Overshade [Chapter 6] – By Isanyeo

overshade

Judul : Overshade – Chapter 6

Author : isanyeo

Cast : Lee Young, Kai, Sehun, etc.

Rating : PG-15

Genre : School life, Romance, Family, Slice of Life.

Length : chaptered

 

I always had this kind of dream. A dream that eat me up slowly, a dream that kill me slowly. I grew up with that kind of dream.

But I know one thing for sure: all these dream weren’t a dream. Those were realities.

VI: The Touch

Young bangun dengan satu teriakan kecil serta nafas yang berderu. Ia bisa merasakan keringat dingin yang mengalir melalui pelipis dan lehernya. Ia membutuhkan waktu beberapa detik untuk akhirnya ia menarik kedua kakinya mendekat ke dadanya. Young melingkarkan lengannya memeluk kakinya dan meneggelamkan kepalanya di antara celah yang tercipta.

Di dalam ruangan yang begitu sunyi itu, suara Young tiba-tiba menggema. Young berteriak kecil berkali-kali beriringan dengan lengannya yang semakin memeluk kakinya dengan sangat erat. Tubuh Young bergetar dan ia membentuk kepalan tangan dengan jari yang mungkin bisa saja menggali telapak tangannya karena begitu eratnya.

“A-Aku tidak bisa.” Young berbisik pada udara.

Young membenci tidur. Tidur akan membawanya pada sebuah mimpi yang begitu mengerikan. Young tak menyebutnya mimpi lagi ketika itu hadir setiap malam. Tak pernah sekalipun ia tertidur tanpa kening yang berkerut, keringat dingin yang bercucuran, atau mungkin teriakan kecil dan terkadang begitu kencang.

Itu bukan mimpi. Melainkan kejadian masa lalu yang tak bisa ia hapus begitu saja. Masa lalu yang begitu mengerikan.

Young mungkin menghabiskan kurang lebih satu jam dengan menengangkan dirinya dengan memojokkan diri ke sudut kamar sembari memeluk kakinya. Ia berkali-kali membisikkan kata-kata penenang dan ia menelan beberapa pil berwarna biru tanpa air minum.

“Tidak ada lagi yang menyakitimu, Young.”

“Tidak ada lagi yang berlaku kasar.”

“Semuanya di sini menganggapmu sempurna, Young.”

“Semuanya tidak akan terjadi lagi.”

“Tidak ada yang tahu. Tidak ada.”

Young masih saja bergetar dan untuk yang kedua kalinya ia menelan pil berwarna biru dengan wadah yang sudah diberi label yang ditulis oleh dokter. Young membiskkan lagi sejumlah kalimat penenang itu dan berusaha agar dirinya terkontrol kembali. Karena inilah yang ditakutkan Young, tak terkendali.

Pada akhirnya Young bisa mengendalikan dirinya dan ia keluar kamar untuk menatap ke luar jendela apartmennya. Ia tak lagi melihat jemuran yang lupa diangkat oleh pemiliknya. Ia hanya bisa berkedip-kedip menatap langit kota Seoul dan berharap fajar akan segera tiba. Tak butuh waktu lama agar fajar kembali tiba, namun ia menunggu cukup lama untuk mendengar nyanyian tahun 80-an dengan suara yang sumbang. Tapi ia tak mendengarnya fajar itu.

Young membuka jendelanya dan mengedarkan pandangannya ke bawah. Tidak ada wanita yang menyanyikan lagu itu. Young menunggu lebih lama dan ia masih saja tak melihat wanita yang merupakan Ibunya itu. Young mulai khawatir dan ia tak bisa menunggu lebih lama lagi.

Young keluar dari gedung apartemen tergesa-gesa. Ia melewati celah sempit itu dan berjalan lurus ke depan, membawanya menuju ke salah satu sudut lain di Kota Seoul. Ia berjalan ke arah kanan dan melewati gedung-gedung tinggi tang tak terurus. Ia berlari hingga akhirnya ia melihat papan yang dengan lampu merah berkedip-kedip yang dipasang sebagai penarik minat.

