lensa matanya. Sekeras kepala pemilik senyum itu sendiri.

Meski sepertinya gadis itu memang tidak akan kembali. Tidak malam ini atau malam berikutnya. Jadi biar saja Sehun memaksa matanya terpejam diiringi lullaby angin bersama ketukan teratur dari bias hujan di jendelanya. Mungkin dalam mimpinya, gadis itu akan kembali bersama tingkah manjanya dalam pelukan Sehun.

fin

A/N: Don’t ask me what this is xD

20 responses to “Gone

  1. ini mengingatkan aku ttg lagu dri lovelyz yg goodnight like yesterday hihi:3 kereen thorr~ tapi masih penasaran sma alasan cewe itu ninggalin fanboy yg beruntung dri Miranda Kerr*? . dituggu seq nya yaa thoorr~;;)

  2. Ok aku pikir bakalan sad ending yg bkn nangis tapi.. Sumpah zong bngt kl tau ini cuma putus cinta doang.. Sumpah bkn gregetan bngt!! Sequel blh lah.. Mah gantung bngt,. Kali aja memang ceweknya ‘sedang lelah’ makanya putusin sehun..

    Keep writing..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s