Don’t Stare at Me With That Eyes [Chap.6] – By Kimraeha

dontstare-bbon-posterchannel

Title : Don’t Stare at Me With That Eyes [part.6]

Author : Kimraeha

Cast :

  • Oh Sehun (EXO)
  • Lee Yoo Ri a.k.a Lee Hana(OC)

Other cast :

  • Other cast. You can find it~

Genre : Angst, Horror, Mystery, Romance, Sad/Hurt, School-life.

Rating : 17

Poster : Bbon @ Poster Channel

Disclaimer : Gejala yang ada di FF ini mungkin tidak sama dengan asli nya. FF ini murni dari pikiran author. DONT BE A PLAGIATOR.

Last Chapter

Chap.1

Chap.2

Chap.3

Chap.4

Chap.5

*

“Without glasses im changed”

*

Prev chap. 5

“Cukup junmyeon! Appa tak mau mendengarnya lagi! Pergi!” Urat-urat di kepalanya keluar saat appanya menyuruhnya pergi. Ia mengepalkan tangannya menahan amarah yang sewaktu-waktu bisa keluar dan dapat menyakiti appa nya sendiri.

“Aku-membenci-appa.” Katanya tegas dan segera berlalu ke luar ruangan besar itu. Sementara pria paruh baya itu menatap punggung anaknya remeh.

~♡♡♡~

Oh Sehun

Bodoh-bodoh-bodoh. Aku merutuki diriku sendiri sejak hal itu terjadi. Mengapa aku bisa sebodoh itu, aku benar-benar menyesal sekarang. Harusnya aku tahu itu bukan waktu yang tepat, mengaku bahwa aku merindukannya saja bukan waktu yang tepat, apalagi menciumnya. Aku hanya tak tahan mendengar omelennya, yang aku inginkan ia mengenalku dengan baik ketika bertemu, tapi ia malah berpura-pura tak mengenalku. Aku telah merusaknya, image ku. Aku tak tahu apa yang ia pikirkan sekarang, yang jelas ia terlihat tak menyukai ku sama sekali. Tuhan, tolong aku.

“Minggir!” Suara itu terdengar tak asing di telingaku. Diluar kelasku juga nampak kerumunan siswa yang penasaran dengan apa yang terjadi di dalam kelas ku. Diriku harus berkali-kali mengatakan permisi agar bisa masuk ke dalam kelasku sendiri.

“Ku bilang minggir!” Ku lihat dengan jelas Yoo ri yang sedang menepis tangan Jongin. Wajahnya masih merah dan terlihat sedikit bekas air mata di kedua pipinya, membuat rasa bersalah itu semakin banyak.

Kaki ku terasa kaku saat tangan Jongin berhasil meraih bahu Yoo ri dan menghadapkannya kepada dirinya. Yoo ri masih menolak dan terlihat sangat lelah sehingga tak bisa menepis tangan Jongin yang bertengger erat di bahunya. Darah ku berdesir saat Jongin mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Yoo ri, aku tak bisa melihat ini. Ku tundukan kepala ku sambil mengepal tangan kanan ku.

“Lepaskan dia!” Segera ku dongkakan kepala ku begitu mendengar seseorang yang tak asing juga di telingaku. Hye jin. Ia mendorong Jongin menjauhi Yoo ri yang menundukan wajahnya sambil menutup mata menahan tangisan.

“Wae? Ini permainannya kan?” Jongin membersihkan jasnya yang tersentuh Hye jin seperti terkena debu. Ia menatap Hye jin dengan tatapan remeh. Hye jin berdiri di depan Yoo ri sambil merentangkan tangannya lebar-lebar. Suasana kelas sunyi sementara.

Lee Yoo Ri

“Lepaskan dia!” Kurasakan tangan laki-laki itu yang terlepas dari bahu ku di gantikan dengan aroma parfum seorang perempuan. Siapapun itu aku sangat bersyukur dan akan menjadikannya teman. Perlahan ku benarkan posisi kepalaku agar dapat melihat sosok di depan ku.

Hye jin. Ia merentangkan tangan dengan lebar seperti melindungiku. Entah mengapa aku merasa ini seperti pernah terjadi sebelumnya, tapi entah kapan itu. Jongin tersenyum remeh pada Hye jin sambil membersihkan jasnya.

“Wae? Ini permainannya kan?” Aku sangat membenci laki-laki yang tidak menghargai perempuan, dan saat ini aku marah sekali, terlebih lagi karena kejadian yang baru saja terjadi dengan namja di belakang ku itu yang sedang berdiri kaku.

“Kau sudah banyak mencium orang kemarin.” Aku sedikit terkejut mendengar pengakuan Hye jin yang terkesan blak-blak-an, pandangan ku berpindah ke arah Jongin yang terlihat geram dan tangan yang terkepal.

“Diam.” Kata jongin menahan amarahnya. Aku berani bertaruh sebentar lagi Hye jin akan di pukul oleh laki-laki di depannya jika ia tak bisa menutup mulutnya.

“Apa kau tidak puas hanya dengan yang kemarin?” Lanjut Hye jin semakin berani. Benar saja, saat ku telusuri pikirannya ia memang berniat memukul Hye jin, dasar laki-laki brengsek. Ia mendekat ke arah Hye jin dan aku. Hye jin sudah bersiap menerima apapun dari Jongin, aku sendiri tak ingin melihatnya, walaupun dalam hatiku aku ingin sekali menolongnya.

“Sudah ku bilang untuk diam! Dasar gadis si-” Hening. Tidak ada suara tamparan atau apapun itu. Dan ku rasa Hye jin masih berdiri di depan ku.

“Hilangkan kebiasaan menyakiti gadis mu itu. Sangat tidak gentle.” Suara itu. Sehun. Ia menolong kami, tapi tetap saja aku masih kesal dengannya.

Suasana kelas bermacam-macam sekarang, ada yang mengeluh, ada yang terlihat lega, ada yang juga sepertinya jatuh cinta dengan pesona Sehun barusan. Benar-benar membuat ku gila. Aku memanfaatkan kesempatan itu dengan mengambil tas ku yang berada tepat di sebelahku. Tapi kesialan memihak ku hari ini, nyatanya sebuah tangan lain menahan tubuh ku yang hampir keluar kelas.

