Ambition [Chapter 3] – by Sehun’Bee

Ambition

SehunBee‘s Present

Ambition | Plan

Main Cast :
.: Oh Sehun ~ Khaza Hanna :.

Support Cast :
.: Kai Kim ~ Jenny Kim :.

Genre :
.: Drama ~ Romance :.

Rating : PG-17

Lenght : { Chaptered }

Disclaimer :
Semua alur murni dari hasil kerja keras otakku. Jangan copy paste seenaknya dan jadilah readers yang baik dengan meninggalkan comment setelah baca.

Credit >> Poster and Header Title by : popowiii | SHINING VIRUS

Summary :

Athena dan Hera marah karena merasa terhina. Legenda Hera bahkan mengungkapkan bahwa amarah neraka tak seberapa panas jika dibandingkan dengan amarah wanita yang merasa terhina.

Previous Chapter

First Sight [1] Nice to Meet You [2]

-Ambition-

Kai melajukan mobilnya santai menuju Rock Center Café dengan Jenny di sampingnya. Mereka pergi ke sana untuk sekedar mengisi perut yang kosong setelah mengikuti rapat para pemegang saham. Sebenarnya, rapat itu belum selesai tapi hanya ditunda karena jam sudah menunjukkan waktu makan siang. Suara halus mesin mobil yang mereka tumpangi pun menjadi suara satu-satunya yang mengisi keheningan di antara keduanya. Dimana Kai sibuk dengan fokusnya dan Jenny sibuk dengan dunianya. Gadis itu bahkan hanyut dalam kebisuan, membuat Kai bingung karenanya.

Tidak biasanya.

Kai melirik Jenny lewat ekor matanya, “Kenapa?” tanyanya kemudian. Ia hanya takut Jenny berubah seperti Hanna, karena gadis itu sempat mengatakan bahwa ia begitu mengaguminya.

” . . . ” Jenny masih diam, alisnya bertaut lucu. Namun, bukan berarti ia tuli, seruan Kai bahkan terdengar jelas olehnya. Helaan napas panjang pun menjadi awal keterbukaannya.

“Nona Khaza dan Tuan Oh, sebenarnya ada apa dengan mereka berdua?” tanya Jenny. Ia kesulitan menerka apa yang kiranya terjadi pada Hanna dan Sehun, sehingga mereka terlihat seperti—Uni Soviet dan Amerika Serikat. Dimana Amerika Serikat menerapkan ideologi Containment Policy dan Uni Soviet Warm Water Policy untuk memengaruhi negara-negara lain. Bedanya, Sehun dan Hanna berada di ruang lingkup yang jauh lebih kecil, dimana para pemegang saham yang menjadi targetnya. Ya. Setidaknya itu yang Jenny pikirkan.

“Kenapa memangnya?” bukannya menjawab, Kai malah balik bertanya.

“Kau ingat saat kita memasuki ruang rapat?”

Kai menaikkan sebelah alisnya sebagai jawaban. Jenny terlalu berbelit, dan itu kekurangan terbesarnya sebagai seorang wanita cantik nan anggun, “Aku tidak mengerti arah pembicaraanmu, Jen,” ujar Kai jujur.

“Saat kita memasuki ruang rapat, Tuan Oh terlihat baru saja bangkit dari kursi yang berada di samping Nona Khaza. Saat itu, Nona Khaza terlihat diam terpaku, namun tak berselang berapa lama, Beliau menatap tajam ke arah Tuan Oh dan dibalas dengan senyum kecil olehnya. Menurutmu, apa yang terjadi pada keduanya sebelum kita memasuki ruang rapat? Apa Tuan Oh mengatakan sesuatu yang membuat Nona Khaza marah?” jelas Jenny panjang kali lebar, membuat Kai mengangguk mengerti.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi aku rasa, Nona Khaza memang sedang marah!” Kai mengingat-ngingat kembali gelagat Hanna pada saat rapat berlangsung. Dimana nada suara Hanna terdengar begitu sarat akan emosi saat sedang melakukan presentasi. Tak hanya itu, berkali-kali juga ia melihat Hanna melirik tajam ke arah rival terkuatnya, namun dibalas dengan tatapan kagum olehnya. Membuat Kai ikut kagum akan sosoknya, dimana jiwa kepemimpinannya terlihat begitu terpancar saat itu. Dari situ pun, Kai bisa mengambil kesimpulan mengenai apa yang kiranya terjadi pada dua insan tersebut.

“Marah? Benarkah? Aku sendiri sempat berpikir seperti itu, tapi nyatanya tidak terlihat seperti itu, saat presentasi pun Nona Khaza terlihat amat mengagumkan. Beliau seperti dewi, seluruh mata bahkan tak lepas darinya dan bahan presentasi serta tujuannya untuk ke depan tersampaikan dengan begitu baik. Tuan Oh bahkan kalah dalam segi daya tarik serta penyampaian olehnya. Namun, tak bisa dipungkiri, apa yang disampaikan Tuan Oh tak kalah menarik dari apa yang sudah disampaikan Nona Khaza. Tuan Oh hanya kalah kharisma olehnya. Itu saja, aku benarkan?”

Kai tersenyum mendengar penuturan Jenny. Ia pernah membahas masalah gender dengan Hanna, dan gadis itu terlihat tak suka. Kini, Hanna membuktikan bahwa dirinya bisa melampaui kharisma Sehun sebagai seorang pria. Dan soal kemarahan Hanna, Kai rasa, Sehun memang sudah membuatnya marah.

“Nona Khaza tidak suka merendah dan direndahkan. Aku rasa, Tuan Oh sudah mengatakan atau melakukan sesuatu yang membuat Nona merasa direndahkan, sehingga Nona begitu marah saat melakukan presentasi. Tidak terlihat memang, namun bagiku itu sangat mencolok,” jelas Kai masih dengan senyum di bibirnya.

Kali ini, Jenny yang dibuat tak mengerti olehnya. Pikirnya menerawang kembali, mengingat bagaimana Sehun dan Hanna menyampaikan tujuan mereka agar terpilih menjadi seorang CEO. Dimana keduanya sama-sama imbang dalam segi isi dan kemampuan, namun Sehun kalah telak dalam segi kharisma. Mungkin karena Hanna perempuan dan mayoritas peserta rapat pria. Senyum puas bahkan terlihat dari wajah cantik Hanna sebelum rapat ditunda, sementara senyum menantang Jenny lihat pada wajah Sehun. Membuat Jenny merasa keduanya begitu berlebihan, namun jika dipikir-pikir lagi, itu wajar saja. Karena memang keduanya sedang bersaing, ia saja yang terlalu naif sehingga berpikir itu berlebihan.

“Tunggu dulu, bagaimana bisa kau tahu Nona Khaza sedang marah?” Jenny sadar akan sesuatu.

“Terlihat dari bagaimana cara bicaranya.” Kai terkekeh setelah mengatakan itu. Membuat muka bebek tercipta di wajah Jenny, karena baginya, itu bukan jawaban yang tepat dan memuaskan.

Kai yang menyadari perubahan raut wajah Jenny justru semakin geli dibuatnya. Ia parkirkan pelan mobil Boss-nya di depan café, lantas beralih menatap Jenny yang masih setia dengan wajah bebeknya.

“Aku sendiri tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya, tapi ketika kau mengenalnya, maka kau akan menemukan sendiri jawabannya. Dan aku akan membantumu untuk menemukan jawaban itu . . . Bukankah kau mengaguminya?” ujar Kai lembut, dengan sebelah tangan yang bermain di surai Jenny.