Ia memasuki gedung itu dan ia bisa melihat gelapnya ruangan itu. Namun ia masih bisa melihat sorotan lampu ditenga-tengahnya dan musik yang menggema. Matanya teredar ke setiap orang yang berada di sana, ia bisa melihat beberapa orang-orang yang menari di tengah-tengah dengan pakaian yang tak lengkap. Beberapa saling berpangku di sofa dan beberapa minum minuman mereka di meja bartender.

Young memberanikan diri untuk masuk lebih dalam dengan berusaha tanpa menyentuh siapapun. Matanya menangkap seorang wanita dengan rambut disanggul menari di tengah-tengah lantai dansa.

Young memicingkan matanya dan perlahan ia mendekati wanita itu. Ia menyentuh punggunya dan membuat wanita itu menoleh. Young bisa melihat wajahnya yang terkejut namun senyum lebar yang bodoh masih saja terpasang. Ia bisa mencium aroma alkhohol bercampur rokok di sana. Ia juga bisa mencium parfum pria di tubuh wanita itu.

“Ini sudah pagi, Bu.” Young mengatakan itu dengan mata yang kosong. Wajah yang dingin serta tarikan tangan yang kasar.

“Ah! Young! Kau datang menjemput? Kau benar-benar manis! Kau anak Ibu yang terhebat!”

Young tak mendengar kicauan dari wanita itu. Sekarang yang ia perhatikan hanyalah jalan yang gelap dan berusaha agar Ibunya tak jatuh karena ia menyeretnya. Young akhirnya berhasil keluar dengan Ibunya yang masih menggerakkan badannya seolah musik masih saja berputar di pikirannya.

“Ah. Ini memang sudah siang!”

Young menarik melingkarkan tangannya di pinggang Ibunya. Membuat wanita itu tegak berjalan. Beberapa orang memperhatikan mereka dan berbisik satu sama lain. Young berusaha menutupi wajahnya dengan tas milik Ibunya. Ia bisa merasakan tas Ibunya yang terasa begitu berat dan ia sudah tahu apa isinya.

“Young memang yang terbaik! Aku suka denganmu, Young! Setelah kau dewasa nanti aku akan mencari Ayahmu. Tenang saja.” Ibunya meraih pipi Young dan mencubitnya seolah Young adalah putri yang benar-benar manis.

“Hentikan, Bu.”

“Ah, apa yang bisa kulakukan jika kau tidak ada, Young!”

Young memasuki celah sempit dan pandangannya menjadi begitu suram seketika. Ia menelan ludahnya susah dan di sudut matanya ia bisa melihat Ibunya yang masih saja tersenyum. “Ya. Apa yang bisa kau lakukan jika aku tak ada.”

Ibunya mendengarnya berbicara demikian. “Maka dari itu kau harus selalu ada untukku, Young! Kau melakukan semuanya dengan baik! Mungkin Kwon juga akan tumbuh sepertimu.”

Young mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang Ibunya. Membuat mereka untuk bisa berjalan lebih cepat. “Kwon tidak akan tumbuh sepertiku. Dia tidak boleh sepertiku.”

Lalu yang didengarnya hanyalah tawa kencang dari Ibunya dan wanita itu kembali menyanyikan lagu tahun 80-an. Hari sudah semakin siang dan Young tahu mungkin ia akan terlambat hari ini.

Young akhirnya bisa membawa Ibunya masuk ke dalam apartemennya. Beberapa orang yang sudah keluar dari kediaman masing-masing menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan penilaian. Beberapa hanya ada yang melirik lalu berlalu.

Hanya mereka.

Young berjalan melewati koridor lantai 8 ketika dilihatnya Sehun dengan seragam lengkap tengah berada di depan pintu apartemennya dengan tatapan yang khawatir. Sehun melihatnya yang tengah membopong Ibunya dengan sebelah tangan dan Sehun berlari ke arahnya dan membantunya dengan meraih sisi lain Ibunya.

“Sehun?”

Sehun tak menjawab dan dengan cepat Ibunya sudah berada di gendongan Oh Sehun. Young melihat itu membuang waktunya sekian detik hanya untuk tertegun karena Sehun tak menjawab, namun ia akhirnya bergerak dan membukakan pintu untuknya.