“Dia mau kabur!” Ingin sekali ku sumpal dengan apapun mulutnya. Aku hanya bisa pasrah dan kembali ke dalam kerumunan orang yang mengeluarkan hawa peperangan.

“Bagaimana ini? Ia tak mau mengikuti prosedur.” Aku tahu ia pasti pemimpin kelas. Sungguh menyebalkan berada di dalam kelas dengan isi muridnya yang seperti ini.

Author

“Tunggu. Mengapa kau bau parfum seorang gadis?” Seorang di sebelah Sehun terlihat mengendus jas depan Sehun. Sehun terlihat biasa saja, tapi sebenarnya ia panik. Ia tahu itu parfum Yoo ri yang mungkin menempel saat ia mencium Yoo ri tadi.

Anak-anak lain yang penasaran mendekati Sehun dan ikut mengendus Sehun. Yoo ri melihat jijik ke arah mereka, seperti anjing saja, pikirnya. Tapi pikiran itu dengan cepat berganti dengan hal lain, yaitu kejadian saat di atap tadi. Ia langsung membulatkan matanya sempurna, sebelum ada yang menyadari nya ia langsung mengembalikan ekspresi biasanya.

“Benar! Kau hebat sekali jan seok-a! Seperti biasa, penciuman dan bakat parfum mu sangat hebat!” Teman di sebelahnya terlihat setuju dan mengaguminya.

“Tapi tunggu, aku belum pernah mencium parfum yang ini. Ini parfum edisi terbatas dan hanya dapat di beli di San Francisco. Merupakan salah satu edisi terbatas Paris Hilton.” Ia mengerutkan dahinya dan anak-anak di sebelahnya melihat ke arahnya kagum. Disaat ini lah ketegangan Yoo ri mulai meningkat, ia berani jamin sebentar lagi dirinya akan jadi sasaran.

“Apa kalian ada yang mempunyai parfum itu?” Tanya murid yang diketahui bernama Jan Seok itu kepada seluruh murid perempuan dan di balas gelengan oleh semuanya, kecuali Yoo ri yang masih mematung.

“Tunggu, kau bilang San Francisco?” Seorang perempuan di belakang mereka mengintrupsi pikiran Yoo ri yang mulai melayang, bagaimana kalau mereka ketahuan. Jan Seok mengangguk yakin.

“Kalau itu San Francisco, berarti itu… Hana kan?” Lanjutnya membuat jantung Yoo ri terasa mencelos. Anak-anak lain setuju dan terlihat mengangguk. Yoo ri benar-benar ingin segera mengakhiri hari nya.

“Omo! Oh ya, tadi kalian berdua menghilang, dan ketika Hana kembali Sehun juga kembali. Apa yang baru kalian lakukan?” Yoo ri panik setengah mati dan melihat reaksi Sehun. Ia tetap diam dan tak mengeluarkan reaksi apa pun. Yoo ri kesal dan mendecak pelan.

“Kami tak melakukan apapun.” Akhirnya Sehun angkat bicara dan sedikit membenarkan posisinya. Mata Yoo ri dan Sehun bertemu, tapi Yoo ri segera memindahkannya ke arah lain.

“Lalu bagaimana kau menjelaskan aroma parfum yang ada di jas mu?” Sehun tertegun. Ia tak bisa menjawab lagi, dirinya sudah terpojok. Giliran Sehun yang melirik ke arah Yoo ri.

“Ada apa ini? Mengapa sedari tadi kalian saling melirik?” Rupanya ada juga yang memperhatikan mereka. Siswa lain memperhatikan mereka berdua dengan curiga.

“Aku punya ide bagus!” Belum sempat Yoo ri dan Sehun memberi penjelasan, sudah ada anak yang yang mendahului mereka.

“Bagaimana kalau Jongin kita ganti dengan Sehun?” Yoo ri hampir saja terjatuh jika kedua kakinya tak cukup kuat menopang tubuh beserta pikirannya. Ia lebih memilih berciuman dengan bebek dari pada harus mengulang adegan itu disini. Ia menggelengkan kepalanya keras.

“Hm, boleh juga, bagaimana dengan mu Jongin? Apa kau tidak keberatan?” Jan Seok bertanya pada Jongin yang berada di sebelah Sehun. Jongin melirik sekilas dan segera bicara.

“Tak masalah. Lagipula aku belum pernah melihat Sehun seorang gadis.” Jongin menyeringai ke arah Sehun. Sehun bisa saja menghajarnya sekarang juga jika tidak orang selain mereka berdua. Jongin mendorong Sehun ke arah Yoo ri yang terlihat sangat kesal.

Sehun tahu itu, ia tak bisa melakukannya lagi, terlebih hal sebelumnya yang sudah menyebabkan hati nya sakit karena kata-kata Yoo ri. Ia memundurkan tubuhnya menjauh dari Yoo ri.

“Aku tak akan melakukannya.” Ucapnya tegas dan segera meninggalkan kelas. Yoo ri memandang punggung Sehun yang mulai menghilang di balik kerumunan orang-orang. Entah mengapa Yoo ri merasa sedikit bersalah mengingat kata-kata yang ia ucapkan saat di atap tadi setelah membaca pikiran Sehun, ternyata ia berniat baik, tapi dengan cara yang salah. Walau begitu, Yoo ri yakin Sehun akan menjaga identitas asli nya.

Gadis itu melempar tas nya ke sembarang arah di kamarnya. Ia membuka jas nya kasar. Seorang wanita paruh baya menghampirinya dengan tergesa-gesa.

“Ada apa Hye jin-a?” Wanita tersebut duduk di sebelah Hye jin. Hye jin langsung meraih lengan wanita tersebut dan memeluknya.

“Bibi, hari ini-” Putusnya dan menghirup nafas panjang. Wanita di sebelahnya hanya menunggu kelanjutannya sambil mengelus punggung Hye jin dengan tangan satu nya.

“Hana, kembali.” Wanita di sebelahnya menghentikan kegiatan mengelusnya. Ia melihat ke depan, lebih tepatnya menerawang.