“Benarkah?” tanya Jenny tak percaya, matanya bahkan berbinar senang saat mendengar pernyataan Kai. Itu berarti, Kai akan membantunya untuk lebih dekat dengan Hanna.

“Hm. Nona Khaza gadis yang baik, dan dia akan sangat senang jika mendapat teman baru sepertimu,” Kai membenarkan. Pelan – pelan ia kikis jarak di antara mereka, hingga bibirnya berhasil mendarat di pipi mulus Jenny. Sementara Jenny, hanya tersenyum menanggapinya dengan rona merah di pipi.

 

-Ambition-


Hanna membiarkan angin memberantakkan anak rambutnya yang menjuntai bebas. Matanya terpejam sempurna dengan kedua tangan yang memegang erat penjaga besi. Seolah mencoba untuk melampiaskan emosinya pada benda yang digenggamnya itu. Pemandangan indah yang terlihat dari puncak Rockefeller Center tempatnya berdiri saat ini pun tak ia hiraukan, dimana Empire State Building terlihat begitu mengagumkan dilihat berserta gedung-gedung kecil di sekitarnya.

450px-Empire_State_Building_from_the_Top_of_the_Rock

Hanna hanya kesal, itu saja. Ia merasa terhina akan perlakuan Tuan Bertelsmann beberapa waktu lalu, dimana dengan lancangnya pria itu mengecup pipinya. Tak hanya mengecup, ia bahkan bisa merasakan bagaimana pria itu menghirup dalam aromanya yang membuatnya kaku karena terkejut. Sungguh kurang ajar. Baru kali ini, Hanna diperlakukan tak senonoh oleh seorang pria. Biasanya mereka tak berani mendekatinya apalagi menyentuhnya, namun, Tuan Bertelsmann itu sungguh berani sekaligus keterlaluan.

Hhh

Hanna mendesah pelan. Mencoba menstabilkan emosinya yang semakin memuncak. Namun tak lama, ingatannya kembali membawanya pada kenangan masa lalu. Dimana dirinya pernah dijadikan sebagai bahan taruhan semasa duduk di bangku Universitas dulu. Oleh orang yang begitu dicintainya. Beruntung, Hanna mengetahui pengkhianatan itu sebelum dirinya berakhir di atas tempat tidur.

Brengsek.

Setiap kali mengingat itu, membuat Hanna mengutuk semua pria yang hanya mementingkan nafsu di atas segala-galanya. Sementara wanita begitu lemah terhadap cinta. Bahkan kadang, wanita rela memberikan kehormatannya pada pria yang dicintainya. Dan setelah itu, mereka akan merasakan sakit karena dikhianati atau bahkan ditinggalkan.

Bodoh.

Dan Hanna tak ingin seperti itu, ia tak ingin menjadi gadis lemah di tengah-tengah kejamnya arus pergaulan juga godaan. Tak ada salahnya jika ia memilah dan memilih lelaki mana yang kiranya pantas untuk memiliki hatinya, hingga ia tak perlu takut akan berakhir sama seperti sebelumnya. Dan setiap kali mengingat apa yang dilakukan Tuan Bertelsmann, membuatnya murka sekaligus tak terima. Ingin sekali ia memaki, namun itu bukan gayanya. Ia lebih suka mengeluarkan kata-kata tajam nan menusuk kepada orang yang sudah membuatnya marah, agar orang itu berpikir dan tak lagi menganggap remeh dirinya.

Namun sayangnya, ia tak sempat melakukan itu pada Tuan Bertelsman karena situasinya yang tidak memungkinkan. Hingga ia hanya bisa menunjukkan siapa dirinya melalui presentasi yang ia sampaikan.

Damn it.

Entah untuk yang keberapa kalinya Hanna mengumpat kesal dalam hati. Namun tak kunjung ia ungkapkan, karena itu akan menjatuhkan wibawanya sebagai seorang wanita berpendidikan. Bahkan saat Kai mengajaknya untuk makan siang, Hanna menolak, hanya karena takut Kai akan membombardirnya dengan beberapa pertanyaan dan kemudian berakhir dengan ia yang mengeluarkan sumpah serapah dari dalam mulutnya. Sungguh kampungan jika itu sampai terjadi, karena Hanna tahu, pertanyaan dari orang lain hanya akan membuatnya semakin kesal pada Tuan Bertelsmann itu.

“Apa yang sedang Anda lakukan, Nona?”

Suara itu lagi.

Hanna mendesah pelan saat mendengar suara yang sudah di hafalnya itu. Pelan – pelan matanya terbuka, lantas melirik orang yang sudah berdiri tepat di sampingnya tersebut.

“Apa Anda tidak pernah belajar tentang manners, Tuan?” tanya Hanna sinis, terkesan tiba-tiba. Ia sama sekali tak berniat menjawab pertanyaan pria itu. Kehadirannya pun ia gunakan sebagai kesempatan untuk memojokkannya.

“Apa?” Sehun lantas menatapnya. Kilatan penuh amarah pun Sehun lihat pada kedua bola matanya. Sungguh indah. Bukannya takut, Sehun justru mengaguminya.

“Aku rasa jawabannya ‘Ya’ ” ujar Hanna masih dengan nada yang sama.

Sehun yang berusaha sadar dari rasa keterkagumannya pun mengerti. Oh tentu, gadis itu pasti sedang marah besar padanya atas apa yang sudah ia lakukan. Dan bukannya menyesal, Sehun justru tersenyum menanggapinya. Batinnya pun membenarkan, bahwa apa yang dilakukannya itu seperti halnya orang yang tak pernah belajar tentang tata krama.

“Anda sendiri yang menggodaku, Nona,” ujar Sehun santai. Membuat alis Hanna bertaut dengan mata yang memicing tajam.

“Apa Anda sedang melakukan pembelaan, Tuan?” tanya Hanna tak kalah santai namun penuh akan sindiran.

Sehun yang mendengarnya hanya bisa tersenyum. Hanna benar-benar sulit dijatuhkan, bukannya bertanya ‘apa maksudmu?’ gadis itu justru langsung memukul mundur dirinya dengan mengatakan pertanyaan itu.

Sungguh pintar.

Langkah kaki Sehun maju mendekat, namun Hanna tetap bergeming di tempatnya, seolah tak takut pada pria gagah bertubuh tinggi itu. Sehun sendiri semakin tertarik dibuatnya, hingga ia terus melangkah mendekat—sampai pada akhirnya, Hanna melangkah mundur dibuatnya demi memisahkan jarak di antara mereka.

Bruk.

Hanna menoleh ke belakang saat merasa punggungnya membentur sesuatu. Dan saat itu juga ia sadar, tubuhnya terjepit antara tembok dan tubuh Sehun yang hanya berjarak sekian senti darinya. Sehun bahkan sudah menguncinya dengan kedua tangan yang menempel di samping kepala.

“Kalau begitu, bagaimana jika Anda yang mengajarkanku tentang manners, Nona? Agar aku tak melakukan hal yang sama saat berada di dekat Anda,” ujar Sehun, menggoda. Membuat Hanna tanpa sadar menelan ludahnya pelan.

Gugup.

Ya, Hanna akui, ia gugup. Siapa pun yang berada di posisinya pasti akan gugup. Terlebih, Hanna jarang berinteraksi dengan pria lain selain Kai dan Ayahnya. Namun, tak bisa dipungkiri, Hanna juga kesal dibuatnya. Sebisa mungkin ia atur emosinya agar tak meluap saat ini juga, kemudian mempermalukan dirinya sendiri dengan berkata-kata kasar pada orang yang belum lama dikenalnya itu. Hei, tunggu, mereka bahkan belum pernah berkenalan secara formal. Hhh, konyol.