Sehun masuk dan meletakkan Ibu Young di kamar yang telah dibukakan oleh Young. Tak butuh waktu lama agar Sehun bisa meletakkan Ibu Young pada posisi yang nyaman. Lalu yang terdengar hanyalah suara nafas mereka berdua yang sama-sama berderu. Mereka berdua pergi keluar kamar dan membiarkan Ibu Young beristirahat.

“Pergilah, Sehun.”

“Tidak.”

“Kau mungkin akan terlambat jika kau tak segera pergi.”

“Lebih baik begitu.”

“Apa maumu?” Young menatapnya dengan tatapan tak suka. Sehun yang membantunya baru saja sudah cukup membuatnya tak ingin melihatnya dan sekarang Young harus menghadapinya lagi.

“Kau mengatakan aku bisa bertanya apapun pagi ini, Young.” Sehun menatapnya dengan tatapan sendu. Ia tak mengerti mengapa Young selalu ingin mengeluarkannya dari hidupnya, dari hadapannya. Seolah ia benar-benar membenci Sehun dan tak ingin melihatnya.

Young terdiam dan ia mulai merutuki mengapa ia menjanjikan Sehun demikian. Young menatap Sehun dan ia bisa melihat Sehun dengan wajah kusutnya. Ia tak suka itu.

“Young?”

Young mengalihkan pandangannya dari Sehun dan berusaha mencari satu titik yang pas untuk ia pandang.

“Sampai kapan kau terus menghindariku, Young?”

“Aku tidak menghindarimu, Sehun.”

“Ya. Kau menghindariku.”

“Tidak.”

“Lalu mengapa kau selalu menghindari pertanyaanku?”

Young menundukkan wajahnya. Keheninggan menyelimuti mereka untuk beberapa saat. “Karena kau bising dan memuakkan, Sehun.”

Kedua alis Sehun bertemu. “Memuakkan?”

“Ya.”

“Selama ini aku berusaha membantumu, tapi kau hanya mengatakan bahwa aku memuakkan?”

“Ya.”

“Kau sungguh-sungguh dengan itu?”

“Ya.”

Sehun menghembuskan nafas kasar melalui mulutnya. Ia menggelengkan kepalanya dua kali dengan tatapan tak percaya ke arah Young yang tak lagi menatapnya. “Baiklah.”

Young mendengar langkah kaki Sehun keluar dari apartemennya, menutup pintu dan kemudian tak ada lagi suara selain nafasnya yang berhembus. Young memejamkan matanya. Ia menyadari ia telah membuat Sehun akhirnya muak padanya.

Young masuk ke kamarnya dan merebahkan dirinya di atas kasur miliknya. Berpikir bahwa ia tak akan pergi ke sekolah hari ini. Hari masih pagi namun Young sudah merasa terlalu lelah.

Young mengerutkan keningnya ketika Sehun masih ada dalam pikirannya. Ia tahu ia merasa sedikit bersalah pada lelaki itu. Ia juga tahu Sehun selalu ingin membantunya. Ia tahu semuanya hanya saja semua perasaan itu tak membawanya untuk menjadi lunak di hadapan Sehun, terlebih lagi mengetahui lelaki itu tinggal di tempat yang sama dengannya dan tahu bagaimana ia jika berada di luar sekolah.

“Kau tahu terlalu banyak, Sehun.”

Young mendengar suara benda yang pecah. Ia bangkit dari tidurnya dan membuka pintunya. Ia melihat Ibunya yang tengah berjongkok membersihkan gelas yang pecah. Ibunya menatapnya dan tampak terkejut.

“Young? Kau tak pergi sekolah?”

Young bisa melihat Ibunya yang bertanya sembari memijat kepalanya sejenak. Ia tahu wanita itu mungkin tak lagi mabuk namun sakit kepalanya itu mungkin tak akan hilang sampai nanti sore tiba.

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Aku harus menjemputmu ke bar dan aku terlambat.”

Young bisa melihat Ibunya yang menganguk dan tak mengindahkan ucapannya. Lalu ia bangkit dengan kantung plastik berisi pecahan kaca. “Ah, baru kali ini aku mendengar putri kesayanganku tak hadir di sekolah.”