“Apa yang terjadi?” Akhirnya ia mengeluarkan suara. Sepertinya ia bisa menebak apa yang sudah terjadi.

“Kami sekelas, ia memakai namanya yang dulu. Dan-” Hye jin kembali terdiam, membuat bibinya mengerutkan dahi kriputnya penasaran.

“Ia mengenal anak Kim Sang Joon, Kim Junmyeon, dan sepertinya mereka punya hubungan yang cukup dekat.” Wanita di sebelahnya tersentak. Ia melihat mata Hye jin yang terlihat sendu dan sedih.

Kenangan itu tak akan mungkin bisa Hye jin lupakan. Apalagi mengenai orang-orang tersayangnya, walaupun umurnya masih sangat belia saat itu, tapi ia dapat mengingat rangkaian perstiwa itu secara rinci.

Hye jin mengambil foto dari dalam laci nya. Bibi nya sudah hampir meninggalkan kamar Hye jin, karena ia tahu di saat seperti ini Hye jin tidak ingin di ganggu.

“Aku tak bermaksud.” Sehun sedang berada di taman dekat rumahnya dengan Yoo ri. Ia terus menghalangin jalan Yoo ri dengan tubuhnya. Ini sudah kesekian kali nya Yoo ri menghindar tapi tetap saja laki-laki di depannya keras kepala tak mau minggir.

“Sudahlah lupakan. Pergi!” Ucap Yoo ri yang sudah mulai lelah menanggapi sikap Sehun.

“Aku akan melakukan apapun agar kau mau bicara dengan ku lagi.” Balasnya yang masih terus berusaha menghalangi jalan Yoo ri. Yoo berdecak kesal. Ia berkacak pinggang sambil menaruh ke dua tangannya di dada. “Apa pun itu?”

Sehun mengangguk yakin. Senyum sedikit mengembang dari ujung bibirnya, namun segera ia hentikan.

“Yang pertama, lepaskan dulu kacamata hitam mu itu. Sangat mengganggu.” Yoo ri menunjuk tepat di depan mata Sehun. Sehun dengan ragu melepasnya dan sebisa mungkin tak menatap Yoo ri, atau ia akan menerima akibatnya, yaitu pikirannya akan di ketahui semua, jadi ia memilih membelakangi Yoo ri. Yoo ri masih bersikap dingin sambil berfikir apa yang akan ia katakan selanjutnya.

“Em, yang kedua, karena hanya kau yang mengetahui identitas asli ku, jadi ku harap kau merahasiakannya. Terlebih pada Hye jin.” Yoo ri menekan kalimat terakhirnya. Sehun tampak mangut-mangut mengerti.

“Dan yang ketiga-” Yoo ri sengaja menghentikan pembicaraannya dan melihat ke arah Sehun yang sedang memunggunginya.

Sehun menunggu lanjutan Yoo ri yang tak kunjung berlanjut, hingga akhirnya ia memberanikan diri memutar kepalanya ke belakang. Tertangkap oleh matanya Yoo ri yang sedang memandang ke arah dimana kepalanya berada, karena gugup ia segera memutar kepalanya kembali ke depan.

“Pfftt-” Yoo ri tertawa. Yoo ri merasa geli dengan tingkah namja di depannya yang terkesan sangat kekanakan. Tanpa Yoo ri sadari Sehun sudah lebih dulu menarik simpul manis di bibirnya. ‘Dia tertawa.’ Pikirnya.

“Y-ya! Cepatlah apa yang ke tiga.” Sehun menutupi kegugupannya dengan menanyai kelanjutannya. Padahal dalam hatinya sendiri tersirat perasaan bahagia.

“Baiklah, yang ketiga adalah, jangan pernah berbicara dengan ku.” Wajah bahagia Sehun seketika terganti dengan wajah tak terima. Yoo ri mendorong Sehun pelan dan meneruskan jalannya. Sehun masih terpaku dengan posisinya sampai Yoo ri melewatinya.

“Seharusnya aku tak mengatakan apapun.” Umpatnya pelan dan bergegas menyusul Yoo ri yang berada di depannya.

“Ya! Syarat ke-3 apa-apaan?” Ujarnya sambil mencoba kembali menghalangi jalan Yoo ri.

“Minggir.” Lagi-lagi Yoo ri menepis tubuh Sehun yang mulai menghalangi jalannya kembali.

Jalan pulang mereka se arah. Itulah yang mengakibatkan Sehun mengikuti Yoo ri. Dan juga jarak rumah mereka hanya berbeda beberapa blok dengan jarak yang tak berjauhan.

“Oh Sehun-ssi. Apa aku harus teriak kau sering membaca majalah- hmpp!” Yoo ri meronta minta di lepaskan saat Sehun menutup mulutnya dengan tangannya.

“Ahaa, mianhae, mianhae. Anak ini memang berisik, hehe-” Sehun tersenyum miris dan sedikit menbungkuk pada orang-orang sekitarnya yang memandang aneh ke arah mereka. Sehun segera menarik Yoo ri ke tempat yang ia rasa aman.

“Haahh- aku hampir kehabisan nafas kau tahu?!” Omel Yoo ri begitu mulutnya terbebas dari tangan Sehun.

“Apa kau gila? Kau boleh saja membaca pikiran ku tapi jangan di umbar seperti itu!” Balasnya tak mau kalah. Sehun memandang aneh ke arah Yoo ri, Yoo ri terlihat menautkan ke dua alisnya.

“Jadi itu fakta?” Kata Yoo ri tiba-tiba yang membuat Sehun mematung. ‘Apa maksudnya ia tak membaca pikiran ku dan aku membuka kartu ku sendiri?’

“Ne, benar, kau membuka kartu mu sendiri. Ha-” Ucap Yoo ri merasa puas. Sementara Sehun mengumpat dalam hati karena sudah bersikap bodoh dan ceroboh. Sementara Sehun mengumpat, Yoo ri memanfaatkan posisi Sehun yang membelakangi nya untuk kabur lagi, dan ia sukses membuat langkahnya tak terdengar.

Sebenarnya Sehun tahu Yoo ri akan kabur. Tapi kali ini ia membiarkannya karena ia sudah merasa malu atas dirinya sendiri. ‘Ah jinja.’