“Anda bisa menyewa guru untuk itu Tuan, dan bisakan Anda sedikit menjauh?” Pinta Hanna, sebelah tangan bergerak mendorong tubuh kekar Sehun. Namun sayangnya, itu tak membuahkan hasil—Sehun justru terlihat asik mengagumi pahatan wajahnya dari dekat. Sebelah tangannya bahkan sudah menggenggam tangan Hanna tanpa ragu saat telapak halus itu terus mendorong bahunya.

“Hentikan Nona. . . Biarkan seperti ini untuk sesaat,” ujarnya tanpa melepas kontak dari hazel kelam itu. Remasan pelan pun ia berikan pada tangan Hanna.

“Ini tidak lucu, Tuan. Apa yang Anda lakukan akan kembali menimbulkan kesalahpahaman bagi orang lain yang melihatnya. Dan aku tidak suka itu!” Tutur Hanna penuh penekanan. Tatapan tajam pun ia berikan pada Sehun yang menatap penuh minat ke arahnya.

“Bukankah itu bagus, Nona?” tanya Sehun santai, “Tidakkah Anda melihat tatapan para pemegang saham lain terhadap kita saat bersama?” Sehun membawa tangan Hanna digenggaman, lantas menghirup punggung tangannya dalam. Sementara Hanna hanya diam memerhatikan, membiarkan Sehun menikmati aroma tubuhnya.

“Mereka menyukainya, karena itu baik untuk kemajuan 520 Park Avenue. Tapi sayangnya, aku sama sekali tidak berniat untuk bekerja sama dengan Anda, Tuan. Karena aku tahu, Anda akan menyingkirkanku setelah bangunan itu selesai dibuat dan kursi CEO sudah berada di balik meja. Anda hanya akan memanfaatkanku untuk menarik minat pembeli dan saat semua unit telah terjual habis, maka kursi kepemimpinan akan mutlak berada di tangan Anda—entah dengan cara seperti apa,” ujar Hanna lembut. Ia mampu membaca keinginan Sehun dengan sangat baik. Bahkan kini, tangannya sudah ikut bergerak menghitung kancing kemeja pria itu. Membuat Sehun yang merasakan pergerakannya semakin ingin menghimpit tubuhnya.

“Anda pintar. Tapi aku rasa, mereka akan tetap memilih kita berdua sebagai yang terkuat. Seperti yang Anda tahu, Paris Hilton sudah dipastikan gagal dalam perebutan tender ini, dan dua orang pemegang saham terbesar lainnya terlihat jauh di bawah kita. Sementara yang lainnya, hanya sebagai penonton karena jumlah uang yang mereka tanam tidaklah seberapa—“

“Lalu,” sela Hanna cepat, “aku harus menyerah pada keadaan?” tanyanya.

“Tidak. Kita bisa—“

“Dan membiarkan Anda duduk di kursi CEO? Lalu membiarkan 520 Park Avenue berganti nama menjadi Random House Tower?” Hanna kembali menyela.

“Kita bisa mengatur semuanya bersama Nona—“

“Tidak. Karena aku ingin berada di atas dan mengatur semuanya seperti halnya yang aku inginkan, tanpa campur tangan orang lain di dalamnya,” tolak Hanna dengan senyum menantang di bibirnya. Pelan – pelan ia singkirkan tangan Sehun yang menguncinya, lantas berlalu begitu saja. Meninggalkan Sehun yang dibuat bungkam olehnya.

Sehun sudah duga, Hanna tidaklah mudah untuk ditaklukan. Bahkan, ia sudah mati – matian menahan hasratnya untuk tidak melakukan hal yang lebih dari sebelumnya demi memengaruhi gadis itu agar mau bekerja sama dengannya. Namun nyatanya, ia tetap gagal.

Padahal sebenarnya, Sehun melakukan ini hanya untuk berjaga-jaga jikalau para pemegang saham memilih mereka berdua untuk mengelola 520 Park Avenue bersama. Namun kini, ia hanya bisa berharap 520 Park Avenue jatuh ke tangannya seorang tanpa melibatkan orang lain di dalamnya, karena jika ada dua orang yang memimpin sekaligus, maka ego untuk berada di atas dan keinginan untuk saling menguasai akan timbul—hingga dampak negatiflah yang mungkin akan terjadi.

 

♣ ♣ ♣


Kini, rapat antar pemegang saham kembali dimulai. Kepemilikan 520 Park Avenue pun akan ditentukan saat ini juga, berdasarkan pendapat dari para peserta rapat juga vote suara terbanyak karena ada tiga perusahaan yang menginvetasikan uang mereka dalam jumlah yang sama, Ritz-Carlton, Bertelsmann dan Hilton. Hingga kepemilikan 520 Park Avenue tidak berdasarkan jumlah nominal uang tertinggi yang diberikan oleh para pemegang saham, namun dari kemampuan kepemimpinan para calon kandidat yang dipilih berdasarkan jumlah uang yang mereka tanam. Karena biar bagaimanapun, 520 Park Avenue adalah proyek besar dan mereka harus bisa memilih pemimpin yang benar-benar mampu menerapkan serta menjalankan visi dan misi mereka untuk kesuksesan apartemen tersebut.

Arthur Zeckendorf, pemimpin rapat—terlihat serius mencermati setiap masukan dari para pemegang saham. Nama Sehun Bertelsmann dan Khaza Hanna pun terdengar disebut berkali-kali oleh orang yang berbeda. Membuat posisi keduanya semakin seimbang juga kuat, bahkan ada tujuh orang yang menyebut nama keduanya secara bersama, karena merasa keduanya pantas menjadi pemimpin. Sementara tiga orang kandidat lain terlihat mundur teratur dengan ikut menyebut nama yang pantas untuk menjadi pemimpin, seolah sadar akan kemampuan yang mereka miliki—yang berada jauh dibawah keduanya. Padahal dari segi pengalaman, mereka jauh lebih banyak. Namun nyatanya, yang muda selalu berhasil beraksi hingga yang berumur tersingkirkan perlahan.

Hanna bahkan ikut berpendapat, bahwa hanya boleh ada satu orang pemimpin, karena banyaknya peserta rapat yang menginginkan dirinya dan Sehun memimpin bersama. Sementara Sehun yang merasa terpojokkan dan menyadari situasi dimana Hanna yang akan keluar sebagai pemenang berdalil,

“Saya tidak masalah jika harus membagi kursi kepemimpinan. Lagi pula, nama Bertelsmann dan Ritz-Carlton sudah dikenal baik oleh publik karena kualitas dan pelayanan nan berkelas yang selama ini kami berikan,” ujar Sehun dengan menunjukkan smirk menggodanya ke arah Hanna. Membuat tatapan tajam seketika didapatnya dari gadis itu.

“Ya Tuan. Dan masalah pembagian kekuasaan itu bisa dirapatkan kembali oleh kedua perusahaan yang bersangkutan…”

Detik berikutnya, Hanna yang terpojokkan mendengar banyaknya pendapat yang mendukung keputusan Sehun tersebut. Tuan Arthur bahkan terlihat mengangguk-nganggukan kepalanya setuju, sebelum akhirnya menatap Hanna demi meminta persetujuan darinya.