Young menatap punggung Ibunya itu dengan tatapan datar dan ia masih berdiri di ambang pintu kamarnya.

“Ah, aku lupa persediaan kita akan habis, Young. Kau mau ‘kan, belanja untuk kita?”

“Ya.”

“Kau memang putri yang terbaik.”

Young memperhatikan Ibunya yang mengambil tasnya. Ia mengeluarkan sejumlah uang yang cukup besar dan Young tak heran. Ia tahu setiap kali Ibunya datang, uang juga akan selalu datang. Bagaimanapun Young tak menyukai hal itu, sebelum ia ingin untuk mengakhiri hidupnya hari itu, ia hanya ingin bertahan hidup dengan makan menggunakan uang yang dibawa Ibunya. Sekarang pun, ia tak berani menolak uang itu untuk suatu alasan.

“Ah, kau bisa belanja hari ini. Pergilah ke mall dan belilah barang yang kau suka, mengerti?” Ibu Young tersenyum lebar dan memberikan sejumlah uang tambahan.

Young masuk kembali ke kamarnya dan mengganti pakaiannya. Ia tak butuh waktu lama untuk mengenakan jeans hitam dan t-shirt putih yang terlihat kebesaran. Namun siapapun pasti akan setuju bahwa apapun yang dikenakan Young, ia masih terlihat begitu cantik.

Young tak butuh waktu lama untuk sampai ke halte terdekat. Naik bus dengan rute berbeda seperti biasanya dan hari ini tak ada senyum yang terpampang di wajahnya. Ia hanya terlalu lelah mungkin.

Young turun di halte terdekat dengan pusat perbelanjaan yang cukup besar. Young berjalan pelan dengan beberapa orang yang berjalan searah dengannya. Tak banyak orang yang keluar di jam kerja dan itu membuat Youn tenang. Tidak sampai ia mendengar sebuah suara memanggilnya.

“Hai, kekasih.”

Young mengenali suara itu dan tak berani memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang memanggilya. Young tahu lelaki yang memanggilnya selalu memberinya efek yang sama seperti ini. Mematung dan rasa takut muncul.

Young mendengar langkah kakinya yang mendekat dan Young bisa merasakan debaran jantungnya yang terdengar begitu cepat. Lalu sudut matanya menangkap sosok lelaki yang lebih tinggi darinya beberapa sentimeter dengan jaket kulit hitam dan celana berwarna coklat muda.

Ia mendengar lelaki itu tertawa melihatnya dari atas hingga ke bawah. “Kau tak pergi sekolah, Lee Young?”

“K-Kai?”

“Kukira kau tak akan pernah melewatkan satu haripun untuk sekolah walaupun kau mungkin sekarat.”

“Aku terlambat hari ini dan tak ingin sekolah. Itu saja.”

Kai semakin terbahak-bahak. “Tak ingin sekolah?”

Young mengangukkan kepalanya ringan. “Y-Ya. A-Apa yang kau lakukan di sini?”

“Belanja bulanan.”

“B-Belanja?”

“Ya. Aku hidup sendiri asal kau tahu. Apa yang kau lakukan di sini, Lee Young?”

Young mengalihkan pandangannya dari Kai. “Sama denganmu.”

Kai menaikkan kedua alisnya. Dikiranya sosok Lee Young adalah sosok yang tak pernah melakukan apapun selain belajar. Nampaknya selama ini ia salah, ia tak akan belanja bulanan seperti dirinya jika Young memiliki seseorang yang akan melakukannya untuknya. Young anak yang sempurna di Sekolah, orangtua mana yang membiarkan anak emas seperti itu mengorbankan waktu sekolah hanya untuk belanja bulanan.

Kai tersenyum dan meraih tangan Young kemudian menyeretnya masuk ke dalam pusat perbelanjaan itu. “Kalau begitu mari kita lakukan bersama, kekasih.”

Young mendengar kata ‘kekasih’ itu lagi. “Hentikan itu, Kai.”

“Apa?”

“Memanggilku kekasih.”