“What’s wrong?” Seorang gadis berambut pirang menghampiri laki-laki yang sedang duduk di bangku perpustakaan. Kepalanya di benamkan dalam buku tentang bagian tubuh hewan yang tebal. Siapapun akan merasa jijik melihatnya, tapi entah mengapa laki-laki itu malah membenamkam wajahnya pada buku itu. Ia segera membenarkan posisinya, tapi terlihat dengan jelas matanya yang berkunang-kunang seperti orang stress.

“My father, Don’t let me go to Korea.” Ucapnya lirih, gadis di sebelahnya melihat ke arah nya dengan sendu. Ia memutar bola matanya sebelum menaruh tangannya pada bahu laki-laki di depannya.

“Hm, i had enough savings.” Sahutnya sambil menunduk ke arah dimana laki-laki tersebut berada. Mata laki-laki tersebut terlihat berbinar, sangat berbeda dengan yang tadi. Laki-laki itu terlihat semangat dan bersiap memulai kalimatnya.

“So are you’ll lend it to me?” Tangannya menggenggam tangan gadis tersebut dengan mata berbinar. Gadis tersebut tampak berfikir sebentar sebelum akhirnya tersenyum.

“Maybe.” Ucapnya, laki-laki tersebut langsung memberikan pelukan pada gadis yang lebih tinggi dari nya itu.

“Carmel korlov you’re the best!” Serunya sambil sedikit berteriak. Ia segera menghentikan kegiatannya saat petugas perpustakaan menginstyaratkan kepadanya untuk diam dan dipatuhi olehnya.

“Cheers, Your face back.” Ucapnya lalu keduanya tertawa bersama sembari keluar dari perpustakaan.

Yoo ri mengendap-endap keluar kamarnya. Tak tahu apa yang sedang ia hindari, yang jelas ia tampak waspada. Ia membuka knop pintu rumahnya dan bersiap keluar.

“Mau kemana?” Suara wanita mengintrupsi semua gerakan Yoo ri. Ia mengumpat pelan sebelum akhirnya berbalik. “Eonnie-”

“Masuk!” Putus wanita itu sebelum Yoo ri menyelesaikan kalimatnya. Ia menarik tangan Yoo ri kasar ke dalam rumah mereka. Yoo ri tampak mengelak minta di lepaskan.

“Eomma! Aku hanya ingin ke tempat eonnie!” Erangnya saat tubuhnya di hempaskan pelan ke sofa. Ia menghentak-hentakan kakinya di lantai kayu rumahnya.

“Sudah eomma bilang jangan kesana!” Eommanya berdiri sambil berkacak pinggang di depannya. Ia masih menahan tangan Yoo ri yang terus bergerak minta di lepaskan.

“Diam! Kau tidak pernah punya eonnie! Ia bukan manusia! Kau tidak boleh dekat-dekat dengannya lagi!” Ucap eommanya penuh penekanan. Yoo ri sudah menangis. Itulah yang nenyebabkan ia mengendap-endap tadi, semua untuk bertemu dengan eonnie-nya. Tapi kenyataannya tidak ada yang percaya dengan keberadaan ‘Eonnie’ yang menurutnya ada.

“Mulai sekarang kau tidak boleh bertemu dengannya lagi! Arraseo?” Teriak eomma nya. Bagi Yoo ri itu bagaikan terhujam beribu-ribu pisau.

Yoo ri sendiri awalnya juga menyangka Eonnie nya bukan manusia, tapi hal itu segera ia tepis ketika ia mulai mendapati mimipi-mimpi yang menyatakan eonnie nya adalah nyata. Seperti saat ia di lindungi, ulang tahun, dan ketika kecelakaan yang Yoo ri tak ingat kapan semua itu terjadi. Tapi mengapa mimpi itu bisa masuk dan terekam dengan sangat nyata bahkan tak bisa di lupakan Yoo ri kalau belum pernah ia rasakan. Faktanya orang akan segera melupakan mimpi nya ketika mereka bangun. Yoo ri sendiri sudah berusaha menghindari kontak dengan eonnie nya tersebut karena sudah berkali-kali di ingatkan oleh eommanya. Tapi eonnie nya sendiri yang terkadang menghampiri Yoo ri dan membuat Yoo ri tak nyaman karena bentuknya yang mengenaskan, sebenarnya Yoo ri merasa biasa saja dengan kehadirannya, tapi ia mulai takut ketika eonnie nya memulai kontak fisik dan terkadang meminjam tubuhnya, walau hanya sebentar.

Tak jarang juga eomma nya menemukan Yoo ri yang sedang di rasuki. Sudah beberapa kali juga Yoo ri di bawa ke psikolog untuk menghilangkan kebiasaan berhubungan dengan makhluk halus tersebut, tapi namanya juga seorang yang mempunyai kemampuan special, akan sulit untuk menutupi dan menghindarinya, termasuk Yoo ri.

“Mengapa eomma bilang ia tak nyata?” Lirihnya di sela-sela tangisannya. Eomma nya perlahan menurunkan tangannya dan duduk di sebelah Yoo ri.

“Kau harus mendengarkan eomma. Ia tak nyata.” Jelas eomma nya sambil terus menggenggam tangan Yoo ri. Yoo ri masih terisak dan mencoba menenangkan diri.

“Lalu bagaimana eomma menjelaskan barang-barang yang ada serta luka ini?” Ia menunjuk ke arah kamarnya yang berada di lantai 2 dan luka yang berada di bahu nya. Eomma nya diam sebentar, ia menarik nafasnya dalam.

“Kau akan mengetahuinya jika waktu nya telah tiba.” Eommanya memalingkan wajah ke arah lain, tak ingin menatap wajah anaknya.

“Eomma, mengapa menangis?” Yoo ri sedikit bergeser lebih dekat dengan eomma nya, ia sudah mulai mengontrol dirinya sendiri.

“Aniya- kau jangan pergi ya, tetap disini.” Lirih eomma nya sambil membelakangi Yoo ri. Tak ada yang lebih menyakitkan di banding melihat eomma nya sendiri menangis seperti itu. Andai saja Yoo ri bisa membaca pikiran eommanya.