“Bagaimana Nona Khaza?”

“Maafkan saya, Tuan. Saya ti—“

“Maaf Nona,” seorang pria menyela membuat Hanna mendelik tajam ke arahnya. Sungguh tidak sopan.

“Ini demi kepentingan bersama. Tidak hanya individu tapi juga kelompok. Jika kerjasama antara Ritz-Carlton dan Bertelsmann membuat keuntungan lebih nyata, mengapa tidak? Tolong pertimbangkan Nona, namun jika Anda tetap tidak bisa, masih ada Hilton Company yang mungkin siap bekerja sama dengan Bertelsmann … Karena saya rasa, Hilton Company dengan Bertelsmann memiliki kekuatan yang sama besar jika digabungkan. Bedanya hanya pada kekuatan kepemimpinan di antara Anda dengan Nona Hilton,” sambung pria itu terus terang. Membuat Hanna dan Kai yang mendengarnya membelalak samar.

“Penyatuan kekuasaan kepemimpinan sama sekali tidak ada dalam agenda rapat,” elak Hanna. Ia tak mengerti, mengapa para pemegang saham tiba-tiba ingin menyatukan dua perusahaan untuk memimpin. Meski tak bisa dipungkiri, hal itu memang ampuh untuk menambah keuntungan, karena dua nama langsung berada di depan sebagai wajah baru.

Kai yang menyadari ketegangan adu pendapat dari para pemegang saham pun panik. Hanna bisa gagal jika begini caranya. Tak ingin itu terjadi, Kai putuskan untuk mendekati Hanna, mencoba untuk membisikan sesuatu pada gadis itu. Hanna yang mendengar saran darinya pun mendesah pelan.

“Memang tidak ada dalam agenda, namun rencana itu lahir karena adanya pemikiran bersama Nona … Jadi, bagaimana? Apa Anda bersedia? Pikirkan juga keuntungan yang bisa kita dapat dari penggabungan dua nama tersebut. Lagi pula, bukankah Nona dengan Tuan Bertelsmann sedang menjalin hubungan?” tanya pria yang berbeda.

“Apa?” Hanna yang mendengarnya kembali membelalakkan mata. Sementara Sehun tersenyum penuh arti di tempatnya.

Aku menang, Nona.

 

-Ambition-

Hanna memejamkan matanya, mencoba untuk menenangkan dirinya dari emosi yang meluap – luap. Ia tak menyangka, rencana yang telah ia susun matang – matang kini hancur begitu saja. Bahkan kini, ia harus berakhir di dalam mobil milik seorang pria yang sudah menghancurkan segalanya itu.

Terkutuk kau, Kai. Aku membencimu. Sungguh.

Sumpah serapah pun terus Hanna lontarkan dalam hati tanpa berani mengungkapkannya. Ia hanya tak mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh sekretarisnya itu saat menyetujui permintaan Sehun untuk mengantarkan Jenny pulang dan membiarkan dirinya ditarik paksa oleh Sehun ke dalam Ferrari LaFerrari yang bukan miliknya. Hingga ia harus berakhir dengan Sehun yang mengantarnya pulang.

Menyebalkan.

Hanna meremas ujung dress-nya sendiri. Andai saja pria itu tidak mencari masalah dengannya, mungkin Hanna tak akan sekesal ini padanya dan tak akan keberatan jika diantar olehnya. Namun, apa yang terjadi di ruang rapat tadi membuatnya begitu muak juga marah. Karenanya, jalannya untuk menggapai mimpi menjadi berliku, hingga ungkapan bahwa tak ada yang instan di dunia ini pun Hanna benarkan. Bahkan, mie kemasan yang katanya instan pun harus dimasak dulu sebelum dimakan. Itu berarti, Hanna harus lebih sabar lagi dalam mewujudkan mimpinya, yang seharusnya tinggal beberapa langkah lagi itu.

Hhh

Tanpa sadar, Hanna menghela napas berat, hingga menarik perhatian Sehun. Senyum kecil lantas tercetak di wajah tampan pria itu, “Anda baik-baik saja, Nona?” tanyanya mengejek.

Hanna yang menyadari kebodohannya hanya meliriknya sesaat sebelum membuang muka malas. Dan saat itu juga ia sadar, dirinya berada di kawasan Turtle Bay, Manhattan, New York City. Lebih tepatnya berada di Kompleks United Nation Headquarter, dimana kompleks bangunan yang berfungsi sebagai kantor badan Perserikatan Bangsa-Bangsa dibangun, dan itu berarti, Sehun memutar jalan dengan jarak yang sangat jauh.

pbb

“Anda tidak tahu di mana Battery Park City?” tanya Hanna sarkastik. Bagaimana tidak? Battery Park City berada tak jauh dari Sungai Hudson, sementara Sehun membawanya ke tepi selat Sungai East dimana kantor pusat PBB berada.

“Aku hanya ingin lebih lama bersama Anda, Nona,” jawab Sehun enteng, tak peduli dengan Hanna yang menatap tajam ke arahnya.

“Hhh, konyol . . .” malas berdebat. Hanna lebih memilih menikmati arsitektur gedung organisasi tingkat dunia itu. Titik fokusnya tertuju pada salah satu gedung yang paling menonjol dari 4 bangunan yang ada—lebih tepatnya, gedung sekretariat PBB. Ia mengamati dengan seksama gedung yang terlihat berwarna biru dengan bentuknya yang tinggi melebar dan tipis seperti papan balok tersebut. Terlihat biasa memang, namun, semua gedung PBB dirancang oleh arsitek terbaik dunia yang diambil dari beberapa negara anggota. Tak hanya itu, 193 bendera negara anggota PBB dari mulai Afganistan sampai Zimbabwe Hanna lihat meski hanya sekilas.

Sungguh sangat mencolok.

Bagi siapa pun yang datang berkunjung ke kawasan Turtle Bay, Manhattan, pasti akan langsung mengenali gedung itu sebagai kantor pusat PBB, karena banyaknya bendera yang dipasang dan disusun sesuai alfabet di depannya. Namun, UN Headquarter merupakan wilayah teritorial independen dibawah administrasi PBB, hingga secara resmi, daerah itu tidak termasuk ke dalam bagian New York ataupun Amerika, meski mereka berada di kawasan Turtle Bay, New York.

“Ingin berkunjung? Aku dengar kantor pusat PBB sudah menjadi salah satu tujuan utama wisata di New York.” Sehun kembali membuka pembicaraan.

“Tidak. Aku pernah mengikuti tur keliling UN Headquarter saat masih duduk di bangku menengah atas,” jawab Hanna acuh tak acuh, agar tak dikira tuli.

“Apa saat itu pemandu wisata membawa Anda ke dalam General Assembly (Majelis Umum)?” tanya Sehun lagi. Ia hanya ingin mendengar suara lembut itu lebih banyak lagi. Meski ia tahu jawabannya ‘Ya’, karena siapa pun yang datang berkunjung ke kantor pusat PBB pasti akan diajak berkeliling bahkan sampai ke General Assembly. General Assembly sendiri merupakan tempat bersejarah, dimana banyak sejarah dan nasib dunia diputuskan di sana. Seluruh negara anggota PBB bahkan memiliki satu hak suara di dalam lembaga ini. UNICEF, UNPD dan UNU pun berada dalam pengawasan GA.

“Ya,” jawab Hanna lagi singkat. Padahal Sehun berharap gadis itu berucap lebih banyak lagi.

Hening.

