My Teacher or My Friend [Chapter 4]

my-teacher-or-my-friend1-junsihye

Main Cast : Jeon Jungkook, Oh Hayoung, Im YoonA, Kim Taehyung, Kim Jong In

Genre : Romance, Friendship, Family

Chaptered | PG |

Poster by rosaliaaocha@ochadreamstories

“Tidak apa-apa, jadi kita akan kembali seperti dulu lagi ‘kan?” tanya Hayoung sambil menatap bola mata Jungkook.

“Tentu, maaf aku sudah membuatmu tidak nyaman,” ucap Jungkook tersenyum.

“Ehem, apa kalian tidak ingin masuk kelas? Jeon Jungkook sekali lagi aku minta maaf, pelajaran sudah dimulai, aku duluan,” ucap Hyun Soo sembari berjalan menuruni tangga.

“Ah benar! Pelajaran sudah dimulai!” Jungkook tersadar. Lelaki itu mengambil tas ransel miliknya yang tergeletak di kursi.

“Kau mau kemana? Biasanya kau mengajakku membolos pelajaran,” ucap Hayoung heran melihat perubahan sikap Jungkook.

Jungkook mengacak rambut Hayoung sambil tersenyum. Tatapannya begitu tenang sekarang, tidak seperti kemarin-kemarin saat Jungkook menatap Hayoung dengan cara yang menakutkan. “Kita harus belajar Hayoung, untuk mempersiapkan masa depan,” ucap Jungkook. Dia menggandeng tangan Hayoung. Mereka berjalan bersama menuruni tangga.

Sementara Hayoung menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang dikatakan Jungkook barusan. “Sejak kapan kau memikirkan masa depan?” tanya Hayoung polos.

“Oh.., oh…, oh…, aku tahu! Semua ini pasti karena Yoona eonni, aku benar kan?” tambah Hayoung.

“Tidak sepenuhnya karena dia, sudahlah. Aku akan mengantarkanmu ke kelas,” ucap Jungkook.

“Sudah aku duga, Yoona eonni memang hebat. Sekarang pasti kalian sudah dekat ya?” tanya Hayoung dengan nada bicara yang berbeda dari sebelumnya.

Hayoung senang dengan perubahan Jungkook saat ini. Tapi dia juga merasa sedih, karena bukan dia yang membuat Jungkook berubah. Bukannya mengingatkan, Hayoung malah selalu ikut serta jika Jungkook membolos di jam pelajaran. Namun, hati Hayoung tetap menolak perbuatan itu.

“Sepertinya kau cemburu,” ucap Jungkook.

“Tidak kok, kenapa aku harus cemburu?”

“Yah, mungkin saja karena nada bicaramu seperti itu. Nah, sudah sampai.”

“Aku tidak berani masuk,” ucap Hayoung sembari menempelkan tubuhnya pada Jungkook.

Jungkook mengintip ke dalam kelas lewat jendela. Ternyata sekarang adalah jam pelajaran guru Park, guru fisika yang sedikit—lebih tepatnya sangat—killer. Jika Hayoung masuk sekarang pasti gadis itu kena marah.

“Aku belum mengerjakan tugas Jungkook.”

Ya! Kenapa kau belum mengerjakan tugas? Tamatlah riwayatmu hari ini Hayoung-ah,” ucap Jungkook membuat Hayoung semakin ketakutan.

“Semua ini karenamu! Belakangan ini aku sering memikirkan sikapmu yang menyebalkan itu, sampai lupa untuk mengerjakan tugas. Sekarang kau yang harus bertanggung jawab!”

Hayoung menarik Jungkook menjauh dari kelasnya. Meskipun Hayoung tidak mau membolos, tapi hanya ini cara agar tidak terkena amukkan guru Park.

Ya! Ya! Kau mau bolos?” tanya Jungkook dengan suara yang cukup lantang.

“Jangan berteriak bodoh!” ucap Hayoung dengan penekanan namun suaranya kecil. Jungkook segera menutup mulutnya itu.