“Aku hanya menggodamu. Tidak sungguh-sungguh.” Kai tertawa mengejek dan Young hanya bisa diam dan mengikuti langkah Kai.

Young memandang kedua tangan mereka yang menyatu. Ia mengerutkan keningnya selagi sesuatu mengalir dengan ganjil di sana. Ia merasakan sesuatu yang aneh mengalir dari tangan mereka yang menyatu dan memberi efek ke seluruh tubuhnya.

“Hei. Jangan melamun, Lee Young. Kau tampak jelek dengan wajah seperti itu.”

Kai menarik Young menuju Mart yang berada di lantai paling bawah. Young berjalan dengan memperhatikan tangan mereka. Rasanya masih begitu ganjil dan asing. Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai dan Kai melepaskan ikatan tangan mereka.

Kai mengambil satu kereta dorong untuk mereka berdua. Lalu ia kembali menarik tangan Young. Mereka berdua mendorong kereta dorong mereka ke area terdekat.

Young dengan sebelah tangannya meraih sesuatu di dalam tasnya. Catatan berisi kebutuhannya. Kai melihat itu tertawa dan Young melirik ke arahnya.

“Kau membuat daftar, Lee Young?”

“Ya. Kau tidak?”

Kai menggelengkan kepalanya lalu menatap Young menyelidik kemudian tersenyum kecil. “Hidupmu terencana, ya? Kalau seperti itu, apa keinginanmu untuk mati juga kau rencakan?”

Young menatap Kai dengan alis yang menyatu. Lalu ia ingat bagaimana ia mulai merencanakan kehidupannya saat ia baru saja pindah ke Seoul. Ia merencanakan semuanya dari awal. Dan usahanya untuk mengakhiri hidup tak pernah masuk di dalam daftar rencana hidupnya.

“Tidak.”

Kai bisa menyadari suara yang bergetar dan mata yang kembali tak bernyawa. Ia tahu ia telah membawa topik yang sensitif pada percakapan mereka. Tapi begitulah Kai, ia jarang berpikir dahulu sebelum berkata maupun bertindak. Baginya, semuanya berlangsung mengalir begitu saja. Tidak ada yang dikontrolnya. Tapi gadis yang tangannya tengah ada di genggamannya, berbeda darinya. Ia mengambil kontrol penuh atas hidupnya.

“Hei, Lee Young.”

“Y-Ya?”

“Kau tahu kita bisa menghabiskan seharian di sini.”

“A-Apa?”

“Sebagai rasa terima kasih atas aku menyelamatkanmu, kau harus menemaniku. Mau?”

Young memicingkan matanya. “Tidak. Lagipula aku tak pernah berterimakasih atas itu.”

“Oh, ayolah. Jika tidak berterima kasih, mungkin pagi itu aku tak pernah melihatmu lagi.”

Young hanya bisa memandang Kai yang tertawa kecil. Lelaki itu sungguh pandai berkata-kata dan jelas tak pernah berpikir sebelum mengatakannya. Kai bukan lelaki yang seperti dipikirkan orang-orang, ia mungkin malas tapi ia tak berpikiran sempit dan bodoh. Namun Young saat itu juga menyadari, bahwa dirinya juga bukan seperti yang orang-orang pikirkan.

“Young?”

“Ya?”

“Kenapa kau selalu terlihat tegang di depanku?”

Young terdiam sejenak. Ia memikirkan bagaimana ia bertingkah di depan Kai. Ia besikap ramah di depan semuanya, kecuali Kwon. Ia tidak akan merasakan tekanan apapun untuk menjaga sikapnya di depan Kwon dan anehnya walau ia merasa takut di depan Kai, dia tak merasa tekanan apapun untuk menjaga bagaimana ia bersikap. “Entahlah, Kai. Aku juga tak tahu.”

56 responses to “Overshade [Chapter 6] – By Isanyeo

  1. ehemmm (K)ai main gandeng gandeng segala sihhh choco jadi pengen tuker ama si young puahaha

    dan lagi lagi oh sehun kau tersakiti nak…..

    berharap chapter selanjutnya kau bahagia nakk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s