Sehun tak tahu harus berkata apa lagi, karena memang ia bukanlah tipikal pria yang banyak bicara. Namun, ia ingin kembali mendengar suara Hanna.

“Nona, bukankah Anda belum makan sejak tadi siang? Bagaimana jika—“

“Tidak. Aku ingin pulang,” sela Hanna cepat seolah dapat membaca apa yang akan Sehun katakan.

Sehun sendiri hanya bisa tersenyum menanggapinya. Hingga pada akhirnya, keheningan kembali tercipta di antara keduanya. Ingin sekali Sehun kembali membuka pembicaraan seputar bisnis, namun, Hanna terlihat tidak sedang dalam mood yang baik. Hingga ia urungkan niatnya untuk itu, setidaknya, mereka masih bisa bertemu lain waktu. Karena para pemegang saham sudah menguasakan kepercayaan 520 Park Avenue pada mereka.

Sesekali Sehun melirik gadis di sampingnya itu, namun sial, fokusnya tak sengaja menangkap paha mulus milik Hanna yang terekspos, membuatnya tanpa sadar mengutuk LBD yang dikenakan oleh gadis itu. Fantasi liar bercinta di dalam mobil pun melintas di dalam benaknya. Ingin sekali ia menepikan mobilnya, lantas menyentuhnya seduktif, menciumnya dan membuatnya mendesah, namun ia ingat, Hanna bukan gadis murahan. Setidaknya, ia tidak boleh tergesa-gesa untuk menaklukannya, karena Hanna juga bukan gadis yang mudah terbuai. Bisa-bisa, ia yang terjerumus ke dalam pesonanya.

Kini, mobilnya mulai melewati tepian Sungai Hudson, itu berarti The Ritz-Carlton Tower sudah dekat. Merasa tak rela jika harus berpisah dengan Hanna sekarang, membuat Sehun menghentikan laju mobilnya di tepi muara Sungai Hudson, dimana Liberty Enlightening The World yang berada di Liberty Island terlihat jelas dari tempatnya.

Hanna yang menyadari mobilnya berhenti melaju pun bingung. Ia tatap patung wanita pembawa obor yang lebih dikenal dengan Statue of Liberty itu, sebelum akhirnya menatap Sehun yang baru saja melepas seat belt-nya. Seolah meminta penjelasan pada pria itu.

“Menikmati senja sebelum pulang aku rasa tidak buruk, Nona,” ujar Sehun mengerti.

“Tuan Bertels—“

“Panggil aku Sehun. Aku lebih suka nama Oh Sehun daripada Sehun Bertelsmann,” sela Sehun cepat.

“Aku tidak peduli. Aku sudah lelah dan aku ingin pulang!” Hanna berucap tegas, namun tak dipedulikan oleh Sehun. Pria itu justru keluar dari dalam mobilnya lantas membukakan pintu untuknya.

“Sebentar saja,” ujar Sehun terdengar memohon saat melihat Hanna yang tetap bergeming pada tempatnya. Hingga pada akhirnya, ia kembali lancang dengan menarik paksa pergelangan tangan Hanna untuk keluar. Jika dihitung, ini sudah ketiga kalinya ia bersikap tak sopan pada gadis itu. Beruntung, ia tak menghadiahinya tamparan di pipi.

“Aku berjanji akan langsung mengantarkan Anda pulang setelah matahari terbenam,” Sehun kembali berucap, saat melihat wajah tak bersahabat Hanna.

” . . . ” Bukannya menjawab, Hanna justru menghempaskan tangannya, lantas berjalan melaluinya dengan kedua tangan yang dilipat di bawah dada.

Anggun seperti biasa.

Sehun membatin kagum, melihat sosok yang kini sudah duduk manis di salah satu kursi yang menghadap tepat ke arah patung tersebut. Kakinya pun ikut melangkah menghampiri, dengan fokus yang tak lepas dari Hanna. Raut wajah tak suka pun dilihatnya dari wajah blasteran itu. Meski begitu, Hanna tetap terlihat cantik di matanya. Bahkan pria itu yakin, jika Hanna tersenyum maka wajahnya akan jauh lebih cantik dari itu.

“Cukup sampai di sini. Aku bisa pulang sendiri,” ujar Hanna saat Sehun mengambil tempat di samping tubuhnya. Sementara tangannya, sibuk memainkan Smartphone berwarna putih.

“Anda marah?” Sehun bertanya seperti orang bodoh. Padahal ia tahu jawabannya hanya dengan melihat gelagat tak suka gadis itu.

” . . . ” Tak ada jawaban apa pun dari bibir mungil berwarna pink itu. Sang empunya kini terlihat sibuk mengamati patung raksasa yang berada di kawasan New Jersey tersebut, namun, menjadi hak milik New York.

Merasa tak dianggap, membuat Sehun gerah sendiri. Namun, ia sama sekali tak berniat untuk meminta maaf pada Hanna atas perilaku tak sopannya. Fokusnya pun masih tertuju pada Hanna yang kini tengah memeluk tubuhnya sendiri dengan punggung yang bersandar pada kursi. Hingga inisiatif untuk melepas jas pun melintas dalam benaknya.

“Nona,”

Hanna melirik sebagai jawaban. Namun, Sehun justru mendekat dengan sebelah tangan yang menarik lengannya, hingga ia sedikit bangkit dari sadaran kursi. Aroma parfum yang begitu maskulin pun kembali tercium oleh Hanna bahkan semakin pekat terasa. Membuatnya hanya bisa diam—membiarkan Sehun menyampirkan jas miliknya di bahu.

“Cukup membantu,”

“Ya. Aku tahu Anda kedinginan,” Sehun tersenyum. Meski sesungguhnya, ia ingin memeluk gadis itu ketimbang hanya memberikannya jas. Titik fokusnya sendiri masih tertuju pada wajah porselinnya, namun sayangnya, sang pemilik sudah kembali bersikap tak acuh padanya.

Gadis itu terlihat sibuk memerhatikan Dewi Libertas dari Romawi kuno yang menjadi simbol kebebasan dan kemerdekaan bagi Amerika tersebut. Ia mengamati dengan seksama patung hadiah kemerdekaan dari Perancis yang dirancang oleh seorang ahli patung, Frédéric Auguste Bartholdi itu. Seolah patung tersebut terlihat jauh lebih menarik daripada seorang pria yang duduk di sampingnya. Pikirannya sendiri sudah melanglang buana ke mana-mana, dimana Hanna ingat akan kemiripan Patung Liberty dengan Dewi Ishtar dari mitologi Babylonia.

misteri patung liberty

Jika dugaan Hanna benar, bahwa sosok wanita yang menjadi Ikon Amerika itu Dewi Ishtar, maka ia tak akan heran mengapa patung itu menjadi simbol Amerika. Karena Dewi Ishtar sendiri melambangkan, kebebasan, nafsu, dan peperangan yang memang begitu identik dengan Amerika. Bahkan Dewi Ishtar dijuluki sebagai Ibu dari para dewa sekaligus pelacur para dewa. Padahal, kisahnya menuliskan bahwa dia adalah seorang istri Nimrod, cicit seorang Nabi bernama Nuh. Namun, ia dan suaminya begitu memuja matahari dan menganggap bahwa diri mereka adalah dewa.

Sementara Sehun, terlihat masih asik mengamati wajah Hanna, tak peduli dengan keterdiamannya yang terus mengabaikan kehadirannya, “Anda seperti Putri Heléne dari Troya,” puji Sehun tiba – tiba dan sukses membuat Hanna kembali ke alam sadarnya. Gadis itu bahkan langsung menatap ke arahnya.