“Bersihkan berkas-berkas itu sebelum anak keras kepala itu menemukannya.” Ucap seorang lelaki paruh baya itu di telepon sambil memegang satu lembar foto usang.

“Baiklah.” Percakapan mereka berhenti dan pria itu menatap foto usang tersebut dengan tatapan yang sulit di artikan.

Seminggu yang lalu, anaknya, Junmyeon, menemukan sejumlah bukti yang menyatakan appa nya seorang pembunuh. Dan orang yang di bunuh menyangkut salah satu orang terpenting Junmyeon. Oleh sebab itu Junmyeon sangat tertekan mengetahui kelicikan appa nya yang membuat nyawa orang melayang. Menambah buruk hubungan anak dan ayah itu.

“Park Jun chil, apa kabar kau disana?” Ucapnya sambil tersenyum licik menghadap foto tersebut. Di dalam foto tersebut nampak sepasang suami istri yang terlihat bahagia dan 2 anak yang tampaknya sebaya.

“Kau pasti tenang kan disana?” Lanjutnya sambil meminum cairan berwarna hitam dari gelas beling nya.

“Salah satu anak mu aman, tapi aku tak tahu dimana yang satunya. Apa ia menyusul mu?” Pria itu meremas foto tersebut dan melemparnya ke sembarang arah, lalu kembali menegak minumannya.

Ia mengambil amplop kuning dari dalam laci meja kerjanya secara hati-hati. Sambil mengeluarkan berkas dari dalam amplop itu ia bergumam,

“Andai kau tak lebih baik dari ku waktu itu, kau pasti akan tetap bahagia sekarang.”

10 Tahun yang lalu, 22 Desember 2005

“Warning! Warning! Problem detected! Problem detected!” Suara alarm peringatan membuat semua orang di gedung perusahaan bekerja dua kali lebih keras malam itu.

“Cari alamat IP nya segera!”

“Aktifkan sistem malware cadangan!”

“Dimana dia?”

Hari itu perusahaan sangat di sibukan dengan peringatan pada layar utama perusahaan. Terjadi masalah pada sistem utama yang mengakibatkan semua listrik di Korea selatan mati. Hal ini bisa berakibat pada sistem radiasi yang terdapat di pusat kota.

“Diketahui serangan Hacker mendadak ini akan di luncurkan pada pukul 12 malam waktu setempat. Di himbau para warga untuk menjauhi kawasan rawan radiasi.” Isi berita di semua channel TV korea memberitahukan hal yang sama.

“Ini serangan Ddos. Hanya ada satu orang di disini yang dapat menghentikannya yaitu Kim Sang Joon.” Ucap salah satu orang di antara kerumunan yang mengelilingi komputer utama.

Klek- pintu terbuka. Terlihat seorang dengan kemeja biru membersihkan kemejanya yang sedikit basah. Kim Sang Joom Semua orang tertuju pada nya, orang itu adalah orang yang di maksud. Mereka segera menarik orang tersebut ke depan.

“Mianhae, tadi macet sekali. Cha- sekarang aku akan menghentikannya.” Tangannya mulai menari di atas keyboard. Orang-orang di sekitarnya memperhatikan apa yang di lakukannya dengan cermat.

“Alamat nya sudah di temukan, ia berada di hongkong. Tapi itu alamat palsu.” Masih dengan terpaku pada layar besar di depannya.

“Ini.. Ddos dan Y2K..” Ia terdiam. Orang-orang di sekitarnya memandang dirinya aneh. Apa yang salah dengan itu? Pikir mereka.

“Terakhir kali aku menaklukan virus ini, aku melakukan kesalahan yang berakibat sangat fatal.” Jelasnya sambil menerawang ke depan. Yang lain tampak berfikir.

“Aku bisa mengatasinya.” Seseorang yang lain memecah keheningan dari arah belakang. Ia maju dengan yakin dan mengisyaratkan Kim Sang Joon untuk berdiri dari kursi itu.

“Bukankah ia hanya pegawai biasa? Apa benar ia bisa?” Bisik salah satu di antara kerumunan itu berada. Pria itu adalah Park Jun Chil. Jun Chil mendengar bisikan itu dan sedikit tersenyum, lalu duduk di kursi tersebut. Ia memainkan jari-jari nya di keyboard dengan lancar. Sementara sekitarnya menatapnya tak yakin, termasuk Kim Sang Joon yang lebih bisa disebut menatapnya remeh.

“Selesai.” Lampu di kamera CCTV kembali menyala, lampu lalu lintas dan rumah sakit serta lainnya kembali menyala. Tulisan di layar utama menunjukan ‘Problem Solved’.Orang-orang perusahaan menatapnya tak percaya sekaligus kagum.

“Whoa, kau lebih hebat dari Kim Sang Joon.” Kata itu terasa panas di telinga Kim Sang Joon. Orang-orang memuja orang baru itu di depan Sang Joon yang biasanya mereka puja. Dalam hal ini, mulai terbesit perasaan tertandingi.

Tak lama setelah kejadian Hacking itu dilakukan, atasan mereka semua secara khusus memanggil Park Jun Chil ke ruangannya. Kim Sang Joon tak bisa menebak apa yang mereka bicarakan di dalam, setahu dirinya, atasannya itu jarang sekali terlibat dengan bawahannya.

Setelah sekitar 1 jam. Park Jun Chil keluar dengan wajah berseri-seri. Kim Sang joon melihatnya dengan tatapan tak suka dari arah meja kerjanya. Orang-orang langsung mengerubungi nya layaknya wartawan. Bisa di bilang, Park Jun Chil mendapat kenaikan pangkat, seperti yang tadi di bicarakan di dalam. Saat ini posisi nya sama dengan Kim Sang Joon yang sudah mengabdi selama 11 tahun di perusaan itu. Sementara Park Jun Chil baru masuk sekitar 3 bulan yang lalu.

Sejak itu, mereka selalu bersaing dalam hal apapun. Tapi tetap saja peringkat pertama masih di pegang oleh Kim Sang Joon. Hingga suatu saat Kim Sang Joon jatuh ke peringkat bawah yang menyebabkan dirinya sewaktu-waktu bisa di turun pangkatkan. Saat itu Sang Joon sendiri sedang berada di titik lemahnya. Yang ia pikirkan saat itu hanyalah menyingkirkan Park Jun Chil bagaimana pun caranya.