*****

Keduanya kini berada di taman belakang sekolah. Keadaannya sangat sepi dan tenang, tentu saja karena murid lain sedang menerima pelajaran, tidak seperti kedua sejoli itu—Hayoung dan Jungkook—yang membolos. Hayoung mengajak Jungkook duduk di bawah pohon rindang. Untuk beberapa menit mereka tidak saling bicara. Hayoung tidak tahu apa yang ingin dia bicarakan. Ini aneh karena sebelumnya dia tidak pernah begini, biasanya Hayoung akan berbicara tentang apapun ketika bersama Jungkook. Sementara Jungkook, dia ragu untuk berbicara dengan Hayoung.

Keadaan itu membuat Hayoung mengantuk. Dia menguap dan matanya mulai berair. Hayoung terkena insomnia tadi malam.

“Kookie-ah! Berikan tasmu!” pinta Hayoung memecah suasana hening ini. Jungkook memberikan tasnya. “Untuk apa?” tanya lelaki itu.

“Aku mau tidur,” jawab Hayoung sambil meletakkan tas Jungkook di rumput lalu mendaratkan kepalanya pada benda itu.

“Lalu bagaimana denganku? Kau yang membawaku kesini. Kalau begitu aku juga mau tidur.”

Jungkook merangkak mencoba meletakkan kepalannya di atas tas, namun sebelum hal itu terjadi Hayoung memindahkan tasnya. “Aku tidak mau tidur dengan bantal yang sama denganmu! Ya, apa kau gila?” cerocos Hayoung.

“Tapi itu bukan bantal, itu adalah tas milikku,” ucap Jungkook mencoba mengelak. Hayoung menatap Jungkook dengan tatapan mematikan, membuat Jungkook meringis. “Baiklah, baiklah! Anggap saja itu bantal. Pakai saja sendiri, lagi pula aku tidak mengantuk,” ucap Jungkook mengalah.

“Baguslah!” Hayoung tersenyum lalu berbaring di atas rumput seperti yang tadi ia lakukan. “Bangunkan aku satu jam lagi, ya?”

“Huh.” Jungkook hanya mendengus. Dan Hayoung terkikik.

Suasana hening itu mulai menyapa lagi. Jungkook merasa sangat bosan. Dia beberapa kali melihat arlojinya dalam waktu satu menit ini.

“Hayoung-ah kau sudah tidur?” tanya Jungkook pelan.

“Kuharap aku sudah tidur, tapi aku merasa sedikit tidak nyaman,” ucap Hayoung jujur.

“Apa aku boleh meminta sesuatu?”

“Ya, tentu, kau mau apa? Espresso? Tas baru? Sepatu? Atau apa?”

Pabo-ya! Bukan itu!” teriak Jungkook kesal.

“Lalu apa?” tanya Hayoung bingung.

“Aku ingin jika kau memiliki masalah atau apapun, kau hanya bercerita padaku jangan kepada orang lain. Itu permintaanku,” ucap Jungkook.

“Kenapa hanya kepadamu? Aku tidak boleh bercerita kepada keluargaku, Taehyung, dan juga Jimin? Lalu bagaimana jika aku memiliki masalah denganmu seperti kemarin, apa tetap tidak boleh bercerita pada orang lain? Kau ini ada-ada saja,” balas Hayoung sambil menggerakan dirinya untuk duduk berhadapan dengan Jungkook.

“Yah, aku melupakan itu, kau boleh bercerita pada keluargamu juga. Kita tidak akan memiliki masalah mulai dari sekarang, percaya padaku.”

“Bagaimana dengan Taehyung dan Jimin? Mereka ‘kan sahabat kita juga.”

“Tidak boleh!”

Aish, kenapa kau tiba-tiba seperti ini?” Hayoung memutar bola matanya.

“Karena aku cemburu!” balas Jungkook cepat.

Hayoung membelakkan matanya. Apa Jungkook tidak salah bicara? Jantung Hayoung berdetak lebih cepat. Rasanya sangat menyenangkan. Jadi selama ini Jungkook juga menyukainya? Oh Hayoung sudah tidak dapat berkata-kata lagi untuk menggambarkan kebahagiaannya. Walaupun Jungkook tidak mengatakan bahwa dia mencintai Hayoung, tapi dari kalimat yang baru saja terucap dari bibirnya Hayoung dapat menyimpulkan kalau Jungkook memang mencintainya.

“Jungkook-ah apa kau menyukaiku?” tanya Hayoung sambil menatap mata Jungkook, hingga mata mereka saling bertemu.