Heléne dari Troya? Oh, astaga!

Hanna membatin tak percaya. Oh, ayolah, siapa yang tidak mengenal Putri Heléne dari mitologi Yunani kuno? Putri yang dijuluki sebagai wanita tercantik di dunia. Bahkan karena kecantikannya, Paris pangeran dari Troya berani merebut dan membawanya lari dari suaminya, Menelaos, raja Sparta. Dan wanita mana pun yang disandingkan dengan Heléne tentu akan merasa tersanjung. Namun, tidak untuk Hanna—gadis itu sudah kebal terhadap rayuan. Meskipun Hanna akui, rayuan yang Sehun gunakan cukup high class.

“Tapi aku lebih menyukai Athena, Tuan,” timpal Hanna pada akhirnya, dengan senyum kecil di bibirnya.

Athena?

Sehun tersenyum mendengarnya. Titik fokusnya lantas beralih ke jari manis sebelah kiri Hanna. Ia raih telapak tangannya, kemudian mengelus berlian pada cincinnya dengan ibu jari, “Karena ini? Bukankah ini purity ring?” tebak Sehun. Setahunya, Athena tidak pernah memiliki seorang suami ataupun kekasih, sehingga ia dijuluki Parthenos (perawan).

“Hm. Athena adalah seorang dewi perang yang kuat dan gagah berani … Dan aku menyukai sosok wanita sepertinya.” Hanna membenarkan. Tangan Sehun yang semula berada di tangannya pun kini beralih menyentuh kulit wajahnya.

“Ya, Anda memang kuat seperti Athena, namun tetap cantik seperti Heléne. Karena kecantikan Anda mampu meluluh lantakan Troya,” ujar Sehun ambigu, seperti kehilangan jati dirinya. Ia bahkan tak menyangka bisa bersikap semanis ini pada Hanna. Namun sayangnya, gadis itu hanya diam tanpa ekspresi— tak peduli dengan tangan Sehun yang terus bermain di permukaan kulitnya. Padahal, jika bukan Hanna yang sedang dirayunya, mungkin ia sudah mendapat hadiah kecupan bertubi – tubi dari gadisnya atau bahkan pelukan yang membuatnya sesak.

“Troya hancur karena perselisihan antara Dewi Athena, Hera dan Aphrodite. Mereka berebut apel emas yang dilemparkan oleh Eris, dewi perselisihan, yang bertuliskan untuk yang tercantik. Athena, Hera dan Aphrodite yang merasa berhak atas apel itu maju ke depan, sehingga Zeus mengirim mereka pada Paris—“

“Dan Paris memilih Aphrodite sebagai yang tercantik, karena Aphrodite menjanjikan putri Heléne -wanita tercantik di dunia- sebagai imbalan jika Paris memilihnya. Dan sejak saat itulah, kisah cinta terlarang antara Paris dan Heléne dimulai, dimana Paris sudah memiliki istri dan Heléne sudah memiliki suami. Bahkan kisah pelarian Paris dan Heléne banyak diceritakan dalam sebuah karya seni, seperti guci Yunani kuno dan lukisan pada masa Renaisans,” sela Sehun cepat dengan titik fokus yang mengunci hazel Hanna. Tangannya sendiri masih betah menyentuh dan mengelus wajah gadis itu lembut, “Itu sebabnya aku mengatakan kecantikan Heléne membuat Troya luluh lantak. Karena kebodohan Paris yang tergila-gila pada Heléne, Troya diserang oleh raja-raja Yunani, sehingga terjadilah perang Troya yang berakhir dengan Heléne yang kembali ke Sparta bersama suaminya.”

Hanna membatu mendengar penuturan Sehun. Ia tak menyangka pria itu juga tahu banyak tentang mitologi Yunani kuno serta perang Troya. Ia pikir Sehun hanya tahu tentang wanita dan bisnis. Tak lama, senyum manis tercetak di wajah Hanna, membuat gerakan tangan Sehun terhenti seketika.

“Anda pintar membual Tuan. Jika aku wanita gila, mungkin aku sudah menarik Anda ke dalam kamar—dan mengajak Anda bercinta,” ujar Hanna sedikit frontal. Dan hal itu sukses membuat Sehun kaku. Pelan – pelan Hanna menyentuh tangan Sehun di pipinya, kemudian menggenggamnya agar menyingkir dari wajah porselinnya.

Sementara Sehun, masih mencoba meyakinkan dirinya bahwa kupingnya tidak sedang bermasalah. Meski sesungguhnya, ia tak percaya dengan apa yang didengarnya saat kata bercinta keluar dari dalam mulut Hanna. Sehun hanya sedikit shock karena belum terbiasa seperti Kai. Itu saja. Terlebih, ia memang tak tahu orang seperti apa Hanna. Dan yang ia tahu hanyalah, Hanna adalah seorang gadis cantik yang sulit disentuh, tanpa tahu seperti apa tutur bahasa yang digunakan olehnya. Pelan – pelan, ia alihkan fokusnya demi menatap tangannya yang masih digenggam Hanna. Terasa lembut, hangat juga nyaman, membuat Sehun hanyut dalam perasaan yang tiba – tiba datang menyentuh hatinya tersebut.

“Dan menurutku, Troya hancur bukan hanya karena kecantikan wanita, tapi juga karena kemarahan wanita dan kelemahan pria. Padahal, Troya memiliki Zeus sebagai dewa terkuat—“

“Kelemahan pria?” Sehun menyela.

“Hm, pria lemah terhadap wanita, benar? Saat Aphrodite menjanjikan Paris, Heléne, dia langsung memilihnya sebagai yang tercantik dan hal itu membuat Athena dan Hera marah besar, sehingga Athena dan Hera menjadi musuh besar bagi Troya.” Hanna tersenyum setelah mengatakan itu, kemudian bangkit dari duduknya lalu melangkah menuju pagar pembatas di tepi jalan setapak.

Sementara Sehun masih tetap pada posisinya, mencoba mencerna dengan baik kata – kata gadis itu. Hingga pada akhirnya, senyum kecut tercetak di wajah tampannya. Ia tak menyangka, ternyata, di balik kata – kata halus Hanna terdapat peringatan sekaligus sindiran yang begitu dalam untuknya. Dan jika Sehun pria bodoh, mungkin ia tak akan menyadari kata ‘lemah’ dan ‘marah’ itu diperuntukkan untuknya.

Oh shit.

Sehun mengumpat dalam hati. Lagi – lagi, Hanna berhasil memukul mundur dirinya dengan kata – kata halusnya. Ia pun membenarkan bahwa pria memang lemah terhadap wanita. Bagi pria, wanita adalah keindahan sekaligus sumber kehancuran. Tergantung dari bagaimana cara pria itu sendiri memerlakukannya. Jika baik, maka wanita akan membalas dengan keindahannya dan jika buruk, maka wanita akan marah dan menghancurkannya. Namun, wanita juga merupakan racun dunia, karena mereka adalah penggoda paling ulung dalam mendapatkan hati pria. Tak heran, jika kelemahan terbesar seorang pria adalah wanita.

Sungguh pintar.

Tak lama, Sehun bangkit dari duduknya, kemudian melangkah mendekati Hanna. Kedua tangannya pun langsung bergerak membenarkan posisi jasnya di bahu gadis itu, sehingga menyadarkannya akan kehadirannya.