(*serangan Ddos dan Y2K adalah virus yang menjangkit komputer dan dapat melumpuhkan sistem komputer. Virus ini termasuk kuat.)

Yoo ri menapakan kaki nya pada rumput hijau di lapangan sekolahnya. Terlihat dengan jelas kantung mata nya yang membengkak akibat nangis semalaman. Ia benar-benar tak ingin masuk hari ini tapi apa boleh buat ketika eomma nya menyuruhnya.

“Huftt-” Desahnya pelan sebelum masuk ke dalam kelas nya. Ia mendongkakan kepalanya dan terlihat pemandangan yang berbeda dari kelasnya. Terdapat banyak balon di semua sudut kelasnya, juga sudah tersiap beberapa konfeti serta topi-topi ulang tahun. Yoo ri yakin betul hari ini ada yang berulang tahun, tapi siapa? Gadis itu memindahkan arah pandangnya pada papan tulis hitam di depan kelas.

‘Saengil Chukkae Hamnida, Park Hye Jin.’

Yoo ri tertegun melihat nama yang terdapat di papam tulis tersebut. Seingatnya Hye jin berulang tahun tanggal 24 Desember, sementara ini baru bulan November.

“Apa yang sedang kalian lakukan?” Yoo ri memberanikan di bertanya pada salah satu temannya.

“Kau tidak lihat? Hye Jin berulang tahun.” Jawabnya acuh dan kembali menyiapkan pesta nya. Ia memilih tak berkomentar lagi dan duduk di bangku nya. Mata nya terus saja mengikuti teman-temannya yang sibuk menyiapkan pesta. Ia tak tahu harus berbuat apa dan memilih untuk keluar kelas.

Kaki nya di menyusuri lantai koridor yang dingin dan panjang. Angin yang berhembus kencang menandakan sebentar lagi akan masuk ke musim dingin, ia merapatkan jas nya untuk melindungi diri. Salahnya tak memakai syal atau alat pelindung lainnya. Rok sekolahnya yang pendek menambahkan dingin pada tubuhnya. Seharusnya ia tetap di kelas saja, memojokan diri di pojok kelas yang mempunyai penghangat. Ia bersender pada salah satu teralis koridor tersebut. Sudah terlihat asap mengepul dari mulutnya. Ia tak bisa disini terus, atau ia akan mati kedinginan.

Ia memutuskan memasuki salah satu ruangan tanpa mengetahui namanya. Yang terpenting ruangan itu harus memiliki penghangat. Ternyata ia memasuki ruang kesenian, pertama-tama ia menyalakan penghangatnya dan menghangatkan tangannya. Baru setelah itu ia melihat-lihat isi ruangan tersebut. Ia menyentuh kanvas-kanvas yang berada di sana satu persatu dan melihatnya. Yoo ri berhenti pada satu lukisan yang menarik perhatiannya. Bukan gambarnya yang ia perhatikan, melainkan satu tanda kecil di bagian bawah kanvas yang merupakan tanda tangan pemilik gambar.

“Ini..” Ucapnya pelan sambil mendekatkan wajahnya pada kanvas itu. Setelah yakin, ia mulai terlihat aneh dan menutup mulutnya.

“Ba- bagaimana bisa..” Tak percaya dengan apa yang di lihatnya ia menyentuh kanvas itu sekali lagi dengan hati-hati. Suara nya bergetar. Kepalanya sakit, entah apa yang tiba-tiba masuk ke kepalanya. Yang jelas kepalanya sangat sakit dan ada sedikit memory di mana Yoo ri tak mengerti mengapa ia bisa mengingatnya.

Klek. Suara pintu terbuka dan seseorang masuk, tapi tak memindahkan pandangan Yoo ri dari kanvas di depannya.

“Sedang apa kau disini?” Itu suara seorang laki-laki. Lebih rinci nya itu adalah Oh Sehun. Laki-laki itu menatap punggung Yoo ri dengan ekspresi bingung, karena tak kunjung mendapat jawaban Sehun mencari tahu apa yang sedang dilihatnya. Hanya sebuah gambar yang terlihat biasa saja di mata Sehun.

“Siapa pemilih gambar ini?” Yoo ri akhirnya berbicara walau bukan menjawab pertanyaan Sehun. Sehun melirik Yoo ri sekilas dan mendekatkan matanya pada identitas yang terdapat di bawah gambar tersebut.

“Hm.. Park Hye Jin. Eh-” Yoo ri hampir saja terjatuh jika saja Sehun tak menopang tubuhnya. Wajahnya terlihat sangat pucat. Sehun panik dan tak tahu harus berbuat apa, tangannya sangat dingin jadi ia mendekatkan Yoo ri pada mesin penghangat. Dengan cekatan Sehun membuka jas nya dan menyematkannya pada Yoo ri yang bersender pada bahu nya. Mereka berdua duduk di depan mesin penghangat dalam diam. Suasanya sangat hening, hanya ada suara mesin penghangat dan nafas mereka. Sehun terlihat kaku dan sesekali melirik ke arah Yoo ri yang masih lemas, ia masih tak berani untuk bertanya apa-apa. Dirinya sendiri mulai kedinginan ditambah jas nya yang di pakai oleh Yoo ri. Tapi ia harus menahannya, setidaknya sampai gadis di hadapannya itu memberikan respon.

“Sehun-a, mengapa ulang tahun Hye jin di rayakan sekarang?” Erangnya lemah. Sehun awalnya belum terkonek, tapi dengan segera ia mengerti mengingat Yoo ri sudah mengenal Hye jin cukup lama.

“Seminggu lagi kita akan libur musim dingin. Sementara ulang tahun Hye jin jatuh pada tanggal 24 Desember yang artinya kita semua libur. Jadi kita merayakannya hari ini. Jelasnya sambil menjaga Yoo ri di sebelahnya. Ia mentapa hangat ke arah Yoo ri yang sepertinya belum menyadari tatapan Sehun.

Yoo ri bangkit dari posisi bersendernya dan duduk membelakangi Sehun. Sehun segera membetulkan wajahnya yang sedari tadi tak henti-hentinya memancarkan kebahagian, mungkin karena ia bersama Yoo ri.