“Apa itu salah?” tanya Jungkook dengan wajah polos.

“Tidak, tidak, aku hanya tidak menyangka. Sejak kapan?”

“Sudah lama,” jawab Jungkook singkat.

“Kenapa kau tidak mengatakannya dari dulu? Aku juga menyukaimu sudah lama, tapi sekarang aku memiliki orang lain yang aku sukai Jungkook-ah, maaf,” ucap Hayoung dengan nada bicara serius.

“Apa orang itu Taehyung?” tanya Jungkook spontan.

“Kau tahu darimana Jungkook-ah? Apa kau bisa membaca pikiran atau semacamnya?”

“Kemarin aku melihatmu memeluk Taehyung, dan berkata padanya ‘Hanya kau yang selalu bisa menenangkanku Taehyung, hanya kau’ itu membuatku…, sudahlah,” ucap Jungkook dengan wajah kecewa dan pasrah. Berlainan dengan Hayoung yang sedang menahan tawanya.

“Kau cemburu pada Taehyung? Hahaha lalu apa kau mendengar percakapan aku dan Taehyung selanjutnya?” tanya Hayoung penasaran sambil tertawa.

Ya! Kenapa kau tertawa? Aku sedang patah hati. Tidak, aku tidak kuat melihat kalian berdua, jadi aku pergi. Meskipun kemarin aku masih sangat marah padamu, tapi rasa cinta itu tidak hilang Hayoung-ah, itu sangat aneh.”

Sekali lagi Hayoung malah tertawa karena perkataan Jungkook. Lelaki itu benar-benar berpikir kalau Hayoung menyukai Taehyung. “Kau seharusnya mendengarkan percakapan kami sampai selesai Jungkook­-ah,” ucap Hayoung, tawanya berganti menjadi senyum yang sangat manis.

“Tidak mau, pasti hanya akan membuat hatiku sakit,” ucap Jungkook sambil memalingkan wajahnya.

“Kau yakin tidak mau mengetahuinya?”

Jungkook menggelengkan kepalanya dengan cepat.

“Hahaha…, kau benar-benar percaya jika aku menyukai orang lain ya? Kemarin aku mengaku pada Taehyung, kalau aku mencintaimu dan sampai detik ini, besok, lusa, dan seterusnya akan tetap sama.” Seketika Jungkook menatap Hayoung. Dan gadis itu tersenyum padanya.

“Kau menipuku tadi? Jahat sekali, kau mematahkan hatiku lalu menyatukannya lagi sekarang,” ucap Jungkook sambil cemberut.

Hayoung tertawa, “maaf aku hanya ingin tahu seperti apa ekspresimu saat patah hati, ternyata biasa saja, tidak ada yang spesial,” ucap Hayoung.

Aish! Menyebalkan!”

“Jadi, apa sekarang kita…,” ucap Hayoung tertahan.

“Sebenarnya aku tidak mau berpacaran denganmu, aku takut orang-orang itu akan menyakitimu. Tapi, aku tidak mau melihat orang yang aku cintai berdekatan dengan lelaki lain,” ucap Jungkook jujur.

“Kalau begitu kau harus melindungiku dari orang-orang itu, apa kau bisa?” tanya Hayoung dengan mata berbinar.

Jungkook bergerak membuat tubuhnya berdiri, lalu menatap Hayoung yang masih terduduk di rumput. “Memangnya apa yang tidak bisa aku lakukan?” ucap Jungkook menyombongkan dirinya, membuat Hayoung ingin muntah di wajahnya sekarang juga.

Kajja! Lima menit lagi jam pelajaran akan berganti.” Jungkook mengulurkan tangannya pada Hayoung, membantu gadis itu untuk berdiri.

TBC

10 responses to “My Teacher or My Friend [Chapter 4]

  1. wah..wah..wah..
    jadi pengen di posisi nya hayoung!!!
    kyaa……kagak bisa ngebayangin,,
    jadi sahabat nya kookie,trus mreka…
    aduh….
    senyam senyum sendiri pas baca scene yg kookie n hayoung di taman blakang skolah*bener ga sih?? -_-* …
    kyaa…kyaa../gaje/
    di tunggu kelanjutannya ya thor! ~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s