“Athena dan Hera marah karena merasa terhina. Legenda Hera bahkan mengungkapkan bahwa amarah neraka tak seberapa panas jika dibandingkan dengan amarah wanita yang merasa terhina,” sindir Hanna lagi, membuat Sehun semakin terpojokkan karenanya.

Tak lama, Sehun memutar tubuh Hanna hingga menghadap ke arahnya. “Aku mengerti, Nona — sangat mengerti … Kelancanganku membuat Anda merasa terhina, maafkan aku untuk itu. Semua itu terjadi begitu saja, sungguh!” ujar Sehun lembut—membuang jauh harga dirinya, karena memang ia yang salah. Maniknya pun menatap dalam hazel gadis itu—seolah meyakinkannya bahwa ia sunguh – sungguh. Karena memang tidak seharusnya ia berlaku lancang pada wanita yang bahkan baru dikenalnya. Sementara ia tahu, tidak semua wanita sama dan masih banyak wanita lain di luar sana yang lebih memilih menjunjung tinggi kehormatannya ketimbang nafsu duniawi.

“Anda memang keterlaluan, Tuan. Jika bukan karena kelancangan Anda, aku tidak akan berakhir dengan menyetujui keinginan para pemegang saham,”

“Tidak Nona, jangan salah paham—“

“Maaf Nona!”

Hanna dan Sehun refleks menoleh ke arah sumber suara. Dan saat itu juga, Sehun menghela napas berat mendapati sekretaris Hanna yang berdiri tidak jauh dari posisi mereka. Sementara Hanna, tersenyum kecil menyambut kedatangannya. Ia lantas menurunkan jas Sehun dari bahunya, namun segera ditahan oleh sang empunya.

“Jangan dilepas, Nona! Anda bisa mengembalikannya nanti,” ujar Sehun terlihat memohon. Hanna yang melihat kesungguhan dari manik elang itu pun mengurungkan niatnya.

Tak ada salahnya menerima kebaikan dari musuhmu!

Well, setidaknya itu yang menjadi dalil untuk Hanna menerima permintaan Sehun. Tubuhnya lantas berpaling begitu saja, tanpa memerdulikan lagi Sehun yang masih berdiri di tempatnya. Hanna juga tak peduli pada pembicaraan mereka yang belum selesai, karena yang terpenting baginya, ia sudah berhasil membuat Tuan Bertelsmann itu meminta maaf.

Ya, itu sudah lebih dari cukup.

 

Sementara Sehun hanya bisa mendesah melihat kepergian Hanna. Ia baru sadar dengan apa yang baru saja ia lakukan pada gadis itu. Ia bahkan tak menyangka bisa bersikap manis padanya. Padahal, Sehun tidak pernah seperti ini sebelumnya, meskipun ia sering mempermainkan seorang wanita. Karena Sehun biasa dirayu bukan merayu. Bahkan kata maaf terlontar begitu saja dari dalam mulutnya, saat Hanna mengatakan hal-hal yang membuatnya tersinggung.

Sehun pun sadar, bahwa Hanna benar-benar berbahaya. Bahkan gadis itu sudah memperingatkannya melalui kisah dewa – dewi Olympus yang diutarakannya. Bahwa Pangeran Paris beserta Troya luluh lantak karena seorang wanita dan kemarahan wanita. Itu berarti -secara tidak langsung- Hanna sudah memperingatkannya untuk tidak bermain-main dengannya.

Cerdas.

Disaat Sehun memujinya, gadis itu justru menjatuhkannya melalui kisah yang sama. Itu berarti, Hanna sudah tahu bahwa Sehun ingin membuatnya jatuh hati. Kalau begitu, Sehun harus lebih berhati-hati lagi dalam mewujudkan ambisinya untuk memegang kendali atas kepemilikan 520 Park Avenue. 

-Ambition-

“Kalian terlihat serasi,” Kai terkekeh dengan kaki yang sudah menginjak gas. Ia jalankan mobilnya pelan, mencoba untuk menikmati indahnya langit yang mulai gelap sore itu. Atap mobilnya sendiri memang sengaja ia buka tanpa meminta persetujuan Hanna.

“Aku akan memotong gajimu!” Ujar Hanna malas.

“Hei, aku hanya bercanda..” Kai terlihat santai menanggapi ancaman Hanna.

“Tidak seharusnya kau membiarkanku pulang bersamanya!” Hanna mengeratkan jas Sehun di tubuhnya. Membuat feromonnya dan Sehun semakin menyatu di udara. Ia bahkan menerka – nerka, parfum apa yang kiranya dipakai oleh pria itu, sehingga terasa begitu pas saat bercampur dengan wangi tubuhnya.

“Jenny bilang kalian berdua seperti Amerika dan Uni Soviet, jadi aku setuju saja saat Tuan Oh memintaku untuk mengantarkan Jenny pulang dan berkata kau akan pulang bersamanya. Lagi pula, bukankah itu bagus? Kalian jadi bisa lebih mengenal satu sama lain sebagai musuh dalam selimut…” Kai tertawa setelah menyelesaikan kalimatnya. Ia tak bodoh untuk membaca apa yang diinginkan Sehun dari Hanna. Dan ia tak ingin Hanna kehilangan kesempatan untuk meraih mimpinya, hingga ia menyarankan Hanna untuk menyetujui keinginan para pemegang saham saat itu.

“Uni Soviet sudah bubar, Kai. Saat ini, Amerika merupakan satu – satunya negara adikuasa yang ada di dunia ini. Jika apa yang dimaksud kekasihmu adalah Rusia, maka hubungan antara Amerika dengan Rusia tidaklah sama dengan Uni Soviet. Karena mereka (Amerika dan Rusia) tergabung dalam G8, meski kadang kebijakan luar negeri yang ditetapkan oleh kedua negara tersebut saling bertentangan.”

Kai tersenyum lebar mendegar penuturan Hanna. Ia baru sadar, ternyata Jenny tidak bisa membedakan antara Rusia dan Uni Soviet. Padahal sudah jelas, Rusia adalah negara bagian Uni Soviet yang menjadi negara merdeka saat Uni Soviet resmi dibubarkan. Meski memang pada saat perang dingin terjadi (setelah perang Dunia II), Amerika dan Uni Soviet keluar sebagai negara adikuasa.

“Ya, aku rasa maksud Jenny seperti itu, bahwa kau dan Sehun seperti Amerika dan Rusia. Dimana keduanya tergabung dalam organisasi yang sama namun saling bertentangan. Hingga perang dingin baru kembali dimulai.” Kai tertawa sendiri setelah menyelesaikan kata-katanya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana wajah Jenny jika mendengar koreksi dari Hanna. Pasti terlihat bodoh. Terlebih, Hanna langsung bisa mengambil kesimpulan, bahwa apa yang diutarakannya itu salah.

Sementara Hanna, hanya diam sambil memerhatikan arus lalulintas yang sedikit lenggang sore itu dan membiarkan Kai dengan segala imajinasi bodohnya. Ia pun berpikir, bahwa Kai dan Jenny benar-benar cocok. Dimana Jenny terlihat begitu naif dan Kai terlihat sedikit— bodoh.

“Lalu apa rencanamu?” tanya Kai tiba-tiba, sukses mengalihkan perhatian Hanna. Gadis itu lantas terlihat berpikir sebelum menjawab pertanyaan ringan tersebut.

“Pria itu menggunakan cara yang sangat halus, Kai … Andai saja aku bukan wanita kutub, mungkin aku sudah jatuh cinta padanya sejak pertama,” ujar Hanna -secara tidak langsung- mengakui ketampanan rivalnya tersebut.