“Pakai kembali jas mu itu.” Yoo ri kembali dengan ekspresi dinginnya. Sehun kecewa sekaligus senang melihat Yoo ri baik-baik saja. Yoo ri berdiri dan meninggalkan Sehun yang masih berusaha mengenakan jas nya tanpa mengucapkan terima kasih atau apapun.

Yoo ri sampai di kelasnya lebih dulu. Saat perjalanan ke kelasnya, diam-diam Sehun memperhatikannya dari belakang, takut tiba-tiba Yoo ri terjatuh lagi. Anak-anak kelas sedang menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan Hye jin yang berada di tengahnya. Hye jin menampakan wajah bahagianya dan sedikit terkejut. Hye jin yang menyadari kehadiran Yoo ri diam sebentar lalu segera memberikan senyum pada Yoo ri. Yoo ri tak membalasnya dan beranjak ke arah kursinya. Hye jim menatapnya dengan kecewa, tapi langsung di gantikan dengan kebahagian mengingat ini pesta ulang tahunnya.

“Oh ya, Hana-ssi, kau ulang tahun tanggal berapa? Jangan-jangan kau ulang tahun saat liburan.” Yoo ri menatap anak tersebut dengan dingin. Anak-anak lain termasuk Sehun dan Hye jin menatapnya penuh selidik. Tapi yang Yoo ri jawab tidak sesuai perkiraan mereka.

“Entahlah. Sudah lewat mungkin.” Jawabnya sambil menggidikan bahu. Yang lain terlihat kecewa, salah seorang anak mengambil daftar siswa di meja guru.

“Omo! Tanggal mu sama dengan Hye jin.” Terdengar suara orang tersedak dari pusat kelas. Terlihat Hye jin sedang menggengam gelas berisi es dan menepuk-nepuk dadanya dengan tangannya yang bebas. Yoo ri sendiri terkejut akan tanggal lahirnya, sebelumnya Yoo ri tak tahu kalau tanggal lahirnya ikut di ganti bersamaan dengan nama nya.

“Kalian mempunyai banyak kesamaan, dari wajah pun terlihat sedikit mirip. jangan-jangan kalian kembar.” Sang ketua kelas angkat bicara juga.

“Ah kalian bisa saja, ini kebetulan pasti.” Hye jin menutup kegugupannya dengan tertawa, sementara Yoo ri bersikap biasa saja. Tanpa ada yang menyadari Sehun berfikir sesuatu.

“Tolong!” Seorang murid laki-laki berlarian di koridor. Semua anak di dalam kelas bertanya-tanya apa yang terjadi.

“Tolong! Seseorang di ruang kesenian bersikap aneh!” Mereka berhamburan pergi ke tempat yang di maksud. Termasuk Yoo ri, Hye jin dan Sehun. Sehun mengawasi Yoo ri dari belakang. Kondisi nya masih belum stabil.

Yoo ri berjinjit melihat apa yang terjadi. Ia kesulitan karena tubuhnya tak terlalu tinggi sementara sudah banyak orang di depannya.

“Pergi kalian!” Seorang murid laki-laki di dalam ruang kesenian berteriak sambil memegang pisau pahat. Banyak guru yang mencoba menenangkannya, tapi tetap tak bisa juga.

“Ia telah di rasuki, siapa yang bisa mengeluarkannya?” Yoo ri mendengar sayup-sayup dan menambah adrenalin dirinya untuk lebih melihat dengan jelas kedepan. Tapi karena tubuh mungilnya membuat ia tetap kesulitan memasuki kerumunan ramai tersebut.

Setelah cukup keras mencoba akhirnya ia berhasil maju ke depan dan ia membulatkan matanya sempurna. Di penglihatannya terdapat banyak sekali makhluk yang mengelilingi murid tersebut. Yoo ri menelan ludahnya susah payah. Ini adalah tempat yang ia datangi tadi untuk menghangatkan tubuh. Sepertinya ada murid tersebut masuk setelah Yoo ri dan Sehun keluar. Yoo ri menatap mata anak tersebut dengan teliti.

‘Anak itu masuk saat pacarnya memutuskan dirinya. Ia terkalut lalu pergi ke ruang kesenian untuk memahat, menurutnya memehat bisa menghilangkan sakit hati nya. Memahat adalah salah satu hobinya. Tapi saat memahat pikirannya sangat terkalut dan menyebabkan kosong sehingga memudahkan makhluk-makhluk itu masuk.’ Batinnya rinci. Ia memandang sekitar, yang dilihatnya hanya anak-anak yang terlihat ketakutan dan guru-guru yang malah menjaga jarak. Anak itu tak bisa terus di rasuki, bisa saja anak itu kehilangan nyawanya.

Tapi jika ia mengeluarkan makhluk itu. Ia pasti akan di jauhi karena kemampuannya yang menurut sebagian orang itu menakutkan. Tapi jika ia tak menolongnya, nyawa anak itu dalam bahaya. Yoo ri bimbang dengan keputusannya. Tapi ia harus menolong anak itu, jadi ia memutuskan untuk lebih ke depan.

Seseorang menarik tangannya. Sehun. Ia menatap mata Yoo ri dengan intens. ‘Kau tidak boleh melakukannya sekarang. Kondisi mu sedang tidak stabil.’

Sehun mengisyaratkannya ‘jangan pergi’ dengan pikirannya. Yoo ri melepas tangan Sehun dan membalasnya dengan anggukan yakin.

“Aku pasti bisa. Satu-satunya yang menghalangi ku adalah kau.” Ia berucap tanpa suara. Walau tanpa suara Sehun mengerti apa yang di ucapkan Yoo ri. Sehun memandang punggung Sehun yang habis tak terlihat di antara kerumunan orang-orang itu.

Yoo ri dengan cekatan segera masuk ke ruang kesenian. Guru-guru sudah mencoba meneriakinya tetapi Yoo ri tak akan menyerah. Ia menutup pintu dan menguncinya. Sebelum ia menutup gorden nya ia melihat ke arah keluar, terlihat guru-guru yang menggedor jendela menyuruhnya keluar. Tapi hal itu malah semakin membuat Yoo ri yakin. Akhirnya ia menutup gorden tersebut. Tak ada celah yang bisa melihat ke arah dalam. Di dalam ruangan hanya itu hanya ada Yoo ri dan murid dengan name tag Kang Joon woo tersebut.