“Bagaimana jika kau menggunakan cara yang sama?” tanya Kai asal, “Karena aku rasa, kau cukup cantik untuk ukuran seorang wanita kutub -ah, tidak- kau bahkan sangat cantik di mata lelaki. Bahkan di mataku, kau seperti Hera dari Gunung Olympia,” sambungnya jujur, namun justru membuat Hanna hampir muntah karenanya. Karena baru kali ini, Kai memujinya cantik, biasanya pria itu mengatainya balok es, pinguin kutub, serpihan salju, atau bahkan ungkapan buruk lainnya yang membuat Hanna semakin datar dibuatnya.

Namun jika di pikir-pikir lagi, apa yang dikatakan Kai itu ada benarnya. Ya, tak ada salahnya jika ia mencoba cara yang sama dengan apa yang sedang Sehun lakukan padanya. Dengan begitu, kepemilikan 520 Park Avenue akan mudah didapat tanpa harus menghancurkan semua yang telah ada. Lagi pula, bukankah pria lemah terhadap wanita? Jika Hanna berhasil membuat Sehun jatuh cinta padanya, maka ia hanya tinggal meminta pria itu mengembalikan mimpinya.

“Itu tidak buruk. Aku akan membuat Tuan Bertelsmann itu jatuh hati, dan kemudian mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku,” Hanna berucap sembari memainkan anak rambutnya. Senyum kecil bahkan tercetak manis di wajahnya.

Sementara Kai, mengerjap tak percaya mendengarnya. Padahal, ia hanya bercanda saat mengatakan itu, namun Hanna menganggapnya serius.

“Tidak. Tidak boleh. Aku hanya bercanda Hanna, tidak serius! Lagi pula, mempermainkan perasaan orang lain itu tidak baik. Jika kau melakukan hal yang sama dengan Tuan Oh, maka kau akan sama buruknya dengan dia.” Kai menentang tidak setuju. Seharusnya, ia menjaga ucapannya karena Hanna seorang gadis yang cepat tanggap. Dan tidak seharusnya, ia mengatakan hal-hal yang buruk pada gadis itu.

“Tidak Kai. Bagiku itu sebuah rencana, seburuk apa pun caranya.”

.

.

.

 


¤ To Be Continued ¤

 


.

.

.

 

Author’s Note

Maaf ya untuk segala kekurangannya. Dan Terima kasih untuk kalian semua yang udah mau baca dan comment^^

Oh ya, kalian bisa tanya kalau ada yang kurang jelas dari mulai fact, mitologi, dan sedikit sejarah yang aku tulis, karena aku gak sempet nulis glosarium. Nanti aku langsung jawab pas sempet^^

 

Saranghaee yeorobun…!!!

Regards,

Sehun’Bee

1,056 responses to “Ambition [Chapter 3] – by Sehun’Bee

  1. Wah,, bnr2 ya.. Mereka saling menyerang tp dg halus.. Halus tp sangat mematikan.. Dak tibayang liat sehun cengo pas dy dikalahkan oleh rayuannya sendiri..

  2. Kurang ngeeh si sm mitology gitu tp jd tambah pengetahuan, ah tidak hanna jgn bikin rencana kaya gitu deh nnti malah kejebak sendiri, sehun si tuan bertelsman yg mempesona mmg duh😍

  3. Baca chapter yg ini aku jd pengen baca ulang ttg sejarah yunani kunonmasa wkwk
    Btw aku greget banget sm si hanna nggak luluh2 udah di goda dgn cra halus gitu hahaha
    Next chap semoga ada romance sceene nya mbahahaha

  4. ini balok es, beruang kutub, serpihan salju. naon sih Kai haha paling lucu serpihan saju😀
    ini Sehun rayuan high class wkwk ngerayu make sejarah mitologi yunani gitu :3
    ada Athena disebut ah jdi inget :3
    fighting nulisnya ya kak ^^

  5. AP3
    Makin ceritanya,,,apa lagi ada kisah mitologi yunaninya…
    Haha seru
    Dan bukan sehun aja kali yah yg kagum sama hanna,,,, aku juga kagum sama sifatnya hana di ff ini.
    Eh dan satu lagi gokil gila tuh si kai sama hanna masa sebut hanna balok es,,serpihan es,,,dan pinguin kutub.
    @94Rini

  6. Honestly , aku nggak pernah ngeh sama cerita kuno2 semacam Athena kayak gitu . Tapi disini cerita itu jadi terlihat berkelas waktu bayangin Sehun sama Hanna yang cerita .. Itu salah satu yang keren di chapter ini dan nggak sabar ingin tau cerita selanjutnya dengan rencana Hanna yang mungkin akan membuatnya sama kayak Oh Sehun😀
    Semangat ya author

  7. Benar2 berkelas, marah tapi tidak mengeluarkan cacimaki hanya menyindir dengan cara yg halus tapi menusuk ala Hanna tapi bisa membuat sosok Sehun tak berkutik. Nyindirnya dgn sejarah mitologi yunani pula. Ahh benar2 wanita cerdas. Keren^^

  8. Kecew gila. Bener benwe harus mikir baca ff ini mah😂 pembicaraan si hanna sehun sangat amat berkelas bray. Si hanna mau ngungkapin kalo dia ngerasa terhina aja segitunya. Mantab jiwa

  9. Wah wah wah mitologi?? Aku g trlalu paham dgn hal gtuan hahaha maklumlah…
    Oh sisehun dah mati kutu nih ddpn hana… n hmm rrncana hanna ingin mmnuat sehun katuh hati.. ku rasa dy yg akn jatuh hati ah tidak dua”nya. Hihi

  10. Yaaaa masih sama aku suka banget sm mitologi yunani apalagi dewi athena, duh jd serasa pelengkap gtu wkk. Cara ngancem nya hana juga high class wkk coba klo di paragraf selanjutnya ngga di tafsirin udah jelas aku perlu mikir lama eumm..
    Jjang!

  11. Favorit banget bagiaaannnn mereka berdua cerita tentang mitologi Yunaniiii👍👍👍👍👍
    Dan gak sabaaarr nunggu kelanjutan rencana Hana buat naklukin Sehun😏😏

  12. Entah knpa aku ngrsa part ini sweet bgt, keintiman antara hanna dan sehun. hihihi
    hati-hati hanna, jgn mlah kamu sndri yg bkal jtuh cintrong ama abang thehun

  13. uh yaampun suasana nya makin panas ya ,aku berasa nonton drama baca ff ini tentang dunia bisnis yang sama sekali aku ga ngerti hehe:v dan aku bolak balik baca yang pas mitologi itu aku ga mudeng(?):’D

  14. Omg sumpahhhh aaaaaaa~ keren bangett ywlaaa rinci bangettt aku yakin pasti bikin ini ff lama bangett.. wkwkwkw belom mikir kata2 buat ceritanya, belum searching tentang ini lah itu lahh.. haruss bener mateng bangett buat ini ff.. Daebak eonn!!
    fightinggg!!!😀

  15. Sindiran hanna buat sehun bener-bener berkelas. Nhgak bayangin kalau hanna ada sidunia nyata. Lanjut kak, sumpah keren abis, pwngetahuan umumnya juga banyak

  16. Sehun mulai terjatuh dalam pesona hanna sampai bisa mengubah sifat aslinya yang, ah aku nggak bisa jelasin. Hanna menyusun rencana untuk ngebuat sehun takluk ama dia. Sumpah semakin menarik ceritanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s