Tak begitu lama setelah itu terdengar keributan dari dalam. Sehun menunggu dengan cemas, terlebih suara yang di timbulkan dari dalam menambah kekhawatirannya. Hye jin sendiri tak percaya Yoo ri akan masuk ke dalam dengan beraninya. Bisik-bisikan negatif mulai terdengar di sekitar Sehun, membuat kuping nya memanas.

Terdengar erangan menyeramkan dari dalam membuat siapapun yang mendengarnya akan bergidik ngeri. Barang-barang yang jatuh juga dapat terdengar jelas dari luar.

“Kembalilah ke alam mu!” Teriakan dari dalam membuat semua orang menoleh, mereka pikir semuanya sudah selesai. Sampai akhirnya suara yang benar-benar berisik timbul. Tampaknya itu sebuah benda berat yahg jatuh menimpa sesuatu.

“AKHHH-”

***

TBC

***

Prev. Chap 7

“Mau apa kau?-“

“Ya! Bangun!”

“Panggil ambulan!”

“Pergi kau!”

“Maafkan aku-“

~♡♡♡~

Selesai~ yuhuuu maafakan author yang nulisnya kelamaan ini ya-_- kayaknya ni FF keluarnya sabtu/minggu deh jatohnya, solanya kalo senin-jumat author sibuk. Makasih banyak yang udah nyempetin baca~ Author sayang kalian.

Author harap kalian ga jadi silent rider ya.. harap tinggalkan feedback minimal like. Makasih banyak juga yang udah ninggalin feedback di chap-chap selanjutnya. Kalian yang nyemangatin author loh~ ㅋㅋㅋ udah dulu deh~ KAMSAHAMNIDA 사랑해~ Author sayang kalian;3

26 responses to “Don’t Stare at Me With That Eyes [Chap.6] – By Kimraeha

  1. Aku bingung tapi penasaran… tentang kakak nya yoori sama hye jin..
    Ugh..tp aku penasaran jadi jangan lama lama ya thor chapter 7 nya

  2. Huwaaaa makin sulit ditebak T.T
    Hana, yoori, hyejin, dan eonni yoori. Entah kenapa aku selalu berputar-putar di sekitar situ. Dan suho dia maksa balik ke korea karena appanya mnghilangkan nyawa jung chil itu. Apa itu ayahnya hyejin? Atau siapa? Hyejin-Hana-Junmyeon apakah ini cinta segitiga wkwk.

    Howaaa makin penasaran makin banyak misteri makin ketauan nih sama temen-temennya kykny kalo Yoori itu indigo.. 😐

    My fav part saat hampir ketauan bau parfum yoori di baju sehun huwaa aku bayangin mereka main lirik”an wks

    Kakaknya suka minjem tubuh yoori buat ngapain? Jangan-jangan buat mencari tiga buah air mata(?) hehe

    Keep writing thor buatlah kami pensaran trus 😀

  3. aaiihh penasaran
    apa yg terjadi di dlm ruangan ituu
    sumpah penasaran deh
    nah benda yg jatuh itu apaa dan menimpa apa cobaa
    banyak pemikiran yg timbul niih

  4. banyak sekali rahasianya. para readers jd sprti sherlock holm yg mnjadi detective utk mmbongkar rahasianya. banyakin moment sehun-yoori ya!!

  5. Jadi hyemi dama yoo ri ada hubungan apa?._.
    Bikin penasaran…
    Banyakin adegan sehun sama yoo ri ya thor 😀
    Ditunggu next chapternyaa

  6. Itu hubungan hyejin ma yoori gmn ??? Mreka saudaraan apa gmn sih??? Makin lanjut mkin pnasaran aja wah si sehun trnyata suka ma yoori asek asek…
    Trus suho sm ayahnya suho knp sih ???
    Keep writing thor 😊😊😊

  7. sebenernya hye jin itu siapa ? trus apa hubungannya dgn suho ? o.O
    sebenernya apa hubungan yoo ri sama appanya suho ? trus siapa tuh park jun chil ? o.O sumpah masih banyak banget pertanyaan” dalam benak gue ! bener” deh author bikin teka-tekinya gak hanya satu 😀 ckckck salut gue thor sama elu 😀 ngemeng” lu ga pusing thor bikin teka-teki kek gini ? gue aja yg baca udah angkat kaki #ralat tangan maksudnya 😀 sip deh buat author (y) bener” ni ff bikin gue makin penasran >_< next thor gue tunggu ya 😉

  8. Author aku bingung lohh bacanya
    Ini begiti tiba tiba beribah alur dari chap 5
    Dan aku juga merasa banyak banget eh beberapa bagian yang tiba2 sudah berubah
    Gak masalah sih namanya juga ada genre mistery tapi pasti di akhirnya akhir atau di beberapa chapter ada flashback dan balan dijelasin biat gak jadi bingung kan author???

  9. huhuuu lagi seru tau2 TBC…penasaran banget sama lanjutannya.aku ga ngerti harus kasih komen apaan.yang penting lanjut aja deh.penasaran banget.seruuu ceritanya

  10. makin bikin penasaraannn, yoorin bakal dijauhin lagi gaa? kesian kan kalo dijauhin oiyaa yoorin suka sama sehun juga terus dia itu masih sekolah? blom kuliah apa(?) masi ga ngertiii
    keep writing. fighting. thankyou

  11. Maaff baru cuap cuap disini..
    Maklum jaringan ditempatku lemot *kampung*
    Good story (y) aku suka :*
    Tapii masi belum ngerti sama apa yg dimaksud ayah suho, siapa yang aman bersamanya?? Dan juga siapa maksud hyejin, dan darimana yoori punya kemampuan itu??? Dan dan dan dan ini FF bikin penasaran. Lanjutttttttt thor~~

  12. msh penasan sm hye jin.. -,- semangat buat lanjutannya. Di tunggu beneran lo. 😀

Leave a Reply to silvy Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s